Skandal eFishery bermula dari keputusan strategis untuk mengembangkan unit bisnis
Smart Feeder dengan skema rental. Pada awalnya, ide ini terdengar menjanjikan: petani tidak
perlu mengeluarkan biaya besar di depan untuk membeli alat IoT feeder, cukup membayar
biaya sewa bulanan. Namun, di balik itu, beban perusahaan justru semakin berat. Modal awal
yang dibutuhkan sangat besar untuk memproduksi ribuan unit feeder, sementara pemasukan
dari biaya sewa berjalan lambat dan relatif kecil. Dengan kata lain, arus kas keluar terjadi dalam
jumlah besar di depan, sedangkan arus kas masuk hanya menetes perlahan. Hal ini membuat
perusahaan tampak berkembang di sisi aset, tetapi kenyataannya miskin likuiditas.
Kondisi ini memicu masalah besar pada arus kas (low cashflow). Secara sederhana,
meski ada banyak feeder di lapangan, pemasukan per unit terlalu kecil untuk menutup biaya
operasional dan investasi awal. Misalnya, jika harga satu feeder sekitar Rp7 juta, penjualan
langsung bisa segera menutup biaya produksi. Tetapi dalam skema rental, perusahaan hanya
menerima ratusan ribu per bulan, sehingga butuh bertahun-tahun untuk balik modal. Ditambah
lagi, biaya distribusi, perawatan, dan layanan pelanggan tetap berjalan, menciptakan mismatch
arus kas yang parah.
Untuk menutup kebutuhan kas, CEO Gibran Huzaifah melakukan pitching ke investor
karena ada sebuah tawaran dari satu investor jika ingin semua dana investasinya diberikan,
investor ini memberikan syarat kalau diperlukan investor lain untuk bergabung dalam
penyuntikkan dananya. Namun, setelah berbagai usaha dan pitching ke investor lain, banyak
calon investor ragu setelah melihat laporan internal yang menunjukkan kerugian besar dan
performa yang tidak sehat. Pendanaan sulit diperoleh, dan posisi perusahaan kian terjepit. Di
titik inilah, Gibran menghadapi dilema: Menerima kenyataan kalau perusahaannya tidak baik
baik saja dan jujur kepada investor dan karyawan tentang kondisi perusahaan dengan risiko
PHK massal atau bahkan kebangkrutan, atau memilih jalan untuk memanipulasi laporan
keuangan agar banyak investor tertarik dengan eFishery.
Gibran akhirnya memilih jalan kedua. Ia mulai memanipulasi laporan keuangan dengan
berbagai cara. Pendapatan dibesar-besarkan, kerugian diperkecil, bahkan data operasional
dimanipulasi. Misalnya, meskipun hanya sekitar 24.000 smart feeder yang benar-benar aktif,
laporan ke luar menyebutkan hingga 400.000 unit digunakan. Ada tiga metode utama yang
dipakai dalam fraud ini. Pertama, pemindahan transaksi, di mana pendapatan dan pengeluaran
petani dimasukkan ke income statement eFishery padahal bukan hasil operasional perusahaan,
melainkan hanya lewat sementara dengan imbalan fee 2–3%. Kedua, skema Kabayan, di mana
eFishery hanya menjadi perantara antara pemberi dan penerima pinjaman, mengambil komisi,
namun justru mendorong subprime loan yang berujung pada gagal bayar hingga 76% petani.
Untuk menopang manipulasi ini, Gibran dan tim membuat dua pembukuan. Buku
internal yang menggunakan ERP Odoo mencatat kondisi riil—arus kas yang lemah, kerugian
besar, dan unit rental bermasalah. Sementara itu, buku eksternal menggunakan Excel dipoles
agar tampak meyakinkan bagi investor. Dalam versi eksternal ini, pendapatan ditampilkan 4–5
kali lipat lebih besar dari kondisi sebenarnya, bahkan kerugian diubah menjadi laba. Strategi
dua buku ini memungkinkan eFishery tetap beroperasi sekaligus menjaga citra sebagai
perusahaan sehat.
Manipulasi ini membuahkan hasil. Dengan laporan yang sudah “dimaniskan”, eFishery
berhasil menarik banyak investor. Dana besar mengalir dalam beberapa putaran pendanaan,
bahkan nama-nama besar dari modal ventura ikut masuk. Berkat strategi manipulasi ini pula,
eFishery sempat mencapai status unicorn, meskipun pondasinya rapuh dan berdiri di atas
kebohongan. Namun, keberhasilan ini justru menjadi jebakan. Setiap kali ada pendanaan baru,
tuntutan angka semakin besar. Akhirnya, manipulasi berlanjut dari tahun ke tahun, dengan
harapan kinerja riil suatu saat akan menyusul angka palsu. Sayangnya, hal itu tidak pernah
terwujud.
Menjelang akhir 2024, beberapa karyawan mulai curiga melihat perbedaan besar antara
data internal dan eksternal. Pada awal 2025, seorang whistleblower melapor ke dewan direksi
tentang aktivitas mencurigakan. Audit internal pun dilakukan, dan terbukti bahwa hingga 75%
laporan keuangan dipalsukan, dengan estimasi nilai fraud mencapai Rp9,74 triliun (sekitar
US$600 juta).
Kasus ini akhirnya menyeret eksekutif ke ranah hukum. Pada pertengahan 2025, tiga
eksekutif eFishery ditangkap, termasuk mantan CEO Gibran Huzaifah. Mereka dituduh
melakukan penipuan dan penggelapan, terutama dengan cara melebih-lebihkan jumlah
investasi serta memalsukan kondisi keuangan. Keputusan yang awalnya dianggap sebagai jalan
pintas untuk menyelamatkan perusahaan justru berakhir menjadi skandal fraud terbesar dalam
sejarah startup Indonesia.