MINI RESEARCH “ ANALISIS PENTINGNYA PENINGKATAN LITERASI NEUROSAINS PADA TENAGA PENDIDIK” DISUSUN OLEH: Nama : Jhonpiter. I.N. Sitanggang Nim : 2243142007 Dosen Pengampu : Tiarnita Maria Sarjani Br. Siregar,S.Pd., M.Hum. Mata Kuliah : Profesi Kependidikan PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN SENI MUSIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2025 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan inovasi dalam dunia pendidikan telah membawa perubahan signifikan, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan seperti ChatGPT dalam pembelajaran. Namun, penggunaan teknologi ini tidak hanya memberikan dampak positif, seperti peningkatan motivasi belajar dan keterampilan berpikir kritis, tetapi juga menimbulkan tantangan seperti ketergantungan pada teknologi dan masalah etika akademik (Supriyono et al., 2024). Di sisi lain, kurikulum Merdeka menekankan pentingnya personalisasi pembelajaran dan penguatan karakter, yang memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan inklusif. Tantangan lain yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah rendahnya kemampuan literasi membaca siswa Indonesia, yang berdasarkan hasil PISA 2022, masih berada pada level rendah dengan skor rata-rata 375,296. Faktor utama yang memengaruhi hal ini adalah dukungan keluarga, yang menunjukkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih terfokus pada peran keluarga dalam mendukung pembelajaran (Amelia et al., 2024). Selain itu, implementasi kebijakan penguatan karakter di tingkat sekolah, seperti di Kabupaten Lebak, masih menghadapi kendala seperti kurangnya dokumen kebijakan yang jelas dan partisipasi aktif dari orang tua dan komunitas (Aditama et al., 2024). Persoalan lain muncul dalam pembelajaran sastra, di mana calon guru sekolah dasar memiliki persepsi yang berbeda tentang pengajaran folklor. Sebagian menganggap folklor penting untuk pendidikan karakter dan pelestarian budaya, sementara lainnya lebih memilih sastra modern karena dianggap lebih menarik dan kontekstual (Sugara et al., 2024). Hal ini menunjukkan perlunya integrasi antara nilai-nilai tradisional dan modern dalam kurikulum pembelajaran. Di tingkat praktik pembelajaran, penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi juga masih menghadapi tantangan, seperti kebutuhan belajar yang beragam dan keterbatasan sumber daya (Kusasi et al., 2024). Sementara itu, literasi lingkungan siswa SMA masih tergolong rendah, yang mengindikasikan perlunya instrumen pengukuran yang lebih efektif dan upaya peningkatan kesadaran lingkungan (Dharma et al., 2024). 2 Selain itu, partisipasi penduduk miskin dalam pendidikan tinggi masih sangat rendah, dengan hanya 32,28% yang berpartisipasi. Faktor seperti tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan penerimaan Program Indonesia Pintar (PIP) menjadi penentu utama, sehingga diperlukan perluasan akses beasiswa dan informasi (Rawiyanti & Budiarti, 2024). 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran o Bagaimana dampak positif dan negatif penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran pada Kurikulum Merdeka? o Apa saja tantangan utama yang dihadapi dalam pemanfaatan ChatGPT, seperti keakuratan informasi, etika akademik, dan kesenjangan teknologi? 2. Rendahnya Literasi Membaca Siswa o Mengapa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih tergolong rendah berdasarkan hasil PISA 2022? o Sejauh mana dukungan keluarga memengaruhi kemampuan literasi membaca siswa, dan kebijakan apa yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hal ini? 3. Implementasi Kebijakan Penguatan Karakter o Apa saja kendala dalam implementasi kebijakan penguatan karakter di jenjang SMP, khususnya di Kabupaten Lebak? o Bagaimana strategi yang efektif untuk meningkatkan pemahaman guru dan partisipasi orang tua dalam penguatan karakter siswa? 4. Pembelajaran Sastra dan Nilai Budaya o Mengapa terdapat perbedaan persepsi calon guru sekolah dasar terhadap pengajaran folklor dibandingkan sastra modern? o Bagaimana integrasi antara folklor dan sastra modern dapat dilakukan untuk menyeimbangkan nilai budaya tradisional dan kontekstualitas pembelajaran? 3 5. Pembelajaran Berdiferensiasi o Apa saja tantangan yang dihadapi guru dalam menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris? o Upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas Pembelajaran Berdiferensiasi sesuai dengan kerangka Kurikulum Merdeka? 6. Literasi Lingkungan Siswa o Mengapa tingkat literasi lingkungan siswa SMA masih tergolong rendah? o Bagaimana instrumen pengukuran literasi lingkungan yang dikembangkan dengan pendekatan Model Rasch dapat membantu meningkatkan kesadaran lingkungan siswa? 7. Partisipasi Pendidikan Tinggi bagi Penduduk Miskin o Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi rendahnya partisipasi penduduk miskin dalam perguruan tinggi? o Bagaimana Program Indonesia Pintar (PIP) dan perluasan akses beasiswa dapat meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi bagi kelompok termiskin? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Menganalisis Dampak dan Tantangan ChatGPT dalam Pembelajaran o Mengetahui dampak positif dan negatif penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran pada Kurikulum Merdeka. o Mengidentifikasi tantangan utama seperti keakuratan informasi, etika akademik, dan kesenjangan teknologi. 2. Meningkatkan Literasi Membaca Siswa o Menganalisis faktor penyebab rendahnya literasi membaca siswa Indonesia berdasarkan hasil PISA 2022. o Mengevaluasi peran dukungan keluarga dan merumuskan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan literasi membaca. 3. Mengoptimalkan Implementasi Kebijakan Penguatan Karakter o Mengidentifikasi kendala dalam implementasi kebijakan penguatan karakter di jenjang SMP, khususnya di Kabupaten Lebak. 4 o Menyusun strategi efektif untuk meningkatkan pemahaman guru dan partisipasi orang tua dalam penguatan karakter. 4. Mengintegrasikan Pembelajaran Sastra dan Nilai Budaya o Memahami perbedaan persepsi calon guru terhadap folklor dan sastra modern. o Merancang model integrasi folklor dan sastra modern untuk pembelajaran yang relevan dengan nilai budaya dan konteks kekinian. 5. Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Berdiferensiasi o Mengkaji tantangan guru dalam menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi, khususnya pada mata pelajaran bahasa Inggris. o Merumuskan upaya pengembangan profesional guru dan alokasi sumber daya untuk mendukung pembelajaran yang beragam. 6. Mengembangkan Literasi Lingkungan Siswa o Menganalisis penyebab rendahnya literasi lingkungan siswa SMA. o Mengevaluasi efektivitas instrumen pengukuran berbasis Model Rasch dan merancang intervensi untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. 7. Meningkatkan Partisipasi Pendidikan Tinggi bagi Penduduk Miskin o Mengidentifikasi faktor-faktor penghambat partisipasi penduduk miskin dalam perguruan tinggi. o Memberikan rekomendasi kebijakan untuk memperluas akses beasiswa (seperti PIP) dan informasi pendidikan tinggi. 1.4 Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dirumuskan, penelitian ini memberikan manfaat sebagai berikut: Manfaat Teoretis: Memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan, khususnya terkait pemanfaatan teknologi AI dalam pembelajaran Memperkaya kajian literasi pendidikan dengan pendekatan multidimensi (keluarga, sekolah, dan kebijakan) 5 Mengembangkan model evaluasi implementasi kurikulum Merdeka yang komprehensif Menyumbang pada diskusi akademis tentang pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Manfaat Praktis: Bagi Pemerintah dan Pembuat Kebijakan: Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun regulasi pemanfaatan AI dalam pendidikan Memberikan dasar untuk pengembangan program peningkatan literasi membaca nasional Acuan dalam menyusun panduan implementasi pendidikan karakter yang efektif Masukan untuk perluasan program beasiswa bagi masyarakat kurang mampu Bagi Lembaga Pendidikan dan Guru: Referensi dalam mengintegrasikan teknologi pembelajaran yang bertanggung jawab Pedoman untuk mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi yang inklusif Acuan dalam merancang pembelajaran sastra yang memadukan nilai tradisional dan modern Panduan untuk meningkatkan literasi lingkungan siswa Manfaat bagi Penelitian Lanjutan: Menyediakan dasar empiris untuk studi lebih mendalam tentang pendidikan di era digital Memberikan kerangka konseptual untuk penelitian sejenis di berbagai jenjang pendidikan Menjadi referensi dalam pengembangan instrumen penelitian pendidikan Membuka peluang penelitian tindakan lanjutan di tingkat sekolah 6 BAB II KAJIAN DAN HIPOTESIS 2.I Kajian Pustaka 2.2 Hipotesis: 1. Terdapat hubungan positif antara tingkat literasi neurosains tenaga pendidik dengan efektivitas pembelajaran yang diterapkan di kelas. 2. Penerapan konsep Neuroeducation dalam strategi pengajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis bukti dan mengurangi kesalahan akibat neuromitos. 3. Pemahaman guru mengenai cara kerja otak berkontribusi terhadap keberhasilan proses belajar siswa, terutama dalam aspek motivasi dan perkembangan kognitif mereka. 4. Kurangnya literasi neurosains pada tenaga pendidik menjadi salah satu faktor utama yang menghambat inovasi dalam metode pembelajaran di sekolah. BAB III METODE PENELITIAN: 3.1 Jenis Penelitian: Penelitian Deskriptif Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat literasi neurosains pada tenaga pendidik serta bagaimana pemahaman tersebut memengaruhi strategi pengajaran mereka. Pendekatan ini cocok jika kamu ingin melakukan survei atau wawancara terhadap guru dan tenaga pendidikan untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami konsep neurosains dan penerapannya dalam pembelajaran. 3.2 Lokasi penelitian: 3.3 Subjek Penelitian: Subjek penelitian adalahIbu Syarif sa adilah Lubis m.pd salah satu guru dari sekolah SMP pahlawan nasional,Jl. Durung No.205, Sidorejo Hilir, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20222 3.4 Teknik Pengumpulan Data: - Wawancara Mendalam (In depth interview) 7 Wawancara dilakukan secara semi-struktur dengan pedoman wawancara yang telah disiapkan. Pedoman wawancara akan mencakup pertanyaan-pertanyaan, sesuai dengan rumusan masalah dari mini research ini. 3.5 Analisis Data: 1. Bagaimana tingkat literasi neurosains di kalangan tenaga pendidik dan dampaknya terhadap efektivitas pembelajaran? I bu Syariff mengatakan bahwa tingkat literasi neurosains di kalangan tenaga pendidik masih cukup beragam. Ada beberapa guru yang mulai memahami bagaimana otak memproses informasi, tetapi masih banyak yang belum mengetahui dampak ilmu neurosains terhadap efektivitas pembelajaran. Beliau melihat bahwa guru yang memahami cara kerja otak cenderung menerapkan metode pengajaran yang lebih interaktif dan berbasis bukti. Mereka memahami bahwa siswa membutuhkan pengalaman belajar yang berulang agar informasi dapat tersimpan lebih lama. Sebaliknya, guru yang belum memahami konsep ini cenderung menggunakan metode konvensional seperti hafalan, yang kurang efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. 2. Bagaimana penerapan konsep neuroeducation dapat membantu meningkatkan strategi pengajaran berbasis bukti di sekolah?* Ibu Syariff berkata Penerapan Neuroeducation sangat membantu dalam meningkatkan strategi pengajaran. Beliau mulai menggunakan pendekatan yang mengintegrasikan berbagai indra, seperti visual, auditori, dan kinestetik, agar siswa lebih mudah memahami materi. Selain itu, beliau juga menerapkan teknik retrieval practice, yang mendorong siswa untuk aktif mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, sehingga pengetahuan mereka lebih tertanam secara permanen. Dengan pemahaman neurosains, beliau juga lebih peka terhadap kondisi emosional siswa, karena saya menyadari bahwa stres berlebihan dapat menghambat proses belajar mereka. Oleh karena itu, beliau berusaha menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dan mendukung perkembangan kognitif mereka. 3. Sejauh mana pemahaman guru tentang cara kerja otak berkontribusi terhadap keberhasilan proses pembelajaran siswa? Sesuai dengan keterangan Ibu Syariff bahwa Pemahaman guru tentang cara kerja otak sangat memengaruhi keberhasilan pembelajaran siswa. Beliau menyadari bahwa setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda, dan plastisitas otak memungkinkan mereka untuk terus berkembang jika diberikan tantangan yang tepat. Oleh karena itu, beliau menerapkan metode bertahap dan adaptif, memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk 8 mengembangkan pemahaman mereka tanpa merasa kewalahan. Selain itu, beliau memahami bahwa keterlibatan emosional sangat berperan dalam pembelajaran. Dengan memberikan motivasi positif dan membangun lingkungan yang mendukung, beliau melihat bahwa siswa lebih bersemangat untuk belajar, lebih percaya diri, dan lebih mudah menyerap materi yang diberikan. 4. Apa saja tantangan utama dalam meningkatkan literasi neurosains pada tenaga pendidik, dan bagaimana solusi untuk mengatasinya?* Ibu Syariff berkata,Salah satu tantangan utama yang yang hadapi adalah kurangnya akses terhadap pelatihan berbasis neurosains dalam pendidikan. Banyak guru masih terbatas pada metode pengajaran tradisional, karena belum mendapatkan kesempatan untuk memahami konsep neurosains secara lebih mendalam. Selain itu, ada juga resistensi terhadap perubahan, di mana sebagian guru masih ragu untuk mengubah metode yang sudah lama mereka gunakan. Solusi yang di usulkan adalah mengadakan pelatihan dan seminar mengenai Neuroeducation, agar tenaga pendidik dapat memahami bagaimana neurosains dapat diterapkan dalam pengajaran. Selain itu, sekolah perlu menyediakan lebih banyak sumber daya edukatif seperti jurnal ilmiah dan materi pelatihan agar guru dapat meningkatkan pemahaman mereka secara mandiri. Dengan langkah-langkah ini, beliau yakin bahwa penerapan ilmu neurosains dalam pendidikan akan semakin berkembang, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dan sesuai dengan mekanisme kerja otak siswa. BAB IV SIMPULAN DAN SARAN: 4.1 Kesimpulan: Berdasarkan penelitian mengenai Literasi Neurosains pada Tenaga Pendidikan, dapat disimpulkan bahwa tingkat literasi neurosains di kalangan tenaga pendidik masih beragam. Guru yang memiliki pemahaman mendalam tentang cara kerja otak cenderung menerapkan metode pembelajaran yang lebih efektif dan berbasis bukti, sementara guru yang kurang memahami neurosains lebih cenderung menggunakan metode konvensional yang kurang optimal. Penerapan Neuroeducation terbukti dapat membantu meningkatkan strategi pengajaran berbasis bukti, seperti penggunaan berbagai indra dalam pembelajaran, teknik _retrieval practice_, dan penciptaan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan kognitif siswa. Selain itu, pemahaman guru tentang cara kerja otak 9 berkontribusi terhadap keberhasilan pembelajaran siswa dengan meningkatkan motivasi dan efektivitas dalam memahami materi. Namun, masih terdapat berbagai tantangan dalam meningkatkan literasi neurosains di kalangan tenaga pendidik, seperti kurangnya akses terhadap pelatihan berbasis neurosains serta resistensi terhadap perubahan metode pengajaran. Oleh karena itu, diperlukan upaya konkret untuk memperkenalkan konsep neurosains kepada pendidik agar mereka dapat mengoptimalkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan cara kerja otak siswa. 4.2 Saran Untuk meningkatkan literasi neurosains di lingkungan pendidikan, disarankan agar sekolah dan institusi pendidikan menyediakan pelatihan khusus mengenai Neuroeducation bagi tenaga pendidik. Pelatihan ini harus mencakup pemahaman tentang plastisitas otak, memori, neuromitos, serta teknik pengajaran berbasis neurosains, agar guru dapat mengimplementasikan metode yang lebih ilmiah dan efektif dalam pembelajaran. Selain itu, sekolah perlu memberikan akses yang lebih luas terhadap sumber daya ilmiah, seperti jurnal, seminar, dan workshop mengenai penerapan neurosains dalam pendidikan. Langkah ini akan membantu guru mengembangkan pemahaman mereka secara mandiri dan mendorong mereka untuk meninggalkan metode pengajaran yang kurang efektif. Pemerintah dan institusi pendidikan juga diharapkan dapat berperan dalam memfasilitasi pengembangan kurikulum berbasis neurosains, sehingga pendekatan dalam pendidikan semakin sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan penerapan Neuroeducation secara luas, diharapkan kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa dapat semakin meningkat, serta tenaga pendidik semakin terbuka terhadap inovasi dalam dunia pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Batubara, H. H., & Supena, A. (2018),Educational Neuroscience dalam Pendidikan Dasar, Jurnal Pendidikan Dasar, 9(2), 140–148⁽¹⁾. Riyo Darminto, M.Pd. (2022),Merekonstruksi Educational Neuroscience di Pendidikan Dasar,Gurusiana⁽²⁾. 10 11
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )