MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL Balance Of Payment Swedia DOSEN PENGAJAR: Adwin Surja Atmadja, S.E., MIEF, Ph.D Disusun Oleh: Audi Wibisono Kathryn Velicia Gela D11210105 D11210161 UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA 2024 Kondisi Makroekonomi Swedia Pertumbuhan Ekonomi Pada tahun 2023, perekonomian di Swedia secara keseluruhan mengalami stagnasi, dengan pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi. Meski demikian, makroekonomi Swedia diperkirakan akan pulih pada tahun 2024, dengan laju ekspansi yang semakin membaik di tahun 2025. OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,6% pada tahun 2024, yang kemudian meningkat mencapai 2,6% pada tahun 2025. Hal tersebut didukung dengan proyeksi dari private consumption yang secara bertahap akan meningkat sepanjang tahun 2024 dan 2025, didukung oleh pertumbuhan pendapatan riil serta pasar tenaga kerja yang membaik. Meski demikian, aktivitas ekonomi diperkirakan akan tetap lemah dalam waktu dekat. Selain itu, tingkatan inflasi diperkirakan akan turun hingga di bawah 2% sebagai akibat dari penurunan harga energi dan bahan baku yang dipicu oleh kebijakan pemerintah dan pengurangan pajak bahan bakar. Hal ini diakibatkan oleh downward adjustment dari strategi harga perusahaan akibat rendahnya permintaan domestik. Penurunan inflasi juga dipengaruhi oleh delayed effect dari fluktuasi masa lalu dalam effective exchange rate. Secara keseluruhan, tingkatan inflasi Harmonized Index of Consumer Prices (HICP) diperkirakan berada pada tingkatan rata-rata 2% pada tahun 2024 dan 1.8% pada tahun 2025 (mengecualikan CPI dari energi, makanan, alkohol, tobako yang mencapai 2% di 2025). Ketika inflasi menurun, policy rate harus diturunkan dalam rangka mengurangi risiko inflasi yang tidak mencapai target. Pergeseran bertahap selama periode proyeksi ke arah kebijakan fiskal yang restriktif juga akan berkontribusi terhadap disinflasi. Gambar 1. Tren tingkat Inflasi dan Penetapan Harga di Swedia Sumber: OECD Economic Outlook Gambar 1 menunjukkan tren historis dari headline inflation, core inflation, dan pricing plans di Swedia. Headline inflation mengalami fluktuasi secara umum. Secara spesifik, headline inflation di Swedia sempat mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2021 hingga mencapai puncaknya di tahun 2022, sebelum akhirnya mulai menurun pada tahun 2023. Hal serupa terjadi pula pada tingkatan core inflation Swedia, meski lajunya lebih lambat jika dibandingkan headline inflation. Selain itu, terlihat bahwa penetapan harga di Swedia mengalami peningkatan tajam sekitar tahun 2020 hingga 2022, menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan mungkin memperkirakan kenaikan harga yang signifikan. Namun, pada tahun 2023, penetapan harga mulai menurun, yang menunjukkan ekspektasi penurunan inflasi. Penurunan dalam penetapan harga juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan mungkin memperkirakan penurunan inflasi di masa depan. Foreign Trade Swedia adalah negara yang berorientasi pada ekspor kayu gelondongan, hydropower, dan bijih besi pada foreign trade-nya. Sektor teknik mengisi 50% dari hasil negara dan ekspor. Selain itu, industri telekomunikasi, otomotif, dan farmasi juga merupakan industri besar di Swedia. Mitra utama ekspor Swedia adalah Jerman, Amerika, dan Norwegia. Dalam hal impor, Swedia mengimpor mesin, minyak bumi dan produk turunannya, kendaraan bermotor, bahan kimia, besi, baja, makanan, dan pakaian. Mitra utama impor Swedia adalah negara Uni Eropa, Norwegia, dan Tiongkok. Gambar 2. Tren ekspor, impor, dan net trade of goods di Swedia Sumber: Statistic Sweden Gambar di atas menunjukkan tren historis ekspor, impor, dan net trade (perdagangan neto) barang dalam miliar SEK dari tahun 2004 hingga 2022. Baik ekspor maupun impor menunjukkan peningkatan secara keseluruhan selama periode ini, mencerminkan pertumbuhan volume perdagangan internasional Swedia. Pada tahun 2008, terdapat penurunan nilai ekspor dan impor yang tajam, dan kemudian meningkat cenderung stabil hingga sekitar tahun 2015. Dari tahun 2015 hingga 2022, terjadi peningkatan yang lebih signifikan, terutama sekitar tahun 2020-2021. Net trade dari Swedia secara umum bernilai positif, menunjukkan adanya surplus perdagangan, meskipun ada fluktuasi signifikan sepanjang periode tersebut. Meskipun ada beberapa fluktuasi, net trade cenderung lebih stabil dibandingkan dengan ekspor dan impor. Pada tahun 2008, terjadi penurunan net trade yang signifikan, yang sejalan dengan penurunan ekspor dan impor. Sekitar tahun 2020, terlihat peningkatan net trade yang signifikan, menunjukkan bahwa ekspor meningkat lebih cepat dibandingkan impor selama periode tersebut. Kondisi Tightening Monetary Pasar tenaga kerja diproyeksikan stabil, dimana pada 2023, pasar tenaga kerja masih tergolong kuat di tengah tightening monetary conditions yang dilakukan. Namun, pasar tersebut akan mengalami perlambatan pertumbuhan, dimana pertumbuhan diperkirakan akan turun pada 2024 namun akan meningkat kembali, dimulai pada pertengahan tahun. Permintaan tenaga kerja di labor force market di Swedia tergolong rendah, diikuti dengan peningkatan jumlah perusahaan bangkrut. Akibatnya, lapangan pekerjaan menurun dan berkontribusi pada meningkatnya pengangguran. Tingkat pengangguran diperkirakan akan meningkat dari 7.7% di tahun 2023 hingga diatas 8.4% pada 2024, dan akan turun kembali di 2025. Situasi di pasar tenaga kerja akan tetap sulit dan diperkirakan akan menyebabkan tingkat pengangguran yang juga tinggi, namun membaik pada tahun 2025. Pembayaran substansial dalam bentuk pengembalian pajak kepada rumah tangga, terutama terkait dengan pemotongan bunga pinjaman KPR pada April 2024 dapat memulihkan consumer spending. Mulai dari pertengahan tahun, biaya utang yang lebih rendah diiringi dengan inflasi yang menurun memberikan dukungan bagi pendapatan riil dan konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga diperkirakan membaik pada 2025 di saat pasar tenaga kerja diproyeksikan mengalami peningkatan. Industri perumahan diperkirakan akan stabil pada akhir masa proyeksi, dimana untuk non-residensial akan tetap kuat karena defense spending. Tabel 1. Proyeksi Indikator Ekonomi di Swedia Sumber: IMF Investasi bisnis lainnya diprediksi akan akan tetap lesu, mencerminkan tingkat kapasitas penggunaan yang rendah setelah resesi dan delayed effect dari financing cost yang rendah. Permintaan yang rendah dari luar negeri meredam pertumbuhan ekspor Swedia di tahun 2024. Di sisi lain, pada 2025, ekspor diproyeksikan akan berkontribusi secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu, real GDP diperkirakan akan tumbuh sebesar 0.7% pada tahun 2024, dan akan meningkat sedikit di atas 2.5% pada tahun 2025. Daya saing ekspor dan neraca perusahaan yang kuat dapat mendorong pertumbuhan perekonomian. Aktivitas perekonomian Swedia yang terbatas serta konsumsi rumah tangga dan investasi di bidang perumahan yang sensitif terhadap perubahan suku bunga memberikan hambatan bagi pertumbuhan GDP negara. Meningkatnya GDP diperkirakan tidak dapat menyelamatkan perekonomian negara dari kemungkinan resesi. Balance of Payment BOP menyediakan informasi seputar permintaan dan penawaran mata uang negara, menunjukkan kemampuan negara untuk menjalin hubungan bisnis dengan negara lain, serta mengevaluasi kemampuan suatu negara dalam perekonomian internasional (Eun et al., 2015). Balance of Payment (BOP) juga menunjukkan pernyataan statistik yang secara sistematis merangkum transaksi ekonomi suatu negara dengan negara lain dalam jangka waktu tertentu. Transaksi ekonomi tersebut dilakukan antara resident dan non-resident yang mencatat semua transaksi pertukaran terhadap asset dan liabilities (termasuk goods, services, dan income). Transaksi seperti penjualan dan pembelian stocks, bonds, loans, dan bank deposit balances juga termasuk dalam pencatatan BOP suatu negara. Pencatatan pada BOP menggunakan sistem double-entry bookkeeping, dimana pencatatan dilakukan melalui sistem debit-kredit sehingga total dari kedua akun tersebut adalah nol. Artinya, jika tanda pada akun kredit adalah positif, maka akun debit akan memiliki nilai negatif dengan nominal yang sama. Sebagai contoh, jika suatu negara X melakukan export ke negara Y, maka negara X akan mencatatkan export tersebut positif pada akun kredit. Sedangkan, transaksi pada negara Y dicatatkan sebagai import pada akun debit dengan besar nominal yang sama dan dengan tanda negatif. Namun, pada praktiknya seringkali akun-akun tersebut tidak balance. Hal ini dikarenakan data yang digunakan dalam BOP seringkali diperoleh secara independen sehingga ada perbedaan antara satu dengan yang lain. Hal tersebut menyebabkan timbulnya akun net kredit atau net debit pada BOP. Secara garis besar, balance of payment dibagi menjadi tiga bagian, yaitu current account, capital account, dan financial account (IMF, 2024). Current account meliputi ekspor dan impor. Capital account meliputi penjualan dan pembelian aset seperti saham, bonds, bank accounts, real estate, dan bisnis (Eun et al., 2015). Financial accounts meliputi nilai netto dari akuisisi dan disposal dari aset dan liabilitas finansial, termasuk net direct investment, net portfolio investment, net other investment, dan reserve assets. (IMF, 2024). Reserve assets meliputi semua penjualan dan pembelian international-reserve assets seperti dollar, forex, emas, dan special drawing rights (SDR). Berikut adalah key figures dari BOP Swedia pada kuartal 4 2023: 1. Current Account 116.7 SEK billion Current account on Goods adalah 6.30 % pada GDP di Desember 2023. Current account pada BOP Swedia mengalami surplus sebesar SEK 116.7 miliar pada triwulan keempat tahun 2023, meningkat sebesar SEK 8.7 miliar jika dibandingkan triwulan keempat di tahun 2022. Peningkatan tersebut terjadi karenanya menguatnya neraca perdagangan yang disebabkan oleh peningkatan ekspor sekaligus penurunan impor. Tabel 2 & Gambar 3. Current Account Swedia Sumber: Trading Economics Peningkatan ekspor dan penurunan impor in goods - Trade in goods menunjukkan surplus sebesar SEK 104.2 miliar di triwulan keempat 2023, meningkat sebesar SEK 42.1 miliar jika dibandingkan triwulan keempat 2022. Ekspor barang di Swedia meningkat sebesar 26 miliar SEK, mencapai nominal SEK 620.5 miliar, berbanding terbalik dengan jumlah impor Swedia yang mengalami penurunan SEK 16.1 miliar dan berada pada nominal SEK 516.3 miliar. Trade in services justru menunjukkan defisit sebesar SEK 9.8 miliar. Impor dalam services mencapai SEK 310.4 miliar, naik sebesar SEK 25.3 miliar jika dibandingkan pada kuartal keempat tahun 2022. Pada saat yang bersamaan, ekspor in services mengalami peningkatan sebesar SEK 7.4 miliar. Penurunan surplus pada primary income - primary income terdiri dari kompensasi karyawan dan pendapatan investasi. Jumlah surplus pada pendapatan investasi mengalami penurunan sebesar SEK 13.6 miliar, dari SEK 60.4 miliar menjadi SEK 47.1 miliar pada kuartal 4 tahun 2023. Perubahan pendapatan investasi terbesar terjadi pada other investment dan portofolio investment. Pendapatan investasi pada other investment mengalami defisit surplus sebesar SEK 15.1 miliar, sedangkan pendapatan investasi pada portofolio investment menyumbang defisit surplus sebesar SEK 6.4 miliar. Peningkatan defisit secondary income - Secondary income mencakup kerja sama internasional, donasi, dan kontribusi kepada Uni Eropa dan mengalami defisit yang meningkat sebesar SEK 1.8 miliar, mencapai nominal SEK 25.3 miliar. 2. Financial Account 66 SEK billion Peningkatan direct investment di Swedia dan negara lain - Net lending pada direct investment mencapai SEK 5 miliar pada kuartal 4. Foreign Direct Investment (FDI) di Swedia meningkat sebesar SEK 87.1 miliar dan direct investment Swedia di negara lain meningkat sebesar SEK 92.1 miliar. Peningkatan portofolio investasi dan investasi lain di Swedia - Net borrowing pada portofolio investasi mencapai SEK 163.2 miliar. Investor asing meningkatkan portofolio investasinya sebesar SEK 128.1 miliar. Di sisi lain, investor Swedia mengurangi portofolio investasinya di negara lain senilai SEK 25.1 miliar. Net lending pada other investment mencapai SEK 237.9 miliar. Other investment Swedia di luar negeri meningkat SEK 4.4 miliar dan foreign other investment di Swedia menurun sebesar SEK 233.5 miliar. Financial derivatives dan reserve assets - Net borrowing pada financial derivatives mencapai SEK 17.9 miliar. Reserve assets meningkatkan net lending senilai SEK 4.2 miliar. 3. International Investment Position 2091.7 SEK billion International Investment Position (IIP) adalah statement statistik yang menunjukkan nilai dan komposisi dari aset finansial residen (termasuk pinjaman bagi non-residen, investasi pada aset asing, dan emas sebagai reserve) dan liabilitas residen dari non-residen. Net IIP dihitung melalui selisih antara aset finansial eksternal dikurangi dengan liabilitas. Net IIP Swedia pada Desember 2023 adalah sebesar 33.20% dari GDP. Net IIP tertinggi negara ini mencapai 40.80% dari GDP pada Juni 2023 dan terendah mencapai -45.70% dari GDP pada Maret 2000. Aset eksternal Swedia mencapai SEK 19,760.5 miliar pada kuartal 4, berkurang senilai SEK 544.9 miliar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Liabilitas eksternal Swedia mencapai SEK 17,668.8 miliar, mengalami penurunan senilai SEK 263.1 miliar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Portofolio investasi dan financial derivatives meningkat pada Swedia dan luar negeri. Aset direct investment Swedia di luar negeri mengalami penurunan dan aset luar negeri di Swedia meningkat. Reserve assets di luar negeri mengalami penurunan. Exchange Rate SEK/USD Tabel 3 & Gambar 4. Exchange Rate SEK/USD Sumber: Trading Economics Exchange Rate SEK/USD pada tahun 2014 hingga tahun 2024 menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan, dimana dalam rentang 10 tahun, tren-nya cenderung menurun. Nilai dari exchange rate mulai terdepresiasi dari tahun 2014 (0.136) hingga 2016 (0.106). Meski sempat mengalami apresiasi pada tahun 2017 (0.108) dan 2018 (0.118), pergerakan dari exchange rate SEK/USD melemah kembali pada tahun 2019 (0.109) dan 2020 (0.100). Pada tahun 2021, exchange rate SEK/USD kembali menguat secara signifikan, dengan kenaikan 0.012 menjadi 0.112, sebelum akhirnya meluncur turun kembali menyentuh angka 0.092 pada tahun 2022, yang kemudian stabil pada angka yang sama di 2023. Per Mei 2024, exchange rate SEK/USD terlihat mengalami sedikit apresiasi, berada pada angka 0.095. Secara keseluruhan, SEK mengalami tren depresiasi terhadap USD dari 2013 hingga 2024, meskipun terdapat beberapa periode singkat di mana SEK sempat menguat. Secara teoritis, saat exchange rate mengalami depresiasi, nilai ekspor Swedia akan kompetitif di pasar internasional diakibatkan harga produk dalam mata uang USD menjadi lebih murah. Hal tersebut akan meningkatkan foreign demand, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan volume ekspor Swedia, yang akibatnya akan berkontribusi pada surplus neraca perdagangan. Data historis dari trading economics menunjukkan hal yang sejalan dengan teori tersebut. Di sisi lain, impor akan menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya akan mengurangi volume impor swedia. Efek dari depresiasi yang dialami exchange rate terhadap ekspor dan impor akan meningkatkan volume transaksi current account. Dari segi neraca jasa, depresiasi SEK menyebabkan Swedia menjadi menarik bagi wisatawan asing dikarenakan biayanya menjadi lebih rendah. Selain itu, pendapatan dari investasi internasional dan transfer unilateral akan dipengaruhi oleh fluktuasi exchange rate. Pendapatan yang dihasilkan dari investasi luar negeri akan lebih tinggi jika dikonversi kembali ke SEK sebagai akibat dari depresiasi. Depresiasi SEK cenderung mendukung peningkatan surplus dalam neraca perdagangan dan jasa yang secara keseluruhan dapat mengurangi defisit dalam current account. Pada saat yang sama, efek dari exchange rate depreciation mempengaruhi harga ekspor dan impor, yang berdampak pada akun net export dan current account Swedia. Secara teoritis, harga impor lebih terpengaruh jika dibandingkan dengan harga ekspor dalam jangka pendek, yang berdampak pada penurunan net export sebelum akhirnya meningkat dalam jangka panjang. Urutan peristiwa berupa penurunan kemudian peningkatan dalam net export dan current account tersebut dikenal sebagai fenomena J-Curve. Efek dari perubahan exchange rate terhadap trade balance akan berbeda dalam jangka pendek jika dibandingkan dengan efek jangka panjang. J-Curve adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respon jangka pendek dari neraca perdagangan terhadap depresiasi exchange rate. J curve terjadi sebagai akibat adanya adjustment lag, dimana trade balance akan memburuk kemudian membaik, yang pada akhirnya membentuk kurva berbentuk J. Di sisi lain, ketika SEK terapresiasi, seperti yang terjadi pada tahun 2017-2018 dan 2020-2021, akan menyebabkan produk ekspor Swedia lebih mahal di pasar internasional, yang dapat mengurangi daya saingnya. Hal ini cenderung menurunkan volume ekspor dan bisa memperburuk neraca perdagangan jika tidak diimbangi dengan peningkatan yang cukup dalam permintaan luar negeri. Selain itu, barang impor menjadi lebih murah, yang dapat meningkatkan volume impor dan berpotensi memperburuk neraca perdagangan. Dari sisi neraca jasa, apresiasi SEK membuat Swedia menjadi destinasi yang lebih mahal bagi wisatawan asing. Apresiasi SEK juga mengurangi nilai pendapatan dari investasi internasional dan transfer unilateral, yang dapat memperburuk neraca pendapatan jika arus masuk investasi tidak cukup besar sehingga apresiasi SEK akan mengurangi pendapatan luar negeri Swedia, yang pada akhirnya berdampak negatif pada BOP. Purchasing Power Parity dan Interest Rate Parity Purchasing Power Parity Purchasing Power Parity (PPP) adalah nilai exchange rate antara dua mata uang harus sama dengan rasio tingkat harga agregat antara dua negara, sehingga satu unit mata uang suatu negara akan memiliki daya beli yang sama di negara asing. Pada awalnya, PPP digunakan sebagai penentuan dalam exchange rate. Namun, saat ini PPP juga digunakan untuk membandingkan standar hidup antara satu negara dengan negara yang lain. Konsep dasar dari PPP adalah satu unit currency mampu untuk membeli suatu barang yang sama di negara lain dengan jumlah unit currency lain dengan nominal yang sama. Hal tersebut menunjukkan adanya kesetaraan (parity) dalam currency di kedua negara tersebut. Tabel 4 & Gambar 5. Kalkulasi PPP Sumber: Trading Economics, Analisa Kelompok Nilai q hasil kalkulasi menunjukkan nilai di bawah 1, menunjukkan kurs domestik (SEK) terdepresiasi terhadap USD. Nilai di bawah 1 mengindikasikan tingkat kompetitif dari industri domestik Swedia yang semakin menarik karena lebih murah dibandingkan USD. Meskipun nilai q 11 tahun terakhir berada di bawah angka 1, namun nilai tersebut mengalami tren peningkatan, meskipun terdapat fluktuasi. Hal tersebut menandakan bahwa barang dan jasa di Swedia lebih murah jika dibandingkan dengan di Amerika Serikat. Undervalue ini juga menggambarkan beberapa implikasi ekonomi di Swedia. Ekspor Swedia akan kompetitif karena harganya menjadi lebih murah bagi pembeli asing, yang berdampak pada peningkatan permintaan barang dan jasa Swedia di luar negeri. Sebaliknya, impor Swedia akan menjadi lebih mahal, yang berdampak pada berkurangnya volume impor barang dan jasa Swedia. Bagi konsumen, warga Swedia dapat menikmati standar hidup yang lebih tinggi di dalam negeri, karena currency mereka memiliki daya beli yang lebih besar di dalam negeri. Namun, hal ini juga menyebabkan masyarakat Swedia yang akan berpergian atau bertransaksi di luar negeri menjadi relatif lebih mahal. Dari perspektif ekonomi yang lebih luas, undervalued semacam ini dapat mendorong penyesuaian exchange rate seiring waktu. Pada akhirnya, pasar akan mendorong SEK untuk terapresiasi terhadap USD, karena investor dan pedagang memanfaatkan perbedaan currency sebagai upaya untuk menyeimbangkan disparitas daya beli. Proses ini sejalan dengan teori PPP, yang menyatakan bahwa dalam jangka panjang, nilai tukar seharusnya bergerak menuju level yang menyamakan harga dari suatu barang dan jasa yang identik di antara dua negara. SEK yang undervalue membuat ekspor Swedia menjadi lebih murah dan menarik di mata pembeli asing sehingga akan meningkatkan nilai ekspor. Hal ini menyebabkan pada BOP bagian Trade Balance yang menghitung selisih dari nilai ekspor dan impor akan meningkat. Ekspor yang meningkat menghasilkan revenue dalam kurs asing yang lebih tinggi, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada current account BOP. Seiring dengan ekspor yang murah dan impor yang mahal, volume impor Swedia akan berkurang. Kombinasi hal ini mendorong surplus pada current account, dimana hal ini berarti Swedia adalah net lender bagi negara lain di dunia dan telah mengakumulasi aset asing dan financial claims. Peningkatan trade balance dan current account dapat berdampak pada capital and financial account pada BOP. Investor asing dapat melihat aset Swedia sebagai aset yang menarik karena ekspor yang kompetitif dan pertumbuhan ekonomi yang baik. Hal ini memicu alur kas masuk dari Foreign Direct Investment (FDI) dan portofolio investment karena investor mengincar fundamental ekonomi yang kuat dan potensi apresiasi pada SEK. Ketika Swedia mengalami surplus terhadap current account, bank sentral dapat mengintervensi pasar valas untuk mencegah apresiasi SEK yang berlebihan, yang berdampak pada berkurangnya daya saing ekspor. Intervensi ini dilakukan dengan cara membeli foreign currency dan menjual SEK, sehingga meningkatkan foreign exchange reserves Swedia. Reserves ini kemudian dicatatkan pada financial account di BOP Swedia. Dalam jangka panjang, undervalued SEK yang terus-menerus dan surplus BOP yang dihasilkan dapat menyebabkan tekanan pada SEK. Ketika mata uang terapresiasi, daya saing ekspor Swedia dapat berkurang, yang pada akhirnya akan menyeimbangkan BoP. Penyesuaian ini sejalan dengan teori PPP, yang menunjukkan bahwa nilai tukar harus bergerak menuju tingkat parity untuk harga barang dan jasa yang sama antar negara. SEK yang undervalued terhadap USD dapat memberikan dampak positif pada BOP Swedia melalui peningkatan ekspor, perbaikan trade balance, dan menyebabkan surplus pada current account. Hal tersebut akan menarik investasi asing, meningkatkan cadangan devisa, dan pada akhirnya menghasilkan penyesuaian currency sesuai dengan teori PPP. Salah satu cara untuk menggambarkan purchasing power parity adalah melalui Big Mac Index. Kemampuan daya beli terhadap satu unit barang yang dimaksudkan pada teori PPP dalam konteks ini diibaratkan sebagai sebuah Big Mac. Big Mac index mampu untuk memberikan gambaran praktis apakah currency suatu negara overvalued atau undervalued dan membantu untuk memprediksi penyesuaian nilai tukar kedepannya. Dalam konteks ini, Big Mac Index digunakan untuk membandingkan harga Big Mac di Swedia dengan Amerika Serikat. Jika nilai implied PPP (yang didapat dengan membagi harga Big Mac di Swedia dengan harga Big Mac di Amerika Serikat) lebih tinggi daripada nilai tukar aktualnya, maka Swedish Krona cenderung overvalued terhadap US Dollar, dan sebaliknya. Tabel 5 & Gambar 6. Big Mac Index Swedia dan Amerika Serikat Sumber: The Economist Tabel dan grafik di atas menunjukkan trend dari Big Mac Index Swedia jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dari tahun 2013 hingga tahun 2024. Secara umum, tren dari harga Big Mac di kedua negara tersebut secara konsisten mengalami peningkatan. Dapat terlihat bahwa selama periode tahun 2013 hingga 2024, nilai tukar aktual selalu lebih rendah dari implied PPP-nya, menunjukkan bahwa Swedish Krona overvalued jika dibandingkan dengan US Dollar. Namun, dalam rentang periode tersebut, fluktuasi dari tren tersebut berhasil mencapai titik terendahnya pada tahun Januari 2024, yaitu sebesar 3,08%, yang awalnya adalah 58,50% pada Januari 2013. Grafik dan tabel dari tahun 2013 hingga 2024 menunjukkan tren peningkatan secara konsisten untuk harga Big Mac di kedua negara tersebut. Selama periode tersebut, nilai tukar aktual Swedish Krona selalu lebih rendah daripada nilai implied PPP-nya, menunjukkan bahwa Swedish Krona cenderung overvalued terhadap US Dollar. Meskipun demikian, fluktuasi tren ini mencapai titik terendahnya pada Januari 2024, turun menjadi 3,08% dari nilai awalnya yang sebesar 58,50% pada Januari 2013. Interest Rate Parity Pengaruh kebijakan moneter terhadap national currency tidak dapat dihindari. Hal ini dikarenakan exchange rate menjadi komponen penting untuk mencerminkan perbedaan interest rate antar negara (Taylor, 2001). Perbedaan tersebut dapat dijelaskan melalui konsep interest rate parity, dimana secara umum, pemodelan macroeconomics mengasumsikan hubungan antara interest rate dengan pergerakan exchange rate. Interest rate pada dasarnya penting dalam memahami aliran modal suatu perekonomian serta pengaruhnya terhadap permintaan (demand) uang. Secara teori, IRP menyatakan bahwa perubahan nilai tukar mata uang yang diantisipasi akan sebanding dengan suku bunga relatif suatu negara. Covered interest rate parity menyatakan bahwa forward exchange rate harus bisa menghilangkan selisih dari suku bunga kedua negara. Secara sederhana, selisih dari spot dan forward rate memunculkan adanya potensi arbitrage, yang kelak akan dihilangkan melalui mekanisme pasar. Uncovered interest rate parity menunjukkan adanya sinkronisasi dari perbedaan kurs terhadap perbedaan suku bunga kedua negara tersebut. Data menunjukkan bahwa perbedaan kurs tidak sebanding dengan perbedaan suku bunga antara kedua negara: Tabel 6 & Gambar 7. IRP Sumber: Trading Economics, Analisa Kelompok Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas (forward rate (SEK/USD) predicted (P)), terlihat hasil yang berbeda dengan data historical-nya. Perbedaan ini mencerminkan ekspektasi pasar yang berbeda dari model IRP klasik, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti risiko politik, kebijakan moneter yang tidak konvensional, atau intervensi pasar oleh bank sentral. Pada tahun 2014, forward rate adalah 0.155 SEK/USD, sedangkan forward rate yang dihitung berdasarkan rumus IRP (H) adalah 0.129 SEK/USD. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar memperkirakan SEK akan sedikit lebih lemah terhadap USD dibandingkan dengan perhitungan IRP. Hal ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi Swedia yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan AS. Pada tahun 2015, nilai forward rate yang diprediksi dan dihitung sama, menunjukkan keselarasan antara ekspektasi pasar dan teori IRP. Namun, pada tahun 2016, forward rate yang diprediksi lebih tinggi daripada yang dihitung, yang mengindikasikan bahwa pasar memperkirakan SEK akan lebih lemah daripada perhitungan berdasarkan suku bunga. Sebaliknya, pada tahun 2017, forward rate yang diprediksi lebih rendah daripada yang dihitung, menunjukkan ekspektasi apresiasi SEK yang lebih kuat dibandingkan dengan model IRP. Pada tahun 2020, forward rate yang diprediksi lebih rendah daripada yang dihitung, menunjukkan bahwa pasar memperkirakan SEK akan lebih kuat jika dibandingkan dengan perhitungan IRP. Kondisi ini berlanjut hingga 2024, di mana prediksi pasar cenderung lebih rendah daripada perhitungan IRP, menandakan ekspektasi apresiasi SEK yang lebih tinggi Interest Rate Parity (IRP) juga merupakan kondisi arbitrage yang berlaku ketika pasar keuangan internasional berada dalam equilibrium. Ketika hubungan parity berlaku, maka covered yield akan identik dengan aset dalam hal maturity, default risk, dan liquidity. IRP juga menyatakan bahwa bahwa perubahan currency exchange rate yang diantisipasi akan proporsional terhadap perubahan interest rate dalam negara. Dalam dunia nyata, interest rate parity tidak berlaku, dalam kasus ini adalah Krona dan USD. Hal ini menyebabkan adanya kesempatan untuk melakukan arbitrage dan memperoleh profit dari selisih yang ada. Secara teori, IRP menyatakan bahwa perbedaan suku bunga antara dua negara harus parity dengan perbedaan antara nilai tukar forward dan spot dari mata uang kedua negara tersebut. Namun, hasil perhitungan menunjukkan bahwa ada ketidakseimbangan antara suku bunga historis dan suku bunga yang dibutuhkan agar IRP hold, menciptakan peluang arbitrage. Tabel 7 & Gambar 8.Kalkulasi Interest Rate USD agar IRP bisa berlaku Sumber: Trading Economics, Analisa Kelompok Pada tahun 2014, interest rate di AS seharusnya 20.52% agar IRP berlaku, jauh lebih tinggi dari suku bunga historis 0.25%. Ketidakseimbangan ini menunjukkan adanya peluang arbitrase, di mana investor dapat meminjam dalam USD dengan suku bunga rendah dan menginvestasikan dalam SEK dengan suku bunga lebih tinggi, kemudian mengunci keuntungan melalui forward rate. Pada tahun 2016, situasi serupa terjadi dengan suku bunga yang dibutuhkan sebesar 13.03% dibandingkan dengan suku bunga historis 0.50%. Di sisi lain, beberapa tahun menunjukkan suku bunga yang dibutuhkan lebih rendah dari suku bunga historis, seperti pada tahun 2017 (-7.75% vs. 1.00%), yang juga mencerminkan peluang arbitrase terbalik. Pada tahun 2020-2024, ketidakseimbangan masih berlanjut, meskipun dengan tingkat yang bervariasi. Misalnya, pada tahun 2021, suku bunga yang dibutuhkan adalah 6.88% dibandingkan dengan suku bunga historis 0.25%, sementara pada tahun 2023 perbedaan ini lebih kecil (1.08% jika dibandingkan dengan 5.00%). Secara keseluruhan, tabel ini menunjukkan bagaimana perbedaan antara suku bunga yang dibutuhkan agar IRP berlaku dan suku bunga historis mengindikasikan peluang arbitrage yang dapat dimanfaatkan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan tanpa risiko, berdasarkan teori IRP. Perbedaan ini mencerminkan ketidakseimbangan pasar yang memungkinkan pelaku pasar untuk mengambil keuntungan dari pergerakan nilai tukar dan suku bunga. DAFTAR PUSTAKA Eun, C. S., & Resnick, B. G. (2015). International Financial Management (7th ed.). McGraw-Hill Education. European Commission. (2024, May 15). Economic Forecast for Sweden. Economic Surveillance of EU Economies. https://economy-finance.ec.europa.eu/economic-surveillance-eu-economies/sweden/economic-fo recast-sweden_en IMF. (2007). International Investment Position. In Balance of Payments and International Investment Position Manual. https://www.imf.org/external/pubs/ft/bop/2007/pdf/chap7.pdf IMF. (2024a). Balance of Payments and International Investment Position Statistics (BOP/IIP). https://data.imf.org/?sk=7a51304b-6426-40c0-83dd-ca473ca1fd52 IMF. (2024b). Sweden: 2024 Article IV Consultation-Press Release; and Staff Report. https://www.imf.org/en/Publications/CR/Issues/2024/03/08/Sweden-2024-Article-IV-ConsultationPress-Release-and-Staff-Report-546063 OECD. (2023a). OECD Economic Outlook (1st ed., Vol. 1). OECD. https://www.oecd-ilibrary.org/sites/e681fffd-en/index.html?itemId=/content/component/e681fffden OECD. (2023b, June 14). Boosting Workforce Participation and Better Facilitating Green Transition Key Priorities for Sweden: OECD. OECD. https://www.oecd.org/sweden/boosting-workforce-participation-and-better-facilitating-green-tran sition-key-priorities-for-sweden.htm Statistics Sweden. (2024a, March 6). Increased Exports and Decreased Imports of Goods Contribute to a Current Account Surplus. https://www.scb.se/en/finding-statistics/statistics-by-subject-area/balance-of-payments-and-intern ational-investment-position/balance-of-payments-and-international-investment-position/balance-o f-payments-bop/pong/statistical-news/balance-of-payments-4th-quarter-2023/ Statistics Sweden. (2024b, May 28). Exports, Imports and Net Trade of Goods. https://www.scb.se/en/finding-statistics/statistics-by-subject-area/trade-in-goods-and-services/for eign-trade/foreign-trade---exports-and-imports-of-goods/pong/tables-and-graphs/exports-importsand-net-trade-of-goods/ Taylor, J. B. (2001). The Role of the Exchange Rate in Monetary-Policy Rules. American Economic Review, 91(2), 263–267. https://doi.org/DOI: 10.1257/aer.91.2.263 Trading Economics. (2024a). Sweden Net International Investment Position. https://tradingeconomics.com/sweden/net-international-investment-position-eurostat-data.html Trading Economics. (2024b). Sweden Exports. https://tradingeconomics.com/sweden/exports Trading Economics. (2024c). Sweden Imports. https://id.tradingeconomics.com/sweden/imports
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )