Kuis Teori Investasi 1. Return construction & dependence structure a. Return definitions i. Hasil Return Perhitungan simple return pada 1 Oktober 2024: ππ‘ = ππ‘ − ππ‘−1 10,550 − 10,325 = = 0.0218 ππ‘−1 10,325 Dengan cara membandingkan selisih harga saat ini dan harga sebelumnya terhadap harga sebelumnya, nilai ini menunjukkan kenaikan atau penurunan relatif yang mudah dipahami untuk laporan kinerja. Perhitungan log return pada 1 Oktober 2024: ππ‘ 10,550 ) = ln ( ) = 0.0216 ππ‘ = ln ( ππ‘−1 10,325 Dengan menggunakan logaritma natural dari rasio harga saat ini terhadap harga sebelumnya. Ukuran ini lebih cocok dipakai untuk analisis statistik dan model keuangan karena bersifat aditif antar periode. ii. Report for each stock • Arithmetic mean simple return π 1 πΜ π΄ = ∑ ππ‘ π π‘=1 Return aritmetik saham diperoleh dengan menjumlahkan seluruh return harian saham selama periode pengamatan lalu membaginya dengan jumlah hari. Nilai ini mencerminkan rata-rata keuntungan atau kerugian harian yang diharapkan investor dari saham tersebut. • Geometric mean log return π 1 π πΜ πΊ = (∏(1 + ππ‘ )) − 1 π‘=1 Geometric mean return mencerminkan tingkat pertumbuhan majemuk rata-rata yang benar-benar dialami investor ketika return saham diinvestasikan ulang secara berkelanjutan. • Volatility return π = √Var(π ) Standar deviasi return saham menunjukkan seberapa besar fluktuasi return terhadap rata-ratanya. Perhitungan ini dilakukan baik dengan data simple return maupun dengan data log return sesuai jenis return yang digunakan. Tabel Daily Tickers TLKM BBCA BMRI UNVR ANTM Arithmetic mean simple return 0.000343017 -0.001136542 -0.001637504 -0.000367847 0.003810456 Geometric mean log return -0.000144643 -0.001443526 -0.002222437 -0.001469723 0.002647223 Volatility simple return Volatility log return 0.022217792 0.017481334 0.02413958 0.033495891 0.034043274 0.022217792 0.017481334 0.02413958 0.033495891 0.034043274 Annualized return dan volatilitas dihitung dengan mengonversi hasil harian ke skala tahunan menggunakan jumlah hari perdagangan dalam setahun. Return ratarata harian dikalikan 252, sedangkan standar deviasi harian dikalikan akar dari 252. Tabel Annual Tickers TLKM BBCA BMRI UNVR ANTM Arithmetic mean simple return 0.086440344 -0.286408516 -0.412651043 -0.092697478 0.960234905 Geometric mean log return -0.036450093 -0.363768503 -0.560054231 -0.37037009 0.66710022 Volatility simple return Volatility log return 0.352696519 0.277507575 0.38320395 0.531730789 0.540420217 0.351406551 0.278204128 0.383917389 0.527830418 0.540504106 iii. Explain why the arithmetic mean can overstate multi-period growth relative to the geometric mean, and when each is appropriate. Answer: Arithmetic mean dapat memberikan estimasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih tinggi karena hanya menghitung rata-rata sederhana dari return harian tanpa memperhitungkan efek penggandaan. Dalam kenyataannya, return dari satu periode ke periode berikutnya saling terkait melalui reinvestasi, sehingga fluktuasi justru menurunkan pertumbuhan riil yang diperoleh investor. Geometric mean menangani hal ini dengan menggunakan log return atau pertumbuhan majemuk, sehingga nilainya biasanya lebih rendah daripada arithmetic mean ketika ada volatilitas dan lebih tepat untuk menggambarkan kinerja beberapa periode. Dengan demikian, arithmetic mean lebih cocok dipakai untuk memperkirakan return dalam satu periode atau jangka pendek, sedangkan geometric mean lebih relevan untuk menilai pertumbuhan portofolio dalam jangka panjang. b. Dependence/correlation i. Correlation Matrix Dengan menggunakan rumus korelasi berdasarkan log return, sebagai berikut ππ,π = πΆππ£(π, π) ππ ππ Perhitungan ini menghasilkan matriks korelasi, seperti ditunjukkan pada tabel berikut. Matriks korelasi pada tabel di atas diperoleh dari perhitungan hubungan linear antara return harian masing-masing saham. Prosesnya diawali dengan menghitung return harian setiap saham, baik dalam bentuk simple return maupun log return, pada periode waktu yang sama. Dengan adanya deret data return tersebut, kita bisa membandingkan pola pergerakan antar saham. ii. Identify the pair with the strongest positive and the strongest negative correlation (if any). Interpret the implications for diversification. Answer: Nilai korelasi tertinggi didapatkan pada korelasi antara saham BBCA dan BMRI. Nilai korelasi sebesar 0.66 menunjukkan adanya hubungan positif yang cukup kuat di antara keduanya. Dengan itu, pergerakan harga kedua saham tersebut cenderung searah, ketika BBCA mengalami kenaikan harga, BMRI juga cenderung meningkat, dan sebaliknya ketika BBCA menurun, BMRI pun ikut menurun. Nilai korelasi tertinggi didapatkan pada korelasi antara saham BMRI dan ANTM. Nilai korelasi sebesar 0.14. menunjukkan hubungan yang sangat lemah, mendekati nol. Dengan kata lain, pergerakan harga BMRI hampir tidak ada kaitannya dengan pergerakan harga ANTM, sehingga kenaikan atau penurunan harga salah satu saham tidak dapat dijadikan acuan untuk memprediksi pergerakan saham lainnya. iii. Numerical verification Dengan menggunakan korelasi antara saham TLKM dan BBCA yang menghasilkan nilai korelasi sebesar 0.400. Diketahui, standard deviasi dari TLKM dan BBCA adalah 0.0222 dan 0.01748, serta kovariansi dari kedua saham tersebut adalah 0.00015525 πππΏπΎπ,π΅π΅πΆπ΄ = πΆππ£(ππΏπΎπ, π΅π΅πΆπ΄) 0.00015525 = = 0.400 πππΏπΎπ ππ΅π΅πΆπ΄ 0.0222 × 0.01748 Terbukti bahwa hasil dari korelasi menggunakan perhitungan numerik dengan perhitungan excel sama. c. Sanity & data checks i. Flag any days where |ππ‘ | > 0.08 for any stock. For one such day, compare price/volume before vs. after and discuss whether the move is price-only or accompanied by abnormal volume. Answer: Setelah diteliti seluruh data return harian, tidak ditemukan hari dengan nilai return naik atau turun sebesar 0.08 pada salah satu saham. Hal ini menunjukkan bahwa selama periode observasi tidak terjadi pergerakan harga yang ekstrem. Dengan demikian, tidak ada kondisi yang memerlukan perbandingan harga dan volume sebelum maupun sesudah pergerakan tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa return harian cenderung stabil tanpa adanya lonjakan harga atau volume yang tidak wajar. ii. State two practical reasons to prefer log returns for modeling but simple returns for attribution/reporting. Answer: Dalam konteks keuangan, log return lebih dipakai untuk pemodelan karena dapat dijumlahkan langsung antar periode sehingga memudahkan analisis jangka panjang, dan distribusinya lebih mendekati normal sehingga sesuai dengan banyak asumsi model statistik. Sementara itu, simple return lebih tepat digunakan dalam pelaporan dan atribusi kinerja karena menampilkan persentase perubahan nilai investasi secara langsung, sehingga lebih mudah dipahami investor dan praktis untuk membandingkan hasil antar aset maupun periode. 2. Global Minimum-Variance (GMV) portfolio under constraints a. GMV weights Sebelum menentukan bobot portofolio Global Minimum Variance (GMV), terlebih dahulu perlu dihitung matriks kovarians antar return saham sebagai dasar pengukuran risiko bersama. Untuk mencari bobot portfolio GMV memerlukan variansi portfolio, dengan rumus sebagai berikut ππ2 = ππ ∑ π Diperlukan untuk solve bobot portofolio dengan variansi minimum, dengan constraint bahwa kelima bobot lebih besar dari 0 dan jumlah keseluruhan bobot sama dengan 1. Adapun hasil bobot GMV ditunjukkan sebagai berikut Hasil bobot Global Minimum-Variance (GMV) ini memberi alokasi dana yang paling optimal untuk membangun portofolio dengan tingkat risiko serendah mungkin, yaitu dengan variansi sebesar 0.00023. Untuk mencapai ini, saham BBCA dialokasikan porsi mayoritas sebesar 55.95%, yang menjadikannya jangkar stabilitas, didukung oleh TLKM dengan alokasi signifikan sebesar 23.54%. Portofolio ini dilengkapi oleh UNVR dengan bobot 10.96% dan ANTM sebesar 9.55% untuk manfaat diversifikasi. Hasil yang paling menonjol adalah alokasi nol persen untuk BMRI, yang mengindikasikan bahwa karena korelasi positifnya yang tinggi dengan BBCA, menambahkan BMRI ke dalam portofolio justru akan meningkatkan risiko. Oleh karena itu, model optimisasi mengecualikannya sepenuhnya untuk mencapai varians yang paling minimal. b. Portfolio properties i. Expected portfolio return and volatility Untuk menghitung expected daily return portofolio GMV, kita gunakan bobot portofolio optimal π* yang diperoleh dari minimisasi varians, lalu mengalikannya dengan vektor rata-rata return harian tiap saham, sehingga diperoleh expected daily return sebesar -0.00075. Nilai ini kemudian di-annualisasi dengan mengalikan 252, yang menghasilkan sebesar -0.18899. Dengan mengakarkan variansi portfolio GMV, menghasilkan daily volatility sebesar 0.01519. Annualisasi volatilitas dilakukan dengan mengalikan √252 sehingga menjadi 0.24106. ii. EW-GMV Comparison Dengan bobot Equally Weighted (EW) tersebut dan variansi portofolionya, diperlukan untuk mencari expected portfolio volatility. Adapun hadil perhitungan expected portfolio volatility dengan bobot EW, sebagai berikut Berdasarkan hasil expected portfolio volatility tersebut, diperlukan untuk membandingkannya dengan hasil expected portfolio volatility dari bobot GMV ππΈπ − ππΊππ Dengan menggunakan expected portfolio volatility dari bobot GMV daily dan annual sebesar 0.01519 dan 0.24106, hasil selisih expected portfolio volatility daily dan annual, sebagai berikut Hasil ini secara langsung menunjukkan besaran manfaat diversifikasi yang dicapai oleh portofolio GMV dibandingkan dengan portofolio bbobot EW. Secara spesifik, portofolio GMV memiliki risiko harian 0.001488 lebih rendah daripada portofolio EW. Ketika disetahunkan, pengurangan risiko ini menjadi lebih terasa, di mana volatilitas tahunan portofolio GMV 0.023625 lebih rendah daripada portofolio EW. Hasil ini membuktikan bahwa strategi alokasi GMV secara kuantitatif lebih unggul dalam meminimalkan fluktuasi harga portofolio dibandingkan dengan hanya menyamaratakan bobot investasi pada setiap saham. c. Stability & sensitivity i. Identify the largest and smallest elements of ω* and discuss their relation to each stock’s volatility and pairwise correlations from Q1. Answer: Bobot terbesar dalam portofolio GMV terdapat pada BBCA dengan porsi 0.55952, yang menunjukkan perannya sebagai penopang utama portofolio karena tingkat volatilitasnya yang relatif rendah. Sebaliknya, BMRI memperoleh bobot terkecil yaitu 0, artinya saham ini tidak dimasukkan sama sekali ke dalam portofolio. Hal ini disebabkan oleh korelasi positif yang cukup tinggi antara BMRI dan BBCA, yakni sebesar 0.66368. Karena keduanya bergerak hampir searah, keberadaan BMRI tidak menambah diversifikasi dan justru berisiko menggandakan eksposur yang sudah dimiliki melalui BBCA. Dengan demikian, model optimisasi lebih memilih mempertahankan BBCA yang lebih efisien dari sisi risiko, sekaligus mengecualikan BMRI agar portofolio mencapai tingkat varians terendah. ii. Increase the most-correlated pair’s covariance by +25% (symmetric entries only), recompute GMV weights, and report how the top two weights change. Answer: Berdasarkan matriks kovariansi antar saham, terlihat bahwa pasangan yang paling kerkolerasi adalah saham BBCA dengan BMRI memiliki nilai kovariansi tertinggi sebesar 0.00028. Apabila dinaikkan sebesar 25%, nilai kovariansi menjadi 0.00035 dan matriks kovariansi akan menjadi seperti ini Diperlukan untuk solve bobot portofolio dengan variansi minimum, dengan constraint bahwa kelima bobot lebih besar dari 0 dan jumlah keseluruhan bobot sama dengan 1. Adapun hasil bobot GMV yang terbaru dengan kovariansi dinaikkan sebesar 25% tertinggi ditunjukkan sebagai berikut. Setelah kovariansi antara BBCA dengan BMRI dinaikkan 25%, bobot tertinggi, BBCA, mengalami penurunan sangat tipis dari 0.559521803 menjadi 0.559521767, dan bobot kedua, TLKM, juga turun dari 0.235422248 menjadi 0.235422240. Penyesuaian ini terjadi karena dengan meningkatnya korelasi BBCA terhadap aset lain, korelasi menjadi sedikit kurang efektif sebagai penyeimbang risiko dalam portofolio. Oleh karena itu, untuk mempertahankan variansi yang paling minimal, model secara marginal mengurangi alokasi pada bobot-bobot teratas dan mendistribusikannya kembali ke saham lain sebagai bentuk penyeimbangan ulang yang optimal. 3. Stochastic return modeling & risk quantification a. Assume the GMV portfolio price follows GBM and the daily log return is π(π, π 2 ) with (π, π) estimated from your GMV daily log returns. Justify why GBM implies lognormal prices and additive normal log returns Answer: Hasil estimasi bobot GMV terhadap daily log return memberikan nilai rata-rata log return harian dan volatilitas harian sebagai berikut. Nilai mean yang negatif menunjukkan kecenderungan portofolio mengalami sedikit penurunan setiap hari, sedangkan volatilitas sebesar 1.61% mencerminkan tingkat fluktuasi harian portofolio. Adapun, pergerakan harga portofolio ππ‘ diasumsikan mengikuti Geometric Brownian Motion (GBM) dengan persamaan stokastik πππ‘ = πππ‘ ππ‘ + πππ‘ πππ‘ Karena π ∼ π(0, π‘), maka distribusi log harga menjadi 1 ln (ππ‘ ) ∼ π(ln(π0 ) + (π − π 2 ) π‘, π 2 π‘) 2 Artinya, ln (ππ‘ ) berdistribusi normal, sehingga ππ‘ = π ln(ππ‘) mengikuti distribusi lognormal. Selanjutnya, log-return antara dua periode dapat ditulis sebagai ππ‘ = ln ( ππ‘ ) = ln(ππ‘ ) − ln (ππ‘−1 ) ππ‘−1 Karena increment Brownian motion bersifat independen dan terdistribusi normal, maka 1 log-return bersifat aditif dan berdistribusi normal dengan mean π − 2 π 2 dan variansi π 2 . Dengan demikian, model GBM menjelaskan bahwa harga portofolio mengikuti distribusi lognormal, sedangkan log-return bersifat normal dan dapat dijumlahkan secara linear sepanjang waktu. b. Risk over 20 trading days i. Parametric 95% VaR (loss) Perhitungan parametric VaR 95% untuk horizon 20 hari dilakukan dengan terlebih dahulu menyesuaikan parameter harian ke skala 20 hari. Expected portfolio daily return sebesar -0.00109 dikalikan dengan 20. π20 = 20 × ππππππ¦ = 20 × (−0.00109) = −0.0217 Sementara itu, expected volatility portfolio sebesar 0.01519 dikalikan dengan √20 π20 = √20 × ππππππ¦ = √20 × 0.01612 = 0.0721 Oleh karena log return ∼ π(π20 , π20 ) kita dapat menghitung nilai VaR 95% dari distribusi log-return 20 hari sebagai berikut πππ 0.95,20π = −(π20 + π20 × π§0.05 ) = −(−0.015 + 0.0679 × (−1.64485)) = −0.1267 Sehingga nilai VaR 95% selama 20 hari sebesar 0.119, yang artinya dengan dengan tingkat keyakinan 95%, kerugian portofolio tidak akan melebihi sekitar 11.9% dalam 20 hari ke depan, berdasarkan asumsi bahwa return log harian bersifat normal dan independen. ii. Probability of a drawdown worse than 5% Untuk menghitung probabilitas drawdown lebih buruk dari 5% dalam 20 hari, pertama-tama kita samakan kondisi tersebut dengan syarat log-return 20 hari lebih kecil dari ln(0.95). Di bawah asumsi GBM, log-return 20 hari berdistribusi normal dengan mean π20 = −0.00109 dan volatilitas π20 = 0.01612 Dengan demikian probabilitasnya dapat ditulis sebagai π(π20 ≤ ln(0.95)) = Φ ( ln(0.95) − π20 −0.0512933 − (−0.00109) ) = Φ( ) π20 0.01612 = 0.3408 Jadi, menurut model GBM/normal ini, ada sekitar 34.08% kemungkinan portofolio akan mengalami penurunan lebih dari 5% dalam jangka 20 hari. iii. In ≤ 5 sentences, explain two concrete model risks of applying GBM to this equity portfolio and relate them to empirical features from Q1 (e.g., fat tails, volatility clustering, correlation instability). Answer: Salah satu risiko utama dari penerapan GBM adalah asumsi volatilitas konstan, padahal data empiris menunjukkan adanya volatility clustering, yaitu periode tenang diikuti periode gejolak. Model GBM tidak bisa menangkap pola ini sehingga potensi risiko di masa gejolak bisa terabaikan. Risiko lain adalah anggapan bahwa korelasi antar saham stabil, sementara pada kenyataannya hasil Q1 menunjukkan adanya variasi korelasi yang cukup signifikan antar pasangan saham. Saat kondisi pasar berubah, korelasi dapat meningkat sehingga diversifikasi portofolio menjadi kurang efektif. Dengan demikian, meskipun GBM memberikan pendekatan sederhana dan tractable, ia bisa meremehkan risiko aktual akibat dinamika volatilitas dan ketidakstabilan korelasi. c. Report Annualized expected return MASIH NGGA TAU Portofolio memperlihatkan annualized arithmetic expected return serta annualized standard deviation sebagaimana tercantum pada tabel berikut. Dengan menggunakan pendekatan aproksimasi 1 2 1 πΊππ ≈ ππππ − ππππ = −0.18899 − × 0.2411 =– 0.2180 2 2 dapat diperoleh annualized geometric growth rate yang memberikan gambaran lebih realistis mengenai pertumbuhan portofolio dalam jangka panjang. Tingkat volatilitas tahunan sebesar 24.11% mengikis pertumbuhan majemuk portofolio. Akibatnya, meskipun rata-rata aritmetika menunjukkan return sekitar – 14.78%, pertumbuhan jangka panjang yang ditunjukkan oleh geometric growth rate menjadi lebih rendah, yaitu –17.69%. Selisih keduanya sekitar 3% menegaskan bahwa fluktuasi harga tidak hanya berpengaruh pada risiko jangka pendek, tetapi juga menurunkan ekspektasi pertumbuhan portofolio secara konsisten dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, perbedaan antara arithmetic return dan geometric growth rate mencerminkan dampak nyata volatilitas terhadap kinerja jangka panjang sekaligus menegaskan pentingnya memperhitungkan risiko ketika mengevaluasi strategi investasi.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )