See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/389938761 DINAMIKA KOMUNIKASI Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini Chapter · September 2022 CITATIONS READS 0 745 1 author: Damayanti Masduki Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta 18 PUBLICATIONS 10 CITATIONS SEE PROFILE All content following this page was uploaded by Damayanti Masduki on 18 March 2025. The user has requested enhancement of the downloaded file. DINAMIKA KOMUNIKASI Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini DINAMIKA KOMUNIKASI Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini PENULIS Azwar Chairun Nisa Zempi Damayanti Masduki Dian Tri Hapsari Drina Intyaswati Fitria Ayuningtyas Lusia Handayani Prijono Sadjijo Radita Gora Tayibnapis Yani Hendrayani EDITOR Azwar - Fitria Ayuningtyas Vina Mahdalena - Irfan Rifai Sutowo Radita Gora Tayibnafis DINAMIKA KOMUNIKASI: SEJARAH, TEORI, DAN APLIKASI PADA FENOMENA MASA KINI © LPPM Press UPN Veteran Jakarta, 2022 Penulis Editor Desain Kover Tata Letak Isi Produksi : Azwar, Chairun Nisa Zempi, Damayanti Masduki, Dian Tri Hapsari, Drina Intyaswati, Fitria Ayuningtyas, Lusia Handayani, Prijono Sadjijo, Radita Gora Tayibnapis, Yani Hendrayani : Azwar, Fitria Ayuningtyas, Vina Mahdalena Irfan Rifai Sutowo, Radita Gora Tayibnafis : Mawai : Tim LPPM Press : Faizi Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Dinamika Komunikasi: Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini/ Chairun NIsa Zempi, Damayanti Masduki, Dian Tri Hapsari, Drina Intyaswati, Fitria Ayuningtyas [dan 5 lainya] vi + 259 hlm; 15,5 x 23 cm ISBN: 978-623-6574-19-5 1. Komunikasi I. Judul 2. Kajian Budaya dan Media Diterbitkan oleh LPPM Press UPN Veteran Jakarta Jl. Rs. Fatmawati, Pondok Labu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, 12450 Narahubung: 081311542255 Email: lppm@upnvj.ac.id Cetakan Pertama: September 2022 Dilarang keras memfotokopi atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Daftar Isi 1/ Teori Kritis dan Kembali Pada Rasionalitas — Radita Gora Tayibnapis .......................................... 1 2/ Teori Kritis, Industri Televisi, dan Wajah Buram Politik Indonesia — Azwar ....................................................................... 37 3/ Teori Atribusi dan Aplikasi Pada Ilmu Komunikasi — Damayanti Masduki .............................................. 61 4/ Teori Komunikasi Massa di Era Media Baru — Dian Tri Hapsari ..................................................... 85 5/ Theory of Reasoned Action — Drina Intyaswati ..................................................... 123 6/ Teori Difusi Inovasi — Fitria Ayuningtyas .................................................. 143 7/ Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan — Lusia Handayani .................................................... 163 v vi Dinamika Komunikasi 8/ Teori Jaringan Sosial (Network Society) dan Analisis Jaringan Sosial — Chairun Nisa Zempi ............................................... 189 9/ Teori Pertukaran Sosial — Prijono Sadjijo ........................................................ 207 10 / Interaksionisme Simbolik — Prijono Sadjijo ........................................................ 225 11 / Teori Stakeholder — Yani Hendrayani ..................................................... 239 Para Penulis ......................................................................... 255 1 Teori Kritis dan Kembali RADITA GORA TAYIBNAPIS Pada Rasionalitas O toritas ilmu pengetahuan sempat terbelenggu dengan adanya pandangan bebas nilai terhadap epistemologi dan metodologi dari ilmu yang dibangun untuk melawan pandangan metafisik dengan analogi yang tidak berdasar. Hal ini dikuasai oleh pandangan-pandangan ilmu alam yang mengukur serta menyamakan gejala sosial sama dengan ilmu alam. Pernyataan Rene Decrates mengenai kembali pada rasionalitas “aku berpikir, maka aku ada” pada dasarnya lebih mendukung pengukuran ilmu pasti yang memperhatikan gejala yang pasti (tentunya didasarkan pada sebuah hasil eksperimen dan pengamatan hanya) dan jelas tidak berspekulasi, tidak mendasarkan keyakinan yang didasarkan atas keyakinan transendental, tidak memerlukan proses hermeneutis sehingga manusia harus mau terikat dalam hasil empiris. St. Simon (abad ke 19) menemukan gagasan pemikiran positivisme yang diangkat dari kajian ekonomi yang pengaruhnya dalam pemikiran ekonomi sosial. Pemikiran positivisme ini yang kemudian digunakan oleh Agustue Comte ketika menjelaskan perkembangan masyarakat, terutama masyarakat modern yang 1 2 Dinamika Komunikasi memasuki fase positvistis yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan empiris. Positivisme, menurut Comte, merupakan suatu model paling akhir dari pemikiran manusia yang dimana sistem pemikiran ini berkembang bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang mengidentifikasikan diri sebagai ilmu pengetahuan empiris yang bersumber pada fakta dan hukum-hukum ilmiah (Dua, 2007). Pemikiran empiris pun berlanjut hingga abad ke 20 oleh Ernest Mach dalam bukunya Die Mechanik yang menegaskan bahwa landasan bagi positvisme sebagai aliran pemikiran bahwa pengetahuan manusia harus berbasiskan data. Tentu berbeda dari empirisme klasik yang mendasarkan pada pengalaman manusia sebagai dasar dari pengetahuan pada umumnya. Pemikiran atomistis Mach ini kemudian berkembang sebagai positivisme logis sebagai emansipatoris. Melalui Vienna Circle (Lingkaran Wina) oleh Rudolf Carnap dan beberapa tokoh lingkaran Wina, pandangan positivisme logis mengedepankan positivisme modern yang memberian perhatian pada makna logis dari pernyataan-pernyataan ilmiah (proposisi) dengan fokus baru ini yang kemudian disebut dengan positivisme logis. Sehingga tidak seperti empirisme klasik yang menitik beratkan ada data sebagai kriteria pengetahuan. Positivisme logis menghendaki sebuah kesatuan metodologis untuk membangun ilmu pengetahuan dengan berbasis pada ilmu alam dan diterapkan pada ilmu manusia atau ilmu sosial. Hal ini mengabaikan pandangan metafiisik sebagai kebenaran, melainkan merasionalkan manusia melalui data dan proposisi sebagaimana Carnap mengembangkan prosedur proposisi dalam bentuk kalimat protokol seperti Jika-Maka, Sebab-Akibat, dan sejenisnya. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 3 Kalimat protokol, oleh Carnap, bertujuan melakukan pengujian proposisi-proposisi ilmiah sekaligus menunjukkan dasar pengetahuan yang empiris. Pandangan positivisme ini pun kemudian dikritik karena dianggap indoktrinasi keilmuan yang harus berbasis pada data dan proposisi serta bebas nilai atau pernyataan kebenaran yang tidak bisa terbantahkan karena pernyataan proposisi dianggap sebagai yang benar dan pasti. Masalah mendasar yang utama adalah peran kalimat-kalimat basis atau protokol dan atomistis memiliki sikap dogmatis dan adanya tekanan memaksa kepada khalayak untuk patuh terhadap hasil akhir proposisi serta tidak dapat dikritik. Kritik yang berkembang terhadap Positivisme ini sebenarnya memiliki perjalanan yang panjang, mulai dari kritik dari Karl R. Popper yang menganggap bahwa verifikasi terhadap fenomena melalui pernyataan proposisi dianggap mengabaikan sisi pengalaman dan pendalaman manusia. Variabel dianggap pasti dan laten namun tidak dapat diganggu gugat. Sementara menruut Popper, positivisme seharusnya memberikan celah nilai terhadap fenomena sosial yang tidak bergantung pada verifikasi. Disinilah kemudian Popper menekankan pentingnya falsifikasi. Jika Carnap mengandaikan bahwa penerimaan proposisi ditentukan oleh probabilitas, dengan pengandaian bahwa semakin besar isi empiris sebuah hipotesis semakin benar hipotesis tersebut. Hal ini dibalikkan oleh Popper bahwa suatu penerimaan terhadap sebuah hipotesis selalu bersifat sementara, karena setiap langkah penegasan terhadap hipotesis harus selalu diikuti oleh pengujian kritis baru; semakin tahan uji sebuah teori semakin baik hipotesis tersebut. Popper sendiri mengakui adanya kebenaran ilmiah, tetapi kebenaran ilmiah itu harus disikapi secara kritis: artinya, kebenaran 4 Dinamika Komunikasi ilmiah memang ada, tetapi orang harus mengatakan bahwa tidak perlu begitu yakin sebelum dilakukan pengujian ulang secara kritis dan proposisi ilmiah selalu bersifa hipotesis yang dibangun untuk diuji berdasarkan pengalaman (Dua, 2007). Pedebatan panjang kritik terhadap positivisme tersebut berlangsung panjang hingga kritik positivisme juga dilakukan para pendiri Teori Kritis Sosial dari Frankfurt atau aliran Frankfurt School. Max Horkheimer sebagai penggagas awal Teori Sosial kritis modern dengan menerapkan kajian Supradisipliner terhadap ilmu pengetahuan khususnya di bidang sosial seperti sosiologi, antropologi, politik dan Budaya secara tegas menyatakan keberatan bahwa positivisme memposisikan sebagai teori emansipatoris. Positivisme, bagi Horkheimer, masih dinyatakan sebagai teori tradisional. Teori kritis berlawanan dengan positivisme. Horkheimer beranggapan bahwa pengetahuan bukan semata-mata refleksi atas dunia statis, namun teori kritis adalah konstruksi aktif oleh ilmuwan dan teori yang membuat asumsi tertentu tentang dunia yang mereka pelajari sehingga tidak sepenuhnya bebas nilai. Sementara positivisme menyatakan bahwa proposisi pada pengetahuan empiris yang digagas melalui positivis bersifat bebas nilai. Selain itu teori kritis berlawanan dengan pandangan positivis yang menyatakan bahwa sains harus menjelaskan hukum alam masyarakat. Sebaliknya, teori kritis percaya bahwa masyarakat ditandai oleh historisitas dan terus mengalami perubahan. (Agger, 2003). Teori kritis berpandangan bahwa dominasi bersifat struktural dan direproduksi melalui kesadaran palsu manusia sebagaimana dipelihara oleh ilmu sosial positivis, dilanggengkan oleh ideologi (Marx), reifikasi (Lukacs), hegemoni (Gramsci), dan pemikiran satu dimensi (Marcuse). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 5 Berawal dari Marx dan Pemikirannya di Era Digital Melalui tulisan ini, penulis memulai dari pemikiran Marx yang membangun pandangan kritik awal. Marx sendiri tidak murni sebagai penggagas ilmu kritis ilmiah, namun Marx dipengaruhi oleh pandangan Hegel dan Feurbach, terutama mengenai masyarakat yang teralienasi (terasing) baik itu terasing dalam kehidupannya, terasing dengan lingkungan sekitarnya, hingga terasing dari dirinya sendiri karena keterasingan itu akibat pekerjaan yang dijalaninya dan memilih menasingkan diri dengan pekerjaannya. Berangkat dari pemikiran Marx Muda yang fokus terhadap masalah humanisme. Humanisme Marx adalah manusia yang nyata, kongkrit dan otonom, yang hidup dalam masyarakat yang juga nyata. Manusialah yang menciptakan dunianya sendiri dan secara tak langsung mempengaruhi perkembangannya sendiri. Pemikiran Marx disini mengharapkan adanya sifat yang otonom pada diri manusia sebagaimana konsep etika dari Immanuel Kant yang mengharapkan adanya peran “kata hati” serta menjadi manusia yang otonom dan bebas namun kebebasan tersebut tidaklah absolut, melainkan ada batasannya. Manusia yang dalam rangka humanisme Marxis dipandang sebagai pencipta dirinya sendiri, juga dipandang sebagai pembebas dirinya sendiri. Karena itu manusia harus mau dan mampu membebaskan diri dari setiap unsur yang menindasnya. Hal ini tampak pada sosialisme Marxis yang dengan mengandalkan kekuatan proletariat berjuang keras utuk menciptakan masyarakat tanpa kelas (Wardaya, 2003). Konsep humanisme Marx muncul sebagai sebuah kritik awal Marx terhadap kapitalisme. Marx dipengaruhi oleh Hegel terkait pemikirannya mengenai idealime, dan Feurbach mengenai ma- 6 Dinamika Komunikasi terialisme. Marx mengkritik kapitalisme sebagai sumber utama penyebab manusia yang teralienasi atau sebagai manusia yang terdominasi dan mengabaikan sisi otonom. Feurbach mengabaikan terhadap masyarakat religi yang terasing dengan keyakinan yang tidak tampak dan memuja empirisme sebagai dasar pengetahuan termasuk kritik terhadap masyarakat yang candu terhadap agama dan mengedepankan sisi material sebagai sumber kehidupan utama. Feurbach yang dikenal sebagai bapak ateis di Jerman pemkiranna diadopsi oleh marx, namun di satu sisi juga dikritik oleh Marx yang diana Feurbach kenapa tidak mempertanyakan kenapa masyarakat memilih untuk terasing atau candu terhadap agama dan pekerjaan yang mengeskploitasinya? Bagi Marx Ferubach masih belum menjelaskan alasannya. Pemikiran Hegel yang diadopsi oleh Marx yaitu Dialektika. Sesuatu dilihat hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungannya kita bias maju, kita dapat mencapai keutuhan, dan kita dapat menemuka diri sendiri. Sehingga secara ringka, dialektika memandang apa pun yang ada sebagai “kesatuan dari apa yang berlawanan”, sebagai perkembangan melalui langkah-langkah yang saling berlawanan”, sebagai “hasil dari, dan unsur-unsur dalam, sebuah proses yang maju lewat negasi atau penyangkalan.”(Suseno, 2016). Disinilah pemikiran Hegel itu kemudia dikenal dengan Tesis-Antitesis-Sintesis. Bila dipahami secara sederhana bahwa kebenaran yang sudah ada atau berdiri kemudian dikritik kebenaran tersebut karena ada kebenaran lain yang menyangkal kebenaran yang sudah ada kemudian di negasikan sebagai anti tesis, kemudian ditemukan kebenaran yang baru sebagai sintesis. Sehingga proses dialektika disini sebagai proses melingkar dari kebenaran yang dikritik dan melahirkan kebenaran yang baru. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 7 Melalui Hegel in filsafat menjadi praksis dengan gagasan dari dalam diri(roh) yang absolut. Marx membangun pemikiran humanisme nya menjadi sebuah filsafat yang praksis meskipun Marx di masa muda belum sampai pada sebuah konsepsi teoritis yang memuaskan, arah pikirannya terbentuk. Bentuk praksis yang dibentuk disini kemudian menjadikan kritik sebagai emansipasi, dan sarana emansipasi itu adalah pengertian atau teori yang menjadi kekuatan praksis sosial. Namun pada intinya bahwa Marx mencitrakan manusia ke dalam posisi emansipatoris, menghilangkan segala sesuatu yang menghalangi manusia secara positif menghumanisasika mausia. Melalui dua tokoh besar yang mempengaruhi filsafat Marx ini, oleh Palekhanov1 disebut dengan Materialisme Dialektis dan Historis. Materialisme yang dimaksud Marx mengacu pada pengertian benda sebagai kenyataan yang pokok. Sedangkan filsafat idealisme menegaskan bahwa segenap kesadaran didasarkan pada ide-ide dan mengingkari adanya realitas di belakang ide-ide manusia. Materialisme Dialektis adanya anggapan dasar bahwa kenyataan berada diluar persepsi manusia, demikian juga diakui adanya kenyataan objektif sebagai penentu akhir dan ide. Sedangkan materialisme historis yaitu pandangan materialisme terhadap sejarah, yang dimana manusia hanya dapat dipahami selama ia ditepatkan dalam konteks sejarah yang terpatri dalam peristiwa-eristiwa masyarakat, maka seharusnya pada saat sama 1 Georgy Valentinovich Plekanov Pemikir Rusia (1981). merupakan seseorang revolusioner sekalian pendiri organisasi marxisme awal di Rusia: Kelompok Emansipasi Buruh; serta diketahui selaku” Ayah Marxisme Rusia”. Karyakarya terbaiknya pada bidang sejarah, filsafat, estetika, sosial, serta politik, spesialnya filsafat materialisme historis, ialah donasi yang sangat berharga untuk pertumbuhan pemikiran ilmiah serta budaya progresif. Sehabis Kelompok Emansipasi Buruh dibubarkan, Plekanov setelah itu bergabung dengan RSDLP, Partai Demokrasi Sosial Rusia. 8 Dinamika Komunikasi sejarah uga diletakkan dalam keterkaitannya dengan masyarakat (Ramly. Andi Muawiyah, 2013). Bagi Marx, dialektika kapitalisme adalah antara penguasa kelas kapitalis yang memiliki modal dan alat-alat produksi, dan kelas pekerja yang tidak memiliki signifikansi tidak bisa kekayaan. Kelas pekerja dipaksa bekerja untuk kelas kapitalis dan menghasilkan barang-barang yang dimiliki oleh yang terakhir. Jika anggotanya tidak bekerja, maka mereka akan kelaparan. Dialektika bila dikaji dalam bidang Komunikasi dapat juga diimplementasikan melalui dialektika dalam media atau studi komunikasi dan analisis budaya. Marx di dalam Das Kapital2 tidak mengkaji secara khusus bidang komunikasi. Namun komunikasi dapat dijelaskan dalam proses dialektikanya pada subjek dan objek. Dalam komunikasi, manusia diproduksi dan reproduksi melalui hubungan sosial, struktursosial, sistem sosial, dan masyarakat. Komunikasi adalah proses produksi sosialitas manusia. Dalam komunikasi, manusia berhubungan satu sama lain melalui simbol yang diciptakan oleh tubuh dan pikiran mereka dan yang menandakan fenomena tertentu. Komunikasi adalah proses interaksi simbolik timbal balik antara setidaknya dua manusia melalui mana sosialitas diproduksi dan direproduksi. Tanpa komunikasi tidak akan ada masyarakat seperti tidak ada masyarakat tanpa makanan, tempat tinggal, persahabatan, dan kerja sama, dan lain lain (Fuchs, 2020b). Sebenarnya pada komunikasi sendiri sudah menjadi proses dialektis, dimana dalam komunikasi ada unsur bertanya dan 2 Das Kapital merupakan suatu buku dari Karl Marx yang berisi sesuatu ulasan yang mendalam tentang ekonomi politik yang ditulis oleh Karl Marx dalam bahasa Jerman. Buku ini ialah sesuatu analisis kritis terhadap kapitalisme serta aplikasi praktisnya dalam ekonomi serta pula dalam bagian tertentu, ialah kritik terhadap teori- teori terpaut yang lain. Jilid pertamanya diterbitkan pada 1867. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 9 ditanya, pernyataan dan pernyataan kembali, pertukaran pesan dan sejenisnya. Sehingga dasar ini menjadi landasan kuat untuk terbentuk sintesis baru. Melalui komunikasi dapat menjadi instrument kekuasaan yang digunakan dalam dominasi kapitalis terhadap proletariat sehingga terjadi dominasi terhadap proletar. Sehingga diperlukan sebuah dialektika untuk pencerahan tkepada proletarianisme untuk membentuk keberadaan manusia yang otonom dan pembebasan. Dialektika adalah alat yang berguna untuk berpikir kritis tentang media, budaya, dan komunikasi. Setiap kali kita dihadapkan dengan komunikasi atau fenomena budaya. Marx memulai karya utamanya dengan kalimat terkenal: “Kekayaan masyarakat di mana kapitalis mode produksi yang berlaku muncul sebagai ‘kumpulan besar’ komoditas’. Komoditas adalah barang yang dijual perusahaan di pasar untuk mencapai keuntungan moneter yang merupakan sejumlah uang yang melampaui biaya investasi. Untuk memahami kapitalisme, maka kita perlu memahami bentuk komoditas itu ada dan bagaimana komoditas diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi. Hal ini tentunya varian dalam kajian ekonomi politik yang memfokuskan pada komodifikasi (Fuchs, 2020a). Komoditas memiliki “objektivitas seperti hantu yang sama”, “kerja manusia terakumulasi di dalamnya”. Di sini Marx memperkenalkan istilah ketiga yang mencirikan “faktor umum dalam hubungan pertukaran”: nilai. “Sebuah nilai guna, atau barang yang berguna, oleh karena itu, memiliki nilai hanya karena kerja manusia yang abstrak diobyektifkan atau dimaterialisasikan di dalamnya”. Bagi Marx, nilai guna adalah sesuatu yang memenuhi kebutuhan manusia. 10 Dinamika Komunikasi Sebuah sistem kapitalis punya dua wajah, pertama, sebagai suatu system produksi komoditi, diamana barang diproduksi untuk dijual. Kedua, berproduksi denan dikontrol oleh kapitalis yang memperkerjakan para pekerja. Sebuah komoditi dijelaskan sebagai sesuatu yang dipertukarkan dengan atau untuk komoditi lainnya. Semua komoditi punya nilai pakai atau nilai guna, yang memenuhi sejumlah keinginan atau kebutuhan, langsung atau tidak. Melalui rumusan ini menunjukkan bahwa nilai guna bukan hanya benda fisik yang dapat kita sentuh dan rasakan, seperti makanan yang memenuhi kebutuhan gizi, dan produk tak berwujud dari informasi pikiran manusia yang memenuhi kebutuhan manusia untuk memahami dunia dan setiap lainnya. Bukan hanya barang fisik seperti makanan, kopi, karbon, batu bata, udara, tanah, padang rumput, atau hutan yang menjadi nilai guna. Komoditi yang punya nilai tukar, milik yang dapat dipertukarkan dengan barang lain. Perbedaan antara nilai pakai dan nilai tukar adalah serangkaian perbedaan yang dikaji Marx dalam Das Capital, perbedaan dari aspek-aspek kehidupan manusia yang berlaku umum bagi semua bentuk masyarakat dan perbedaan-perbedaan yang spesifik bagi jenis masyarakat tertentu (Brewer, 2016). Marx membangun analisisnya terhadap kritik kapitalis ini dengan mengacu pada dua sruktur yaitu Infrastruktur dan suprastruktur. Utttuk analisis di level infrastruktur dianalisis dari segi ekonomi, mulai dari nilai tukar, niai guna, komoditi, dan juga Kapital-Komersial. Sedangkan pada level suprastruktur dengan melihat dari perspektif politik, ideologi, atau kesadaran. Berkembangnya industri media massa dan bergeraknya era digital, informasi bisa menjadi nilai guna. Informasi adalah nilai guna dengan karakteristik khusus: tidak digunakan untuk konsumsi, Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 11 tidak langka, dapat dengan mudah, murah, dan tanpa henti dibagikan dan disalin, serta dapat digunakan secara bersamaan oleh banyak orang. Sehingga nilai guna ini juga mencakup informasi dan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja yang memproduksi informasi, termasuk data digital sebagai tenaga kerja yang menghasilkan lebih dari sekedar nilai guna, namun mencapai nilai keuntungan secara finansial atau material lain. Data digital, terutama melalui media online seperti website, media social, atau portal online lainnya, oleh Mosco membagi data menjadi dua yaitu data as capital sebagai perilaku pengguna internet baik data yag digunakan maupun data sampah. Kekuatan pendorong yang tetap dari kapitalisme adalah akumulasi kapital tanpa akhir, sebuah proses di mana kapital diakumulasikan demi akumulasi, atau seperti yang dikatakan oleh Marx (1867) “akumulasi demi akumulasi, produksi demi produksi.” seperi rumus dasar dari akumulasi modal, digariskan oleh Marx (1885/1992) seperti tertulis dalam buku Das Capital volume kedua. (Ekman dalam Fuchs, Christian; Mosco, 2015) Bila dikaitkan dengan perspektif Marx, data sebagai kapital memproyeksikan produk kecerdasan buatan (Artificial Intellgence/ AI) sebagai luaran bentuk perekayasaan jaringan dan pemrograman komputer dari data perilaku pengguna akun media social ataupun internet secara keseluruhan dan menggantikan fungsi manusia (alih daya pekerjaan) yang menyediakan mekanisme atau sistem kerja AI untuk meminialisir kerja manusia secara fisik dan tergantikan oleh system otomatis (Sudibyo, 2021). Data kedua adalah data as labour yaitu melihat AI sebagai produk rekayasa teknologi yang berfungsi memperkuat kualitas hidup dan produktvitas pekerja serta menciptakan kelas baru, yaitu 12 Dinamika Komunikasi penghasil dan pemilik data (Sudibyo, 2021). Dalam akumulasi modal, kapitalis membeli tenaga kerja dan alat-alat produksi (bahan baku, teknologi, dll.) untuk mengatur produksi komoditas baru yang dijual dengan harapan menghasilkan keuntungan uang yang sebagian diinvestasikan kembali. Marx membedakan dua bidang akumulasi kapital: sirkulasi lingkup dan lingkup produksi. Dalam lingkup sirkulasi, kapital mengubah bentuk nilainya. Banyak platform media sosial perusahaan (Facebook, YouTube, dll.) mengumpulkan modal dengan bantuan iklan bertarget yang disesuaikan dengan data dan perilaku pengguna individu. Kapitalisme didasarkan pada keharusan untuk mengakumulasi lebih banyak modal. Untuk mencapai ini, kapitalis harus memperpanjang hari kerja (surplus absolut, produksi nilai, atau untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja (produksi nilai lebih relatif). Proses klik dan beli pengguna adalah proses realisasi nilai lebih dari perusahaan periklanan. Proses ini mengubah nilai lebih menjadi keuntungan uang. Iklan bertarget memungkinkan perusahaan Internet untuk menyajikan tidak hanya satu iklan pada satu waktu kepada pengguna, tetapi lebih banyak iklan, sehingga ada produksi lebih banyak waktu iklan total yang menyajikan komoditas kepada pengguna (Fuchs, 2016b). Produksi nilai lebih relatif berarti bahwa lebih banyak nilai lebih dihasilkan dalam periode waktu yang sama seperti sebelumnya. Iklan online bertarget lebih produktif daripada iklan online tidak bertarget karena memungkinkan penyajian lebih banyak iklan dalam waktu yang sama jangka waktu. Iklan ini mengandung lebih banyak nilai lebih daripada iklan yang tidak ditargetkan yaitu lebih banyak waktu kerja yang tidak dibayar dari karyawan berbayar perusahaan periklanan dan pengguna, yang menghasilkan konten Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 13 dan data transaksi yang dibuat pengguna untuk dijual. Sehingga upaya untuk menarik nilai dan mengedepankannya, iklan kemudian menggunakan hiperrealitas sebagai daya Tarik. Berdasarkan penjelasan ini, maka dapat disimpulkan bahwa data pengguna ataupun aktivitas langsung ‘per click’ menjadi potensi untuk menarik keuntungan dari segala lini, baik melalui iklan, ventur capital, ataupun menarik minat investor melalui crowdsourcing, dalam perspektif Marx, potensi nilai ini menjadi keuntungan finansial melalui proses pertukara yang soft tidak seperti praktik hard selling. Neo Marxisme (Gyorgy Lukacs) dan Komodfikasi Pekerja Digital Pasca berdirinya Marxis, para pemikir rusia menganggap bahwa pergerakan Marxis masih sebatas teoritis, sebatas gagasan filsafat saja dan belum mengarah pada praksis. Vladimir Ilyic Lenin sebagai salah satu tokoh komunis mengadopsi pemikiran Marxis untuk menjadikan filsafat yang teoritis tadi menjadi gagasan praksis. Landasan pemikiran praksis oleh Lenin ini didasarkan bahwa dirinya, Lenin, tidak mengkompromikan prinsipnya bahwa revolusi harus dipimin oleh proletariat dan sesudah revolusi proletariat harus memegang hegemoni atas kelas-kelas revolusioner lain, maka Lenin tanpa ragu membubarkan persekutuan itu pada saat kelompok petani yang terdominasi melawan kebijakan ekonomi pemerintah (Suseno, 2005). Aliran yang dikembangkan oleh Lenin ini kemudian mengalami pembaruan yang merupakan buah dari kritik terhadap Marxis maupun kritik terhadap kapitalisme sert borjuisme yang dikemudia dikembangkan menjadi Neo Marxisme. Salah pemikir Neo Marxisme yang paling berpengaruh di abad ke 20 ini adalah 14 Dinamika Komunikasi Gyorgy Lukacs3 yang mengembangkan pemikiran Neo Marxis kea rah yang lebih modern. Sebagai pengagum Marx dan Lenin, Lukacs juga mmebangun kritiknya terhadap kapitalis terkait dengan kesadaran kelas dan kesadaran historis yang awa mulanya dikembangkan oleh marx. Teori utama yang dibangun oleh Lukacs yaitu Reifikasi sebagai penegasan dan penjelasan dari komodifikasi yang bukan hanya melihat manusia sebagai tenaga kerja yang bernilai komoditi, melainkan melihat manusia sebagai alat. Di dalam bukunya History and Class Conciousness, Lukacs kembali menggali Marxisme Otentik, fiksasi ada anti fasisme dan mengharapkan kembalinya kesadaran proletariat. Melalui Reifikasi, Lukacs sebenarnya mengharapkan dapat membangun kembali hubungan antar manusia bebas dan kelihatan seperti hubungan antar benda, jad sebagai suatu kenyataan objektif. Lukacs menilai bahwa masyaakat banyak yang menjadi objek kapitalisme dan dijadikan sebagai komoditi sebagai seluruh proses jual beli yang ditentukan oleh “hukum-hukum objektif pasar” yang menurut paham kapitalisme bersifat “alami” dan “rasional dank arena itu abadi”. 3 Filsuf Marxis, pakar estetitika, sejarawan serta kritikus sastra dari Hongaria. Ia ialah salah satu pendiri Marxisme Barat, suatu tradisi interpretatif yang berangkat dari ortodoksi pandangan hidup Marxis dari Uni Soviet. Ia meningkatkan teori reifikasi, serta berkontribusi pada teori pemahaman kelas Karl Marx. Ia pula seseorang filsuf Leninisme. Secara pandangan hidup, ia meningkatkan serta mengorganisasi praktik- praktik revolusioner pragmatik Lenin ke dalam filsafat resmi revolusi partai pelopor. Selaku kritikus sastra, Lukács merupakan seseorang yang mempengaruhi, sebab pertumbuhan teorinya tentang realisme serta novel selaku bagian genre sastra. Pada 1919, ia dinaikan selaku Menteri Kebudayaan Hongaria dalam pemerintahan Republik Soviet Hongaria yang berusia pendek( Maret–Agustus 1919). Lukács ditafsirkan selaku intelektual Marxis ternama dari masa Stalinis, walaupun dalam memperhitungkan warisannya jadi susah sebab Lukács bersama menunjang Stalinisme selaku perwujudan pemikiran Marxis serta pula memperjuangkan pengembalian ke Marxisme pra- Stalinis. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 15 Marx mendeskripsikan fenomena inti reifikasi sebagai berikut: (Lukacs, 1986) (Dalam buku Dialektika Marxis. Sejarah & Kesadaran Kelas Lukacs, 2014) Maka komoditas adalah sesuatu yang misterius karena di dalamnya karakter social kerja manusia tampil ke hadapan mereka sebagai sebah karakter objektif yang distempelkan pada produk kerja tersebut; karena relasi para produsen dengan jumlah keseluruhan buruh dihadirkan kepada para produsen tersebut sebagai relasi social yang terjadi bukan anar sesame buruh iu sendiri, melainkan antara mereka dengan produk kerja mereka. Inilah alasannya mengapa produk buuh menjadi komoditas, “makhluk” social yang kualitas-kualitasnya pada saat yang sama ini dapat dicerap sekaligus tidak dapat dicerap oleh panca indra. Ini tidak lain adalah relasi social antarmanusia yang dalam mata mereka, meperoleh bentuk gaib relasi antar benda-benda. Teori Lukacs mengeai reifikasi masih punya pengaruh besar terhadap filsafat abad keduapuluh. Teori ini juga menjadi akar dari banyak Marxisme kritis abad keduapuluh (terutama diadopsi oleh Mazhab Frankfurt). Kosep reifikasi dan kritik terhadap kebudayaan Lukacs begitu lekat menginspirasi Adorno untuk membangun konsepnya tentang kritik industry kebudayaan. Lukacs membicarakan paradox, yaitu antara rasionalitas pasar yang semakin meluas da yang seperti sains, memisahkan antara sisi obyektif dan subyektif dai pengalaman. Dalam pemikiran Lukacs, fetisisme merupakan hasil kombinasi dari dua ide, yaitu obyektivasi pasar, kemudian ide bahwa obyektifikasi itu atau pemaknaan bahwa rasionalisasi bearti kalkulasi dan pengukuran nilai mencakup semua aktivitas manusia dan komoditi merupakan model dan wujud dari seluruh obyek sosial (Balibar, 2013). 16 Dinamika Komunikasi Lukács berpendapat bahwa komunikasi sudah ada pada hewan tingkat tinggi untuk tujuan ‘bahaya, makanan, hasrat seksual, dan lain-lain. Bahasa dan komunikasi manusia akan muncul dari kebutuhan ekonomi ketika manusia diminta untuk mengatakan sesuatu satu sama lain untuk menguasai meningkatnya kompleksitas organisasi produksi. Jadi misalnya berburu membutuhkan kerja sama karena ini adalah proses yang kompleks, untuk itu koordinasi diperlukan. ‘Keberadaannya (kerjasama) belaka, meskipun pada tingkat yang rendah, menghasilkan munculnya penentuan kunci lain dari makhluk sosial dari pekerjaan, komunikasi yang tepat dari manusia yang bersatu dalam pekerjaan: bahasa’ (Lukács, 1986). Bahasa memungkinkan penempatan teleologis yang memiliki maksud untuk ‘mendorong orang lain untuk melakukan penempatan teleologis yang diinginkan oleh subjek predikat’ (Lukács, 1986). Bahasa berkembang seiring dengan perkembangan kerja, kerjasama, dan pembagian kerja (Fuchs, 2016b). Menyikapi para tenaga kerja digital di industrI budaya seperti media massa, berdasarkan gagasan Lukács, bahwa kerja mental menciptakan budaya yang secara bersamaan bersifat ekonomi dan melampaui ekonomi, kita dapat merancang model dialektika kerja budaya. Menggunakan model panggung memungkinkan kita untuk mengidentifikasi dan menghubungkan berbagai tingkat pekerjaan budaya. Pekerjaan budaya adalah istilah yang mencakup tingkat pekerjaan organisasi yang secara bersamaan berbeda dan terhubung secara dialektis: pekerjaan budaya memiliki kualitas yang muncul, yaitu pekerjaan informasi yang menciptakan konten dan didasarkan pada dan didasarkan pada pekerjaan budaya fisik, yang menciptakan teknologi informasi melalui ekstraktif dan proses kerja industry (Fuchs, 2016a). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 17 Pekerjaan fisik terjalin di dalam serta di luar budaya: menghasilkan teknologi data serta komponennya dan produk lain (pekerjaan fisik nonkultural) yang tidak mempunyai guna simbolis. Budaya serta data bekerja tetapi umpan balik pada produk ini serta menghasilkan arti simbolis yang digunakan dalam warga kontemporer oleh industri buat memasarkannya. Karya budaya merupakan satu kesatuan karya budaya raga serta karya data yang silih berhubungan, tersambung serta sekalian berbeda. Semua budaya melibatkan karya budaya dan efek produk budaya dalam masyarakat (pembuatan makna). Produksi dan komunikasi makna, norma sosial, dan moral adalah proses kerja: mereka menciptakan nilai guna budaya. Budaya membutuhkan kreativitas manusia di satu sisi untuk menciptakan konten budaya dan di sisi lain bentuk dan media khusus untuk penyimpanan dan komunikasi (Fuchs, 2016b) Penciptaan informasi dan komunikasi melalui bahasa khusus untuk pekerjaan yang dilakukan dalam sistem budaya: pekerjaan informasi dan komunikasi. Untuk memiliki efek sosial dalam masyarakat, manusia dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer, TV, radio, surat kabar, buku, film rekaman, rekaman musik, bahasa, dll., mengatur (yaitu menyimpan, memproses, mengangkut, menganalisis, mengubah, membuat) informasi dan komunikasi. Karya budaya fisik menghasilkan teknologi informasi. Kebudayaan meliputi karya budaya fisik yang menciptakan teknologi budaya (teknologi informasi dan komunikasi), dan karya informasi yang menciptakan informasi dan komunikasi. Dalam hal ini benda budaya (artefak) pada teknologi digital yaitu perangkat, namun keberadan gagasan absolut ada karyanya seperti teks atau konten. 18 Dinamika Komunikasi Istilah tenaga kerja digital muncul untuk memahami penciptaan nilai pada platform media sosial seperti Facebook, YouTube, Twitter, dan Weibo. Namun, akan menjadi ideal untuk membatasi gagasan tenaga kerja digital pada eksploitasi aktivitas online pengguna oleh platform komersial yang menggunakan iklan bertarget. atau ke kreasi digital. Konten digital yang dijual sebagai komoditas. Penciptaan konten digital oleh tenaga kerja sebagai alat tentu membutuhkan infrastruktur teknologi yang diproduksi dan dipelihara oleh proses tenaga kerja (Fuchs, 2014, 2015). Tenaga kerja digital adalah semua tenaga kerja yang dibayar dan tidak dibayar yang membantu menciptakan teknologi digital, konten, dan data yang dijual sebagai komoditas. Ini mencakup beragam kegiatan seperti pekerja budak yang mengekstraksi mineral yang membentuk fondasi fisik teknologi informasi, tenaga kerja Perakit perangkat keras yang dikendalikan secara militer dan sangat dieksploitasi yang bekerja di bawah kondisi industrialisme, aristokrasi pekerja pengetahuan yang dibayar tinggi, pekerja layanan digital yang genting serta pekerja pengetahuan yang dieksploitasi secara imperialistik di negara berkembang, pekerja yang melakukan daur ulang industri dan pengelolaan limbah elektronik, atau tenaga kerja e-waste informal yang sangat berbahaya. Bentuk kerja digital semacam itu membentuk pembagian kerja digital internasional yang menciptakan keuntungan industri media digital. Sehingga disini karya digital adalah bentuk organisasi khusus dari karya budaya yang menciptakan media, konten, atau data digital (Fuchs, 2016a). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 19 Aliran Frankfurt School Awal mula berdirinya aliran franfurt school mengangkat kritik terhadap kebudayaan. Sehingga kajian kebudayaan mengakari pertumbuhan teori emansipatori yang lebih modern pasca Neo Marxis dbawah lingkaran Lenin. Kritik terhadap masyarakat industri dibangun melalui analisa Sekolah Frankfurt terhadap masyarakat industri maju. Kritik ini cukup keras dilontarkan kepada aliran positivis yang mengklaim bahwa teori tradisional menggantikan teori emansipatori. Padahal dalam indoktrinasi positivistik justru mengabaikan emansipasi karena bebas nilai. Max Horkheimer, sebagai pendiri dari aliran kritis Frankfurt, menegaskan bahwa untuk menjadikan pengembangan teori emansipatori Marx, maka teori haruslah terbuka untuk kritik dan tidak bebas nilai. Sehingga disini Max Horkheimer menegaskan bahwa teori kritis adalah teori emansipatori. Aliran kritis Frankfurt tumbuh dari Sekolah Frankfurt yang berbarengan dengan tumbuhnya perkemangan kapitalisme monopolis di Eropa. Sehingga sekolah Franfurt memahami kapitalisme monopolis sebagai suatu tahap kapitalisme di mana usaha-usaha raksasa menguasai pasar, mengatur dan menentukan harga, sementara perusahaan-perusahaan kecil dengan serta merta dimatikan keberadaannya. Horkheimer meskipun mengadopsi pemikiran Marx bahkan menjadikan marxisme sebagai titik tolak pemikirannya terutama terkait alienasi manusia yang berpusat terhadap permasalahan ekonomi, namun pada akhirnya Horkheimer sendiri mengkritik pandangan Marx yang terlalu fokus membangun analisa ekonomi sebagai pusar utama. Horkheimer beralih ke analisa ideologi yang meliputi kesadaran dan struktur psikis yang memulai analisanya 20 Dinamika Komunikasi terhadap kaum proletariat. Hal ini Horkheimer masih memiliki rasa optimis adanya kesadaran proletariat, seperti yang pernah dicita-citakan oleh Gyorgy Lukacs dalam membongkar reifikasi dan komodifikasi terhadap pekerja industri dibawah dominasi kapitalis. Melalui pandangan suprastruktur, Horkheimer melalui aliran Frakfurt merasa perlu untuk membangun analisa-analisa multidisiplin ilmu diluar bidang ekonomi, seperti halnya politik dan kebudayaan (Horkheimer, Max; Adorno, 2014). Oleh karena itu Horkheimer pun turut menggandeng ahli psikoanalisa, Sigmund Freud untuk mendukung analisanya tentang persoalan kesadaran proletariat yang dibelenggu oleh kapitalis sebagai kesadaran palsu. Freud menelaah kesadaran proletariat dari tiga konsep utama kesadaran yaitu alam sadar, tidak sadar, dan bawah sadar. Kritik Horkheimer tidak cukup sampai pada Marx, namun kritik Horkheimer juga sampai pada kritik terhadap rasionalisme kritis Kant. Horkheimer menganggap Kant tidak melihat bahwa pengetahuan manusia itu terbentuk secara historis. Artinya, pengetahuan manusia juga terikat pada dan ditentukan oleh situasi tertentu. Bagi Horkheimer, Kant tidak menembus kedalam pemikiran diluar akal budi manusia, upaya untuk melampaui akal budi manusia tentu bisa memperkaya isi pengetahuan manusia serta mempengaruhi hal di luar dirinya supaya hal tersebut tidak menjadi benda-benda yang semata-mata berada pada dirinya sendiri. Horkheimer membangun Teori Kritis yang mmapu memberikan kesadaran bahwa dalam masyarakat ego terutama dalam masyarakat modern, masyarakat modal tanpa kesadaran, maka ego pun harus senantiasa kritis terhadap dirinya sendiri (Sindhunata, 1982). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 21 Berdasarkan kritik-kritik yang dikembangkan oleh Horkheimer inilah, didukung dengan pertentangan terhadap dominasi kapitalisme, borjuisme, fasisme hingga kritik terhadap masyarakat industri, Horkheimer kemudian menetapkan teori kritis sebagai emansipatori yang mengadvokasi proletariat dan mamu memberikan pencerahan kepada khalayak. Terhadap dasar kritik positivisme, Horkheimer menegaskan bahwa Teori Kritis harus menilai (tidak bersikap netral) sehingga dapat mendorong perubahan atau transoformasi sosial melalui kecurigaan-kecurigaan yang dibangun dari apa yang terjadi didalam masyarakat modern (Ramin, 2017). Upaya yang dibangun oleh Horkheimer ini tentu tidak dilakukan sendiri, Horkheimer juga didukung oleh beberapa tokoh Frankfurt generasi pertama yaitu Theodore Adorno, Herbert Marcuse, dan Erich Fromm. Masing-masing memiliki spesifikasi pemikirannya sendiri-sendiri, seperti Adorno yang memusatkan kepada kritik terhadap industri kebudayaan, Herbert Marcuse membangun kritik terhadap masyarakat yang mendukung dan teralienasi pada nilai satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi lain, kemudian Erich Fromm membangun kritik terhadap segala bentuk praktik kekerasan. Figur pendiri Mazhab Frnafurt berikutnya adalah Theodore Adorno yang begitu terpengaruh dari pemikiran Gyorgy Lukacs tentang reifikasi dan mengembangkannya. Kehebatan ilmu pengetahuan tidak lain adalah pemujaan saintisme yang mampu menjerumuskan manusia untuk ditempat sebagai objek penderita dalam positivistik. Melalui kajian budaya terutama terhadap seni, Adorno juga sama halnya Horkheimer yang turut menolak Positivisme. Disini Adorno juga mengembangkan pemikiran Lu- 22 Dinamika Komunikasi kacs sebagai Teori Reifikasi yang bermula dari Teori Fetisisme Komoditas Marx dan teori nilai, khususnya pembedaan antara nilai tukar dan nilai guna. Kritik yang dibangun ini pun dikembangkannya untuk kritik terhadap industri kebudayaan. Fetisisme komoditas, oleh Adorno, dinilai membuahkan kebudayaan industri, yaitu massa dan produksi yang dilakukan berkiblat pada mekanisme kekuasaan sang produsen dalam menentukan bentuk, gaya, dan maknanya. Perluasan kritik industri kebudayaan ini pun tidak hanya sebatas pada artefak industri media massa, namun juga pada industri iklan dan karya periklanan. Bagi adorno, melalui iklan masyarakat dimanipulasi sedemikain rupa dan berupaya menciptakan masyarakat yang pasif untuk terus mengkonsumsi produk-produk budaya secara konsumtif dan meminimalisir produktifitas. Hal ini terjadi pada masyarakat modern yang konsumeristik dan tergiur dengan budaya populer (atau budaya massa) dengan bentuk kesenangan semu. Budaya massa sendiri lahir dalam industri kapitalis yang berorientasi pada budaya populer. Fenomena seperti ini terlihat pada budaya asianisasi dengan masuknya budaya Korea yang begitu lekat dengan ikon Korean Pop, Drakor (Drama Korea), Korean Boyband atau Girlband di kalangan generasi milenial. Sebelumnya westernisasi juga sempat menimbulkan kontroversi terhadap budaya massa, termasuk dengan masuknya budaya pop ala Cina (Mandarin style), dan Jepang (Harajuku Style). Masuknya buday asing semacam ini pun turut merusak sendi-sendi budaya adi luhubung yang mengalami pergeseran ke budaya massa. Bagi Adorno, industri kebudayaan merupakan sebuah sistem yang secara sengaja menyeragamkan para konsumennya dari Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 23 atas. Konsumen diperlakukan sebagai objek industri kebudayaan. Sehingga kritik ideologi Adorno pun berkembang dari yang hanya sebatas kritik terhadap ideologi kapitalis hingga kritik ideologi konsumerisme yang ujungnya memaksa khalayak untuk mendukung dan menerima tata aturan kapitalis. Kritik terhadap industri kebudayaan pun berlanjut hingga ke Herbert Marcuse. Marcuse mengkritik kapitalisme yang begitu keras memenjarakan manusia dalam sebuah nilai simbolis. Sebagaimana dalam kritik terhadap industri kebudayaan oleh Adorno terkait pada iklan, Marcuse menilai bahwa iklan mengajak masyarakat untuk terpikat roh gagasannya pada ranah dimensi yang berbeda dengan model ‘kacamata kuda’ yang hanya melihat dari satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi yang lain. Masyarakat, melalui iklan, dibuat menjadi tidak bebas, represif, dan stigma manusia modern itu secara intelektual dan psikologis merasa nyaman lewat ketergantungan dengan produk-produk budaya sebagai akibat dari bentuk pengaruh persuasif iklan untuk menjadikan masyarakat sebagai masyarakat konsumeristik. Mercuse menganggap masyarakat modern di industri maju ini bukan hanya sebatas terjebak dalam kesadaran palsu untuk hidup dalam pekerja buruh yang menguntungkan kapitalis namun juga menciptakan kebutuhan palsu seperti melalui media iklan yang menjebak individu dalam sistem produksi dan konsumsi. Sehingga disini Marcuse melihat khalayak sudah menjadi “Manusia Satu Dimensi” sebagai konsep utama Marcuse dalam mendalami masyarakat yang terjebak dalam budaya massia. Sementara itu Kapitalisme dan industrialisasi menekan kaum buruh begitu kuat sehingga mulai melihat diri mereka senidir sebagai objek yang mereka produksi. 24 Dinamika Komunikasi Tindakan Komunikatif Sebagai Jalan Ketiga Teori kritis yang digaungkan oleh Mazhab Frankfurt generasi terus menjadi polemik antara cendekiawan yang pesimistis dengan kapitalis maupun industrialisasi sehingga dinilai tak kunjung usia. Hal ini yang rupanya menjadi pusat perhatian dari Jurgen Habermas, tokoh kritis Frankfurt generasi kedua yang menawarkan jalan tengah bagi intrik terhadap kelompo terdominasi untuk bisa membangun sebuah ruang yang meminimalisir ketegangan kapitalis dan kelompok terdominasi melalui jalan komunikasi yang egaliter. Konsep ini lah yang digaungkan oleh Habermas sebagai tindakan komunikatif yang dimana mengdepan komunikasi sebagai jalan ketiga sebagai jalan tengah. Melalui pemikiran jalan tengah ini Habermas masih memiliki optimistis (harapan) dalam melihat erubahan sosial, namun tetap dengan tujuan untuk emansipasi dan pembebasan sesuai dengan misi Teori kritis dan generasi sebelumnya. Habermas memandang ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai tenaga produktif terpenting dalam bagian kedua abad ke 20 (Hardiman, 2009). Menurut Habermas, lewat konsepnya mengenai ilmu pengetahuan dan kepentingan, ada perbedaan kepentingan-kepentingan ilmu empiris (teknologi) dengan kategori ilmu pengetahuan lainnya (Lubis, 2015). Melalui konsep-konsep yang dibangun untuk solusi jalan ketiga ini, maka Habermas membagi ilmu pengetahuan menjadi 3, yaitu; Empiris-Analitis, Historis-Hermeneutis, dan Reflektif-Kritis (Supraja, 2017). Pemetaan dan pembagian ketiga ilmu pengetahuan ini agar tidak terjadi saling serang antara teori emansipatori dan teori tradisional, serta tidak membunuh teori tradisional untuk dijajah oleh teori emansipatori sehingga tidak hilang begitu saja. Opsi Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 25 jalan tengah yang ditawarkan ini, sebagaimana para ilmuwan yang terlalu mengkotak-kotakan ilmu untuk dicap sebagai klaim kebenaran, maka ilmuwan harus memiliki pilihan yang rasional dan tidak mengekang. Dalam tindakan komunikatif, Habermas juga memiliki misi untuk mengembalikan masyarakat yang rasional namun bentuk rasionalitas yang disasar adalah bentuk rasionalitas komunikatif, yang dimana masyarakat harus mengedepankan tindakan komunikatif untuk menyelesaikan persoalannya yang egaliter terlepas dari dominasi, atau dijauhkan dari segala bentuk marjinalisasi. Tindakan komunikatif untuk bisa mencapai masyarakat yang rasional, menurut Habermas, maka setiap ornag yang terlibat dalam praktik komunikasi harus memberlakukan beberapa syarat klaim validitas seperti adanya kejelasan, kebenaran, kejujuran, dan ketepatan. Sehingga untuk mewadahi dari ketiga klaim validitas tersebut terlaksana, maka Habermas membangun konsep Ruang Publik sebagai wadah dari tindakan komunikatif ini berlangsung. Bagi Habermas ruang publik ini penting lantaran dalam tindakan komunikatif menghendaki beberapa seperti: setiap partisipan dapat berpartisipasi aktif dan bebas mengajukan pandangan dan kritik; berjlaan tanpa paksaan, dominasi dan permainan; setiap partisipan memahami setiap kriteria dan klaim-klaim validitas; serta adanya persetujuan/konsensus rasional yang terbuka. Sehingga dengan pemenuhan klaim validitas ini, maka dapat terpenuhi syarat tercapainya komunikasi yang rasional atau ideal (Lubis, 2015). Penciptaan masyarakat yang komunikatif dan pembagian ilmu pengetahuan, Haberas menunjkkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah tanpa pamrih dan tidak bebas nilai, namun melihat ilmu pengetahuan masih sarat akan nilai dan terkait dengan berbagai 26 Dinamika Komunikasi kepentingan. Melalui pemetaan ketiga, Reflektif-Kritis, Habermas mengajak masyarakat untuk mampu berpikir kritis. Termasuk melalui wadah ruang publik termasuk melalui wadah ruang publik digital (contoh seperti media sosial atau media website lainnya atas milik otoritas komunitas sosial) yang konsepnya dibangun untuk menciptakan masyarakat yang komunikatif, maka upaya mencapai rasional masyarakat juga harus berpikir secara kritis terutama bagi masyarakat yang tertindas oleh kepentingan kapitalis. Dalam hal ini Habermas mengajukan gagasan dalam reflektif-kritis ini adalah dengan kritik ideologi, sebagaimana misi Teori kritis untuk membongkat ideologi dan memberikan pencerahan kepada khalayak. Kritik ideologi ini, dalam Habermas, adalah upaya untuk membongkr kepentingan-kepentingan yang terelubung (dominasi dan hegemoni) di mana kepentingan itu kerap kali bersifat tersamar sehingga perlu dibongkat dan disikapi dengan penyingkapan itu diasakan pada masyarakat agar “terbangun dari tidurnya”. Hal ini juga bertujuan agar masyarakat terbangun dari kesadaran palsu maupun kebutuhan palsu dan kembali pada manusia yang rasional serta terbebas dan tercerahkan. Kritik ideologi dibangun juga atas dasar kritik terhadap Marxisme yang terlalu fokus pada analisis infrastruktur-suprastruktur. Hal ini dinilai Habermas tidak relevan karena tak jarang bangunan suprastruktur yang membangun infrstruktur. Habermas mendasarkan teorinya pada ‘dualisme media’ yang memisahkan uang dan kekuasaan di satu sisi dari komunikasi linguistik di sisi lain. Dunia kerja dan politik secara konseptual terpisah dari dunia komunikasi. Sehingga menurut Habermas. pekerjaan komunikasi adalah bentuk pekerjaan tertentu yang menciptakan informasi. Semua pekerjaan didasarkan pada dia- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 27 lektika tubuh dan otak, aktivitas fisik dan aktivitas mental. Tetapi kita dapat membedakan antara pekerjaan yang didominasi fisik dan pekerjaan yang didominasi kognitif dan komunikatif. Pekerjaan fisik menciptakan produk nyata yang dapat kitaa sentuh dan rasakan. Informasi kontras dengan produk tidak berwujud yang menyimpan dan mengkomunikasikan makna dan mewakili sesuatu yang lain yang berdiri sebagai simbol. Pekerjaan komunikasi adalah proses produksi sosial yang menciptakan teknologi informasi dan informasi. Informasi sering diproduksi, disebarluaskan dan diterima oleh teknologi informasi seperti jaringan komputer. Produksi teknologi informasi fisik ini juga merupakan bagian dari pekerjaan komunikasi, tetapi merupakan pekerjaan fisik. Bagian dari pekerjaan fisik adalah pekerjaan komunikasi yang menciptakan teknologi informasi. Sebaliknya, pekerjaan informasi adalah pekerjaan komunikasi mental yang menghasilkan makna sosial. Pekerjaan fisik dan pekerjaan informasi adalah dua aspek yang terhubung dari pekerjaan komunikasi yang mereka ciptakan komunikasi dan komunikasi. Perkembangan Teori Kritis Menuju Tradisi dan Paradigma Dalam Studi Komunikasi Teori kritis dibangun sebagai usaha pencerahan. Misi dari Horkheimer dan Adorno ini, Teori Kritis ingin menjadi Aufklärung atau pencerahan. Pencerahan yang ingin diwujudkan oleh Teori kritis bukan hanya sebagai buah hasil kritik keras terhadap positivisme, namu juga kritik terhadap Marx itu sendiri. Hal ini mendasarkan pada masyarakat modern, teruama abad 20, proletariat kelihatan sudah terintegrasi dengan sistem” sehingga tidak lagi bersemangat dalam revolusioner. Selain itu, Horkheimer dan Adorno menegasi- 28 Dinamika Komunikasi kan Marx karena dinilai gerakan revolusioner Marx akan berpotensi terhadap mengundang kekerasa dan akan lebih menghasilkan perbudakaan yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Teori Kritis mebuka irasionlitas dalam pengandaian-pengandaian system yang ada. Membuka bahwa produksi tidak untuk memenuhi kebutuhan manusia melainkan kebutuhan manusa diciptakan, dimanipulasikan demi produksi. Teori kritis berharap bahwa rasionalitas semu sistem itu sudah rusak, maka kontradiksi-kontradiksi yang tampak jelas, dapat merangsang pematahan belenggu dan membebaskan manusia kearah kemanusiaan yang sebenarnya (Suseno, 1992). Kritik teori sosial kritis atas positivisme merupakan karakteristik sentral dan paling tahan lama. Kecenderungan positivis dalam ilmu social sejak masa pencerahan memrovokasikasi teori sosial kritis. Kritik terhadap positivism mengacu pada pandangan metafisik positivism tentang sejarah, proses pembekuan sejarah ke dalam pola abadi masa kini yang bersifat tetap. Kritik yang dilontarkan kepada positivise dilontarkan untuk optimisme yang menekankan kebebasan eksistensial mendasar manusia dan pada peluang mobilisasi social. Kritik ini bersifat idealistis maupun realistis(Agger, 2017). Teori kritik hendak membebaskan masyarakat dari keadaannya yang irasional jaman ini. Sehingga Teori Kritis hendak menjadi teori emansipatoris. Dasar ini dibangun oleh Horkheimer dengan pandangan bahwa teori kritis curiga dan kritis terhadap masyarakat. Selain itu curiga dan kritis terhadap kategori-kategori masyarakat jaman ini, seperti kategori produktif, berguna, layak, bernilai dan sebagainya. Teori kritis pun juga membangun pemikiran yang historis (sebagaimana Marx) yang menghormati ilmu Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 29 pengetahuan namun tidak mendewakannya. Sehinga Teori kritis bersifat terbuka dengan multidisiplin ilmu untuk membongkar segala bentuk aktivitas dominasi kapitalis. Sehingga teori kritis diharapkan mampu menjadi gerakan pembebasan dan mengarahkan masyarakat menuju rasionalitas yang telah tertunda sebelumnya dan menjadi dilematika yang berkepanjangan dengan adanya paham-paham dominasi dan penindasan terhadap kelompok proletariat higga perbudakan. Begitu pula dalam ranah ilmu pengetahuan, Teori Kritis diha­rapkan mampu untuk membongkar ilmu pengetahuan positif yang mengindoktrinasi masyarakat dan bebas nilai. Sebagaimana Teori Kritis Horkheimer memberikan perhatian yang mendalam tentang sisi – sisi kemanusiaan yang konkret dalam sebuah telaah teoritis yang reflektif dan humanis. Pergulatan pemikiran yang reflektif dan humanis untuk mengedepankan penggunaan rasio melalui proses dialektis tidak sembarang melakukan kritik tanpa ada pembacaan lebih mendalam yang tidak membentuk rasio. Teori kritis mengetengahkan bahwa usaha rasional manusia dalam mencari kebenaran pada akhirnya akan kembali pada irasionalitas apabila penggunaan rasio dengan segala eksesnya tidak ditata dengan pendekaan baru yang membebaskan, yaitu Teori Kritis (Ramin, 2017). Sebuah pendekatan yang tidak mencantumkan pendekatan atau mengidentifikasi teori kritis hanya dengan orang-orang yang terkait dengan Mazhab Frankfurt adalah untuk mengidentifikasi dimensi teori kritis pada tingkat konten. Dalam tulisan-tulisan ilmiah, teori kritis pada umumnya sering dilambangkan dengan huruf kecil, sedangkan Mazhab Frankfurt dicap sebagai ‘Teori 30 Dinamika Komunikasi Kritis’. Kita dapat mengidentifikasi lima dimensi teori kritis masyarakat: (Fuchs, 2016b) 1. Etika kritis. 2. Kritik terhadap dominasi, eksploitasi dan keterasingan. 3. Alasan dialektis. 4. Kritik Ideologi. 5. Perjuangan dan praksis politik. Baik penulis Marx maupun Frankfurt School menekankan semua dimensi ini. Mazhab Frankfurt tidak dibaca sebagai pendekatan partikularistik, tetapi sebagai perumusan dasar umum filsafat Marxis dan teori budaya Marxis. Teori kritis memiliki ‘perhatian dengan kebahagiaan manusia’ dan menggunakan metode Hegelian untuk membandingkan esensi dan keberadaan karena dalam kapitalisme ‘apa yang ada tidak segera dan sudah rasional’. Esensi ini dapat ditemukan dalam kapasitas positif manusia (seperti berjuang untuk kebebasan, sosialitas, kerjasama) dan memiliki implikasi etis bahwa kondisi universal harus diciptakan yang memungkinkan semua manusia untuk menyadari kapasitasnya. Kritik yang dibangun oleh Teori Kritis adalah kritik terhadap ideologi, dominasi, dan alienasi. Sebagaimana dominasi dan alienasi dalam industri budaya dan integrasinya dengan budaya digital. Tenaga kerja digital fisik menciptakan komponen Teknologi Komunikasi dan Informasi yang dirangkai menjadi teknologi media digital. Tentunya hal Ini melibatkan tenaga kerja digital ekstraktif dari industri. Pekerja informasi digital menggunakan infrastruktur teknologi ini untuk membuat konten dan data digital yang dijual sebagai Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 31 komoditas. Pekerjaan digital fisik dan informasional dapat terjadi dalam berbagai hubungan sosial produksi, termasuk perbudakan, kerja lepas, kerja upahan, kerja feminin, kerja tidak dibayar, dan lain lain. Dalam hal hubungan ini adalah hubungan kelas, kita berbicara tentang kerja digital. Sebaliknya, jika kita harus berurusan dengan hubungan produksi komunitas, di mana tidak ada hubungan kelas tetapi milik bersama dan produksi bersama, kita hanya berbicara tentang kerja digital. Pekerjaan digital adalah istilah yang lebih umum daripada kerja digital. Melalui penjelasan-penjelasan sebelumya, dapt dirangkai bahwa tradisi berpikir kritis pada dasanya sudah dijalankan sejak masa Hegel. Hal ini diakui pula oleh Stephen W. Littlejohn dalam bukuya Theories of Human Communication (2008), bahwa tradisi kritik pasca Hegel, muncul juga pada karya Marx dan Frederich Engels4, dengan menjadikan marxisme yang merupakan cabang induk dari teori kritik.(Littlejohn, Stephen W. & Foss, 2009) Tradisi ini dalam teori komunikasi menekankan pada ilmuwan untuk memiiki kemampuan berpikir curiga atau mencurigai terhadap kebenaran ilmu pengetahuan yang ada ditinjau kembali kebenarannya disesuaikan dengan dinamika dan fenomena social yang ada dan dinamis, kemudian kritik terhadap positivism untuk menekankan bahwa ilmu pengetahua tidak bebas nilai, kemudian 4 Frederich Engels merupakan anak sulung dari industrialis tekstil yang sukses. Sewaktu dia dikirim ke Inggris buat mengetuai pabrik tekstil kepunyaan keluarganya yang terletak di Manchester, dia memandang kemiskinan yang terjalin setelah itu menulis serta diterbitkan dengan judul Keadaan dari kelas pekerja di Inggris (Condition of the Working Classes in England, 1844). Pada tahun 1844 Engels mulai turut berkontribusi dalam harian radikal yang ditulis oleh Karl Marx di Paris. Kerja sama tulisan Engels serta Marx yang awal merupakan The Holy Family. Mereka berdua kerap diucap” Ayah Pendiri Komunisme”, di mana sebagian ilham yang berhubungan dengan Marxisme telah nampak. Bersama Karl Marx dia menulis Manifesto Partai Komunis (1848). Sehabis Karl Marx wafat, yakni yang menerbitkan jilid- jilid lanjutan bukunya yang terutama merupakan Das Kapital. 32 Dinamika Komunikasi bertujuan emansipatori, dan kritik terhadap kelompok dominan termasuk kaum kapitalis. Beberapa konsep kunci dalam tradisi kritis komunikasi ini yaitu kritik terhadap ideologi, ekonomi politik, representasi, dan cultural ctudies. Konsep-konsep ini membangun tradisi yang memperhatikan historisitas Teori kritis berada dalam paradigma modernis, entah itu intelektual atau pandangan popular, ada dalam kepercayaan pada alasan ilmu pengetahuan tersebut dibangun. Perkembangan paradigm teoritis pun mengalami kemajuan dengan terbagi menjadi beberapa paradigma seperti Post-modernisme, post strukturalisme, dan post kolonialisme. Aliran-aliran ini pun berkembang tidak selalu tersentral di Jerman saja, seperti halnya aliran post strukturalisme berkembang di Perancis dengan beberapa tokohnya seperti Michael Foucault, Pierre Felix Bourdieu, Jean Baudrillad, James Francois Lyotard, dan Jacques Derrida. Teori kritis pun tidak hanya berhenti sebatas pada teori saja, namun teori kritis juga berkembang sebagai paradigma. Teori ilmiah memiliki kemungkinan untuk berkembag menjadi atang dan diterima sebagai normal oleh suatu komunitas ilmiah. Komunitas memankan peran paling penting untuk menentukan normalitas sebuah teori. Ketika teori tersebut menjadi paradigma, aka teori ilmiah (termasuk teori kritis) dapat memainkan peran yang signifikan bagi penelitian ilmiah. Paradigma sebagai dasar penelitian ilmiah dan menentukan teori ilmiah di ana pengertian dan definisi ilmiah dibentuk dan berkembang, dan dimana seuruh pemikiran dasar tentang dunia dikembangkan secara dinamis (Dua, 2007). Paradigma bisa dilihat selaku bawah dari tiap ilmu pengetahuan normalr. Pada fase ini, tujuan pokok dari ilmu pengetahuan normal untuk meghidupkan serta mempertegas kenyataan da teori Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 33 yang telah terdapat.Paradigma tersebut menentukan mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk diselidiki. Secara konkret paradigma memungkinkan dan mengarahkan bidang-bidang penelitian atau spesialisasi penelitian yang semakin lama semakin mendalam dan akurat. Pada teori kritis sudah memberikan inti-inti dari analisa dan menentukan sudut apndang yang sesuai dan pantas untuk dianalisa atau ditelaah berdasarkan konsep-konsepnya yang mencakup emansipatori, advokasi, pencerahan, dan membogkar serta mengkritik ideologi. Selain itu teori kritis berdiri sebagai grand theory yang masuk dalam beberapa perspektif bidang ilmu seperti Komunikasi, Sosiogi, maupun kajian budaya. Sehingga teori kritis mampu untuk menjadi paradigma dengan pemikira yang berlawanan dengan paradigma positivis serta memiliki metodologi kritis yang diarahkan sesuai teori-teori yang digunakan didalam peneltiannya. Sehingga berdasarka kesimpulan yang dibangun oleh peneliti disini, teori kritis dalam bersifat multifungsi yaitu sebagai grand theory, kritis sebagai konsep kritik terhadap fenomena yang akan diteliti, kritis sebagai paradigma, kemudian sebagai tradisi dan perspektif, serta mampu berkembang dan berkolaborasi dengan beberapa pendekatan metodologi seperti pendekatan fenomenologi kritis, etnografi kritis dan studi kasus. Daftar Pustaka Agger, B. (2017). Teori Sosial Kritis. Kritik, Penerapan, dan Implikasinya. (1st ed.). Balibar, E. (2013). Metode Pemikiran MARX (E. Balibar (ed.); 1st ed.). Resist Book. 34 Dinamika Komunikasi Brewer, A. (2016). Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx (M. Santoso (ed.); 1st ed.). Narasi & Pustaka Promethea. Dua, M. (2007). Filsafat Ilmu Pengetahuan (1st ed.). Penerbit Ledalero. Fuchs, Christian; Mosco, V. (2015). Marx in the Age of Digital Capitalism (1st ed.). Brill. Fuchs, C. (2016a). [Christian_Fuchs]_Foundations_of_Critical_Media_an(BookFi.org).pdf. University of Westminster Press. Fuchs, C. (2016b). Critical Theory of Communication. New Readings of Lukacs, Adorno, Marcuse, Honnett and Habermas in the AGe of the Internet (C. Fuchs (ed.); 1st ed.). University of Westminster Press. Fuchs, C. (2020a). Communication and Capitalism (C. Fuchs (ed.); 1st ed.). University of Westminster Press. Fuchs, C. (2020b). Marxism (C. Fuchs (ed.); 1st ed.). Routledge. Hardiman, F. B. (2009). Kritik Ideologi. Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. (F. B. Hardiman (ed.); 1st ed.). Kanisius. Horkheimer, Max; Adorno, T. (2014). Dialektika Pencerahan (1st ed.). IRCiSoD. Littlejohn, Stephen W. & Foss, K. (2009). Teori KOmunikasi (Theories of Human Communication) (R. Oktafiani (ed.); 9th ed.). Salemba Humanika & Cengage Learning. Lubis, A. Y. (2015). Pemikiran Kritis Kontemporer (Tim Pondok Penyuntingan (ed.); 1st ed.). Rajawali Press. Lukacs, G. (2014). Dialektika Marxis (Sejarah & Kesadaran Kelas) (R. Kusumaninratri (ed.); 1st ed.). AR-RUZZ MEDIA. Ramin, M. M. (2017). Teori Kritis Filsafat Lintas MAzhab (1st ed.). Sociality. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 35 Ramly. Andi Muawiyah. (2013). Peta Pemikiran Karl Marx [Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis] (S. Isre (ed.); 1st ed.). LKiS. Sindhunata. (1982). Dilema Usaha Manusia Rasional. Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt. (1st ed.). Gramedia Pustaka Utama. Sudibyo, A. (2021). Jagat Digital (1st ed.). Penerbit KPG. Supraja, M. (2017). Pengantar Metodologi Ilmu Sosial Kritis. JURGEN HABERMAS (1st ed.). Gajah Mada University. Suseno, F. M. (1992). Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (F. M. Suseno (ed.); 1st ed.). Suseno, F. M. (2005). Dalam Bayang-Bayang Lenin (2nd ed.). Gramedia Pustaka Utama. Suseno, F. M. (2016). Pemikiran Karl Marx. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (F. M. Suseno (ed.)). Gramedia Pustaka Utama. Wardaya, B. T. (2003). Marx Muda (1st ed.). Buku Baik. AZWAR Teori Kritis, Industri Televisi, dan Wajah Buram Politik Indonesia 2 Teori Kritis Teori Kritis lahir karena “pemberontakan” terhadap teori Marxis. Ia lahir karena tidak puas dengan kekacauan yang dihasilkan oleh asumsi-asumsi Marxis pada masa perang dunia pertama dan sesudahnya. Teori Kritis adalah hasil dari tinjauan ulang atas pemikiran yang melandasi teori Marxis. Teori Kritis lahir dengan harapan untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan pada masa lalu dan menyiapkan aksi-aksi pada masa depan. Oleh sebab itu Teori Kritis juga dikelompokkan pada teori-teori Neo Marxis. Teori Kritis dilahirkan oleh Institut Penelitian Sosial yang kemudian lebih dikenal Mazhab Frankfurt. Martin Jay dalam bukunya Sejarah Mazhab Frankfurt Imajinasi Dialektis dalam Perkembangan Teori Kritis (2005) berkomentar bahwa selain melahirkan teori kritis, sesungguhnya masih banyak hal lain yang dilakukan Mazhab Frankfurt. Diantaranya adalah mengawinkan Marxisme dengan Psikoanalisis, studi tentang otoritarianisme dan kritik budaya massa. Ini semua mereka lakukan dalam rentang waktu 1925 sampai dengan 1950. 37 38 Dinamika Komunikasi Lebih jauh Jay menyampaikan bahwa Mazhab Frankfurt beranggotakan cendekiawan-cendekiawan senasib sepenanggungan yang mengalami remuk redamnya peradaban umat manusia di Eropa pada paruh pertama abad dua puluh. Mereka gelisah, mereka cemas dan oleh karena itu merasa harus bertindak dengan cara mereka sendiri demi mempertanggungjawabkan karunia kecerdasan dan hati nurani yang mereka miliki. Akar dari teori kritis adalah pemikiran-pemikiran yang bagi Max Horkheimer menyebut sebagai sekelompok laki-laki yang tertarik dengan teori sosial, dan berasal dari latar belakang beragam, bergerak bersama dengan keyakinan yang bulat bahwa merumuskan hal-hal negatif dari suatu masa transisi jauh lebih bermakna ketimbang karier akademis. Max Horkheimer dalam tulisan pengantarnya untuk buku Martin Jay tentang Sejarah Mazhab Frankfurt di atas menjelaskan bahwa pemikir-pemikir sosial Jerman yang tergabung dalam Institut Penelitian Sosial memikirkan tentang kebangkitan di Jerman. Setelah perpindahan beberapa tokoh pemikir di Institut Penelitian Sosial itu ke Amerika tetap saja pemikiran tentang Marxisme tetap dominan. Namun menurut Horkheimer bukan berarti materialisme dogmatis menjadi tema utama pemikiran mereka. Horkheimer mengutip pendapat Theodore W Adorno yang menyatakan bahwa tidak perlu menganggap klaim atas hal-hal yang absolut sebagai sesuatu yang pasti, sehingga ketertarikan pada konsep empatis kebenaran tidak terkikis sedikit pun. Lebih lanjut Adorno sebagaimana yang dikutip Horkheimer menyampaikan bahwa ketertarikan atas sesuatu yang sepenuhnya lain dari dunia ini mengandung suatu daya dorong sosio filosofis. Ketertarikan ini pada akhirnya akan mengarah kepada evaluasi positif atas Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 39 kecendrungan metafisis tertentu, karena menurut Adorno semua yang empiris tentunya palsu. Teori kritis yang berakar dari pemikiran-pemikiran pemikir kritis (diantaranya Max Horkheimer, Theodore Wisangrund Adorno, Herbert Marcuse, Erich Fromm, dan lain sebagainya) yang tergabung dalam Institut Penelitian Sosial di Frankfurt Jerman ini lahir karena pemberontakan mereka terhadap asumsi-asumsi Marxis saat perang dunia pertama dan waktu-waktu setelahnya. Pemikir-pemikir kritis tersebut didukung oleh Felix J. Weil yang mendapatkan dana dari ayahnya Hermann Weil. Herman Weil yang merupakan seorang perantau Jerman yang pada tahun 1890 pergi ke Argentina untuk menggeluti bisnis ekspor gandum ke Eropa. Felix J Weil tertarik dengan Marxisme kemudian seringkali mengadakan diskusi-diskusi dengan pemikir kritis lainnya seperti George Lukacs, Richard Sorge, Friedrick Pollock dan lainnya. Menurut Max Horkheimer, sebagaimana yang ditulis oleh Martin Jay (2005: 72-73) teori kritis memiliki landasan pertama meskipun para filsuf kehidupan benar ketika mencoba menyelamatkan individu dari ancaman masyarakat modern, mereka terlalu jauh melangkah dalam memberikan tekanan kepada subjektivitas dan dunia batin. Kedua dengan perkecualian semisal kritik asketisme yang dikemukakan Nietzcche, mereka cenderung menolak dimensi material realitas. Ketiga dan mungkin yang terpenting, ketika mengkritik merosotnya rasionalisme borjuis menjadi aspek formal dan abstrak, akdang-kadang mereka terlalu menonjolkan kasus mereka dan menolak alasan yang ada di dalamnya. Sementara itu Idi Subandi Ibrahim dalam pengantarnya untuk buku Hanno Hardt edisi Bahasa Indonesia yang berjudul Critikal Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif Sejarah 40 Dinamika Komunikasi Perjumpaan Tradisi Kritis Eropa dan Tradisi Pragmatis Amerika, (2005) menyampaikan bahwa teori kritis tentang industri budaya dan kritik budaya massa yang diperkenalkan para pemikir Mazhab Frankfurt, dipandang sebagai teori pertama yang secara sistematik menganalisis dan mengkritik budaya yang dimediakan secara massa dan komunikasi massa di dalam teori sosial kritis. Pra pemikir Mazhab Frankfurt juga merupakan teoretisi sosial pertama yang memandang pentingnya apa yang disebut industri budaya dalam reproduksi masyarakat kontemporer, yanmg di dalamnya apa yang dikenal sebagai budaya massa dan komunikasi massa berada di pusat aktivitas waktu luang, yang menjadi agen sosialisasi yang penting, mediator realitas politik, dan dengan demikian harus dipandang sebagai institusi utama masyarakat kontemporer dengan berbagai efek sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Teori Kritis dan Media Massa Dalam perspektif teori kritis, setidaknya dapat disimpulkan bahwa aktivitas komunikasi dan penyiaran publik pun tidak luput dari usaha komersialisasi. Komersialisasi tersebut menunjukkan bahwa penyiaran publik telah dikomodifikasi untuk kepentingan para kapitalis. Secara sederhana komodifikasi dapat digambarkan sebagai cara kapitalisme mencapai tujuan mengakumulasi kapital atau merealisasikan nilai-nilai melalui transformasi dari nilai guna menjadi nilai tukar. Prinsip dasar kapitalisme adalah proses produksi, distribusi dan konsumsi dalam proses itu yang dijadikan tujuan adalah tidak hanya nilai guna dari proses produksi ke konsumsi, tetapi juga melalui nilai tukar yang terjadi dalam proses pasar yang dengan demikian laba sebagai hasil upaya akumulasi kapital menjadi Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 41 maksimal. Maka dengan demikian komodifikasi adalah proses transformasi nilai guna menjadi nilai tukar (Siskawati, 2005: 90). Martin Jay seperti yang ia kutip dari Herbert Marcuse menyebut bahwa teori kritis akan menjaga kebenaran bahkan ketika praktik revolusioner melenceng dari jalannya. Praktik mengikuti kebenaran, bukan sebaliknya. Artinya kesadaran akan nilai-nilai kebenaran yang ada pada diri individu-individu pelaku industri budaya adalah nilai positif tanpa harus melakuka perubahan mendasar dari semua bidang tatanan kehidupan (revolusi) (Jay, 2005: 113) Inti Teori Kritis sebagaimana yang dikemukakan oleh para pemikir kritis Mazhab Frankfurt itu adalah kebencian terhadap sistem filosofis yang tertutup. Menyajikan hal ini sedemikian rupa akan mendistorsi kandungannya yang tak terbatas dan memancing rasa ingin tahu. Teori kritis sebagaimana namanya diekspresikan melalui serangkaian kritik terhadap pemikir dan tradisi filsafat lain. Pekembangan teori kritis ini kemudian berlangsung melalui dialog. Kelahirannya berkarakter dialektis sebagaimana metode yang ingin diterapkan kepada fenomena sosial. Hanya dengan mengkonfrontirnya dengan gagasan-gagasan sendiri, sebagai suatu virus bagi sistem lain barulah dapat dipahami sepenuhnya (Jay, 2005: 58). Selanjutnya jika merujuk pada tulisan Edward S. Herman yang berjudul The Externalities Effects of Commercial and Public Broadcasting dalam buku The Political Economi of The Media (Golding and Murdock: 1997) setidaknya ada beberapa hal yang menjadi poin penting terhadap tulisan tersebut. Komentar kritis dalam tulisan itu berhubungan dengan komersialisasi penyiaran publik dan dampak tak terduga atau yang tidak diperkirakan dari media ketika bersentuhan dengan politik. Lebih jauh, hal tersebut 42 Dinamika Komunikasi dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama dampak yang tidak diduga akan terjadi sebelumnya atas komersialisasi dan penyiaran publik ini adalah bagaimana semua tayangan untuk masyarakat itu akhirnya dijadikan hiburan. Hal ini karena pada dasarnya masyarakat tidak siap untuk menyaksikan hal-hal yang pahit dari tayangan televisi. Ini tentunya berkaitan dengan tujuan masyarakat menyaksikan televisi, yang salah satunya untuk melepaskan diri dari realitas kehidupan yang sebenarnya. Ketika mereka telah menyaksikan realitas kehidupan yang pahit, mereka tidak ingin lagi menyaksikan hal yang sama dari televisi. Oleh sebab itu pekerja televisi akan merasa tidak nyaman untuk menceritakan dunia-dunia yang pahit itu di dalam kotak televisi. Kedua eksternalitas dalam bidang politik dimana terjadinya degradasi dan plutokrasi politik atau penguasaan politik oleh orang-orang/kelompok kaya. Ketika politikus menggunakan televisi sebagai alat untuk menyampaikan program-program politik mereka, maka yang terjadi adalah mahalnya ongkos politik itu sendiri. Akibat dari mahalnya ongkos politik itu, maka ada beberapa hal yang terjadi yang sebenarnya gejala tidak baik untuk kondisi demokrasi sebuah bangsa yang memilih menjadi negara demokrasi. Hal-hal yang dapat terjadi adalah: a. Menutup jalan bagi orang-orang biasa (orang-orang yang tidak punya banyak uang) untuk masuk ke dunia politik. Padahal hak berpolitik itu sejatinya adalah milik semua masyarakat, tanpa harus ada penentu lain yang menjadi faktor utama seperti uang, ketampanan/kecantikan, popularitas dan keturunan. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 43 b. Terjadinya komunikasi satu arah antara tokoh politik dengan massa yang diwakilinya. Ketika politik belum terlalu bersentuhan dengan penyiaran publik yang komersil, maka para politikus menggunakan ajang pertemuan untuk bertemu dengan massa pendukungnya, bisa jadi lewat kampanye terbuka, tatap muka, temu kader dan lain sebagainya. Akan tetapi ketika televisi telah menjadi media perantara, maka politikus cukup bicara sendiri di depan kamera lalu pesan-pesan politiknya telah sampai pada massanya. Akibatnya politikus kehilangan akar pijakannya karena televisi telah menutup pintu baginya untuk menerima suara rakyat. c. Terjadinya pembohongan publik dengan sifat media yang bisa memanipulasi tayangan. Contohnya tokoh-tokoh yang tidak baik bisa dicitrakan sebagai tokoh yang baik dengan iklan-iklan di televisi. Contoh sederhana lainnya adalah orang-orang jelek sekalipun bisa disulap menjadi cantik dan gagah ketika tampil di depan televisi, dengan demikian masyarakat akan tertipu dengan tampilan asli dari tokoh politiknya itu. Dari pemaparan singkat tersebut dapat dilihat bahwa terjadinya penurunan nilai politik dan penguasaan panggung politik oleh orang-orang kaya. Dari dampak media yang sebelumnya tidak diperhitungkan oleh pelaku itu, akhirnya eksternalitas itu sendiri memiliki dampak negatif di tengah-tengah masyarakat. Pengaruh negatif eksternalitas adalah: Pertama terjadinya eksplorasi penonton. Karena televisi membutuhkan penonton untuk alasan bagi mereka menjual program pada pemasang iklan, maka penonton seolah-olah dijadikan alasan untuk memproduksi sesuatu. Akhirnya rating menjadi penentu 44 Dinamika Komunikasi dalam sebuah program. Saat ini dapat dilihat dengan alasan rating (yang sebenarnya tolak ukurnya pun diragui) program bisa dilanjutkan atau tidak. Selain itu dengan alasan kebebasan bicara dan untuk melayani penonton (masyarakat) televisi mmebuat program tertentu yang barangkali tidak dibutuhkan masyarakat atau bahkan merusak masyarakat itu sendiri. Kedua dampak negatif dari eksternalitas ini adalah dominasi kekerasan dan seks di televisi. Program-program televisi dengan alasan seperti yang dipaparkan di atas yaitu atas kebebasan berkreatifitas dan atas nama hak azazi manusia, maka orang-orang yang terkait pada produksi acara memilih jalan pintas dengan menyuguhkan program yang pada dasarnya adalah memenuhi kebutuhan dasar paling bawah manusia yaitu kecendrungan akan pemenuhan hasrat seksual. Dengan alasan itulah bermunculan program-program televisi yang banal dan nakal ke tengah-tengah penontonnya. Ketiga dampak lain dari eksternalisasi televisi komersil adalah terjadinya internasionalisasi. Dimana perusahaan-perusahaan transnasional menjadi pengiklan terbesar di stasiun televisi. Caracara sistem komersial televisi itu memaksa terjadinya imperialism budaya karena pada dasarnya negara-negara yang telah mapan teknologi televisinya seperti Amerika akan mendominasi penyediaan program untuk dunia. Akhirnya begitu sebuah negara mengadopsi televisi komersial, maka mereka harus menghadapi eksternalisasi secara alami dan segala dampak negatif yang ditimbulkannya. Oleh sebab itu sepantasnya pemerintah sebagai penyelenggara negara menyadari hal ini bahwa ada hal-hal yang perlu diatur oleh negara untuk memberikan yang terbaik pada masyarakat. Jangan justru me- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 45 nyerahkannya pada pasar yang hanya menginginkan keuntungan secara ekonomi untuk mereka dan intinya ingin mengeksplorasi rakyat sebesar-besarnya. Budaya Citra Politik Indonesia di Layar Televisi Pada dasarnya komunikasi massa adalah suatu bentuk komunikasi dengan melibatkan khalayak luas yang umumnya menggunakan media suratkabar, majalah, radio, televisi dan juga internet. Menurut Littlejohn (2010), komunikasi massa merupakan proses dimana organisasi-organisasi media memproduksi dan menyampaikan pesan-pesan kepada khalayak luas dan proses dimana pesan-pesan dicari, digunakan, dipahami, dan dipengaruhi oleh khalayak. Douglas Kellner dalam buku Budaya Media: Cultural Studies, Identitas, dan Politik: Antara Modern dan Postmodern dengan tegas menyebutkan bahwa budaya media adalah budaya citra. Artinya budaya yang melibatkan penglihatan dan suara dimana menggunakan beragam media seperti radio, film televisi, music, dan media cetak, seperti majalah, koran, dan komik mampu mencampur adukkan alat indera sehingga memainkan emosi, perasaan dan gagasan audiensnya. Budaya media mempertontonkan siapa yang berkuasa dan siapa yang tidak berkuasa, siapa yang diperbolehkan menggunakan paksaan dan kekuatan dan siapa yang tidak. Mereka mendramatisir dan mengabsahkan kekuatan pihak yang berkuasa dan menunjukkan kepada yang tidak berdaya bahwa jika mereka gagal mengikutinya, mereka akan dipenjara atau dihukum mati (Kellner, 2010; 2). Partai politik, adalah salah satu lembaga yang menyadari arti penting komunikasi massa itu. Mereka berprinsip, selagi media itu 46 Dinamika Komunikasi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka maka mereka akan menggunakannya dengan berbagai cara. Sementara itu pemilik dan pengelola media juga menyadari akan nilai apa yang mereka kelola, maka mereka pun tidak segan-segan memasang harga tinggi untuk jasa mereka itu. Oleh sebab itu semakin hari perpolitikan semakin buram karena menggunakan ongkos yang besar, akibat tergantung pada media yang sudah sangat komersil. Partai politik sangat percaya pada media massa, karena media dipercaya dapat mempengaruhi masyarakat untuk menerima cara pandang baru atas suatu persoalan. Kemampuan media massa menjangkau khayalak dari berbagai lapisan merupakan potensi yang dapat diandalkan dalam menyebarkan berbagai informasi. Organisasi atau institusi massa memproduksi dan mendistribusikan konten simbolik, melakukan kegiatan dalam lingkungan publik, partisipasi sebagai pengirim atau penerima bersifat sukarela, professional serta bebas dan powerless (McQuail, 2005: 58). Karena peran media yang sangat besar dan sangat penting bagi partai politik, maka mengakibatkan hal-hal yang dipandang tidak baik bagi perpolitikan Indonesia. Wajah politik demi memenuhi kebodohan mereka yang telah tertipu oleh media masa akhirnya dapat dicirikan dengan khas sebagai lembaga yang membutuhkan dana besar, sebagai panggung orang-orang kaya, mengambil jalan pintas merekrut orang-orang popular (artis) dan meniadakan suara rakyat dan menghilangkan peran orang-orang yang tidak memiliki modal besar untuk terjun ke dunia politik. Dalam hal ini bukan berarti membantah pernyataan Foucault bahwa pengetahuan bersangkutan dengan kekuasaan. Kalau dalam pernyataan pertama dinyatakan bahwa orang yang memiliki pengetahuan seolah ditiadakan dalam politik, hal itu sebenarnya Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 47 kulit luarnya saja. Sesungguhnya politik juga masih mengakui bahwa adanya pertautan yang tidak saling meniadakan, melainkan menguatkan. Seperti yang disampaikan Michael Foucault dalam buku Pengetahuan dan Metode (2002: 23) berbekal pengetahuan, seseorang mempunyai kekuasaan untuk menghakimi kondisi mental orang lain. Foucault lebih jauh menyatakan bahwa persoalan bukan hanya itu, pengetahuan juga memiliki dampak sosial. Pengetahuan bisa mengakibatkan rekonfigurasi sosial. Pendapat ahli bahwa kegilaan adalah penyakit mental menjebloskan para orang gila ke dalam asylum (tempat khusus bagi orang gila). Pendapat ahli yang mengatakan bahwa homoseksual adalah sebuah kelainan seksual melahirkan kebijakan yang melarang pernikahan sesama jenis. Pendapat ahli yang mengatakan bahwa masturbasi pada anak dapat menimbulkan kebodohan berujung pada pengawasan super ketat yang digelar dari rumah sampai sekolah. Semua itu adalah permainan kuasa pengetahuan yang bertujuan menghasilkan tubuh-tubuh yang taat. Dengan besarnya kuasa pengetahuan timbul pertanyaan bahwa kenapa partai politik tidak memanfaatkan pengetahuan? Jawabannya tentu bukan karena tidak memakai pengetahuan untuk mendukung kekuasaan mereka, tetapi polanya agak berbeda. Dunia politik memanfaatkan kekayaan orang-orang kaya untuk membeli semua mengetahuan yang bisa melanggengkan kedudukan politik mereka. Oleh sebab itu terjawablah alasan, mengapa partai politik lebih mengakomodir orang-orang yang memiliki banyak uang dibandingkan orang-orang yang memiliki pengetahuan. Jika diamati media tentu bukan ruang kosong yang menayangkan sesuatu begitu saja. Ada banyak hal yang mempengaruhi 48 Dinamika Komunikasi media. Dalam paradigma kritis media pada dasarnya dikontrol oleh pemilik modal. Ishadi SK dalam bukunya Media dan Kekuasaan Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto menyatakan: Jurnalis pada dasarnya dikontrol. Kontrol paling besar adalah bagaimana menyajikan berita kepada khalayak. Berita berasal dari peristiwa. Bagaimana peristiwa bisa dibentuk menjadi berita melibatkan ideologi profesional jurnalis. Ideologi profesional itu menentukan mana yang bisa, tidak bisa, bagian mana, dan dengan cara apa peristiwa tersebut diberitakan (Ishadi SK, 2014: 18). Artinya walau awak media (jurnalis) memiliki idealisme yang turut mempengaruhi apa yang diberitakannya, namun pengaruh pemodal tentu tidak bisa dilepaskan. Suara pemilik modal menjadi hal yang lebih penting di atas idealisme jurnalis itu sendiri. Oleh sebab itu penting bagi partai politik untuk merekrut orang-orang yang memiliki banyak uang, agar bisa mempengaruhi pemnberitaan media terhadap partai mereka. Untuk menciptakan media penyiaran yang sehat, tentu saja banyak faktor yang harus diperhatikan. Lembaga penyiaran yang independen, tidak bergantung pada salah satu partai politik tertentu ini menjadi penting. Wahyu Wibowo (Editor) dalam buku Kedaulatan Frekuensi Regulasi Penyiaran, Peran KPI, dan Konvergensi Media menuliskan bahwa: Untuk memaknai independensi, maka harus dilihat independensi tersebut hendaknya dimaknai sebagai kebebasan eksistensial, yaitu kemampuan para insan kepenyiaran untuk menentukan dirinya sendiri yang diandaikan harus bersift positif… pemaknaan terhadap independensi lembaga penyiaran hendaknya patut dilakukan secara kritis jika ingin dipertalikan dengan integritas subjektif para insan yang terlibat di dalamnya (Wibowo, 2013: 73-74). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 49 Dari kutipan di atas sangat jelas bahwa independensi penyiaran maksudnya adalah lembaga penyiaran yang tidak dipengaruhi kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik kelompok tertentu. Artinya lembaga penyiaran yang dimiliki oleh pemilik partai politik tentu sulit untuk memisahkan kepentingan masyarakat dengan kepentingan partai politiknya sendiri. Aplikasi Teori dalam Kajian Media Massa Tahun 2017 yang lalu, setidaknya ada lima stasiun televisi nasional yang secara langsung dimiliki oleh Ketua Partai Politik yaitu MNC TV, Global TV, RCTI dan iNews TV (Hary Tanoesoedibjo Ketua Umum Partai Perindo) dan Metro TV (Surya Paloh Ketua Umum Partai Nasdem). Sementara itu ada satu grup lembaga penyiaran yaitu Viva Grup (ANTV dan TV One) yang dimiliki politisi senior Partai Golkar. Permasalahan kepemilikan stasiun televisi oleh politisi tersebut adalah menurunnya nilai demokrasi di Indonesia. Hal ini karena sejatinya media televisi adalah tempat untuk menayangkan produk jurnalistik yang menyuarakan suara rakyat, kini beralih pada media yang menjadi corong suara partai politik tertentu. Media yang seharusnya menjadi pilar keempat demokrasi kini berubah menjadi media kehumasan (public relation) bagi partai politik tertentu. Fenomena di atas tentu saja mencederai demokrasi karena frekuensi sejatinya milik publik kini beralihfungsi menjadi media untuk propaganda bagi partai politik. Ketika televisi sudah menjadi alat propaganda partai politik, tentu saja terjadi monopoli informasi karena televisi hanya dimiliki beberapa orang saja. Selain itu, politisi-politisi yang tidak memiliki televisi, tentu harus mengeluarkan ongkos yang besar untuk 50 Dinamika Komunikasi membayar televisi jika dipergunakan sebagai media kampanye. Dengan demikian media tidak lagi menjadi pilar demokrasi tetapi menjadi alat untuk membunuh demokrasi itu sendiri. Mengapa siara televisi begitu menakutkan jika dikuasai oleh partai politik, hal ini tentu saja berkaitan dengan keunggul­a n dari televisi itu sendiri. Di antara sekian banya media massa, televisi merupakan media yang memiliki keunggulan dan keistimewaan tersendiri untuk mempengaruhi penontonnya. Selain karena memiliki sifat audio dan visual, televisi juga memiliki keunggulan sebagai media yang selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat. Hal ini tentu saja sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Mochamad Riyanto Rasyid dalam bukunya Kekerasan di Layar Kaca (Kompas, 2013) yang menyatakan bahwa: Media massa dapat menjadi sarana persuasi yang efektif dan efisien karena bisa menjangkau massa yang menjadi target publikasi dengan waktu cepat dan biaya yang relatif murah. Peluang ini tentu saja menggiurkan bagi berbagai kalangan yang berkepentingan… Televisi merupakan media massa yang paling komunikatif dan paling digemari masyarakat. Televisi dianggap mampu memberi kesan sebagai penyampai pesan secara langsung antara komunikator (pembawa acara atau pengisi acara) dan komunikan (pemirsa) (Rasyid, 2013: 25). Selain memiliki keunggulan, televisi tentu saja memiliki kekurangan, karena media ini bisa menyajikan hal-hal yang tidak benar sesuai dengan kepentingan pemilik media atau orang-orang tertentu, misalnya pengiklan atau pemilik modal. Ketakutan akan dampak televisi ini, baik dampak negatif atau dampak positifnya tidak hanya untuk pemirsa atau penonton saja, akan tetapi juga berdampak terhadap demokrasi di sebuah negara (dalam hal ini Indonesia). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 51 Persoalan dalam negara demokrasi adalah masyarakat tidak menginginkan stasiun televisi mengalami dampak eksternal ketika menjadi bagian langsung dari alat politik. Selain itu per­soalan dalam negara demokrasi adalah terjadinya degradasi nilai demokrasi itu sendiri dan akhirnya kondisi tersebut mendorong terjadinya pluktokrasi politik, dimana politik hanya dikuasi sekelompok tertentu saja. Artinya masyarakat tidak menginginkan siaran televisi dimiliki oleh sekelompok pemodal atau orang-orang kaya saja. Jika hal di atas berlaku pada sebuah negara, hal yang sangat menakutkan tentu terjadi yaitu siaran televisi dikuasai untuk alat propaganda. Untuk menghindari hal itu, suara rakyat menjadi hal yang utama untuk diperhatikan dalam mengelola media televisi. Suara rakyat akan terjaga jika ada regulasi yang tegas dalam penggunaan frekuensi publik tersebut. Tulisan berikut ini mengulas dampak-dampak tak terduga yang merugikan rakyat jika media televisi dijadikan alat propaganda oleh partai politik atau politisi. Penulis menggunakan pemikiran Edward S. Herman yang berjudul The Externalities Effects of Commercial and Public Broadcasting dalam menganalisis persoalan ini. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi sorotan Edward S. Herman dalam tulisannya tersebut yaitu pertama terkait dengan komersialisasi penyiaran publik, kedua dampak eksternal dalam bidang politik dimana terjadinya degradasi dan plutokrasi politik. Artinya akan terjadi penurunan kualitas politik dalam suatu negara dan dikuasainya politik oleh segelintir orang saja (pemodal). Ketiga televisi memiliki dampak tak terduga terhadap anak-anak, yang semula untuk menghibur justru televisi bisa menularkan moral-moral tidak baik karena siaran televisi banyak yang menayangkan halhal yang tidak baik. 52 Dinamika Komunikasi Berdasarkan pembacaan penulis terhadap persoalan industri penyiaran dan ekonomi politik media secara sederhana dapat dilihat bahwa telah terjadi degradasi nilai-nilai demokrasi karena kepentingan politik dan kepentingan industri media. Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari pendanaan partai politik, politik menjadi panggung orang kaya, dan maraknya para artis masuk ke dunia politik sehingga akhirnya menyebabkan banyaknya suara-suara rakyat yang hilang. a. Pendanaan Partai Politik Pasca reformasi, peta perpolitikan Indonesia berubah drastis. Salah satu perubahan itu adalah dengan menjamurnya partai-partai politik di Indonesia, puluhan partai berlomba-lomba mencari suara dengan berbagai cara baik pada pemilu 1999, pemilu 2004, pemilu 2009 dan pemilu 2014. Hal itu belum lagi dengan kebijakan pemilihan presiden secara langsung dan pemilihan kepala daerah secara langsung di berbagai daerah. Kondisi itu telah membuat membengkaknya pengeluaran negara untuk kepentingan pesta demokrasi itu. Risiko demokrasi itu belum lagi harus menelan biaya kompetisi antar partai. Akibat banyaknya peserta pemilu itu terjadi kompetisi yang ketat antara partai-partai untuk mendapatkan suara rakyat. Kompetisi yang ketat antara para pesaing baik antara partai politik maupun antara calon anggota legislatif pada partai yang sama berujung pada persaingan tidak sehat. Partai terpaksa mengumpulkan biaya politik dari anggotanya dan juga dari cara-cara lain yang bisa dilakukan seperti transaksi politik misalnya. Partai-partai yang mengumpulkan biaya politik dari kader-kadernya, tentu saja merupakan hal yang sulit. Karena Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 53 partai yang bisa melakukan hal ini adalah partai yang memiliki basis kader yang militan. Partai semacam ini bisa mengumpulkan iuran dari kader pada tingkat akar rumput karena partai seperti ini sudah memiliki struktur organisasi yang kuat. Sementara itu pola lain pengumpulan pembiayaan partai politik yang bisa dilakukan oleh partai adalah dengan melakukan pemungutan iuran/pemotongan gaji anggota DPRD/DPR sesuai dengan ketentuan partai. Angka ini tidak merata, ada partai yang memotong 25 persen dari gaji anggota DPRD/DPR bahkan ada partai yang memotong/menarik iuran hingga 40 persen. Pada kondisi tertentu partai yang kaderisasinya mantap juga berhasil memungut iuran dari kadernya yang duduk di eksekutif seperti Bupati/Walikota, Gubernur atau Mneteri. Pembiayaan partai politik di atas, dalam kondisi tertentu mendorong kader-kader partai untuk “kreatif” mencari celah pemasukan bagi partainya atau bagi dirinya sendiri dengan dalih untuk modal politik. Kreativitas politisi ini sayangnya terbatas. Hal yang sering dilakukan hanyalah menggunakan kekuasaan mereka untuk mengambil keuntungan bagi diri sendiri ataupun partai. Contohnya melakukan transaksi proyek dengan alasan politisi yang duduk di legislatif punya kewenangan untuk mengatur anggaran. Hal ini tentu bukan informasi yang baru karena sudah sering didengar masyarakat terjadinya persekutuan antara politisi dan pengusaha bahkan penguasa. Dampak yang terjadi dari gejala-gejala di atas adalah seperti yang bisa dilihat kondisi belakangan ini, betapa masalah dana partai politik yang semakin besar telah menyeret nama-nama politisi dari berbagai partai seperti kasus dugaan suap di Wis- 54 Dinamika Komunikasi ma Atlet di Pelembang dan kasus pemilihan Gubernur Bank Indonesia, kasus BLBI, kasus korupsi Gubernur dan Bupati/ Walikota di berbagai daerah Indonesia, dan yang paling hangat kasus korupsi KTP elektronik yang menyeret politisi-politisi besar di Indonesia. Pada akhirnya mereka-mereka itu harus berhadapan dengan dugaan pencarian sebagai pendanaan yang tidak halal untuk membiayai partai mereka. b. Politik Panggung Orang Kaya Karena besarnya ongkos politik, maka partai politik pun tidak terpikir untuk merekrut orang-orang yang tidak punya modal besar untuk ikut serta dalam permainan politik. Pemain politik itu haruslah mereka-mereka yang bisa membayar media untuk mencitrakan diri mereka sebagai partai yang memihak pada rakyat, walaupun realitasnya tidak seperti itu. Citra partai itu menjadi penting, oleh sebab itu mereka harus bisa membuat iklan dan membayar jam tayangnya di televisi. Efek karena pendanaan partai politik itu sangat besar, akhirnya sangat jelas bahwa yang bisa masuk ke panggung politik adalah orang-orang yang punya modal besar. Masyarakat kelompok kaya bisa mencalonkan diri menjadi anggota DPR atau menjadi Walikota/Bupati, Gubernur karena mereka memiliki uang yang besar. Lihatlah berbagai istilah yang muncul seperti mahar partai atau ongkos perahu. Istilah itu hadir karena partai politik menerima transaksi dengan siapa saja yang berminat dicalonkan menjadi anggota legislatif atau eksekutif. Mahar politik ini menunjukkan betapa politik benar-benar menjadi panggung orang kaya. Sayangnya tidak semua orang kaya itu yang berkompeten untuk menduduki jabatan sebagai Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 55 wakil rakyat di legislatif atau sebagai pelayanan rakyat di eksekutif. Akhirnya yang terjadi rakyat diwakili oleh orang-orang kaya yang tidak mengatahui persoalan masyarakatnya. Rakyat tingkat Kota/Kabupaten atau Provinsi dipimpin oleh pemimpin yang tidak peka terhadap penderitaan rakyatnya. Orang-orang kaya yang terjun ke dunia politik juga gampang untuk mengakses berbagai media yang bisa membuat pencitraan terhadap dirinya. Calon politisi dari golongan kaya raya ini bisa tampil di televisi dengan iklan-iklan berbayar yang tentu saja mahal. Bahkan mereka bisa tampil dalam program-program televisi yang bisa mengangkat pamor mereka di mata masyarakat. Hal ini tentu saja sangat bisa dijelaskan bahwa pelbagai citraan yang diciptakan oleh media baik di bioskop atau televisi bisa mengaburkan batas-batas antara realitas dan apa yang dipersepsikan sebagai realitas. Mereka bisa saja pura-pura peduli atau bisa saja pura-pura pintar untuk dianggap layak sebagai wakil rakyat atau pimpinan rakyat. Pelbagai citraan ini bisa memiliki pengaruh panjang pada sikap, kepercayaan, dan perilaku masyarakat. Hal di atas menjelaskan mengapa pecandu televisi akan menjadi fanatik terhadap apa yang disukainya di televisi. Oleh sebab itu partai politik membutuhkan orang-orang yang memiliki uang untuk membayar televisi-televisi agar bisa menjadi realitas tersendiri dalam ruang pikiran masyarakat. c. Artis dalam Politik Kita Dari penjelasan Kellner tersebut dapat dilihat bahwa budaya citra media akan memberikan kekuasaan pada orang-orang yang bisa menguasainya. Siapakah yang paling berkuasa da- 56 Dinamika Komunikasi lam media? Banyak orang mengatakan yang berkuasa dalam media itu adalah pemilik, pengelola, ataupun artis-artis yang sering tampil di dalamnya. Pada dasarnya kuasa itu bisa dilihat tergantung pada kedudukan masing-masing. Dalam hal pencitraan maka yang paling menguasai media bukanlah orang di belakang panggung, tetapi mereka yang sering tampil di depannya dan mereka itulah artis-artis yang kemudian tidak heran bila mereka menjadi idola banyak masyarakat. Sementara itu karena kondisi politik kita yang semakin pragmatis, maka mereka memerlukan figur-figur orang yang memiliki popularitas untuk menjadi kader partai mereka. Membangun popularitas dari bawah tentu bukan sesuatu yang mudah, oleh sebab itu partai politik mengambil jalan pintas dengan memasukkan artis-artis terkenal untuk menjadi pendulang suara bagi partai mereka. Hal ini merupakan saah satu buntut panjang dampak eksternalitas komersialisasi dan penyiaran publik di ranah politik. Karena media sangat berperan dalam dunia politik, maka para politikus “berselingkuh” dengan orang yang dekat dengan media yang paling dikagumi rakyat yaitu para artisnya. d. Suara Rakyat yang Hilang Suara rakyat kadang tidak bisa diwakilkan oleh sekelompok masyarakat yang bisa membayar media dengan mahal atau oleh artis-artis yang sering tampil di media. Akan tetapi seringkali suara rakyat itu selalu didengar oleh para intelektual yang mengabdikan hidup mereka untuk belajar memahami masyarakatnya. Suara rakyat itu kadang kala nyaring terdengar oleh tokoh-tokoh yang selalu dekat dengan mereka. Suara rak- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 57 yat kadangkala hanya di dengar oleh pemuka-pemuka agama mereka masing-masing. Suara rakyat bisa jadi di dengar oleh orang-orang bersih yang sering memberikan solusi permasalahan masyarakat. Kalau sedemikian adanya, kenapa tidak mereka saja yang diangkat menjadi wakil rakyat? Permasalahannya adalah calon wakil rakyat sekarang harus mereka yang bisa membayar iklan di televisi, agar terkenal di seluruh masyarakat. Persoalannya adalah wakil rakyat harus mengeluarkan uang besar karena system komersial yang dianut televisi. Akhirnya mereka-mereka yang berpotensi menyampaikan suara rakyat itu tidak terakomodir dalam politik Indonesia. Penutup Berdasarkan kajian pustaka yang dilakukan atas dampak eksternal komersialisasi penyiaran publik, degradasi dan plutokrasi politik, maka dapat disimpulkan bahwa komersialisasi penyiaran publik, khususnya yang terjadi dalam industri televisi berdampak negatif terhadap penyiaran publik di Indonesia. Bentuk komersialisasi televisi itu juga telah merasuk ke panggung politik, sehingga menurunkan kualitas demokrasi di Indonesia. Dampak eksternalitas dapat dilihat dari tampilnya orang-orang kaya di panggung politik, sebagai akibat dari sistem pendanaan partai yang secara tidak langsung mengharuskan partai memiliki modal besar untuk bisa memenangkan pertarungan politik. Hal lain adalah bagaimana munculnya artis-artis, yang dicaplok kepopuleran mereka oleh partai politik untuk mendulang suara pemilih, untuk pemanis dalam kampanye-kampanye. Dampak eksternalitas komersialiasasi penyiaran publik adalah tersingkirnya orang-orang cerdas 58 Dinamika Komunikasi dan orang-orang baik yang tidak memiliki modal untuk mewakili suara rakyat dari ranah politik. Untuk menjaga marwah demokrasi di Indonesia, maka perlu membatasi kepemiliki stasiun televisi (media penyiaran publik) oleh politisi di Indonesia. Hal ini tentu sangat penting untuk mengurangi pembusukan dalam demokrasi. Negara harus membuat regulasi yang tegas atas hal ini karena politik yang berimbang, politik yang memberi kesempatan pada semua lapisan masyarakat adalah mutlak adanya dalam negara demokrasi. Langkah lain yang perlu dilakukan untuk mengurangi dampak eksternal penyiaran publik khususnya industri televisi adalah dengan menekan ongkos demokrasi termasuk membatasi iklan politik di media. Televisi tidak bisa dibiarkan mempropagandakan kepentingan partai politik tertentu leluasa begitu saja. Negara sebagai pemegang regulasi tentu harus berpihak pada kepentingan rakyat seperti yang diuraikan dalam tulisan ini. Daftar Pustaka Foucault, Michel. 2002. Pengetahuan dan Metode karya Penting Foucault, Jalasutra, Jogjakarta. Kellner, Douglas. 2010. Budaya Media Cultural Studies, identitas, dan Politik: Antara Modern dan Postmodern. Jalasutra. Jogjakarta. Littlejohn, Stephen dan Karen A Foss. 2010. Theories of Human Communication. (Terjemahan), Pustaka Pelajar, Jogjakarta. McQuail, Dennis. 2005. McQuail’s Mass Communication Theory, Sage Publication, London. L.J Schrum (edt). 2010. Psikologi Media Entertaintmen Membedah Keampuhan Periklanan Subliminal dan Bujukan yang Tak Disadari Konsumen. Jalasutra. Jogjakarta. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 59 Herman, Edwar S. 1997. “The Externalities Effects of Commercial and Public Broadcasting” dalam Peter Golding and Graham Murdock. The Political Economy of the Media, Edward Elgar Publishing, London. Rasyid, Mochamad Riyanto. 2013. Kekerasan di layar Kaca: Bisnis Siaran, Peran KPI, dan Hukum. Penerbit Kompas, Jakarta. Siskawati, Isna. 2006. Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi Thesis Volume V/No.2 Mei-Agustus 2006, “Komodifikasi Nilai-Nilai Agama dalam Sinetron Televisi,” Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Jakarta. SK, Ishadi. 2014. Media dan Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto. Penerbit Kompas, Jakarta. Wibowo, Wahyu (Ed.) 2013. Kedaulatan Frekuensi: Regulasi Penyiaran, Peran KPI, dan Konvergensi Media. Penerbit Kompas, Jakarta. DAMAYANTI MASDUKI Teori Atribusi dan Aplikasi Pada Ilmu Komunikasi 3 T eori Atribusi (Attribution Theory) merupakan salah satu teori komunikasi interpersonal yang berakar dari psikologi sosial. Pertama kali diperkenalkan oleh (Heider, 1958) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Jones dan Davis (Trope & Gaunt, 2003) dengan teori inferensi koresponden yang merupakan teori psikologis terkait dengan apa yang ingin dicapai oleh seseorang dengan melakukan tindakan tertentu, selanjutnya juga dikembangkan oleh Kelley (1973) dan Weiner (1974). Teori Atribusi berusaha menjelaskan mengenai suatu peristiwa atau perilaku seperti misalnya mengapa seseorang melakukan sesuatu hal. Menurut Fiske & Taylor (2017), Teori atribusi berkaitan dengan bagaimana persepsi sosial menggunakan informasi untuk sampai pada penjelasan sebab akibatnya pada sebuah peristiwa. Hal ini mengenai pengkajian informasi yang dikumpulkan dan bagaimana hal itu dikombinasikan untuk membentuk penilaian kausal tersebut. Teori ini memberikan penjelasan mengenai tingkah laku seseorang, apakah hal itu berkaitan dengan orang lain atau dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah, apakah seseorang 61 62 Dinamika Komunikasi merasa sedih karena memang moodnya sedang sedih atau karena ada yang menyakitinya. Atribusi merupakan salah satu dari berbagai inferensi kognitif yang disertakan dalam kognisi sosial. Merupakan salah satu dari beberapa model teoretis dalam psikologi sosial, yang juga merupakan kesimpulan mengapa sebuah peristiwa terjadi. Atribusi dapat diartikan sebagai proses yang dimulai dengan persepsi sosial, berkembang melalui penilaian kausal dan kesimpulan sosial, dan berakhir dengan konsekuensi perilaku (Crittenden, 1983). Sebagaian besar teori dan penelitian tentang Atribusi berfokus pada kesimpulan kausal, namun pada perkembangannya dalam penelitian empiris membahas mengenai Atribusi yang bukan hanya penyebab tetapi juga karena kesalahan dan tanggung jawab. Meski terkait, keduanya tidak identik secara konseptual. Karena salah satu elemen penting adalah karakteristik kepribadian yang merupakan kategori utama penyebab potensial perilaku. Atribusi tentang masing-masing sifat individu, telah mendapat perhatian teoritis yang eksplisit. Fritz Heider adalah peneliti pertama yang mengenalkan Teori Atribusi saat teori-teori belajar dari pendekatan behaviorisme (contohnya Teori Operant Conditioning), teori-teori memori dan teori-teori psikoanalisis mendominasi ranah psikologi akademis. Teori-teori tersebut jarang sekali digunakan untuk menjelaskan perilaku manusia. Sebaliknya, melalui Teori Atribusinya, Heider mencoba untuk menekankan bahwa mempelajari Atribusi sangatlah penting karena Atribusi memberikan pengaruh pada apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan oleh manusia. Heider juga merupakan peneliti pertama yang mengkaji tentang proses Atribusi khususnya pada bagaimana seseorang membangun sebuah Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 63 impresi atau kesan bagi orang lain. Menurutnya, impresi atau kesan ini dibangun melalui tiga tahapan proses, yaitu: pengamatan perilaku; menentukan apakah perilaku itu disengaja atau tidak; dan mengelempokkan perilaku ke dalam perilaku yang termotivasi secara internal atau eksternal. Studi Atribusi berawal dari usaha (Heider, 1958) memberikan penjelasan yang sistematis mengenai psikologi dasar. Menurut Heider, seseorang akan berusaha untuk mencoba memahami, memprediksi, dan mengendalikan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan. Individu mencoba melakukan pengamatan, dan kemudian membentuk teori tentang bagaimana dunia sosial mereka. Setelah melakukan pengamatan, baru kemudian melakukan pengambilan kesimpulan mendukung, menolak, atau memodifikasi teori-teori tersebut. Individu akan bertindak berdasar atas kepercayaan mereka. Pada pandangan Heider, adalah sebuah hal yang penting untuk memahami psikologi tersebut. Heider memberikan beberapa prinsip mengarah pada Teori ini. Menurut Heider, bahwa orang akan cenderung mengaitkan tindakan dengan penyebab yang stabil atau bertahan daripada faktor sementara. Heider juga menekankan pentingnya membedakan yang tidak disengaja dari perilaku yang disengaja. Sebuah perbedaan yang sangat berpengaruh dalam Teori Atribusi tanggung jawab. Dia mengidentifikasi faktor lingkungan dan pribadi sebagai dua kelas umum faktor yang menghasilkan tindakan dan berhipotesis bahwa ada hubungan terbalik diantara dua rangkaian penyebab ini. Dia juga menyarankan bahwa “prinsip kovarian” sangat penting untuk Atribusi: Efek diberikan pada faktor yang ada saat efeknya ada dan faktor yang tidak ada saat pengaruhnya tidak ada. 64 Dinamika Komunikasi Analisis awal persepsi sosial Heider mewakili kerangka konseptual umum tentang akal sehat, teori implisit yang digunakan orang dalam memahami kejadian dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dua Teori Atribusi yang paling berpengaruh didasarkan pada karya Heider namun melampaui itu dalam pengembangan pernyataan yang lebih sistematis tentang proses Atribusi. Heider percaya bahwa setiap orang adalah psikolog untuk dirinya sendiri dalam batas tertentu. Atau setidaknya setiap orang berusaha menjadi psikolog untuk dirinya sendiri. Para psikolog menurut Heider selalu melihat hubungan sebab akibat, meski hubungan sebab akibat itu tidak ada. Heider tidak benar-benar mengembangkan teori tersebut, melainkan menekankan tema tertentu yang diambil orang lain. Ada dua gagasan utama Teori Atribusi, yang memegang pengaruh besar menurut Heider: • Atribusi Internal Atribusi internal mengacu pada kecenderungan untuk menetapkan penyebab atau tanggung jawab suatu perilaku atau tindakan tertentu terhadap karakteristik internal, bukan pada kekuatan luar. Atribusi internal yang sering kita tanggung bertanggung jawab atas perilaku orang lain adalah motif, kepribadian, kepercayaan dan sebagainya. • Atribusi Eksternal Atribusi eksternal sama persis dengan atribusi internal. Kecenderungan menugaskan penyebab atau tanggung jawab suatu perilaku atau tindakan tertentu terhadap kekuatan luar daripada karakteristik internal disebut atribusi eksternal. Kita Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 65 sering menjelaskan tindakan dan perilaku baru kita menggunakan fitur lingkungan atau situasional, sesuatu yang berada di luar kendali kita. Teori Inferensi Koresponden Pada tahun 1965, Jones dan Davis (Trope & Gaunt, 2003) mempublikasikan sebuah Teori Correspondent Inference atau Inferensi Koresponden. Berdasarkan Teori Inferensi Koresponden, kita cenderung menggunakan informasi tentang perilaku orang lain dan efeknya untuk menggambarkan sebuah Inferensi Koresponden dimana perilaku tersebut dikaitkan dengan karakteristik disposisi atau kepribadian. Hal ini dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Pertama, mengidentifikasi maksud dari efek perilaku seseorang. Kita cenderung untuk menarik Inferensi Koresponden jika perilaku tersebut muncul dengan disengaja dibandingkan dengan tidak disengaja. Kedua, kita cenderung memutuskan ada Korespondensi bila dampak dari perilaku tersebut tidak diinginkan secara sosial. Inferensi Koresponden dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu efek-efek yang tidak umum, keinginan sosial, dan kebebasan memilih. • Efek-efek tidak umum – berbagai elemen pola tindakan yang tidak dibagi dengan pola tindakan alternatif. • Keinginan sosial – perilaku yang tidak diinginkan secara sosial dapat menuntun pada Inferensi Koresponden dibandingkan dengan perilaku yang diinginkan secara sosial. • Kebebasan memilih – semakin besar kebebasan memilih maka semakin besar pula Inferensi Koresponden. 66 Dinamika Komunikasi Teori Inferensi Koresponden menjelaskan kesimpulan seseorang tentang perilaku atau tindakan tertentu seseorang. Tujuan utama dari Teori ini adalah untuk mencoba dan menjelaskan mengapa orang membuat Atribusi internal atau eksternal. Atribusi internal mudah dimengerti karena Korespondensi yang kita lihat antara motif dan perilaku. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesimpulan orang: • Pilihan • Dugaan perilaku • Efek perilaku Kesimpulan Koresponden Teori Inferensi Koresponden Jones dan Davis membahas Atribusi sifat kepribadian kepada aktor berdasarkan perilaku mereka dan berfokus pada Atribusi tentang orang-orang yang lebih mendalam daripada model Kovariat Kelley. Kedua Teori ini menjawab pertanyaan yang berbeda. Kelley bertanya: Kapan kita menghubungkan sebuah acara dengan aktor atau beberapa stimulus di lingkungan? Edward Jones bertanya: Kapan kita menghubungkan sifat seorang aktor atas dasar perilakunya? Teori Inferensi Koresponden berfokus lebih sempit pada aktor namun juga menghasilkan lebih banyak informasi tentang aktor karena menentukan apa itu aktor yang menyebabkan tingkah lakunya. Jones dan Davis memprediksi bahwa dua faktor membimbing Atribusi: (1) harapan terdahulu untuk perilaku, khususnya, harapan didasarkan pada pengetahuan tentang perilaku aktor sebelumnya (berbasis target) atau keanggotaan kategori sosial aktor (berbasis kategori), dan (2) profil efek yang diikuti dari pilihan perilaku yang tersedia bagi aktor. Jones dan McGillis mengusulkan bahwa Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 67 harapan menentukan tingkat kepercayaan yang dengannya ciri tertentu dikaitkan; Semakin rendah harapan perilaku, semakin yakin Atribusi. Profil efek membantu atasan mengenali sifat apa yang mungkin menghasilkan perilaku yang bersangkutan. Efek efek tidak biasa yang mengikuti hanya dari salah satu pilihan perilaku memberikan informasi tentang disposisi tertentu. Semakin sedikit efek yang tidak biasa, semakin jelas Atribusi. Dengan demikian, perilaku yang bertentangan dengan harapan sebelumnya dan profil pilihan perilaku dengan beberapa efek yang tidak biasa bergabung untuk memaksimalkan kemungkinan menghubungkan disposisi dengan aktor (kesimpulan Koresponden) (Howard, 1985). Teori Inferensi Koresponden menyatakan bahwa orang membuat kesimpulan tentang seseorang saat tindakan mereka dipilih secara bebas, tidak terduga, dan menghasilkan sejumlah kecil efek yang diinginkan. Menurut Teori ini, orang membuat kesimpulan Koresponden dengan meninjau konteks perilaku. Ini menggambarkan bagaimana orang mencoba untuk mengetahui karakteristik pribadi individu dari bukti perilaku. Orang membuat kesimpulan berdasarkan tiga faktor; tingkat pilihan, harapan perilaku, dan efek dari perilaku seseorang. Sebagai contoh, kami percaya bahwa kami dapat membuat asumsi yang lebih kuat tentang seorang pria yang memberikan setengah dari uangnya untuk amal, daripada yang bisa kami berikan kepada seseorang yang memberi hanya 10 ribu rupiah saja misalnya untuk amal. Rata-rata orang tidak mau menyumbang sebanyak orang pertama karena mereka akan kehilangan banyak uang. Dengan menyumbangkan setengah dari uangnya, lebih mudah bagi seseorang untuk mencari tahu seperti apa kepribadian orang pertama itu. Faktor kedua, yang mempengaruhi Korespondensi tindakan dan karakteristik yang 68 Dinamika Komunikasi disimpulkan, adalah jumlah perbedaan antara pilihan yang dibuat dan alternatif sebelumnya. Jika tidak ada banyak perbedaan, asumsi yang dibuat akan sesuai dengan tindakan karena mudah menebak aspek penting di antara masing-masing pilihan. Model Atribusi Kovariat Harold Kelley (1967, 1973) Harold Kelley adalah salah seorang ahli yang mengembangkan Teori Atribusi lebih lanjut yang dikenal dengan Model Kovarians Kelley. Model ini merupakan Teori Atribusi dimana orang membuat kesimpulan sebab akibat untuk menjelaskan mengapa orang lain dan diri kita berperilaku dengan cara tertentu. Hal ini berkaitan dengan persepsi sosial dan persepsi diri. Prinsip Kovariasi menyatakan bahwa sebuah efek dikaitkan dengan salah satu penyebabnya yang mungkin dan berlebihan. Dalam artian bahwa perilaku tertentu dikaitkan dengan potensi penyebab yang muncul pada saat bersamaan. Prinsip ini berguna bila individu memiliki kesempatan untuk mengamati perilaku tersebut selama beberapa kali. Penyebab hasil dapat dikaitkan dengan orang (internal), stimulus (eksternal), keadaan, atau beberapa kombinasi dari faktor-faktor ini. Atribusi dibuat berdasarkan tiga kriteria, yaitu: konsensus, keistimewaan, dan konsistensi. Model Kovariat menyatakan bahwa orang mengaitkan perilaku dengan faktor-faktor yang ada saat perilaku terjadi dan tidak ada saat tidak terjadi. Dengan demikian, Teori ini mengasumsikan bahwa orang membuat pengaitan kausal dengan cara rasional dan logis, dan bahwa mereka menetapkan penyebab tindakan terhadap faktor yang paling sesuai dengan tindakan tersebut. Model pengaitan Kovarians Kelley melihat tiga jenis informasi utama untuk dijadikan keputusan Atribusi tentang perilaku individu. Yang pertama Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 69 adalah Informasi Konsensus, atau informasi tentang bagaimana orang lain dalam situasi yang sama dan dengan stimulus yang sama berperilaku. Yang kedua adalah Informasi yang Khas, atau bagaimana individu merespons rangsangan yang berbeda. Yang ketiga adalah Informasi Konsistensi, atau seberapa sering perilaku individu dapat diamati dengan stimulus serupa namun beragam situasi. Dari ketiga sumber pengamat informasi ini membuat keputusan Atribusi atas perilaku individu baik internal maupun eksternal. Ada klaim bahwa orang kurang memanfaatkan Informasi Konsensus, walaupun ada beberapa perselisihan mengenai hal ini. Ada beberapa tingkatan dalam Model Kovariat: tinggi dan rendah. Masing-masing tingkat ini mempengaruhi tiga kriteria Model Kovariansi. Konsensus yang tinggi adalah ketika banyak orang dapat menyetujui sebuah acara atau area yang diminati. Konsensus rendah adalah ketika sangat sedikit orang yang bisa menyetujuinya. Keunikan yang tinggi adalah saat acara atau area yang diminati sangat tidak biasa, sedangkan keunikan yang rendah adalah saat acara atau area yang diminati cukup umum. Konsistensi yang tinggi adalah saat acara atau area yang diminati berlanjut untuk jangka waktu lama dan konsistensi yang rendah adalah saat acara atau area yang diminati segera berlalu. Model yang diusulkan oleh Kelley ini berkaitan dengan persepsi sosial dan persepsi diri. Prinsip Kovariat menyatakan efeknya disebabkan oleh salah satu kemungkinan penyebabnya, pada saat itu, situasinya. (Kelley, 1973). Dengan kata sederhana, Kovariat berarti bahwa seseorang memiliki informasi dari beberapa pengamatan dan dengan demikian mampu memahami Kovarianasinya dari sebab dan efek yang diobservasi. Menurut Kelley, ada tiga macam bukti. 70 • Dinamika Komunikasi Konsensus – menggambarkan bagaimana orang lain, dalam keadaan yang sama, akan berperilaku. • Keistimewaan – merujuk pada berbagai variasi dalam mengamati perilaku orang lain dalam situasi yang berbeda. • Konsistensi – merujuk pada apakah orang yang diamati akan berperilaku dengan cara yang sama, dalam situasi yang sama, setiap waktu. Model ini membahas mengenai pertanyaan apakah perilaku tertentu disebabkan oleh aktor atau oleh karena? Melalui stimulus lingkungan yang dengannya aktor tersebut terlibat. Menurut Model ini, Atribusi penyebabnya didasarkan pada tiga jenis informasi: Konsensus, Kekhasan, dan Konsistensi. Konsensus mengacu pada kesamaan antara perilaku aktor dan perilaku orang lain dalam situasi yang sama. Keistimewaan mengacu pada generalitas perilaku aktor: Apakah dia atau dia berperilaku seperti ini terhadap rangsangan pada umumnya, atau perilaku yang spesifik untuk stimulus ini? Konsistensi mengacu pada perilaku aktor terhadap stimulus ini sepanjang waktu dan modalitas. Ada banyak kombinasi yang mungkin dari ketiga jenis informasi ini, namun Kelley membuat prediksi eksplisit hanya tiga. Kombinasi Konsensus tinggi, Kekhasan yang tinggi, dan Konsistensi yang tinggi mendukung Atribusi terhadap stimulus lingkungan, sedangkan profil Konsensus rendah, Kekhasan rendah, dan Konsistensi yang tinggi mendukung Atribusi aktor tersebut. Bila perilaku tidak Konsisten, terlepas dari tingkat Konsensus atau Kekhasannya, atribusi terhadap keadaan diprediksi. Tes empiris Model Kelley berfokus pada efek jenis informasi tertentu atau lebih sesuai dengan rumusannya, tentang efek pola informasi tertentu (McArthur, 1972) Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 71 Dalam analisis yang inovatif, (Hewstone & Jaspars, 1987) mengajukan logika yang berbeda (walaupun konsisten dengan Model Kelley), menunjukkan bahwa Atribusi potensial mempertimbangkan apakah lokus kausal yang berbeda diperlukan dan kondisi yang memadai untuk terjadinya efek. Mereka menyimpulkan bahwa gagasan tentang kausalitas bersifat fleksibel dan dengan demikian menegaskan bahwa mungkin ada beberapa keuntungan untuk memahami gagasan kausalitas situsi spesifik. Karya yang lebih baru telah meneliti universalitas dan validitas eksternal Model Kelley. Anderson & Beattie (2001), misalnya, menganalisis percakapan aktual antara pria dan wanita yang berbicara tentang pemerkosaan. Mereka menemukan bahwa pria cenderung menggunakan penalaran yang digariskan dalam model Kelley dengan mengacu pada Konsensus, Kekhasan, dan Konsistensi, serta dengan menggunakan jenis informasi ini untuk merumuskan atribusi perilaku. Perempuan, di sisi lain, tidak memanfaatkan variabel-variabel ini dan memperkenalkan variabel “keasyikan” ke dalam analisis mereka. Model Tiga Dimensi Weiner mengusulkan sebuah teori yang menunjukkan bahwa Atribusi seseorang dalam usaha untuk menjelaskan keberhasilan atau kegagalan mereka menentukan usaha yang ingin mereka lakukan di masa depan. Penilaian afektif dan kognitif mempengaruhi perilaku di masa depan bila situasi serupa dialami. Tiga kategori Teori Atribusi Weiner adalah: • Locus of causality – internal dan eksternal • Stability – apakah penyebab berubah setiap waktu atau tidak 72 • Dinamika Komunikasi Controllability – penyebab seseorang dapat mengendalikan keterampilan dan penyebab seseorang tidak dapat mengendalikan tindakan orang lain dan lain-lain Dalam Model ini, Weiner mengajukan individu memiliki tanggapan afektif awal terhadap konsekuensi potensial dari motif intrinsik atau ekstrinsik aktor tersebut, yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku masa depan. Hal ini dapat diartikan bahwa, persepsi atau Atribusi seseorang tentang mengapa mereka berhasil atau gagal dalam suatu aktivitas menentukan jumlah usaha yang akan dilakukan orang tersebut dalam aktivitas di masa depan. Weiner berpendapat bahwa, individu melakukan pencarian Atribusi mereka dan mengevaluasi secara kognitif sifat kasual pada perilaku yang mereka alami. Bila Atribusi mengarah pada pengaruh positif dan harapan yang tinggi akan kesuksesan di masa depan, Atribusi semacam itu akan menghasilkan kemauan yang lebih besar untuk mendekati tugas pencapaian serupa di masa depan daripada Atribusi yang menghasilkan pengaruh negatif dan rendahnya harapan akan kesuksesan di masa depan. Afektivitas semacam itu dan penilaian kognitif mempengaruhi perilaku masa depan ketika individu menghadapi situasi yang serupa. Weiner dan koleganya telah menerapkan prinsip Atribusi dalam konteks situasi pencapaian. Menurut Model ini, kita membuat kesimpulan tentang kesuksesan seseorang berdasarkan kemampuan individu untuk melakukan tugas yang dimaksud, berapa banyak usaha yang dikeluarkan, seberapa sulitnya tugas tersebut, dan sejauh mana keberuntungan mungkin mempengaruhi hasilnya. Faktor penyebab lainnya mungkin telah ditambahkan ke daftar ini. Yang lebih penting adalah pengembangan Weiner, pertama, struktur dimensi Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 73 kausal yang menjadi faktor penyebabnya, dan kedua, implikasi dari dimensi dimensi faktor kausal tertentu (Weiner et al., 1979). Dimensi kausal utama adalah lokus (internal atau eksternal aktor), stabilitas atau ketidakstabilan, dan intensionalitas atau faktor yang tidak disengaja. Jadi, misalnya, kemampuan internal, stabil, dan tidak disengaja. Stabilitas faktor kausal terutama mempengaruhi penilaian tentang harapan untuk perilaku masa depan. Weiner mengembangkan sebuah kerangka kerja teoretis yang sangat berpengaruh dalam psikologi sosial hingga kini. Teori Atribusi yang dikembangkan oleh Weiner lebih menekankan pada pencapaian. Menurut Weiner, faktor-faktor penting yang mempengaruhi Atribusi adalah kemampuan, upaya atau usaha, kesulitan tugas, dan keberuntungan. Atribusi dikelompokkan ke dalam tiga dimensi kausalitas, yaitu: • Locus of causality – internal dan eksternal Dimensi Atribusi yang paling sering dipelajari sejauh ini adalah lokus kausalitas, yang mengacu pada apakah penyebab yang dirasakan dari suatu hasil bersifat internal atau eksternal. Dalam kasus Atribusi yang dibuat untuk hasil sendiri (yaitu, Atribusi diri), Atribusi internal terjadi saat penyebabnya dianggap mencerminkan beberapa karakteristik orang tersebut seperti usaha atau kemampuan. Misalnya, seorang karyawan yang melewatkan tenggat waktu dan percaya bahwa hasil ini disebabkan oleh kurangnya usaha atau kemampuannya membuat Atribusi internal. Atribusi eksternal untuk hasil yang sama mungkin berupa menyalahkan rekan kerja atau atasan untuk tenggat waktu yang tidak terjawab. Demikian pula, ketika mengamati hasil orang lain (yaitu, Atribusi sosial), Atribusi 74 Dinamika Komunikasi internal mengacu pada karakteristik disposisi atau perilaku (misalnya usaha atau kemampuan) orang yang diamati sedangkan Atribusi eksternal mengacu pada faktor situasional yang seringkali berada di luar kendali individu yang diamati. Weiner (1985) mengamati bahwa dimensi lokus sangat relevan dengan respons emosional yang dibentuk individu sebagai respons terhadap kejadian pemicu. Model Motivasi berprestasinya mengemukakan bahwa individu membentuk Atribusi sebagai respons terhadap kejadian pemicu, yang biasanya berbentuk hasil yang negatif, mengejutkan, atau tidak terduga (misalnya evaluasi yang tidak terduga dan buruk). Bila hasil negatif yang relevan secara pribadi dikaitkan dengan faktor internal (misalnya, usaha yang kurang), kerangka kerja Weiner menunjukkan bahwa emosi yang berfokus pada diri sendiri seperti rasa bersalah dan rasa malu mungkin terjadi. Sebaliknya, bila hasil ini dikaitkan dengan penyebab eksternal (misalnya karena supervisor), emosi seperti kemarahan dan frustrasi biasanya terjadi. Model Weiner juga mengakomodasi hasil positif dan menunjukkan bahwa Atribusi internal untuk kejadian ini mendorong perasaan bangga sedangkan Atribusi eksternal dikaitkan dengan rasa syukur dan emosi positif lain yang berfokus pada eksternal. Memahami hubungan antara Atribusi dan emosi itu penting karena merupakan respons afektif terhadap Atribusi yang dianggap membentuk reaksi perilaku terhadap peristiwa pemicu (Weiner, 1985). Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa lokus Atribusi untuk hasil kerja negatif dapat mempengaruhi pilihan antara respons perilaku pasif atau agresif (Street et al., 2001). Dimensi lokus ini juga relevan dengan hubungan dan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 75 interaksi pemimpin-anggota. Studi konseptual dan empiris menunjukkan bahwa ketika supervisor dan karyawan bertentangan dengan Atribusi mereka untuk hasil negatif, konflik interpersonal dan evaluasi kualitas hubungan yang berkurang terjadi (Ashkanasy, 1989; Green & Mitchell, 1979; Martinko et al., 2007). Efek ini sangat mungkin terjadi ketika konflik Atribusi mengarahkan kedua pihak untuk menyalahkan pihak lain untuk hasil negatif atau ketika masing-masing mengklaim kredit pribadi untuk hasil yang diinginkan. Dimensi lokus ini juga dapat mempengaruhi keputusan penghargaan dan hukuman. Seperti yang bisa diduga, ada bukti bahwa karyawan lebih cenderung diberi penghargaan atas tingkat kinerja yang tinggi ketika atasan mengaitkan kinerja dengan karakteristik internal, seperti kemampuan karyawan, daripada faktor eksternal (Johnson et al., 2002). Demikian pula, hukuman lebih mungkin terjadi bila hasil yang tidak diinginkan dikaitkan dengan karakteristik atau perilaku karyawan internal, seperti usaha yang tidak mencukupi (Wood & Mitchell, 1981). • Stability – apakah penyebab berubah setiap waktu atau tidak Dimensi kestabilan Atribusi mengacu pada variabilitas atau ketepatan faktor kausal yang dirasakan. Sebagai gambaran, kecerdasan seseorang biasanya dipandang sebagai faktor yang relatif stabil, sedangkan tingkat usaha lebih bervariasi (Weiner, 1985). Tidak seperti lokus kausalitas, dimensi stabilitas jarang dipelajari secara terpisah dari dimensi lain. Lebih umum lagi, para peneliti memeriksa dimensi lokus dan stabilitas secara bersamaan. Perancangan ini masuk akal karena stabilitas penyebab dapat menipiskan atau memperburuk 76 Dinamika Komunikasi respons emosional dan perilaku yang didorong oleh lokus Atribusi. Lebih khusus lagi, persepsi stabilitas kausal membantu membentuk ekspektasi seseorang terhadap hasil di masa depan dan harapan ini dapat melembutkan atau memperkuat respons emosional terhadap peristiwa pemicu (Weiner, 1985). Misalnya, jika seorang karyawan menilai evaluasi yang buruk terhadap kurangnya kemampuan (penyebab internal dan yang relatif stabil), individu cenderung mengalami rasa malu, karena kurangnya kemampuan cenderung menimbulkan masalah serupa di masa depan. Rasa malu ini, pada gilirannya, dapat mempromosikan perilaku penarikan diri (Ruthig et al., 2004). Jika evaluasi dikaitkan dengan usaha yang tidak mencukupi (penyebab internal dan tidak stabil), karyawan lebih cenderung mengalami kesalahan dan motivasi untuk memberikan lebih banyak usaha di masa depan. Kestabilan yang dirasakan suatu penyebab juga cenderung membantu membentuk kualitas hubungan pemimpin-anggota dan keputusan penghargaan/hukuman. Seperti di atas, dampak negatif Atribusi yang menyebabkan kesalahan pada hasil yang tidak diinginkan pada atasan atau bawahan. Seseorang seringkali lebih lemah jika Atribusi tidak stabil dan bukan stabil. Hal ini karena Atribusi yang tidak stabil mengurangi harapan bahwa hasil serupa akan terjadi di masa depan. Efek pelemahan ini telah terbukti mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan hukuman atas hasil di tempat kerja yang tidak diinginkan (Wood & Mitchell, 1981). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini • 77 Controllability – penyebab seseorang dapat mengendalikan keterampilan dan penyebab seseorang tidak dapat mengendalikan tindakan orang lain dan lain-lain Dari tiga dimensi Atribusi tersebut, Controlability telah menerima perhatian penelitian terkecil. Controllability mengacu pada sejauh mana peneliti merasakan penyebab suatu hasil berada di bawah kemauan seseorang (Weiner, 1985). Faktor-faktor seperti keberuntungan dan kesulitan tugas pada umumnya dirasakan tidak terkendali sedangkan usaha dan, pada tingkat yang jauh lebih rendah, kemampuan, dipandang sebagai faktor yang dapat dikendalikan. Seperti contoh-contoh ini, ada beberapa hal yang tumpang tindih antara dimensi pengendalian dan dimensi lokus dan stabilitas. Misalnya, usaha, yang biasanya dipandang sebagai internal dan tidak stabil, paling sering dipandang terkendali sedangkan kesulitan tugas, yang dilihat sebagai eksternal dan stabil, paling sering dipandang tidak terkendali. Dengan demikian, pengendalian telah dikaitkan dengan sejumlah hasil afektif dan kepemimpinan yang sama yang diprediksi dimensi lainnya, walaupun dalam jumlah penelitian yang lebih sedikit. Ket-umpangtindih-an ini mungkin menjelaskan mengapa Controlability kurang mendapat perhatian dibandingkan dua dimensi lainnya. Meskipun demikian, ada cukup banyak penelitian tentang pengendalian sebagai dimensi yang berdiri sendiri untuk menjamin dimasukkannya dalam analisis ini. Ketiga dimensi tersebut secara bersama-sama menciptakan delapan skenario yang digunakan orang untuk menjelaskan pencapaian dan kekecewaan mereka. Kedelapan skenario itu menurut McDermott (2009) adalah: 78 Dinamika Komunikasi • Internal – stabil – tidak dapat dikontrol, misalnya “saya tidak terlalu pintar”. • Internal – stabil – dapat dikontrol, misalnya “saya selalu menunggu hingga menit-menit akhir”. • Internal – tidak stabil – tidak dapat dikontrol, misalnya “saya merasa sakit”. • Internal – tidak stabil – dapat dikontrol, misalnya “saya lupa tentang pendaftaran itu”. • Eksternal – stabil – tidak dapat dikontrol, misalnya harapan dosen yang tidak realistis • Eksternal – stabil – dapat dikontrol, misalnya “guru membenci saya”. • Eksternal – tidak stabil – tidak dapat dikontrol, misalnya “saya tadi di mobil yang mengalami kecelakaan”. • Eksternal – tidak stabil – dapat dikontrol, misalnya “kucing itu makan makanan saya”. Aplikasi Teori Atribusi pada Public Relations Teori Atribusi adalah teori psikologis yang mencoba menjelaskan perilaku dan bisa sangat bermanfaat dalam pengelolaan organisasi. Teori Atribusi sangat penting bagi organisasi karena dapat membantu manajer memahami beberapa penyebab perilaku karyawan dan dapat membantu karyawan dalam memahami pemikiran mereka tentang perilaku mereka sendiri. Jika seeorang bisa mengerti mengapa dia berperilaku dengan cara tertentu, dan mengapa orang lain di sekitarnya melakukannya, maka orang tersebut memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, orang lain, dan organisasinya. Persepsi penyebab perilaku tertentu dapat mempengaruhi penilaian dan tindakan manajer dan karyawan. Hal Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 79 ini dapat juga memainkan peran penting dalam motivasi. Teori Atribusi mencoba menjelaskan beberapa penyebab perilaku seseorang. Menurut teori ini, seseorang ingin bisa memahami alasan tindakan yang diambilnya dan memahami alasan di balik tindakan yang dilakukan orang lain. Seseorang ingin menghubungkan penyebab perilaku ini, yang seharusnya memberinya beberapa pertimbangan kendali atas perilaku dan situasi yang dialaminya. Untuk memamahami teori atribusi, terdapat 3 tahap, yaitu: seseorang harus memperhatikan tingkah lakunya, entah itu perilaku dirinya sendiri atau perilaku orang lain, maka ia harus menentukan apakah perilaku yang diamati itu disengaja atau tidak, setelah itu ia akan mengaitkan perilaku yang diamati.Bila kita mengaitkan perilaku, ada tiga hal yang perlu kita pertimbangkan: 1. Penyebab eksternal atau penyebab internal? Penyebab internal: Penyebab internal adalah faktor-faktor yang dikaitkan dengan orang yang diamati. Penyebab internal biasanya terkendali. Misalnya, rekan kerja baru saja menerima promosi. Seseorang itu harus yakin alasan promosi dia, apakah karena kerja kerasnya, dedikasinya, dan keterampilannya. Hal ini telah menjadikankan penyebab internal promosi dirinya. Penyebab eksternal: Penyebab eksternal disebabkan faktor di luar orang yang diamati. Penyebab eksternal seringkali tidak terkendali, seperti keberuntungan. Misalnya, seseorang baru saja menerima promosi. Apakah promosi yang diterimanya karena pemilik perusahaan adalah ayahnya. Maka ia telah menghubungkan faktor eksternal sebagai penyebab promosinya. 2. Perilaku yang konsisten atau khas? Bila seseorang mengamati orang lain berperilaku sama saat menghadapi situasi yang 80 Dinamika Komunikasi sama, perilaku yang diamati konsisten. Konsistensi rendah jika orang berperilaku berbeda dalam keadaan yang sama, sementara itu tinggi jika orang tersebut melakukan hal yang sama dalam situasi yang sama. Bila seseorang ingin menentukan apakah ia berperilaku sama dalam situasi yang berbeda, kemudian ia menentukan apakah perilaku itu Khas. Jika seseorang berperilaku sama dalam situasi yang berbeda, maka Kekhasan rendah, sementara jika orang tersebut berperilaku berbeda dalam situasi yang berbeda, Kekhasan tinggi. 3. Konsensus, Konsensus tinggi jika orang lain bertindak dengan cara yang sama seperti orang yang diamati dalam situasi yang sama, sementara Konsensus rendah jika orang lain bertindak berbeda dari orang yang diamati dalam situasi yang sama. Teori atribusi juga sangat penting bagi manajemen karena penyebab perilaku yang dirasakan dapat mempengaruhi penilaian dan tindakan manajer dan karyawan. Misalnya, manajer harus sering mengamati kinerja karyawan dan membuat penilaian terkait. Jika seorang manajer mengaitkan kinerja buruk seorang karyawan dengan kurangnya usaha, maka hasilnya kemungkinan akan negatif bagi karyawan tersebut; dia mungkin menerima penilaian penilaian kinerja yang buruk atau bahkan diakhiri dari jabatan tersebut. Sebaliknya, jika seorang manajer merasa bahwa kinerja karyawan yang buruk adalah karena kurangnya keterampilan, manajer dapat menugaskan karyawan tersebut untuk melanjutkan pelatihan atau memberikan lebih banyak instruksi atau pembinaan. Membuat penilaian yang tidak akurat tentang penyebab kinerja buruk dapat menimbulkan dampak negatif bagi organisasi. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 81 Teori Atribusi juga dapat digunakan dalam kaitannya dengan motivasi kerja karyawan. Karyawan yang menganggap penyebab keberhasilan mereka berada di luar kendali mereka mungkin enggan untuk mencoba tugas baru dan mungkin kehilangan motivasi untuk berprestasi dengan baik di tempat kerja. Sebaliknya, karyawan yang mengaitkan kesuksesan mereka dengan dirinya sendiri cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi. Dengan demikian, pemahaman Atribusi yang dilakukan orang dapat berpengaruh kuat terhadap kinerja karyawan dan efektivitas manajerial. Teori Atribusi juga dapat digunakan oleh Public Relations Officer dalam organisasi atau perusahaan, misalnya terkait krisis pada perusahaan. Teori Atribusi merupakan teori pada bidang psikologi. Namun, kemudia teori ini diterapkan sebagai panduan penelitian komunikasi krisis (Coombs, 2007). “Karakteristik kunci dari Teori Atribusi yang dijelaskan Weiner adalah kebutuhan seseorang untuk mencari penyebab suatu event. Di sisi lain, kunci dari krisis adalah mereka tidak terduga dan negatif. Alasan inilah yang kemudian menghubungkan krisis dan Teori Atribusi” (Coombs, 2007) sehingga Teori Atribusi dapat digunakan dalam bidang komunikasi khususnya pada penelitian komunikasi krisis. Penelitian ini mengaplikasikan Teori Atribusi sebagai dasar untuk melihat pengaruh Atribui publik terhadap perilaku menghukum publik terhadap pihak yang bertanggung jawab atas krisis. Penelitian yang mengaplikasikan Teori Atribusi dalam komunikasi krisis juga dapat digunakan dengan menggunakan studi eksperimental, dengan melihat bagaimana sikap public yang bisa diperlakukan dengan beberapa treatmen sesuai dengan kasus yang terjadi dan persepsi masyarakat mengenai kasus tersebut. 82 Dinamika Komunikasi Studi juga dapat digunakan dengan menggunakan media massa yang dapat digunakan sebagai terpaan pada persepsi masyarakat. Dengan memberikan treatmen pada kelompok yang terterpa issue positif, belum terterpa issue posisitf dan negatif, dan terterpa issue negatif. Sehingga akan menimbulkan persepsi (Atribusi) terhadap aktor perusahaan yang terkena krisis. Penelitian dengan menggunakan Teori Atribusi juga bisa dilakukan pada perusahaan yang memiliki kasus hampir sama namun memiliki perbedaan penyebab internal dan eksternal. Studi ini juga dapat memberikan gambaran dan referensi mengenai tindakan yang dilakukan pada kasus-kasus krisis perusahaan dengan penyebab internal dan eksternal. Daftar Pustaka Anderson, I., & Beattie, G. (2001). Depicted rapes: How similar are vignette and newspaper accounts of rape? Semiotica, 137, 1–21. https://doi.org/10.1515/semi.2001.105 Ashkanasy, N. M. (1989). Causal Attribution and Supervisors’ Response to Subordinate Performance: The Green and Mitchell Model Revisited. Journal of Applied Social Psychology, 19(4). https://doi.org/10.1111/j.1559-1816.1989.tb00057.x Coombs, W. T. (2007). Protecting Organization Reputations During a Crisis: The Development and Application of Situational Crisis Communication Theory. Corporate Reputation Review, 10(3), 163–176. https://doi.org/10.1057/palgrave.crr.1550049 Crittenden, K. S. (1983). SOCIOLOGICAL ASPECTS OF ATTRIBUTION. In Ann. Rev. Sociol (Vol. 9). www.annualreviews.org Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (2017). Social Cognition From Brains To Culture. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 83 Green, S. G., & Mitchell, T. R. (1979). Attributional processes of leaders in leader-Member interactions. Organizational Behavior and Human Performance, 23(3). https://doi.org/10.1016/00305073(79)90008-4 Heider, F. (1958). The Psychology of Interpersonal Relations. Hewstpne, M., & Jaspars, J. (1987). Covariation and Causal Attribution: A Logical Model of the Intuitive Analysis of Variance. In Journal of Personality and Social Psychology (Vol. 53, Issue 4). Howard, A. J. (1985). howard_1985_Further Appraisal of Correspondent Inference Theory. Personality and Social Psychology Bulletin, 11(4), 467–477. https://doi.org/https://doi. org/101177/0146167285114012 Johnson, D. E., Erez, A., Scott Kiker, D., & Motowidlo, S. J. (2002). Liking and attributions of motives as mediators of the relationships between individuals’ reputations, helpful behaviors, and raters’ reward decisions. Journal of Applied Psychology, 87(4), 808–815. https://doi.org/10.1037/0021-9010.87.4.808 Kelley, H. H. (1973). The Processes of Causal Attribution. https:// doi.org/https://doi.org/10.1037/h0034225 Martinko, M. J., Moss, S. E., Douglas, S. C., & Borkowski, N. (2007). Anticipating the inevitable: When leader and member attribution styles clash. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 104(2). https://doi.org/10.1016/j.obhdp.2007.04.003 Mcarthur, L. A. (1972). The How and What of Why: Some Determinants and Consequences of Causal Attribution. In Journal ol Personality and Social Psychology (Vol. 22, Issue 2). McDermott, M. (2009). A Science of Intention. In The Philosophical Quarterly: Vol. . https://doi.org/https://doi.org/10.111/ j.1467-9213.2008.567.x 84 Dinamika Komunikasi Ruthig, J. C., Perry, R. P., Hall, N. C., & Hladkyj, S. (2004). Optimism and Attributional Retraining: Longitudinal Effects on Academic Achievement, Test Anxiety, and Voluntary Course Withdrawal in College Students’. In Journal of Applied Social Psychology (Vol. 34). Street, M. D., Douglas, S. C., Geiger, S. W., & Martinko, M. J. (2001). The impact of cognitive expenditure on the ethical decision-making process: The cognitive elaboration model. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 86(2). https://doi.org/10.1006/obhd.2001.2957 Trope, Y., & Gaunt, R. (2003). Attribution and person perception. SAGE Handbook of Social Psychology (pp. 176–194). SAGE Publications Inc. https://doi.org/10.4135/9781848608221.n8 Weiner, B. (1974). An Attributional Interpretation of Expectancy-Value Theory. In Cognitive Views of Human Motivation (pp. 51–69). Elsevier. https://doi.org/10.1016/b978-0-12741950-3.50008-2 Weiner, B. (1985). An Attributional Theory of Achievement Motivation and Emotion. In Psychological Review (Vol. 92, Issue 4). Weiner, B., Russell, D., & Lerman, D. (1979). The Cognitive Emotion Process in Achievement Relate Contexts. https://doi.org/ https://doi.org/10/1037/0022-351437.7.1211 Wood, R. E., & Mitchell, T. R. (1981). Manager behavior in a social context: The impact of impression management on attributions and disciplinary actions. Organizational Behavior and Human Performance, 28(3). https://doi.org/10.1016/00305073(81)90004-0 DIAN TRI HAPSARI Teori Komunikasi Massa dan Perkembangannya di Era Media Baru 4 K omunikasi massa ditengah munculnya media baru menjadi ajang pertarungan antara media massa arus utama dan media sosial. Dalam lanskap media internet, saluran komunikasi massa, seperti stasiun televisi, radio, dan surat kabar tidak lagi menjadi sumber informasi dominan untuk khalayak. Sebaliknya khalayak sering menggunakan media sosial sebagai saluiran media baru atau komunitas virtual untuk pertukaran informasi dan membangun hubungan (Hair, Clark & Shapiro 2010). John Vivian, 2014 dalam bukunya Media of Mass Communication Eleventh Edition menjelaskan kemampuan untuk menjangkau ribuan atau bahkan mencapai jutaan orang merupakan ciri dari komunikasi massa (mass communication) yang dilakukan melalui medium massa seperti televisi, radio dan mesin cetak seperti koran dan majalah. Komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada audien yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur dan membujuk. Komunikasi massa hanya dapat dilakukan dengan 85 86 Dinamika Komunikasi bantuan teknologi media massa baik itu mesin cetak, pemancar siaran, atau server internet. Media massa dapat dibagi menjadi kategori mainstream media (media tradisional) dan media baru. Walau perbedaan ini masih terus berkembang namun berguna untuk memahami perubahan-perubahan dalam kepemilikan media, isi pola audien dan teknologinya. Mainstream Media Fragmentasi media massa menjadi bentuk-bentuk baru telah mengaburkan perbedaan. Dahulu identifikasi produk suatu media adalah pekerjaan yang relatif mudah. Semua orang tahu seperti apa perusahaan siaran televisi berita. ABC, CBS dan NBC merupakan contoh utama media mainstream di Amerika Serikat sementara di Indonesia ada media mainstream komersial seperti RCTI, SCTV, Indosiar, MNC Kompas TV, Metro TV, TV One dan ada media mainstream milik publik seperti TVRI dan RRI. Tetapi sekarang media massa berisi banyak ragam sumber yang darinya banyak orang mendapatkan pengetahuan sehari-hari. Anak-anak muda lebih memilih acara Vincent Desta Show melalui tayangan Youtube atau Matanajwa di Youtube Channel apabila ingin mendengarkan topik-topik serius mengenai dinamika politik tanah air. Istilah mainstream media, terkadang disingkat MSM diciptakan untuk membantu memetakan lanskap media yang terus berubah ini. Walaupun istilah ini agak elastis ia biasanya dipakai untuk membedakan bentuk media tradisional dengan media baru (Vivian, 2015) Istilah MSM juga membedakan platform berbasis teknologi. Televisi, radio, koran dan majalah adalah mainstream tradisional Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 87 yang memiliki definisi yang jelas. Wi-Fi dan teknologi baru lainnya jelas bukan MSM terkadang dinamakan media baru. Dari segi kepemilikan, perusahaan media besar Kompas Gramedia Group, Tempo Group, Media Group, Jawa Pos Group dan sejeinisnya adalah media mainstream. Di sisi yang lain adalah perusahaan kecil yang baru dengan rencana bisnis baru. Kemudian ada berbagai macam perusahaan di Web, beberapa diantaranya menciptakan wadah atau produk baru seperti Blog, yang sangat personal dan kadang isinya juga bias dan aneh jelas bukan MSM. Perusahaan radio yang menggunakan teknologi sulit untuk disebut sebagai MSM karena berpotensi menjungkirbalikan indistri radio yang telah kita kenal selama tiga perempat abad ini. Media Baru Inovasi bukanlah hal baru bagi media massa. Sekarang inovasi di luar mainstream mencakup kategori yang luas terkadang tidak jelas, seperti media alternatif, media bawah tanah (underground) dan media teknologi tinggi (high-tech). Teknologi menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru. Perhatikan apa yang iPods lakukan pada toko musik dan pendengar radio. iPod player MP3 yang bisa dibawa kemana-mana buatan Apple ini membuat pendengar radio menyusut. Namun Steve Jobs pendiri Apple benar bahwa Podcast adalah masa depan media audio. Menurutnya Podcast merupakan generasi radio berikutnya. Meski radio itu penting ada celah dalam jangkauan medium ini. Para pendengar beralih dari radio tradisional berizin ke iPods, layanan radio satelit, Podcast dan telepon seluler. Di Amerika Serikat menurut Vivian (2015) ada 200 juta orang seminggu masih mendengar radio setidaknya sekali setiap minggu, namun audiennnya mulai bergeser. 88 Dinamika Komunikasi Cybercafe membuka jalan bagi Wi-Fi. Para blogger internet, terlepas dari baik dan buruknya telah memperluas partisipasi dalam jurnalisme publik. Media baru sering dicirikan sebagai teknologi digital yang sangat interaktif. Media baru “sangat mudah diproses, disimpan, diubah, diambil, hyper-linked dan mungkin yang paling radikal dari semuanya mudah dicari dan diakses” tulis Robert Logan dalam bukunya Understanding New Media (Romli, 2019) Secara konseptual, media baru dapat dipandang sebagai proses budaya yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan transformasi masyarakat. Pertimbangan ini dan lainnya membantu mendefinisikan media baru dan menjelaskan signifikansinya. New Media Institute mendefinisikan media baru sebagai istilah umum yang digunakan untuk mendefinisikan semua yang terkait dengan internet dan interaksi antara teknologi, gambar, dan suara. Ini berbeda dengan “media mainstream”, yang didefinisikan PCMag sebagai semua bentuk komunikasi yang datang sebelum teknologi digital, termasuk “radio dan TV serta materi cetak seperti buku dan majalah. Pernyataan itu juga terus berubah. Ketika teknologi baru dikembangkan dan diadopsi secara luas, apa yang dianggap baru terus berubah. Dahulu kala, DVD dan CD adalah cara terbaru untuk menonton film dan mendengarkan musik. Sekarang, layanan streaming seperti Netflix dan Spotify lebih populer. Beberapa contoh media baru meliputi: • Situs Web • Blog • Surel • Jaringan media sosial Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini • Layanan streaming musik dan televisi • Pendekatan Realitas virtual 89 Menurut Denis McQuail (dalam Romli 2019) media baru adalah wadah semua pesan komunikasi bisa terpusat dan mudah untuk disalurkan menggunakan teknologi internet dan melibatkan audiens untuk meningkatkan proses interaksi dan komunikasi. Sementara itu bagi Arshano Sahar (dalam Romli, 2019) new media merupakan kehadiran media yang semuanya serba digital dan dipengaruhi oleh internet akibat teknologi komunikasi dan informasi yang semakin berkembang. Karakteristik Media Baru Website pribadi Asep Syamsul M. Romli dalam artikel yang berjudul “Media Baru: Pengertian dan Jenis-Jenisnya“ di Romeltea. com menyebutkan setidaknya ada lima karatersitik media baru yaitu: 1. Digitalisasi Digitalisasi adalah ciri dari new media. Hampir semua dari media komunikasi dan informasi mengutamakan bentuk digital. Digitalisasi digunakan untuk mengartikan kondisi kehidupan dalam budaya digital yang dianalogikan dengan modernitas dan post modernitas. Dengan adanya new media anda dan masyarakat lainnya bisa mengakses informasi yang bisa didapatkan dengan seketika melalui penyimpanan informasi gelombang ketiga. 90 Dinamika Komunikasi 2. Konvergensi Konvergensi merupakan penggabungan komunikasi massa cetak, televisi radio, internet Bersama dengan teknologi portabel dan interaktif melalui berbgai platform media digital. Konvergensi media bertujuan meberikan pengalaman yang dinamis. Masyarakat yang kaya teknologi telah memasuki era digital dan industry media bergulat dengan peluang baru dan ancaman yang ditimbulkan oleh apa saja yang disebut konvergensi. Orang-orang media cenderung bersemangat tentang konvergensi karena konvergensi menjanjikan bagi bisnis media masa depan. Perpaduan berbagai media yang berbeda menggabungkan layanan baru yang dipersonalisasi sangat memudahkan siapapun mencari informasi. 3. Interaktivitas Interkativitas adalah proses komunikasi yang terjadi antara manusia dan platform-platform media. Dengan karakterisitik ini new media bisa menghubungkan pesan-pesan yang terhubung satu sama lain. 4. Virtuality Media baru juga menghadirikan virtuality. Adanya kehadiran dalam platform onlineyang memudahkan anda untuk berhadapan langsung pada objek yang anda hubungi secara virtual. 5. Hyper textuality Hyper textuality merupakan inti dokumen internet, dibuat oleh Bahasa markup hypertext sederhana (HTML). Tulisan di media baru juga lebih dapat ditransfer dari media ke media. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 91 Informasinya juga dapat disimpan secara elektronik daripada harus disimpan secara fisik atau (print out) Media baru adalah media apa pun. Misalnya dari artikel surat kabar menjadi blog hingga musik dan podcast yang dikirimkan secara digital. Dari situs web atau email ke ponsel dan aplikasi streaming, bentuk komunikasi terkait internet apa pun dapat dianggap sebagai media baru. Media baru tidak selalu merujuk pada mode komunikasi tertentu. Beberapa jenis media baru, seperti surat kabar online, juga merupakan “media lama” dalam bentuk surat kabar cetak tradisional. Media baru lainnya yang sama sekali baru, seperti podcast atau aplikasi smartphone. Menjadi lebih rumit untuk didefinisikan ketika teknologi terus maju, maka definisi media baru terus berubah (Cote, 2020). Mempelajari ilmu media baru dapat menjadi cara yang sangat baik untuk mengembangkan berbagai keterampilan untuk bekerja di media dan teknologi di banyak industri. Menurut Christine Bord seorang instruktur media di Departemen Komunikasi Southern New Hampshire University (dalam Cole, 2020) mempelajari media baru bernilai karena membantu mengasah keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam industri ini, seperti menulis, desain grafis, produksi dan pemasaran video. Ia menambahkan media baru merupakan bidang yang sangat kompetitif, dan banyak pengusaha mencari kandidat yang memiliki gelar di bidang media dan pemasaran. Meski demikian Bord menekankan media baru menjadikannya bidang yang menantang karena para profesional harus menyadari perubahan konstan dalam tren dan teknologi, ini juga menjadikannya bidang yang sangat menarik dan dinamis untuk dimasuki. 92 Dinamika Komunikasi Trend media baru ini berdampak pada tawaran jenis-jenis pekerjaan baru yang dibutuhkan di era digital. Southern New Hampshire University mengutip Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat tahun 2020 merangkum sejumlah profesionalisme yang dibutuhkan era media baru sebagai berikut: 1. Social Media Specialist Social Media Specialist akan mewakili perusahaan atau merek dagang di ruang publik melalui jaringan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Mereka membuat dan memposting konten dan berkomunikasi dengan pelanggan di platform media sosial. 2. Hubungan Masyarakat (Humas) Profesi Hubungan Masyarakat juga membantu menjaga dan meningkatkan reputasi dan citra publik perusahaan, tetapi umumnya melakukannya dengan bekerja sama antar anggota media secara langsung dan melalui siaran pers serta tindakan lainnya. Mereka juga dapat bertanggung jawab atas komunikasi perusahaan lainnya, termasuk pidato yang diberikan oleh para pemimpin perusahaan. Hubungan masyarakat biasanya membutuhkan gelar sarjana dalam bidang hubungan masyarakat atau bidang terkait, seperti jurnalisme, komunikasi, bahasa Inggris, atau bisnis. Mereka sangat bergantung pada keterampilan interpersonal, organisasi dan komunikasi mereka. 3. Desain Grafis Sebagai seorang desainer grafis, Anda akan ditugaskan untuk membuat gambar visual menggunakan perangkat lunak Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 93 komputer untuk memasarkan produk dan layanan serta untuk bercerita. Anda akan bekerja dengan gambar dan teks dan memutuskan bagaimana mereka bekerja sama untuk berkomunikasi secara efektif melalui situs web, brosur, media massa seperti televisi, majalah atau iklan hingga platform media sosial. 4. Editor Editor bertanggung jawab untuk meninjau, mengoreksi, dan meningkatkan konten di semua jenis format penerbitan, banyak di antaranya sekarang dikirimkan ke pembaca dan pemirsa secara digital. Sebagai editor, Anda mungkin juga bertanggung jawab untuk mengawasi penulis dan bekerja dengan mereka untuk meningkatkan tulisan mereka, serta mengembangkan konten dan strategi konten, dan memastikan semua konten sesuai dengan gaya publikasi dan pedoman editorial Anda. Editor biasanya perlu mendapatkan gelar sarjana, sering kali dalam bidang Komunikasi, Jurnalisme atau Bahasa , dan biasanya memulai karir mereka sebagai penulis atau asisten editorial. 5. Fotografer Fotografer adalah contoh yang baik dari sebuah profesi yang dapat beradaptasi dari “media lama” ke media baru seiring dengan perkembangan teknologi. Alih-alih film dan ruang berkembang, fotografer saat ini dipersenjatai dengan kamera digital yang jauh lebih canggih dan mahir bekerja dengan berbagai perangkat lunak komputer. Banyak fotografer lepas mengkhususkan diri pada jenis fotografi tertentu, seperti: Fotografi udara (Aerial photography) Fotografi komersial (Commercial Photography) 94 Dinamika Komunikasi Drone Fotografi Fotografi Seni Rupa (Fine art photography Fotografi Berita (News photography) Portrait photography Meskipun gelar sarjana tidak diwajibkan, banyak calon fotografer memilih untuk menghadiri program pelatihan pasca Sekolah Menengah Atas untuk mengembangkan keterampilan mereka. Namun banyak posisi jurnalis foto tingkat pemula memang membutuhkan gelar, dan bisnis serta pemasaran dapat membantu fotografer lepas. 6. Manajer Pemasaran (Marketing Manager) Manajer pemasaran adalah eksekutif yang merencanakan kampanye pemasaran dan periklanan berdasarkan riset dan analisis pasar serta mengembangkan strategi untuk mempromosikan produk dan layanan kepada pelanggan. Sebagai manajer pemasaran, Anda mungkin juga ditugaskan untuk mempekerjakan staf promosi dan pemasaran, bertemu dengan klien dan berkolaborasi dengan eksekutif lain di perusahaan termasuk hubungan masyarakat, penjualan, dan pengembangan produk untuk mengoordinasikan peran strategi pemasaran dalam tujuan perusahaan yang lebih besar. Manajer pemasaran membutuhkan gelar sarjana dan biasanya memiliki pengalaman sebelumnya bekerja dalam peran pemasaran, promosi, atau periklanan lainnya. Beberapa pengusaha menekankan perlunya keterampilan dan kreativitas analitis, pengambilan keputusan, organisasi dan komunikasi yang kuat pada profesi ini. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 95 7. Keterampilan Media Baru (New Media Skill) Dengan belajar dan bekerja di media baru, para profesional di bidangnya dapat mengembangkan keterampilan yang kuat dan dapat dipasarkan yang berharga di berbagai industri. Dari menulis, mengedit, dan mendesain hingga pemasaran dan hubungan masyarakat, keterampilan ini dapat membantu Anda memasarkan diri Anda ke banyak jenis perusahaan. Sebagai seorang profesional media baru, Anda dapat memberikan nilai bagi perusahaan atau organisasi karena Anda akan siap untuk menerapkan keterampilan teknis dan soft skill Anda untuk beradaptasi dengan lanskap yang selalu berubah di era digitalisasi ini. Komponen Komunikasi Massa Media baru adalah jembatan proses komunikasi massa masa depan. Proses komunikasi massa adalah seseorang membuat pesan, yang pada dasarnya adalah tindakan intrapersonal (dari dalam diri seseorang). Pesan itu kemudian dikodekan dalam kode umum, seperti bahasa. Kemudian dia ditransmisikan. Orang lain menerima pesan tersebut menguraikannya dan menginternalisasikannya. Internalisasi pesan juga merupakan kegiatan intrapersonal. Menyusun pesan lebih kompleks karena ia harus menggunakan suatu sarana misalnya percetakan, kamera, atau perekam. 96 Dinamika Komunikasi Komponen Komunikasi Massa Ada lima komponen komunikasi massa menurut John Vivian yaitu 1. Komunikator Massa (Mass Communicators) Orang-orang yang memproduksi pesan yang disampaikan lewat media massa. Orang-orang ini mencakup jurnalis, penulis naskah film, penulis lagu, penyiar televisi, penyiar radio,praktisi humas dan orang-orang periklanan seperti copywriter. Seiring perkembangan teknologi media, profesi baru dibidang ini juga bertambah seperti, Youtuber, Influencer, Bloger, Vlogger, hingga Buzzer. Komunikator massa berbeda dengan komunikator lainnya karena mereka tidak dapat melihat audiennnya secara langsung sehingga komunikator massa tidak dapat mendapatkan feedback langsung dari audiennya. Komunikasi dengan audien yang tidak dilihat langsung inilah yang membedakan komunikasi massa dari bentuk komunikasi lain. 2. Pesan Massa (Mass Messages) Item berita adalah pesan massa sama halnya seperti film, novel, lagu rekaman dan iklan billboard. Pesan (messages) adalah bentuk paling nyata dari hubungan kita dengan media massa. Kita memperhatikan media untuk mendapatkan pesannya. Kita tidak mendengarkan radio misalnya untuk memahami teknologi radio. Kita mendengarkan radio untuk mendengarkan music dan informasi berita yang disampaikan oleh penyiar dan reporter radio. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 97 3. Media Massa (Mass Media) Media massa adalah sarana yang membawa pesan. Media massa utama adalah buku, majalah, koran, televisi, radio, rekaman, film, dan website. Banyak ahli teori menganggap media sebagai wahana yang netral dalam memuat pesan. 4. Komunikasi Massa (Mass Communication) Proses di mana pesan sampai ke audien melalui media massa disebut komunikasi massa. Dengan demikian, komunikasi massa adalah kemenangan Zaman Industri dan kebangkitan permesinan. Beberapa ahli komunikasi di negara maju menyebutnya sebagai komunikasi industri. Istilah tersebut menandakan sumber daya teknologi yang signifikan yang penting untuk komunikasi massa untuk bekerja dalam skala besar. 5. Audien Massa Audien massa adalah orang yang menerima pesan massa dari komunikator massa, atau bisa disebut komunikan massa. Jumlah dan diversitas audien massa menambah kompleksitas komunikasi massa. Komunikator massa tahu bahwa pesannya telah diterima audien melalui cara-cara tidak langsung. Komunikator massa tidak tahu pasti berapa besar audiennya. Apalagi efek dari pesannya. Audien massa berubah-ubah. Apa yang menarik perhatian pada suatu saat mungkin tidak menarik lagi disaat yang lain. Dan Ketika mereka sedang memerhatikan perhatian itu pun bervariasi tingkat intensitasnya. 98 Dinamika Komunikasi Studi tentang Peran Media Massa Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa media massa adalah medium atau teknologi komunikasi massa. Maka media massa memiliki peran besar dalam perubahan sosial masyarakat suatu bangsa. Sebagian besar sarjana komunikasi dan media percaya bahwa abad 21 produksi berita, dan segala jenis jurnalisme, di media massa adalah bisnis besar, dan semakin besar sepanjang waktu. Pasokan informasi (baik sebagai jurnalisme atau sebagai bentuk data yang lebih mentah) menempati industri media massa memiliki kepentingan ekonomi utama dan pengaruh komunikasi massa digital. Untuk membuktikan hal tersebut maka penulis akan menjelaskan berbagai teori yang mengkaji peran media massa dan perubahan sosial masyarakat modern. Teori Spiral of Silence Berbicara mengenai peran media dalam opini publik tentu tidak lepas dari teori komunikasi massa spiral keheningan (Spiral of Silence). Ilmuwan politik asal Jerman, Elisabeth Noelle-Neumann, menunjukkan bagaimana komunikasi interpersonal dan media berjalan bersama dalam perkembangan opini publik (Littlejohn & Foss, 2010; 429). Menurut teori spiral keheningan, orang-orang yang percaya bahwa pendapat mereka mengenai berbagai isu publik mewakili pandangan mayoritas cenderung mengemukakan pendapatnya kepada orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang percaya bahwa pendapatnya mewakili suara minoritas cenderung menahan diri dalam mengungkapkan pendapatnya. Mereka yang memiliki pandangan minoritas biasanya cenderung berhati-hati dalam berbicara atau bahkan diam saja. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 99 Noelle Neumann mendefinisikan opini publik sebagai “Attitude or behaviors one must express in public if one is not to isolate oneself; in areas of controversy or change public opinion are those attitudes one can express without running the danger of isolating oneself”—Sikap atau perilaku yang harus dikemukakan seseorang di depan publik jika ia tidak ingin dirinya terisolasi; dalam wilayah kontroversi atau perubahan, opini publik adalah sikap yang dapat ditunjukkan seseorang tanpa bahaya isolasi terhadap dirinya (Morissan, 2013, 527). Dengan demikian, opini publik mengacu pada perasaan bersama suatu populasi atas suatu masalah tertentu. Sering kali media yang menentukan masalah apa yang penting atau menarik bagi masyarakat dan media juga sering kali menciptakan kontroversi terhadap suatu topik. Neumann menyatakan bahwa salah satu kekuatan teori spiral keheningan adalah opini publik akan menentukan apakah orang akan berbicara atau tidak (Taylor, 1982, 311). Di Amerika Serikat, tempat teori ini sering diuji dan di Jerman, tempat teori berasal, demokrasi adalah konsep penting dan pendapat umum dipertimbangkan. Argumen kuat dan musyawarah publik adalah ciri proses demokrasi. Orang tidak hanya akan menyatakan pendapat mereka, tetapi akan menggunakan bukti pendukung yang logis. Jika tidak setuju dengan pendapat pihak lain, mereka berkewajiban untuk menghormati kekuatan penalaran (logika) dalam argumen lawan bicaranya tersebut (Hopkins, 2015). Spiral keheningan merupakan gejala atau fenomena yang melibatkan saluran komunikasi personal dan komunikasi melalui media. Media berfungsi menyebarluaskan opini publik yang menghasilkan pendapat atau pandangan yang dominan. Tentang mengapa media memberikan pengaruhnya terhadap opini publik, 100 Dinamika Komunikasi Neumann menjelaskan bahwa media tidak memberikan interpretasi yang luas dan seimbang terhadap peristiwa sehingga masyarakat memiliki pandangan terbatas dan sempit mengenai realitas. Media massa memiliki tiga sifat atau karakteristik yang berperan membentuk opini publik. Pertama, sifat ubikuitas (ubiquity) yang mengacu pada fakta bahwa media merupakan sumber yang sangat luas karena terdapat di mana saja. Karena terdapat di mana saja, media menjadi instrumen yang sangat penting, diandalkan, dan selalu tersedia ketika orang membutuhkan informasi. Media berusaha mendapat dukungan dari publik dan memiliki pandangan yang ingin disampaikan. Jadi, selama itu pula pandangan atau pendapat ada di mana-mana. Kedua, kumulatif (cumulativeness) media yang mengacu pada proses pengulangan apa yang disampaikannya. Pengulangan terjadi di sepanjang program, baik pada satu media tertentu ataupun pada media lainnya, baik yang sejenis maupun tidak. Neumann (1993) menyebut hal ini sebagai pengaruh timbal balik dalam membangun kerangka acuan. Ketiga, sifat konsonan yang mengacu pada persamaan, kepercayaan, sikap, dan nilai-nilai yang dianut media massa. Neumann menyatakan bahwa konsonan dihasilkan berdasarkan kecenderungan media untuk menegaskan atau melakukan konfirmasi terhadap pemikiran dan pendapat media itu sendiri dan menjadikan pemikiran dan pendapat itu seolah berasal dari masyarakat (Morissan, 2013, 531). Ketiga karakteristik tersebut memberikan pengaruh besar terhadap opini publik. Media massa memberikan kontribusi terhadap munculnya spiral of silence karena memiliki kemampuan menentukan dan menyebarluaskan pandangan-pandangan yang dinilai dapat diterima umum. Dengan kata lain, mereka yang memiliki pandangan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 101 yang bertentangan dengan pandangan khalayak akan lebih sulit mendapat tempat di media massa. Teori ini juga mengungkapkan bahwa pandangan minoritas cenderung dijadikan kambing hitam oleh media massa. Teori Jarum Suntik dan Peluru Ajaib Sejak awal abad ke-20, perkembangan teknologi media massa, seperti radio dan film, dianggap sebagai kekuatan yang hampir tidak dapat terkalahkan untuk membentuk keyakinan, kognisi, dan perilaku penonton sesuai dengan keinginan komunikator (McQuail, 2010). Asumsi dasar teori pengaruh media yang kuat adalah bahwa khalayak bersifat pasif dan homogen. Dalam komunikasi massa, media massa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak. Berkaca pada teori komunikasi massa Hypodermic Needle Theory (teori jarum suntik) menjelaskan bagaimana media massa seperti televisi dapat memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat termasuk bagaimana anggota audiens cenderung bereaksi terhadap pesan media massa (Griffin,2006; McQuail, 2010; Nwabueze, 2014). Teori jarum suntik melihat media massa memiliki efek langsung dan kuat pada audiensnya. Teori ini adalah salah satu teori paling awal di bidang komunikasi massa. Ini pada dasarnya mengatakan bahwa pesan yang disampaikan oleh media diterima secara langsung oleh komunikan. (Nwabueze & Okonkwo, 2018) Model Magic Bullet “peluru ajaib” dan Hypodermic Needle Theory “jarum suntik” berasal dari buku Harold Lasswell (1927), bahwa Media merupakan peluru ajaib menembakkan pesan tersebut langsung ke kepala audiens tanpa sepengetahuan mereka sendiri. Pesan yang menimbulkan reaksi instan dari benak pe- 102 Dinamika Komunikasi nonton tanpa ragu-ragu disebut “Teori Peluru Ajaib”. Demikian pula, “Model Jarum Hipodermik” menggunakan gagasan yang sama tentang paradigma “menembak”. Ini menunjukkan bahwa media menyuntikkan pesannya langsung ke audiens pasif. Audiens pasif ini langsung terpengaruh oleh pesan-pesan ini. Publik pada dasarnya tidak bisa lepas dari pengaruh media, dan karena itu dianggap sebagai sitting duck”sasaran empuk”. (Croteu & Hoynes, 1997) Kedua model menunjukkan bahwa publik rentan terhadap pesan yang ditembakkan kepada mereka karena pada waktu itu alat komunikasi terbatas dan studi tentang efek media juga masih terbatas (Davis&Baron, 1981). Artinya, media menggali informasi sedemikian rupa sehingga masuk ke benak khalayak sebagai peluru. Magic Bullet (peluru ajaib) dan Hypodermic Needle Theory didasarkan pada pengamatan awal efek media massa. Pada pertengahan tahun 1930-an, para sarjana media menemukan teori pertama tentang Efek Media dan Perilaku Media. Selama perang dunia kedua, media memainkan peran penting di Amerika Serikat dan Jerman untuk memberikan pengaruh dalam pikiran rakyatnya. Hitler menggunakan industri film untuk Propaganda Nazi. Sementara itu Amerika Serikat juga pada 1940an menggunakan Hollywoodnya memproduksi film-film seperti “Its Happened one night”, “It’s a wonderful life” untuk menggambarkan Jerman sebagai kekuatan Jahat yang juga berdampak pada pikiran masyarakat Amerika. Disini audiens media menerima pesan secara langsung tanpa ada penolakan. Teori “Peluru Ajaib” secara grafis mengasumsikan bahwa pesan media adalah peluru yang ditembakkan dari “senjata media” ke “kepala” pemirsa. (Asa,1995) Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 103 Teori Propaganda Menurut karya Laswell klasik, Propaganda Technique in the World War (1927), propaganda sendiri mempunyai definisi suatu kegiatan yang semata - mata untuk mengendalikan opini melalui simbol yang signifikan atau membicarakan suatu hal entah akurat atau tidak akurat melalui cerita, rumor, laporan, gambar atau bentuk komunikasi sosial lainnya (Severin, 1997:110). Menurut Garth S. Jowett dan Victoria O’Donnell (1982) dalam bukunya yang berjudul Propaganda and Persuasion, definisi propaganda modern adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Menurut Jacques Ellul (1965) Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, tetapi sering kali menyesatkan di mana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk mengubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu. Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau 104 Dinamika Komunikasi kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda. Sebagai komunikasi satu ke banyak orang (one-to-many), propaganda memisahkan komunikator dari komunikannya. Namun menurut Ellul, komunikator dalam propaganda sebenarnya merupakan wakil dari organisasi yang berusaha melakukan pengontrolan terhadap masyarakat komunikannya. Sehingga dapat disimpulkan, komunikator dalam propaganda adalah seorang yang ahli dalam teknik penguasaan atau kontrol sosial. Dengan berbagai macam teknis, setiap penguasa negara atau yang bercita-cita menjadi penguasa negara harus mempergunakan propaganda sebagai suatu mekanisme alat kontrol sosial Dalam Everyman’s encyclopedia, propaganda merupakan suatu seni untuk menyebarkan dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya kepercayaan agama atau politik. Leonard W. Dobb, sebagai pakar opini publik, menyatakan bahwa propaganda merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh individu-individu yang berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok termasuk dengan cara menggunakan sugesti, sehingga berakibat menjadi kontrol terhadap kegiatan kelompok tersebut Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi pada zaman Hitler, mengatakan: “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.” Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 105 Komponen propaganda: 1. Pihak yang menyebarkan pesan, berupa komunikator, atau orang yang dilembagakan/lembaga yang menyampaikan pesan dengan isi dan tujuan tertentu. 2. Komunikan atau target penerima pesan yang diharapkan menerima pesan dan kemudian melakukan sesuatu sesuai pola yang ditentukan oleh komunikator. 3. Pesan tertentu yang telah dirumuskan sedemikian rupa agar mencapai tujuannya dengan efektif. 4. Sarana atau medium yang tepat dan sesuai atau serasi dengan situasi dari komunikan. 5. Kebijaksanaan atau politik propaganda yang menentukan isi dan tujuan yang hendak dicapai. 6. Dilakukan secara terus menerus. 7. Terdapat proses penyampaian gagasan, ide/kepercayaan, atau doktrin. 8. Mempunyai tujuan untuk mengubah opini, sikap, dan perilaku individu/kelompok, dengan teknik-teknik memengaruhi. 9. Kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda yang bersangkutan. 10. Menggunakan cara sistematis prosedural dan perencanaan. 11. Dirancang sebagai sebuah program dengan tujuan yang kongkrit untuk memengaruhi dan mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator Teori Difusi Inovasi Dengan situasi yang tidak menentu dan menyimpan potensi bahaya arus informasi, kajian topik media digital di Indonesia bukan 106 Dinamika Komunikasi tugas yang mudah dan memiliki sumbangan penting bagi kedewasaan berdemokrasi. Terlebih dengan perkembangan media digital masih terus mencari bentuk dan berkembang dengan sangat cepat di salah satu negara majemuk dan luas secara geografis, seperti Indonesia. Sejumlah peneliti atau ilmuwan tanah air pasca reformasi (Badri 2017; Turnomo 2019) melihat Indonesia sebagai negara kajian menarik bagi diskusi tren perkembangan industri media baru. Dalam teori komunikasi difusi inovasi yang dikembangkan oleh Rogers (2003) secara khusus membahas penyebaran perubahan informasi melalui sistem sosial, termasuk sejauh mana internet dimasukan dalam pengumpulan informasi oleh konsumen. Studi Rogers memberikan argumen yang solid dari dalam ruang redaksi yang melibatkan perubahan dalam penggunaan dan sikap wartawan terhadap teknologi komunikasi baru. Pendekatan ini secara eksplisit akan memungkinkan para peneliti untuk menarik relevansi dengan difusi inovasi lain, khususnya dalam sistem sosial yang didefinisikan secara sempit seperti para jurnalis profesional. Rogers (2003) mencatat bahwa mengadopsi atau tidak mengadopsi suatu bentuk inovasi bukan tindakan yang instan namun melibatkan proses. Setidaknya ada lima tahap proses dalam mengadopsi inovasi teknologi komunikasi baru, yaitu: (1) Pengetahuan tentang sesuatu, atau paparan terhadap inovasi; (2) Pesuasi; (3) Keputusan untuk mengadopsi atau menolak; (4) Pelaksanaan; dan terakhir (5) Penguatan konfirmasi (Garrison, 2001: 222) Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 107 Teori Ekologi Media Di Indonesia penggunaan internet paling tinggi digunakan untuk bermedia sosial. Hasil riset Digital 2021yang dirilis oleh we Are Social dan Hootsuite pada Januari 2021 sebanyak 99,8% dari pengguna internet Indonesia menggunakan media sosial dan layanan pesan instan. Maka tidak mengheran tingginya penggunaan media social ini bahkan sampai dirujuk oleh media mainstream. Trend media social di Indonesia teratas sejak tahun 2020 adalah platform media social yang mengutamakan medium visualisasi seperti Youtube dan Instagram. Dalam laporan survei tersebut YouTube masih menjadi media terpopuler di Indonesia dengan angka pengguna YouTube mencapai 94% dengan rentang usia berada di kisaran 16 hingga 64 tahun. Urutan ke dua Whatsapp ketiga Instagram yang menggeser posisi Facebook ke urutan empat (We Are Social, 2021) Kehadiran media sosial di tanah air telah menggeser peran media media arus utama dalam penyebaran informasi. Kehadiran media social membuat pers tidak lagi mendominasi penyebaran informasi melalui media massa arus utama. Wartawan bukan lagi satu-satunya komunikator yang dapat memproduksi produk jurnalistik untuk memenuhi kebutuhan informasi publik. Kehadiran media sosial juga memperluas bentuk konvergensi di Indonesia. Saat ini konvergensi tidak saja dimanfaatkan oleh pengusaha media dalam memperluas bisnis medianya tetapi juga digunakan oleh masyarakat untuk pemberdayaan penyebaran informasi. Menurut O’Reily & Battele 2009 Media sosial adalah kategori saluran umum dan aplikasi yang menyoroti kolaborasi untuk membuat dan mendistribusikan konten. Kolaborasi ini tidak hanya terdiri dari penciptaan konten bersama, tetapi juga mendiskusikan konten untuk 108 Dinamika Komunikasi meningkatkan pemahaman bersama tentang suatu isu tertentu. Dengan demikian, media sosial dibangun di atas karakteristik fundamental Web 2.0: mereka adalah situs untuk memanfaatkan kecerdasan kolektif. Perkembangan media digital kontemporer saat ini banyak membuat perubahan cara berkomunikasi, cara mencari berita informasi, bahkan kehidupan sosial dan politik yang lebih luas di Indonesia (Hapsari, 2020). Aktifitas warga di media sosial tersebut merupakan wujud nyata yang sudah diperkirakan oleh teoritikus media asal Canada Marshall McLuhan tahun 1960-an dalam bukunya yang berjudul “Understanding Media: Extension of a Man” bahwa perkembangan teknologi komunikasi membawa komunitas masyarakat tanpa adanya batasan dalam berinteraksi. Konsep Global Village yang diperkenalkan oleh McLuhan menjelaskan tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu ke tempat ke tempat lain dalam waktu yang singkat menggunakan internet. McLuhan meramalkan manusia akan sangat tergantung pada teknologi terutama dalam teknologi komunikasi dan informatika. Global Village terjadi sebagi akibat adanya penyebaran informasi yang sangat cepat dan massif di masyarakat bahkan teknologi komunikasi mampu menyatukan dunia. Internet yang melanggengkan kosep global village, karena internet adalah “multimedia”, ia menggabungkan fitur-fitur media pendahulunya ke dalam satu media (Ruotsalainen & Heinonen, 2015) Pengaruh teknologi media pada masyarakat melalui konsep Global Village oleh McLuhan menjadi gagasan utama dari teori Ekologi Media. Sementara itu Richard West (2008) menyimpulkan gagasan utama dari teori Ekologi Media McLuhan dapat ditinjau dari tiga asumsi dasar yaitu: Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 109 1. Media memengaruhi setiap perbuatan atau Tindakan dalam masyarakat. Media melingkupi seluruh kehidupan masyarakat modern. Masyarakat tidak dapat menghindari atau melarikan diri dari media. Terutama jika percaya pada interpretasi McLuhan yang luas mengenai apa yang menyusun sebuah media. 2. Media memperbaiki persepsi kita dan mengelola pengalaman kita. Kita secara langsung dalam menjalani kehidupan dipengaruhi oleh media. Media memperbaiki persepsi dan mengorganisasi kehidupan masyarakat. Misalnya menurut McLuhan masyarakat tanpa menyadari termanipulasi oleh televisi. Sikap dan pengalaman kita secara langsung dipengaruhi oleh apa yang kita tonton di televisi. 3. Media mengikat dunia bersama-sama. McLuhan dalam pernyataan populernya memperkenalkan konsep global village (desa global) bagaimana media mengikat dunia menjadi sebuah system politik, ekonomi, social dan budaya yang besar. Dampak dari desa global adalah kemampuan untuk menerima informasi secara langsung. Teori ini meyakini Tindakan dari satu masyarakat akan memengaruhi seluruh desa global. Marshall McLuhan (1964) dalam teori Ekologi Media memperkenalkan pernyataan yang sangat terkenal bahwa “The medium is the message” (Griffin, 2012). Kita berpikir bahwa medium dan pesan adalah sesuatu yang terpisahkan namun menurut McLuhan medium adalah pesan itu sendiri. Menurut McLuhan isi pesan di media adalah nomer dua namun isi pesan tidak dapat disampaikan dengan baik kepada khalayak jika medium yang membawa pesan itu tidak dikenal masyarakat. 110 Dinamika Komunikasi Teori Konvergensi Media Fenomena konvergensi menjadi salah satu trend yang terjadi di industri media secara global termasuk Indonesia. Teoritikus konvergensi media asal Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat Henry Jenkins mendefinisikan berbagai platform baru media digital ini lebih dari sekedar pergeseran teknologi. Melainkan konvergensi media merupakan revolusi yang mengubah hubungan teknologi yang sudah ada dengan industry, pasar, genre dah khalayak. Jenkins menganologikan berkat perkembangan saluran dan portabilitas teknologi komputasi dan telekomunikasi baru, masyarakat memasuki era semakin bergantung dengan media dan kita akan menggunakan semua jenis media untuk saling berhubungan. Ponsel yang kita gunakan bukan hanya perangkat telekomunikasi; mereka juga memungkinkan kita untuk bermain game, mendownload informasi dari internet dan menerima dan mengirim foto atau pesan teks. Semua fungsi ini bisa juga dilakukan melalui peralatan media lainnya. Konvergensi media memengaruhi cara kita mengonsumsi media. (Jenkins, 2004: 34) Konvergensi lebih dari sekadar peluang branding perusahaan. Hal ini merepresentasikan konfigurasi ulang kekuatan media dan pembentukan kembali estetika dan ekonomi media. Ahli teori cyberspace (dunia maya) Prancis, Pierre Levy (dalam Jenkins, 2004) menggunakan istilah collective intelligence ‘kecerdasan kolektif’ untuk menggambarkan kegiatan pengumpulan dan pemrosesan informasi berskala besar yang telah muncul di komunitas web. Di internet, menurut Levy, orang memanfaatkan keahlian individu mereka untuk mencapai tujuan dan sasaran bersama. Era intenet tidak ada orang yang tahu segalanya, semua orang tahu sesuatu tentang pengetahuan keberadaan manusia. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 111 Jenkins melihat kehadiran media baru membentuk dua tren kontradiktif: di satu sisi, teknologi media baru telah menurunkan biaya produksi dan distribusi, memperluas jangkauan saluran pengiriman yang tersedia, dan memungkinkan untuk mengarsipkan, dan mensirkulasi ulang konten media dalam media baru yang canggih. Di sisi lain, terdapat konsentrasi yang mengkhawatirkan dari kepemilikan media komersial arus utama, dengan segelintir konglomerat media multinasional mendominasi semua sektor industri hiburan. Jika pemain lama Hollywood berfokus pada bioskop, konglomerat media baru memiliki kepentingan pengendali di seluruh industri hiburan. Viacom Inc, misalnya, salah satu perusahaan media massa global terbesar ke empat di dunia pada tahun 2010 yang berpusat di Amerika Serikat melebarkan bisnisnya dengan memproduksi film, televisi, musik populer, permainan komputer, situs web, mainan, wahana taman hiburan, buku, koran, majalah hingga komik. Kapasitas dinamis internet memungkinkan masyarakat saling berhubungan dan mengirimkan informasi membuat perubahan pesat pada komunikasi secara global. Orang-orang menggunakan media digital untuk mengorganisir aksi-aksi demonstrasi, membantu pemilu berjalan secara bersih, dan menyediakan ruang yang lebih besar bagi kebebasan berekspresi dan berpendapat. Jenkins dalam artikelnya berjudul The Cultural Logic of Media Convergence menjelaskan konvergensi memunculkan dua proses Konvergensi yaitu proses yang digerakkan oleh media korporat yang bersifat top-down (atas ke bawah) dan budaya partisipatif yang digerakkan oleh konsumen dari bawah ke atas bottom-up. Media korporat belajar bagaimana konvergensi mempercepat 112 Dinamika Komunikasi aliran konten media di seluruh saluran pengiriman untuk memperluas peluang pendapatan, memperluas pasar dan memperkuat komitmen pemirsa. Di sisi lain konsumen belajar bagaimana menggunakan konvergensi berbagai teknologi media ini untuk membawa aliran media lebih sepenuhnya di bawah kendali mereka dan untuk berinteraksi dengan pengguna lain. Mereka memperjuangkan hak untuk berpartisipasi lebih penuh dalam budaya mereka, untuk mengontrol arus media dalam kehidupan mereka dan untuk berbicara kembali ke konten pasar massal. Terkadang, kedua kekuatan ini saling memperkuat, menciptakan hubungan yang lebih dekat dan lebih bermanfaat antara produser media dan konsumen. Kasus di Indonesia sangat cocok digunakan untuk menyelidiki bagaimana media digital memengaruhi relasi-relasi kekuasaan. Para pemilik media di Indonesia jadi bertambah kaya dan mempertahankan pangsa pasar yang lebih besar.dengan itu mereka pun menjadi kebih kuat secara politik. Alhasil media di Indonesia semakin menjadi partisan yang mendorong kepentingan pemiliknya secara mencolok. Meskipun demokrasi di tanah air berkembang pesat sejak reformasi 1998 bergulir dan lingkungan media pun relative bebas, konsentrasi dan sifat partisan menguat. Internet tidak lagi memungkinkan munculnya beragam berita dan sudut pandang tetapi media arus utama tetap menjadi ruang dominan tempat para elit menggunakan kuasanya di era konvergensi digital. Digitalisasi menyebabkan banyak media cetak yang tutup, media online tumbuh, akuisisi media terjadi di sana-sini, yang membuat Ross Tapsell merangkum ada delapan konglomerasi media di Indonesia yang disebutnya “konglomerat digital”. Mereka inilah yang menurut Tapsell mendominasi lanskap media Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 113 Indonesia mutakhir, yang semakin menjadi “alam oligopoli.” Delapan perusahaan ini adalah CT Corp milik Chairul Tanjung; Global Mediacom milik Hary Tanoesoedibjo; EMTEK milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja; Visi Media Asia milik Bakrie Group; Media Group milik Surya Paloh; Berita satu Media Holding milik Keluarga Riady; Jawa Pos milik Dahlan Iskan; dan Kompas Gramedia milik Jakoeb Oetama. Pada saat yang bersamaan, kekuatan media partisipatoris yang bergerak dari bawah (bottom-up) menjadi semakin lazim. Indonesia adalah tempat paling penting untuk melihat peran media digital dalam memberdayakan kekuatan bottom-up. Mengutip dari buku ilmuwan Australia Ross Tapsell yang berjudul Media Power in Indonesia: Oligarch, Citizens and the Digital Revolution bahwa platform media digital juga menjadi sarana kunci bagi agenda-agenda reformis di Indonesia. Mayoritas orang Indonesia tidak banyak mempercayai kepolisian atau system peradilan mengingat reputasi instansi-instansi tersebut yang korup dan dikontrol oleh elit penguasa. Ketika dirugikan oleh kebijakan tertentu pemerintah, warga Indonesia mengungkapkan kekecewaan terhadap keputsan pemerintah semakin sering melakukannya secara daring. Paltform media digital saat ini popular menjadi jalan pertama bagi orang Indonesia Ketika mereka dirugikan oleh kebijakan pemerintah dan platform media digital menjadi tempat langka dimana mereka bisa merasa memiliki kemapuan untuk melakukan perubahan. Teori Agenda Setting Media Salah satu teori media massa memiliki peran besar terhadap jurnalisme dan perubahan budaya masyarakat modern adalah teori Agenda Setting. Agenda setting adalah upaya media untuk 114 Dinamika Komunikasi membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa.ada strategi yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap suatu isu tertentu. Liputan media membantu untuk mendefinisikan hal-hal yang dipikirkan orang dan dicemaskan orang. Teori percaya bahwa media menciptakan kesadaran akan suatu isu melalui liputan-liputan, yang menunjukan arti penting dari isu tersebut. Media tidak menentukan agenda secara sepihak, tetapi mempertimbangkan audien dalam menetukan prioritas liputan. (Vivian, 2008) Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan. Di sinilah kita membayangkan fungsi media sebagai institusi sosial yang tidak melihat publik semata-mata sebagai konsumen. Teori Agenda Setting adalah teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang agenda setting adalah: Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 115 1. Masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu; 2. Konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain; Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep agenda setting adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal Teori agenda setting pertama kali dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and The Picture in Our Head” yang sebelumnya telah menjadi bahan pertimbangan oleh Bernard Cohen (1963) dalam konsep “The mass media may not be successful in telling us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about“. Penelitian empiris ini dilakukan Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw ketika mereka meneliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan, walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita. Itu terjadi ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita. Khalayak bukan saja belajar tentang isu-isu masyarakat dan hal-hal lain melalui media, mereka juga belajar sejauh mana pentingnya suatu isu atau topik dari penegasan yang diberikan oleh media massa. 116 Dinamika Komunikasi Walter Lipmann pernah mengutarakan pernyataan bahwa media berperan sebagai mediator antara “the world outside and the pictures in our heads”. McCombs dan Shaw juga sependapat dengan Lipmann. Menurut mereka, ada korelasi yang kuat dan signifikan antara apa-apa yang diagendakan oleh media massa dan apa-apa yang menjadi agenda publik. Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. McCombs dan Shaw percaya bahwa fungsi agenda-setting media massa bertanggung jawab terhadap hampir semua apaapa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat. Akan tetapi, kritik juga dapat dilontarkan kepada teori ini, bahwa korelasi belum tentu juga kausalitas. Mungkin saja pemberitaan media massa hanyalah sebagai cerminan terhadap apa-apa yang memang sudah dianggap penting oleh masyarakat. Meskipun demikian, kritikan ini dapat dipatahkan dengan asumsi bahwa pekerja media biasanya memang lebih dahulu mengetahui suatu isu dibandingkan dengan masyarakat umum. News doesn’t select itself. Berita tidak bisa memilih dirinya sendiri untuk menjadi berita. Artinya ada pihak-pihak tertentu yang menentukan mana yang menjadi berita dan mana yang Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 117 bukan berita. Siapakah mereka? Mereka ini yang disebut sebagai “gatekeepers.” Di dalamnya termasuk pemimpin redaksi, redaktur, editor, hingga jurnalis itu sendiri. Setelah tahun 1990an, banyak penelitian yang menggunakan teori agenda-setting makin menegaskan kekuatan media massa dalam mempengaruhi benak khalayaknya. Media massa mampu membuat beberapa isu menjadi lebih penting dari yang lainnya. Media mampu mempengaruhi tentang apa saja yang perlu kita pikirkan. Lebih dari itu, kini media massa juga dipercaya mampu mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Para ilmuwan menyebutnya sebagai framing. McCombs dan Shaw kembali menegaskan kembali tentang teori agenda setting, bahwa “the media may not only tell us what to think about, they also may tell us how and what to think about it, and perhaps even what to do about it” (McCombs, 1997). Menurut teori agenda setting, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk berubah sikap tetapi dengan fungsinya sebagai gate keeper (penjaga gawang atau penyaring) yang memilih suatu topik dan persoalan tertentu dan mengabaikan yang lain. Dengan menonjolkan suatu persoalan tertentu dan mengesampingkan yang lain, media membentuk citra atau gambaran dunia seperti yang disajikan dalam media massa. Hal ini berarti media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang dan mempengaruhi persepsi khalayak tentang yang dianggap penting. Bernard Coher, (1963) seorang ahli politik dengan singkat menyatakan asumsi dasarnya mengenai agenda setting, menurutnya: “Media massa lebih sekedar memberi informasi atau opini media massa mungkin saja kurang berhasil mendorong orang untuk me- 118 Dinamika Komunikasi mikirkan sesuatu, tetapi media massa sangat berhasil mendorong khalayak untuk menentukan apa yang perlu dipikirkan”. Hampir satu dasa warsa Mc Combs dan Shaw mengemukakan agenda setting khalayak terhadap persoalan tersebut, singkatnya apa yang dianggap penting media dianggap penting oleh masyarakat dan apa yang dilupakan oleh media massa juga akan luput dari perhatian masyarakat. Penelitian empiris tentang teori agenda setting dilakukan oleh Mc. Combs dan Shaw ketika mereka meneliti pemilihan presiden pada tahun 1972 mereka menulis antara lain : dampak media dalam kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif diantara individu-individu telah dijuluki sebagai fugsi agenda setting dan komunikasi massa. Disinilah terletak efek komunikasi, yang terpenting kemampuan media untuk strukrurisasi dunia untuk kita. Teori agenda setting dimulai dengan asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, tulisan yang akan disiarkan, setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar atau waktu televisi dan radio), dan cara penonjolan (ukuran judul pada surat kabar, frekuensi penyiaran pada televisi dan radio). Contoh kasus Prita Mulyasari. Ibu muda yang dipenjara karena mengeluhkan pelayanan sebuah institusi melalui email di sebuah mailist. Media massa mengeksposnya. Tak ayal, dukungan dan simpati mengalir deras bagi pembebasannya. Sampai-sampai diadakannya aksi solidaritas Koin Peduli Prita dalam rangka membantu Prita dalam memperoleh uang untuk bayar denda kepada Rumah Sakit Omni Internasional sebesar Rp204.000.000,-. Alhasil sumbangan seluruh masyarakat dari seluruh Indonesia sebesar Rp825.728.550, Jumlah ini empat kali lipat melebihi denda yang Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 119 harus dibayarkan Prita kepada Rumah Sakit Omni Internasional. Framing yang dilakukan media membuat suatu berita terus menerus ditayangkan di media sehingga muncul agenda publik. Seperti yang dikatakan Robert N. Ertman, framing adalah proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Masyarakat akan menjadikan topik utama yang diangkat oleh media sebagai bahan perbincangan sehari-hari. Pengaruh dari teori agenda setting terhadap masyarakat dan budaya sangat besar. Dunia fashion mengambil kesempatan ini untuk menarik style untuk kemudian menjadikannya trendsetter. Bahkan hingga menyentuh lapisan masyarakat menengah ke bawah. Banyak dijual kaos bergambar wajah Manohara di pasaran. Popularitas Manohara di tanah air langsung melesat bak meteor. Begitu juga yang terjadi pada kasus Prita. Dampak dari media massa yang terus mem-blow up kasusnya terbentuklah opini publik yang cenderung untuk memberinya dukungan. Agenda setting sendiri baru menunjukan keampuhannya jika agenda media menjadi agenda publik. Lebih hebatnya lagi jika agenda publik menjadi agenda kebijakan. Bernard C. Cohen (1963) mengatakan bahwa pers mungkin tidak berhasil banyak pada saat menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa. Kita bisa memakai media apa saja untuk membangun opini, tapi jika tidak sejalan dengan selera publik, maka isu yang dibangun dengan instensitas sekuat apa pun belum tentu efektif. Akibat dari opini yang dibangun publik mengenai dua kasus di atas, pemerintah turun tangan dalam memberikan kebijakan terhadap kasus-kasus ini. 120 Dinamika Komunikasi Daftar Pustaka Cohen, B (1963). The press and foreign policy. New York: Harcourt. Croteau, D, Hoynes W (1997). Media/society: industries, images, and audiences. Pine Forge Press Cote, J. (2020). What is New Media?. Southern New Hampshire University. Manchester. https://www.snhu.edu/about-us/ newsroom/2020/02/what-is-new-media Garrison, B. (2001). Diffusion of Online Information Technologies in Newspaper Newsrooms. Griffin, E. M. (2006). A first look at communication theory. McGraw-hill. Hair, Neil, Clark, and Shapiro, M (2010). Toward a Classification System of Relational Activity in Consumer Electronic Communities: The Moderators’ Tale. Journal of Relationship Marketing. Hapsari, D.T (2020). Inovasi Jurnalis Daring Dalam Kolaborasi Tim Cek Fakta Selama Pemberitaan Pilpres 2019, Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 9, no. 1, pp. 51-63, Hamid, M. A. C. W. F., & Morrisan, A. C. (2013). Teori Komunikasi Massa. Ghalia Indonesia. Jenkins. H. (2004). The Cultural Logic of Media Convergence. Sage Journal Lasswell, H. (1927). Propaganda Technique in the World War. Lippmann, W (1922). Public opinion. New York: Harcourt. Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2010). Theories of human communication. Waveland press. McCombs, M; Reynolds, A (2002). “News influence on our pictures of the world”. Media Effects: Advances in Theory and Research McCombs, M; Shaw, D (1972). “The agenda-setting function of mass media”. Public Opinion Quarterly. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 121 McLuhan, M. (1964). Understanding media: The extensions of man. New York: McGraw-Hill. McQuail, D. (2010). McQuail’s mass communication theory. Sage publications. Noelle-Neumann, E (1977). “Turbulances in the climate of opinion:Methodological applications of the spiral of silence theory”. Public Opinion Quarterly. 41 (2): 143–158. Nwabueze, C. (2014). Introduction to mass communication: Media ecology in the global village. Top Shelve Publishers. Rogers, E (2003). Diffusion of Innovations, 5th Edition. Simon and Schuster Severin, W.J. & Tankard, J.W. (1979). Communication Theories: Origins, Methods, Uses. Hastings House. Tapsell, R. (2018). Kuasa Media di Indonesia Kaum Oligarki, Warga dan Revolusi Digital. Tangerang: Marjin Kiri. Vivian, John. (2015). Teori Komunikasi Massa Edisi Kedelapan. Jakarta: Prenadamedia Group. DRINA INTYASWATI Theory of Reasoned Action 5 Latar Belakang Teori ini dikenalkan oleh Profesor Icek Ajzen dari University of Massachusetts bersama dengan Profesor Martin Fishbein dari University of Illinois. Mereka telah menulis banyak jurnal dan buku tentang Theory of Reasoned Action, salah satu bukunya yang banyak digunakan terutama di bidang psikologi sosial adalah Understanding Attitudes and Predicting Social Behavior dan Belief, Attitude, Intention and Behavior : An Introduction to The Theory and Research. Teori ini dikembangkan pada tahun 1967, pada tahun 1980 teori ini digunakan untuk penelitian perilaku manusia dengan mengembangkan kemungkinan adanya faktor-faktor lain terhadap suatu tindakan, dan pada tahun 1988 diperkenalkan Theory of Planned Behavior yang merupakan pengembangan dari model Theory of Reasoned Action. Perkembangan teori sebelum Theory of Reasoned Action muncul adalah adanya teori yang menyatakan bahwa sikap dapat menjelaskan tindakan manusia (Ajzen & Fishbein, 1980:13). Sikap merupakan proses mental individu yang menentukan potensi respon dan respon nyata dari seseorang. Didapatnya definisi tersebut jika 123 124 Dinamika Komunikasi sikap dilihat sebagai prediksi perilaku. Berdasar hasil penelitian Wicker (1969) diperoleh bahwa sikap tidak berhubungan atau kurang berhubungan dengan perilaku terbuka (Ajzen & Fishbein, 1980:25). Selanjutnya Ajzen dan Fishbein menyelidiki cara-cara untuk memprediksi perilaku. Theory of Reasoned Action berfokus pada niat seseorang untuk berperilaku tertentu, niat adalah rencana seseorang akan berperilaku pada situasi tertentu, tidak menjadi masalah apakah ia akan melakukannya atau tidak. Theory of Reasoned Action merupakan pengembangan dari Information Integration Theory yang mengasumsikan bahwa manusia sebagai individu mampu mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang obyek, situasi, atau ide-ide dan selanjutnya membentuk sikap berdasar konsep dari informasi yang telah diterima. Pokok-Pokok Teori Theory of Reasoned Action (TRA) menganggap bahwa individu biasanya cukup rasional dan menerima informasi secara sistematis, serta mempertimbangkanimplikasi dari tindakannya sebelum memutuskan untuk berperilaku tertentu. Teori ini lebih melihat pada tujuan perilaku daripada sikap sebagai prediksi dari perilaku. Untuk memahami tujuan perilaku yang dilihat sebagai penentu utama perilaku, Theory of Reasoned Action melihat pada sikap seseorang terhadap perilaku dan juga norma subyektif dari orang-orang dan kelompok yang dapat mempengaruhi sikap. Sebagai contoh, seseorang bertujuan untuk membaca artikel ini untuk mencari tahu lebih banyak tentang Theory of Reasoned Action dan mengaplikasikanya pada penelitiannya. Dalam usaha mencoba memprediksi dia akan benar-benar membaca artikel ini atau tidak Theory of Reasoned Action akan melihat sikapnya pada membaca Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 125 artikel (apakah positif atau negatif) dan norma yang dipercaya dari orang disekitarnya (teman kerja) apakah membaca artikel adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Berdasar Theory of Reasoned Action sikap dan norma adalah pengaruh utama pada niat yang selanjutnya sebagai penggerak perilaku. Sikap terhadap suatu perilaku dipengaruhi oleh kombinasi dari dua faktor, yaitu persepsi kita tentang konsekuensi perilaku dan evaluasi kita terhadap konsekuensi potensial. Berdasar contoh sebelumnya, sikap akan dibentuk pada pemikiran apakah membaca artikel berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan (luaran perilaku) dan apakah belajar sesuatu yang baru akan bermanfaat untuk seseorang dan organisasinya (evaluasi terhadap luaran). Sikap juga bisa didasari oleh faktor-faktor lainnya, pengalaman membaca artikel, perasaan yang dimiliki dari belajar melalui cara membaca atau mengikuti training, dan lainnya. Aspek penting dari sikap adalah positif, negatif, atau netral. Kelanjutan dari contoh sebelumnya, jika keyakinan bahwa membaca akan sangat membantu pada luaran yang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa terdapat sikap positif terhadap perilaku, sebaliknya jika keyakinan bahwa dengan membaca tidak akan mendapatkan luaran yang diharapkan maka sikap yang muncul adalah sikap negatif. Norma subyektif dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap orang disekitar kita; orang tua, teman, kolega, patner, dan lainnya. Berdasar Theory of Reasoned Action, kita memiliki perasaan apakah orang-orang tersebut dan kelompoknya akan setuju atau tidak terhadap perilaku yang dilakukan. Tetapi juga terdapat faktor bagaimana seseorang patuh terhadap pandangan orang-orang disekelilingnya,hal ini bisa bervariasi pada situasi yang berbeda. 126 Dinamika Komunikasi Jika seseorang menganggap luaran dari suatu bentuk perilaku adalah positif, maka ia akan memiliki sikap positif terhadap bentuk perilaku tersebut, jika sebaliknya ia akan memiliki sikap negatif. Jika orang lain yang relevan melihat suatu perilaku adalah positif, dan seseorang termotivasi untuk mengikutinya maka norma subyektif positif akan diperoleh. Jika orang lainnya yang relevan melihat suatu perilaku adalah negatif, dan seseorang termotivasi untuk mengikuti norma lainnya tersebut maka norma subyektif negatif akan diperoleh. Sikap dan norma subyektif diukur dengan skala yang menggunakan istilah-istilah seperti suka/tidak suka, bagus/ jelek, setuju/tidak setuju (skala likert). Tujuan melakukan suatu perilaku tergantung pada hasil dari pengukuran sikap dan norma subyektif. Hasil yang positif mengindikasikan tujuan perilaku. Theory of Reasoned Action bekerja dengan baik ketika diaplikasikan pada perilaku yang dibawah kehendak kontrol individu tersebut, meskipun seseorang sangat termotivasi oleh sikap dan norma subyektif, ia bisa saja tidak mengaktualisasikan perilakunya, hal ini tergantung pada intervensi kondisi lingkungan. Teori ini memiliki batasan pada orang yang yang memiliki atau merasa memiliki sedikit kekuatan pengawasan (kontrol) terhadap perilaku dan sikapnya. Selanjutnya konsep kontrol inilah yang dijadikan bagian dari pengembangan teori yang menghasilkan teori baru bernama Theory of Planned Behavior (TPB). Tujuan dari teori ini adalah untuk memprediksi dan memahami pengaruh motivasi pada perilaku yang tidak dibawah kehendak kontrol individu. Perbedaan utama antara TRA dan TPB adalah adanya tambahan elemen ketiga yaitu kontrol perilaku yang akan menentukan niat perilaku. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 127 Asumsi teori : 1. Manusia adalah makhluk yang rasional dan menggunakan informasi yang dimiliki secara sistematis 2. Seseorang mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya sebelum memutuskan untuk berperilaku tertentu. Konsep teori : Theory of Reasoned Action berdasar pada delapan konsep, yang dapat dijelaskan sebagai berikut; KONSEP DEFINISI Perilaku Perilaku tertentu yang didefinisikan oleh empat komponen : tindakan (merekomendasi rencana program CSR), target (penghijauan lingkungan), konteks (lingkungan wilayah tempat tinggal), waktu (satu bulan kegiatan lapangan). Niat perilaku Sikap Persepsi perilaku Evaluasi Bentuk dari perilaku yang diinginkan Penilaian positif atau negatif dari seseorang tentang suatu perilaku tertentu Persepsi bahwa bentuk perilaku berhubungan dengan atribut atau konsekuensi tertentu. (Jika saya merekomendasi rencana program penghijauan CSR dari perusahaan “A”, lingkungan saya akan menjadi lebih asri dengan banyak pepohonan dibanding saat sekarang yang kondisinya gersang) Nilai capaian dari atribut atau konsekuensi perilaku. (Jika program penghijauan CSR perusahaan “A” dilaksanakan dan lingkungan menjadi lebih asri, itu adalah hal yang bagus karena memungkinkan wilayah saya akan mendapat penghargaan kalpataru lingkungan). 128 Dinamika Komunikasi Norma subyektif Kepercayaan normatif Motivasi untuk memenuhi Persepsi tentang apa yang orang lain pikirkan terhadap suatu perilaku (merekomendasi rencana program penghijauan CSR sesuai dengan ajaran orang tua untuk peduli lingkungan) Kepercayaan apakah individu-individu dan kelompok menyetujui atau tidak terhadap suatu perilaku. (keluarga, tetangga, dan warga sekitar berpendapat program penghijauan CSR adalah program yang baik dan mendukung pelaksanaan program tersebut). Apakah tujuan dan perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh pendapat orang lain. (akan menjadi masukan bagi saya apa pendapat keluarga, tetangga, dan warga lingkungan tentang rekomendasi saya terhadap program lingkungan CSR). Theory of Reasoned Action (Ajzen dan Fishbein, 1980) Theory of Reasoned Action dimulai dengan melihat niat perilaku sebagai penyebab yang dekat dengan perilaku. Dipercaya bahwa niat seseorang yang lebih kuat dalam membentuk suatu perilaku, Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 129 akan mendapatkan bentuk perilaku yang lebih nyata dilakukan. Niat adalah fungsi dari kepercayaan atau informasi utama tentang kemungkinan bahwa pembentukan suatu perilaku akan membawa pada suatu hasil tertentu. Niat juga bisa berubah dengan seiring waktu, periode waktu yang lama antara niat dan tindakan dari perilaku akan lebih memungkinkan hal-hal yang tidak diduga membuat perubahan dalam niat. Teori ini berusaha memahami perilaku, yang dimulai dengan mencoba mengidentifikasi hal-hal yang berpengaruh terhadap niat perilaku. Dimana niat merupakan fungsi utama, dan dipengaruhi oleh sikap pada perilaku dan norma subyektif pada perilaku. Sikap ditempatkan sebagai penyebab pertama dari niat perilaku, sikap merupakan kepercayaan positif atau negatif seseorang terhadap pembentukan suatu perilaku tertentu. Sikap seseorang terhadap suatu perilaku ditentukan oleh persepsi pada konsekuensi dari perilaku tersebut, ditambah oleh evaluasinya terhadap konsekuensi tersebut. Norma subyektif diasumsikan sebagai fungsi dari kepercayaan bahwa seseorang menyetujui atau tidak menyetujui suatu perilaku. Seseorang akan berniat untuk melakukan suatu perilaku ketika ia percaya bahwa orang lain juga berpikir seperti yang dia pikirkan. Orang lain yang utama adalah pasangan, sahabat, dokter, dan lainnya. Penilaian dilakukan dengan menanyakan kepada responden, bagaimana tentang pendapat orang-orang dekatnya, apakah setuju atau tidak setuju terhadap perilaku tersebut. Kepercayaan didefinisikan secara subyektif oleh seseorang tentang bentuk perilaku tertentu akan menghasilkan suatu luaran. Model ini menunjukkan bahwa rangsangan eksternal mempengaruhi sikap melalui perubahan struktur kepercayaan seseorang. Niat perilaku juga ditentukan oleh norma subyektif dimana norma 130 Dinamika Komunikasi tersebut ditentukan oleh kepercayaan normatif masing-masing individu serta motivasi untuk memenuhi norma tersebut. Keterkaitan teori Theory of Reasoned Action memiliki keterkaitan dengan teori-teori sebagai berikut : 1. Theory of Planned Behavior Teori ini merupakan pengembangan dari Theory of Reasoned Action, kebutuhan akan model baru dihasilkan karena adanya batasan perilaku dimana seseorang memiliki atau merasa memiliki sedikit kontrol terhadap perilaku dan tindakannya. Ajzen menggambarkan bahwa aspek perilaku dan sikap seperti sebuah kontinum, dari yang memiliki sedikit kontrol hingga yang memiliki kontrol yang maksimal. Ajzen selanjutnya menambahkan konsep kontrol perilaku pada model Theory of Planned Behavior. Persepsi kontrol perilaku merujuk pada kesiapan keberadaan sumber daya, kecakapan, dan kesempatan, juga persepsi diri seseorang pada pentingnya pencapaian hasil atau luaran. Persepsi kontrol perilaku mengukur persepsi individu akan kemudahan atau kesulitan akan bentuk target perilaku. Jika seseorang memiliki persepsi kontrol perilaku yang kuat tentang keberadaan faktor-faktor yang akan memfasilitasi suatu perilaku, maka ia akan memiliki kontrol perilaku yang tinggi terhadap perilaku tersebut. Sebaliknya seseorang akan memiliki kontrol perilaku yang rendah jika ia memiliki persepsi kontrol perilaku yang kuat menghalangi perilaku. Kontrol perilaku dapat merefleksikan pengalaman masa lalu, antisipasi keadaan yang akan datang, dan sikap dari pengaruh norma di sekitar seseorang. Model teori ini dapat dilihat sebagai berikut : Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 131 Theory of Planned Behavior dari Ajzen (1991). Pada tahun 2005 Ajzen melengkapi Theory of Planned Behavior dengan menambahkan anteseden dari norma subyektif, sikap, dan kontrol perilaku, yaitu latar belakang. Latar belakang meliputi tiga faktor, yaitu personal, sosial, dan informasi. Faktor latar belakang merupakan sifat yang hadir pada diri seseorang, yang dikategorikan dalam aspek organism.. Faktor personal merupakan atribut yang terdapat pada diri seseorang yang meliputi nilai hidup (values), sifat kepribadian (personality traits), kecerdasan, dan emosi yang dimiliki. Faktor sosial meliputi pendidikan, jenis kelamin (gender), 132 Dinamika Komunikasi etnis, penghasilan, dan agama. Sedangkan faktor informasi meliputi pengalaman, pengetahuan, dan terpaan media. Theory of Planned Behavior dari Ajzen (2005) 2. Theory of Planned Action Teori ini ditemukan oleh Taylor dan Todd (1995), dimana penelitian dilakukan pada konteks teknologi baru. Mereka mengidentifikasi anteseden dari sikap, norma subyektif, dan persepsi kontrol. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor yang menentukan sikap adalah kegunaan yang dirasakan, kemudahan penggunaan, dan kesesuaian. Norma subyektif dilihat sebagai pengaruh dari kelompok dan atasan. Sedangkan persepsi kontrol perilaku ditentukan oleh faktor keputusan seseorang terhadap bagaimana sebaiknya seseorang memutuskan tindakan yang dikehendaki untuk mendapatkan situasi yang lebih baik (self-efficacy) dan kondisi positif, seperti keberadaan sumber daya dan teknologi. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 133 3. Technology Acceptance Model Model ini dikembangkan oleh Davis (1986) berdasar pada Theory of Reasoned Action. Tujuan dari model ini untuk memprediksi penerimaan suatu alat dan mengidentifikasi modifikasi yang harus dilakukan sistem agar lebih bisa diterima oleh pengguna. Model ini menyatakan bahwa sikap terhadap penerimaan suatu alat (sistem informasi) ditentukanoleh faktor penerimaan akan manfaat dan kemudahaan akan penggunaan. Contoh Kasus 1 Pengujian Pengaruh Strategi Public Relations melalui Facebook pada sikap mahasiswa. Penelitian ini dilakukan oleh Alan Abitbol pada tahun 2017 dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pesan organisasi yang disampaikan melalui Facebook dapat mempengaruhi sikap publik. Menurut Greene (1990) strategi adalah fenomena yang mengindikasikan serangkaian perilaku yang dilakukan dalam rangka mengidentifikasi sasaran atau tujuan, dalam Public Relations strategi dimanifestasikan dalam bentuk pesan yang ditujukan kepada khalayak tertentu. Studi ini menguji strategi yang dilakukan melalui media sosial dan digunakan tujuh strategi,untuk memahami keefektifan masing-masing strategi (Hazelton, 2006), yang meliputi: a. Strategi informasi : penjelasan fakta-fakta obyektif yang tidak menggambar kan kesimpulan, dikarakteristikan dengan penggunaan bahasa yang netral untuk membantu pemahaman b. Strategi fasilitasi : menunjukkan sumberdaya kepada publik untuk mempengaruhi tindakan publik yang dikendaki, sumberdaya dapat berupa barang atau petunjuk untuk melengkapi tugas tertentu. 134 Dinamika Komunikasi c. Strategi persuasif : membuat daya tarik pada nilai atau emosi publik, digunakan untuk tujuan memperoleh perhatian pada isu organisasi. d. Strategi penyelesaian masalah kooperatif : menunjukkan kemauan organisasi untuk tidak hanya mendefinisikan masalah tetapi juga mencari solusinya. e. Strategi janji dan penghargaan : digunakan ketika organisasi menjanjikan penghargaan kepada publik jika mereka melakukan sesuatu. f. Strategi ancaman dan hukuman : sumber pesan mengawasi hasil yang tidak disukai oleh penerima pesan, organisasi memberi sangsi jika publik tidak melakukan apa yang organisasi harapkan. g. Strategi tawar menawar : dikarakteristikkan dengan penggunaan simbol yang membedakan kelompok, seperti “kita” dan “mereka”. Dalam kasus ini digunakan Theory of Reasoned Action yang memberikan suatu model untuk mengukur sikap dan kepercayaan berdasar pesan yang diterima, teori ini mengasumsikan bahwa seseorang akan memperhitungkan keuntungan dan kerugian dalam melakukan suatu tindakan serta memikirkan tentang bagaimana orang lain melihat perilaku tersebut. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Masing-masing kelompok mendapat lembar pertanyaan yang dijawab berdasar ekspos pesan yang diterima, dimana pesan disampaikan melalui Facebook. Partisipan adalah mahasiswa dari Universitas yang bersangkutan. Skala likert dengan tujuh alternatif jawaban diberikan untuk mengukur sikap terhadap strategi dan mengukur kepercayaan yang didasari pada perasaan seseorang pada kebijakan dan struktur universitas. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 135 Berikut adalah empat pertanyaan penelitian dan hasil yang diperoleh : 1. Bagaimana strategi dari pesan yang dikehendaki mempengaruhi sikap partisipan ? 2. Strategi dari pesan yang dikehendaki yang disampaikan melalui Facebook tidak mempengaruhi sikap partisipan, tetapi terdapat pengaruh strategi pesan terhadap sikap partisipan. 3. Bagaimana strategi dari pesan yang tidak dikehendaki mempengaruhi sikap partisipan ? 4. Contoh pesan yang tidak dikehendaki (oleh partisipan): ‘Universitas percaya dengan menjadikan Richard Lewis sebagai pimpinan adalah pilihan terbaik untuk perbaikan universitas. Meskipun dia adalah pilihan yang tidak populer di kalangan mahasiswa, mempertahankan pimpinan yang sebelumnya akan memiliki kebijakan kenaikan biaya perkuliahan yang tidak berkorelasi dengan peningkatan kualitas akademik. Kita percaya mempertahankan pimpinan sebelumnya tidak akan membantu kepentingan mahasiswa. Dukung Richard Lewis’. 5. Strategi dari pesan yang tidak dikehendaki yang disampaikan melalui Facebook mempengaruhi sikap partisipan. 6. Dampak apa dari strategi pesan informatif terhadap sikap partisipan ? 7. Strategi pesan informatif yang disampaikan melalui Facebook tidak mempengaruhi sikap partisipan 8. Apakah strategi pesan yang disampaikan melalui Facebook mempengaruhi sikap partisipan ? 9. Strategi pesan yang disampaikan melalui Facebook tidak mempengaruhi sikap partisipan 136 Dinamika Komunikasi Analisis dari hasil penelitian melihat adanya kemungkinan bahwa partisipan tidak memiliki hubungan yang kuat dengan organisasi (universitas), sehingga tidak peduli dengan situasi yang dimunculkan terhadap sikap mereka. Bagi organisasi yang menghendaki publik berpikir negatif terhadap kompetitornya, menempatkan pesan negatif (tidak dikehendaki partisipan) melalui Facebook mungkin layak dipertimbangkan. Strategi pesan informatif melalui Facebook mungkin tidak tepat digunakan organisasi untuk mempengaruhi sikap khalayaknya, Facebook merupakan media yang digunakan mahasiswa sebagai sumber informasi biasa. Contoh Kasus 2 Penentu Komitmen Sosial di Kalangan Kaum Muda. Penerapan Theory Reasoned Action. Penelitian ini dilakukan Zarzuela pada tahun 2015 dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana komitmen sosial dilahirkan dan apakah yang menjadi penentu kesukarelawanan. Dalam studi ini komitmen sosial dan kerelawanan dillihat dalam konteks keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/ NGO). LSM adalah lembaga nirlaba yang tidak bergantung pada pemerintah dan bertujuan untuk kepentingan umum. Model yang mengacu pada Theory of Reasoned Action melihat kesadaran akan masalah sosial menentukan sikap terhadap masalah sosial, selanjutnya sikap terhadap masalah sosial bersama dengan sikap terhadap LSM mempengaruhi niat komitmen sosial, sementara lingkungan pemuda menentukan sikap dan kepercayaan terhadap niat komitmen sosial. Metode yang digunakan adalah metode survey, dengan responden sebanyak 488 siswa SMA. Analisis data menggunakan SEM-PLS, analisis ini memungkinkan penggunaan skala pengukuran data jenis kontinyu, ordinal, dan juga data ka- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 137 tegori, serta tidak mengharuskan data yang berdistribusi normal. Berikut adalah hipotesis penelitian dan hasilnya : a. H1 : individu yang lebih memiliki kesadaran sosial akan menunjukkan tingkat komitmen yang lebih. b. H2 : individu yang lebih memiliki kesadaran sosial akan menunjukkan sikap terhadap komitmen yang lebih positif c. H3 : individu yang lebih memiliki sikap positif terhadap kesadaran sosial akan menunjukkan tingkat sosial komitmen yang lebih d. H4 : sikap terhadap kegiatan LSM sebagai mediasi antara sikap terhadap masalah sosial dan komitmen sosial e. H5 : lingkungan yang lebih mendukung komitmen akan berdampak positif terhadap kesadaran individu terhadap masalah sosial f. H6 : lingkungan yang lebih mendukung komitmen akan berdampak positif terhadap sikap individu terhadap masalah sosial g. H7 : lingkungan yang lebih mendukung komitmen akan berdampak positif terhadap komitmen sosial individu h. H8 : lingkungan yang lebih mendukung komitmen akan berdampak positif terhadap kesadaran individu terhadap masalah sosial i. H9 : lingkungan yang lebih mendukung komitmen akan berdampak positif terhadap sikap individu terhadap LSM Hasil analisis menunjukkan bahwa dari semua hipotesis hanya H1 yang tidak terbukti, bahwa kesadaran masalah sosial pemuda tidak berpengaruh langsung terhadap komitmen. Hal ini sesuai dengan Theory of Reasoned Action yang menyatakan bahwa penga- 138 Dinamika Komunikasi ruh tidak kepada niat perilaku tetapi direfleksikan melalui variabel sikap. Hasil studi menunjukkan bahwa model dengan perhitungan yang valid menunjukkan bagaimana komitmen sosial terbentuk di kalangan pemuda. Tujuan pemuda bekerjasama dengan LSM ditunjukkan secara langsung oleh sikap terhadap organisasi dan masalah sosial. Daftar Pustaka Abitbol, Alan. (2017). Examining The Influence of Public Relations Strategies over Facebook on Student Attitude. The Public Relations Journal, 11(1). Ajzen, I. and Fishbein, M. (1980). Understanding the attitudes and predicting Social Behavior. Englewood Cliffs, New Jersey:Prentice-Hall Inc. Ajzen, I. (1985). From Intention to Actions : A Theory of Planned Behavior. In J. Kuhl & J. Beckmann (Eds.). Action Control : From Cognition to Behavior (11-39). Heidelberg: Springer. Ajzen, I. (1991). The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human Decision Proccesses,50,179-211. Ajzen, I. (1998). Attitudes, Personality and Behavior.Chicago, Illinois: The Dorsey Press. Ajzen, I. (2005). Attitudes, Personality and Behavior, (2nd edition), Berkshire, UK: Open University Press-McGraw Hill Education Bandura, A. (1982). Self-Efficacy Mechanism in Human Agency. American Psychologist, 37(2) :122-147. Beck, L. & Ajzen, I. (1991). Predicting dishonest actions using the theory of planned behavior. Journal of Research and Personality, 25, 285-301. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 139 Fishbein, M. (1996). Behavioral science and public health: A necessary partnership for HIV prevention. Public Health Reports, 111 (Supl 1), 5-10. Gage, R. L., and Thapa, B. (2012). Volunteer Motivations and Constrain Among College Student Analysis of the Volunteer Function Inventory and Leisure Constrains Model. Non Provit and Voluntary Sector Quarterly, 41(3), 405-430. Garcia, Mainar., Marcuello Servos, C. (2014). Analysis of Volunteering Among Spanish Children and Young People : Approximation to Their determinants and Parental Influence. VOLUNTAS, 25,1-31. Godin, G., Valois, P., Lepage, L & Desharnais, R. (1992). Predictors of smoking behavior: an application of Ajzen’s theory of planned behavior. British Journal of Addition, 87, 1335-1343. Greene, John.O., & Smith, Sandi. W. (1990). Memory Representations of Compliance-Gaining Strategies and Tactics. Human Communication Research, 17(2): 195-231. Hazelton, V. (2006). Toward a theory of public relations competence. In C. H. Botan & V.Hazleton (Eds.), Public Relations Theory II (pp. 199–222). New York: LawrenceErlbaum Associates, Inc. Heath, Robert. L. (2005). Encyclopedia of Public Relations. London:Sage Publications Inc. Hon, L.C., & Grunig, J.E. (1999). Guidelines for measuring relationships in public relations.Gainesville, FL: Institute for Public Relations. Kashima, Y., Gallois, C & McCamish, M. (1993). Theory of reasoned action and cooperative behavior: It takes two to use a condom. British Journal of Social Psychology, 32, 227-239. 140 Dinamika Komunikasi Kimiecik, J. (1992). Predicting vigorous physical activity of corporate employees: Comparing the theories of reasoned action and planned behavior. Journal of Sport and Exercise Psychology, 14, 192-206. Lee, Y.J., Won, D. (2014). Why did event volunteers return ? Theory of Planed Behavior. International Review on Public and Non Provit Marketing, 11(3), 229- 241. Lovejoy, K., Waters, R. D., & Saxton, G. D. (2012). Engaging stakeholders through Twitter:How nonprofit organizations are getting more out of 140 characters or less. PublicRelations Review, 38(2), 313–318. doi:10.1016/j.pubrev.2012.01.005. Madden, M. J., Ellen, P. S., Ajzen, I. (1992). A comparison of the theory of Planned Behavioral and the Theory of reasoned Action. Personality and Social Psychology Bulletin, 18 (1), 3-9. Parker, D., Manstead, A.S.R., Stradling, S.G., Reason, J.T. (1992). Intention to commit driving violations: An application of the theory of planned behavior. Journal of Applied Psychology, 77(1), 94-101. Ranganathan, S.K., and Henley, W.H. (2008). Determinants of Charotable Donation Intentions : A Structural Equation Model. International Journal of Nonprofit and Voluntary Sector Marketing, 13(1), 1-11. Ringle, C.M., Wende, S. (2014). Smartpls. Hamburg:SmartPLS. http://www. smartpls.com Saxton, G. D., & Waters, R. D. (2014). What do stakeholders like on Facebook? Examiningpublic reactions to nonprofit organizations’ information, promotional, and communitybuildingmessages. Journal of Public Relations Research, 26, 280–299. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 141 Schultz, F., Utz, S., & Göritz, A. (2011). Is the medium the message? Perceptions of andreactions to crisis communication via twitter, blogs and traditional media. PublicRelations Review, 37(1), 20–27. doi:10.1016/j.pubrev.2010.12.001. Sriramesh, Krishnamurti., Vercic, Dejan. (2009). The Global Public Relations Handbooks. New York:Routledge. Veludo-de-Oliveira, T., Pallister, J.G. (2013). Accounting for Sustained Volunteering by Young People. An Expanded TPB. VOLUNTAS,24, 1180-1198. Wicker, Allan. W. 1969. Attitudes versus Actions: The Relationship of Verbal and Overt Behavioral Responses to Attitude Objects. Journal of Social Issues, 25(4): 41-78. Zarzuela, P., Anton, C. (2015). Determinants of Social Commitment in The Young. Applying the Theory of Reasoned Action. Revista Espanola de Investigacion de Marketing ESIC. 19:83-94. FITRIA AYUNINGTYAS Teori Difusi Inovasi 6 Pendahuluan Manusia dengan akalnya telah dapat menunjukkan kelebihan anugerah Tuhan dengan kemampuannya menciptakan berbagai macam sarana yang dapat digunakan untuk menguasai, memanfaatkan dan mengembangkan lingkungannya untuk kemajuan dan kesejahteraan hidupnya. Pada mulanya ada tiga hal yang menjadi dasar kebangkitan kemajuan kehidupan umat manusia yaitu diciptakannya bahasa tulis kira-kira lima atau enam ribu tahun yang lalu, disusul dengan kemampuan mengoperasikan hitungan sederhana kira-kira seribu tahun kemudian dan diciptakannya mesin cetak sekitar lima ratus tahun yang lalu. Dengan bahasa tulis kita mampu merekam (mencatat) berbagai macam informasi secara permanen serta mampu mengirimkan pesan dengan menerobos keterbatasan ruang dan waktu. Dengan operasi hitung kita dapat mengolah data kuantitatif yang akurat. Dengan mesin cetak kita dapat menyalin dan memperbanyak bahan tulisan dengan cara cepat dan rapi serta menyebarluaskannya ke generasi berikutnya. Perkembangan zaman berikutnya kemajuan teknologi semakin cepat seperti mesin fotokopi, laptop, handphone, tab, dan lainnya. 143 144 Dinamika Komunikasi Teknologi ini berkembang ke berbagai bidang kehidupan. Hasil kemajuan teknologi memang dapat didayagunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, tetapi jika salah menggunakannya dapat juga merugikan dan mencelakakan manusia. Kemajuan dan perubahan kehidupan sosial yang serba cepat ini merupakan tantangan atau masalah dalam bidang pendidikan. Untuk menjawab tantangan atau memecahkan berbagai permasalahan tersebut perlu adanya sesuatu yang baru dalam bidang public relations yang dinamakan inovasi dalam public relations. Suatu inovasi benar-benar dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah di bidang public relations. Latar Belakang Teori ini dipopulerkan pertama kali oleh ahli Sosiologi yang bernama Everett Rogers pada tahun 1964. Everett Rogers adalah seorang sarjana Sosiologi Pedesaan di Iowa State University tetapi sangat tertarik pada bidang Komunikasi yang pada akhirnya dia lebih banyak dikenal sebagai pakar Komunikasi daripada pakar Sosiologi (Cangara, 2014). Berkat karya-karyanya yang begitu banyak didalam studi Ilmu Komunikasi, diantaranya keberhasilannya dalam menciptakan suatu model difusi inovasi melalui bukunya yang berjudul Diffusion of Innovation, yang banyak dijadikan rujukan untuk studi Komunikasi Pembangunan dan Komunikasi Pertanian. Tetapi tidak berarti model yang dibuat oleh Rogers ini tidak dapat diaplikasikan ke dalam bidang lainnya, bahkan banyak digunakan dalam bidang Komunikasi Pendidikan, Kesehatan, Industri, Kependudukan dan bahkan Program Keluarga Berencana. Model ini dapat digolongkan sebagai model perencanaan komunikasi karena memiliki tahapan dalam penyebarluasan sebuah Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 145 gagasan atau ide-ide baru (inovasi). Karena itu disebut sebagai model difusi inovasi. Model ini awalnya dibuat oleh Rogers pada tahun 1957 untuk Disertasinya tentang penyebarluasan bibit jagung Hybrida di kalangan petani di Iowa. Inovasi merupakan ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh manusia atau unit adopsi lainnya. Teori ini meyakini bahwa sebuah inovasi terdifusi ke seluruh masyarakat dalam pola yang bisa diprediksi. Beberapa kelompok orang akan mengadopsi sebuah inovasi segera setelah mereka mendengar inovasi tersebut. Sedangkan beberapa kelompok masyarakat lainnya membutuhkan waktu lama untuk kemudian mengadopsi inovasi tersebut. Ketika sebuah inovasi banyak diadopsi oleh sejumlah orang, hal itu dikatakan exploded atau meledak. Difusi inovasi sebenarnya didasarkan atas teori pada abad ke-19 dari seorang ilmuwan Perancis yang bernama Gabriel Tarde. Dalam bukunya yang berjudul “The Laws of Imitation” (1930), Tarde mengemukakan teori Kurva S dari adopsi inovasi, dan pentingnya Komunikasi Interpersonal. Tarde juga memperkenalkan gagasan baru mengenai opinion leadership, yakni ide yang menjadi penting di antara para peneliti efek media beberapa dekade kemudian. Tarde melihat bahwa beberapa orang dalam komunitas tertentu merupakan orang yang memiliki ketertarikan lebih terhadap ide baru, dan dan hal-hal teranyar, sehingga mereka lebih berpengetahuan dibanding yang lainnya. Orang-orang ini dinilai bisa memengaruhi komunitasnya untuk mengadopsi sebuah inovasi. Model ini digolongkan sebagai model perencanaan komunikasi karena memiliki tahapan dalam penyebarluasan sebuah gagasan atau ide baru (inovasi). Karenanya disebut sebagai model difusi 146 Dinamika Komunikasi inovasi. Rogers menjelaskan bahwa proses pengenalan suatu inovasi itu ditentukan oleh tiga hal yakni (Cangara, 2014): 1. Tahapan awal 2. Proses 3. Konsekuensi Pengertian Difusi Inovasi Pengertian Difusi Difusi didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu selama jangka waktu tertentu terhadap anggota suatu sistem sosial (Sumardjo et al., 2019). Menurut Roger (1996) definisi sesungguhnya dari difusi inovasi adalah communication is a process in which participants create and share information with one another in order to reach a mutual understanding (Sumardjo et al., 2019). Difusi dapat dikatakan juga sebagai suatu tipe komunikasi khusus dimana pesannya adalah ide baru. Disamping itu, difusi juga dapat diangap sebaai suatu jenis perubahan sosial yaitu suatu proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Jelas disini bahwa istilah difusi tidak terlepas dari kata inovasi. Karena tujuan utama proses difusi adalah diadopsinya suatu inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu. Anggota sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi dan atau sub sistem. Difusi menurut Roger (1985) adalah proses berkomunikasi melalui strategi yang terencana dengan tujuan untuk diadopsi. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah untuk terjadinya perubahan (Rogers, 2003). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 147 Difusi, menurut W.R. Spence (1982) adalah “the means whereby an innovation spreads” (Cara-cara penyebaran hasil inovasi). Sedangkan menurut Everett Rogers (1983), bahwa “The essence of the diffusion process is the information exchange by which one individual communicates a new idea to one or several others" (Esensi dari proses difusi adalah pertukaran informasi dari individu yang mengkomunikasikan sebuah ide baru kepada pihak-pihak lain) (Rogers, 2003). Pengertian Inovasi Kata “innovation” (Bahasa Inggris) sering diterjemahkan segala sesuatu yang baru atau pembaharuan. Kata innovation dalam bahasa Indonesia menjadi inovasi. Inovasi (innovation) adalah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Inovasi menurut para Ahli yaitu sebagai berikut ini : Rogers menyatakan bahwa inovasi adalah “an idea, practice, or object perceived as new by the individual.” (suatu gagasan, praktik, atau benda yang dianggap/dirasa baru oleh individu) (Mulyana, 2012). Dengan definisi ini maka kata “perceived” menjadi kata yang penting karena pada mungkin suatu ide, praktik atau benda akan dianggap sebagai inovasi bagi sebagian orang tetapi bagi sebagian lainnya tidak, tergantung apa yang dirasakan oleh individu terhadap ide, praktik atau benda tersebut. 148 Dinamika Komunikasi Thompson dan Eveland (1967) mendefinisikan inovasi sama dengan teknologi, yaitu suatu desain yang digunakan untuk tindakan instrumental dalam rangka mengurangi ketidak teraturan suatu hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa inovasi dapat dipandang sebagai suatu upaya untuk mencapai tujuan tertentu. Peter Drucker mendefinisikan inovasi sebagai “sebuah perubahan yang menciptakan sebuah performansi dimensi yang baru”. Dalam realitas yang terjadi saat ini, membawa perubahan tersebut adalah suatu tantangan yang besar. Inovasi tidak terjadi tanpa tantangan yang besar. Banyak orang lebih suka untuk melakukan hal-hal dengan cara yang biasa mereka lakukan dan perubahan tidak diperbolehkan. Banyak inovasi yang gagal. Namun bagaimana pun juga semua ide, pencapaian dan sistem inovatif sangat diperlukan jika kita ingin sukses secara personal dan profesional dalam menghadapi permasalahan (Littlejohn & Foss, 2009). Berkaitan dengan proses difusi inovasi, National Center of the Dissemination of Dissability Research (NCDDR, 1996) menyebutkan bahwa ada empat dimensi untuk pemanfaatan pengetahuan yang berkaitan dengan difusi inovasis sebagai berikut (Sumardjo et al., 2019): a) Dimensi sumber diseminasi yaitu institusi, organisasi atau individu yang bertanggung jawab dalam menciptakan pengetahuan dan produk baru. b) Dimensi isi yang didiseminasikan yaitu pengetahuan dan peroduk baru yang dimaksud yang juga termasuk bahan dan informasi pendukung lainnya. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 149 c) Dimensi media diseminasi, yaitu cara-cara bagaimana pengetahuan atau produk tersebut dikemas dan disalurkan. d) Dimensi pengguna, yaitu pengguna dari pengetahuan dan produk dimaksud. Karakteristik Inovasi Rogers mengemukakan karakteristik inovasi yang dapat memengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi, sebagai berikut: a) Keuntungan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungannya dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau faktor status sosial, kesenangan, kepuasan, atau komponen yang sangat penting. b) Kompatibel, ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai, pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. c) Kompleksitas, ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. d) Trialabilitas, ialah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima e) Dapat diamati, ialah mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi (Rogers, 2003). Elemen Difusi Inovasi Elemen difusi inovasi meliputi empat unsur. vaitu : 1. Inovasi Inovasi yaitu ide, praktik, gagasan atau benda yang dianggap baru oleh individu atau kelompok. Dalam hal ini, kebaruan dari inovasi diukur secara subjektif dari sudut pandang masing-masing individu yang menerimanya. 150 Dinamika Komunikasi 2. Komunikasi Komunikasi adalah suatu proses dimana partisipan menciptakan dan berbagi informasi satu sama lain untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Jadi komunikasi dalam proses difusi adalah, upaya mempertukarkan ide baru (inovasi) oleh seseorang atau unit tertentu yang telah mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan inovasi tersebut kepada seorang atau unit lain yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai inovasi itu melalui saluran komunikasi tertentu. 3. Waktu Waktu merupakan salah satu unsur penting dalam proses difusi. Waktu dalam proses difusi berpengaruh dalam hal: a) Proses keputusan inovasi, yaitu tahapan proses sejak seseorang menerima informasi pertama sampai ia menerima atau menolak inovasi. b) Keinovatifan individu atau unit. c) Rata-rata adopsi dalam suatu sistem, yaitu seberapa banyak jumlah anggota suatu sistem mengadopsi suatu inovasi dalam periode waktu tertentu. 4. Sistem Sosial Sistem sosial adalah serangkaian bagian vang saling berhubungan tergantung dalam suatu upaya pemecahan masalah bersama untuk mencapai suatu tujuan. Anggota dari suatu sistem sosial dapat berupa individu, kelompok, organisasi atau sub sistem. Proses difusi dalam kaitannya adengan sistem sosial ini dipengaruhi oleh struktur sosial, norma sosial, peran Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 151 pemimpin dan agen perubahan, tipe keputusan inovasi dan konsekuensi inovasi. Proses Adopsi Inovasi Rogers (1983) mengatakan bahwa karakteristik inovasi (kelebihan, keserasian, kerumitan, dapat di uji coba dan dapat diamati), hal ini sangat menentukan tingkat suatu adopsi daripada faktor lain yaitu berkisar antara 49% sampai dengan 87%. Seperti jenis keputusan, saluran komunikasi, sistem sosial dan usaha yang intensif dari agen perubahan, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut (Rogers, 2003): Gambar 1 Faktor yang Memengaruhi Tingkat Adopsi Sumber: (Sumardjo et al., 2019) 152 Dinamika Komunikasi Proses adopsi inovasi adalah suatu proses yang menyangkut proses pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Rogers dan Shoemaker (1971) memberikan definis tentang proses pengambilan keputusan untuk melakukan adopsi inovasi ini yaitu : the mental process of an innovation to a decision to adopt or to reject and to confirmation of this decision (keputusan menerima atau menolak sebuah inovasi dan konfirmasi tentang keputusan tersebut merupakan suatu proses mental). Proses adopsi inovasi memerlukan sikap mental dan konfirmasi dari setiap keputusan yang diambil oleh seseorang sebagai adopter. Menurut Soekartawi (2005) adopsi inovasi adalah merupakan sebuah proses perubahan sosial dengan adanya penemuan baru yang dikomunikasikan kepada para pihak lain, kemudia diadopsi oleh masyarakat atau sistem sosial. Inovasi adalah suatu ide yang dianggap baru oleh seseorang, dapat berupa teknolgi baru, cara organisasi baru, cara pemasaran hasil pertanian yang baru dan sebagainya. Proses adopsi merupakan proses yang terjadi sejak pertama kali seseorang mendengar hal yang baru sampai orang tersebut mengadopsi (menerima, menerapkan, menggunakan) hal yang baru tersebut. Penerimaan atau penolakan suatu inovasi adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang dalam menerima suatu inovasi (Soekartawi, 2005). Tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi mencakup: a. Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge) ketika seorang individu (atau unit pengambil keputusan lainnya) diarahkan untuk memahami eksistensi dan keuntungan/manfaat dan bagaimana suatu inovasi berfungsi. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 153 b. Tahap Persuasi (Persuasion) ketika seorang individu (atau unit pengambil keputusan lainnya) membentuk sikap baik atau tidak baik. c. Tahap Keputusan (Decisions) muncul ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada pemilihan adopsi atau penolakan sebuah inovasi. d. Tahapan Implementasi (Implementation), ketika sorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya menetapkan penggunaan suatu inovasi. e. Tahapan Konfirmasi (Confirmation), ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya mencari penguatan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat sebelumnya (Sumardjo et al., 2019). Pada awalnya Rogers (1983) menerangkan bahwa dalam upaya perubahan seseorang untuk mengadopsi suatu perilaku yang baru, terjadi berbagai tahapan pada seseorang tersebut, yaitu: 1. Tahap Awareness (Kesadaran), yaitu tahap seseorang tahu dan sadar ada terdapat suatu inovasi sehingga muncul adanya suatu kesadaran terhadap hal tersebut. 2. Tahap Interest (Keinginan), yaitu tahap seseorang mempertimbangkan atau sedang membentuk sikap terhadap inovasi yang telah diketahuinya tersebut sehingga ia mulai tertarik pada hal tersebut. 3. Tahap Evaluation (Evaluasi), yaitu tahap seseorang membuat putusan apakah ia menolak atau menerima inovasi yang ditawarkan sehingga saat itu ia mulai mengevaluasi. 4. Tahap Trial (Mencoba), yaitu tahap seseorang melaksanakan keputusan yang telah dibuatnya sehingga ia mulai mencoba suatu perilaku yang baru. 5. Tahap Adoption (Adopsi), 154 Dinamika Komunikasi yaitu tahap seseorang memastikan atau mengkonfirmasikan putusan yang diambilnya sehingga ia mulai mengadopsi perilaku baru tersebut (Rogers, 2003). Sumber: Diolah oleh penulis dari berbagai sumber Konsep Model Difusi Inovasi Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut sejalan dengan pengertian difusi dari Rogers (1961), yaitu “as the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system.” Lebih jauh dijelaskan bahwa difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers (1961) difusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate users or adopters” (Sumardjo et al., 2019). Berdasarkan penjelasan mengenai difusi inovasi tersebut, Rogers menjelaskan bahwa progres pengenalan suatu inovasi Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 155 (sesuatu yang baru berupa ide, gagasan, atau barang) ditentukan oleh tiga hal yaitu (Cangara, 2014): 1. Tahap awal (antecedent). 2. Proses (process). 3. Konsekuensi (consequences). Pada tahap awal (antecedent) khalayak dalam menerima suatu ide atau gagasan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kepribadian penerima untuk berubah dengan menerima sesuatu yang baru, wawasan sosial yang lebih luas daripada lingkungan sekitarnya dan kebutuhan untuk memiliki barang baru tersebut. Pada tahap proses (process), kebutuhan untuk memiliki barang (inovasi) tersebut didukung oleh pengetahuan (knowledge) yang berkaitan dengan nilai-nilai sistem sosial (social system) bahwa inovasi itu tidak bertentangan dengan sistem sosial dan budaya khalayak (penerima), sehingga mereka dapat toleran jika terjadi penyimpangan dari kebiasaan, serta terjalinnya komunikasi dengan barang baru tersebut. Tahap selanjutnya dalam proses penerimaan adalah persuasi (persuasion). Pada tahap ini ide, barang, gagasan atau inovasi dipertanyakan tentang kegunaannya. Sesudah tahap persuasi, selanjutnya adalah tahap pengambilan keputusan untuk memiliki atau menerapkan inovasi tersebut. Dalam tahap pengambilan keputusan ini, terjadi konsekuensi pada diri khalayak, yakni menerima atau menolak sebagai bentuk dari konfirmasi. Artinya jika dia menerima ide, gagasan atau inovasi tersebut, kemungkinannya terus menggunakan jika dia merasakan ada manfaatnya atau sebaliknya jika tidak melanjutkan tetapi mengganti dengan barang lain dengan fungsi yang sama 156 Dinamika Komunikasi atau sama sekali tidak melanjutkan karena tidak memenuhi harapannya. Sebaliknya jika dia menolak, dapat terjadi karena sejak awal penerima (khalayak) tidak melihat manfaatnya, dan nanti dia menerimanya setelah orang lain berhasil, ataukah dia menolak secara terus menerus ide, gagasan atau inovasi tersebut karena tidak sesuai dengan pikirannya atau bertentangan dengan sistem nilai yang mereka anut. Tahap implementasi, tahap dimana seseorang mulai menggunakan inovasi sambil mempelajari lebih lanjut tentang inovasi tersebut. Kemudian tahap konfirmasi, setelah sebuah keputusan dibuat, seseorang kemudian akan mencari pembenaran atas keputusan mereka. Apakah inovasi tersebut diadopsi ataupun tidak, seseorang akan mengevaluasi akibat dari keputusan yang mereka buat. Tidak menutup kemungkinan seseorang kemudian mengubah keputusan yang tadinya menolak jadi menerima inovasi setelah melakukan evaluasi (Cangara, 2014). Berikut merupakan model perencanaan dari komunikasi difusi inovasi yang dipopulerkan oleh Everett Rogers. Gambar 2 Model Perencanaan Komunikasi Difusi Inovasi Sumber: (Cangara, 2014) Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 157 Berkaitan dengan model ini, beberapa pakar menilai bahwa Rogers memberikan peran yang cukup besar kepada komunikator untuk memengaruhi khalayak. Rogers dan mengidentifikasi lima kategori pengguna inovasi. Karena itu, Florangel Braid (1988) mencoba menunjukkan posisi penting seorang agen perubahan berada pada titik sentral yang dapat menghubungkan dua kepentingan, yakni kepentingan institusinya sebagai sumber penyebaran informasi perubahan dan kepentingan khalayak (klien). Agen perubahan menjadi jembatan yang menengahi dua kepentingan, di satu sisi dia membawa informasi dari lembaga yang diwakilinya kepada khalayaknya dan di sisi lain dia berperan sebagai pembawa aspirasi (umpan balik) dari khalayak kepada institusinya. Kedudukan atau posisi dari agen perubahan pada dua kepentingan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 3 Peran Agen Perubahan dalam Hubungan antara Lembaga dan Khalayak (Klien) Sumber: (Rogers, 2003) 158 Dinamika Komunikasi Pembaharu (innovator) adalah mereka yang pertama kali tersentuh inovasi (ide-ide baru). Kelompok ini tidak banyak jumlahnya, diperkirakan hanya 2,5% dari jumlah keseluruhan target sasaran. Mereka umumnya adalah orang-orang yang gandrung untuk melakukan perubahan karena mobilitasnya yang tinggi keluar kota, dekat dengan para agen pembaharu, dan pada umumnya masih berusia muda sehingga tidak takut untuk mengambil resiko. Penerima awal (early adopter) adalah mereka yang tersentuh inovasi setelah kelompok inovator memperkenalkannya. Mereka adalah kelompok yang terintegrasi dengan sistem sosial yang ada. Biasanya mereka menjadi tempat bertanya dan dimintai pertimbangan dari orang-orang yang ada disekitarnya. Jumlahnya relatif tinggi yakni 13,5% dari jumlah target sasaran. Penerima mayoritas awal (early majority) adalah mereka yang tergolong sebagai penerima inovasi sebelum anggota kelompok lainnya menerima inovasi tersebut. Mereka tidak tergolong kelompok pimpinan, tetapi anggota biasa yang dekat dengan jaringan pimpinan yang menerima pembaharuan. Mereka menjadi penghubung antara penerima dini (early adopter) dengan penerima lambat (late adopter). Jumlah kelompok ini berkisar 34% dari jumlah keseluruhan target adopter. Penerima mayoritas lambat (late majority) adalah mereka yang menerima ide-ide baru (inovasi) setelah rata-rata anggota lainnya menerima lebih awal. Mereka menerima setelah melihat inovasi itu membawa keuntungan pada orang lain. Jumlah penerima mayoritas lambat kira-kira sama dengan jumlah penerima awal yaitu 34%. Adapun kelompok pengikut (laggard) adalah mereka yang tergolong penerima akhir dari sistem sosial yang ada. Mereka tidak mempunyai pendapat dan berada di luar jaringan sosial Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 159 namun masih dekat pada kelompok mayoritas lambat. Mereka menerima inovasi setelah hampir semua orang disekelilingnya merasakan manfaatnya. Jumlahnya sekitar 16%, cenderung konservatif, lambat dan tradisional, bahkan cenderung segan untuk mencoba hal-hal baru. Kelompok ini biasanya lebih suka bergaul dengan orangorang yang memiliki pemikiran sama dengan mereka. Sekalinya sekelompok laggard mengadopsi inovasi baru, kebanyakan orang justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman (Sumardjo et al., 2019). Gambar 4 Kelompok Adopter dalam Sistem Sosial Sumber: (Rogers, 2003) Hambatan Difusi dan Inovasi Disetiap hal yang ada disekeliling kita pasti memiliki hambatan, hambatan difusi dan inovasi antara lain: 1. Terkadang estimasi tidak tepat terhadap inovasi. Hambatan yang disebabkan kurang tepatnya perenacanaan atau estimasi dalam proses difusi inovasi yaitu: tidak tepat pertimbangan me- 160 Dinamika Komunikasi ngenai implementasi inovasi, kurang adanya hubungan antar anggota dalam pelakasana inovasi, kurang adanya kesamaan pendapat tentang tujuan, dan lain sebagainya. 2. Konflik dan motivasi. Hambatan ini disebabkan adanya masalah pribadi seperti pertentangan dalam tim pelaksana, kurang motivasi untuk bekerja. 3. Inovasi tidak berkembang. Kurang adanya pertukaran orang asing, tidak mengetahuinya adanya sumber alam, jarak yang terlalu jauh, iklim yang tidak menunjang, kurang sarana komunikasi, dan sebagainya 4. Masalah finansial. Tidak memadainya faktor finansial dari daerah, tidak memadainya bantuan finanasial dari luar daerah, kondisi ekonomi daerah secara keseluruhan, prioritas ekonomi secara nasional. 5. Penolakan dari kelompok tertentu. Adanya kelompok elit yang memiliki wewenag dalam masyarakat tradisioanal menentang inovasi. 6. Kurang adanya hubungan sosial yang cukup baik. Ada masalah dalam hubungan sosial antara anggota tim dan hubungan dengan orang yang diluar tim. Strategi Mengatasi Hambatan: 1. Memberikan pemahaman mengenai pentingnya suatu perubahan 2. Penyediaan waktu yang cukup banyak, sumber dava yang memadahi dan menciptakan sistem yang baik. 3. Mengusahakan dalam berinovasi tidak terjadi bentrokan dengan nilai-nilai, norma-norma yang ada dan kekuasaan yang ada. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 161 Contoh kasus: Suatu organisasi senantiasa dihadapkan kepada beberapa faktor perubahan lingkungan strategis yang bersifat makro yang secara tidak langsung mengharuskan suatu organisasi harus berinovasi dari waktu ke waktu. Seperti contohnya persaingan global yang sejalan dengan era globalisasi saat ini yang mengarah pada perdagangan bebas yang diatur oleh World Trade Organization, Asean Free Trade Area (AFTA) dan pasar bebas dunia melalui General Agreement on Tariff and Trade (GATT), menentang adanya proteksi yang dilakukan oleh suatu negara atau intervensi pasar oleh negara lain serta aturan era globalisasi lainnya, Daftar Pustaka Cangara, H. (2014). Perencanaan dan Strategi Komunikasi. Depok: Raja Grafindo Persada. Littlejohn, S., & Foss, K. (2009). Encyclopedia of Communication Theory. USA: SAGE. Mulyana, D. (2012). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (Fifth Edit). New York: Simon & Schuster Publisher. Soekartawi. (2005). Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sumardjo, Hubeis, A. V. S., Bintarti, A., Sedyaningsih, S., Rahman, A. S., & Rusli, Y. (2019). Komunikasi Inovasi-SKOM4316 (3rd ed.). Tangerang Selatan: Universitas Terbuka. LUSIA HANDAYANI Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan (Uses and Gratification Theory) 7 Latar Belakang Penggunaan media tidak dapat terelakkan dalam kahidupan manusia. Media menjadi salah satu kebutuhan tertentu bagi khalayaknya. Di rumah, di kantor, di sekolah bahkan saat kita melakukan perjalanan media menjadi pemuas kebutuhan kita. Jika kita kembali pada beberapa tahun kebelakang dimana internet sebagai media komunikasi belum berkembang, pemilihan media mungkin hanya terbatas bata media tradisional seperti, televisi, radio, majalah, surat kabar, dan buku. Berkembangnya era globalisasi teknologi, pemilihan media menjadi lebih beragam dan kompleks, dengan munculnya media-media komunikasi dan informasi baru seperti pada internet, membawa kita sebagai pengguna media untuk dapat memilih dan mengambil keputusan menggunakan media yang efektif dan tepat, guna memenuhi kebutuhan kita sebagai makhluk sosial yang membutuhkan komunikasi dan informasi. Dalam tradisi kajian media hal ini disebut dengan penggunaan dan kepuasan (uses and gratification). Teori ini merupakan teori media massa yang menunjukkan bahwa khalayak aktif dan selektif memilih dan menggunakan 163 164 Dinamika Komunikasi media sesuai dengan kebutuhannya. Menurut pendiri teori ini, Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch, uses and gratification meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain, barang kali termasuk juga yang tidak kita inginkan. Katz, Blumler, Gurevitch (1974 dalam Rakhmat 2015). Pendekatan ini merupakan reaksi dari Katz terhadap Bernard Berelson yang menyatakan bahwa penelitian komunikasi sudah mati, yang hidup adalah penelitian tentang usaha untuk menjawab pertanyaan: “what do people do with media?”, karena penggunaan media merupakan salah satu cara untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan. Maka efek media sekarang didefinisikan sebagai situasi ketika pemuasan kebutuhan terjadi (Rakhmat, 2015). Di awal dekade 1940-an dan 1950-an sebenarnya para pakar telah meneliti alasan mengapa khalayak terlibat dalam berbagai jenis perilaku komunikasi. Salah seorang ilmuwan yang terlibat adalah Karl Erik Rosengren dengan karyanya yang berjudul “Uses and Gratifications: A Paradigm Outlined” yang dimuat dalam “The Use of Mass Communication”. Dalam tulisan tersebut, Rosengren menyajikan model paradigma Uses and Gratifications sebagai berikut: Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 165 Gambar 1: Model Paradigma Uses and Gratifications Elihu Katz, 1959 Butir petama pada model di atas, melambangkan infrastruktur biologis dan psikologis yang membentuk landasan semua perilaku sosial manusia. Kebutuhan biologis dan psikologis inilah yang membuat seseorang bertindak dan mereaksi. Selanjutnya butir kedua dan ketiga menunjukkan interaksi antara faktor internal dan eksternal, yaitu antara seseorang dengan masyarakat sekitar. Sedangkan butir empat sampai Sembilan lebih menekankan pada proses intra-individual. Namun butir-butir tersebut semuanya saling berkaitan satu sama lainnya. Lahirnya teori ini juga merupakan kritik terhadap teori peluru (the bullet theory of communication) atau teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) dari Wilbur Schramm, walaupun pada akhirnya Schramm sendiri yang meminta pencabutan atas teori ini dengan dukungan Paul Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Dalam teori peluru ini dikatakan bahwa media sangat aktif dan powerful, sedangkan audiens pasif. Sehingga media akan mudah mengenai dan menembus sasaran (audiens). Ini jelas sangat bertolak 166 Dinamika Komunikasi belakang dengan teori uses and gratifications yang mengatakan bahwa audiens itu aktif untuk memilih media mana yang harus dipilih untuk memuaskan kebutuhannya, sehingga audiens bisa saja menolak informasi yang diberikan oleh media, jika dia merasa bahwa media tersebut tidak diperlukannya. Definisi Uses And Gratification Secara umum, pendekatan uses and gratification adalah sebuah pendekatan untuk memahami mengapa khalayak secara aktif mencari media yang khusus dan dapat memenuhi kebutuhan khalayak. Salah satu teori yang paling populer tentang komunikasi massa adalah melalui pendekatan uses and gratification. Konsumen atau khalayak merupakan fokus dari pendekatan ini ketimbang pada pesannya. Pendekatan ini tidak mengharapakan adanya hubungan langsung antara pesan dan pengaruh, tetapi sebaliknya merumuskan pesan-pesan yang akan digunakan oleh audiens, dan bahwa penggunaan tersebut bertindak sebagai variabel penghalang dalam proses pengaruh. (LittleJohn dan Foss, 2011). Inti dari teori ini adalah khalayak pada dasarnya menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu. Ini artinya bahwa jika motif terpenuhi maka kebutuhan khalayak juga terpenuhi. Sehingga pada akhirnya, media yang efektif dapat diartikan bahwa media tersebut berhasil memenuhi kebutuhan khalayaknya. Penggunaan (uses) isi media untuk mendapatkan pemenuhan (gratification) atas kebutuhan seseorang atau uses and gratification. Teori dan pendekatan ini tidak mencangkup atau mewakili keseluruhan proses komunikasi, karena sebagian besar perilaku audience hanya dijelaskan melalui berbagai kebutuhan (needs) dan kepentingan (interest) mereka sebagai suatu fenomena me- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 167 ngenai proses penerimaan (pesan media).pendekatan uses and gratification ditujukan untuk menggambarkan proses penerimaan dalam komunikasi massa dan menjelaskan penggunaan media oleh individu atau agregasi individu (Effendy, 2000). Kegunaan dan motif penggunaan media atau uses and gratification dimulai di lingkungan sosial, dimana yang dilihat adalah kebutuhan-kebutuhan khalayak. Lingkungan sosial meliputi ciri-ciri afiliasi kelompok dan ciri-ciri kepribadian. Kebutuhan individual dikategorisasikan, sebagai berikut: 1. Kebutuhan kognitif (cognitive needs), kebutuhan yangberkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan, juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan unntuk penyelidikan. 2. Kebutuhan afektif (affective needs), kebutuhan yang berkaitan dengan penguhan pengalaman-pengalaman yang estetis, menyenangkan dan emosional. 3. Kebutuhan pribadi (personal integrative needs), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual. Hal tersebut diperoleh dari hasrat akan harga diri. 4. Kebutuhan sosial secara integratif (social integrative needs), kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman dan dunia. Hal tersebut didasarkan pada hasrat berafiliasi. 5. Kebutuhan pelepasan (escapist needs), kebutuhan yang berkaitan dengan upaya menghindarkan tekanan, ketegangan, dan hasrat akan keanekaragaman. (Effendy, 2003). 168 Dinamika Komunikasi Beraneka ragamnya kebutuhan tersebut menimbulkan motif-motif tertentu dalam diri seseorang untuk menentukan tindakannya, khususnya dalam motif penggunaan media. Teori uses and gratification dalam perspektif ilmu komunikasi menurut Robert T. Craig dikelompokkan ke dalam sebuah paradigma yang disebutnya sebagai tradisi sosiopsikologis. Teori-teori dalam tradisi ini berkonsentrasi pada aspek-aspek komunikasi yang meliputi ekspresi, interaksi, dan pengaruh (communication as expression, interaction and influence). Hal-hal yang menjadi tantangan dan masalah pada tradisi ini adalah bahwa hasil harus dimanipulasi. Wacana dalam tradisi ini menekankan pada: (1) perilaku, (2) variabel pengaruh, (3) kepribadian dan tingkah laku, (4) persepsi, (5) kognisi, (6) tindak tanduk, (7) interaksi. (Halimatusa’diah, 2012) Asumsi Dasar Tidak seperti teori komunikasi massa lainnya yang menitikberatkan pada konsumsi media, pendekatan uses and gratification memberikan kekuasaan khalayak untuk memutuskan media mana yang akan dipilih atau dikonsumsi. Khalayak memiliki peran secara aktif dalam melakukan interpretasi dan mengintegrasikan media ke dalam kehidupannya. Pada uses and gratification, khalayak bertanggung jawab terhadap pemilihan media untuk memenuhi kebutuhannya. Blumler dan Katz (1974 dalam Rakhmat 2015) menyebutkan beberapa asumsi dasar dari teori uses and gratification, yaitu: 1. Khalayak dianggap aktif; artinya sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan; Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 169 2. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif, untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemiliihan media terletak pada anggota khalayak; 3. Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi hanya bagian dari rentangan kebutuhan manusia yanglebih luas; bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan 4. Banyak tujuan pemilihan media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak; artinya orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi – situasi tertentu. 5. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayaknya. Rakhmat (2015) menilai ada kelebihan dan kekurangan teori ini dibandingkan dengan teori peluru, di antaranya: Keuntungan: a. Memberikan deskripsi dinamis tentang khalayak b. Anggota khalayak tidak sepenuhnya pasif c. Menjelaskan penggunaan media Kerugian: a. Stimuli tidak diperhitungkan, hanya model penerimaan saja b. Terlalu melebih-lebihkan rasionalitas dan keaktifan anggota khalayak c. Menggunakan faktor-faktor mental (seperti motif mencari keterangan) 170 Dinamika Komunikasi Keterkaitan Teori Teori uses and gratification juga berkaitan dengan teori audience, audience sangat memiliki peran untuk memenuhi kebutuhannya, dan tidak tergantung dengan media. Audience yang aktif sangat jelas digambarkan pada teori uses and gratification. Penggunaan media yang tinggi memiliki tingkat kepuasan atau gratification yang juga tinggi. Audience memiliki dua versi pengertian audience. Beberapa ahli memaknai sama dengan massa secara beranekaragam dan dalam jumlah besar. Sebagian ahli lainnya ada yang melihat sebagai kelompok-kelompok kecil atau komunitas kecil. Pengertian yang pertama (keanekaragam kelompok massa) melihat audience sebagai populasi yang besar jumlahnya dan bisa dibentuk oleh media. Sedangkan yang terakhir (komunitas kecil kelompok), audience dipandang sebagai anggota dalam kelompok-kelompok kecil yang berbeda-beda, yang sebagian besar bisa dipengaruhi oleh kelompoknya. Dunia perpustakaan menganggap audience sebagai pengguna informasi dan sumber-sumber informasi. Pengguna di sini masih dibedakan antara pengguna aktual dan pengguna potensial. Yang pertama adalah mereka yang sudah memanfaatkan jasa layanan perpustakaan apapun bentuk layanannya, sedangkan yang kedua adalah mereka yang belum sempat datang atau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan dengan berbagai alasan. Kelompok pengguna potensial ini juga disebut sebagai masyarakat luas, atau anggota masyarakat luas. Audience pasif dan audience aktif. Pada teori komunikasi, teori audience dalam kategori pasif masuk ke dalam teori dalam teori peluru atau Bullet Theory dan Model Jarum Hipodermis atau hypodermic needle theory. Audience dianggap pasif yang artinya masyarakat lebih banyak dipengaruhi Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 171 oleh media. Mereka secara pasif menerima apa yang disampaikan media. Mereka menerima secara langsung apa-apa yang disampaikan oleh media atau dengan kata lain, Media of Power Full. Sedangkan audience dalam kategori aktif masuk ke dalam teori uses and gratification yang dibahas pada bab ini. Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa teori uses and gratification juga dipengaruhi dengan adanya motif-motif dalam menggunakan media massa dalam memenuhi kebutuhan. Rakhmat, (2015) menjelaskan jumlah kebutuhan yang dapat dipenuhi media belum disepakati para psikolog yang mempunyai klasifikasi motif yang bermacam-macam. Pada sumber yang sama Sigmund Freud menyebut dua macam motif: eros (hasrat bercinta) dan thanatos (hasrat merusak). Abraham Maslow menyebut 5 kelompok kebutuhan yang disusunnya dalam tangga hierarkis dari kebutuhan fisiologis sampai kebutuhan pemenuhan diri. Dalam teori kebutuhan dan motivasi, Abraham Maslow mengemukakan bahwa orang secara aktif mencari untuk memenuhi hirarki kebutuhan. Begitu mereka telah mencapai tujuan mereka mencari pada satu tingkat hirarki, mereka mampu bergerak ke tingkat berikutnya. Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan komunikasi massa ini, berlandaskan keyakinan bahwa khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. Sehingga pengguna mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan. 172 Dinamika Komunikasi Gambar 2 : Maslow’s Hierarchy of Human Needs Dalam hubungannya dengan dengan kepuasan kebutuhan (need gratification) oleh media, seperti yang digambarkan dalam (Rakhmat, 2015) beberapa para ahli memili perbedaan pendapat seperti (Rhat Katz, Blumler, dan Gurecvitch, 1974). Menurut penjelasan (Stephenson) bahwa ada yang beranggapan media massa hanya memenuhi satu kebutuhan saja, yaitu media sebagai alat pemuas keinginan melarikan diri atau hasrat bermain. Kemudian yang lainnya menyebutkan motif dasar penggunaan media adalah kebutuhan akan kontak sosial, hal itu keluar dari pendapat Kaarle Nordenstreng. Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974) mengelompokkan mereka sebagai para aliran unifungsional. Tradisi studi media yang dikenal sebagai penelitian uses and gratification tidak menawarkan teori yang besar dan koheren. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 173 Sebaliknya, yang terbaik dilihat sebagai serangkaian pemahaman komplementer yang terkadang saling bersaing antara penggunaan media dan dorongan menggunakan media. Terutama yang bersifat psikologis. Intinya, ini adalah usaha untuk mengembangkan pemahaman tentang fungsi psikologis yang digunakan pemirsa untuk memanfaatkan media yang mereka gunakan. Dalam ilmu sosial kuantitatif, studi media massa terdiri dari dua penekanan empiris. Peneliti Efek media telah berfokus pada dampak media terhadap orang. Tujuan dari pendekatan tersebut adalah untuk mencegah dampak negatif dari merugikan orang, mempromosikan efek positif yang dapat membantu orang, dan menyediakan sarana bagi para produsen media untuk melakukan keduanya. Sebaliknya, para periset uses and gratification telah berusaha untuk memeriksa alasan orang menggunakan media. (Eadie, 2009. Turut digambarkan juga dalam buku tersebut Three Ways of Looking at Media-Audience Connection atau Tiga cara melihat hubungan media-Audiens, dengan bagai yang digambarkan sebagai berikut: Gambar 3: Three Ways of Looking at Media-Audience Connection 174 Dinamika Komunikasi Perbedaan antara masing-masing lampiran digambarkan sebagai baris 1 dan 2 pada gambar di atas. Row 3 memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks dimana media, khalayak, dan masyarakat berinteraksi untuk menghasilkan efek media dan / atau gratifikasi media. Ini adalah representasi yang adil dari keadaan saat ini tidak hanya dalam penelitian uses and gratification saja, namun di semua studi media yang berfokus pada hubungan khalayak media. Dalam satu hal, kompleksitas baris 3 dapat dilihat sebagai langkah mundur, seolah-olah entah bagaimana dalam 50 tahun tidak ada resolusi dari pertanyaan yang berfokus pada bagaimana media mempengaruhi orang-orang versus bagaimana orang mempengaruhi media. Namun, perubahan yang penting adalah bahwa pertanyaan tersebut mulai berfokus pada beberapa kekuatan konvergen yang mengakui kekuatan masyarakat, media, dan anggota audiens. Pendekatan uses and gratification akan terus berlanjut menjadi satu jalan berkembang untuk mengeksplorasi hubungan kompleks ini. (Eadie, 2009) Pada Media Baru Salah satu macam riset uses and gratification yang berkembang pada saat ini oleh Philip Palmgreen dari Kentucky University, dan kebanyakan pendekatan ini berfokus pada motif yang menjadi variabel bebas mempengaruhi penggunaan media. Orang menggunakan media tidak lain didorong oleh motif-motif tertentu. Hal tersebut merupakan dasar dari pendekatan ini yang dilakukan oleh Palmgreen. Tidak hanya itu saja Palmgreen juga bertanya tentang motif-motif khalayak itu telah dapat dipenuhi dan puas tentunya oleh media yang telah dikonsumsi atau belum. Tujuan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 175 yang terlihat yaitu ingin mengukur kepuasan khalayak terhadap konsumsi media. Hal itu disebut GS (Gratification Sought) dan GO (Gratification Obtained). Gratification Sought adalah kepuasan yang dicari atau diinginkan individu ketika mengkonsumsi suatu jenis media tertentu (radio, tv, koran, dll). Gartification sought adalah motif yang mendorong seseorang mengkonsumsi media. Sedangkan gratification obtained adalah kepuasan yang nyata yang diperoleh seseorang setelah mengkonsumsi suatu jenis media tertentu, Palmgreen (1985 dalam Kriyantono 2007). Penerapan Teori Uses and Gratification Public Relation (PR) merupakan salah satu profesi yang sangat erat hubungannya dengan public atau masyarakat. Aktivitas seorang PR tidak jarang menggunakan berbagai macam alternatif media untuk melancarkan kegiatan dan tujuannya. Sehingga dibutuhkan pemilihan dan penggunaan media yang tepat agar mencapai target dan sasarannya. Kini seorang PR dihadapi sebuah tantangan di mana masyarakat saat ini aktif memilih media-media yang dirasa cukup memenuhi kebutuhannya, sehingga dibutuhkan analisa yang baik sebelum memilih dan menggunakan suatu media sebagai alat pelancar aktivitas PR. Beberapa riset komunikasi banyak menggunakan pendekatan ini sebagai analisis media dan khalayak. Riset pendekatan ini berangkat dari pandangan bahwa komunikasi (khususnya media massa) tidak mempunyai kekuatan mempengaruhi khalayak. Berbagai macam riset yang berangkat melalui pendekatan ini dalam komunikasi massa ataupun riset Public Relations. Pendekatan uses and gratification juga dapat digunakan pada penelitian dengan tujuan untuk mengetahui, 176 Dinamika Komunikasi mendeskripsikan, dan menganalisis efektivitas media sebagai media komunikasi dan informasi. Seperti pada penelitian Fadilah (2013), dengan jenis media yang digunakan adalah website. Selain kuantitatif pendekatan ini juga dapat digunakan dengan penelitian kualitatif. Sebagai contoh pada penelitian ini pendekatan uses and gratification digunakan sebagai salah satu konsep di dalamnya, dengan rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah efektivitas website sekolah SMAN 5 Samarinda sebagai media komunikasi dan informasi siswa? Adapun hasil dari penelitianya adalah: 1. Berdasarkan data yang ditemukan oleh peneliti bahwa efektivitas website SMAN 5 Samarinda sebagai media komunikasi dan informasi efektif, karena penyampaian pesan yang terdapat di dalamnya sangat memenuhi kebutuhan siswa akan informasi dan menjadi sebuah kewajiban untuk menggunakan media website sebagai media untuk memperoleh pelajaran. 2. Website SMAN 5 Samarinda dapat menjalin publik internal dan eksternal dalam mempublikasikan setiap informasi yang terdapat di website tersebut. 3. Siswa juga turut mengambil bagian dalam pengelolaan website ini, sehingga memudahkan bagi tenaga yang difokuskan untuk menjalankan website sebagai media komunikasi dan informasi. Apakah pendekatan uses and gratification hanya untuk mengkaji komunikasi massa? Jawabannya adalah Tidak, meskipun teori ini jika dipandang lebih identik dengan industri media tapi sebenarnya penelitian Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 177 yang berangkat dari teori ini tidak hanya dari komunikasi massa melainkan dapat diterapkan pada kegiatan Public Relations (PR) misalnya dalam mengukur kepuasan terhadap majalah internal perusahaan atau artikel tertentu terkait perusahaannya atau bisa juga untuk mengetahui motif membaca karyawan terhadap artikel perusahaan misalnya (Kriyantono 2007). Halimatusa’diah (2012) dalam tulisannya menerangkan bahwa fenomena media sosial secara fundamental mengubah cara perusahaan berkomunikasi. Maraknya facebook, twitter, blog, youtube, dan lainnya memaksa perusahaan meningkatkan cara berkomunikasi yang semula satu arah dan dua arah menjadi segala arah. Di tengah maraknya fenomena itu, praktisi PR masa kini harus menghadapi baru. Mereka adalah para pengguna fasilitas media sosial baru, dengan kata lain internet telah merubah konsumen di mata perusahaan. Pada kajian PR, perkembangan media sosial mengakibatkan perubahan paradigma dalam memandang konsumen. Media sosial telah merubah cara pelanggan berkomunikasi. Adopsi media sosial juga memfasilitasi terjadinya pergeseran hubungan pelanggan denga perusahaan. Bila selama ini paradigma hubungan tersebut berpusat pada pasar yang selalu menggunakan pertimbangan bisnis (business centric), kini bergeser ke pada customer centic. Pelanggan yang dulunya statis, diam kini mendadak aktif. Menghadapi situasi ini banyak kemudian perusahaan yang melakukan lompatan eksekusi. Penelitian di atas bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktisi PR mengatasi fenomena perubahan perilaku pengguna media sosial dalam hal ini adalah cutomer (social customer) yang sangat aktif terlibat langsung dalam setiap proses komunikasi 178 Dinamika Komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan. Fokus pada penelitian juga mengarah kepada pertarungan struktur berkomunikasi melalui jejaring sosial, perilaku individu, dan perilaku praktisi PR dalam mensiasati fenomena perubahan itu, serta upaya menciptakan dan mempertahankan citra kelembagaan. Dengan mendasarkan pada prinsip keseimbangan kognitif antara social customer, praktisi PR dan efek yang ditimbulkan, pendekatan pada teori uses and gratification dapat menjadi rujukan untuk menelaah permasalahan dalam penelitian ini. Penggunaan teori uses and gratification pada tulisan ini memperkaya pemahaman akan aspek-aspek komunikasi yang dapat digunakan oleh praktisi PR dalam menjalankan fungsi komunikasi dua arah sehingga dapat tercipta mutual understanding antara perusahaan dengan publiknya dan tentunya akan berimbas kepada pencitraan positif perusahaan. Dari sudut pandang penggunaan teori uses and gratification dalam tulisan ini memberikan kontribusi dalam kemampuannya memberikan kerangka untuk mempertimbangkan khalayak dan konsumen media individu dalam teori dan penelitian komunikasi kontemporer. (Halimatusa’diah 2012). Selain itu teori uses and gratification juga digunakan dalam sejumlah riset PR yang bertujuan untuk melihat sebesar pemanfaatan media terhadap pemenuhan kebutuhan informasi internal karyawan, sebagai contoh riset yang dilakukan di PT Perkebunan Nusantara IV oleh (Prasetia, 2016). Berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan teori uses and gratification ditemukan hasil riset yaitu: Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 179 1. Berdasarkan hasil penelitian, motif utama karyawan dalam pemanfaatan majalah MINAT ini adalah unsur kognitif dimana para karyawan membaca majalah MINAT untuk mencari informasi, referensi maupun untuk menambah pengetahuan mereka baik informasi mengenai internal perusahaan maupun informasi lainnya. 2. Hasil penelitan menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan informasi karyawan PT Perkebunan Nusantara IV sudah terpenuhi dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari uji hipotesis yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan. 3. Majalah MINAT sebagai media internal dianggap mampu dalam memenuhi kebutuhan karyawan baik sebagai kognitif maupu personal diversi. 4. Secara keseluruhan kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi majalah MINAT terhadap pemenuhan informasi karyawan kantor pusat PT Perkebunan Nusantara IV. Berdasarkan hasil pengolahan data, menunjukkan adanya hubungan yang cukup berarti antara konsumsi majalah MINAT terhadap pemenuhan kebutuhan informasi karyawan kantor pusat PT Perkebunan Nusantara IV. 180 Dinamika Komunikasi Contoh Kasus Dalam Aktivitas Kinerja Public Relations AKTIVITAS PR KAMPANYE POLITIK AHOK – DJAROT (Oleh. Lusia Handayani) M emperoleh kekuasaan menjadi sasaran utama bagi partai politik atau aktor politik, segala kemampuan dikerahkan untuk mendapatkan dukungan publik. Unjuk kekuatan politik kian memamerkan kebolehannya masing-masing. Berbagai bidang industri media diterapkan untuk dijadikan alat politik pencitraan mulai dari televisi, radio, koran, media sosial, sampai konsultan politik berkembang pesat. Dari situlah, public relations berperan untuk meningkatkan citra partai politik atau aktor politik khususnya konstelasi pemilihan pemimpin. PR yang menangani aktivitas politik memiliki orientasi pada pengumpulan dukungan sebanyak-banyaknya terhadap khalayak melalui berbagai saluran baik informal maupun formal. Seperti pada tim PR Ahok-Djarot pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta, melakukan strategi komunikasi politik dan manajemen organisasi dengan baik. Meski diterpa isu penistaan agama, nyatanya koalisi partai politik, relawan, dan simpatisan tidak mempengaruhi hubungan politiknya. Ini berarti bahwa tim pendukung Ahok-Djarot bekerja dengan baik. Di lain hal peran media sosial sangat masif dan bergerak secara luas mempengaruhi opini pubilk khususnya bagi calon pemilih pada ketegori anak muda. Berdasarkan wawancara Ketua Divisi Media Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini Martin Manurung mengatakan media sosial digunakan untuk klarifikasi serangan kampanye hitam. Debat Pilgub DKI Jakarta pertama, kedua, dan ketiga, Ahok-Djarot tampil dengan impresif dan mampu menjawab persoalan di Jakarta. Momentum debat itu kemudian meningkatkan citra sekaligus elektabilitas. Sehingga bagi pemilih rasional beralih ke pasangan Ahok-Djarot, walaupun kemenangan diraih oleh tim lawan yaitu Anies dan Sandi. Tugas public relations politik ditutntut untuk bisa mengeluarkan ide dan gagasan yang kreatif untuk menarik banyak dukungan. Kampanye positif yang dilakukan partai politik atau aktor politik bertujuan membangun image positif di tengah masyarakat. Namun, partai politik atau aktor politik juga melakukan kampanye negatif berupa menjelekan pihak lawan dengan menggunakan pendekatan personal, sosial, budaya, dan lain-lain. Seorang public relations harus mengontrol seberapa besar dan kecil isu yang diangkat oleh pihak lawan. Sebab, kampanye negatif tidak selalu membuat citra buruk, akan tetapi bagaimana isu itu dikemas secara menarik sehingga bisa menarik simpatik dan dukungan. Berdasarkan peristiwa tersebut menyimpulkan bahwa PR dan media sangat erat hubungannya, dan media sangat mendukung kinerja seorang PR. Sumber: https://pilkada2017.kpu.go.id/hasil/t1/ dki_jakartahttps://dailysocial.id/post/pengguna-aktifinstagram-di-indonesia-capai-22-juta. Diakses: 25 Januari 2018, Pukul: 11.45 181 182 Dinamika Komunikasi STRATEGI PR RS MITRA KELUARGA PADA KASUS BAYI DEBORAH Oleh: Lusia Handayani K asus bayi Deborah terhadap kinerja dan profesionalitas Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga telah meng- gugah hati masyarakat Indonesia dan mnjadi Headline di berbagai media pada tahun 2017 yang lalu. Kerugian yang diterima akibat adanya kasus ini membuat citra buruk bagi RS. Mitra Keluarga. Hampir satu bulan, kasus meninggalnya bayi Tiara Debora di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres bergulir. Pada 3 September 2017, bayi Debora diantar keluarganya ke rumah sakit itu dengan kondisi pernafasan yang tersumbat sehingga mengalami sianosis atau tubuh membiru. Saat akan dipindahkan ke ruang pediatric intensive care unit (PICU), orangtua Debora diminta membayar uang muka oleh pihak rumah sakit. Padahal, uang muka tidak perlu dilakukan karena Debora memiliki kartu BPJS Kesehatan. Meski demikian, hasil audit manajemen tidak lebih baik dari audit medis. Tim investigasi menyimpulkan bahwa direktur RS Mitra Keluarga Kalideres kurang memahami peraturan perundangan terkait rumah sakit. “Kesimpulannya rumah sakit belum membuat regulasi tata kelola rumah sakit sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Koesmedi, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Usaha pihak RS. Mitra Keluarga untuk menyelesaikan kasus ini adalah dengan menggelar konferensi Pers yang diwakili oleh Direktur Rumah Sakit Mitra Keluarga Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini Kalideres, dr. Francisca Dewi dan Humas Rumah Sakit Mitra Keluarga Group, dr. Nendya Libriyani. Pihak RS. Sakit Mitra Keluarga menggunakan media sebagai alat meyebarkan informasi berupa klarifikasi dan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan terutama kelurga pasien dalam kasus tersebut. Hal itu dilakukan sebagai bentuk jalan meraih kepercayaan masyarakat akibat terkena paparan pemberitaan yang terjadi. Sumber:https://www.suara.com/health/2017/09/11/191002/apakah-debora-butuh-ruangpicu-ini-kata-rs-mitra-keluarga. Diakses: 26 Januari 2018, Pukul: 15.35. USAHA PR J.CO dan BREADTALK DALAM MENANGGAPI ISU NEGATIF Oleh: Lusia Handayani P roduk makanan brand J.CO Donuts and Breadtalk pernah diserang isu negatif yang sangat merugikan citranya sebagai perusahaan industri makanan. Isu tersebut muncul pada tahun 2008. isu kehalalan dari produk makanan brand J.CO Donuts and Breadtalk sudah sempat mereda namun diterpa kembali isu negatif yang mempertanyakan kadar bahan pengawet J.Co Donuts dan BreadTalk yang dapat membahayakan kesehatan. Berita tersebut berawal dari milis salah satu pembeli produk makanan tersebut dan tanpa sengaja tersebar di berbagai media sosial saat itu. Perusahaan makanan tersebut tidak tinggal diam 183 184 Dinamika Komunikasi dan berusaha untuk meng-counter berita dan isu negatif yang telah beredar di dunia maya. PR yang berada dalam marceting communication perusahaan tersebut mencoba untuk mengklarifikasi isu negatif, melalui media-media sosial yang sedang tren saat itu seperti twitter dan facebook, dengan membentuk tim khusus untuk menyelesaikan masalah ini dan beruaha untuk tidak berhubungan dengan media massa. Karena awal permasalahan berasal dari social media maka diselesaikannya juga di social media pula dengan berbasis komunitas yang dibuat perusahaan ini sendiri. Komunitas media sosial yang dibuat perusahaan ini adalah JCommunity Global. Melalui komunitas terebut tim PR menyelenggarakan factory event visit dan juga CSR. Masyarakat yang bergabung dalam JCommunity Global menjadi contoh konsumen yang loyal dan membantu perusahaan makanan ini meng-counter isu negatif. ISU KEBANGKRUTAN BLACKBERRY Oleh: Lusia Handayani B erita yang beredar dalam situs Wall Street 24/7 memberitakan 10 brand yang bakal menghilang pada tahun 2015 silam. Nama BlackBerry merupakan satu di dalamnya. Di Indonesia BlackBerry merupakan salah satu produk unggulan gadget yang banyak digunakan oleh masyarakat, hampir setiap kalangan menggunakannya walaupun tidak sedikit pula yang menggunakan produk saingan seperti Android dan Apple. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini Adanya berita ini mengeluarkan ramalan bahwa perusahaan BlackBerry akan segera gulung tingkar. Ramalan ini pun memancing tanggapan dari PR perusahaan BlackBerry perwakilan Indonesia Yolanda Nainggolan, mengatakan tak khawatir. Menurut penjelasannya saat itu soal konsumen di Indonesia, Yolanda mengakui adanya pergeseran target pengguna dikarenakan strategi baru berupa fokus pada “empat pilar” BlackBerry, yaitu bisnis enterprise, platform software QNX, BBM, dan handset. BlackBerry hanya mengubah profil target pengguna menjadi orangorang yang mengutamakan produktivitas. Hal tersebut akan mempengaruhi cara mereka mengkomunikasikan brand BlackBerry”. BlackBerry pun disebut Yolanda giat melakukan pendekatan ke kalangan yang dinilai potensial menjadi pelanggan layanan korporasi BlackBerry Enterprise Service (BES), semacam instansi pemerintahan dan operator telekomunikasi. Sumber:http://tekno.kompas.com/ read/2014/07/19/11200087/Diramal.Bangkrut.Apa. Kata.BlackBerry. Diakses: 26 Januari 2018, Pukul:15.45 RESPON PT. INDOFOOD ISU INDOMIE GORENG PALSU Oleh: Lusia Handayani P ada tahun 2015, PT. Indofood yang merupakan produsen mie instan terbesar di Indonesia diterpa isu yang merugikan nama baiknya. Di pertangahan tahun 2015 isu 185 186 Dinamika Komunikasi Indomie goreng palsu merebak di media sosial facebook. Isu tersebut diawali oleh adanya unggahan foto kemasan Indomie goreng dari seorang netizen yang dinilainya memiliki kemasan yang berbeda, terlebih lagi menurut netizen yang mengunggah foto kemasan indomie goreng tersebut keduanya memiliki rasa yang berbeda. Isu tersebut bisa menjadi pisau tajam yang diarahkan oleh PT. Indofood dengan akibat berkurangnya kepercayaan dari masyarakat konsumen setia Indomie khususnya, apalagi jika hal tersebut terkait dengan rasa dan penyajian. Untuk menghindari masalah tersebut, PT. Indofood selaku perusahaan yang memproduksi Indomie angkat bicara. Stefanus Indrayana selaku General Manager yang melakukan tugas seorang PR pada bagian Corporate Communication PT. Indofood menjelskan bahwa isu tersebut tidakbenar, tampilan kemasan hanya permasalahn mesin yang mencetak yang memiliki versi yang berbeda, sehingga terjadi sedikit perbedaan dalam hasil cetak. Menurutnya isu tersebut juga telah diklarifikasi dari pengguna akun facbook yang mengunggah foto kemasan indomie goreng tersebut. Kalrifikasi ini dilakukan pada saat pihak Kompas. com menghubunginya saat itu. Sumber:http://ekonomi.kompas.com/ read/2015/08/26/143045726/Soal.Indomie.Goreng. Plasu.Ini.Penjelasan.Indofood. Diakses: 27 Januari 2018, Pukul: 11.54. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 187 Daftar Pustaka Buku Eadie, FW. 2009. 21st Century Communication A Reference Hanbook Volume 1 &2. London. SAGE Publication Inc. Effendy, OU. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung. PT. Citra Aditya Bakti. Kriyantono, R. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta. Kencana Prenada Media Group. Littlejohn, SW dan Karen A Foss. 2011. Teori Komunikasi. Jakarta. Salemba Humanika. Rakhmat, J. 2015. Psikologi Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Jurnal Fadilah, A. 2013. Efektivitas website sman 5 Samarinda sebagai media komunikasi dan informasi siswa. Ejournal Ilmu Komunikasi 1 (1): 113-124. CHAIRUN NISA ZEMPI Teori Jaringan Sosial (Network Society) dan Analisis Jaringan Sosial 8 A. Perkembangan Masyarakat Jaringan Kehidupan manusia kini sangat bergantung kepada teknologi. Sehari-hari manusia membutuhkan bantuan teknologi untuk mempermudah kehidupan sehari hari. Memasuki awal abad 20, muncul berbagai macam teknologi-teknologi seperti koran, telegram, telepon, radio, televisi. Teknologi tersebut membentuk tatanan sosial baru yang disebut dengan awal era modern. Manusia mulai akrab dengan teknologi dan melakukan inovasi-inovasi baru dalam pembaharuan dan perkembangan teknologi. Hingga pada tahun 1960 tercipta teknologi baru yang memadukan teknologi informasi dan komunikasi yaitu internet. Pada awalnya internet diciptakan untuk keperluan militer Amerika Serikat yang membutuhkan standar baru untuk berkomunikasi yang disebut internetworking. Hingga pada tahun 1980an internet mulai dikomersialisasikan ke penduduk dunia.Internet mempermudah manusia untuk saling terhubung dan berkomunikasi. Manusia yang pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Komunikasi dan interaksi merupakan hal yang pokok dalam siklus kehidupan. Adanya komunikasi tersebut membentuk terjadinya 189 190 Dinamika Komunikasi jaringan-jaringan (networks) tergantung dengan keperluan dan kepentingan masing-masing. Jaringan Keluarga dan pertemanan merupakan contoh jaringan kecil di kehidupan manusia. Menurut J.R. dan W. McNeill (2003) (dalam Van Djik, 2006), jaringan sosial setidaknya dimulai dari pertama kali manusia berkomunikasi, manusia dahulu secara sinergi menciptakan suatu komunitas kecil melalui komunikasi secara lisan maupun melalui bahasa isyarat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jaringan sosial sudah ada dari manusia pertama hadir. Jaringan masyarakat kini semakin berkembang dengan hadirnya internet. Literatur-literatur terkini banyak membahas tentang keadaan dunia masa kini yaitu manusia kini hidup dalam era jaringan terhubung atau a connected age (Van djik, 2006). Pemikiran ini didasarkan teknologi digital yang sedikit banyak membuat perubahan terhadap struktur sosial masyarakat. Komunikasi secara langsung yang dulunya merupakan komunikasi utama dalam pembentukan jaringan sosial, kini dapat dimediasi oleh teknologi komunikasi. Pada awal kemunculan padangan baru ini, banyak bermunculan pandangan skeptis. Kubicek berpendapat bahwa media baru akan mengurai bahkan menghancurkan kualitas komunikasi tatap muka manusia. Pandangan dystopia tersebut semakin dibantah, hingga pada awal abad 21, internet dinilai memberikan bentuk tatanan era "hidup" dan "ekonomi" baru dengan meningkatkan kualitas komunikasi yang berlandaskan kebebasan, demokrasi dan kemakmuran (Van djik,2006). Kekayaan informasi, kebebasan berekspresi dan perluasan komunikasi membentuk suatu pemikiran bahwa teknologi secara fundamental telah merubah nilai-nilai yang ada di masyarakat. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa perubahan nilai-nilai se- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 191 perti kesetaraan sosial (Social equality), kualitas dan kuantitas hubungan sosial (quantity and quality of social relationships), kekayaan pengetahuan (richness of the human mind) (Vandjik, 2006) memiliki efek lain. Teknologi membuat kesetaraan sosial dalam masyarakat menjadi lebih baik. Seseorang kini dapat dengan bebas berkomunikasi dan berpartisipasi ataupun membentuk komunitas dengan siapa saja yang mereka inginkan. Komunikasi konsumen dan produsen juga menjadi lebih langsung. Masyarakat biasa kini mungkin dapat membentuk suatu kekuatan yang besar walaupun tanpa ada dukungan dari pemerintah hingga dapat menjadi kekuatan untuk menjatuhkan pemerintah (contohnya kasus Arab Spring). Tetapi apabila dilihat pada tatanan individual atau perorangan, maka ada pandangan pesimis akan adanya dampak aspek kesetaraan sosial yaitu ancaman tindakan privasi. Teknologi sangatlah rentan akan kontrol, sehingga dikhawatirkan akan ada kelompok-kelompok tertentu yang dapat menguasai teknologi seperti peretas, pembajak atau pemilik media yang menyalahgunakan informasi-informasi individu. Kuantitas jaringan komunikasi yang semakin meningkat tidak selalu membuat kualitas komunikasi menjadi juga ikut meningkat. Banyak penelitian terkini yang melihat bagaimana kekuatan dari jaringan yang terbentuk pada media online atau jaringan virtual dibandingkan dengan jaringan pada dunia nyata (Byam, Zang & Lin, 2004 ; McNeal, Hale & Dotterweich, 2008 ). Kebanyakan dalam penelitian – penelitian terdahulu menyebutkan bahwa adanya terjadinya peningkatan hubungan komunikasi jarak jauh antar individu, akan tetapi kualitas dari jaringan tersebut masih tergantung kepada bagaimana anggota-anggota komunitas dalam jaringan menggunakannya. Walaupun teknologi saat ini dipandang 192 Dinamika Komunikasi sebagai sesuatu kekuatan besar dalam perubahan struktur sosial masyarakat akan tetapi perlu diperhatikan teknologi dikendalikan manusia. Manusia tetap menjadi inti dari suatu peradaban didunia ini. Berhasil atau tidaknya suatu jaringan sosial tetaplah didasari oleh bagaimana jaringan tersebut dikelola. Dapat disimpulkan secara sederhana Masyarakat jaringan adalah formasi sosial yang berkomunikasi dengan memanfaatkan infrastruktur teknologi media yang membentuk suatu jaringan dalam berbagai tingkatan (individu, kelompok / organisasi dan masyarakat) (Dijk van, 2006). Sedangkan menurut Castell (2005) masyarakat jaringan merupakan struktur sosial yang didukung oleh teknologi informasi yang membangun sebuah komunitas virtual. Pada mulanya komunitas virtual tersebut terbentuk secara spontanitas berdasarkan kepentingan masing-masing individu, akan tetapi kini masyarakat juga memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang produktif (produksi, konsumsi, reproduksi). Fenomena masyarakat jaringan menjadi semakin berkembang setelah hadirnya fitur-fitur yang membuat terciptanya budaya virtual. Internet menghadirkan aplikasi-aplikasi canggih yang meleburkan batas sosial dan wilayah yang dulu menjadi penghalang manusia untuk berinteraksi secara luas. Internet kini juga tidak hanya dapat diakses melalui komputer, akan tetapi hadirnya smartphone menambah kemudahan untuk mengakses internet dimana dan kapan saja. B. Teori Jaringan sosial Teori jaringan sosial atau network society merupakan sebuah konsep yang dirumuskan oleh Jan van Dijk (1999). Masyarakat jaringan adalah suatu struktur sosial masyarakat muncul pada akhir Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 193 abad 20. Struktur sosial tersebut terbentuk melalui komunikasi dari berbagai jaringan digital. Menurut Catells (2010) Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi mengakibatkan terjadinya perubahan karakteristik negara, masyarakat dan ekonomi. Berawal dari penemuan komputer yang kemudian berkembang menjadi teknologi yang membuat manusia dapat terkoneksi melalui internet. Sebagian besar masyarakat dipengaruhi secara mendasar oleh transformasi ini. Masyarakat membentuk struktur sosial tipe baru yang disebut dengan masyarakat jaringan (Castells, 2007). Dalam bukunya, Van Dijk (2006) memaparkan bahwa network society mempengaruhi setidaknya enam bidang yaitu bidang ekonomi, politik dan kekuasaan, hukum, struktur sosial, budaya, dan psikologi. Jaringan mengatur hubungan di antara unit realitas sosial. Setiap pendekatan jaringan menekankan pentingnya hubungan dengan unit-unit yang terhubung. Sehingga satuan dasar dari sebuah organisasi adalah mata rantai atau link (Littlejhon & Foss, 2009). Terdapat lima karakteristik dasar tentang paradigma teknologi informasi menurut Castells (2000), yaitu ; Pertama teknologi akan mempengaruhi informasi yang didapatkan oleh manusia. Kedua, informasi yang didapatkan manusia melalui teknologi akan berdampak pada kehidupan manusia itu tersebut. Ketiga, informasi akan memunculkan jaringan. Keempat, teknologi akan selalu berkembang dan semakin canggih seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kelima, semua informasi dapat terintegrasi (Castells, 2000) 194 Dinamika Komunikasi Gambar 1 : Unit sosial yang dihubungkan oleh network (Sumber : Van Dijk, 2006) Terdapat empat unit sosial yang dihubungkan oleh jaringan. Setiap jaringan sosial didukung oleh jaringan media tersedia di semua level dan subsistem masyarakat (Van Dijk, 2006). Level pertama adalah level individual, merupakan level yang paling dasar dari sebuah jaringan. Dengan adanya jaringan setiap individu dapat menciptakan hubungan dengan individu lain baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, pekerjaan, masyarakat hingga negara. Pada saat ini jaringan didukung dan diintensifkan oleh munculnya teknologi media seperti handphone dan internet. Level kedua adalah jaringan antara kelompok atau organisasi. Setiap individu pasti menciptakan pengelompokkan berdasarkan kriteria tertentu. Pengelompokan tersebut ada yang bersifat sementara dan ada yang permanen. Adanya teknologi, membuat pengelompokan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 195 tersebut didukung oleh perangkat komunikasi telekomunikasi dan komputer. Secara teoritis terdapat sebagian metode jaringan bekerja dalam organisasi; pertama, Mengendalikan arus informasi keluar dan masuk ; kedua, menyatukan orang dengan atensi yang sama; ketiga, membentuk pengertian dan pemaknaan yang sama terhadap suatu hal ; keempat, akan adanya pengaruh sosial yang berdampak pada masing-masing individu di dalam jaringan tersebut ; kelima memungkinkan terjadinya pertukaran sumber daya (Littlejhon& Foss, 2009). Level ketiga jaringan kemasyarakatan. Internet telah menciptakan struktur hyperlink yang luas, setiap individu, kelompok dan organisasi membentuk sistem masyarakat yang dihubungkan dengan , jaringan sosial dan media. Dalam ranah politik jaringan ini secara internal menghubungkan institusi pemerintah dan administrasi publik pada setiap level. Sedangkan secara eksternal, jaringan tersebut dapat mempertahankan hubungan yang kuat antara setiap organisasi warga negara dan dengan lembaga publik. Level keempat adalah jaringan yang membentuk hubungan global. Internet telah melumpuhkan batasan-batasan antara negara. Hubungan internasional kini semakin kuat dan luas, hal tersebut sangat didukung jaringan telekomunikasi dan komputer internasional (Van Dijk, 2006). Teori masyarakat jaringan merupakan dasar dari perspektif analisis jaringan sosial. Perspektif social network saat sekarang ini sedang berkembang dalam dunia penelitian termasuk di bidang komunikasi. Hal ini disebabkan analisis menggunakan social network memungkinkan peneliti untuk menjawab fenomena sosial dan perilaku dengan memberikan definisi formal yang tepat untuk aspek lingkungan struktural politik, ekonomi, atau sosial (Wasserman & Faust, 1999). Secara umum penelitian terkait masyarakat 196 Dinamika Komunikasi jaringan diidentifikasikan oleh penelitian yang muncul pada era informasi (Castell, 2000). Oleh karena itu, penelitian terkait social network analysis banyak yang bercirikan analisis penggunaan teknologi oleh masyarakat. Penggunaan teori masyarakat jaringan pada analisis jaringan dapat membantu dalam menganalisis empat perspektif utama dari analisis jaringan berdasarkan konsep Wasserman & Faust (1999). (1) Aktor, dalam jaringan , aktor merupakan kunci utama. Aktor, dipandang sebagai unit mandiri yang saling bergantung dan berhubungan satu sama lain. (2) hubungan relasional, Melihat bagaimana keterkaitan antar aktor sosial. Keterkaitan tersebut berupa transfer atau saluran informasi dan sumber daya (baik materi maupun nonmaterial) terkait informasi seputar isu korupsi. (3) melihat struktur jaringan sosial sebagai analisis peluang atau kendala pada tindakan individu. (4) model jaringan yang mengkonseptualisasikan struktur (sosial, ekonomi, politik) sebagai pola hubungan di antara para aktor. Analisis jaringan mampu melakukan pemetaan terhadap suatu jaringan dari berbagai macam kelompok. Jaringan kelompok yang dapat dianalisis juga beragam mulai dari jaringan kelompok aktivis hingga jaringan kejahatan di internet (cybercrime). Penelitian Nouh dan Nurse (2015) menggunakan metode analisis jaringan sosial untuk mengidentifikasi bagaimana jaringan aktivis online UK di Facebook. Grup tersebut merupakan kelompok jaringan informal yang bertujuan untuk mempromosikan gerakan-gerakan sosial dan mengorganisir protes terhadap kebijakan pemerintah (Nouh & Nurse, 2015: 970). Terdapat empat kontribusi metode social network dalam menganalisis jaringan . Pertama, memahami dinamika interaksi dalam jaringan. Kedua teknik SNA dapat digu- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 197 nakan untuk mengidentifikasi pemain kunci (aktor paling aktif dan paling berpengaruh). Ketiga, analisis hubungan kepercayaan dan sentimen antar aktor. Keempat, menyelidiki korelasi jumlah aktivitas online dengan protes atau gerakan sosial yang terjadi dunia nyata (Nouh & Nurse, 2015). a. Elemen Dasar Jaringan Komunikasi Secara sederhana jaringan merupakan hubungan yang terbentuk akibat hubungan antara aktor yang saling berkomunikasi. Dalam jaringan komunikasi, terdapat elemen-elemen yang diperlukan untuk mengkonsepkan pola-pola yang terbentuk. Dalam jaringan sosial ada beberapa elemen dasar yang harus diperhatikan, yaitu: (Eriyanto,2014) a) Node dan Edge. Dalam sebuah jaringan ada dua bagian penting yang menjadi komponen dasar dari jaringan yaitu Node dan Edge. Node pada jaringan merupakan aktor atau anggota jaringan. Node (Aktor) dapat berupa individu, organisasi, lembaga, institusi dan sebagainya. Sedangkan Edge merupakan relasi atau hubungan yang terbentuk dari proses komunikasi yang terjadi dalam jaringan. b) Tipe Relasi. Dalam jaringan memiliki tipe-tipe yang berbeda untuk menggambarkan relasi yang terbentuk. Eriyanto (2014) membagi tipe relasi pada jaringan menjadi empat yaitu: One Mode vs Two Mode. Perbedaannya terletak pada variasi aktor dalam jaringan. Pada tipe One Mode aktor-aktor yang terjaring memiliki tipe yang sama, seperti jaringan antar orang, antar perusahaan, antar negara, antar lembaga dan sebagainya. Sedangkan 198 Dinamika Komunikasi pada tipe Two Mode, terdapat variasi tipe aktor dalam jaringan, misalnya jaringan antar orang dan lembaga. Directed vs Undirected. Pada tipe Directed, relasi yang terbentuk mempunyai arah dan jelas ada pengirim pesan dan penerima pesan, ada subjek dan objek. Sedangkan pada tipe Undirected relasi yang terbentuk tidak mempunyai arah, tidak ada pengirim dan penerima, dan kedua aktor sama-sama memiliki peran yang sama. (Eriyanto, 2014:). Simetris vs Asimetris. Tipe simetris menggambarkan bahwa dua aktor dalam jaringan mempunyai kontribusi dan peran yang sama. Aktor-aktor tersebut tidak dapat berdiri sendiri, sehingga jika ada salah satu aktor yang hilang, maka relasi tidak akan terbentuk. Sedangkan tipe asimetris menggambarkan adanya aktor yang dominan dibandingkan aktor lainnya. Satu pihak mempunyai peran penting dalam jaringan sedangkan pihak lainnya hanya menjadi pihak penerima pesan atau tidak mempunyai peran apa-apa. (Eriyanto, 2014:). Weighted (Valued) vs. Unvalued. Dalam tipe valued bisa menyajikan relasi dengan menyertakan nilai. Sedangkan relasi Unvalued juga menampilkan jaringan tanpa menyebutkan intensitas (Eriyanto, 2014:). b. Aktor dalam Jaringan Sosial Dalam analisis jaringan sosial, proses komunikasi terjadi akibat adanya kebutuhan dari individu untuk memperoleh informasi. Proses komunikasi tersebut dapat terjadi dari dua orang atau lebih. Hal ini memperlihatkan peran aktor dalam jaringan sangatlah penting. Dalam sebuah jaringan setiap aktor memiliki perannya masing-masing, hal ini tergantung pada intensitas individu dalam Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 199 memberikan dan menerima informasi. Dalam analisis jaringan setiap individu mempunyai peranannya masing-masing, sehingga terkadang individu dapat menjadi penghambat atau pelancar arus komunikasi dalam suatu jaringan. (Harris & Nelson, 2008). Dalam ranah politik adanya struktur jaringan merupakan aspek yang sangat krusial. Goldsmith dan Eggers (2004) menunjukkan bahwa sistem pemerintahan kini semakin dibentuk melalui jaringan, bahkan politik pada umumnya diatur dalam struktur jaringan. Semua terhubung dalam aktor yang berbeda dari sistem politik - pemerintah, parlemen dan pemerintah, parlemen dan administrasi publik di tingkat nasional, regional dan lokal, partai politik dan organisasi dalam masyarakat sipil, badan internasional, otoritas hukum, (semi) lembaga publik, perusahaan dan warga negara individu - dapat diartikan sebagai hubungan politik (kekuasaan) dan sebagai hubungan informasi dan komunikasi (Djik Van, 2006). Selanjutnya, aktor menjadi aspek yang penting dalam penelitian jaringan. Van djik (2006) menjelaskan posisi relasi aktor dalam jaringan adalah interdependensi atau saling berhubungan. Akan tetapi setiap aktor memiliki peran yang berbeda. Menurut Harris dan Nelson (2008) terdapat lima peran aktor dalam jaringan komunikasi yaitu stars, liaisons, bridges (Linking pins), gatekeepers, cosmopolites, dan isolate. Stars adalah aktor yang menjadi pusat jaringan. Stars memiliki hubungan dengan seluruh anggota, sehingga aktor dengan peran stars biasanya memiliki pengaruh penting dalam jalannya komunikasi anggota . Seorang star dapat disebut sebagai opinion leader hal ini dikarenakan ia menjadi tempat bertanya mengenai masalah yang sedang dibahas. Karakter dari opinion leader biasanya 200 Dinamika Komunikasi cenderung kuat, dihormati,dan diikuti, walaupun tanpa memiliki peran kepemimpinan formal. Gatekeeper adalah peran individu yang mengendalikan aliran informasi dalam suatu jaringan. Gatekeeper memiliki kapasitas strategis untuk memutuskan informasi apa yang akan diteruskan ke anggota kelompok yang lain. Dua fungsi yang pada gatekeeper (a) pesan yang diterima gatekeeper mungkin atau mungkin tidak diteruskan, atau (b) pesan dapat disaring. gatekeeper dapat membuat keputusan untuk mengurangi, mengubah, menahan, atau mendorong satu pesan ke pesan lainnya. Kekuatan peran gatekeeper terletak dalam kontrol akses ke pesan dan informasi. Liaisons adalah penghubung satu kelompok dengan kelompok lainya, akan tetapi liaisons bukan anggota dari jaringan. Laison dapat berfungsi untuk menyebarkan informasi yang relevan diantara kelompok yang saling terjaring. Laison sangat penting untuk berfungsinya organisasi secara efektif (McShane & Von Glinow dalam Harris & Nelson, 2008). Karena Laison terhubung dengan berbagai kelompok dan berbagai individu, mereka menerima lebih banyak umpan balik dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk berhubungan dengan setiap orang di berbagai kelompok. Bridge adalah sama perannya dengan liasons, akan tetapi bridge merupakan anggota dari jaringan. Bridge adalah individu dalam jaringan yang menghubungkan anggota kelompok. Peran bridge membantu saling dalam pengorganisasian arus informasi internal dan mengkoordinasi kelompok. Cosmopolites memiliki peran untuk memberikan informasi kepada lingkungan dan membawa informasi kembali ke organisasi/kelompok. Hal ini membuat cosmopolites menjadi aktor dengan tingkat komunikasi yang relatif tinggi. Dengan membawa Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 201 informasi eksternal ke jaringan, mereka membantu menyediakan informasi penting ke jaringan. Selain itu Cosmopolites juga dapat mengumpulkan informasi dari dalam jaringan dan memberikan informasi tersebut kepada orang-orang tertentu pada jaringan (Pace & Faules 1998:176). Isolate adalah anggota jaringan yang mempunyai komunikasi minimal bahkan cenderung tidak terhubung dengan orang lain dalam jaringan. Dalam analisis jaringan sosial peranan dari aktor-aktor dapat diidentifikasi dengan pengukuran jaringan. Pengukuran tersebut dapat dikelompokkan menjadi analisis pada level aktor dan kelompok (Eriyanto, 2014). Pada level aktor terdapat empat komponen yang dapat mendeskripsikan peran dari aktor yaitu: 1. Degree Centrality merupakan nilai yang memperlihatkan popularitas aktor dalam jaringan sosial. Nilai tersebut dihitung dari jumlah mata rantai atau link dari dan ke aktor. Dalam perhitungan sentralitas tingkatan relasi yang perlu diperhatikan adalah apakah relasi tidak mempunyai arah (undirected) atau mempunyai arah (directed). Jika relasi tidak mempunyai arah, maka jumlah relasi akan dihitung dari link antar satu aktor ke aktor lain tanpa memperhitungkan mana aktor yang berperan sebagai penerima atau pemberi. Jika relasi mempunyai arah maka akan dilihat arah dari relasi aktor yang bertindak sebagai subjek dan objek. 2. Closeness Centrality menggambarkan kedekatan aktor (node) dengan sesama aktor lainnya dalam jaringan sosial. Kedekatan tersebut dapat dilihat melalui path/ jalur seorang aktor menghubungi atau dihubungi oleh aktor lainnya, baik secara langsung atau tidak langsung . Pengukuran Closeness Centrality 202 Dinamika Komunikasi dihitung dari jalur terpendek dari satu aktor ke aktor lainnya. 3. Betweenness Centrality merupakan variabel yang mengukur posisis seorang aktor sebagai perantara (Betweenness) dari sebuah jaringan. Betweenness centrality berguna sebagai ukuran potensi titik untuk kontrol komunikasi. Variable ini menunjukkan betweenness dari node dalam jaringan dan mengukur sejauh mana node terletak pada jalur terpendek. Betweenness Centrality juga dapat digunakan sebagai ukuran dalam mengukur kontrol komunikasi antar aktor dalam jejaring sosial. 4. Eigenvector Centrality merupakan nilai untuk mengukur seberapa penting seorang aktor dalam suatu jaringan. Nilai tersebut dapat diukur dari berapa banyak relasi yang dipunyai aktor (node). Ketika aktor (node) tersebut mempunyai banyak relasi, maka dapat diidentifikasi node tersebut merupakan aktor penting dalam jaringan. Selanjutnya pada level kelompok hal yang dapat dilihat dari sebuah jaringan adalah (Eriyanto, 2014) : 1. Klik digunakan untuk mengelompokkan merupakan pengelompokan aktor (node) dalam jaringan sosial. Klik dalam jaringan komunikasi terlihat dari interaksi antar aktor, sehingga dalam jaringan komunikasi akan ada beberapa klik yang akan terbentuk. 2. N-Clique adalah perpanjangan konsep dari klik. Pada klik, anggota baru dapat disebut sebagai bagian dari kelompok jika saling berinteraksi. Dalam N-Clique hal ini diperluas lagi menjadi beberapa tingkatan. Contohnya dalam tingkatan pertama disebut “teman”, tingkatan kedua (2-clique) adalah “temannya Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 203 teman”, tingkatan ketiga (3 -clique) adalah “temannya teman teman”dan begitu seterusnya. 3. Komponen merupakan tingkatan lanjutan dari “klik”. Dalam suatu jaringan akan terdapat banyak klik, maka komponen adalah gabungan dari klik. Yang terpenting dalam penentuan komponen adalah interaksi, sehingga semua aktor yang mempunyai jaringan akan dimasukkan dalam satu komponen walaupun mempunyai link / edge yang panjang. 4. Isolate merupakan pengelompokan aktor-aktor (nodes) yang tidak melakukan interaksi dengan aktor lain. c. Pola Jaringan Komunikasi Dalam analisis jaringan sosial, mengetahui pola jaringan komunikasi merupakan hal yang penting. Pola komunikasi merupakan bentuk struktur dari keseluruhan prose komunikasi yang berlangsung (Djamarah, 2004). Pola komunikasi memiliki ragam dan bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan alur komunikasi yang berlangsung. Dengan adanya model komunikasi maka akan lebih mudah untuk mengkategorisasikan pola komunikasi yang tepat agar dapat lebih memudahkan untuk memahami bagaimana proses menyampaikan dan menerima pesan hingga proses memperoleh feedback. 204 Dinamika Komunikasi Gambar 2 : Pola jaringan komunikasi kelompok (A.DeVito, 1997) Menurut A. Devito (1997) jaringan komuikasi merupakanan suatu saluran yang berguna untuk mengirimkan dan meneruskan pesan dari satu individu ke individu lainnya. Sehingga untuk mengetahui bagaimana komunikasi terbentuk dalam sebuah struktur sosial, maka diperlukan analisis jaringan sosial. Dalam sebuah jaringan kelompok terdapat 5 bentuk pola-pola jaringan komunikasi yang mungkin terbentuk (A. DeVito, 1997). Pertama pola roda; dalam pola ini komunikasi berlangsung secara terpusat. Terdapat pemimpin yang merupakan satu satunya orang yang mengirimkan pesan ke anggota lainnya. Kedua, pola rantai; pada pola ini pengirim dan penerima pesan hanya dapat berkomunikasi satu arah saja. Ketiga, pola lingkaran; seluruh anggota merupakan pusat komunikasi, maksudnya adalah setiap orang mempunyai kesempatan untuk mengirimkan dan membagikan pesan kepada anggota lainnya. Keempat, pola Y; dalam pola ini terdapat pemimpin yang jelas walaupun tidak terpusat seperti pola roda. Pada pola Y akan ada anggota yang menjadi pemimpin Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 205 utama dalam menyebarkan informasi, akan tetapi ada juga pemimpin kedua yang dapat mengirim dan memberikan informasi ke anggota lainnya, sedangkan anggota hanya dapat mengirimkan pesan ke satu anggota lain. Pola kelima adalah pola bintang atau pola semua saluran; pada pola ini tidak ada pemimpin dalam jaringan, setiap anggota memiliki kekuatan untuk mempengaruhi anggota lainnya. Referensi A Devito, Joseph. 2011. Komunikasi Antarmanusia. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group Baym, N.K., Zhang, Y.B., & Lin, M. (2004) Social Interactions across Media: Interpersonal Communication on the Internet, Faceto-Face, and the Telephone. New Media & Society, Vol. 6(3), 299-318 : Sagepub doi.org/10.1177/1461444804041438 Castells. M., (2000). The rise of the network society. oxford blackwell (2007) Communication, Power and Counter-power in the Network Society. International Journal of Communication 1 (2007), 238-266 : IJOG.ORG Castells. M., Cardoso. G., (2005). The Network Society From Knowledge to Policy. Johns Hopkins Center : Washington Djamarah, Bahri, Syaiful. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga. Jakarta: PT. Reneka Cipta. Eriyanto, (2014). Analisis Jaringan Komunikasi. Jakarta : Kencana Goldsmith, S., & Eggers, W. D. (2004). Governing by network: The new shape of the public sector. Washington DC: Brookings Institution Press. Harris, T.E., & Nelson, M.D. (2008). Applied Organizational Communication. NY, London: Lawrence Erlbaum Associates. 206 Dinamika Komunikasi Littlejohn, Stephen W & Karen A. Foss.2009. Teori Komunikasi, edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika McNeal. R., Hale. K., Dotterweich. R., (2008). Citizen– Government Interaction and the Internet: Expectations and Accomplishments in Contact, Quality, and Trust. Journal of Information Technology & Politics, Vol. 5(2) : Routledge Nouh, M., & Nurse, J. R. C. (2016). Identifying Key-Players in Online Activist Groups on the Facebook Social Network. Proceedings - 15th IEEE International Conference on Data Mining Workshop, ICDMW 2015, 969– 978. https://doi.org/10.1109/ ICDMW.2015.88 Pace, R. Wayne dan Faules, Don F. (1998). "Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan", terjemahan Deddy Mulyana, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Pratama. B.I., (2017). Discourse Networking Analysis Sebagai Metode Penelitian Alternatif Dalam Kajian Ilmu Komunikasi: Universitas Brawijaya Van Dijk, J. (2006). The Network Society. Social Aspects of New Media. London: SAGE Publications Wasserman. S., Faust. K., (1999). Social Network Analysis: Methods and Applications. United Kingdom : Cambridge University Press PRIYONO SADJIJO Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) 9 Latar Belakang Teori Perkembangan teori pertukaran mulai mendapat perhatian pada 1950an. Tokoh utamanya adalah George Homans, yang menggunakan pendekatan behaviorisme psikologi Skinner dalam proses komunikasi manusia. Behaviorisme Skinner adalah sumber utama pemikiran Homans dan teori pertukarannya (Paloma 1984). Teori pertukaran sosial adalah salah satu teori yang sangat umum dalam ilmu komunikasi. Dalam teori ini melihat, perilaku sosial dilihat sebagai pencarian penghargaan dan penghindaran hukuman sosial. Individu melakukan interaksi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dasar teori pertukaran menjadikan objek analisisnya adalah hubungan antar pelaku. Oleh karena itu, pemikir teori pertukaran sosial melihat interaksi sosial dan struktur sosial yang dihasilkan oleh ikatan tersebut sebagai pusat dalam penelitian Komunikasi. Topik utama dalam teori ini antara lain sifat dan dampak dari hubungan antar aktor serta pembagian kekuasaan dalam struktur pertukaran sosial. Hubungan kekuasaan dan status antar aktor dalam berbagai struktur sosial yang berbeda dianggap penting dalam menentukan sifat perubahan struktural 207 208 Dinamika Komunikasi Mula-mula Homans tak segera memahami bagaimana proposisi yang dikembangkan Skinner untuk membantu menjelaskan perilaku merpati dapat bermanfaat guna memahami perilaku sosial manusia. Tetapi, ketika Homans selanjutnya melihat data hasil studi tentang kelompok-kelompok kecil dan hasil studi antropologi tentang masyarakat primitif, ia mulai memahami bahwa behaviorisme Skinner dapat diterapkan dan menyediakan alternatif terhadap gaya fungsionalisme struktural Parsonsian. Hal ini terwujud pada tahun 1961 dengan terbitnya buku Social Behavior: Its Elementary Forms. Karya ini mencerminkan kelahiran teori pertukaran sebagai sebuah perspektif penting dalam sosiologi yang kemudian dikembangkan dalam studi ilmu komunikasi. Pokok-pokok Teori Pertukaran Sosial Menurut Homans, jantung dari teori pertukaran terletak dalam studi interaksi dan perilaku individual. Ia sedikit sekali memperhatikan kesadaran atau berbagai jenis struktur dan institusi berskala besar yang menjadi sasaran perhatian. Perhatian utamanya lebih tertuju pada pola-pola penguatan (reinforcement), sejarah imbalan (reward), dan biaya (cost) yang menyebabkan orang melakukan apa-apa yang mereka lakukan. Homans menyatakan bahwa orang terus mengerjakan apa-apa yang di masa lalu mendapat imbalan. Sebaliknya, orang akan berhenti melakukan sesuatu yang telah terbukti menimbulkan kerugian individual. Dengan demikian sasaran perhatian sosiologi semestinya bukan pada kesadaran atau pada struktur dan institusi sosial, tetapi pada pola penguatan. Seperti terkesan dari namanya, teori pertukaran tak hanya memusatkan perhatian pada perilaku individu, tetapi juga pada interaksi antara individu yang menyebabkan terjadinya pertukaran Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 209 imbalan/hadiah dan kerugian. Dasar pikirannya adalah bahwa interaksi kemungkinan berlanjut bila ada pertukaran imbalan. Sebaliknya, interaksi yang menimbulkan kerugian terhadap salah seorang atau terhadap kedua belah pihak sangat kecil kemungkinannya berlanjut. Pernyataan teoritisi utama lain dalam teori pertukaran terdapat dalam buku Peter Blau, Exchange and Power in Social Life, terbit tahun 1964. Pada dasarnya Blau menerima perspektif Homans, tetapi ada perbedaan penting. Homans sudah puas dengan menerangkan bentuk-bentuk mendasar perilaku sosial. Blau ingin mengintegrasikannya dengan pertukaran di tingkat struktural dan kultural. Mula-mula diperhatikan pertukaran antara para aktor, tetapi segera beralih ke struktur lebih besar yang menimbulkan pertukaran itu. Studi Blau diakhiri dengan memperhatikan pertukaran di antara struktur berskala besar. Para pemikir teori pertukaran sosial menganggap kekuatan, sumber struktur kekuatan, dan dinamika kekuatan sebagai hal penting dalam perumusan teori mereka. Teori pertukaran sosial didasarkan pada beberapa teori sosial yang sudah ada sebelumnya seperti teori perilaku sosial, teori utulitarianisme, dan teori fungsionalisme. Para pendukung teori pertukaran sosial dalam disiplin Sosiologi antara lain Homans, Blau dan Emerson. Dalam Psikologi, penelitian Thibaut dan Kelley disebut sangat mirip dengan teori pertukaran sosial dengan penekanan penilitian tersebut terhadap sifat saling ketergantungan para aktor dan dampak sosial dari bentuk-bentuk ketergantungan yang berbeda. Para antropolog seperti Malinowsi, Mauss, Schenider, dan Levi-Strauss telah berkontribusi dalam munculnya teori ini. Selain mereka, dasar-dasar teori makroekonomi juga memiliki kesamaan 210 Dinamika Komunikasi dengan beberapa varian teori pertukaran sosial. Kecenderungan ini juga sangat jelas terlihat dalam karya Blau Exchange and Power in Social Life (1964) dan teori-teori yang dikembangkan sesudahnya. Luasnya warisan intelektual teori pertukaran sosial berperan dalam pentingnya teori ini dalam ilmu komunikasi. Esai Homans yang berjudul Social Behavior as Exchange (1958) memperjelas sifat teori ini dan membara teori ini dalam arus utama teori sosial. Penjelasan lebih lanjut dari esai Homans tersebut diterbitkan dalam buku yang berjudul Social Behavior: Its Elementary Forms (diperbarui 1974). Salah satu ciri yang mencolok dalam karya Homans tersebut adalah pengunaan sudut pandang kebahasaan dan dalil-dalil psikologi. Pengunaan dalil-dalil psikologi menimbulkan kontroversi. Khususnya pendapat Homans yang menyebut bahwa perilaku sosial bisa diperkecil menjadi perilaku-perilaku dasar psikologis. Menurut Homans “Dalil yang kita pakai adalah bersifat psikologis dalam dua hal: mereka didasarkan pada tindakan individu dan mereka disusun dan diuji oleh para psikolog”. Akan tetapi, Homans secara jelas mengambil dalil tersebut sebagai tujuan penelitian yang paling besar mengenai fenomena sosial. Penekanan terhadap perilaku sosial dan struktur sosial yang dibentuk dan diubah oleh interaksi sosial manunsia telah melanjutkan pengaruh teori pertukaran sosial. Dalam hal ini, Homan melihat bahwa perbedaan antara psikologi dan sosiologi secara dasar tidak ada. Awal penyusunan teori oleh Homans (1961) dan diperbarui pada tahun 1974 memasukan 5 dalil utama, dimana semuanya berdasarkan fakta bawa perilaku sebagai fungsi dari hadiah dan hukuman dalam kehidupan sosial. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 211 1. Dalil pertama adalah “dalil keberhasilan.” Dalil ini menyatakan bahwa semakin banyak sebuah aktifitas diberi hadiah, maka aktifitas tersebut akan makin sering dilakukan. Pada umumnya, perilaku yang memberikan dampak positif bagi sang pelaku akan memiliki kemungkinan besar untuk diulang. 2. Dalil kedua adalah “dalil rangsangan”. Dalil ini menjelaskan bawa lingkungan atau situasi yang sama akan merangsang perilaku yang sudah dihargai pada situasi yang sama di masa lalu. Hal ini memungkinkan perilaku untuk merespons secara umum terhadap situasi yang baru. 3. Dalil ketiga “dalil nilai” menjelaskan bahwa lebih bernilai hasil dari suatu tindakan kepada sang pelaku, maka tindakan tersebut akan lebih memungkinkan untuk dilakukan. Dalil ini dicocokkan dengan dalil ini dicocokan dengan dalil keempat berikut 4. Dalil keempat “dalil kehilangan-pemuasan”, dimana dalil ini memperkenalkan konsep pengurangan manfaat marjinal (Diminishing Marginal Utility). Berdasarkan dalil ini semakin sering seseorang menerima hadiah atas suatu perilaku maka kegunaan perilaku tersebut semakin berkurang. Karenanya, beberapa hadiah menjadi kurang efektif dalam mendorong perilaku tertentu, walaupun hal ini kurang benar mengenai hadiah dalm bentuk umum seperti uang dan kasih sayang atau hadiah apapun yang tidak akan mengalami kehilangan jika diberikan dalam jumlah besar. 5. Dalil yang kelima menjelaskan situasi dimana seseorang akan merespons secara emosional terhadap situasi hadiah yang berbeda. Dalil ini memiliki dua bagian. Orang yang tidak menerima hadiah yang mereka harapkan akan menjadi marah dan berperilaku aggresif, hal ini didasarkan pada penelitian Miller 212 Dinamika Komunikasi dan Dollard (1941) yaitu hipotesa “frustasi-agresi”. Orang yang menerima hadiah lebih banyak atau tidak menerima hukuman yang disangka akan menjadi senang dan berperilaku pantas. Dalil-dalil ini menjadi inti dari teori pertukaran sosial. Homans (1961) menggunakan teori ini untuk menjelaskan fenomena seperti penggunaan kekuasaan dan wewenang, kerjasama, kepatuhan, struktur pendirian dan interaksi, kepemimpinan, pembagian keadilan, dan munculnya stratifikasi sosial. Beliau menyebut fenomena sosial ini didasarkan pada sifat hubungan antar pribadi yang terlibat pada fenomena tersebut. Selain itu, dia menekankan bentuk dasar dari perilaku, atau apa yang beliau sebut sebagai analisis “subinstitusional”. Menurut Homans “Kita memahami secara utuh mengenai ciri dasar dari perilaku sosial dengan mengamati interaksi antar anggota dalam sebuah kelompok yang kecil dan informal.” Dengan mempelajari bentuk perilaku seperti itu, beliau berharap untuk menjelaskan dasar informal dari perilaku sosial yang lebih rumit dan sering berbentuk formal dan dan institusional. Yang beliau wariskan selain teori-teori beliau, juga penekanan beliau terhadap dasar sederhana dari struktur sosial dan perubahan sosial. Berbeda dengan Homans memusatkan perhatian terhadap bentuk dasar dari perilaku dan analisis di tingkat sub-institusional, Blau (1964) meninggalkan analisis di tingkat mikro untuk memusatkan perhatian pada tingkat institusional, berurusan dengan wewenang dan kekuasaan, konflik dan perubahan dalam konteks sistem pertukaran menjadi institusi. Beliau menolak pendekatan Homans yang terlalu menyederhanakan. Blau berpendapat bahwa “teori ini didasarkan pada sifat yang khas dari pertukaran, dimana Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 213 pertukaran tersebut tidak bisa disederhanakan atau didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi yang mempengaruhi motif-motif individu untuk berinteraksi, sebagaimana yang Homans coba untuk lakukan. Berlawanan dengan Homans, Blau menganggap bahwa struktur sosial memiliki ciri yang khas yang tidak bisa dijelaskan oleh proses melibatkan sub unit kecil. Oleh karena itu, Blau bertentangan dengan Homans dalam dua hal: 1. Pertama, teori Blau tidak didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi perilaku, justru beliau memperkenalkan penalaran mikroekonomi dalam analisis pertukaran sosial. 2. Kedua, beliau secara eksplisit memperkenalkan gagasan proses yang khas dalam teori beliau. Dimana tidak hanya menolak penyederhanaan ala Homans tetapi juga memperluas teori beliau melampau analisis sub-institusional. Blau (1964) mengembangkan cara berpikir untuk menganalisis struktur dan proses makro didasarkan pada perluasan teori beliau mengenai pertukaran sosial secara mikro. Didasarkan pada pemahaman Simmel mengenai kehidupan sosial, beliau menjelaskan bahwa struktur umum dari asosiasi sosial mengakar pada proses-proses psikologis seperti, ketertarikan (attraction), persetujuan (approval), saling-balas (reciprocation) dan tindakan rasional (rational conduct). Pembentukan kelompok, kohesi sosial, dan integrasi sosial dan juga proses dari perlawanan, konflil dan pembubaran. Bentuk-bentuk asosiasi sosial ini dibentuk oleh proses pertukaran kemudian membentuk struktur sosial yang rumit sepanjang waktu. 214 Dinamika Komunikasi Struktur sosial yang rumit ini kemudian diperhatikan oleh Blau karena mereka diciptakan dan diubah oleh proses kekuatan, dinamika legitimasi dan perlawanan politik. Kesamaan nilai memungkinkan pertukaran secara langsung yang akhirnya berujung pada sebuah tindakan yang dikoordinasikan dalam sebuah kelompok besar. Menurut Blau, mereka juga memberikan legitimasi terhadap keteraturan sosial. Sepanjang karya beliau, Blau membedakan dan membandingkan proses pertukaran sosial dalam struktur yang sederhana dengan proses pertukaran dalam struktur dan institusi sosial yang lebih rumit. Kekuatan sosial yang beliau analisis antara lain pembedaan (differentiation), integrasi, organisasi, dan perlawanan (opposition) yang menjadi unsru penting dalam penjelasan perubahan struktur sosial. Cara membangun struktur teori yang menjelaskan sebuah struktur sosial makro dan menjelaskannya secara khusus dalam sebuah teori mengenai struktur sosial mikro merupakan ciri khas karya-karya Blau (1974), dimana hal tersebut juga menjadi fokus penelitian komunikasi mengenai hubungan “makro-mikro” pada tahun 1980-an dan 1990-an, Ironisnya, Blau memantik perdebatan dengan menantang pendekatannya sendiri dalam karya-karya beliau yang selanjutnya. Dalam kata pengantar untuk edisi kedua Exchange and Power (1986), beliau berpendapat bahwa teori mikro dan teori makro “membutuhkan pendekatan dan konsep yang berbeda. Melalui perspektig yang berbeda mereka akan saling memperkaya satu sama lain.” Debat seperti ini tidak akan selesai karena memperdebatkan sifat inti komunikasi dan berhubungan dengan masalah yang lebih luas mengenai keunggulan objek analisis dan tingkat analisis tertentu juga berhubungan dengan masalah-masalah metodologis. Selanjutnya Blau dan Emerson Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 215 membuat kekuasaan (power) sebagai titik pusat analisis. Blau menganggap kekuasaan, wewenang, perlawanan, dan legitimasi sebagai topik inti dalam diskusi beliau mengenai struktur sosial makro dan dinamika perubahan struktural. Perkembangan Teori Teori Emerson (1962) mengenai hubungan yang bergantung kepada kekuasaan (power-dependence relations) sebagian digunakan oleh Blau (1964) untuk menjelaskan fenomena ketidak seimbangan kekuasaan (Power Imbalance) dan niat untuk kemerdekaan sosial (Social Independence). Untuk Emerson (1962), hal ini menjadi adalah suatu bentuk mekanisme penyeimbangan kekuasaan (Power balancing) dalam suatu masyarakat. Dalil utama dalam karya Emerson tersebut adalah kekuasaan, berfungsi sebagai ketergantungan antara satu aktor dengan aktor yang lain. Dalam hubungan pertukaran antara dua pihak, Kekuasaan satu pihak (pihak A) diatas pihak lain (B) berfungsi sebagai ketergantungan pihak B terhadap pihak A. Ketergantungan adalah sebuah nilai yang ditempatkan oleh salah satu aktor pada sebuah sumberdaya (atau perilaku yang dianggap baik), ditengahi oleh aktor lain ketersediaan sumberdaya tersebut dari sumber alternatif. Semakin banyak ketersediaan suatu sumberdaya dari aktor lain (atau sumberdaya alternatif), maka akan semakin rendah ketergantungan sang aktor terhadap aktor yang lain. Dua ciri dari pendekatan terhadap kekuasaan ini adalah penting: 1) Pendekatan ini menganggap kekuatan sebagai bentuk hubungan sosial dan bukan hanya ciri seorang aktor. 216 Dinamika Komunikasi 2) pendekatan ini menganggap kekuasaan sebagai kemungkinan saja , yang sewaktu-waktu digunakan atau tidak. Konsep ini menjadi dasar bagi karya-karya berikutnya mengenai pertukaran dan kekuasaan. Emerson memperluas teorinya mengenai kekuasan dan ketergantungan untuk melingkupi teori pertukaran sosial yang lebih luas. Karya beliau menggabungkan pendekatan Homans (1961) dan Blau (1964). Dalam perumusan asli, Emerson mengadopsi istilah dan prinsip psikologi perilaku untuk merumuskan sebuah teori mengenai hubungan sosial. Akan tetapi, secara cepat melampaui dasar-dasar psikologi perilaku untuk merumuskan dalil-dalil yang lebih runit mengenai munculnya berbagai jenis struktur sosial. Disini beliau mengambil pusat dari karya-karya Blau dan juga perhatian untuk ciri-ciri yang muncul dan struktur sosial yang rumit. Emerson, seperti Blau melihat tugas utama dari teori pertukaran sosial adalah sebagai penciptaan cara berpikir dimana variabel dependen utama adalah struktur sosial dan perubahan struktur. Tugas tersebut secara jelas ingin memasukkan mengenai keadaan psikologi para aktor. Karya Emerson dan Cook yang selanjutnya mengadopsi lebih banyak perspektif mengenai keadaan kognitif para aktor yang terlibat dalam pertukaran sosial. Teori pertukaran sosial awalnya berfokus kepada dua hal tersebut, telah memperlua penerapan analisis mengenai jaringan pertukaran (exchange networks). Baik Homans dan Blau mengenali banyaknya jaringan sosial dan beragamnya bentuk asosiasi sosial, tetapi Emerson membuat jaringan dan kelompok-kelompok bersama sebagai pusat dari peneletian teoretis Emerson. Emerson menjelaskan dua jenis hubungan antar pertukaran: hubungan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 217 negatif dan hubungan positif. Dua hubungan terhubung sacara negatif apabila besar atau jumlah pertukaran berkorelasi secara negatif dengan besar atau jumlah pertukaran yang lain. Pada dasarnya, dua hubungan adalah alternatif satu dengan lainnya. Misalnya, Jika seorang penyalur mendapatkan sesuatu barang dalam pertukarannya dengan seorang pengrajin, maka dia tidak akan perlu untuk mendapatkan barang dari pengrajin lain. Hubungan yang terhubung secara negatif ini bersifat kompetitif. Berlawanan dengan hubungan sebelumnya, ketika dua hubungan pertukaran terhubung secara positif, maka pertukaran dalam sebuah hubungan akan meningkatkan hubungan pertukaran lainnya. Misalnya sumberdaya yang digunakan oleh salah satu pihak untk mendapatkan sesuatu dari pihak lain dapat digunakan untuk mendapatkan barang dari pihak ketiga. Dalam hal ini terjadi hubungan positif dan dua hubungan pertukaran tersebut secara positif berkorelasi. Hubungan pertukaran seperti ini lebih bersifat kooperatif daripada kompetitif dan menjadi dasar bagi beberapa jenis pembagian kerja (division of labor) dan spesialisasi dalam jaringan-jaringan pertukaran. Pemikir-pemiki selanjutnya seperti Willer (1987), Markovsky et al. (1988), Bonacich (1986), dan Yamaguchi (1996) telah mengembangkan cara lain untuk mengklasifikasi jenis-jenis hubungan pertukaran sosial. Beberapa dari karya tersebut akan dijelaskan dibawah ini (Ritzer 2007). Konsep kunci dari teori pertukaran kekuasaan Emerson adalah ide bahwa hubungan pertukaran dapat menjadi seimbang atau tidak seimbang. Ketidakseimbangan kekuasaan menghasilkan ketidak seimbangan hubungan kekuasaan antara dua aktor atau lebih. Sebuah hubungan kekuasaan menjadi seimbang apabila kedua pihak sama-sama tergantung terhadap pertuakran (atau sebuah 218 Dinamika Komunikasi sumberdaya) antara stu dengan lainnya. Jika mereka sama-sama tergantung maka mereka akan memiliki kekuasaan yang sama. Ide utama adalah kekuasaan didasarkan pada ketergantungan yang memungkinkan adanya jalan dimana ketergantungan diubah untuk mempengaruhi keseimbangan kekuasaan dalam hubungan pertukaran dan dalam jaringan-jaringan hubungan pertukaran. Emerson merumuskan empat mekanisme untuk menyeimbangkan kekuasaan yang digunakan oleh hubungan pertukaran dan jaringan-jaringan pertukaran baik untuk mengubah atau mempertahankan susunan struktural dan pembagian kekuasaan dalam jaringan tersebut. Pembentukan koalisi adalah salah satu mekanisme dimana aktor-aktor yang tidak memiliki kekuasaan yang memadai dapat mendapatkan keunggulan melalu kerjasasama. Akan tetapi tidak semua koalisi adalah sebuah bentuk kerjasama. Dalam karya-karya beliau yang selanjutnya, Emerosn menjelaskan jenis-jenis koalisi yang terbentuk antar beberapa aktor yang berkuasa (seringkali disebut “kolusi”) atau antara aktor yang berkuasa dengan beberapa aktor yang kurang berkuasa (sering disebut dengan strategi belah bambu atau divide et impera). Pembagian kerja (Division of Labor) atau spesialisasi dalam sebuah jaringan kemungkinan akan berperan sebagai mekanisme penyeimbang kekuasaan, karena bisa menghasilkan perubahan pembagian kekuasaan dalam sebuah jaringan melalui perubahan pembagian sumberdaya dan sifat dari susunan struktur sosial. Misalnya dua penghasil dari sebuah sumberdaya yang sama akan bersaing untuk berspesialisasi dan memberikan pelayanan yang berbeda sampai mereka menjadi berbeda dan tidak kompetitif lagi dalam sebuah jaringan pertukaran. Perluasan jaringan juga bisa mengubah keseimbangan kekuasaan dalam sebuah jaringan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 219 seperti kemunculan aktor baru untuk menjadu partner pertukaran. Dan lagi, ketika strategi lain tidak bisa dijalankan, maka aktor dapat mengurangi nilai suatu sumberdaya yang didapatkan dari aktor lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap aktor lain tersebut. Strategi ini seringkali menjadi awal dari keluaranya aktor yang tergantung tersebut dari hubungan pertukaran. Beberapa pemikir telah melanjutkan teori ini, dengan menjelaskan prediksi pembagian kekuasaan dalam struktur pertukaran yang berbeda dan tindakan yang mengubahnya. Perluasan yang lain dari teori pertukaran awalnya dikembangkan oleh Emerson dan berfokus pada hubungan antara struktur sosial dan proses sosial serta dasar-dasar kekuasaan. Dalam penelitian besar sepanjang 10 tahun, menyelidiki peran pemaksaaan dalam pertukaran sosial. Karya Emerson dan banyak dari pemikir teori pertukaran sosial secara khusus berfokus kepada kekuatan hadiah (reward) atau kendali atas jasa dan barang yang dianggap berharga. Kekuasaan untuk memaksa (Coercive Power) adalah kemampuan untuk mengendalikan kejadian-kejadian yang buruk (misalnya menahan hadiah) atau memberikan hukuman kepada yang lain dalam sebuah hubungan pertukaran. Tidak seperti kekuasaan hadiah, kekuasaan paksaan kurang digunakan dalam pertukaran sosial, terutama oleh mereka yang memiliki keunggulan kekuasaan dimana dipahami sebagai sesuatu yang tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apapun. Ketakutan akan balasan juga menjadi penghambat penggunaan kekuasaan untuk memaksa. Penggunaan kekuasaan paksaan juga lebih berdampak besar karena memaksa partner pertukaran untuk merugi selain opportunity cost yang besar. Salah satu keberhasilan adalah mampu untuk mengembangkan analisis ketergantungan untuk mema- 220 Dinamika Komunikasi sukkan bentuk-bentuk paksaan. Semenjak hubungan-hubungan pertukaran seringkali melibatkan kendali baik atas hal-hal yang dianggap penting dan dihindari oleh kedua pihak, hal ini dianggap sebegai perluasa yang signifikan bagi teori pertukaran sosial. Pengembangan terbaru dalam teori pertukaran antara lain penyusunan dalil mengenai penggunaan kekuasaan dalam jenis-jenis struktur jaringan pertukaran yang berbeda dan penjelasan mengenai faktor-faktor yang menentukan penggunaan kekuasaan. Faktor-faktor ini antara lain keadilan pembagian hasil, komitmen yang muncul antar aktor, pembentukan koalisi, strategi-strategi tindakan dana apakah kekuasaan yang dipakai merupakan kekuasaan hadiah atau hukuman. Perkembangan yang lebih kini lebih memfokuskan kepada metodologi untuk menjelaskan struktur jaringan yang rumit. Ketertarikan dalam topik ini lebih didorong oleh potensi untuk menggabungkan teori kekuatan dengan model jaringan dari struktur sosial (lihat Cook 1987; Cook dan Whitmeyer 1992). Daerah lain dari kerja teoretis dan empirisi saat ini adalah penjelasan model dinamis dari penggunaan kekuassan dan perubahan struktural yang memasukkan model yang lebih rumit dari aktor-aktor yang terlinat dan strategi yang mereka jalankan dalam usaha mereka untuk mendapatkan sumberdaya dan jasa yang berguna untuk mereka. Usaha teoretis dan empirsi ini akan berguna jika teori pertukaran sosial berhasil memenuhi tujuannya untuk menyedian pendekatan untuk menghubungkan teori mikro mengenai aksi dan interaksi dengan penjelasan tingkat makro mengenai proses dan struktur perubahan sosial, sebuah agenda yang awalnya dimulai oleh Homans, Blau, dan Emerson. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 221 Penerapan dan Keterkaitan Teori Penggunaan teori pertukaran sosial untuk memahami berbagai macam fenomena sosial telah tumbuh dalam dua dekade terakhir. Penerapan awal berfouks kepada penjelasan mengenai awal dan akhir dari hubungan sosial dalam lingkungan kerja, keluarga, dan hubungan kencan dan romantis. Topik yang menarik perhatian para peneliti komunikasi termasuk hadirnya keadilan dalam hubungan pertukaran sosial dan hubungannya kepada kepuasan dan pemutusan hubungan, penggunaan kekuasaan dalam hubungan sosial berdasarkan kendali atas hadiah dan biaya, penggunaan kekuasaan serya peran koalisi dalam mengubah keseimbangan kekuasaan antar aktor dalam sebuah jaringan atau antar individu dalam sebuah organisasi. Di luar penerapan terhadap lingkungan keluarga dan kerja, teori pertukaran telah diterapkan dalam berbagai konteks yang berbeda seperti studi organisasi dan antarorganisasi. Semenjak organisasi membutuhkan sumber daya dari entitas lainnya, banyak dari waktu mereka didedikasikan untuk mengatur ketergantungan tersebut secara strategis. Perspektif ketergantungan sumberdaya (resource dependent perspective) dalam bidang organisasi menunjukkan sebuah penerapan langsung dari cara berpikir teori pertukaran terhadap tindakan-tindakan strategis sebuah organisasi serta unit-unit terkecil mereka (misal dalam tingka divisional). Bidang sosiologi ekonomi yang terus berkembang sekarang mengambil beberapa ide dari teori pertukaran soisal untuk menjelaskan kemunculan bentuk-bentuk jaringan dari organisasi dan sifat dari proses kekuasaan yang hadir dalam jaringan-jaringan tersebut. Dampak jaringan dalam perilaku pekerja, peran informal antar organisasi, organisasi kelompok-kelompok bisnis, serta terbentukan 222 Dinamika Komunikasi jaringan internasional yang melintasi batas-batas tradisional dan nasional aktiviras ekonomi adalah topik inti dari sosiologi ekonomi. Beberapa dari usaha ini termasuk meahami dampak dari lokasi jaringan pada hasil dan strategi-strategi yang digunakan para aktor untuk meningkatkan daya tawar dan pengaruh. Usaha-usaha ini didasarkan sebagian dari cara berpikir power-dependence yang diperkenalkan Emerson dan Blau kepada teori pertukaran. Penerapan lain dari teori pertukaran termasuk diantaranya usaha yang lebih luas untuk menyelidiki keseimbangan kekuasaan dalam industri kesehatam, peran strategis dari perusaan asuransi dan respons dokter terhadap hilangnya kekuasaan dan otonomi. Beberapa peneliti telah mencoba utk menganalisa sifat dari rujukan dokter melalui pendekatan jaringan pertukaran dan untuk mencirikan sifat dari interaksi antara dokter dengan pasien sebagai hubingan pertukaran dimana kekuasaan berlangsung secara tidak seimbang dan kepercayaan berperan penting dalam penyeimbangan kekuasaan tersebut. Sang pasien harus memeprcayakan nasibnya pada sang dokter dan percaya sang dokter tidak menimbulkan bahaya. Penggunaan di masa depan dari teori pertukaran sosial mengenai interaksi dan jaringan pertukaran dalam bidang lain akan membantu menjelaskan dan memperluas dasar teori ini. Meskipun selama beberapa tahun terungguli oleh Homans dan Blau, Richard Emerson (1981) akhirnya muncul sebagai tokoh central teori pertukaran. Ia menjadi penting terutama karena upayanya mengembangkan pendekatan mikro-makro yang lebih terpadu. Kini teori pertukaran berkembang menjadi lembaran penting teori komunikasi dan terus menarik perhatian pengamat baru dan menempuh arah baru. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 223 Daftar Pustaka Johnson, Doyle Paul (1986) Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid I dan Jilid II. Diindonesiakan oleh Robert M.Z. Lawang. Jakarta: Gramedia. Perdue, William D. (1986) Sociological Theory: Explanation, Paradigm and Ideology. Califormia: Mayfield Publishing Perrot, Francois (2017) “Multinational Corporations’ Strategies at the Base of the Pyramid: An Action Research Inquiry. J Bus Ethics 146:59–76 DOI 10.1007/s10551-015-2785-z Poloma, Margaret M. (1984) Sosiologi Kontemporer. Diterbitkan bekerja sama dengan Yayasan Solidaritass Gajah Mada. Jakarta: Rajawali Pers Ritzer, George dan Douglas J. Goodman (2004) Teori Sosiologi Modern. Edisi Keenam . Jakarta: Prenada Media Ritzer, Goerge (2007) Contemporary Sociological Theory and Its Classical Roots. New York: Mac Graw Hill Ritzer, George dan Douglas J. Goodman (2013) Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir. Edisi Terbaru. Bantul: Kreasi Wacana Turner, Jonathan H. (1998) The Structure of Sociological Theory. California: Wardsworth PRIYONO SADJIJO Interaksionisme Simbolik 10 I stilah interaksionisme simbolik pertama kali dikemukakan oleh Blumer pada tahun 1937 untuk menjelaskan suatu istilah yang berhubungan antara pikiran, diri dan masyarakat yang menjadi dasar tulisan George H. Mead yang terkenal Mind, Self and Society (1934). Meskipun dalam perkembangannya, interaksionisme simbolik tidak secara khusus berhubungan lagi dengan pemikiran keduanya. Ide-ide interaksionisme-simbolik didasarkan pada tradisi filsafat terutama filsafat skotlandia seperti Adam Smith, David Hume, Adam Ferguson, dan Francis Hutcheson serya Charles Perice, William James, dan John Dewey. Mereka juga memiliki campuran-campuran dialektik. Pemikiran Mead bersinggungan dengan para ahli di awal abad ke 20 seperti Charles Horton Cooley dan William Isaac Thomas. Aksioma Cooley yang menyatakan bahwa masyarakat dan individu adalah dua sisi dari koin yang sama (koinnya menurut beliau adalah komunikasi) dan Thomas yang menyatakan bahwa jika manusia mendefiniskan situasi sebagai kenyataan, maka kenyataan tersebut akan nyata dalam dampaknya. 225 226 Dinamika Komunikasi Para ahli lain yang menghubungkan masa lalu dengan masa ini antara lain Burgess, Blumer, Waller, Sutherland, Hughes, Shibutani, Kuhn, Cottrell, Hill, Lemert, Lindesmith, Mills, Miyamoto, dan Stone menghubungkan dengan para peneliti yang ada di jaman ini seperti Goffman, Lofland, Becker, Lopata, Strauss, Geer, Weinstein, Farberman, Couch, Denzin, Bart, Maines, Reynolds, Turner, Daniels, Scheff, Wiseman, Heise, Stryker, Burke, Heiss, Fine, Hochschild, Weiger, McCall, Snow, dan Hewitt (untuk pembahasan mengenai sejarah dan karya tulis mengenai interaksionisme simbolik. Lihat Striker dan Statham 1985; Meltzer et al. 1975; Reynolds 1990; Lewis dan Smith 1980). Kehadiran para peneliti ini dalam satu daftar yang sama bukan menunjukkan kesamaan antara mereka; banyak terdapat perbedaan konseptual juga dengan kesamaan diantara mereka. Gambaran Mendasar Interaksionisme Simbolik Ciri-ciri yang paling mendasar dari pemikiran Interaksionisme Simbolik adalah munculnya proposisi teoritis bahwa diri manusia adalah cerminan masyarakat dengan perilaku yang terorganisasi, serta gambaran hubungan hakekat masyarakat dengan manusia, hakekat tindakan dan interaksi, serta tindakan manusia dengan pribadi. Pemikiran interaksionisme simbolik dimulai dengan gambaran masyarakat sebagai jaringan besar komunikasi: bahwa masyarakat adalah interaksi itu sendiri, pengaruh resiprokal diantara orang yang melakukan tindakan dan karakteristik orang yang saling berinteraksi sebagai bentuk komunikasi. Interaksi adalah “simbolik” dimana makna-makna orang tersebut berkembang selama mereka saling tergantung. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 227 Lingkungan tindakan dan interaksi manusia didefinisikan secara simbolis: adalah lingkungan yang ditafsirkan sebagai konteks, bentuk, obyek tindakan dan bentuk interaksi. Orang-orang bertindak dengan merujuk pada satu simbol dan berkomunikasi dengan simbol tersebut. Masyarakat bertugas mengumpulkan dan menyimpulkan interaksi tersebut. Masyarakat tidak ada, melainkan hanya diciptakan dan secara berulang dilahirkan kembali ketika orang-orang berinteraksi. Kenyataan sosial adalah kejadian yang dilakukan diantara dua atau tiga orang lebih. Lebih dari sekadar dihasilkan dari proses sosial, masyarakat dan orang-orang berasal dari proses tersebut: Mereka mengambil makna ketika makna tersebut muncul melalui interaksi sosial. Sebelumnya masyarakat maupun individu tidak ada; orangorang menciptakan masyarakat melalui interaksi sosial, tetapi masyarakat – sebuah jaringan komunikasi dan interaksi – menciptakan orang-orang sebagai makhluk sosial. Masyarakat dan Individu mengandaikan satu sama lainnya; keduanya tidak ada kecuali dalam hal hubungan antara keduanya. Konsep tentang masyarakat ini melibatkan pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir dan refleksif, yaitu manusia bisa dan sering menjadikan diri mereka sendiri sebagai obyek refleksi diri, yang akhir menciptakan “diri” (selves) dan orang lain yang akan berinteraksi dengan mereka. Diri adalah produk sosial walaupun mereka lebih dari sekadar penilaian orang lain melalui diri sendiri dalam sebuah interaksi. Khususnya, diri melibatkan orang-orang sebagai subyek yang merespon pada diri mereka sendiri sebagai obyek. Proses berpikir terjadi dalam bentuk percakapan internal yang menggunakan simbol yang berkembang dalam proses sosial. 228 Dinamika Komunikasi “Pikiran” (mind) muncul baik dalam kesadaran evolusioner maupun kesadaran diri untuk merespons masalah (gangguan dalam aktivitas) dan melibatkan penyusunan dan memilih secara simbolis tindakan-tindakan alternatif yang dianggap bisa menyelesaikan masalah tersebut. “Pilihan” (Choice) adalah kenyataan kondisi manusia yang ada dimana-mana, sedangkan isi dari pilihan berada dalam pengalaman subyektif seseorang yang berkembang melalui pengalaman bersama proses sosial. Mengikuti perumpamaan ini adalah pandangan yang melihat manusia -baik secara kolektif maupun individual sebagi aktif dan kreatif daripada hanya merespons terhadap rangsangan lingkungan. Lingkungan tindakan dan interaksi manusia bersifat simbolik; karena simbol yang menempel pada orang-orang, benda-benda dan ide adalah produk interaksi dan refleksivitas serta bisa diubah dan dimanipulasi selama inetraksi tersebut berlangsung; Selain itu karena pikiran dapat digunakan untuk mengantisipasi keberhasilan dari tindakan-tindakan untuk mengatasi masalah. Dan karena pilihan diantara alternatif yang ada adalah ciri yang tidak terpisahkan dari tindakan sosial, maka kita bisa mendapatkan kesan bahwa interaksi sosial dibangun selama interaksi tersebut berlangsung.Selain itu juga timbul kesan bahwa proses berjalan serta hasil dari interaksi sosial tidak bisa diprediksi. Kerangka Kerja Interaksionisme Simbolik Perspektif interaksionisme simbolik sesungguhnya tidak tepat jika diberi nama sebagai “teori” karena lebih berisi asumsi dan konseptualisasi daripada dalil-dalil mengenai cara kerja dunia nyata. Oleh karena itu interaksionisme simbolik lebih tepat di- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 229 sebut sebagai kerangka teoretis. Walaupun seringkali beberapa ahli menggunakan kerangka teori untuk menjelaskan teori, teori tertentu (Tidak mungkin membahas teori-teori tesebut tanpa mencirikan penelitian yang didasarkan pada kerangka interaksionisme simbolik. Dalam beberapa karya (misal Blumer,1969) teori interaksionisme simbolik ditujukan sebagai kerangka umum yang bisa diterapkan kepada berbagai masalah komunikasi mulai dari level mikro sampai level makro. Dalam karya lain (misal Stryker 1980) kerangka ini dibatasi dalam masalah-masalah psikologi sosial. Pendapat pertama telihat tidak absah karena kerangka teori mencoba untuk memfokuskan pada satu masalah dan meninggalkan masalah lainnya karena kerangka interaksionisme simbolik menyoroti interaksi, aktor-aktor sosial yang berhubungan melalui interaksi tersebut dan variable subjektif yang ada didalam aktor-aktor tersebut. Kerangka ini meninggalkan ciri dari bidang komunikasi yang berhubungan dengan sistem sosial skala besar (negara, ekonomi, sistem dunia, variabel kependudukan dan lainlain) dan tidak bisa menghasilkan pertanyaan komunikasi yang melibatkan hubungan antara sistem sosial skala besar seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Penelantaran ini membuat kerangka interaksionisme simbolik dikritik sebagai kerangka yang tidak mampu menganalisis kekuatan dan dianggap sebagai pembelaan ideologis terhadap status quo. Konsep Inti Tersirat dari deskripsi kerangka interaksionisme simbolik diatas adalah konsep-konsep inti dari kerangka tersebut. Arti dari makna (meaning) adalah penting. Secara istilah, tindakan sosial (social acts) melibatkan setidaknya dua orang berbicara satu sama 230 Dinamika Komunikasi lain untuk memuaskan keinginan atau menyelesaikan masalah. Karena tindakan sosial terjadi sepanjang waktu sikap (gestures) – bagian dari suatu tindakan yang menyatakan akan ada tindakan lain – bisa muncul. Suara, pergerakan fisik, sikap tubuh, pakaian dan selanjutnya bisa berperan sebagai sikap. Ketika sikap berperan, maka sikap-sikap tersebut bisa memberikan makna: makna mereka ada “I” perilaku yang mengikuti penampilan mereka. Sikap yang memiliki makna yang sama (jika sama dengan perilaku di masa depan) dengan mereka yang membuat dan melihat sikap tersebut, maka sikap tersebut akan menjadi “simbol penting” (significant symbols). Benda, ide, dan hubungan antara benda dan ide bisa dijadikan simbol dan memasuki pengalaman manusia seabagi obyek; obyek yang maknanya ada dan muncul dari interaksi sosial merupakan kenyataan (social reality). Walaupun makna tidak mungkin sama antar pelaku interaksi, komunikasi dan interaksi sosial mengandaikan simbol-simbol penting untuk dibagikan antar pelaku interaksi. Karena simbol-simbol penting tesebut memperkirakan perilaku selanjutnya, mereka memerlukan rencana untuk bertindak: mereka mempersiapkan perilaku sesuai apa yang perilaku tersebut simbolkan. Dalam konteks proses sosial yang sedang berjalan, makna harus setidaknya sementara ditempatkan pada keadaan interaktif dimana orangorang menempatkan diri mereka sendiri. Tanpa penempatan makna, perilaku dalam situasi tersebut lebih mungkin menjadi berantakan atau bersifat acak. Situasi dan bagian-bagian dari situasi tersebut harus disimbolisasikan. Situasi tersebut harus dijelaskan atau ditafsirkan dan hasil dari simbolisasi tersebut adalah definisi dari situasi tersebut. Definisi-definisi tersebut memusatkan perhatian pada yang berhubungan (memuaskan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 231 keinginan atau menyelesaikan masalah) dalam sebuah keadaan yang interaktif dan mengijinkan mengelompokan tindakan yang sesuai dengan keadaan tersebut. Definisi semenara diuji dan disusun lagi selama pengalaman berlangsung. Dari sudut pandang para pelaku interaksi, aspek paling penting dari keadaan adalah siapa atau jadi apa para aktor tersebt dalam suatu interaksi serta siapa yang berinteraksi dengan mereka. Menjelaskan aktor lain dalam keadaan biasanya dilakukan dengan menempatkan mereka sebagai anggota dari kategori kelompok yang bisa dikenali secara sosial. Satu (atau lebih) jenis dari orang-orang tersebut bisa untuk berada dalam masyarakatnya (misal laki-laki atau perempuan muda atau tua, bekerja atau menganggur). Ketika perilaku tersebut menjadi rutin dan terorganisir, hal itu juga mencitpakan kembali struktur sosial yang ada. Walapun beberapa pemikir interaksionis menolak teori harapan tersebut, harapan yang ada di dalam kategori sosial (jenis-jenis orang yang bisa ada dalam suatu masyarakat) disebut peran. Keadaan memungkinkan seseorang untuk menemukan orang lain dalam kategori sosial yang berbeda dan membuka kemungkinan harapan yang berbeda akan muncul. Dalam keadaan ini tidak ada cara untuk mengelompokkan respons. Medefiniskan diri dalam suatu keadaan juga mengharuskan untuk menempatkan diri dalam beberapa kategori sosial yang sudah disebutkan sebelumnya, untuk merespon terhadap refleksi diri dengan cara mengelompokkan, menamai, dan memperjelas siapa atau apa diri ini (self). Diri, dipahami dengan cara ini dilakukan dengan melihat diri sendiri sebagai obyek. Makna diri (seperti objek yang lain) dilihat berdasarkan interaksi: Untuk memiliki diri diharuskan untuk melihat diri dari sudut pandang orang lain yang 232 Dinamika Komunikasi berinteraksi dengan kita. Diri, juga seperti simbol penting (significant symbol) memberikan rencana tindakan. Rencana tersebut melibatkan tanggapan yang diharapkan dari orang lain. Orang-orang mempelajari (setidaknya sementara waktu), apa yang bisa diharapkan dari orang lain melalu proses role taking (mengambil peran) sebuah proses mengantisipasi tanggapan seseorang dalam interaksi dengan orang lainnya. Sebenarnya, seseorang menempatkan diri mereka pada tempat orang lain untuk melihat dunia berdasarkan pandangan orang tersebut, dengan menggunakan pengalaman sebelumnya bersama mereka, pengetahuan mengenai kategori sosial tempat orang lain tersebut dan petunjuk simbol yang ada dalam interaksi sebelumnya dengan orang tersebut. Berdasarkan petunjuk tersebut penjelasan sementara dari sikap orang lain disusun untuk kemudian dibenarkan atau dibentuk lagi dalam proses interaksi. Tindakan role taking memungkinkan seseorang untuk mengantisipasi dampak dari tindakan sendiri dan rencana tindakan orang lainm mengawasi hasil dari rencana tersebut ketika rencana tersebut dijalankan serta mempertahankan atau mengubah perilaku seseorang berdasarkan pengawasan tersebut. Karena peran sering kurang konsisten dan kurang jelas, sementara para aktor harus mengelompokan perilaku mereka seolah-olah perilaku bersifat tegas, maka interaksi juga berperan dalam role making, menciptakan dan memodifikasi peran (roles) dengan menciptakan penampilan sesuai dengan peran yang dihubungkan denga orang lain (Turner 1962). Banyak tindakan sosial terhadi dalam sistem-sistem tindakan yang disatukan; akibatnya baik mengambil peran dan membuat peran bisa terjadi dengan merujuk kepada generalized others Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 233 (orang lain yang terhubung dengan orang lainnya (Mead memberikan contoh dengan sikap pemain basket yang mengantisipasi teman satu tim dan pemain tim lawan). Tidak semua perspektif memiliki relevansi yang sama bagi sang aktor; konsep orang dekat (significant other) mengindikasikan bahwa bebrapa orang akan diberikan perhatian yang lebih besar ketika ada sudut pandang yang berbeda atau tidak sesuai. Disini tersirat bahwa makna tidak akan dibagi secara luas atau dibaikan secara detil; jika tidak seperti itu, ketepatan dalam mengambil peran dan kesulitan dalam membuat peran juga akan bervariasi. Selain itu juga tersirat bahwa hubungan antar orang yang lancar dan kooperatif tidak selalu mengikuti peran yang diambil dan konflik mungkin muncul berdasarkan peran tersebut. Kesamaan dan Variasi Jadi tidak ada satu versi dari interaksionisme simbolik yang dapat memuaskan mereka yang ingin menggunakan kerangka ini sebagai dasar penelitian dan analisis. Ada tiga dasar pikiran dari perspektif interaksionisme simbolik (Stryker 1988). Pikiran pertama adalah perilaku sosial manusia harus memasukkan perspektif peserta perilakudan tidak hanya mengandalkan perspektif pengamat. Pikiran kedua adalah reflekis seseorang terhadap diri sendiri berhubungan dengan kehidupan sosial orang tersebut. Pemikiran ketiga menyatakan bahwa proses interaksi sosial ada sebelum diri dan organisasi sosial, dimana keduanya berasal dari interaksi sosial. Masing-masing dasar pikiran ini meninggalkan masalah penting mengenai isi, metode dan tujuan penelitian dimana para pemikir interaksionis simbolik berbeda pendapat. Beberapa ahli yang ber- 234 Dinamika Komunikasi pikir berdasarkan tiga dasar diatas mempercaya bahwa kehidupan sosial sangat cair (fluid) sehingga hanya bisa dijelaskan melalui penjelasan proses dimana konon struktur sosial dan organisasi sosial mengingkari kenyataan kehidupan sosial. Berhubungan dengan hal tersebut, beberapa ahli percaya bahwa penjelasan oleh aktor (yang secara teoretis bersifat sentral dan kuat serta menjadi penghasil tindakan) dibuat secara berulang selama interaksi, menjadikannya sulit untuk menganalisis struktur sosial dengan menggunakan konsep yang sudah ada (Blumer 1969). Ahli lain lain menerima kenyataaan fenomena struktur sosial, melihat bahwa struktur sosial memiliki pola interaksi sosial yang lebih stabil yang berperan sebagai pembatas definisi oleh aktor. Struktur sosial dianggap cukup melanjutkan definisi untuk memungkinkan menggunakan konsep dari analisis masa lalu mengenai interaksi masa lalu dan masa depan (Stryker 1980). Dasar pemikiran pertama diatas menyembunyikan perbedaan penting antara mereka yang mempercayai bahwa karakter perilaku sosial yang diberikan hanya dapat dipahami setelah perilaku tersebut dilakukan (after the fact) dan mereka yang percaya bahwa sosologi dapat memberikan prediksi dan penjelasan perilaku sosial yang bisa diuji (Kuhn 1964). Sama dengan hal diatas, beberapa berpendapat bahwa sudut pandang pengamat untuk perilaku manusia mungkin membelokkan cerita perilaku tersebut dan karenanya harus dilarang dalam pencarian untuk menangkap sudut pandang mereka yang terlibat dalam perilaku sosial (Denzin 1970), Sosiolog lain berpendapat bahwa syarat cerita tersebut memasukkan sudut pandang aktor hanya penjelasan dari para aktor yang perilakunya diamati harus dimasukkan dalam penjelasan bukan tetapi bukan menjadi penjelasan secara keseluruhan (Burke 1991). Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 235 Kelompok pertama berpendapat bahwa metode yang absah hanya metode alami (naturalistic), terutama melalui pengamatan; kelompok kedua cenderung lebih beragam dalam metode, menolak untuk mengesampingkan metode apapun selama bagian dari metode ilmu sosial. Sesuai dengan dasar pemikiran kedua, penganut interaksionisme simbolik berbeda dalam hal penempatan peran yang berperan pada diri sendiri sebagai hubungan antara organsiasi sosial dan struktur sosial dengan perilaku sosial. Bagi banyak ahli, diri (self) bisa menjadi sumber tungga; dari perilaku tersebut. Bagi ahli lain, organisasi dan struktur sosial (sebagai sisa interaksi sebelumnya) dibangun berdasarkan penglihatan diri, dimana diri berperan sebagai pengantar tempat struktur sosial membentuk perilaku, bukan sebagai sumber perilaku. Serupa dengan hal diatas, ada beberapa perbedaan antar pemikir interaksionisme-simbolik mengenai apakah diri sebagai sumber kreativitas dan sesuatu yang baru dalam kehidupan sosial, kemudian sampai tingkat mana kreatifivtas dan hal baru dalam hidup sosial dianggap pasti ada daripada hanya dianggap kemungkinan (hanya terjadi dalam keadaan sosial tertentu) dan sampai mana kehidupan sosial dibangun sebagai hal yang baru daripada hanya pembangunan ulang dari kehidupan sosial yang sebelumnya. Dasar pemikiran ketiga ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai pengingkaran terhadap kecukupan organisasi sosial dan diri sebagai konsep dasar pengembangan teori yang menjadi dasar penelitian (Glaser dan Strauss 1967). Dasar pemikiran ini tidak menolak bahwa ada ketetapan baik dalam diri maupun organisasi sosial untuk memungkinkan terciptanya teori yang berguna dan menggunakan konsep-konsep umum yang bisa diterapkan pada berbagai jenis perilaku sosial. 236 Dinamika Komunikasi Beberap menekankan elemen perilaku berdasarkan warisan pemikiran dari Mead, memusatkan perhatian kepada bagaimana jalur-jalur tindakan sosial dibangun, sementara ahli lain mengambil sikap yang mengikuti duna fenomena aktor yang mereka teliti (Denzin 1984). Secara jelas kemungkinan-kemungkinan ini tidak saling terlepas satu sama lainnya: Mereka yang mempercayai pandangan yang menekankan kelenturan kehidupan sosial dan karakter aktor yang tergantung situasi juga akan mungkin menekankan sampai pani keteraturan sosial hadir dari kelenturan kehidupan sosial tersebut, diri (self) mengelompokkan perilaku sosial dalam cara yang tidak terkendali, dan kreativitas serta hal-hal yang baru mencirikan perilaku manusia. Mereka juga seringkali bersikeras bahwa sudut pandang pengamat mencemari cerita-cerita mengenai interaksi sosial, dan tidak ada gunanya dalam analisis. Selain itu teori muncul dari analisis sebelumnya dan pemahaman bukan penjelasan adalah inti dari penelitian sosiologis. Pandangan seperti ini mengenai interaksionisme simbolik dengan segala pendukungnya dan mayoritas pengkritiknya, Mereka yang mencoba untuk memahami karya-karya mereka akan menyajikan apa yang tokoh-tokoh interaksionisme simbolik lawan terhadap teori-teori sosiologi yang lain. Misalnya, Blumer (1969) menghabiskan karirnya untuk mendukung pengamatan secara langsung dengan tujuan mengetahui penafsiran peserta interaksi sosial, berlawan dengan baik analisis statistik maupun analisi struktural dimana kategori, data, dan perhitungan matematis dilihat beliau kosong dari sudut pandang aktor. Para pengkritik interaksionisme simbolik menyerang kerangka teori ini dan para pengikutnya sebagai tidak ilmiah. Untuk membatasi interaksionisme simbolis melalui hanya sudut pandang pendukung atau penentangnya Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 237 mengingkari keberagaman pandangan mengenai isu penting oleh mereka yang menggunakan kerangka teori ini. Perkembangan Saat Ini Teori interaksionalisme simbolis mengalami revitalisasi dalam tiga dekade terakhir (Stryker 1987) dan ada kebangkitan minat kembali terhadap kerangka ini. Kebangkitan ini disebabkan beberapa hal. Pertama, bangkitnya kesadaran para ahli ilmu sosial dengan pendekatan struktural bahwa teori dapat diperkuat dengan hubungan proses sosial makro-mikro melalui interaksionisme simbolik. Sebab kedua adalah perubahan penekanan penelitian dalam karya-karya simbolisme interaksionisme simbolik, dimana karya-karya yang baru mengadopsi konsep “multi-diri” (Multiple selves) yang didasarkan pada karya William James daripada melihat diri sebagai tunggal. Secara teoretis juga ada perhatian terhadap dampak emosi ke kehidupan sosial membetulkan bias kognitif dalam kerangka ini; selain itu juga ada perhatian yang lebih besar terhaap fasilitator struktural dan pembatasan interaksi serta proses diri (self process). Walaupun tidak terlalu besar dalam interaksionsime kontemporer, fondasi telah dibangun untuyk mengenalkan kembali konsep perilaku (habit) yang menjadi konsep inti penelitian John Dewey dan para leluhur interaksionisme lainnya dengan anggapan bahwa kehidupan sosial sangat refleksif dan diadasarkan pada pikiran. Penelitian interaksionisme simbolik saat ini sangat eklektik dan lebih teliti dinandingkan penelitian yang lalu , apakah menggunakan metode etnografi (Corsaro 1985) atau melibatkan structural equation modeling (Serpe 1987). Selain itu yang juga berperan dalam interaksionsime simbolik adalah dikenalnya kerangka te- 238 Dinamika Komunikasi ori ini adalah para psikolog sosial yang lebih memusatkan pada kognitif. Untuk psikologi sosial kognitif, konsep adalah struktur mental dan subyektif yang dibentuk melalui pengalaman, dan struktur ini empengaruhi pengenalan, penyertaan, penyimpanan, mengigat kembali, dan penggunaan informasi yang ada bertemu dengan orang tersebut; Terakhir, Salah satu konsep paling penting dalam kerangka iniadalah konsep diri (self ). Daftar Pustaka Halter, Maria V dan Maria C. de Arruda (2009) “Inverting the Pyramid of Values? Trends in Less Developed Countries.” Journal of Business Ethics 90:267–275 _ Springer 2010 DOI 10.1007/s10551-010-0426-0. YANI HENDRAYANI Teori Stakeholder 11 Sejarah Teori Stakeholder K onsep ‘‘pemangku kepentingan’’ (stakeholder) mulai popular dan menjadi fenomena di abad 20. Konsep ini sempat menjadi sangat kontradiski dengan pandangan tradisional yang telah diyakini berabad-abad sebelumnya bahwa kepentingan pemilik perusahaan (stakeholder) mendominasi pembahasan mengenai korporsi. Pemilik adalah satu-satunya pihak yang memiliki kepentingan dan yang harus dilayani oleh 239 240 Dinamika Komunikasi menejemen istilahnya: (it is the fiduciary duty of management to protect the interest of shareholders). Pemikiran beberapa teori organisasi konvensional diwarnai oleh pandangan tradisional tersebut. Menurut Donaldson, Thomas, and Preston, (1995) menggunakan kerangka biaya transaksi (transaction costs) untuk menunjukan bahwa pemegang saham butuh perhatian khusus dibandingkan (stakeholder lainnya) karena ‘‘asset specifity’’. Begitupula dengan teori keagenan yang pokok bahasanya berpusat pada agency costs yang muncul sebagai akibat adanya kepentingan yang berbeda serta asimetri informasi antara pemilik (principal) dan manajer sebagai agen (Gioia, 1999). Istilah ‘‘stakeholders’’ tersebut memang diciptakan untuk membantah pandangan tersebut, sehingga pada tahun 1963 konon Konsep ‘‘pemangku kepentingan’’ (stakeholders) baru dikenal dari memo internal di The Standford Research Institute. Pemikiran Edward Freeman tentang pendekatan stakeholder dimulai pada saat Freeman bekerja di WARC (Wharton Applied Research Center, 1978 – awal 1980an) setelah Freeman lulus program doctor jurusan filsafat dari Washington University. WARC pada hakekatnya menjalankan fungsi seperti perusahan konsultan untuk berbagai perusahaan. Salah satu tugas yang kemudian melahirkan ide tentang pendekatan pemangku kepentingan (stakeholder approach) adalah pada saat Freeman harus mengembangkan kasus bisnis dan mengajar para eksekutif dari AT&T tersebut ada dua paper dan beberapa kasus bisnis ditulis. Paper pertama, berisi uraian konseptual mengenai pendekatan pemangku kepentingan sedangkan paper kedua, berisi aspek teknis bagaimana cara menggunakan pendekatan stakeholder di perusahaan. Ide-ide dalam paper pertama sangat mempengaruhi penulisan draf buku strategic Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 241 mangemenet: stakeholder approach pada tahun 1982 (edisi 1 buku ini diterbitkan tahun 1984). Pokok pikiran Freeman mengenai pendekatan pemangku kepentigan dapat digambarkan sebagai berikut: ‘‘We were taking the viewpoint of senior management and our view was that if a group of individual could affect the firm (or be affected by it, and reciprocate) then managers should worry about that group in the sense that it needed an explicit strategy for dealing with the stakeholder.’’ (Freeman, 2004). Perhatian utama Freeman terhadap pengembangan ide tersebut adalah bagaimana agar para eksekutif perusahaan bisa secara efektif berhubungan dengan para pemangku kepentingan. Melalui buku karangannya pada tahun 1984 yang berjudul Strategic Management : A Stakeholder Approach, konsep R Edward Freeman dalam waktu relative singkat menarik perhatian para pemikir karena isinya dianggap menggoncang paradigm “ managerial capitalism” ataupun mahzab strategi bisnis yang bertujuan untuk memaksimalisasi shareholder value yang dominan saat itu. Managerial capitalism didefiniskan sebagai perubahan pengelola (control) atas perusahaan kapitalis dari pemilik (diera Karl Marx) ke para manajemen eksekutif. Tentu saja konsep baru yang ditawarkan Freeman sangat bertolak belakang dengan undang undang korporasi yang ruhnya dilahirkan pada era kapitalis. Dalam konteks ini manajemen dan pemilik dirubah seolah olah berada dalam satu kubu menghadapi pihak pihak lain. Dalam mendukung pengembangan dan keberlangsungan kegiatan organisasi yang beroreintasi pada pengembangan berlanjut, maka Teori Stakeholder dapat menjawab bahwa Teori Stakeholder yang menjelaskan bahwa stakeholder adalah semua pihak yang memiliki hubungan baik bersifat langsung maupun tidak 242 Dinamika Komunikasi langsung dengan perusahaan, seperti pemerintah, perusahaan pesaing masyarakat sekitar, lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan (LSM dan sebagainya) lembaga pemerhati lingkungan para pekerja perusahaan, kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaaanya sangat mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan. Teori Stakeholder Teori Stakeholder menurut Freeman (1984), ialah teori yang menjelaskan bahwa stakeholders merupakan individu atau kelompok yang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh organisasi sebagai dampak dari aktivitas-aktivitasnya Pendapat lain dari Brown et.al (2001) meyatakan bahwa stakeholder adalah seseorang organisasi atau kelompok dengan kepentingan terhadap suatu sumber daya alam tertentu. Lebih lanjut Witold Heniz guru besar dalam sekolah bisnis Wharton memandang stakeholder adalah semua pihak yang memiliki hubungan baik bersifat langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan, seperti pemerintah, perusahaan pesaing, masyarakat sekitar, lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan ( LSM dan sebagainya ) lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja perusahaan, kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaaanya sangat mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan . Bowie, Norman E., and Freeman, R. Edward (1992), menyatakan bahwa dalam teori stakeholder, perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi para pihak yang berkepentingannya (pemegang saham kreditur, pelanggan, pemasok, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain). Dengan demikian, keberadaan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 243 suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut. Donaldson, Thomas, and Preston (1995), mengatakan bahwa: Kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada dukungan stakeholder dan dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas perusahaan adalah untuk mencari dukungan tersebut . Makin kuat stakeholder , makin besar usaha perusahaan untuk beradaptasi. Pengungkapan sosial dianggap sebaagi bagian dari dialog antara perusahaan dengan pihak berkepentingannya. Beberapa dekade terakhir, asumsi tentang definisi stakeholder telah mulai berkembang dan berubah secara substantial . Pada awalnya , pemegang saham dianggap sebagai satu - satunya pihak yang berkepentingan perusahaan sesuai yang dikemukakan oleh Friedman dalam Ghozali dan Chariri (2007) yang mengatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan kemakmuran pemiliknya. Akan tetapi, asumsi tersebut dikembangkan lagi oleh Freeman ( 1984 ) yang menyatakan ketidaksetujuan dengan pandangan ini dan memperluas definisi stakeholder dengan memasukkan konstituen yang lebih banyak , termasuk kelompok yang dianggap tidak menguntungkan (adversarial group) seperti pihak yang memiliki kepentingan tertentu dan regulator, ( Roberts, 1992 dalam Ghozali dan Chariri, 2007). Keterkaitan dengan Teori Lain Jelas sekali bahwa beberapa teori seperti teori keagenan ataupun beberapa ideology seperti kapitalisme dan sosialisme, sangat dipengaruhi oleh pengaruh paradigm managerial capitalism. Hal itu telihat jelas dari peran sentral pemilik (shareholder) dan manajemen dalam menjelaskan fenomena bisnis dan ekonomi di masyarakat. 244 Dinamika Komunikasi Hal ini berbeda dengan konsep dalam teori stakeholder yang memandang bahwa kelangsungan perusahaan di dalam lingkungan bisnisnya tergantung pada berbagai pihak pemangku kepentingan yang tidak hanya terbatas pada pemilik dan manajemen, seperti misalnya pemerintah, karyawan, kreditur dan konsumen. Institusi tercipta hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri melainkan memenuhi kebutuhan macam-macam pihak yang ada disekitarnya. Teori stakeholder paling tidak memeliki tiga perspektif yang saling terkait: deskriptif, instrumental, dan normatif. Pendekatan teori deskriptif tersebut menguraikan karakteristik dan perilaku organisasi dalam Philip (2003), menguraikan peran masing-masing stakeholder pada siklus tahapan bisnis yang berbeda. Pendekatan teori instrumental mencermati data empiris mengenai hubungan antara menejemen kelompok-kelompok kepentingan dengan pencapaian tujuan organisasi. Pendekatan instrumental biasanya bisa dinyatakan dalam kalimat ‘‘jika manajemen berperilaku… maka akan berakibat…’’ pendekatan normatif membahas inti teori serta petunjuk moral etika yang menjadi pedoman manajemen dalam mengelola perusahaan. Menurut pendekatan ini hubungan antara manajemen dengan stakeholder dilandasi oleh komitmen moral (Berman et al. 1999). Klaim kelompok stakeholders tertentu dilandasi atas pandangan etika tertentu yang tidak selalu terkait dengan tata nilai instrumental stakeholders. Artinya, memenuhi klaim yang dilandasi pandangan etika ini tidak selalu menyebabkan tercapainya kepentingan strategis organisasi. Beberapa orang menganggap teori pemangku kepentingan bukan ‘‘teori’’ karena tidak memenuhi syarat sebagai teori, yaitu tidak terdiri dari proposisi yang bisa diuji. Mereka menganggap ‘‘teori pemangku kepentingan’’ Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 245 sebagai kerangka (framework) dimana dari situ bisa ditarik berbagai pemikiran. Implementasi Teori dalam Konteks PR Dinamika Public Relations (PR) kini semakin pesat dan terus berkembang dengan beragam tantangan bagaimana pengelolaan dan proses komunikasi yang menjadi tugas dan tanggung jawab PR dalam menjalin relasi yang terorganisasi dengan berbagai kelompok atau public untuk meningkatkan reputasi dan citra organisasi. Ruang lingkup kegiatan PR tentulah begitu besar dan kompleks karena bukan hanya menangani pihak pihak yang berada di lingkungan dalam organisasi tapi juga pihak pihak yang berada di lingkungan luar organisasi dengan beragam keinginan dan kepentingannya. Sebuah organisasi berdiri dan berkembang di dalam masyarakat tentunya dalam perkembangan tersebut tidak hanya mulus dan tanpa adanya masalah dalam keseharian berjalan aktivitasnya. Terkadang timbul tekanan – tekanan baik dari luar ataupun dari dalam organisasi. Tekanan ini sifatnya tidak selalu buruk, terkadang tekanan justru memberikan peluang bagi organisasi untuk terus berkembang.. Siapa yang di maksud dengan pihak – pihak tersebut? Freeman, R. Edward. (1994), menjelaskan yang di maksud di sini adalah khalayak yang menjadi sasaran kegiatan PR dan di sebut stakeholders. Sehingga pengelolaan pihak pihak yang berkepentingan atau stakeholder harus terus dicari jalan terbaik bagaimana meneliti dan menafsirkan sikap-sikap public untuk kepentigan organisasi. Pendekatan ilmiah dipadukan dengan keterampilan dan seni diharapkan dapat menciptkan proses yang terencana dan teru- 246 Dinamika Komunikasi kur dengan memperhatikan sentuhan kemanusiaan yang harus dikuasai oleh para petugas PR. Diolah Dari Berbagai Sumber Dalam konteks Public Relation, Rhenald Kasali dalam bukunya Manajemen Public Relations memberi definisi bahwa “Stakeholders adalah setiap kelompok yang berada di dalam maupun luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan perusahaan. Stakeholders bisa berarti pula setiap orang yang mempertaruhkan hidupnya pada perusahaan tetapi stakeholders juga terdiri atas berbagai kelompok penekan (pressure group) yang mesti di pertimbangkan perusahaan” . Definisi lain, menurut Brown (2001) menyatakan bahwa stakeholder ialah seseorang atau kelompok dengan kepentingan terhadap suatu sumber daya alam tertentu. Dari definisi-definisi diatas disimpulkan bahwa Stakeholder adalah individu atau kelompok yang berkepentingan di dalam sebuah perusahaan dimana terjadi hubungan saling ketergantungan dalam perusahaan tersebut. Pemilik, karyawan, kreditor, pemasok dan pelanggan merupakan wujudan dari stakeholder, dimana ter- Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 247 jadi hubungan saling keterkaitan secara langsung maupun tidak langsung dalam menjalankan suatu perusahaan. Stakeholder juga terbagi dalam dua pendekatan old-corporate relation dan new-corporate relation. Yang bertujuan sebagai penyeimbang dalam suatu perusahaan, perusahaan tidak dapat berjalan sendiri dan egois karena harus memandang beberapa aspek yang saling berkaitan (Berman, et al,1999) Dari sini kita dapat memahami bahwa adanya Stakeholder dapat memberikan suatu kontribusi yang baik dalam menjalankan suatu perusaan dimana perusahaan tersebut juga bergerak sebagai Stakeholder. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, semakin beragam kepentingan dan semakin terdistribusi kekuasaan di tangan masing-masing pemangku kepentingan, maka semakin tinggi kompleksitas dari stakeholder management. Menurut Friedman, A. L., & Miles, S. (2006) secara umum bisa di bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang di dalam perusahaan atau di sebut internal stakehoders dan yang berada di luar perusahaan yang di sebut external stakeholders. Stakeholders yang secara harfiah diartikan sebagai pemangku kepentingan dibagi berdasarkan lingkup aktifitasnya sebagai berikut: 1. Publik internal dan eksternal Publik internal adalah publik yang berada di dalam lembaga, seperti para karyawan dan keluarganya, satpam, penerima telepon, supervisior, manajer, pemegang saham, dan sebagainya. Sedangkan publik eksternal adalah mereka yang berkepentingan terhadap lembaga yang berada diluar lembaga, seperti penyalur, pemasok, bank, pemerintah, komunitas, pers, dan sebagainya. 248 Dinamika Komunikasi 2. Publik primer, sekunder, dan marjinal Tidak semua stakeholders perlu diperhatikan lembaga. Sehingga perlu disusun suatu kerangka prioritas. Yang paling penting, disebut publik primer, yang kurang penting disebut publik sekunder, dan yang dapat diabaikan adalah publik marginal. 3. Publik tradisional dan masa depan Bagi sebuah lembaga, karyawan dan konsumen (masyarakat pengguna langsung jasa/layanan lembaga) adalah publik tradisional, sedangkan mahasiswa, peneliti, konsumen potensial, atau pejabat pemerintah adalah publik masa depan. 4. Proponents, opponents dan uncommitted Diantara publik terdapat kelompok yang menentang lembaga (opponents), dan memihak (proponents) dan ada yang tidak peduli (uncommited). 5. Silent majority dan vocal minority. Dilihat dari aktifitas publik dalam mengajukan complaint atau mendukung lembaga, dapat dibedakan antara yang vokal (aktif) dan yang silent (pasif). Publik penulis di surat kabar umumnya adalah the vocal minority, yaitu aktif menyuarakan pendapatnya, namun jumlahnya tak banyak. Sedangkan mayoritas pembaca adalah pasif sehingga tak kelihatan suara atau pendapatnya. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 249 Kemampuan Public Relation dalam mengelola hubungan yang terjaga baik dengan publik/stakeholders akan sangat berguna dalam melakukan tindakan apa saja. Dalam setiap aktifitas yang dilakukan oleh seorang PR, banyak hal disebabkan suatu hubungan yang terjalin baik maka suatu kegiatan dapat dilaksanakan tanpa banyak memakan waktu dan dana yang besar. Manfaat lain pencegahan terjadinya konflik kepentingan, maka perusahaan terhindar dari demo, pencemaran nama baik dan penurunan reputasi akibat opini yang tidak diharapkan. Sehingga menjalin hubungan dengan stakeholder dari berbagai pihak sangatlah perlu dilakukan dengan cara cara yang efektif atau dikenal dengan istilah Stakeholder Relations. Stakeholder Relation ialah upaya melakukan pemahaman tentang cakupan public. Pemahaman tentang cakupan publik akan lebih mengarahkan seorang PR untuk membuat kegiatan yang lebih terukur (measurable) karena target kegiatan menjadi sangat fokus. Segmentasi khalayak yang jelas, tentu saja, akan memudahkan untuk menentukan posisi yang tepat ketika suatu program PR ingin dijalankan (Collins.et.al,1994) Adapun pembagian kelompok Stakeholders ini secara umum dibagi menjadi dua kategori yaitu: Stakeholders Internal 1. Pemegang saham 2. Manajemen dan Top Executive 3. Karyawan 4. Keluarga Karyawan Stakeholders External 1. Konsumen 2. Penyalur 3. Pemasok 4. Bank 5. Pemerintah 6. Pesaing 7. Komunitas 8. Pers 250 Dinamika Komunikasi Peran dan Fungsi Stakeholders Menururt Donaldson dan Thomas (1989) menjelaskan bahwa peran pihak yang memiliki kepentingan utama atau stakeholder dalam organisasi bisnis ataupun dalam perusahaan, adalah sebagai berikut : 1. Pemilik (owner) atau Pemegang Saham Pemilik atau pemegang saham merupakan stakeholder internal yang utama dalam suatu organisasi. Sebab merekalah yang menggagas perjalanan bisnis dari sebuah ide, modal usaha dan pembiayaan sehingga prediksi terhadap perjalanan bisnis di masa depan mereka mendapatkan keuntungan, operasional dan segala bentuk risiko bisnis menjadi tanggung jawab yang harus dipikul oleh pemilik atau pemegang saham. 2. Karyawan (employee) Karyawan salah satu stakeholder internal yang juga memiliki peran dalam laju bisnis sebuah perusahaan. Karyawan merupakan asset perusahaan sehingga hak mereka perlu diperhatikan dan tidak boleh diabaikan. Kinerja karyawan sangat menentukan keberhasilan sebuah organisasi atau perusahaan. 3. Kreditor (creditor) Adalah juga salah satu stakeholder eksternal yang berupa lembaga keuangan pemberi modal berupa pinjaman kepada perusahaan. Melalui sebuah pengajuan yang dilakukan oleh perusahaan, maka pihak lembaga keuangan memberikan persyaratan dan ketentuan sebagai jaminan bahwa uang yang Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 251 mereka pinjamkan kelak akan dapat dikembalikan tepat waktu,sesuai jumlah dan berikut prestasinya. 4. Pemasok (supplier) Pemasok merupakan stakeholder ekternal sebagai partner kerja dari perusahaan yang siap memenuhi ketersediaan bahan baku. Sehingga perusahaan juga sebagian bergantung pada para pemasok sehingga diperlukan sebuah hubungan baik sebagai penentu kinerja perusahaan juga sebagian tergantung pada kemampuan pemasok dalam mengantarkan bahan baku dengan tepat waktu. Misalnya pemasok kepentingan, jika barang dan jasa yang mereka pasok relative langkah dan sulit untuk memperoleh barang/jasa subtitusi.Kekuatan relatif organisasi terhadap pemangku kepentingan tidak selalu lemah. 5. Pelanggan (customer) Pelanggan merupakan stakeholder utama yang perlu perhatian penuh dari pihak perusahaan. Untuk itulah upaya untuk mengidentifikasi pelanggan, perusahaan akan lebih fokus dalam memberikan produk dan jasa yang diinginkan dan diharapkan oleh pelanggan mereka. Mengenali pelanggan sekaligus juga harus memperhatikan harapan dan kepentingan mereka yaitu menyediakan produk dan layanan yang terbaik serta harga yang bersahabat. 6. Pesaing Kompetitor atau pesaing juga merupakan salah satu stakeholder ekternal yang perlu disimak sebagai indicator kesuskse- 252 Dinamika Komunikasi san perusahaan. Pesaing langsung menyediakan produk atau jasa yang sama dalam industri, seperti yang diproduksi oleh perusahaan kita. 7. Pemerintah Keberlangsungan perusahaan tidak akan lepas dari peranan pemerintah sebagai salah satu stakeholder ekternal penentu peijinan perusahaan. Pemerintah sangatlah berkuasa dan memiliki wewenang penuh dalam memberikan perijinan sehingga berdampak mengagalkan semua rencana yang disusun oleh perusahaan. 8. Pers Pers memiliki kekuatan sebagai stakeholder ekternal yang perlu diperhatikan. Membuat hubungan yang terbuka dengan pers memungkinkan media dapat berubah sebelum go publik dengan cerita. Hubungan dengan pers melibatkan hubungan dengan media; semua penulis, editor dan produser yang berkontribusi dan mengendalikan apa yang muncul dalam siaran, cetak dan media berita online. Praktisi PR dalam aktivitas nya wajib mempertimbangka unsur-unsur yang berada dalam sakeholder internal dan eksternal tersebut dalam merancang setiap program kerjanya. Sesungguhnya, seorang PR memang melakukan sesuatu hal yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan seluruh unsur-unsur stakeholder yang ada. Baik itu stakeholder internal maupun stakeholder eksternal. Stakeholder diharapkan keseluruhannya terlibat dalam keberlangsungan perusahaan. Keterlibatan di sini dapat diartikan Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 253 sebuah prilaku stakeholder yang ikut terpersuasi terhadap kebijakan tersebut. Sehingga secara sadar maupun tidak mereka akan menjadi pendukung, pelaksana dan penggerak kebijakan tersebut. Hal itu menjadi benang merah dalam pengelolaan stakeholder agar keterampilan praktisi public relation untuk mengelola stakeholder akan sangat diperlukan. Bagaimana kemudian praktisi PR mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan stakeholder dalam setiap kebijakan dan program public relation. Daftar Isi Berman, Shawn L., Wicks, Andrew C., Kotha, Suresh and Jones, Thomas M.. 1999. “Does Stakeholder Orientation Matter? The Relationship Between Stakeholder Management Models and Firm Financial Performance.” Academy of Management Journal 42(5): 488–506. Bowie, Norman E., and Freeman, R. Edward, eds. 1992. Ethics and Agency Theory (New York: Oxford University Press). Brown, K. F., Tompkins, E. L., & Adger, W. N. (2001). Trade-off Analysis for Participatory Coastal Zone Decision-Making. University of East Anglia. Collins, James C., and Porras, Jerry I. 1994. Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies (New York: Harper Collins). Donaldson, Thomas. 1989. The Ethics of International Business (New York: Oxford University Press). Donaldson, Thomas, and Preston, L.E.. 1995. “The Stakeholder Theory of the Corporation: Concepts, Evidence, and Implications.” Academy of Management Review 20(1): 65–91. Freeman, R. Edward. 1984. Strategic Management: A Stakeholder Approach (Boston: Pitman Publishing Inc.). 254 Dinamika Komunikasi Friedman, A. L., & Miles, S. (2006). Stakeholders: Theory and Practice. Oxford University Press. Imam, Ghozali dan A. Chariri. 2007. Teori Akuntansi. Badan Penerbit Universitas Diponegoro : Semarang. Jones, Thomas M. 1995. “Instrumental Stakeholder Theory: A Synthesis of Ethics and Economics.” Academy of Management Review 20(2): 404–437.CrossRefGoogle Scholar. Phillips, R. A.. 2003. “Stakeholder Legitimacy.” Business Ethics Quarterly 13(1).CrossRefGoogle Scholar. Kasali, Rhenald. 2005. Manajemen Public Relations Konsep dan Aplikasinya di. Indonesia. PT Pustaka Utama Grafiti.Jakarta. Para Penulis AZWAR, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tahun 1982. Saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Doktor di Program Studi Komunikasi Pembangunan, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB (2019-sekarang). Ia menyelesaikan pendidikan S2 di Magister Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia pada tahun 2012. Sementara itu gelar sarjana diperolehnya dari Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas pada tahun 2006. Azwar pernah menjadi Tenaga Ahli Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) pada tahun 2013 sd 2015 dan menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada tahun 2016 sd 2017. Selain itu ia pernah menjadi wartawan di Matanews.com, Redaktur di Majalah Bangda Kementerian Dalam Negeri, dan Pemimpin Redaksi Majalah UPNVJ News. Selain menjadi dosen tetap di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta ia juga menjadi dosen tamu di Program Studi Jurnalistik, FIDIKOM, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Mer255 256 Dinamika Komunikasi cu Buana. Beberapa buku yang pernah ditulisnya diantaranya adalah Empat Pilar Jurnalistik Pengetahuan Dasar Pendidikan Jurnalistik (Prenada Kencana Media, 2018), Dasar-Dasar Jurnalistik (Mujahid Pers, 2017), Membaca Sastra Membaca Dunia (Basabasi, 2017), dll). DAMAYANTI MASDUKI, sarjana junalistik IISIP Jakarta, Master Komunikasi Pembangunan IPB, Saat ini sedang menyelesaikan program Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran, Bandung. Sebelum bekerja sebagai dosen sempat bekerja di beberapa media, seperti majalah Swa Sembada, Info Bisnis, Tabloid Berita Politik Adil, Majalah Kesehatan Nirmala, dan Koran Tempo, serta konsultam media online eksplore.co.id., Kaprodi Ilmu Komunikasi pada 2016, dan mengelola media FISIP NEWS dan UPNVJ News, menerbitkan Jurnal Ilmu Komunikasi Ekspresi dan Persepesi, pengurus dan anggota beberapa organisasi Ilmu Komunikasi dan LSM Pendidikan seperti Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom), Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Forum Komunikasi Pembangunan Indonesia (Forkapi), Forum Dosen Indonesia (FDI), dan Persaudaran Dosen Republik Indonesia (PDRI). DIAN TRI HAPSARI, menyelesaikan pendidikan Sarjana di Universitas Moestopo (Beragama) pada tahun 2007, lalu melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi LSPR pada tahun 2014. Ia merupakan dosen tetap di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 257 DRINA INTYASWATI, lahir di Lumajang pada tahun 1970. Drina berhasil meraih gelar Doktor di bidang Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran. Sedangkan gelar S2nya di peroleh dari Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Selain kegiatan utamanya sebagai dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Drina juga aktif meneliti terkait penggunaan media dan efeknya terutama pada konteks politik. FITRIA AYUNINGTYAS lahir di Jakarta pada tahun 1984. Fitria berhasil meraih gelar Doktor di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 2021. Fitria meraih gelar S2 di The London School of Public Relations Jakarta, Indonesia pada tahun 2009, jurusan Marketing Communication. Fitria merupakan salah satu dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Fitria pun aktif meneliti dan menulis serta menjadi reviewer di beberapa jurnal nasional maupun jurnal internasional. LUSIA HANDAYANI, lahir di Jakarta 24 Juni 1988. Lusia berhasil meraih gelar Magister di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) jurusan Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, IPB pada tahun 2017. Lusia meraih gelar S1 di FISIP Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, pada tahun 2013, jurusan Public Relation (PR). Lusia merupakan salah satu dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Lusia pun aktif meneliti dan menu- 258 Dinamika Komunikasi lis serta menjadi pengurus serta reviewer di Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) UPN Veteran Jakarta sejak tahun 2018. CHAIRUN NISA ZEMPI, biasa dipanggil Icha lahir di Padang pada tahun 1993. Icha meraih gelar sarjarna jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Andalas, Padang pada tahun 2015. Selanjutnya Icha melanjutkan studi untuk meraih gelar Master di jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 2019. Kini Icha merupakan salah satu dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. PRIJONO SADJIJO, Priyono Sadjijo lahir di Jakarta pada tahun 1961. Priyono menyelesaikan seluruh pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Program doktornya diselesaikan pada tahun 2012 dengan penelitian beroperasinya modal budaya dalam dunia pendidikan dan sebelumnya meraih gelar magister dalam bidang antropologi pada tahun 2004. Priyono merupakan dosen tetap di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Disamping aktif meneliti dan menulis serta menjadi reviewer jurnal ilmiah, Priyono terlibat sebagai konsultan pembangunan pada lembaga donor internasional seperti World Bank, ADB, dan JICA. Sejarah, Teori, dan Aplikasi pada Fenomena Masa Kini 259 RADITA GORA TAYIBNAPIS, lahir di Surabaya 17 Agustus 1985. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Surabaya, Jawa Timur, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ( 2003 – 2007). Kemudian melanjutkan S2 pada Magister Manajemen Komunikasi, Universitas Trisakti – Jakarta (2009 – 2012) dan menyelesaikan program S3- Doktor Ilmu Kounikasi, Program Pascasarjana, Universitas Sahid (2015-2019). Pernah menjadi dosen Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Satya Negara Indonesia (USNI). (2016 - 2020), Content Writer (Geget Advertising Agency) (2014 – 2016), Kepala Biro Jakarta, Tabloid Nurani, PT.Nurani Media Teduh, Group Jawa Pos. (2008 – 2014), Wartawan Tabloid MICE Halo Surabaya, PT.Inra Media Promosindo, Wartawan (2007 – 2008). YANI HENDRAYANI Lulus S1 di Program Studi Hubungan Masyarakat FIKOM Universitas Sahid Jakarta, lulusan S2 di Universitas yang sama pada program studi Magister Komunikasi peminatan Manajemen Komunikasi. Lulus S3 dari Universiti Sains Malaysia (USM) tahun 2017. Saat ini mengampu beberapa mata kuliah Public Relations yaitu Manajemen Public Relations, CSR dan Stakeholder Relations di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Aktif menulis artikel ilmiah serta menjadi reviewer di beberapa jurnal ilmiah serta contributor tetap di majalah TNI tentang Kehumasan di Badan TNI, dan menjadi narasumber di berbagai pelatihan pelatihan tentang kehumasan di kementerian maupun swasta. View publication stats
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )