MAKALAH TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah : Etika Bisnis dan Profesi Dosen pengampu: Drs. Ign. Agus Suryono, MM.,CDMP. Oleh: 1. Intan Fitri Ayuningtyas (141220225) 2. Alan Rahmat Mongilong (141220229) 3. Ronald Anson (141220231) 4. Ceasar Wijanarko Putra (141220267) PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2024 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Tanggung Jawab Sosial Perusahaan” yang sederhana ini dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca dan bisa bermanfaat untuk perkembangan serta peningkatan ilmu pengetahuan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Ign. Agus Suryono, MM.,CDMP., selaku DosenEtika Bisnis dan Profesi. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharap saran dan kritik dari para pembaca yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Yogyakarta, 3 Maret 2024 Penyusun DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. 2 BAB I ............................................................................................................................................................ 4 PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 4 1.1 Latar Belakang .................................................................................................................................... 4 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................................... 4 1.3 Tujuan dan Manfaat ............................................................................................................................ 5 BAB II........................................................................................................................................................... 6 PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 6 2.1 Apakah Ada Tanggung Jawab Sosial bagi Perusahaan ? Jika Ada Apa Sumbernya? ........................ 6 2.2 Apakah Ada Tanggung Jawab Sosial dari Bisnis ? Jika ada, Tanggung Jawab kepada siapa ? ......... 7 2.3 Apakah Ada Tanggung Jawab Sosial dari Bisnis? Jika ada, Sejauh Manakah Tanggung Jawab ini? 7 2.4 Etika dan Tanggung Jawab Sosial ...................................................................................................... 8 2.5 Mengeksplorasi Kepentingan Pribadi yang Tercerahkan : Motivasi bagi CSR ................................ 10 2.6 Apakah Model “Kepentingan Pribadi yang Tercerahkan” Dapat Berjalan? Apakah “Etika yang Baik” Berarti “Bisnis yang Baik?”.......................................................................................................... 12 BAB III ....................................................................................................................................................... 14 PENUTUP .................................................................................................................................................. 14 3.1 Kesimpulan ....................................................................................................................................... 14 3.2 Saran ................................................................................................................................................. 14 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanggung jawab sosial perusahaan atau yang juga dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility, kini telah menjadi prioritas utama para pemimpin bisnis di dunia. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu bentuk program tanggung jawab perusahaan terhadap stakeholder atau pemangku kepentingan. Stakeholders atau pemangku kepentingan adalah orang atau kelompok yang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi keputusan, kebijakan ataupun setiap operasi yang dilakukan perusahaan, stakeholder dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu stakeholder internal dan stakeholder eksternal (Kasali, 2003: 63). Pada dasarnya ada 3 jenis tanggung jawab yang harus dilakukan perusahaan kepada pemangku kepentingan, yaitu economic responsibility, legal responsibility dan social responsibility. Sebagai penengah antara konflik yang mungkin terjadi antara perusahaan dan lingkungan sekitarnya, program CSR perusahaan dapat diselenggarakan dalam bentuk program-program seperti perbaikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dalam upaya peningkatan ekonomi, bantuan pendidikan hingga program kegiatan seni dan budaya. Hal yang harus disadari setiap perusahaan adalah bahwa pelaksanaan program CSR tidak hanya akan memelihara hubungan baik antara perusahaan dan masyarakat disekitar perusahaan, tapi juga dapat meningkatkan citra positif perusahaan dimata masyarakat dan seluruh stakeholder, baik internal maupun eksternal. Karena melalui penyelenggaraan program CSR yang baik maka perusahaan akan dianggap peduli serta tidak hanya berorientasi pada profit semata, selain itu kehadiran perusahaan juga akan dipandang mampu membawa dampak positif bagi masyarakat. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa itu tanggung jawab sosial perusahaan ? 2. Apa saja tiga model tanggung jawab sosial perusahaan ? 3. Kepada siapa perusahaan memberikan tanggung jawab sosial ? 4. Apa perbedaan komponen – komponen atau elemen – elemen kunci dari istilah tanggung jawab ? 5. Apa peran reputasi terhadap tanggung jawab sosial ? 6. Apakah etika yang baik berarti bisnis yang baik ? 1.3 Tujuan dan Manfaat 1. Mendefinisikan tanggung jawab sosial perusahaan. 2. Mendiskusikan tiga model tanggung jawab sosial. 3. Mengidentifikasi objek tanggung jawab perusahaan. 4. Membedakan komponen – komponen atau elemen – elemen kunci dari istilah tanggung jawab. 5. Menjelaskan peran reputasi sebagai salah satu kemungkinan dibalik tanggung jawab sosial. 6. Mengevaluasi klaim bahwa CSR itu baik bagi perusahaan. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Apakah Ada Tanggung Jawab Sosial bagi Perusahaan ? Jika Ada Apa Sumbernya? Secara umum, CSR mencakup berbagai tanggung jawab yang dimiliki perusahaan kepada masyarakat di mana perusahaan itu beroperasi. European Commission mendefinisikan CSR sebagai "suatu konsep di mana perusahaan memutuskan dengan sukarela untuk berkontribusi demi masyarakat yang lebih baik dan lingkungan yang lebih bersih." Secara khusus, CSR menyarankan bahwa perusahaan mengidentifikasi kelompok pemegang kepentingan perusahaan dan memasukkan kebutuhan dan nilai-nilai mereka ke dalam proses pengambilan keputusan strategis dan operasional perusahaan. Para pendukung CSR memiliki beberapa dasar atas pendirian mereka bahwa sebuah perusahaan seharusnya berada di atas atau melebihi maksimalisasi keuntungan. Pandangan umum mengenai tanggung jawab sosial perusahaan ini berakar pada tradisı utilitarianisme dan ekonomi neo-klasik (seperti yang dijelaskan pada Bab 3. Sebagai agen darı pemilik bisnis, para manajer memiliki tanggung jawab utama untuk meraih keuntungan maksimal bagi para pemegang saham perusahaan. Dengan mengejar keuntungan, seorang manajer perusahaan bekerja untuk mengalokasikan berbagai sumber daya dalam penggunaan yang paling efisien. Konsumen yang paling menghargai sumber daya akan bersedia untuk membayar paling banyak bagi sumber daya itu, oleh karenanya keuntungan adalah ukuran dari alokasi sumber daya yang optimal (lihat Uji Realitas di atas). Seiring dengan berjalannya waktu, pengejaran keuntungar. akan terus berjalan menuju kepuasan optimal dari permintaan konsumen, yang diinterpretasikan oleh paham utilitarianisme sebagai kebaikan sosial yang optimal. Namun, bahkan Milton Friedman mengakui bahwa para manajer perusahaan memiliki kewajiban lainnya yang seharusnya memberikan batasan bagi pencapaian keuntungan tersebut. Baik aturan hukum maupun kebiasaan etis (ethical custom) berfungsi sebagai penghalang pencapaian keuntungan perusahaan. Dalam pandangan yang sempit mengenai tanggung jawab sosial perusahaan ini, perusahaan memiliki tar.ggung jawah untuk mendapatkan keuntungan di dalam cakupan aturan hukum dan dalam batasan-hatasan kebiasaan etis Pandangan mengenai tanggung jawab sosial yang lebih luas dan berjangka parjang ditawarkan oleh Kenneth Dayton, mantan Chairman Dayton-Hudson Corporation: “ Kami berada dalam bisnis dalam rangka membuat keuntungan maksimum bagi para pemegang saham kami. Kami berada dalam bisnis untuk melayani masyarakat. Keuntungan adalah imbalan yang kami terima karena telah melakukannya dengan baik. Jisa bisnis tidak melayani masyarakat, masyarakat tidak akan menoleransi keuntungan kami atau bahkan eksistensi kami. “ Bahkan, ini bukanlah argumen yang mendukung tanggung jawab sosial bagi kepentingan masyarakat melainkan sebuah argumen bagi keberlanjutan (sustainability) sebuah organisasi melalui pemenuhan kebutuhan para pemegang kepentingan yang mendukung organisasi itu. 2.2 Apakah Ada Tanggung Jawab Sosial dari Bisnis ? Jika ada, Tanggung Jawab kepada siapa ? Perusahaan memiliki hubungan dengan banyak pemegang kepentingan dan hubungan ini dapat menciptakan berbagai macam tanggung jawab. Seperti yang telah kita lihat dalam banyak kasus dan contoh yang dijelaskan sebelumnya, barangkali tidak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan semua pemegang kepentingan perusahaan dalam suatu kondisi tertentu. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial membutuhkan keputusan untuk memprioritaskan tanggung jawab yang saling bersaing dan bertentangan. Penetapan prioritas sering kali hanya didasarkan pada anggapan saja alih-alih didiskusikan dan diujikan secara sengaja, yang mungkin saja mengarah pada konsolidasi alih-alih peningkatan bagi perusahaan. 2.3 Apakah Ada Tanggung Jawab Sosial dari Bisnis? Jika ada, Sejauh Manakah Tanggung Jawab ini? Apakah keuntungan, jika dihasilkan secara legal, adalah satu-satunya prinsip yang mengarahkan aktivitas perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial, atau haruskah dampak dari suatu keputusan terhadap pihak-pihak lainnya juga diperhatikan, bahkan ketika peraturan tidak mewajibkannya? Shell Oil, sebagai contoh, menghabiskan $100 juta pada tahun 1995 dalam berbagai proyek di Nigeria dan lebih dari $20 juta dalam proyek jalan, klinik kesehatan, sekolah, beasiswa, proyek air, dan proyek pendukung pertanian untuk membantu orang-orang di wilayah tersebut, tindakan yang sepertinya tidak dimotivasi oleh kewajiban hukum apa pun yang harus dilaksanakan. Tampaknya Shell justru bertindak dengan tujuan yang bermanfaat secara sosial yang melebihi kewajiban yang diharuskan oleh hukum. Akan tetapi, yang cukup menarik, adalah pada sidang banding yang digelar tahun 2000 mengenai tuntutan hukum terhadap Shell atas dugaan membantu dan bersekongkol dalam penyiksaan dan pembunuhan para aktivis Nigeria yang menentang pengeboran di tanah mereka diperkenankan untuk dilanjutkan. Semenjak terjadinya aktivitas yang dibahas dalam kasus tersebut, Shell telah berusaha keras untuk menciptakan sebuah kewaspadaan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan bagi perusahaan itu sendiri dan industrinya. 2.4 Etika dan Tanggung Jawab Sosial Kata bertanggung jawab dan tanggung jawab digunakan dalam beberapa cara yang berbeda dan akan membantu jika kita mencermati makna mereka yang sesungguhnya. Ketika kita mengatakan bahwa sebuah perusahaan bertanggung jawab, kita dapat mengartikan bahwa perusahaan itu dapat dipercaya, dapat diandalkan, atau terpercaya. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa sebuah perusahaan sangat bertanggung jawab dalam menyediakan pelayanan yang baik kepada pelanggan. Arti kedua dari kata bertanggung jawab terkait dengan menyatakan sesuatu sebagai penyebab suatu kejadian atau tindakan tertentu. Sebuah kecelakaan yang tidak dapat dihindari dapat menjadi sebuah perkara di mana seseorang bertanggung jawab sebagai penyebabnya, tetapi tidak bertanggung jawab dalam arti bersalah atau harus dimintai pertanggungjawaban. Referensi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan juga menyatakan tugas atau pembatasan yang mengikat kita untuk mengambil suatu sikap tertentu dan bukan sikap lainnya. Kita dapat berpikir mengenai tanggung jawab kita sebagai sesuatu yang seharusnya kita dilakukan walaupun kita lebih cenderung tidak melakukannya. Tanggung jawab mengikat, atau memaksa, atau menghambat, atau mengharuskan kita untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian, berbicara mengenai tanggung jawab sosial bisnis adalah berbicara mengenai kepentingan masyarakat yang membatasi atau mengikat perilaku bisnis. Tanggung jawab sosial adalah apa yan seharusnya atau semestinya suatu perusahaan lakukan demi kepentingan masyarakat. Setelah memahami hal ini, kita dapat melihat bahwa perusahaan-perusahaan memiliki beberapa tipe tanggung jawab sosial yang berbeda-beda. Pertama, tentu saja, perusahaan memiliki tanggung jawab sosial untuk mematuhi aturan hukum. Tanggung jawab hukum, baik yang ditetapkan menurut undang-undang, maupun yang ditetapkan berdasarkan kasus-kasus yang dijadikan contoh bagi hukum perdata, membentuk batasan-batasan legal terhadap perilaku Perusahaan demi kepentingan masyarakat. Hukum adalah salah satu bidang tanggung jawab sosial perusahaan yang tidak dapat diperdebatkan. Walaupun tidak secara eksplisit dilarang oleh hukum, etika akan menuntut kita untuk tidak menimbulkan kerugian yang dapat dihindari. Dalam praktiknya, persyaratan etis ini sangat dekat pada tanggung jawab yang dibentuk oleh hukum tort. Jika sebuah bisnis/perusahaan menimbulkan kerugian terhadap seseorang dan jika kerugian itu sebenarnya dapat dihindari dengan melakukan perawatan yang seharusnya dan perencanaan yang baik, maka baik aturan hukum dan etika akan mengatakan bahwa perusahaan itu harus bertanggung jawab karena melanggar tanggung jawabnya. Gagasan tentang hak individu adalah satu cara untuk membentangkan tipe kerugian yang semestinya tidak ditimbulkan oleh perusahaan. Di luar tanggung jawab untuk mematuhi aturan hukum, tingkat tanggung jawab kedua memandang bahwa Perusahaan memiliki tanggung jawab sosial untuk tidak melanggar hak orang lain. Tetapi ada kasus di mana perusahaan tidak menimbulkan kerugian, namun dapat dengan mudahnya mencegah terjadinya kerugian. Pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai tanggung jawab sosial perusahaan memandang bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mencegah kerugian. Sebagai contoh, pikirkan tindakan yang diambil oleh perusahaan farmasi Merck terhadap obatnya, Mectizan. Mectizan adalah obat yang diproduksi oleh Merck untuk mencegah penyakit river blindness, yaitu suatu penyakit mata yang lazim terjadi di negara-negara tropis. Kebutaan jenis ini menginfeksi jutaan orang tiap tahunnya, menyebabkan ruam-ruam, gatalgatal, dan kehilangan penglihatan yang parah. Satu tablet Mectizan yang diminum sekali setahun dapat mengurangi gejala itu dan mencegah semakin parahnya penyakit itu. Pengembangan system perawatan kesehatan, yang dibutuhkan untuk menyokong dan mengatur program itu. di beberapa wilayah paling miskin di dunia. Menurut berbagai kalangan, Mcctizan Standar CSR yang paling luas cakupannya berpandangan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab sosial untuk melakukan perbuatan baik dan membangun dunia yang lebih baik. Filantropi perusahaan menjadi kasus paling jelas di mana perusahaan bertanggung jawab untuk berbuat baik. Program donasi perusahaan untuk mendukung proyek masyarakat dalam bidang seni, pendidikan, dan budaya adalah contoh yang jelas. Sebagian besar perusahaan memiliki Yayasan atau kantor amal yang menangani program filantropi semacam ini. Para pemilik usaha kecil di seluruh Amerika dapat menceritakan mengenai betapa seringnya mereka diminta untuk memberikan sumbangan untuk mendukung aktivitas amal dan budaya setempat. 2.5 Mengeksplorasi Kepentingan Pribadi yang Tercerahkan : Motivasi bagi CSR Selain pendapat Kenneth Dayton bahwa CSR meningkatkan keberlanjutan suatu organisasi dengan memenuhi kebutuhan konstituennya, terdapat argumen lain untuk memotivasi suatu perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial. Para karyawan yang diperlakukan baik di lingkungan kerjanya terbukti lebih setia dan efektif serta produktif dalam pekerjaannya. Liz Bankowshi, direktur misi sosial di Ben & Jerry's Homemade Ice Cream Company, mengklaim bahwa 80 hingga 90 persen karyawannya bekerja di sana karena "mereka merasa menjadi bagian dari kebaikan yang lebih besar." Karenanya, dampak terhadap laba tidak hanya berakar dari preferensi pelanggan tetapi juga dari preferensi karyawan. Akan tetapi, masalah dari fokus pada preferensi adalah bahwa tanggung jawab sosial menjadi semata-mata pemasaran sosial. Dengan kata lain, suatu perusahaan dapat menggunakan citra dari tanggung jawab sosial untuk mengumpulkan dukungan pelanggan atau loyalitas karyawan, sementara faktanya tidak membuktikan komitmen yang sebenarnya. Pertimbangkan Procter & Gamble Co., yang dikritik dengan keras oleh para responden suatu survei karena mengharapkan perusahaannya mendapatkan peringkat berdasarkan filantropi perusahaannya. Responden berpendapat bahwa P&G "sama sekali tidak melakukan apapun untuk membantu" para korban tragedi 11 September. Akan tetapi, faktanya, P&G menyalurkan lebih dari $2,5 juta dalam bentuk uang tunai dan produk kepada para korban, namun tidak memublikasikan kontribusinya. Hal serupa berlaku pada Honda Motor Co., yang menyumbangkan nang tunai, kendaraan segala medan, dan generator untuk digunakan di lokasi World Trade Center. Nampaknya karena tidak menyadari upaya-upaya ini, responden malahan menganggap perusahaan- perusahaan ini kurang berperasaan karena kegagalan mereka menyokong Amerika. Kesulitan yang ditampilkan dengan memublikasikan perbuatan baik perusahaan dirujuk dalam artikel Ingeborg Wick yang berjudul "Alat Para Pekerja atau Trik Humas? Pedoman terhadap Kode Praktik Tenaga Kerja Internasional." Wick menjelaskan bahwa banyak kode perilaku bagi para pekerja global awalnya berkembang sebagai respons terhadap publisitas negatif terkait dengan kondisi kerja yang berbahaya dan penggunaan pekerja anak, di antara tantangan- tantangan lainnya. Apakah sekarang kode perilaku hanyalah taktik bagian hubungan masyarakat untuk menenangkan keprihatinan para pemegang kepentingan atau dapatkah mereka benar-benar menyajikan maksud yang mereka tuju? Wick menyimpulkan bahwa sebenarnya aturan itu merupakan alat yang berguna untuk mengimplementasikan standar sosial daripada hanya untuk mendorong pemberitaan yang baik, sepanjang mereka mengikuti kriteria tertentu berkenaan dengan substansinya, keterlibatan para pemegang kepentingan, verifikasi independen, transparansi, dan persyaratan jainnya. Oleh karena itu, upaya CSR dapat melayani kedua tujuan tersebut, sepanjang dampak sosialnya berada dalam konteks dan substansi dari aktivitas yang terkait. Praktik memperhatikan "citra" suatu perusahaan terkadang disebut sebagai manajemen reputasi (reputation management). Pada hakikatnya tidak ada yang salah dengan pengelolaan reputasi suatu perusahaan, namun para pengamat dapat meragukan perusahaan karena terlibat dalam berbagai aktivitas CSR semata-mata karena bertujuan untuk memengaruhi reputasi mereka. Keraguan ini berdasarkan fakta bahwa sering kali manajemen reputasi benar-benar berfungsi! Peraga 5.1 menunjukkan elemen-elemen yang dianggap Harris Interactive sebagai hal yang penting dalam pembentukan reputasi dan manfaat selanjutnya yang dapat dihasilkan dari perhatian terhadap elemen-elemen ini. Jika suatu perusahaan menciptakan citra yang baik untuk dirinya sendiri, perusahaan itu membangun semacam trust bank--para konsumen atau pemegang kepentingan lainnya cenderung memaafkan jika nantinya mereka mendengar hal yang negatif mengenai perusahaan. Demikian pula, jika suatu perusahaan memiliki citra yang negatif, maka citra itu akan melekat, tanpa memperhatikan kebaikan yang mungkin dilakukan perusahaan. Plato menyelidiki isu ini ketika ia bertanya apakah seseorang lebih memilih menjadi orang yang tidak etis dengan reputasi yang baik atau orang yang etis dengan sebuah reputasi terkait dengan ketidakadilan. Mungkin Anda menemukan bahwa, jika perusahaan diberikan kedua pilihan itu, kelangsungan hidup perusahaan akan lebih terjamin dengan gambaran yang pertama daripada yang kedua. Dalam isu mengenai manajemen reputasi dan pengaruh berbagai pemegang kepentingan terhadap reputasi perusahaan. Dengan cara ini, sering kali reputasi lebih berpengaruh daripada kenyataan, seperti yang terjadi pada kasus P&G dan Honda yang disebutkan sebelumnya. Shell Oil memublikasikan upayanya sebagai warga negara yang baik di Nigeria; tetapi Shell memiliki catatan buruk dalam hal kesigapannya menanggapi tumpahan minyak, dan proyek pengembangan masyarakatnya telah menciptakan gesekan pada masyarakat di area sekitar pengeboran minyak. Hal yang serupa juga terjadi pada British American Tobacco yang berusaha dengan keras dan konsisten meningkatkan standar kesehatan dan keselamatan yang tinggi, namun perusahaan ini menerima keluhan yang terus- menerus dari para petani kontrak di Brasil dan Kenya mengenai gangguan kesehatan sebagai akibat dari penanaman tembakau. 2.6 Apakah Model “Kepentingan Pribadi yang Tercerahkan” Dapat Berjalan? Apakah “Etika yang Baik” Berarti “Bisnis yang Baik?” Dalam salah satu kutipan yang membuka bab ini, mantan ketua Dayton-Hudson Corporation, Kenneth Dayton, menjelaskan bahwa “Jika bisnis tidak melayani masyarakat, masyarakat tidak akan lama menoleransi keuntungan kita atau bahkan keberadaan kita.” Logika ini menunjukkan bahwa CSR tidak hanya memberikan manfaatbagi masyarakat, tetapi juga dapat bermanfaat bagi organisasi dengan mengamankan tempatnya dalam masyarakat. Kegiatan terkait CSR dapat meningkatkan profitabilitas dengan meningkatkan posisi perusahaan di antara para pemangku kepentingannya, termasuk konsumen dan karyawan. Misalnya, beberapa bukti menunjukkan bahwa karyawan yang diperlakukan dengan baik di lingkungan kerja mereka mungkin terbukti lebih loyal, lebih efektif, dan produktif dalam pekerjaan mereka. Liz Bankowski, direktur misi sosial di Perusahaan Es Krim Ben & Jerry's Homemade, mengklaim bahwa 80 hingga 90 persen karyawan Ben &Jerry bekerja di sana karena "mereka merasa menjadi bagian dari kebaikan yang lebih besar”. Dampak positif pada bottom line, oleh karena itu, tidak hanya berasal daripreferensi pelanggan tetapi juga dari preferensi karyawan. Masalah dengan fokus pada reputasi, bagaimanapun, adalah bahwa tanggung jawab sosial kemudian dapat menjadi pemasaran sosial belaka. Artinya, perusahaan dapatmenggunakan citra tanggung jawab sosial untuk mengumpulkan dukungan pelangganatau loyalitas karyawan sementara fakta tidak membuktikan komitmen yang benar. Praktek memperhatikan "citra" perusahaan kadang-kadang disebut sebagai: manajemen reputasi.Tidak ada yang salah dengan mengelola reputasi perusahaan, dan faktanya kegagalan untuk melakukannya mungkin merupakan keputusan bisnis yang buruk, tetapi pengamat dapat menantang perusahaan untuk terlibat dalam kegiatan CSR.semata-mata bertujuan untuk mempengaruhi reputasi mereka. Tantangannya didasarkan pada fakta bahwa manajemen reputasi sering bekerja. Jika sebuah perusahaanmenciptakan citra yang baik untuk dirinya sendiri, itu membangun semacam bank kepercayaan—konsumen atau pemangku kepentingan lainnya tampaknya tidak memberikan kelonggaran jika mereka kemudian mendengar sesuatu yang negatif tentangperusahaan tersebut. Demikian pula, jika sebuah perusahaan memiliki citra negatif, citra itu mungkin melekat, terlepas dari kebaikan apa yang mungkin dilakukan perusahaan tersebut. Plato mengeksplorasi masalah ini ketika dia bertanya apakah seseorang lebih suka menjadi orang yang tidak etis dengan reputasi yang baik atau orang yang etisdengan reputasi ketidakadilan. Anda mungkin menemukan bahwa, jika diberi pilihan diantara keduanya, perusahaan jauh lebih mungkin bertahan di bawah konsepsi pertama daripada di bawah konsep kedua. Hal etis yang harus dilakukan mungkin tidak selalu menjadi kepentingan terbaik perusahaan. Kita harus mempromosikan etika bisnis, bukan karena etika yang baik adalahbisnis yang baik, tapi karena kita secara moral diharuskan untuk menerapkan sudut pandang moral dalam semua urusan kita dengan orang lain dan bisnis tidak terkecuali. Dalam bisnis, seperti dalam usaha manusia lainnya, kita harus siap untuk membayarbiaya perilaku etis. Biaya terkadang tampak tinggi, tapi itulah risiko yang kita ambildalam menilai dan melestarikan integritas kita. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Tanggung jawab sosial perusahaan adalah kepedulian perusahaan terhadap kepentingan pihak-pihak lain secara lebih luas daripada sekedar terhadap kepentingan perusahaan belaka. Dalam perkembangan etika bisnis yang lebih mutakhir, muncul gagasan yang lebih komprehensif mengenai lingkup tanggung jawab sosial perusahaan. Sampai sekarang ada empat bidang yang dianggap dan diterima sebagai ruang lingkup tanggung jawab sosial perusahaan. Indikator keberhasilan tanggung jawab social perusahaan terhadap masyarakat sendiri dilihat dari bagaimana masyarakat setempat merasakan manfaat dengan adanya kegiatan yang dilakukan perusahaan. Karena dengan memperhatikan kesejahteraan masyarakat setempat dan memperhatikan limbah dari produk yang dihasilkan maka perusahaan tersebut telah menjalankan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat. Dengan begitu terjalin hubungan yang baik antara masyarakat setempat dengan perusahaan. 3.2 Saran Setiap perusahaan perlu dan wajib untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Karena suatu perusahaan dapat berjalan lancar ketika mereka mau peduli dengan keadaan di sekitarnya dan tidak semata-mata hanya mementingkan kepentingan perusahaan saja misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan menggunakan segala cara yang mengakibatkan pihak-pihak lain merasa dirugikan. Disini diperlukan hati nurani setiap individu dalam perusahaan tersebut untuk melaksanakan tanggung jawab sosial itu. Tentu saja hal ini akan bermanfaat bagi kehidupan perusahaan dalam jangka panjang. Karena tentunya masyarakat akan mendukung setiap kegiatan yang dilakukan perusahaan asalkan tidak merugikan yang ada di sekitarnya dan semakin tumbuh rasa kepercayaan masyarakat terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. DAFTAR PUSTAKA Desjardins, Hartman. 2008. Etika Bisnis Pengambilan Keputusan untuk Integritas Pribadi dan Tanggung Jawab Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )