JENIS, ALUR DAN PENGELOLAAN
SAMPEL IMUNOSEROLOGI
-
AYU ZAHERA ADNAN
-
KATHERINE JULIA
-
DEA AULIA FUTACI
Pembimbing :
dr. Verina Logito Sp.PK
SAMPEL IMUNOSEROLOGI
• Serum darah yang dianalisis untuk mendeteksi adanya antibodi atau antigen
sebagai indikator respons imun tubuh terhadap paparan antigen tertentu.
Kresno, S. B. (2003). Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
SAMPEL IMUNOSEROLOGI
Serum
Sampel utama yang paling sering digunakan dalam
pemeriksaan imunoserologi karena mengandung
antibodi yang diperlukan untuk identifikasi reaksi imun
Plasma
Alternatif dari serum, diperoleh dari darah yang
dicampur dengan antikoagulan sebelum disentrifugasi
Whole
Blood
Digunakan pada beberapa rapid test atau tes pointof-care yang memungkinkan pemeriksaan langsung
tanpa pemisahan serum atau plasma
Cairan
Tubuh lain
Beberapa pemeriksaan imunoserologi juga dapat
menggunakan cairan tubuh, seperti urin (misalnya
untuk tes kehamilan hCG atau infeksi saluran kemih
Modul Praktikum Imunoserologi. Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Aceh. (2024).
ALUR PEMERIKSAAN IMUNOSEROLOGI
Pre Analitik
• Persiapan pasien
• Pengambilan specimen
• Identifikasi specimen
• Penyimpanan dan transportasi
Analitik
• Prosedur Kerja (Identifikasi sampel, kerjakan kalibrasi dan bahan control, Analisa hasil control)
• Internal QC
• Metode Pemeriksaan (ELISA, Imunokromatografi, Aglutinasi, CLIA, IFA)
Post Analitik
• Validasi, pelaporan, interpretasi, dan komunikasi hasil
SOP Laboratorium Medik – PDS PatKLIn (Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia)
SUHU DAN DURASI PENYIMPANAN
Serum imunoserologi normal:
• disimpan pada suhu 2–8°C selama 1 hari.
Serum imunoserologi abnormal
• disimpan pada suhu 2–8°C selama 14 hari.
Serum positif hepatitis/HIV untuk kontrol
eksternal
• disimpan dalam microtube pada suhu -20°C selama 3 bulan
WHO Guidelines on Drawing Blood: Best Practices in Phlebotomy (World Health Organization, 2010)
TRANSPORTASI SAMPEL
Jenis Transportasi
Kondisi Suhu
Keterangan
Transportasi lokal (antar
ruangan/lab)
Dalam box pendingin atau es pack
Gunakan dalam waktu < 2 jam
Transportasi jarak jauh
(antarkota/antar rumah sakit)
2–8°C (cold chain)
Gunakan cool box dengan suhu
terkontrol
Sampel beku
< -20°C
Gunakan dry ice jika diperlukan
(untuk ekspor/impor riset)
Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn). (2021). Pedoman nasional pengelolaan spesimen
laboratorium di fasilitas pelayanan kesehatan. Jakarta: PDS PatKLIn.
JENIS PEMERIKSAAN (ALINITY)
HbsAg ELISA
Anti HBE
Anti HCV
ELISA
Anti CMV
HIV Total
AFP
CEA
VDRL
Procalcitonin
titerTPHA
PSA
CA 125
CA 15-3
CA 19-3
Kuantitatif
VDRL
Feritin
H-HCG
JENIS PEMERIKSAAN (VIDAS)
Toxoplasma
IgM
Toxoplasma
IgG
Anti HAV
Total
Anti HAV
IgM
HbeAgAnti
Hbs
Rubella
IgM
Rubella
IgG
Anti CMV
IgG
Estradiol
LH
FSH
Prolaktin
Vit. D
NT Pro BNP
JENIS PEMERIKSAAN (ALEGRIA)
Anti HSV
2 IgM
Anti HSV
2 IgG
Panel
Ana
ANA Test
Anti dsDNA
JENIS PEMERIKSAAN
Anti Dengue
(igM, IgG)
Widal
NS1
Anti HBS
rapid
Tubex IgM
Anti HBS
rapid
RF
HBsAg
Kromatografi
RF titer
ALUR PEMBUANGAN SAMPEL IMUNOSEROLOGI
a. Penyimpanan Sementara
• Sisa serum disimpan selama maksimal 7 hari pada suhu 2–8°C jika diperlukan pengujian ulang.
• Setelah itu harus dimusnahkan.
b. Disinfeksi Awal
• Sampel dapat direndam terlebih dahulu dengan larutan disinfektan seperti:
• Sodium hipoklorit 0,5–1%, atau
• Fenol 5% selama 30 menit.
c. Pemusnahan
• Dilakukan melalui:
• Autoklaf (sterilisasi suhu 121°C selama 15–30 menit), atau
• Incinator (pembakaran suhu tinggi) untuk limbah padat seperti tabung bekas.
• Cairan dibuang ke saluran khusus limbah B3 setelah disterilkan.
d. Pengemasan
• Gunakan kantong kuning (simbol biohazard) untuk limbah infeksius.
• Labeli dengan benar dan simpan dalam tempat tertutup sebelum dikumpulkan oleh pengelola limbah medis.
Permenkes RI No. 18 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Medis Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
TERIMA KASIH
PENGGUNAAN PLASMA PADA PEMERIKSAAN IMUNOSEROLOGI
Jenis Tes
Keterangan
ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)
Digunakan untuk mendeteksi antibodi/antigen terhadap HIV, hepatitis B
dan C, dengue, COVID-19, dll.
Rapid Test (Tes Cepat)
Misalnya rapid test IgG/IgM untuk COVID-19, HIV, atau dengue.
Biasanya bisa menggunakan plasma, serum, atau darah utuh.
Tes Aglutinasi (Latex Agglutination, Hemaglutinasi)
Untuk deteksi antibodi pada beberapa infeksi (misalnya Salmonella,
Toxoplasma). Plasma cocok karena tidak memerlukan pembekuan.
Western Blot
Tes konfirmasi infeksi HIV, bisa dilakukan menggunakan plasma.
Uji Imunofluoresensi (IFA)
Untuk diagnosis penyakit autoimun atau infeksi tertentu seperti
Toxoplasma, bisa memakai plasma.
CMIA (Chemiluminescent Microparticle
Immunoassay)
Digunakan pada alat otomatis, misalnya untuk HIV, hepatitis, hormon –
bisa memakai plasma.
Tes TORCH
Panel serologi untuk infeksi Toxoplasma, Rubella, CMV, Herpes – sering
menggunakan plasma atau serum