Kinetika Ekstraksi Ekstrak Bunga Calendula (Calendula officinalis L.): Menggunakan Ultrasonic-Assisted Extraction Naily Mufidatul Hasanah*, Eka Puji Susanti*, Ansori*, Ditta Kharisma Yolanda Putri* , Boy Arief Fachri* *Program Studi Teknik Kimia Universitas JemberJalan Kalimantan 37, Jember, Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika ekstraksi senyawa aktif dari bunga Calendula (Calendula officinalis L.) menggunakan metode Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE). Parameter ekstraksi yang diteliti meliputi suhu (30–70°C), waktu ekstraksi (20–40 menit), dan rasio bahan terhadap pelarut (0,05–0,15 g/mL). Hasil menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap rendemen (yield) ekstrak. Yield tertinggi sebesar 66,5% diperoleh pada kondisi suhu 50°C, waktu 40 menit, dan rasio bahan 0,15 g/mL. Model kinetika difusi terkendali digunakan untuk memodelkan pelepasan senyawa aktif dari partikel ke dalam pelarut. Nilai koefisien difusi (D) yang diperoleh berkisar dari 3,8 ×10−9 cm²/s pada yield rendah hingga 5 × 10−7 cm²/s pada yield maksimum, menunjukkan hubungan positif antara yield dan laju difusi. Hasil ini menegaskan bahwa mekanisme difusi internal menjadi tahap pembatas dalam proses ekstraksi, dan bahwa model difusi radial dari hukum Fick dapat digunakan untuk menggambarkan dinamika ekstraksi secara akurat. Melalui pendekatan pemodelan dan optimasi statistik menggunakan desain Box-Behnken dan analisis ANOVA, diperoleh model regresi kuadratik yang sangat baik (R² = 0,9951). Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan metode ekstraksi senyawa bioaktif yang efisien dan dapat digunakan sebagai dasar dalam skala industri maupun aplikasi fungsional lainnya. Kata Kunci: Calendula officinalis L., ekstraksi ekstrak calendula, Ultrasonic-Assisted Extraction, kinetika reaksi, yield. Abstrak Grafis 1 1. Latar Belakang Calendula officinalis L. (pot marigold) termasuk dalam keluarga Asteraceae/ Compositae, yang berasal dari Eropa Tengah dan Mediterania. Calendula officinalis L. (pot marigold) memiliki komponen aktifnya meliputi karotenoid, alkohol triterpene, dan ester asam lemaknya, saponin triterpene, kumarin, ekstrak esensial, hidrokarbon, flavonoid, serta asam lemak. Kepala bunga kering tanaman ini digunakan sebagai obat herbal dengan efek anti-inflamasi dan antibakteri (Pourshahidi & Sheykhbahaei, 2021). Selain itu ekstrak bunga tanaman ini merupakan bahan utama yang digunakan dalam produk kosmetik. Karena mengandung beberapa senyawa bioaktif seperti terpenoids dan terpenes (bisabolol, faradiol, chamazulene, arnidiol, dan ester), karotenoid (dengan struktur rubixanthin dan likopen), flavonoid (quercetin, isorhamnetin, dan aglycones kaempferol), serta asam lemak tak jenuh (asam calendic) (Silva et al., 2021). Minat terhadap bahan-bahan alami saat ini semakin meningkat sehingga studi lebih lanjut mengenai kandungan kimia dan sifat farmakologis bunga calendula menjadi semakin relevan. Untuk memanfaatkan potensi bunga calendula secara optimal dalam berbagai aplikasi industri, pemahaman mendalam tentang kinetika reaksi senyawa aktifnya sangat diperlukan. Kinetika reaksi menggambarkan laju dan mekanisme reaksi kimia yang terjadi pada senyawa-senyawa dalam kondisi tertentu. Pengetahuan ini penting dalam menentukan metode ekstraksi, pemrosesan, dan stabilitas senyawa aktif dalam produk akhir (Tetti, 2014). Dengan memahami bagaimana senyawa aktif bereaksi terhadap perubahan suhu, pH, dan kondisi lingkungan lainnya, pengolahan bunga calendula dapat dioptimalkan untuk memaksimalkan efisiensi dan kualitas produk yang dihasilkan (Escher et al., 2019). Kajian mengenai kinetika ekstraksi ekstrak calendula dari tanaman telah banyak dilakukan, Maharaj & McGaw (2020) mengkaji model matematika ekstraksi uap ekstrak calendula daun basil, berdasarkan perpindahan difusi dan konveksi simultan ke fase uap. Andras et al. (2018) menyatakan bahwa kinetika distilasi uap ekstrak calendula sejumlah tanaman mengikuti kinetika orde satu. Model kinetika ekstraksi ekstrak calendula sandalwood yang menggunakan persamaan orde dua juga telah dikembangkan oleh Kusuma & Mahfud (2016), yang menunjukkan dua proses simultan selama ekstraksi. Karakteristik kinetika ekstraksi orde dua ditandai dengan peningkatan cepat jumlah ekstrak calendula pada awal ekstraksi dan penurunan yang lambat hingga akhir proses ekstraksi (Kusuma & Mahfud, 2016). Kinetika ekstraksi ekstrak calendula penting untuk memahami fenomena, mengoperasikan, mengoptimalkan, mengendalikan, dan merancang distilasi di industri. Model kinetika memainkan peran penting dalam mengkaji proses distilasi dari sudut pandang 2 teknologi dan keekonomisan proses. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, kinetika ekstraksi ekstrak calendula tanaman didekati oleh dua proses simultan yaitu difusi dan konveksi, yang terwakili oleh model kinetika ekstraksi orde satu dan orde dua. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekstraksi ekstrak calendula lada hitam secara hidrodistilasi menggunakan dua model kinetika yaitu model kinetika ekstraksi orde satu dan orde dua serta mengetahui nilai parameter kinetika yang berkesesuaian (Shintawati et al., 2020). 2. Tujuan Riset Tujuan riset ini untuk: 1. Melakukan ekstraksi ekstrak bunga Calendula dengan metode UAE (UltrasonicAssisted Extraction) 2. Mempelajari kinetika ekstraksi ekstrak calendula dari bunga calendula (Calendula officinalis L.) dengan menggunakan metode UAE (Ultrasonic-Assisted Extraction); 3. Mengidentifikasi pengaruh suhu, waktu, serta rasio bahan dengan pelarut ekstraksi terhadap yield ekstrak calendula dari bunga calendula (Calendula officinalis L.); 3. Rumusan Masalah Berdasarkan tujuan riset, maka permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah penggunaan metode UAE (Ultrasonic-Assisted Extraction) dapat mengekstrak ekstrak calendula dari bunga calendula (Calendula officinalis L.)? 2. Apakah model kinetika ekstraksi yang dipakai tepat untuk menggambarkan proses ekstraksi ekstrak calendula dari bunga calendula (Calendula officinalis L.)? 3. Bagaimana pengaruh suhu, waktu, serta rasio bahan dengan pelarut ekstraksi terhadap yield ekstrak calendula dari bunga calendula (Calendula officinalis L.); 4. Pendekatan Pemecahan Masalah Riset yang diusulkan merupakan riset eksperimental dan modeling. Berdasarkan tujuan riset dan rumusan masalah maka metode pendekatan yang digunakan adalah: 1. Pendekatan ilmu di bidang teknik kimia khususnya konsep fundamental ekstraksi, perpindahan masa, dan analisa kimia kualitatif dan kuantitatif. 2. Pendekatan empiris berdasarkan konsep statistik dan kinetika. 3. Pendekatan komparatif dengan berdasarkan pada riset kualitatif deskriptif. 3 5. State of the Art 5.1 Bunga Calendula (Calendula officinalis L.) Calendula (Calendula officinalis L.) termasuk dalam ordo Asterales dan merupakan anggota keluarga Asteraceae; nama genus Calendula berasal dari kata Latin "Calendae," yang berarti 'hari pertama setiap bulan'. Genus ini memiliki 29 spesies (Honório, el al., 2016) Beberapa penelitian menjelaskan bahwa esktrak ekstrak Calendula (Calendula officinalis L.) mengandung beberapa senyawa antimikroba terhadap jamur dan bakteri, seperti flavonoid dan fenolik (Laura Et Al., 2020); (Ourabia, et al. 2019); Tabel 5.1 Ekstrak ekstrak bunga Calendula (Calendula officinalis L.) pada berbagai metode ekstraksi No Metode/Proses Yield, % Referensi 1. Hydrodistilation 0,9 (Salomé-Abarca et al., 2015) 2. Organic Solvent 6,7 (Salomé-Abarca et al., 2015) 3. Enfleurage 7,1 (Salomé-Abarca et al., 2015) 4. Pressurized Solvent Extraction 2.25 (Iudina, 2015) 7,38 (Ruiz-Rodriguez, 2017) 5. Supercritical Carbon Dioxide Extraction 6. Ultrasound Extraction 0.38 (Laura Et Al., 2020) 7. Hydrodistillation 1,25 (Mishra Et Al., 2018) 8. Hydro-distilation apparatus 0,004 (Ourabia et al., 2019) 0,003 (Ourabia et al., 2019) 9. Microwave-assisted hydrodistillation 10. Soxhlet 13,76-16,81 (Rafajlovska’ et al., 2014) 11. Soxhlet 8,95-13,79 (Rafajlovska’ et al., 2014) 12. Soxhlet 5,11-9,57 (Rafajlovska’ et al., 2014) 13. Maserasi 22 (Ghadyeh et al., 2019) 14. Maserasi 50 (Goktas et al., 2015) 15. Soxhlet 31,23 (Chroho et al., 2021) 16. Soxhlet 13,95 (Chroho et al., 2021) 17. Maserasi 9,82 (Meitasari et al., 2024) 18. Dekokta 0,23 (Rizki et al., 2024) 19. enzyme-assisted extractio 0,109 (Kaimainen et al., 2015) 20. hydrodistillation 0,78 (Tiwari et al., 2016) 4 21. hydrodistillation 0,69 (Okan, 2024) 22. Supercritical fluid extraction 0,55 (Zanotti et al., 2023) 5.2 Ultrasound Assisted Extraction (UAE) Ekstraksi adalah proses pemisahan komponen yang diinginkan dari suatu bahan dengan cara memisahkan satu atau lebih komponen dari bahan sumbernya. Ekstraksi ultrasonik merupakan pengembangan dari metode maserasi, di mana ekstrak diproses menggunakan gelombang ultrasonik berfrekuensi tinggi. Prinsip kerjanya melibatkan pengamatan sifat akustik gelombang ultrasonik yang merambat melalui medium, yang menyebabkan medium tersebut bergetar saat gelombang melewatinya (Setyantoro et al., 2019). UAE (Ultrasound Assisted Extraction) merupakan salah satu metode ekstraksi nonkonvensional yang telah diterapkan dalam proses ekstraksi. Metode ini dianggap menjanjikan dari sisi ekonomi karena lebih murah, sederhana, dan efisien. Selain itu, UAE telah terbukti mampu meningkatkan rendemen, selektivitas, kecepatan ekstraksi, serta kualitas senyawa fitokimia dalam hasil ekstraksi (Kusnadi et al., 2019). 6. Metodologi Riset 6.1. Tempat dan Waktu Riset Riset ini dilakukan di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Laboratorium Bioproses Program Studi Teknik Kimia Universitas Jember. Riset ini dilaksanakan mulai bulan oktober 2024 hingga bulan desember 2024. 6.2. Bahan Riset Bahan baku utama yaitu Bunga Calendula (Calendula officinalis L.) yang diperoleh dari beberapa wilayah di eropa. Etanol 96% sebagai pelarut ekstraksi, kertas saring, alkohol 70% sebagai disinfektan. 6.3. Peralatan Rancangan peralatan seperti pada Gambar 1. Gambar 1. Rancangan peralatan ekstraksi 5 6.4. Prosedur Penelitian 6.4.1. Perlakuan bahan Bunga Calendula (Calendula officinalis L.) setengah kering didesinfeksi dengan semprotan alkohol (70%). Bunga Calendula kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50oC hingga beratnya konstan. Bunga calendula kering kemudian diblender hingga halus dan kemudian di ayak dengan ukuran 80 mesh. 6.4.2. Ekstraksi Minak Atsiri Prosedur ekstraksi bunga pot marigold dibantu dengan Ultrasound generator. Pada gelas kimia 250 mL, bubuk Calendula dan pelarut dimasukkan, kemudian dugunakan Ultrasound generator dengan frekuensi yang digunakan yaitu 40 kHz dengan daya 100 W untuk memaksimalkan ekstraksi ultrasonik bunga Calendula. Waktu ekstraksi, Suhu ekstraksi, dan rasio pelarut terhadap bahan merupakan tiga variabel yang dimodifikasi. Setelah ekstraksi, ekstrak yang diperoleh disaring dan diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40oC, selama kurang lebih 13-15 menit. 6.5. Parameter Ekstraksi Parameter ekstraksi meliputi waktu ekstraksi ultrasound (20 – 40 menit), Suhu ekstraksi ultrasound (30 – 70oC), dan rasio bahan baku terhadap pelarut etanol (0,05 – 0,15 g/mL). 6 Calendula Officinalis L. Perlakuan bahan Ekstraksi calendula Purifikasi (Rotary evap) Tidak Ekstrak Calendula Ya Analisis Yield Box-Behken Model Kinetika Gambar 2. Diagram alir riset 6.6. Analisis Hasil Yield Proses analisis hasil yield yang dihasilkan dilakukan dengan menimbang berat ekstrak yang dihasilkan dan bahan baku kering yang digunakan, kemudian digunakan menggunakan rumus sebagai berikut : π΅ππππ‘ ππππ¦ππ π΄π‘π πππ (π) πππππ = ( π΅ππππ‘ ππβππ ππππ’ ππππππ (π) ) π₯100 (6.6.1) Semakin tinggi yield yang diperoleh menunjukkan efisiensi ekstraksi yang lebih baik dalam melarutkan senyawa aktif ke pelarut. 6.7. Proses optimasi dan analisa statistik Design Box-Behnken adalah metode eksperimental yang digunakan dalam metodologi permukaan respons (Response Surface Methodology, RSM) untuk optimasi proses. Metode 7 ini dirancang untuk mengoptimalkan variabel independen (faktor) dalam eksperimen dengan tujuan mencapai nilai optimum dari variabel dependen (respon). Sebelum dilakukan optimasi menggunakan desain Box-Behnken, faktor-faktor yang signifikan secara statistik (20 - 40 menit), Suhu ekstraksi ultrasound (30 – 70oC), dan rasio bahan baku terhadap pelarut (0,05 – 0,15 g/mL) digunakan screening design. 6.8. Diffusion-controlled Model Kinetika ekstraksi yang menggunakan model ini merupakan pendekatan yang digunakan untuk memahami bagaimana proses difusi mempengaruhi laju ekstraksi senyawa dari bahan padat. Model difusi terkendali ini berfokus pada bagaimana zat terlarut (ekstrak) berpindah dari dalam sel tanaman ke dalam pelarut selama proses ekstraksi. Model ini, mirip dengan persamaan fick, dimana menggambarkan laju ekstraksi, yaitu : ππΆ π2 πΆ = π·. ππ‘ ππ₯ 2 (6.9.1) di mana C adalah konsentrasi ekstrak, D adalah koefisien difusi, dan x adalah posisi dalam matriks sel. Dari persamaan tersebut kemudian dapat dimodifikasi dengan mensubstitusi π’(π, π‘) = πΆ(π, π‘)π menjadi : π2 πΆ ππΆ 2 ππΆ = π· ( ππ 2 + π ππ ) ππ‘ (6.9.2) Persamaan neraca massa Ekstrak Calendula dituliskan seperti pada Pers. (6.9.2) diasumsikan bahwa bentuk ppartikel yang diekstraksi adalah bulat. Jika asumsikan bola awalnya berada pada konsentrasi πΆ1 yang seragamdan konsentrasi permukaan dijaga konstan pada πΆ0 , maka persamaan menjadi : πΆ−πΆ1 2π = 1 − π ∑∞ π=1 πΆ −πΆ 0 1 (−1)π π πππ sin ( π ) exp ( −π·π2 π2 π‘ π 2 ) (6.9.3) Konsentrasi di pusat diberikan oleh batas r → 0, yaitu dengan πΆ−πΆ1 π = 1 + 2 ∑∞ π=1(−1) exp ( πΆ −πΆ 0 −π·π2 π 2 π‘ π 2 1 ) (6.9.4) Jika M(t) menyatakan jumlah difusi yang masuk atau keluar bola dalam waktu t dan M(∞) kuantitas yang bersesuaian pada waktu tak terhingga,maka senyawa yang telah terekstrak pada waktu t dapat dimodelkan dengan persamaan berikut ππ‘ π∞ 6 1 −π·π2 π2 π‘ = 1 − π 2 ∑∞ π=1 π2 exp ( π 2 ) (6.9.5) 7. Hasil dan Pembahasan 7.1 Analisis Hasil Yield Ekstraksi dengan bantuan gelombang ultrasonik (ultrasound-assisted extraction) memberikan hasil rendemen (yield) yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknik ekstraksi 8 konvensional. Suhu, waktu ekstraksi, dan rasio pelarut terhadap bahan terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap rendemen (yield) ekstrak calendula yang dihasilkan (Zerajic et al., 2019). Salah satu parameter penting yang diukur dalam proses ekstraksi adalah rendemen (yield). Rendemen akan mencerminkan seberapa banyak senyawa aktif yang berhasil diekstraksi dari bahan. Berdasarkan Tabel 3.1, terdapat tiga variabel utama yang mempengaruhi jumlah rendemen ekstrak bunga Calendula officinalis, yaitu rasio pelarut terhadap bahan, suhu ekstraksi dan waktu ekstraksi. Tabel 7.1 Yield Ekstrak Bunga Calendula Pada Berbagai Kondisi Eksraksi No Rasio Bahan (g/mL) Suhu (°C) Waktu (Menit) Yield (%) 1 0.15 50 20 43.7 2 0.15 50 40 66,5 3 0.1 50 30 60,7 4 0.1 30 20 30,5 5 0.1 70 40 58 6 0.15 30 30 48,1 7 0.1 50 30 61,5 8 0.1 50 30 60,01 9 0.05 30 30 31 10 0.15 70 30 55,3 11 0.05 50 40 46,5 12 0.05 50 20 44,9 13 0.1 70 20 30,7 14 0.05 70 30 50,1 15 0.1 50 30 60,2 16 0.1 50 30 59,7 17 0.1 30 40 34,9 9 Berdasarkan tabel 7.1 yield ekstraksi tertinggi terjadi pada rasio bahan 0,15 g/mL, suhu 50°C, waktu 40 menit, dengan nilai yield sebesar 66,5%. Pada kondisi ini efisiensi ekstraksi mencapai titik optimal, yang menunjukkan bahwa kombinasi suhu menengah dan waktu proses yang cukup lama memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan hasil. Suhu yang lebih tinggi mempercepat proses pelarutan senyawa target ke dalam pelarut, dan waktu yang cukup memungkinkan proses difusi berlangsung lebih sempurna, sehingga menghasilkan yield yang lebih tinggi. Dari pengulangan percobaan sebanyak 17 kali, dapat disimpulkan bahwa variabel optimal terjadi pada variabel rasio bahan 0,15 g/mL, suhu 50°C, waktu 40 menit dengan yield yang didapatkan sebesar 66,5%. Kombinasi ini memberikan keseimbangan yang baik antara efisiensi pelarutan dan stabilitas senyawa yang diekstrak. Hasil yang bervariasi dari setiap perlakuan menunjukkan pentingnya pengaruh suhu, waktu, dan rasio bahan terhadap pelarut untuk mencapai yield ekstraksi yang maksimal. Berdasarkan penelitian Zerajic, Stanko A., et al. (2019) tentang “Optimasi Ekstraksi Flavonoid dari bunga Calendula Officinalis L. Menggunakan Metode Ultrasound-Assisted Extraction” didapat yield paling rendah 3,28% dengan suhu 30°C, rasio bahan 20 g/mL, dan lama waktu ekstraksi 5 menit. Begitu juga sebaliknya yield tertinggi sebesar 10,42% dengan suhu 64,2°C, rasio bahan 39,6 g/mL, dan lama waktu ekstraksi 29 menit. 7.2 Proses optimasi dan analisa statistik 7.2.1 Plot Optimasi Respon Surface terhadap Yield Ektrak bung Calendula Rasio bahan = 0,05 g/mL Rasio bahan = 0,1 g/mL (a) (b) 10 Rasio bahan = 0,15 g/mL (c) Gambar 4. Hubungan antara suhu dan waktu terhadap yield ekstrak pada berbagai rasio bahan-pelarut (a) rasio bahan 0,05 g/mL (b) rasio bahan 0,1 g/mL (c) rasio bahan 0,15 g/mL Analisis grafis yield ekstrak calendula menggunakan metode UAE disajikan pada gambar 4 karakteristik plot permukaan 3-D menunjukkan bahwa ada interaksi yang saling melengkapi diantara faktor-faktor rasio bahan dan suhu terhadap yield hasil ekstraksi (%). Pengaruh rasio bahan, suhu dan waktu terhadap yield ekstrak terlihat pada gambar 4 (a), 4 (b), dan 4 (c). Dari grafik tersebut terlihat bahwa terdapat interaksi yang signifikan antara ketiga variabel proses yang memengaruhi hasil akhir ekstraksi. Rasio bahan 0,05 g/mL pada gambar 4a menghasilkan yield ekstrak cenderung lebih rendah dibandingkan dengan rasio yang lebih tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah bahan yang terbatas dalam volume pelarut yang relatif besar, sehingga senyawa aktif yang terekstraksi juga menjadi terbatas. Meskipun demikian, terdapat kecenderungan peningkatan yield seiring bertambahnya suhu dan waktu ekstraksi. Peningkatan suhu dari 40°C hingga 60°C umumnya berkontribusi terhadap peningkatan yield karena suhu yang lebih tinggi dapat meningkatkan kelarutan dan difusi senyawa aktif dari matriks bunga ke dalam pelarut. Demikian pula, bertambahnya waktu ekstraksi dari 20 hingga 40 menit memungkinkan proses pelarutan berjalan lebih sempurna sehingga menghasilkan yield yang lebih tinggi (Yuliantari et al., 2017). Pada rasio bahan 0,1 g/mL pada gambar 4b, peningkatan yield terlihat lebih signifikan dibandingkan dengan rasio sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah bahan memberikan lebih banyak senyawa aktif yang tersedia untuk diekstraksi. Kombinasi suhu tinggi dan waktu ekstraksi yang cukup lama menghasilkan yield yang optimal pada kondisi ini. Namun, terlihat bahwa setelah titik tertentu, peningkatan suhu dan waktu tidak lagi memberikan peningkatan yield yang signifikan, yang dapat mengindikasikan 11 tercapainya titik jenuh ekstraksi (Anwar et al., 2021). Gambar 4c, yang menunjukkan kondisi ekstraksi pada rasio bahan 0,15 g/mL, memperlihatkan yield tertinggi di antara ketiga rasio yang diuji. Namun, kurva permukaan mulai menunjukkan kecenderungan mendatar, khususnya pada kombinasi suhu dan waktu ekstraksi yang tinggi. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa pelarut mulai mengalami kejenuhan terhadap senyawa aktif, sehingga efektivitas ekstraksi tidak lagi meningkat secara proporsional dengan penambahan jumlah bahan. Meskipun demikian, pada rasio ini, pengaruh suhu dan waktu masih terlihat memberikan kontribusi positif terhadap yield. Secara keseluruhan, ketiga parameter proses yaitu suhu, waktu, dan rasio bahan menunjukkan interaksi yang saling memengaruhi terhadap hasil yield ekstrak. Berdasarkan analisis permukaan respon, dapat disimpulkan bahwa kondisi optimum untuk menghasilkan yield maksimal terdapat pada kombinasi suhu tinggi yaitu mendekati 60°C, waktu ekstraksi antara 35–40 menit, dan rasio bahan mendekati 0,15 g/mL. Kondisi tersebut memberikan efisiensi proses ekstraksi yang tinggi dengan pemanfaatan bahan dan energi secara optimal. 7.2.2 Analysis of variance (ANOVA) Analysis of variance (ANOVA) adalah metode uji statistik yang digunakan untuk memperkirakan variabel data yang lebih dominan berdasarkan hubungan antar variabel lainnya (Septiadi & Ramadhani, 2020). Kriteria utama yang digunakan dalam optimasi adalah signifikasi model (p < 0,05) dan lack of fit. Nilai komponen variabel dalam ANOVA dinyatakan signifikan apabila nilai p-value p < 0,05, dinyatakan tidak signifikan apabila nilai p-value p > 0,10 dan lack of fit harus non signifikan. Parameter lainnya adalah nilai R2 lebih dari 0,7 dan nilai adequate precision lebih dari 4 (Sharma, et al., 2009). Tabel 7.2 Analysis of variance (ANOVA) terhadap Yield Ekstrak Bunga Calendula Source Sum of Squares Df Mean Square F-value p-value Model 2317.95 9 159.58 159.58 < 0.0001 significant A-Rasio Bahan 211.15 1 130.83 130.83 < 0.0001 B-Suhu 307.52 1 307.52 190.55 < 0.0001 C-Waku 393.40 1 393.40 243.76 < 0.0001 AB 35.40 1 35.40 21.94 0.0023 12 AC 112.36 1 112.36 69.62 < 0.0001 BC 131.10 1 131.10 81.23 < 0.0001 A² 6.17 1 6.17 3.83 B² 721.02 1 721.02 446.76 < 0.0001 C² 326.88 1 326.88 202.54 < 0.0001 Residual 11.30 7 1.61 Lack of Fit 9.32 3 3.11 Pure Error 1.98 4 0.4949 Cor Total 2329.25 16 6.28 0.0194 0.054 not significant Hasil analisis dari tabel 7.2 menunjukkan nilai F-value sebesar 159,58 yang menandakan model terbentuk signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel yang dianalisis dalam model memiliki pengaruh nyata terhadap yield ekstraksi. Nilai pvalue yang sangat kecil (< 0,0001), lebih kecil dari batas signifikansi 0,0500, memperkuat kesimpulan bahwa model tersebut layak digunakan dalam mempelajari hubungan antar variabel. Dari hasil analisis, diketahui bahwa faktor-faktor A (rasio bahan), B (suhu), dan C (waktu), serta komponen kuadratnya (A², B², dan C²) merupakan istilah-istilah model yang signifikan. Sementara itu, interaksi antar variabel seperti AB, AC, dan BC tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap yield, ditunjukkan oleh nilai p > 0,05. Nilai F terbesar diperoleh pada variabel kuadrat suhu (B²), diikuti oleh waktu linear (C), dan waktu kuadrat (C²), yang menunjukkan bahwa yield ekstraksi sangat dipengaruhi oleh waktu dan suhu, terutama dalam bentuk non-linear. Hal ini mengindikasikan bahwa baik penambahan waktu maupun peningkatan suhu perlu dioptimalkan secara hati-hati karena efeknya tidak bersifat linier terhadap peningkatan yield (Segui., et al., 2015). Nilai Lack of Fit sebesar 6,28 dengan p-value 0,541 tergolong tidak signifikan (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa model tidak memiliki penyimpangan yang berarti dari data eksperimen (fit dengan baik), dan model regresi yang digunakan dapat menjelaskan data dengan akurat. Dengan demikian, model ini dapat digunakan sebagai alat prediksi yang andal untuk memahami pengaruh rasio bahan, suhu, 13 dan waktu terhadap hasil ekstrak bunga Calendula (Anadebe., et al., 2019). Tabel 7.3 Analysis of Variance (ANOVA) Fit Statistic R2 0,9951 Adjusted R2 Predicted R2 0,9889 0,9347 Adec Precision 37,7819 Analisis varian ANOVA pada tabel 3.3 menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria kelayakan. Nilai Adjusted R² yang diperoleh sebesar 0,9889, sedangkan Predicted R² adalah 0,9347. Selisih antara keduanya adalah 0,0542, yaitu kurang dari 0,2, yang menunjukkan bahwa model memiliki stabilitas yang baik dan mampu memprediksi data di luar titik-titik eksperimen dengan akurasi yang dapat diterima. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara variabelvariabel rasio bahan, suhu, dan waktu terhadap yield ekstrak bunga Calendula. Nilai R² (Koefisien Determinasi) yang diperoleh adalah 0,9951, yang lebih dari 0,7 dan mendekati angka 1, menunjukkan bahwa sebesar 99,51% variasi yield ekstraksi dapat dijelaskan oleh model. Dengan demikian, hubungan antara variabel dalam model tergolong sangat kuat. Selain itu, nilai Adequate Precision yang diperoleh adalah 37,7819, yang jauh melebihi batas minimal 4. Hal ini menandakan bahwa model memiliki rasio sinyal terhadap noise yang sangat baik, dan karenanya dapat digunakan secara efektif untuk menavigasi ruang desain dalam proses ekstraksi. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa model regresi kuadratik yang dibangun mampu menjelaskan hubungan antara variabelvariabel proses dan yield ekstraksi secara akurat dan valid. Dengan dukungan nilai-nilai statistik yang sangat baik, model ini dapat digunakan untuk prediksi dan optimasi proses ekstraksi bunga Calendula. 7.3 Diffusion-controlled Model Studi kinetika proses ekstraksi melibatkan suatu model kinetika di mana penggambaran mekanisme yang terjadi selama proses ekstraksi dinyatakan dalam suatu persamaan matematika (Bahri, et al., 2023). Untuk memahami dinamika ekstraksi, digunakan model difusi radial dalam partikel bula untuk memodelkan pelepasan senyawa aktif yang terjadi saat ekstraksi bunga calendula. Dengan kondisi batas konsentrasi permukaan yang tetap, model yang akan digunakan mengacu pada solusi difusi radial dalam bola dengan konsentrasi awal seragam menggunakan persamaan berikut (Mehrer,2007) : 14 ππ‘ π∞ 6 1 −π·π2 π 2 π‘ = 1 − π 2 ∑∞ π=1 π2 exp ( π 2 ) (7.4.1) dengan : ππ‘ : jumlah senyawa yang terekstrak pada waktu t π∞ : jumlah senyawa total/yield maksimum D : koefisien difusi (cm2/s) R : jari – jari partikel 0,009 cm (80 mesh) t : waktu berdasarkan persamaan 3.3.1 dan hasil percobaan yang ditampilkan pada tabel 3.1, π nilai π π‘ ∞ dapat dihitung dengan menggunakan data yield yang didapatkan. Selanjutnya nilai D akan dihitung dengan menggunakan metode iteratif (numerik) supaya menemukan model yang mendekati data aktual. Pendekatan yang dipakai merupakan pendekatan berbasis metode numerik yaitu brute force. Brute force adalah sebuah pendekatan yang lempang (straightforward) untuk memecahkan suatu masalah. Algoritma brute force memecahkan masalah dengan sangat sederhana, langsung dan dengan cara yang jelas (Munsyir, 2024). Perhitungan iterasi menggunakan bantuan software Matlab 2009 dan software original 2025. Hasil perhitungan tersebut disajikan pada gambar berikut ini : Gambar 5. Grafik diffusion controlled model Dari perhitungan tersebut diperoleh data nilai koefisien difusi D berada dalam kisaran : ο· 3.8 × 10β»βΉ - 7.9 × 10β»βΉ cm²/s untuk yield rendah (30.5–3.1%) ο· 6.2 × 10β»βΈ cm²/s untuk yield sedang (34.9%) ο· 43.7 × 10β»β· - 5 × 10β»β· cm²/s untuk yield tinggi (43.7% - 66.5%) 15 Grafik yang diperoleh menunjukkan hubungan antara nilai koefisien difusi dan yield ekstraksi, dimana semakin besar yield yang didapatkan maka semakin besar pula nilai koefisien. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya nilai yield, maka semakin banyak senyawa yang keluar dari partikel. Faktor – faktor yang mempengaruhi nilai yield diantaranya yaitu Dalam proses ekstraksi Calendula menggunakan metode Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE), waktu dan suhu ekstraksi berpengaruh signifikan terhadap hasil. Peningkatan suhu, khususnya hingga 70°C, juga mempercepat laju difusi karena meningkatkan mobilitas molekul dan menurunkan viskositas pelarut, sehingga nilai koefisien difusi (D) menjadi lebih tinggi. Seluruh percobaan menggunakan ukuran partikel tetap (80 mesh), sehingga efek waktu dan suhu dapat diamati lebih jelas tanpa pengaruh dari variasi ukuran ppartikel. Pola hubungan antara yield dan koefisien difusi (D) menunjukkan kecenderungan positif, di mana semakin tinggi yield yang diperoleh, semakin besar pula laju difusi senyawa aktif dari matriks partikel ke dalam pelarut. Hal ini mengindikasikan bahwa proses ekstraksi yang berlangsung didominasi oleh mekanisme kontrol difusi internal. Dominasi mekanisme ini memperkuat dugaan bahwa perpindahan massa di dalam partikel padat merupakan tahap pembatas dalam proses ekstraksi. Nilai D yang tinggi pada yield maksimum mencerminkan kondisi di mana hambatan difusi mulai berkurang, yang kemungkinan disebabkan oleh perubahan struktur matriks bahan atau meningkatnya ketersediaan senyawa aktif pada permukaan partikel. Oleh karena itu, proses ekstraksi ini berpotensi dimodelkan secara akurat menggunakan solusi analitik dari hukum difusi Fick, khususnya model difusi dalam partikel berpori. Pemahaman mengenai mekanisme ini sangat penting dalam perancangan proses industri, karena memungkinkan optimasi yield ekstraksi melalui pengaturan parameter proses seperti ukuran partikel (semakin kecil, semakin cepat laju difusi), waktu ekstraksi, serta suhu yang secara langsung memengaruhi nilai koefisien difusi. Hasil ini sejalan dengan temuan dalam literatur Megawati et al. (2019), yang juga menggunakan pendekatan model difusi radial pada ppartikel bola dalam ekstraksi minyak atsiri dari bunga pala dengan metode Microwave-Assisted Hydrodistillation (MAHD). Dalam studi tersebut, nilai koefisien difusi (De) berkisar antara 3,97 × 10β»βΉ hingga 5,65 × 10β»βΈ cm²/s, dan diketahui meningkat seiring dengan peningkatan suhu dan waktu ekstraksi. Walaupun kisaran D dalam studi Anda sedikit lebih tinggi, hal ini dapat dijelaskan oleh perbedaan bahan baku, efisiensi metode UAE yang digunakan, dan ukuran ppartikel yang relatif kecil (80 mesh). (Megawati et al., 2019) 16 Sementara itu, dalam studi Reche et al. (2021) yang mengkaji ekstraksi senyawa fenolik dari limbah artichoke menggunakan model matematis difusi-konveksi pada ekstraksi dengan dan tanpa ultrasound, nilai koefisien difusi yang diperoleh berada pada kisaran yang lebih rendah, yaitu sekitar 10β»¹β° hingga 10β»βΉ cm²/s. Mereka menyimpulkan bahwa aplikasi ultrasound (hingga 335 W/L) meningkatkan laju ekstraksi dengan memperbesar nilai koefisien difusi melalui peningkatan permeabilitas membran sel dan efek kavitasi. Meskipun tidak secara langsung menggunakan model difusi radial dalam bola, studi ini menguatkan bahwa UAE berperan penting dalam mempercepat perpindahan massa dan meningkatkan efisiensi ekstraksi. Dengan demikian, dibandingkan dengan kedua referensi tersebut, hasil eksperimen Anda menunjukkan bahwa UAE pada bunga Calendula memberikan peningkatan yang lebih signifikan terhadap nilai koefisien difusi, memperlihatkan efektivitas metode ini terutama pada kondisi suhu dan waktu optimal (Reche et al., 2021). 8. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) terbukti mampu mengekstrak senyawa aktif dari bunga Calendula officinalis L. dengan cukup efektif. Hal ini terlihat dari variasi yield yang diperoleh selama proses ekstraksi, yang dipengaruhi oleh tiga parameter utama yaitu rasio bahan terhadap pelarut, suhu ekstraksi, dan waktu ekstraksi. Model kinetika difusi terkendali (diffusion-controlled) digunakan dalam penelitian ini untuk menggambarkan mekanisme pelepasan senyawa aktif dari partikel bunga ke dalam pelarut. Hasil perhitungan koefisien difusi “D” menunjukkan bahwa semakin tinggi yield yang diperoleh, semakin besar pula nilai D yang dihasilkan. Nilai D berkisar antara 3.8 × 10β»βΉ - 7.9 × 10β»βΉ cm²/s untuk yield rendah (30.5–3.1%), 6.2 × 10β»βΈ cm²/s untuk yield sedang (34.9%), 43.7 × 10β»β· - 5 × 10β»β· cm²/s untuk yield tinggi (43.7% - 66.5%) Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa waktu dan suhu ekstraksi merupakan faktor yang paling berpengaruh signifikan, di mana peningkatan suhu dan durasi proses mempercepat difusi senyawa aktif ke dalam pelarut. Rasio bahan juga berperan penting, terutama dalam menyeimbangkan jumlah pelarut terhadap bahan agar ekstraksi berlangsung efisien. Hasil pemodelan juga menunjukkan bahwa pendekatan model difusi radial untuk partikel bola mampu mendekati data aktual dengan baik, yang berarti model ini cocok digunakan untuk menggambarkan dinamika proses ekstraksi senyawa aktif dari bunga calendula menggunakan metode UAE. Dengan demikian, kombinasi kondisi ekstraksi 17 terbaik dalam penelitian ini adalah rasio bahan 0,15 g/mL, suhu 50°C, dan waktu 40 menit, yang menghasilkan yield tertinggi dan laju difusi paling tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan metode ekstraksi senyawa alami berbasis ultrasound dan bisa menjadi dasar pengembangan lebih lanjut pada skala industri maupun aplikasi fungsional lainnya. 18 Daftar Pustaka Anwar, K., Istiqamah, F., & Hadi, S. (2021). Optimasi Suhu dan Waktu Ekstraksi Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia jack.) Menggunakan Metode RSM (response surface methodology) dengan Pelarut Etanol 70%. Jurnal Pharmascience, 8(1), 53. https://doi.org/10.20527/jps.v8i1.9085 Chroho, M., Drioiche, A., Saidi, S., Zair, T., & Bouissane, L. (2021). Total phenolic and flavonoids contents and in vitro evaluation of antioxidant activity of several Calendula officinalis ( Marigold ) extracts m er ci al us e on er. 94, 21–26. https://doi.org/10.4081/jbr.2021.9680 Escher, G. B., Cardoso, C., Santos, S., Cruz, T. M., Marques, M. B., Ara, M., Azevedo, L., Furtado, M. M., Ana, A. S. S., Wen, M., Zhang, L., & Granato, D. (2019). From the Field to the Pot : Phytochemical and Functional Analyses of Calendula o ffi cinalis L . Flower for Incorporation in an Organic Yogurt. Ghadyeh, I., Razmjoo, J., Abdali, A., Karim, H., & Boroomand, A. (2019). Industrial Crops & Products Physiological response and productivity of pot marigold ( Calendula o ffi cinalis ) genotypes under water de fi cit. 139(March). https://doi.org/10.1016/j.indcrop.2019.111488 Goktas, F. M., Sahin, B., & Yigitarslan, S. (2015). Production of Sterilizing Agents from Calendula officinalis Extracts Optimized by Response Surface Methodology. 2015, 1–8. Iudina, Y. (2015). The Study Of The Calendula Flowers Extraction Process. News Of Pharmacy, 3(83), 28–31. Kaimainen, M., Järvenpää, E., & Huopalahti, R. (2015). Enzyme-Assisted Oil Extraction of Lutein from Marigold (Tagetes erecta) Flowers and Stability of Lutein during Storage. International Journal of Agricultural and Food Research, 4(2), 11–19. https://doi.org/10.24102/ijafr.v4i2.569 Kusnadi, J., Wuri Andayani, D., & Zubaidah, E. (2019). Ekstraksi Senyawa Bioaktif Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.) Menggunakan Metode Ekstraksi Gelombang Ultrasonik. Jurnal Teknologi Pertanian, 20(2), 79–84. https://doi.org/10.21776/ub.jtp.2019.020.02.1 Kusuma, H. S., & Mahfud, M. (2016). Preliminary study: Kinetics of oil extraction from sandalwood by microwave-assisted hydrodistillation. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 128(1), 62–69. https://doi.org/10.1088/1757-899X/128/1/012009 Laura, R. B., Catherine, G. L., & Nathalia, M. P. (2020). Extracción de metabolitos a partir de Calendula officinalis y evaluación de su capacidad colorante y antibacterial Extraction of metabolites from Calendula officinalis and evaluation of their colorant and antibacterial capacity. Rev. Colomb. Biotecnol, XXII(1), 60–69. https://doi.org/10.15446/rev.colomb.biote.v22n1.79999 19 Meitasari, A. D., Novita, B., & Susanto, A. (2024). Formulation and Activity of Sunscreen Cream from Ethanol Extract of Calendula Officinalis L Flowers. 48–57. https://doi.org/10.25077/jsfk.11.1.48-57.2024 Mishra, A. K., Mishra, A., & Chattopadhyay, P. (2018). Screening of acute and sub-chronic dermal toxicity of Calendula o ffi cinalis L essential oil. Regulatory Toxicology and Pharmacology, 98(February 2017), 184–189. https://doi.org/10.1016/j.yrtph.2018.07.027 Munsyir, M. (2024). Implementasi Metode Brute Force Pada Aplikasi Perubahan Tarif Angkutan Kota Makassar Berbasis Android. Innovative: Journal Of Social Science Research, 4(3), 3252-3263. OKAN, O. T. (2024). Analysis of Essential Oil from Calendula arvensis L. (Field Marigold Flowers). BartΔ±n Orman Fakültesi Dergisi, 26(1), 13–20. https://doi.org/10.24011/barofd.1384784 Pourshahidi, S., & Sheykhbahaei, N. (2021). Effectiveness of herbal based medications in treatment of oral lichen planus: A review article. Journal of Herbal Medicine, 29, 100458. https://doi.org/10.1016/j.hermed.2021.100458 Rafajlovska’, V., Sinadinovic-Fiserolga Borota, S., & Srbinoska, M. (2014). Characterization And Extraction Of Marigold (Calendula Officinalis L.) Cultivated In The Republic Of Macedonia Characterization And Extraction Of Marigold (Calendula Officinalis L. 4, 45–49. Rizki, R., Navtalia, N., & Terbuka, U. (2024). Affinity of Lutein from Marigold Extract as a Potential Therapy for Thyroid Cancer on PPAR γ , RXR α , and MAP2K2 Proteins via Compound Docking. October. https://doi.org/10.33830/saintek.v1i1.10034.2024 Ruiz-rodriguez, A. (2017). Supercritical carbon dioxide extraction of Calendula officinalis : kinetic modeling and scaling up study. The Journal of Supercritical Fluids. https://doi.org/10.1016/j.supflu.2017.03.033 Salomé-Abarca, L. F., Soto-Hernández, R. M., Cruz-Huerta, N., González-Hernández, & A., V. (2015). Chemical Composition Of Scented Extracts Obtained From Calendula Officinalis By Three Extraction Methods. Botanical Sciences, 93(3), 633–638. https://doi.org/10.17129/botsci.143 Shintawati, Analianasari, & Zukryandry. (2020). Kinetika Ekstraksi Minyak Atsiri Lada Hitam (Piper nigrum) Secara Hidrodistilasi. Cheesa, 3(2), 63. http://e- journal.unipma.ac.id/index.php/cheesa Silva, D., Ferreira, M. S., Sousa-Lobo, J. M., Cruz, M. T., & Almeida, I. F. (2021). Antiinflammatory activity of calendula officinalis l. Flower extract. Cosmetics, 8(2), 1–7. https://doi.org/10.3390/cosmetics8020031 20 Tetti, M. (2014). Ekstraksi, pemisahan senyawa, dan identifikasi senyawa aktif. Jurnal Kesehatan, 7(2), 361–367. Tiwari, A., Padalia, R. C., Goswami, P., Bisht, B. S., Chauhan, A., & Verma, R. S. (2016). Essential oil composition of African marigold (Tagetes minuta L.) harvested at different growth stages in foothills agroclimatic conditions of North India. ~ 4 ~ American Journal of Essential Oils and Natural Products, 4(3), 4–07. Yuliantari, N. W. A., Widarta, I. W. R., & Permana, I. D. G. M. (2017). Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi Terhadap Kandungan Flavonoid dan Aktivitas Antioksidan Daun Sirsak ( Annona muricata L .) Menggunakan Ultrasonik. Media Ilmiah Teknologi Pangan, 4(1), 35–42. Zanotti, A., Baldino, L., Scognamiglio, M., & Reverchon, E. (2023). Fractionation of Marigold Waxy Extract Using Supercritical CO2. Separations, 10(5). https://doi.org/10.3390/separations10050298 21
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )