MAKALAH SOCIAL COGNITIVE Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori dan Psikologi Belajar Anak Dosen Pengampu: Prof. Dr. Muhammad Nur Wangid M.Si. Disusun oleh: Ain Maigina (23011040012) Lucia Vania Yosefa H. (23011040017) Noorul Arifa (23011040019) PENDIDIKAN DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2023 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Social Cognitive” untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori dan Psikologi Belajar Anak secara lancar dan tepat waktu. Kami sebagai penyusun menyadari bahwa tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak, maka penyusunan makalah ini tidak dapat berjalan dengan baik. Sehingga pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Prof. Dr. Muhammad Nur Wangid M.Si. selaku dosen pembimbing mata kuliah Teori dan Psikologi Belajar Anak. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sehingga dapat menambah wawasan dan sebagai evaluasi dalam penyusunan makalah kami selanjutnya. Yogyakarta, November 2023 Penulis ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i KATA PENGANTAR ................................................................................... ii DAFTAR ISI .................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................. 2 C. Tujuan ................................................................................................ 2 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3 A. Tokoh Teori Social Cognitive ............................................................ 3 B. Teori Social Cognitive ......................................................................... 4 C. Mengevaluasi Pendekatan Sosial Kognitif .......................................... 10 D. Pengimplementasian Teori Social Cognitive dalam Pembelajaran 11 BAB III PENUTUP .......................................................................... 13 A. Simpulan ............................................................................................... 13 B. Saran ..................................................................................................... 13 Daftar Pustaka ................................................................................... 14 iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Model pembelajaran memiliki peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan dan penggunaan model pembelajaran yang tepat akan dapat membantu siswa dalam memahami konsep dan ide dari materi pembelajaran dengan lebih baik. Model pembelajaran juga dapat meningkatkan keterampilan akademis dan keterampilan sosial siswa. Dalam konteks keterampilan akademis, teori kognitif sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura, menunjukkan bahwa siswa belajar melalui pengamatan dan model perilaku. Misalnya, siswa dapat mempelajari cara menyelesaikan masalah matematika dengan mengamati guru atau teman sebaya mereka menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu, siswa juga dapat mempelajari strategi belajar yang efektif, seperti cara membuat catatan atau mengatur waktu, melalui pengamatan dan model perilaku. Dalam konteks keterampilan sosial, teori kognitif sosial menunjukkan bahwa individu belajar cara berinteraksi dengan orang lain melalui pengamatan dan model perilaku. Misalnya, anak-anak dapat mempelajari cara berbagi mainan atau menyelesaikan konflik dengan mengamati orang tua atau teman sebaya mereka. Selain itu, individu juga dapat mempelajari norma dan aturan sosial, seperti cara berbicara dengan sopan atau menunggu giliran, melalui pengamatan dan model perilaku. Secara keseluruhan, teori kognitif sosial menunjukkan bahwa pengamatan dan model perilaku memainkan peran penting dalam pembelajaran dan pengembangan keterampilan akademis dan sosial. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Siapakah tokoh dari teori Social Cognitive? 2. Apa yang dimaksud dengan teori Social Cognitive? 1 3. Bagaimana pengimplementasian teori Social Cognitive dalam pembelajaran? C. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk: 1. Untuk mengetahui tokoh teori Social Cognitive 2. Untuk mengetahui teori Social Cognitive 3. Untuk mengetahui pengimplementasian teori Social Cognitive dalam pembelajaran 2 BAB II PEMBAHASAN A. Tokoh Teori Social Cognitive Albert Bandura lahir di Mundare, Alberta, Kanada pada tanggal 4 Desember 1925. Setelah menyelesaikan kelas 11 di Mundare, ia pindah ke University of British Columbia dan lulus dengan predikat terbaik pada tahun 1949. Kemudian ia meraih gelar doktor dalam bidang psikologi klinis dari Universitas Lowa pada tahun 1952 dimana arah pemikirannya dipengaruhi oleh tulisan Miller dan Dollard (1941) yang berjudul “Social Learning And Imitation”. Ide pokok dari pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning). Albert Bandura merupakan profesor psikologi di Universitas Stanford, ia bekerja di sana selama lebih dari lima puluh tahun. Ia juga merupakan presiden American Psychological Association (APA) dan telah menerima banyak penghargaan yakni APA Scientific Research Award dan National Medal of Science. Bandura meninggal dunia pada 26 Juli 2021 di usia 95 tahun. Pada tahun 1953, Albert Bandura bekerja sebagai dosen di Universitas Stanford. Selama bekerja di sana, ia melakukan berbagai penelitian di bidang psikologi sosial dan pembelajaran. Salah satu penelitiannya yang paling terkenal yaitu eksperimen boneka bobo yang dilakukannya pada tahun 1960-an. Dari eksperimen tersebut, menunjukkan pentingnya belajar melalui pengamatan dan peniruan dalam perilaku manusia. Dalam eksperimen boneka bobo, anakanak mengamati seorang model dewasa yang bertindak agresif terhadap boneka tiup yang disebut “Bobo”. Selanjutnya, anak-anak ditempatkan di sebuah ruangan dengan boneka yang sama dan mainan lainnya. Dari hal tersebut ditemukan bahwa anak-anak yang telah mengamati model agresif tersebut lebih mungkin bertindak agresif terhadap boneka tersebut daripada anak-anak yang tidak menyaksikan perilaku tersebut. 3 Gambar 1. Model Bobo Doll Selain itu, ia juga mengembangkan konsep self-efficacy. Efikasi diri mengacu pada kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya untuk mengatasi tantangan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Bandura menekankan pentingnya efikasi diri dalam perilaku manusia dan perubahan sosial, dengan menyatakan bahwa dengan rasa efikasi diri yang tinggi lebih mungkin terlibat dan bertahan dalam situasi sulit. Sepanjang karirnya, Albert Bandura telah banyak menerbitkan karya. Pada tahun 1963, ia bersama Richard Walters menulis buku berjudul “Social Learning and Personality Development”. Karya lainnya yakni Principles of Behavior Modification (1969), Aggression: A Social Learning Analysis (1973), Social Learning Theory (1977b), Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory (1986), dan Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997). B. Teori Social Cognitive Individu-individu melihat model atau contoh dalam mempelajari kegunaan dan kesesuaian perilaku-perilaku akibat dari perilaku yang dimodelkan, kemudian mereka bertindak sesuai dengan keyakinan tentang kemampuan dan hasil yang diharapkan dari tindakan mereka (Schunk, 2012). Dapat dikatakan bahwa dengan mengamati orang lain, manusia mendapatkan pengetahuan, aturan, keterampilan, strategi, keyakinan, dan sikap. Oleh karena itu, teori kognitif sosial merupakan teori yang menonjolkan gagasan yakni pembelajaran manusia terjadi dalam sebuah lingkungan sosial. Berikut merupakan pemikiran dasar Albert Bandura. 1. Plasticity 4 Fleksibilitas manusia untuk belajar berbagai tingkah laku dalam keadaan yang berbeda. Hal ini sekaligus kritik terhadap Skinner terkait percobaan terhadap binatang, namun di lain pihak juga setuju pada penekanan terhadap vicarious learning. Vicarious learning disebut juga modeling atau menirukan perilaku manusia. Vicarious learning merupakan seseorang yang melakukan pengamatan terhadap orang lain dapat dipengaruhi oleh perilaku model dalam bentuk vicarious reinforcement dan vicarious punishment. Belajar melalui pengamatan merupakan suatu proses belajar seseorang dengan memeperhatikan perilaku orang lain yang memiliki pengaruh terhadap dirinya dengan bentuk perilaku model vicarious reinforcement maupun vicarious punishment. 2. Triadic Reciprocal Causation Model Bandura (1982a, 1986, 2001) membahas perilaku manusia dalam kerangka triadic reciprocality atau interaksi timbal balik. Tindakan manusia merupakan hasil dari interaksi diantara tiga faktor utama yaitu environment (lingkungan), behavior (perilaku), dan person (orang). Istilah reciprocal atau timbal balik digunakan untuk menunjukkan interaksi yang triadic bukan hanya satu arah. Behavior meliputi perilaku individu, kemudian environment meliputi lingkungan luar yang berpengaruh, dan person meliputi faktor internal individu (kognitif, persepsi, dan lainnya). Faktorfaktor tersebut saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran: faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi mempengaruhi lingkungan, faktor orang (kognitif) mempengaruhi perilaku, dan seterusnya. Gambar 2. Triadic reciprocality model of causality 5 Model yang dipaparkan di atas, arah pengaruhnya tidak selalu sama. Pada waktu tertentu, salah satu faktor mungkin bisa mendominasi. Berikut contoh dari interaksi ketiga faktor tersebut (Schunk, 2014). a) Lingkungan mempengaruhi kognisi-faktor pribadi. Saat guru menyampaikan pelajaran di depan kelas, siswa berpikir tentang apa yang dikatakan guru. b) Kognisi mempengaruhi perilaku. Siswa yang tidak memahami suatu hal mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan. c) Pengaruh perilaku lingkungan. Guru mengulas pokok permasalahan. d) Lingkungan mempengaruhi kognisi, yang mempengaruhi perilaku. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk diselesaikan. e) Perilaku mempengaruhi kognisi. Saat siswa mengerjakan tugas, mereka yakin mengerjakannya dengan baik. f) Kognisi mempengaruhi perilaku, yang mempengaruhi lingkungan. Siswa menyukai tugas tersebut dan menanyakan kepada guru apakah mereka dapat terus mengerjakannya, dan mereka diperbolehkan oleh guru untuk melakukannya. 3. Agent Perspective Bahwa pada dasarnya manusia dapat mengontrol lingkungan dan kualitas kehidupan mereka. Manusialah yang menciptakan sistem sosial dan ia pun merupakan produk dari sistem sosial tersebut. Komponen penting dalam dalam aspek ini adalah efikasi diri yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan kontrol terhadap fungsinya dan terhadap kejadian-kejadian dalam lingkungannya. Hal ini berarti bahwa seorang individu memiliki kemampuan untuk dapat menguasai suatu situasi dan menghasilkan hasil yang positif. Efikasi diri dapat mempengaruhi berbagai aspek perilaku, termasuk pilihan aktivitas, pengeluaran usaha, dan tingkat ketekunan. Misalnya, individu dengan efikasi diri yang tinggi lebih mungkin untuk memilih aktivitas yang menantang, mengeluarkan lebih banyak usaha dalam menyelesaikan tugas, dan bertahan lebih lama dalam menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, efikasi diri dapat memainkan peran penting dalam memotivasi dan mengarahkan perilaku individu. 6 4. Self Regulation Manusia meregulasi tindakan mereka melalui faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi self-observation, judgemental process, dan self-reaction. Faktor eksternal terdiri dari faktor fisik dan sosial. Self-observation atau observasi diri melibatkan penilaian aspek yang diobservasi dalam perilaku seseorang melawan standar dan bereaksi secara positif atau negatif. Evaluasi dan reaksi orang-orang membuat tahakan bagi observasi tambahan pada aspek perilaku yang sama atau yang lainnya. Proses ini juga tidak berlangsung secara terpisah dari lingkungan. Judgemental process atau proses penilaian adalah melihat kesesuaian tingkah laku dengan standar pribadi, membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan tingkah laku orang lain, menilai berdasarkan pentingnya suatu aktivitas, dan memberi atribusi performansi. Standar pribadi bersumber dari pengalaman mengamati model misalnya orang tua atau guru, dan menginterpretasi balikan/penguatan dari performansi diri. Berdasarkan sumber model dan performansi yang mendapat penguatan, proses kognitif menyusun ukuran-ukuran atau norma yang sifatnya sangat pribadi, karena ukuran itu tidak selalu sinkron dengan kenyataan. Standar pribadi ini jumlahnya terbatas. Sebagian besar aktivitas hams dinilai dengan membandingkannya dengan ukuran eksternal, bisa berupa norma standar, perbandingan social, perbandingan dengan orang lain, atau perbandingan kolektif. Orang juga menilai suatu aktivitas berdasarkan anti penting dari aktivitas itu bagi dirinya. Akhirnya, orang juga menilai seberapa besar dirinya menjadi penyebab dari suatu performansi, apakah kepada diri sendiri dapati dikenai atribusi (penyebab) tercapainya suatu performansi, atau sebaliknya justru mendapat atribusi terjadinya kegagalan dan performansi yang buruk. Self-reaction atau reaksi diri pada kemajuan tujuan memotivasi perilaku. Keyakinan bahwa seseorang sedang menunjukkan kemajuan, bersama dengan kepuasan yang diperkirakan dalam penyelesaian tujuan, memperkuat efikasi diri dan mempertahankan motivasi. Evaluasi negatif 7 tidak mengurangi motivasi jika seseorang meyakini bahwa mereka mampu untuk berkembang 5. Moral Agency Manusia mengatur tingkah laku melalui moral agency atau standar perilaku moral. Dalam hal ini dikenal dengan istilah Observational Learning, yakni manusia dapat belajar mengenai sikap, keterampilan, dan tingkah laku dimana sebagian besar merupakan observasi model. Dalam hal ini, seseorang belajar melalui proses observasi sehingga peniruan tetapi tidak terbatas pada peniruan saja tetapi terdapat adanya proses kognitif. Berikut merupakan faktor yang mempengaruhi observational learning. a) Karakteristik model Semakin mirip model, maka individu akan semakin mudah terpengaruh oleh model. Schunk (2016) memaparkan bahwa siswa cenderung memperhatikan dan berusaha mempelajari perilaku individu yang kompeten dan memiliki prestise. Wentzel & Muenks (2016) memaparkan bahwa teman sebaya juga dapat menjadi model di kelas. Contohnya yaitu jika seorang siswa mengamati temannya yang berhasil melakukan tugas sekolah, terutama teman yang dikagumi siswa, maka efikasi diri siswa untuk berprestasi di sekolah akan meningkat. b) Karakteristik observer Seseorang yang memiliki kepercayaan dan harga diri yang rendah akan lebih mudah meniru perilaku orang lain dibandingkan seseorang yang memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi. c) Konsekuensi dari tingkah laku yang ditiru Reward yang bermakna akan mendorong seseorang untuk mencontoh perilaku orang lain sedangkan punishment akan mengurangi kemungkinan seseorang untuk mencontoh perilaku orang lain. Bandura (1986) menjelaskan empat proses utama dalam pembelajaran observasional, yakni sebagai berikut. 8 Observational learning Retention Attention Production Motivation Gambar 2. Model Pembelajaran Observasi Bandura a) Attention (Perhatian) Sebelum siswa menghasilkan model tindakan, mereka harus memperhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan oleh model. Perhatian terhadap model dipengaruhi oleh beberapa karakteristik. Contohnya yaitu orang yang hangat, berkuasa, dan tidak biasa mendapatkan banyak perhatian dibandingkan orang yang dingin, lemah, dan biasa saja. Siswa cenderung memperhatikan model berstatus tinggi daripada model berstatus rendah, oleh karena itu guru merupakan model status tinggi bagi siswa. b) Retention (Retensi) Untuk memproduksi tindakan model, siswa harus mengkodekan informasi serta menyimpannya di dalam memori sehingga mereka dapat mengambilnya kembali. Gambaran yang jelas mengenai apa yang dilakukan oleh model dapat membantu retensi siswa. Contohnya yaitu guru berkata “Saya menunjukkan cara yang benar untuk melakukan ini. Kamu harus melakukan langkah ini dulu, kemudian langkah yang kedua adalah ini, dan langkah yang ketiga adalah ini” sambil memberikan contoh cara menyelesaikan soal matematika. Daya ingat siswa akan meningkat apabila guru memberikan demonstrasi yang gamblang, logis, dan jelas. c) Production (Produksi) 9 Siswa mungkin memperhatikan model dan mengkodekan apa yang telah mereka lihat dalam ingatannya. Contohnya yaitu setelah siswa memperhatikan guru dan menyimpan contoh perilaku tersebut dalam ingatannya, maka ia akan mulai mereproduksi perilaku yang sama d) Motivation (Motivasi) Anak-anak memperhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan oleh seorang model, menyimpan informasi dalam ingatannya, dan memiliki keterampilan motorik dalam melakukan tindakan tersebut tetapi tidak termotivasi untuk melakukan perilaku yang dicontohkan. C. Mengevaluasi Pendekatan Sosial Kognitif Pendekatan sosial kognitif memiliki beberapa keunikan dalam konteks pembelajaran dan perilaku. Pendekatan ini menekankan peran aktif individu dalam proses belajar mereka sendiri. Ini berarti bahwa individu tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan mereka, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam pembelajaran mereka sendiri melalui pengamatan dan model perilaku. Pendekatan sosial kognitif juga mengakui pentingnya faktor sosial dalam pembelajaran. Faktor sosial tersebut diantaranya yaitu interaksi dengan teman sebaya, orang tua, guru, dan media yang memainkan peran penting dalam proses belajar. Individu dapat belajar perilaku baru atau memperoleh pengetahuan baru dengan mengamati orang lain, baik secara langsung (melalui interaksi dengan teman sebaya atau guru) atau secara tidak langsung (melalui media). Pendekatan sosial kognitif juga menekankan pentingnya efikasi diri dalam proses belajar dan perilaku. Efikasi diri merujuk pada keyakinan individu dalam kemampuan mereka untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas. Menurut Bandura, efikasi diri dapat mempengaruhi motivasi, prestasi, dan kesejahteraan individu. Misalnya, jika seorang siswa memiliki keyakinan yang kuat dalam kemampuan mereka untuk menyelesaikan suatu tugas, mereka mungkin lebih termotivasi untuk menyelesaikannya dan lebih mungkin untuk berhasil. 10 Namun demikian, beberapa kritikus berpendapat bahwa pendekatan kognitif sosial ini masih terlalu menekankan pada perilaku terbuka dan faktor eksternal, serta kurang menekankan pada detail bagaimana proses kognitif seperti berpikir terjadi. Dengan kata lain, mereka berpendapat bahwa pendekatan kognitif sosial mungkin tidak memberikan pemahaman yang cukup mendalam tentang bagaimana individu memproses dan menggunakan informasi untuk membentuk perilaku mereka. D. Pengimplementasian Teori Social Cognitive dalam Pembelajaran Pendekatan kognitif sosial, seperti yang dijelaskan oleh Albert Bandura, menekankan bahwa individu belajar melalui pengamatan dan model perilaku, dan bahwa lingkungan dan faktor eksternal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran di kelas, ini berarti bahwa berbagai strategi dapat digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran siswa, diantaranya: 1. Model perilaku. Guru dapat berfungsi sebagai contoh yang baik dalam perilaku, dengan mendemonstrasikan bagaimana menyelesaikan tugas atau menyelesaikan masalah. Kemudian, siswa dapat mempelajari perilaku tersebut melalui pengamatan, dan kemudian meniru perilaku tersebut. 2. Metode tutor sebaya. Tutor sebaya merujuk pada praktek dimana satu atau beberapa siswa diberi tugas khusus untuk membantu teman- teman mereka yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Tutor tersebut dipilih dari kelompok siswa yang memiliki prestasi yang lebih unggul. Metode tutor sebaya juga dapat ditawarkan sebagai bantuan untuk siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. 3. Mendorong efikasi diri. Mendorong efikasi diri siswa berarti guru berusaha untuk meningkatkan keyakinan siswa pada kemampuan mereka sendiri untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas. Ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti memberikan umpan balik positif, menetapkan tujuan yang realistis, dan membantu siswa melihat hubungan antara usaha dan hasil. Dengan demikian, siswa dapat merasa lebih percaya diri dalam 11 kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi motivasi dan prestasi mereka. 4. Menggunakan strategi pengaturan diri. Mengajarkan strategi pengaturan diri berarti guru membantu siswa mengembangkan keterampilan untuk mengatur dan memantau pembelajaran mereka sendiri. Ini dapat mencakup berbagai teknik, seperti perencanaan, pemantauan, dan evaluasi. Misalnya, siswa dapat diajarkan cara merencanakan waktu belajar mereka, memantau kemajuan mereka terhadap tujuan belajar, dan mengevaluasi efektivitas strategi belajar mereka. Dengan demikian, siswa dapat menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan efektif. 12 BAB III SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Pendekatan kognitif sosial dalam belajar, seperti yang dijelaskan oleh Albert Bandura, menekankan bahwa individu belajar melalui pengamatan dan model perilaku, dan bahwa lingkungan dan faktor eksternal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembelajaran. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya efikasi diri, atau keyakinan individu dalam kemampuan mereka untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas. Meskipun pendekatan ini mendapat kritikan karena terlalu berfokus pada perilaku terbuka juga faktor eksternal, kurang memperhatikan detail bagaimana proses kognitif internal (seperti berpikir) sebenarnya terjadi, namun demikian pendekatan ini telah terbukti efektif dalam berbagai konteks pembelajaran, termasuk di kelas. Misalnya, guru dapat bertindak sebagai model perilaku, menunjukkan cara melakukan tugas atau menyelesaikan masalah, dan siswa dapat belajar melalui pengamatan dan meniru perilaku tersebut. Penggunaan metode tutor sebaya, dimana siswa dengan prestasi unggul diminta untuk membantu siswa yang prestasinya dibawah mereka. Guru juga dapat mendorong efikasi diri siswa dan mengajarkan strategi pengaturan diri, seperti perencanaan, pemantauan, dan evaluasi dalam pembelajaran, sehingga siswa menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan efektif. B. Saran Demikian makalah yang telah kami paparkan. Makalah ini kami susun sesuai dengan sumber-sumber referensi yang relevan. Apabila dalam makalah ini terdapat kekurangan kami mengharapkan kritik dan saran supaya dapat menyempurnakan makalah ini. 13 DAFTAR PUSTAKA Santrock, John W. (2018). Educational Psychology (6th Edition). New York: McGraw-Hill Education. Schunk, D. H. (2014). Learning Theories: An Educational Perspective. England: Pearson. Calicchio, S. (2023). Albert Bandura dan faktor efikasi diri: Sebuah perjalanan ke dalam psikologi potensi manusia melalui pemahaman dan pengembangan efikasi diri dan harga diri. Italia: Stefano Calicchio. Schunk. Dale, H. (2012). Learning Theories an Education Perpective. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher. 14
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )