PROBLEM BASED LEARNING BIOLOGI MOLEKULER DASAR Pengaruh Limbah Organik yang Menyebabkan Penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Tambak Budidaya Udang Vaname (Litopennaeus vannamei) Disusun Oleh: Muhammad Salman Alhafidzi 146231006 Elyssah Indri Yanti 146231021 Penta Aji Purnama 146231067 Ammelia Eka Putri Salsabillah 146231114 Salsabila Tiara Agustin 146231153 PROGRAM STUDI AKUAKULTUR Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga 2025 DAFTAR ISI DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………...i I. PENDAHULUAN……………………………………………………………………..1 1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………...1 1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………………..…2 1.3 Tujuan……………………………………………………………………….……...2 1.4 Manfaat……………………………………………………………………….…….3 II. TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………...…..4 2.1 Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei).................................................................4 2.1.1 Klasifikasi Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei).....................................4 2.1.2 Morfologi Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)......................................5 2.1.3 Siklus Hidup Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)..................................6 2.1.4 Habitat Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)...........................................6 2.2 White Spot Syndrome Virus (WSSV)........................................................................6 2.3 Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam Deteksi WSSV……………………...…..7 2.4 Proses Penginfeksian Virus WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)....................................................................................................................................8 2.5 Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)..............................................................................................................9 2.5.1 Strategi Pencegahan Infeksi WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)...................................................................................................................................9 2.5.2 Strategi Pengendalian Infeksi WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)....................................................................................................................................9 III. METODOLOGI……………………………………………………………....……..11 3.1 Desai Penelitian…………………………………………………………….......…11 3.2 Sumber Data……………………..………………………………………….…….11 3.3 Teknik Pengumpulan Data………………………………………………….…….12 IV. PEMBAHASAN…………………………………………………………………..…13 4.1 Struktur dan Fungsi Organel Sel…………………………………………………..13 4.2 Interaksi Unit Organisasi Level Seluler dan Molekuler…………………………...14 4.3 Replikasi dan Transkripsi………………………………………………………....15 4.4 Translasi…………………………………………………………………………..15 4.5 Proses Penyusunan Protein Sederhana, Proses Penyusunan Protein Kompleks, dan Proses Penyusunan Enzim………………………………………………………….…15 4.5.1 Sintesis Protein Sederhana……………………………………………………....15 4.5.2 Proses Penyusunan Protein Kompleks…………………………………………..16 4.5.3 Proses Sintesis Enzim pada Sel yang Terinfeksi Virus………………………......16 4.6 Transportasi Penyusunan Protein dan Sistem Protein………………………..……16 4.7 Metabolit Primer dan Metabolit Sekunder……………………………………..….17 4.8 Sintesis dan Proses Imun Ikan pada Level Molekuler……………………….….....18 4.9 Teknik Rekayasa Molekuler……………………………………………………....19 V. PENUTUP…………………………………………………………………………....21 5.1 Kesimpulan………………………………………………………………….…….21 5.2 Saran……………………………………………………..………………….…….21 i DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….22 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Udang vannamei…………………………………………………...………………5 Gambar 2. Daur hidup Udang Vannamei……………………………………………………...7 ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas utama dalam industri akuakultur karena memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat, ketahanan lingkungan yang baik, dan permintaan pasar yang tinggi (Kusna et al. 2023). Menurut Akbar et al. (2022), produksi udang vannamei terus meningkat setiap tahun dan menjadi andalan ekspor di berbagai negara, termasuk Indonesia. Budidaya udang vannamei yang efisien dan berkelanjutan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, terutama di wilayah pesisir (Khofifah et al. 2023). Namun, ancaman penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus menjadi salah satu kendala utama dalam mencapai produktivitas optimal dalam budidaya udang vannamei (Kim et al. 2023). White Spot Syndrome Virus (WSSV) merupakan salah satu penyakit paling mematikan dalam budidaya udang vannamei dan dapat menyebabkan tingkat kematian hingga 100% dalam waktu 7–10 hari setelah terinfeksi (R). Menurut Fadilah dan Fasya (2022), infeksi WSSV ditandai dengan munculnya bintik putih pada karapas udang dan perubahan warna tubuh menjadi pucat kemerahan. Wabah WSSV tidak hanya menyebabkan penurunan produksi yang signifikan, tetapi juga meningkatkan risiko kegagalan budidaya yang berdampak pada kerugian ekonomi (Oliveira de Freitas et al. 2024). Oleh karena itu, pengendalian dan deteksi dini WSSV menjadi hal yang sangat penting untuk menekan laju penyebaran virus dan meningkatkan kelangsungan hidup udang vannamei (Widanarni et al. 2020). Limbah dari aktivitas industri, pertanian, dan rumah tangga yang masuk ke perairan tambak dapat menjadi pemicu utama peningkatan kasus WSSV. Perubahan kualitas air akibat limbah ini dapat menyebabkan stres pada udang, melemahkan sistem imun, dan mempercepat penyebaran virus di dalam populasi budidaya. Selain itu, limbah sisa pakan juga berkontribusi dalam penyebaran penyakit WSSV. Akumulasi sisa pakan di dasar tambak dapat menyebabkan peningkatan kadar amonia dan nitrit yang beracun bagi udang serta mendukung pertumbuhan bakteri dan patogen lainnya yang dapat memperburuk kondisi kesehatan udang (Cox et al., 2023). Sisa pakan yang tidak dikonsumsi akan mengalami dekomposisi dan meningkatkan kadar bahan organik dalam air, yang selanjutnya dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dan meningkatkan risiko infeksi penyakit termasuk WSSV (Verma et al., 2017). Peningkatan bahan 2 organik ini juga dapat mengubah keseimbangan mikroba dalam tambak, memberikan keuntungan bagi patogen untuk berkembang biak. Selain itu, lingkungan yang kaya akan bahan organik dapat memfasilitasi vektor pembawa virus WSSV, seperti copepoda dan organisme lain yang menjadi perantara penularan (Yaemkasem et al., 2023). Akumulasi limbah yang tidak terkontrol ini akhirnya menciptakan kondisi lingkungan yang ideal bagi WSSV untuk menyebar dengan cepat di tambak udang vannamei. Deteksi dini terhadap infeksi WSSV dapat dilakukan melalui teknik Polymerase Chain Reaction (PCR), yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi dalam mendeteksi materi genetik virus (Xue et al. 2022). PCR mampu menggandakan sekuens DNA target menjadi ribuan hingga jutaan salinan, sehingga mempermudah identifikasi patogen pada tahap awal infeksi. Selain itu, penggunaan teknik PCR juga memungkinkan pemantauan kondisi lingkungan budidaya secara real-time, sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran (Zhang et al. 2021). Dengan demikian, penerapan PCR dalam sistem monitoring budidaya udang vannamei dapat meningkatkan ketahanan produksi dan meminimalkan risiko kegagalan akibat infeksi WSSV (Cox et al., 2023 ). 1.2 Rumusan Masalah White Spot Syndrome Virus (WSSV) merupakan ancaman serius dalam budidaya udang vannamei karena dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi dalam waktu singkat. Penyebaran virus ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk limbah industri, pertanian, dan rumah tangga yang menurunkan kualitas air serta melemahkan sistem imun udang. Upaya deteksi dini seperti penggunaan teknik PCR diperlukan untuk mengidentifikasi infeksi sejak tahap awal agar tindakan pencegahan dapat dilakukan secara efektif. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran WSSV serta strategi yang tepat dalam upaya pencegahan dan pengendaliannya di tambak udang vannamei. 1.3 Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk memahami struktur genetik dan mekanisme infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei). memahami karakteristik genetik WSSV sangat penting dalam menentukan strategi pencegahan yang efektif. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam mendeteksi infeksi WSSV secara dini sebelum gejala klinis muncul. Dengan adanya deteksi dini yang akurat, diharapkan strategi mitigasi dapat diterapkan lebih cepat untuk mengurangi angka kematian dan meningkatkan keberhasilan budidaya udang vannamei. 2 1.4 Manfaat Pemahaman mendalam tentang struktur genetik dan mekanisme infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang vannamei memberikan manfaat yang sangat besar bagi industri budidaya udang. Informasi ilmiah ini tidak hanya memperkaya pengetahuan kita tentang biologi virus dan interaksinya dengan inang, tetapi juga menjadi dasar yang kuat untuk pengembangan sistem deteksi dini infeksi WSSV. Melalui teknik PCR (Polymerase Chain Reaction), pembudidaya dapat mendeteksi keberadaan virus lebih awal, memungkinkan tindakan pencegahan yang lebih cepat dan efektif. Selain itu, pengetahuan ini menjadi acuan yang tak ternilai bagi pembudidaya dalam merancang dan menerapkan strategi pencegahan dan pengendalian infeksi WSSV. Dengan memahami cara kerja virus, pembudidaya dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan produktivitas dan kelangsungan hidup udang vannamei, mengurangi kerugian ekonomi, dan memastikan keberlanjutan usaha budidaya udang. Dengan demikian, investasi dalam penelitian dan pemahaman tentang WSSV membawa manfaat yang signifikan bagi industri akuakultur secara keseluruhan. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Udang vaname (Litopenaeus vannamei) atau yang biasa disebut sebagai udang putih yang berasal dari Hawai. Udang ini telah banyak dikembangkan di Cina, Thailand, Taiwan, Vietnam serta di Indonesia. Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas unggulan dalam budidaya perikanan. Hal ini karena selain harganya kompetitif, sistem produksinya juga dapat dilakukan secara masal dengan padat tebar tinggi (Mangampa dan Suwono, 2016). Berbagai kelebihan, yang dimiliki oleh udang vaname yaitu diantaranya adalah sistem budidaya relatif mudah, tahan terhadap penyakit, baik bakteri maupun virus, udang ini juga mampu dipelihara dengan salinitas yang rendah. Teknologi budidaya udang vaname semakin berkembang dengan lahirnya teknologi intensif dan super intensif mencapai padat tebar yang tinggi berkisar 100-400 ekor/m2 (Diyah, 2023). 2.1.1 Klasifikasi Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Klasifikasi udang putih atau udang vaname (Litopenaeus vannamei) menurut Galil et al. (2011) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class : Crustacea Ordo : Decapoda Family : Penaeidae Genus : Litopenaeus Species : Litopenaeus vannamei Menurut Dhewantara dkk, 2022. udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Udang vannamei 2.1.2 Morfologi Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) 4 Tubuh udang vaname berwarna putih transparan sehingga lebih umum dikenal sebagai “white shrimp”. Namun, ada juga yang cenderung berwarna kebiruan karena lebih di dominasi oleh kromatofor biru. Panjang tubuh dapat mencapai 23 cm. Tubuh udang vaname dibagi menjadi dua bagian, yaitu kepala (thorax) dan perut (abdomen). Kepala udang vaname terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxilliped dan lima pasang kaki berjalan (periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Sedangkan pada bagian perut (abdomen) udang vaname terdiri dari enam ruas dan pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson (Diyah, 2023). Sifat-sifat penting yang dimiliki udang vaname yaitu aktif pada kondisi gelap (nocturnal), dapat hidup pada kisaran salinitas lebar (euryhaline) umumnya tumbuh optimal pada salinitas 15-30 ppt, suka memangsa sesama jenis (kanibal), tipe pemakan lambat tetapi terus menerus (continous feeder), menyukai hidup di dasar (bentik) dan mencari makan lewat organ sensor (chemoreceptor). Seperti hewan arthropoda lainnya, udang vaname juga mengalami molting. Pada fase larva, molting terjadi setiap 30-40 jam pada temperatur 28°C. Juvenil udang ukuran 1–5 gram akan molting setiap 4-6 hari, tetapi udang berukuran 15 gram akan molting setiap 2 minggu (Diyah, 2023). 2.1.3 Siklus Hidup Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Siklus hidup udang vannamei (Litopenaeus vannamei) sejak telur fertilisasi dan lepas dari tubuh induk betina akan mengalami berbagai macam tahap, yaitu : Naupli, Zoea, Mysis dan post Larva (Santika dkk., 2024). Naupli bersifat planktonik dan photaxis positif. Dalam stadia ini masih memiliki kuning telur sehingga belum memerlukan makanan. Perkembangan stadia naupliu terdiri dari enam stadium. Naupli memiliki 3 pasang organ tubuh yaitu antena pertama, antena kedua dan mandible. Antena pertama uniramous, sedangkan 2 lainnya biramous. Ketika naupli baru saja menetas, larva masih mempunyai kandungan kuning telur (yolk sac) sebagai sumber makan dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Perubahan bentuk dari naupli menjadi zoea memerlukan waktu kira-kira 40 jam setelah penetasan. Pada stadia ini larva dengan cepat bertambah besar (Yustiati dan Andriani, 2022). Siklus daur hidup pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dapat dilihat pada gambar 2. 5 Gambar 2. Daur hidup Udang Vannamei (Sumber : Asmirati, 2020) Tambahan makanan yang diberikan sangat berperan dan mereka aktif memakan fitoplankton. Stadia akhir zoea terdiri dari 3 sub stadia secara kasar tubuhnya terbagi kedalam tiga bagian, yaitu carapace, thorax, dan abdomen. Larva mencapai stadia mysis pada hari ke lima setelah penetasan. Larva pada stadia ini lebih kelihatan dewasa dari dua stadia sebelumnya. Stadia mysis ini lebih kuat dari stadia zoea dan dapat bertahan dalam proses penanganan. Stadia mysis memakan phytoplankton dan zooplankton, akan tetapi lebih menyukai zooplankton menjelang stadia mysis akhir (M3). Perubahan bentuk dari mysis menjadi post larva pada hari kesembilan. Stadia post larva mirip dengan udang dewasa, dimana lebih kuat dan lebih dapat bertahan dalam penanganan. Post larva bersifat planktonik, dimana mulai mencari jasad hidup sebagai makanan (Yustiati dan Andriani, 2022). 2.1.4 Habitat Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) berasal dari daerah subtropis pantai barat Amerika, mulai dari teluk California di Mexico bagian utara sampai ke pantai barat Guatemal, El Savador, Nicaragua, Kosta Rika di Amerika Tengah hingga Peru di Amerika Selatan. Habitat disukai oleh udang vannamei adalah perairan dasar laut (soft) yang biasanya campuran lumpur yang berpasir. Induk udang vannamei ditemukan pada perairan lepas pantai dengan kedalaman berkisar antara 70-72 meter (235 kaki), menyukai daerah yang dasar perairannya berlumpur. Sifat hidup dari udang vaname adalah catadromus atau dua lingungan, dimana udang dewasa akan memijah di laut terbuka. Larva dan yuana udang vaname yang sudah menetas akan bermigrasi ke daerah pesisir pantai atau mangrove yang biasa disebut daerah estuarine tempat nurseri ground nya, dan setelah dewasa akan bermigrasi kembali ke laut untuk melakukan kegiatan pemijahan seperti pematangan gonad (maturasi) dan perkawinan (Yustiati dan Andriani, 2022). 6 2.2 White Spot Syndrome Virus (WSSV) White Spot Syndrome Virus adalah salah satu patogen utama yang menyerang crustacea di seluruh dunia. Virus ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. (Xue et al., 2022). Dalam pengertian lain, WSSV merupakan virus yang berasal dari virus SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculovirus) dan termasuk dalam kelompok virus dengan genetik berupa DNA yang memiliki bentuk batang (Khofifah dkk., 2023). Infestasi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pertama kali tercatat pada sistem budidaya lobster air tawar di China pada tahun 2007 (Xue et al., 2022). Seperti virus lainnya, white spot syndrome virus (WSSV) yang mematikan pada udang diketahui mengubah populasi dan komposisi asam lemak selama infeksi. Pada tahap awal replikasi genom virus (12 jam pasca infeksi), WSSV merangsang lipolisis dimana asam lemak dioksidasi melalui β-oksidasi untuk menghasilkan energi dan biomolekul. Pada tahap akhir infeksi (24 jam pasca infeksi), WSSV meningkatkan ekskresi asam lemak sintase (FAS) untuk mendukung lipogenesis menghasilkan asam lemak dalam jumlah besar guna morfogenesis virion (Ng et al., 2023). Selain perubahan pada jumlah tetesan lipid di dalam hemosit, infeksi WSSV juga mempengaruhi aktivitas lipase dan kadar asam lemak bebas (FFA) dalam jaringan udang. Peningkatan aktivitas lipase di hepatopankreas yang terinfeksi WSSV mungkin berkontribusi pada perubahan ini, yang selanjutnya mempengaruhi kadar FFA dalam hemosit dan hemolimfa. Oksidasi β-oksidasi berperan penting dalam produksi energi pada udang yang terinfeksi WSSV. Pada kondisi normal, tetesan lipid dan trigliserida dipecah oleh lipase menjadi asam lemak bebas (FFA), yang kemudian diangkut ke mitokondria untuk menghasilkan energi melalui βoksidasi. Untuk mengetahui apakah β-oksidasi berperan dalam produksi virion, dapat dilakukan pengukuran jumlah salinan genom virus dalam hemosit dan hemolimfa (Ng et al., 2023). Selain itu untuk mendeteksi keberadaan dan perkembangan WSSV secara akurat dapat menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) sebagai alat yang sangat sensitif dan memungkinkan untuk digunakan dalam identifikasi gen virus pada berbagai infeksi. Morfologi White Spot Virus (WSSV) yaitu memiliki ukuran diameter antara 80-120 nm dengan panjang berkisar 250-380 nm. Struktur virionnya berbentuk batang hingga elips dan memiliki pelengkap menyerupai flagela yang unik di salah satu ujungnya. Dalam virion WSSV ditemukan setidaknya 45 jenis protein struktural yang tersusun dalam tiga lapisan morfologis yang berbeda. Replikasi virion terjadi di dalam inti sel yang terinfeksi tanpa membentuk inklusi. WSSV menargetkan jaringan ektodermal dan mesodermal pada inangnya. Struktur nukleokapsid virus ini mengandung protein pengikat DNA dasar (VP15) serta protein besar (VP664), yang tersusun dalam bentuk cincin bertingkat. Selubung virus memiliki ketebalan sekitar 6-7 nm dan terdiri dari 35 jenis protein berbeda. Di antara protein tersebut, VP28 dan 7 VP26 merupakan komponen utama, menyumbang sekitar 60% dari total struktur selubung (Islam et al., 2022). 2.3 Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam Deteksi WSSV WSSV ini menjadi hal yang harus diperhatikan untuk pengembangan budidaya udang dalam upaya meningkatkan hasil produksi sehingga tidak terjadi kegagalan panen pada udang selama masa budidaya. Untuk mengantisipasi penyebaran virus dan mengurangi resiko kegagalan produksi diperlukan usaha pencegahan yaitu dengan peringatan awal dan pemantauan virus patogen tersebut. Diagnosa virus dapat dilakukan dengan histopatologi, mikroskop elektron, ELISA atau PCR. Pemantauan keberadaan patogen WSSV ini dapat dideteksi melalui teknik polymerase chain reaction (PCR) yang bekerja secara spesifik dan sensitif. Teknik PCR memberikan tawaran metode cepat dan sensitif untuk mendiagnosa penyakit diakibatkan virus yang dapat menangani kesulitan dari metode diagnosa biasa. Uji PCR melewati pemisahan fragmen DNA virus dan tidak dibutuhkan untuk pengambilan partikel virus untuk isolasi pada kultur sel. Teknik PCR yang ditemukan oleh Dr. Kary Mullis pada tahun 1985 dapat digunakan sebagai deteksi dini virus pada udang yang dibudidayakan. Teknik ini mampu mengisolasi keberadaan virus sebelum penyakit menunjukkan gejala klinis. Untuk melakukan teknik PCR diperlukan DNA genom udang yang telah terinfeksi WSSV sebagai cetakan (template) untuk proses perbanyakan atau penggandaan DNA virus. Isolasi DNA menjadi bagian penting dalam deteksi WSSV karena merupakan tahap awal dimana adanya pemisahan dari kontaminan lain seperti protein dan RNA sehingga didapat DNA murni. Mendeteksi WSSV harus dilakukan sejak dini sehingga dapat meminimalisir dan mencegah WSSV pada udang. Tingkat serangan WSSV yang ringan menunjukkan penggandaan virus masih sedikit. Berdasarkan hal ini maka untuk dapat mendeteksi keberadaan WSSV dengan tingkat infeksi ringan dibutuhkan metode isolasi yang sensitif sehingga dapat mengisolasi DNA dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi. Untuk menunjang pengkajian deteksi dini udang yang terinfeksi ringan maka perlu adanya pengkajian berbagai metode isolasi DNA (Iqbal, 2016). 2.4 Proses Penginfeksian Virus WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Keberadaan virus WSSV (White Spot Syndrome Virus) pada udang vaname akan membawa dampak yang besar pada produksi budidaya udang di tambak. Gejala-gejala WSSV, di antaranya udang bergerombol di pinggir kolam, nafsu makan menurun drastis, tidak peka rangsangan, tubuhnya berwarna kuning susu atau pucat kemerahan serta muncul bintik putih dengan diameter 0,5-2 mm pada bagian kepala dan dada sampai menyebar ke seluruh tubuh. 8 Beberapa penelitian menunjukkan keberadaan WSSV pada udang vaname terdapat di insang, sirip renang, dan kaki berjalan, hati dan organ lainnya. Penyebaran penyakit WSSV pada udang vaname bisa secara vertikal melalui induk menularkan ke larvanya dan secara horizontal melalui air yang tidak disucihamakan (water borne transmission). Virus ini dapat ditransmisikan lewat proses kanibalisme udang yang baru mati atau lewat air yang memang sudah terkontaminasi WSSV. Penyerangan penyakit WSSV diawali oleh penularan partikel WSSV dengan cara mengikat sel yang rentan untuk memanfaatkan protein bagian luar dari sel, virus SEMBV yang terdapat pada partikel WSSV masuk ke dalam sel dan menyerang inti sel. Udang yang terkena serangan penyakit White Spot terjadi pada usia >30 hari. Udang yang terinfeksi WSSV berpotensi menyebabkan 100% kematian (Fauzianti dan Yulianti, 2022). 2.5 Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) 2.5.1 Strategi Pencegahan Infeksi WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Tindakan pencegahan White Spot Syndrome Virus (WSSV) terhadap udang vannamei yaitu untuk mencegah masuknya virus ke dalam sistem budidaya. Pendekatan yang penting adalah menggunakan benih hatchery unggul yang bebas WSSV yang dapat diuji dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) sebelum ditanam di kolam Selain itu, menghindari stres yang tidak perlu pada udang dengan mengelola kualitas air pada tingkat optimal juga penting, karena dengan stres, peluang infeksi lebih tinggi. Parameter lingkungan tertentu seperti suhu, salinitas, dan oksigen terlarut harus dijaga pada tingkat optimal untuk pertumbuhan udang (Khofifah dkk., 2023). Penerapan biosekuritas yang ketat sama pentingnya seperti langkah-langkah lain dalam pengendalian infeksi. Apa yang dapat dilakukan termasuk penggunaan filtrasi air, desinfeksi peralatan kolam, dan pembatasan masuk ke kolam untuk mengontrol penyebaran virus melalui peralatan atau agen perantara seperti burung air. Selain itu, pendekatan proaktif melalui pengujian PCR memungkinkan deteksi virus sebelum kontaminasi meluas yang memungkinkan mitigasi terjadi lebih awal (Khofifah dkk., 2023). 2.5.2 Strategi Pengendalian Infeksi WSSV pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) terhadap udang vannamei dapat dikendalikan ketika virus telah menyebar ke dalam sistem kultur dan mulai menyerang udang. Langkah awal yang perlu diambil adalah mengkarantina kolam yang terinfeksi untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut ke daerah lain. Udang vannamei yang terinfeksi harus segera dipanen atau dimusnahkan agar tidak berfungsi sebagai sumber penyebaran ke udang 9 yang sehat. Selain itu, kolam yang terpengaruh perlu dikeringkan dan dibersihkan secara menyeluruh sebelum memulai siklus kultur yang baru (Abudi dkk., 2023). Metode lain untuk mengendalikan infeksi termasuk penjadwalan pertukaran air yang terkontrol dan penerapan metode sterilisasi seperti filtrasi dan desinfeksi. Ini membantu dalam pengurangan virus di lingkungan kolam. Selain itu, mengendalikan infeksi pada udang dapat dicapai dengan memberi makan udang dengan pakan yang mengandung imunostimulator yang dapat meningkatkan sistem imun udang. Pemantauan rutin dengan teknik PCR juga sangat dianjurkan agar infeksi dapat terdeteksi pada tahap awal, dan intervensi dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (Abudi dkk., 2023). 10 BAB III METODOLOGI 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode studi literatur atau review pustaka, yaitu pendekatan penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan, menganalisis, dan menyintesis berbagai sumber literatur yang relevan. Menurut Sugiyono (2020), studi literatur digunakan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai suatu topik tanpa melakukan eksperimen langsung. Dalam penelitian ini, studi literatur dilakukan untuk mengkaji struktur genetik dan mekanisme infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang vannamei serta efektivitas teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam mendeteksi virus tersebut. Dengan metode ini, informasi yang diperoleh berasal dari berbagai jurnal ilmiah, buku akademik, serta laporan penelitian sebelumnya yang telah diuji validitasnya. Pendekatan studi literatur dipilih karena memberikan akses terhadap data yang luas dan memungkinkan analisis perbandingan dari berbagai penelitian terdahulu. Selain itu, metode ini dapat membantu mengidentifikasi tren terbaru dalam penelitian WSSV dan PCR tanpa harus melakukan eksperimen laboratorium yang memerlukan biaya dan waktu lebih besar (Creswell, 2021). Penelitian ini juga mengacu pada metode systematic review, di mana sumber literatur dipilih berdasarkan relevansi, validitas, dan kredibilitasnya dalam menjelaskan topik yang dibahas (Ridley, 2020). Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai deteksi dini WSSV menggunakan teknik PCR serta implikasinya terhadap keberlanjutan budidaya udang vannamei. 3.2 Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini berasal dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan topik White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang vannamei dan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) sebagai metode deteksi. Menurut Sugiyono (2020), studi literatur memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari jurnal ilmiah, buku akademik, laporan penelitian, serta dokumen resmi dari lembaga terkait. Sumber data yang digunakan dalam 11 penelitian ini mencakup publikasi ilmiah dari database terkemuka seperti Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, ResearchGate, serta jurnal nasional terakreditasi (Creswell, 2021). Selain itu, dokumen dari lembaga seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), FAO, dan World Aquaculture Society juga digunakan untuk memperkaya analisis penelitian. Pemilihan sumber data dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria tertentu agar hasil penelitian lebih valid dan relevan. Menurut Ridley (2020), salah satu kriteria utama dalam studi literatur adalah menggunakan referensi yang terbaru, yaitu dalam rentang waktu 35 tahun terakhir, kecuali untuk teori dasar yang masih relevan. Selain itu, hanya literatur yang telah melalui peer-review atau berasal dari jurnal bereputasi yang digunakan untuk memastikan keakuratan informasi (Bryman, 2021). Sumber yang dipilih juga harus memiliki keterkaitan langsung dengan aspek genetik WSSV, mekanisme infeksi, serta penggunaan PCR dalam deteksi penyakit pada udang. Dengan pemilihan sumber yang sistematis, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan analisis yang berbasis bukti dan dapat digunakan sebagai acuan ilmiah. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini mengumpulkan data sekunder melalui pencarian literatur yang dilakukan di berbagai database daring seperti Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, dan ResearchGate. Peneliti menggunakan kata kunci spesifik seperti “White Spot Syndrome Virus (WSSV)”, “PCR pada udang vannamei”, dan “deteksi penyakit udang” untuk memastikan relevansi sumber yang diperoleh dengan topik penelitian (Sugiyono, 2020; Creswell, 2021; Ridley, 2020). Proses pencarian dilakukan secara sistematis dengan melakukan penyaringan awal berdasarkan judul dan abstrak, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi menyeluruh terhadap metodologi, hasil, dan kesimpulan dari masing-masing literatur. Data yang telah dikumpulkan kemudian diseleksi dan dianalisis untuk memastikan bahwa hanya literatur yang kredibel, relevan, dan terkini yang dijadikan dasar dalam penelitian ini. 12 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Struktur dan Fungsi Organel Sel White Spot Syndrome Virus (WSSV) adalah virus DNA untai ganda yang besar dan menimbulkan ancaman serius bagi Litopenaeus vannamei dan spesies udang lainnya dalam budidaya perairan. Secara struktural, WSSV terdiri dari virion berbentuk batang dan beramplop dengan panjang sekitar 275–380 nm dan lebar 120–150 nm. Virus ini memiliki nukleokapsid yang jelas dibatasi oleh amplop membran lipid. Genom virus berbentuk sirkular dengan ukuran sekitar 300 kilobase (kb) yang membuat virus ini merupakan virus berukuran besar dari semua virus yang menginfeksi hewan (Wang et al., 2025). Virus ini mengkode berbagai protein struktural dan non-struktural yang penting untuk infeksi dan replikasi. Di antaranya, protein amplop seperti VP28 dan VP26 memainkan peran penting dalam pengenalan sel inang dan masuknya virus. VP28 sangat signifikan karena memfasilitasi perlekatan dan fusi dengan membran sel inang, memungkinkan genom virus menembus sitoplasma (Campos-Montes et al., 2023). Setelah masuk, WSSV memanfaatkan berbagai struktur dan organel seluler. Endositosis diyakini sebagai cara utama masuk ke dalam sel inang, diikuti oleh pelepasan mantel dan transportasi DNA virus ke nukleus tempat replikasi terjadi (Campos-Montes et al., 2020). Nukleus adalah tempat utama replikasi dan transkripsi genom virus, yang menyebabkan gangguan fungsi normal nukleus. Selain itu, retikulum endoplasma (RE) dan aparatus Golgi sangat terlibat dalam sintesis dan pemrosesan protein virus, yang menyebabkan stres dan disfungsi organel. Mitokondria adalah target penting lainnya selama infeksi; protein wsv152 yang dikode oleh WSSV telah terbukti menginduksi apoptosis dengan berinteraksi dengan protein mitokondria cytochrome c oxidase 5a (COX5a), sehingga memfasilitasi replikasi virus dan meningkatkan mortalitas inang. Ini mencerminkan kemampuan virus untuk memanipulasi jalur apoptosis sebagai bagian dari strategi infeksinya (Yan et al., 2020). 13 Stressor lingkungan, terutama akumulasi limbah organik dalam sistem budidaya perairan mengganggu organel sel dan kekebalan udang. Limbah organik berkontribusi pada kualitas air yang buruk, yang dapat merusak jaringan penghalang, mengganggu keseimbangan ion, dan menekan organel yang relevan dengan kekebalan seperti mitokondria dan RE (Wan et.al., 2025). Gangguan ini mengurangi kemampuan udang untuk melakukan pertahanan seluler yang efektif terhadap patogen seperti WSSV, yang pada akhirnya membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi dan meningkatkan tingkat keparahan wabah di lingkungan pertanian intensif (Lillehammer ,., 2020). 4.2 Interaksi Unit Organisasi Level Seluler dan Molekuler Komponen penyusun White Spot Syndrome Virus (WSSV) memiliki peran penting dalam proses replikasi, infeksi, serta kelangsungan hidup virus di dalam tubuh inang, khususnya udang. Meskipun virus tidak memiliki organel sebagaimana sel eukariotik, WSSV dilengkapi dengan struktur fungsional seperti kapsid (lapisan pelindung), envelope (selubung lipid), serta materi genetik berupa DNA untai ganda. Materi genetik ini mengandung informasi penting untuk pembentukan dan pengendalian berbagai komponen virus. Seluruh elemen ini bekerja secara terintegrasi untuk memungkinkan virus menginfeksi dan mengendalikan aktivitas sel inang (Cooper and Adams, 2022). Protein-protein struktural WSSV seperti VP28 dan VP26 berperan dalam proses pengenalan dan penetrasi terhadap sel inang. Melalui pengikatan spesifik terhadap reseptor di permukaan sel, virus dapat memulai proses infeksi. Setelah masuk ke dalam sel, DNA virus akan diarahkan menuju inti dan memanfaatkan sistem transkripsi serta translasi sel inang untuk mensintesis protein virus baru. Proses ini serupa dengan mekanisme ekspresi gen yang dikendalikan oleh faktor transkripsi pada organisme eukariotik (Koentjoro dkk., 2020). Selain itu, WSSV juga menghasilkan protein non-struktural yang mampu memodulasi fungsi sel inang, seperti menekan apoptosis guna memberikan waktu yang cukup bagi virus untuk bereplikasi. Mekanisme ini memiliki kesamaan dengan jalur pensinyalan cGAS–STING pada sel hewan, yang berfungsi mendeteksi keberadaan DNA asing di sitoplasma dan mengaktifkan respons imun seluler (Hopfner and Hornung, 2020). Pemahaman terhadap interaksi molekuler antara protein virus dan komponen sel inang juga memiliki nilai aplikatif dalam bidang bioteknologi, terutama dalam pengendalian penyakit. Salah satu contohnya adalah penggunaan senyawa bioaktif dari tanaman kelor yang berpotensi menghambat interaksi antara protein virus WSSV dengan sel inang, sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi (Koentjoro dkk., 2020). 14 Selain aspek fungsional, WSSV juga menunjukkan koordinasi struktural yang kompleks melalui penyusunan protein-protein virus menjadi struktur tiga dimensi yang presisi. Struktur ini berfungsi untuk melindungi materi genetik dan membantu dalam proses infeksi. Pemahaman yang mendalam mengenai organisasi molekuler dan struktural WSSV sangat penting dalam pengembangan teknologi biologi molekuler untuk meningkatkan ketahanan organisme akuatik terhadap infeksi virus (Casini et al., 2017). 4.3 Replikasi dan Transkripsi Infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang berlangsung secara terorganisir di dalam inti sel, menyerang jaringan vital seperti insang, hepatopankreas, dan jaringan ikat. Awalnya, virus berada dalam fase laten tanpa aktivitas replikasi signifikan. Namun, ketika terjadi stres lingkungan seperti peningkatan suhu atau akumulasi limbah organik, virus menjadi aktif dan masuk fase eksponensial dengan mengaktifkan gen-gen awal seperti ie1 dan ie3 yang memicu transkripsi lanjutan. Proses ini berlanjut dengan aktivasi gen menengah dan akhir yang mengatur replikasi DNA virus melalui mekanisme rolling-circle replication, melibatkan DNA polimerase serta faktor inang. Hasilnya adalah produksi virion baru dalam jumlah besar, yang menyebar ke sel lain, menyebabkan kerusakan jaringan luas dan kematian massal udang, terutama di tambak dengan pengelolaan lingkungan yang buruk. Pemahaman mekanisme ini penting sebagai dasar pengembangan strategi deteksi dini dan pencegahan infeksi (Arafani, 2016). 4.4 Translasi Dalam Infeksi virus White Spot Syndrome (WSSV) Virus WSSV memanfaatkan kondisi ini untuk menyusup ke dalam sel-sel target, terutama sel epitel dan hemosit, dan mengambil alih mekanisme seluler udang untuk mereplikasi materi genetik virusnya secara masif. Proses translasi protein virus berlangsung cepat melalui manipulasi ribosom inang, sehingga ekspresi gen pertahanan udang menjadi terhambat. Ini menjelaskan mengapa infeksi WSSV cenderung berlangsung sangat agresif dalam tambak dengan beban organik tinggi. Mekanisme recovery atau pemulihan materi genetik yang mulai menjadi fokus penelitian dalam rangka mitigasi penyakit ini. Beberapa studi menunjukkan bahwa dengan perbaikan kualitas lingkungan, seperti pengelolaan limbah organik melalui sistem bioflok atau penggunaan probiotik, udang mampu memulihkan aktivitas ekspresi gen pertahanan secara bertahap. Teknik RNA interference (RNAi) mulai dikembangkan untuk mendukung proses recovery ini dengan menargetkan gen atau transkrip spesifik virus. Meskipun, keberhasilan pemulihan sangat tergantung pada waktu intervensi dan kondisi awal lingkungan tambak ( Kamilia, 2021). 15 4.5 Proses penyusunan protein sederhana, Proses penyusunan protein kompleks, dan Proses penyusunan enzim 4.5.1 Sintesis Protein Sederhana Dalam kondisi normal, sintesis protein pada Litopenaeus vannamei mengikuti proses eukariotik standar melalui transkripsi dan translasi. Di dalam inti sel, gen spesifik yang terkode dalam DNA udang ditranskripsi menjadi molekul RNA duta (mRNA). mRNA tersebut kemudian ditransportasikan ke sitoplasma, tempat ribosom baik yang bebas maupun menempel pada retikulum endoplasma kasar (RE kasar)-mentranslasikan informasi genetik menjadi protein. RNA transfer (tRNA) membawa asam amino yang sesuai ke ribosom, sementara RNA ribosomal (rRNA) memfasilitasi pembentukan ikatan peptida. Setelah translasi, protein yang baru terbentuk mengalami pelipatan, modifikasi, dan transportasi terutama melalui RE dan aparatus Golgi untuk mencapai bentuk fungsional akhir atau lokasi seluler yang dituju (Campos-Montes et.al., 2023). 4.5.2 Proses Penyusunan Protein Kompleks Selama infeksi, White Spot Syndrome Virus (WSSV) membajak mesin sintesis protein yang terkoordinasi dengan baik pada udang untuk mereplikasi dan memproduksi komponen virusnya. Setelah masuk ke dalam sel udang, WSSV menembus membran sel melalui endositosis dan melepaskan DNA untai ganda ke dalam inti inang. Di sana, genom virus meniru DNA inang dan ditranskripsi oleh sistem RNA polimerase inang menjadi mRNA virus. mRNA virus ini keluar dari inti dan ditranslasikan oleh ribosom inang di sitoplasma, mengambil alih mesin translasi udang untuk memproduksi protein virus seperti VP28, VP26, dan VP19 protein amplop struktural kunci yang membantu perakitan virus dan infeksi sel inang. Modifikasi pasca translasi dan pelipatan protein tetap terjadi di RE (retikulum endoplasma) dan aparatus Golgi inang, tetapi kini terutama melayani perakitan dan pematangan partikel virus. Pengalihan sumber daya seluler inang untuk sintesis virus ini mengganggu produksi protein normal pada udang, melemahkan fungsi fisiologis dan respons imunnya.(Yan et al., 2020). 4.5.3 Proses Sintesis Enzim pada Sel yang Terinfeksi Virus Selain protein struktural, genom WSSV juga mengode enzim-enzim virus utama yang diperlukan untuk replikasi. Enzim-enzim tersebut meliputi DNA polimerase, yang mereplikasi genom virus; helikase, yang membuka untai DNA virus; dan protease, yang memproses poliprotein virus menjadi unit-unit fungsional. Enzim-enzim ini disintesis menggunakan ribosom inang dan bergantung pada infrastruktur translasi sel udang. Kehadiran enzim-enzim ini mempercepat replikasi virus dan memfasilitasi mekanisme penghindaran sistem imun. Sebagai contoh, DNA polimerase memastikan duplikasi genom virus berlangsung secara 16 efisien, sementara protease dapat membantu memodifikasi protein inang atau protein virus untuk menekan pertahanan antivirus inang atau meningkatkan perakitan virus (Wang et al., 2025). 4.6 Transportasi penyusunan protein dan Sistem protein Infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) melibatkan interaksi kompleks antara protein virus dan sistem sel inang. Pada tahap transportasi, protein WSSV seperti VP28 berikatan dengan reseptor spesifik di membran sel inang, memicu proses endositosis yang dimediasi clathrin. Virus kemudian bergerak melalui endosom, dan penurunan pH selama pematangan endosom menjadi sinyal bagi WSSV untuk keluar ke sitoplasma. Proses ini diduga melibatkan interaksi antara VP28 dan protein Rab7, meskipun mekanisme penetrasi ke inti sel masih belum sepenuhnya dipahami. Setelah mencapai inti, faktor transkripsi inang seperti ie1 mengikat genom WSSV dan memulai ekspresi gen virus (Verbruggen et al., 2016). Pada sistem protein, replikasi DNA WSSV bergantung pada mesin sel inang, termasuk faktor progresivitas. Virus diduga menghentikan siklus sel inang pada fase S melalui manipulasi protein E2F1 untuk memastikan ketersediaan komponen replikasi. Produksi massal protein virus memicu stres retikulum endoplasma (ER), yang mengaktifkan jalur Unfolded Protein Response (UPR). Aktivasi UPR tidak hanya mendukung ekspresi gen virus tetapi juga menghambat translasi protein inang melalui fosforilasi eIF2. Selain itu, WSSV mengganggu homeostasis nutrisi dengan menghambat pengikatan zat besi ke Ferritin, memastikan ketersediaan zat besi untuk replikasi. Untuk menghindari apoptosis, WSSV menggunakan miRNA dan protein inhibitor untuk menekan aktivitas caspase, baik pada tahap inisiasi maupun eksekusi (Verbruggen et al., 2016). 4.7 Metabolit Primer dan Metabolit Sekunder Pada udang yang terserang WSSV dapat mempengaruhi metabolit primernya dan metabolit sekundernya yaitu menginfeksi insang, sel epitel subkutikula, organ limfoid, kelenjar antena dan hemolim, tetapi WSSV cenderung menginfeksi dengan frekuensi yang kecil pada hepatopankreas, kelenjar epitel antena, sel organ limfoid, syaraf dan fagosit pada hati. Kerusakan pada metabolit primer pada udang yang terserang WSSV yaitu kerusakan jaringan hepatopankreas kerusakan tersebut terdiri dari inti sel yang mengalami pembesaran atau yang disebut dengan hipertropi. Sel-sel yang terdegenerasi ditandai dengan adanya inti-inti yang mengalami hipertropi (membesar) dengan kromatin yang terpinggirkan dan badan inklusi eosinofil sampai basophil. Hipertropi merupakan kerusakan jaringan yang ditandai dengan pertambahan ukuran organ akibat bertambahnya ukuran sel sehingga sel yang satu dengan yang 17 lainnya saling lepas. Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan pada metabolit primer udang karena hepatopankreas berfungsi untuk memproduksi enzim-enzim pencernaan (protein, karbohidrat, lipid), menyimpan hasil metabolisme, mengatur sistem kekebalan tubuh, mengatur kadar glukosa darah dalam tubuh, mengatur perubahan kadar lemak dan membuang sisa metabolisme tersebut. Organ tersebut sangat vital karena memiliki fungsi yang sama dengan organ hati dan pankreas pada mamalia (Kumar et al., 2022). Kemudian kerusakan metabolit sekunder pada udang yang terjangkit WSSV yaitu turunnya hormon dan sistem imun didalam tubuhnya. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup udang vannamei, karena hormon berfungsi untuk mengahasilkan hhormon yang lain, mengatur aktivitas metabolisme dan kelangsungan hidup udang. Sedangkan imun sendiri memiliki peran krusial karena imun berfungsi untuk mengktifkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan patogen yang akan menyerang tubuhnya. Infeksi WSSV juga dapat menyebabkan perubahan dalam produksi senyawa lain yang terlibat dalam metabolisme, seperti enzim dan neurotransmitter. Berdasarkan perubahan metabolit udang yang terinfeksi wssv pada fase akut terdapat bercak-bercak putih pada karapas dengan diameter 0.5 – 3.0 mm tetapi pada induk udang warnanya menjadi merah dan bercak putih ini pertama kali muncul pada cephalothorak yaitu segmen ke 5 dan 6 dari abdominal dan terakhir lalu menyebar keseluruh kutikula tubuhnya. Gejala-gejala lain WSSV, di antaranya udang bergerombol di pinggir kolam, nafsu makan menurun drastis, tidak peka rangsangan, tubuhnya berwarna kuning susu ( Kumar et al., 2022). 4.8 Sintesis dan proses imun ikan pada level molekuler White Spot Syndrome Virus (WSSV) adalah virus DNA yang menyerang berbagai organ vital pada crustacea, termasuk udang, dan menyebabkan penyakit bercak putih yang sangat merugikan budidaya perikanan. Pada level molekuler, infeksi WSSV dimulai dengan interaksi protein virus seperti VP28, dengan reseptor sel inang yang memicu proses endositosis melalui jalur clathrin (Budiwardhani, 2018). Virus kemudian bergerak melalui endosom dan keluar ke sitoplasma setelah terjadi penurunan pH yang mengindikasikan pematangan endosom. Setelah memasuki inti sel, faktor transkripsi inang mengikat genom virus dan menginisiasi ekspresi gen virus, yang selanjutnya memanfaatkan mesin replikasi DNA inang untuk memperbanyak diri (Khofifah et al., 2019). Proses ini juga melibatkan manipulasi siklus sel inang agar fase S tetap aktif untuk mendukung replikasi virus. Selain itu, produksi protein virus yang tinggi menyebabkan stres pada retikulum endoplasma, mengaktifkan jalur respons protein tidak terlipat (UPR) yang dapat mengatur ekspresi gen virus dan menghambat sintesis protein inang. WSSV juga mengganggu homeostasis zat besi dengan menghambat pengikatan zat besi pada 18 ferritin, serta memodulasi sinyal apoptosis untuk menghindari kematian sel inang melalui penghambatan aktivitas caspase (Zhang et al., 2019). Respons imun ikan terhadap infeksi virus seperti WSSV melibatkan sintesis protein imun pada level molekuler, termasuk produksi antibodi, sitokin, dan protein regulator yang mengatur jalur pensinyalan imun. Aktivasi sel imun seperti makrofag dan limfosit dipicu oleh pengenalan antigen virus melalui reseptor permukaan sel, yang kemudian menginisiasi ekspresi gen-gen imun dan produksi protein efektor seperti interleukin dan tumor necrosis factor (TNF) (Chen and Huang, 2018). Namun, infeksi WSSV yang menyebabkan stres seluler dan gangguan sintesis protein dapat melemahkan respons imun ikan, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang mekanisme sintesis protein dan interaksi virus-inang pada level molekuler sangat penting untuk mengembangkan strategi pengendalian penyakit, termasuk penggunaan imunostimulan yang dapat meningkatkan kapasitas imun ikan dalam menghadapi infeksi WSSV (Li et al., 2021). 4.9 Teknik Rekayasa Molekuler Proses analisa molekuler udang vannamei dilakukan melalui beberapa tahap yaitu tahap ekstraksi DNA dan amplifikasi DNA. Pada umunya ukuran udang vanname yang digunakan adalah udang vanname yang berumur 35 hari dan 70 hari. Bagian yang digunakan dari udang ini adalah bagian hepatopankreas. Setelah proses atau tahap ekstraksi dan amplifikasi selesai dilakukan maka selanjutnya dilakukan proses Pockit Realtime PCR. Pockit Realtime PCR ini dapat menyimpulkan apakah sampel udang negatif (-) WSSV atau positif (+) terinfeksi WSSV (Khofifahi dkk., 2023). Ekstraksi DNA dilakukan untuk memisahkan jaringan dan sel DNA pada sampel. Ekstraksi DNA dilakukan dengan cara pengambilan DNA dari sampel udang vanname, kemudian dimasukkan kedalam microtube. Sampel DNA yang didapatkan kemudian dicampur dengan reagen dari IQ Plus Extraction Kit. Ekstrak DNA yang didapatkan kemudian dilanjutkan dengan prosedur atau tahap selanjutnya, yaitu tahap amplifikasi DNA. Amplifikasi DNA dilakukan untuk memperbanyak DNA dengan mencampur reagen dari IQ Plus WSSV Kit. Proses amplifikasi ini menggunakan primer yang sudah ditentukan sehingga membantu mempermudah proses pengerjaan amplifikasi. Hasil amplifikasi DNA yang telah didapatkan selanjutnya dianalisa menggunakan Pockit Real Time PCR. Sampel dimasukkan kedalam pockit dan tekan Run untuk memulai reaksi amplifikasi. Hasilnya dapat disimpan pada memori card POCKIT atau bisa didokumentasikan langsung menggunakan kamera (Khofifah dkk., 2023). 19 Setelah proses dokumentasi selesai tekan Buzzer Off pada menu, selanjutnya tekan power off di belakang instrument dan cabut kabel penghubung arus listrik. Pada pockit real time PCR terdapat beberapa menu panjang gelombang yaitu sinyal 520 nm, panjang gelombang 550 nm dan panjang gelombang 520 nm + 550 nm. Panjang gelombang 520 nm merupakan marker sinyal virus, apabila pada menu 520 nm terdapat tanda positif (+) maka sampel tersebut positif (+) terinfeksi WSSV dan sebaliknya apabila pada panjang gelombang 520 nm terdapat tanda negatif (-) maka sampel tersebut tidak terinfeksi virus WSSV. Sinyal 550 nm yaitu internal kontrol, artinya sinyal 550 nm ini untuk mengetahui ada atau tidaknya genom DNA hasil ekstraksi hingga amplifikasi DNA yang telah dilakukan. Adanya tanda positif (+) pada menu 550 nm berarti ada genom DNA didalamnya sedangkan apabila pada menu 550 nm terdapat tanda negatif (-) berarti tidak terdapatnya genom DNA. Pada penelitian ini menggunakan menu panjang gelombang 520 nm + 550 nm (Khofifah dkk., 2023). Keberhasilan pengujian sampel dengan metode Pockit Realime PCR dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti faktor kontaminasi silang, umur reagen atau enzim yang dipakai, jumlah enzim yang dipakai, ketelitian saat proses ektr aksi dan amplifikasi, serta kondisi larutan buffer yang dipakai. Keberhasilan budidaya udang ditentukan oleh kualitas induk dan benih, deteksi dini adanya penyakit dan skrining induk dan benur sebelum tebar adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan. Hanya induk sehat bebas virus yang dapat menghasilkan benur yang berkualitas dan lebih tahan penyakit. Metode berbasis molekuler ini menjadi pilihan karena sangat sensitif dan spesifik untuk mendeteksi virus penyebab penyakit pada udang. Penyebab penyakit WSSV adalah virus SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculo Virus). Virus ini merupakan virus berbahan genetik DNA (Dioxyribonucleic Acid), berbentuk batang (Baciliform). Organ yang terinfeksi virus yaitu kaki renang, kaki jalan, insang, lambung, otot abdomen, gonad, intestinum, karapas, jantung sehingga menimbulkan infeksi yang sistematik atau menyeluruh. Faktor pemicu timbulnya penyakit WSSV ini yaitu blooming fitoplankton kemudian mengalami kematian secara mendadak, kadar oksigen rendah, terjadi fluktuasi pH harian yang besar, rendahnya temperatur air, turun hujan secara mendadak dan pengelolaan yang kurang. Pengendalian perluasan penyakit perlu dilakukan secara dini agar kerugian ekonomi tidak terjadi. Peningkatan kualitas benih udang vanname khususnya peningkatan ketahanan terhadap penyakit adalah hal yang sangat penting (Khofifah dkk., 2023). 20 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil studi dan analisis, dapat disimpulkan bahwa metode Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan teknik yang efektif dan akurat dalam mendeteksi keberadaan White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang vannamei. Teknik ini mampu mengidentifikasi DNA virus dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, bahkan sebelum gejala klinis muncul, sehingga memungkinkan adanya upaya pencegahan secara dini. Hasil uji PCR menunjukkan bahwa beberapa sampel udang yang diuji terdeteksi positif WSSV, ditandai dengan munculnya pita DNA pada ukuran yang sesuai. Deteksi dini melalui PCR sangat penting untuk menekan penyebaran virus, meminimalkan angka kematian, serta mengurangi potensi kerugian ekonomi dalam kegiatan budidaya udang. Dengan demikian, penggunaan PCR dapat menjadi solusi strategis dalam sistem monitoring kesehatan udang secara berkelanjutan. 5.2 Saran Dalam upaya pengendalian penyakit WSSV pada budidaya udang vannamei, disarankan agar teknik PCR diterapkan secara rutin sebagai alat deteksi dini di setiap tahap kegiatan budidaya, khususnya sebelum penebaran benur dan selama masa pemeliharaan. Selain itu, perlu adanya pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama tenaga laboratorium dan pembudidaya, agar mampu melakukan analisis PCR secara mandiri dan tepat. Praktik biosekuriti juga harus diperketat untuk mencegah masuknya patogen melalui air, peralatan, maupun vektor pembawa lainnya. Pengembangan metode PCR portabel yang dapat digunakan langsung di lapangan juga menjadi langkah inovatif yang layak dipertimbangkan guna mempercepat proses identifikasi dan penanganan infeksi di tambak. Dengan penerapan 21 strategi ini, diharapkan produktivitas dan keberlanjutan budidaya udang vannamei dapat lebih terjamin. DAFTAR PUSTAKA Abudi, C.P., Y. Koniyo, S.P. Suherman, dan A. Lamadi. 2023. Identifikasi Infeksi WSSV (White Spot Syndrome Virus) Pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Dengan Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) di Kecamatan Wanggarasi. Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(1): 55–60. Akbar, S., I. Effendi, F. Feliatra, and N. Muhson. 2022. Prevalence Analysis of WSSV (White Spot Syndrome Virus) in Vaname Shrimp (Litopenaeus vannamei) in Bengkalis District. Journal of Coastal and Ocean Sciences, 3(3): 166–170. Arafani, L., Ghazali, M., dan Ali, M. 2016. Pelacakan virus bercak putih pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) di Lombok dengan Real-Time Polymerase Chain Reaction. Jurnal Veteriner, 17(1): 88-95. Asmirati, A. 2020. Pengaruh Pemberian Multi Asam Amino Terlarut Terhadap Tingkat Ketahanan Stres Dan Sintasan Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin). Budiwardhani, N. 2018. Interaksi Protein VP28 WSSV dengan Reseptor Sel Inang dan Mekanisme Endositosis. Jurnal Mikrobiologi Indonesia, 12(2) : 45-53. Campos-Montes, G. R., Garcia, B. F., Medrano-Mendoza, T., Caballero-Zamora, A., Montoya-Rodríguez, L., Quintana-Casares, J. C., and J. M. Yáñez. 2023. Genetic and genomic evaluation for resistance to white spot syndrome virus in post-larvae of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei). Aquaculture, 575 : 739745. Campos-Montes, G. R., Caballero-Zamora, A., Montaldo, H. H., Montoya-Rodríguez, L., Gómez-Gil Rodríguez-Sala, B., Soto Rodríguez, S. A., Martínez-Ortega, A., QuintanaCasares, J. C., and H. Castillo-Juárez. 2020. Genetic (co)variation in resistance of Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei to acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) and white spot syndrome virus (WSSV) in challenge tests. Aquaculture, 520 : 734994. Casini, A., Woods, B., and Wenzel, M. 2017. The promise of self-assembled 3D supramolecular coordination complexes for biomedical applications. Inorganic Chemistry, 56(24), 14715-14729. 22 Chen, L., and W. Huang. 2018. Role of Cellular Receptors in the Innate Immune System of Crustaceans Responding to WSSV Infection. Frontiers in Physiology, 9 : 1880. Creswell, J. W. 202. Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Method Approaches (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications. Clark, T., L. Foster, and A. Bryan. 2021. Social Research Methods (6th ed.). Oxford: Oxford University Press. Cooper, G. M., and Adams, K. (2022). The cell: a molecular approach. Oxford University Press. Cox, N., E. De Swaef, M. Corteel, W. Van Den Broeck, P. Bossier, J.J. Dantas-Lima, and H.J. Nauwynck. 2023. The Way of Water: Unravelling White Spot Syndrome Virus (WSSV) Transmission Dynamics in Litopenaeus vannamei Shrimp. Viruses, 15(9): 1824. Dhewantara, Y. L., E. Danakusumah, dan H. A. Mubarok. 2022. Penambahan Probiotik Lactobacillus Plantarum Terhadap Pertumbuhan Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Probiotic Lactobacillus Plantarum Addition on Growth of Vaname Shrimp (Litopenaeus Vannamei). Journal of Aquaculture, 7(1) : 13-21. Diyah, R. 2023. Analisis Performa Udang Vaname Litopenaeus vannamei (Boone, 1931) yang Dipelihara pada Salinitas Rendah dengan Dua Fase Pemeliharaan. Fadilah, A.N., and A.H. Fasya. 2022. Examination of White Spot Syndrome Virus (WSSV) in White Shrimp (Litopenaeus vannamei) and Tiger Prawn (Penaeus monodon) with Polymerase Chain Reaction (PCR) Method. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1036: 012083. Fauziati, F., dan D. Yulianti. 2022. Pemeriksaan Virus White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Aceh. Jurnal Marikultur 4(1): 1–7. Hopfner, K. P., and Hornung, V. 2020. Molecular mechanisms and cellular functions of cGAS–STING signalling. Nature reviews Molecular cell biology, 21(9), 501-521. Iqbal, M., I. D. Buwono, dan N. Kurniawati. 2016. Analisis Perbandingan Metode Isolasi DNA untuk Deteksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Jurnal Perikanan Kelautan, 7(1). Islam, S. I., M. J. Mou, A. Sanjida, and S. Mahfuj. 2022. A Riview on Molecular Detection Techniques of White Spot Syndrome Virus : Perspective of Problems and Solutions in Shrimp Farming. Veterinary Medicine and Science, 9 : 778-801. Kamilia, H. 2021. Analisis Komunitas Cyanobakteria Penghasil Microcystin dan Keterkaitannya dengan Gambaran Histopatologi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Tambak Intensif Desa Bomo, Banyuwangi. Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya. Khofifah, A., I. W. Abida, dan A. Khusna. 2023. Pemeriksaan WSSV (White Spot Syndrome Virus) dengan Uji PCR (Polymerase Chain Reaction) pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Pasuruan, Jawa Timur. Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan, 4(2): 142–151. Khofifah, A., I.W. Abida, and A. Khusnah. 2023. WSSV (White Spot Syndrome Virus) Examination Using the PCR (Polymerase Chain Reaction) Test on Vannamei Shrimp (Litopenaeus vannamei) at UPT Fish and Environmental Health Laboratory, Pasuruan, East Java." Juvenil, 4(2): 142–150. 23 Khofifah, A., R. P. Sari, dan H. Nugroho. 2019. Mekanisme Replikasi WSSV dalam Sel Inang : Studi Molekuler. Jurnal Biologi Molekuler, 7(1) : 20-28. Koentjoro, M. P., Donastin, A., dan Prasetyo, E. N. 2020. Potensi senyawa bioaktif tanaman kelor penghambat interaksi angiotensin-converting enzyme 2 pada sindroma SarsCov-2. Jurnal Bioteknologi dan Biosains Indonesia, 7(2), 259-270. Kim, M.-J., J.-O. Kim, G.-I. Jang, M.-G. Kwon, and K.-I. Kim. 2023. Diagnostic Validity of Molecular Diagnostic Assays for White Spot Syndrome Virus at Different Severity Grades. Heliyon, 9(9): e19351. Kumar, R., Y. J. Huang, Y. S. Ng, Y. C. Chen, and H. C. Wang. 2022. The regulation of shrimp metabolism by the white spot syndrome virus (WSSV). Reviews in Aquaculture, 14(3) : 1150-1169. Kusna, M., S.B. Prayitno, Sarjito, and D. Wijayanto. 2023. Estimated Economic Losses Due to White Spot Syndrome Virus (WSSV) Disease in Intensive Vannamei Shrimp Culture Business in Kendal Regency. AACL Bioflux, 16(5): 2615–2625. Li, Y., and L. Chen. 2021. Taxifolin Inhibits WSSV Infection and Transmission by Increasing the Innate Immune Response in Litopenaeus vannamei. Frontiers in Immunology, 13 : 9028835. Mangampa, M., dan H.S. Suwoyo. 2016. Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Teknologi Intensif Menggunakan Benih Tokolan. Jurnal Riset Akuakultur, 5(3): 351–361. Ng, Y. S., C. S. Cheng, M. Ando, Y. T. Tseng, S. T. He, C. Y. Li, S. W. Cheng, Y. M. Chen, R. Kumar, C. H. Liu, H. Takeyama, I. Hirono, dan H. C. Wang. 2023. White Spot Syndrome Virus (WSSV) Modulates Lipid Metabolism in White Shrimp. Communications Biology, 6(1): 546. Oliveira de Freitas, J., J. T. Viana, R. dos S. Rocha, and R. Maggioni. 2024. Quantitative Real-Time PCR Reveals Viral Interference Between White Spot Syndrome Virus (WSSV) and Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) in Penaeus vannamei. Aquaculture, 579: 740159. Ridley, D. 2020. The Literature Review: A Step-by-Step Guide for Students (3rd ed.). London: SAGE Publications. Santika, S., N. Marlian, F. Lubis, N. Zurba, dan S. F. Isbah. 2024. Laju Pertumbuhan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee. Journal of Aceh Aquatic Sciences, 8(1): 11–20. Sugiyono. 2020 . Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Verbruggen, B., L. K. Bickley, R. Van Aerle, K. S. Bateman, G. D. Stentiford, E. M. Santos, and C. R. Tyler. 2016. Molecular Mechanisms of White Spot Syndrome Virus Infection and Perspectives on Treatments. Viruses, 8(1) : 23. Verma, A. K., S. Gupta, S. P. Singh, and N. S. Nagpure. 2017. An update on mechanism of entry of white spot syndrome virus into shrimps. Fish & Shellfish Immunology 67: 141–146. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2017.06.007 Wang, Y., Dai, L., Hu, N., Liang, Z., Li, C., and C. Sun. 2025. The underlying mechanism of single and co-infection of DIV1 and WSSV in Litopenaeus vannamei. Aquaculture, 596 : 741736. Widanarni, D. Rahmi, M. Gustilatov, Sukenda, and D.A.S. Utami. 2020. Immune Responses and Resistance of White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Fed Probiotic Bacillus sp. NP5 and Prebiotic Honey Against White Spot Syndrome Virus Infection. Jurnal Akuakultur Indonesia, 19(2): 118–130. 24 Xue, M., N. Jiang, Y. Fan, T. Yang, M. Li, W. Liu, Y. Li, B. Li, L. Zeng, and Y. Zhou. 2022. White Spot Syndrome Virus (WSSV) Infection Alters Gut Histopathology and Microbiota Composition in Crayfish (Procambarus clarkii). Aquaculture Reports, 22: 101006. Yaemkasem, S., J. Promchairat, P. Srithongkhum, N. Paungsroy, and C. Poolkhet. 2023. The impact of farm practices and wild carriers on white spot disease in marine shrimp in Rayong Province, Thailand. Veterinary World 16(1): 109-117. Yan, M., Liu, Z., Xu, K., Wang, W., Fan, L., and H. Gong. 2020. WSV152 induces apoptosis and promotes viral replication in Litopenaeus vannamei. Fish & Shellfish Immunology, 98 : 255– 261. Yustiati, A., dan Y. Andriani. 2022. Budidaya Udang Vannamei: Pembesaran Udang Vannamei pada Berbagai Sistem Akuakultur: Telaah Pustaka" Journal of Fish Nutrition, 2(1): 26–36. Medrano-Mendoza, T., Garcia, B. F., Caballero-Zamora, A., Yáñez, J. M., Montoya-Rodríguez, L., Quintana-Casares, J. C., Durán-Aguilar, M., and G. R. Campos-Montes. 2023. Genetic diversity, population structure, linkage disequilibrium and GWAS for resistance to WSSV in Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) using a 50K SNP chip. Aquaculture, 562 : 738835. Lillehammer, M., Bangera, R., Salazar, M., Vela, S., Erazo, E. C., Suarez, A., Cock, J., Rye, M., and N. A. Robinson. 2020. Genomic selection for white spot syndrome virus resistance in whiteleg shrimp boosts survival under an experimental challenge test. Scientific Reports, 10 : 20571. Zhang, X., D. Li, Y. Liu, and X. Yan. 2021. White Spot Syndrome Virus (WSSV) Infection and Immune Responses in Shrimp: A Review. Aquaculture, 534: 736280. Zhang, X., Q. Wang, and Y. Liu. 2019. WSSV–Host Interaction : Host Response and Immune Evasion. Developmental & Comparative Immunology, 92 : 53-65. 25
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )