Nama : A. Nur Amilah Fadhlina NIM : 2310322001 Kelas : Indigenous and Cultural Psychology B 1. Definisi Indigenous and Cultural Psychology Psikologi indigenous dan psikologi budaya merupakan dua bidang dalam psikologi yang mempelajari bagaimana konteks budaya mempengaruhi perilaku manusia. Psikologi indigenous berfokus pada studi pengetahuan, kepercayaan, dan praktik psikologis yang berasal dari suatu budaya tertentu. Bidang ini bertujuan untuk memahami proses psikologis dan perilaku dalam konteks budaya aslinya, bukan sekadar menerapkan teori psikologi Barat secara universal (Enriquez, 1993; Kim, Yang, & Hwang, 2006). Sementara itu, psikologi budaya meneliti bagaimana budaya membentuk proses psikologis seperti persepsi, kognisi, emosi, dan perilaku individu (Berry, Poortinga, Segall, & Dasen, 2002). Psikologi budaya menekankan bahwa pengalaman manusia tidak dapat dipahami secara utuh tanpa mempertimbangkan latar belakang budaya tempat individu tersebut berkembang. 2. Tujuan Indigenous and Cultural Psychology Tujuan utama dari psikologi indigenous adalah mengembangkan teori dan praktik psikologis yang lebih sesuai dan aplikatif bagi komunitas lokal (Kim et al., 2006). Pendekatan ini membantu mengurangi ketergantungan pada model psikologi Barat yang mungkin kurang relevan dalam konteks budaya tertentu. Selain itu, psikologi indigenous juga bertujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan metode ilmiah modern guna menciptakan intervensi yang lebih efektif secara budaya (Enriquez, 1993). Sementara itu, psikologi budaya bertujuan untuk memahami peran budaya dalam membentuk proses psikologis dan perilaku individu. Berry et al. (2002) menekankan bahwa bidang ini berupaya mengidentifikasi pola psikologis yang spesifik dalam suatu budaya serta pola yang bersifat lintas budaya. Dengan memahami faktor-faktor budaya yang mempengaruhi perilaku, psikologi budaya dapat memberikan wawasan yang lebih luas dalam studi psikologi secara global. 3. Pentingnya Mempelajari Indigenous and Cultural Psychology Mempelajari psikologi indigenous sangat penting untuk mengembangkan teori psikologi, intervensi, dan kebijakan yang lebih sesuai dengan konteks budaya lokal (Shiraev & Levy, 2010). Dengan pendekatan ini, penelitian dan praktik psikologis dapat lebih selaras dengan nilai, kepercayaan, dan pengalaman komunitas tertentu. Selain itu, psikologi indigenous juga berperan dalam melestarikan warisan budaya serta pengetahuan tradisional yang berharga bagi kesejahteraan mental dan sosial masyarakat (Enriquez, 1993). Psikologi budaya juga sangat penting dalam memahami keberagaman budaya dan pengaruhnya terhadap proses psikologis. Dengan memahami peran budaya dalam membentuk perilaku manusia, individu dapat meningkatkan sensitivitas budaya, mengurangi bias, serta memperbaiki komunikasi lintas budaya (Berry et al., 2002). Pengetahuan ini menjadi semakin relevan dalam dunia global yang semakin terhubung, di mana interaksi antarbudaya semakin sering terjadi. 4. Model dan Perkembangan Indigenous and Cultural Psychology A. Model Indigenous and Cultural Psychology a. Pendekatan Evolusioner Pendekatan evolusioner mengeksplorasi bagaimana proses evolusi memengaruhi perilaku manusia serta faktor biologis yang menjadi dasar budaya individu. Menurut model ini, tujuan utama manusia adalah bertahan hidup, yang meliputi kebutuhan akan sumber daya seperti pasangan, reproduksi, dan pengasuhan anak. Individu berusaha menghindari rasa sakit serta menghilangkan ancaman terhadap kesejahteraan mereka. Perspektif ini juga menyoroti perbedaan gender, di mana perempuan lebih cenderung mencari dukungan sosial dan bersikap altruistik, sementara laki-laki lebih menginginkan pengorbanan dari perempuan (Kim et al., 2006). b. Pendekatan Sosiologis Pendekatan sosiologis menekankan bagaimana struktur sosial yang luas berperan dalam membentuk perilaku individu dan masyarakat. Siklus kehidupan individu dimulai dengan ide yang dikembangkan seseorang, yang kemudian memengaruhi lingkungan sosialnya, sehingga menciptakan perubahan sosial. Dalam pendekatan ini, terdapat dua kelas sosial utama: mereka yang memiliki sumber daya dan kekuasaan, serta mereka yang tidak memiliki akses terhadap sumber daya. Kelas yang berkuasa akan membentuk sistem pemerintahan, hukum, dan ideologi, sementara kelompok yang tertindas memiliki kepercayaan, norma, dan nilai tersendiri (Berry et al., 2002). c. Pendekatan Ekokultural Pendekatan ekokultural berpendapat bahwa individu tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya karena lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan manusia. Model ini, yang dikembangkan oleh John Berry, menyoroti bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungan dan menyesuaikan diri dengannya melalui faktor-faktor seperti lingkungan ekologis (interaksi manusia dengan alam) dan lingkungan sosial-politik (partisipasi individu dalam keputusan global dan lokal). Adaptasi ini melibatkan transmisi genetik, budaya, serta akulturasi dalam konteks budaya tertentu (Berry et al., 2002). d. Pendekatan Campuran Budaya Pendekatan ini mengkritik asumsi lama dalam psikologi lintas budaya yang menganggap budaya sebagai entitas statis. Sebaliknya, realitas sosial, teknologi, politik, dan ekonomi terus berubah, menciptakan budaya yang lebih dinamis dan bercampur. Globalisasi telah memungkinkan individu untuk memilih budaya yang mereka adopsi, baik dalam aspek ekonomi-politik (misalnya, pasar bebas) maupun dalam budaya-psikologis (toleransi dan keterbukaan). Para psikolog berpendapat bahwa globalisasi dapat melemahkan budaya lokal dan memperkuat budaya global, meskipun pengaruhnya tidak merata di seluruh populasi (Shiraev & Levy, 2010). e. Pendekatan Integratif Pendekatan integratif menyoroti pentingnya aktivitas manusia serta akses terhadap sumber daya dalam menentukan kesejahteraan individu. Manusia dipandang sebagai makhluk aktif, rasional, dan memiliki kehendak bebas. Akses terhadap sumber daya menentukan jenis dan arah aktivitas seseorang, yang berdampak pada keputusan individu, seperti memilih untuk merantau guna mendapatkan fasilitas yang lebih baik (Kim et al., 2006). f. Sukuisme dan Multikulturalisme Etnosentrisme: Sikap yang melebih-lebihkan keunggulan etnis atau suku sendiri dibandingkan dengan kelompok lain. Multikulturalisme: Perspektif psikologi yang menekankan pentingnya kesetaraan budaya, dengan menegaskan bahwa setiap kelompok budaya memiliki hak untuk berkembang sesuai dengan nilai dan norma mereka sendiri. Multikulturalisme juga berusaha memahami bagaimana motivasi, emosi, dan perilaku individu dipengaruhi oleh etnisitas dan budaya tertentu (Berry et al., 2002). B. Perkembangan Indigenous and Cultural Psychology Psikologi indigenous dan psikologi lintas budaya merupakan cabang ilmu yang relatif baru, berkembang dari tradisi intelektual Eropa dan kemudian berkembang di Amerika Serikat. Psikologi lintas budaya mencakup berbagai disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi, sejarah, fisiologi, dan ilmu politik. Perubahan signifikan terjadi pada abad ke-15 dengan meningkatnya interaksi antarindividu, kemajuan ilmu pengetahuan, perdagangan, serta eksplorasi geografis. Periode pencerahan pada abad ke17 hingga ke-19 mendorong perkembangan pemikiran mengenai sifat manusia, yang dipengaruhi oleh filsuf seperti René Descartes di Belanda dan Immanuel Kant di Prusia (Shiraev & Levy, 2010). Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, minat terhadap ilmu sosial semakin meningkat. Para psikolog awalnya menggunakan analogi sederhana seperti naluri sosial dan imitasi untuk menjelaskan perilaku manusia lintas budaya. Namun, penelitian kemudian berkembang dari spekulatif menjadi lebih empiris, dengan penekanan pada interaksi antara individu dan lingkungannya. Pada tahun 1960-an, psikologi lintas budaya berkembang sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Pada tahun 1970-an, jurnal psikologi lintas budaya mulai diterbitkan, diikuti oleh berdirinya Asosiasi Internasional Psikologi Lintas Budaya pada tahun 1972. Pada tahun 1980-an, dua buku pegangan inovatif dalam bidang ini diterbitkan, diikuti dengan edisi kedua pada tahun 1997, yang semakin memperkuat posisi psikologi lintas budaya sebagai bidang akademik yang mapan (Berry et al., 2002). Referensi Berry, J. W., Poortinga, Y. H., Segall, M. H., & Dasen, P. R. (2002). Cross-cultural psychology: Research and applications (2nd ed.). Cambridge University Press. Enriquez, V. G. (1993). Indigenous psychology: A Philippine perspective. Akademya ng Sikolohiyang Pilipino. Kim, U., Yang, K., & Hwang, K. (Eds.). (2006). Indigenous and cultural psychology: Understanding people in context. Springer. Shiraev, E. B., & Levy, D. A. (2010). Cross-cultural psychology: Critical thinking and contemporary applications (4th ed.). Pearson Education.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )