PERAN PSIKOLOG FORENSIK DALAM MELAKUKAN CRIMINAL PROFILING PADA PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN Azrina Rahmadhani Harahap Program Studi Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang Email: azrinarahmadhani11@gmail.com Abstrak Psikolog forensik memainkan peran penting dalam proses penyidikan tindak pidana pembunuhan, khususnya melalui investigasi kriminal dengan metode criminal profiling. Criminal profiling memungkinkan penyidik untuk menganalisis karakteristik fisik, demografis, dan psikologisnya. Profil ini disusun dengan menganalisis bukti fisik, pemahaman korban (victimology), modus operandi, dan jejak pelaku (signature). Misalnya dalam kasus Ryan Jombang. Mereka menggunakan analisis TKP, wawancara mendalam, dan tes psikologi untuk mengidentifikasi motif, memahami kepribadian, serta mengevaluasi kondisi mental pelaku. Kata kunci: psikolog forensik, criminal profiling, penyidikan, pembunuhan Abstract Forensic psychologists play an important role in homicide investigations, particularly through criminal profiling. Criminal profiling allows investigators to analyze physical, demographic and psychological characteristics. This profile is created by analyzing physical evidence, victimology, modus operandi, and the perpetrator's signature. For example, in the Ryan Jombang case. They used crime scene analysis, in-depth interviews, and psychological tests to identify motives, understand personality, and evaluate the perpetrator's mental state. Keywords: forensic psychologist, criminal profiling, investigation, homicide 1 PENDAHULUAN Fenomena perkembangan tindak pidana merupakan sebuah realitas yang terus berlangsung dari waktu ke waktu. Perubahan zaman, perkembangan teknologi, dan dinamika sosial turut berperan dalam memunculkan berbagai jenis kejahatan baru dan memperbarui pola-pola kejahatan yang sudah ada (James et al., 2018). Syam et al. dalam (Rahmawati & Pusvitasari, 2021) mengatakan bahwa salah satu tindak pidana yang masih menjadi perhatian utama dan sering terjadi hingga saat ini adalah pembunuhan. Pembunuhan merupakan kejahatan yang tidak manusiawi karena merampas nyawa manusia secara paksa, baik dengan unsur kesengajaan maupun kelalaian (Sinaga, 2022). Dalam kasus pembunuhan, minimal terdapat dua orang yang terlibat, yaitu pelaku yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain dan korban yang kehilangan nyawanya (Dariando et al., 2023). Firandri (2023) juga menyatakan pembunuhan sebagai bentuk kejahatan yang melibatkan nyawa orang lain. Sehingga pembunuhan merupakan tindakan sengaja untuk menghilangkan nyawa orang lain yang memerlukan serangkaian tindakan yang mengakibatkan kematian, dengan syarat bahwa kesengajaan dari pelaku ditujukan untuk mengakibatkan kematian orang tersebut. Tindak pidana menghilangkan nyawa orang lain ini masih menjadi sumber kekhawatiran dan ketakutan di kalangan masyarakat. Tindak pidana pembunuhan memiliki ancaman hukuman yang cukup berat karena dianggap sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Sebagai negara yang mematuhi prinsip-prinsip HAM, Indonesia mengkategorikan pembunuhan sebagai pelanggaran HAM berat yang termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Sesuai dengan Pasal 4 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil (Qamar, 2019). 2 Pengaturan terkait pembunuhan di Indonesia tercantum dalam Pasal 338 hingga Pasal 350 BAB XIX Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pembunuhan yang merupakan kejahatan terhadap nyawa ini disebut delik materiil, di mana suatu tindakan dianggap selesai dan memerlukan adanya akibat dari tindakan tersebut. Dengan kata lain, seseorang hanya dapat dikenai hukuman sesuai pasal yang berkaitan dengan pembunuhan jika korban telah meninggal akibat tindakan tersebut (Handoko, 2018). Tindak pidana pembunuhan yang melanggar HAM tentu saja dapat mengancam keselamatan masyarakat, sehingga penting untuk segera menangkap pelaku setelah melakukan perbuatannya. Maka itu, untuk menangkap pelaku pembunuhan diperlukan tindakan penyidikan yang efektif. Penyidikan tindak pidana pembunuhan merupakan salah satu aspek yang paling krusial dalam penegakan hukum, karena keberhasilannya tidak hanya menyangkut keadilan bagi korban dan keluarganya, tetapi juga mencegah terjadinya tindakan yang sama di masa mendatang. Firandri (2023) menjelaskan bahwa salah satu tahap penegakan hukum yang dilakukan penegak hukum untuk menjamin rasa aman masyarakat adalah tahap penyidikan. Pada tahap ini, penegak hukum bertugas untuk memastikan apakah suatu tindak pidana benar terjadi dengan melakukan konfirmasi dan penyelidikan yang cermat. Setelah tahap penyelidikan selesai dan terkonfirmasi bahwa suatu perkara merupakan tindak pidana maka tahap penyidikan dimulai, di mana penyidik akan secara aktif mencari dan mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan. Pasal 1 ayat (2) KUHAP dijelaskan bahwa penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangkanya. Pasal ini dengan jelas menyatakan dimensi penyidikan dimulai saat terjadi tindak pidana, sehingga melalui proses penyidikan diketahui keterangan yang mencakup aspek-aspek seperti: 1) Jenis dan kualifikasi tindak pidana yang telah dilakukan; 2) Tempat tindak pidana dilakukan; 3) 3 Waktu tindak pidana dilakukan; 4) Cara tindak pidana dilakukan; 5) Alat yang dipakai saat tindak pidana dilakukan; 6) Latar belakang sampai tindak pidana itu dilakukan; 7) Siapa pelaku yang bertanggung jawab atas tindak pidana yang terjadi (Annisa & Saini, 2022). Proses penyelidikan ini umumnya dilakukan oleh para penyidik dari pihak kepolisian. Namun, dalam beberapa jenis kejahatan, penyidik dari instansi lain juga dapat berkontribusi. Pengaturan mengenai penyidik diatur dalam Pasal 6 dan Pasal 7 BAB IV Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Harun, 2023). Ketika memasuki tahap penyidikan, penyidik akan menggunakan berbagai metode untuk mendukung proses penyidikan. Salah satu metode yang umum digunakan adalah metode criminal profiling, yang merupakan metode yang lahir dari ilmu psikologi forensik (Firandri, 2023). Woodsword & Porter dalam (Kaloeti et al., 2019) menerangkan bahwa criminal profiling merupakan pemeriksaan bukti dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), korban, dan saksi dalam rangka mendeskripsikan perilaku kejahatan dengan akurat secara psikologis yang biasanya berkaitan dengan psikopatologi dan kepribadian. Profiling yang dilakukan menekankan pada kepribadian dan motif yang mendasari perilaku seseorang dalam melakukan tindak kejahatan terhadap korban. Selain itu, faktor fisik dan demografis seperti usia, jenis kelamin, etnis atau ras, tinggi, dan berat badan juga dianggap penting. Bahkan ciri khusus seperti kidal pun dipertimbangkan. O’Toole dalam (Firandri, 2023) juga mengatakan bahwa criminal profiling adalah suatu pekerjaan yang menyimpulkan rincian ciri-ciri fisik (tinggi dan berat badan, cacat rupa, dan sebagainya), demografis (usia, jenis kelamin, latar belakang, etnis, dan sebagainya), dan keperilakuan (berupa kepribadian, mencakup motivasi, gaya hidup, fantasi, proses seleksi korban, serta perilaku sebelum dan prediksi perilaku sesudah tindak kejahatan) dari potensi pelaku kejahatan berdasarkan tindakannya di tempat kejadian kejahatan. Criminal profiling ini merupakan salah satu teknik investigasi kriminal yang menjawab permasalahan dari sulitnya tugas psikolog forensik dalam 4 pembuktian suatu perkara kejahatan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan criminal profiling dalam proses penyidikan, khususnya kasus pembunuhan, menjadi bukti nyata terjalinnya interaksi antara bidang ilmu psikologi dan hukum yang semakin meluas dan berkembang secara terus-menerus (Wicaksana & Nurhadiyanto, 2024). Di sinilah pentingnya kehadiran ilmu psikologi sebagai keilmuan yang terintegrasi antara bidang kejiwaan dan hukum, menjadi sangat relevan. Oleh karena itu, para penyidik dari pihak kepolisian dapat meminta bantuan kepada psikolog forensik dalam menyelesaikan suatu perkara kejahatan, termasuk kasus pembunuhan (Rahmawati & Pusvitasari, 2021). Sejalan dengan itu, pendapat Sulmustakim (2021) juga memperkuat peran psikolog forensik dalam penyidikan. Dirinya menjelaskan bahwa dalam proses penyidikan, penyidik harus menjalankan penyelidikan secara detail, termasuk pemeriksaan terhadap tersangka. Jika penyidik mengalami kesulitan dalam memahami aspek kejiwaan pelaku, terutama dalam kasus-kasus kompleks seperti pembunuhan, mereka dapat meminta bantuan dari psikolog forensik untuk melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan pemahaman yang lebih mendalam tentang latar belakang psikologis pelaku, modus operandi, dan potensi motif di balik kejahatan yang dilakukan. Di samping itu, jika dilihat dari tahapan proses penegakan hukum, psikologi memegang peran dalam empat tahap, yaitu pencegahan (deterrent), penanganan (pengungkapan dan penyidikan), pemindahan, dan pemenjaraan. Sedangkan dalam tahap operasionalnya, tugas-tugas psikolog forensik yaitu melakukan autopsi psikologi, wawancara investigasi terhadap pelaku dan saksi, serta melakukan criminal profiling (Sopyani & Edwina, 2021). Dengan demikian, sudah jelas bahwa psikolog forensik dapat berkontribusi dalam tahap penyidikan dengan melakukan criminal profiling sebagai salah satu teknik investigasi kriminal. Criminal profiling memungkinkan penyidik untuk melihat kasus lebih dalam dengan menganalisis pola perilaku, karakteristik psikologis, dan motif perilaku. 5 Dengan adanya pemahaman yang mendalam mengenai pelaku dapat membantu penyidik dalam mengarahkan penyelidikan, menemukan buktibukti yang relevan hingga membawa pelaku ke pengadilan. Berdasarkan penjelasan di atas, penting untuk mengetahui lebih dalam pentingnya criminal profiling dalam proses penyidikan tindak pidana pembunuhan oleh psikolog forensik. KAJIAN TEORI A. Psikolog Forensik Meskipun banyak yang masih meragukan, psikologi forensik bukan sekadar ilmu untuk mewawancarai mayat dan menjawab tekateki kejahatan. Secara etimologis, kata “forensik” berasal dari bahasa Latin “forensis” yang berarti “forum”. Forum dalam konteks ini merujuk pada budaya Romawi Kuno, di mana masyarakat berkumpul untuk menyelesaikan permasalahan. Seiring waktu, forum kemudian diartikan sebagai pengadilan (Huss, 2014). Berdasarkan konteks inilah psikologi forensik dirumuskan, yaitu penerapan ilmu psikologi dalam sistem peradilan pidana. Psikolog forensik membantu penegak hukum untuk memahami motif pelaku, dampak psikologis kejahatan, dan memberikan kesaksian ahli di pengadilan. Dengan kata lain, psikolog forensik berperan penting dalam mewujudkan sistem peradilan yang adil dan transparan (Kaloeti et al., 2019). Psikolog forensik merupakan profesional psikologi forensik yang memiliki peran krusial dalam sistem peradilan pidana. Keahlian mereka terfokus pada pengumpulan, analisis, dan interpretasi data psikologis (Sopyani & Edwina, 2021). Kaloeti et al. (2019) menyimpulkan bahwa psikolog forensik merupakan profesi yang berperan penting dalam menjembatani psikologi dan hukum. Memiliki aktivitas yang luas dan kompleks, mencakup berbagai isu psikologis yang relevan dengan hukum pidana dan hukum perdata. 6 Lebih rinci, peran psikolog forensik, seperti: (1) Sebagai peneliti; (2) Konsultan bagi proses penegakan hukum; (3) Konsultan dalam pengadilan; (4) Evaluator forensik dan saksi ahli; dan (5) Memberi pertimbangan psikologis bagi proses banding dan legislasi. Mengingat luas dan kompleksnya ranah kerja psikolog forensik, terdapat beberapa spesialisasi yang memungkinkan peran profesional ini untuk mendalami berbagai aspek psikologis dalam hukum, seperti: (1) Psikolog forensik sebagai klinis; (2) Psikolog forensik sebagai peneliti; dan (3) Psikolog forensik sebagai ahli hukum (Bartol & Bartol, 2018). Dengan demikian, psikolog forensik merupakan profesional psikologi forensik yang bertanggungjawab pada isu-isu psikologis baik dalam ranah hukum pidana maupun perdata. B. Criminal Profiling Criminal profiling pada dasarnya bertujuan untuk mengungkapkan motivasi dan pola pikir di balik tindakan kriminal seorang pelaku. Criminal profiling ini berusaha mengidentifikasi ide atau fantasi yang mendorong pelaku melakukan kejahatan tertentu. Selain itu, criminal profiling juga menjelaskan strategi, metode dan pola perilaku dalam melancarkan aksinya. Hal ini mencakup cara memilih dan mempersiapkan korban, modus operandi, dan upaya pelaku untuk menghilangkan jejak atau bukti (Wicaksana & Nurhadiyanto, 2024). Criminal profiling juga memprediksi perilaku pelaku setelah kejadian yang mencakup kemungkinan pelaku untuk mengulangi kejahatan, responnya terhadap media massa, dan interaksinya dengan penegak hukum (Holmas & Holmas, 2008). Sedangkan Dariando et al. (2023) menyimpulkan bahwa pembuatan criminal profiling melibatkan analisis bukti fisik di TKP, pemahaman korban (victimology), modus operandi (terencana atau tidak), dan jejak pelaku yang sengaja ditinggalkan (signature) untuk mengidentifikasi dan menangkap pelaku. 7 Margaretha dalam (Hozeng et al., 2021) mendefinisikan criminal profiling sebagai upaya merekonstruksi ciri-ciri kejahatan tidak teridentifikasi dengan prinsip ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. O’Toole dalam (Firandri, 2023) juga menyatakan criminal profiling sebagai proses untuk menyimpulkan dan menganalisis detail ciri-ciri pelaku kejahatan, yaitu mencakup ciri-ciri fisik (tinggi badan, berat badan, cacat rupa dan lainnya), demografi (usia, jenis kelamin, latar belakang etnis, dan lainnya), dan keperilakuan (kepribadian, termasuk motivasi, gaya hidup, fantasi, proses seleksi korban, serta perilaku sebelum dan prediksi perilaku sesudah tindak kejahatan berdasarkan aksi-aksinya di tempat kejadian perkara). Bahkan kidal sebagai ciri khusus pun dipertimbangkan (Kaloeti et al., 2019). Menurut Winerman dalam (Juneman, 2017), criminal profiling terdiri dari dua bentuk yaitu offender profiling dan crime action profiling. Offender profiling berdasarkan penelitian empiris (psikologi akademis) dan telah dikaji oleh rekan sejawat (peer-reviewed). Jenis profiling ini bertujuan untuk memahami karakteristik pelaku kejahatan berdasarkan cara mereka berinteraksi dengan korbannya. Interaksi ini dapat dikategorikan berdasarkan modus operandi pelaku, seperti kontrol seksual, mutilasi, eksekusi, atau perampasan. Di sisi lain, crime action profiling merupakan basis pengetahuan yang dikembangkan oleh para ahli psikolog forensik, psikiater, dan kriminolog berdasarkan studi mendalam terhadap pelaku pemerkosaan. Kocsis dalam (Dariando et al., 2023) menjelaskan bahwa hasil criminal profiling berbeda dengan analisis kepribadian (personality profile) dan analisis psikologi (psychological profile). Analisis kepribadian dan analisis psikologi ini lebih fokus pada aspek internal individu seperti watak, kecenderungan emosional, dan motif, sedangkan criminal profiling menekankan pada modus operandi dan pemikiran pelaku dalam konteks kejahatan yang mereka lakukan. 8 Menurut Koentjoro dalam (Muti’ah, 2015), pemahaman criminal profiling pelaku dapat dilakukan dengan mempertimbangkan tiga aspek, yaitu biologis, psikologis, dan sosial budaya. Aspek biologis terkait dengan struktur dan fungsi biologis individu, seperti kromosom, gen, hormon, kimiawi tubuh, dan tipe tubuh. Aspek psikologis berfokus pada faktor-faktor kejiwaan yang mendorong seseorang melakukan kejahatan, seperti masalah emosional, pola pikir dan penalaran, kebiasaan kriminal, serta kepribadian sosiopatik. Adapun aspek sosial budaya mempertimbangkan faktor-faktor sosial dan budaya yang memicu seseorang melakukan kejahatan, seperti teori deviasi budaya, aturan sosial, dan interaksi simbolik. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa criminal profiling merupakan proses untuk membangun gambaran lengkap tentang pelaku kejahatan, meliputi karakteristik fisik, demografis, dan psikologisnya. Profil ini disusun dengan menganalisis bukti fisik, pemahaman korban (victimology), modus operandi, dan jejak pelaku (signature). Informasi ini membantu penegak hukum dalam mengidentifikasi dan menangkap pelaku. Pemahaman criminal profiling membutuhkan analisis komprehensif yang mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, dan sosial-budaya pelaku. C. Penyidikan Pasal 1 ayat (2) KUHAP menerangkan bahwa penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Sedangkan Pasal 1 ayat (5) KUHAP menerangkan penyelidikan sebagai serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan 9 penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini (Annisa & Saini, 2022). Penjelasan di atas menunjukkan bahwa tahap penyidikan harus didahului dengan tahap penyelidikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Pasaribu et al. (2017) yang menyatakan bahwa penyelidikan merupakan langkah awal dari proses penyidikan. Afrialdo (2016) mempertegas bahwa penyelidikan merupakan tahap awal penyidikan yang tidak terpisahkan. Penyelidikan dilakukan untuk menentukan apakah suatu perbuatan merupakan tindak pidana atau tidak, dengan mengumpulkan bukti permulaan. Menurut Salam (2001), pengertian penyelidikan jika ditafsirkan secara bebas adalah serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah peristiwa tersebut perlu dilanjutkan ke tahap penyidikan sesuai dengan KUHAP. Penyelidikan ini penting karena menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, yaitu penyidikan, yang bertujuan untuk mengumpulkan bukti dan menetapkan tersangka. Lebih lanjut, Yahya (2017) menjelaskan bahwa tujuan adanya penyelidikan adalah untuk mengumpulkan bukti permulaan atau bukti yang cukup sebelum dilakukan tindakan penyidikan lebih lanjut. Penyelidikan berbeda dengan penyidikan. Penyelidikan dilakukan oleh pejabat penyelidik sebelum dilakukan tindakan penyidikan, sedangkan penyidikan dilakukan oleh penyidik setelah diterbitkannya surat perintah penyidikan. Penyelidik hanya dapat dilakukan oleh pejabat polisi negara Republik Indonesia, sedangkan penyidik dapat dilakukan oleh pejabat polisi dan pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang (Syahada & Alfarizi, 2019). Dapat disimpulkan bahwa penyelidikan merupakan serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah benar-benar 10 terjadi pelanggaran hukum dan mengungkap motif di baliknya. Sedangkan penyidikan merupakan tahap selanjutnya yang lebih fokus pada pengumpulan bukti-bukti kuat dan penetapan tersangka. Penyidik melakukan serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan bukti yang dapat menjadi dasar untuk menetapkan tersangka dan meneruskan proses hukum. Penyelidikan dan penyidikan merupakan dua tahap krusial dalam proses penegakan hukum pidana yang saling berkaitan dan melengkapi. D. Pembunuhan Secara Umum 1. Definisi Pembunuhan merupakan tindakan yang disengaja untuk mengakhiri ataupun menghilangkan nyawa seseorang. Selain itu, pembunuhan dianggap sebagai tindakan yang sangat terkutuk dan tidak memiliki belas kasihan. Dalam kejahatan pembunuhan, target utama pelaku adalah nyawa seseorang yang tidak ternilai harganya dan tidak dapat digantikan dengan apapun (Iriyanto & Halif, 2021). Rahmawati dalam (Dariando et al., 2023) juga mengatakan bahwa membunuh artinya ketika seseorang membuat orang lain mati atau kehilangan nyawa. Suatu kejadian pembunuhan melibatkan minimal dua pihak, yaitu pelaku yang sengaja merenggut nyawa orang lain, dan korban yang kehilangan nyawa akibat tindakan pelaku. Pendapat ini diperkuat oleh Mentari (2020) yang menerangkan pembunuhan sebagai tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk merenggut nyawa orang lain. Pelaku harus melakukan tindakan atau serangkaian tindakan yang berakibat fatal, dengan maksud dan tujuan untuk menghilangkan nyawa korban. Menurut Marpaung dalam (Yeni et al., 2017), menghilangkan nyawa berarti menghilangkan kehidupan manusia, yang secara umum disebut pembunuhan. 11 Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai tindak pidana pembunuhan apabila memenuhi unsur-unsur pembunuhan dalam pasal 338 KUHP sebagai berikut (Handoko, 2018): a. Perbuatan itu harus disengaja, dengan kesengajaan itu harus timbul seketika itu juga, ditunjukan maksud supaya orang itu mati. b. Melenyapkan nyawa orang lain itu harus merupakan yang “positif” walaupun dengan perbuatan yang kecil sekalipun. c. Perbuatan itu harus menyebabkan matinya orang, di sini harus ada hubungan kausal antara perbuatan yang dilakukan itu dengan kematian orang tersebut. Dengan demikian, pembunuhan secara umum diartikan sebagai tindakan yang disengaja untuk mengakhiri nyawa orang lain. Tindakan ini melibatkan serangkaian langkah yang berakibat fatal bagi korban. Untuk dikategorikan sebagai pembunuhan, suatu tindakan harus memenuhi unsur-unsur yang tercantum dalam Pasal 338 KUHP. 2. Jenis-jenis Pembunuhan Berdasarkan pernyataan Bassar dalam (Dariando et al., 2023), adanya 7 jenis pembunuhan sebagai berikut: a. Pembunuhan biasa (Pasal 338 KUHP) “Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”. b. Pembunuhan terkualifikasi (Pasal 339 KUHP) “Pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dan pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara 12 melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun”. c. Pembunuhan yang direncanakan (Pasal 340 KUHP) “Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama duapuluh tahun”. d. Pembunuhan anak (Pasal 341 KUHP) “Seorang ibu yang takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun”. e. Pembunuhan atas permintaan si korban (Pasal 344 KUHP) “Barangsiapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama duabelas tahun”. f. Membunuh diri (Pasal 345 KUHP) “Barangsiapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri”. g. Menggugurkan kandungan (Pasal 346 KUHP) “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”. 13 PEMBAHASAN Psikologi forensik yang merupakan perpaduan ilmu psikologi dan ilmu hukum menawarkan kontribusi signifikan dalam membantu proses hukum dan peradilan, yang dapat dimulai sejak proses penyelidikan dan penyidikan (Wulandari, 2023). Meskipun menawarkan kontribusi signifikan, keterlibatan psikolog forensik dalam proses hukum dan peradilan masih terbatas pada kasus-kasus besar dan kompleks. Hal ini disebabkan karena belum selarasnya hubungan antara psikologi dan hukum. Bidang hukum belum sepenuhnya memahami peran penting psikologi dalam proses peradilan, sehingga psikolog forensik belum dapat memaksimalkan potensinya (Fahlevi et al., 2024). Agar kontribusi psikologi dalam hukum (psychology in law) dapat optimal, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam dari bidang hukum terhadap peran psikologi dalam proses hukum dan peradilan. Diperlukan sikap terbuka dan kemauan dari penegak hukum untuk menjalin kerjasama sinergis dengan ahli psikologi. Pada saat yang sama, ahli psikologi juga harus memahami proses dan terminologi penegakan hukum secara mendalam. Dengan terjalinnya komunikasi dan kerjasama yang solid, psikolog forensik dapat menunjukkan kontribusi optimalnya dalam membantu menyelesaikan kasus kejahatan (Jaenudian, 2017). Salah satu aplikasi psikologi forensik adalah criminal profiling, yaitu usaha ilmiah untuk menyediakan informasi terkait karakteristik fisik, demografis, dan psikologisnya. Profil ini disusun dengan menganalisis bukti fisik, pemahaman korban (victimology), modus operandi, dan jejak pelaku (signature). Sehingga usaha ini membantu penegak hukum dalam mengidentifikasi dan menangkap pelaku. Salah satu contoh krusial peran psikolog forensik dalam mengungkap kasus kejahatan adalah kasus Ryan Jombang di tahun 2006. Keahlian mereka dalam criminal profiling membantu penyidik menelusuri jejak pelaku dan 14 mengungkap motif di balik aksinya yang keji. Melansir dari kumparan.com yang ditulis oleh Fathiyah (2021), ulasannya dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Deskripsi singkat: Kasus yang menggemparkan Indonesia pada tahun 2006-2008, menjadi salah satu peristiwa kelam dalam sejarah kejahatan Tanah Air. Psikolog forensik memiliki peran penting dalam kasus pembunuhan berantai yang membunuh sepuluh orang nyawa tersebut. Mereka membantu penyidik menelusuri jejak pelaku dan mengungkap motif di balik tindakannya yang mengerikan. b. Analisis psikolog forensik: Para psikolog forensik terlibat dalam kasus ini melakukan berbagai analisis, antara lain: 1) Analisis TKP dan pola kejahatan: Psikolog forensik mempelajari detail TKP dan pola kejahatan Ryan Jombang untuk memahami modus operandi dan kemungkinan motifnya. 2) Wawancara dengan pelaku dan orang terdekat: Wawancara ini dilakukan dalam upaya mendapatkan informasi terkait latar belakang Ryan, riwayat pribadinya, hubungannya dengan orang lain, dan pola pikirnya. 3) Tes Psikologi: Tes psikologi dilakukan dalam rangka menilai kondisi mental dan kepribadian Ryan Jombang, termasuk tingkat agresivitas, kontrol diri, dan empati. c. Temuan psikolog forensik: Berdasarkan analisis yang dilakukan, psikolog forensik menyimpulkan beberapa hal penting terkait Ryan Jombang, di antaranya: 1) Motif: Ryan Jombang didorong oleh beberapa motif kompleks untuk melakukan pembunuhan, termasuk rasa dendam, kemarahan, dan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan kekuasaan. 2) Kepribadian: Hasil tes psikologi memperlihatkan bahwa Ryan Jombang memiliki gangguan kepribadian antisosial. Hal ini ditandai dengan dirinya yang manipulasi, impulsivitas, dan kurangnya empati terhadap orang lain. 15 3) Kondisi Mental: Ketika melakukan pembunuhan, Ryan Jombang tidak memperlihatkan tanda-tanda gangguan mental yang parah, Dirinya sadar akan perbuatannya dan mampu merencanakan aksinya. Dengan demikian, psikolog forensik memainkan peran penting dalam criminal profiling pada penyidikan tindak pidana pembunuhan, seperti dalam kasus Ryan Jombang. Mereka menggunakan analisis TKP, wawancara mendalam, dan tes psikologi untuk mengidentifikasi motif, memahami kepribadian, serta mengevaluasi kondisi mental pelaku. Melalui pendekatan ini, psikolog forensik dapat memberikan wawasan yang mendalam kepada penyidik, membantu mengungkap jejak pelaku, dan menggambarkan profil psikologis yang relevan. Hal ini menunjukkan pentingnya kontribusi psikolog forensik dalam membantu memecahkan kasus-kasus kriminal yang kompleks dan membawa keadilan kepada masyarakat. KESIMPULAN Psikolog forensik memainkan peran penting dalam proses penyidikan tindak pidana pembunuhan, khususnya melalui investigasi kriminal dengan metode criminal profiling. Criminal profiling memungkinkan penyidik untuk menganalisis karakteristik fisik, demografis, dan psikologisnya. Profil ini disusun dengan menganalisis bukti fisik, pemahaman korban (victimology), modus operandi, dan jejak pelaku (signature). Pemahaman criminal profiling membutuhkan analisis komprehensif yang mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, dan sosial-budaya pelaku. Dengan pemahaman yang mendalam ini, penyidik dapat mengarahkan penyelidikan dan mengumpulkan bukti yang relevan untuk memastikan keberhasilan penegakan hukum. Oleh karena itu, kolaborasi antara psikolog forensik dan penegak hukum menjadi krusial dalam menangani kasus-kasus pembunuhan, demi mencapai keadilan bagi korban dan masyarakat secara keseluruhan. 16 DAFTAR PUSTAKA Afrialdo, M. (2016). Pelaksanaan Penyelidikan Dan Penyidikan Perkara Pidana Oleh Kepolisian Terhadap Laporan Masyarakat Di Polisi Sektor Lima Puluh. JOM Fakultas Hukum, 3(2), 1–15. Annisa, F., & Saini, Y. (2022). Hukum Acara Pidana. Padang: LPPM Universitas Bung Hatta. Bartol, C. R., & Bartol, A. M. (2018). Pengantar Psikologi Forensik Riset Dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dariando, G., Hendrawan, Y., Alfisri, A. F., & Farij, I. (2023). Criminal Profiling Kasus Pembunuhan Dan Pemerkosaan Studi Kasus Eno Farihah. Jurnal Publikasi Ilmu Hukum, 1(2), 214–233. https://doi.org/10.59581/deposisi.v1i2.588 Fahlevi, R., Retnoningtias, D. W., Pranajaya, S. A., Astuti, S. W., Rochma, I., Hardika, I. R., & Nur, H. (2024). Psikologi Terapan. Padang: Get Press Indonesia. Fathiyah, A. (2021). Peran Psikologi Forensik Dalam Kasus Pengadilan Mati Ryan Jombang. Kumparan.com. https://m-kumparancom.cdn.ampproject.org/v/s/m.kumparan.com/amp/amira-fathiyah/peranpsikologi-forensik-dalam-kasus-pengadilan-mati-ryan-jombang1vvKGXQA8S2?amp_gsa=1&amp_js_v=a9&usqp=mq331AQIUAKwASC AAgM%3D#amp_tf=Dari %251%24s&aoh=17190712859603&referrer=https%3A%2F%2Fwww.goog le.com&ampshare=https%3A%2F%2Fkumparan.com%2Famirafathiyah%2Fperan-psikologi-forensik-dalam-kasus-pengadilan-mati-ryanjombang-1vvKGXQA8S2 Firandri, A. C. (2023). Penerapan Metode Pemrofilan Kriminal Dalam Proses Penyidikan Tindak Pidana Pembunuhan Dengan Motif Seksual Di Wilayah Hukum Kepolisian Daerah Riau. JOM Fakultas Hukum Universitas Riau, X(2), 1–13. Handoko, D. (2018). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pekanbaru: HAWA dan AHWA. Harun, R. (2023). Hukum Acara Pidana Indonesia (Edisi Revisi). Jakarta: Sinar Grafika. Hazeng, P., Sugianto, F., & Michael, T. (2021). Telaah Profiling Subjek Huukum Yang Terkait Tindak Pidana Kriminalitas. Jurnal Penelitian Hukum, 1(02), 1– 11. https://aksiologi.org/index.php/courtreview/article/view/5 Holmas, R. M., & Holmas, S. T. (2008). Profiling Violent Crimes: An Investigative Tool (4 ed.). USA: Sage Publications. Huss, M. . (2014). Forensic Psychology: Research, Clinical Practice, And Applications. New York: John Wiley & Sons. Iriyanto, E., & Halif, H. (2021). Unsur Rencana Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana. Jurnal Yudisial, 14(1), 19. https://doi.org/10.29123/jy.v14i1.402 Jaenudian, U. (2017). Psikologi Forensik. Bandung: CV PUSTAKA SETIA. James, G., Vinet, L., & Zhedanov, A. (2018). Pengantar Krimonologi. In Journal 17 of Physics A: Mathematical and Theoretical (Vol. 44, Nomor 8). Gilad James Mystery School. https://doi.org/10.1088/1751-8113/44/8/085201 Juneman. (2017). Mempertanyakan Pemrofilan Kriminal sebagai Sebuah Ilmu Psikologis. Psikobuana, 1(1), 13–28. Kaloeti, D. V. S., Indrawati, E. S., & Alfaruqy, M. Z. (2019). Psikologi Forensik. Yogyakarta: Psikosain. Mentari, B. M. R. (2020). Saksi Pidana Pembunuhan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan Hukum Islam. Al-Ishlah: Jurnal Ilmiah Hukum, 23(1), 1–38. https://doi.org/10.56087/aijih.v23i1.33 Muti’ah, T. (2015). Criminal Profiling Pelaku Eksploitasi Seksual pada Anak di Yogyakarta. Jurnal Sosiohumaniora, 1(1), 12–26. https://doi.org/10.30738/sosio.v1i1.514 Qamar, N. (2019). Hak Asasi Manusia Dalam Negara Hukum Demokrasi: Human Rights In Democratiche. Makasaar: Sinar Grafika. Rahmawati, D., & Pusvitasari, P. (2021). Peran Psikologi Forensik dalam Melakukan Investigasi dan Penanganan pada Kasus Pembunuhan. Buletin KPYN, 7(24). https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/936-peranpsikologi-forensik-dalam-melakukan-investigasi-dan-penanganan-padakasus-pembunuhan Salam, M. F. (2001). Hukum Acara Pidana dalam Teori & Praktek. Mandar Maju. Sinaga, H. (2022). Analisis Yuridis Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Sebagai Justice Collaborator Menurut Hukum Pidana Di Indonesia Juridical Analysis Of People Of The Crime Of Planning Murder As Justice Collaborators According To Criminal Law In Indonesia. IBLAM School of Law, 2(3), 191–204. Sopyani, F. M., & Edwina, T. N. (2021). Peranan Psikologi Forensik Dalam Hukum Di Indonesia. Jurnal Psikologi Forensik Indonesia, 1(1), 46–49. Sulmustakim, A. (2021). Kedudukan Psikologi Forensik Dalam Penanganan Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan Dengan Kekerasan Terhadap Anak. 6(1), 1–7. Syahada, R. N., & Alfarizi, M. A. (2019). Kewenangan Penyidik Pegawan Negeri Sipil (PPNS) Keimigrasian dalam Melaksanakan Penyelidikan dan Penyidikan Sebagai Upaya Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Keimigrasian. Journal Of Law and Border Protection, 1(2), 59–71. Wicaksana, P. C. K., & Nurhadiyanto, L. (2024). Analisis Criminal Profiling Terhadap Pelaku Pembunuhan Berencana Berbasis General Theory Of Crime. UNES LAW REVIEW, 6(4), 9862–9875. Wulandari, N. G. A. A. M. T. (2023). Istri Sebagai Pelaku Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga : Suatu Kajian Kriminologis. Open Journal Systems, 18(4), 875–886. Yahya, M. (2017). Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta: Sinar Grafika. Yeni, F., Putra, A. A., & Rahayuningsih, T. (2017). Pemrofilan Kriminal Pelaku Pembunuhan Berencana. Psychopolytan (Jurnal Psikologi), 1(1), 1–10. http://jurnal.univrab.ac.id/index.php/psi/article/view/933 18
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )