Bagian I. Analisis kritis dan mendalam terhadap kondisi pembelajaran di sekolah dasar pada umumnya sekarang secara komprehensif menurut teori belajar Pascapandemi covid-19, dunia pendidikan saat ini tengah berjuang untuk memulihkan kondisi pembelajaran. Berbagai negara mengeluarkan upaya guna mengejar ketertinggalan akibat learning loss. Learning loss adalah keadaan peserta didik yang mengalami kehilangan kesempatan belajar atau mengalami kemunduran secara akademis karena faktor ketidakberlangsungan proses pendidikan (The Educationand Development Forum, 2020). Sistem pembelajaran yang utamanya yang tadinya dilakukan di sekolah berubah total menjadi pembelajaran daring atau dilakukan di rumah masing-masing dengan bantuan kecanggihan teknologi termasuk di sekolah dasar. Pembelajaran ini dikenal dengan istilah pembelajaran jarak jauh (Mustika, 2013). Pembelajaran jarak jauh yang harapannya dapat mengakomodasi kebutuhah belajar peserta didik. Pada kenyataanya pelaksanaanya masih jauh dari kata ideal. Adapun ketimpangan pembelajaran pada era pandemi muncul dikarenakan peserta didik tidak mempunyai akses terhadap: (1) perangkat digital; (2) pendidik adaptif dan berkemampuan it yang mencukupi; (3) kondisi finansial; dan (3) orangtua yang aktif memberikan dukungan (The Smeru Research Institute, 2020). Keterbatasan interaksi langsung serta ketersediaan aksesibilitas yang terbatas menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran di masa pandemic (Adi et al. (2021). Kondisi ini diperburuk dengan peserta didik yang melaksanakan PJJ pun tidak mendapatkan kualitas pembelajaran yang sama sebagaimana sebelum pandemi. Banyak peserta didik hanya menerima instruksi, umpan balik, dan interaksi yang terbatas dari pendidik mereka (Indrawati, Pihadi, dan Siantoro, 2020). Kondisi ini berkontribusi pada menurunnya kemampuan peserta didik, ketidaktercapaian pembelajaran, ketimpangan pengetahuan yang semakin lebar, perkembangan emosi dan kesehatan psikologis yang terganggu, kerentanan putus sekolah, serta potensi penurunan pendapatan peserta didik di kemudian hari (The SMERU Research Institute-The RISE Programme in Indonesia, 2020). Hal ini diperkuat hasil penelitian Teristonia, Ni Luh Pegy, dkk (2023) bahwa terjadi fenomena learning loss di sekolah dasar pasca pandemi yang dilihat pada rendahnya prestasi belajar dan intelektual peserta didik, rendahnya psikologis dan psikososial peserta didik dan adanya kesenjangan pada akses belajar anak. Lebih lanjut, di sekolah dasar ditemukan fakta bahwa masih kurangnya pastisipasi atau keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran seperti mengajukan atau menjawab pertanyaan, memecahkan suatu masalah, maupun peserta didik kurang aktif dalam berdiskusi. Rendahnya motivasi yang dilihat menurunnya ketertarikan peserta didik dalam belajar saat kembali diterapkannya pembelajaran tatap muka di sekolah. Pada pelaksanaan pembelajaran, pendidik juga harus menjelaskan kembali materi atau topik yang diberikan sebelumnya pada waktu peserta didik mengikuti pembelajaran daring. Hasilnya sebagian besar peserta didik belum memahami materi secara menyeluruh sehingga hal ini berdampak pada proses belajar peserta didik kedepannya. Oleh karena itu, di sekolah dasar, pembelajaran saat ini diharapkan dapat mengatasi dampak fenomena tersebut dengan perlunya pembelajaran berpusat untuk belajar aktif, kolaborasi, pengalaman belajar, menekankan proses belajar, dan penilaian yang lebih menyeluruh. Hal ini sejalan dengan paradigma pembelajaran konstruktivisme yang dikemukakan oleh Piaget dan Vigotsky. Harasim (2017) mengidentifikasi empat kunci penting dalam konstruktivisme yakni: active learning, learning-by-doing, scaffolded learning dan collaborative learning. Dalam konstruktivisme, pembelajaran berpusat pada peserta didik atau student center. Pendidik bukan sekedar pendidik dan pengajar tapi pendidik juga seorang fasilitator, mediator, dan manajer di kelas. Dalam konstruktivisme, pembelajarah harus mampu menghargai keberagaman yang dimiliki peserta didiknya. Keberagaman bukan suatu halangan, namun modal penting di dalam pembelajaran. Hasil akhir pembelajaran bukan ditentukan oleh skor atau nilai yang diperoleh oleh peserta didik tetapi nilaimenyeluruh yang berhasil diraih oleh peserta didik. Di sisi lain, teori Piaget menyatakan bahwa peserta didik sekolah dasar berada pada tahap berpikir operasional konkret. Kegiatan pembelajaran peserta didik diberikan pengalaman konkret. Melalui pengalaman konkret peserta didik akan mudah menemukan konsep. Lebih lanjut, Eggen dan Kauchak (2016:74-75) menyatakan beberapa petunjuk yang dapat dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik dalam pembelajaran berkaitan dengan hal ini yaitu; 1)Pendidik memberikan pengalaman konkret yaitu pengalaman langsung yang diberikan pendidik ke peserta didik, misalnya untuk menunjukkan bahwa matahari panas maka peserta didik diajak keluar untuk merasakan panas secara langsung. 2) Pendidik membantu peserta didik menghubungkan pengalaman konkret dengan ide abstrak. misalnya mengapa baju bisa kering jika dijemur di bawah terik matahari. 3) Pendidik membentuk kelompok untuk memajukan dan memperbaiki pemahaman peserta didik Melalui kegiatan kelompok, peserta didik saling berdiskusi sehingga mendorong bertambahnya pengetahuan mereka. 4) Merancang pengalaman belajar sebagai awal perkembangan peserta didik ke tahap yang lebih maju. Ini sebagai langkah awal peserta didik dalam memahami materi secara lebih mendalam. Jadi, pendidik hendaknya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif setiap peserta didik serta memberikan isi,metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tehapannya (Pahliwandari, 2016: 159). Selain itu, pembelajaran di sekolah dasar saat ini diharapkan dapat mengembangkan self-regulated learning pada siswa. Self regulated learning juga sebagai bentuk belajar individual dengan bergantung pada motivasi belajar mereka, secara otonomi mengembangkan dan pengukuran (kognisi, metakognisi, dan perilaku), dan memonitor kemajuan belajarnya (Baumert et al., 2002). Dalam prosesnya, pada awalnya, peserta didik masih dibantu dengan scaffolding, namun secara bertahap peserta didik dibimbing untuk melakukannya sendiri, hingga dia benar-benar bisa menerapkan pembelajaran yang diaturnya sendiri. Kesadaran peserta didik selama proses pembelajaran ini tentunya akan berdampak motivasinya dalam proses pembelajaran dan terhadap penguasaan materi Adanya kebijakan kurikulum merdeka yang diterbitkan kemendikbud dirasakan menjadi solusi alternatif jika diimplementasikan dengan baik. Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik (Kemendikbud,2022). Kurikulum ini memberikan kebebasan dan wewenang bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan paska pandemi. Pada kurikulum merdeka menekankan pembelajaran yang menekankan pada proses, pembelajaran dan assesmen yang fleksibel, dengan aktivitas project-based learning yang multi disiplin ilmu (Gatot Pramono, 2023). Untuk itu, sebagai pendidik saat ini bukan saja seorang yang mampu menyampaikan materi di depan kelas, tapi harus dapat menjadi seorang manajer yang mampu mengeluarkan kemampuan terbaik yang dimiliki peserta didik. 2. Dasar-dasar yang diperlukan sebagai pertimbangan psikologis untuk memperlakukan peserta didik sebagai pelaku belajar. Peserta didik adalah salah satu komponen dalam pembelajaran. Peserta didik merupakan anggota masyarakat yang berupaya untuk mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran yang di dalamnya diatur jalur dan jenjang pendidikan (Ramli, 2015). Dalam hal ini, peserta didik dianggap seseorang yang sudah mempunyai bekal sedang menempuh belajar di sekolah. Lebih jauh peserta didik dianggap mereka yang secara khusus diserahkan oleh orang tua untuk mengikuti pembelajaran yang diselenggarakan di sekolah dengan tujuan untuk menjadi manusia yang memiliki pengetahuan, berketrampilan, berpengalaman, berkepribadian, berakhlak dan mandiri (Ali, 2014). Dapat dikatakan, peserta didik adalah seseorang yang sedang menjalankan sebuah proses pendidikan di dalam lingkungan pendidikan untuk mengembangkan potensi dalam mencapai tujuan tertentu. Peserta didik tidak hanya sekadar sebagai obyek atau sasaran pendidikan dalam pandangan pendidikan modern. Peserta didik diperlakukan sebagai subyek pendidikan, dengan cara melibatkan mereka dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran, karena peserta didiklah yang membutuhkan pengajaran dan bukan pendidik, pendidik hanya berusaha memenuhi kebutuhan yang ada pada peserta didik (Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama,2005). Dapat dikatakan bahwa peserta didik adalah komponen yang terpenting dalam pembelajaran. Hal ini sejalan bahwa peserta didik merupakan salah satu input yang menentukan keberhasilan proses pendidikan (Hasbullah, 2010). Untuk mencapainya, peserta didik harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Maka, pembelajaran saat ini, bertolak pada model pengajaran yang berpusat pada siswa atau dikenal sebagai student-centered learning. Teori konstrutivisme pembelajaran (constructivist theories of learning) mendasari ide pembelajaran yang berpusat pada siswa. Esensi dari teori ini adalah ide bahwa pembelajar secara individual harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi yang kompleks jika mereka ingin menjadikannya sebagai pengetahuan miliknya sendiri (Anderson,et all dalam Slavin, 2006). Lebih lanjut teori konstrutivisme melihat pembelajar dalam perannya sebagai pencari informasi secara tetap terhadap aturan-aturan lama dan kemudian merevisi aturanaturan ketika hal itu tidak bekerja lagi. Pendidik membantu siswa untuk menemukan pengertian mereka sendiri dibandingkan memberikan kuliah/ceramah saja dan mengontrol seluruh aktivitas pembelajaran (Weinberger & McCombs; Windschitl dalam Slavin, 2006). Pendidik lebih tepatnya disebut sebagai fasilitator pembelajaran, dapat juga disebut sebagai mediator. Pendidik dapat menfasilitasi proses pengajaran dengan cara membuat informasi bermakna dan berkaitan dengan siswa; dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. Pendidik mengajarkan kepada siswa untuk bangkit dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Gambarannya seperti pendidik dapat memberikan tangga yang membimbing siswa menuju pemahaman yang lebih tinggi, dan siswa dengan sendirinya harus bisa mendaki tangga tersebut (Slavin, 2006). Pendidik diarahkan untuk dapat menerapkan teori konstruksivisme berakar dari teori kognitif yang dikemukakan oleh Piaget dan Vigotsky. Konsep pertama adalah terkait pembelajaran sosial. Siswa belajar dengan keterlibatan atau interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya (peer) yang kapabel. Konsep kedua adalah terkait dengan Zone of Proximal Development yang mana siswa bekerja ketika mereka terikat dengan tugas yang tidak dapat mereka kerjakan sendiri tetapi dapat mengerjakannya dengan asisten teman sebaya ataupun orang dewasa. Konsep ketiga adalah cognitive apprenticeship, yang merujuk pada proses yang mana pembelajar secara bertahap mendapatkan keahlian melalui interaksi dengan seorang ahli, yang dapat berupa seorang dewasa atau seseorang yang lebih tua, ataukah teman sebaya yang lebih maju (advance). Konsep keempat adalah scaffolding. Scaffolding merupakan mekanisme pendukung yang membantu siswa untuk berhasil menyelesaikan suau tugas dalam zona perkembangan proksimalnya (Ormrod, 2008). Dengan demikian, konsep ini menekankan bahwa peserta didik dibimbing menjadi seorang pembelajar yang mandiri. Pembelajar yang independen, yang akan menjadikannya sebagai seseorang yang mampu berperan dalam masyarakat sesuai dengan kompetensinya Lebih lanjut, Ormrod menjelaskan untuk dapat menerapkan pembelajaran student-centered learning menjadi lebih efektif perlu memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. Konsep Student-Centered Learning menekankan pada pemrosesan informasi dari atas ke bawah (Top-Down processing), yang artinya siswa memulai dari permasalahan yang kompleks untuk diselesaikan dan kemudian bekerja untuk menemukan keterampilan dasar yang diperlukan, tentu dengan bimbingan pendidik sebagai fasilitator. Misalnya saja, ketika pendidik memberikan suatu soal untuk diselesaikan secara bersama dalam kelompok. 2. Penekanan pada pembelajaran kooperatif. Melalui pembelajaran kooperatif, siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit karena mereka dapat membicarakannya dengan orang lain. Pembelajaran kooperatif ini merupakan pendekatan pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan bersama dan membantu satu sama lain dalam belajar 3. Pendekatan discovery learning (pembelajaran penemuan) dalam pembelajaran. pembelajaran penemuan merupakan suatu proses di mana para siswa berinteraksi dengan lingkungannya dan memperoleh informasi bagi dirinya sendiri Siswa didukung untuk belajar secara lebih luas berdasarkan pada pemahaman mereka sendiri melalui keterlibatan yang aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. PENDIDIK mendukung siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan eksperimen yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip bagi dirnya sendiri. 4. Peran pendidik sebagai fasilitator dan atau mediator serta asisten. Hal ini merujuk pada pembelajaran yang dimediasi (mediated learning). Dalam pembelajaran ini, pendidik berperan sebagai agen kultural yang membimbing siswa sehingga siswa dapat menguasai dan menginternalisasi keterampilan-keterampilan yang kemudian memungkinkan siswa untuk mencapai fungsi-fungsi kognitif yang lebih tinggi. 5. Mendorong siswa mengembangkan self-regulated learning. Para ahli kognitif sosial dan psikolog kognitif mulai menyadari bahwa untuk menjadi pembelajar yang benar-benar efektif, siswa harus terlibat dalam beberapa aktivitas mengatur diri (self-regulated activities). Siswa tidak hanya sekedar mengatur perilakunya sendiri, melainkan juga mengatur proses-proses mental mereka sendiri Pembelajaran yang diatur sendiri mencakup proses-proses seperti penetapan tujuan, perencanaan, motivasi diri, kontrol atensi, penggunaan strategi belajar yang fleksibel, monitor diri, mencari bantuan yang tepat, dan evaluasi diri. Dalam padangan Vygotsky, self-regulated mungkin berakar pada pembelajaran yang diatur secara sosial (socially-regulated learning) atau di atur oleh orang lain. Dalam perkembangannya, jembatan yang masuk akal antara keduanya adalah pembelajaran yang diatur bersama (co-regulated learning). Pada awalnya, siswa mungkin masih dibantu dengan scaffolding, namun secara bertahap siswa dibimbing untuk melakukannya sendiri, hingga dia benar-benar bisa menerapkan pembelajaran yang diaturnya sendiri. 3. Pertimbangan dan penjelasan pemilihan metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan masyarakat dan kondisi psikogis siswa secara sistematis, sistemik, dan komprehensif! Pandemi Covid-19 menyebabkan proses pembelajaran tidak berlangsung seperti konsep ideal dalam proses pembelajaran. Belajar adalah proses interaksi antara siswa, guru, dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar (Abidin, 2016). Belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan melalui kegiatan interasi antara guru, siswa, dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Pembelajaran dikatakan berkualitas tinggi jika terjadi interaksi multi arah seperti antara guru dan siswa, siswa dan guru, antar siswa, siswa dengan sumber belajar, dan siswa dengan lingkungan belajar (Assidiqi & Sumarni, 2020). Namun, dari tingkat sekolah dasar dan menengah sampai tingkat perguruan tinggi. kegiatan belajar dan mengajar terganggu dengan meniadakan pembelajaran tatap muka secara langsung. Proses pembelajaran harus berjalan secara online. Pandemi memaksa lompatan digital teknologi dalam pembelajaran. Komunikasi antara peserta didik dan pendidik memerlukan metode pengajaran khusus dalam pembelajaran jarak jauh.. Pendidik dituntut kreatif lebih proaktif dalam mempersiapkan masyarakat untuk transformasi digital dan menangani transformasi digital pendidikan. Selain itu,peserta didik dihadapkan penguasaan dapat mengelola dan menguasai masa depan digital selama pembelajaran. Alhasil, transformasi digital dalam dunia pendidikan di masa yang bergejolak juga menciptakan peluang dan tantangan yang diakui oleh masyarakat. Keberagaman dalam proses pembelajaran ini selanjutnya memberi pengaruh pada semakin melebarnya kesenjangan hasil pembelajaran siswa selama pandemi. Hasil penemua The SMERU Research Institute (2020) menunjukkan dua hal. Pertama, analisis ketimpangan belajar di dalam kelas menunjukkan bahwa siswa yang memiliki akses terhadap perangkat digital, memiliki guru adaptif, pada kondisi sosial ekonomi lebih tinggi, serta mempunyai orang tua yang aktif berkomunikasi dengan guru cenderung memiliki kemampuan di atas rata-rata. Kedua, ketimpangan hasil belajar antar siswa dalam satu kelas pun diprediksi akan semakin lebar. menunjukkan risiko yang lebih besar dari semakin melebarnya kesenjangan pembelajaran ini. Pembelajaran selama covid-19 memiliki dampak yang lebih besar pada beberapa kelompok siswa, di mana siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi lebih rendah lebih berisiko tidak terdaftar lagi atau tidak lagi berpartisipasi dalam proses pembelajaran (Studi inovasi dan puslitjak ,2020). Apabila tidak ada intervensi yang mendorong pendidik untuk menyusun pembelajaran yang memperhatikan keragaman kemampuan belajar siswa, maka siswa dengan kemampuan rendah akan semakin tertinggal dari siswa lainnya. Sejalan hal tersebut, pada dasarnya peranan pendidik juga tidak dapat dikesampingkan dalam proses pembelajaran. Pendidik berperan sangat penting bagi tumbuh kembangnya peserta didik dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Peserta didik, dapat mengembangkan kemampuannya dan semua potensi yang dimilikinya kearah yang positif. Dalam hal tersebut tentunya tetap pada pengawasan pendidik. Penentu utama keberhasilan pendidikan adalah membelajarkan peserta didik menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar (Sagala;2017). Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa peserta didik adalah pribadi yang “unik” yang mempunyai potensi dan mengalami berkembang (Djamarah, 2011). Peserta didik antara satu dan yang lain tidak dapat disamakan. Perbedaan individual terjadi karena adanya perbedaan berbagai aspek kejiwaan antar peserta didik, bukan hanya yang berkaitan dengan kecerdasan dan bakat tetapi juga perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan, perbedaan aspirasi dan cita-cita bahkan perbedaan ke pribadian secara keseluruhan. Pendidik perlu memahami perkembangan individu peserta didiknya baik itu prinsip perkembangannya maupun arah perkembangannya. Oleh sebab itu, Pemilihan metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan masyarakat serta kondisi psikologis siswa perlu mempertimbangkan beberapa faktor kunci sebagai berikut: 1. Perkembangan Kognitif. Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual Ruseffendi dalam Dwi Siswoyo, dkk. (2013: 101) menyebutkan sebagai berikut: 1). Bahwa perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya setiap manusia akan mengalami urutan tersebut dan dengan urutan yang sama; 2). Bahwa tahap-tahap perkembangan didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokkan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual. 3) bahwa gerak melalui melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). Guru perlu menyesuaikan tingkat perkembangan kognitif yang dimiliki peserta didik akan dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran, metode, media, dan jenis evaluasi. Di sekolah dasar, pada dasarnya anak belajar melalu benda kongkrit. Untuk memahami konsep abstrak anak memerlukan benda-benda kongkrit sebagai perantara atau visualisasinya. 2. Kemampuan kognitif. kemampuan kognitif berkaitan anak dapat berpikir, memahami, dan mengeksplor hal-hal menjadikan bekal peserta didik untuk pembelajaran. kemampuan awal atau entry behavior menurut Ali (1984: 54) merupakan keadaan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu oleh peserta didik sebelum mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru. Pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu maksudnya adalah pengetahuan atau keterampilan yang lebih rendah dari apa yang akan dipelajari. Contohnya Siswa sebelum mempelajari tentang pembagian maka siswa tersebut harus mengusai terlebih dahulu tentang konsep pengurangan. Kemampuan awal bagi peserta didik akan banyak membawa pengaruh terhadap hasil belajar yang dicapainya. Oleh karena itu seorang pendidik harus mengetahui kemampuan awal peserta didiknya. Jika kemampuan awal peserta didik telah diketahui oleh pendidik, maka pendidik tersebut akan dapat menetapkan dari mana pembelajarannya akan dimulai. Kemampuan awal peserta didik bersifat individual, artinya berbeda antara peserta didik satu dengan lainnya, sehingga untuk mengetahuinya juga harus bersifat individual. 3. Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para pendidik, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Seorang pendidik harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan peserta didiknya, maka sangat penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik peserta didiknya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan juga adalah kebutuhan peserta didik. pemahaman terhadap karakteristik peserta didik dan tugas-tugas perkembangan anak SD dapat dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu sendiri. 4. Gaya belajar merupakan cara termudah yang dimiliki oleh individu dalam menyerap,mengatur, dan mengolah informasi yang diterima. DePorter & Hernacki (2009) mengemukakan bahwa gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Gaya belajar yang sesuai adalah kunci keberhasilan peserta didik dalam belajar.Dengan menyadari hal ini, peserta didik mampu menyerap dan mengolah informasi dan menjadikan belajar lebih mudah dengan gaya belajar peserta didik sendiri. Penggunaan gaya belajar yang dibatasi hanya dalam satu bentuk, terutama yang bersifat verbal atau dengan jalur auditorial, tentunya dapat menyebabkan adanya ketimpangan dalam menyerap informasi. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar, peserta didik perlu dibantu dan diarahkan untuk mengenali gaya belajar yang sesuai dengan dirinya sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Terdapat tiga modalitas (type) dalam gaya belajar yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. 5. Pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik. Dalam rangka pencapaian perkembangan diri peserta didik, sekolah dan pendidik seyogiyanya dapat menyediakan dan memenuhi berbagai kebutuhan peserta didiknya dalam rangka pencapaian perkembangan diri siswa. seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis, pemenuhan kebutuhan rasa aman, pemenuhan kebutuhan kasih sayang atau penerimaan, pemenuhan kebutuhan harga diri , pemenuhan kebutuhan akatualisasi diri. 6. Teknologi yang terus berkembang. Penggunaan teknologi dan informasi sebagai media pembelajaran agar pembelajaran semakin menarik dan tidak hanya terpaku kepada guru. Dalam penggunaannya, media teknologi dan informasi memang sulit di operasikan dan membutuhkan keahlian khusus untuk menjalanknnya. Media pembelajaran dengan jenis ini sangat memudahkan guru dalam kegiatan belajar mengajar, karena guru dapat tidak lagi menjelaskan ulang materi telah dibahas. Dan cakupan dalam media berbasis teknologi ini sangat luas sehingga sangat mudah untuk dijangkau peserta didik. 7. Globalisasi. Adanya arus globalisasi semakin meningkat, memungkinkan pertukaran ide, budaya, dan informasi di antara masyarakat yang berbeda di seluruh dunia. Hal ini juga memberikan tantangan dan peluang dalam hal adaptasi mempersiapkan penting untuk mempertimbangkan metode, pendekatan pembelajaran yang meningkatkan keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Metode yang menekankan pada pengembangan keterampilan ini akan membantu siswa untuk sukses dalam masyarakat yang terus berubah. 8. Kondisi masyarakat dan lingkungan sosial juga penting untuk dipertimbangkan. Pemahaman akan nilai-nilai budaya lokal, kebiasaan, dan konteks sosial dapat membantu dalam merancang metode pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi siswa. Masyarakat saat ini dihadapkan pada perubahan-perubahan sosial yang signifikan, termasuk isu-isu seperti ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, isu kesehatan global, migrasi, serta perubahan politik yang mempengaruhi dinamika sosial di berbagai negara.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )