TUGAS BAHAN PERKERASAN ANALISIS KERUSAKAN JALAN PADA PERKERASAN LENTUR (FLEXIBLE PAVEMENT) Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Gito Sugiyanto, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng. Disusun Oleh : Afra Andiryan 2220503090 Teknik Sipil 03 Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tidar 2024 KATA PENGANTAR Segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tugas ini berhasil diselesaikan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan akademik pada mata kuliah Bahan Perkerasan. Judul makalah ini adalah "Analisis Kerusakan Jalan pada Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)", yang bertujuan untuk mengkaji berbagai faktor penyebab kerusakan pada perkerasan lentur dan metode penanganannya. Kami berharap tugas ini dapat memberikan kontribusi positif dalam pemahaman dan penanganan kerusakan jalan, serta bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa dan praktisi teknik sipil. Tidak lupa, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Ir. Gitp Sugiyanto, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., selaku dosen pengampu mata kuliah Bahan Perkerasan, atas bimbingan, arahan, dan ilmu yang telah diberikan selama perkuliahan. Tanpa dukungan beliau, penyusunan tugas ini tidak akan berjalan lancar. Semoga tugas ini dapat menjadi referensi yang berguna dan menambah wawasan dalam bidang teknik perkerasan jalan. Magelang, 14 Desember 2024 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2 DAFTAR ISI .......................................................................................................... 3 DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. 4 BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 6 1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 6 1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 7 1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 7 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 7 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 8 2.1 Definisi Perkerasan Lentur ....................................................................... 8 2.2 Struktur Perkerasan Lentur ....................................................................... 9 2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perkerasan Lentur ............ 12 2.4 Jenis-Jenis Kerusakan pada Perkerasan Lentur ...................................... 14 BAB III IDENTIFIKASI KERUSAKAN JALAN ........................................... 15 3.1 Lokasi Kerusakan Jalan .......................................................................... 15 3.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan .............................................................. 15 3.3 Identifikasi Jenis Keruxakan .................................................................. 16 3.4 Tingkat Kerusakan .................................................................................. 18 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN ....................................................... 25 4.1 Analisa Kerusakan .................................................................................. 25 4.2 Identifikasi Penyebab kerusakan ............................................................ 30 4.3 Cara Mengatasi Kerusakan Jalan ........................................................... 31 BAB V KESIMPULAN ....................................................................................... 34 5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 34 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 35 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Struktur Perkerasan Lentur ................................................................ 9 Gambar 3.1 Lokasi Identifikasi Kerusakan Jalan Pada Perkerasan Lentur ......... 15 Gambar 3.2 Lubang ............................................................................................. 16 Gambar 3.3 Retak Kulit Buaya............................................................................ 17 Gambar 3.4 Retak Kulit Buaya............................................................................ 17 Gambar 3.5 Deduct Value Lubang....................................................................... 20 Gambar 3.6 Deduct Value Retak Kulit Buaya ..................................................... 21 Gambar 3.7 Deduct Value Retak Memanjang/Melintang .................................... 22 Gambar 3.8 Diagram Nilai PCI ........................................................................... 24 Gambar 4.1 Grafik Nilai PCI Setiap Segmen ...................................................... 29 DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tingkat Kerusakan Lubang ................................................................... 19 Tabel 3.2 Tingkat Kerusakan Retak Kulit Buaya ................................................. 20 Tabel 3.3 Tingkat Kerusakan Retak Memanjang/Melintang ................................ 21 Tabel 3.3 Tingkat Kerusakan Retak Memanjang/Melintang ................................ 23 Tabel 4.1 Nilai PCI ............................................................................................... 26 Tabel 4.2 Kondisi Jalan Berdasarkan Nilai PCI ................................................... 28 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kerusakan jalan di Indonesia, khususnya pada perkerasan lentur, menjadi salah satu permasalahan besar yang mempengaruhi keselamatan, kenyamanan, dan efisiensi transportasi. Salah satu daerah yang sering mengalami masalah kerusakan jalan adalah Cilacap, yang terletak di bagian selatan Jawa Tengah. Cilacap merupakan wilayah yang memiliki peran penting dalam transportasi regional, baik untuk distribusi barang maupun mobilitas masyarakat. Namun, intensitas lalu lintas yang tinggi, kondisi cuaca yang tidak menentu, serta kurangnya pemeliharaan jalan menyebabkan banyak jalan perkerasan lentur di daerah ini mengalami kerusakan yang signifikan. Perkerasan lentur, yang terdiri dari lapisan aspal atau beton yang fleksibel, memiliki kemampuan untuk menahan beban kendaraan yang melintas, namun juga rentan terhadap kerusakan akibat berbagai faktor. Di daerah Cilacap, kerusakan pada jalan perkerasan lentur sering disebabkan oleh faktor lingkungan seperti curah hujan yang tinggi, yang dapat mempercepat proses degradasi material jalan. Selain itu, beban kendaraan yang melebihi kapasitas jalan juga turut memperburuk kondisi perkerasan lentur, menyebabkan retakan, pembentukan lubang, serta deformasi permukaan yang mengganggu kenyamanan berkendara. Selain faktor alam dan beban lalu lintas, pengelolaan jalan yang kurang optimal juga menjadi penyebab utama kerusakan jalan perkerasan lentur di Cilacap. Kurangnya pemeliharaan rutin dan penanganan yang tidak tepat waktu dapat menyebabkan kerusakan yang semakin meluas. Dalam beberapa kasus, jalan yang rusak tidak segera diperbaiki, sehingga menyebabkan dampak ekonomi yang signifikan, terutama bagi sektor transportasi dan logistik. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan dan pemeliharaan jalan secara berkala agar kualitas infrastruktur jalan di Cilacap tetap terjaga dan dapat menunjang aktivitas ekonomi serta mobilitas masyarakat dengan aman dan nyaman. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja jenis-jenis kerusakan yang sering terjadi pada perkerasan lentur di daerah Cilacap? 2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan pada perkerasan lentur di Cilacap? 3. Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi kerusakan pada perkerasan lentur di Cilacap? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Mengidentigikasi jenis-jenis kerusakan pada perkerasan lentur 2. Menganalisis penyebab kerusakan pada perkerasan lentur 3. Memberikan saran solusi untuk mengatasi kerusakan pada perkerasan lentur 1.4 Manfaat Penelitian 1. Sebagai Referensi untuk Perencanaan Infrastruktur Jalan 2. Meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi 3. Mendukung kebijakan pemeliharaan jalan yang lebib baik BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Perkerasan Lentur Perkerasan jalan lentur (flexible pavement) adalah jenis konstruksi jalan yang menggunakan material bersifat fleksibel, yang memungkinkan distribusi beban kendaraan secara bertahap melalui beberapa lapisan di bawah permukaan. Lapisan utama dalam perkerasan lentur meliputi lapisan permukaan (surface layer), lapisan pondasi atas (base course), lapisan pondasi bawah (sub-base course), dan lapisan tanah dasar (subgrade). Setiap lapisan memiliki fungsi spesifik, seperti mendukung beban lalu lintas, menyebarkan tegangan, dan melindungi lapisan di bawahnya dari kerusakan. Lapisan permukaan biasanya terbuat dari campuran aspal dan agregat, yang memiliki sifat elastisitas untuk menahan deformasi akibat beban kendaraan (Mamlouk & Zaniewski, 2006). Desain perkerasan lentur mempertimbangkan prinsip distribusi beban, di mana tekanan yang diterima di permukaan akan berkurang secara bertahap seiring dengan bertambahnya kedalaman lapisan. Oleh karena itu, material pada lapisan bawah tidak perlu sekuat material lapisan permukaan, tetapi tetap harus memiliki kekuatan untuk mendukung beban. Prinsip ini diterapkan untuk mengoptimalkan penggunaan material dan biaya konstruksi. Selain itu, pemilihan tebal lapisan sangat bergantung pada kekuatan tanah dasar, volume lalu lintas, serta kondisi lingkungan di sekitar jalan (Huang, 2004). Faktor-faktor penyebab kerusakan pada perkerasan lentur sangat bervariasi, mulai dari beban kendaraan yang melebihi kapasitas rencana, perubahan suhu yang ekstrem, hingga kerusakan akibat air. Kerusakan umum meliputi retakan (cracks), lubang (potholes), deformasi (rutting), dan pengelupasan lapisan permukaan (stripping). Retakan sering muncul akibat kelelahan material yang diakibatkan oleh beban berulang, sedangkan lubang biasanya terjadi karena infiltrasi air ke lapisan bawah yang melemahkan daya dukungnya. Untuk memastikan umur rencana perkerasan lentur tercapai, desain perkerasan mengacu pada metode empiris atau mekanistik. Salah satu metode yang banyak digunakan adalah metode AASHTO (American Association of State Highway and Transportation Officials), yang mempertimbangkan parameter seperti tingkat kekuatan tanah dasar (CBR atau modulus elastisitas), volume lalu lintas ekuivalen (ESAL), serta faktor lingkungan. Metode ini dirancang untuk memperkirakan tebal lapisan yang optimal agar jalan dapat bertahan terhadap beban selama periode tertentu. Keberhasilan pengelolaan perkerasan lentur sangat bergantung pada pemeliharaan rutin dan perbaikan dini terhadap kerusakan. Pemeliharaan dapat mencakup penambalan lubang, pengisian retakan, atau pelapisan ulang (overlay) pada lapisan permukaan. Dengan langkah-langkah ini, kerusakan yang lebih serius dapat dicegah, dan umur jalan dapat diperpanjang secara signifikan. Selain itu, penggunaan material berkualitas tinggi dan teknik konstruksi yang baik juga memainkan peran penting dalam meningkatkan daya tahan perkerasan lentur. 2.2 Struktur Perkerasan Lentur Struktur perkerasan lentur (flexible pavement) terdiri dari beberapa lapisan utama yang dirancang untuk mendistribusikan beban lalu lintas secara bertahap hingga ke lapisan tanah dasar (subgrade). Setiap lapisan memiliki fungsi spesifik untuk mendukung kekuatan keseluruhan dan stabilitas jalan. Berikut adalah penjelasan lengkap tentang lapisan-lapisan pada perkerasan lentur : Gambar 2.1 Struktur Perkerasan Lentur Sumber : www.dpupr.grobogan.go.id 1. Tanah Dasar (Sub Grade) Tanah dasar adalah lapisan tanah asli atau tanah hasil galian atau timbunan yang telah dipadatkan dan menjadi dasar bagi lapisan-lapisan perkerasan jalan lainnya. Fungsi utama dari tanah dasar adalah untuk memberikan dukkungan structural bagi lapisan-lapisan di atasnya dan menahan beban akibat lintas kendaraan. Kekuatan serta ketahanan konstruksi perkerasan jalan sangat dipengaruhi oleh sifat dan daya dukung tanah dasar tersebut. Masalah yang sering muncul terkait tanah dasar meliputi: a. Deformasi permanen pada jenis tanah tertentu akibat beban lalu lintas. b. Sifat mengembang dan menyusut dari jenis tanah tertentu karena perubahan kadar air. c. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sulit diprediksi pada daerah dengan variasi jenis tanah yang sangat berbeda sifat dan posisinya, atau yang dipengaruhi oleh proses konstruksi. 2. Lapis Pondasi Bawah (Sub Base Course) Lapis Pondasi Bawah adalah bagian dari struktur perkerasan yang ditempatkan antara lapisan pondasi dan tanah dasar. Lapis pondasi bawah ini biasanya berupa agregat kasar seperti batu pecah, tanah timbunan, atau material lainnya yang memiliki karekateristik yang kuat dan tahan lama. Fungsi utama lapisan ini meliputi beberapa aspek, yaitu : a. Mendukung dan mendistribusikan beban roda secara efektif, b. Mengoptimalkan penggunaan material yang lebih murah untuk mengurangi ketebalan lapisan lainnya (sehingga menghemat biaya konstruksi), c. Mencegah pergeseran tanah dasar ke dalam lapisan pondasi, serta berfungsi sebagai lapisan awal agar proses konstruksi dapat berjalan dengan lancar. Hal ini sangat penting terutama karena kelemahan daya dukung tanah dasar terhadap beban roda alat berat atau karena kondisi lapangan yang mengharuskan penutupan tanah dasar dari pengaruh cuaca. Berbagai jenis tanah setempat dengan nilai CBR (California Bearing Ratio) lebih dari 20% dan Indeks Plastisitas (PI) kurang dari 10% yang lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai material untuk lapisan pondasi bawah. Penggunaan campuran tanah setempat dengan bahan tambahan seperti kapur atau semen portland sangat disarankan dalam beberapa kasus untuk meningkatkan stabilitas konstruksi perkerasan. 3. Lapis Pondasi (Base Course) Lapis Pondasi merupakan bagian dari struktur perkerasan yang terletak antara lapisan permukaan dan lapisan pondasi bawah, atau langsung di atas tanah dasar jika tidak ada lapisan pondasi bawah. Fungsi utama lapisan pondasi adalah menahan beban roda dan memberikan perletakan yang stabil bagi lapisan permukaan. Material yang digunakan untuk lapisan pondasi harus memiliki kekuatan dan ketahanan yang cukup untuk menahan beban-beban lalu lintas. Sebelum memilih material yang akan digunakan sebagai bahan pondasi, diperlukan investigasi dan evaluasi yang teliti untuk memastikan bahwa material tersebut memenuhi persyaratan teknis yang diperlukan. Beragam bahan alami atau bahan setempat yang memiliki CBR lebih dari 50% dan Indeks Plastisitas (PI) kurang dari 4%, seperti batu pecah, kerikil pecah, dan stabilisasi tanah dengan semen atau kapur, dapat digunakan sebagai bahan untuk lapisan pondasi. 4. Lapisan Permukaan (Surface Course) Lapis Permukaan adalah bagian paling atas dari struktur perkerasan jalan. Fungsi utama lapis permukaan meliputi menahan beban roda, memberikan lapisan kedap air untuk melindungi jalan dari kerusakan akibat cuaca, dan berfungsi sebagai lapisan aus (wearing course). Bahan yang digunakan untuk lapis permukaan umumnya mirip dengan bahan untuk lapis pondasi, namun dengan persyaratan yang lebih tinggi. Penggunaan aspal dalam lapisan ini sangat penting karena sifat kedap airnya dan kemampuannya untuk memberikan dukungan tambahan terhadap tegangan tarik, sehingga meningkatkan daya dukung terhadap beban lalu lintas. Pemilihan bahan untuk lapis permukaan harus mempertimbangkan kegunaan, umur rencana, dan pentahapan konstruksi, untuk memastikan manfaat optimal dari biaya yang dikeluarkan. Hal ini penting untuk mencapai kualitas dan kinerja yang diharapkan dari lapisan permukaan dalam jangka panjang. Dengan demikian, pemilihan bahan yang tepat akan membantu dalam meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi biaya pemeliharaan selama masa pakai jalan. Lapisan permukaan ini memiliki bermacam-macam jenis, yaitu : 2.3 a. Lapis aspal beton (Laston) b. Lapis penetrasi makadem (Lapen) c. Lapis asbuton campuran dingin (Lasbutag) d. Hot rolled asphalt (HRA) e. Laburan aspal (Buras) f. Laburan batu satu lapis (Burtu) g. Laburan batu dua lapis h. Lapis aspal beton pondasi atas i. Lapis aspal beton pondasi bawah j. Lapis tipis aspal beton (Lataston) k. Lapis tipis aspal pasir (Latasir) l. Aspal makadem Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perkerasan Lentur Kinerja perkerasan lentur dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menentukan daya tahan dan fungsionalitasnya selama umur rencana. Faktor-faktor tersebut meliputi kualitas material yang digunakan, desain perkerasan, metode konstruksi, beban lalu lintas, pengaruh lingkungan, serta pemeliharaan jalan. Kombinasi dari faktor-faktor ini akan menentukan seberapa baik perkerasan dapat menahan tekanan kendaraan dan perubahan cuaca tanpa mengalami kerusakan dini. Pemahaman yang mendalam terhadap faktor-faktor ini sangat penting untuk memastikan bahwa perkerasan lentur dapat berfungsi secara optimal dan efisien dalam mendukung aktivitas transportasi. 1. Kualitas Material yang Digunakan Material yang digunakan dalam perkerasan lentur, seperti aspal, agregat, dan material granular, sangat memengaruhi daya tahan dan kinerja jalan. Aspal harus memiliki sifat ikatan yang baik untuk menyatukan agregat, sementara agregat perlu memiliki kekerasan, stabilitas, dan ukuran yang sesuai. Material granular pada lapisan pondasi bawah juga harus memiliki kemampuan mendistribusikan beban secara merata untuk mengurangi tegangan pada tanah dasar (Mamlouk & Zaniewski, 2006). 2. Beban Lalu Lintas Kinerja perkerasan lentur sangat dipengaruhi oleh intensitas, frekuensi, dan jenis beban lalu lintas yang melintas di atasnya. Beban berat seperti kendaraan komersial besar dapat mempercepat kerusakan pada jalan, terutama jika melebihi kapasitas rencana. Faktor ini sering dikonversi menjadi Equivalent Single Axle Load (ESAL) untuk menghitung dampak kumulatif dari berbagai jenis kendaraan selama umur rencana jalan (AASHTO, 1993). 3. Kondisi Tanah Dasar (Subgrade) Tanah dasar merupakan lapisan penyangga yang menerima semua beban yang diteruskan dari lapisan atas. Jika tanah dasar memiliki daya dukung rendah, seperti pada tanah lempung dengan kadar air tinggi, maka perkerasan akan lebih rentan terhadap kerusakan seperti deformasi atau retakan. Oleh karena itu, stabilisasi tanah dasar menggunakan teknik pemadatan atau penambahan material stabilisasi sangat penting untuk meningkatkan kinerja jalan (Huang, 2004). 4. Kondisi Lingkungan dan Cuaca Faktor lingkungan seperti curah hujan, suhu ekstrem, dan perubahan kelembaban dapat mempercepat kerusakan perkerasan lentur. Air yang meresap melalui retakan pada permukaan jalan dapat melemahkan lapisan bawah dan pondasi, sehingga menyebabkan kerusakan seperti potholes. Sementara itu, suhu tinggi dapat menyebabkan deformasi plastik pada lapisan aspal, yang dikenal sebagai rutting (Mamlouk & Zaniewski, 2006). 5. Desain Perkerasan Perencanaan desain yang tidak optimal juga dapat memengaruhi kinerja perkerasan lentur. Desain yang baik harus mempertimbangkan tebal lapisan yang sesuai, kekuatan tanah dasar, volume lalu lintas, dan kondisi lingkungan. Metode desain empiris seperti AASHTO Guide for Design of Pavement Structures atau pendekatan mekanistik-empiris dapat digunakan untuk merancang jalan yang lebih tahan lama dan efisien (AASHTO, 1993). 6. Konstruksi dan Pelaksanaan Pembangunan Pelaksanaan konstruksi yang tidak sesuai standar dapat mengurangi kinerja jalan. Misalnya, pemadatan yang kurang pada lapisan granular atau campuran aspal yang tidak homogen dapat menghasilkan jalan yang kurang stabil dan mudah rusak. Pengawasan ketat pada setiap tahapan konstruksi, termasuk kontrol kualitas material dan metode pengerjaan, sangat penting untuk memastikan kualitas akhir jalan (Huang, 2004). 7. Pemeliharaan dan Perbaikan Pemeliharaan rutin adalah kunci untuk menjaga kinerja perkerasan lentur. Tanpa pemeliharaan yang memadai, kerusakan kecil seperti retakan dapat berkembang menjadi kerusakan serius yang membutuhkan biaya besar untuk diperbaiki. Pemeliharaan meliputi pembersihan, penambalan lubang, pengisian retakan, serta pengaplikasian overlay aspal untuk memperpanjang umur jalan (Mamlouk & Zaniewski, 2006). 2.4 Jenis-Jenis Kerusakan pada Perkerasan Lentur Menurut Hadiyatmo (2005), kerusakan perkerasan lentur (aspal) umumnya dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berikut: 1. Deformasi, yang mencakup kerusakan seperti bergelombang, alur, amblas, sungkur, mengembang, benjol, dan turun. 2. Retak, yang meliputi retak memanjang, retak melintang, retak diagonal, retak reflektif, retak blok, retak kulit buaya, dan retak bulan sabit. 3. Kerusakan tekstur permukaan, termasuk pelepasan butiran, kegemukan, pengausan agregat, pengelupasan, dan stripping. 4. Kerusakan berupa lubang, tambalan, dan persilangan rel. 5. Kerusakan di pinggir perkerasan, seperti retak pinggir dan penurunan bahu jalan. BAB III IDENTIFIKASI KERUSAKAN JALAN 3.1 Lokasi Kerusakan Jalan Identifikasi ini dilakukan pada ruas Jalan Raya Serang yang terletak di Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tingkat lalu lintas yang cukup tinggi serta kerusakan yang teramati pada perkerasan lentur jalan tersebut. Jalan Raya Serang ini merupakan salah satu jalan utama di kota tersebut yang menghubungkan beberapa area penting, sehingga kondisi jalannya sangat vital untuk kelancaran aktivitas sehari-hari. Jalan ini juga menjadi salah satu jalan alternatif yang biasa digunakan oleh kendaraan-kendaraan berat pada malam hari. Selain itu, jalanan ini sangat padat ketika mendekati libur hari raya lebaran. Gambar 3.1 Lokasi Identifikasi Kerusakan Jalan Pada Perkerasan Lentur Sumber : Google Maps, 2024 Identifikasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerusakan jalan pada perkerasan lentur sepanjang 1,5 km dilakukan melalui serangkaian observasi visual dan pengukuran teknis, yang melibatkan pengecekan retak, deformasi, dan kondisi permukaan lainnya untuk memberikan gambaran lengkap tentang kondisi jalan tersebut. 3.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan Adapun langkah-langkah untuk pelaksanaan identifikasi kerusakan sebagai berikut : 1. Membagi tiap segmen menjadi beberapa unit sampel, yang dimana setiap unit sampel sepanjang 100 m 2. Mendokumentasikan kerusakan yang ada 3. Menentukan tingkat kerusakan 4. Mengukur dimensi kerusakan pada setiap unit sampel 5. Mencatat hasil pengukuran 3.3 Identifikasi Jenis Keruxakan Identifikasi dokumentasi kerusakan jalan pada perkerasan lentur yang berada di Jalan Raya Serang, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap sepanjang 1,5 km dilakukan melalui serangkaian inspeksi lapangan. Proses ini mencakup observasi visual dan pencatatan jenis-jenis kerusakan yang ditemukan, seperti retak, lubang, deformasi, dan aus pada permukaan jalan. Setiap jenis kerusakan didokumentasikan dengan menggunakan foto dan deskripsi rinci untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi jalan. Data ini penting untuk memetakan area yang paling terpengaruh dan menentukan prioritas perbaikan yang mendesak. Selain itu, informasi yang dikumpulkan dari identifikasi ini akan dianalisis lebih lanjut untuk memahami penyebab utama kerusakan dan mengembangkan strategi perbaikan yang efektif. Berikut merupakan identifikasi kerusakan yang ada pada ruas Jalan Raya Serang sepanjang 1,5 km : 1. Lubang (Potholes) Gambar 3.2 Lubang Sumber : Penulis, 2024 Ciri-ciri: • Permukaan jalan menunjukkan adanya cekungan atau lubang dengan berbagai ukuran. • Terlihat bagian agregat yang lepas, menunjukkan kerusakan hingga ke lapisan bawah perkerasan. • 2. Permukaan sekitar lubang tampak tidak rata dan mengalami pengelupasan. Retak Buaya (Alligator Crack) Gambar 3.3 Retak Kulit Buaya Sumber : Penulis, 2024 Ciri-ciri: • Permukaan jalan menunjukkan adanya cekungan atau lubang dengan berbagai ukuran. • Terlihat bagian agregat yang lepas, menunjukkan kerusakan hingga ke lapisan bawah perkerasan. • 3. Permukaan sekitar lubang tampak tidak rata dan mengalami pengelupasan. Retak Memanjang Gambar 3.4 Retak Kulit Buaya Sumber : Penulis, 2024 Ciri-Ciri Retak Memanjang a. Arah Retakan: • Retakan sejajar dengan sumbu jalan atau arah lalu lintas. • Retakan dapat memanjang mengikuti lintasan roda atau di luar lintasan roda. b. Pola Retakan: • Retakan berbentuk garis lurus atau sedikit melengkung. • Tidak bercabang seperti retak buaya (alligator cracking). c. Ukuran Lebar Retakan: • Lebar retakan bervariasi, mulai dari retakan halus (kurang dari 3 mm) hingga retakan lebar (lebih dari 3 mm). • Seiring waktu, retakan dapat melebar jika tidak segera diperbaiki. d. Lokasi Umum: • Biasanya muncul di sepanjang pinggir jalan atau di tengah jalur lalu lintas. • Lebih sering terjadi di jalur roda kendaraan akibat beban berulang. 3.4 Tingkat Kerusakan Metode analisis yang digunakan dalam survey kerusakan jalan pada laporan ini menggunakan Metode Pavement Condition Index (PCI) yang merupakan metode yang dikembangkan untuk menilai kondisi perkerasan jalan berdasarkan tingkat kerusakannya. Nilai PCI berkisar antara 0 hingga 100, dimana nilai yang lebih tinggi menunjukkan kondisi jalan yang lebih baik Buatkan parafrasenya : Pendekatan analisis yang digunakan dalam survei kerusakan jalan pada laporan ini adalah Metode Pavement Condition Index (PCI). Metode PCI ini dikembangkan untuk mengevaluasi kondisi perkerasan jalan dengan mendasarkan penilaian pada tingkat kerusakan yang teridentifikasi. Skor PCI bervariasi dari 0 hingga 100, dengan skor yang lebih tinggi menandakan kondisi jalan yang lebih baik. 1. Tingkat Kerusakan (Severity Level) Tingkat keparahan kerusakan adalah skala yang digunakan untuk menilai setiap jenis kerusakan pada perkerasan jalan. Dalam perhitungan Pavement Condition Index (PCI), tingkat keparahan ini dikategorikan menjadi tiga: tingkat kerusakan rendah (low severity level - L), sedang (medium severity level - M), dan tinggi (high severity level - H). Kategorisasi ini penting untuk memahami dampak dari setiap jenis kerusakan dan membantu dalam penentuan prioritas perbaikan. Khusus untuk kerusakan jenis pengausan (polished aggregate), tidak ada definisi spesifik mengenai tingkat keparahannya. Namun, permukaan yang licin harus cukup signifikan untuk dinilai sebagai kerusakan yang memerlukan penanganan. Tingkat keparahan yang diidentifikasi dalam setiap jenis kerusakan membantu menentukan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan dan memastikan penanganan yang tepat sasaran. Klasifikasi ini memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi perkerasan dan mempermudah pengambilan keputusan terkait pemeliharaan dan perbaikan jalan. Dengan adanya tabel yang menunjukkan tingkat keparahan untuk setiap jenis kerusakan, proses evaluasi menjadi lebih terstruktur dan sistematis, sehingga sumber daya dapat dialokasikan dengan lebih efektif untuk meningkatkan kualitas dan umur jalan Tabel 3.1 Tingkat Kerusakan Lubang Keterangan Kedalaman Maksimum 100-200 mm 200-450 mm 450–750 mm 12,7 mm–25,4 mm L L M >25,4 mm–50,8 mm L M H > 50,8 mm M M H L : Belum perlu diperbaiki, penambalan parsial atau di seluruh kedalaman M : Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman H : Penambalan di seluruh kedalaman Sumber : Shanin, (1994)/Hardiyatmo, H.C., (2007) Gambar 3.5 Deduct Value Lubang Sumber : ASTM Internasional, 2007 Tabel 3.2 Tingkat Kerusakan Retak Kulit Buaya Tingkat Keterangan Kerusakan Halus, retak rambut/halus memanjang sejajar satu dengan L yang lain, retakan tidak mengalami gompal. Retak kulit buaya ringan terus berkembang ke dalam pola M atau jaringan retakan yang diikuti dengan gompal ringan. Jaringan dan pola retak telah berlanjut, sehingga pecahanpecahan dapat diketahui dengan mudah dan terjadi H gombal di pinggir. Beberapa pecahan mengalami rocking akibat beban lalu lintas. Sumber : Shanin, (1994)/Hardiyatmo, H.C., (2007) Gambar 3.6 Deduct Value Retak Kulit Buaya Sumber : ASTM Internasional, 2007 Tabel 3.3 Tingkat Kerusakan Retak Memanjang/Melintang Identifikasi Kerusakan Level Satu dari kondisi berikut yang terjadi : L 1. Retak tak terisi, lebar 3/8 in (10 mm) 2. Retak terisi sembarang lebar (pengisi kondisi bagus) Satu dari kondisi berikut yang terjadi : 1. Retak tak terisi, lebar 3/8 in (10-76 mm) M 2. Retak tak terisi, sembarang lebar sampai 3 in (76 mm) dikelilingi retak acak ringan 3. Retak terisi, sembarang lebar dikelilingi retak agar acak Satu dari kondisi berikut yang terjadi : 1. Sembarang retak terisi atau tak terisi dikelilingi oleh retak acak, kerusakan sedang sampai tinggi H 2. Retak tak terisi > 3 in (76 mm) 3. Retak sembarang lebar, dengan beberapa inci di sekitar retakan pecah Sumber : Shanin, (1994)/Hardiyatmo, H.C., (2007) Gambar 3.7 Deduct Value Retak Memanjang/Melintang Sumber : ASTM Internasional, 2007 2. Kerapatan (Density) Density atau kerapatan adalah persentase luas atau panjang total dari suatu jenis kerusakan terhadap luas atau panjang total bagian jalan yang diukur. Kerapatan ini dapat dinyatakan dalam satuan meter persegi atau meter panjang. Nilai kerapatan dapat bervariasi berdasarkan tingkat kerusakan yang terjadi. Oleh karena itu, kerapatan kerusakan dapat dinyatakan dengan persamaan berikut: π΄π Density (100%) = π΄π × 100 πΏπ Density (100%) = π΄π × 100 Keterangan : Ad = Luas total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m2) Ld = Panjang total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m) As = Luas total unit segmen (m2) 3. Menentukan Nilai DV Deduct value adalah nilai pengurangan yang digunakan untuk setiap jenis kerusakan, yang diperoleh dari kurva yang menggambarkan hubungan antara kerapatan (density) dan deduct value. Setelah nilai kerapatan diperoleh, nilai tersebut kemudian diplot pada grafik deduct value sesuai dengan tingkat kerusakan yang ada pada grafik tersebut. 4. Menentukan Nilai TDV Total deduct value (TDV) diperoleh dengan menjumlahkan nilai deduct value dari setiap jenis kerusakan yang ada pada suatu segmen jalan yang ditinjau. Setelah nilai TDV dihitung, nilai CDV dapat diperoleh dengan menarik garis vertikal sesuai dengan nilai TDV yang telah dihitung pada grafik yang sesuai. 5. Nilai q (Number of Deduct Greater Than 5 Points) Nilai q ditentukan oleh jumlah nilai individual deduct value setiap kerusakan yang nilainya lebih besar dari 5 pada segmen jalan yang diteliti 6. Nilai CDV Setelah nilai TDV dan q diketahui, nilai CDV (Corrected Deduct Value) dapat dicari dengan memplot nilai TDV pada grafik CDV sesuai dengan nilai q yang diperoleh. Jika nilai CDV yang didapatkan lebih kecil dari nilai pengurang tertinggi (HDV), maka CDV yang digunakan adalah nilai pengurang individual yang tertinggi. 7. Menghitung Nilai Kondisi Perkerasan Untuk mendapat nilai PCI pada setiap unit dapat dihitung dengan persamaan berikut : ππΆπΌπ = 100 − πΆπ·π dengan : PCIs : Pavement Condition Index untuk tiap unit CDV : Corrected Deduct Value untuk tiap unit 8. Klasifikasi Kualitas Perkerasan Nilai PCI dapat diklasifikasikan pada tabel berikut : Tabel 3.4 Tingkat Kerusakan Retak Memanjang/Melintang Nilai PCI 86-100 71-85 56-70 41-55 26-40 11-25 0-10 Kondisi Jalan Sempurna (excellent) Sangat Baik (very good) Baik (good) Sedang (fair) Buruk (poor) Sangat Buruk (very poor) Gagal (failed) Sumber : Shahin, 1994 Gambar 3.8 Diagram Nilai PCI Sumber : Shahin, 1994 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisa Kerusakan Kerusakan pada Jalan Raya Serang, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama: retak kulit buaya, lubang, dan retak memanjang. Retak kulit buaya adalah jenis kerusakan yang ditandai dengan pola retak yang menyerupai kulit buaya. Kerusakan ini biasanya disebabkan oleh kelelahan material akibat beban lalu lintas berulang. Pola retak ini sering kali menutupi area yang lebih luas dan menunjukkan bahwa struktur perkerasan sudah mengalami penurunan yang signifikan. Jenis kerusakan kedua adalah lubang. Lubang adalah depresi atau cekungan yang terbentuk pada permukaan jalan dan memiliki berbagai ukuran. Pada Jalan Raya Serang, lubang-lubang yang paling banyak ditemui memiliki diameter perkiraan rata-rata antara 2 hingga 6 cm. Lubang biasanya terjadi akibat material lapisan permukaan yang hilang akibat pengaruh cuaca dan beban lalu lintas yang berlebihan. Lubang yang dibiarkan tanpa penanganan dapat membesar dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada struktur perkerasan jalan. Kerusakan ketiga adalah retak memanjang atau melintang. Retak memanjang adalah retak yang sejajar dengan arah lalu lintas, sedangkan retak melintang adalah retak yang melintang terhadap arah lalu lintas. Kedua jenis retak ini banyak ditemukan di pinggir jalan pada Jalan Raya Serang. Retak memanjang seringkali disebabkan oleh faktor termal, sedangkan retak melintang umumnya disebabkan oleh penyusutan material atau pergerakan tanah di bawah perkerasan. Kerusakan ini dapat memperburuk kondisi jalan jika tidak segera diperbaiki. Di Jalan Raya Serang, lubang adalah jenis kerusakan yang paling sering ditemui, disusul oleh retak memanjang atau melintang yang banyak ditemukan di pinggir jalan. Dlam menganalisa kerusakan yang terjadi pada jalan sepanjang 1,5 km ini, dibagi menjadi beberapa segmen unit. Yang dimana setiap segmen unit sepanjang 100 meter. Hasil survei mengenai kondisi kerusakan jalan yang mencakup panjang dan luas kerusakan dicatat dalam formulir survei. Berikut ini adalah nilai-nilai yang diperoleh dari hasil survei yang dimasukkan ke dalam formulir PCI. Rincian hasil survei dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 4.1 Nilai PCI Segmen 1 2 3 4 5 6 Jenis Kerusakan Tingkat Kerusakan Total Luas (m2) Density (%) Deduct Value Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang M L H L L L H L M L M M M M M L 1,2 7,3 8,4 0,4 0 4,2 0,8 2,3 5,9 1,1 6,1 10,7 0,6 4,1 8 2,4 0,15% 0,91% 1,05% 0,05% 0,00% 0,53% 0,10% 0,29% 0,74% 0,14% 0,76% 1,34% 0,08% 0,51% 1,00% 0,30% 40 10 19 13 0 1 55 4 8 22 19 21 30 18 9 38 m q TDV CDV PCI 6,68 3 69 44 56 9,24 1 14 14 86 5,26 2 67 47 53 8,39 3 62 37 63 7,63 3 57 42 58 6,87 2 44 33 67 7 8 9 10 11 12 13 14 Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya L L L M M M L L L L L L M M L L M L L M L M M L M 0 9,4 0 5,3 9,3 0,9 3,4 7,8 0,2 3,3 9,2 0 5,3 8,4 1,9 1,6 3,2 1,7 1,8 4,3 0,5 3,6 5,2 2,7 3,2 0,00% 1,18% 0,00% 0,66% 1,16% 0,11% 0,43% 0,98% 0,03% 0,41% 1,15% 0,00% 0,66% 1,05% 0,24% 0,20% 0,40% 0,21% 0,23% 0,54% 0,06% 0,45% 0,65% 0,34% 0,40% 0 6 0 18 14 36 14 2 9 14 15 0 18 12 32 3 4 31 3 6 16 16 7 40 15 8,77 2 32 23 77 7,06 2 52 37 63 9,05 3 38 23 77 8,77 2 30 21 79 7,44 1 39 39 61 7,54 2 40 30 70 8,96 3 39 34 66 6,68 3 73 48 52 15 Memanjang/melintang Lubang Retak Kulit Buaya Memanjang/melintang H L M L 7,1 0,8 3,1 2,9 0,89% 0,10% 0,39% 0,36% 18 22 15 0 8,39 RATA-RATA Sumber : Penulis, 2024 Tabel 4.2 Kondisi Jalan Berdasarkan Nilai PCI Segmen 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nilai PCI Kondisi Jalan 56 Baik (good) 86 Sempurna (excellent) 53 Sedang (fair) 63 Baik (good) 58 Baik (good) 67 Baik (good) 77 Sangat Baik (very good) 63 Baik (good) 77 Sangat Baik (very good) 79 Sangat Baik (very good) 61 Baik (good) 70 Baik (good) 66 Baik (good) 52 Sedang (fair) 73 Sangat Baik (very good) Sumber : Penulis, 2024 2 37 27 73 66,733 GRAFIK NILAI PCI PADA SETIAP SEGMEN 100 Nilai PCI (%) 80 60 40 20 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Segmen (setiap 100 m) Gambar 4.1 Grafik Nilai PCI Setiap Segmen Sumber : Penulis, 2024 Berdasarkan analisis nilai PCI (Pavement Condition Index) pada segmen jalan di Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, ditemukan bahwa kondisi jalan secara umum tergolong baik dengan rata-rata nilai PCI sebesar 66,733. Dari total 15 segmen yang dianalisis, mayoritas segmen memiliki kondisi jalan baik hingga sangat baik, dengan beberapa segmen menunjukkan nilai PCI yang lebih rendah, seperti Segmen 3 dan Segmen 14 yang berada pada kategori sedang (fair). Kondisi ini menunjukkan bahwa jalan masih layak digunakan, meskipun terdapat beberapa segmen yang membutuhkan perhatian lebih untuk mempertahankan kualitas dan kenyamanan pengguna. Segmen-segmen dengan nilai PCI tertinggi, seperti Segmen 2 (86), Segmen 10 (79), dan Segmen 15 (73), menunjukkan bahwa perkerasan jalan pada bagian tersebut berada dalam kondisi sempurna hingga sangat baik, yang mencerminkan minimnya kerusakan struktural atau permukaan. Sebaliknya, segmen dengan nilai PCI lebih rendah, seperti Segmen 3 (53) dan Segmen 14 (52), kemungkinan mengalami kerusakan ringan hingga sedang, seperti retakan, deformasi, atau keausan lapisan permukaan. Perbedaan kualitas ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tingkat lalu lintas, kualitas material, serta intensitas pemeliharaan yang dilakukan. Upaya perbaikan dan pemeliharaan perlu difokuskan pada segmen-segmen yang memiliki nilai PCI lebih rendah agar tidak terjadi penurunan kualitas yang signifikan. Peningkatan kondisi segmen dengan kategori sedang dan pemeliharaan rutin pada segmen dengan kategori baik atau sangat baik dapat memperpanjang umur perkerasan jalan secara keseluruhan. Dengan mempertahankan kualitas jalan di level baik, diharapkan efisiensi transportasi dan kenyamanan pengguna jalan dapat terus terjaga, mendukung mobilitas masyarakat serta perekonomian di wilayah tersebut. 4.2 Identifikasi Penyebab kerusakan Kondisi jalan di Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, sebagaimana dianalisis dari nilai PCI pada masing-masing segmen, dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, di antaranya: 1. Tingkat Lalu Lintas Berat Salah satu penyebab utama kerusakan pada jalan adalah lalu lintas kendaraan berat, seperti truk dan bus, yang sering melalui jalan ini, terutama pada malam hari. Beban berat yang berulang-ulang memberikan tekanan tinggi pada struktur perkerasan jalan, menyebabkan deformasi seperti gelombang (rutting), retakan lelah (fatigue cracking), atau bahkan kerusakan lapisan permukaan. Aktivitas kendaraan berat yang dominan pada malam hari sering kali kurang terpantau sehingga pemeliharaan jalan mungkin tidak dilakukan secara tepat waktu. 2. Kualitas Material dan Konstruksi Kualitas material yang digunakan dalam pembangunan atau perbaikan jalan dapat menjadi faktor penting. Jika material tidak memenuhi spesifikasi standar atau proses konstruksi tidak dilakukan dengan optimal, daya tahan jalan terhadap beban dan cuaca akan berkurang. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan dini, meskipun volume lalu lintas tidak terlalu tinggi. 3. Faktor Cuaca dan Drainase Hujan deras yang sering terjadi di wilayah tersebut dapat mempercepat kerusakan jalan, terutama jika sistem drainase tidak berfungsi dengan baik. Air yang menggenang dapat meresap ke dalam lapisan jalan, mengurangi kekuatan struktur perkerasan dan memicu kerusakan seperti lubang (potholes) dan retakan. 4. Kurangnya Pemeliharaan Rutin Pemeliharaan jalan yang tidak konsisten atau tertunda dapat memperburuk kerusakan ringan menjadi kerusakan yang lebih serius. Segmen dengan nilai PCI yang rendah, seperti Segmen 3 dan Segmen 14, kemungkinan belum mendapatkan perhatian yang memadai untuk perbaikan kecil, yang akhirnya mengurangi kualitas jalan secara keseluruhan. 4.3 Cara Mengatasi Kerusakan Jalan Kerusakan pada jalan dapat diperbaiki dengan berbagai metode sesuai dengan jenis dan tingkat kerusakannya. Berikut penjelasan cara perbaikan yang dapat dilakukan berdasarkan kondisi yang ditemukan: 1. Perbaikan Lubang (Potholes) Metode Patching (Tambalan): Lubang pada jalan dapat diperbaiki dengan metode tambalan, yaitu dengan membersihkan area yang rusak, memotong bagian tepi agar berbentuk persegi, mengisi lubang dengan material aspal panas atau dingin, dan memadatkan permukaan menggunakan alat pemadat seperti compactor. Metode ini cocok untuk kerusakan lokal yang kecil dan cepat dilakukan tanpa membutuhkan perbaikan menyeluruh. 2. Perbaikan Retakan (Cracking) a. Metode Crack Sealing: Retakan kecil diisi menggunakan bahan pengisi seperti aspal cair atau sealant khusus untuk mencegah air masuk ke dalam struktur perkerasan. b. Metode Crack Filling: Untuk retakan lebih lebar, digunakan bahan pengisi yang lebih kuat, seperti campuran bitumen dan agregat kecil. c. Kedua metode ini mencegah kerusakan lebih parah akibat infiltrasi air atau tekanan dari kendaraan. 3. Perbaikan Retak Fatigue (Alligator Cracking) Rekonstruksi Lokal (Local Reconstruction): Kerusakan retak yang menyerupai kulit buaya umumnya membutuhkan penggalian (removal) pada lapisan perkerasan yang rusak, diikuti dengan pengisian material baru. Setelah itu, lapisan perkerasan diganti dengan campuran aspal baru dan dipadatkan. Kerusakan jenis ini biasanya menunjukkan masalah pada struktur bawah jalan (subgrade) sehingga membutuhkan perbaikan mendalam. 4. Pelapisan Mikrosurfacing kerusakan permukaan ringan, seperti pengelupasan atau keausan, metode mikrosurfacing dapat digunakan. Mikrosurfacing melibatkan pelapisan jalan dengan campuran aspal cair dan agregat halus yang diaplikasikan tipis untuk memperbaiki permukaan dan meningkatkan ketahanan jalan. 5. Rekonstruksi Jalan Secara Menyeluruh Untuk segmen jalan yang mengalami kerusakan berat dan menyeluruh (misalnya, nilai PCI sangat rendah), diperlukan rekonstruksi total. Proses ini melibatkan penggalian seluruh lapisan jalan, perbaikan lapisan tanah dasar (subgrade), pemasangan lapisan pondasi baru, dan pelapisan ulang dengan material perkerasan berkualitas tinggi. 6. Pemadatan Ulang untuk Permukaan yang Longgar Jika permukaan jalan terasa longgar akibat erosi atau penggunaan material berkualitas rendah, dilakukan pemadatan ulang menggunakan alat berat seperti roller untuk mengembalikan kekuatan struktur. Selain perbaikan, pemeliharaan rutin seperti penyapuan jalan, pembersihan saluran drainase, dan inspeksi berkala perlu dilakukan untuk memperpanjang umur jalan dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Implementasi metode yang sesuai dengan tingkat kerusakan akan memastikan kualitas jalan tetap optimal dan efisien dalam jangka panjang. Berikut beberapa solusi dan langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut: 1. Pengaturan Lalu Lintas Kendaraan Berat Untuk mengurangi dampak beban kendaraan berat seperti truk dan bus yang sering melintas pada malam hari, diperlukan pengaturan lalu lintas yang lebih terstruktur. Misalnya, membatasi tonase kendaraan yang melintas atau menerapkan jam operasional tertentu untuk kendaraan berat. Selain itu, pembangunan jalur alternatif khusus untuk kendaraan berat dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi tekanan pada ruas jalan utama. 2. Peningkatan Kualitas Material dan Konstruksi Jalan Penggunaan material berkualitas tinggi yang sesuai dengan standar teknis sangat penting dalam proses rehabilitasi jalan. Material seperti aspal bermodifikasi (polymer-modified asphalt) atau beton mutu tinggi dapat meningkatkan daya tahan jalan terhadap beban berat dan faktor cuaca. Selain itu, penerapan teknologi modern dalam konstruksi, seperti perkerasan berlapis (layered pavement) dengan geotekstil, dapat memperpanjang umur jalan. 3. Perbaikan dan Pemeliharaan Rutin Segmen-segmen dengan nilai PCI rendah, seperti Segmen 3 dan Segmen 14, perlu segera mendapatkan tindakan perbaikan, seperti pelapisan ulang (overlay), pengisian retakan (crack sealing), atau tambalan lubang (patching). Pemeliharaan rutin juga harus diterapkan pada segmen-segmen dengan kondisi baik untuk mencegah kerusakan dini. Inspeksi jalan secara berkala perlu dilakukan untuk mendeteksi kerusakan kecil sebelum berkembang menjadi masalah besar. 4. Peningkatan Sistem Drainase Jalan Untuk mengatasi masalah genangan air yang dapat mempercepat kerusakan jalan, perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan sistem drainase di sepanjang ruas jalan. Saluran air harus dibangun atau diperbaiki agar berfungsi optimal, terutama pada segmen dengan nilai PCI rendah. Penggunaan lapisan perkerasan yang tahan air (impervious pavement) juga dapat menjadi solusi tambahan. 5. Peningkatan Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat Mengedukasi masyarakat dan pengguna jalan tentang pentingnya menjaga jalan, seperti menghindari pembebanan berlebih pada kendaraan, dapat membantu memperpanjang usia jalan. Partisipasi masyarakat dalam melaporkan kerusakan jalan kepada pihak terkait juga akan mempercepat tindakan perbaikan. Dengan mengimplementasikan solusi-solusi tersebut secara komprehensif, diharapkan kondisi jalan dapat ditingkatkan, sehingga mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Strategi ini juga penting untuk menjaga keberlanjutan infrastruktur jalan dalam jangka panjang. BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil survei dan evaluasi data yang telah dilakukan, beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan kualitas dan umur panjang perkerasan jalan, diantaranya yaitu : 1. Penyebab Kerusakan Jalan: Kerusakan jalan perkerasan lentur di Cilacap disebabkan oleh beban kendaraan berat yang melebihi kapasitas rencana, kondisi cuaca ekstrem, seperti curah hujan tinggi yang menggenangi jalan, serta kurang optimalnya sistem drainase dan pemeliharaan rutin. 2. Jenis Kerusakan Umum: Kerusakan jalan yang paling sering ditemukan meliputi retak kulit buaya (alligator cracking), lubang (potholes), dan retak memanjang/melintang, dengan berbagai tingkat keparahan. Kerusakan tersebut menurunkan kualitas jalan dan mengurangi kenyamanan berkendara. 3. Metode Evaluasi: Kondisi jalan dinilai menggunakan metode Pavement Condition Index (PCI), dengan nilai rata-rata 66,733 yang menunjukkan kondisi jalan tergolong baik. Namun, beberapa segmen membutuhkan perhatian lebih karena berada pada kategori sedang hingga buruk. 4. Solusi Penanganan Kerusakan: Langkah penanganan meliputi metode patching untuk lubang, crack sealing atau crack filling untuk retakan kecil hingga sedang, rekonstruksi lokal untuk kerusakan berat, serta pelapisan ulang (overlay) untuk kerusakan permukaan ringan. Sistem drainase juga perlu ditingkatkan untuk mencegah kerusakan akibat genangan air. 5. Strategi Pemeliharaan: Perawatan rutin seperti inspeksi berkala, pembersihan saluran drainase, dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga jalan perlu dilakukan. Selain itu, pengaturan lalu lintas kendaraan berat dan penggunaan material berkualitas tinggi dapat memperpanjang umur infrastruktur jalan. DAFTAR PUSTAKA Admingro1. (2014, July 23). DPUPR Grobogan. Retrieved from Konstruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement): https://www.dpupr.grobogan.go.id/info/artikel/29-konstruksi-perkerasanlentur-flexible-pavement AdminStaff. (2023, Juni 1). Sewa Alat Berat. Retrieved from Flexible Pavement : Mengenal Struktur Perkerasan Jalan Aspal: https://www.sewaalatberat.co.id/konstruksi/perkerasan-lentur/ Curur, P. T.-P. (2021, Desember 22). Cara Mudah Menghitung PCI Asphlat Runway?!_TBL 12. Pertemuan 14 Kerusakan Perkerasan Jalan Lentur. (n.d.). Sugiyanto, G., Fadli, A., Suciningtyas, R., Indriyati, E. W., & Santi, M. Y. (2019). Road Safety Audit at Black Spot Area : Case Study in Tlahab Lor, Karangreja, Purbalingga. AIP Conference Proceedings.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )