SINERGI MULTIAKTOR DALAM MANAJEMEN BENCANA DI KOTA KUPANG: KAJIAN LITERATUR KEBIJAKAN, PENDANAAN, DAN KETERLIBATAN INTERNASIONAL Timotius Vincent Nalle*1 Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana E-mail: *1timotiusvincent2003@gmail.com, Abstrak Kota Kupang merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap berbagai bencana alam seperti banjir, siklon tropis, dan tsunami. Penanggulangan bencana di kota ini memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, lembaga non-pemerintah, dan lembaga internasional. Artikel ini bertujuan menganalisis kebijakan, pendanaan, dan peran lembaga internasional dalam manajemen bencana melalui studi literatur dari berbagai penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatifdeskriptif berbasis studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun kebijakan nasional dan daerah telah tersedia, implementasi di Kota Kupang masih menghadapi tantangan, seperti lemahnya koordinasi, keterbatasan pendanaan, dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana. Infrastruktur drainase yang tidak memadai serta minimnya akses terhadap pendanaan adaptasi iklim juga menjadi kendala. Di sisi lain, Program SIAP SIAGA terbukti efektif dalam memperkuat kapasitas BPBD dan memberdayakan masyarakat melalui pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan, pendanaan inklusif, dan kolaborasi multiaktor yang berkelanjutan untuk meningkatkan ketangguhan bencana di Kota Kupang. 1 Kata kunci: manajemen bencana, Kota Kupang, kebijakan publik, pendanaan, kolaborasi multiaktor Abstract Kupang City is one of the regions vulnerable to natural disasters such as floods, tropical cyclones, and tsunamis. Disaster management in this area requires synergy among government agencies, communities, non-governmental organizations, and international institutions. This article aims to analyze the role of policy, funding, and international collaboration in disaster management based on a literature review of various previous studies. The method used is a qualitative-descriptive approach through literature analysis. The findings reveal that although national and regional policies are in place, implementation in Kupang still faces several challenges, including weak inter-agency coordination, limited funding, and a lack of community awareness regarding disaster risks. Inadequate drainage infrastructure and limited access to climate adaptation financing further complicate the situation. On the other hand, the SIAP SIAGA program has proven effective in strengthening the capacity of local disaster management agencies and empowering communities through community-based disaster risk reduction strategies. Therefore, it is essential to enhance institutional capacity, promote inclusive funding mechanisms, and foster sustainable multi-actor collaboration to improve disaster resilience in Kupang City. Keywords: disaster management, Kupang City, public policy, funding, multi-actor collaboration PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, menjadikannya rentan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, banjir, dan siklon tropis. Kota Kupang, sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak luput dari ancaman tersebut. Letaknya yang berada di pesisir selatan Pulau Timor membuatnya rentan terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan siklon tropis, serta bencana geologi seperti gempa bumi dan tsunami. Salah satu bencana besar yang melanda wilayah ini adalah Badai Siklon Tropis Seroja pada April 2021. Badai ini menyebabkan kerusakan infrastruktur, korban jiwa, dan kerugian ekonomi yang signifikan di NTT, termasuk Kota Kupang. Lebih dari 20.000 rumah dan lima jembatan rusak atau hancur, dan lebih dari 12.000 orang dievakuasi ke tempat penampungan milik pemerintah. Kerusakan akibat Siklon Seroja di Indonesia digambarkan sebagai bencana besar.(Kurniawan et al., 2021) Selain itu, perubahan iklim juga memberikan dampak signifikan terhadap wilayah pesisir Kota Kupang. Penelitian oleh (Ledoh et al., 2018) menunjukkan bahwa selama 30 tahun terakhir terjadi penurunan curah hujan pada musim kemarau sebesar 12,7 mm/tahun. Kondisi ini menurunkan ketersediaan air bersih, produksi pangan, serta meningkatkan penyebaran penyakit dan risiko bencana seperti banjir rob dan kekeringan. Manajemen bencana yang efektif memerlukan sinergi antara berbagai aktor, termasuk pemerintah pusat dan daerah, lembaga non-pemerintah, masyarakat, dan lembaga internasional. Namun, implementasi kebijakan dan koordinasi antar-aktor sering menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya kapasitas, dan koordinasi yang lemah. Dalam konteks Kota Kupang, beberapa studi menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memahami risiko bencana yang mengancam mereka. Penelitian oleh (Soewarni et al., 2024) mengidentifikasi kurangnya pemahaman masyarakat tentang risiko tsunami di Kecamatan Kelapa Lima, yang merupakan pusat pelayanan Kota Kupang . Kurangnya sosialisasi dan edukasi kebencanaan menyebabkan masyarakat tidak siap menghadapi potensi bencana. Selain itu, infrastruktur yang ada belum memadai untuk menghadapi bencana. Studi oleh (Sebandar, 2018) menunjukkan bahwa sistem drainase di kawasan Oesapa-Lasiana tidak mampu menampung curah hujan tinggi, yang menyebabkan genangan dan banjir. Penanggulangan masalah ini memerlukan investasi dalam infrastruktur berbasis konservasi, seperti kolam retensi dan sumur resapan . Keterlibatan lembaga internasional telah memberikan kontribusi positif dalam mendukung manajemen bencana di Kota Kupang. Program SIAP SIAGA, hasil kerja sama antara Pemerintah Australia dan Indonesia, bertujuan memperkuat kapasitas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk menghadapi berbagai jenis bencana. Program ini menekankan pentingnya pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas melalui program seperti Desa Tangguh Bencana dan Kampung Siaga Bencana. Namun, meskipun terdapat kerangka kebijakan yang mendukung, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut penelitian oleh (Ndaparoka, 2023) , terdapat kesenjangan antara kebijakan yang ada dan pelaksanaannya di lapangan, terutama dalam hal koordinasi antar-lembaga dan keterlibatan masyarakat. Selain itu, keterbatasan pendanaan juga menjadi hambatan dalam pelaksanaan program mitigasi bencana. Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan simulasi mitigasi bencana menjadi strategi penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Studi oleh (Lemos et al., 2024) menunjukkan bahwa pendekatan edukasi dan simulasi mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bencana alam, meningkatkan pengetahuan tentang tindakan mitigasi yang tepat, dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat. Selain itu, pelestarian ekosistem juga berperan penting dalam mitigasi bencana. Penyuluhan ekosistem mangrove sebagai mitigasi bencana di Kelurahan Oesapa Barat menunjukkan bahwa pelestarian mangrove dapat mengurangi dampak bencana seperti abrasi dan banjir(Sipayung et al., 2023). Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan dan potensi yang ada, sinergi multiaktor dalam manajemen bencana di Kota Kupang menjadi sangat penting. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, lembaga non-pemerintah, dan lembaga internasional perlu ditingkatkan untuk menciptakan sistem manajemen bencana yang efektif dan berkelanjutan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan, pendanaan, dan keterlibatan internasional dalam manajemen bencana di Kota Kupang melalui studi literatur dari beberapa penelitian terdahulu. Diharapkan hasil kajian ini dapat memberikan rekomendasi yang konstruktif untuk penguatan kapasitas lokal, peningkatan koordinasi antar-aktor, dan integrasi pendekatan berbasis komunitas dalam manajemen bencana di Kota Kupang. METODE Dalam menghadapi tantangan bencana alam yang semakin kompleks, Kota Kupang telah mengimplementasikan berbagai strategi penanggulangan bencana. Langkah-langkah ini mencakup pembentukan kelurahan siaga bencana, pelatihan mitigasi, penyusunan rencana kontinjensi, dan penguatan sistem peringatan dini. Untuk memahami efektivitas dan tantangan dari upaya-upaya tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi literatur. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk jurnal ilmiah, laporan penelitian, dokumen kebijakan, dan artikel berita yang relevan dengan topik manajemen bencana di Kota Kupang. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesiapsiagaan dan respons Kota Kupang terhadap bencana, serta rekomendasi untuk peningkatan manajemen bencana di masa mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Study Terdahulu Berikut adalah analisis dari beberapa penelitian terdahulu yang membahas sinergi multiaktor dalam manajemen bencana di Kota Kupang, mencakup aspek kebijakan, pendanaan, dan keterlibatan internasional: NO Penulis dan Judul Fokus Temuan Relevansi Tahun Penelitian Utama Penelitian Terhadap Sinergi Multiaktor 1 (Ndaparoka, Pengaruh Pemberdayaa Pemberdayaa Menunjukkan 2023) Pemberdayaa n lembaga n lembaga pentingnya n Lembaga, dan pelatihan dan pelatihan kolaborasi Pengetahuan, meningkatka antara sektor Pendidikan n swasta dan dan Pelatihan, ketangguhan pemerintah dan Program hotel terhadap dalam Terhadap bencana manajemen Ketangguhan bencana 2 (Soewarni Kajian Risiko Masyarakat Menekankan et al., 2024) Tingkat tsunami dan belum perlunya Risiko pergerakan sepenuhnya keterlibatan Bencana penduduk memahami masyarakat dan Tsunami risiko edukasi dalam Berdasarkan tsunami, mitigasi Pola perlu edukasi bencana Pergerakan lebih lanjut Orang di Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang 3 (Sebandar, Studi Drainase dan Sistem Menyoroti 2018) Alternatif konservasi drainase tidak kebutuhan akan Penanggulang mampu investasi an Genangan menampung infrastruktur Berbasis curah hujan dan kolaborasi Konservasi Di tinggi; antar lembaga Sistem diperlukan Drainase solusi Oesapaberbasis Lasiana Kota konservasi Kupang 4 (IESR, Workshop Pendanaan Kota kecil Menunjukkan 2015) Pendanaan perubahan kesulitan pentingnya Perubahan iklim mengakses akses Iklim di Kota Kupang 5 6 7 (Djati et al., Penanganan 2023) Pemukiman Kumuh di Kelurahan Oesapa melalui Program KOTAKU (Rahman, Penentuan 2018) Lokasi Pos Pemadam Kebakaran di Kota Kupang (Badan Nasional Penanggula ngan Bencana, 2020) Rencana Nasional Penanggulang an Bencana 2020-2024 pendanaan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim Penanganan Program pemukiman KOTAKU kumuh membantu penanganan pemukiman kumuh di Kelurahan Oesapa Infrastruktur Kota Kupang pemadam membutuhka kebakaran n penambahan pos pemadam kebakaran untuk memenuhi standar Kebijakan Rencana nasional dan Nasional internasional Penanggulan gan Bencana memperhatik an komitmen internasional pendanaan dan peran lembaga internasional Menunjukkan pentingnya program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan masyarakat Menyoroti kebutuhan akan perencanaan infrastruktur dan alokasi sumber daya Menunjukkan integrasi kebijakan nasional dengan komitmen internasional 2. Kebijakan Manajemen Bencana Di Kota Kupang Kebijakan manajemen bencana di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi NTT telah mengeluarkan Peraturan Gubernur NTT No. 42 Tahun 2023 tentang Kajian Risiko Bencana.(BPBD NTT, 2024) Namun, implementasi kebijakan ini di Kota Kupang masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut penelitian oleh (Ndaparoka, 2023), terdapat kesenjangan antara kebijakan yang ada dan pelaksanaannya di lapangan, terutama dalam hal koordinasi antar-lembaga dan keterlibatan masyarakat Selain itu, studi oleh(Soewarni et al., 2024) menunjukkan bahwa masyarakat di Kecamatan Kelapa Lima belum sepenuhnya memahami risiko bencana tsunami, yang menunjukkan kurangnya sosialisasi dan edukasi kebencanaan . Kepala BPBD NTT, Ambrosius Kodo yang dilansir dalam Kompas.id oleh (Kewaama, 2023), menyatakan bahwa kajian risiko bencana di kabupaten/kota di NTT menjadi pedoman umum pembangunan daerah. Ia menambahkan bahwa sebuah bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga harus melibatkan semua pihak. Setiap program pemerintah, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang, tetap berpedoman pada kajian risiko bencana ini. Demikian pula investasi jenis apa pun. Jika tidak memakai pedoman kajian risiko bencana, dikhawatirkan akan berdampak buruk pada pembangunan dan investasi. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga non-pemerintah, masyarakat, dan lembaga internasional dalam manajemen bencana di Kota Kupang. Setiap aktor memiliki peran penting dalam meningkatkan ketangguhan kota terhadap bencana. Kolaborasi yang efektif antara berbagai pihak dapat membantu mengatasi kesenjangan antara kebijakan dan pelaksanaannya, serta meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Dengan demikian, meskipun kebijakan manajemen bencana telah ditetapkan di tingkat nasional dan daerah, implementasinya di Kota Kupang masih menghadapi berbagai tantangan. Diperlukan upaya bersama dari semua pihak untuk mengatasi tantangan ini dan meningkatkan ketangguhan kota terhadap bencana. 3. Pendanaan dalam Manajemen Bencana Pendanaan merupakan aspek krusial dalam manajemen bencana, terutama dalam konteks Kota Kupang yang rentan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Namun, kota ini masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam mengakses dan mengelola sumber pendanaan yang memadai untuk program mitigasi dan adaptasi. Berikut adalah penjabaran lebih lanjut mengenai tantangan dan solusi terkait pendanaan dalam manajemen bencana di Kota Kupang: Pertama, laporan dari Institute for Essential Services Reform (IESR, 2015) mengungkapkan bahwa kota-kota kecil seperti Kupang sering kesulitan mengakses pendanaan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kapasitas kelembagaan dan akses terhadap sumber pendanaan internasional. Workshop yang diselenggarakan oleh IESR di Kota Kupang pada 9 September 2015 menyoroti pentingnya pendanaan yang memadai untuk menciptakan kota yang berkelanjutan dan rendah emisi serta secara efektif mengatasi perubahan iklim. Kedua, Studi oleh (Sebandar, 2018) menunjukkan bahwa sistem drainase di kawasan Oesapa-Lasiana tidak mampu menampung curah hujan tinggi, yang menyebabkan genangan dan banjir. Penanggulangan masalah ini memerlukan investasi dalam infrastruktur berbasis konservasi, seperti kolam retensi dan sumur resapan, yang memerlukan pendanaan yang memadai. Ketiga, kurangnya kesadaran masyarakat dan instansi terkait tentang pentingnya daerah resapan sebagai alternatif penanggulangan genangan dan upaya konservasi air menjadi tantangan tersendiri. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi dan pelatihan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga nonpemerintah, dan masyarakat, untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi dalam upaya konservasi air. Keempat, pengembangan kapasitas kelembagaan di tingkat lokal sangat penting untuk meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan. Pemerintah daerah perlu memperkuat perencanaan dan penganggaran yang responsif terhadap risiko bencana dan perubahan iklim, serta membangun kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Kelima, pemanfaatan dana desa sebagai sumber pendanaan strategis untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dapat menjadi solusi yang efektif. Dengan mengintegrasikan program adaptasi dan mitigasi ke dalam perencanaan pembangunan desa, serta meningkatkan kapasitas aparat desa dalam pengelolaan dana, diharapkan dapat memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana dan perubahan iklim. Dengan demikian, untuk mengatasi keterbatasan pendanaan dalam manajemen bencana di Kota Kupang, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, yang melibatkan penguatan kapasitas kelembagaan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta optimalisasi sumber pendanaan yang tersedia. 4. Keterlibatan Lembaga Internasional Lembaga internasional telah memainkan peran penting dalam mendukung manajemen bencana di Kota Kupang. Program SIAP SIAGA, hasil kerja sama antara Pemerintah Australia dan Indonesia, bertujuan memperkuat kapasitas BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk menghadapi berbagai jenis bencana. Dalam implementasinya di Nusa Tenggara Timur (NTT), Program SIAP SIAGA telah bekerja sama dengan BPBD Provinsi NTT dan berbagai organisasi masyarakat sipil. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah lokakarya yang bertujuan memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan lembaga non-pemerintah dalam menghadapi bencana. Kegiatan ini menekankan pentingnya pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) melalui program seperti Desa Tangguh Bencana dan Kampung Siaga Bencana . Sebagai bagian dari pendekatan PRBBK, Program SIAP SIAGA bersama mitra lokal seperti CIS Timor telah melaksanakan simulasi penanggulangan bencana di Desa Oemolo, Kabupaten Kupang. Simulasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, dengan melatih mereka dalam sistem peringatan dini, evakuasi mandiri, dan koordinasi antarregu dalam Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) . Selain itu, Program SIAP SIAGA juga telah melakukan audiensi dengan Wali Kota Kupang untuk memperkenalkan upaya penanggulangan bencana yang telah dilakukan dan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kota Kupang. Koordinator SIAP SIAGA Wilayah NTT, Dr. Silvi Fanggidae, menyampaikan bahwa program ini telah memberikan kontribusi nyata bagi BPBD Kota Kupang, termasuk dalam upaya mitigasi, pencegahan, hingga respons terhadap bencana yang terjadi di wilayah Kota Kupang . Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga internasional, dan organisasi masyarakat sipil, Program SIAP SIAGA telah membantu meningkatkan kapasitas manajemen bencana di Kota Kupang. Pendekatan berbasis komunitas dan pelibatan berbagai pihak dalam penanggulangan bencana menjadi kunci dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap berbagai risiko bencana. KESIMPULAN Manajemen bencana di Kota Kupang membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif dari berbagai pihak. Berdasarkan hasil studi literatur dan analisis terhadap beberapa penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa meskipun telah tersedia kerangka kebijakan nasional dan daerah seperti UU No. 24 Tahun 2007 dan Pergub NTT No. 42 Tahun 2023, implementasinya di lapangan masih menghadapi sejumlah hambatan. Tantangan utama meliputi lemahnya koordinasi antar-lembaga, kurangnya edukasi kepada masyarakat, keterbatasan infrastruktur pendukung, serta hambatan dalam pengelolaan dan akses pendanaan. Studi juga menunjukkan bahwa pendanaan menjadi salah satu faktor penghambat utama. Kota Kupang mengalami kesulitan mengakses pendanaan internasional untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim karena terbatasnya kapasitas kelembagaan dan kurangnya strategi pembiayaan yang terencana. Infrastruktur seperti drainase dan kawasan resapan air belum mampu menanggulangi intensitas curah hujan ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Di sisi lain, keterlibatan lembaga internasional seperti Program SIAP SIAGA telah menunjukkan kontribusi positif dalam memperkuat kapasitas daerah. Program ini menekankan pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) dan kolaborasi lintas sektor yang mendorong pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting mengingat kesadaran masyarakat akan risiko bencana di sejumlah wilayah Kota Kupang masih tergolong rendah. Secara keseluruhan, sinergi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, lembaga non-pemerintah, dan lembaga internasional menjadi elemen penting dalam membangun sistem manajemen bencana yang responsif dan berkelanjutan di Kota Kupang. Tanpa kolaborasi yang kuat dan berkesinambungan, berbagai kebijakan dan program akan sulit mencapai hasil maksimal. REKOMENDASI 1. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah daerah, khususnya BPBD Kota Kupang, perlu ditingkatkan kapasitasnya melalui pelatihan teknis, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan koordinasi lintas sektor. Ini penting untuk memastikan kebijakan yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan. 2. Optimalisasi Pendanaan Inklusif Pemerintah daerah perlu membangun strategi pembiayaan bencana yang berkelanjutan dengan membuka akses terhadap skema pendanaan nasional dan internasional. Dana desa juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan mitigasi dan adaptasi berbasis masyarakat. 3. Peningkatan Edukasi dan Sosialisasi Kebencanaan Diperlukan program berkelanjutan untuk meningkatkan literasi risiko bencana masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan kawasan rawan bencana. Edukasi dapat dilakukan melalui sekolah, komunitas lokal, dan media massa dengan pendekatan yang kontekstual dan partisipatif. 4. Pengembangan Infrastruktur Berbasis Ekosistem Investasi dalam infrastruktur hijau seperti kolam retensi, sumur resapan, dan pelestarian ekosistem mangrove harus ditingkatkan sebagai bentuk mitigasi bencana berbasis alam (eco-DRR). 5. Penguatan Kolaborasi Multiaktor Sinergi antara pemerintah, NGO, sektor swasta, akademisi, dan lembaga internasional harus difasilitasi melalui platform koordinasi formal yang rutin dan saling menguatkan, misalnya melalui forum kebencanaan daerah yang melibatkan semua pemangku kepentingan. DAFTAR PUSTAKA Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2020). Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2020-2024. BPBD NTT. (2024). Kolaborasi Pemerintah dan Non Pemerintah untuk Ketangguhan Bencana di NTT – BPBD Provinsi NTT. https://bpbd.nttprov.go.id/kolaborasipemerintah-dan-non-pemerintah-untuk-ketangguhan-bencana-di-ntt/?utm_source= Djati, A. A. A., Wulakada, H. H., & Rahmawati, A. (2023). Penanganan Pemukiman Kumuh, Studi Kasus Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang. Jurnal Geografi, 19(1), 10–24. https://doi.org/10.35508/jgeo.v19i1.11680 IESR. (2015). Laporan workshop ini merupakan laporan mengenai workshop yang dilaksanakan oleh Pikul dan IESR di Kota Kupang tanggal 9 September 2015. September. Kewaama, K. (2023, November 20). Kajian Risiko Bencana Menjadi Acuan Pembangunan di NTT - Kompas.id. Kompas.Id. https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/11/20/kajian-risiko-bencana-menjadiacuan-pembangunan-di-ntt Kurniawan, R., Harsa, H., Nurrahmat, M. H., Sasmito, A., Florida, N., Makmur, E. E. S., Swarinoto, Y. S., Habibie, M. N., Hutapea, T. F., Hendri, Sudewi, R. S., Fitria, W., Praja, A. S., & Adrianita, F. (2021). The Impact of Tropical Cyclone Seroja to The Rainfall and Sea Wave Height in East Nusa Tenggara. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 925(The 3rd International Conference on Maritime Sciences and Advanced Technology 5–6 August 2021, Pangandaran, Indonesia (Virtual)), 012049. https://doi.org/10.1088/1755-1315/925/1/012049 Ledoh, L. Y., Satria, A., & Hidayat, R. (2018). Adaptasi Perubahan Iklim di Pesisir Kota Kupang. IPB University. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95396 Lemos, G. S., Tomas Correia Dias Ximenes, G., Guterres Dos Reis, F., & Susanti Junias, M. (2024). Manajemen kebencanaan pemberdayaan masyarakat melalui upaya edukasi dan simulasi mitigasi bencana alam pada siswa SMA Kafe Gleno Kabupaten Ermera. Jurnal Pemberdayaan Dan Pendidikan Kesehatan, 3(02), 56– 65. https://doi.org/10.34305/JPPK.V3I02.1039 Ndaparoka, S. L. (2023). Pengaruh Pemberdayaan Lembaga, Pengetahuan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Program Terhadap Ketangguhan Hotel dalam Menghadapi Ancaman Bencana di …. Journal of Economics and Business UBS, 12(1), 496–516. https://www.jurnal.ubsusg.ac.id/index.php/joeb/article/view/151%0Ahttps://www.jurnal.ubsusg.ac.id/index.php/joeb/article/download/151/334 Rahman, I. J. (2018). Penentuan Lokasi Pos Pemadam Kebakaran Di Kota Kupang. Sebandar, M. J. B. (2018). Studi Alternatif Penanggulangan GenanganBerbasis Konservasi Di Sistem DrainaseOesapa-Lasiana Kota Kupang. Sipayung, R. H., Suek, J., Pramatana, F., Sinaga, P. S., Program, ), & Kehutanan, S. (2023). PENYULUHAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI MITIGASI BENCANA DI KELURAHAN OESAPA BARAT, KOTA KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR. Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(5), 11139–11142. https://doi.org/10.31004/CDJ.V4I5.21195 Soewarni, I., Reza, M., Estavania Tse, I., Permatasari, A., & Astuti, P. (2024). KAJIAN TINGKAT RISIKO BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN POLA PERGERAKAN ORANG DI KECAMATAN KELAPA LIMA – KOTA KUPANG. Prosiding SEMSINA, 4(2). https://doi.org/10.36040/semsina.v4i2.8150
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )