Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol. 1, No. 1, Januari 2017, hlm. x-x e-ISSN: 2548-964X http://j-ptiik.ub.ac.id Analisis Perbandingan Fitur Waveform Length, Mean Absolute Value, dan Root Mean Square Pada Lengan Prostetik Bionik Syauqi1, Edita Rosana Widasari2 Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1syauqi19@student.ub.ac.id, 2editarosanaw@ub.ac.id Abstrak Berdasarkan data Kementerian Sosial Republik Indonesia tahun 2021 mencatat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,97 juta jiwa, dengan disabilitas fisik pada tangan menjadi salah satu kelompok terbesar. Disabilitas tangan berdampak signifikan pada aktivitas sehari-hari, sehingga pengembangan lengan prostetik menjadi Solusi untuk menggantikan fungsi tangan tersebut. Dalam pengembangannya terdapat beberapa tantangan yang dihadapi seperti keterbatasan gerakan, ketidaknyamanan dalam mobilitas, dan noise pada perekaman sinyal akibat penggunaan kabel yang panjang. Oleh karena itu, Penelitian ini mengembangkan lengan prostetik dengan Wearable Electromyography Armband Sensor dan pendekatan ekstraksi fitur Waveform Length (WL), Mean Absolute Value (MAV), serta Root Mean Square (RMS) untuk meningkatkan akurasi dan variasi pengenalan gerakan otot lengan bawah. Hasil pengujian terhadap 10 gerakan menunjukkan bahwa sensor Oymotion gForce200 Gesture Armband akurat dalam merekam sinyal EMG. Ekstraksi fitur WL terbukti paling efektif dalam klasifikasi sinyal EMG, berdasarkan analisis Independent Sample T-Test dan perbandingan nilai dengan teknik Ratio Games. Kemudian, MAV menunjukkan waktu komputasi paling efisien, meskipun perbedaannya tidak signifikan, sementara penggunaan memori dari ketiga metode serupa. Penelitian ini menjabarkan secara jelas dalam pemilihan fitur ekstraksi yang optimal untuk meningkatkan akurasi dan variasi gerakan pada lengan prostetik bionik. Kata kunci: Wearable Electromyography Armband Sensor, Waveform Length, Mean Absolute Value, Root Mean Square, Lengan Prostetik Bionik. Abstract Based on data from the Ministry of Social Affairs of the Republic of Indonesia in 2021, the number of persons with disabilities in Indonesia reached 22.97 million, with physical disabilities of the hands being one of the largest groups. Hand disabilities significantly impact daily activities, making the development of prosthetic arms a crucial solution to replace hand functions. However, this development faces challenges such as limited movement, discomfort in mobility, and noise in signal recording caused by long cables. This study developed a prosthetic arm using a Wearable Electromyography Armband Sensor and feature extraction approaches such as Waveform Length (WL), Mean Absolute Value (MAV), and Root Mean Square (RMS) to improve the accuracy and variation in recognizing lower arm muscle movements. Tests on 10 different movements showed that the Oymotion gForce200 Gesture Armband sensor recorded EMG signals accurately. WL was the most effective feature extraction method for classifying EMG signals, as verified by Independent Sample T-Test and Ratio Games analysis. MAV achieved the fastest computation time, but the differences were not significant, and memory usage across the three methods was similar.This study provides a clear basis for selecting optimal feature extraction techniques to enhance the accuracy and variation of movements in bionic prosthetic arms. .Keywords: Wearable Electromyography Armband Sensor, Waveform Length, Mean Absolute Value, Root Mean Square, Bionic Prosthetic Arm seseorang yang memiliki keterbatasan baik fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu yang lama (Wiraputra, et al, 2021). Berdasarkan data Kementerian Sosial Republik 1. PENDAHULUAN Penyandang Disabilitas Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya merupakan 1 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Indonesia tahun 2021 mencatat bahwa jumlah penyandang disabilitas mencapai 22,97 juta jiwa, dengan variasi disabilitas meliputi fisik (1,2 juta jiwa), mental (149 ribu jiwa), sensorik (3,07 juta jiwa), dan intelektual (1,7 juta jiwa). Penyandang disabilitas fisik menjadi salah satu kelompok terbesar yang terdiri dari berbagai individu dengan cacat pada anggota tubuh, baik karena kelahiran, penyakit, atau kecelakaan. Disabilitas fisik terdiri dari berbagai jenis salah satunya pada tangan. Disabilitas pada tangan memiliki dampak yang cukup signifikan, mengingat pentingnya peran tangan dalam aktivitas sehari-hari. Penyandang disabilitas tangan terdiri menjadi dua bagian, yakni lengan atas dan lengan bawah (Dawwas, et al, 2023). Selain itu, mereka juga mengalami keterbatasan dalam beraktivitas karena kehilangan fungsi tangan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah tangan prostetik yang dapat menggantikan fungsi tangan tersebut. Tangan prostetik adalah alat prostetik yang memiliki kemampuan robotik dan dapat digerakkan oleh pengguna hanya dengan menggunakan kemampuan otot lengan (Wijaya, 2024). Elektromiografi (EMG) merupakan teknik medis untuk mengukur respon otot terhadap stimulasi saraf selama otot berkontraksi (Abyanto, et al, 2019). Dengan memanfaatkan sinyal EMG, tangan prostetik dapat digerakkan melalui respon otot pengguna. Dengan demikian, tangan prostetik ini dapat menggantikan fungsi dari tangan. Pada penelitiaan Eko, et al (2024) telah dilakukan pengembangan prostetik tangan bionik bawah siku dengan menggunakan sensor EMG Myoware. Namun, dalam pengembangannya terdapat hambatan di mana penggunaan sensor EMG Myoware yang masih melibatkan penggunaan kabel yang panjang. Penggunaan kabel tersebut mengurangi kenyamanan dalam mobilitas pengguna dan menghasilkan sinyal dengan noise, sehingga mempengaruhi kualitas sinyal yang diperoleh. Dalam upaya mengatasi hal tersebut, maka pada penelitian ini diusulkan penggunaan wearable electromyography sensor berupa Gforce200 Gesture Armband. Pada penelitian M. Arozi, et al (2020) menunjukkan bahwa penggunaan wearable electromyography sensor memiliki tingkat akurasi sebesar 98,09 persen, sehingga sensor ini menjadi perangkat input yang baik dalam mengendalikan lengan prostetik bionik. Selain itu, pada penelitian tersebut hanya dapat mengenali sebanyak delapan pergerakan tangan Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya 2 saja. Dalam penelitian ini, sistem akan dikembangkan lebih lanjut, sehingga mampu mengenali sebanyak 10 gerakan tangan. Hal yang menjadi dasar dalam penambahan 2 gerakan ini adalah pentingnya keberagaman pola gerakan tangan dalam aktivitas sehari-hari. Kontrol prostetik yang baik membutuhkan variasi gerakan yang lebih luas untuk meningkatkan fleksibilitas dan kemampuan sistem dalam mendukung aktivitas pengguna (Guo, et al, 2024). Analisis sinyal EMG merupakan suatu hal yang penting dalam mengontrol lengan prostetik (Widasari, et al, 2024). Dalam desain lengan prostetik berbasis EMG, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pemilihan metode ekstraksi fitur. Ekstraksi fitur merupakan proses yang digunakan untuk mendapatkan lebih banyak informasi dari sinyal dengan menghilangkan noise dan mengambil data penting, sehingga dengan metode yang tepat akan menentukan akurasi dari lengan prostetik dalam menafsirkan gerakan pengguna (Triwiyanto, et al, 2021). Oleh karena itu, untuk mendapatkan data yang akurat dan konsisten dari setiap sampel dibutuhkan suatu metode ekstraksi fitur. Namun, tantangan utama dalam pengembangan lengan prostetik berbasis EMG adalah pemilihan dan penerapan metode ekstraksi fitur yang dapat secara efektif menangani variabilitas dalam sinyal EMG untuk memastikan akurasi gerakan. Tanpa metode ekstraksi fitur yang tepat maka dapat mempengaruhi kinerja dari lengan prostetik (Muldayani, et al, 2020). Permasalahan di atas menjadi dasar untuk penelitian ini. Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis sinyal EMG dengan pengambilan fitur menggunakan domain waktu. Fitur yang sering digunakan dalam klasifikasi sinyal EMG biasanya berada pada domain waktu, di mana fitur ini lebih cepat dalam hal kalkulasi karena tidak memerlukan transformasi matematis (Rahayuningsih, et al, 2018). Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan analisis terhadap fitur Waveform Length (WL), Mean Absolute Value (MAV), dan Root Mean Square (RMS). Fitur-fitur tersebut dipilih karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam mengenali pola gerakan pada lengan prostetik bionik. Dengan demikian, semakin beragam pola yang dihasilkan oleh setiap fitur, maka semakin tinggi keberhasilan dalam membedakan gerakan pada gerakan lengan prostetik bionik (Muldayani, et al, 2020). Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Penelitian ini akan membandingkan kinerja dari setiap ekstraksi fitur untuk menentukan ekstraksi fitur yang paling efisien dalam mendeteksi pergerakan otot lengan bawah. Dalam mencapai keberhasilan akurasi yang optimal pada lengan prostetik ini akan sangat bergantung pada pemilihan ekstraksi fitur yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini akan fokus pada pengolahan sinyal EMG dengan membandingkan ekstraksi fitur, menghitung waktu komputasi, dan menghitung penggunaan memori untuk setiap ekstraksi fitur. Perbandingan fitur dilakukan melalui analisis Independent Sample T-Test dan Ratio Games untuk menguji apakah terdapat perbedaan nilai yang berbeda secara signifikan antara ekstraksi ketiga fitur tersebut, sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan terkait keefektifan ekstraksi fitur. Dengan mempertimbangkan ketiga aspek tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menemukan ekstraksi fitur terbaik untuk lengan prostetik. Ketiga fitur yaitu Waveform Length (WL), Mean Absolute Value (MAV), dan Root Mean Square (RMS) ini memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda dalam mengekstraksi informasi penting dari sinyal EMG. Setiap karakteristik fitur ini akan mempengaruhi keakuratan dan responsivitas dari prostetik lengan. Peneliti menggunakan hipotesis awal (H0) yang didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara nilai ekstraksi fitur terhadap Waveform Length (WL), Mean Absolute Value (MAV), dan Root Mean Square (RMS) dalam mengklasifikasikan pergerakan lengan prostetik bionik berdasarkan sinyal EMG, sedangkan hipotesis alternatif (H1) menunjukan bahwa nilai ekstraksi fitur terhadap Waveform Length (WL), Mean Absolute Value (MAV), dan Root Mean Square (RMS) berpengaruh secara signifikan dalam mengklasifikasikan pergerakan lengan prostetik bionik berdasarkan sinyal EMG. Dengan demikian, salah satu ekstraksi fitur lebih efektif dibandingkan yang lainnya dalam mengklasifikasikan pergerakan lengan prostetik bionik berdasarkan sinyal EMG. Kemudian, pengembangan lengan prostetik ini juga perlu memperhatikan efisiensi terhadap waktu komputasi dan penggunaan memori. Pada penelitian ini, akan dilakukan analisis terhadap waktu komputasi karena lengan prostetik harus mampu merespon sinyal EMG secara real-time. Waktu komputasi dari lengan prostetik tidak boleh terlalu lama, karena dapat menyebabkan Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya 3 jeda pada pergerakan dari lengan prostetik bionik yang berdampak pada kenyamanan dan efektivitas pengguna. Selain itu, pada penelitian ini juga akan dilakukan analisis terhadap penggunaan memori karena lengan prostetik ini memiliki keterbatasan sumber daya perangkat keras. Penggunaan memori dari lengan prostetik harus sesuai, karena penggunaan memori yang terlalu besar dapat membebani perangkat dan mengurangi stabilitas kinerja. Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka pada penelitian ini sistem akan dimulai dari proses pengambilan data berupa sinyal EMG. Selanjutnya, dilakukan proses filter dengan menggunakan filter gaussian untuk membersihkan sinyal dari noise. Kemudian, dilakukan perbandingan ekstraksi fitur terhadap tiga ekstraksi fitur yang berbeda untuk menentukan nilai fitur mana yang paling efektif dalam mengenali pola pergerakan, sehingga dapat digunakan untuk klasifikasi gerakan tangan dengan menggunakan Support Vector Machine (SVM). Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas dalam menentukan ekstraksi fitur yang tepat dalam pengembangan prostetik lengan bionik pada penelitian selanjutnya. 2. DASAR TEORI 2.1. Electromyograph (EMG) Electromyograph (EMG) adalah sebuah alat eletronik yang dapat digunakan untuk memantau aktivitas otot dengan keluaran berupa sinyal. Dalam proses untuk memperoleh sinyal EMG dapat dilakukan dengan cara menempelkan elektroda pada bagian tertentu sebagai media penangkap kontraksi otot. Pada umumnya elektroda ini akan ditempelkan pada permukaan kulit bagian luar manusia. Kemudian, sinyal yang didapatkan oleh EMG merupakan bagian Di mana elektroda tersebut dipasang (Sahroni, 2020). 2.2. Amputasi Transradial Amputasi transradial merupakan pembedahan yang melibatkan pemotongan pada lengan bagian bawah khususnya pada tulang radius dan ulna (Japari, et al, 2022). Terdapat banyak kasus amputasi di Indonesia seperti sejak lahir atau congenital, bencana alam, penyakit musculoskeletal, tumor, gigitan Binatang buas, dan sebagainya. Amputasi transradial tidak hanya mengurangi mobilitas seseorang, akan Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer tetapi juga menyebabkan penurunan kualitas hidup seseorang. Dengan demikian, diperlukan rehabilitasi medis berupa pemberian alat bantu prostetik untuk mengembalikan fungsi tangan yang hilang tersebut (Syaifuddin, 2023). 2.3. Prostetik Tangan Bionik Prostetik adalah sebuah perangkat buatan untuk menggantikan sebagian atau seluruh ekstremitas yang hilang (Nugroho, et al, 2021). Salah satu jenis prostetik yang dirancang khusus untuk penderita amputasi transradial adalah tangan prostetik bionik. Tangan prostetik bionik ini telah dirancang untuk menggantikan anggota tubuh yang hilang terutama pada bagian bawah lengan. Selain itu, tangan prostetik juga memiliki fitur-fitur yang canggih sehingga dapat dikendalikan dengan sinyal pendeteksi otot. 2.4. Gerakan Gesture Tangan Kontrol prostetik yang baik membutuhkan variasi gerakan yang lebih luas untuk meningkatkan fleksibilitas dan kemampuan sistem dalam mendukung aktivitas pengguna (Guo, et al, 2024). Variasi gesture tangan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Pada penelitian ini, akan menggunakan sebanyak sepuluh variasi gerakan. Gerakan yang akan diklasifikasikan seperti Open (0), Close (1), Fine Grip (2), Pointer (3), Agree (4), Two (5), Three (6), Four (7), Pinch (8), Half Close (9). 4 filter gaussian yang akan diterapkan pada sinyal EMG dapat dihitung dengan Persamaan (1). −𝑥2 𝑔(𝑥) = 2.5. Filter Gaussian Filter Gaussian merupakan salah satu jenis filter yang diterapkan pada sinyal untuk dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan komponen-komponen sinyal yang tidak dibutuhkan, terutama komponen frekuensi tinggi yang dapat menyebabkan noise. Penggunaan filter ini akan menyaring komponen dari frekuensi tinggi sinyal yang menyebabkan noise, sedangkan komponen dari frekuensi rendah yang memiliki informasi penting dalam sinyal akan dipertahankan (Ghalyan, et al, 2018). Bobot Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya √2𝜋𝜎 2 (1) Berdasarkan persamaan di atas, maka g(x) merupakan nilai kernel gaussian, x merupakan jarak dari titik tengah kernel, σ merupakan simpangan baku untuk mengontrol lebar distribusi gaussian, π merupakan konstanta dengan nilai 3,14, dan e adalah bilangan euler. 2.6. Ekstraksi Fitur Waveform Length, Mean Absolute Value, dan Root Mean Square Pada penelitian ini menggunakan fitur dalam domain waktu, yaitu Waveform Length (WL), Mean Absolute Value (MAV), dan Root Mean Square (RMS) karena nilai-nilai dari fitur tersebut memiliki karakteristik yang berbedabeda dalam mengenali pola gerakan gerakan. Dengan demikian, semakin beragam pola yang dihasilkan oleh setiap fitur, maka semakin tinggi keberhasilan dalam membedakan gerakan pada gerakan lengan prostetik bionik (Muldayani, et al, 2020). Fitur WL, MAV, dan, RMS dapat dihitung dengan Persamaan (2), (3), dan (4). 𝑁−1 |𝑥 WL = ∑𝑛=1 𝑛+1 − 𝑥𝑛| (2) Berdasarkan persamaan di atas, maka N merepresentasikan panjang sinyal dan Xn merepresentasikan sinyal EMG dalam sebuah segmen. 𝑀𝐴𝑉 = Gambar 1. Variasi Gesture Tangan: (0) Open, (1) Close, (2) Fine Grip, (3) Pointer, (4) Agree, (5) Two, (6) Three, (7) Four, (8) Pinch, dan (9) Half Close. 𝑒 2𝜎2 1 𝑁 ∑𝑁 𝑘=1|𝑥𝑘 | (3) Berdasarkan persamaan di atas, maka N merupakan lebar data dan Xk merupakan sinyal EMG domain waktu diskrit. 1 𝑅𝑀𝑆 = √ ∑𝑁 𝑘=1 𝑥𝑘 2 𝑁 (4) Berdasarkan persamaan di atas, maka N merupakan lebar data dan Xk merupakan sinyal EMG domain waktu diskrit. 2.7. Support Vector Machine Support Vector Machine (SVM) merupakan algoritma pembelajaran mesin untuk mengklasifikasikan sinyal. Pada SVM menggunakan pendekatan supervised learning, di mana algoritma ini membutuhkan data yang telah diberi label atau memiliki kelas agar dapat bekerja (Rabbani, et al, 2023). Dalam konteks sinyal EMG, maka data dari hasil perekaman Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer sinyal EMG selama gerakan tangan tertentu akan diberikan label untuk mempelajari pola dari sinyal. Pada algoritma SVM akan ditemukan hyperplane optimal untuk memisahkan kelas data yang berbeda dengan margin terbesar. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi klasifikasi dan mengurangi tingkat kesalahan. Kemudian, terdapat titik-titik data yang terletak paling dekat dengan hyperplane yang disebut dengan support vector (Rabbani, et al, 2023). Dalam hal ini, rumus dari SVM dapat dituliskan dengan Persamaan (5) 𝑓 (𝑥) = 𝑠𝑖𝑔𝑛 (𝑤. 𝑥 + 𝑏) 5 3. METODE PENELITIAN 3.1. Gambaran Umum Sistem Keseluruhan sistem mencakup beberapa tahapan yang melibatkan input, proses, dan output yang saling terhubung agar sistem dapat beroperasi dengan sesuai. Proses keseluruhan sistem dapat dilihat pada Gambar 3. (5) Berdasarkan persamaan di atas, f(x) merupakan fungsi prediksi, w adalah vektor normal hyperplane, x adalah vektor fitur input, dan b adalah bias atau intercept. Gambar 3. Diagram Blok Sistem Gambar 2. Klasifikasi SVM Dalam analisis sinyal EMG, SVM menggunakan kernel trick dengan jenis Radial Basis Function (RBF). Kernel RBF memungkinkan SVM dapat memetakan data dari ruang input ke ruang fitur dengan dimensi yang lebih tinggi, sehingga data yang tidak dapat dipisahkan menjadi dapat dipisahkan oleh hyperplane. Penggunaan kernel RBF dikarenakan memiliki fleksibilitas dalam menangani hubungan non-linear dari nilai-nilai fitur yang digunakan. dengan demikian, hal ini dapat membantu meningkatkan performa klasifikasi sinyal berdasarkan aktivitas otot yang direpresentasikan oleh nilai dari fitur-fitur yang diekstraksi. Dalam hal ini, kernel RBF dapat dirumuskan dengan Persamaan (6) 𝐾 (𝑥1 , 𝑥2 ) = 𝑒𝑥𝑝 (− ||𝑥1 −𝑥2 ||2 2𝜎 2 ) (6) Berdasarkan persamaan di atas, 𝐾 (𝑥1 , 𝑥2 ) merupakan fungsi kernel untuk mengukur kesamaan antara dua titik 𝑥1 𝑑𝑎𝑛 𝑥2 , ||𝑥1 −𝑥2 || merupakan jarak euclidean antara dua vektor 𝑥1 𝑑𝑎𝑛 𝑥2 , dan 𝜎 merupakan skala untuk menentukan lebar dari fungsi RBF. Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Pada tahap input, akan dilakukan pembacaan sinyal EMG yang ditangkap dengan menggunakan sensor Oymotion gForce 200. Sinyal tersebut akan menjadi input awal yang dihasilkan melalui aktivitas otot. Kemudian, sinyal EMG akan memasuki tahap proses yang diawali dengan filtering sinyal untuk membersihkan sinyal EMG agar tidak terdapat noise. Selanjutnya, dilakukan proses ekstraksi fitur yang dilakukan dengan menggunakan Waveform Length (WL), Mean Absolute Value, dan Root Mean Square (RMS) untuk menyaring dan merangkum informasi penting dari sinyal yang dapat menggambarkan pergerakan dari otot. Kemudian, tahapan terakhir dari proses adalah klasifikasi sinyal, di mana fitur-fitur yang telah diekstraksi dianalisis dan dikelompokkan dengan menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM) untuk mengenali pola setiap gerakan. Seluruh tahapan dari proses tersebut akan diterapkan melalui kode program yang diunggah pada ESP32-S3. Kemudian, hasil dari klasifikasi SVM akan digunakan untuk mengontrol pergerakan dari tangan prostetik bionik yang memiliki peran sebagai output dari sistem. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 3.2. Teknik Pengumpulan Data 6 Gambar 4. Skematik Komponen Perangkat Keras Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara langsung dengan menggunakan Wearable Electromyography Armband Sensor pada beberapa subjek yang berbeda. Sensor ini akan digunakan untuk merekam sinyal EMG yang berasal dari otot lengan bagian bawah subjek penelitian pada saat otot berkontraksi. Data yang diperoleh dari sensor ini berperan penting dalam analisis fitur pada penelitian ini. Kemudian, terdapat beberapa tahapan dalam proses pengumpulan data dari beberapa subjek penelitian. Pertama, memasangkan gForce200 Gesture Armband Sensor pada lengan kanan bagian bawah subjek dengan keadaan setiap elektroda sensor bersentuhan langsung dengan kulit dari subjek. Lalu, mengatur posisi tangan dari subjek agar sesuai dengan gerakan yang telah ditentukan dalam waktu tiga detik untuk masing-masing gerakan. Kemudian, melakukan perekaman data dari masing-masing gerakan dari subjek dan menyimpan data tersebut untuk dilakukan analisis lebih lanjut untuk proses filter, ekstraksi fitur, dan klasifikasi Support Vector Machine (SVM). Modul Oymotion gForceJoint BLE to UART Adapter terhubung dengan ESP32-S3 yang berfungsi untuk mengirimkan data berupa sinyal EMG yang direkam oleh Armband sensor. Perekaman sinyal EMG yang dihasilkan oleh kontraksi otot akan digunakan dalam menentukan gerakan dari lengan prostetik. Sinyal ini akan diolah untuk mengontrol servo agar sesuai dengan pergerakan tangan prostetik yang diinginkan. Servo ini berperan sebagai aktuator sistem yang terhubung secara langsung ke jari prostetik dengan memanfaatkan benang nilon, sehingga pergerakan dari servo dapat menarik jari prostetik untuk dapat bergerak sesuai dengan data yang diperoleh melalui sensor. Kemudian, komponen terakhir adalah baterai yang berfungsi sebagai sumber daya utama untuk mengoperasikan seluruh sistem. Pada sistem ini menggunakan sebanyak empat buah baterai dengan masing-masing tegangan sebesar 3,7V yang dirangkai secara seri yang menyebabkan daya yang dihasilkan berlebih, sehingga digunakan modul XL4015 untuk menurunkan daya pada tegangan yang sesuai dengan kebutuhan sistem. Baterai ini akan memberikan daya pada ESP32-S3 dan servo. 4. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI 4.2. Perancangan Perangkat Lunak 4.1. Perancangan Perangkat Keras Perancangan sistem lengan prostetik bionik yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan perangkat keras yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terhubung untuk mengubah sinyal EMG dari pergerakan tangan melalui sensor menjadi tindakan berupa pergerakan jari pada lengan prostetik. Kemudian, pada sistem ini menggunakan mikrokontroler dengan tipe ESP32-S3 yang berperan sebagai pemrosesan utama dalam mengintegrasikan dan mengontrol seluruh komponen pada sistem. Pengintegrasian setiap komponen pada sistem dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 5. Flowchart Sistem Utama Perancangan perangkat lunak digunakan Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer sebagai pedoman dalam memahami alur kerja sistem dari awal hingga akhir seperti pada Gambar 5. Dalam perancangan perangkat lunak program diawali dengan inisialisasi pin, variabel dan koneksi UART guna untuk memastikan perangkat yang digunakan dapat berkomunikasi dengan sensor. Kemudian, program akan mengakuisisi atau membaca sinyal EMG mentah dari sensor Armband. Kemudian, sinyal EMG mentah tersebut akan dilakukan proses dengan filter gaussian untuk membersihkan sinyal dari noise. Kemudian, dilakukan ekstraksi fitur pada sinyal EMG untuk mendapatkan informasi penting dalam mengenali pola gerakan. Kemudian, program akan menjalankan metode Support Vector Machine (SVM) untuk mengklasifikasikan setiap gerakan dengan menggunakan data dari hasil dari ekstraksi fitur. Kemudian, hasil dari klasifikasi tersebut akan menghasilkan output ke servo yang akan menggerakkan jari pada lengan prostetik bionik. 7 Implementasi perangkat lunak terdapat beberapa tahapan seperti inisialisasi dan akuisisi sinyal EMG, penerapan filter gaussian, penerapan ekstraksi fitur, klasifikasi SVM, penggerak servo, dan pengukuran kinerja sistem. Hasil keluaran dari implementasi perangkat lunak dapat dilihat pada Gambar 6. 4.3. Implementasi Sistem Implementasi sistem terdiri dari dua bagian, yaitu implementasi perangkat keras dan implementasi perangkat lunak. Implementasi setiap komponen perangkat keras dilakukan dengan menghubungkan baterai ke Printed Circuit Board (PCB) yang akan mengalirkan daya kepada setiap komponen seperti servo dan ESP32-S3. Pada sistem ini menggunakan sebanyak empat buah baterai dengan masingmasing tegangan sebesar 3,7V yang dirangkai secara seri yang menyebabkan tegangan yang dihasilkan berlebih, sehingga digunakan modul XL4015 untuk menurunkan daya pada tegangan yang sesuai dengan kebutuhan sistem. Kemudian, ESP32-S3 berperan sebagai pemrosesan utama dalam mengintegrasikan dan mengontrol seluruh komponen pada sistem. Modul Oymotion gForceJoint BLE to UART Adapter terhubung dengan ESP32-S3 agar dapat memperoleh daya, sehingga dapat mengirimkan data berupa sinyal EMG yang direkam oleh Armband sensor. Kemudian, terdapat lima buah servo yang dihubungkan ke ESP32-S3 yang berperan sebagai aktuator sistem yang terhubung secara langsung ke jari pada lengan prostetik dengan memanfaatkan benang nilon, sehingga pergerakan dari servo dapat menarik jari pada lengan prostetik untuk dapat bergerak sesuai dengan data yang diperoleh melalui sensor. Kemudian, implementasi perangkat lunak dilakukan pada platform Arduino IDE. Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Gambar 6. Hasil Keluaran Implementasi Perangkat Lunak 5. PENGUJIAN DAN ANALISIS 5.1. Pengujian Tingkat Akurasi Pembacaan Sensor Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat akurasi dari sensor gForce200 Gesture Armband dalam membaca sinyal EMG. Pengujian akan dilakukan pada 5 subjek yang berbeda dengan menganalisis hasil pembacaan sinyal untuk 10 gerakan berbeda. Akurasi pembacaan sensor gForce200 Gesture Armband dalam deteksi sinyal EMG dapat diuji dengan melakukan pengukuran yang membandingkan sinyal hasil pembacaan sensor dengan standar atau perangkat referensi yang sudah terkalibrasi. Pengujian ini mencakup proses perekaman sinyal EMG yang diterima oleh mikrokontroler melalui BLE to UART Adapter yang disesuaikan dengan rentang dari tegangan operasional ESP32-S3, yakni antara 0 hingga 3,3V. Oleh karena itu, keluaran dari BLE to UART akan diuji guna untuk memastikan kesesuaiannya dengan tegangan referensi dari ESP32-S3. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 1. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer pada setiap gerakan, sehingga terdapat cukup bukti untuk menolak H0. Oleh karena itu, berdasarkan Tabel 3. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara nilai dari fitur MAV dan WL pada setiap gerakan. Perhitungan dari metode Independent Sample T-Test dapat dilihat pada Tabel 4. yang menguji ekstraksi fitur RMS dan WL. Tabel 1. Hasil Pengujian Akurasi Sensor Su bj ek RataRata Pemb acaan Sensor Nilai Mini mal (V) Nilai Maks imal (V) Tegangan Referensi (V) (Oymotion Technologies, 2021) ketera ngan 1 2 3 4 5 2.424 2.401 2.199 2.38 2.221 0 0 0.03 0 0.14 3.3 3.3 3.3 3.3 3.3 0-3.3 0-3.3 0-3.3 0-3.3 0-3.3 Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai 8 Tabel 4. Pengujian Hipotesis RMS dan WL 5.2. Pengujian Hipotesis Ekstraksi Fitur Sistem RMS – WL Pengujian hipotesis ekstraksi fitur dilakukan dengan menggunakan Independent Sample T-Test untuk mengetahui metode ekstraksi fitur yang paling baik dalam mengenali pola gerakan tangan. Adapun dasar pengambilan keputusan dari setiap pengujian antar fitur dapat dilihat pada Tabel 2. Gerakan Alpha Open 0.01 Close 0.01 Fine Grip 0.01 Pointer 0.01 Agree 0.01 Two 0.01 Three 0.01 Four 0.01 Tabel 2. Dasar Pengambilan Keputusan Dasar Pengambilan Keputusan Hipotesis Nol (H0): Tidak ada perbedaan signifikan antara nilai antar fitur dalam mengklasifikasikan sinyal EMG. Oleh karena itu, kedua ekstraksi fitur yang dibandingkan sama baiknya dalam mengklasifikasikan sinyal EMG. Hipotesis Alternatif (H1): Ada perbedaan signifikan antara nilai fitur yang dibandingkan dalam mengklasifikasikan sinyal EMG. Oleh karena itu, salah satu ekstraksi fitur lebih baik dibandingkan dengan yang lain dalam mengklasifikasikan sinyal EMG. Open 0.01 Close 0.01 Fine Grip 0.01 Pointer 0.01 Agree 0.01 Two 0.01 Three 0.01 Four 0.01 Pinch 0.01 Half Close 0.01 5.64053E15 7.85239E16 5.6325E12 2.73485E13 6.2444E15 1.62475E16 9.74166E14 1.31478E11 1.2365E13 1.55713E12 0.01 1.39851E13 1.76372E12 26.172 15.623 18.67 23.263 28.627 19.831 14.856 19.572 16.878 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 Hipotes is H1 H1 H1 H1 H1 H1 H1 H1 H1 H1 T-Tabel Hipotes is 23.55 2.87844 H1 26.356 2.87844 H1 15.758 2.87844 H1 Tabel 5. Pengujian Hipotesis RMS dan MAV 18.824 2.87844 H1 RMS - MAV 23.413 2.87844 H1 28.823 2.87844 H1 19.987 2.87844 H1 14.982 2.87844 H1 19.713 2.87844 H1 17.002 2.87844 H1 MAV – WL P-Value Half Close 1.514E-11 23.377 TTabel T-Hitung Tabel 3. Pengujian Hipotesis MAV dan WL Alpha 0.01 6.41529E15 8.88058E16 6.51149E12 3.14956E13 6.98499E15 1.83314E16 1.11543E13 THitung Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 4. nilai alpha selalu lebih besar dari P-Value dan nilai T-Hitung selalu lebih besar dari T-Tabel pada setiap gerakan, sehingga terdapat cukup bukti untuk menolak H0. Oleh karena itu, berdasarkan Tabel 4. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara nilai dari fitur RMS dan WL pada setiap gerakan. Perhitungan dari metode Independent Sample T-Test dapat dilihat pada Tabel 5. yang menguji ekstraksi fitur RMS dan MAV. Perhitungan dari metode Independent Sample T-Test dapat dilihat pada Tabel 3. yang menguji ekstraksi fitur MAV dan WL. Gerakan Pinch P-Value Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 3. nilai alpha selalu lebih besar dari P-Value dan nilai T-Hitung selalu lebih besar dari T-Tabel Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Gerakan Alpha Open 0.01 Close 0.01 Fine Grip 0.01 Pointer 0.01 Agree 0.01 Two 0.01 Three 0.01 P-Value 0.136757 498 0.148850 735 0.104631 436 0.162067 014 0.212884 462 0.131683 899 0.121781 358 THitung 1.5575 1.5082 1.709 1.458 1.2915 1.5793 1.6239 TTabel 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 Hipotes is H0 H0 H0 H0 H0 H0 H0 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Four 0.01 Pinch 0.01 Half Close 0.01 0.081232 734 0.167818 643 0.150444 956 1.8471 1.4372 1.502 2.8784 4 2.8784 4 2.8784 4 H0 9 dapat dilihat pada Tabel 8. H0 Tabel 8. Hasil Pengujian Waktu Komputasi H0 Rata-Rata Waktu Komputasi (ms) Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 5. nilai alpha selalu lebih kecil dari P-Value dan nilai T-Hitung selalu lebih kecil dari T-Tabel pada setiap gerakan, sehingga terdapat cukup bukti untuk menerima H0. Oleh karena itu, berdasarkan Tabel 5. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara nilai dari fitur RMS dan MAV pada setiap gerakan. Berdasarkan hasil dari Independent Sample T-Test menunjukkan bahwa perbedaan nilai signifikan terjadi antara perbandingan kombinasi ekstraksi fitur antara MAV dan WL serta RMS dan WL, sehingga diperlukan teknik Ratio Games untuk memastikan metode ekstraksi fitur yang terbaik. Perhitungan dari teknik Ratio Games dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7. Tabel 6. Hasil Perbandingan Nilai MAV dan WL Mean Gesture With MAV as a Base With WL as a Base Fitur Fitur Fitur MAV WL MAV WL MAV WL 187.63 1602.58 1 8.542 0.117 1 Tabel 7. Hasil Perbandingan Nilai RMS dan WL Mean Gesture With RMS as a Base With WL as a Base Fitur Fitur Fitur RMS WL RMS WL RMS WL 199.39 1602.58 1 8.542 0.124 1 Berdasarkan hasil pengujian tersebut diperoleh nilai fitur terbaik, yaitu WL. Hal ini dikarenakan nilai dari fitur WL lebih besar dibandingkan dengan fitur RMS dan MAV dengan menggunakan teknik Ratio Games. 5.3. Pengujian Waktu Komputasi Pada Lengan Prostetik Bionik Pengujian waktu komputasi pada sistem dilakukan untuk mengetahui kecepatan komputasi yang dibutuhkan dalam proses pengolahan data pada setiap metode ekstraksi fitur. Hal ini bertujuan untuk menemukan metode ekstraksi fitur yang mempunyai waktu komputasi yang paling efisien. Hasil pengujian Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Subjek 1 2 3 4 5 Rata-Rata Proses Pengambilan Fitur WL RMS MAV 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 Proses Keseluruhan Sistem WL RMS MAV 1101 1101 1100 1101 1101 1100 1101 1101 1100 1101 1101 1100 1101 1101 1100 1101 1101 1100 Dari hasil pengujian tersebut pada Tabel 8. waktu komputasi rata-rata tetap konsisten. Pada proses pengambilan fitur waktu komputasi yang sama sekitar 65 milidetik. Namun, terdapat perbedaan pada waktu komputasi pada saat menjalankan keseluruhan sistem, di mana perbedaan waktu yang sedikit lebih lama untuk penggunaan fitur WL dan RMS pada sistem. Namun, perbedaan waktu tersebut tidak signifikan, di mana proses keseluruhan sistem menggunakan fitur WL dan RMS memiliki waktu komputasi sekitar 1101 milidetik, sedangkan proses keseluruhan sistem dengan menggunakan MAV memiliki waktu komputasi sekitar 1100 milidetik. 5.4. Pengujian Penggunaan Memori Pada Lengan Prostetik Bionik Pengujian penggunaan memori dilakukan untuk mengetahui penggunaan memori RAM pada ESP32 yang dibutuhkan untuk melakukan pengolahan data dengan menggunakan setiap metode ekstraksi fitur. Hal ini bertujuan untuk menemukan metode ekstraksi fitur yang memiliki penggunaan memori yang paling efisien. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil Pengujian Penggunaan Memori Rata-Rata Penggunaan Memori (bytes) Subjek Proses Pengambilan Fitur WL RMS MAV Proses Keseluruhan Sistem WL RMS MAV 1 36244 36244 36244 36408 36408 36408 2 36244 36244 36244 36408 36408 36408 3 36244 36244 36244 36408 36408 36408 4 36244 36244 36244 36408 36408 36408 5 36244 36244 36244 36408 36408 36408 Rata-Rata 36244 36244 36244 36408 36408 36408 Dari hasil pengujian tersebut pada Tabel 9. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer penggunaan memori rata-rata tetap konsisten. Kemudian, tidak terdapat perbedaan pada pengujian penggunaan memori pada setiap fitur dalam proses pengambilan fitur dan proses keseluruhan sistem. hal ini dikarenakan penggunaan variabel yang serupa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh metode ekstraksi fitur setara dalam segi penggunaan memori. 6. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dari pengujian, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat akurasi sensor sangat baik. Hal ini dibuktikan dari hasil keluaran sensor selalu berada pada rentang nilai yang ditentukan, yaitu 0 hingga 3,3V. Kemudian, pengujian hipotesis dengan independent sample T-Test menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kombinasi dari fitur waveform length dengan mean absolute value dan waveform length dengan root mean square. Kemudian, dari hasil tersebut dilakukan perbandingan nilai dengan menggunakan teknik Ratio Games yang menunjukkan bahwa fitur waveform length merupakan metode ekstraksi fitur terbaik. Kemudian, waktu komputasi pada sistem lengan prostetik pada saat proses pengambilan fitur adalah sama, yakni selama 65 milidetik, sedangkan untuk proses keseluruhan sistem fitur mean absolute value memiliki waktu komputasi yang paling efisien, yakni selama 1100 milidetik dengan perbedaan yang tidak signifikan dengan fitur waveform length dan root mean square, yakni selama 1101 milidetik. Kemudian, penggunaan memori pada sistem lengan prostetik diantara ketiga fitur pada saat proses pengambilan fitur dan proses keseluruhan sistem adalah sama, yakni sebesar 36244 bytes pada saat pengambilan fitur dan 36408 bytes pada saat keseluruhan sistem. 7. DAFTAR PUSTAKA Abyanto, F.T., 2019. Deteksi kejenuhan seluruh otot manusia menggunakan sensor EMG berbasis mikrokontroler Arduino Uno. Doctoral dissertation, UNIKA Soegijapranata, Semarang. Aji, E.P. & Widasari, E.R., 2024. Analisis perbandingan fitur waveform length, mean absolute value, dan variance pada sistem pengenalan pergerakan prostetik tangan bionik. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, 8(2). Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya 10 Alfan, A.N. & Ramadhan, V., 2022. Prototype detektor gas dan monitoring suhu berbasis Arduino Uno. PROSISKO: Jurnal Pengembangan Riset dan Observasi Sistem Komputer, 9(2), pp.61-69. Alvin Sahroni, S.T., 2020. Pemrosesan dan klasifikasi sinyal navigasi berbasis electromyography (EMG) pada otot lengan bawah. Arozi, M., Ariyanto, M., Kristianto, A. & Setiawan, J.D., 2020, September. EMG signal processing of Myo armband sensor for prosthetic hand input using RMS and ANFIS. In 2020 7th International Conference on Information Technology, Computer, and Electrical Engineering (ICITACEE), pp. 36-40. IEEE. Asif, A.R., Waris, A., Gilani, S.O., Jamil, M., Ashraf, H., Shafique, M. & Niazi, I.K., 2020. Performance evaluation of convolutional neural network for hand gesture recognition using EMG. Sensors, 20(6), p.1642. Chen, X., Li, Y., Hu, R., Zhang, X. & Chen, X., 2020. Hand gesture recognition based on surface electromyography using convolutional neural network with transfer learning method. IEEE Journal of Biomedical and Health Informatics, 25(4), pp.1292-1304. Components101, 2019. MG996R Datasheet. [Online] Available at: https://components101.com/sites/defaul t/files/component_datasheet/MG996R %20Datasheet.pdf Daffa, A.Z., Widasari, E.R. & Syauqy, D., 2023. Analisis perbandingan metode ekstraksi fitur mean absolute value, root mean square, dan variance untuk deteksi kelelahan otot biceps brachii. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, 7(7), pp.34343440. Dawwas, F., Setiawan, T.A. & Rachman, I., 2023. Rancang bangun tangan palsu untuk penyandang disabilitas dengan menggunakan metode Ulrich. In: Proceedings Conference On Design Manufacture Engineering And Its Application, 7(1). Espressif Systems, 2023. ESP32-S3- Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer WROOM-1 & ESP32-S3-WROOM-1U Datasheet (Version 1.4). [Online] Available at: https://www.espressif.com/sites/default/ files/documentation/esp32-s3-wroomseries_datasheet_en.pdf Firdaus, A. et al., 2022. Sosialisasi penggunaan Microsoft Office kepada pengurus dan anggota Yayasan Hasanah Manggala Tama. Praxis: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(1), pp.61-65. Ghalyan, I.F., Abouelenin, Z.M. & Kapila, V., 2018, December. Gaussian filtering of EMG signals for improved hand gesture classification. In 2018 IEEE Signal Processing in Medicine and Biology Symposium (SPMB), pp.1-6. IEEE. Guo, K., Lu, J., Wu, Y., Hu, X. and Yang, H., 2024. The latest research progress on bionic artificial hands: A systematic review. Micromachines, 15(7), p.891. Heildayana, I., 2021. Penerapan metode Waterfall pada sistem informasi penjualan tiket pesawat terbang. Jurnal Ilmu Data, 1(2). Japari, H.T.A., 2022. Penanganan kaus fraktur kominutif Os. carpalis pada owa Jawa (Hylobates moloch) di Bontomarannu Education Park, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin. Kementerian Sosial Republik Indonesia, 2021. Pedoman operasional asistensi rehabilitasi sosial penyandang disabilitas. Jakarta. Leonard, C. & Shabrina, N.H., 2020. Analisis keefektifan penggunaan filter FIR dan IIR pada sinyal pernapasan EMGdi dengan simulasi MATLAB. Ultima Computing: Jurnal Sistem Komputer, 12(1), pp.29-34. Li, G., Li, J., Ju, Z., Sun, Y. & Kong, J., 2019. A novel feature extraction method for machine learning based on surface electromyography from healthy brain. Neural Computing and Applications, pp.1-10. Majid, N., 2023. Desain sistem penggerak webcam pada mobile robot search and rescue berbasis Android. Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya 11 Muldayani, W. et al., 2020. Pengenalan pola sinyal electromyography (EMG) pada gerakan jari tangan kanan. ELKOMIKA: Jurnal Teknik Energi Elektrik, Teknik Telekomunikasi, & Teknik Elektronika, 8(3), p.591. Nugroho, S.A., 2021. Asuhan keperawatan pada pasien dengan amputasi. Nursusanto, U. & Hartoyo, H., 2022. Real time battery monitoring control in mini generating system. Jurnal Edukasi Elektro, 6(2), pp.96-104. OYMotion Technologies, Inc., 2021. gForce 200 User Guide. [Online] Available at: https://oymotion.github.io/gForce200/g Force200UserGuide/ Rachmat, D. & Puspita, H., 2020. Pembuatan alat penstabil suhu pada modem berbasis mikrokontroler AVR Atmega 8535. Jurnal Industri Elektro dan Penerbangan, 7(3). Rahayuningsih, I., Wibawa, A.D. & Pramunanto, E., 2018. Klasifikasi bahasa isyarat Indonesia berbasis sinyal EMG menggunakan fitur time domain (MAV, RMS, VAR, SSI). Jurnal Teknik ITS, 7(1), pp.A175-A180. Rahman, O.H., Abdillah, G. & Komarudin, A., 2021. Klasifikasi ujaran kebencian pada media sosial Twitter menggunakan Support Vector Machine. Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi), 5(1), pp.17-23. Rabbani, S. et al., 2023. Perbandingan evaluasi kernel SVM untuk klasifikasi sentimen dalam analisis kenaikan harga BBM. MALCOM: Indonesian Journal of Machine Learning and Computer Science, 3(2), pp.153-160. Selvan, M.P. et al., 2021, March. Prosthetic hand using EMG. In Journal of Physics: Conference Series, 1770(1), p.012018. IOP Publishing. Setiawan, S.A. & Hidayat, M., 2024. Prototype lampu penerangan jalan otomatis menggunakan sensor LDR berbasis Arduino Uno. PROSISKO: Jurnal Pengembangan Riset dan Observasi Sistem Komputer, 11(1), pp.119-127. Setyaningsih, E. & Asiatun, K., 2021. Pengaruh bahan pengikat terhadap Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer ketajaman warna motif jumputan. Prosiding Pendidikan Teknik Boga Busana, 16(1). Syaifuddin, M., 2023. Studi kasus: Gambaran pembuatan transtibial prosthesis untuk sholat pada pasien pasca amputasi transtibial. Jurnal Medika Hutama, 4(4), pp.3541-3545. Triwiyanto, T. et al., 2021. Electromyography feature analysis to recognize the hand motion in a prosthetic hand design. Journal of Biomimetics, Biomaterials and Biomedical Engineering, 50, pp.25-37. Wijaya, A.P., 2024. Pengembangan sistem pengenalan pergerakan prostetik tangan bionik menggunakan metode K-Nearest Neighbor dengan fitur power spectral density. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, 8(6). Wijaya, F.T.S. & Kuswanto, D., 2019. Prosthetic hand for kids to escalate kids creativity and confidence. Tugas Akhir, Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, Departemen Desain Produk. Wibawa, S., 2023. Analisis chatbot otomatisasi tugas administratif dan manajemen dalam lingkungan digital dengan menggunakan Python. INSANtek, 4(1), pp.25-31. Widasari, E.R. & Setiawan, E., 2024. Comparative analysis of machine learning techniques for hand movement prediction using electromyographic signals. Journal of Information Technology and Computer Science, 9(1), pp.34-45. Wiraputra, A.D., 2021. Perlindungan hukum terhadap pekerja penyandang disabilitas. Dharmasisya: Jurnal Program Magister Hukum FHUI, 1(1), p.19. Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya 12
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )