JURNAL PEMBELAJARAN MODUL 2 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL AKSI NYATA MENERAPKAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL PADA MATA PELAJARAN IPAS KELAS X FASE E SMKN 1 MEDANG DERAS Oleh : Ebtan Sihotang No.UKG : 201900711834 PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN UNIVERSITAS JAMBI 2025 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL A. Pembelajaran Sosial Emosional Pembelajaran Soial Emosional (PSE) adalah suatu pembelajaran yang dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan kesadaran diri, pengenalan diri, dan keterampilan dalam dirinya. Dalam proses pembelajaran ini, peserta didik dapat belajar bagaimana sistem mengelola emosi dengan baik, selain itu menunjukkan rasa empati terhadap orang lain, mampu menciptakan hubungan sehat dan menetapkan tujuan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam hidupnya. Pembelajaran sosial emosional, merupakan pengembangan dari teori-teori kecerdasan emosi dari Goleman dan multiple intelligence dari Gardner. Untuk saat ini Pembelajaran Sosial Emosional sudah diterapkan dalam kurikulum merdeka. Pembelajaran Sosial Emosional sebenarnya adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh sekolah. Proses kolaboratif bukan hanya untuk peserta, tetapi juga pendidik, tenaga pendidik, guru bimbingan konseling dan orang tua peserta didik. B. Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Dalam menerapkan pembelajaran sosial emosional diperlukan kerja sama yang baik dari seluruh warga sekolah agar tujuan dari pembelajaran ini dapat tercapai. Adapun tujuan pembelajaran sosial emosional yaitu: Mengembangkan kesadaran diri Mengelola emosi dan perilaku Meningkatkat empati dan pemahaman sosial Membangun hubungan sosial yang positi Membuat Keputusan yang bertanggung jawab Meningkatkat kesejahteraan emosional dan mental Selain itu, tujuan dari pembelajaran ini juga adalah sebagai program preventif dan promotive (peningkatan). Preventif artinya mencegah masalah prilaku dengan meningkatkat kompetensi sosial emosional. Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning (CASEL) mengelompokkan komponen pembelajaran sosial emosional menjadi lima komponen yaitu: Self Awareness Responsible Decision Making Relationship Skills Self Management Sosial Awareness a. Self Awareness (Kesadaran Diri) Kemampuan untuk memahami emosi, pemikiran, dan nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku dalam berbagai situasi. b. Self Management (Manajemen Diri) Kemampuan untuk mengatur emosi, pemikiran dan perilaku secara efektif pada situasi yang berbeda. c. Social Awareness (Kesadaran Sosial) Kemampuan memahami perspektif yang berbeda termasuk berempati terhadap kondisi individu dengan latar belakang yang berbeda. d. Relationship Skills (Keterampilan Sosial) Kemampuan menjalin dan mempertahankan hubungan /relasi yang sehat dan efektif dengan individu dari latar belakang yang berbeda. e. Responsible Decision Making (Pengambilan Keputusan Yang Bertanggung Jawab) Membuat pilihan yang tepat dan konstruktif pada situasi tertentu. C. Pentingnya Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Pembelajaran Sosial Emosional berperan sangat penting untuk : 1. Menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well being) secara optimal. 2. Meningkatkan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang positif, peningkatan sikap yang positif dan toleransi peserta didik dengan dirinya , orang lain dan lingkungan sekolah. 3. Menghasilkan peserta didik yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsif, proaktif, mendorong rasa ingin tahu siswa tentang ilmu pengetahuan, sosial budaya dan humaniora. 4. Mempersiapkan peserta didik di dunia nyata. Kemampuan sosial dan emosional adalah aset yang berharga. Dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, orang perlu bekerja sama dengan orang lain, menyelesaikan konflik dan beradaptasi dengan berbagai situasi. Selain itu, CASEL memiliki fungsi yang sangat penting dalam membantu siswa menjadi orang yang peka secara emosional, memiliki keterampilan sosial yang baik, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Berikut alasan mengapa CASEL itu penting: 1. Meningkatkan Prestasi Akademik Siswa yang memiliki keterampilan sosial dan emosional yang baik dapat lenih fokus, mengatur waktu dengan efektif dan bekerja sama, semua ini berdampak positif pada hasil akademik mereka. 2. Meningkatkan Kesejahteraan Emosional Dengan dukungan dari CASEL, siswa diajari untuk mengenali dan mengontrol emosi mereka, yang membawa kepada pengurangan setres dan rasa percaya diri. 3. Meningkatkan Keterampilan Sosial Program CASEL mendorong siswa untuk menumbuhkan empati, melihat dari sudut pandang orang lain, serta menjalin hubungan yang sehat. 4. Meningkatkan Pengambilan Keputusan CASEL membantu siswa dalam membuat Keputusan yang bijaksana dengan mempertimbangkan apa yang akan terjadi akibat Tindakan mereka dan mengembangkan nilai-nilai moral. 5. Membangun Pondasi untuk Sukses dimasa Depan Keterampilan sosial dan emosional yang dipelajari melalui CASEL membentuk dasar yang kuat bagi siswa agar berhasil diberbagai aspek kehidupan, seperti di lingkungan kerja dan komunitas. D. Manfaat Pembelajaran Sosial Emosional. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) memiliki banyak manfaat diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan prestasi akademik 2. Meningkatkan empati 3. Mengurangi tekanan emosional 4. Membangun hubungan positif 5. Meningkatkat kesadaran diri 6. Mengurangi masalah perilaku 7. Menjaga kesehatan mental E. Kelebihan Pembelajaran Sosial Emosional Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) memiliki banyak kelebihan yang signifikan, antara lain: Meningkatkan keterampilan interpersonal Mengurangi setres dan kecemasan Meningkatkan kinerja akademik Membangun ketahanan Meningkatkan kesejahteraan mental Mendoronbg perilaku positif Membangun lingkungan sekolah yang sehat Persiapan untuk kehidupan dewasa Membangun kesejahteraan jangka Panjang F. Kompetensi Sosial Emosional Menurut CASEL ada 3 upaya untuk meningkatkan keterampilan sosial emosional, yaitu : 1. Memodelkan (menjadi teladan): Mendukung pendidik dan tenaga kependidikan dalam memodelkan kompetensi dan pola piker di seluruh komunitas sekolah dengan murid, keluarga murid, mitra komunitas, dan satu sama lain. 2. Belajar: pendidik dan tenaga kependidikan merefleksikan kompetensi sosial dan emosional pribadi dan mengembangkan kapasitas untuk mengimplementasikan kompetensi sosial dan emosional. 3. Berkolaborasi: menciptakan struktur berbentuk komunitas pembelajaran profesional atau pendampingan sejawat bagi pendidik dan tenaga kependidikan untuk berkolaborasi tentang cara mengasah strategi untuk mempromosikan KSE diseluruh sekolah. Perkembangan sosial emosional anak perlu dikembangkan sejak dini, karena jika perkembangan sosial emosional anak terhambat maka anak akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang lain. G. Dimensi School Well-Being Konu dan Rimpela (2022) menjelaskan ada empat dimensi school well-being , seperti berikut : 1. Having yaitu bagaimana persepsi dan perasaan individu terhadap kondisi sekolah, meliputi lingkungan fisik sekolah, termasuk kenyamanan, rasa aman, kebisingan, pertukaran udara, ruang terbuka dan lain sebagainya. 2. Being yaitu mengacu pada bagaimana individu di sekolah menghargai keberadaan mereka. 3. Loving yaitu mengacu pada lingkungan sosial pada saat pembelajaran meliputi hubungan dengan guru, dengan teman sekelas, dan interaksi kelompok. 4. Helth (status kesehatan) yaitu mengacu pada kesehatan fisik dan mental peserta didik dan guru H. Implementasi Kompetensi Sosial Emosional 1. Pengajaran KSE secara eksplisit peserta didik secara khusus memiliki kesempatan untuk menumbuhkan, melatih, dan merefkesikan kompetensi sosial dan emosional dengan cara yang sesuai dan selaras dengan perkembangan budaya, 2. Integrasi KSE dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik tujuan KSE diintegrasikan kedalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, musik, seni dan pendidikan jasmani. 3. Penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah lingkungan belajar diseluruh sekolah dan kelas mendukung pengembangan kompetensi sosial dan emosional, responsif secara budaya dan berfokus pada upaya membangun hubungan dan komunitas. I. Penerapan Kompetensi Sosial Emosional di Kelas Rencana Pembelajaran Terintegrasi EMC2 Mata Pelajaran Topik Jenjang Alokasi Waktu : IPAS : Energi dan Perubahannya, Energi Terbarukan : Kelas X SMK : 3 x 45 menit 1. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu: IPAS: a. Menjelaskan energi dan perubahannya dalam kehidupan sehari-hari. b. Menganalisis energi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. EMC2 (Kesadaran Diri, Kesadaran Sosial, Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab): a. Merasakan empati terhadap penggunaan energi secara terus menerus. b. Menerapkan mindfulness dalam mengamati perubahan energi c. Menumbuhkan compassion (kepedulian) untuk menjaga sumber daya alam (SDA). d. Melakukan critical inquiry dalam mengidentifikasi masalah sederhana dan mencari solusi nyata. 2. Materi Ajar a. IPAS: Energi dan Perubahannya, Energi terbarukan b. EMC2: Konsep empati (merasakan perasaan tentang ketersediaan sumber daya alam yang terbatas), observasi sadar (mindfulness), kepedulian, dan berpikir kritis sederhana (bertanya "mengapa?" dan "bagaimana?"). 3. Media dan Sumber Belajar a. Gambar/video singkat tentang Energi dan Perubahannya, Energi Terbarukan b. Contoh nyata jenis-jenis Energi c. Contoh perubahan Energi d. Lembar kerja sederhana. 4. Kegiatan Pembelajaran a. Pendahuluan (20 menit) Praktik Mindfulness (Napas Perhatian dan Sensasi Tubuh): Guru memimpin peserta didik untuk duduk tegak, menenangkan diri. "Mari kita ambil napas dalam-dalam, hirup udara segar, lalu hembuskan perlahan. Rasakan tubuhmu duduk di kursi. Perhatikan suara-suara di sekitarmu, lalu kembalikan perhatian pada napasmu." (Melatih Mindfulness untuk memfokuskan diri). Apersepsi & Pancingan Rasa (Empati): Guru menunjukkan gambar atau video singkat tentang Energi dan Perubahannya. Guru bertanya: "Gambar perubahan energi mana yang membuatmu merasa menarik? Mengapa? Bagaimana perasaanmu jika sumber daya alam sebagai penghasil energi di bumi ini habis? Bagaimana perasaanmu jika rumahmu tidak ada energi listrik?" b. Kegiatan Inti (90 menit) Eksplorasi "Energi dan Perubahannya" (IPAS & Mindfulness): Guru menunjukkan gambar contoh energi beserta perubahannya. Ajak peserta didik mengamati perubahan energi tersebut dengan cermat. "Perhatikan bentuk energi ini. Bagaimana perubahannya?" (Mendorong Mindfulness dalam observasi). Guru menjelaskan jenis-jenis Energi dan Perubahannya. "Bayangkan jika tidak ada energi, bagaimana rasanya kehidupan di bumi ini?" (Meningkatkan Empati terhadap pentingnya menjaga sumber daya alam dan energi). (IPAS & Critical Inquiry): Guru menunjukkan beberapa contoh perubahan energi. "Lihatlah benda-benda ini. Apakah ini termasuk sumber energi? Bagaimana energi tersebut dapat berubah?" (Memicu Critical Inquiry sederhana). Guru menjelaskan sumber energi, jenis-jenis energi dan perubahannya. "Apa yang terjadi jika energi di bumi habis (Mengembangkan Empati terhadap sumber daya alam yang semakin menipis). Solusi Sederhana & Aksi (Compassion & Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab): Diskusi Kelompok Kecil: Peserta didik berdiskusi tentang sumber energi, jenis-jenis energi, dan perubahan energi. Guru mendorong mereka untuk berpikir: "Apa yang bisa kita lakukan, sekecil apa pun, agar sumber daya alam kita tetap terjaga atau tetap ada?" (Mendorong Critical Inquiry untuk solusi dan Compassion melalui aksi). Aktivitas Menggambar/Menulis: Minta peserta didik untuk menggambar atau menuliskan satu ide sederhana tentang cara perubahan energi. c. Penutup (25 menit) Guru meminta beberapa peserta didik berbagi ide atau gambar mereka. Guru bertanya: "Setelah belajar hari ini, apa yang kamu rasakan tentang Energi? Apa satu janji yang akan kamu lakukan untuk menjaga ketersediaan sumber daya alam atau sumber energi?" (Menguatkan Kesadaran Diri dan komitmen Compassion). Apresiasi: Guru memuji usaha dan kepedulian peserta didik, menekankan bahwa setiap siswa memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian sumber daya alam dan bumi. 5. Penilaian Observasi (EMC2): Guru mengamati partisipasi peserta didik dalam diskusi (kemampuan mendengarkan, menunjukkan empati), ekspresi emosi yang sehat, dan semangat dalam belajar. IPAS: Kemampuan mengidentifikasi jenis-jenis,jenis energi, serta perubahannya. Produk (EMC2 & IPAS): Gambar atau tulisan peserta didik yang menunjukkan pemahaman tentang energi dan perubahannya serta komitmen untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. Dengan pendekatan ini, pembelajaran IPAS menjadi lebih hidup dan relevan, sambil secara aktif mengembangkan Empati, Mindfulness, Compassion, dan Critical Inquiry pada peserta didik Kelas X SMK. Guru menjadi teladan melalui cara memfasilitasi diskusi, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. REFLEKSI PEMBELAJARAN Melalui aksi nyata ini, saya menyadari bahwa peran guru sebagai teladan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter peserta didik. Sikap dan ucapan saya sebagai guru sangat diperhatikan dan diikuti oleh siswa. Oleh karena itu, saya harus senantiasa menjaga konsistensi perilaku dan memperkuat integritas dalam mengajar. Merancang sebuah modul Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Peroses ini tidak hanya menantang pemikiran saya sebagai pendidik, tetapi juga membuka perspektif baru tentang bagaimana menumbuhkan kecerdasan emosional pada peserta didik. Dalam proses perancangan ini, beberapa tantangan sempat saya hadapi. Pertama, Menyusun Ini berarti saya harus berpikir keras tentang bagaimana menciptakan skenario atau kegiatan yang memungkinkan siswa merasakan, mengamati, merefleksikan, dan kemudian mengonseptualisasikan pembelajaran sosial emosional secara langsung. Kedua, menentukan indikator keberhasilan yang terukur. Karena pemebelajaran sosial emosional seringkali berkaitan dengan perubahan sikap dan prilaku yang abstrak, merumuskan cara untuk mengukur dampaknya menjadi tantangan tersendiri. Saya harus mencari cara agar penilaian tidak hanya berfokus pada produk akhir, tetapi juga pada proses dan refleksi yang telah dilakukan siswa. Meskipun ada tantangan, banyak hal menarik yang saya temukan selama merancang tugas ini. Setelah menyelesaikan rancangan ini, saya merasakan perubahan sifnifikan dalam cara pandang saya terhadap pembelajaran secara umum. Sebelumnya, mungkin saya cenderung terpaku pada penyampaian materi dan hasil akademis. Namun, kini saya semakin menyadari bahwa pengembangan sosial emosional sama pentingnya, jika tidak lebih penting, untuk bekal hidup siswa dimasa depan. Saya jadi lebih yakin bahwa guru memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan keterampilan hidup siswa, bukan hanya transfer ilmu pengetahuan. Selain itu, saya merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan perancangan pembelajaran yang inovatif. Proses ini telah mengasah kemampuan saya untuk berfikir kreatif, merumuskan tujuan yang jelas, dan merancang asesmen yang relevan. Saya jadi lebih bersemangat untuk mencoba dan mengimplementasikan rancangan ini di kelas, serta terus mencari cara-cara baru untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan berpusat pada siswa. REFLEKSI PENGALAMAN BERMAKNA 1. Tantangan yang dihadapi dalam mengerjakan tugas ini yaitu: a. Karakteristik peserta didik yang masih berada dalam tahap pencarian jati diri b. Kurangnya waktu yang tersedia, apabila guru mengalami masalah sosial emosional dengan peserta didik dalam pembelajaran maka otomatis waktu yang seharusnya guru gunakan dalam pendampingan pembelajaran akan teralihkan ke sesi penanganan anak yang bermasalah tersebut c. Kurangnya dukungan dari pihak sekolah terhadap kompetensi sosial emosional peserta didik, dalam hal ini guru dan tenaga kependidikan belum memahami betapa pentingnya pembelajaran sosial emosional ini dilaksanakan untuk menciptakan kesejahteraan psikologis yang nantinya akan bermuara pada terwujudnya budaya positif di sekolah dan meningkatnya prestasi akademik peserta didik. d. Kurangnya dukungan orang tua, dimana ketika orang tua diundang untuk menghadiri pertemuan untuk membahas peserta didik yang bermasalah terkadang orang tua tidak bersedia hadir, sehingga kebijakan sekolah tidak bisa difollow-up oleh orang tua. e. Beban tugas yang dibebankan kepada guru terlalu padat sehingga terkadang emosional guru menjadi labil, sehingga sikap sensitifitas yang mengharuskan mereka untuk mampu responsif terhadap perasaan orang lain, memiliki empati yang harus memahami perspektif peserta didik dan mindfulness, kesadaran yang muncul tanpa menghakimi kadang terabaikan. f. Kurangnya figur teladan dari guru dalam menerapkan pembelajaran sosial emosional 2. Perubahan yang saya rasakan yaitu: a. Perubahan minsed, sebelum mengerjakan tugas ini saya berfikir bahwa kecerdasa sosial emosional seseorang akan terrbentuk dengan sendirinya seiring kedewasaan dengan bertambahnya umur, setelah mengerjakan tugas ini saya menjadi paham bahwa kecerdasan sosial emosional harus dipelajari, dilatih dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. b. Dalam melaksanakan peraktik pembelajaran di kelas, guru harus menerapkan kelima kompetensi sosial emosional tersebut agar dapat mewujudkan pembelajaran yang nyaman, menyenangkan bagi peserta didik dan membentuk peserta didik berkarakter dan berbudi pekerti luhur. c. Saya bertekat akan konsisten menerapkan PSE dalam pembelajaran saya di kelas dan dalam keseharian saya di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. UMPAN BALIK PESERTA DIDIK 1. Argunanta: “Belajar sosial emosional sangat menyenangkan, pada saat saya berbuat kesalahan, guru tidak memarahi tapi menasehati sehingga saya menyadari pentingnya mengendalikan emosi dan prilaku” 2. Dimas Fitrah: “Setelah belajar sosial emosional, saya bisa mengendalikan emosi dan prilaku dan juga lebih semangat belajar” 3. Muhammad Ridho: “Pendapat saya tentang pembelajaran sosial emosional adalah saya bisa mengontrol emosi saya, dan bisa fokus pada pelajaran atas bimbingan bapak guru” 4. Ismail Manik: “setelah belajar sosial emosional saya merasa fokus, bersemangat dan dapat memahami pelajaran dengan perasaan Santai, dan bisa mengontrol sikap dan prilaku saya dalam belajar” UMPAN BALIK DARI REKAN SEJAWAT Christy Amalia Siagian, S.Pd Guru BK Saya melihat potensi besar dalam rancangan yang dibuat oleh Bapak Ebtan Sihotang untuk meningkatkan karakter siswa. Keterampilan sosial emosional sangat cocok dengan pemebelajaran sosial emosional karena siswa tidak hanya tahu tetapi juga merasakan dan mengalaminya.saya suka bagaimana beliau menekankan pada sesi refleksi, karena diwaktu itu lah internilisasi nilainilai terjadi, ini adalah fondasi penting untuj keterampilan hidup mereka. Debora Nainggolan, S.Pd Guru PKN Pemaparan yang disajikan oleh Bapak Ebtan Sihotang sungguh inspiratif dan membuka wawasan baru tentang bagaimana kita bisa membuat pembelajaran lebih bermakna. Saya sangat suka dengan pembelajaran dengan mengutamakan dan menghubungkan PSE dengan materi pembelajaran. KOLABORASI DENGAN REKAN SEJAWAT DOKUMENTASI KEGIATAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL DI KELAS
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )