MAKALAH REVIEW NOVEL TOTTO-CHAN Disajikan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Dosen Pengampu : Yulia Herawati, S.Psi, M.A. Disusun oleh : Syelfi Pasya Nurfadila (238110139) PROGRAM STUDI ILMU PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM RIAU 2024 Totto-chan Gadis Cilik di Jendela sebuah novel karya Tetsuko Kuroyanagi, yang dimana dalam novel ini banyak sekali pelajaran yang bisa diterapkan dalam metode parenting dan pendidikan. Novel ini mengisahkan kehidupan masa kecil penulis yaitu Tetsuko Kuroyanagi yang akrab dipanggil Totto-chan ataupun Totsky panggilan dari Papa nya, seorang gadis kecil yang terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya karena gurunya tidak sanggup lagi menghadapi kelakuannya, seperti membuka tutup meja secara berulangulang, memanggil pemusik jalanan setiap melewati kelasnya yang kebetulan berhadapan langsung dengan jalanan, sehingga kegiatan-kegiatannya tersebut dapat mengalihkan atensi teman sekelasnya dan pembelajaran akan berakhir kacau, karena hal tersebut guru nya menganggap ia anak yang nakal dan sulit diatur. Ketika Mama nya tahu bahwa Tottochan dikeluarkan dari sekolah Mama akhirnya mencarikan sekolah baru untuk Totto-chan. Sekolah baru Totto-chan bernama Tomoe Gakuen, sebuah sekolah inklusi dengan konsep kelas yang unik yaitu menggunakan gerbong kereta, sekolah inilah yang nantinya akan merubah hidupnya di masa depan. Dari segi parenting, authoritative atau yang biasa kita sebut dengan demokratis merupakan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua Totto-chan. Ciri khas dari pola pengasuhan ini ialah anak diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi ataupun berekspresi, contohnya ketika Totto-chan mengutarakan pada Mamanya dia ingin menjadi seorang balerina yang menarikan Swan Lake, setelah mendengarkan keinginan Totto-chan tersebut Mama langsung mendaftarkannya ke salah satu studio tari yang kebetulan terletak di dekat sekolahnya Totto-chan, tetapi karena studio tari tersebut tidak mengajarkan tari yang seperti Totto-chan inginkan, maka akhirnya Totto-chan pun memutuskan untuk tidak melanjutkan latihan balet nya tersebut, walaupun begitu Mama Totto-chan tidak pernah menghakiminya dengan kata-kata yang mungkin saja akan menjatuhkan rasa kepercayaan dirinya, karena menurut Mama anak akan bisa lebih mudah belajar jika disertai dengan adanya minat dari anak, jadi mau dipaksa sekeras apapun jika anak tersebut sudah kehilangan minat terhadap sesuatu maka ia akan susah menerima suatu informasi. Selain diberikan kebebasan bereksplorasi, Mama juga mengajari karakter yang baik kepada Totto-chan seperti toleransi, empati, dsb melalui komunikasi yang disertai dengan alasan dan penjelasan yang mudah dimengerti, contohnya ketika satu hari dimana Totto- chan pulang dengan keadaan yang takut dan bingung karena ia diteriaki dengan kalimat “orang Korea” yang disertai nada kebencian oleh anak tetangganya yang bernama Masaochan, ia bingung karena tidak pernah melakukan sesuatu yang jahat kepada Masao-chan. Ketika Totto-chan menceritakan kejadian tersebut, Mama memberikan pengertian dengan berkata “Kamu orang Jepang. Masao-chan datang dari sebuah negeri bernama Korea. Tapi dia juga seorang anak, sama seperti mu. Jadi, Totto-chan sayang, jangan pernah membedabedakan orang lain, bersikaplah manis kepada Masao-chan. Menyedihkan sekali bila ada yang menganggap orang lain jahat hanya karena dia orang Korea”. Dan dari pengertian yang disertai penjelasan tersebut mampu menanamkan karakter toleransi kepada dirinya. Dari segi pendidikan, sekolah inklusi ini menerapkan teori belajar humanistik, Mr. Kobayashi pendiri Tomoe Gakuen sekaligus kepala sekolah di sana, ia menerapkan teori belajar ini dengan cara memberikan kebebasan kepada setiap murid nya dalam memilih pelajaran mana yang ingin mereka pelajari terlebih dahulu, misalnya murid yang memilih pelajaran fisika maka akan melakukan percobaan dengan tabung-percobaanya, murid yang memilih pelajaran mengarang atau sastra maka mereka akan menulis sesuatu, dsb sehingga di dalam satu kelas tersebut tidak ada murid yang pasif (karena jenuh dengan pelajaran yang sudah dijadwalkan) melainkan murid-murid tersebut menjadi lebih aktif karena mereka memulai belajar dengan pelajaran yang mereka inginkan. Setelah mereka berkutat dengan pelajaran yang mereka pilih pada saat di kelas dan menyelesaikan makan siang mereka, selanjutnya murid-murid tersebut diberi reward sebagai penghargaan atas kerja keras mereka karena sudah belajar dengan penuh semangat, yang dimana reward tersebut berupa jalan-jalan ke alam kebetulan sekolah ini bersinggungan langsung dengan alam. Tanpa mereka sadari kegiatan jalan-jalan sebenarnya memberikan mereka pelajaran terkait sains, sejarah, biologi, dsb sebagai contoh ketika mereka melihat kupu-kupu yang sedang hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya dan guru pendamping akan menjelaskan bahwa kupu-kupu tersebut sedang membantu bunga untuk menyerbukkan benang sari ke putik. Tomoe Gakuen merupakan sekolah inklusi yang berarti sekolah reguler yang di dalamnya memiliki murid tanpa dan dengan berkebutuhan khusus (ABK). Nah, agar tidak adanya diskriminasi ataupun tindakan bullying di sekolah tersebut Mr. Kobayashi membuat suatu kegiatan yaitu berenang, yang dimana ketika berenang murid-murid tidak akan mengenakan pakaiannya (naked) tetapi hal ini diperuntukkan bagi yang mau saja. Mr. Kobayashi beranggapan bahwa dengan cara ini akan membuat murid ABK seperti Yasuakichan (Polio) dan Takahashi (Dwarfisme) mampu menghilangkan rasa rendah diri mereka, meningkatkan rasa percaya diri dan kegiatan ini juga mengajarkan kepada murid-murid bahwa semua bentuk tubuh itu indah sehingga hal ini mampu menghindari terjadinya tindakan bullying maupun diskriminasi. Masih berkaitan dengan menumbuhkan rasa percaya diri, ada satu hari dimana Totto-chan tidak sengaja menjatuhkan dompet kesayangannya ke dalam closet, karena dompet tersebut kesayangannya ia ingin mendapatkan dompet itu kembali dan akhirnya Totto-chan menggali penampung kotoran di sekolahannya menggunakan gayung kayu yang ia dapatkan di gudang sekolah, Mr. Kobayashi melihat hal tersebut tetapi bukannya memarahi melainkan bertanya apa yang sedang Totto-chan lakukan dengan penampung kotoran tersebut dan juga berkata dengan ramah “ Kamu akan mengembalikan semuanya jika sudah selesai, kan?” dia berkata seperti itu karena melihat kotoran yang sudah menumpuk di luar penampungan tersebut. setelah sekian lama berkutat dengan penampungan tersebut akhirnya ia membereskan semua kekacauan yan telah diperbuat, walaupun dompetnya tidak ketemu tetapi ia merasa puas karena telah mengerahkan segala kemampuan untuk mencari dompetnya. Dan kepuasannya tersebut merupakan hasil dari rasa percaya diri dan tanggung jawab yang ditanamkan Mr. Kobayashi dengan mempercayainya dan tidak memarahi Totto-chan. Ada satu hal yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan Totto-chan yang ia dapatkan dari Mr. Kobayashi, yaitu positive words seperti yang dikatakan oleh Mr. Kobayashi “Kamu benar-benar anak yang baik, kamu tahu itu kan?” sehingga dari perkataan tersebut pikiran Totto-chan akan tesugesti bahwa dia memang anak yang baik, yang dimana dari sugesti tersebut akan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian Totto-chan. Mr. Kobayashi mengatakan hal tersebut bukan tanpa sengaja melainkan ia yakin bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak jika mereka berada di lingkungan toxic. Pendapat dari Mr. Kobayashi ini memiliki sangkut paut dengan konsep Tabula Rasa yang dikatakan oleh John Locke yaitu “Pada saat dilahirkan jiwa kita seperti kertas putih yang kosong, untuk mengisi kekosongan tersebut maka harus adanya pengalaman”, yang dimana jika Totto-chan diberikan pengaruh yang tepat (baik) oleh lingkungannya, maka ia akan bisa menjadi pribadi yang pandai menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan sekitar.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )