1 EKPERIMEN 01 WUJUD ZAT DAN INTERAKSI MOLEKUL OBAT Deskripsi dan Urgensi Praktikum Kajian-kajian dalam Farmasi Fisika berpusat pada fenomena-fenomena fisis dalam suatu sistem farmasetis. Fenomena ini dipengaruhi oleh sifat dasar dan wujud bahan farmasi dalam sistem tersebut. Pengetahuan tentang interaksi molekul obat dan sifat-sifat yang menjadi implikasi dari interaksi tersebut akan menjadi dasar dalam studi preformulasi dan formulasi bahan obat serta berbagai analisis fisikokimia yang banyak dilakukan di dalam bidang kefarmasian. Dalam konteks praktikum untuk mata kuliah ini, pengetahuan dasar tentang wujud dan interaksi molekul obat penting untuk dimiliki karena akan menjadi landasan pengetahuan untuk percoban-percobaan selanjutnya. Dalam eksperimen ini, mahasiswa akan diminta untuk melakukan penentuan titik lebur, titik didih dan densitas beberapa bahan dengan menggunakan beberapa metode yang berbeda, menetapkan simpangan dalam hasil pengukurannya dan membandingkan hasilnya dengan data dari referensi yang ada. Mahasiswa juga akan diminta untuk menggali dan menjelaskan fenomena fisis apa yang melatar belakangi peristiwa melebur dan mendidihnya suatu bahan dan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran dalam pengujian pada eksperimen ini. Maksud dan Tujuan Setelah menyelesaikan eksperimen ini, mahasiswa diharapkan untuk: 1. Mengetahui dan memahami peristiwa peleburan bahan dan cara menentukan titik lebur serta jarak lebur bahan padat 2. Mengetahui dan memahami peristiwa pendidihan dan cara menentukan titik didih bahan cair 3. Mengetahui dan memahami cara menentukan kerapatan dan bobot jenis bahan cair Secara khusus, tujuan eksperimen ini adalah: 1. Melakukan pengukuran jarak lebur dan titik lebur bahan padat dengan menggunakan metode dalam farmakope yang dimodifikasi 2. Melakukan pengukuran titik didih bahan cair dengan menggunakan metode tabung tile yang dimodifikasi 3. Melakukan pengukuran kerapatan dan penetuan bobot jenis bahan cair menggunakan hidrometer dan piknometer. Keterampilan Akhir Daftar keterampilan yang akan dipelajari dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel berikut No. Eksperimen Referensi Keterampilan 1 EX0101 Penentuan Titik Lebur Bahan Padat SPA Pengukuran jarak lebur atau suhu lebur (B.1.10) 2 EX0102 Penentuan Titik Didih Bahan Cair Internal 3 EX0103 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Piknometer SPA Pengukuran bobot jenis cairan dengan Piknometer (B.1.7) 4 EX0104 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Hidrometer Internal Pengukuran bobot jenis cairan dengan hidrometer SPA: Standar Profesi Apoteker (Kepmenkes HK.01.07/MENKES/13/2023) Pengukuran titik didih 2 Teori Singkat Wujud zat, secara klasikal, dibagi menjadi padat, cair, gas dan plasma. Bahan obat dapat berupa padatan, cairan atau gas. Wujud Zat (State of Matter) berbeda dengan Fase (Phase). Sebuah campuran bahan farmasi dapat memiliki campuran zat dengan wujud yang sama tetapi fase yang berbeda (misalnya campuran air dan minyak, sama-sama berwujud cair tetapi terdapat dua fase dalam campuran). Mengetahui wujud zat dan sifat fisika yang menyertainya merupakan hal penting dalam menunjang sebuah proses formulasi obat menjadi bentuk sediaan farmasi yang stabil. Karena sebagian besar bahan obat berada pada wujud padat dan cairan, maka bagian ini akan fokus membahas wujud zat padat dan cairan serta sifat fisikanya. Terdapat gaya-gaya yang bekerja pada suatu zat sehingga zat tersebut dipertahankan dalam wujudnya yaitu gaya antarmolekul. Gaya antarmolekul terdiri atas: - Gaya van der Waals (interaksi non-ionik antarmolekul) terdiri atas : (1) Gaya Keesom/interaksi dipol-dipol, (2) Gaya Debye/interaksi dipol-dipol induksi, (3) Gaya London/interaksi dipol induksi-dipol induksi. - Interaksi Ion-Dipol, Ion-Dipol Induksi dan Ion-Ion - Ikatan Hidrogen Sebagian besar bahan farmasi (bahan aktif dan bahan tambahan) yerwujud padat atau cair sehingga dalam percobaan ini akan lebih banyak dibahas tentang bahan farmasi padat dan cair. Contoh bahan farmasi dalam berbagai wujud antara lain: - Padat: Mentol, kamfer, timol, salol, asam salisilat, asam borat, parasetamol, kloramfenikol, teofilin, eritromisin, kafein, indometasin, prokain, lidokain, metil paraben, propil paraben, tiamin HCl, ampisilin, asam askorbat, aspirin, benzokain, dll. - Cair: Air, etanol, gliserol, propilen glikol, etilen glikol, simetikon, oleum cocos (minyak kelapa), oleum sesami (minyak wijen), oleum olivae (minyak zaitun), oleum arachidis (minyak kacang), oleum ricini (minyak jarak), dll. - Gas: Gas nitrogen, berbagai anastesi inhalasi dan gas medik. Bahan obat padat dapat berupa padatan kristalin dan padatan amorf. Molekul pada padatan kristalin tersusun dalam bentuk geometrik yang teratur sedangkan pada padatan amorf, molekul tersusun dalam bentuk tidak teratur. Salah satu sifat fisika yang penting dari bahan padat adalah titik leburnya. Padatan kristalin memiliki titik lebur tertentu dan profil termalnya umumnya menunjukkan puncak tajam pada saat terjadi peleburan. Padatan amorf tidak memiliki titik leleh tertentu dan memiliki kecenderungan untuk mengalir ketika diberikan tekanan yang cukup selama periode waktu tertentu. Profil termal padatan amofr umumnya menunjukkan jarak lebur yang lebar dan adanya titik transisi gelas. Hal inilah yang menjadi salah satu sifat yang membedakan antara padatan amorf dan padatan kristalin. Gambar 1.1. Contoh termogram asam Benzoat 3 Titik leleh berhubungan erat dengan titik beku. Titik beku adalah suhu saat cairan berubah menjadi padatan. Titik beku merupakan titik leleh dari sebua padatan kristalin murni. Titik beku atau titik leleh padatan murni didefinisikan sebagai suhu saat fase cair dan fase padat berada dalam kesetimbangan dan titik lebur suatu bahan dipengaruhi oleh gaya antar-molekul didalmnya. Panas (energi) yang diabsorbsi saat 1 gram padatan meleleh atau panas yang dibebaskan saat bahan padat membeku disebut panas peleburan laten. Panas yang ditambahkan selama proses pelelehan tidak mengakibatkan perubahan suhu sampai semua padatan meleleh. Panas peleburan dapat dianggap sebagai panas yang dibutuhkan untuk meningkatkan jarak antar atom atau antarmolekul dalam kristal sehingga memungkinkan terjadinya pelelehan (meningkatnya gerakan molekul). Suatu kristal yang terikat oleh gaya-gaya yang lemah pada umumnya memiliki panas peleburan dan titik leleh yang rendah, vice versa. Fenomena ini menjelaskan tentang: 1. Perbedaan titik leleh polimorf suatu bahan 2. Peningkatan titik leleh hidrokarbon jenuh 3. Hidrokarbon dengan jumlah atom karbon genap memiliki titik leleh yang lebih tinggi dibanding hidrokarbon dengan jumlah atom karbon ganjil Beberapa bahan dapat memiliki lebih dari satu bentuk padatan. Fenomena ini dikenal dengan nama polimorfisme. Polimorf mempunyai kestabilan yang berbeda-beda dan dapat berubah secara spontan dari bentuk meta-stabil ke bentuk stabilnya pada suhu tertentu. Polimorf juga memiliki sifat fisika berbeda yang salah satunya adalah titik lebur. Bentuk-bentuk polimorf memiliki susunan molekul yang berbeda sehingga gaya antar molekul dalam tiap bentuk berbeda. Jika suatu cairan ditempatkan dalam bejana terbuka dan dipanaskan hingga tekanan uapnya setara dengan tekanan atmosfir, uap dari cairan tersebut akan membentuk gelembung udara yang akan dengan cepat akan meloloskan diri dari cairan ke fase gasnya. Suhu saat tekanan uap dari cairan sama dengan lingkungan sekitarnya disebut titik didih. Hubungan antara tekanan uap dan suhu absolut dari cairan dapat diekspresikan dengan persamaan Clausius-Clapeyron. Titik didih dapat dianggap sebagai suatu titik saat agitasi termal mampu melampaui gaya tarik antara molekul dari cairan. Dalam kasus ini, titik didih dari suatu bahan memberikan suatu estimasi kasar tentang besaran gaya tarik antar molekulnya. log 𝑝2 ∆𝐻𝑣 (𝑇2 − 𝑇1 ) = 𝑝1 2.303𝑅𝑇1 𝑇2 Persamaan 1.1. Persamaan Clausius-Clapeyron Bobot jenis adalah salah satu sifat fisik yang penting diketahui dalam menangani suatu bahan cair. Densitas berbeda dengan bobot jenis. Densitas (atau kerapatan) dapat didefinisikan sebagai massa per satuan volume pada suhu dan tekanan tertentu. Densitas memiliki satuan dan dinyatakan dalam gram per sentimeter kubik (g/cm3) atau kilogram per meter kubik (kg/m3). Bobot jenis dapat didefinisikan sebagai perbandingan densitas suatu bahan terhadap bahan lain (dalam hal ini adalah air) dan densitas kedua bahan tersebut ditentukan pada suhu dan tekanan yang sama. Bobot jenis merupakan bilangan murni tanpa satuan. Bobot jenis dapat juga didefinisikan sebagai densitas relatif. Bobot jenis juga didefiniskan sebagai perbandingan massa suatu bahan dengan air dengan volume yang sama pada suhu 4°C atau pada suhu lain yang ditetapkan. Notasi suhu sering dijumpai pada pembacaan bobot jenis seperti 25°/25°, 25°/4° atau 4°/4°. Angka pertama menunjukkan suhu udara saat zat ditimbang dan angka kedua menunjukkan suhu air yang digunakan. Bobot jenis dapat ditentukan dengan menggunakan piknometer, higrometer, neraca Mohr-Westphaldan alatalat lainnya. 4 Peralatan dan Bahan Peralatan dan bahan per kelompok yang harus disiapkan untuk tiap eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut: Eksperimen Alat Per Kelompok Bahan Per Kelompok EX0101 Penentuan Titik Lebur Bahan Padat Beaker 250 mL/Thiele tube (1 buah) Statif dan klem (1 buah) Termometer 0-300°C (1 buah) Kompor listrik/hotplate (1 buah) Pipa kapiler (2 buah) Parafin cair/silikon cair (200 mL) EX0102 Penentuan Titik Didih Bahan Cair Beaker 250 mL/Thiele tube (1 buah) Termometer 0-300°C (1 buah) Pipa kapiler (2 buah) Parafin cair/silikon cair (200 mL) EX0103 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Piknometer Piknometer 25 mL (1 buah) Tissue (1 pak kecil) EX0104 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Hidrometer Gelas ukur 500 mL (1 buah) - Di dalam kelas juga disiapkan peralatan sebagai berikut: Hidrometer (1 set) Timbangan Analitik (ketelitian 0,1 mg) (1 buah) Setiap kelompok mahasiswa akan dibekali satu jenis sampel bahan farmasi padat (sampel titik lebur) dan satu sampel bahan farmasi cair (sampel kerapatan) dari daftar sampel sampel berikut. Eksperimen Nama Sampel Jumlah (Kondisi Akhir) EX0101 Penentuan Titik Lebur Bahan Padat Ketoprofen, Ibuprofen, Parasetamol, Benzokain, Piracetam, Asam Askorbat, Guafenisin, Atropin Sulfat, Salisilamid, Mentol, Kamfer, Timol, Resorsinol, Asam Salisilat, Asam Benzoat, Butil Hidroksi Anisol, Butil Hidroksi Anilin 1 gram (rusak) EX0102 Penentuan Titik Didih Bahan Cair Alkohol absolut, metanol, aseton, diklorometan 5 mL (rusak) Gliserel, Propilen Glikol, PEG 400, Alkohol 70%, Alkohol 96%, Isopropil Miristat, Polisorbat 80, Sorbitan 80, Asam Laktat, Benzil Alkohol, Benzil Benzoat, Parafin Cair. 30 mL (tidak rusak) EX0103 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Piknometer EX0104 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Hidrometer 500 mL (tidak rusak) 5 Pra-Praktikum Bahan pre-reading: Buku Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika (2011) Bab 2, hal. 26-60 Bahan respon untuk percobaan ini adalah: 1. Gaya Antar Molekul a. Gaya Van der Waals (Gaya Keesom, Gaya Debye, Gaya London) b. Interaksi Ion-Dipol, Interaksi Ion-Dipol Induksi, Interaksi Ion-Ion c. Ikatan Hidrogen 2. Padatan Kristalin dan Padatan Amorf 3. Polimorfisme 4. Sifat-Sifat Fisik Bahan Obat (Titik Lebur, Titik Didih, Flash Point, Indeks Refraktif, Kerapatan) 5. Densitas (Kerapatan) dan Densitas Relatif (Bobot Jenis) 6. Titik Lebur dan Metode-Metode Analisis Termal 7. Metode-Metode Penentuan Titik Didih 8. Metode-Metode Penentuan Kerapatan Bahan Cair 9. Persamaan Clausius-Clapeyron, Perhitungan Densitas Bahan Cair, Perhitungan SEM Sebelum praktikum, mahasiswa harus melengkapi data pada lembar “Prerequisite Data”. Sebelum praktikum, mahasiswa harus menyelesaikan video Asistensi dan menyelesaikan responsi teori di Sikola v2 dan responsi perhitungan di dalam kelas. Safety Check No. Item Check () 1 Jas Praktikum 2 Sepatu Tertutup 3 Masker Gunakan selama menangani bahan 4 Sarung Tangan Gunakan selama menangani bahan 5 Safety Googles Gunakan selama berada di area laboratoriu 6 Exhaust fan Nyalakan exhaust fan ruangan saat menjalankan praktikum 7 Lemari asam Airflow lemari asam memenuhi persyaratan 8 Body/Eye shower Ketahuilah tempat body/eye shower terdekat Keterangan Gunakan saat masuk dan selama berada di dalam laboratorium Gunakan sebelum masuk dan selama berada di laboratorium 6 Eksperimental Alokasi Waktu : 180 menit Jumlah Sampel : 1 sampel bahan padat (EX0101), 1 sampel bahan cair (EX0102) dan 1 sampel bahan cair lainnya (EX0103 dan EX0104) Tempat : Lab Farmasetika, Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Pengaturan : Setiap 3 kelompok mengerjakan sampel yang sama. Data dikumpulkan sebagai data kolektif untuk dirata-ratakan. EX0101 Penentuan Titik Lebur Bahan Padat 1. Sebelum memulai percobaan, catat suhu ruangan tempat percobaan dilakukan. 2. Siapkan sampel yang telah dikeringkan sesuai prosedur farmakope di dalam wadah yang sesuai 3. Isi pipa kaca kapiler (yang salah satu ujungnya tertutup) dengan serbuk kering secukupnya hingga membentuk kolom di dasar tabung dengan tinggi 3 mm setelah dimampatkan secukupnya (dengan cara mengetuk-ngetukkan ujung tertutup pipa kapiler pada permukaan yang padat) 4. Tempel kapiler (dengan bantuan cairan tangas) pada termometer dengan bagian terbuka menghadap ke atas dan dasar pipa kapiler sejajar dengan bagian tengah pencadang raksa 5. Panaskan silikon cair dalam gelas beaker 250 ml menggunakan kompor listrik hingga suhu mencapai lebih kurang 10°C dibawah suhu lebur yang diperkirakan 6. Celupkan termometer kedalam tangas hingga ujung bawa termometer berada kurang lebih 2 cm dari atas dasar wadah cairan (ujung pipa kapiler yang terbuka tidak boleh terendam cairan tangas) 7. Lanjutkan pemanasan dengan pengadukan tetap secukupnya hingga suhu naik sekitar 3°C/menit hingga kurang lebih mencapai suhu 3°C di bawah suhu lebur dan lanjutkan pemanasan dengan laju kenaikan suhu 1°C/menit 8. Suhu pada saat fase cair mulai muncul dalam pipa kapiler didefinisikan sebagai suhu awal peleburan dan suhu ketika seluruh zat uji telah berubah menjadi cairan didefinisikan sebagai suhu akhir peleburan (suhu ini dicatat sebagai suhu lebur). Kedua suhu tersebut berada dalam kisaran jarak lebur 9. Catat hasilnya pada lembar observasi 10. Hitung rata-rata suhu lebur sampel dari data kolektif yang diperoleh 11. Hitung SEM pengujian dari data kolektif yang diperoleh Gambar 1.2. Konfigurasi Alat untuk Eksperimen EX0101 (Kiri: dengan Beaker; Kanan: dengan Thiele Tube) EX0102 Penentuan Titik Didih Bahan Cair 1. Sebelum memulai percobaan, catat suhu ruangan tempat percobaan dilakukan 2. Catat tekanan udara saat percobaan dilakukan 2. Masukkan beberapa ml sampel yang akan diukur titik didihnya ke dalam tabung reaksi kecil 7 3. Ke dalam tabung reaksi, masukkan pipa kapiler yang salah satu ujungnya tertutup dengan bagian pipa yang masih terbuka menghadap ke bawah 4. Ikat tabung reaksi pada sebuah termometer dengan kuat, ujung bawah termometer sejajar dengan ujung bawah tabung reaksi 5. Isi gelas Beaker 250 ml dengan Silicone Oil sebanyak kurang lebih ¾ nya 6. Celupkan tabung reaksi yang sudah terikat dengan termometer ke dalam silicone oil hingga terendam setengahnya 7. Mulai panaskan sampel secara perlahan. Ketika sampel mencapai titik didihnya, gelembung udara akan terlihat mengalir keluar dari ujung terbuka pipa kapiler 8. Saat pembentukan gelembung sudah konstan, hentikan pemanasan dan jauhkan sampel dari sumber panas. Biarkan sampel dalam tabung reaksi untuk mendingin. Mulailah pengamatan! 9. Saat sampel mulai mendingin, amati pipa kapiler. Saat cairan mulai mengalir masuk ke dalam pipa kapiler, catat suhu pada termometer sebagai titik didih sampel 10. Catat hasilnya pada lembar observasi 11. Hitung rata-rata suhu lebur sampel dari data kolektif yang diperoleh 12. Hitung SEM pengujian dari data kolektif yang diperoleh Gambar 1.3. Konfigurasi Alat untuk Eksperimen EX0102 (Kiri: dengan Beaker; Kanan: dengan Thiele Tube) EX0103 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Piknometer 1. Sebelum memulai percobaan, catat suhu ruangan tempat percobaan dilakukan 2. Ukur suhu sampel yang akan ditentukan berat jenisnya dan catat hasilnya pada tabel pengamatan 3. Bersihkan piknometer hingga tidak meninggalkan bekas tetesan air dengan cara setelah dibersihkan dengan aquadest, bilas dengan pelarut aseton atau alkohol dan keringkan. 4. Timbang piknometer yang telah kering pada neraca analitik dan catat bobot piknometer kosong (a) 5. Masukkan sampel ke dalam piknometer hingga terisi penuh, kemudian tutup. Bersihkan jika ada luapan bahan, kemudian timbang piknometer pada neraca analitik yang sama dan catat bobot piknometer isi (b) 6. Hitung bobot jenis dari sampel tersebut dengan menggunakan persamaan berikut 𝜌= ρ : Densitas/kerapatan sampel (g/cm3) a : Massa piknometer kosong (g) b : Massa piknometer + sampel (g) Vp : Volume piknometer (cm3) 7. Catat hasilnya pada lembar observasi 𝑏−𝑎 𝑉𝑝 8 8. Hitung SEM pengujian dari data kolektif yang diperoleh EX0104 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Hidrometer 1. Sebelum memulai percobaan, catat suhu ruangan tempat percobaan dilakukan 2. Ukur suhu sampel yang akan ditentukan kerapatan dan berat jenisya dan catat hasilnya ke dalam tabel pengamatan 3. Sediakan gelas ukur volume 500 ml 4. Masukkan cairan yang akan diukur bobot jenisnya sampai ± 500 ml 5. Masukkan hidrometer yang telah dibersihkan ke dalam gelas ukur tersebut secara perlahan 6. Catat angka pada skala yang tepat sejajar dengan permukaan cairan dengan catatan hidrometer tidak menyentuh dasar gelas ukur (melayang) dan permukaan cairan berada dalam rentang skala hidrometer yang dipilih 7. Catat hasilnya pada lembar observasi 8. Hitung SEM pengujian dari data kolektif yang diperoleh Pembuangan Limbah dan Pengembalian Sampel Pastikan kondisi sampel tidak rusak setelah digunakan, jika tidak ada kontaminasi, kembalikan ke wadah asal Parafin cair hasil pemanasan TIDAK dicampur dengan parafin cair sampel (jika ada) Jika harus dibuang perhatikan penandaan berikut: 1. Limbah parafin dimasukkan ke dalam wadah khusus limbah parafin cair 2. Limbah pelarut organi dimasukkan ke dalam wadah khusus pelarut organik 3. Limbah serbuk obat TIDAK dibuang ke dalam tempat sampah umum atau ke dalam saluran air. Gunakan wadah limbah yang disediakan. 4. Tissue atau paper towel yang terkontaminasi sampel/pelarut TIDAK dibuang ke dalam tempat sampah umum. Gunakan wadah limbah yang disediakan Limbah kaca (pipa kapiler) yang mengandung sampel dibuang ke dalam wadah “CONTAMINATED GLASS WASTE” yang disediakan Pertanyaan Eksperimen 1. 2. 3. 4. Apa yang membuat suatu bahan obat memiliki titik lebur yang berbeda? Apa yang membuat suatu bahan obat memiliki titik didih yang berbeda? Apa yang membuat suatu bahan obat memiliki kerapatan yang berbeda? Bagaimana faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil pengukuran dari ketiga nilai di atas? Referensi dan Bahan Bacaan Lanjutan Sinko, Patrick J. Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika. EGC. Jakarta. 2011. Attwodd D, et al. Physical Pharmacy. Pharmaceutical Press. UK. 2008 Amiji MM, et al. Applied Physical Pharmacy 2nd Edition. McGraw Hill. USA. 2014 Felton LA. Essentials of Pharmaceutics. Pharmaceutical Press. UK. 2012 Florence AT, et al. Physicochemical Principles of Pharmacy 4th Edition. Pharmaceutical Press. UK. 2006 9 PREREQUISITE DATA EX0101 Penentuan Titik Lebur Bahan Padat Nama Sampel RM RB BM Pemerian Kelarutan Titik Lebur ΔfusH° Sistem Kristal Gambar SEM Profil Termal (DSC) Difraktogram SInar X Spektrum IR Referensi: 10 PREREQUISITE DATA EX0102 Penentuan Titik Didih Bahan Cair Nama Sampel RM Pemerian Kelarutan Titik Didih Kerapatan Indeks Refrkasi Referensi: BM RB 11 PREREQUISITE DATA EX0103 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Piknometer EX0104 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Hidrometer Nama Sampel RM Pemerian Kelarutan Titik Didih Kerapatan Indeks Refrkasi Referensi: BM RB 12 LEMBAR OBSERVASI PRAKTIKUM FARMASI FISIKA Nama Mahasiswa NIM/Kelompok Golongan Hari/Tanggal Suhu/RH °C/ %RH EX0101 Penentuan Titik Lebur Bahan Padat Tuliskan hasil pengamatan pada tabel di bawah ini: Jarak Lebur (°C) Nama Sampel Awal Akhir Titik Lebur (°C) ̅ 𝒙 (°C) SEM Nilai Referensi (°C) Kesimpulan: Sesuai/Tidak Sesuai Dengan Referensi (Coret yang tidak sesuai) Foto sampel sebelum dipanaskan Foto sampel sesaat setelah dipanaskan Pengamatan tanda-tanda dekomposisi Apakah terjadi perubahan warna setelah dipanaskan? Ya/Tidak* Apakah terjadi pembentukan gas selama pemanasan? Ya/Tidak* Tunjukkan di dalam gambar! Foto sampel setelah dipanaskan dan didinginkan kembali 13 Perhitungan (Perhitungan nilai rata-rata dan perhitungan SEM) Nama Asisten Replikasi 1 Oleh Replikasi 2 Oleh Replikasi 3 Oleh : Kelompok Kelompok Kelompok Paraf Asisten 14 LEMBAR OBSERVASI PRAKTIKUM FARMASI FISIKA Nama Mahasiswa NIM/Kelompok Golongan Hari/Tanggal Suhu/RH °C/ %RH EX0102 Penentuan Titik Didih Bahan Cair Tuliskan hasil pengamatan pada tabel di bawah ini: Tekanan Udara Lingkungan Nama Sampel Titik Didih (°C) ̅ 𝒙 (°C) SEM Nilai Referensi (°C) Kesimpulan: Sesuai/Tidak Sesuai Dengan Referensi (Coret yang tidak sesuai) Foto sebelum dipemanasan Foto saat pemanasan (pembentukan gelembung udara) Foto setelah sampel didinginkan (saat pembacaan titik didih) 15 Perhitungan (Perhitungan nilai rata-rata dan perhitungan SEM) Nama Asisten Replikasi 1 Oleh Replikasi 2 Oleh Replikasi 3 Oleh : Kelompok Kelompok Kelompok Paraf Asisten 16 LEMBAR OBSERVASI PRAKTIKUM FARMASI FISIKA Nama Mahasiswa NIM/Kelompok Golongan Hari/Tanggal Suhu/RH °C/ %RH EX0103 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Piknometer EX0104 Penentuan Kerapatan Bahan Cair Dengan Hidrometer Tuliskan hasil pengamatan pada tabel di bawah ini: Suhu Sampel: No. Nama Sampel Vp (cm3) Range Hidrometer (°C) Suhu Air: a (g) b (g) Hasil Pembacaan ρSampel (g/cm3) Ρair (g/cm3) ρ (g/cm3) ̅ 𝒙 (g/cm3) ̅ 𝒙 (g/cm3) SEM SEM Bobot Jenis Sampel Piknometer ρSampel (g/cm3) Ρair (g/cm3) (°C) Bobot Jenis Sampel Hidrometer Nilai Referensi Densitas (g/cm3) Nilai Referensi Bobot Jenis Kesimpulan: Sesuai/Tidak Sesuai Dengan Referensi (Coret yang tidak sesuai) pada °C/ °C 17 Perhitungan (Perhitungan ρ, rata-rata, perhitungan SEM) Nama Asisten Replikasi 1 Oleh Replikasi 2 Oleh Replikasi 3 Oleh : Kelompok Kelompok Kelompok Paraf Asisten 18 Pembahasan, Kesimpulan, Saran dan Referensi 19 ..:Akhir Eksperimen 01:..
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )