PAJAK PERTAMBAHAN NILAI Di Susun Oleh : Kelompok 5 Rafi Firmansyah 2410532032 Mahatma Sultani Muvi 2410532020 Rahanum Aulia 2410531040 Sabrina 2410531006 Rafli Zaniko 2410532084 Afifah Beauty Rahmah 2410533012 Illiyun Arta Berliani 2410533050 Fajri Aulia Rahman 2410531048 Dosen Pengampu : Silmi, S.E., M.Ak. Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas 2025 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pajak Pertambahan Nilai” ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk pemenuhan tugas mata kuliah perpajakan, sekaligus sebagai upaya untuk memperdalam pemahaman mengenai sistem Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang berlaku di Indonesia. PPN merupakan salah satu jenis pajak tidak langsung yang memiliki kontribusi besar terhadap penerimaan negara. Oleh karena itu, pemahaman yang baik terhadap unsur-unsur utama dalam PPN seperti definisi, dasar hukum, subjek, objek, dasar pengenaan, tarif, fasilitas, hingga mekanisme perhitungannya sangat penting, khususnya bagi mahasiswa di bidang ekonomi dan akuntansi. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan masukan selama penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca serta menjadi tambahan pengetahuan dan referensi dalam memahami sistem perpajakan, khususnya terkait Pajak Pertambahan Nilai. Padang, Juni 2025 Penulis i BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pajak merupakan salah satu sumber utama penerimaan negara yang berperan penting dalam pembiayaan pembangunan nasional. Di antara berbagai jenis pajak yang berlaku di Indonesia, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) memiliki posisi strategis karena diberlakukan atas konsumsi barang dan jasa dalam negeri. PPN bersifat tidak langsung, artinya pajak ini dibayar oleh konsumen akhir, namun disetor ke negara oleh pengusaha kena pajak (PKP). PPN diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN yang telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir melalui Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) Nomor 7 Tahun 2021. Dalam implementasinya, PPN memiliki elemen-elemen penting yang harus dipahami, yaitu: subjek dan objek PPN, dasar pengenaan pajak, tarif, fasilitas yang diberikan pemerintah, serta mekanisme pemungutan dan pelaporan. Pemahaman terhadap sistem PPN tidak hanya penting bagi para pelaku usaha, tetapi juga bagi mahasiswa, khususnya di bidang ekonomi, akuntansi, dan hukum perpajakan. Hal ini karena PPN merupakan bagian tak terpisahkan dari praktik perpajakan nasional dan erat kaitannya dengan kegiatan usaha sehari-hari. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa definisi dan dasar hukum dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN)? 2. Siapa yang menjadi subjek PPN? 3. Apa saja yang menjadi objek PPN? 4. Bagaimana dasar pengenaan PPN ditentukan? 5. Berapa tarif PPN yang berlaku di Indonesia saat ini? 6. Apa saja fasilitas PPN yang diberikan pemerintah? 7. Bagaimana mekanisme dan perhitungan PPN dilakukan dalam praktik? 1 1.3 Tujuan Penulisan 1. Menjelaskan secara jelas definisi dan dasar hukum PPN di Indonesia. 2. Menguraikan siapa saja yang menjadi subjek dan objek PPN. 3. Menjelaskan dasar pengenaan dan tarif yang berlaku dalam sistem PPN. 4. Mengidentifikasi berbagai fasilitas PPN yang tersedia bagi wajib pajak. 5. Menyajikan gambaran umum tentang mekanisme dan cara perhitungan PPN. 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi dan Dasar Hukum Pajak Pertambahan Nilai a. definisi Pajak pertambahan nilai (PPN) adalah Pajak tidak lansung yang dikenakan atas penyerahan dan atau pemamfaatan dari Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan didalam daerah pabean. PPN bersifat tidak langsung dan tidak kumulatif. Ini berarti pajak tersebut hanya dikenakan pada nilai tambah di setiap tahapan produksi atau distribusi. b. Dasar Hukum 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009. 3. PP.No.44 tahun 2022 tentang Aturan.pelaksanaan UU.HPP Tentang PPN dan PPnBM 4. PP.No.49 tahun 2022 tentang Pemberian/fasilitas terhadap PPN terhutang 5. PMK N0 186 Tahun 2022 Pedoman tentang pengkreditan PPN Masukan 2.2 Subjek Pajak Pertambahan Nilai Sebagaimana diatur dalam UU PPN No. 42 Tahun 2009, subjek PPN adalah: Pengusaha Kena Pajak (PKP): Wajib memungut PPN dan menyetorkannya ke negara. Non-PKP: Tidak wajib memungut PPN, tetapi tetap membayar pajak jika membeli barang atau jasa yang dikenakan PPN. 3 Jadi, PKP pemungut PPN di antaranya, Badan, Pemerintah, dan wajib pajak orang pribadi pengusaha yang berstatus PKP. Sedangkan pihak yang dipungut atau subjek PPN yaitu bisa wjib pajak PKP maupun non-PKP. Pengecualian pengukuhan sebagai PKP diberikan bagi pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pada saat ini, batasan pengusaha kecil tersebut diatur dalam PMK 197/PMK.03/2013, yaitu pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP dengan omzet tidak lebih dari Rp4,8 miliar setahun. 2.3 Objek Pajak Pertambahan Nilai Berikut adalah barang/Jasa yang Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai: 1) Penyerahan Barang Kena Pajak (BPK) dan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha. 2) Impor Barang Kena Pajak. 3) Pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. 4) Pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. 5) Ekspor Barang Kena Pajak berwujud atau tidak berwujud dan ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP). 6) Kegiatan Membangun Sendiri bangunan dengan luas lebih dari 200m2 yang dilakukan di luar lingkungan perusahaan dan/atau pekerjaan oleh Orang Pribadi atau Badan yang hasilnya digunakan sendiri atau pihak lain. 7) Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Masukan yang dibayar pada saat perolehan aktiva tersebut boleh dikreditkan. Berikut daftar barang/ jasa yang dikecualikan dari pengenaan PPN. 1) Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya a. Minyak mentah b. Gas bumi c. Panas bumi 4 d. Pasir dan kerikil e. Batu bara (sebelum diproses jadi briket) f. Bijih timah, bijih besi, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak dan bijih bauksit 2) Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak a. Segala jenis beras dan gabah, seperti beras putih, beras merah, beras ketan atau beras putih. b. Segala jenis jagung, seperti jagung putih, jagung kuning, jagung kuning kemerahan atau jagung brondong. c. Sagu. d. Segala bentuk kedelai, seperti kedelai putih, kedelai hijau, kedelai kuning atau kedelai hitam dalam bentuk pecah atau utuh. e. Garam, baik yang beryodium atau tidak. 3) Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman, baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering a. Uang, emas batangan dan surat berharga. b. Jasa pelayanan kesehatan medis c. Jasa pelayanan sosial d. Jasa pengiriman surat dengan perangko e. Jasa keuangan f. Jasa asuransi g. Jasa asuransi (kecuali broker asuransi) h. Jasa keagamaan i. Jasa pendidikan j. Jasa kesenian dan hiburan k. Jasa penyiaran yang bukan bersifat iklan l. Jasa angkutan umum m. Jasa tenaga kerja 5 n. Jasa perhotelan o. Jasa yang disediakan oleh pemerintah p. Jasa penyediaan tempat parkir q. Jasa telepon umum dengan menggunakan logam r. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos s. Jasa boga atau catering 2.4 Dasar Pengenaan Pajak Untuk menghitung PPN digunakan nilai yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak ( DPP ). Dasar Pengenaan Pajak (DPP) sendiri terdiri dari: 1) Harga Jual Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak. 2) Penggantian Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud. 3) Nilai Impor Nilai Impor adalah uang yang digunakan sebagai dasar penghitungan Bea Masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak. 4) Nilai Ekspor Nilai Ekspor adalah uang atau biaya yang diminta oleh eksportir. 5) Nilai Lain Nilai Lain adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak yang diatur oleh Menteri Keuangan. DPP PPN (Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai) yang diatur dalam Pasal 9 ayat 1 sebagai berikut: 6 1) Untuk penyerahan BKP atau pemanfaatan BKP tidak berwujud, DPPnya adalah jumlah harga jual. 2) Untuk pengimporan BKP, DPP-nya adalah nilai impor (definisi nilai impor lihat Pasal 1 angka 20 UU PPN). 3) Untuk pengeksporan BKP, DPP-nya adalah nilai ekspor. 4) Untuk kasus penyerahan BKP/JKP tertentu, DPP-nya adalah nilai lain. Nilai lain adalah suatu jumlah yang ditetapkan Menteri Keuangan sebagai Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas jenis penyerahan BKP/JKP tertentu. 2.5 Tarif Pajak Pertambahan Nilai Melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan ( UU HPP ), tarif PPN mengalami kenaikan secara bertahap: 1) Tarif Umum Tarif PPN 11% berlaku mulai 1 April 2022 Tarif PPN 12% diberlakukan 1 Januari 2025 (kenaikan tarif PPN untuk barang dan jasa non-mewah ditunda, dan tarif PPN 12 persen hanya diberlakukan pada barang mewah). Namun sesuai ketentuan yang tercantum dalam Pasal 3 ayat (2) dan (3) PMK 131/2024 tarif efektif PPN untuk barang dan jasa non-mewah dihitung dengan mengalikan tarif 12% dengan DPP nilai lain yang ditetapkan sebesar 11/12 dari harga jual, nilai impor, atau penggantian. Dengan demikian, tarif efektif PPN untuk barang dan jasa non-mewah tetap sebesar 11%. 2) Tarif Khusus Sedangkan tarif khusus untuk kemudahan dalam pemungutan PPN, atas jenis barang/jasa tertentu atau sektor usaha tertentu diterapkan tarif PPN final, misalnya 1%, 2% atau 3% dari peredaran usaha, yang diatur dengan PMK. Selain itu, dalam UU HPP ini juga terdapat perubahan terkait daftar negative list atau barang/jasa yang tidak dikenakan PPN. 7 Artinya, beberapa barang dan jasa yang sebelumnya tidak dikenai PPN sekarang kena pajak. 2.6 Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Setidaknya ada beberapa fasilitas atau insentif Pajak Pertambahan Nilai yang bisa dimanfaatkan oleh PKP, di antaranya: 1) PPN Tidak Dipungut dan Dibebaskan Pembebasan PPN diberikan pada Pengusaha Kena Pajak: a. PKP yang menyerahkan barang/jasa kena pajak tertentu b. Penyerahan pada perwakilan negara asing c. Penyerahan pada badan internasional d. Penyerahan dengan asas timbal balik/resiprokal Sedangkan PPN tidak dipungut diberikan untuk penyerahan terkait dengan kawasan ekonomi tertentu. Fasilitas pembebasan tarif Pajak Pertambahan Nilai ini diatur dalam UU PPN Pasal 16B Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 jo. UU No. 42/2009. 2) Fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) Insentif PPN DTP diberikan pada sektor properti yang diatur dalam PMK No 7 Tahun 2024. a. Diskon DTP properti 100% untuk Pajak Pertambahan Nilai rumah atau unit dengan harga jual paling tinggi Rp2 miliar. b. Diskon PPN DTP properti sebesar 50% untuk rumah atau unit dengan harga di atas Rp2 miliar – Rp5 miliar. 3) PPN Tarif 0% Pengenaan PPN 0% diberikan pada ekspor barang/jasa kena pajak, yang diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UU Pajak Pertambahan Nilai. Pemberian insentif PPN 0% dilakukan perluasan jenis ekspor jasa kena pajak (JKP), yang mulai berlaku sejak 29 Maret 2021, diatur dalam PMK No. 32/PMK.03/2019. 2.7 Mekanisme Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Secara umum, mekanisme pemungutan PPN adalah sebagai berikut: 8 1) Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang menjual Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) wajib memungut PPN dari pembeli dan membuat Faktur Pajak sebagai bukti pemungutan. 2) PPN yang tertulis di Faktur Pajak disebut Pajak Keluaran, yaitu pajak yang harus dibayarkan oleh PKP kepada negara. 3) Saat PKP membeli BKP atau JKP yang dikenakan PPN, pajak yang dibayarkan disebut Pajak Masukan. Pajak ini bisa dikreditkan jika pembelian terkait langsung dengan kegiatan usaha. 4) Setiap bulan, jika Pajak Keluaran lebih besar dari Pajak Masukan, selisihnya harus dibayar ke negara sebelum batas akhir setor pajak pada bulan berikutnya. Jika Pajak Masukan lebih besar, selisihnya bisa dipakai untuk masa pajak berikutnya. Pengembalian pajak (restitusi) hanya dapat diajukan pada akhir tahun buku tertentu. Hanya PKP yang disebutkan dalam Pasal 9 ayat (4b) UU Nomor 42 Tahun 2009 saja yang dapat mengajukan restitusi untuk setiap Masa Pajak. 5) PKP harus melaporkan PPN melalui Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setiap bulan, paling lambat akhir bulan berikutnya. Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai Perhitungan PPN yang terutang dilakukan dengan cara mengalikan tarif pajak dengan DPP. Proses perhitungan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: Pajak Pertambahan Nilai = Tarif PPN x Dasar Pengenaan Pajak Contoh : Pada tanggal 3 Juli 2025, PT AAA yang merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan berkedudukan di Semarang melakukan penjualan satu unit kulkas kepada Tuan A yang berdomisili di Magelang. Barang yang dijual merupakan Barang Kena Pajak (BKP) dan bukan termasuk barang mewah. Harga jual kulkas tersebut adalah sebesar Rp6.000.000 (belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai/PPN). Penyerahan barang dilakukan di Semarang, yang masih berada dalam daerah pabean. PT AAA tidak mendapatkan fasilitas pembebasan PPN dan wajib 9 memungut PPN atas penjualan barang tersebut. Tarif PPN yang berlaku adalah sebesar 12%. Dalam transaksi ini, PPN dihitung dengan menggunakan Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Hitunglah : 1) Hitunglah Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atas transaksi penjualan kulkas tersebut! 2) Hitunglah besarnya PPN yang harus dipungut oleh PT AAA atas penjualan tersebut! 3) Tentukan jumlah total yang harus dibayarkan oleh Tuan A kepada PT AAA (termasuk PPN)! Jawab : 1) Menghitung Dasar Pengenaan Pajak DPP = 11/12 x Rp 6.000.000 = Rp 5.500.000 2) Menghitung Besarnya PPN PPN = 12% x Rp. 5.500.000 = Rp 660.000 3) Total Biaya Yang Harus Disediakan Pembeli Total Bayar = Harga Jual + PPN = Rp 6.000.000 + Rp 660.000 = Rp 6.660.000 Penyetor dan Pelapor Pajak Pertambahan Nilai Seperti penjelasan sebelumnya, pengusaha kena pajak (PKP) adalah pemungut pajak. Sebagai pemungut PPN atas transaksi penjualan barang/jasa kena pajak, PKP wajib menyetorkan PPN terutang atas pemungutan/pemotongan PPN tersebut dan melaporkan pemungutan pajak pertambahan nilai tersebut setiap akhir masa pajak berikutnya. Batas akhir pelaporan dan penyetoran PPN adalah setiap akhir bulan masa pajak berikutnya. 10 BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan pajak tidak langsung yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean Indonesia. PPN diterapkan dalam setiap mata rantai produksi dan distribusi dengan sistem pajak atas nilai tambah, serta memiliki dasar hukum yang kuat, antara lain Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 jo. UU No. 42 Tahun 2009, dan UU HPP No. 7 Tahun 2021. Subjek PPN adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN. Objek PPN mencakup penyerahan dan impor BKP serta JKP, termasuk pemanfaatan dari luar negeri, ekspor, hingga kegiatan membangun sendiri. Sebaliknya, terdapat barang dan jasa tertentu yang dikecualikan dari pengenaan PPN. Dasar pengenaan PPN (DPP) terdiri atas harga jual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor, atau nilai lain yang ditetapkan. Tarif PPN umum saat ini adalah 11% dan direncanakan menjadi 12%, dengan ketentuan khusus untuk beberapa jenis barang atau usaha. Pemerintah juga memberikan fasilitas PPN berupa pembebasan, tarif 0%, dan PPN ditanggung pemerintah (DTP) untuk sektor tertentu. Mekanisme pengenaan PPN menggunakan sistem kredit pajak, yaitu PPN Keluaran dikurangi PPN Masukan. Jika PPN Keluaran lebih besar, PKP wajib menyetorkan selisihnya ke negara. Sebaliknya, jika PPN Masukan lebih besar, selisihnya bisa dikompensasikan atau dimintakan restitusi dengan syarat tertentu. Secara keseluruhan, PPN merupakan instrumen fiskal yang penting dalam penerimaan negara dan mendorong transparansi dalam sistem perpajakan Indonesia. 11
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )