PERANCANGAN PIT LIMIT PENAMBANGAN NIKEL
DI BLOK ABEP PIT 5
PT BOSOWA MINING SITE TAMBAKUA
KECAMATAN WIWIRANO KABUPATEN KONAWE UTARA
PROPOSAL PENELITIAN
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN
MENCAPAI JENJANG SARJANA (S1)
DIAJUKAN OLEH:
UTO SAPUTRA
R1D120117
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
AGUSTUS 2024
Halaman Persetujuan
Proposal Penelitian
Perancangan Pit Limit Penambanga Nikel
Di Blok Abep Pit 5
PT Bosowa Mining Site Tambakua
Kecamatan Wiwirano Kabupaten Konawe Utara
Diajukan oleh:
Uto Saputra
R1D120117
Telah disetujui oleh:
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Ir. Erwin Anshari, S.Si., M.Eng
NIP. 198806282015041001
Laode Jonas Tugo S.T., M.T
NIP. 199108112024211001
Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan
Ir. Erwin Anshari, S.Si., M.Eng
NIP. 198806282015041001
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Nikel merupakan unsur logam yang terbentuk secara alami dan paling
sering ditemukan pada kerak bumi. Komoditas nikel sangat dibutuhkan oleh
banyak industri, seperti industri baja tahan karat (stainless steel), baterai, logam
paduan, dan pelapisan logam. Stainless steel digunakan pada berbagai bidang
industri hilir, mulai dari peralatan rumah tangga, transportasi, hingga kontruksi.
Hal itu menyebabkan 70% nikel dunia didominasi oleh produksi nikel untuk
kebutuhan stainless stell (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2022).
Selain itu, pemanfaatan nikel dapat dijadikan sebagai bahan baku utama
pembuatan baterai lithium yang banyak dimanfaatkan untuk kendaraan listrik.
Indonesia merupakan negara dengan produsen nikel terbesar di dunia.
Menurut Kepmen ESDM NO.301. K-MBI.01/MEM.B.2022 Indonesia merupakan
negara yang mempunyai peringkat satu komoditas nikel atau setara dengan 27%
cadanagan dunia. Persebaran nikel di Indonesia dapat ditemukan di Pulau
Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Halmahera, Papua, serta di Kalimantan.
Sebelum diberlakukannya pelarangan ekspor mineral mentah pada awal tahun
2020, sebagian besar nikel yang diproduksi di Indonesia diekspor dalam bentuk
bijih nikel, sehingga pemanfaatannya di dalam negeri terbilang masih rendah.
Salah satu daerah dengan karakteristik terbentuknya nikel paling
kompleks di Indonesia adalah Pulau Sulawesi, yang kompleksitasnya disebabkan
oleh pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Pasifik dari timur,
lempeng Eurasia dari utara, dan lempeng India-Australia dari barat daya. Pulau
Sulawesi, khususnya Sulawesi Tenggara, memiliki keterdapatan nikel yang cukup
tinggi. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan
nikel laterit beroperasi di Provinsi Sulawesi Tenggara.
PT Bosowa Mining adalah perusahaan yang bergerak di bidang
pertambangan nikel laterit yang berlokasi di Kecamatan Wiwirano, Kabupaten
1
2
Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Perusahaan ini memiliki Wilayah Izin
Usaha Pertambangan (WIUP) seluas 1.500 hektar. Dengan memiliki wilayah Izin
Usaha Pertambangan yang luas, PT Bosowa Mining membagi area tambangnya
menjadi beberapa blok yang berpotensi untuk ditambang. Blok-blok tersebut
meliputi blok Abep, blok ITB, blok SLS, blok Selatan, dan blok Wingston. Di
antara blok-blok yang memiliki potensi, terdapat 5 blok yang sedang dalam tahap
penambangan. Dalam kegiatan penambangannya, PT Bosowa Mining menerapkan
metode penambangan terbuka.
Tambang terbuka (open pit mining) adalah salah satu metode
penambangan yang kegiatan penambangannya di terapkan terhadap endapan
bahan galian yang terletak di dekat permukaan bumi. Metode ini melibatkan
penggalian material tanah atau batuan (overburden) secara bertahap melalui
bukaan besar atau pit untuk mengakses deposit bijih. Tambang terbuka umumnya
digunakan untuk komoditas seperti batubara, bijih besi, tembaga, emas, dan nikel.
Desain tambang terbuka memperhitungkan berbagai aspek seperti kedalaman,
kemiringan lereng, akses jalan, dan pengelolaan limbah untuk memastikan
efisiensi dan keselamatan operasi. Sebelum memulai kegiatan penambangan,
langkah yang perlu dilakukan adalah perancangan pit tambang. Melalui desain pit
tambang ini, batas akhir dari pit penambangan dapat ditentukan.
Penentuan dan pemilihan pit potensi adalah langkah pertama dalam
evaluasi cadangan, yang bertujuan untuk menentukan batas penambangan (pit
limit), volume produksi, umur tambang, dan aspek ekonomi dari sebuah tambang.
Desain pit limit berfokus pada penentuan batas maksimal dari area yang akan
ditambang. Pit limit merupakan garis batas yang menunjukkan sejauh mana
penambangan dapat dilakukan berdasarkan evaluasi cadangan, faktor ekonomi,
dan teknis. Dalam proses ini, penting untuk mempertimbangkan berbagai
parameter, termasuk nisbah kupas, nilai bijih, dan biaya operasional, untuk
memastikan bahwa penambangan tetap menguntungkan. Pit limit menetapkan
parameter yang akan memandu desain pit dalam menentukan area mana yang
akan diakses dan ditambang.
3
Saat ini, PT Bosowa Mining telah menyelesaikan tahap eksplorasi
endapan nikel laterit serta estimasi cadangan terukur di Blok Abep Pit 5 yang
memiliki luas 2,45 hektar. Selanjutnya, perusahaan berencana untuk melakukan
perancangan desain pit dan pit limit. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul “Perancangan Pit Limit Penambangan
Di Blok Abep Pit 5 PT Bosowa Mining Site Tambakua, Kecamatan Wiwirano,
Kabupaten Konawe Utara.”
1.2.
Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, Batasan masalah dalam penelitian ini
yaitu hanya berfokus pada rancangan pit limit penambangan berdasrakan
parameter teknis dan ekonomis dengan menggunkan bantuan perangkat lunak
(softwre) dan menghitung estimasi volume cadangan tertambang berdasarkan pit
limit. Penelitian ini tidak membahas tentang proses estimasi sumberdaya dan
cadangan, tidak membahas sequence penambangan, tidak membahas peralatan
tambang, tidak membahas sistem penyaliran tambang dan tidak menghitung biaya
penambangan (cost mining).
1.3.
Rumusan masalah
Berdasarkan Batasan masalah, rumusan masalah yang di bahas pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana rancangan pit limit penambangan pada pit 5 Blok ABEP pada PT.
Bosowa Mining berdasarkan parameter teknis dan ekonomis?
2.
Berapa jumlah Volume cadangan tertambang yang dapat diperoleh pada pit 5
Blok Abep pada PT. Bosowa Mining berdasarkan pit limit penambangan?
1.4.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang di angkat pada penelitian ini, maka
tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
4
1.
Menetukan rancangan desain pit limit penambangan pada PT. Bosowa Mining
Blok ABEP pit 5 berdasarkan parameter teknis dan ekonomi.
2.
Menghitung volume cadangan tertambang pada Pit 5 blok ABEP PT. Bosowa
Mining berdasarkan pit limit penambangan.
1.5.
Manfaat Penelitian
Maanfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah hasil rancangan
kegiatan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menambah wawasan
bagi peneliti terkait dengan rancangan Pit limit serta menambah pengalamana
mengenai
aspek-aspek
yang
dapat
dijadikan
acuan
untuk
melakukan
penambangan terkait model rancangan Pit limit penambangan dan jumlah
cadangan yang diperoleh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Geologi Regional
Menurut Surono (2013) dalam kamaruddin dkk, (2018) Pertemuan antara
tiga lempeng Indo-Australia, Pasifik dan Asia menghasilkan kumpulan kompleks
kepulauan, cekungan marjinal, fragmen benua dan ofiolit yang tercampur oleh
pengaturan batas lempeng yang berulang di Indonesia bagian timur. Lengan
tenggara Sulawesi secara geologi termasuk ke dalam Kompleks Ofiolit Sulawesi
Timur (OST). Ofiolit sendiri berasal dari bahasa Yunani, merupakan terminologi
yang telah lama digunakan pada batuan ultramafik. Pada awalnya ofiolit (ophi =
ular) digunakan untuk batuan serpentinite yang menunjukkan kilap menyerupai
sisik kulit ular. Kemudian secara lebih spesifik digunakan untuk batuan ultramafik
terserpentinisasi sebelum akhirnya digunakan sebagai terminologi asosiasi kerabat
batuan mafik, ultramafik dan sedimen laut dalam (pelagic sediments) yang
didominasi ultramafik dengan dominasi utama selalu berupa peridotit (serpentin)
bersama subordinat gabro, diabas atau norit maupun batuan-batuan yang
berhubungan lainnya.
2.1.1.
Geomorfologi
Morfologi lengan tenggara Sulawesi dibagi kedalam lima satuan
morfologi, yaitu morfologi pegunungan, morfologi perbukitan tinggi, morfologi
perbukitan rendah, morfologi pedataran dan morfologi karst. Satuan morfologi
pegunungan memiliki topografi yang kasar dengan kemiringan lereng tinggi dan
mempunyai pola yang hampir sejajar berarah dari barat laut sampai tenggara dan
sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini menjadi cerminan
bentuk morfologi yang berhubungan erat dengan sesar regional. Morfologi yg
disusun oleh batuan ofiolit memiliki punggung gunung yang panjang dan lurus
dengan lereng lebih rata, serta kemiringan yg tajam. Morfologi perbukitan rendah
pada lengan tenggara Sulawesi terdiri dari bukit kecil dan rendah dengan
5
6
morfologi yang bergelombang. Satuan morfologi perbukitan tinggi terdiri dari
bukit-bukit yang mencapai ketinggian 500 mdpl dengan morfologi kasar.
Morfologi dataran rendah berada pada bagian tengah ujung selatan lengan
tenggara Sulawesi. Sebaran morfologi pedataran terlihat sangat dipengaruhi oleh
sesar geser mengiri (Sesar Kolaka dan Sistem Sesar Konawe). Morfologi karst
terhampar secara terpisah. Satuan ini dicirikan dengan adanya pebukitan kecil
dengan sungai di bawah permukaan tanah (kamaruddin dkk, 2018).
2.1.2.
Statigrafi
Surono (2013) berdasarkan stratigrafi dan perkembangan tektoniknya,
Sulawesi dapat di bagi menjadi empat mandala geologi: lajur vulkanik Sulawesi
barat, lajur malihan Sulawesi tengan, Lajur Ofiloit Sulawesi timur dan kepingan
benua (Gambar 2.2). Ke empat mandala tersebut terbentuk dan berkembang
terpisah. Lajur gunung api Sulawesi barat membentang mulai lengan Selatan
sampai ke lengan utara Sulawesi.
Gambar 2.1 Pembagian mandala geologi Sulawesi dan daerah sekitarnya
(sukatomo, 1975 dimodifikasi oleh surono, 1998)
7
Lajur malihan Sulawesi tengan di duga terbentuk karena subdaksi pada
kapur. Lajur ofiloit Sulawesi timur, yang merupakan hasil pemekaran Samudra
pasifik pada Kapur-eosen, di temukan bagian timur Sulawesi. Sedangkan
kepingan benua yang tersebar di bagian timur Sulawesi merupakan pecahan tepi
utara Australia. Di bagian timur Sulawesi, ofiloit dan kepingan benua merupakan
satuan batuan alohton. Setalah keempat mandala geologi tersebut bertemu,
terjadilah pergantian yang membentuk cekungan Dimana diendapakan Molusa
Sulawesi, pada Milosen awal- Miosen Tengah. Kompresi akibat pergerakannya
kepingan benua bagian timur Sulawesi yang berlangsung terus menerus sampai
saat ini, menyebabkan sesar aktif dan pengangkatannya bebrapa bagian pulau
Sulawesi dan daerah sekitarnya.
2.1.3.
Struktur Geologi Regional
Gambar 2.2 Peta Struktur Geologi Sulawesi dan sekitarnya (Sumber: Surono,
2013)
8
Struktur yang terbentuk di Pulau Sulawesi mempunyai berbagai skala
(regional dan lokal) meliputi penunjaman dan zona tumbukan, sesar naik, sesar,
dan lipatan. Struktur geologi berskala regional yang berkembang di Sulawesi dan
kawasan sekitarnya adalah Parit Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench), Sistem
Sesar Palu-Koro, Sesar Naik Batui, Sesar Naik Poso, Sesar Walanae, dan
pemekaran samudra di Selat Makassar (Surono, 2013)
Struktur regional itu umumnya sangat berhubungan dengan gerakan ke
barat dari beberapa kepingan benua. Akibat dorongan ke arah barat dari Kepingan
Benua BanggaiSula, terbentuklah sesar geser mengiri, di antaranya Sistem Sesar
Palu-Koro yang berhubungan dengan beberapa sesar di bagian timur Sulawesi
termasuk Sesar Matano, Sesar Lawanopo, dan Sesar Kolaka (Surono, 2013).
Gambar 2.3 Peta Geologi Lengan Tenggara Sulawesi (Sumber: Surono, 2013)
9
2.2.
Konsep Pertambangan
Berdasarkan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 4 Tahun 2009,
pertambangan adalah Sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka
penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca
tambang.
Kewajiban pelaksanaan kegiatan pertambangan mengikuti kaidah Teknik
pertambangan yang baik dan benar diatur dalam UU No.4 Tahun 2009 Pasal 95
dan 96 dan dalam peraturan terbaru, yakni Peraturan Pemerintah (Permen) ESDM
No. 26 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang baik dan
pengawasan Pertambangan Mineral dan Batubara. Adapun aspek Teknik yang
perlu direncanakan matang adalah mempertimbangkan pemilihan metode
penambangan yang digunakan (tambang terbuka atau tambang bawah tanah)
(Arif, 2018).
Penentuan
metode
penambangan
sangat
bergantung
pada
tipe
endapannya. Umumnya, endapan nikel ditambang dengan menggunakan metode
tambang terbuka (open pit). Metode tambang terbuka merupakan metode yang
biasa digunakan oleh tambang-tambang nikel di Indonesia karena endapan nikel
di Indonesia tergolong endapan laterit yang berada dekat dengan permukaan
tanah. Proses penambangan nikel laterit terdiri atas beberapa tahap, yaitu
persiapan pembukaan lahan (land clearing), pengupasan tanah pucuk (top soil
stripping), pengupasan lapisan penutup (overburden removal), dan penggalian
bijih nikel (nikel ore mining) (Arif, 2018).
2.3.
Nikel Laterit
Menurut Ahmad (2001) dalam Asria dan Septiana (2024), laterit berasal
dari Bahasa latin yaitu “later” yang berarti batu bata. Kata pertama kali
diperkenalkan oleh Buchanan Hamilton pada tahun 1807 yang diperuntukkan
untuk kerak dari tanah yang mewakili warna mirip besi yang batu bata untuk
10
keperluan bangunan oleh masyarakat India Tengah – Selatan. Saat ini, istilah dari
laterit digunakan untuk tanah yang kaya akan seskuioksida (senyawa oksida dan
hidroksida dari Fe dan Al) yang terbentuk akibat pelapukan kimia yang
dipengaruhi oleh kondisi air tanah tertentu.
Endapan nikel laterit merupakan suatu endapan yang terbentuk karena
adanya proses konsentrasi mineral-mineral berharga yang mengandung nikel yang
berasal dari pelapukan batuan asal (host rock) oleh gaya-gaya eksogen, seperti
pelapukan (weathering) akibat sinar matahari, curah hujan, dn lain-lain. Hasil
pelapukan tersebut mengalami transportasi, pemisahan (sorting), dan akhirnya
terkonsentrasi. Endapan ini mengalami proses laterisasi yang umumnya terjadi di
daerah beriklim tropis karena matahari terus bersinar sepanjang tahun dan curah
hujan pun cenderung tinggi. Sumber utama endapan nikel laterit dalah batuan
ultramafik. Batuan ultramfik dapat mengalami pelapukan karena beberapa faktor
penting, salah satunya adalah tatanan geologi setempat. Tatanan geologi di pulau
Sulawesi merupakan salah satu contoh geologi yang kompleks karena merupakan
daerah pertemuan tiga buah lempeng, yaitu lempeng Eurasia yang bergerak ke
arah selatan dan tenggara, lempeng filipina dan samudera pasifik yang bergerak
ke arah barat, serta lempeng indo-australia yang bergerak ke arah utara.
Pertemuan ketiga lempeng tersebut berdampak pada terbentuknya banyak sesar di
pulau Sulawesi yang mendukung terjadinya proses pelapukan batuan unltramafik
(Arif, 2018).
Menurut Elias (2002) dalam Hasria dan Septiana (2024), profil endapan
nikel laterit merupakan gambaran dari proses laterisasi yang telah berlangsung,
dimana paling bawah mencerminkan tahap awal dari pelapukan batuan dan
semakin ke atas menunjukkan laterisasi yang terus berkembang, proporsi mineral
primer yang semakin menurun dan zona rekahan yang semakin kuat. Profil
endapan nikel laterit terdiri menjadi 4 zona (Gambar 2.4) yaitu sebagai berikut:
1.
Limonit
Zona ini merupakan zona yang berada didekat permukaan serta
didominasi oleh mineral geotit dan hematit. Ahmad (2001) dalam Hasria dan
Septiana (2024) menyebutkan bahwa Mineral yang tidak larut (spinel, magnetit,
11
maghemit dan talk primer) bertahan pada zona ini. Dasar dari zona ini diperkaya
oleh mangan, kobalt dan nikel dalam bentuk gumpalan asbolit atau mangan.
Saprolit
2.
Zona Saprolit merupakan zona dimana proporsi mineral primer semakin
menurun dan zona rekahan pada batuan yang semakin kuat menyebabkan
terjadinya alterasi yang intensif pada batuan.
Saprock
3.
Pada zona ini terjadi pelapukan terjadi pada kontak antara mineral dan
batas rekahan. Terdapat banyak batuan segar dan sedikit alterasi.
Bedrock
4.
Zona ini juga disebut zona batuan dasar merupakan lapisan paling bawah
dimana menunjukan tahap awal dari pelapukan batuan yang terjadi. Batuan dasar
dari endapan nikel laterit merupakan batuan ultramafik.
Gambar 2.4 Skema profil endapan yang berkembang pada batuan ultramafik
dengan iklim tropis (Elias, 2002)
2.4.
Estimasi Sumberdaya Dan Cadangan
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7726:2019 tentang
pedomoan pelapooran hasil eksplorasi sumberdaya dan cadangan mineral,
membagi cebakan mineral menjadi 2 kategori, yaitu sumberdaya dan cadangan.
Klasifikasi sumbedaya dan cadangan seperti pada Gambar 2.5 sudah melalui
pengkajian dan studi yang telah sudah dilakukan, termasuk pertimbangan dan
12
modifikasi dari asumsi yang realistis atas faktor-faktor penambangan, pengolahan,
pemurnian, ekonomi, pemasaran, legal, lingkungan, sarana dan prasarana, sosial
dan perundang-undangan.
Gambar 2.5 Klasifikasi sumberdaya dan Cadangan (Sumber: Kode KCMI, 2017)
Sumberdaya adalah suatu konsentrasi atau keterjadian dari matial yang
memiliki yang nilai ekonomis pada atau di atas kerak bumi, dengan bentuk
kualitas dan kuantitas tertentu yang memiliki keprospekan yang beralasan untuk
pada akhirnya dapat diekstraksi secara ekonomis. Lokasi, kualitas, kadar,
karakteristik geologi dan kemenerusan dari sumberdaya mineralharus diketahui,
diestimasi atau di interpetasikan brdasarkan bukti-bukti dan pengetahuan geologi
yang spesifik.
Sumberdaya
dikelompokkan
lagi
berdasarkan
tingkat
keyakinan
geologinya dalam kategori terka, tertunjuk dan terukur. Sumberdaya dibagi
menjadi 3 yaitu:
1. Sumberdaya mineral tereka merupakan bagian dari sumberdaya mineral
dimana kuantitas dan kualitas kadarnya diestimasi berdasarkan bukti-bukti
geologi dan pengambilan contoh yang terbatas. Sumberdaya mineral tereka
memiliki Tingkat keyakinan lebih rendah dalam penerapannya.
2. Sumberdaya Mineral Tertunjuk merupakan bagian dari sumberdaya mineral
yang mana kuantitas atau kualitas kadar, ketapatan, bentuk dan karakteristik
fisiknya dapat diestimasi dengan tingkat keyakinan yang cukup memungkinkan
penerapannya.
13
3. Sumberdaya mineral Terukur merupakan bagian dari sumberdaya mineral
dimana kuantitas atau kualitas kadar, keterdapatan, bentuk, karaktiristik
fisiknya dapat diestimasi dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi
penerapannya.
Cadangan adalah bagian dari sumberdaya mineral terukur dan tertunjuk
yang dapat ditambang secara ekonomis. Cadangan terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Cadangan Mineral Terkira merupakan bagian sumberdaya mineral tertunjuk
yang ekonomis untuk ditambang dan dalam beberpa kondisi juga yang
merupakan bagian dari sumberdaya terukur.
2. Cadangan Mineral Terbukti merupakan bagian dari sumberdaya mineral
terukur yang ekonomis untuk ditambang. (KCMI, 2017).
2.5.
Konsep Blok Model
Model blok adalah model komputer yang membagi cebakan bijih
menjadi blok-blok yang seragam. Permodelan dan penaksiran sumberdaya
mineral secara komputer didasarkan pada kerangka model blok. Model berbentuk
balok dengan dimensi tertentu yang diperoleh dari data lubang bor. Blok memberi
informasi yang diperoleh dari data lubang bor, seperti kadar logam, tipe batuan,
density, dan nilai blok. Blok umumnya berbentuk balok dengan panjang sisi 1/2
sampai 1/3 jarak lubang bor. Blok dapat berukuran 25 x 25 x 1 meter. Gamabr
Blok model dapat dilihat pada Gambar 2.6 (Bargawa, 2018).
Gambar 2.6 Blok Model (Sumber: Hustrulid 2013, dkk)
14
Menurut bargawa 2018 Pemodelan sumberdaya dan cadangan terbagi
menjadi:
2.5.1.
Model Geologi
Tujuan permodelan geologi adalah untuk membatasi penaksiran kadar
pada populasi tertentu supaya kadar contoh tidak dieksportasikan terlalu jauh ke
blok-blok di luar batas mineralisasi. Tahapan pertama dalam permodelan geologi
sebuah cebakan bijih adalah memplot penampang potong data geologi dari setiap
lubang bor. Interpratasi geologi dilakukan pada penampang potong tersebut yang
ditandai dengan memberikan kode numerik pada setiap jenis batuan untuk
mempresentasikan data geologi pada komputer. Data jenis batuan untuk setiap
penampang potong dimasukkan ke dalam komputer menggunakan digitize. Data
geologi dari penampang ini kemudian diplot pada peta penampang horizontal.
Penampang horizontal pada blok model ini diwakili oleh setiap lapis (tier) dalam
model. Geologi pada peta penampang tersebut diinterpretasikan kembali dan
setiap penampang didigitasi untuk memberikan informasi geologi pada setiap
lapis dalam model.
2.5.2.
Model Topografi
Apabila model blok komputer digunakan untuk memodelkan sebuah
cebakan bijih yang akan ditambang dengan menggunakan metode tambang
terbuka maka data topografi harus dimasukkan ke dalam blok model tersebut.
Batas dari model cadangan bijih diplot pada peta topografi daerah tersebut. Garis
kontur topografi didigitasi sehingga setiap titik memiliki data northing, easting,
dan elevasi. Model topografi (topo) ini diperlukan untuk membatasi ekstrapolasi
kadar kearah vertikal.
Hasil digitasi model topografi diintegrasikan ke dalam model blok
kemudian dilakukan pengecekan peta topografi yang dihasilkan dengan cara
membandingkan dengan peta topografi awal.
15
2.5.3.
Property Modelling
Pada beberapa tambang menetapkan batas properti mineral Izin Usaha
Pertambangan (IUP) untuk keperluan royalti. Batas IUP tersebut didigitasi dan
dimasukkan ke dalam model untuk mengetahui tonase bijih dalam daerah properti
mineral tersebut.
Perencanaan Tambang
2.6.
Perencanaan tambang adalah perencangan suatu tambang untuk
mencapai batas akhir penambangan dalam jangka waktu tertentu secara aman dan
menguntungkan. Sehingga perencanaan tambang memiliki tujuan membuat suatu
rencana produksi tambang untuk menghasilkan Tingkat produksi yang telah
ditentukan.
Rancangan
tahapan
penambangan
merupakan
suatu
bentuk
penambangan (mineable geomtris) yang menunjukkan bagaimana suatu proses
bukaan tambang dari awal hingga akhir tambang. Dengan cara membagi area
penambangan menjadi bagian-bagian lebih sederhana (Adnannst dkk, 2015).
Menurut Mentri Enegi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia
malalui Keputusan No. 1827 K/30/MEM/2018 tentang pedoman pelaksanaan
kaidah pertambangan yang baik merupuskan perencanaan tambang paling kurang
terdiri:
1. Pengoptimalan tambang/batas akhir penambangan yang digambarkan dalam
bentuk endapan yang merumuskan geometri dan dimensi lereng atau bukaan
tambang atau break even striping ratio/ intermental margin atau break of
grade/dollar index sesuai dengan karakteristik endapan pengambilan data
untuk modifying factor paling kurang 5 (lima) tahun.
2. Sistem dan metode penambangan sesuai dengan kondisi spasial dan geoteknik,
endapan, pertimbangan lingkungan tambang dan teknologi peambangan
3. Desain penambangan yang menggambarkan geometri dan dimensi bukaan
tambang, geomtri dan dimensi, serta kapasitas, serta kapasitas timbunan
berdasarkan kajian daya dukung dasar timbunan, desain jalan tambang,
Stripping Ratio (SR) dan Cut Off Grade (COG).
16
4. Rencana produksi umur tambang yang diuraikan pertahun dalam bentuk table.
5. Tahapan penambangan dan penimbunan batuan penutup dimulai dari tahapan
land clearing sampai pengangkutan komoditas tambang ke stockpile.
6. Kemajuan tambang pertahun sampai akhir penambangan yang mencakup peta
rencana kemajuan tambang, elevasi timbunan batuan penutup, geometri dan
dimensi bukaan tambang, geomtetri dan timbunan, desain jalan tambang,
posisi penampuangan dan pengelolaan air tambang (sump dan settling pond)
dan skala yang dapat dicetak dalam ukuran paling kurang kertas A3.
2.7.
Konsep Kestabilan Lereng
Aktivitas penambangan mineral dan batubara di ruang terbuka yang
berupa penggalian dan penimbunan akan selalu menghadapi permasalahan
kestabilan lereng. Lereng tersebut adalah lereng tambang aktif, lereng timbunan
bijih/batubara (stockpile), lereng timbunan tanah penutup, dan lereng bangunan
infrastruktur seperti lereng jalan, lereng disekitar bangunan, serta bendungan.
Lereng-lereng tersebut perlu dianalisis kestabilannya, baik pada tahapan
perancangan, tahapan penambangan, maupun tahapan pascatambang. Analisis
kestabilan lereng perlu dilakukan untuk mencegah bahaya longsoran di waktu
yang akan datang karena hal ini menyangkut keselamatan kerja, keamanan
peralatan dan benda-benda lainnya, serta keberlangsungan produksi (Arif, 2021).
Kestabilan lereng, baik lereng alami maupun lereng buatan (buatan
manusia) serta lereng timbunan, dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat
dinyatakan secara sederhana sebagai gaya-gaya penahan dan gaya-gaya penggerak
yang bertanggung jawab terhadap kestabilan lereng tersebut. Pada kondisi gaya
penahan (terhadap longsoran) lebih besar dari gaya penggerak, lereng tersebut
akan berada dalam kondisi stabil (aman), namun apabila gaya penahan lebih kecil
dari gaya penggeraknya, lereng tersebut tidak stabil dan akan terjadi longsoran.
Sebenarnya,
longsoran
merupakan
suatu
proses
alami
yang
terjadi
untukmendapatkan kondisi kestabilan lereng yang baru (keseimbangan baru),
dimana gaya penahan lebih besar dari gaya penggeraknya (Arif, 2021).
17
Rancangan tambang terbuka (Open Pit)
2.8.
Rancangan (design) adalah persyaratan spesifikasi dan kriteria Teknik
yang rinci dan pasti untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan serta teknis
pelaksanaannya. Di industri pertambangan juga dikenal rancangan tambang (mine
design) yang mencakup pula kegiatan-kegiatan seperti yang ada pada perencanaan
tambang, tetapi sumua data dan informasinya sudah rinci (pemodelan geologi,
geoteknik, stripping ratio dan data pendukung lainnya) (Prinandi, 2015).
Perancangan bukaan pit tambang yang dilakukan harus meliputi
penentuan batas akhir tambang, bentuk pit, geometri tambang, hingga rancangan
kemajuan tambang. Tahapan perencanaan merupakan bagian yang berperan
penting dan perlu ditentukan sebelum rencana aktual penambangan dimulai
(Aswandi & Yulhendra, 2019).
Di Industri pertambangan juga dikenal rancangan tambang (mine design)
yang mencakup pula kegiatan kegiatan seperti yang ada pada perencanaan
tambang, tetapi semua data dan informasinya sudah rinci (pemodelan geologi, pit
potensial, pit limit, geoteknik, stripping ratio, dan data pendukung lainnya). Pada
umumnya ada dua Tingkat rancangan, yaitu (Adnannst dkk, 2015).
a) Rancangan konsep (conceptual design) Suatu rancangan awal atau titik tolak
rancangan yang dibuat atas dasar analisis dan perhitungan secara garis besar
dan baru dipandang dari beberapa segi yang terpenting, kemudian akan
dikembangkan agar sesuai dengan keadaan nyata di lapangan.
b) Rancangan rekayasa atau rekacipta (engineering design) Suatu rancangan
lanjutan dari rancangan konsep yang disusun dengan rinci dan lengkap
berdasarkan data dan informasi hasil penelitian laboratorium serta literature
dilengkapi dengan hasil-hasil pemeriksaan keadaan lapangan.
2.8.1.
Geometri Jenjang
Menurut Bargawa (2018) geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang,
sudut lereng jenjang tunggal dan lebar dari jenjang penangkap (catch bench).
Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-
18
parameter untuk ketiga aspek ini. Bagian bagian jenjang kerja dapat dilihat pada
gambar 2.7 berikut:
Gambar 2.7 Bagian Bagian Geometri Jenjang (Sumber: Hustrulid dkk, 2013)
a. Tinggi Jenjang
Biasanya alat muat yang digunakan harus mampu pula mencapai pucuk
atau bagian atas jenjang. Jika tingkat produksi atau faktor lain mengharuskan
ketinggian jenjang tertentu, alat muat yang akan digunakan harus disesuaikan pula
ukurannya. Umumnya tinggi jenjang berkisar antara 1–15 m. Ukuran tinggi
jenjang
Berdasarkan Hustrulid dkk (2013), pada endapan mineral dapat dihitung
dengan persamaan 2.1 berikut:
πΏ = πΏπ × ππΉ
(2.1)
Keterangan:
L
: Tinggi Jenjang
πΏπ
: Maksimum Cutting/Dumping Height dan Tinggi Alat Muat (m)
SF
: Swell Faktor
b. Lebar Jenajang
Menurut Hustrulid, dkk (2013), lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran
produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. Lebar jenjang adalah jarak
horizontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai
jenjang. Lebar minimum yang akan dibuat harus bisa menampung material hasil
19
bongkaran dan peralatan yang dipakai. ukuran dimensi lebar jenjang pada tipe
material lunak dapat dilihat pada persamaan 2.2 berikut ini:
π΅ = π + πΏ + πΏ1 + πΏ2
(2.2)
Keterangan:
B
: Lebar Jenjang
N
: Lebar yang Dibutuhkan Untuk Material yang Runtuh (m)
L
: Jarak Antar Sisi Jejang (Bench) (m)
πΏ1
: Lebar Alat Angkut (m)
πΏ2
: Jarak Untuk Menjaga Agar Tidak Longsor (m)
c. Jenjang Kerja
Permukaan jenjang yang tersingkap paling bawah disebut dasar jenjang
(catch bench), lebarnya adalah jarak antara crest dan toe yang diukur sepanjang
permukaan jenjang bagian atas. Lebar jenjang adalah proyeksi horizontal dari
muka kerja. Jenjang kerja adalah suatu jenjang dimana dilakukan proses
penambangan. Lebar yang digali dari jenjang kerja disebut cut (Hustrulid, dkk.,
2013). Perhitungan untuk menentukan nilai catch bench adalah 1/3 tinggi jenjang.
Metode yang dipakai untuk penentuan dimensi jenjang adalah Army
Engineers (1967) dengan menggunakan persamaan 2.3 sebagai berikut:
Wπππ = ππ + ππ + π½π΄
(2.3)
Dimana:
Wπππ : Lebar Mininimum Bench (Meter)
ππ
: Panjang Alat Gali/Muat (Meter)
ππ
: Panjang Alat Angkut (Meter)
JA
: Jarak Aman Dari Pinggir Bench
2.8.2.
Sudut Lereng Inter-Ramp dan Overall
Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng
gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut. Sudut lereng keseluruhan
(overall slope angle) adalah sudut dinding pit keseluruhan yang sebenarnya
dengan memperhitungkan jalan angkut, jenjang penangkap, dan semua profil lain
di dinding jenjan (pit wall) (Bargawa, 2018).
20
a. Overall Slope angel
Perhitungan keseluruhan kemiringan lereng ditujukan untuk menentukan
sudut kemiringan keseluruhan yang dibuat pada front penambangan. Kemiringan
ini diukur dari jenjang paling atas (crest) sampai dengan jenjang paling akhir dari
front penambangan (toe). Gambar kemiringan lereng keseluruhan (overall slope
angle) dapat dilihat pada Gambar 2.8 berikut:
Gambar 2.8 Overall slope angle pada lereng pit tambang (Hustrulid dkk, 2013)
Untuk menentukan sudut kemiringan lereng keseluruan (Overall slope
angle) dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
πππ π½° =
π×π΅π»
(2.4)
β
)
tan πΌ°
πΆπ΅×(π−1)+π×(
(2.5)
H = BH × n
D = CB × (n − 1) + n × (
h
)
(2.6)
tan α°
H
Tan β = D
Keterangan:
π½°
: Overall Slope, sudut keseluruhan lereng (°)
πΌ°
: Sudut leremg jenjang (°)
π΅π»
: Tinggi jenjang (m)
CB
: jenjang tangkap (m)
n
: Jumlah jenjang
H
: Kedalaman Pit (m)
D
: Jarak Vertikal titik tertinggi (Crest) ke titik terendah (Toe) (m)
(2.7)
21
b. Overall slope angle dengan access ramp
Sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang, namun dipertengahan overall
slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan
sebagai jalan angkut. Adapun Overall slope angle dengan access ramp dapat
dilihat pada Gambar 2.9 berikut:
Gambar 2.9 Overall slope angle with acces ramp (Sumber: Hustrulid dkk, 2013)
Berikut ini adalah persamaan 2.8 untuk menentukan besaran sudut
keseluruhan lereng dengan akses jalan:
Tan β° =
n × BH
n × BH
nCB × CB + ( tan α° ) + R
Keterangan:
β°
: Overall Slope, Sudut Keseluruhan Lereng (°)
πΌ°
: Sudut Lereng Jenjang (m)
BH
: Tinggi jenjang (m)
CB
: Lebar Jenjang Penangkap (m)
n
: Jumlah Jenjang
nCB
: Jumlah Lebar Jenjang Penangkap
R
: Ramp (m)
H
: Kedalaman Pit (m)
D
: Jarak Vertikal Titik Tertinggi (Crest) ke titik Terendah (toe) (m)
(2.8)
22
2.8.3.
Jalan Angkut Tambang (Ramp)
Perhitungan lebar jalan angkut didasarkan pada lebar kendaraan terbesar
yang dioperasikan. Semakin lebar jalan angkut yang digunakan maka operasi
pengangkutan akan semakin aman dan lancar. Lebar jalan angkut minimum yang
dipakai untuk jalur ganda atau lebih menurut “Aasho Manual Rural High-Way
Design” adalah dengan menggunakan persamaan 2.9:
L min = (n × Wt) + (n+1) × (
1
Wt)
2
(2.9)
Keterengan:
Lmin : Lebar jalan angkut minimum
n
: Jumlah lajur
Wt
: Lebar alat angkut terbesar
Gambar 2.10 Lebar Jalan untuk Dua Jalur (Negara dan Hutapea, 2020)
Berdasarkan lokasi dan penggunaannya, jalan angkut umumnya sekitar
3–3,5 kali lebih lebar dari ukuran truk pada dua arah lurus. Untuk jalan angkut
satu arah, lebar 2–2,5 kali dari ukuran truk. Setiap perubahan lebar jalan akan
secara langsung mempengaruhi kemiringan dinding pit secara keseluruhan dan
meningkatkan nilai striping ratio secara drastis.
Berdasarkan KEPMEN ESDM No. 1827K/30/MEM/2018 Kemiringan
(grade) jalan tambang/produksi dibuat tidak boleh lebih 12% dengan
memperhitungkan spesifikasi kemampuan alat angkut jenis material jalan dan fuel
ratio penggunaan bahan bakar. Dalam hal kemiringan jalan tambang/ produksi
23
lebih dari 12% dilakukan kajian teknis yang mencakup kajian resiko, spesifikasi
teknis alat dan spesifikasi teknis jalan.
2.9.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Rancangan Penambangan
Faktor-faktor yang mempengaruhi rancanngan penambangan adalah
sebagai berikut:
2.9.1.
Badan bijih (Ore Body)
Badan bijih geologi umumnya mencakup semua badan material yang
mengandung mineral berharga yang akan ditambang. Badan bijih geologis
(geological ore body) dapat mengandung zona bijih berkadar tinggi dan rendah
yang secara fisik atau ekonomis tidak dapat ditambang, karena kedalaman, isolasi,
atau jumlah limbah yang disertakan atau menutupi. Badan bijih yang dapat
ditambang adalah bagian dari badan bijih geologis yang dapat diekstraksi untuk
mendapatkan keuntungan. Keterbatasan badan bijih yang dapat ditambang dapat
berupa rasio pengupasan, kadar bijih, perubahan bijih, kedalaman, kelebihan air,
atau pertimbangan lingkungan. Pada awal operasi, badan bijih yang dapat
ditambang mungkin tidak sepenuhnya digambarkan dan, seiring dengan
berjalannya operasi, lebih banyak badan bijih geologis menjadi dapat ditambang
karena kurva pembelajaran, metode dan peralatan yang ditingkatkan, dan kenaikan
harga produk mineral yang ditambang (Kennedy, 2009).
2.9.2.
Cut off Grade (COG)
Kadar nikel laterit umumnya bersifat heterogen untuk itu pada proses
penambangannya atau pembongkaran bijih perlu dilakukan selective mining untuk
mendapatkan nikel dengan nilai kadar yang telah ditentukan oleh masing-masing
perusahaan. Dalam proses selective mining, sebelum dilakukan penggalian,
dilakukan pengujian kadar nikel terlebih dahulu. Tujuan dilakukan pengujian
kadar nikel ini adalah untuk mengkategorikan endapan nikel yang masih
ekonomis untuk ditambang (ore) dan yang tidak (waste) yang mana nilai batas
24
kadar yang memisahkan antara ore dan waste disebut dengan Cut Off Grade
(COG) (Rohmaningrum dkk, 2020).
2.9.3.
Nisbah Pengupasan (Striping Ratio)
Pengupasan material waste dan overburden untuk memperoleh bijih
dikenal sebagai pengupasan/stripping. Oleh karena itu, stripping ratio (kunci
utama untuk perusahaan pertambangan dan hampir secara universal digunakan)
merupakan merepresentasikan jumlah material yang tidak ekonomis atau waste
yang harus dibuang untuk mengekstrak satu unit/ukuran volume atau ton bijih.
Rasio umumnya dinyatakan sebagai meter kubik, ton, atau bahkan dalam meter
kubik/ton untuk beberapa mineral (Revuelta, 2015).
Stripping ratio menunjukan jumlah waste yang harus dipindahkan untuk
kuantitas ore yang ditambang. Perumusan stripping ratio dapat dilihat pada
persamaan 2.10 berikut (Hustrulid dkk, 2013):
π π‘πππππππ πππ‘ππ =
2.10.
π€ππ π‘π (ton)
πππ (ton)
(2.10)
Optimasi pit limit penambangan
Optimalisasi merupakan kegiatan lanjutan dari hasil permodelan endapan
mineral yang telah didapat dengan menerapkan batas-batas teknis maupun
ekonomis yang menjadi pembatas pada saat meranacang desain batas
penambangan (pit limit). Penentuan dan pemilihan pit yang potensial adalah
langkah awal dalam evaluasi cadangan dari bahan galian. Penentuan pit yang
potensial ini diperlukan guna memperkirakan suatu area sumberdaya yang
potensial agar kelak dapat dikembangkan menjadi suatu lokasi pit penambangan
(Aswandi & Yulhendra, 2019).
2.10.1. Rancangan Ultimate Pit limit
Pit limit adalah batas lubang bukaan tambang yang layak untuk
ditambang dalam batasan ekonomi dan geometri lereng tertentu. Ukuran dan
25
bentuk bukaan tambang tergantung pada faktor ekonomi dan batasan
desain/produksi. Rancangan ukuran dan bentuk batas pit tergantung faktor
ekonomi
dan
batasan
desain/produksi.
Pertimbangan
ekonomi
rencana
penambangan tergantung penentuan rasio penambangan, laju produksi, peralatan
dan hal lainnya yang dapat ditentukan, sementara batasan desain/produksi
umumnya tidak dapat diatur oleh perancang seperti batas geometri badan bijih,
sebaran bijih dalam badan bijih, topografi, sudut lereng maksimum yang aman,
dan sebagainya. Lubang bukaan tambang yang ada di akhir masa penambangan
disebut final pit atau ultimate pit (Hustrulid dkk, 2013).
Pit limit merupakan batas maksimal penambangan. Pit limit dapat
diketahui dari hasil letak sumberdaya terukur yang paling bawah dan masih
memenuhi keekonomisan dalam penambangan. Ultimate pit limit atau yang
disebut batas akhir penambangan juga merupakan gabungan keseluruhan jenjang
yang dibuat dengan memperhitungkan faktor keekonomisan dimana suatu
keterdapatan bijih/ore masih dianggap ekonomis untuk ditambang dan
mempertimbangkan faktor keamanan yaitu suatu jenjang masih dapat dilanjutkan
ke tahap jenjang selanjutnya dengan perkiraan bahwa jenjang tersebut masih
dalam posisi aman (tidak rawan terjadinya longsor) (Pranata dan Yulhendra,
2021).
Mineable Material
Mineral
Inventory
Pit Limit
Gambar 2.11 Pit Limit pada Superposisi Mineral (Sumber: Hustrulid dkk, 2013)
26
Gambar 2.12 Batas akhir tambang dengan sisi kanan dalam bijih (sumber:
Hustrulid dkk, 2013)
Penentuan ultimate pit limit (batas akhir penambangan) adalah suatu
bagian dari proses pembuatan desain tambang untuk mendapatkan gambaran
bukaan tambang secara keseluruhan. Lubang yang ada pada akhir penambangan
disebut lubang final atau ultimate. Setelah batas pit ditentukan dengan aturan yang
telah ditetapkan dan juga pengklasifikasian material dalam pit telah dilakukan,
maka dapat dilakukan perhitungan terhadap cadangan bijih (tonase dan grade)
yang dapat dieksploitasi secara ekonomis. Sehingga, dengan rencana target
produksi yang telah ditetapkan, maka lamanya umur tambang dapat dihitung
(Sugiono & Yulhendra, 2019).
Metode untuk merancang sebuah batas tambang terbuka (ultimate open
pit) dibedakan oleh ukuran deposit, kuantitas dan kualitas data, kemampuan
analisis dan asumsi dari seorang enginer tersebut. Langkah pertama untuk
perencanaan jangka panjang atau pendek adalah menentukan batas dari tambang
(baik terbuka maupun bawah tanah). Batas ini menunjukkan jumlah mineral yang
dapat ditambang dan jumlah material buangan (overburden) yang harus
dipindahkan selama operasi penambangan berlangsung. Ukuran, geometri dan
lokasi dari tambang utama sangat penting dalam perencanaan tempat penimbunan
tanah penutup (overburden), jalan masuk, stockpile dan semua fasilitas lain pada
tambang tersebut. Pengetahuan tambahan dari rancangan batas tambang juga
berguna dalam membantu pekerjaan eksplorasi mendatang (Amperiadi &
Rahman, 2015).
27
Dalam mendesain lubang akhir ultimate pit limit, engineer akan
memberikan nilai pada parameter fisik dan ekonomi yang dibahas pada bagian
sebelumnya. Ultimate pit limit akan mewakili batas maksimum semua material
yang memenuhi kriteria ini. Bahan yang terkandung di dalam lubang akan
memenuhi dua tujuan (Kennedy, 2009).
1. Sebuah blok tidak akan ditambang kecuali dapat membayar semua biaya
untuk penambangan, pemrosesan, dan pemasarannya serta untuk pengupasan
limbah di atas blok tersebut.
2. Untuk konservasi sumber daya, setiap blok yang memenuhi tujuan pertama
akan memasukkan kedalam pit.
2.10.2. Membuat Garis Besar Pit Akhir (final pit outline)
Setelah profil lubang tambang akhir (final pit profil) telah ditemukan
pada masing-masing bagian, profil tersebut harus dievaluasi sebagai satu
kelompok untuk memeriksa bagaimana profil tersebut sama (relative) satu sama
lain. Misalnya, satu bagian mungkin menunjukkan lubang tambang yang sangat
sempit, sedangkan bagian yang berdekatan menunjukkan lubang tambang yang
lebar (lihat Gambar 2.13).
Section 10N
Section 50N
Section 20N
Section 60N
Section 30N
Section 70N
Section 40N
Section 80N
Gambar 2.13 Serangkain Sectoin pit outline untuk badan bijih (orebody) (Sumber
Hustrulid dkk, 2018)
28
Cara termudah untuk memvisualisasikan lubang tambang dan melakukan
kasus ini adalah melalui penggunaan rencana datar (bagian horizontal). Estimasi
cadangan bijih akhir juga akan dilakukan menggunakan rencana tambang. Jadi,
untuk melanjutkan, diperlukan pengembangan gambar rencana tambang gabungan
(composite) dari beberapa section dan geometri serta ramp dari bagian vertical
dapat dilihat pada Gambar 2.14 berikut:
Gambar 2.14 Gambar rancangan komposit ultimate pit (Sumber: Hustrulid dkk,
2018)
Menurut Hustrulid dkk., 2018 Setelah rencana tambang komposit selesai,
batas tambang dipindahkan ke rencana tingkat selanjutnya seperti pada gambar
2.15. Melalui proses ini, insinyur desain akan terlebih dahulu memeriksa rasio
pengupasan pada batas tambang akhir. Tambang dibagi menjadi beberapa sektor
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.16 dan hubungan ore - waste diperiksa.
29
Gambar 2.15 Rencana level bench dengan batas pit akhir dilihat dari atas
(Sumber: Hustrulid dkk, 2018)
Gambar 2.16 Rencana lubang galian terakhir yang menunjukkan sektor-sektor.
(Sumber: Hustrulid dkk, 2018)
2.10.3. Metode Lersch-Grossman
Menurut Bargawa (2018), algoritma Lersch - Grossman dilakukan tanpa
memperhitungkan nilai ekonomi sebab kelayakan dalam suatu proyek berjangka
panjang akan memiliki dampak yang kecil terhadap nilai rate of return diakhir
penambangan. Namun dalam kegiatan penambangan dalam kurun waktu relatif
cepat faktor ekomoni akan sangat berpengaruh. Pembuatan pit limit 2 dimensi
dilakukan menggunakan perpotongan penampang yang mana membutuhkan
pertimbangan yang bersifat subjektif.
30
Perhitungan dimensi Lerchs – Grossmann algoritma pada intinya adalah
penjumlahan antara biaya dan pendapatan secara kumulatif di dalam pit limit
Semua parameter geometri badan bijih dan material penutup dikonversi kedalam
bentuk finansial (uang), biaya dinilai dengan negatif sedangkan pendapatan dinilai
dengan positif. Metode yang dilakukan adalah menjadikan model geologi/bahan
galian dalam blok-blok kecil, dimana blok-blok tersebut berisi volume bahan
galian atau material penutup (Sidiq dan pusvito, 2017).
Metode Lerch-Grossman 2D menentukan batas-batas tambang terbuka
dengan memaksimalkan keuntungan yang tidak terdiskonto sambil memastikan
stabilitas lereng, yang diilustrasikan melalui penampang vertikal tambang. Asumsi
yang digunakan dalam metode ini yakni nilai ekonomi tiap blok dalam penampang
sudah harus diketahui. Berikut adalah langkah-langkah proses algoritma LerchsGrossmann dalam menentukan batas-batas tambang terbuka yang dapat
memberikan keuntungan maksimal (Hustrulid dkk, 2018).
1. Dalam metode Lerch-Grossman, ore dijabarkan sebagai grid yang berada di
dalam suatu garis tebal dan waste yakni grid yang berada diluar garis.
WASTE
ORE
WASTE
Gambar 2.17 Geometri Badan Bijih Lerche-Grossmann Penampang 2D (Sumber:
Hustrulid, 2013)
2. Pada gambar 2.15 diatas, dianggap harga blok ore sebesar $16, harga blok
waste $0 dan biaya penambangan adalah $4. Artinya nilai untuk satu blok ore
yakni $12 dan untuk satuan blok waste adalah -$4.
31
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
12
-4
-4
-4
-4
-4
12
12
12
-4
-4
-4
-4
12
12
12
12
12
-4
-4
-4
-4
12
12
12
12
12
12
-4
-4
-4
-4
-4
12
12
12
12
12
12
-4
-4
-4
-4
-4
12
12
12
12
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
12
12
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
Gambar 2.18 Model Blok Awal Penampang 2D (Sumber: Hustrulid dkk., 2013)
3. Dikarenakan terdapat bagian badan bijih yang memotong waste, maka nilainya
menjadi berkurang sesuai besar bagian bijih yang dipotong pada blok tersebut
dan dilakukan penyesuaian pada nilai blok bijih.
i/j
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
12
13
14
15
16
17
18
19
1
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
8
0
-4
-4
-4
-4
12
12
8
0
-4
-4
-4
12
12
12
12
8
0
-4
-4
-4
8
12
12
12
12
8
0
-4
-4 -4 -4
-4 -4 -4
-4 -4 -4
12 -4 -4
12 0 -4
12 8 -4
12 12 -4
12 12 8
12 12 12
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
0
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
-4
2
3
4
5
6
7
8
9
11
Gambar 2.19 Model Blok Penyesuaian (Sumber: Hustrulid dkk, 2013)
4. Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai blok pada kolom yang diakumulasikan
dari atas hingga ke bawah dengan menggunakan persamaan 2.11 berikut
(Hustrulid dkk, 2013):
(2.11)
π
πππ = ∑ πππ
π=1
Dengan keterangan i ialah baris ke-n dan j ialah kolom ke-n. misalnya
i=3 dan j=6, maka persamaannya akan menjadi:
3
π36 = ∑ mk6 = m16 + m26 + m36
π=1
3
π36 = ∑ mk6 = 12 + 12 + 12
π=1
32
3
π36 = ∑ mk6 = 32
π=1
Didapat bahwa besar nilai blok pada kolom tersebut yaitu sebesar $32.
Langkah selanjutnya yakni menambahkan baris dengan i = 0.
i/j
0
1
2
3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
-4
-8
-12
-4
-8
-4 -4 -4
-8 -8 -8
-12 -12 -12
-16 -16
-20
8
8
4
0
-4
-8
12
24
32
32
28
24
20
16
12
24
36
48
56
56
52
48
0
8
20
32
44
56
64
64
60
-4
-8
-8
0
12
24
36
48
56
-4
-8
-12
-16
16
-8
4
16
28
-4
-8
-12
-16
-20
-24
-24
-16
-4
-4
-8
-12
-16
-20
-24
-28
-32
-32
-4 -4 -4 -4
-8 -8 -8 -8
-12 -12 -12 -12
-16 -16 -16
-20 -20
-24
-4
-8
-4
4
5
6
7
8
9
19
Gambar 2.20 Model Blok Setelah Nilai Blok Kolom Diakumulasikan (Sumber:
Hustrulid dkk, 2013)
5.
Setelah dilakukan perhitungan nilai blok pada kolom yang diakumulasikan,
selanjutnya dilakukan penentuan mengenai arah penambangan pada blok
yang berfungsi untuk memberikan nilai total blok penambangan yang
maksimal. Terdapat 3 arah penambangan pada blok, yakni:
a.
Arah langsung menuju ke kiri lalu menuju ke atas
b.
Arah langsung menuju ke kiri
c.
Arah langsung menuju ke kiri lalu menuju ke bawah
Gambar 2.21 Model Blok Setelah Arah Penambangan dan Nilai Pij Ditentukan
(Sumber: Hustrulid dkk, 2013)
33
Pij mewakili nilai paling besar yang dapat diperoleh dari penambangan
blok (i,j) dan semua blok di atasnya. Untuk menentukan Pij dapat menggunakan
persamaan 2.8 berikut Hustrulid dkk., (2013):
(2.12)
ππ−1,π−1
πππ = πππ + { πi−1,j
ππ−1,π+1
Metode Lerch-Grossman menambahkan 1 kolom diatas permukaan
dimana kolom ini dinamakan air blocks yang akan berfungsi membantu dalam
akumulasi nilai setiap blok. Setelah akumulasi nilai setiap blok sudah didapatkan,
maka penentuan batas akhir (pit limit) penambangan dapat ditentukan berdasarkan
nilai akumulasi terbesar.
2.10.4. Parameter Input Optimasi Pit
1. Parameter Teknis
a. Pertimbangan Geometri Jenjang
Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut lereng jenjang tunggal
dan lebar dari jenjang penangkap (Bargawa, 2018).
b. Mining Recovery (Recovery Penambangan)
Menurut Kepmen ESDM 1827 K/30/MEM-RI, recovery penambangan
adalah
angka
yang
menunjukkan
perbandingan
antara
produksi
penambangan dengan jumlah cadangan pada periode tertentu, dinyatakan
dalam persen. Recovery penambangan yang optimal untuk tambang terbuka
paling sedikit 90% (sembilan puluh persen).
c. Dilusi
Menurut Kepmen ESDM 1827 K/30/MEM-RI, dilusi adalah masuknya
material pengotor ke dalam bijih atau batubara pada kegiatan pertambangan.
2. Parameter Ekonomis
a. Biaya Investasi (Capital Expenditure)
34
Menurut Supandi dkk (2023) biaya investasi (capital expenditure) adalah biaya
yang dikeluarkan sebagai modal awal untuk melaksanakan suatu proyek yang
terdiri dari:
1. Modal tetap yang terdiri dari pengurusan perizinan dan eksplorasi,
pembebasan lahan, konstruksi atau rekayasa dan peralatan penambangan.
2. Modal kerja, adalah modal yang diperlukan untuk membiayai proyek
terhitung sejak proyek dimulai sampai proyek tersebut diperkirakan
menerima pendapatan.
b. Biaya Produksi
Menurut Supandi dkk, (2023) Biaya produksi terdiri dari biaya tidak tetap
(variable cost) dan biaya tetap. Biaya tidak tetap (variable cost) terdiri dari:
1. Biaya operasi tambang yang berkaitan langsung dengan tingkat produksi
dari biaya opersional peralatan baik di lokasi penambangan maupun dilokasi
pengolahan.
2. Biaya Retribusi Jalan dan PPn sesuai dengan peraturan daerah masingmasing.
3. Biaya Lingkungan K3 yang ditetapkan sesuai dengan peraturan daerah
setempat.
4. Royalti, biaya royalti ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 26
Tahun 2022 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan
Pajak Berlaku pada Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Sedangkan biaya tetap terdiri dari:
1. Depresiasi, amortiasasi dan nilai sisa alat
2. Gaji karyawan
3. Keperluan kantor
4. Asuransi
5. Biaya Umum
c.
Harga Komoditas Tambang
Menurut Permen ESDM No.7 Tahun 2017, Harga Patokan Mineral Logam
yang selanjutnya disebut HPM Logam adalah harga mineral logam yang
ditentukan pada suatu titik serah penjualan (at sale point) secara Free on
Board untuk masing-masing komoditas tambang Mineral Logam. Harga
35
Mineral Logam Acuan yang selanjutnya disingkat HMA adalah harga yang
diperoleh dari rata-rata publikasi harga Mineral Logam pada bulan
sebelumnya atau harga pada tanggal yang sama dengan transaksi sesuai
dengan kutipan harga dari publikasi harga Mineral Logam. HPM Logam
ditetapkan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri untuk masing-masing
jenis komoditas Mineral Logam. Besaran HMA ditetapkan oleh Direktur
Jenderal atas nama Menteri setiap bulan.
2.11.
Penelitian Relevan
Pada bagian ini dijelaskan hasil-hasil penelitian terdahulu yang bisa
dijadikan acuan dalam topik penelitian ini. Penelitian terdahulu telah di pilih
sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, sehingga diharapkan mampu
menjelaskan dan memberikan referensi bagi penulis dalam menyelesaikan
penelitian ini. Berikut penjelasan beberapa penelitian terdahulu:
1.
Penelitian yang dilakukan Prinandi, 2015 yang berjudul “Perancangan
(Design) Pit Ef Pada penambangan Batubara di PT. Milagro Indonesia
Mining Desa Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai
Kartanegara Provinsi Sulawesi Kalimantan Timur”.
Perancangan pit dalam penelitian ini mengguanakan bantuan perangkat
lunak Komputer, adapun parameter yang diperlukan untuk merancang pit EF
tersebut, yaitu data pemodelan Batubara, Geometri lereng tambang, batas
penambangan (pit limit), jalan tambang (ramp), stripping rasio yang ekonomis
untuk ditambang.
Berdasarkan hasil perhitungan BERS (Break Even stripping Rasio) di PT.
Milagro Indonesia Mining diperoleh BERS yaitu 9,8 : 1. Sedangkan SR (Stripping
Ratio) ekonomis 6,9 ;1. Pit EF dirancang dengan luas lubang bukaan tambang
6,03 Ha dan elevasi lantai tambang 60 mdpl. Berdasarkan optimasi desin pit, naka
didapat cadangan tertambang Batubara pada pit EF adalah 200.675 ton dengan
volume overburden 1.344.574 BCM dengan SR 6,7 : 1.
36
2.
Penelitian yang dilakukan Sidiq & Pusvito (2017) yang berjudul Penentuan
Pit Limit Penambangan Batubara Dengan Metode Lerchs-Grossmann
Menggunakan 3DMine Software”.
Metode yang digunakan adalah menggunakan algoritma matematika
Lerch-Grossmann dengan dibantu software 3DMine. Parameter yang digunakan
adalah biaya operasional penambangan dan evaluasi nilai net present value yang
dilakukan pada perhitungan aliran kas yang sederhana, dengan batasan profit yang
dihasilkan sebelum pajak.
Penentuan pit limit dengan metode Lerchs – Grossmann dapat lebih
sederhana dan cepat jika dibantu dengan 3Dmine Software. Dimana software ini
dapat meberikan pilihan dan gambaran 3 dimensi dari pit limit penambangan yang
ingin dibuat berdasarkan parameter teknis dan ekonomi yang sudah ditentukan.
Dengan harga jual batubara $ 61/Ton dan biaya yang dikeluarkan adalah $ 21,41.
Maka pit limit yang optimal adalah dengan cadangan batubara yang ditambang
pada SR 3, 39. Overburden yang dibongkar adalah 25.195.400 BCM untuk
mendapatkan batubara sebesar 7.436.325 Ton.
3.
Menurut Kurniawan dkk, (2021) dalam penelitiannya yang berjudul
“Rancangan Teknis Penambangan Bijih Nikel pada Daerah Blok C PT.
XYZ Desa Boenaga, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara,
Provinsi Sulawesi tenggara.
Tujuan dari kegiatan penelitian ini yaitu untuk mengetahui rancangan
teknis kegiatan penambangan bijih nikel terutama tahapan penambangan dan
penjadwalan produksi dengan parameter penambangan seperti Cut off Grade,
stripping rasio serta geometri jenjang dan jalan tambang. Pemodelan endapan dan
penaksiran sumberdaya bijih nikel dengan menggunakan metode Inverst Distance
Weight (IDW) untuk menggambarkan sebaran kadar.
Hasil
perhitungan
dengan
menggunakan
blok
model
diperoleh
sumberdaya terukur sebesar 142.400 ton dengan kadar Ni rata-rata 1,8%.
Rancangan bukaan tambang dibuat berdasarkan nilai Cut off Grade yang
digunakan Ni rata-rata 1,6% dengan nilai Stripping rasio 6,7 ton Waste/ton ore
dengan geometri jenjang dengan tinggi 6 meter dan kemiringan 40°. Geometri
37
jalan yang digunakan yaitu 9 meter dengan nilai cross Slope 1,71° dan lebar jalan
tikungan 17 meter. Dari batasan tersebut diperoleh luas bukaan pit 8,3 Ha.
Berdasarkan rancangan bukaan tersebut diperoleh cadangan sebesar
137.000 Ton nikel dengan kadar rata-rata 1,86% dan 834,118 ton waste yang akan
dikupas, menghasilkan stripping rasio 6,49 ton waste/ton ore dengan terget
produksi sebesar 40.000 ton/bulan, sehingga direncanakan umur tambang selama
3 bulan.
4.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahmi dan Yulhendra 2019 yang berjudul
“Optimalisasi Pit Limit Penambangan Mineral Nikel Laterit PT. ANTAM
Tbk. Unit Bisnis Penmabangan Nikel Di Site Pomalaa Sulawesi Tenggara
Di Front X.
PT. Antam Tbk. UBPN Sultra membuat model blok berdasarkan
pembagian setiap zona. Tujuan penelitian Melakukan perbandingan dari
perhitungan ekonomi rancangan pit berdasarkan penyebaran nilai kadar dan
rancangan dengan Metode Learch Grossmann. Pengolahan data yang lakukan
mengunkanan kadar atau standar COG yang berbeda dengan PT ANTAM Tbk.
yaitu dengan nilai Ni = 1 tergolong top soil, nilai Ni > 1.3 tergolong limonit atau
low grade, nilai Ni > 1.5 tergolong ore dengan jenis medium grade dan nilai Ni >
1.8 tergolong ore dengan nilai high grade.
Analisis Kadar dilakukan sesuai dengan harga komonitas saat ini yaitu
11.800 $/dwt dan memperhitungkan bentuk penyebaran kadar yang terdapat
didalam Front X baik LGSO maupun HGSO. Sedangkan berdasarkan total ore
yang dapat digali dengan Metode Learch-Grossmann maka nilai NPM HGSO
sebesar 37,16% dan LGSO sebesar 7,5% jauh lebih menguntungkan dibandingkan
pit berdasarkan kadar.
5.
Penelitian yang dilakukan Hamzah dkk, 2021 yang berjudul “Rancangan
Teknis Penambangan Dan Penjadwalan Produksi Jangka Pendek
Penambangan Bijih Nikel Laterit Pada PT Bosowa Mining Site
Wawoheo Kecamatan Wiwirano Kabupaten Konawe Utara Provinsi
Sulawesi Tenggara”.
38
Penelitian ini difokuskan pada penentuan rancangan teknis penambangan
pada Pit A Blok ITB yang sesuai dengan kondisi dilapangan dan penjadwalan
produksi jangka pendek (short-term scheduling), yang selanjutnya diharapkan
dapat memenuhi target produksi yang telah ditetapkan di perusahaan. Rancangan
penambangan dibuat berdasarkan optimasi bukaan tambang (pit optimasition)
menggunakan bantuan perangkat lunak Micromine 2021.5 dengan algoritma
Lerchs-Grossmann.
Berdasarkan hasil pit optimasi didapatkan pit shell optimum pada pit
shelle-enam. Rancangan penambangan dibuat berdasarkan optimum pit shell
dengan geometri jenjang penambangan berupa tinggi jenjang 6 meter, lebar
jenjang 2 meter, sudut lereng jenjang 60° dan lebar ramp 9 meter. Rancangan pit
limit penambangan pada Pit A Blok ITB menghasilkan jumlah cadangan bijih
nikel (ore) sebanyak 639.199 ton (1,62% Ni) dan overburden/wastese banyak
985.625 ton dengan nilai stripping ratio 1,71: 1. Umur tambang diperkirakan akan
berlangsung selama ± 8 bulan. Rancangan sequence penambangan dibagi menjadi
8 tahap yang dilakukan dengan sistem level plan atau mengikuti level penggalian
dengan elevasi tertinggi 608 mdpl dan elevasi terendah 502 mdpl. Penjadwalan
produksi jangka pendek dilakukan selaras dengan pembagian sequence
penambangan. Penjadwalan produksi dijadwalkan akan dimulai pada bulan
Januari sampai Agustus tahun 2024.
6.
Penelitian ini dilakukan oleh Akisa dan Mireku (2015) dengan judul
“Application of Surpac and Whittle Software in Open Pit Optimisation and
Design”.
Pengoptimalan dan desain open pit sangat sulit dilakukan sehingga
hampir tidak mungkin untuk melakukannya secara manual. Ada perangkat lunak
komputer seperti Datamine, Minemap, Minesched, Surpac dan Whittle yang
membantu insinyur pertambangan untuk melakukan pengoptimalan dan desain
pit. Dalam penelitian ini, perangkat lunak Surpac dan Whittle digunakan karena
ketersediaannya dan juga diterima secara luas di industri pertambangan. Kedua
perangkat lunak tersebut didorong oleh menu dan digabungkan sebagai alat untuk
pengoptimalan dan desain pit.
39
Perangkat lunak Surpac dan Whittle digunakan untuk pengoptimalan dan
desain pit dalam pekerjaan ini. Data eksplorasi dari Mpeasem Gold Mining
Project (MGMP) digunakan sebagai input data utama untuk menunjukkan
bagaimana perangkat lunak Surpac dan Whittle diterapkan dalam pengoptimalan
dan desain pit.
40
2.12.
Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep merupakan cara untuk menjelaskan gambaran atau
hubungan variabel-variabel yang akan diteliti. Kerangka konsep penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Analisis Faktor
Input Model blok
Keamanan Lereng
Sumberdaya
Model Geologi
Validasi Blok Model
Data
Endapan
Sumberdaya
Topografi
Parameter Teknis
(Model Geometri
lereng)
Optimasi
Pit
Pit Shell
optimum
Rekomendasi
Rancangan Pit Limit
geometri lereng
Penambangan
Volume Cadangan
Tertambang
Parameter
Ekonomi
Penambangan
41
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT. Bosowa Mining yang secara
administratif berada di kecamatan wiwirano kabupaten konawe utara profinsi
Sulawesi Tenggara (Gambar 3.1). Lakosi ini dapat di tempuh dengan perjalanan
darat dengan waktu tempuh ± 5 jam perjalanan dari kota Kendari. Rangkaian
kegiatan penelitian termasuk pengambilan dan pungumpulan data yang akan
dilakukan ± 1 bulan lebih pada PT. Bosowa Mining.
3.2.
Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang menggabungkan teori dengan data-data di
lapangan baik yang berhubungan dengan angka hasil pengukuran, analisis data
serta penafsiran dengan bantuan rumus-rumus statistik. Penelitian yang dilakukan
dengan mengumpulkan data yang dapat diukur menggunakan teknik statistik,
matematika atau komputasi. Proses penelitian kuantitatif dimulai dari teori,
hipotesis, desain penelitian, memilih subjek, mengumpulkan data, memproses
data, menganalisis data dan menuliskan kesimpulan.
Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian
42
43
3.3.
Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan pada penelitian ini yaitu instrument yang
sifatnya membantu peneliti dalam kegiatan pengumpulan dan pengambilan data
serta analisis data. Adapun instrument yang digunakan peneliti dapat dilihat pada
Tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1 Alat dan bahan penelitian serta kegunaannya
No
Nama Alat
Kegunaan
1 ATK
Untuk mencatat data-data yang ada
dilapangan
2 Kamera
Untuk dokumentasi kegiatan dilapangan
3 Softwere arcgis
Untuk membuat peta penelitian
4 Softwere surpac v.6.3
Untuk membuat pemodelan geologi dan
pembuatan rancangan Pit Limit
5 Softwere Google Mapper
Untuk pembuatan peta topografi
6 Softwere Microsoft axcel
Untuk membantu dalam pengolahan data
7 Softwere Microsoft word
Untuk membuata laporan penelitian
8 Sofftwere Withlle
Untuk membuat simulasi bukaan pit yang
potensial untuk ditambang
3.4.
Prosedur Penelitian
Prosedur yang dilakukan pada penelitian ini yaitu tentang cara
pengumpulan data penelitian, pengolahan data serta ananlisis data penelitian dan
disajikan dalam bentuk digram alir.
3.4.1.
Tahapan Persiapan
Dalam tahapan persiapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Tahapan perizinan
Tahapan perizinan meluputi pembuatan surat izin penelitian dari jurusan
Teknik pertambangan yang kemudian diserahkan oleh pihak Perusahaan PT.
Bosowa Mining
b) Studi literatur
Studi literatur dilakukan dengan mengumpulkan berbagai referensi
mengenai kegiatan perencanaan tambang dalam hal ini khususnya yang mencakup
44
perhitungan ertimasi sumberdaya dan Cadangan serta desain pit limit (batas akhir
penambangan) dan mempelajari laporan para peneliti sebelumnya dengan tujuan
untuk mengetahui perhitungan estimasi sumberdaya dan Cadangan serta
perancangan pit limit penambangan yang baik dan benar
c) Observasi dan orientasi lapangan
Pada tahap ini peneliti melakukan peninjauan langsung di lapangan yaitu
pada daerah operasi penambangan. Tujuan orientasi dan observasi lapangan ini
adalah sebagai media perkenalan terhadap lingkungan kerja operasi penambangan
pada PT. Bosowa Mining serta memahami kondisi dan situasi di lapangan.
3.4.2.
Tahapan Pengumpulan Data
Pada tahap pengumpulan data didasarkan pada pedoman yang sudah
dipersiapkan dalam rancangan penelitian. Data yang dikumpulkan berupa data
primer dan data sekunder.
a) Pengumpulan Data Primer
Data primer merupakan data yang deperoleh langsung dilapangan dari objek
penelitian dan perlu pengolahan lebih lanjut. Data primer yang dibutuhkan
yaitu:
1. Sampel Tanah Zona Limonit dan Saprolit
ο·
Bobot Isi
ο·
Kohesi
ο·
Sudut geser dalam
2. Dokumentasi lapangan
b) Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder adalah pengumpulan data yang diperoleh atau dikumpulakan
dari beberapa referensi maupun diperoleh dari Perusahaan dan data tersebut
diolah Kembali. Data sekunder pada penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Data IUP dan Data Blok Penelitian
2. Data Blok Model
45
3. Data Topografi
4. Data Geologi endapan Nikel laterit
5. Spesifikasi Alat
6. Rekomendasi Geometri jenjang
a. Tinggi jenjang
b. Lebar jenjang
c. Kemiringan jenjang
7. Cut Off Grade (COG)
8. Data Parameter Ekonomi Pit Optimasi
9. Density ore dan Waste
3.4.3.
Tahapan Pengolahan Data dan Analisis Data
Data-data yang telah dikumpulkan dilapangan, baik itu data primer
maupun data sekunder selanjutnya digunakan untuk pengolahan dan analisis data
guna mendapatkan hasil sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.
Adapun Software yang digunakan dalam proses pengolahan dan analisis data ada
adalah Software Arcgis, Software Surpac v.6.3, Software Global Mapper, softwere
whitlle dan Software Microsoft Excel.
Berdasarkan uraian tersebut, Tahapan Pengolahan data dan analisis data
adalah sebagai berikut:
a. Membuat
komponen
Peta
karakteristik
Daerah
penelitian
dengan
menggunakan Softwere Arcgis dan Softwere google mapper yeitu peta
Topografi, Peta situasi Lahan, Peta Kelerangan dan Peta Litologi.
b. Menentukan beban distribusi (distributed load) berdasarkan spesifikasi
peralatan mekanis dan beban kegempaan (seismic load) berdasarkan peta
zonasi gempa Indonesia PGA SNI 1726:2019. Data ini akan digunakan dalam
analisis kestabilan lereng kondisi dinamis.
c. Penentuan Geometri jalan angkut (Ramp) berdasarkan persamaan 2.9 yang
nantinya digunakan dalam perangancanga pit limit
46
d. Melakukan pengujian sampel tanah pada laboratorium uji tanah untuk
mendapatkan data kohesi, bobot isi dan sudut geser dalam.
e. Melakukan menganalisa kestabilan lereng dalam penentuan geometri lereng
yang akan digunakan dalam perancangan pit penambangan. Pengolahan
dilakukan menggunakan Metode Fellenius dengan bantuan Software
Rockscience Slide.
f. Melakukan validasi terhadap blok model sumberdaya dengan data topografi
dan model geologi endapan nikel laterit. Proses validasi dilakukan dengan
mengintegrasi blok model sumber daya, topografi dan model geologi endapan
nikel laterit dengan bantuan Software Surpac, sehingga dapat dibandingkan
antara elevasi permukaan dari blok model sumber daya dengan topografi serta
mengidentifikasi blok model sumber daya sesuai batas atau boundary
topografi. Setelah itu, dapat dibandingkan zona laterisasi antara blok model
sumber
dayadengan
model
geologi
endapan
nikel
laterit,
serta
mengidentifikasi kesesuaianbatas-batas zonasi geologi (Limonit dan Saprolit)
antara blok model sumberdaya dan model geologi endapan
g. Melakukan optimasi pit dengan cara mengekspor blok model sumber daya
dari Software Surpac ke Software Whittle. Kemudian memasukan semua data
parameter (teknis dan ekonomis) yang dibutuhkan untuk melakukan optimasi
pit, sehingga diperoleh rangkaian seri pit shell hasil optimasi dengan
menggunakan algoritma Lerchs-Grossmann.
h. Melakukan analisis setiap pit shell untuk menentukan pit shell yang optimum
yang nantinya dijadikan acuan dalam melakukan rancangan desain pit
berdasar nilai Net present Value (NPV) tertinggi.
i. Melakukan Rancangan Pit Limit penambangan pit shell yang optimal yang
dihasilkan dari Softwere Withle. Pada peracangan desain pit limit
menggunakan bantuan Softwere Surpac dengan memeperhatiakan parameter
geometri jenjang dan lebar jalan angkut (ramp)
j. Menentukan jumlah volume cadangan tertambanga denan mempertimbangkan
faktor pengubah (modifying factors).
47
Diagram alir penelitian
3.5.
Berikut ini adalah diagram alir dalam pebilitian ini sebagai acuan dalam
melaksanakan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut:
Mulai
1. Perizinan
2. Study literatur
3. Observasi lapangan
Pengumpulan Data
Data Sekunder:
1. Data IUP dan Data Blok
Penelitian
2. Data Topografi
3. Data Blok Model
4. Model Geologi Endapan Nikel
5. Spesifikasi alat angkut
6. Data Parameter Ekonomi
7. Rekomendasi geometri jenjang
8. Density ore dan Waste
9. Cut of grade (COG)
10. Mining Recovery dan Mining
delusi
Data primer:
1.
Sampel Tanah
ο· Bobot isi
ο· Kohesi
ο· Sudut Geser
dalam
Pengolahan Data
1.
2.
3.
Membuat Peta karakteristik daerah penelitianmenggunakan softwere
Arcgis dan Global Mapper
Menentukan beban distribusi (distributed load) berdasarkan spesifikasi
peralatan mekanis dan beban kegempaan (seismic load).
Penentuan Geometri jalan angkut (Ramp) berdasarkan persamaan 2.9.
A
48
A
Pengolahan Data
4. Melakukan pengujian sampel tanah pada laboratorium uji tanah untuk
mendapatkan data kohesi, bobot isi dan sudut geser dalam.
5. Melakukan menganalisa kestabilan lereng dilakukan menggunakan
Metode Fellenius dengan bantuan Software Rockscience Slide.
6. Melakukan validasi terhadap blok model sumberdaya dengan data
topografi dan model geologi endapan nikel laterit
7. Melakukan optimasi pit dengan cara mengekspor blok model sumber
daya dari Software Surpac ke Software Whittle. Kemudian memasukan
semua data parameter (teknis dan ekonomis) yang dibutuhkan untuk
melakukan optimasi pit.
8. Melakukan analisis setiap pit shell untuk menentukan pit shell yang
optimum yang nantinya dijadikan acuan dalam melakukan rancangan
desain pit berdasar nilai Net present Value (NPV) tertinggi.
9. Melakukan Rancangan Pit Limit penambangan pit shell yang optimal
yang dihasilkan dari Softwere Withle Membuat rancangan desain pit
limit penambangan menggunakan softwere surpac v.6.3.
10. Menentukan jumlah volume cadangan tertambanga denan
mempertimbangkan faktor pengubah (modifying factors)
1.
2.
3.
4.
Analisis Data
Analisis Karakteristik daerah penelitian berdasarkan peta citra, peta
topografi, peta geologi dan peta geologi
Analisis factor keamanan keamanan lereng.
Analisis penentuan optimum pit shell berdasarkan hasil optimasi pit
Analisis volume cadangan tertambang berdarakan pit limit.
Hasil
1. Ranacangan Pit limit Penambangan
2. Jumlah volume cadangan tertambang
Selesai
Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian
49
3.6.
Jadwal Penelitian
Uraian rencana kegiatan jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel 3.2
berikut:
Gambar 3.2 Jadwal Penelitian
Bulan
No.
Kegiatan
50
BAB IV
HASIL DAN PAMBAHASAN
4.1.
Karakteristik Daerah Penelitian
Setiap area penambangan tentunya mempunyai kondisi yang berbeda.
Kondisi ini akan berpengaruh pada cara penambangan suatu endapan bahan galian
bijih nikel. Penentuan teknik pengambilan endapan bahan galian bijih nikel
bergantung pada kondisi geologi suatu daerah penambangan. Berikut merupakan
data karakteristik dan kondisi geologi pada lokasi penelitan di Blok Abep Pit 5 PT.
Bosowa Mining.
4.1.1.
Siuasi Lahan
Situasi lahan pada lokasi penelitian pada pit Sub Blok Abep Pit 5 masih
didominasi oleh tutupan lahan berupa pepohan dan Semak belukar yang
sebelumnya telah dilakukan kegiatan eksplorasi dan estimasi cadangan. Selain itu
lokasi Pit 5 Blok ABEP ini terletak tidak cukup jauh dari lahan bukaan tambang
pada salah satu blok PT. Bosowa Mining. Peta situasi lahan lokasi penelitian dapat
dilihat melalui analisis citra satelit yang dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut:
4.1.2.
Morfologi
Morfologi merupakan studi bentuk lahan yang mempelajari relief secara
umum. Kondisi morfologi dibutuhkan sebagai langkah awal untuk mengetahui
dan memahami kondisi geologi penelitian. Untuk mengetahui kondisi morfologi
daerah penelitian, analisis yang dilakukan terdiri dari analisis morfometri (kondisi
kemiringan lereng) dan kondisi morfografi daerah penelitian.
Berdasarkan hasil analisis kemiringan lereng sesuai dengan klasifikasi
Van Zuidam (1985), daerah penelitian memiliki kondisi kelerengan yang dibagi
menjadi 2 kelas yaitu kemiringan lereng miring dan kemiringan lereng agak
curam. Analisa kemiringan lereng menggunakan bantuan data topografi yang
51
menampilkan bentuk awal area Pit 5 Blok ABEP. Peta kemiringan lereng pada
area penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.2
4.1.3.
Topografi
Berdasarkan analisis data topografi yang diberikan oleh pihak
perusahaan, ketinggian daerah penelitian bervariasi mulai dari elevasi 322 mdpl –
460 mdpl. Analisis ini dilakukan secara terbatas hanya pada lokasi Pit 5 Blok
ABEP. Analisa topografi menggunakan bantuan data topografi yang kemudian
diolah menjadi garis kontur untuk menampilkan bentuk awal area Pit 5 Blok
ABEP sebelum dilakukan kegiatan penambangan. Peta topografi lokasi penelitian
dapat dilihat pada Gambar 4.3
4.1.4.
Litologi
Pengamatan litologi yang dilakukan pada daerah penelitian berdasarkan
peta geologi regional lembar Lasusua-Kendari (Simandjuntak dkk, 1983).
Berdasarkan analisa peta geologi regional lembar Lasusua-Kendari, menunjukkan
bahwa penyusun batuan yang terdapat pada daerah penelitian yaitu berupa
Formasi Kompleks Ultramafik (Ku). Kompleks Ultramafik merupakan sumber 56
pembentukan endapan laterit nikel yang cukup baik yang terdiri atas peridotit,
harzburgit, dunit, gabro dan serpentinit. Analisa litologi dapat dilihat pada peta
geologi daerah penelitian yang dapat dilihat pada gambar 4.5 berikut:
43
Gambar 4.1 Peta Situasi Lahan Pit Blok ABEP (Sumbe: Pengolahan Data)
44
Gambar 4. 2 Peta Kemiringan Lerang Pit 5 Blok ABEP (Sumber: Pengolahan Data)
45
Gambar 4.3 Peta Topografi Pit 5 Blok ABEP (Sumber: Pengolahan Data)
43
Gambar 4.4 Peta Geologi Pit 5 Blok ABEP (Sumber: Pengolahan Data)
43
4.2.
Analisis Geoteknik Untuk Kestabilan Lereng
Analisis geoteknik digunakan untuk melakukan analisis desain pit
penambangan yang optimal dan aman untuk digunakan. Pengambilan data
geoteknik berupa sampel tanah dilakukan pada masing-masing litologi yang
terdapat pada Blok Abep Pit 5 PT Bosowa Mining. Dalam melakukan
perancangan pit penambangan yang baru, maka pengambilan data geoteknik
dilakukan pada areal pit penambangan yang sudah terbuka dan terletak tidak jauh
dari lokasi pit penambangan baru dengan syarat urutan penyusun zona bawah
permukaan yang masih sama. Setelah semua sampel yang dibutuhkan telah
terkumpul, maka sampel tersebut dibawa ke Laboratorium Mekanika Tanah
Universitas Halu Oleo, untuk dilakukan pengujian sehingga menghasilkan datadata yang dibutuhkan dalam melakukan analisa faktor keamanan lereng. Data
yang digunakan sebagai acuan untuk analisis kestabilan lereng menggunakan
metode irisan (method of slice) dengan cara Fellenius berupa data bobot isi tanah
(Ι£) kohesi (c), dan sudut geser dalam (Ø). Data hasil pengujian sampel pada zona
limonit dan zona saprolit dapat dilihat pada Tabel
Zona
Pengujian
Hasil Lab
Satuan
Limonit
Bobot Isi
1.54
Kohesi
Sudut Geser
Saprolit
4.2.1.
Satuan
gr/cm3
Konversi
Satuan
15.092
0.326
kg/cm2
31.948
kN/m2
38.441
Λ
38.441
Λ
kN/m3
Λ
3
gr/cm
Bobot Isi
Kohesi
1.48
0.368
kg/cm2
14.504
36.064
Sudut Geser
39.523
Λ
39.523
kN/m3
kN/m2
Perhitungan Geometri Jenjang
Desain pit yang dimodelkan memiliki beberapa perhitungan geometri
dengan pertimbangan komponen dasar jenjang, geometri kemiringan lereng dan
ramp (road access mining road). Perhitungan geometri desain pit terkait
komponen dasar jenjang yaitu tinggi jenjang (bench height), lebar jenjang
penangkap (catch bench), crest dan toe, geometri kemiringan lereng (single slope
44
dan overall slope angle), serta ramp (road access mining road) dihitung
berdasarkan beberapa rujukan referensi.
Perhitungan komponen dasar geometri jenjang terdiri dari perhitungan
tinggi jenjang (bench height), lebar jenjang (berm width), single slope dan overall
slope angle. Berdasarkan hasil perhitungan geometri jenjang penambangan pada
(lampiran) tinggi jenjang yang diperoleh yaitu 6 m dengan pertimbangan nilai
maksimum cutting/dumping height pada alat muat yang digunakan (lihat
lampiran). Adapun nilai jenjang penangkap (catch bench) merupakan nilai
sepertiga dari tinggi jenjang, sehingga lebar jenjang penangkap yaitu 2 m. Nilai
sudut single slope untuk geometri lereng adalah 60°. Hal ini dilakukan dengan
tujuan memaksimalkan perolehan bijih nikel saat kegiatan produksi penambangan
berlangsung.
Jika
kemiringan
single
slope
melebihi
kemiringan
60°,
memungkinkan tingkat keamanan semakin kecil, dan dapat menyebabkan
material-material yang lebih besar akan runtuh.
Sedangkan, lebar ramp dihitung berdasarkan lebar alat angkut angkut
yang akan melakukan operasi penambangan. Kegiatan pengangkutan bijih nikel
pada PT. Bosowa Mining berdasarkan hasil pengamatan kegiatan penambangan
menggunakan dumptruck Sinotruk Howo Tipper Truck 6x4 371HP dengan
dimensi lebar kendaraan 2,5 meter (lampiran). Lebar dumptruck merupakan
parameter utama dalam menentukan lebar jalan angkut yang akan dibuat.
Sehingga, penentuan geometri jalan angkut yang efisien untuk operasi produksi
alat berdasarkan persamaan AASHTO yakni selebar 9 meter dengan kemiringan
jalan angkut maksimal sebesar 12%. Jumlah jalur yang digunakan yaitu 2 jalur.
Untuk perhitungan lebar jalan angkut dapat dilihat pada (lampiran).
4.2.2.
Uji Faktor Keamanan Lereng
Pada kegiatan penambangan, semakin tegak lereng maka akan semakin
banyak perolehan bahan galian yang didapatkan. Akan tetapi semakin tegak suatu
lereng, kemungkinan terjadinya longsor pada lereng tersebut juga semakin besar.
Oleh karena itu untuk menentukan kemiringan lereng yang optimum dibutuhkan
45
suatu rekomendasi geoteknik, berupa rancangan geometri lereng tunggal (single
slope), inter-ramp dan lereng keseluruhan (overall slope), sehingga akan
mengurangi kemungkinan terjadinya longsor dan menciptakan kondisi kerja yang
lebih aman.
Faktor keamanan lereng dianalisa dengan dengan menggunakan material
properties dari sampel tanah hasil analisa laboratorium berupa nilai sifat fisik dan
sifat mekanik tanah untuk mendapatkan nilai kritis longsoran yang kemungkinan
terjadi di Pit 5 Blok Abep. Sifat fisik dan sifat mekanik tanah tersebut berupa data
bobot isi tanah (ϒ) kohesi (c), sudut geser dalam (ΙΈ). Setelah hasil analisa
laboratorium didapatkan, maka nilai-nilai tersebut perlu dilakukan konversi dalam
satuan masing-masing sesuai dengan kebutuhan software pendukung yaitu
software Rockscience Slide. Konversi satuan nilai hasil analisa laboratorium dapat
dilihat pada lampiran 4. Material properties berupa nilai sifat fisik dan sifat
mekanik tanah yang digunakan untuk analisis faktor keamanan dapat dilihat pada
tabel 4.3 berikut.
Zona
Pengujian
Hasil Lab
Satuan
Limonit
Bobot Isi
Kohesi
1.54
0.326
Sudut Geser
Bobot Isi
Kohesi
Sudut Geser
Saprolit
Satuan
gr/cm3
kg/cm2
Konversi
Satuan
15.092
31.948
38.441
1.48
0.368
Λ
gr/cm3
kg/cm2
38.441
14.504
36.064
Λ
kN/m3
kN/m2
39.523
Λ
39.523
Λ
kN/m3
kN/m2
Simulasi perhitungan faktor keamanan bertujuan untuk mendapatkan
rekomendasi rancangan geometri lereng yang optimal dengan memenuhi standar
Faktor Keamanan (FK) sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827
K/30/MEM RI/2018. Simulasi perhitungan faktor keamanan lereng penambangan
dilakukan
menggunakan
bantuan
software
Rockscience
Slide
dengan
penggambaran lerengdilakukan secara manual pada software dengan sistem trial
and error atau coba-coba hingga mendapatkan rancangan geometri lereng seperti
tinggi lereng, lebar lereng dan kemiringan lereng yang sesuai.
46
Analisis faktor keamanan lereng dilakukan dengan beberapa kondisi
berikut:
a.
Kondisi statis, kondisi lereng statis merupakan kondisi pada saat lereng dalam
kondisi diam atau tidak dipengaruhi oleh adanya getaran yang bekerja pada
lereng, baik itu getaran yang disebabkan oleh alat berat, getaran yang
disebabkan oleh aktivitas peledakan maupun getaran karena pengaruh gempa
bumi.
b.
Kondisi dinamis, kondisi lereng dinamis merupakan kondisi lereng yang
dipengaruhi oleh getaran, baik itu getaran yang disebabkan oleh alat berat,
getaran yang disebabkan oleh aktivitas peledakan maupun getaran karena
pengaruh gempa bumi.
Simulasi perhitungan faktor keamanan dilakukan pada masing-masing
zona yaitu zona limonit dan zona saprolit. Analisis faktor keamanan yang
dilakukan berupa faktor keamanan statis dan faktor keamanan dinamis untuk
lereng tunggal (single slope), inter-ramp dan lereng keseluruhan (overall slope).
1.
Faktor Keamanan Statis
Analisa faktor keamanan statis dianalisa dengan metode irisan (method of
slice) dengan cara Fellenius. Dalam metode irisan, massa tanah yang longsor
dipecah-pecah menjadi beberapa irisan vertikal. Kemudian, keseimbangan dari
tiap-tiap irisan diperhatikan. Analisis stabilitas lereng metode irisan dengan cara
Fellenius (1972) menganggap gaya-gaya yang bekerja pada sisi kanan-kiri dari
sembarang irisan mempunyai resultan nol pada arah tegak lurus bidang longsor.
a) Faktor Keamanan Statis Lereng Tunggal (Single Slope)
Dari hasil analisa diketahui FK statis untuk lereng tunggal bagian limonit
adalah 3,34 dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, sudut kemiringan lereng
60º. Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi nilai faktor keamanan lereng
47
tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 K/30/MEMRI/2018. Perhitungan analisis kestablian lereng dan gambar hasil analisa FK statis
untuk lereng tunggal bagian limonit dapat dilihat pada Gambar berikut:
Sedangkan dari hasil analisa diketahui FK statis untuk lereng tunggal
bagian saprolit adalah 3,79 dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, sudut
kemiringan lereng 60º. Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi nilai faktor
keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827
K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng dan gambar hasil
analisa FK statis untuk lereng tunggal bagian saprolit dapat dilihat pada Gambar
berikut:
b) Faktor Keamanan Statis Inter-Ramp
48
Dari hasil analisa diketahui FK statis untuk inter-ramp bagian limonit
adalah 2,166 dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, sudut kemiringan
lereng 60º dan lebar ramp 9 meter. Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi
nilai faktor keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM
Nomor 1827 K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng dan
gambar hasil analisa FK statis untuk inter-ramp bagian limonit dapat dilihat pada
Gambar:
Sedangkan dari hasil analisa diketahui FK statis untuk inter-ramp bagian
saprolit adalah 2,66 dan probability of failure (probabilitas kelongsoran) sebesar
0,68% dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, sudut kemiringan lereng 60º
dan lebar ramp 9 meter. Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi nilai faktor
keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827
K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng dan gambar hasil
analisa FK statis untuk inter-ramp bagian saprolit dapat dilihat pada Gambar
berikut:
49
c)
Faktor Keamanan Statis Lereng Keseluruhan (Overall Slope)
Lereng keseluruhan dirancang dari gabungan beberapa lereng tunggal.
Dari hasil analisa diketahui FK statis untuk lereng keseluruhan adalah 2,05
dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, sudut kemiringan lereng 60º dan
lebar ramp 9 meter. Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi nilai faktor
keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827
K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng dan gambar hasil
analisa FK untuk lereng keseluruhan dapat dilihat pada Gambar Berikut:
50
2.
Faktor Keamanan Dinamis
Analisa faktor keamanan dinamis dianalisa dengan metode cara
Fellenius. Distribusi beban (distributed load) diperlukan untuk mengetahui
kekuatan suatu lereng secara maksimum, sebagai sebagai contoh yaitu adanya
beban alat (excavator dan dumptruck) yang bekerja di atas lereng. Hal ini
memungkinkan adanya distribusi beban tambahan selain dari lereng itu sendiri.
Adapun distribusi beban untuk menganalisis simulasi kestabilan lereng berupa
distribusi beban dari alat gali-muat dan alat angkut terbesar yang akan digunakan
dalam kegiatan penambangan pada Pit A Blok ITB PT. Bosowa Mining. Alat
angkut terbesar adalah dumptruck dengan merek Sinotruk Howo Tipper Truck 6x4
371HP yang memiliki beban distribusi (distributed load) sebesar 15,426 kN/m2
(lihat lampiran). Alat gali-muat terbesar adalah excavator dengan merk Sany
Hydraulic Excavator SY365H yang memiliki beban distribusi (distributed load)
sebesar 63 kN/m2 (lihat lampiran).
Tambahan beban kegempaan (seismic load) dikategorikan sebagai
analisis dinamis karena beban akibat gempa memiliki percepatan, interval waktu
dan bersifat dinamis. Data beban kegempaan (seismic load) yang dibutuhkan
bersumber dari SNI 1726:2019 berupa peta zonasi gempa Indonesia dan diperoleh
angka koefisien percepatan gempa maksimum (seismic coeficient) pada lokasi Pit
5 Blok Abep PT. Bosowa Mining sebesar 0,25 – 0,3 g (lihat lampiran).
Faktor gempa sangat berperan dalam perancangan suatu lereng, faktor
gempa ini dinyatakan dalam satuan g (gravitasi). Satuan gravitasi menyatakan
besarnya intensitas dari getaran selain gempa yang secara alami, satuan ini
digunakan juga untuk mengatasi gangguan yang datang berupa getaran yang
sangat besar. Dengan semakin besarnya faktor gempa yang dimasukkan dalam
analisis kestabilan lereng, maka penjalaran gelombang seismik yang bersifat
sementara dari adanya gempa tersebut juga akan semakin besar.
a.
Faktor Keamanan Dinamis Lereng Tunggal (Single Slope)
51
Dari hasil analisa diketahui FK dinamis untuk lereng tunggal bagian
limonit adalah 1,625 dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, sudut
kemiringan lereng 60º, beban seismic load coefficient sebesar 0,3 g dan beban
distributed load excavator sebesar 63 kN/m2 . Kondisi geometri lereng ini sudah
memenuhi nilai faktor keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri
ESDM Nomor 1827 K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng
dan gambar hasil analisa FK dinamis untuk lereng tunggal bagian limonit dapat
dilihat pada Gambar berikut:
Sedangkan dari hasil analisa diketahui FK dinamis untuk lereng tunggal
bagian saprolit adalah 1,82 dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, sudut
kemiringan lereng 60º, beban seismic load coefficient sebesar 0,3 g dan beban
distributed load excavator sebesar 63 kN/m2 . Kondisi geometri lereng ini sudah
memenuhi nilai faktor keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri
ESDM Nomor 1827 K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng
dan gambar hasil analisa FK dinamis untuk lereng tunggal bagian saprolit dapat
dilihat pada Gambar berikut:
52
b.
Faktor Keamanan Dinamis Inter-Ramp
Dari hasil analisa diketahui FK dinamis untuk inter-ramp bagian limonit
adalah 1,22 dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, lebar ramp 6 meter,
sudut kemiringanlereng 60º beban seismic load coefficient sebesar 0,3 g, beban
distributed load dumptruck sebesar 15,426 kN/m2 dan beban distributed load
excavator sebesar 63 kN/m2 . Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi nilai
faktor keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor
1827 K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng dan gambar
hasil analisa FK dinamis untuk inter-ramp bagian limonit dapat dilihat pada
Gambar berikut:
53
Dari hasil analisa diketahui FK dinamis untuk inter-ramp bagian saprolit
adalah 1,38 dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, lebar ramp 9 meter,
sudut kemiringan lereng 60º beban seismic load coefficient sebesar 0,3 g, beban
distributed load dumptruck sebesar 15,426 kN/m2 dan beban distributed load
excavator sebesar 63 kN/m2 . Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi nilai
faktor keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor
1827 K/30/MEM-RI/2018. Perhitungan analisis kestabilan lereng dan gambar
hasil analisa FK dinamis untuk inter-ramp bagian saprolit dapat dilihat pada
Gambar berikut:
54
Faktor Keamanan Dinamis Lereng Keseluruhan (Overall Slope)
c.
Lereng keseluruhan dirancang dari gabungan beberapa lereng tunggal.
Dari hasil analisa diketahui FK dinamis untuk lereng keseluruhan adalah 1,207
dan dengan dengan tinggi bench 6 m, lebar berm 2 meter, lebar ramp 9 meter,
sudut kemiringan lereng 60º beban seismic load coefficient sebesar 0,3 g, beban
distributed load dumptruck sebesar 15,426 kN/m2 dan beban distributed load
excavator sebesar 63 kN/m2 . Kondisi geometri lereng ini sudah memenuhi nilai
faktor keamanan lereng tambang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor
1827 K/30/MEM-RI/2018
Rincian seluruh hasil analisis uji faktor keamanan lereng statis dan
dinamis dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4. Rinci faktor keamanan lereng
Zona
No
1
Jenis Lereng
Single Slope
Limonit
Faktor Keamanan
Statis
Dinamis
3,34
1,625
55
2
Inter-Ramp
3
Overall-Slope
4.3.
Saprolit
3,79
1,82
Limonit
2,166
1,269
Saprolit
2,366
1,38
2,05
1,207
Limonit Dan
Saprolit
Blok Model Sumberdaya
Pada saat melakukan rancangan penambangan hal yang perlu
diperhatikan adalah kepaastian dari endapan sumberdaya. ukuran dan bentuk dari
endapan sumberdaya nikel laterit divisualisasikan dalam konsep blok model. Blok
Model adalah model komputer yang membagi cebakan bijih menjadi blok-blok
yang seragam. Permodelan dan penaksiran sumberdaya mineral secara komputer
didasarkan pada kerangka model blok. Blok model diperoleh dari badan bijih (ore
body) berupa blok 3 dimensi. koordinat, bentuk dan ukuran blok model pada Pit 5
Blok ABEP dapat dilahat pada table berikut:
pada lokasi penilitian, blok model sumberdaya endapan nikel laterit
diperoleh langusung dari Departemen Mine Enggiring PT. Bosowa Mining. Blok
model tersebut memiliki ukuran dimensi 6,25 m x 6,25 m x 1 m (panjang x lebar x
tinggi). Blok model tersebut juga telah dilakukan estimasi sumberdaya sehingga
diperoleh nilai kadar tiap blok. blok model Sumberdaya Pit 5 Blok Abep dapat
dilihat pada gambar berikut
pada gambar 4. – diatas , endapan nikel laterit yang telah diketahui
sebaran dan nilai persentase kadar setiap blok kemudian dikonversi menjadi
sumberdaya tertunjuk dan terukur. klasifikasi ini merujuk p[pada kode KCMI
2017 dengan nilai Cut off Grade (COG) yang di gunakan perusahaan adalah 1,4%.
56
nilai kadar Ni diatas kadar Ni diatas 1,4% dikategorikan sebagai ore dan Nilai
kadar Ni dibawah 1,4% dikategorikan sebagai waste.pada blok model juga
terdapat nilai densitas, dimana densitas untuk ore yaitu sebesar 1.55 dan nilai
densitas untuk waste
berdasarkan gambar 4.--- blok model menunujukan sebaran endapan
nikel laterit dengan perbedaan nilai kadar ni (ore class) dengan warna yang
berbeda-beda. Perusahaan mengklasifikasi kataegori ore class berdasaskan range
ni%. kadar ni dibawah cut off grade dikategorikan ob/waste dengan warna biru,
nilai kadar range ni 1,4% - 1.6% dikategorikan sebagai low grade ore (LGO)
dengan warna hujau, nilai kadar renge ni 1.6% - 1.7% sebagai medium grade ore
(MGO) dengar warna orange dan nilai kadar renge ni di atas 1.7% dekategorikan
sebagai high grade ore (HGO) dengan warna merah. jumlah sumberdaya Pit 5
Blok ABEP secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut:
Blok model sumberdaya harus memimiliki kesesuaian dengan data
topografi dan model geologi endapan nikel laterit pit 5 Blok abep. oleh karna itu
blok model harus di validasi terlebih dahulu menggunkan bantuan softwere
surpac. sehingga dapat di bandingkan antara permukaan elevasi blok model
dengan data topgrafi. Hasi validasi blok model sumberdaya dan topografi dapat
dilihat pada gambar 4. Berdasarkan gambar 4.6 tersebut, dapat diketahui bahwa
blok model endapan laterit tidak ada yang berada di atas topografi atau dengan
kata lain blok model endapan secara keseluruhan berada di bawah topografi.
Validasi blok model dengan model geologi endapan nikel laterit
digunakan untuk memastikan blok model sumber daya memiliki letak dan bentuk
yang sama dan sesuai dengan geometri model geologi endapan laterit pada Pit
Anoa Blok 4. Untuk memastikan lebih detail bahwa tidak ada blok model yang
melewati batas topografi, dan memiliki letak serta bentuk yang sama dengan
model geologi endapan, maka dilakukan cross section seperti pada gambar 4.8.
berdasarkan hasil uji penyesuain blok model dengan topografi dan blok model
dengan model geologi maka blok model sumber daya tersebut dikatakan sesuai.
57
Optimasi Bukaan Tambang (Optimasi Pit)
4.4.
Proseses optimasi pit dilakukan dengan menggunakan bantuan softwere
Whittle. oleh karena itu data blok model sumberdaya yang telah di modifikasi di
softwere surpac kemudian di teransfer ke softwere witle untuk dilakukan prosese
optimasi.
optimasi pit dilakukan untuk mendapatkan model bukaan akhir
penambangan yang optimal. Model ini digunakan untuk menentukan batas akhir
penambangan untuk pembuatan rancangan pit limit penambangan pada Pit 5 Blok
ABEP.
Optimasi tambang terbuka dilakukan berdasarkan algoritma LerchGrossman. Perhitungan algoritma Lerchs-Grossmann pada intinya adalah
penjumlahan antara biaya dan pendapatan secara kumulatif di dalam pit limit.
Semua parameter geometri nikel laterit dan material penutup dikonversi ke dalam
bentuk finansial (uang), biaya dinilai dengan negatif sedangkan pendapatan dinilai
dengan positif. Hasil pemodelan dan perhitungan dari algoritma LerchsGrossmann dapat direncanakan bentuk pit yang lebih optimal dan sesuai dengan
harga penambangan yang lebih ekonomis
Proses optimasi juga bertujuan untuk memperoleh estimasi cadangan
nikel yang optimal berdasarkan model finansial dengan mempertimbangkan
parameter penambangan dan kondisi lahan aktual. Pengerjaan optimasi bukaan
tambang dibantu oleh Softwrere Withle 6.4 dengan algoritma Lerchs-Grossmann
dengan menggunakan parameter sebagai berikut:
4.4.1.
Parameter Input Optimasi Bukaan Tambang
Bedasarkan format softwere withle, ada beberapa parameter yang perlu
di perhatiakan. Adapun parameter input optimasi pit sebagai berikut:
1.
Modifikasi Blok model
Dalam Softwere withle, perlu diketahui tidak dapat menginput data garis
(String) ataupun Digital terrain Model (DTM), sehinggta data-data seperti
58
topografi, model geologi endapan nikel laterit, Dikonversi informasi blok. oleh
karena itu blok model harus di rekontruksi terlebih dahulu.
Blok-blok yang tidak termasuk dalam klasifikasi sumberdaya tertunjuk
dan terukur diubah menjadi wst, selanjutnya untuk blok-blok yang ada diatas
topografi atau disebut blok udara di buat nol. tujuan dari hal tersebut untuk
memastikan bahwa blok-blok trsebut tidak disertakan dalam optimasi pit nantinya.
2. Rekomendasi Geometri jenajng
Berdasarkan rekomendasi perusahaan gemetri kemiringan suatu jenjang
adalah 60 derajat dan untuk kemeringan seluruh jenajnag (overall Slope
Angle) adalah 45 Derajat
3. Revenue Adjustmen Factor (RAF)
Revenue adjustment factor (RAF) merupakan nilai yang diinput kedalam
software whittle untuk membuat simulasi pit shell. Pada penelitian ini,
untuk mendapatkan nilai RAF dilakukan beberapa kali percobaan untuk
mengahasilkan alternative terbaik untuk bentukan Pit Shell. Dari
beberapakali percobaan di dapatkan nilai RAF (0,2 sampai 0,86 dengan
ukuran langkah 0,03).
4. Data Parameter Ekonomi
proses Running optimasi pit di perlukan parameter data ekonomi meliputi
biaya operasional penambangan (cost mining), harga komoditas bahan
galian, biaya penjualan (royalti), capital cost, data expanses dan tingkat
suku bunga (discount rate). Data parameter ekonomis yang digunakan dari
data sekunder dariperusahaan yang bersumber dari historis penambangan
PT. Bosowa Mining. Data parameter ekonomis lebih rinci di sajikan dalam
tebel berikut:
Tabel 4. Data parameter ekonomi optimasi pit (Sumber: Data Historis PT.
Bosowa Mining)
Tipe
Parameter
Satuan
Nilai
Cost Mining Ore
Ore Getting
Suporting
US$/ton
4
59
Man Power
Hauling
Cos Mining Obe
Stripping
US$/ton
3
US$/ton
1.5
US$/ton
5
%
10
US$/ton
28,51
Supporting
Man Power
Hauling
Procesiing Cost
Blanding
Preparasi
Sampling
Analisis kadar
Man Power
Biaya Penjualan
Barging
Royalty
Harga Komoditas
Ni 1,6% (Mc 35%)
Pit Shell Analysis
Inisial Kapital Cost US$/ton
Parameter
355.656
Expanses
US$/ton
55.328
Discount Rate
%
8
Pada penelitian ini, Harga jual nikel yang digunaakan mengacu pada
harga patokan mineral (HPM) nekel bulan februari periode ke-2 oleh asosiasi
penambangan Nikel (APNI). PT.Bosowa mining melakukan penjualan bijih nikel
pada kadar 1.6% Ni, sehingga harga jual ore dengan MC 35% adalalah 28,51
US$/DMT. Kegiatan penambangan yang dilakukan menjual ore , oleh karena itu
biaya pemrosesan (processing cost) dimasukan ke dalam kegiatan QaQc (quality
assurance abd Quality control) termasuk pada proses sampling, preparasi, analisis
kadar, manpower, dan blanding ore.
5. Mining recovery dan Mining Delusi
Mining recovery atau perolehan penambangan yang digunakan untuk
pengerjaan optimasi pit adalah senilai 90% berdasarkan rekomendasi dari
60
Kepmen ESDM 1827 K/30/MEM-RI/2018. Sedangkan mining dilution
atau dilusi penambangan yang digunakan untuk pengerjaan optimasi pit ini
adalah senilai 5%.
6. Mining Limits
Mining limit merupakan batas kapasitas penambangan yang dilakukan
dalam satu periode tertentu. Dalam penelitian ini mining limit yang
digunakan adalah 124.000 ton/bulan. Nilai ini diperoleh dari penjumlahan
target produksi ore sebesar 80.000 ton/bulan dan target pengupasan tanah
Waste yaitu 44.000 ton/bulan.
7. Target Prooduksi Ore
Penentuan target produksi didasari dari pemasaran dan penambangan yang
dilakukan oleh PT. Bosowa Mining. Rencana penambangan bijih nikel
pada pit 5 Blok ABEP memiliki target sebesar 80.000 ton/bulan.
4.4.2.
Output Optimasi Pit
Hasil dari memasukan semua parameter input optimasi pit ke dalam
softwere withle akan mengasilkan Simulasi pit shell yang terdiri dari 20 pit shell.
Hasil bentukan pit shell tersebut dengan menggunakan algoritma lersch-grossman.
Hasil Pit shell dapat dilihat pada table 4. .
Tabel 4. Simulasi Pit Shell (Sumber: Pengolahan Data, 2025)
Pit
Shell
1
2
3
4
5
6
7
8
RAF
Ore
WASTE
Tonase
SR
Ni %
0.6
0.66
0.72
0.78
0.84
0.9
0.96
1.02
327,284
763,401
926,590
963,069
985,777
996,286
1,003,655
1,006,252
428,508
1,127,101
1,442,947
1,525,913
1,588,596
1,620,310
1,646,703
1,656,834
755,792
1,890,502
2,369,537
2,488,982
2,574,373
2,616,596
2,650,358
2,663,086
1.31
1.48
1.56
1.58
1.61
1.63
1.64
1.65
1.59
1.56
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
61
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1.08
1.14
1.2
1.26
1.32
1.38
1.44
1.5
1.56-1.62
1.68
1.74-1.92
1.98
1,007,882
1,008,305
1,009,513
1,009,936
1,010,781
1,010,962
1,011,144
1,011,264
1,011,325
1,011,566
1,011,929
1,011,989
1,663,401
1,665,277
1,671,093
1,673,156
1,677,909
1,679,034
1,680,346
1,681,097
1,681,597
1,683,473
1,686,161
1,686,724
2,671,283
2,673,582
2,680,606
2,683,092
2,688,690
2,689,996
2,691,490
2,692,361
2,692,922
2,695,039
2,698,090
2,698,713
1.65
1.65
1.66
1.66
1.66
1.66
1.66
1.66
1.66
1.66
1.67
1.67
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
1.55
Berdasarkan Tabel 4. Setiap pit shell yang terbentuk memiliki kondisi
bukaan Pit yang berbeda. Semakin besar nomor RAF maka semakin besar pula
tonase ore dan waste yang diperoleh. Pada pit shell 1 dengan RAF 0,6 memiliki
perolehan tonase yang paling kecil karena luas bukaan pit shell yang kecil,
sedangkan pit shell 20 dengan RAF 0,86 memiliki perolehan tonase terbesar
karena luas bukaan pit shell yang besar pula. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pit
shell dan tonase yang dihasilkan memiliki korelasi positif atau berbanding lurus.
Berbeda hal nya jika dibanddingankan antara stripping Rasio dan Kadar rata-rata
Ni% pada beberapa pit shell. Pada tabel 4. dapat dilihat pada Pit Shell 3 sampai
terakrhir memmiliki Ni % yang relatif konstan meskipun nilai striping rasio
berbeda-beda. berdasarkan hal tersebut disebabkan karana adanya pebedaan antara
tonase waste dan tonase ore seiring bertambang nilai RAF.
4.4.3.
Pemilihan Bukaan Tambang Optimum
Bukaan tambang Optimum (Pit Optimum) dipilih dengan cara
menganalisis keekonomisan dara setiap pit shell. Suatu tambang dikatakan
menguntungkan apabila suatu rancagan penambangn memiliki titik impas striping
rasio atau Break Even Stripping Rasio (BESR) tidak melilebihi dara angka yang
62
di tentukan. Berdasarkan rekomendasi perusahaan nilai Break Even Stripping
Rasio (BESR). Adalah 4, maksud dari hal tersebut dibutuhkan 4 ton waste dan 1
ton ore untuk titik impas, tidak untung atau tidak rugi. Untuk lebih sederhananya
nilai striping Rasio pada setiap pit shell di bawah nilai 4 berarti layak tambang,
begitupun sebaliknya nilai Stripping Rasio diatas 4 tidak layak di tambang. Pada
kasus penelitian ini dari setiap pit shell memiliki nilai di bawah stripiing rasio di
bawah nilai 4 artinya semua pit shell layak di tambang.
Akan tetapi, dalam pemilihan pit shell optimum berdasarkan Net Persent
Value (NPV) terbaik. Oleh karean itu perlu menganalisis perhitungan Discontiniu
Cash Flow (DCV) sehingga di dapatkan NPV dari Pit shell. Pada Softwere Withle
ada dua output metode Open pit yaitu open Pit Best case dan Open pit worst case.
Bedasarkan pengamatan lapangan, penelitian ini mendekati mendekati metode
open pit base case. Hasil analisis keekonomisan setian pit shell ditabulasikan pada
tebel lampiran 4.
Pada grafik 4. adalah garfik analisis pit optimasi, yang dimana disajikaan
pebandingan antara total tonase waste yang dikupas dan total tonase ore yang
diekstrasi dengan nilai net present value yang beragam pada setiap pit shell.
63
Grafik NPV discounted open pit Value pada base case relative konstan dari pit
shell 5 sampai pit shell 20. Hal tersebut menunujukan nilai net present value tidak
berubah secara signifikan. Berbeda halnya dengan pit shell 1 samapi pit shell 4,
pada grafik menunujukan net present value menjukan perubahan yang signifikan.
Jika deperhatikan secara detail, grafik mencapai angkta tertinggi pit shell 8 yang
memiliki nilai net peresent value
US$14.597.557-, sedangkan pada pit shell
selanjutnya yakni pit shell 9 grafiknya menurun hingga pit shell 20 tetapi
penurunan grafiknya tidak signifikan. kasus tersebut disebabkan oleh total ore
pada pit shell 9 sampai pit shell 20 cenderung konstan, sementara total waste
cenderung bertambah, sehingga biaya untuk mengupas waste meningkat
akibatnya nilai net persent value berkurang. Untuk lebih jelasnya analisis
keekonomisan pit shell ditabulasikan pada lampiran 4.
Berdasarkan hasil analisis ekonomian pit shell, maka ditentukan pit
paling optimum berdasarkan nilai net present value yang tertinggi yaitu pit shell 8
dengan nilai NPV US$14.597.557-. Oleh sebab itu, dalam melekuakan rancangan
desain pit limit nantinya dengan mempertimbangkan geometri jenjang dan lebar
jalan aangkut tambang mengacu pada pit shell 8 yang telah di analaisis dari segi
keekonomiannya. gambar 4. dibawah ini merupakan bentuk pit shell 8:
64
4.5.
Rancangan Pit Limit
4.6.
Jumlah Cadangan Tertambang
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
5.2.
Saran
66
DAFTAR PUSTAKA
Adnannst, Maryanto, & Guntoro, D. (2015). Rencana Rancangan Tahapan
Penambangan Untuk Menentukan Jadwal Produksi PT. Cipta Kridatama
Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Prosiding
Teknik Pertambangan, 87-91. ISSN: 2460-6499.
Akisa, D., & Mireku-Gyimah, D. (2015). Application of Surpac and Whittle
Software in Open Pit Optimisation and Design. Ghana Mining Journal,
35-45.
Amperiadi, T. B., & Rahman. (2015). Rancangan Teknis Desain Push Back
Penambangan Batubara Pada Pit 1A Di PT. Nata Energi Resourse Job Site
PT. Atha Martha Naha Kramo, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan
Utara. Jurnal Geologi Pertambangan, 15-28.
Arif, I. (2018). Nikel Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. ISBN:
978-602-06-1935-4.
Arif, I. (2021). Geoteknik Tambang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. ISBN:
978-602-03-2735-8.
Aswandi, D., & Yulhendra, D. (2019). Redesain Rancangan Ultimate Pit Dengan
Menggunakan Software Minescape 4.118 Di Pit S41 PT. Energi Batu
Hitam Kecamatan Muara Lawa & Siluq Ngurai, Kabupaten Kutai Barat,
Kalimantan Timur. Jurnal Bina Tambang, 153-164.
Bargawa, W. S. (2018). Perencanaan Tambang. Yogyakarta: Kilau Book. ISBN:
978-623-7594-31-4.
Hamzah, Firdaus, Mili, M. Z., & Anshari, E. (2023). Rancangan Teknis
Penambangan Dan Penjadwalan Produksi Jangka Pendek Penmbangan
Bijih Nikel Laterit Pada PT Bosowa Mining Site Wawoheo Kabupaten
Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Riset Teknologi
Pertambangan, 3. No 2, 40-50.
Hasria, & Septiana, S. (2024). Geologi Endapan Nikel Laterit. Yogyakarta:
Deepublish. ISBN: 978-623-02-8371-0.
Hustrulid, D., Kutcha, M., & Martin, R. (2013). Open Pit Mine Planing And
Design. France: CRC Press. ISBN: 978-1-4822-2117-6
Kamaruddin, H., Ardiansyah, R., Rosana, M. F., Sulaksana, N., & Tintin, E.
(2018). Profil Endpan Laterit Nikel Di Pomalaa, Kabupaten Kolaka,
Provinsi Sulawesi Tenggara. Buletin Sumber Daya Geologi, 13, 84-105.
KCMI. (2017). Kode-KCMI. Jakarta: Perhapi.
Kennedy, B. A. (2009). Surface Mining . USA: Society for Mining, Metallurgy,
and Exploration, Inc. (SME). ISBN: 978-14822-2117-6.
67
Kurniawan , A., Nasrudin, D., & Nurhasan, R. (2021). Rancangan teknis
Penambangan Bijih Nikel pada Daerah BlokC PT. XYZ Desa Boenaga,
Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi tenggara.
Journal Riset Teknik Pertambangan, 101-06.
Prinandi, A. R. (2015). Perencangan (Design) Pit Ef Pada Penambamgan Batubara
Di PT. Indonesia Mining Desa Sungai Merdeka, Kecamatan Saboja,
Kabupaten Kutai Kartanegara Profinsi Kalimantan Timur. Prosiding
Teknik Pertambangan, 101-109.
Rahmi, F., & Yulhendra, D. (2019). Optimalisasi Pit Limit Penambangan Mineral
Nikel Laterit PT ANTAM Tbk. Unit Bisnis Penambangan Nikel Di Site
Pomalaa Sulawesi Tenggara Di Front X. Jurnal Bina Tambang, 3. No.2,
294-305. ISSN: 2302-3333.
Revuelta, M. B. (2015). Mineral Resource. Madrid, Spain: Faculty of Geology
Madrid, Spain. ISBN: 978-3-319-58760-8.
Rohmaningrum, D. Y., & Rohman, J. M. (2020). Cut Off Grade Nikel Laerit Pada
Pit A PT. Anugrah Sukses Mining. 20-25: INTAN: Jurnal Penelitian
Tambang.
Sidiq, H., & Pusvito, I. (2017, November). Penentuan Pit Limit Penambangan
Batubara Dengan Metode Lerchs-Grossmann Menggunakan 3DMine
Software. Kurvateka, 2. No 1, 67-72.
Sugiono, & Yulhendra, D. (2019). Rancangan Teknis Penambangan Batukapur
pada WIUP OP 412 Ha di PT Semen Padang. Jurnal Bina Tambang, 233246.
Supandi, Sidiq, H., & Putra, B. P. (2023). Buka Ajar Perencanaa Tambang.
Yogyakarta: Deepublish. ISBN: 978-623-02-6386-6.
Surono. (2013). Geologi Lengan Tenggara Sulawesi. (N. Suwarna, H.
Panggabean, & A. Kurnia, Eds.) Bandung: Badan Geologi, Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral. ISBN: 978-979-18509-9-5.
68
LAMPIRAN
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )