LAPORAN KERJA PRAKTIK PROSES PENGOLAHAN PASIR DARI ABU BATU DENGAN MENGGUNAKAN MESIN CDE DI PT LOTUS SG LESTARI Anggota Kelompok: Arya Pangestu Wiratama 120360022 Adam Martin 120360059 Muhammad Randi Pratama 120360060 Dosen Pembimbing: Wahyu Solafide Sipahutar, S.Si., M.Sc. NIP/NRK. 199304302022031010 Pembimbing Lapangan: Sutrisno., S.T. NIK. PS001 PROGRAM STUDI TEKNIK MATERIAL JURUSAN TEKNOLOGI PRODUKSI DAN INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA 2023 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan adanya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang cukup pesat di Indonesia, maka kebutuhan akan bahan galian batuan yang pemanfaatannya semakin bertambah demi memenuhi kebutuhan. Batuan andesit adalah merupakan salah satu dari bahan galian batuan yang saat ini cukup dibutuhkan sebagai salah satu komoditi yang menunjang. Dari kegiatan proses pemanfaatan andesit yang dapat menghasilkan abu batu ialah diawali dengan kegiatan pembongkaran bahan galian, dilakukan dengan cara peledakan, dikarenakan andesit memiliki kekerasan yang cukup tinggi dan tidak mungkin untuk dibongkar dengan alat gali. Setelah proses pembongkaran selesai maka batu andesit akan diperkecil ukurannya sehingga dapat menjadi produk seperti abu batu untuk memenuhi kebutuhan pembeli. Pengolahan abu batu yang dilakukan pada mesin CDE umumnya adalah untuk memenuhi kebutuhan produksi di PT. Lotus SG Lestari. Abu batu dapat terjadi setelah melakukan beberapa tahap atau proses. Seperti pengecilan ukuran material dengan jalan peremukan (Crushing Plant). Sehingga bisa menghasilkan produk abu batu. Tetapi dalam prakteknya banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah sering terjadinya kemacetan pada saat proses peremukan. Sehingga pada akhirnya sasaran produksi yang diharapkan tidak dapat terpenuhi, ukuran material yang tidak sesuai dengan yang disyaratkan untuk unit pengolahan berikutnya serta kurang produktif dan efisiennya kegiatan di unit peremukan. Dalam mencapai target produksi permasalahan yang dihadapi adalah adanya penundaan waktu baik yang dapat dihindari maupun tidak. Contoh seperti alat mesin CDE mengalami maintenence, hopper penuh, sedang hujan, dan kurangnya ketersediaan air. Terhadap keadaan ini tentunya diperlukan optimalisasi untuk mendapatkan waktu kerja produktif yang di inginkan. 1.2 Sejarah Perusahaan PT Lotus SG Lestari resmi didirikan pada tahun 2011. Dengan kepemilikan sebelumnya bernama PT KML (Karya Marbelindo Lestari) pada tahun yang sama. Bisnis perusahaan ini bergerak dibidang pertambangan batuan andesit. PT Lotus SG Lestari berlokasi di Kampung Pabuaran, Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, dengan kepemilikan perusahaan atas nama Bapak Sutomo Gunawan. PT Lotus SG Lestari memiliki memproduksi batuan andesit yang diantaranya material split 1/2 , split 2/3, screening serta abu batu yang proses pemasarannya dijual langsung. PT Lotus SG Lestari memiliki lahan IUP (Izin Usaha Pertambangan) eksploitasi seluas 49.5 Ha, hal tersebut berdasarkan dengan izin yang dikeluarkan oleh Dinas ESDM (Energi Dan Sumberdaya Mineral) kabupaten Bogor dengan No IUP Produksi sebagai berikut 541.3/039/kpts/esdm/2010 izin tersebut berlaku sampai tahun 2024. PT Lotus SG Lestari memanfaatkan para pekerja tambang dimana hampir 90% pegawainya ialah berasal dari masyarakat sekitar area perusahaan. Dalam melaksanakan kegiatan proses penambangan serta produksi nya PT Lotus SG Lestari memiliki beberapa tahapan kegiatan penambangan meliputi land clearing, pengupasan lapisan penutup, kegiatan pemboran (drilling) dan peledakan (blasting), pemuatan, pengangkutan, pengolahan serta pemasaran. 1.3 Lokasi Perusahaan Secara administratif PT Lotus SG Lestari terletak di Kampung Pabuaran, Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Memiliki luas wilayah sebesar +15,3850 Ha, dengan luas wilayah penambangan sekitar ±13 Ha dan wilayah non penambangan sebesar ±15,3850 Ha. yang terdiri dari area penambangan sekitar +13 Ha dan luas wilayah non pernambangan selua + 2,3850 Ha. Lokasi PT Lotus SG Lestari ini terletak pada koordinat (UTM) : Utara X = 676500.00–679000.00, dan Selatan Y = 9285500,00–9287500,00. PT Lotus SG Lestari ini memiliki beberapa batas-batas administratif negara sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : : : : Kecamatan Serpong. Kecamatan Gunung Sindur. Kecamatan Leuwilang. Kecamatan Parung Panjang. Lokasi PT. Lotus SG Lestari terletak pada daerah perbukitan yang dapat ditempuh melalui jalan darat dengan menggunakan kendaraan beroda empat dan beroda dua. 1.4 Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang dihadapi dari KP di PT. Lotus SG Lestari adalah sebagai berikut : - Apa saja faktor yang dapat mempengaruhi proses produksi pada mesin cde? - Apa saja material yg dihasilkan pada mesin cde? - Bagaimana prinsip kerja pada mesin cde? 1.5 Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan utama dari Kuliah Praktek di PT. Lotus SG Lestari adalah sebagai berikut : - Dapat mengetahui prinsip keja dari mesin cde di perusahaan PT Lotus SG lestari. - Dapat mengetahui proses pengolahan pada mesin cde di perusahaan PT Lotus SG Lestari. Adapun manfaat dari Kuliah Praktek dan penelitian ini yaitu, - Memenuhi Satuan Kredit Semester (SKS) yang harus ditempuh oleh mahasiswa sebagai persyaratan akademik di Departemen Teknik Material Institut Teknologi Sumatera - Memperoleh pengalaman dan wawasan baru yang berguna setelah lulus dari perkuliahan dan bekerja pada industri seperti di PT Lotus SG Lestari. - Mengetahui dan mengaplikasikan proses pengolahan pada saat kerja di lapangan, sehingga membuat saya lebih displin mematuhi peraturan agar tercapai nya keselamatan diri saat bekerja. - Dapat mengembangkan diri secara lebih baik dan mampu mendapatkan pengalaman, relasi, membangun etos kerja dan disiplin pada setiap kegiatan dalam pemahaman dunia kerja. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hopper Menurut (J. Kelly, 1982) Hopper adalah suatu alat untuk menampung material bahan galian dari pit yang sudah diledakan atau ditambang sebelum dimasukkan ke dalam alat peremuk batuan (crusher) sehingga menghasilkan material seperti abu batu. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan saat mendesain hopper yang akan digunakan Bersama dengan feeder, berikut penjelasan gambar design hopper (gambar ) (Sumber Trisna Suwaji, 2008) Gambar .. Detail Penampang Hopper Hopper yang digunakan berbentuk gabungan dari balok dan limas terpancung sehingga perhitungan volume hopper menggunakan rumus bangun ruang umum sebagai berikut (Trisna Suwaji, 2008) : V = 1/3 x (La + Lb + √La. Lb) x t Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera Keterangan : V = Volume bagian hopper berbentuk limas terpancung (m3). t = Tinggi bagian hopper berbentuk limas terpancung (m). La = Luas Atas = Luas bagian atas hopper berbentuk limas terpancung (m2). Lb = Luas Bawah = Luas bagian bawah hopper berbentuk limas terpancung (m2). Dari hasil perhitungan Volume total hopper dapat dihitung kapasitas hopper dalam tonase yaitu dengan : Q=Vxρ Keterangan : 2.2 Q = Kapasitas Hopper (ton) V = Volume Limas Terpancung (m3) ρ = Faktor diameter Abu Batu (4,75mm) Belt / Feed Conveyor Belt conveyor adalah suatu alat angkut material yang dapat bekerja secara kesinambungan pada kemiringan tertentu maupun mendatar (Partanto, 1983). Conveyor digunakan sebagai alat untuk mengangkut atau memindahkan material dari satu tempat ke tempat lainnya secara menerus sepanjang garis (horizontal). Dalam hal ini material yang digunakan yaitu material curah (bulk density), maka hal – hal yang perlu untuk diamati lebih lanjut adalah: 1. Berat jenis curah (bulk density) yang dinyatakan dalam kg/m3 atau ton/m3. 2. Ukuran butir dan distribusi ukuran yang dinyatakan dalam mm atau dalam% 3. Kondisi material : Basah atau kering, lengket, berdebu, dan lain lain. 4. Karakteristik material : keras, lunak, abrasif, sudut jatuh bebas (angle of repose),sudut tumpah (angle of surcharge) dan sifat mampu alir. 5. Temperatur. Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera Terdapat pula bagian-bagian belt conveyor pada (gambar ..) dibawah ini. 1. Sabuk / Belt, untuk membawa material yang diangkut. 2. Idler, untuk menahan atau menyangga sabuk. 3. Centering device, untuk mencegah agar sabuk tidak meleset dari rollers. 4. Drive units, alat penggerak pulley belt conveyor. 5. Take ups, untuk tegangan sabuk dan mencegah selip antara sabuk dengan pulley penggerak karena bertambah panjangnya sabuk. 6. Kerangka / Frame, sebagai tempat belt conveyor 7. Motor penggerak, untuk menggerakan drive pulley. Gambar .. Penampang Area Belt Conveyor (Sumber : Bridgestone, Conveyor Belt Desaign Manual) Untuk menentukan kapasitas teoritis suatu belt conveyor maka dapat digunakan rumus (bridgestone) sebagai berikut : A = K x (0,9B – 0,05)2 Keterangan : A. : Luas Area Kerja (m2). K. : Konstantanta Luas Penampang Belt yang dipengaruhi oleh trough angel dan angel of repose disesuaikan dengan Lebar Belt (10-2 m2 ). Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera B. : Lebar Belt (m). 2.3 Produktivitas Belt Conveyor Untuk menentukan kapasitas suatu belt conveyor menurut buku “Belt Conveyor For Bulk Material” dapat diketahui dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : Q = 60.W.V/1000.L Dimana : 2.4 Q = Kapasitas nyata belt conveyor (ton/jam) W = Berat Sampel q = Berat contoh yang diambil (kg/m2) V = Kecepatan Nyata (m/menit) L = Panjang pengambilan contoh (m) Dewaterimg Screen Gambar. Alat Dewatering screen Dewatering screen adalah suatu alat yang berfungsi untuk menghilangkan air dari material dengan menggunakan getaran dan gaya gravitasi. Sehingga menghasilkan bahan yang lebih kering. Selain itu, air yang dibuang dapat didaur ulang kembali secara efisien melalui pabrik pembuatan atau pemrosesan. Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera 2.5 Hydrocyclone Gambar. Hydrocyclone Hydrocyclone adalah suatu alat yang digunakan untuk memisahkan partikel berdasarkan ukuran dan beratnya. Hydrocyclone disini berfungsi untuk memisahkan antara lumpur dengan produk material. 2.6 Aquacycle Gambar Aquacycle Aquacycle adalah tangki penyangga yang sesuai untuk menerima air daur ulang untuk disirkulasi ulang dan untuk menahan lumpur dari pengental Aquacycle sebelum lumpur dikirim ke pembuangan. Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera 2.7 Magnafloc Magnafloc adalah bahan kimia koagulan dan flokulasi yang digunakan dalam industri pengolahan air dan air limbah. Magnafloc digunakan untuk membersihkan air dan air limbah dengan menghilangkan partikel-partikel terlarut dan tersuspensi. Bekerja dengan cara membentuk flok atau gumpalan partikel-partikel tersebut sehingga dapat dengan mudah dipisahkan dari air. 2.8 Rheomax Rheomax adalah bahan kimia yang ditambahkan ke sistem untuk mengubah atau mengatur sifat aliran atau viskositasnya. Bahan kimia ini dapat meningkatkan atau mengurangi kekentalan, menyesuaikan waktu pengeringan, meningkatkan stabilitas, atau mengontrol sifat aliran material. Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Pengamatan Kegiatan penelitian dilakukan dengan pengambilan data serta mengamati proses yang menjadi pokok untuk bahasan pada kegiatan di mesin pengolahan CDE yang berlokasi di PT. Lotus SG Lestari Kampung Pabuaran, Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada 5 Juni 2023. 3.2 Alur Kerja Mesin CDE Pada hasil penelitian di lapangan kegiatan proses pengolahan material Abu Batu di mesin CDE dilakukan mulai dari proses pengeboran, peledakan (Blasting), dan pengangkutan / loading material dari quarry dengan menggunakan dump truck yang kemudian di hauling menuju ke hopper di plant A sehingga bisa menghasilkan material Abu Batu untuk di proses pada mesin CDE. Setelah melewati beberapa proses tahapan di plant A, Abu Batu diangkut dengan menggunakan Dump truck dan Louder dan dibawa menuju ke hopper pada mesin CDE. Setelah Abu Batu masuk ke dalam hopper, Abu Batu akan di transfer ke feed conveyor kemudian masuk ke dalam dewatering screen pertama. Dimana fungsi dari dewatering screen ini adalah untuk mengayak / memisahkan ukuran material oversize (+5mm). Setelah tahap dewatering screen pertama, material yang ukurannya ([-5mm] – +75mikron) akan dibawa menuju slurry pump pertama dan menuju pada hydro cyclone pertama, yang dimana fungsi dari hydro cyclone ini adalah untuk memisahkan lumpur dengan produk materialnya, sehingga produk material dari proses hydro cyclone pertama akan masuk ke dalam dewatering screen kedua bagian pertama dan menghasilkan pasir dengan ukuran +3mm – (-5mm). Selanjutnya material ukuran -3mm masuk ke dalam sum tank yang kemudian dibawa oleh slurry pump kedua dan di dorong ke hydro cyclone kedua. Di hydro cyclone keduan ini proses pemisahan lumpur dengan produk material terjadi, material dengan ukuran -75 mikron ( lumpur ) terbawa menuju aquacycle. Dan material ukuran -3mm - (+75 mikron ) masuk ke dewatering screen keduan bagian kedua yang selanjutnya Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera terbawa conveyor ke stok pile produk. Lumpur yang terpisah dengan material mengalir ke aquacycle dan secara bersamaan menampung air yang bisa di gunakan kembali, reaksi kimia terjadi disini yang dimana fungsi dari magnafloc adalah untuk mengikat lumpur dan memisahkan antara air yang bisa digunakan kembali. Lumpur yang terikat oleh magnafloc itu mengendap ke bawah sedangkan air yang bisa di gunakan kembali itu terpisah melalui pinggiran aquacycle dan kembali ke dewatering screen. Setelah itu Lumpur akan di buang melalui pipa pembuangan secara otomatis, bersamaan proses pembuangan lumpur, lumpur akan tercampur dengan rheomax dimana fungsi dari rheomax itu sendiri sama saja dengan magnafloc namun yang membedakan ialah rheomax lebih mengikat lumpur dari pada magnafloc. 3.3 Data Mesin Cde Tanggal Senin / 05 Juni 2023 Selasa / 06 Juni 2023 Rabu / 07 Juni 2023 Kamis / 08 Juni 2023 Jum'at / 09 Juni 2023 Sabtu / 10 Juni 2023 Senin / 12 Juni 2023 Selasa / 13 Juni 2023 Rabu / 14 Juni 2023 Kamis / 15 Juni 2023 Jum'at / 16 Juni 2023 Sabtu / 17 Juni 2023 Senin / 19 Juni 2023 Total Rata-rata Feed Material (Ton) 428 570 424 436 472 444 484 570 411 399 530 481 486 6135 471,92 Oversize (Ton) 112 97 77 60 95 78 91 113 85 82 85 80 103 1.158 89,08 Pasir (Ton) 270 403 317 344 204 285 323 369 270 274 347 230 326 3.962 304,77 Lumpur (Ton) 46 70 30 32 173 81 70 88 56 43 98 171 58 1.016 78,15 Waktu (Jam) 6,03 7,74 5,93 6,98 6,18 5,55 6,73 6,73 4,87 5,16 6,95 7,04 7 82,89 6,38 Dapat disimpulkan bahwa produksi mesin CDE dengan feed material 73,96 ton/jam menghasilkan material oversize 13,96 ton/jam, Pasir 47,76 ton/jam dan lumpur 12,24 ton/jam. Seharusnya kapasitas kerja pada mesin CDE itu dapat menampung feed material 110 ton/jam. Maka dari hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa efisiensi produksi mesin CDE hanya mencapai 67, 23 %. 3.4 Data Minggu 1 Dan Minggu 2 Mesin Cde Total minggu 1 rata-rata Total minggu 2 rata-rata Feed Material (Ton) Oversize (Ton) Pasir (Ton) Lumpur (Ton) Waktu (Jam) 3258 610 2146 502 45,14 465,43 87,14 306,57 71,71 6,45 2877 548 1816 514 37,75 479,5 91,33 302,67 85,66 6,29 Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera Senin / 5 juni 2023 Selasa / 6 Juni 2023 Rabu / 7 Juni 2023 Kamis / 8 Juni 2023 Jumat / 9 Juni 2023 Sabtu / 10 Juni 2023 Senin / 12 Juni 2023 Selasa / 13 Juni 2023 Rabu / 14 Juni 2023 Kamis / 15 Juni 2023 Jumat / 16 Juni 2023 Sabtu / 17 Juni 2023 Senin / 19 Juni 2023 Total Rata – rata Magnafloc (kg) 25 kg 25 kg 25 kg 25kg 25 kg 25 kg 25 kg 25 kg Rheomax (kg) 25kg 25 kg 25 kg 25 kg 25 kg Waktu (Jam) 6,03 7,74 5,93 6,98 6,18 5,55 6,73 6,73 4,87 25 kg 25 kg 250 kg 19, 23 kg 25 kg 150 kg 11,53 6,95 7,04 7 82,89 6,37 5,16 Dapat disimpulkan dari tabel diatas bahwa feed material 73,96 ton/jam produksi mesin CDE untuk pemakaian magnafloc dapat menghabiskan sekitar 3,01 kg/jam. Dan untuk pemakaian rheomax dapat menghabiskan sekitar 1,81 kg/jam. 3.5 Data Minggu 1 dan Minggu 2 Pemakaian Magnafloc dan Rheomax Total Minggu 1 Rata – rata Total Minggu 2 Rata – rata Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera Magnafloc (kg) 125 kg 20,83 kg 125 kg 20,83 kg Rheomax (kg) 50 kg 8,3 kg 75 kg 12,5 kg 3.6 Grafik Hasil Data Pada Mesin CDE 100,00% 90,00% Pasir 80,00% 65,87% 70,00% 63,12% 60,00% Minggu 1 50,00% 40,00% Oversize Lumpur 30,00% 20,00% 18,72% 19,05% 15,41% 17,87% 10,00% 0,00% Gambar. Grafik perbandingan pada mesin cde Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera Minggu 2 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan pengamatan serta analisa kami saat melakukan kuliah praktek di PT. Lotus SG Lestari yang terletak di Kampung Pabuaran, Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Dapat disimpulkan bahwa : 1. Mahasiswa mampu mengetahui dan menganalisa berapa ton pasir yang menjadi produk per harinya yaitu produksi mesin CDE dengan feed material 73,96 ton/jam menghasilkan material oversize 13,96 ton/jam, Pasir 47,76 ton/jam dan lumpur 12,24 ton/jam. 2. Mengetahui kapasitas kerja pada mesin CDE itu dapat menampung feed material 110 ton/jam. Maka dari hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa efisiensi produksi mesin CDE hanya mencapai 67, 23 % sehingga efisiensinya kurang maksimal. 3. Menganalisa dari hasil pemakain magnafloc dan rheomax dapat menghabiskan magnafloc sekitar 3,01 kg/jam. Dan untuk pemakaian rheomax dapat menghabiskan sekitar 1,81 kg/jam. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan hasil perhitungan data dari pembahasan, maka ddidapatkan saran dan masukan dari kami untuk PT Lotus SG Lestari sebagai berikut : 1. Meningkatkan pengawasan terhadap para operator dimana ketepatan waktu dan segala aspek yang berada di ruang lingkup perusahaan, terutama faktor manusia sendiri seringkali menyebabkan efisiensi kerja berkurang seperti dari mulai masuk kerja hingga berhentinya kerja sebelum waktu istirahat. 2. Peningkatan proses louder Abu Batu ke dalam Hopper di mesin CDE lebih di percepat dan diperhatikan lagi agar target efisiensi kerja dan produksi pada mesin CDE dapat bekerja dengan optimal. 3. Perlunya meningkatkan perawatan dan juga pengecekan mesin secara rutin dan menyeluruh setiap kali akan memproduksi, hal ini diperlukan untuk menghindari terjadinya kerusakan pada saat produksi. 4. Proses Abu Batu di Plant A harusnya diperhalus dan diperkecil lagi sehingga bisa menghasilkan target produksi pasir di mesin CDE dapat tercapai dan optimal. Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera LAMPIRAN Lokasi tambang PT. Lotus SG Lestari Mesin CDE PT. Lotus SG Lestari Pengeboran lahan tambang Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera Proses Peledakan / Blasting Proses Loading Proses Hauling Program Studi Teknik Material Jurusan Teknologi Produksi dan Industri Institut Teknologi Sumatera
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )