Jurnal Fisika Terapan PRINSIP TERMODINAMIK DI PLTU Erika Devina Zahra Prodi Teknik Kimia Produksi Bersih, Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung e-mail : erika.devina.tkpb24@polban.ac.id Kameela Nazira Pernandha Prodi Teknik Kimia Produksi Bersih, Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung e-mail : kameela.nazira.tkpb24@polban.ac.id Abstrak Mengingat kebutuhan akan energi Listrik yang terus meningkat, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berperan penting dalam menyediakan pasokan listrik yang stabil dan besar. Penerapan hukum termodinamika dalam turbin uap memainkan peran krusial dalam proses konversi energi di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). PLTU memanfaatkan energi panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi yang menggerakan turbin uap. Proses ini mendasari siklus Rankine, yang didasarkan pada hukum pertama termodinamika (konversi energi), dimana energi panas diubah menjadi energi mekanik. Selain itu, hukum kedua termodinamika berfokus pada peningkatan entropi selama proses konversi energi. Saat uap bertekanan tinggi melewati turbin, energi panas sebagian berubah menjadi energi mekanik, tetapi sebagian besar terbuang sebagai panas yang tidak dapat dimanfaatkan (entropi meningkat). Proses ini membatasi efisiensi konversi energi, karena tidak semua energi panas dapat diubah menjadi kerja mekanik. Hukum ini juga mengatur arah aliran panas dari suhu tinggi ke suhu rendah, yang diperlukan untuk menghasilkan kerja, namun menyebabkan sebagian energi hilang dalam bentuk panas yang terbuang. Kata Kunci: Pembangkit Listrik Tenaga Uap, Termodinamika, Turbin Uap Abstract Given the ever-increasing demand for Electrical energy, Steam Power Plants (PLTU) play an important role in providing a stable and large supply of electricity. 1 Jurnal Fisika Terapan The application of the laws of thermodynamics in steam turbines plays a crucial role in the energy conversion process in a steam power plant. PLTU utilizes heat energy generated from fuel combustion to produce high-pressure steam that drives a steam turbine. This process underlies the Rankine cycle, which is based on the first law of thermodynamics (energy conversion), where heat energy is converted into mechanical energy. In addition, the second law of thermodynamics focuses on the increase in entropy during the energy conversion process. As high-pressure steam passes through the turbine, heat energy is partially converted into mechanical energy, but most of it is wasted as heat that cannot be utilized (entropy increase). This process limits the efficiency of energy conversion, as not all heat energy can be converted into mechanical work. This law also governs the direction of heat flow from high temperatures to low temperatures, which is necessary to produce work, but causes some energy to be lost in the form of wasted heat. Keyword: Steam Power plant, Steam Turbine, Thermodynamics PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan Listrik merupakan kebutuhan utama (Irawan et al., 2021). Di Indonesia, pemintaan akan listrik terus meningkat seiring dengan perkembangan industri dan peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sebagian besar pembangkit listrik menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang mengandalkan konversi energi termal menjadi energi listrik. PLTU merupakan sistem pembangkit listrik di mana energi listrik dihasilkan oleh generator yang diputar oleh turbin uap. Proses awal dari PLTU adalah pemanasan air di dalam boiler menggunakan bahan bakar seperti batu bara, gas atau minyak guna menghasilkan uap bertekanan tinggi. Uap bertekanan tinggi inilah yang nantinya akan berfungsi untuk memutar turbin. Turbin uap berguna untuk memutar generator yang nantinya akan menjadi alat penting penghasil energi Listrik. Kebutuhan akan energi Listrik terus meningkat seiring dengan perkembangan perekonomian dan penduduk, termasuk di Indonesia. Karena kebutuhan Masyarakat akan energi Listrik yang terus meningkat itulah terdapat beberapa jenis pembangkit tenaga Listrik yang ada di Indonesia. Pembangkit Listrik merupakan 2 Jurnal Fisika Terapan suatu alat yang digunakan untuk membangkitkan listrik dari berbagai sumber energi, diantaranya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), dan terakhir yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) merupakan salah satu jenis pembangkit listrik di Indonesia dengan fluida kerja berupa air. Dalam PLTU energi primer yang dikonversikan menjadi energi listrik adalah bahan bakar. Bahan bakar yang digunakan dapat berupa batubara (padat), minyak (cair), atau gas. Ada kalanya PLTU menggunakan kombinasi beberapa macam bahan bakar. Tingginya jumlah persediaan batu bara baik secara global maupun di Indonesia serta harga yang rendah menjadikan PLTU berbahan bakar batu bara masih menjadi salah satu yang tertinggi produksinya (Maesha Gusti Rianta ST., 2020). B. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk megetahui dan menganalisa prinsip kerja dari hukum termodinamika serta penerapannya dalam turbin uap yang dimanfaatkan dalam Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian studi literatur (literature study). Studi literatur pada penelitian ini adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelola data penelitian secara obyektif, sistematis, analitis, dan kritis tentang prinsip termodimika dalam turbin uap di PLTU. Penelitian dengan studi literatur ini memiliki persiapannya sama dengan penelitian lainnya akan tetapi sumber dan metode pengumpulan data dengan mengambil data di pustaka, membaca, mencatat, dan mengolah bahan penelitian dari 3 Jurnal Fisika Terapan artikel hasil penelitian yang satu linear dengan penelitian ini. Penelitian studi literatur ini menganalisis dengan matang dan mendalam agar mendapatkan hasil yang objektif tentang prinsip termodinamika dalam turbin uap di PLTU. Data yang dikumpulkan dan dianalisis merupakan data sekunder yang merupakan data penunjang yang diperoleh dari pihak instansi termasuk data yang tidak dapat diukur di ruang pengendali (control room) dan data hasil pengamatan langsung yang berupa hasil-hasil penelitian yang bisa didapat dari buku, jurnal, artikel, situs internet, dan lainnya yang relevan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) adalah pembangkit yang mengandalkan energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik. Bentuk utama dari pembangkit listrik jenis ini adalah Generator yang dihubungkan ke turbin yang digerakkan oleh tenaga kinetik dari uap panas / kering. Pembangkit listrik tenaga uap menggunakan berbagai macam bahan bakar terutama batu bara dan minyak bakar serta MFO (Marine Fuel Oil adalah produk penyulingan minyak bumi, dimana dihasilkan setelah residu dan sebelum aspal) untuk start up awal. Untuk proses yang lebih detail, kami mengambil prinsip yang digunakan di PLTU batubara. Di PLTU batubara, bahan bakar yang digunakan adalah batubara uap yang terdiri dari kelas sub bituminus (jenis batu bara dengan peringkat menengah, tidak memiliki sifat kayu, dan berwarna hitam kecokelatan atau hitam. Namu, rapuh saat terkena udara) dan bituminus (jenis batubara dengan nilai kalor tertinggi dan berwarna hitam mengkilat). Selain itu, Lignit juga mulai mendapat tempat sebagai bahan bakar pada PLTU belakangan ini, seiring dengan perkembangan teknologi pembangkitan yang mampu mengakomodasi batubara berkualitas rendah. Siklus Rankine Siklus Rankine merupakan siklus teoritis paling sederhana yang menggunakan uap sebagai medium kerja sebagaimana digunakan pada sebuah PLTU. Dikatakan siklus teoritis paling sederhana, karena setelah terjadi satu siklus, 4 Jurnal Fisika Terapan fluida kerja kembali kepada keadaan/sifat semula. Pada siklus rankine, komponenkomponen utama yang bekerja dapat dilihat seperti gambar di bawah ini, Berdasarkan T-s diagram pada gambar diatas, terlihat fluida kerja melewati urutan proses yang reversible secara internal sebagai berikut : Proses 1-2 : Ekspansi isentropic dari fluida kerja melalui turbin dari uap jenuh pada kondisi 1 hingga mencapai tekanan kondensor Proses 2-3 : Perpindahan kalor dari fluida kerja ketika mengalir pada tekanan konstan melalui kondensor dengan cairan jenuh pada kondisi 3. Proses 3-4 : Kompresi isentropic dalam pompa menuju ke kondisi 4 dalam daerah cairan hasil kompresi. Proses 4-1 : Perpindahan kalor ke fluida kerja ketika mengalir pada tekanan konstan melalui boiler untuk menyelesaikan siklus. Hubungan siklus rankine dengan sistem di PLTU, yaitu siklus rankine adalah siklus termodinamika yang digunakan dalam sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Siklus ini menggambarkan konversi energi panas menjadi energi kerja (mekanik) melalui serangkaian proses pada zat kerja, yang dalam hal ini adalah air atau air dan uap. Proses ini sangat relevan dalam PLTU karena prinsip kerja PLTU sangat bergantung pada pemanfaatan uap untuk menghasilkan energi listrik. Berikut ini merupakan komponen komponen yang mendukung proses di PLTU: 5 Jurnal Fisika Terapan Komponen utama : 1. Boiler Berfungsi untuk mengubah air (feedwater) menjadi uap panas lanjut (superheated steam) yang akan digunakan untuk memutar turbin. Prinsip Termodinamika yang berlaku: Hukum Termodinamika I berlaku di sini, karena energi kimia dari bahan bakar diubah menjadi energi panas. Siklus Rankine: Uap yang dihasilkan oleh boiler memiliki suhu dan tekanan tinggi, yang siap untuk digunakan untuk menggerakkan turbin. Efisiensi Boiler dipengaruhi oleh sejauh mana panas yang dihasilkan dari pembakaran dapat dipindahkan ke air dalam boiler. Semakin efisien boiler, semakin besar jumlah energi panas yang bisa digunakan untuk menghasilkan uap. 2. Turbin uap Berfungsi untuk mengkonversi energi panas yang dikandung oleh uap menjadi energi putar (energi mekanik). Poros turbin dikopel dengan poros generator. Prinsip Termodinamika yang berlaku: 6 Jurnal Fisika Terapan Hukum Termodinamika I kembali berlaku, di mana uap bertekanan tinggi mengandung energi yang diubah menjadi energi mekanik oleh turbin. Siklus Rankine: Uap yang masuk ke dalam turbin mengalami penurunan tekanan dan suhu saat melewati bilah turbin, mengubah energi panas menjadi energi kinetik dan kemudian menjadi energi mekanik. Hukum Termodinamika II: Sebagian dari energi panas dalam uap akan hilang dalam bentuk entropi yang meningkat. Tidak semua energi panas dapat diubah menjadi kerja mekanik, sebagian menjadi panas yang dibuang ke kondensor. 3. Kondesor Berfungsi untuk mengkondensasi uap bekas dari turbin. Prinsip Termodinamika yang berlaku: Hukum Termodinamika I: Uap yang keluar dari turbin memiliki energi panas tinggi dan disalurkan ke kondensor untuk didinginkan. Siklus Rankine: Setelah uap kehilangan energi mekanik dan berubah menjadi uap dengan tekanan rendah, kondensor mendinginkan uap tersebut, mengembalikannya menjadi air. Proses ini menggambarkan konversi energi panas menjadi energi pendinginan. Efisiensi: Efisiensi kondensor berperan besar dalam mempertahankan efisiensi keseluruhan PLTU karena semakin baik kondensor, semakin sedikit energi yang hilang. 4. Generator Berfungsi untuk mengubah energi putar dari turbin menjadi energi listrik. Prinsip Termodinamika yang berlaku: Hukum Termodinamika I: Energi mekanik yang dihasilkan oleh turbin dipindahkan ke rotor generator, yang mengubahnya menjadi energi listrik. 7 Jurnal Fisika Terapan Tidak ada konversi energi panas langsung di generator, namun sistem ini sangat bergantung pada ketersediaan energi mekanik yang diproduksi oleh turbin. Komponen penunjang : 1. Desalination plant (unit desal) Berfungsi untuk mengubah air laut menjadi air tawar dengan metode penyulingan. 2. Reverse osmosis (RO) Digunakan membran semi permeable yang dapat menyaring garam yang terkandung pada air laut, sehingga dapat dihasilkan air tawar seperti pasa desalination plant. 3. Demineralizer plant Berfungsi menghilangkan kadar mineral (ion) yang terkandung dalam air tawar. Air harus bebas dari mineral karena jika masih mengandung mineral berarti konduktivitasnya masih tinggi sehingga dapat menyebabkan GGL induksi pada saat air melewati jalur pipa PLTU yang dapat menyebabkan korosi. 4. Chlorination plant Berfungsi menghasilkan NaOCl untuk mematikan sementara mikro organisme laut pada area water intake. Untuk menhindari pergerakan atau scaling pada pipa kondesor maupun unit desal akibat perkembang biakan mikro organisme laut. 5. Auxiliary boiler Merupakan boiler berbahan bakar minyak, yang berfungsi menghasilkan uap yang digunakan pada saat boiler utama start up maupun sebagai uap bantu (auxiliary steam) 6. Hidrogen plant Pada PLTU digunakan Hydrogen (H2) sebagai pendingin generator. 7. Coal handling 8 Jurnal Fisika Terapan Melayani pengolahan batubara yaitu dari proses bongkar muat kapal di dermaga, penyaluran ke coalyard sampai penyaluran ke coal bunker. 8. Ash handling Melayani pengolahan abu baik itu abu jatuh maupun abu terbang dari electrostatic precipitator hopper dan SDCC (Submerged Drag Chain Conveyor) pada unit utama sampai ke tempat penampungan abu. Tiap komponen utama dan peralatan penunjang dilengkapi dengan sistem dan alat bantu yang mendukung kerja. Gangguan dari salah satu sistem menyebabkan terganggunya seluruh sistem PLTU Proses konversi energi pada PLTU Proses konversi energi pada PLTU berlangsung melalui tiga tahapan, yaitu: 1. Pertama, energi kimia dalam bahan bakar diubah mejadi energi panas dalam bentuk uap bertekanan temperature tinggi. 2. Kedua, energi panas (uap) diubah menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran. 3. Ketiga, energi mekanik diubah menjadi energi listrik. 9 Jurnal Fisika Terapan Prinsip kerja PLTU PLTU meggunakan fluida kerja air uap yang bersirkulasi secara tertutup (menggunakan fluida yang sama secara berulang ulang). Urutan sirkulasinya secara singkat adalah sebagai Pertama, air diisikan ke boileh hingga terisi penuh seluruh luas permukaan pemindahan panas. Didalam boiler air, dipanaskan dengan gas panas hasil pembakaran bahan bakar dengan udara sehingga berubah menjadi uap. Kedua, uap hasil produksi boiler dengan tekanan dan temperature tertentu diarahkan untuk memutar turbin sehingga menghasilkan daya mekanik berupa putaran. Ketiga, generator yang dikopel langsung dengan turbin berputar menghasilkan energi listrik sebagai hasil dari perputaran medan magnet dalam kumparan, sehingga ketika turbin berputar dihasilkan energi listrik dari terminal output generator Keempat, uap bekas keluar turbin masuk ke kondesor untuk didinginkan dengan air pendingin agar berubah kembali menjadi air ( air kondesat). Air kondesat hasil kondensasi uap kemudian digunakan lagi sebagai air pengisi boiler. 10 Jurnal Fisika Terapan KESIMPULAN Hukum-hukum termodinamika memainkan peranan yang sangat penting dalam pengoperasian dan desain Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang merupakan salah satu sumber utama pembangkit energi listrik di Indonesia, bahkan di dunia. Penerapan hukum-hukum ini membantu dalam meningkatkan efisiensi, meminimalkan kerugian energi, serta memastikan bahwa sistem PLTU berfungsi dengan optimal. Hukum Termodinamika I, atau hukum kekekalan energi, menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan hanya dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk lain. Dalam konteks PLTU, hukum ini tercermin dalam proses konversi energi panas dari pembakaran bahan bakar (seperti batu bara) menjadi energi mekanik yang menggerakkan turbin. Selanjutnya, energi mekanik ini diubah menjadi energi listrik oleh generator. Meskipun energi ini dikonversi melalui berbagai proses, jumlah total energi yang masuk tetap dipertahankan, hanya berubah bentuk sesuai kebutuhan sistem. Namun, konversi energi dalam PLTU tidak dapat dilakukan secara sempurna, dan ini dijelaskan oleh Hukum Termodinamika II, yang menyatakan bahwa entropi, atau tingkat ketidakteraturan sistem, akan selalu meningkat dalam suatu proses. Hal ini menyebabkan bahwa tidak semua energi panas yang diperoleh dari pembakaran dapat diubah menjadi energi kerja yang bermanfaat. Sebagian besar energi akan hilang dalam bentuk panas yang dibuang ke lingkungan melalui sistem pendinginan. Oleh karena itu, efisiensi termal PLTU sangat bergantung pada 11 Jurnal Fisika Terapan pengelolaan panas yang keluar dan upaya untuk mengurangi pemborosan energi tersebut. Peningkatan efisiensi PLTU seringkali melibatkan usaha untuk mengurangi entropi dalam sistem, seperti dengan menggunakan teknologi turbin yang lebih efisien atau meningkatkan suhu dan tekanan dalam siklus uap. Secara keseluruhan, artikel ilmiah ini menekankan bahwa setiap proses yang ada di PLTU tidak terlepas menggunakan hukum hukum termodinamika. Terbukti setiap alat dan komponen komponen utama di PLTU menggunakan prinsip termodinamika dalam kerjanya, baik itu hukum I termodinamika, maupun hukum II termodinamika. DAFTAR PUSTAKA Irawan, O. W., Pratama, L. S., & Insani, C. (2021). Analisis Termodinamika Siklus Pembangkit Listrik Tenaga Uap Kapasitas 1500 kW. JTM-ITI (Jurnal Teknik Mesin ITI), 5(3), 109. https://doi.org/10.31543/jtm.v5i3.579 Maesha Gusti Rianta ST., M. S. (2020). Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). IndonesiaRe. https://indonesiare.co.id/id/article/pembangkit-listrik-tenaga- uap-pltu Suroso, Rosita. (2015). Tinjauan Termodinamika untuk Optimalisasi dalam Perencanaan PLTU Batubara 50 MW. 2109100060Undergraduate_Thesis.pdf 12
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )