ANALISIS
NILAI NILAI
Ber-AKHLAK
Raden Dewi Sartika
Kelompok 3
1. Putri Mentari Ikrami Ardianti, S.Psi
2. Rifqi Fernanda Puryanto, S.T.
3. Salwa Caesar Ramadhanty Supratman, S.Pd.
NIP.199401122025052005
NIP.199911102025051004
NIP.200012162025052005
Masa Kecil
Raden Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di Cicalengka, Jawa Barat, dari
keluarga bangsawan Sunda. Sejak kecil, ia menunjukkan minat besar pada dunia
pendidikan.
Ia sering bermain “sekolah-sekolahan” dan mengajarkan membaca serta menulis
kepada teman-temannya. Dari permainan sederhana itu, lahirlah cita-cita besar:
mendirikan sekolah khusus perempuan, yang pada masa itu dianggap tidak lazim.
Pendirian Sekolah
Dengan dukungan kakeknya, Bupati Bandung R.A.A Martanegara, dan inspektur pengajaran
Belanda Den Harmer, Dewi Sartika mendirikan Sekolah Isteri pada 16 Januari 1904 di Bandung.
Sekolah ini mengajarkan membaca, menulis, berhitung, agama, serta keterampilan praktis
seperti memasak, menjahit, mencuci, dan membatik.
Tahun 1910, sekolah berkembang menjadi Sekolah Keutamaan Isteri dengan kurikulum lebih luas
dan menggunakan bahasa Sunda, Melayu, serta Belanda sebagai bahasa pengantar.
Tujuannya adalah agar perempuan lebih mandiri, berpengetahuan, dan berdaya dalam
kehidupan rumah tangga maupun masyarakat.
Dewi Sartika menikah dengan guru, Raden Kanduruan Agah Suriawinata, yang mendukung
perjuangannya. Setelah suaminya wafat pada 1939, ia harus melanjutkan perjuangan
sendirian, menghadapi kesulitan ekonomi akibat perang, tekanan kolonial, dan situasi politik di
masa penjajahan Jepang.
Akhir Hidup dan Warisan
Saat Agresi Militer Belanda 1947, Dewi Sartika terpaksa mengungsi ke
Cineam, Tasikmalaya. Kesehatannya menurun dan ia wafat pada September
1947, dimakamkan di Bandung. Pemerintah Republik Indonesia
menganugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden
No. 252/1966.
Dewi Sartika dikenang sebagai pelopor pendidikan perempuan di Jawa
Barat. Sekolah-sekolah yang ia dirikan tetap eksis, dan semangat
perjuangan emansipasi perempuan melalui pendidikan terus hidup hingga
kini.
Implementasi Nilai-Nilai
BerAKHLAK
dari
Raden Dewi Sartika
“Hanya dengan Pendidikan kita akan tumbuh menjadi suatu bangsa.”
- Dewi Sartika
✨
Berorientasi Pelayanan
Pengertian => Komitmen memberikan pelayanan prima dan kepuasan masyarakat.
Kode Etik : Memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat
Nilai Nilai dari kisah hidup Raden Dewi Sartika:
Mendedikasikan hidupnya untuk membuka kesempatan pendidikan bagi kaum perempuan
yang kala itu sangat terbatas dengan cara membangun Sekolah Isteri pada tahun 1904 agar
kaum perempuan bisa membaca, menulis, berhitung, hingga keterampilan rumah tangga
Akuntabel
Bertanggungjawab atas kepercayaan yang diberikan
Kode etik:
Bertanggungjawab, cermat, disiplin dan berintegritas tinggi.
Nilai Nilai dari kisah hidup Raden Dewi Sartika:
Menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki secara bertanggung jawab
untuk tujuan meningkatkan pendidikan perempuan
Meskipun banyak dilanda kesulitan, ia tetap menjaga amanah dan keberlangsungan
sekolah dengan penuh tanggung jawab
Mengelola sekolah dengan disiplin, mengembangkan kurikulum, serta memastikan
murid-murid mendapatkan pendidikan yang bermanfaat.
Kompeten
Terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan profesional dalam bekerja.
Kode Etik
Meningkatkan kompetensi diri untuk menjawab tantangan yang selalu berubah
Membantu orang lain belajar
Melaksanakan tugas dengan kualitas terbaik
Nilai Nilai dari kisah hidup Raden Dewi Sartika:
Menguasai metode mengajar serta menyesuaikan materi sesuai kebutuhan murid
perempuan , seperti membaca, menulis, hingga keterampilan rumah tangga
Harmonis
Menjaga hubungan baik, saling peduli dan menghargai perbedaan
Kode Etik:
Menghargai setiap orang apapun latar belakangnya
Suka menolong orang lain
Membangun lingkungan yang kondusif
Nilai Nilai dari kisah hidup Raden Dewi Sartika:
Beliau berkolaborasi dengan tokoh-tokoh masyarakat, keluarga, masyarakat dan para
guru agar sekolahnya diterima dan didukung.
Loyal
Berdedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
Kode Etik:
Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi
kelompok atau golongan
Nilai Nilai dari kisah hidup Raden Dewi Sartika:
Beliau yakin bahwa mencerdaskan kaum perempuan berarti mencerdaskan generasi
bangsa dengan begitu cita cita kemerdekaan bangsa dapat diwujudkan.
Saat menghadapi perang dan penjajahan, beliau tetap berjuang mempertahankan
sekolah walaupun dalam kondisi sulit demi kemajuan pendidikan perempuan.
Adaptif
Terus berinovasi dan antusias dalam menggerakkan ataupun menghadapi perubahan
Kode Etik:
Terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas dan bertindak proaktif
Cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan
Nilai Nilai dari kisah hidup Raden Dewi Sartika:
Menyesuaikan kurikulum sekolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan situasi
zaman, seperti yang awalnya hanya mempelajari dasar-dasar berhitung, menulis, dan
membaca serta pelajaran agama. Dimasukkan juga keterampilan rumah tangga dan
kesehatan pada kurikulum pendidikan.
Kolaboratif
Membangun kerjasama yang sinergis
Kode Etik:
Memberikan kesempatan kepada berbagai pihak untuk berkontribusi
terbuka dalam bekerja sama untuk menghasilkan nilai tambah
Menggerakkan pemanfaatan berbagai sumber daya untuk tujuan bersama
Nilai Nilai dari kisah hidup Raden Dewi Sartika:
Bekerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat, guru, dan keluarganya untuk
mngembangkan sekolah dan memperluas jangkauan pendidikan
Kesimpulan
Nilai BerAKHLAK dari
Raden Dewi Sartika
Berorientasi Pelayanan: Mendirikan Sekolah Isteri untuk
memenuhi kebutuhan pendidikan perempuan.
Akuntabel: Bertanggung jawab dalam mengelola sekolah,
menjaga amanah, dan mengembangkan kurikulum.
Kompeten: Menguasai metode mengajar dan menyesuaikan
materi sesuai kebutuhan murid.
Harmonis & Kolaboratif: Bekerja sama dengan keluarga, guru,
dan tokoh masyarakat untuk mendukung sekolah.
Loyal: Tetap memperjuangkan pendidikan perempuan meski
menghadapi perang dan penjajahan.
Adaptif: Menyesuaikan kurikulum sesuai perkembangan zaman
dan kebutuhan masyarakat.
Warisan: Sekolah-sekolah yang didirikan tetap eksis, dan
semangat emansipasi perempuan terus hidup.
Terima Kasih