Pinkeye kuliah 5 ok

advertisement
Drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc.
Drh. Hembang MP
Disebut juga infectious keratoconjungtivitis atau
infectious opthalmia
 Menyerang sapi, domba, kambing, dan domba
dicirikan oleh blefarospasmus, konjungtivitis,
lakrimasi, dan berbagai tingkat kekeruhan dan
ulserasi kornea
 Infectious bovine keratoconjungtivitis (IBK:
‘pinkeye’) adalah penyakit mata yang paling
umum diamati pada sapi di seluruh dunia
 Bakteri batang, Gram negatif: Moraxella bovis
adalah organisma yang paling sering ditemukan
pada IBK
 Moraxella bovis memiliki 7 serotipe

 Infectious
bovine rhinotracheitis (IBR) dapat
dikacaukan dengan IBK. Namun, IBR
menyebabkan konjungtivitis tetapi sedikit
atau bahkan tidak ada peradangan kornea
(keratitis) maupun ulserasi kornea
 Mycoplasma spp dapat juga menyebabkan
konjungtivitis, baik sendiri atau bersamaan
dengan Moraxella bovis
 Pada
domba dan kambing, konjungtivitis
ataupun keratokonjungtivitis dihubungkan
dengan infeksi Chlamydophila psittaci dan C
pecorum
 Dapat juga disebabkan oleh Mycoplasma
conjungtivae, dan Moraxella ovis
 Pada kambing, infeksi oleh Mycoplasma
paling sering terjadi
 Oleh karena adanya kemungkinan risiko
zoonosis maka seseorang harus menggunakan
sarung tangan saat mengobati hewan
terinfeksi pinkeye
 Penyakit
biasanya akut dan cenderung
menyebar secara cepat.
 Salah satu atau kedua mata bisa terinfeksi
 Lalat muka, radiasi UV dari matahari yang
tajam, lingkungan kering dan berdebu, stress
transportasi merupakn faktor2 risiko yang
berkontribusi terhadap pinkeye
 Pada banyak species, hewan muda adalah
yang terbanyak terinfeksi tetapi semua umur
hewan peka
Gejala klinis paling awal adalah fotopobia,
blefarospasmus, dan epifora
 Selanjutnya cairan mata menjadi mukopurulen.
Konjungtivitis dengan berbagai tingkat keratitis
hampir selalu terjadi.
 Pada domba dan kambing, dapat terjadi
polyarthritis
 Pada kambing, infeksi ambing dan uterus dapat
saja terjadi bersamaan dengan
keratokonjungtivitis
 Nafsu makan hilang dikarenakan
ketidaknyamanan pada mata ataupun kehilangan
kemampuan mata untuk menemukan makanan

 Gejala
klinis dapat berlangsung selama
beberapa hari hingga minggu
 Sebagaian besar ulserasi kornea pada sapi
penderita IBK dapat sembuh tanpa
kehilangan daya penglihatan
 Namun, ruptur kornea dan kebutaan
permanen dapat terjadi pada infeksi/kasus
yang berat
Stadium awal
Stadium lanjut

Terapkan praktik manajemen yang baik

Pemisahan hewan sakit dari yang sehat

Radiasi UV dari sinar matahari dapat memperparah
penyakit. Oleh karena itu hewan sakit harus diisolasi
dari sinar matahari langsung

Aplikasikan insektisida untuk mengurangi populasi lalat
wajah (Musca autumnalis), vektor penting bagi M bovis

Vaksin atau bakterin M bovis tersedia untuk mencegah
infeksi pinkeye pada sapi; diberikan sebelum musim
lalat atau diberikan 6-8 minggu sebelum perkiraan
datangnya wabah IBK agar menyediakan cukup waktu
bagi pembentukan imunitas
M
bovis peka terhadap berbagai antibiotika
 Injeksi
penicillin langsung ke dalam konjungtiva
(harus dilakukan secara hati-hati)
 Injeksi
Oxytetracycline LA (2 injeksi dengan dosis 20
mg/kg BB, IM atau SC dengan interval 48 – 72 jam)
atau sekali injeksi dengan tulathromycin 2,5 mg/kg
BB
 Pada
domba dan kambing, dimana infeksi
chlamydophila dan mycoplasma dominan,
direkomendasi pengobatan topikal dengan salep
tetracycline, oxytetracycline / polymyxin B, atau
erythromycin
 Pengobatan
topikal tsb diterapkan 3-4 kali sehari
 Jika
pengobatan topikal tidak praktis, dapat
diinjeksi dengan oxytetracycline LA (20 mg/kg BB,
IM) atau penambahan oxytetracycline ke dalam
pakan (80 mg/ekor/hari)
 Hewan
yang menderita kesakitan akibat uveitis
sebagai efek sekunder keratokonjungtivitis dapat
diredakan dengan aplikasi salep atropin 1%, 1 -3 kali
sehari
S suis termasuk Lancefield grup D
 Hasilkan Alfa hemolisis (hemolisis incomplete)
 Distribusi secara luas di seluruh dunia; 35
serotipe
 70% adalah serotipe 1 – 9
 Terbanyak adalah serotipe 2
 S suis normal ditemukan di saluran pernapasan
bagian atas, terutama tonsil dan rongga hidung
 Juga ditemukan dalam organ genital dan saluran
pencernaan babi
 Infeksi klinis terutama diamati pada babi sapihan
(2-5 minggu setelah sapih), babi muda, tetapi
jarang pada babi menyusui

Gram-positive cocci, mostly in pairs and short chains,
found in cerebrospinal fluid from a 34-year-old man with
Streptococcus suis meningitis.
Koloni S suis (kecil dan halus)
S suis ditemukan di seluruh dunia, pada
peternakan yang intensif
 Tipe 2 adalah yang terbanyak (90%) menginfeksi
 Babi yang sehat secara klinis ternyata dapat
menjadi karier bagi sejumlah serotipe
 Anak babi terkolonisasi oleh S suis dari sekresi
vaginal saat proses kelahirannya (partus) atau
selama menyusui pada induk
 Penularan di antara kelompok terjadi akibat
perpindahan atau pencampuran dengan babibabi karir yang terlihat sehat
 Pemasukan ke dalam kelompok non-infeksi
biasanya langsung diikuti dengan kejadian
penyakit pada babi sapih dan/atau babi-babi
muda

 Beberapa
kelompok yang tidak menunjukkan
penyakait dapat saja menunjukkan penyakit
tsb ketika berada dalam keadaan stress dan
adanya agen penyakit lain
 Wabah
S suis dilaporkan terjadi bersamaan
dengan porcine reproductive and respiratory
syndrome (PRRS)
Gejala awal berupa demam, dibarengi dengan
septisemia yang bertahan beberapa hari jika
tidak diobati
 Selama periode tsb di atas, terjadi demam yang
fluktuatif, hewan lesu, depresi, pincang
bergantian.
 Pada perakut, hewan mati tanpa menunjukkan
gejala
 Meningitis adalah gejala yang paling menciri dan
sering digunakan sebagai dasar diagnosa
presumtif
 Tanda-tanda syarafi meliputi depresi,
inkoordinasi, ketidakmampuan berdiri, kaki
mendayung (paddling), opisthotonus, konvulsi,
dan nystagmus

 Endokarditis
juga sering ditemukan pada
anak babi yang lebih tua
 Babi terinfeksi mungkin juga memperlihatkan
tanda-tanda dispnea, & cyanosis
 Pembengkakan sendi dan pincang merupakan
indikasi adanya poly-arthritis
 Gejala gangguan respirasi juga kadang
teramati

Lesi kebanyakan diamati pada babi sapihan dan
babi muda

Lesi meliputi limfadenopati, meningitis,
arthritis, serositis, dan endokarditis

Dapat juga teramati eksudat fibrinopurulen di
otak, pembengkakan sendi, serositis fibrinous,
dan cardiac valvular vegetations

Splenomegali dan hemoragi petekial yang
mengindikasikan adanya septisemia dapat juga
diamati

Lesi berupa septisemia, meningitis, atau
polyarthritis dapat diamati pada anak babi yang
menyusui
Pneumonia dan pleurisi akibat
infeksi S suis tipe 2
Valvular endocarditis
 Diagnosis
presumtif umumnya didasarkan
pada riwayat, gejala-gejala klinis, umur
hewan, dan lesi-lesi makro.
 Isolasi
dan penentuan serotipe kuman, dan
evaluasi terhadap lesi-lesi mikroskopis dapat
meneguhkan diagnosis
 Uji
serologis tidak selalu tersedia
 Karakterisasi
genetik oleh laboratorium
tertentu penting untuk studi epidemiologis
 Pengenalan
gejala awal dan pengobatan
antibiotik secara parenteral adalah metode
terbaik penanganan infeksi S suis
 Antibiotik
beta-lactam, seperti ampicillin
dan amoxicillin cukup efektif
 Anti
radang diperlukan untuk mengurangi
peradangan organ atau jaringan
S
suis peka terhadap disinfektan golongan
aldehyde, hipoklorit, iodine, dan amonium
quaternary
 Vaksinasi
tidak efektif
Manusia yang terinfeksi dengan S suis dapat
mengalami septisemia, meningitis, kehilangan
pendengaran permanen, endokarditis, dan
arthritis
 Mortalitas mencapai 7%
 Mayoritas infeksi S suis pada orang adalah tipe 2
 Penularan terjadi melalui kontaminasi luka pada
kulit atau selaput lendir oleh darah atau seresi
dari babi terinfeksi
 Pekerja di peternakan babi, pekerja RPH babi,
dan drh adalah pihak yang berisiko tinggi
 Infeksi S suis pada orang ini dianggap sering tidak
terdiagnosis (underdiagnose) dan tidak
terlaporkan di banyak negara di dunia

 Staphylococci
adalah bakteri gram positif
yang berbentuk coccus berpasangan,
membentuk rantai pendek atau
bergerombol
 Bersifat facultatively anaerobic, tumbuh
secara baik pada situasi aerob
 Semua species Staphylococcus adalah
catalase positive
Menyerang pada hewan dan
manusia
 Bersifat akut dan kronis.

 35
species, tetapi hanya 5 yang penting
kepentingan veteriner
 2 species yang sangat penting :
1. S. aureus
2. S. intermedius
 Staphylococci ditemukan di seluruh dunia
 Terdapat di saluran respiratory atas dan di
permukaan epitel semua hewan berdarah
panas dan Gastro intestinal

Coagulase-positive species (S. aureus and S
intermedius) hidup di distal nasal, external
nares, kulit, mucocutaneous borders seperti
perineum, external genitalia
Coagulase-negative staphylococci (khususnya S.
epidermidis) terdapat di kulit dan saluran
respiratory bagian atas
 Staphylococci juga ditemukan di produk ternak
(daging, keju, susu)
 Staphylococci dapat ditemukan tanah, debu,
udara dan air

Speciaes
Host
Coagulase
Disease
S. aureus++++
humans, horses,
ruminants, birds,
pigs, cats,
(dogs)
positive
common pathogen
(pyogenic) of
humans and animals
S. intermedius++++
dogs (cats,
cattle)
positive
leading pus forming
bacteria in dogs
S. epidermidis+
humans, cattle,
dogs, horses
(cats)
negative
part of normal flora
of skin + some
mucous
membranes;
common
contaminant of
cultures;
rarelypathogenic
S. hyicus+
pigs
some are
positive
exudative
dermatis and
arthritis in
pigs
and rarely
bovine
mastitis
S. schleiferi
ssp.
coagulans++
dogs
positive
otitis externa
in dogs




ENDOGENOUS ( Most infections are caused by the
resident strain of bacteria on the animal host)
EXOGENOUS : infeksi dari hewan yang sakit secara
langsung maupun tidak langsung melalui fomites
(partikel, debu, sekresi), soil, udara and air
For example, organisms causing mastitis may be
transferred from one cow to another on the hands of
the milker, or in the teat dip at the time of milking
and therefore management practices and milking
hygiene significantly influence the prevalence of
staphylococcal mastitis
Staphylococci resisten terhadap disinfectan dan
pengeringan
Penularan antar species (e.g. humans-to-cows, dogsto-humans, humans-to-horses)
1. Arthritis and Osteomyelitis
S aureus is a relatively common cause of septic arthritis in
adult horses (and other species)
Swollen
hock joint
wollen hock joint
in a standardbred racehorse
called “Used to Run Fast”
The joint had been injected
3 days previously with a
corticosteroid. A
pure culture of a coagulase
positive S. aureus was
isolated
from the joint. This is called
septic arthritis
2. Bovine Mastitis
 S. aureus is one of the major causes of
bovine mastitis worldwide (along with
Streptococci and coliforms) and results in
significant economic losses
 infections occur via the teat canal
 the course of infection may be subclinical,
acute suppurative, gangrenous (due to alpha
haemolysin) or chronic depending on
infecting strain, infecting dose, and host
resistance
 Chronic and subclinical infections are most
common

A case of gangrenous
mastitis in a cow caused by S. aureus
3. Urolithiasis and Cystitis
 phosphate (struvite or apatite) urolithiasis
of dogs and mink is commonly associated
with S. intermedius infections and is
associated with urease production by the
bacteria (urease breaks down urea to
produce ammonia, which increases the pH of
urine and leads to precipitation of struvite
crystals)
 cystitis is a common sequelae to urolithiasis
4. Canine Pyoderma
 the term “canine pyoderma” covers many clinical
pictures, all of which include some degree of
pyogenic skin inflammation associated with bacterial
infection
 S. intermedius is the chief bacterium implicated
(occasionally S. aureus), however, the contribution of
S. intermedius to the disease process, and the degree
of suppuration, is variable
 in chronic and recurrent forms, type III and IV
hypersensitivity reactions are also thought to be
involved
 host aspects (concurrent infections, genetic,
endocrine, immunological factors) also play an
important role
 pyoderma is also a problem in horses, and wild and
domestic rabbits
5. Otitits Externa
 S. intermedius together with S. schleiferi ssp
coagulans are common causes of otitis
externa in dogs
6. Bumble Foot
 Bumble Foot is a disease of gallinaceous birds
 it is seen as chronic pyogranulomatous
process in the subcutaneous tissues of the
foot resulting in thick-walled swelling of one
or more joints
 Antibiotics
 Pemberian
secara topical atau suntik
 streptomycin, tetracyclines
 Vaccines
Download