MAKALAH PERKEMBANGAN ANAK PADA USIA SEKOLAH DASAR (MASA KANAK-KANAK TEMGAH DAN REMAJA AWAL) Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan dan Belajar Peserta Didik SD Dosen Pengampu: Dr. Agung Hastomo, M.Pd Dr. Aprilia Tina L, M.Pd Disusun Oleh: Dwi Mahmud Rizki Riyanto Nina Rahayu Noorul Arifa NIM. 23011040016 NIM. 23011040018 NIM. 23011040019 PROGRAM S2 PENDIDIKAN DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2024 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Perkembangan Anak Pada Usia Sekolah Dasar (Masa Kanak-Kanak Temgah Dan Remaja Awal)” ini sebagai tugas mata kuliah Perkembangan dan Belajar Peserta Didik tanpa halangan suatu apapun. Kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sehingga dapat menambah wawasan dan sebagai evaluasi diri dalam penyusunan makalah kami selanjutnya. Kami juga berharap semoga makalah kami dapat memberikan informasi kepada pembaca serta dapat dijadikan referensi bacaan dalam pembelajaran yang berkaitan Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Yogyakarta, 29 April 2024 Penulis ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................................................ 1 C. Tujuan .............................................................................................................................. 1 BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 2 A. Pengertian anak masa kanak-kanak dan remaja awal ...................................................... 2 B. Perkembangan fisik anak masa kanak-kanak dan remaja awal . Ошибка! Закладка не определена. C. Perkembangan kognitif anak masa kanak-kanak dan remaja awal . Ошибка! Закладка не определена. D. Perkembangan sosial emosional anak masa kanak-kanak dan remaja awal ..... Ошибка! Закладка не определена. BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 13 A. Kesimpulan .................................................................................................................... 13 B. Saran .............................................................................................................................. 13 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 14 iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya masing-masing. Masa kanak-kanak dan remaja awal yang berada pada usia 6 hingga 12 tahun termasuk dalam kategori Sekolah Dasar. Di mana mereka mengalami perkembangan yang sangat cepat. Pola perkembangan anak juga memiliki karakteristik yang khas, terutama dalam aspek perkembangan fisik, kognitif dan sosial emosinal.Perkembangan anak akan mencapai titik optimal ketika perkembangannya sesuai dengan tahap dan tugas perkembangannya masing-masing. Mengingat pentingnya pengetahuan perkembangan bahasa, emosi, dan sosial maka perlu adanya kajian mengenai hal tersebut. Dengan adanya kajian mengenai perkembangan fisik, kognitif dan sosial emosional dapat berguna untuk guru di sekolah, karena dengan mengetahui perkembangan anak. Guru bisa menerapkan strategi, metode, maupun materi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. anak menjadi lebih terarah dan anak yang menerimapun dapat menyerap informasi dengan baik dan menyenangkan. Oleh karena itu, penulis ingin mengkaji lebih dalam mengenai perkembangan fisik, kognitif dan sosial emosional masa kanak-kanak dan remaja awal B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian perkembangan anak masa kanak-kanak dan remaja awal? 2. Bagaimana perkembangan fisik anak masa kanak-kanak dan remaja awal? 3. Bagaimana perkembangan kognitif anak masa kanak-kanak dan remaja awal? 4. Bagaimana perkembangan sosial emosional masa kanak-kanak dan remaja awal? C. Tujuan 1. Mengetahui tentang pengertian anak masa kanak-kanak dan remaja awal. 2. Mengetahui perkembangan fisik anak masa kanak-kanak dan remaja awal. 3. Mengetahui perkembangan kognitif anak masa kanak-kanak dan remaja awal. 4. Mengetahui perkembangan sosial emosional masa kanak-kanak dan remaja awal. 1 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Anak Masa Kanak-Kanak dan Remaja Awal Anak adalah aset bangsa dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa yang akan menentukan masa depan bangsa dan negara, oleh karena itu perhatian dan harapan yang besar perlu diberikan kepada anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Anak masa usia 6 sampai dengan 12 tahun berada pada akhir masa kanak-kanak (late childhood). Pada masa ini anak memasuki usia Sekolah Dasar. Anak sudah mulai belajar pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang diperlukan untuk perkembangan dan ilmunya. Ketika mulai memasuki masa sekolah, tugas mereka adalah belajar. Ini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosional) dan sosial emosional, (sikap, prilaku serta nilai agama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui. Pada awal dan akhirnya, masa akhir kanak-kanak ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak. Masa akhir kanak-kanak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu, hal yang wajib untuk anak berusia enam tahun di Amerika saat ini. Bagi sebagian besar anak, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupan anak, juga bagi anak yang telah pernah mengalami situasi prasekolah selama setahun. Sementara menyesuaikan diri dengan tuntutan dan harapan baru dari kelas satu, kebanyakan anak berada dalam keadaan tidak seimbang. Anak mengalami gangguan emosional sehingga sulit untuk hidup bersama dan bekerja sama. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku. Pada satu atau dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak terjadi perubahan fisik yang menonjol dan hal ini juga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku dengan menjelang berakhirnya periode ini. Setelah itu anak akan memasuki masa remaja. Bagi banyak orang tua, akhir masa kanak-kanak merupakan usia yang menyulitkan. Suatu masa di mana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya dari pada oleh orang tua dan anggota keluarga lain. Para pendidik memandang periode ini sebagai periode kritis dalam dorongan berprestasi. Suatu masa di mana anak membentuk kebiasaan untuk mencapai 2 sukses, tidak sukses, atau sangat sukses. Sedangkan bagi ahli psikologi, akhir masa kanak-kanak adalah masa dimana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok, terutama kelompok yang bergengsi dalam pandangan teman-temannya. Oleh karena itu, anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui kelompok dalam penampilan, berbicara, dan perilaku. Keadaan ini mendorong ahli psikologi untuk menyebut periode ini sebagai usia penyesuaian diri. B. Perkembangan Fisik Anak Masa Kanak-Kanak dan Remaja Awal. Perkembangan fisik merupakan perubahan yang paling menonjol dan nampak di dalam diri individu seseorang (Agus Dariyo, 2006). Perkembangan fisik lazimnya ditandai dengan perubahan pada tinggi dan berat badan, serta bentuk tubuh dan juga perkembangan otak. Jika perkembangan fisik anak berkembang dengan baik tentu akan berpengaruh pada keterampilan motoriknya. Begitupun dengan anak yang perkembangan fisiknya mengalami gangguan, akan berdampak pada terganggunya kemampuan motorik anak tersebut. Perkembangan fisik memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung perkembangan fisik seorang anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Sementara secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik akan mempengaruhi cara pandang anak terhadap dirinya sendiri dan cara pandang anak terhadap orang lain, perkembangan fisik berjalan seiring dengan perkembangan motorik. Pertumbuhan fisik anak pada usia SD ditandai dengan anak menjadi lebih tinggi, berat, dan kuat dibandingkan pada saat anak berada di PAUD/TK, hal ini tampak pada perubahan sistem tulang, otot, dan keterampilan gerak. Anak lebih aktif dan kuat untuk melakukan kegiatan fisik seperti berlari, memanjat, melompat, dan kegiatan luar rumah lainnya. Kegiatan fisik ini dilakukan oleh anak dalam upaya melatih koordinasi, motorik, kestabilan tubuh maupun penyaluran energi yang tertumpuk. (Izzaty, 2008). Perkembangan fisik anak SD laki-laki dan perempuan berbeda. Anak perempuan biasanya lebih ringan dan lebih pendek daripada anak laki-laki (Slavin, 2011). Aspek perkembangan fisik-motorik ini berpengaruh terhadap aspek perkembangan lainnya, sebagai contoh, keadaan fisik anak yang kurang normal misalnya anak terlalu tinggi atau terlalu pendek, anak terlalu kurus atau gemuk akan mempengaruhi rasa kepercayaan diri anak. Rasa kepercayaan ini akan berkaitan dengan emosi, kepribadian, dan sosial anak (Latifa, 2017). 3 Burhaein (2017) menyatakan faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik anak usia 6-12 tahun antara lain: 1. Faktor keturunan; dapat menyebabkan anak menjadi gemuk dari pada anak lainnya. Perbedaan ras suku bangsa (orang Amerika, Eropa, dan Australia cenderung lebih tinggi dari pada orang Asia). 2. Faktor lingkungan; dapat membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan anak tersebut. Lingkungan lebih banyak pengaruhnya terhadap berat tubuh daripada tinggi tubuh. 3. Jenis kelamin; anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan dengan anak perempuan, kecuali pada usia 12-15 tahun. 4. Gizi dan kesehatan; anak yang memperoleh gizi cukup biasanya lebih tinggi tubuhnya dan relatif lebih cepat mencapai masa puber dibandingkan dengan anak yang bergizi kurang. Anak yang sehat dan jarang sakit biasanya mempunyai tubuh sehat dan lebih berat dibanding dengan anak yang sering sakit. 5. Status sosial dan ekonomi; fisik anak dari kelompok ekonomi rendah cenderung lebih kecil dibandingkan dengan keluarga ekonomi cukup atau tinggi. Keadaan status ekonomi mempengaruhi peran keluarga dalam memberi makan, gizi dan pemeliharan kesehatan serta kegiatan pekerjaan yang dilakukan anak. 6. Gangguan emosional; anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenalin yang berlebihan. Hal ini menyebabkan berkurangnya hormon pertumbuhan pada kelenjar pituitary, akibatnya anak mengalami keterlambatan perkembangan memasuki masa puber. Bagi anak-anak usia sekolah dasar perkembangan fisik merupakan hal yang sangat penting, karena akan mempengaruhi perilaku mereka sehari-hari, termasuk perilaku dalam belajar. Perkembangam fisik yang dimiliki oleh masing-masing akan mempengaruhi persepsi mereka pada dirinya sendiri dan orang lain. Artinya anak-anak yang memiliki fisik yang ideal akan lebih percaya diri dan anak-anak yang memiliki kondisi fisik yang berbeda akan tidak percaya diri terhadap lingkungan 4 C. Perkembangan Kognitif Anak Masa Kanak-Kanak dan Remaja Awal. Pada permulaan akhir masa kanak-kanak, anak-anak mempunyai sejumlah besar keterampilan yang mereka pelajari selama tahun-tahun prasekolah. Keterampilan yang dipelajari oleh anak-anak bergantung pada lingkungan, kesempatan untuk belajar, pada bentuk tubuh, dan pada apa yang sedang digemari oleh teman-teman sebayanya. 1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget Piaget membagi teori kognitif menjadi empat tahapan usia, yakni tahap sensori-motor (0-2 tahun), tahap pra-operasional (2-7 tahun), tahap operasional konkrit (7-11 tahun), dan tahap operasional formal (11 tahun sampai masa dewasa) (Papalia and Feldman, 2014:32). Akhir masa kanak-kanak berada pada tahap operasional konkret. Tahap ini melibatkan penguasaan penggunaan logika secara konkret. Kata konkret merujuk pada sesuatu yang nyata, sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, atau dialami secara langsung. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Kemampuan kognitif pada masa ini merupakan dasar diberikannya ilmu seperti membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Untuk mengembangkan daya nalarnya, anak di latih untuk bisa mengungkapkan pendapatnya terhadap berbagai hal, baik yang dialaminya maupun peristiwa lain yang terjadi di sekitar. Tahap usia 6-12 tahun anak memiliki perkembangan kognitif seperti: anak sudah bisa berhitung dan memahami konsep angka, mampu mengelompokkan, mampu menyusun dan menghubungkan, mampu menghitung angka atau bilangan, mampu berkerjasama dalam mengerjakan tugas sekolah dan kegemarannya berganti-ganti. Anak pada tahap operasional konkret mampu menggunakan prinsipprinsip logika dalam memecahkan masalah yang melibatkan dunia fisik. Misalnya, anak dapat memahami prinsip-prinsip sebab dan akibat, ukuran, dan jarak. Anak dapat menggunakan logika untuk memecahkan masalah yang terkait dengan pengalaman langsung mereka sendiri, tetapi mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah hipotesis atau mempertimbangkan masalah yang lebih abstrak. Anak menggunakan penalaran induktif, yaitu proses logis di mana beberapa premis yang diyakini benar digabungkan untuk mendapatkan kesimpulan tertentu. Misalnya, seorang anak memiliki seorang teman yang kasar, teman lain yang juga kasar, dan hal yang sama berlaku untuk teman ketiga. Anak tersebut dapat menyimpulkan bahwa teman-temannya kasar. Keterampilan 5 kognitif baru ini meningkatkan pemahaman anak tentang dunia fisik, namun menurut Piaget, mereka masih belum bisa berpikir secara abstrak. 2. Keterampilan Keterampilan akhir masa kanak-kanak dapat dibagi ke dalam empat kategori, yaitu: a. Keterampilan menolong diri sendiri. Anak yang lebih besar harus dapat makan, berpakaian, mandi, dan berdandan sendiri hampir secepat dan semahir orang dewasa. b. Keterampilan menolong orang lain. Keterampilan menurut kategori ini berhubungan dengan memberikan pertolongan kepada orang lain. Di rumah mencakup membersihkan tempat tidur, membersihkan debu dan menyapu. Di sekolah mencakup mengosongkan tempat sampah dan membersihkan papan tulis. Dan di dalam kelompok bermain mencakup menolong teman dalam membuat rumah-rumahan atau merencanakan lapangan arena bermain.Keterampilan sekolah. Di sekolah, anak mengembangkan berbagai keterampilan yang diperlukan untuk menulis, menggambar, melukis, membentuk tanah liat, menari, mewarnai dangan krayon, menjahit, memasak, dan pekerjaan tangan dengan menggunakan kayu. c. Keterampilan bermain. Anak yang lebih besar belajar pelbagai ke terampilan seperti melempar dan menangkap bola, naik sepeda, sepatu roda, dan berenang. 3. Pemrosesan Informasi Setiap anak memiliki kemampuan memori yang berbeda-beda, perbedaan ini memprediksi kesiapan mereka untuk bersekolah dan prestasi akademik di sekolah (PreBler et al., 2013). Selama masa kanak-kanak tengah dan akhir, anakanak membuat kemajuan dalam beberapa area fungsi kognitif termasuk kapasitas memori kerja, kemampuan mereka untuk memperhatikan, dan penggunaan strategi memori. Kapasitas memori kerja berkembang selama masa kanak-kanak tengah dan akhir. Penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan kecepatan pemrosesan dan kemampuan untuk menghambat informasi yang tidak relevan masuk ke dalam memori berkontribusi pada efisiensi memori kerja yang lebih besar selama usia ini (de Ribaupierre, 2002). 6 Penggunaan strategi memori sering kali kurang pada anak-anak yang lebih muda, tetapi meningkat frekuensinya seiring dengan perkembangan anak-anak di sekolah dasar. Contoh strategi memori termasuk melatih informasi yang ingin diingat, memvisualisasikan dan mengatur informasi, atau menciptakan singkatan (seperti "roygbiv" untuk mengingat warna pelangi) 4. Metakognisi Metakognisi mengacu pada pengetahuan yang kita miliki tentang pemikiran kita sendiri dan kemampuan kita untuk menggunakan kesadaran untuk mengatur proses kognitif kita sendiri (Bruning et al., 2004). Anak pada masa kanak-kanak tengah dan akhir juga memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai seberapa baik mereka melakukan suatu tugas, dan tingkat kesulitan suatu tugas. Ketika mereka menjadi lebih realistis tentang kemampuan mereka, mereka dapat menyesuaikan strategi belajar untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Anak kecil menghabiskan banyak waktu untuk aspek yang tidak penting dari suatu masalah seperti yang mereka lakukan pada poin utama, sementara anak yang lebih besar mulai belajar untuk memprioritaskan dan mengukur apa yang penting dan apa yang tidak penting. Hasilnya, mereka mengembangkan metakognisi. 5. Perkembangan Kosakata dan Tata Bahasa Salah satu alasan mengapa anak-anak dapat mengklasifikasikan objek dengan berbagai cara adalah karena mereka telah memiliki kosakata untuk melakukannya. Pada kelas lima SD, kosakata anak telah berkembang menjadi 40.000 kata. Hal ini tumbuh dengan kecepatan yang melebihi anak-anak usia dini. Kosa kata khusus pada akhir masa kanak-kanak, yaitu: a. Kosa kata etiket Pada akhir kelas satu, anak yang di rumah dilatih menggunakan kata-kata seperti "minta tolong" dan "terimakasih," mempunyai kosa kata etiket orangorang dewasa dalam lingkungan keluarganya. b. Kosa kata warna Anak belajar nama semua warna yang umum dan warna yang tidak terlampau umum dipelajari segera setelah masuk sekolah dan memperoleh pendidikan formal dalam kesenian. 7 c. Kosa kata bilangan Dari pelajaran berhitung di sekolah anak belajar nama dan arti bilangan. d. Kosa kata uang Baik di rumah maupun di sekolah, anak yang lebih besar belajar nama berbagai macam uang logam dan ia mengerti nilai dari berbagai satuan uang kertas. e. Kosa kata waktu Kosa kata waktu dari anak yang lebih besar sama dengan kosa kata waktu dari orang dewasa dengan siapa ia berhubungan. Walaupun pengertiannya tentang kata-kata waktu kadang-kadang tidak tepat. f. Kata-kata populer den kata-kata makian Anak belajar kata-kata populer dan kata-kata makian dari anak-anak yang lebih besar di lingkungannya. Dengan menggunakan kata-kata tersebut anak merasa "dewasa" dan untuk menarik perhatian. g. Kosa kata rahasia Anak menggunakan kosa kata rahasia untuk berkomunikasi dengan sahabatnya. Dapat berbentuk tulisan, terdiri dari kode-kode yang dibentuk dengan lambang-lambang atau pengganti huruf, terdiri dari isyarat-isyarat dan penggunaan jari-jari untuk mengkomunikasikan kata-kata. Sebagian besar anak mulai menggunakan salah satu atau beberapa bentuk kata rahasia ini pada saat ia masuk kelas tiga dan penggunaan ini mencapai puncaknya beberapa saat sebelum masa puber. Anak-anak secara bertahap menjadi lebih analitis dan logis dalam pendekatan mereka terhadap kata-kata dan tata bahasa. Mereka menjadi semakin mampu menggunakan tata bahasa yang kompleks dan menghasilkan narasi yang masuk akal. Mereka yang berada di masa kanak-kanak tengah dan akhir juga dapat memikirkan objek dengan cara yang tidak terlalu harfiah. Sebagai contoh, jika ditanya kata pertama yang terlintas di benak seseorang ketika mendengar kata "pizza", anak yang lebih muda cenderung mengatakan "makan" atau beberapa kata yang menggambarkan apa yang dilakukan dengan pizza. Namun, anak yang lebih besar lebih cenderung menempatkan pizza dalam kategori yang sesuai dan mengatakan "makanan". 8 D. Perkembangan Sosial Emosional Anak Masa Kanak-Kanak dan Remaja Awal. American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa perkembangan emosi mengacu pada kemampuan anak untuk memiliki pengetahuan dalam mengelola dan mengekspresikan emosi dengan baik seperti ungkapan emosi positif maupun emosi negatif, anak mampu menjalin hubungan dengan anakanak lain dan orang dewasa. (Nurmalitasari, 2015). Pada masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, anak-anak semakin mengembangkan pemahaman dan pengaturan emosi mereka sendiri (Calkins & Perry, 2016; Durlak, Domitrovich, & Gullotta, 2015, Santrock,2017). Perkembangan emosi anak dapat dibagi menurut usia (Sarni & Carolyn, 2011) sebagai berikut : 1. Anak usia 5-6 anak mulai mampu memahami emosi mereka dan mereka juga masih perlu dibimbing tentang penghayatan emosi mereka. Penamaan emosi yang dirasakan, bagaimana mengekspresikan emosi diri sendiri dan juga orang orang lain. Kemampuan mereka untuk mengembangkan emosi ini akan sangat membantu mereka dalam kehidupan sosialnya kelak. 2. Pada usia 7-8 tahun anak sudah mengerti akan rasa malu dan bangga terhadap sesuatu. Anak dapat mengungkapkan emosi yang dirasakannya. Semakin bertambah usia anak semakin anak dapat memahami perasaan orang lain. 3. Pada usia 9-10 tahun, anak sudah dapat menyembunyikan dan mengungkapkan emosinya dan sudah dapat merespon emosi orang lain. Anak juga bisa mengontrol emosi negatifnya. Anak mengetahui apa saja yang membuat dirinya merasa sedih, takut dan marah sehingga anak mampu beradaptasi dengan emosinya 4. Pada pada usia 11-12 tahun, anak sudah mengetahui tentang baik buruk, nilainilai, dan norma-norma yang berlaku pada masyarakat serta adanya perkembangan yang meningkat tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Anak sudah mengetahui bahwa adanya perubahan pada nilai-nilai, normanorma dan prilaku serta anak. Perikaku anak juga semakin beragam. Adapun karakteristi emosi pada usia ada masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, (Izzaty, 2008), yaitu a. Emosi yang terjadi pada anak biasanya relatif relatif lebih singkat (sebentar) dan mudah berubah. Hal ini dikarenakan emosi pada anak biasanya diungkapkan dalam bentuk tindakan, berbeda dengan orang dewasa yang emosinya relatif lebih lama. Emosi yang sering dimunculkan 9 oleh anak seperti kesedihan, kemurungan, kebahagiaan, humor, dan lain sebagainya. Anak menunjukkan emosinya ketika ada yang membuatnya tidak nyaman dan berlangsung hanya sesaat ketika rasa tidak nyaman. b. Emosi pada anak relatif lebih kuat dan hebat. Hal ini terihat ketika anak sedang sedih, marah dan takut. Anak terlihat marah sekali ketika terdapat hal yang tidak disukainya, dan anak akan menangis jika ada sesuatu yang membuatnya sedih, dan anak akan tertawa terbahak-bahak ketika ada sesuatu yang membuatnya lucu namun emosi tersebut akan cepat hilang. Namun berbeda dengan orang dewasa yang tidak terlalu menampakkan emosi tersebut. c. Emosi anak mudah berubah. Hal ini terlihat ketika kita menjumpai anak yang sedang menangis, ia akan menangis dengan tersedu-sedu namun emosi tersebut hanya sebentar dia akan tertawa kembali ketika ada sesuatu yang lucu. d. Emosi anak nampak berulang-ulang. Hal ini timbul karena anak dalam proses perkembangan kearah kedewasaan. Ia harus mengadakan penyesuaian terhadap situasi di luar, dan hal ini dilakukan secara berulangulang. Anak sering menangis, sering marah, sering takut. Mungkin anak sehari menangis 7 kali, marah 5 kali dan seterusnya. e. Respon emosi anak berbeda-beda. Pengamatan terhadap anak dengan berbagai tingkat usia menunjukkan bervariasinya respon emosi. Pada waktu bayi lahir, pola responnya sama. Secara berangsur-angsur, pengalaman belajar dari lingkungannya membentuk tingkah laku dengan perbedaan emosi secara individual. Misalnya : Anak yang dibawa ke dokter gigi, responnya ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang tidak memperlihatkan reaksi apapun. f. Emosi anak dapat diketahui atau dideteksi dari gejala tingkah lakunya. Meskipun anak kadang-kadang tidak memperlihatkan reaksi emosi yang nampak dan langsung, namun emosi itu dapat diketahui dari tingkah lakunya, misalnya melamun, gelisah, menghisap jari, sering menangis dan sebagainya. g. Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya. Suatu ketika emosi itu begitu kuat, kemudian berkurang. Emosi yang lain mula-mula lemah kemudian berubah menjadi kuat. Misalnya : Seorang anak memperlihatkan 10 rasa malu-malu di tempat yang masih asing. Kemudian ketika ia sudah tidak merasa asing lagi rasa malunya berkurang atau bahkan hilang. h. Perubahan dalam ungkapan-ungkapan emosional. Anak-anak memperlihatkan keinginan yang kuat terhadap apa yang mereka inginkan. Ia tidak mempertimbangkan bahwa keinginan itu merugikan baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, juga tidak mempertimbangkan bahwa untuk memenuhi keinginannya itu memerlukan biaya yang tidak terjangkau oleh orang tuanya. Bila keinginannya tidak terpenuhi ia akan marah. Sebaliknya jika ia merasa senang, bahagia, tanpa melihat tempat dan waktu ia akan tersenyum dan tertawa, meskipun orang lain kadang-kadang tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh anak Perkembangan emosi anak ini terkait dengan cara anak merespons berbagai perasaan yang mereka alami. Proses perkembangan emosional ini kemudian memengaruhi perilaku dan keputusan anak, serta cara menjalani kehidupan. Perkembangan emosi anak juga memiliki dampak pada kesejahteraan mental mereka, sehingga penting untuk memperhatikan perkembangan anak secara menyeluruh agar tidak timbul dampak negatif yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental mereka. Lebih lanjut, perkembangan emosi sangat berkaitan erat dengan perkembangan sosial anak. Jika anak telah dapat berhubungan dan memiliki emosi postif dengan orang lain maka anak akan lebih mudah untuk berinteraksi sosial dengan orang lain. Perkembangan sosial merupakan proses pencapaian kematangan dalam hubungan sosial dan pembelajaran agar dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku pada kelompok tradisi dan moral. Pada dasarnya, perkembangan sosial pada anak usia SD ditandai dengan perluasan hubungan atau interaksi pada kegiatan pembelajaran di kelas maupun saat bermain di luar kelas. Selain dengan keluarga, anak juga mulai dapat menjalin ikatan baru dengan teman sebaya (Tusyana & Trengginas, 2019). Perkembangan psikososial anak usia sekolah (6-12tahun) adalah kemampuan menghasilkan karya, berinteraksi dan berprestasi dalam belajar berdasarkan kemampuan diri sendiri (Keliat, Helena & Farida 2011). Erikson ,menyatakan tugas perkembangan pada tahap ini adalah mengembangkan pola industri (produktif) versus inferioritas (rendah diri) (Santrok,2017). industri pada anak merupakan dasar bagianak agar mampu melakukan kegiatan/ 11 Pola tugas mengahasilkan karya, dan dihargai di lingkungannya agar tidak dikuasai oleh rasa rendah diiri. Anak-anak pada usia sekolah dasar ingin dapat mengermbangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan yang berarti dan bermanfaat secara sosial. Anak usia sekolah dasar ingin sekali mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan yang berarti dan berguna secara sosial (Wong et.el, 2009). Berdasarkan Asosiasi Kesehatan Jiwa dan Anak dan Remaja Indonesia, ciriciri anak pada usia ini, adalah a) Sering berargumentasi dengan orang tua, pada anak lakilaki dikenal dengan maskulin protest b) Mengagumi guru atau orang dewasa lain daripada orang tua sendiri, mempun yai idola c) Hubungan dengan teman sebaya semakin kuat dan bermakna, lebih memilih teman dari jenis kelamin sama d) Cenderung sangat memegang prinsip “aturan dan keadilan” (rules of the game )yang harus dipegang bersama dimana pengertian baik-buruk/benar-salah atas dasar ini (morality of cooperation) e) Menuntaskan tugas/kegiatan dengan berhasil karya (task completion) f) Tertarik mencoba berbagai kegiatan baru di luar sekolah, baik fisik, teknologi dan sosial. Pada usia anak-anak tengah dan remaja awal, dunia sosioemosional anak menjadi semakin kompleks. Interaksi dengan keluarga, teman sebaya, sekolah dan hubungan dengan guru memiliki peran yang penting dalam hidup anak. Anakanak memperoleh kepuasan yang sangat besar dari perilaku mandiri dalam menggali dan memanipulasi lingkungannya dan dari interaksi dengan teman sebayanya, antara lain, menyelesaikan tugas (sekolah atau rumah) yang diberikan, mempunyai rasa bersaing (kompetisi), senang berkelompok dengan teman sebaya serta sahabat karin dan mampu berperan dalam kelompok. 12 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Anak masa usia 6 sampai dengan 12 tahun berada pada akhir masa kanak-kanak (late childhood). Pada masa ini anak memasuki usia Sekolah Dasar. Pada masa ini, setiap anak akan, sedang dan akan terus tumbuh dan berkembang berbagai aspek baik fisik maupun non-fisik. Fisik, koginitif, sosial emosional terus meningkat bersama bertambahnya kebutuhan-kebutuhan anak untuk lebih bisa mengaktualisasikan diri ke dalam komunitas yang lebih luas. Memahami karakteristik anak-anak merupakan suatu keharusan bagi guru dan orang tua untuk bisa mendidik dan membimbing anak kearah yang lebih baik. Bagi guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan kebutuhan peserta didik.Maka dengan mengetahui karakteristik, kebutuhan, dan gangguangangguan pada anak seorang pendidik dan pembimbing akan mudah membawa anak ke arah yang lebih baik. B. Saran Penulis sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih belum sempurna. Penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, untuk kesempurnaan makalah ini, dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan kita tentang perkembangan peserta didik. Dengan adanya kajian mengenai perkembangan ini dapat dijadikan acuan bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah dan untuk melihat permasalah yang terjadi di sekolah. Dengan demikian dapat menjadi solusi bagi guru untu mengatasi permasalahan dalam pembelajaran dan perkembangan anak. 13 DAFTAR PUSTAKA Izzaty, R. E. (2008). Perkembangan Anak Usia 7 – 12 Tahun. Jurnal Pendidikan, 1–11. Latifa, U. 2017. Aspek Perkembanganpada Anak Sekolah Dasar:Masalah danPerkembangannya. JurnalAcademica. Vol 1. No.2. Keliat, B.A., Daulima, N.C.H., & Farida, P. (2011). Manajemen keperawatan psikososial dan kader kesehatan jiwa: CMHN (intermediate course). Jakarta: EGC Nurmalitasari, F. (2015). Perkembangan Sosial Emosi pada Anak Usia Prasekolah. Buletin Psikologi, 23(2), 103. https://doi.org/10.22146/bpsi.10567 Santrock Jhon, W.(2017). Life Span Development Sixteent Edition. Dallas: University of Texas Tusyana, E., & Trengginas, R. (2019). Analisis Perkembangan Sosial-Emosional Anak. Jurnal Iventa, 3(1), 18–26. 14
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )