SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN “PUSAT PERTANGGUNG JAWABAN – PUSAT PENDAPATAN” OLEH : KELOMPOK 3 : 1. SYARNY (B1C122050) 2. AGUS SUHERY (B1C122056) 3. ANDI AZKA TSALITSHAH NURHIKMAH RAMADHAN H. P. (B1C122063) 4. ARTIKA RAMADHANI (B1C122069) 5. DWI RAFNI DESYA MENTARI (B1C122075) 6. FARIZ ISMAIL (B1C122081) 7. INDRI SETYA A. (B1C122087) 8. L.M. OKTASYAN T. ARDIANSYAH (B1C122094) KELAS : B PROGRAM STUDI AKUNTANSI (S1) FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI 2025 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT. yang maha pengasih dan maha penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-nya yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, serta hidayah-nya kepada kami, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Intihanah, SE., M.Si. selaku dosen pengampuh Mata Kuliah Sistem Pengendalian Manajemen. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada anggota kelompok kami yang sudah membantu untuk mengumpulkan data data dalam pembuatan makalah ini. Makalah kami ini menjelaskan tentang : “Pusat Pertanggung Jawaban – Pusat Pendapatan.” Dalam penulisan makalah ini, kami mengakui masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun isi materi. Maka dari itu, kami mohon segala bentuk saran dan kritik dari berbagai pihak. Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca. Kendari, Maret 2025 Kelompok 3 ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 2 1.3 Tujuan .................................................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 3 2.1 Pengertian Pusat Pertanggungjawaban .............................................. 3 2.2 Sifat Pusat Pertanggungjawaban......................................................... 3 2.3 Hubungan Antara Input dan Output .................................................. 5 2.4 Mengukur Input dan Output .............................................................. .6 2.5 Efisiensi dan Efektifitas........................................................................ 8 2.6 Pusat Pendapatan ................................................................................. 9 2.7 Pusat Pertanggungjawaban Pendapatan Di Organisasi Pemerintahan ..................................................................................... 12 BAB III REVIEW JURNAL ........................................................................... 14 BAB IV PENUTUP .......................................................................................... 18 4.1 Kesimpulan ......................................................................................... 18 4.2 Saran ................................................................................................... 18 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 19 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia bisnis dan organisasi, sistem pengendalian manajemen memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan bahwa tujuan strategis dapat tercapai secara efektif dan efisien. Sistem ini mencakup berbagai mekanisme yang digunakan oleh manajemen untuk mengendalikan aktivitas organisasi, termasuk sistem pertanggungjawaban dan pusat pendapatan (Anthony & Govindarajan, 2007). Pusat pertanggungjawaban adalah unit dalam organisasi yang memiliki tanggung jawab atas pengelolaan sumber daya dan pencapaian hasil tertentu. Setiap pusat pertanggungjawaban memiliki peranan yang berbeda dalam proses operasional organisasi, seperti pusat biaya, pusat laba, pusat investasi, dan pusat pendapatan (Hansen & Mowen, 2006). Di sisi lain, pusat pendapatan merupakan unit yang fokus pada penciptaan pendapatan tanpa memperhitungkan biaya yang digunakan dalam prosesnya (Horngren et al., 2012). Dengan memahami konsep ini, organisasi dapat meningkatkan akurasi dalam mengukur kinerja dan efektivitas strategi bisnis yang diterapkan. Selain itu, sistem pengendalian manajemen juga berperan dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi. Dengan adanya sistem ini, setiap manajer dapat lebih memahami tanggung jawabnya dalam mengelola sumber daya dan mencapai target yang telah ditetapkan (Merchant & Van der Stede, 2017). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai sistem pengendalian manajemen, khususnya terkait pusat pertanggungjawaban dan pusat pendapatan, serta bagaimana implementasinya dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja organisasi. 1 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari pusat pertanggungjawaban? 2. Bagaimana sifat pusat pertanggung jawaban? 3. Bagaimana hubungan anatara inpuut dan output? 4. Bagaimana mengukur input dan output? 5. Apa itu efisiensi dan efektifitas? 6. Apa itu pusat pendapatan? 7. Bagaimana pusat pertanggungjawaban pendapatan pada oranganisasi pemerintahan 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian pusat pertanggungjawaban. 2. Untuk mengetahui sifat pusat pertanggung jawaban. 3. Untuk mengetahui hubungan anatara inpuut dan output. 4. Untuk mengetahui bagaimana mengukur input dan output. 5. Untuk mengetahui efisiensi dan efektifitas. 6. Untuk mengetahui apa itu pusat pendapatan. 7. Untuk mengetahui pusat pertanggungjawaban pendapatan pada oranganisasi pemerintahan. 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pusat Pertanggungjawaban Pusat pertanggungjawaban ialah setiap unit kerja dalam organisasi yang dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggungjawab terhadap aktivitas yang dilakukan. Suatu pusat pertanggungjawaban dapat dipandang sebagai suatu sistem yang mengolah masukan menjadi keluaran. Hansen (2002:818), "Pusat pertanggungjawaban adalah suatu segmen bisnis yang manajemennya bertanggungjawab terhadap pengaturan kegiatan-kegiatan tertentu". Sedangkan pusat pertanggungjawaban menurut Anthony (2002: 111), "Pusat pertanggungjawaban merupakan organisasi yang dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab terhadap aktivitas yang dilakukan". Pusat pertanggungjawaban merupakan organisasi yang dipimpin oleh seorang manager yang bertanggungjawab terhadap aktivitas yang dilakukan. Perusahaan pada dasarnya merupakan sekumpulan pusat-pusat tanggung jawab, yang masing-masing diwakili oleh sebuah kotak dalam bagan organisasi. Pusat-pusat tanggung jawab tersebut selanjutnya membentuk suatu hierarki. Pada tingkat terendah adalah pusat untuk seksi-seksi, pergeseran kerja (workshift) dan unit organisasi kecil lainnya. Departemen bisnis yang memiliki beberapa unit organisasi yang lebih kecil menduduki posisi yang lebih tinggi dalam hierarki. Dari sudut pandang manajer senior dan dewan direksi perusahaan secara keseluruhan merupakan pusat tanggung jawab meskipun istilah ini biasanya berkenaan dengan unit-unit dalam perusahaan. 2.2 Sifat Pusat Pertanggungjawaban Pusat-pusat pertanggungjawaban muncul guna mewujudkan satu atau lebih tujuan, yang disebut objective (tujuan jangka pendek). Perusahaan secara keseluruhan memiliki goal (tujuan jangka panjang), dan manajer senior menentukan sejumlah strategi untuk mencapai goal tersebut. 3 Adanya pusat pertanggungjawaban dimaksudkan untuk memenuhi satu atau beberapa tujuan yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak. Tujuan yang dimaksud adalah membantu mengimplementasikan rencana strategi manajemen puncak. Suatu pusat pertanggungjawaban menggunakan suatu input tertentu (sejumlah bahan baku, tenaga kerja dan jasa lain) untuk menghasilkan output yang bisa berupa barang atau jasa. Dalam proses pengerjaannya diperlukan juga modal kerja (persediaan, piutang), peralatan dan asset lain. Pusat pertanggungjawaban menghasilkan output yang bisa disebut barang (jika dapat dilihat) dan jasa (jika tiidak dapat dilihat). Setiap pusat pertanggungjawaban mempunyai output. Bagian produksi pada suatu perusahaan manufaktur menghasilkan suatu barang. Bagian administrasi dan akuntansi output nya berupa suatu jasa. Barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu pusat pertanggungjawaban bisa diserahkan ke pusat pertanggungjawaban lain dalam satu organisasi dan bisa dijual kepada pihak luar. Pendapatan dalam hal ini merupakan jumlah yang diperoleh dari penjualan suatu output. Sifat dari pusat pertanggungjawaban dapat diilustrasikan sebagai berikut : 4 Ilustrasi A memberikan gambaran kertas sebagai suatu pusat pertanggungjawaban. Sebagai suatu pusat pertanggungjawaban, bagian: 1) Menggunakan input. 2) Melakukan pekerjaan. 3) Menghasilkan suatu output Input dapat berupa : Kayu, Mesin dan air, yang diproduksi menjadi sebuah kertas, dalam suatu proses pembuatan kertas melalui mesin pencetak kertas. Output yang dihasilkan dari proses ini berupa sebuah kertas. Pada ilustrasi B, pusat pertanggungjawaban juga mempunyai input yang berupa bahan baku, jam kerja karyawan dan berbagai jenis jasa. Pusat pertanggungjawaban melakukan pekerjaan dengan menggunakan modal yang ditanamkan dalam aktiva lancar dan aktiva tetap. Sebagai hasil dari proses pengerjaan tersebut, pusat pertanggungjawaban ini menghasilkan output berupa barang jika berwujud dan jasa jika tidak berwujud. Output dari suatu pusat pertanggungjawaban ini akan digunakan oleh pusat pertanggungjawaban lain dalam perusahaan yang sama atau dijual kepada pihak luar. Sedangkan ilustrasi C menunjukkan informasi tentang input, aktiva yang digunakan untuk memproses input dan output. Sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output sebagian besar berupa data biaya dan yang lain berupa data non keuangan. Jika output suatu pusat pertanggungjawaban dijual kepada pihak luar, ukuran akuntansi terhadap output diistilahkan sebagai pendapatan. Jika barang atau jasa ditransfer ke pusat pertanggungjawaban lain dalam suatu organisasi, output diukur dengan ukuran keuangan, seperti misalnya harga pokok barang atau jasa yang ditransfer, atau ukuran non keuangan seperti jumlah unit output yang ditransfer. 2.3 Hubungan Antara Input dan Output Manajemen memiliki tanggung jawab untuk mengoptimalisasi hubungan antara input dan output. Pada beberapa pusat tanggung jawab input dan output bersifat timbal balik dan langsung, contohnya pada departemen 5 produksi, inputnya dalam bentuk bahan baku masih dapat dilihat pada produk jadi. Pengendalian difokuskan pada bagaimana memanfaatkan input minimal untuk menghasilkan output yang diinginkan yaitu sesuai dengan ketentuan dan standar kualitas yang ditetapkan pada waktu dan kuantitas seperti yang diinginkan. Pada beberapa kondisi, input tidak berkaitan langsung dengan output. Misalnya, biaya promosi yang dikeluarkan untuk meningkatkan pendapatan, akan tetapi peningkatan penjualan dipengaruhi beberapa faktor selain promosi, hubungan antara peningkatan biaya promosi dengan peningkatan pendapatan sulit dijelaskan. Pada kegiatan penelitian dan pengembangan, hubungan antara input dan output lebih sulit lagi dijelaskan, hasil dari kegiatan penelitian mungkin tidak nampak pada beberapa tahun dan jumlah biaya optimum untuk kegiatan penelitian sulit ditetapkan. 2.4 Mengukur Input dan Output Kebanyakan input yang digunakan oleh pusat tanggung jawab dapat dinyatakan dalam ukuran-ukuran fisik. Dalam sistem pengendalian manajemen satuan-satuan kuantitas tersebut diterjemahkan kesatuan moneter, uang merupakan penyebut umum yang memungkinkan nilai dan berbagai sumberdaya yang beragam untuk digabungkan dan dikombinasikan. Jumlah moneter yang dihasilkan tersebut disebut sebagai biaya. Biaya adalah suatu ukuran moneter dari jumlah sumberdaya yang digunakan oleh pusat tanggungjawab. Input adalah sumberdaya yang dipergunakan oleh pusat tanggungjawab. Dalam pengukurannya, lebih mudah untuk mengukur biaya input daripada untuk menghitung nilai output. Tidak ada tolak ukur untuk mengukur ouput bahkan organisasi-organisasi tidak berupaya untuk mengukur output dari masing-masing pusat tanggungjawab. 6 Terjadinya biaya pada pusat pertanggungjawaban tidak selalu sebagai akibat dari keputusan yang diambil oleh manajer pusat pertanggungjawaban yang bersangkutan. Karena tidak semua biaya yang terjadi dapat dikendalikan oleh manajer, maka dalam pengumpulan dan pelaporan biaya setiap pusat pertanggungjawaban harus dipisahkan antara biaya terkendalikan dan biaya tidak terkendalikan. Hanya biaya-biaya yang terkendalikan oleh manajer pusat pertanggungjawaban, yang disajikan dalam laporan biaya dan dimintakar pertanggungjawaban daripadanya. Oleh karena itu, akuntansi pertanggungjawaban biasanya menitikberatkan pada pertanggungjawaban biaya pusat pertanggungjawaban. Menurut Samryn (2001 : 264) biaya dapat digolongkan atas dasar pengaruh manajer terhadap biaya, penggolongannya adalah sebagai berikut: Biaya terkendali adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Biaya tidak terkendali adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan atau pejabat tertentu berdasarkan wewenang yang dimilikinya atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pejabat dalam jangka waktu tertentu. Biaya-biaya yang sepenuhnya tidak dapat dikendalikan tidak akan memerlukan keputusan dan pertimbangan manajer karena hal itu tidak dapat mempengaruhi biaya, diabaikan dalam evaluasi manajer. Sebaliknya biayabiaya yang dapat dikendalikan memberikan bukti tentang kinerja seorang manajer sehingga memberikan manfaat dalam pengambilan keputusan. Untuk memisahkan biaya kedalam biaya terkendalikan dan tidak terkendalikan pada kenyataannya seringkali ditemui kesulitan. Hanya sedikit biaya yang terjadi menjadi tanggungjawab seseorang. Pedoman untuk menetapkan apakah suatu biaya dapat dibebankan sebagai tanggungjawab seorang manajer pusat pertanggungjawaban menurut Larosa (2004: 26) adalah sebagai berikut : 7 a) Jika seorang manajer memiliki wewenang baik dalam perolehan maupun penggunaan jasa, ia harus dibebani dengan biaya jasa tersebut. Seorang manajer jelas dapat mempengaruhi jumlah suatu biaya jika ia memiliki wewenang dalam memperoleh dan menggunakan jasa. Manajer pemasaran yang mempunyai wewenang memutuskan media promosi dan jumlah biayanya, bertanggungjawab penuh terhadap terjadinya biaya tersebut. b) Jika seorang manajer dapat secara signifikan mempengaruhi jumlah biaya tertentu melalui tindakannya sendiri, ia dapat dibebani dengan biaya tersebut. Seorang manajer mungkin tidak mempunyai wewenang dalam memutuskan pemerolehan barang atau jasa, baik harga maupun jumlahnya, namun dapat secara signifikan mempengaruhi jumlah pemakainya. Dalam hal ini, ia dapat dibebani tanggung jawab pemakaian barang atau jasa tersebut. c) Meskipun seorang manajer tidak dapat secara signifikan dapat mempengaruhi jumlah biaya tertentu melalui tindakan langsingnya sendiri, ia dapat juga dibebani biaya tersebut, jika manajemen puncak menghendaki agar ia menaruh perhatian sehingga ia dapat membantu manajer lain yang bertanggungjawab untuk mempengaruhi biaya tersebut. Menurut Mulyadi (2001 : 169), biaya tidak terkendalikan dapat diubah menjadi biaya terkendalikan melalui dua cara yang saling berkaitan. a) Dengan mengubah dasar pembebanan dari alokasi ke pembebanan langsung. b) Dengan mengubah letak tanggung jawab pengambilan keputusan. 2.5 Efisiensi dan Efektifitas Konsep input, output, dan biaya bisa digunakan untuk menjelaskan makna efisiensi dan efektifitas, yang merupakan dua kriteria dimana kinerja pusat pertanggungjawaban dinilai. Efisiensi adalah perbandingan output terhadap input , atau jumlah output per unit input. Dalam banyak pusat pertanggungjawaban, efisiensi 8 diukur dengan cara membandingkan biaya-biaya aktual dengan standar dimana biaya-biaya tersebut harus diukur dengan output yang terukur. Meskipun metode ini dapat digunakan, tetapi metode ini mempunyai dua kelemahan besar yaitu: 1. Biaya-biaya yang tercatat bukanlah tolok ukur terhadap sumber dayasumber daya yang sebenarnya digunakan. 2. Standar pada hakikatrıya merupakan perkiraan tentang apa yang secara ideal harus tercapai dalam kondisi-kondisi yang ada. Dibandingkan dengan efisiensi, yang ditentukan oleh hubunganhubungan antara input dan output, efektifitas ditentukan antara output yang dihasilkan oleh pusat pertanggungjawaban dengan tujuan jangka pendek (objectives). Secara ringkas, sebuah pusat pertanggungjawaban akan bersifat efisien jika melakukan hal-hal tertentu secara tepat, dan akan bersifat efektif jika melakukan hal-hal yang tepat. Peranan Laba Laba merupakan tujuan utama bagi organisasi yang berorientasi laba. Sehingga laba merupakan pengukur efektifitas yang penting. Selain itu laba adalah selisih antara penjualan (pengukur output) dan biaya (pengukur input), jadi laba juga merupakan pengukur efisiensi. Sehingga laba merupakan pengukur efisiensi dan efektifitas. Apabila kedua pengukur input dan output dapat dilakukan, maka efisiensi dan efektifitas dapat ditentukan. Akan tetapi apabila yang dapat diukur hanya salah satunya (input atau output saja) maka pengukur kinerjanya dihubungkan dengan efisiensinya atau efektifitasnya saja. 2.6 Pusat Pendapatan (Revenue Center) Pusat pendapatan dinilai kinerjanya hanya berdasarkan jumlah pendapatan yang diperoleh. Pusat pendapatan merupakan pusatpertanggungjawaban dimana output-nya diukur dalam unit moneter, tetapi tidak dihubungkan dengan input-nya. Karenanya pusat pendapatan adalah 9 organisasi pemasaran yang tidak mempunyai tanggung jawab terhadap laba.Dalam sebuah organisasi fungsional, departemen pemasaran merupakanpusat pendapatan. Dalam organisasi divisi, bagian pemasaran divisi jugamerupakan pusat pendapatan. Setiap pusat pendapatan juga merupakan pusat biaya karena sebenarnya mereka mengeluarkan biaya untuk terciptanya pendapatan. Namun biaya tersebut tidak diukur. Bagian pemasaran juga tidak dibebani harga pokok penjualan atas barang yang terjual. Manajer pusat pendapatan tidak mengetahui bahwa diperlukan perbandingan antara pendapatan dan biaya untuk menghasilkan keputusan yang maksimal. Karena itu keputusan yang ada tidak bisa dibuat oleh pusat pendapatan yang pada gilirannya tidak bisa membuat keputusan tentang harga jual. Kinerja keuangan pusat pendapatan diukur atas dasar pendapatan yang diperoleh, yaitu perkalian antara unit yang dijual dengan harga jualnya. Penentuantentang keberhasilan pusat pendapatan dilakukan dengan membandingkan antara pendapatan yang sesungguhnya diperoleh dengan pendapatan yang dianggarkan. Pada hakikatnya, pusat pendapatan merupakan unit-unit pemasaran/penjualan yang tak memiliki wewenang untuk menetapkan harga jual dan tidak bertanggung jawab atas harga pokok barang-barang yang mereka pasarkan. Pusat pendapatan merupakan pusat pertanggungjawaban dimana outputnya diukur dalam unit moneter, tetapi tidak dihubungkan dengan inputnya. Karenanya pusat pendapatan adalah organisasi pemasaran yang tidak mempunyai tanggungjawab terhadap laba. Dalam sebuah organisasi fungsional, departemen pemasaran merupakan pusat pendapatan. Dalam organisasi divisi, bagian pemasaran divisi juga merupakan pusat pendapatan. 10 Setiap pusat pendapatan juga merupakan pusat biaya karena sebenarnya mereka mengeluarkan biaya untuk terciptanya pendapatan, namun biaya tersebut tidak diukur. Bagian pemasaran juga tidak dibebani harga pokok penjualan atas barang yang terjual. Manajer pusat pendapatan tidak mengetahui bahwa diperlukan perbandingan antara pendapatan dan biaya untuk menghasilkan keputusan yang maksimal. Karena yang pada gilirannya tidak bisa membuat keputusan tentang harga jual. Kinerja keuangan pusat pendapatan diukur atas dasar pendapatan yang diperoleh, yaitu perkalian antara unit yang dijual dengan harga jualnya. Penentuan tentang keberhasilan pusat pendapatan dilakukan dengan membandingkan antara pendapatan yang sesungguhnya diperoleh dengan pendapatan yang dianggarkan. Di pusat pendapatan suatu output (yaitu pendapatan) diukur secara moneter, akan tetapi tidak ada upaya formal yang dilakukan untuk mengaitkan input (yaitu beban atau biaya) dengan output. (Jika beban dikaitkan dengan pendapatan maka unit tersebut akan menjadi pusat laba). Pada umumnya pusat pendapatan merupakan unit pemasaran atau penjualan yang tak memiliki wewenang untuk menetapkan harga jual dan tidak bertanggung jawab atas harga pokok penjualan dari barang-barang yang mereka pasarkan. Penjualan atau pesanan aktual diukur dari angggaran dan kuota, dan manajer dianggap bertanggung jawab atas beban. Yang terjadi secara langsung didalam unitnya, akan tetapi ukuran utamanya adalah pendapatan Aktivitas logistik merupakan aktivitas-aktivitas yang terlibat dalam memindahkan barang dari perusahaan ke pelanggan dan mengumpulkan piutang yang jatuh tempo dari para pelanggannya. Aktivitas-aktivitas ini mencakup transportasi ke pusat distribusi, perdagangan, pengapalan dan pengiriman, pengajuan rekening dan aktivitas yang terkait dengan fungsi kredit dan penagihan piutang. Hampir di semua perusahaan, pekerjaan-pekerjaan dokumen yang meliputi aktivitas-aktivitas logistik dan penagihan piutang sekarang bisa dituntaskan secara cepat dengan biaya rendah melalui internet. Aktivitas pemasaran adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan 11 untuk memperoleh pesanan. Aktivitas-aktivitas ini meliputi uji pemasaran: pembentukan, pelatihan, dan pengawasan terhadap tenaga penjualan; periklanan, dan promosi penjualan yang seluruhnya memiliki karakteristikkarakteristik yang menimbulkan permasalahan pengendalian manajemen. Secara ringkas, terdapat tiga jenis aktivitas dalam organisasi pemasaran dan sebagai konsekuensinya, terdapat tiga jenis ukuran aktivitas. Pertama, ada aktivitas logistik Kedua, ada penciptaan pendapatan, Ketiga, biaya pencarian pesanan yang merupakan beban kebijakan karena tidak seorangpun tahu berapa persisnya jumlah optimal yang harus dikeluarkan. Konsekuensinya, ukuran efisiensi dan efektivitas untuk biaya-biaya tersebut sangat subjektif. Kesulitan dalam menggabungkan hasil yang diperoleh dengan input. Hasil dari aktivitas penelitian dan pengembangan sangat sulit diukur kuantitasnya Beberapa dengan aktivitas administrasi, aktivitas litbang, biasanya mempunyai hasil setengah berwujud dalam bentuk paten, produkproduk baru ataupun proses baru. Tetapi kaitan antara output dengan input sangat sukar untuk dinilai per tahun karena "produk" akhir dari litbang bisa melibatkan usaha selama bertahun-tahun. Tidak adanya keselarasan cita-cita. Manajer penelitian pada hakikatnya ingin membangun organisasi penelitian yang terbaik, meskipun barangkali lebih mahal dari apa yang bisa didanai oleh perusahaan. 2.7 Pusat Pertanggungjawaban Pendapatan di Organisasi Pemerintahan Pusat pendapatan adalah unit organisasi yang prestasi manajernya dinila berdasarkan pendapatan yang dihasilkan. Pada organisasi sector publik, unit organisasi yang berfungsisebagai pusat pendapatan adalah unit organisasi nyang tujuan utamanya adalah memungut dan menghasilkan pendapatan. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada imput yang digunakan (biaya), namun semua sumber daya yang digunakan (misalnya adalah angggaran) digunakan dalam rangka untuk melaksanakan pemungutan, ekstensifikasi dan 12 intensifikasi pendapatan. Pada organisasi pemerintah pusat, unit organisasi yang berfungsi sebagai pusat pendapatan adalah kementrian keuangan, terutama untuk dirjen pajak, dan dirjen Bea dan Cukai. Kedua direktorat tersebut bertugas untuk melaksanaka pemungutan sekaligus meningkatkan penerimaan negara. Sedangkan dalam kontek pemerintah daerah, unit organisasi yang berfungsi pada pusat pendapatan adalah bagian pendapatan pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD dan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT). Meskipun, pada satuan kerja (dinas yang lain ada yang menjalankan fungsi pendapatan, seperti retribusi terminal menjad tanggung jawab Dinas Perhubungan, namun bagian pendapatan pada DPPKAD tep melakukan koorndinasi dan membantu kesatuaan kerja tesebut untuk melakukan pemungutan pendapatan. Kinerja pendapatan pemerintah daerah secara keseluruhan tetap menjadi tanggung jawab dari bagian pendapatan DPPKAD. 13 BAB III REVIEW JURNAL Judul Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban dalam Kinerja Manajer Pusat Pertanggungjawaban (Studi Kasus Pada Produk Manufaktur PT. PINDAD (Persero)) Jurnal “Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan” Volume & Halaman Vol.3 No.1, Halaman 649-659 Tahun 2015 Penulis Denny Andriana, Kartika Balqis Reviewer Kelompok 3 Tanggal 9 Maret 2025 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan akuntansi pertanggungjawaban dalam kinerja manajer pusat pertanggungjawaban pada PT. PINDAD (Persero). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana penerapan akuntansi pertanggungjawaban dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi kinerja manajer dalam mengelola pusat pertanggungjawaban. Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada PT. PINDAD (Persero), dengan fokus pada manajer pusat pertanggungjawaban di unit manufaktur perusahaan. Metode Penilitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan survei. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 14 36 responden yang dipilih menggunakan teknik probability sampling. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rank dan koefisien determinasi menggunakan software SPSS 20.0 for Windows. Temuan Beberapa temuan dari jurnal ini adalah : 1. Akuntansi pertanggungjawaban memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja manajer pusat pertanggungjawaban dengan nilai korelasi sebesar 0,831. 2. Akuntansi pertanggungjawaban berkontribusi sebesar 69,06% terhadap kinerja manajer pusat pertanggungjawaban, sementara 30,94% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. 3. Penerapan akuntansi pertanggungjawaban di PT. PINDAD (Persero) cukup baik dengan persentase penerapan 82,21%, mencakup struktur organisasi (88,87%), anggaran penggolongan biaya sebesar (68,11%), (80,32%), sistem akuntansi (80%), dan sistem pelaporan biaya (93,76%). 4. Kinerja manajer pusat pertanggungjawaban termasuk dalam kategori baik dengan persentase 75,03%, dengan penilaian kinerja (89,35%), analisis faktor penyimpangan (83,48%), dan penegakan perilaku (52,25%). 5. Faktor utama yang mempengaruhi kinerja 15 manajer pusat pertanggungjawaban adalah kurangnya sosialisasi dalam penyusunan anggaran dan lemahnya sistem reward serta punishment dalam penegakan perilaku karyawan. Kekuatan Jurnal Jurnal ini memiliki beberapa kekuatan sebagai berikut : 1. Penelitian berbasis data empiris dengan teknik analisis statistik yang kuat, yaitu korelasi Spearman Rank dan koefisien determinasi. 2. Memberikan gambaran mendetail tentang penerapan akuntansi pertanggungjawaban dalam lingkungan bisnis yang nyata, yaitu PT. PINDAD (Persero). 3. Menggunakan berbagai variabel penelitian yang relevan dalam mengevaluasi kinerja manajer pusat pertanggungjawaban. 4. Menggunakan data primer yang dikumpulkan langsung dari perusahaan melalui kuesioner, sehingga meningkatkan validitas hasil penelitian. Kelemahan Jurnal Beberapa kelemahan dalam jurnal ini adalah: 1. Tidak membandingkan hasil penelitian dengan perusahaan lain, sehingga sulit untuk mengetahui sejauh mana penerapan akuntansi pertanggungjawaban di PT. PINDAD (Persero) dibandingkan dengan 16 industri lain. 2. Fokus penelitian masih terbatas pada hubungan antara akuntansi pertanggungjawaban dan kinerja manajer, tanpa mengeksplorasi faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian. 3. Tidak ada strategi konkret yang dijelaskan mengenai bagaimana perbaikan dalam penerapan akuntansi pertanggungjawaban dapat dilakukan secara lebih efektif di masa depan. Kesimpulan Jurnal ini menunjukkan bahwa akuntansi pertanggungjawaban memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja manajer pusat pertanggungjawaban. Dengan penerapan yang baik, akuntansi pertanggungjawaban meningkatkan efisiensi dan dapat efektivitas manajerial, namun masih terdapat beberapa kendala, seperti kurangnya keterlibatan karyawan dalam penyusunan anggaran dan sistem penegakan disiplin yang belum optimal. Penelitian ini memberikan wawasan bagi perusahaan dalam meningkatkan implementasi akuntansi pertanggungjawaban untuk mencapai target bisnis yang lebih baik. Jurnal ini dapat menjadi referensi bagi akademisi dan praktisi dalam memahami bagaimana akuntansi pertanggungjawaban dapat digunakan sebagai alat evaluasi kinerja manajerial di sektor manufaktur. 17 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Sistem pengendalian manajemen memainkan peran krusial dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Pusat pertanggungjawaban dan pusat pendapatan merupakan dua komponen penting dalam sistem ini. Pusat pertanggungjawaban bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya dan pencapaian hasil tertentu, sementara pusat pendapatan fokus pada penciptaan pendapatan tanpa memperhitungkan biaya. Kedua konsep ini saling melengkapi, di mana pemahaman yang baik mengenai keduanya dapat meningkatkan akurasi pengukuran kinerja dan efektivitas strategi bisnis. Selain itu, penerapan akuntansi pertanggungjawaban dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya, sehingga mendukung keputusan manajerial yang lebih baik. 4.2 Saran Disarankan agar organisasi terus mengembangkan sistem pengendalian manajemen dengan memberikan pelatihan kepada manajer mengenai pengelolaan pusat pertanggungjawaban dan pusat pendapatan. Penting juga untuk menerapkan sistem akuntansi yang transparan agar kinerja dapat diukur secara akurat. Evaluasi berkala terhadap pusat-pusat ini diperlukan untuk memastikan efektivitas dalam mencapai target yang ditetapkan. Dengan langkah-langkah ini, organisasi dapat meningkatkan kinerja secara berkelanjutan. 18 DAFTAR PUSTAKA Anthony, R. N., & Govindarajan, V. (2007). Management Control Systems. McGraw-Hill. Hansen, D. R., & Mowen, M. M. (2006). Management Accounting. Cengage Learning. Horngren, C. T., Sundem, G. L., & Stratton, W. O. (2012). Introduction to Management Accounting. Pearson. Larosa, A. (2004). Akuntansi Pertanggungjawaban. Salemba Empat. Merchant, K. A., & Van der Stede, W. A. (2017). Management Control Systems: Performance Measurement, Evaluation, and Incentives. Pearson. Mulyadi. (2001). Akuntansi Biaya. Salemba Empat. Samryn. (2001). Akuntansi Pertanggungjawaban dan Biaya. Salemba Empat. Andriana, D., & Balqis, K. (2015). "Peranan Akuntansi Pertanggungjawaban dalam Kinerja Manajer Pusat Pertanggungjawaban (Studi Kasus Pada Produk Manufaktur PT. PINDAD (Persero))". Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, 3(1), 649-659. 19
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )