CLASSIC
ADVENTURE
Ahmad Mujahid : 2509106044
2509106059
M. Bakil Amru : 2509106044
1
CHAPTER 1
Awal Perjalanan
---Tahun ke-390 setelah berdirinya kerajaan Aidelaide--Clay Heart, pemuda biasa dari Desa Grada — sebuah desa
kecil terpencil di ujung utara kerajaan Aidelaide. Hari ini, Clay
genap berusia delapan belas tahun. Sesuai tradisi, setiap pemuda
yang telah cukup umur harus meninggalkan rumah dan mencari
arti hidupnya sendiri, tak terkecuali Clay.
Pertama kali Clay melangkah keluar desa, melihat dan
merasakan dunia luar, udara yang segar, dedaunan yang hijau, dan
jalan yang seolah olah menyambut dan menariknya untuk
menjelajahi dunia ini. Ia tak tahu apa yang menunggunya disana,
tetapi ia yakin ini adalah awal perjalanannya menjadi petualang
terhebat di Aidelaide. Ia mungkin sudah lebih dari siap untuk
menjalani kisahnya...
Kisah ini baru saja dimulai...
Clay : "BAIKLAH, DENGAN BEGINI AKU AKAN MEMBUAT
CERITA KU SENDIRI UNTUK MENJADI PETUALANG YANG
HEBAT AAAAAAA!!"
Clay pergi dari Desa Grada dengan ransel lusuh kecil dengan
persiapan yang minim, hanya membawa pakaian ganti, sebotol
air, sepotong roti, satu buah pisau kecil, dan sebuah buku
1
kosong. Berjalan terus menerus hingga keterusan dan kehilangan
arah, untungnya ia bisa kembali ke Desa Grada.
Tidak ingin berjalan tanpa tau arah, Clay memutuskan bertanya
ke penjaga di Desa.
Penjaga : "Huh? kau tersesat... WKWKAKWKAAKW. kalau mau
ke ibu kota ya lewat Hutan Willow, Rawa Hitam, Gunung Leroy,
Setelah itu ya lurus saja.
Clay : “Kalau begini terus... aku bisa tersesat. Mungkin... aku
harus menulis tempat-tempat itu.”
“Rute : [Hutan Willow, Rawa Hitam, Gunung Leroy]”
Itulah yang tertulis di lembar pertama bukunya. Dengan
riang gembira, Clay berjalan menuju hutan Willow sambil
memegang bukunya. 3 jam telah berlalu sejak ia pergi dari Desa
Grada, masih dengan buku di tangannya semakin dekat dengan
tujuannya. Pohon dengan batang kemerahan dan daun
kekuningan, terlihat sepanjang ia memandang. Clay telah sampai
di hutan Willow.
Perjalanan sebelumnya membuat Clay sangat lelah hingga
kakinya seperti menyuruhnya untuk berhenti berjalan, Clay pun
lansung duduk dan bersandar pada sebuah pohon willow tua
yang besar untuk beristirahat sebentar. Ia mengambil botol yang
ada di dalam ranselnya, setelah itu ia menatap langit yang dimana
matahari sangat terik sampai – sampai terasa berada diatas
kepalanya. Untung saja pohon tua itu memiliki daun yang lebat
sebagai tempat berlindung sementara bagi Clay.
2
Matanya terpejam tanpa sadar, sebelum tertidur ia
mendengar sebuah pijakan kaki misterius. Clay yang sadar
lansung sangat sigap untuk mengambil pisau dan siap untuk
melawan makhluk yang menganggu tidurnya. Ini pertama
kalinya Clay merasakan sensasi seperti ini, suasananya sedikit
mencekam dan makhluk yang di balik pohon belum juga
menampakkan dirinya, Clay pun penasaran dan berteriak.
Clay : "OI, AKU TIDAK TAU APA ATAU SIAPA YANG ADA
DISANA, KELUARLAH DAN TAMPAKKAN DIRIMU!"
Hutan tetap senyap, namun pada saat Clay memutuskan
untuk berjalan satu langkah menuju suara itu, dari balik pohon
muncullah seorang pria berjubah putih sedikit pudar dan
menggunakan tongkat kayu. Sepertinya itu adalah seorang kakek
- kakek yang keberadaannya misterius.
kakek : "Apakah aku menakutimu anak muda?"
Clay menjawab
Clay : "Tentu saja! Aku baru saja mau tidur kek!"
Kakek : "Maafkan orang tua ini, aku sering keluar masuk hutan
ini untuk bertapa di sisa hidup ini. Bagaimana denganmu anak
muda, Sedang apa kau disini?"
Clay : "Aku akan menjadi petualang terhebt dan sekaramg
menuju ibu kota"
3
Kakek : "Hahaha! Dari perkataanmu, kau seperti pemuda –
pemuda lainnya yang ku temui, antusias ada api semangat
didalam dirimu. Apakah persiapanmu sudah sangat matang
untuk melalui semua perjalananmu, dilihat dari kondisimu
sekarang sepertinya belum layak untuk melanjutkan perjalanan"
Clay : "Terus aku harus bagaimana dong?"
Kakek : "Tenang nak, saya tahu antusias mu tapi saya hanya
membantu sebisa saya . Aku akan memberimu suatu hal yang
harus kau tahu atau engkau ingat nanti"
Clay : "Boleh tuh kek "
Kakek : "Berhati hatilah jika kau menulusuri hutan ini, banyak
monster monster yang dapat membahayakan diri kita, apakah kau
sama sekali belum pernah menemui salah satu dari mereka. Catat
nama mereka dalam buku mu!"
Clay : "Bagaimana bentuk monster monster itu? seberapa
berbahaya mereka?"
Kakek : "mereka adalah makhluk yang rakus, ganas, sekaligus
berbahaya walaupun mereka bukanlah seperti monster besar
yang kuat, tetapi monster ini bisa menjadi berbahaya untuk
4
orang seperti mu. Salah satu monster yang ku maksud adalah
'GOBLIN'. Mereka benar benar rakus ,ganas, dan brutal"
Clay : "Bagaimana melawannya ?"
*Kakek tersenyum sinis sekaligus licik
Kakek : "Untuk bertahan hidup dari goblin kau butuh tempat
berlindung atau bersembunyi darinya!"
Kakek : "Seingat ku ada sebuah gubuk kecil tidak jauh dari jalan
ke masuk Rawa Hitam, akan ada gubuk kayu kecil yang sedikit
terang ditengah rawa hitam itu. Sebaiknya kau cepat kesana dan
berada di sana sebelum gelap tiba "
Clay: "Itu benar sekali, Kek. Aku harus cepat, tolong antarkan aku
hingga ke Rawa Hitam itu, Kek."
Kakek: "Baiklah, baiklah. Dikarenakan malam yang sebentar lagi
tiba, ada baiknya kita bergegas. Ikuti aku saja, aku tunjukkan
jalannya."
Clay: "Gaskaannnnnn!"
Sambil berjalan menuju rawa, kakek punya suatu hal untuk Clay.
Kakek: "Nak, apakah kau sudah mengenal banyak manusia?"
5
Clay: "Tidak juga sih, Kek. Ada apa memangnya?"
Kakek: "Jika kamu belum mengenal manusia itu sendiri, maka
kau harus tahu bahwa seseorang pasti punya alasannya untuk
hidup. Bahkan saat mereka mati pun, mereka punya alasan dari
kematiannya itu sendiri."
Clay: "Maksudnya, Kek?"
Kakek: "Baiklah, mungkin kamu cukup tahu petuah ini. Simpan
dan ingat baik-baik petuah yang aku sampaikan, karena suatu saat
mungkin yang akan aku beri ini dapat berguna untukmu, untuk
hidup atau mati."
Clay: "Petuah apa itu, Kek?"
Kakek: "Sebagai manusia, kau harus menjadi orang yang
bijaksana, juga harus jujur kepada manusia lain. Tetapi, apakah
kamu bisa membedakan manusia itu jujur atau tidak?"
Clay: Terdiam sambil menggelengkan kepala.
Kakek: "Berarti kau harus ingat satu petuah terakhir ini, yaitu
jangan percaya siapa pun."
6
Clay: "Hah? Kenapa bisa begitu, Kek? Aku saja sedang
mempercayai kakek sekarang. Kakek bisa dipercaya kan? KAN?"
Kakek: "Hohoho... seperti yang aku bilang tadi, apakah kamu bisa
membedakan seseorang yang sedang jujur atau tidak? Jika tidak,
apa yang akan kau lakukan selain tidak mempercayai siapa pun
kecuali dirimu sendiri? Kau masih muda, perjalananmu masih
panjang, kau pun harusnya sudah tahu itu semua."
Clay: Terdiam cukup lama sambil merenung.
Dan sore pun mulai berganti, langit malam akan tiba sebentar
lagi. Mereka akan sampai sesaat lagi.
Kakek: "Jadi, maaf jika mungkin ini terlalu berat atau keras
untukmu. Jadikan saja pelajaran di perjalananmu nanti. Aku
tidak bisa menemanimu lebih jauh lagi, hari sudah mulai gelap,
aku juga harus berjalan jauh lagi dari sini. Tetap semangat, Nak.
Aku tahu kau bisa melalui ini. Sampai jumpa."
Clay menulis 3 petuah tersebut dalam bukunya dan berjanji
takkan menghapusnya.
7
CHAPTER 2
Pelajaran yang Berharga
Clay pun melanjutkan perjalanan dengan sedikit rasa
penasaran dan bingung dari apa yang dimaksud kakek tua
berjubah tadi. Karena hari yang sudah mau malam, ia pun harus
berpisah dengan kakek tadi dan mencari gubuk kayu tua yang
dimaksudnya, dengan harapan aku akan bertahan dan
mendapatkan tempat perlindungan yang aman, menolongknya
memberikan tempat peristirahatan sementara dalam petualangan,
dan menunggu malam hari berlalu untuk melanjutkan
petualangan hebat ini.
Di ujung kegelapan Clay benar-benar melihat sebuah
gubuk kayu tua di tengah rawa. Itu adalah hal yang ia butuhkan
dan ia cari untuk melalui malam yang gelap ini. Tanpa berlamalama, ia pun harus cepat menuju ke gubuk itu. Dengan semangat,
aku berlari ke arah gubuk kayu tua itu dan beristirahat di dalam.
Pada saat sudah berada di dalam gubuk itu, benar-benar
terasa seperti menyimpan sebuah rahasia atau dendam yang
belum terbalaskan. Kayunya sedikit rapuh, tangganya tidak
lengkap di setiap pijakan, dengan suasana yang pernah Clay
rasakan sebelumnya saat bertemu kakek itu. Tapi ini sedikit lebih
dingin, dicampur dengan heningnya malam itu. Namun itu
adalah satu-satunya tempat yang bisa ia pakai, daripada harus
berjalan terus di luar tanpa mengetahui bahaya apa yang
menunggunya di luar sana.
8
Tetapi malam itu Clay sedikit punya kendala untuk tidur
karena memikirkan hampir semua perkataan kakek tua tadi.
Seperti ada makna tersirat yang belum ia pahami.
"DUUBRRAAKK!!"
Terdengar suara asing dari luar gubuk yang belum pernah
ia dengar sebelumnya. Suara itu seperti suara hewan, tapi juga
seperti hewan yang benar-benar ganas dan rakus dari segala arah.
Dengan rasa sangat takut, ia tetap memaksakan diri untuk
mencari tahu sosok apa yang ada di luar. Saat ia mengintip keluar,
ia melihat makhluk yang membuatnya merinding — dan benar
sekali, mereka adalah goblin.
Setelah mengetahuinya, Clay merasa seperti ada yang
memegang kakinya dan menariknya kepada mereka. Makhluk itu
sangat kotor, tua, bertelinga besar, dan jumlahnya cukup banyak.
Yang lebih mengerikan lagi, mereka menatap gubuk seolah
menemukan sosok asing yang masuk wilayahnya dan
mengganggu mereka. Ia pun tersandar hingga terbaring
ketakutan di gubuk itu. Ia berada di tengah-tengah rawa, di
wilayah mereka. Suasana menjadi sangat mencekam.
Yang lebih tegang lagi, ia mendengar makhluk-makhluk itu
semakin dekat, seperti akan mendatangi gubuk ini. Saat ia
mengintip lagi, ternyata benar — mereka sudah mulai berjalan
menuju gubuk dan menaiki tangga untuk menghampirinya. Ia
panik dan berpikir keras bagaimana cara bertahan dari goblingoblin itu. Ia hanya punya pisau kecil untuk bertahan hidup. Ia
teringat lagi perkataan kakek tadi bahwa ia harus bertahan hidup.
9
Melawan goblin tanpa kemampuan bertarung jelas sangat sulit.
Goblin-goblin itu sudah sampai di depan pintu gubuk dan mulai
mengetuk. Ia dipaksa berpikir keras untuk bertahan hidup.
Goblin-goblin itu berhasil mendobrak pintu gubuk kayu
tua itu. Clay tahu kayu di sana rapuh dan sadar kalah jumlah
maupun kekuatan. Yang ada di pikirannya hanyalah dua pilihan
— melawan seperti pahlawan, atau lari seperti penakut. Tentu saja
ia memilih melawan. Ia mengayunkan pisaunya ke salah satu
goblin, namun masih ada beberapa goblin yang berdatangan,
seperti ingin menangkapnya. Ia teringat lagi petuah kakek, “Kita
harus bijaksana.”
Clay sadar benar-benar kalah jika bertarung. Opsi untuk
melawan adalah pilihan yang salah, sama saja menyerahkan
nyawanya kepada mereka. Saat goblin-goblin itu semakin dekat,
ia langsung berlari ke bagian belakang gubuk dan melompat
melewati jendela tanpa kaca. Ia berlari sejauh dan sekuat yang ia
bisa, dengan luka-luka akibat cakaran goblin dan terjatuh dari
jendela. Ia tidak tahu ke arah mana aku berlari; yang ia tahu
hanya satu — lari tanpa henti untuk menjauhi monster-monster
itu. Di sepanjang jalan, ia menemukan tanjakan menuju sebuah
Leroy. ia tidak tahu apa-apa lagi, semua tertutupi oleh rasa takut.
Akhirnya ia sampai di sana , Bulan berada tepat di atas kepala.
Saat ia melihat langit yang indah, tubuhnya jatuh, terbaring tak
kuasa bangkit.
10
CHAPTER 3
Gunung Leroi
Keesokan paginya, Clay terbangun oleh kicauan burung
yang ramai menyambut mentari. Angin pagi meniup lembut
dedaunan, bunga-bunga tampak melambai, dan pepohonan
berdiri kokoh seolah memberi tempat untuk bersandar. Pagi itu
terasa begitu tenang dan indah. Bagi Clay, ini mungkin
pengalaman terbaik sejak ia memulai petualangan barunya.
Ia menatap langit biru yang cerah, seolah langit itu tersenyum
kepadanya. Setelah semua ketakutan dan penderitaan semalam,
Clay merasa seperti diberi kesempatan baru — sebuah jalan yang
lapang untuk memulai kembali.
Ia berjalan menyusuri lereng Gunung Leroi, mengamati
pepohonan, tanaman, serta bunga-bunga yang bermekaran.
Semuanya tampak hidup. Untuk sesaat, ia ingin menetap di
tempat itu selamanya. Namun, tujuan perjalanannya kembali
teringat, yaitu menuju ke ibu kota.
Clay teringat pesan kakek untuk mencatat nama monster
yang ia temui, tetapi ia bingung karena banyak goblin yang ia
temui. Ia memutuskan untuk menulis nama monster sebanyak
sekali saja, selain itu dia melihat penanda yang menandakan
bahwa ini Gunung Leroi bukan Leroy dan ia memperbaiki buku
catatannya serta menambah rute akhirnya yaitu Vortex, ibu kota
kerajaan.
11
“Rute : [Hutan Willow, Rawa hitam, Gunung Leroi, Vortex”
“Petuah : (Jujur, Bijaksana, Jangan percaya siapapun)”
“Monster : {Ular, Goblin, Musang}”
Lembar pertama bukunya mulai terisi. Clay melihat lagi
buku catatannya dan berfikir kalua ular dan musang tak
seharusnya dicatat, maka dari itu dia menghapus ular dan
musang.
Clay merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan bergegas
mencari tanaman herbal untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Ada lima tanaman yang dapat ia kumpulkan karena tasnya kecil.
Setelah mengumpulkannya, ia langsung membuat salep untuk
luka-lukanya.
Sebelum benar-benar meninggalkan gunung, matanya
menangkap pemandangan lain — jauh di bawah sana, sebuah
kota besar tampak berdiri megah. Dari ketinggian, ia bisa melihat
dinding-dinding kota dan bendera yang berkibar di atasnya.
Itulah tujuan berikutnya, Vortex. Dengan napas panjang, Clay
menatap sekeliling untuk terakhir kalinya. Ia pun mulai
menuruni Gunung Leroi, meninggalkan keindahan yang sempat
memberinya rasa damai, menuju perjalanan berikutnya —
menuju ibu kota yang menanti di bawah sana.
12
CHAPTER 4
Gerbang Vortex
Setelah berhari-hari menuruni Gunung Leroi, Clay
akhirnya melihat dinding batu besar yang menjulang tinggi di
kejauhan. Matahari sore memantulkan cahaya ke puncak menara,
dan bendera kerajaan berkibar di atasnya — menandakan bahwa
ia telah sampai di gerbang ibu kota, Vortex.
Langkah Clay gontai. Bajunya lusuh, ranselnya sobek, dan
wajahnya tampak lelah setelah menempuh perjalanan panjang.
Namun matanya tetap bersinar. Di balik penderitaan, ia merasa
harapan baru tengah menunggunya di balik dinding kota itu.
Suara pasar terdengar samar dari balik gerbang: tawa pedagang,
derap kaki kuda, dentingan logam, dan aroma makanan yang
menggoda. Clay memejamkan mata sejenak, menikmati
kehidupan yang terasa begitu dekat — tapi masih belum bisa ia
gapai.
Di depan gerbang, barisan panjang orang berdiri
menunggu giliran. Para penjaga berpakaian baja memeriksa
setiap pengunjung yang datang. Mereka menanyai nama, tujuan,
dan memungut biaya masuk. Clay ikut mengantri di antara para
pedagang dan petualang lain. Ketika tiba gilirannya, seorang
penjaga bertubuh besar dengan helm bertanduk menatapnya
tajam.
Penjaga : “Kau! Mau apa ke Vortex?” suaranya berat, nyaris seperti
gertakan.
13
Clay : “Aku... ingin masuk, mencari tempat tinggal dan pekerjaan.
Aku seorang petualang”
Penjaga itu mengamati Clay dari kepala sampai kaki —
melihat baju yang kotor, ransel compang-camping, dan pisau
kecil yang tergantung di pinggangnya. Ia mendengus.
Penjaga : “Petualang?” katanya sinis. “Kau lebih mirip pengemis.
Kalau mau masuk, bayar dua koin perak.”
Clay tersentak. Ia segera merogoh sakunya, memeriksa setiap
kantong. Kosong. Ia memeriksa ulang, bahkan membalik
ranselnya, tetap tidak ada apa pun. Semua uang yang dibawanya
hilang entah kapan, mungkin jatuh di Gunung Leroi, mungkin
saat dikejar goblin, atau mungkin saat ia melompat dari jendela
gubuk tua di rawa.
Clay : “Aku... kehilangan uangku, tapi aku bisa bekerja. Aku akan
membayar nanti…”
Penjaga : “Tidak bisa!” potong penjaga itu tajam. “Tanpa uang,
tidak ada yang boleh masuk.”
Clay mencoba memohon, namun penjaga lain datang dan
menatapnya dengan pandangan penuh curiga. Suasana mulai tak
enak, orang-orang di belakang antrian menatapnya dengan
tatapan sinis.
14
Dorongan lembut di dada membuat Clay mundur
beberapa langkah. “Pergi,” kata penjaga itu dingin. “Kota ini
bukan tempat bagi orang yang datang dengan tangan kosong.”
Gerbang perlahan tertutup. Clay menatapnya lama, merasa
seperti semua usahanya berakhir sia-sia. Tapi ia tak mau
menyerah. Ia menatap tanah berdebu di kakinya, lalu menatap ke
arah jalan setapak di samping gerbang.
Ia berpikir keras. Jika ia tidak punya uang, ia harus
menemukannya, entah bagaimana caranya. “Baik,” gumamnya,
“kalau aku tidak punya dua koin, aku akan mencarinya. Aku tidak
sejauh ini hanya untuk berhenti di sini.”
Clay mulai berkeliling di sekitar gerbang Vortex. Ia
memunguti barang kecil, memeriksa celah bebatuan, bahkan
membantu seorang pedagang tua menegakkan keretanya yang
hampir terbalik. Pedagang itu memberinya satu koin perak
sebagai ucapan terima kasih. Clay tersenyum lega, tapi itu baru
separuh dari yang ia butuhkan.
Ia terus mencari. Hari mulai gelap, tapi ia tak berhenti.
Beberapa kali ia hampir menyerah, tapi setiap kali teringat
tujuannya, ia kembali melangkah. Setelah sekian lama berusaha,
akhirnya ia menemukan satu koin perak lagi di dekat sumur tua
di pinggir jalan. Dua koin , jumlah yang cukup untuk membayar
masuk.
Dengan napas terengah, Clay kembali ke gerbang. Penjaga
yang sama masih berjaga di sana. Melihat Clay datang lagi
dengan dua koin di tangan, penjaga itu menaikkan alis.
15
Penjaga : “Hm. Kau tidak menyerah rupanya.”
Clay : “Aku tidak akan menyerah sebelum masuk ke ibu kota.”
Penjaga menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis —
senyum yang sulit ditebak artinya. Ia menerima koin itu, lalu
memberi isyarat pada rekannya untuk membuka gerbang.
Suara besi berderit, dan perlahan pintu besar itu terbuka. Cahaya
lampu kota memancar keluar, menerangi wajah Clay yang
dipenuhi debu. Untuk pertama kalinya, ia melihat keindahan
kota Vortex dengan mata kepala sendiri — jalan-jalan berbatu,
rumah tinggi, dan orang-orang berlalu lalang.
Ia melangkah masuk. Di belakangnya, penjaga itu berseru pelan,
Penjaga : “Selamat datang di Vortex, bocah petualang. Semoga
kau tahu apa yang kau cari di dalam sana.”
Clay menatap kota itu dengan tatapan penuh tekad.
Clay : “Ini baru permulaan,”
16
FLOWCHART
17
18
PSEUDOCODE
Judul : Classic Adventure
Kamus : rute, tanaman : List
petuah : tuple
monster : set
tanaman_baru : str
i, uang, biaya_masuk, koin_didapat : int
Algoritma
// CHAPTER 1
PRINT "Classic Adventure"
PRINT "CHAPTER 1 : Awal Perjalanan"
PRINT "Clay Heart tersesat dan membuat list rute"
SET rute = ["Hutan Willow", "Rawa Hitam", "Gunung Leroy"]
PRINT rute
PRINT "Clay menerima 3 petuah dari kakek"
SET petuah = ("Jujur", "Bijaksana", "Jangan percaya siapapun")
PRINT petuah
// CHAPTER 2
PRINT "CHAPTER 2 : Pelajaran Berharga"
PRINT "Clay diserang sekelompok goblin"
// CHAPTER 3
PRINT "CHAPTER 3 : Gunung Leroi"
PRINT "Clay sadar nama gunung salah tulis dan menambah tujuan akhir"
SET rute[2] = "Gunung Leroi"
APPEND "Vortex" TO rute
PRINT rute
PRINT "Clay menulis daftar monster yang ia temui"
19
SET monster = {"Ular", "Goblin", "Musang"}
PRINT monster
PRINT "Clay sadar Ular dan Musang tidak perlu dicatat"
Algoritma
PRINT "Clay menulis daftar monster yang ia temui"
SET monster = {"Ular", "Goblin", "Musang"}
PRINT monster
PRINT "Clay sadar Ular dan Musang tidak perlu dicatat"
REMOVE "Ular" FROM monster
REMOVE satu item dari monster (pakai pop)
PRINT monster
PRINT "Clay mencari tanaman herbal di Gunung Leroi"
SET tanaman = []
FOR i FROM 1 TO 5 DO
SET tanaman_baru = "Tanaman ke-" + i
APPEND tanaman_baru TO tanaman
PRINT tanaman_baru
END FOR
PRINT tanaman
PRINT "Clay melihat ibu kota Vortex di kejauhan"
// CHAPTER 4
PRINT "CHAPTER 4 : Gerbang Vortex"
PRINT "Clay tiba di gerbang kota dan harus membayar 2 koin perak"
SET uang = 0
SET biaya_masuk = 2
SET koin_didapat = 0
IF uang >= biaya_masuk THEN
PRINT "Clay membayar dan masuk kota"
ELSE
PRINT "Clay tidak punya uang dan mencari koin"
WHILE koin_didapat < 2 DO
20
PRINT "Clay mencari uang..."
INCREMENT koin_didapat
PRINT "Menemukan 1 koin. Total:", koin_didapat
Algoritma
IF uang >= biaya_masuk THEN
PRINT "Clay membayar dan masuk kota"
ELSE
PRINT "Clay tidak punya uang dan mencari koin"
WHILE koin_didapat < 2 DO
PRINT "Clay mencari uang..."
INCREMENT koin_didapat
PRINT "Menemukan 1 koin. Total:", koin_didapat
IF koin_didapat < 2 THEN
PRINT "Masih kurang, terus mencari..."
END IF
END WHILE
PRINT "Clay berhasil mengumpulkan 2 koin!"
SET uang = koin_didapat
END IF
IF uang >= biaya_masuk THEN
PRINT "Clay membayar dan masuk ke Vortex"
PRINT "Langit senja menyambutnya"
ELSE
PRINT "Clay gagal masuk dan berjanji akan kembali"
END IF
END PROGRAM
21
OUTPUT PROGRAM
22
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )