Market PersPective // 1
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
Market PersPective // 1
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
2 // Market PersPective
e kspektasi akan kenaikan suku bunga the Fed mendorong peningkatan volatilitas di pasar modal. Pergerakan pasar cenderung risk on-risk off . Meskipun the Fed masih on track dalam mengakhiri program pembelian aset ( QE tapering ) di Oktober 2014, namun stimulus dari eropa, Jepang, china dan negara maju lainnya masih mendukung likuiditas di pasar global.
Ekspektasi akan kenaikan Suku bunga The Fed
Meningkatkan Volatilitas Pasar
Selama bulan Agustus 2014 lalu, pasar diwarnai dengan optimisme bahwa The Fed akan terus mendukung pemulihan pertumbuhan ekonomi dengan kebijakan yang akomodatif. The
Fed diprediksi terus melanjutkan mengurangi pembelian aset hingga pengurangan terakhir senilai US$15 Miliar di akhir Oktober
2014, dikenal dengan istilah “ QE Tapering ”. Namun The Fed tetap berkomitmen untuk menjaga suku bunga acuan di level rendah setelah tapering berakhir.
Optimisme ini ditandai dengan imbal hasil ( yield ) US Treasury tenor
10 tahun yang mengalami penurunan hingga menyentuh level terendah di 2,3%.
arah kebijakan the Fed bergantung pada perkembangan indikator ekonomi utama as
• Indikator aktivitas produksi ( Manufacturing PMI ) dan konsumsi
( confidence index , retail sales ) terus menunjukkan pemulihan
ekonomi.
• Namun dari data ketenagakerjaan masih mixed , menunjukkan
pemulihan yang masih lemah.
Tingkat pengangguran Agustus 2014 turun dari 6,2% menjadi
6,1%, namun lebih disebabkan karena penurunan tingkat
partisipasi pencari kerja dari 62,9% menjadi 62,8%.
Non farm payroll (indikator penambahan pekerjaan) hanya
meningkat sebanyak 142.000 di Agustus 2014, jauh di bawah
periode sebelumnya 209.000 Initial jobless claim (klaim benefit
dari pencari kerja) kembali naik di atas 300.000, berturut-turut di
akhir Agustus dan awal September 2014.
Fed Fund rate & US Treasury Yield
4.5
4.0
3.5
3.0
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
-
3.8
2.5
US 10yr Yield
Concern pada QE Tapering
3.0
1.7
Fed Fund Rate
2.6
0.25
Risk on ,
Risk off
Sumber: Bloomberg, data diolah Commonwealth Bank indikator
Ekonomi
Periode Sebelumnya Terkini Up/
Down
Aktivitas Manufacturing
Markit US Manufacturing PMI
ISM Manufacturing
Markit US Services PMI
Konsumsi
Domestic Vehicle Sales (jt)
Retail Sales Advance MoM
Univ. of Michigan Confidence
Ketenagakerjaan
Initial Jobless Claims (ribu)
Initial Jobless Claims (ribu)
Change in Nonfarm Payrolls (ribu)
Unemployment Rate
Average Hourly Earnings MoM
Labor Force Participation Rate
Ekonomi
Inflasi (CPI YoY)
Sumber: Bloomberg, data diolah Commonwealth Bank
On track meningkat
Aug’14
Aug’14
Aug’14
58.0
57.1
58.5
On track meningkat
Aug’14
Aug’14
Aug’14
12.95
0.0%
82.5
57.9
59.0
59.5
13.87
0.6%
84.6
Mixed , ada indikator yang melambat
30-Aug-14 298 302
6-Sep-14
Aug’14
Aug’14
Aug’14
Aug’14
302
209
6.2%
0.0%
62.9%
315
142
6.1%
0.2%
62.8%
Mengalami penurunan, dlm range target
Aug’14 2.0% 1.70%
Memasuki bulan September 2014 ini, optimisme pasar berangsurangsur menurun atau cenderung “ wait & see ” khususnya menjelang
FOMC meeting di 17-18 September 2014 ini. Kekhawatiran bahwa The Fed akan meningkatkan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi pasar kembali meningkat, setelah Thomson Reuter melaporkan adanya riset dari ekonom The Fed yang menunjukkan bahwa beberapa anggota The Fed mengharapkan kenaikan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi investor. Akibatnya, USD langsung menguat dan yield US Treasury naik menembus level
2,6% pada 12 September 2014.
Lalu bagaimana menyikapinya?
Satu hal yang pasti adalah The Fed akan keluar dari kebijakan moneter yang agresif ( QE dan kebijakan suku bunga rendah) secara bertahap. Dengan kata lain, normalisasi dan strategi keluar dari kebijakan yang agresif dalam sejarah The Fed menjadi agenda ke depannya.
Namun hal yang tidak pasti adalah kapan The Fed akan mulai menaikkan suku bunga acuan. Kami melihat bahwa kebijakan The
Fed akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi utama.
Dengan demikian, walaupun data aktivitas produksi dan konsumsi terus menunjukkan pertumbuhan, tetapi data ketenagakerjaan yang masih melambat dan inflasi masih dalam range terkendali
(2%) memberikan optimisme bahwa The Fed masih akan berupaya mendorong momentum pemulihan pasar tenaga kerja di US dengan menjaga level suku bunga rendah.
Terdapat 3 poin utama yang perlu dicermati pada FOMC meeting
September 2014:
1. View terhadap pasar tenaga kerja, kami estimasi belum mengalami
pemulihan yang signifikan
2. Tone adanya jeda waktu yang cukup longgar antara QE tapering
(Oktober) dengan mulai dinaikkannya The Fed rate , yang kami
estimasi belum berubah.
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
Market PersPective // 3
3. Economic assessment , dimana untuk sektor industri dan
perumahan diestimasi akan terus menunjukkan pemulihan,
terlihat dari data terakhir yang dirilis cukup positif.
Kami memprediksi perubahan view arah kebijakan The Fed baru terjadi pada FOMC meeting di Oktober 2014 dan Desember 2014 untuk menilai dampak ekonomi paska QE tapering .
Kenaikan The Fed rate masih diestimasi pada akhir semester
I/2015, dengan data tenaga kerja yang mulai menunjukkan pemulihan di akhir tahun 2014 (sehingga ada jeda waktu sekitar
6 bulan).
Hasil FOmC Meeting September 2014
Data rilis FOmC Meeting
Fed QE3 Pace
Fed Pace of Treasury Pur
Fed Pace of MBS Purchases
FOMC Rate Decision
Sumber: Bloomberg, data diolah Commonwealth Bank
Periode Sebelumnya Terkini
Sep’14 $25B
Sep’14 $15B
Sep’14 $10B
Sep’14 0.25%
$15B
$10B
$5B
0.25%
bank of Japan Terus Mendukung Stimulus Moneter
Bank of Japan (BOJ) masih menahan kebijakan suku bunga rendah di level 0,1%, sejalan dengan arah kebijakan moneter yang masih menekankan pentingnya melawan deflasi dan mendorong pertumbuhan. Hal ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter yang diluncurkan 2013 untuk mencapai target inflasi 2% YoY.
Sesuai review BOJ pada 4 September 2014 lalu, BOJ juga tetap berpegang pada janjinya untuk menaikkan jumlah base money sebanyak 60-70 Triliun yen (setara US$572-667 Miliar) tiap tahunnya melalui pembelian aset, terutama pada obligasi pemerintah Jepang.
BOJ masih memperkirakan tren pemulihan ekonomi yang lambat akan berlanjut. Ekonomi berkontraksi dalam laju tahunan sebesar
6,8% pada QQ2/2014, hasil terburuk sejak tahun 2011.
Pemerintah China kembali Mengeluarkan Stimulus
Moneter
ECb Menurunkan Suku bunga dan Memberikan Sinyal QE
Pada awal September 2014 (04/09/2014), European Central Bank
(ECB) kembali menurunkan suku bunga acuan 10bps menjadi
0,05% dan deposit rate minus 0,2%, artinya sudah berada range bunga bawah dan negatif ( lower bound ).
ECB juga memberikan sinyal QE minimal Euro700 Miliar untuk membeli non financial asset di sektor swasta (contoh: Real Estate
Mortgage Backed Securities ) dan membeli portfolio of covered bond yang diterbitkan institusi finansial di Zona Eropa. Kebijakan ini diestimasi mulai Oktober 2014 dan diharapkan akan mendorong aliran dana baru ke ekonomi Eropa untuk meningkatkan sektor ekonomi riil.
ECB mengambil kedua kebijakan diatas untuk mendorong pemulihan pertumbuhan ekonomi yang masih melambat. Estimasi pertumbuhan GDP Zona Eropa diturunkan menjadi 0,9% di 2014, sebelum pulih ke level 1,6% (2015) dan 1,9% (2016). Inflasi juga diestimasi turun menjadi 0,6% di 2014.
Data ekonomi China masih menunjukkan perlambatan. Dari Indeks manufacturing (HSBC PMI) China yang masih bergerak di sekitar
50,2, yang merupakan level ambang batas kegiatan produksi.
Selain itu, ekspor bulan Agustus 2014 terlihat meningkat 9,4%, namun dengan penurunan impor sebesar -2,4% maka hal ini membayangi harapan investor akan sustainability dari pemulihan ekonomi China.
Perdana Menteri China juga menyatakan ada potensi target pertumbuhan China di 2014 sebesar 7,5% tidak tercapai. Hal ini mempertimbangkan ekspansi output industri yang melambat.
Output industri masih tumbuh 6,9% di Agustus 2014, namun turun dibandingkan Juli 2014 sebesar 9%. Selain itu menurunnya kegiatan investasi dan pertumbuhan retail yang cenderung flat , juga tidak memberikan banyak kontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Akhirnya dengan data ekonomi yang jauh dibawah harapan,
Pemerintah China mengumumkan pada 16 September 2014 mengenai komitmen untuk menyediakan likuiditas ( standing lending faciilities ) sebesar 500 Miliar Yuan (setara US$81.4 Miliar) kepada
5 Bank terbesarnya (sumber: sina.com). Terlihat bahwa stimulus yang dikeluarkan Pemerintah China cukup mengejutkan pasar dan langsung mendorong kenaikan pasar saham regional.
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
4 // Market PersPective
rencana Bank central as untuk menaikan suku bunga hingga 1,375% sampai akhir tahun 2015, memicu penguatan UsD terhadap mata uang lainnya. Namun diperkirakan selera risiko pasar masih berpotensi untuk naik oleh karena rencana kenaikan Fed rate yang masih tergolong cukup lama. High yielding asset yang terpukul karena isu kenaikan suku bunga as, masih berpotensi untuk kembali menguat pada bulan september 2014.
ketidakpastian peta politik indonesia saat ini membuat para investor asing cenderung wait and see.
Faktor berapa besaran kenaikan BBM nantinya juga akan berpengaruh pada pergerakan UsD/iDr, pasalnya pasar terus melakukan penyesuaian pada rencana yang berubah ubah. Neraca berjalan Indonesia yang masih terpuruk defisit juga membebani nilai tukar IDR terhadap mata uang lainnya. uSD/IDR
Pergerakan USD/IDR hingga pertengahan
September 2014 masih didominasi dengan pelemahan IDR. Pelemahan cenderung disebabkan oleh masih defisitnya neraca berjalan, dan lemahnya pertumbuhan ekspor. Situasi politik yang masih tidak menentu juga memberikan kontribusi pada pelemahan IDR.
Rencana pemerintahan baru untuk mengurangi subsidi BBM akan memberikan pengaruh pada pergerakan IDR terhadap mata uang lainnya. Pengurangan subsidi
BBM berpotensi memberikan dampak positif pada ekonomi Indonesia sekaligus berdampak pada penguatan IDR. Pasalnya pengalihan beban pemerintah dari pembiayaan subsidi BBM bisa digunakan untuk pembangunan dan pengembangan ekonomi secara keseluruhan lebih lanjut.
Faktor yang membuat USD/IDR naik juga berasal dari luar negeri. Rencana Bank
Central AS yang akan menaikan suku bunga hingga 1,375% sampai akhir tahun
2015 memicu penguatan USD terhadap mata uang lainnya.
Diperkirakan nilai tukar Rupiah akan cenderung melemah di rentang 11.900 –
12.150 selama bulan September ini.
auD/uSD
Pada awal bulan September, data ketenaga kerjaan Australia dirilis membaik lebih dari prediksi pasar. Angka pengangguran turun dari 6,4% ke 6,1%, penyerapan tenaga kerja naik ke 121.000. Namun AUD gagal untuk menguat terhadap mata uang lainnya dikarenakan oleh aksi jual pasar dari high yielding asset ke safe haven ( flight to quality ). Hal ini disebabkan oleh antisipasi dari pasar akan kenaikan suku bunga AS.
Penurunan AUD terhadap mata uang lainnya cenderung bersifat sementara, dikarenakan kenaikan suku bunga AS yang masih cukup lama, akan kembali meningkatkan selera resiko pasar. Seiring dengan solidnya datadata ekonomi Australia, saat selera risiko meningkat maka high yielding asset (AUD) akan cenderung berpotensi menguat.
Diperkirakan AUD/USD akan cenderung bergerak dengan rentang 0.8860 – 0.9180 pada bulan September 2014.
GbP/uSD
Pergerakan GBP pada bulan September ini diwarnai dengan tingkat fluktuasi yang tinggi. Isu mengenai rencana Skotland untuk melepaskan diri dari Inggris mempengaruhi pergerakan GBP terhadap mata uang lainnya. Pada pertengahan September, hasil exit polling sementara 54 untuk yang memilih tetap bersama Inggris – 46 yang memilih untuk merdeka dari Inggris.
Apabila Skotland tetap bersama Inggris, diperkirakan GBP akan berpotensi kembali menguat di akhir bulan Septemeber. Namun apabila Skotland memilih untuk merdeka,
GBP berpotensi melemah dalam jangka waktu menengah.
Diperkirakan GBP/USD akan cenderung bergerak dalam rentang 1.6125 – 1.6675 pada bulan September 2014.
EuR/uSD
Pada awal September, ECB kembali menurunkan bid rate dari -0,10% ke 0,20%.
Penurunan yang di luar prediksi pasar ini menuai aksi jual para pelaku pasar. Eur melemah terhadap mata uang lainnya sebesar 7% rata-rata. DI pertengahan
September, Presiden ECB, Mario Draghi, mengeluarkan stimulus (LTRO) sebesar
86.2 Miliar, lebih kecil dari prediksi pasar, dan berdampak pada penguatan EUR meskipun tidak signifikan.
Diperkirakan EUR/USD akan cenderung bergerak dalam rentang 1.3000 – 1.2800 pada bulan September 2014 dengan kecenderungan turun.
uSD/JPY
Pelemahan JPY mencapai titik tertinggi semenjak 7 tahun yang lalu. Hal ini disebabkan oleh karena rencana pemerintahan
Jepang untuk menginvestasikan dana kelolaan pensiun sebesar 1.2 Triliun JPY ke high yielding asset . Rencana tersebut membuat JPY melemah terhadap mata uang lainnya. Dengan pelemahan JPY ini, diharapkan neraca perdagangan Jepang akan membaik.
DIperkirakan USD/JPY akan cenderung bergerak dengan rentang 108.00 – 111.50 pada bulan September 2014 dengan kecenderungan naik.
Expected buying level
Expected selling level
Long profit taking @
UsD/iDr
11.900 - 11.950
12.070 - 12.150
12.100 and above recOMMeNDatiON
eUr/UsD
1.2800 - 1.2850
1.3030 - 1.3080
1.3000 and above
Short profit taking @
Long cut loss @
11.950 and below
11.775 - 11.825
1.2900 and below
1.2700 - 1.2750
Short cut loss @
Entry Point
Profit Taking
Cut Loss
12.300 - 12.325
*Data di atas hanya bersifat indikatif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.
1.3120 - 1.3180
GBP/UsD
1.6375 - 1.6425
1.6615 - 1.6675
1.6600 and above
1.6500 and below
1.6275 - 1.6300
1.6750 - 1.6815 aUD/UsD
0.8860 - 0.8920
0.9180 - 0.9250
0.9100 and above
0.8980 and below
0.8700 - 0.8750
0.9280 - 0.9320
UsD/JPY
108.00 - 108.50
110.50 - 111.15
110.00 and above
109.00 and below
106.80 - 107.00
111.85 - 112.15
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
Market PersPective // 5
Selama bulan Agustus 2014, IHGS ditutup menguat sebesar 0,94% ke level 5.136.9. Kenaikan ini lebih banyak didorong saham-saham berkapitalisasi pasar kecil menengah. Hal ini terlihat dari kenaikan
IHSG yang lebih tinggi, dibandingkan kenaikan LQ45 yang relatif kecil sebesar 0,1% ke level 869.2.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp1.3 triliun selama Agustus 2014. Dengan kata lain, IHSG lebih ditopang pemain domestik yang mendorong harga saham lapis kedua.
Pergerakan pasar selama Agustus 2014 cukup mixed . Diawali dengan pelemahan selama 8 hari pertama karena pull back dari rally di akhir Juli 2014 dan kembali memanasnya risiko geopolitik di Ukraina. Kemudian, IHSG mengalami kenaikan yang tajam sejak 8 Agustus 2014 (5053.8) hingga mencapai puncaknya di
21 Agustus 2014 (5206.1), sejak meredanya krisis di Ukraina dan optimisme bahwa The Fed beserta berbagai Bank Sentral di dunia tetap menjaga level suku bunga rendah.
Setelah pengumuman MK tanggal 22 Agustus 2014 terkait hasil
Pemilihan Presiden 2014, IHSG berfluktuasi dan ditutup pada level
5.136.9. Rupanya pasar sudah memprice in optimisme bahwa MK akan menetapkan Jokowi sebagai Presiden terpilih tahun 2014.
Kenaikan IHSG di Agustus 2014 banyak didorong sektor yang didominasi saham kapitalisasi pasar kecil menengah seperti sektor pertambangan (6,5%), perdagangan dan jasa (4,3%) serta
Properti & Konstruksi (3,3%).
• Kenaikan sektor pertambangan didorong adanya upgrade
Est. EPS pada Adaro, Medco, Tambang Bukit Asam, Petrosea,
ESSA, Delta Dunia Makmur. Walaupun masih ada downgrade
di perusahaan tambang lainnya.
• Sektor Perdagangan & Jasa didorong kenaikan saham media
dan retail lapis kedua (Bayu Buana, Pembangunan Jaya Ancol,
VIVA,Tempo, Trikomsel, EMTK, dan lain-lain)
• Sedangkan di sektor Properti & Construction, didorong
kenaikan saham konstruksi BUMN (Waskita, PTPP, Wijaya
Karya) dan saham konstruksi swasta yang sebelumnya kurang
aktif diperdagangkan.
Hal ini sejalan dengan rotasi di pasar saham, dimana setelah kenaikan saham berkapitalisasi besar maka akan dilanjutkan dengan kenaikan saham berkapitalisasi menengah dan kecil.
5,050
5,000
4,950
5,250
5,200
5,150
5,100
Pergerakan iHSG (Bln Agustus 2014)
5,089
31-Jul-14 1-Aug-14
Sumber: Bloomberg dan diolah Commonwealth Bank
5,054
5,168
5,206
5,137
28-Aug-14 29-Aug-14
Dalam jangka menengah, sejak akhir tahun 2013 IHSG sudah mengalami kenaikan sebesar 20.2% ( year to date ytd ). Bila dilihat secara regional, IHSG termasuk dalam kelompok “ The Best
Performer ”, berdampingan dengan Indeks Nifty (India) sebesar
26,2% dan Indeks SET (Thailand) sebesar 20,2%.
Sedangkan indeks saham AS dan Jepang yang selama tahun 2013 mengalami kenaikan di atas 28%, hanya mencatatkan kenaikan masing-masing 8,4% dan minus 5,3% ( ytd ).
Kami melihat potensi kenaikan IHSG didorong beberapa faktor:
1. Kebijakan moneter di pasar global masih sangat mendukung
tingginya likuiditas di pasar, The Fed memang terus melanjut-
kan pengurangan pembelian asset finansial ( QE Tapering )
namun pelaku pasar memprediksi The Fed tetap akan menjaga
level suku bunga rendah hingga 2015.
European Central Bank (ECB) juga masih menurunkan suku
bunga acuan ke level rendah 0,05% dan deposit rate minus
0,2% (area negatif). ECB juga diprediksi akan mengeluarkan
program stimulus minimal Euro700 Miliar pada Oktober 2014.
Bank of Japan (BOJ) masih maintain suku bunga rendah 0,1%
dan diprediksi masih mendorong stimulus untuk bertarung
dengan deflasi yang melanda Jepang.
Begitupula bank sentral di Korea Sentral bulan lalu juga sudah
menurunkan suku bunga acuan ke level 2,25%.
Sedangkan Pemerintah China juga mendukung stimulus di
area berbasis ekspor, usaha kecil dan ke depan diprediksi
dapat menurunkan suku bunga acuan ke level 5,88% dari level
saat ini 6%.
2. Agenda reformasi Pemerintahan Baru diharapkan berjalan baik
Pembentukan kabinet kerja yang didominasi oleh kalangan
profesional dapat menjadi satu penggerak pasar.
Namun Pasar juga sangat mengamati perkembangan agenda
reformasi Jokowi di bidang subsidi BBM dan peningkatan
investasi di sektor energi. Harapannya keputusan terkait
pengendalian subsidi BBM atau misalnya kenaikan harga BBM
tidak berlarut-larut supaya tidak menimbulkan inflation
expectation yang berlebihan.
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
6 // Market PersPective
Pengendalian subsidi BBM berpotensi menghemat anggaran
dalam porsi yang cukup besar dan dapat dialokasikan untuk
pembangunan infrastruktur, yang merupakan agenda reformasi
ketiga. Penghematan anggaran disimulasikan bisa mencapai
Rp70 Triliun atau 30% dari anggaran infrastruktur, namun
kembali pada kapan berlakunya dan pada nominal berapa.
Dengan pembangunan infrastruktur utama seperti sektor
energi ( power plant ) dan transportasi (jalan, pelabuhan
dan bandara) maka akan menopang pertumbuhan ekonomi
melaju di atas 6% ( level rata-rata pertumbuhan ekonomi kita
sebelumnya).
Data makro ekonomi Indonesian terus menunjukkan perbaikan.
Inflasi Agustus 2014 menunjukkan laju penurunan menjadi
3,99% YoY dan neraca perdagangan Juli 2014 yang positif atau surplus US$124 Juta, yang dirilis pada awal September 2014 lalu.
Selanjutnya, kami melihat potensi data yang melemah dalam jangka pendek.
Adanya tekanan defisit neraca perdagangan karena impor migas masih cukup tinggi, sedangkan disisi lain harga komoditas ekspor (batu bara dan minyak sawit) masih melemah.
Pertumbuhan ekonomi QQ3 diestimasi masih lemah, terlihat dari penurunan ekspor (-6%) dan impor (-19%) di bulan Juli
2014, sedangkan kegiatan investasi belum meningkat signifikan.
Downgrade (penurunan) estimasi EPS ( Earning Per Share ) di beberapa sektor sekitar 1-2% di Agustus 2014 lalu juga masih mempengaruhi pasar. Ditambah lagi laporan keuangan
QQ3 2014 beberapa emiten masih menunjukkan pelemahan.
Selanjutnya hal yang paling krusial adalah Ketidakpastian atau keputusan kenaikan harga BBM yang berlarut-larut. Hal ini dapat mendorong pelaku pasar menjadi “ wait & see ” dan mengurangi likuditas putaran saham.
Akhirnya, faktor global seperti perkembangan risiko geo politik juga sewaktu-waktu dapat muncul kembali serta perkembangan data AS terkait keputusan The Fed ke depannya.
Hingga 3 September 2014 IHSG mencapai level 5224.1 ( all time high ), atau ekuivalen dengan dengan Price to Earning Ratio (P/E)
14,44x pada Earning Estimasi 2015.
Valuasi tersebut merupakan level yang tinggi, diatas rata-rata historis dalam 3 tahun terakhir. Walaupun terdapat potensi kenaikan harga saham, namun kami melihat level tersebut cukup rentan bila terdapat risiko yang meningkat sewaktu-waktu. Misalnya saja, risiko geopolitik yang sulit diprediksi dan dipantau.
Selanjutnya dalam jangka menengah ke panjang, kami sangat positif dengan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, demografi penduduk berusia muda dan peningkatan middle income class memberikan fundamental konsumsi yang solid.
Bandingkan saja tingkat konsumsi diapers, susu, kebutuhan rumah tangga di Indonesia vs Jepang yang demografinya tua, sungguh jauh berbeda.
Kedua, Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas makro ekonomi. Dimulai dari Bank Indonesia (BI) yang sudah menaikkan suku bunga acuan sejak tahun 2013 lalu dan terus mempertahankan kebijakan tightening bias policy . Kemudian
BI juga terus meningkatkan likuiditas USD di perbankan dalam negeri dengan mengeluarkan beberapa instrumen seperti Fx term deposit dan Fx Swap . Cadangan devisa juga terus meningkat mencapai US$111.2 Miliar pada Agustus 2014, dibandingkan level terendahnya US$92.7 Miliar per Juli 2013, sehingga memberikan ketahanan lebih besar bila terjadi pergerakan mata uang yang signifikan.
Ketiga, Pemerintah juga sudah menyiapkan berbagai amunisi untuk berjaga-jaga menghadapi tantangan di pasar global. Struktur ekspor impor masih terus dibenahi. Dan hal yang paling penting adalah Pemerintahan baru dibawah komando Jokowi sudah sangat serius untuk melaksanakan reformasi di bidang energi dan perbaikan infrastruktur.
Reformasi ini untuk mengatasi masalah struktural yang dihadapi
Indonesia. Pengendalian subsidi energi (BBM dan listrik) yang membebani sekitar Rp363 Triliun di RAPBN 2015 atau sekitar
-3,27% terhadap GDP Indonesia. Coba bandingkan dengan defisit anggaran yang ingin dijaga Pemerintah dikisaran -2.5 hingga -3%.
Betapa besar penghematan untuk mengurangi defisit anggaran dan bahkan dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur.
Dengan pengendalian subsidi energi maka postur anggaran
Pemerintah juga menjadi lebih sehat. Defisit anggaran bisa dikendalikan dan dapat mengurangi kebutuhan penerbitan hutang sehingga Indonesia memiliki daya tahan fiskal menghadapi berbagai gejolak di pasar global.
Selain itu, dengan penghematan dari subsidi energi ini, Pemerintah dapat membangun berbagai infrastruktur penting seperti power plant , jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dan lain lain. Hal ini tentunya akan sangat mendukung perkembangan bisnis. Biaya transportasi dan logistik bisa lebih ditekan dan ada kontinuitas atau ketersediaan listrik bagi sektor industri. Hal ini akan memberikan efek berlanjut khususnya pada pertumbuhan ekonomi pada level diatas rata-rata historis.
Dengan tingginya pertumbuhan ekonomi yang diprediksi bisa mencapai 6-7% dalam 3 tahun ke depan maka akan terefleksi pada pertumbuhan laba perusahaan. Inilah yang akan mendorong rerating atau kenaikan target pertumbuhan laba perusahaan.
Dengan laba yang meningkat maka pada valuasi yang sama, nilai indeks juga akan mengalami peningkatan.
Dengan demikian, sejalan dengan ekspektasi konsensus
Bloomberg, kami sangat mendukung potensi kenaikan IHSG dengan range 5.400 – 6000 ( PE Ratio ) di level 15 – 16.4x pada
Earning Estimasi 2015.
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
Market PersPective // 7
3. Perbaikan data makro ekonomi Indonesia, dengan laju inflasi
yang terus menunjukkan penurunan dan neraca perdagangan
relatif lebih baik dibandingkan 2013 lalu.
Dengan pergerakan mata uang Rupiah yang relatif terkendali dan Bank Indonesia masih menjaga tightening bias policy terlihat suku bunga acuan masih dipertahankan pada level 7,5% maka optimisme investor asing masih cukup tinggi terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Hal ini ditunjukkan dari hasil lelang obligasi Pemerintah di awal
September 2014 lalu (02/09/14) :
• Total penawaran Rp 31,1 Triliun tertinggi sejak Maret 2014
dan rata-rata ytd Rp22.6 Triliun. Didorong demand yang tinggi
dari asing sekitar Rp15.7 Triliun, dibandingkan lelang
sebelumnya hanya Rp7 Triliun.
• Final issuance sebesar Rp15 Triliun merupakan nilai yang
maksimal (vs target Rp10 Triliun) dengan issuance terbesar
di FR69 pada 7,99/9,03% diikuti FR71 pada 8,54/8,56%.
Dengan kata lain, investor asing banyak masuk di tenor
medium dan panjang. Yield juga relatif turun dibandingkan
periode minggu sebelumnya.
Selama Agustus 2014, pergerakan obligasi Pemerintah Indonesia mencatakan kinerja positif khususnya pada obligasi Pemerintah berdenominasi USD, terlihat pada penurunan yield tenor 10 tahun dari 4,2% di akhir Juli 2014 menjadi 4,08% di Agustus 2014.
Sedangkan untuk yield obligasi Pemerintah berdenominasi Rupiah pergerakannya cenderung mixed , walaupun sempat mengalami penurunan namun ditutup pada level 8,16% per Agustus 2014.
Investor asing masih terus melakukan akumulasi di pasar obligasi sehingga kepemilikan asing meningkat menjadi Rp434.2 triliun di akhir Agustus 2014. Hal ini menjadikan level kepemilikan asing terus mengalami kenaikan mencapai 37% terhadap obligasi
Pemerintah.
Nilai tukar Rupiah ditutup pada posisi Rp11.690/USD, atau melemah tipis sebesar 0,95% jika dibandingkan posisi Juli 2014 pada Rp11.580/USD, sejalan dengan penguatan USD di pasar global.
Beberapa faktor yang mendorong aliran dana asing yang terus masuk ke Indonesia :
1. Likuiditas di pasar global, didukung kebijakan moneter untuk memompa pertumbuhan ekonomi di berbagai Negara maju.
2. Imbal hasil yang menarik ditengah tingkat suku bunga global
yang rendah.
Hingga awal Sept 2014, Pemerintah sudah menerbitkan
Rp343 Triliun ( gross ) atau 79,7% dari target issuance 2014).
Pada QQ4/2014 diperkirakan domestic issuance hanya senilai
Rp28.7 Triliun (di luar global sukuk issuance US$1.5 Miliar dan retail bond Rp20 Triliun). Dengan demikian, target issuance di
QQ4 2014 relatif lebih rendah dibandingkan target issuance QQ3 sebesar Rp96 Triliun.
Padahal terdapat obligasi Pemerintah yang jatuh tempo di QQ4 senilai Rp31.2 Triliun sehingga perlu diinvestasikan kembali atau memberikan tambahan demand di pasar obligasi.
Tekanan suplai yang berkurang di QQ4 2014 dan masih tingginya demand dari investor asing terhadap high yield asset di Emerging
Market serta makro ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan
(on track dari dampak kebijakan tightening bias policy ) menjadi katalis positif pada pasar modal Indonesia.
Namun tren penguatan USD, ketidakpastian kenaikan harga BBM,
FOMC meeting dan risiko geopolitik juga berpotensi membatasi kenaikan harga obligasi dalam jangka pendek.
Sejalan dengan pasar saham, kami juga optimis dengan pasar obligasi dalam jangka menengah ke panjang. Potensi pertumbuhan ekonomi ke depan, ditunjang upaya Pemerintah untuk menjaga stabilitas makro ekonomi serta meningkatkan ketahanan fiskal melalui pengendalian subsidi energi akan berpotensi meningkatkan upgrade peringkat sovereign rating Indonesia ke depannya. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada pasar obligasi.
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
8 // Market PersPective
Kecuali dinyatakan lain, semua data bersumber dari berita media massa, dan tidak diterbitkan oleh PT Bank Commonwealth (PTBC). PTBC harus dijamin untuk dibebaskan dari tanggung jawab, termasuk tetapi tidak terbatas pada penuntutan hukum oleh pihak ketiga. PTBC beserta direkturnya, karyawannya dan perwakilannya dalam Lampiran ini selanjutnya bersama-sama disebut sebagai “Grup” “Laporan ini diterbitkan semata-mata untuk tujuan informasi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu ajakan atau penawaran untuk membeli efek atau instrumen keuangan.. Laporan ini telah disusun tanpa mempertimbangkan tujuan, situasi keuangan dan kapasitas untuk menanggung kerugian, pengetahuan, pengalaman atau kebutuhan orang-orang tertentu yang mungkin menerima laporan ini. Tidak ada anggota dari
Grup yang melakukan atau harus melakukan penilaian kelayakan atau penyesuaian laporan untuk penerima laporan ini yang karenanya tidak mendapatkan manfaat dari perlindungan peraturan dalam hal ini. Laporan ini bukan nasihat atau petunjuk. Semua penerima laporan ini harus, sebelum bertindak atas dasar informasi dalam laporan ini, mempertimbangkan kewajaran/kelayakan dan kesesuaian informasi, dengan memperhatikan tujuan-tujuan mereka sendiri, situasi keuangan dan kebutuhan, dan, jika perlu mencari profesional yang tepat, memperhatikan kondisi valuta asing atau nasihat keuangan tentang isi laporan ini sebelum membuat keputusan investasi. Kami percaya bahwa informasi dalam laporan ini adalah benar dan setiap pendapat, kesimpulan atau rekomendasi yang cukup telah diadakan atau dibuat, berdasarkan informasi yang tersedia pada saat kompilasi, tetapi tidak ada pernyataan atau jaminan, baik tersurat maupun tersirat, yang dibuat atau disediakan untuk akurasi, kehandalan atau kelengkapan setiap pernyataan yang dibuat dalam laporan ini. Setiap pendapat, kesimpulan atau rekomendasi yang ditetapkan dalam laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan dan mungkin berbeda atau bertentangan dengan, kesimpulan pendapat atau rekomendasi yang diungkapkan oleh Grup di tempat lain. Kami tidak berkewajiban untuk, dan tidak,memberitahukan perkembangan terkini atau terus mengikuti informasi terkini yang terdapat dalam laporan ini. Grup tidak menerima tanggung jawab untuk setiap kerugian atau kerusakan yang timbul akibat dari penggunaan seluruh atau setiap bagian dari laporan ini. Setiap penilaian, proyeksi dan prakiraan yang terkandung dalam laporan ini didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan dan tunduk pada kontinjensi dan ketidakpastian. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan hasil material yang berbeda pula. Grup tidak mewakili atau menjamin bahwa salah satu proyeksi penilaian atau prakiraan, atau salah satu dasar asumsi atau perkiraan, akan dipenuhi.
Kinerja masa lalu bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk kinerja masa depan. Grup tidak menjamin kinerja dari produk investasi atau pembayaran kembali modal dengan produk yang didistribusikan oleh PTBC. Investasi dalam produk ini bukan merupakan simpanan atau kewajiban lainnya dari Grup atau anak perusahaannya dan setiap jenis produk investasi memiliki resiko investasi termasuk hilangnya pendapatan dan modal yang diinvestasikan. Contoh yang digunakan dalam komunikasi ini hanya untuk ilustrasi. Semua materi yang disajikan dalam laporan ini, kecuali bila ditentukan lain, berada di bawah hak cipta Grup. Tak satu pun dari materi, maupun isinya, maupun salinannya, dapat diubah dengan cara apapun, ditransmisikan ke, disalin atau didistribusikan kepada pihak lain, tanpa izin tertulis dari perusahaan terkait yang menjadi bagian dalam Grup. Grup, berikut agennya, asosiasinya dan kliennya memiliki atau telah memiliki posisi panjang atau pendek pada efek atau instrumen keuangan lainnya yang disebut di sini, dan dapat setiap saat melakukan pembelian dan / atau penjualan terhadap kepentingan atau surat berharga dalam kapasitasnya sebagai prinsipal atau agen, termasuk menjual atau membeli dari klien atas dasar pokok dan dapat terlibat dalam transaksi yang tidak konsisten dengan laporan ini. Silahkan melihat website kami di www.
commbank.co.id untuk informasi lebih lanjut. Jika Anda ingin berbicara dengan seseorang mengenai instrumen keuangan yang dijelaskan dalam laporan ini, silakan hubungi kami hubungi Call Centre kami di 62,21 7917 6000 atau email kami di customercare@commbank.co.id.
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014
10 // Market PersPective
Commonwealth Bank of Australia (CBA) Group adalah bank terbesar di Australia dengan reputasi internasional, rating AA yang hanya dimiliki oleh 16 bank di dunia dan juga salah satu dari 12 bank teraman di dunia versi majalah Global Finance. CBA sudah beroperasi hampir satu abad lamanya, melayani lebih dari 10 juta nasabah di Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Eropa,
Jepang dan wilayah Asia Pasifik seperti Cina dan Vietnam. CBA Group di Australia kini telah memiliki 1.010 kantor cabang dengan didukung oleh 45.000 orang karyawan dan menawarkan beragam produk perbankan, investasi, asuransi, pialang dan jasa keuangan lainnya.
Di Indonesia, kehadiran CBA Group diwakili oleh tiga perusahaan. Commonwealth Bank di sektor perbankan, Commonwealth
Life di bidang asuransi, dan First State Investments Indonesia di bidang manajemen investasi.
Pt. Bank commonwealth adalah Bank yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Wealth Management Newsletter // Edisi September 2014