Jurnal Pengabdian Indonesia (JPIN) Vol. 2, No. 1, Januari 2024 https://jurnalpengabdianindonesia.com/ Pelatihan Bijak Ber-AI dengan Pendekatan Confirmatory Feedback di SMK Negeri 67 Jakarta Evi Santi Pratiwi1, Ega Abinowo Herlambang2, Fitriani3, Farhan4, Dr. Arfian, S.Psi., M.Si.5 12345 Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Email: 202210515214@mhs.ubharajaya.ac.id Abstrak Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan semakin meluas di kalangan remaja. Namun, penggunaan yang tidak bijak dapat berdampak negatif terhadap kepercayaan diri dan kemampuan berpikir kritis. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada siswa SMK Negeri 67 Jakarta agar dapat menggunakan AI secara bijak melalui pendekatan Confirmatory Feedback. Metode ini menekankan pada penguatan positif untuk bijak dalam penggunaan AI. Kegiatan ini melibatkan sesi pemaparan, diskusi, dan pemberian umpan balik yang membangun oleh fasilitator (kegiatan confirmatory feedback). Hasil evaluasi menunjukkan tidak ada perbedaan intesitas penggunaan AI dari data pre-test dan post-test. Namun dalam tingkat pemahaman siswa sudah cukup baik dalam pemahaman penggunaan AI yang bijak. Pelatihan ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi model intervensi pendidikan yang mendorong penggunaan AI yang bertanggung jawab. Kata Kunci: kecerdasan buatan, confirmatory feedback, remaja, psikoedukasi Pendahuluan Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Saat ini, banyak remaja yang memanfaatkan AI untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah, mulai dari pencarian informasi hingga penulisan esai. Meskipun AI menawarkan kemudahan dan efisiensi, penggunaan yang tidak bijak dapat menimbulkan dampak negatif, seperti menurunnya kemampuan berpikir kritis, ketergantungan, serta potensi plagiarisme akademik. Artificial Intelligence (AI) merupakan bidang dalam ilmu komputer yang mengembangkan sistem cerdas yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia, seperti memahami bahasa, mengenali visual, mengambil keputusan, dan belajar dari pengalaman. AI terdiri dari berbagai aspek penting, antara lain machine learning, natural language processing (NLP), computer vision, robotika, hingga sistem pakar dan kemampuan penalaran. Dalam praktiknya, AI telah memberikan banyak dampak positif, terutama dalam meningkatkan efisiensi, personalisasi pembelajaran, keselamatan kerja, dan mendukung pelayanan kesehatan mental melalui teknologi seperti chatbot dan sistem prediksi. Namun demikian, penggunaan AI yang tidak terkendali juga membawa dampak negatif, seperti menurunnya kemampuan berpikir kritis, meningkatnya ketergantungan teknologi, isu privasi, serta potensi penggantian tenaga kerja manusia. Penelitian menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar dalam mendukung proses belajar, namun tetap diperlukan pendekatan pedagogis yang mengedepankan etika dan tanggung jawab pengguna (Popenici & Kerr, 2017). Selain itu, laporan dari UNESCO menekankan pentingnya literasi digital dan pemahaman etis terhadap penggunaan AI di kalangan pelajar (Miao et al., 2023). Remaja sering kali terlalu mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas. Menurut Chan, fenomena “AI guilt” atau rasa bersalah karena memanfaatkan AI dapat memicu kecemasan, berkurangnya keyakinan diri, serta tekanan moral dalam menyelesaikan pekerjaan (Chan, 2023). Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI dalam studi seringkali disertai dengan anxiety, menurunnya kemampuan pengambilan keputusan secara mandiri, bahkan isolasi sosial, dampak yang memperlemah harga diri dan motivasi belajar (Morales-García et al., 2025). Hal tersebut menjelaskan bahwa penggunaan AI memiliki dampak yang kurang baik untuk kesehatan mental, jika tidak digunakan dengan bijak. Di lain sisi, akses terhadap layanan kesehatan mental di Indonesia juga belum merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Rasio psikiater di Indonesia sangat timpang, yaitu satu psikiater untuk setiap 200.000 penduduk, jauh dari standar WHO yang merekomendasikan satu psikiater untuk setiap 30.000 penduduk (Rokom, 2022). Kondisi ini menyebabkan banyak remaja di daerah tidak mendapatkan dukungan psikologis yang memadai. Penggunaan AI yang tidak bijak tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Remaja yang menggunakan bantuan AI tanpa aturan dapat berdampak negatif. Hal ini dapat menghambat perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat, serta meningkatkan beban kesehatan mental secara kolektif. Berangkat dari fenomena tersebut, program pengabdian ini dirancang untuk memberikan intervensi edukatif berbasis pendekatan Confirmatory Feedback, yaitu umpan balik positif yang menegaskan keberhasilan dan usaha siswa. Intervensi ini menyasar kelompok niche: siswa SMK Negeri 67 Jakarta usia 15–18 tahun, yang dipilih secara purposif karena mereka berada dalam fase krusial pembentukan karakter belajar mandiri namun sangat 2 terdampak oleh tren teknologi. Kegiatan pelatihan ini dirancang bukan untuk melarang penggunaan AI, melainkan menanamkan sikap kritis, tanggung jawab, dan kemampuan reflektif dalam penggunaannya. Salah satu pendekatan psikologis yang dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan ini adalah Confirmatory Feedback, yaitu umpan balik yang menegaskan keberhasilan atau usaha individu dalam proses belajar. Confirmatory feedback adalah bentuk umpan balik yang diberikan untuk mengafirmasi bahwa respons atau tindakan seseorang telah sesuai, tanpa memberikan koreksi atau arahan baru. Dalam pembelajaran berbasis AI, jenis umpan balik ini berperan penting dalam memperkuat keyakinan diri, meningkatkan motivasi, dan menumbuhkan pola pikir bertumbuh (growth mindset). Saat pengguna mendapatkan konfirmasi bahwa langkah mereka tepat, mereka akan lebih percaya diri dalam mengeksplorasi dan menggunakan AI secara produktif. Confirmatory feedback termasuk dalam formative feedback karena berfungsi sebagai penguatan atas performa yang telah benar. Aspekaspeknya meliputi validasi pemahaman, penguatan positif, serta pembentukan efikasi diri yang tinggi dalam menggunakan teknologi. Efektivitas feedback ini dipengaruhi oleh tujuan penggunaan AI, kesiapan pengguna, dan ketepatan waktu pemberian umpan balik. Dalam konteks edukasi, confirmatory feedback tentang AI berkontribusi mempercepat proses belajar dan meningkatkan minat pengguna terhadap materi. Dengan demikian, penggunaan AI yang bijak dan reflektif akan semakin terbentuk melalui dukungan umpan balik yang afirmatif. Berdasarkan penelitian, confirmatory feedback memiliki peran penting dalam memperkuat keyakinan diri dan meningkatkan performa siswa melalui validasi positif atas usaha yang telah dilakukan. Ketika remaja mendapatkan penguatan atas kerja keras mereka secara langsung dari guru atau lingkungan belajar, mereka cenderung merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berusaha sendiri, bukan sekadar mengandalkan AI. Penerapan teori ini dalam konteks pendidikan mampu membangun pola pikir berkembang (growth mindset) serta mendorong ketekunan dalam menghadapi tugas. Kontribusi nyata dari kegiatan ini tidak hanya terletak pada penguatan kepercayaan diri dan literasi digital siswa, tetapi juga pengayaan teori penerapan Confirmatory Feedback dalam konteks pembelajaran berbasis teknologi. Pelatihan ini dapat bermanfaat sebagai alat bantu psikoedukatif yang aplikatif. Dengan demikian, pengabdian ini menjadi langkah preventif sekaligus inovatif dalam menghadapi tantangan pembelajaran di era AI, serta menjawab kebutuhan pendidikan karakter yang adaptif terhadap perubahan zaman. 3 Pelaksanaan dan Metode Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pelatihan Bijak Ber-AI dengan Pendekatan Confirmatory Feedback” dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 14 Juni 2025, bertempat di SMK Negeri 67 Jakarta. Sekolah ini dipilih secara strategis karena terletak di wilayah urban dengan akses teknologi yang cukup memadai, dan mayoritas siswa telah terbiasa menggunakan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk membantu proses belajar. Berdasarkan hasil asesmen awal informal yang dilakukan oleh tim fasilitator, siswa-siswa di SMK Negeri 67 Jakarta menunjukkan kecenderungan menggunakan AI seperti ChatGPT, Grammarly, dan fitur AI pada mesin pencari untuk menyelesaikan tugas, memahami materi pelajaran, hingga mencari inspirasi untuk kegiatan akademik maupun non-akademik. Namun, pemanfaatan teknologi ini sering kali belum diiringi dengan pemahaman kritis mengenai batas etika, risiko privasi, serta dampaknya terhadap pola pikir dan pembentukan karakter belajar mandiri. Sebanyak 19 siswa yang merupakan perwakilan dari kelas X dan XI dipilih secara purposif untuk mengikuti pelatihan ini. Kriteria pemilihan mencakup keterwakilan kelas, keaktifan dalam kegiatan belajar daring, serta kesiapan kognitif dan afektif untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah. Peserta tersebut diharapkan dapat menjadi role model dan menyebarkan wawasan yang diperoleh kepada teman-temannya. Selain itu, sebagian besar dari mereka termasuk dalam kelompok usia remaja pertengahan, yang menurut psikologi perkembangan merupakan fase krusial dalam pembentukan identitas diri, termasuk bagaimana mereka menggunakan teknologi untuk mendukung pencapaian pribadi maupun akademik. Pelaksanaan kegiatan menggunakan metode psikoedukasi partisipatif dengan penekanan pada dua pendekatan utama, yakni pendekatan interaktif dan reflektif. Psikoedukasi dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, melainkan sebagai media pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan mengevaluasi diri dalam penggunaan AI. Materi dan intervensi yang diberikan dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan gaya belajar remaja, dengan durasi per sesi disesuaikan antara 15 hingga 30 menit untuk mempertahankan fokus dan keterlibatan peserta. Penyampaian dilakukan dalam bentuk pemaparan materi, permainan pemantik diskusi, pemutaran video singkat, serta sesi tanya jawab. Secara substansi, pelatihan ini mencakup tiga fokus materi utama. Pertama, peserta diperkenalkan pada pemahaman dasar mengenai kecerdasan buatan, meliputi definisi, sejarah singkat, aspek-aspek teknologi seperti machine learning, natural language processing (NLP), 4 computer vision, dan penerapannya dalam dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari (Sheikh et al., 2023). Penekanan juga diberikan pada dua sisi penggunaan AI—manfaat dan risikonya. Manfaat yang ditekankan antara lain personalisasi pembelajaran, efisiensi akses informasi, serta dukungan AI dalam pengambilan keputusan sederhana. Sementara itu, risiko yang dikaji bersama peserta termasuk menurunnya daya pikir reflektif, ketergantungan teknologi, potensi bias informasi, hingga isu privasi dan data. Kedua, peserta diberikan pemahaman dengan konsep confirmatory feedback yang bersifat membangun dan memotivasi. Confirmatory feedback dipahami sebagai bentuk umpan balik yang mengafirmasi bahwa respons atau usaha yang dilakukan oleh siswa sudah tepat. Berbeda dari koreksi langsung (corrective feedback), jenis feedback ini lebih menekankan penguatan positif terhadap hal yang telah dilakukan dengan benar (Shute, 2008). Selama sesi ini, fasilitator secara aktif memberikan umpan balik verbal yang menekankan keberhasilan peserta, seperti apresiasi terhadap partisipasi aktif, kejelasan dalam mengemukakan pendapat, dan kemampuan mereka mengidentifikasi penggunaan AI yang tepat. Tujuan dari teknik ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa, menumbuhkan rasa percaya diri dalam memanfaatkan teknologi, serta mendorong terbentuknya pola pikir berkembang (growth mindset), yakni keyakinan bahwa kemampuan bisa terus diasah melalui proses belajar yang berkelanjutan. Ketiga, peserta diajak untuk merefleksikan pola penggunaan AI mereka sendiri melalui diskusi kelompok kecil. Dalam sesi ini, siswa dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta untuk mendiskusikan pengalaman pribadi mereka dalam menggunakan teknologi AI: mulai dari bagaimana mereka menggunakannya, kapan mereka merasa terlalu bergantung, hingga dampak yang dirasakan terhadap cara belajar mereka. Hasil diskusi kelompok kemudian dipresentasikan dan difasilitasi oleh tim pelatih untuk menggarisbawahi prinsip-prinsip penggunaan AI yang bijak dan bertanggung jawab. Fasilitator juga menyisipkan nilai-nilai literasi digital dan etika penggunaan AI dalam pembelajaran, yang bertujuan untuk membentuk kesadaran kritis siswa terhadap implikasi sosial dan pribadi dari pemanfaatan teknologi cerdas. Dalam proses pelatihan, dilakukan dokumentasi kegiatan berupa catatan lapangan, dokumentasi foto, serta pencatatan umpan balik dari peserta secara lisan. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan yang digunakan serta menyusun rekomendasi kegiatan lanjutan. Respons peserta secara umum menunjukkan antusiasme yang tinggi. Beberapa siswa bahkan mengungkapkan bahwa ini adalah pertama kalinya mereka diajak berdiskusi secara terbuka mengenai penggunaan AI dalam belajar, dan mengaku lebih paham 5 mengenai pentingnya berpikir mandiri serta memilah informasi secara kritis. Oleh karena itu, pelatihan ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang aman untuk eksplorasi sikap dan nilai-nilai pembelajaran abad 21. Gambar 1. Conceptual Framework Pemaparan Penggunaan AI Diskusi Penerapan Pendekatan Confirmatory Feedback Hasil dan Pembahasan Kegiatan pelatihan dilaksanakan dalam empat tahapan utama, yakni: pre-test, psikoedukasi interaktif, simulasi tugas mandiri tanpa bantuan AI, dan pemberian confirmatory feedback. Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk mendorong peserta—yakni siswa SMK Negeri 67 Jakarta—untuk tidak hanya memahami penggunaan AI secara teknis, tetapi juga mengembangkan kesadaran kritis dan sikap reflektif dalam proses belajar. Tujuan dari pelatihan ini tidak semata mengukur pencapaian kognitif, melainkan membentuk fondasi psikologis seperti kepercayaan diri, motivasi intrinsik, dan pola pikir berkembang (growth mindset) melalui pengalaman belajar langsung. Pada tahap awal, dilakukan pre-test terhadap 19 siswa untuk mengevaluasi pemahaman awal dan sikap mereka terhadap penggunaan AI dalam konteks pembelajaran. Soal-soal dalam pre-test dirancang untuk mengeksplorasi pemahaman konsep AI, sikap terhadap ketergantungan teknologi, serta kesediaan siswa untuk berpikir kritis dan menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi psikoedukasi yang mencakup pemahaman teoretis tentang AI dan dampaknya, studi kasus etis dalam penggunaannya, serta diskusi kelompok kecil. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pengerjaan tugas tanpa bantuan AI, sebagai bentuk latihan berpikir mandiri. Di akhir sesi, fasilitator memberikan confirmatory feedback berupa penguatan terhadap proses, usaha, dan strategi belajar yang telah ditunjukkan oleh peserta. Setelah seluruh rangkaian selesai, dilakukan post-test kepada 18 peserta (1 siswa tidak hadir). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa nilai rata-rata post-test meningkat dari 6 21,95 (SD = 3,73) menjadi 22,56 (SD = 3,75). Meski perbedaan skor terlihat kecil secara angka, ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan pemahaman dan sikap terhadap penggunaan AI secara bijak. Hasil ini tercantum dalam Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata Hasil Pre-test dan Post-test Penggunaan AI Jenis Tes N Rata-rata Standar Deviasi (SD) Pre-test Penggunaan AI 19 21.95 3.73 Post-test Penggunaan AI 18 22.56 3.75 Untuk mengetahui apakah perubahan tersebut signifikan secara statistik, dilakukan uji Paired Sample T-Test. Hasil uji menunjukkan nilai t = -0.412 dengan p-value sebesar 0.685 dan nilai effect size (Cohen’s d) = -0.097, yang mengindikasikan bahwa perbedaan skor tersebut tidak signifikan secara statistik. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Paired Sample T-Test Measure 1 Measure 2 t df p-value Cohen’s Interpretasi d Pre-test Post-test Penggunaan Penggunaan AI -0.412 17 0.685 -0.097 Tidak signifikan AI Meski demikian, bila dilihat dari perspektif psikologis dan afektif, pelatihan ini memberikan dampak yang lebih mendalam daripada sekadar perubahan skor tes. Data kualitatif yang dikumpulkan melalui sesi diskusi dan refleksi menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan kesadaran dan perubahan sikap. Beberapa siswa mengungkapkan bahwa pelatihan ini adalah pertama kalinya mereka menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI dan merasa bangga atas hasil kerja mereka sendiri. Mereka juga menyatakan bahwa umpan balik positif dari fasilitator maupun rekan sebaya memberikan dorongan motivasional yang kuat untuk terus berusaha, sekalipun mengalami kesulitan. Selain itu, confirmatory feedback yang diberikan dalam bentuk afirmasi atas usaha, proses berpikir, dan kontribusi dalam diskusi terbukti mampu meningkatkan self-efficacy siswa. Peserta yang semula ragu terhadap kemampuan berpikir mandiri menunjukkan keberanian lebih dalam menyampaikan pendapat dan menyelesaikan tugas dengan kreativitasnya sendiri. Ini sejalan dengan temuan dari Shute (2008) bahwa confirmatory feedback, sebagai bagian dari formative feedback, memiliki kekuatan dalam memperkuat motivasi belajar dan membentuk sikap positif terhadap pembelajaran. 7 Implikasi dari hasil ini adalah bahwa pendekatan psikoedukatif berbasis confirmatory feedback dapat menjadi strategi alternatif yang efektif dalam membentuk karakter siswa di era digital. Meskipun tidak secara langsung menghasilkan lonjakan skor akademik, pendekatan ini memberikan pondasi penting berupa kesadaran, kemandirian, dan kepercayaan diri—yang merupakan modal utama dalam pembelajaran jangka panjang. Ini sangat relevan dalam konteks pembelajaran abad ke-21 yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga membentuk literasi digital dan etika penggunaan teknologi. Kesimpulan dan Rekomendasi Pelatihan penggunaan Artificial Intelligence (AI) secara bijak dengan pendekatan confirmatory feedback yang dilaksanakan di SMK Negeri 67 Jakarta menunjukkan dampak yang menggembirakan dalam aspek psikologis dan perilaku belajar siswa. Walaupun hasil uji statistik paired sample t-test menunjukkan bahwa peningkatan skor pre-test ke post-test tidak signifikan secara kuantitatif (p = 0.685), temuan ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai kegagalan program. Justru, kekuatan utama dari pelatihan ini terletak pada efek kualitatifnya, yaitu munculnya perubahan sikap dan persepsi siswa terhadap proses belajar dan pemanfaatan teknologi. Melalui sesi refleksi dan diskusi kelompok, siswa menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya berpikir mandiri serta kemampuan untuk menyelesaikan tugas tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan AI. Beberapa peserta bahkan menyatakan bahwa pelatihan ini membuka pemahaman baru tentang batas sehat dalam menggunakan teknologi dan pentingnya mempertahankan kemampuan kognitif secara aktif. Penerapan metode psikoedukatif dengan fokus pada confirmatory feedback memberikan pengalaman belajar yang suportif dan mendorong tumbuhnya kepercayaan diri. Feedback afirmatif yang diberikan oleh fasilitator—baik dalam bentuk pujian atas usaha maupun validasi terhadap pemikiran peserta—memiliki pengaruh positif terhadap peningkatan selfefficacy. Siswa merasa dihargai bukan hanya karena jawaban benar, melainkan karena proses berpikir dan keberanian untuk mencoba. Dalam suasana yang bebas dari penilaian negatif, peserta pelatihan menjadi lebih terbuka menyampaikan ide dan menerima masukan. Kondisi ini menciptakan ruang aman psikologis yang esensial dalam proses belajar, khususnya bagi remaja yang berada pada fase pencarian identitas dan penguatan harga diri. Lebih lanjut, strategi confirmatory feedback yang diterapkan terbukti mendorong berkembangnya growth mindset—yakni keyakinan bahwa kemampuan intelektual bukan sesuatu yang statis, melainkan dapat ditingkatkan melalui usaha dan pembelajaran yang 8 berkelanjutan. Ini sangat relevan dengan tantangan pendidikan abad ke-21 yang menuntut peserta didik memiliki ketahanan belajar, kemampuan reflektif, dan literasi teknologi yang etis. Oleh karena itu, meskipun hasil kuantitatif belum menunjukkan perubahan signifikan, nilai transformasional dari program ini tercermin jelas dalam peningkatan motivasi intrinsik, kemauan untuk mengeksplorasi tanpa rasa takut gagal, serta sikap bijak dalam menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti nalar manusia. Secara keseluruhan, pendekatan pelatihan ini memiliki potensi besar untuk direplikasi di sekolah-sekolah lain, khususnya dalam membentuk karakter digital siswa. Diperlukan kesinambungan program dan integrasi dalam kurikulum yang lebih luas agar pendekatan berbasis umpan balik positif ini dapat menjadi bagian dari budaya belajar yang membangun, kolaboratif, dan memberdayakan generasi muda dalam menghadapi era kecerdasan buatan secara etis dan mandiri. Gambar 2. Pemberian Materi 9 Gambar 3. Confirmatory Feedback Gambar 4. Foto Bersama 10 Namun demikian, pelaksanaan kegiatan ini masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan waktu dan keberagaman karakter siswa. Oleh karena itu, direkomendasikan agar sekolah mengembangkan program lanjutan yang lebih berkelanjutan, seperti pembentukan kelompok peer support, mentoring siswa oleh teman sebaya, atau pelibatan aktif guru BK dan wali kelas untuk terus memberikan penguatan positif dalam keseharian siswa. Intervensi yang bersifat rutin dan sistematis akan membantu menjaga dampak positif pelatihan ini dan memperkuat budaya belajar yang sehat, reflektif, dan bertanggung jawab di lingkungan sekolah Ucapan terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala SMK Negeri 67 Jakarta dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada tim relawan dan mahasiswa yang telah membantu pelatihan berlangsung dengan lancar. Daftar Pustaka Chan, C. K. Y. (2023). Exploring the Factors of “AI Guilt” Among Students-Are You Guilty of Using AI in Your Homework? The University of Hong Kong. Miao, Fengchun., Holmes, Wayne., Huang, Ronghuai., Zhang, Hui., & Unesco. (2023). AI and education : Guidance for policymakers. United Nations. https://discovery.ucl.ac.uk/id/eprint/10130180/1/Miao and Holmes - 2021 - AI and education guidance for policy-makers.pdf Morales-García, W. C., Sairitupa-Sanchez, L. Z., Flores-Paredes, A., Pascual-Mariño, J., & Morales-García, M. (2025). Influence of Self-Efficacy in the Use of Artificial Intelligence (AI) and Anxiety Toward AI Use on AI Dependence Among Peruvian University Students. Data and Metadata, 4. https://doi.org/10.56294/dm2025210 Popenici, S. A. D., & Kerr, S. (2017). Exploring the impact of artificial intelligence on teaching and learning in higher education. Research and Practice in Technology Enhanced Learning, 12(1). https://doi.org/10.1186/s41039-017-0062-8 Rokom. (2022). Kemenkes perkuat jaringan layanan kesehatan jiwa di seluruh fasyankes. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20221010/4041246/kemenkeskembangkan-jejaring-pelayanan-kesehatan-jiwa-di-seluruh-fasyankes/ Sheikh, H., Prins, C., & Schrijvers, E. (2023). Artificial Intelligence: Definition and Background. 15–41. https://doi.org/10.1007/978-3-031-21448-6_2 11
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )