Tes 2 Teknik Analisa Data Keuangan Oleh : Graceline Melinda D11220236 Pertanyaan: 1. Apakah rata-rata produktivitas tahun 2024 melebihi target minimal perusahaan yaitu 75 poin? Menggunakan One Sample T-Test Hasil mean dari perhitungan adalah 75.5133. Tetapi, p-value nya hanya sebesar 0.3815, sehingga gagal tolak H0. Produktivitas tahun 2024 tidak melebihi target perusahaan sebesar 75 poin. 2. Apakah terdapat perbedaan skor konsumtif antara karyawan yang ikut dan tidak ikut pelatihan? Menggunakan Independent Sample T-Test Ada perbedaan yang tidak signifikan, dimana mean skor konsumtif grup yang tidak ikut pelatihan sebesar 66.096, dan yang ikut pelatihan adalah sebesar 63.747. Terdapat perbedaan sebesar sekitar 2.35 poin. Perbedaan ini tidak signifikan secara statistik karena nilai p-valuenya seebsar 0.1703. 3. Apakah terdapat perbedaan skor literasi keuangan tahun 2023 antar negara? Menggunakan One way anova Ada perbedaan yang tidak signifikan (Prob>F=0.8017) skor literasi keuangan antar negara pada tahun 2023, dengan rata-rata Filipina paling tinggi, dan Malaysia paling rendah. Uji untuk memilih model terbaik untuk data panel pada soal. OLS Hasil dari model Ordinary Least Squares menunjukkan bahwa model ini hanya bisa menjelaskan sekitar 0,52% variasi produktivitas kerja, berdasarkan nilai R-squared sebesar 0,0052. Selain itu, nilai Prob > F sebesar 0,6802 menunjukkan bahwa model ini tidak signifikan secara statistik, artinya secara keseluruhan model ini tidak mampu menjelaskan hubungan yang kuat antara literasi keuangan dan perilaku konsumtif dengan produktivitas kerja. Variabel literasi keuangan memiliki koefisien -0,043 dengan p-value sebesar 0,530, sedangkan perilaku konsumtif memiliki koefisien -0,046 dengan nilai p sebesar 0,492. Kedua p-value ini lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak signifikan secara statistik. Selain itu, arah koefisien yang negatif menunjukkan bahwa baik literasi keuangan maupun perilaku konsumtif cenderung berhubungan negatif dengan produktivitas kerja, walaupun hubungan ini tidak kuat atau tidak terbukti secara statistik. Kesimpulannya, berdasarkan model OLS ini, literasi keuangan dan perilaku konsumtif tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja. FEM 4. Apakah literasi keuangan dan perilaku konsumtif berpengaruh terhadap produktivitas kerja, setelah mengontrol perbedaan individu? Hasil regresi dengan menggunakan Fixed Effect Model menunjukkan bahwa model ini hanya bisa menjelaskan sekitar 0,99% variasi dalam produktivitas kerja, berdasarkan nilai R-squared (within) sebesar 0,0099. Selain itu, nilai Prob > F sebesar 0,5572 menunjukkan bahwa model ini tidak signifikan secara statistik, artinya secara keseluruhan model ini belum mampu menjelaskan hubungan antara literasi keuangan dan perilaku konsumtif terhadap produktivitas kerja dengan baik. Literasi keuangan memiliki koefisien -0,084 dengan p-value 0,298, dan perilaku konsumtif memiliki koefisien -0,031 dengan p-value 0,680. Karena kedua nilai p lebih besar dari 0,05, maka tidak ada pengaruh yang signifikan secara statistik. Arah koefisien negatif menunjukkan bahwa secara umum, literasi dan perilaku konsumtif cenderung berpengaruh negatif terhadap produktivitas, tapi pengaruh tersebut tidak terbukti secara statistik. Kesimpulannya, setelah mengontrol perbedaan individu, literasi keuangan dan perilaku konsumtif tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja. REM 5. Apakah hasilnya berbeda jika diasumsikan efek individual tidak berkorelasi dengan variabel independen? Hasil regresi menggunakan model Random Effect Model menunjukkan bahwa model hanya mampu menjelaskan sekitar 0,52% variasi dalam produktivitas kerja, berdasarkan nilai R-squared (between) sebesar 0,0052. Selain itu, nilai Prob > chi² sebesar 0,6795 menunjukkan bahwa model ini tidak signifikan secara statistik, jadi model ini secara keseluruhan belum mampu menjelaskan hubungan antara literasi keuangan, perilaku konsumtif, dan produktivitas kerja dengan baik. Koefisien literasi keuangan adalah -0,043 dengan p-value 0,529, dan perilaku konsumtif -0,045 dengan p-value 0,491. P-value keduanya lebih besar dari 0,05, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara statistik. Arah negatif pada koefisien menunjukkan bahwa literasi keuangan dan perilaku konsumtif cenderung menurunkan produktivitas, tapi efeknya tidak terbukti secara statistik. Kesimpulannya, jika kita mengasumsikan bahwa perbedaan individu antar karyawan tidak berkorelasi dengan variabel independen, literasi keuangan dan perilaku konsumtif tetap tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja. Hasil ini juga hampir sama dengan model OLS dan FEM sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis regresi menggunakan OLS, FEM, dan REM, diperoleh hasil yang konsisten bahwa variabel literasi keuangan dan perilaku konsumtif tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas karyawan. Koefisien dari kedua variabel bebas bernilai negatif pada semua model, yang menunjukkan adanya kecenderungan penurunan produktivitas apabila literasi atau perilaku konsumtif meningkat, namun pengaruh ini tidak signifikan secara statistik. CHOW (hasil menunjukkan lebih baik OLS) HAUSMAN (hasil menunjukkan lebih baik REM) LM TEST (hasil menunjukkan lebih baik OLS) Soal 1 Seandainya hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumtif memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan. Menurut Anda, bagaimana perilaku konsumtif dapat memengaruhi performa karyawan dalam konteks pengelolaan keuangan pribadi dan financial stress? Uraikan jawaban Anda dengan pendekatan behavioral finance dan dampaknya terhadap kinerja ekonomi mikro (individu/karyawan). Jawaban soal 1: Menurut saya, ketika seseorang memiliki perilaku yang konsumtif tanpa manajemen keuangan yang baik, pada suatu titik keadaan finansialnya akan menjadi kurang baik, dan pada akhirnya akan menimbulkan stress yang berakibat pada penurunan kinerja. Gaya hidup konsumtif dapat mendorong seseorang untuk membelanjakan uangnya pada hal-hal yang kurang penting, bahkan melampaui batas kemampuan keuangannya. Prudential Indonesia (2024) dalam sebuah artikel mengungkapkan bahwa perilaku ini mencerminkan kecenderungan individu untuk melakukan pengeluaran berlebih tanpa memperhatikan apakah barang atau jasa yang dibeli benar-benar diperlukan. Sering kali, keputusan belanja tersebut dilakukan tanpa pertimbangan yang rasional. Artikel dari BPJS Ketenagakerjaan (2023) juga mengatakan bahwa individu yang memiliki gaya hidup konsumtif cenderung menggunakan uang secara impulsif, baik untuk kebutuhan maupun keinginan, secara berlebihan. Akibatnya, kondisi keuangan menjadi tidak stabil karena dana cepat habis, bahkan tabungan pun ikut terpakai untuk memenuhi pengeluaran yang tidak mendesak. Dalam pendekatan behavioral finance, keputusan keuangan sering kali dipengaruhi oleh emosi, bukan logika, sehingga seseorang yang konsumtif cenderung membuat keputusan keuangan yang buruk. Kondisi ini bisa menimbulkan stres karena keuangan pribadi yang menjadi tidak sehat jika perilaku konsumtif dilakukan secara jangka panjang. Stres finansial ini kemudian terbawa ke lingkungan kerja dan berdampak pada performa. Studi oleh Williams et al. (1996) menyebutkan bahwa setidaknya 10% karyawan memiliki masalah keuangan yang berakibat pada penurunan produktivitas, seperti sering absen, datang terlambat, kehilangan fokus, dan membuat lebih banyak kesalahan. Hal ini diperkuat oleh Bailey (1986), yang menyatakan bahwa karyawan dengan tekanan keuangan akan lebih mudah lelah, kurang konsentrasi, dan lebih sering terlibat konflik kerja. Selain itu, riset Kim et al. (2004) juga menunjukkan bahwa karyawan yang mengalami financial stress memiliki kepuasan gaji yang rendah, sering membuang waktu kerja, dan lebih sering absen. Semua ini menunjukkan bahwa masalah keuangan akibat perilaku konsumtif tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga secara langsung menurunkan produktivitas kerja secara mikro dari karyawan tersebut. Soal 2 Data menunjukkan bahwa meskipun literasi keuangan rata-rata cukup tinggi di Negara Indonesia, tingkat konsumtifnya tetap lebih tinggi dibandingkan negara lain. Sebagai mahasiswa Finance & Investment, bagaimana Anda menjelaskan fenomena ini? Apakah literasi keuangan yang tinggi secara otomatis menurunkan perilaku konsumtif? Jelaskan pendapat Anda dengan pendekatan teoritis dan fenomena yang relevan. Jawaban soal 2: Menurut saya, literasi keuangan yang meningkat tidak berpengaruh pada penurunan perilaku konsumtif. Hal ini dikarenakan keputusan melakukan konsumsi tetap bergantung pada tiap individu. Menurut saya,di Indonesia sendiri penduduknya mudah terpengaruh dengan orang lain dan sosial media, dengan kata lain banyak individu yang FOMO dan takut ketinggalan tren, melakukan konsumsi karena influence dari media sosial, dari influencer, dll. Meskipun tingkat literasi keuangan di Indonesia tergolong cukup tinggi, yaitu sebesar 65,43% berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024 (OJK & BPS, 2024), perilaku konsumtif masyarakat masih tetap tinggi. Salah satu buktinya adalah data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa pada tahun 2024, pengeluaran riil rata-rata per kapita masyarakat Indonesia mencapai Rp12,34 juta per tahun, meningkat dari Rp11,89 juta di tahun sebelumnya (Irawati, 2024). Fenomena ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak secara otomatis menurunkan perilaku konsumtif masyarakat. Fenomena tingginya perilaku konsumtif masyarakat Indonesia meskipun tingkat literasi keuangannya cukup tinggi dapat dijelaskan melalui pendekatan behavioral finance, khususnya konsep mental accounting. Mental accounting adalah kecenderungan psikologis di mana individu memisahkan uang ke dalam akun-akun mental yang berbeda tergantung pada asal dan tujuan penggunaan dana tersebut, sering kali mengabaikan prinsip pengelolaan keuangan yang rasional. Misalnya, seseorang bisa merasa wajar menghabiskan uang dari bonus kerja untuk membeli barang mewah, meskipun sedang berusaha menabung dari gaji bulanannya. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman teori keuangan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku keuangan yang sehat. Studi oleh Nasution dan Balatif (2025) yang dilakukan pada karyawan PT. X di Sumatera Utara menemukan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap perilaku keuangan karyawan. Artinya, pengetahuan keuangan saja tidak cukup untuk mengubah cara seseorang mengelola uangnya. Hal ini mengindikasikan adanya faktor lain yang lebih dominan dalam mempengaruhi keputusan keuangan, seperti gaya hidup, akses terhadap teknologi finansial, tekanan sosial, serta kebiasaan konsumsi yang dibentuk dari waktu ke waktu. Studi oleh Silva et al. (2023) menegaskan bahwa mental accounting memengaruhi keputusan konsumsi, tabungan, utang, dan investasi, sehingga dapat menjelaskan mengapa literasi keuangan yang tinggi tidak otomatis menekan perilaku konsumtif. Selain faktor internal seperti mental accounting dan bias psikologis lainnya, lingkungan digital juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku konsumtif. Penelitian oleh Gunawan et al. (2024) menunjukkan bahwa paparan terhadap konten media sosial yang dibuat oleh influencer berpengaruh signifikan terhadap peningkatan perilaku konsumtif pada Generasi Z. Faktor-faktor seperti frekuensi menonton konten influencer, tingkat interaksi (engagement), dan tingkat kepercayaan terhadap influencer memiliki korelasi positif dengan perilaku konsumtif responden. Temuan ini menguatkan pandangan bahwa dalam era digital, pengambilan keputusan keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan dan rasionalitas, tetapi juga oleh pengaruh sosial yang dibentuk oleh media. Dengan demikian, meskipun seseorang memiliki literasi keuangan yang tinggi, pengaruh media sosial dan gaya hidup digital dapat mengurangi efektivitas literasi tersebut dalam menahan perilaku konsumtif. Karena itulah menurut saya, upaya peningkatan literasi keuangan perlu dilengkapi dengan pendidikan yang mendorong kesadaran terhadap pengaruh eksternal seperti media sosial, serta membangun daya tahan terhadap tekanan konsumsi gaya hidup. Referensi Williams, P., Haldeman, V., & Cramer, S. (1996). Financial Concerns and Productivity. https://www.researchgate.net/publication/241526128_Financial_Concerns_An d_Productivity Bailey, W. E. (1986). Putting together the pieces. Management World, 15, 32–37. Kim, J., & Garman, E. T. (2004). Financial stress, pay satisfaction and workplace performance. Compensation & Benefits Review, 36(1), 69–76. https://doi.org/10.1177/0886368703261215 Kim, J., & Garman, E. T. (2004b). Financial stress, pay satisfaction and workplace performance. Compensation & Benefits Review, 36(1), 69–76. https://doi.org/10.1177/0886368703261215 Silva, E., Moreira, R., & Bortolon, P. M. (2023). Mental Accounting and Decision Making: A Systematic Review of the Literature. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.4354918 Irawati. (2024, November 15). Konsumsi Meningkat, Rata-Rata Orang Indonesia Habiskan Rp12,3 Juta di 2024. Infobanknews. https://infobanknews.com/konsumsi-meningkat-rata-rata-orang-indonesia-hab iskan-rp123-juta-di-2024/ Siaran Pers Bersama: OJK dan BPS Umumkan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2024. (n.d.). https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-dan-BPS-Umu mkan-Hasil-Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-Tahun-2024.aspx Gunawan, J., Audrianto, R., & Wuisan, D. (2024). THE IMPACT OF SOCIAL MEDIA INFLUENCERS ON THE CONSUMPTIVE BEHAVIOR OF GENERATION Z. Indonesian Marketing Journal, 3(2), 101. https://doi.org/10.19166/imj.v3i2.8508 Nasution, A. A., & Balatif, M. R. (2025). Pengaruh Literasi Keuangan, Inklusi Keuangan, Gaya Hidup, Dan Financial Technology Terhadap Perilaku Keuangan Pegawai PT. X di SUMUT. Owner, 9(1), 542–556. https://doi.org/10.33395/owner.v9i1.2428 BPJS Ketenagakerjaan (2023). Konsumtif: Gaya Hidup yang Membuat Keuangan Boros. https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/artikel/17700/artikel-konsumtif%3A-ga ya-hidup-yang-membuat-keuangan-boros.bpjs Prudential Indonesia (2024). Mengatasi Gaya Hidup Konsumtif dan Bijak Mengelola Keuangan. https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/gaya-hidup-konsumtif/
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )