TOR (Tern of referance) PERBANDINGAN KUALITAS NUTRISI PAKAN TERNAK DOMBA ROTE YANG DIPELIHARA SECARA EKSTENSIF DI DAERAH PESISIR DENGAN DAERAH PEDALAMAN Oleh : Aldi Riady Ello 2205030136 PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG 2025 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Domba merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh masayarakat dan terdapat hampir diseluruh bagian Indonesia. Domba lokal mempunyai beberapa keunggulan yakni dapat beradaptasi pada iklim setempat, daya tahan tinggi terhadap penyakit dan parasit lokal, serta dapat memanfaatkan pakan berkualitas rendah. Pada kondisi alami, domba bergantung pada pakan dari padang pengembalaan sebagai sumber nutrisi utama untuk kelangsungan hidup dan produksi (Husnia et al., 2024). Dengan adanya potensi yang dimiliki domba lokal, maka domba dapat dijadikan salah satu ternak unggulan dalam sektor peternakan lokal khususnya daerah Rote Ndao mengingat Pulau Rote menjadi daerah bagian timur yang memiliki populasi domba terbesar di NTT yaitu sebesar 28.113 ekor (BPS Rote Ndao, 2024). Menurut (Agustono et al., 2017) usaha produksi peternakan sangat bergantung pada ketersediaan pakan hijauan yang berkualitas, karena hal ini menentukan tingkat produktivitas ternak. Peningkatan produktivitas peternakan dapat dicapai melalui pemberian pakan yang optimal sesuai kebutuhan ternak. Pakan merupakan komponen produksi dengan proporsi biaya terbesar, mencapai 60-80% dari total biaya produksi. Bagi ternak ruminansia, hijauan merupakan pakan utama sehingga ketersediaan dan mutunya sangat menentukan produktivitas serta perkembangan ternak tersebut. Pernyataan tersebut juga didukung dengan adanya pendapat dari (Nurhidayati et al., 2023) yang menyatakan bahwa pakan merupakan faktor terpenting yang mendukung kelancaran suatu usaha peternakan, dimana 60-70% biaya produksi usaha peternakan berasal dari pakan. Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia, sehingga untuk meningkatkan produksi ternak harus diikuti oleh peningkatan penyediaan hijauan yang cukup, baik dalam segi kuantitas maupun kualitas. Berdasarkan klasifikasinya, tanaman pakan terdiri dari jenis rumput-rumputan (Graminae) dan legum (leguminosae). Jenis Graminae merupakan sumber serat kasar yang membentuk energi, sedangkan leguminosae merupakan sumber protein karena pada umumnya mengandung protein kasar >18% (Sawen & Abdullah, 2020). Selain rumput dan legum, menurut (De Lima & Patty, 2021) Limbah tanaman pangan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan yang dapat memasok zat zat makanan untuk kebutuhkan ternak, untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi. Umumnya limbah tanaman pangan berlimpah pada saat panen, namun penggunaanya sebagai pakan perlu ada teknologi pengolahan agar kualitas nutrisinya seperti kandungan karbohidrat dan protein meningkat dan dapat tersedia sepanjang tahun. Pemeliharaan ternak domba Rote secara ekstensif masih menjadi pilihan masyarakat pulau Rote, dimana ternak dilepas di padang penggembalaan dan dibiarkan untuk mencari pakan sendiri. Sistem ini sangat bergantung pada ketersediaan pakan alami, sehingga kondisi geografis yang berbeda seperti pesisir dan pedalaman dapat menentukan kualitas vegetasi tanaman pakan yang berbeda pula. Keterbatasan ini semakin terasa mengingat karakteristik ekosistem seperti jenis vegetasi, ketersediaan air, dan kondisi tanah di kedua wilayah tersebut sangat berbeda, terutama karena dominasi lahan marginal. Dalam konteks ini lahan marginal adalah lahan yang memiliki kualitas rendah karena beberapa faktor pembatas yang dimilikinya, baik berupa struktur, fisik, maupun kimiawinya. 83% dari total daratan Indonesia, merupakan lahan sub optimal, baik berupa lahan kering maupun lahan basah, dengan luasan masingmasing 123,1 juta ha dan 34,1 juta ha. Dari luasan tersebut, hanya 58% yang sesuai untuk pengembangan pertanian, dan selebihnya kurang sesuai untuk pengembangan pertanian, salah satunya yaitu berupa tanah berpasir (Spodosols atau Quartzipsamments). Tanah berpasir ini umumnya berada di wilayah pesisir. lahan sub optimal merupakan lahan dengan produktivitas alami yang rendah, mencakup berbagai jenis seperti lahan kering masam, lahan kering di daerah beriklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa lebak, dan lahan gambut. Karakteristik tanah di daerah pesisir berbeda signifikan dengan tanah di pemukiman penduduk, baik dalam hal sifat fisik, warna, lingkungan, maupun tingkat kesuburan. Umumnya, tanah pesisir didominasi oleh pasir dengan ciri khas berupa tekstur berpasir, struktur tanah yang lepas, berbutir, memiliki porositas tinggi, kemampuan menahan air yang buruk, serta kandungan bahan organik yang minim (Sudolar, 2020). Hal ini memengaruhi ketersediaan dan kualitas tanaman pakan atau vegetasi yang ada didaerah pesisir. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Rasminati, 2017) yang melihat perbandingan kambing perankan ettawah (PE) pada daerah pesisir dan pegunungan di kabupaten Kulon Progo, menunjukan bahwa ukuran-ukuran tubuh kambing PE induk di daerah pantai secara umum lebih rendah dibandingkan dengan daerah pegunungan, sebaliknya kambing PE jantan, dara dan cempe mempunyai ukuran ukuran tubuh yang lebih tinggi. Tentu saja hal ini berkaitan dengan kualitas pakan yang berbeda dikedua daerah tersebut mengingat pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam produktivitas ternak. Hingga saat ini belum banyak penelitian yang secara detail membandingkan kualitas pakan domba Rote baik di daerah pedalaman maupun pesisir di wilayah Rote Ndao dan bagaimana perbedaan ini berpengaruh tehadap performa yang dihasilkan domba Rote. Hal ini menyebabkan dalam pengembangan domba Rote menjadi terhambat karena kurangnya data dan referensi bagi peneliti dan peternak. Oleh karena itu penelitian ini sangat penting dilakukan, selain itu dalam membantu pemerintah menjalankan program (Ayo Bangun NTT) yang menjadikan domba Rote sebagai komoditas unggul, maka hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan informasi dasar sebagai bahan pertimbangan dalam kebijakan pemeliharaan ternak domba Rote diantaranya dalam memilih lokasi pemeliharaan area pesisir dan pedalaman yang masing-masingnya memiliki jenis vegetasi yang beragam dan nutrisi yang berbeda bagi pertumbuhan domba Rote. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang diuraikan maka dapat dirumuskan batasan masalah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu : 1. Bagaimana perbedaan kualitas nutrisi pakan ternak domba Rote yang dipelihara secara ekstensif didaerah pesisir dan pedalaman? 1.3.Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu : 1. Untuk mengetahui perbedaan kulalitas nutrisi pakan ternak domba Rote yang dipelihara secara ekstensif di daerah pesisir dan pedalaman 1.4.Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih ilmu pengetahuan bagi Universitas Nusa Cendana dan menjadi referensi bagi peneliti yang akan meneliti dalam bidang terkait. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya peternak terkait perbedaan kualitas nutrisi pakan ternak domba Rote yang dipelihara secara ekstensif di daerah pesisir dan pedalaman sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan ternak domba rote sebagai komoditas unggulan di Nusa Tenggara Timur, terkhususnya pulau Rote. 1.5. Hipotesis H0: Tidak ada perbedaan signifikan pada kualitas nutrisi pakan ternak domba Rote yang dipelihara secara ekstensif di daerah pesisir dan daerah pedalaman. H1: Terdapat perbedaan signifikan pada kualitas nutrisi pakan ternak domba Rote yang dipelihara secara ekstensif di daerah pesisir dan daerah pedalaman. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2025 di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Lokasi penelitian meliputi dua wilayah dengan karakteristik geografis yang berbeda yaitu daerah pesisir dan pedalaman di Kecamatan Pantai Baru, Desa Matasio, Desa Ofalangga dan Pengodua yang mewakili daerah pesisir dan Kecamatan Loaholu, Desa Mundek, Oetutulu dan Lekunik, mewakili daerah pedalaman. Dasar pemilihan lokasi adalah sebagai berikut : 1. Populasi Ternak Domba Berdasarkan data dari BPS Rote Ndao (2024), populasi ternak domba di wilayah ini mencapai 28.113 ekor, menjadikan Rote sebagai daerah dengan populasi domba terbesar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini memperkuat relevansi wilayah sebagai pusat pengembangan komoditas domba lokal. 2. Kondisi dan letak geografis ๏ท Wilayah pesisir: Kecamatan Pantai Baru (Desa Matasio, Ofalangga, dan Pengodua) ๏ท Wilayah pedalaman: Kecamatan Loaholu (Desa Mundek, Oetutulu, dan Lekunik) Kedua wilayah ini memiliki karakteristik geografis dan ekosistem yang sangat berbeda, seperti jenis vegetasi, serta kondisi tanah. Perbedaan ini memberikan dasar kuat untuk membandingkan kualitas pakan alami. 3.2. Alat dan Bahan 1. Gunting untuk memotong sampel yang ingin diamati (rumput, legum, limbah pertanian dan hujauan pepohonan non legum). 2. Plastik hitam/koran untuk menyimpan sampel. 3. Timbangan untuk mengukur berat sampel yang diambil. 4. Alat laboratorium untuk analisis proksimat (protein, lemak, serat, abu). 5. Smartphone untuk mendokumentasi setiap kegiatan pengambilann sampel, serta menggunakan aplikasi GPS untuk mengetahui titik lokasi pengambilan sampel, suhu, dan jam. 6. Aplikasi SPSS untuk menganalisis data statistik ( uji T-test) 7. Kuadran ukuran 50 cm × 50 cm (50 cm²) untuk mengetahui jenis vegetasi apa saja yang dikonsumsi ternak domba Rote dalam satu titik. 8. Alat tulis dan buku untuk mecatat data yang diperlukan. 3.3. Teknik Pengumpulan Data A. Observasi : Dilakukan peneliti dengan mengamati secara langsung dilapangan tempat ternak digembalakan untuk mendapat data primer meliputi : 1. Rumput yang dikonsumsi oleh domba Rote di lokasi yang berbeda yaitu pesisir dan pedalaman. Dilakukan dengan melihat langsung dikedua lokasi jenis rumput apa saja yang dikonsumsi oleh ternak domba kemudian dicatat dan diambil menggunakan gunting dan disimpan dalam plastik hitam/koran. 2. Legum yang dikonsumsi oleh domba Rote di lokasi yang berbeda yaitu pesisir dan pedalaman. Dilakukan dengan melihat langsung dikedua lokasi jenis legum apa saja yang dikonsumsi oleh ternak domba, kemuan dicatat dan diambil menggunakan gunting dan disimpan dalam plastik hitam/koran. 3. Limbah pertanian yang dikonsumsi oleh domba Rote di lokasi yang berbeda yaitu pesisir dan pedalaman. Dilakukan dengan melihat langsung dikedua lokasi jenis limbah pertanian apa saja yang dikonsumsi oleh ternak domba, kemudian dicatat dan diambil menggunakan gunting dan disimpan dalam plastik hitam. 4. Hujauan pepohonan non legum yang dikonsumsi oleh domba Rote di lokasi yang berbeda yaitu pesisir dan pedalaman. Dilakukan dengan melihat langsung dikedua lokasi jenis hijauan pepohonan non legum apa saja yang dikonsumsi oleh ternak domba, kemudian dicatat dan diambil menggunakan gunting dan disimpan dalam plastik hitam/koran. B. Analisis lab: 1. Analisis Proksimat. Semua sampel yang telah terkumpul dikirim ke laboratorium untuk dilakukan analisis proksimat untuk mendapatkan data kandungan nutrisi berupa lemak, protein, serat dan abu. C. Dokumentasi : Kegiatan dokumentasi dilakukan peneliti dengan melakukan pengumpulan dan pengkajian informasi dari berbagai sumber yaitu buku/literature, terbitan-terbitan berkala dan informasi internet serta dokumen kegiatan lapangan yang akan didokumentasikan. Dokumentasi dilakukan menggunakan alat bantu smartphone. D. Variabel yang diamati : a. Variabel bebas : 1. Daerah pesisir di pulau Rote 2. Daerah pedalaman di pulau Rote b. Variabel terikat : 1. Kualitas rumput yang dikonsumsi domba Rote yang meliputi lemak, protein, serat, abu 2. Kualitas legum yang dikonsumsi domba Rote yang meliputi lemak, protein, serat, abu. 3. Kualitas limbah pertanian yang dikonsumsi domba Rote yang meliputi lemak, protein, serat, abu. 4. Kualitas hijauan pepohonan non legum yang dikonsumsi domba Rote yang meliputi lemak, protein, serat, abu. 3.4. Prosedur Pengambilan Sampel`dan Perlakuan Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, dilakukan pada 6 titik lokasi dari 2 daerah yang berbeda, 3 loksai mewakili pesisir dan 3 lokasi mewakii pedalaman. Sampel diambil langsung pada padang penggembalaan dengan cara : 1. Melihat secara sengaja pada titik domba meruput. 2. Menggunakan kuadran 50cm × 50cm dan diletakan ditempat domba makan setelah domba berpindah 3. Sampel dipotong meggunakan gunting/pisau lalu dimasukan kedalam amplop yang dibuat dari koran 4. Setelah pengambilan, sampel ditimbang menggunakan timbangan digital untuk mendapatkan berat segar 5. Pemberian tanda pada amplop sampel untuk membedakan setiap kuadran dan lokasi pengambilan 6. Sampel dibawa kepenginapan lalu diangin anginkan dan dijemur agar tidak mengalami kerusakan 7. Setelah semua sampe terkumpul sampel bawah ke kupang 8. Tiba dikupang sampel dijemur lagi dan ditimbang secara berkala agar mendapatkan berat yang konstan 9. Sampel digabung menurut jenisnya masing masing 10. Sampel diblender sampai halus 11. Sampel dibawah ke laboratorium untuk di analsis. 3.5. Teknik Analisis Data Analisa data diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan dari penelitian yang dilaksanakan menggunakan Uji Independent T test (Hidayat & Insafitri, 2021). Rumus : ๐กโ๐๐ก๐ข๐๐ = ๐ฅ1 − ๐ฅ2 2 2 √(๐1 − 1)๐ 1 + ๐ 2 (๐2 − 1) ( 1 + 1 ) ๐1 + ๐2 − 2 ๐1 ๐2 Keterangan: ๐1= rata-rata kelompok 1 ๐2= rata-rata kelompok 2 ๐1= standar deviasi kelompok 1 ๐2 = standar deviasi kelompok 2 DAFTAR PUSTAKA Agustono, B., Lamid, M., & Purnama, M. T. E. (2017). Identification of Agricultural and Plantation Byproducts as Inconventional Feed Nutrition in Banyuwangi. Jurnal Medik Veteriner, 1(1), 12–22. https://www.researchgate.net/publication/322095385 De Lima, D., & Patty, C. W. (2021). Potensi Limbah Pertanian Tanaman Pangan Sebagai Pakan Ternak Ruminasia Di Kecamatan Waelatakabupaten Buru. Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak Dan Tanaman, 9(1), 36–43. https://doi.org/10.30598/ajitt.2021.9.1.36-43 Hidayat, H. N., & Insafitri. (2021). Analisa Kadar Proksimat Pada Thalassia Hemprichi Dan Galaxaura Rugosa di Kabupaten Bangkalan. Journal Trunojoyo (Juvenil), 2(4), 307–317. http://doi.org/10.21107/juvenil.v2i4.12565 Husnia, A., Aprilya, R., & Atifah, Y. (2024). Study Literature : Analisis Tingkah Laku Makan Domba Lokal ( Ovis aries ). 636–644. Nurhidayati, N., Daru, T. P., Ibrahim, I., & Safitri, A. (2023). Potensi Pengembangan Ternak Sapi Potong Berdasarkan Ketersediaan Hijauan Pakan di Kabupaten Berau. Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis, 6(1), 14. https://doi.org/10.30872/jpltrop.v6i1.10013 Rasminati, N. (2017). Grade Kambing Peranakan Ettawa pada Kondisi Wilayah yang Berbeda. Sains Peternakan, 12(1), 43. https://doi.org/10.20961/sainspet.v11i1.4856 Sawen, D., & Abdullah, L. (2020). Potensi Legum Pohon “Dema” Asal Kabupaten Sarmi Papua Sebagai Hijauan Pakan. Jurnal Ilmu Peternakan Dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science), 10(2), 98. https://doi.org/10.46549/jipvet.v10i2.99 Sudolar, N. R. (2020). Potensi Pengembangan Budi Daya Ternak Kambing di Wilayah Pesisir. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal Ke-8 Tahun http://conference.unsri.ac.id/index.php/lahansuboptimal/article/view/1983 2020, 702–709.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )