1. GRATITUDE Apa itu syukur (gratitude)? Syukur merupakan bagian yang mendasar dan penting bagi kehidupan manusia. Syukur juga merupakan inti dari pengalaman spritual dan religius bagi sebagian umat beragama (Emmons, 2002). Dalam ajaran agama-agama di dunia, seperti Islam, Yahudi, Kristen, Buddha, dan Hindu, bahwa syukur memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia. Misalnya, Cicero (Pro Plancio) mengatakan bahwa rasa syukur merupakan induk dari semua kebajikan. Ajaran Buddha juga menyebutkan bahwa manusia yang mulia adalah yang bersyukur. Penulis kebangkitan Kristen seperti Thomas a Kempis, Thomas Aquinas, dan Bernard dari Clairvaux, menyatakan bahwa kebajikan dalam syukur adalah berterima kasih. Dalam agama Islam, syukur merupakan salah satu sifat Allah, maka itu barang siapa yang mampu meneladani sifat tersebut, akan mendapatkan kedudukan yang terpuji di sisi Allah (Shihab, 2013). Syukur juga merupakan budaya dari berbagai bangsa, misalnya “sumimasen”, berupa budaya permintaan maaf masyarakat Jepang untuk mengekspresikan perasaan terima kasih. Kapan kajian syukur (gratitude) mendapatkan perhatian? Latar belakang syukur (gratitude) Menurut Emmons dan Crumpler, awalnya syukur yang merupakan salah satu bentuk kebajikan, kurang mendapatkan perhatian dalam ilmu psikologi, meskipun nilai-nilainya terdapat dalam setiap bahasa dan agama-agama besar yang menekankan pentingnya rasa syukur dalam setiap kehidupan. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, kajian syukur mulai mendapatkan perhatian yang serius dari para akademisi dan psikolog. Syukur merupakan salah satu kajian dalam psikologi positif, yang menempatkannya sebagai emosi positif yang berperan penting dalam membentuk perilaku manusia, terutama dalam mencapai kebahagiaan hidup. Dalam konsep psikologi yang berkembang di Barat, syukur diterjamahkan dengan kata gratitude, yang memiliki akar dari bahasa latin gratia. Jika diterjemahkan secara bebas berarti “grace” (rahmat), “graciousness” (keanggunan), dan “gratefulness” (rasa berterima kasih) (Burton, 2014). Makna lain dari gratia, yaitu kebaikan hati (favor) atau pujian (pleasing). Akar kata tersebut terus berkembang, mengarah pada pengertian kebaikan, kemurahan hati, pemberian, keindahan memberi dan menerima, atau mendapatkan sesuatu tanpa pamrih atau imbalan (Emmons & Stern, 2013). Siapakah pakar terkemuka dari psikologi positif? Peterson dan Seligman (2004), pakar terkemuka psikologi positif, mendefinisikan gratitude sebagai: “a sense of thankfulness and joy in response to receiving a gift, whether the gift be a tangible benefit form specific other or a moment of peaceful bliss evoked by natural beauty”. Syukur adalah sebuah respon perasaan penuh terima kasih dan rasa senang ketika menerima sebuah pemberian, baik sesuatu yang jelas manfaatnya dari momen tertentu maupun keadaan berkah dan damai yang ditimbulkan oleh keindahan alam. Bagaimana orang yang dikatakan bersyukur (gratitude)? Sehingga, individu yang dikatakan bersyukur yaitu ketika individu mampu menghargai kebaikan atau manfaat yang diberikan oleh pihak lain, baik yang bersifat personal (orang) maupun impersonal (alam, Tuhan, kosmos atau hewan). Kemampuan dalam menghargai kebaikan atau manfaat yang diberikan oleh orang lain merupakan salah satu ciri orang yang mampu mengaktualisasikan dirinya. Sesuai dengan pernyataan Maslow, salah satu karakteristik individu yang mampu mengaktualisasikan diri adalah individu yang mampu menghargai kehidupannya. Oleh karena itu, orang yang bersyukur adalah orang yang mampu menghargai kehidupan dan pengalaman hidup sehari-hari. Maslow juga percaya, hidup akan menjadi lebih baik jika seseorang mampu menghitung nikmat (bersyukur) sebagai bentuk aktualisasi diri. Mengapa syukur (gratitude) itu penting? (Secara ringkas, panjang, dan hasil penelitian) Sebuah pemaknaan mengenai rasa syukur yang lebih mendetail diberikan oleh “The Harvard Medical School”, bahwa “Syukur adalah apresiasi penuh terima kasih terhadap apa yang diterima oleh seseorang, baik itu yang dapat dilihat maupun tidak dapat dilihat. Dengan bersyukur, seseorang mengakui adanya kebaikan dalam kehidupan mereka, sebagai hasilnya bersyukur juga dapat membantu orang untuk terhubung dengan apa yang lebih besar dari mereka sebagai individu, bisa saja dengan orang lain, alam, ataupun kekuatan tertinggi” Karena bersyukur membantu kita terhubung dengan apa yang ada di luar kita, maka rasa syukur ini dapat membentuk hubungan sosial yang baru maupun memperkuat hubungan yang sudah ada. Rasa syukur juga dapat memotivasi seseorang, misalnya bersyukur karena masih diberi kehidupan adalah salah satu jalan untuk memotivasi seseorang dalam menjadi hari dengan lebih baik. Kondisi-kondisi yang memungkinkan syukur (gratitude) itu hadir 1. Persepsi akan adanya niat baik orang lain untuk berbuat baik pada kita. Jika kita mempersepsikan bahwa seseorang telah memiliki niat baik yang tulus untuk memberikan kindness (kebaikan), love, (cinta) compassion (kasih sayang), atau bantuan alturistik (menolong secara murni), maka niat baik itu saja kadang sudah cukup membangkitkan gratitude, meskipun misalnya pemberian dari orang lain tidak terlaksana dengan sempurna. 2. Persepsi bahwa suatu perbuatan baik itu tidak dengan mudah dilakukan, tetapi membutuhkan pengorbanan dari si pemberi. Misalnya, jika seseorang memberikan sesuatu yang sangat bernilai, dalam artian hal itu tidak mudah untuk diperoleh si pemberi, maka pemberian itu adalah suatu pengorbanan yang akan memicu rasa syukur yang besar dari penerimanya. 3. Pemberian adalah hal yang bernilai tinggi bagi diri kita. Setiap orang memiliki area-area kehidupan yang sangat penting dan bernilai bagi diri mereka, dimana area kehidupan itu memiliki makna emosional yang besar. Ketika pemberian/ pertolongan berkaitan dengan area kehidupan yang bernilai tersebut, maka pemberian/ pertolongan itu terasa sangat berharga dan membangkitkan gratitude yang besar. Misalnya, seorang Ibu memandang bahwa anaknya jauh lebih berharga daripada apa pun, termasuk dirinya sendiri. Maka, pemberian/ pertolongan yang dapat menyelamatkan anaknya dari bahaya ataupun hal yang dapat membantu kemajuan masa depan anaknya, jauh lebih berharga dibandingkan bantuan yang membuat diri si Ibu lebih cantik. 4. Persepsi bahwa si pemberi telah memberi atau menolong tidak hanya karena kewajiban, atau si pemberi telah melebihi kewajibannya. Jika seseorang memiliki persepsi bahwa pemberian yang diberikan karena kewajiban si pemberi, umumnya si penerima tidak akan merasa bersyukur dan berterimakasih kepadanya. Misalnya, seseorang yang bukan keluarga atau sahabat kita, orang yang kurang kita kenal atau bahkan orang yang kurang kita sukai, yang tidak memiliki kewajiban menolong kita, memberikan bantuan/ pertolongan yang menyebabkan resiko besar bagi dirinya sendiri. Dalam peristiwa ini, kita akan lebih tersentuh oleh gratitude. Jadi gratitude, sebagai emosi positif adalah perasaan menyenangkan yang khas, yang akan membangkitkan perasaan dan motivasi tertentu, ketika menerima kebaikan dari pihak lain yang memperlihatkan niat yang tulus, membutuhkan pengorbanan, bernilai tinggi- tidak hanya sekedar karena kewajiban, dan juga ketika kebaikan itu bukan didapatkan dari usaha kita sendiri. Masih ada satu hal penting yang terkait dengan gratitude sebagai emosi positif, yaitu dapat memicu pelipatgandaan dan penyebarluasan kebaikan. Dari pemaparan manfaat yang telah dijelaskan di atas, mulai dari gratitude dapat: • • • membentuk hubungan sosial yang baru maupun memperkuat hubungan yang sudah ada membangkitkan perasaan dan motivasi tertentu pelipatgandaan dan penyebarluasan kebaikan Dimana kah ayat al-Qur’an yang memperlihatkan terkait bersyukur? Senada dengan manfaat gratitude dalam al-Qur’an yaitu akan “kembali kepada orang yang bersyukur”, sebab Allah Swt. sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya (Shihab, wawasan al-qur’an). Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. An-Naml 27: 40 ِ َقَا َل ا لَّذِ ي عِ نْ َد هُ عِ لْ م ِم ن ا لْكِ ت ك فَ لَ َّم ا َ اب أ َ ُك طَ ْرف َ ْيك بِهِ قَ بْ لَ أَ ْن يَ ْرتَ َّد إِلَي َ َِن آت َ ِ أَم أَ ْك فُ ُر َومَ ْن َش َك َر فَإِ ََّّنَا َ ََرآهُ مُ ْس تَقِ ًّرا عِ نْ َد هُ ق ْ َال ََٰه َذ ا ِم ْن ف ْ ض ِل َر ِّب ل يَ بْ لُ َوِن أَأَ ْش ُك ُر يَ ْش ُك ُر لِنَ ْف ِس هِ َومَ ْن َك َف َر فَإِ َّن َر ِّب غَ ِني َك رِي Artinya: Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab: “Aku akan datang kepadamu dengannya sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala dia melihatnya terletak di hadapannya, dia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur, Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. Orang yang mensyukuri nikmat Allah akan memperoleh kebaikan yang lebih besar dari apa yang diterima. Kebaikan tersebut akan kembali kepada diri sendiri. Allah yang akan memberi balasan kepada hambanya yang bersyukur dengan kebaikan berlipat ganda. Dapat dipahami bahwa orang yang bersyukur kepada Allah akan memperoleh kebaikan yang berlipat ganda untuk dirinya sendiri. Manusia yang meneladani sifat-sifat Tuhan dan mencapai peringkat terpuji ialah orang yang mampu memberi tanpa menanti balasan dari yang diberi (syukur) atau ucapan terima kasih. 2. FORGIVENESS Apa itu Forgiveness dan Siapa pakarnya? Michael McCullough, pakar dalam psychology of forgiveness, mendefinisikan forgiveness adalah ketika berkurangnya keinginan untuk menghindari, melukai atau membalas dendam kepada individu yang menyakiti kita, disertai meningkatnya belas kasih (compassion) dan keinginan untuk bertindak secara positif kepada orang tersebut. Atau dapat diartikan sebagai: “Suatu yang bersifat pribadi, proses internal yang secara sukarela melepas perasaan dan pikiran akan kebencian, kemarahan, serta keinginan untuk balas dendam terhadap seseorang yang menganiaya kita, bahkan termasuk diri kita sendiri”. Antonim dari forgiveness adalah unforgiveness. McCullough menerangkan bahwa unforgiveness atau tidak memaafkan, masih menyimpan dendam, dapat berupa pembalasan yang setimpal terhadap orang yang menyakiti kita atau menghindarinya. Kata “setimpal” di sini sangat subjektif, dan biasanya orang melakukan pembalasan dendam yang lebih berat daripada yang dirasakannya. Umumnya, suatu pembalasan akan memicu timbulnya dendam baru dari pihak pelaku yang menjadi korban pembalasan, dan dirinya pun akan menuntut pembalasan yang lebih kejam daripada yang dialaminya. Sehingga, pembalasan dendam dapat menimbulkan siklus balas-membalas (reciprocity cycle) yang tiada akhir. Bentuk lain unforgiveness, menghindari dari orang/ pihak yang menyakiti kita, bisa menghindar secara fisik (tidak mau menjumpainya), maupun menghindari secara psikologis (tidak mau mengingatnya, mengenalnya, ataupun merasakan emosi apa pun tentang orang itu. Unforgiveness, menghindari atau memutuskan relasi (cut off) merupakan bentuk represi yang benar-benar tidak menyelesaikan masalah, malah memperburuk. “Semakin kita membenci seseorang (meski tidak membalas dendam) semakin kita terikat secara emosional, paling tidak secara tidak sadar. Maka itu, rasa sakit tetap ada, sekalipun mungkin tidak disadari. Imam Setiadi Arif (2016) dalam bukunya Psikologi Positif menyebutkan bahwa “sakit emosional yang tidak disadari justru lebih berbahaya daripada yang disadari. Menghindar secara psikologis menghabiskan sangat banyak energi psikologis yang akhirnya mengurangi vitalitas dan kreativitas seseorang, bahkan dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental. Kapan seseorang dapat dikatakan “sudah memaafkan?” Orang yang memaafkan orang lain dengan sungguh ditandai ketika semakin berkurangnya keinginan untuk membalas dendam ataupun menghindar dari pihak yang menyakiti kita. Kedua hal itu, merupakan tanda positif bahwa seseorang semakin sembuh dari luka yang disebabkan oleh pelanggaran si pelaku. Artinya, ia semakin dapat menerima kenyataan pahit yang pernah terjadi dan berdamai dengannya, sehingga bahkan kehadiran si pelaku dalam kehidupannya sudah dapat ditoleransi. Selain kedua hal tadi, masih ada compassion (belas kasih) dan keinginan untuk berbuat baik (kindness), yang menjadi tanda lain yang menyertai suatu forgiveness. Adanya compassion berperan sebagai metode coping terbaik yang memungkinkan seorang korban dapat melalui derita yang dialami, memaafkan dan menyembuhkan dirinya dengan tuntas. Hal yang harus diperhatikan bahwa: Compassion tidak lah hasil dari suatu forgiveness yang tuntas, melainkan merupakan kapasitas yang memungkinkan terjadinya forgiveness itu sendiri. Jadi, bukan karena kamampuan saya yang luar biasa sehingga dapat berbelas kasih pada si pelaku, justru karena saya berbelas kasih maka dapat memaafkan si pelaku dan semakin tidak ingin membalas dan semakin tidak perlu menghindar dari si pelaku. Menumbuhkan compassion tentu tidak sesederhana mengatakannya, karena dibutuhkan kebijaksanaan untuk mengubah cara pandang “normal” yang menginginkan pembalasan dan dibutuhkan komitmen yang kuat untuk memelihara compassion itu. Satu lagi syarat penting untuk bisa terjadinya compassion yaitu pribadi itu sendiri mesti mengalami secara konkret bagaimana rasanya menerima compassion dari pihak lain, sehingga tidak hanya menjadi wacana yang indah semata, melainkan suatu pengalaman nyata. “Saya tahu bagaimana rasanya menjadi pihak yang menerima compassion, sehingga dapat memberikan compassion kepada orang lain”. Mengapa memaafkan itu penting? Karena dengan memaafkan kita dapat mengobati luka emosional yang diakibatkan oleh peristiwa yang menyakitkan. Semakin dapat menerima kenyataan pahit yang pernah terjadi dan berdamai dengannya, bahkan kehadiran si pelaku dalam kehidupannya sudah dapat ditoleransi. Selain itu, berbagai penelitian ilmiah telah menunjukkan beragam manfaat yang luar biasa dari forgiveness. • • • • Tingkat stres orang-orang yang mau memaafkan menjadi lebih rendah dan sikap hostility (bermusuhan) juga ikut berkurang, dimana kedua hal itu (stres dan hostility) merupakan pertanda perilaku tipe A, yang berkaitan erat dengan sakit jantung. Sehingga lebih terasa untuk orang lanjut usia, dimana orang yang mau memaafkan menjadi jarang mengalami nervousness, kegelisahan, dan kesedihan. Sangat baik terhadap relasi atau hubungan. Forgiveness ini berkaitan erat dengan terjalinnya relasi yang lebih bahagia, lebih menunjukkan komitmen, khususnya dalam relasi perkawinan. Jika seseorang tidak mau memaafkan, ternyata dapat mengganggu fungsi hormon dan menghambat respons tubuh untuk mengatasi bakteri, infeksi, dan berbagai gangguan kesehatan. Orang yang tidak mau memaafkan akan lebih sering mengalami konflik, emosi negatif, dan ketidakmauan untuk berkompromi. Bagaimana cara atau langkah-langkah dalam memaafkan? Everett L. Worthington, seorang profesor di bidang psikologi klinis mencoba memecahkan masalah unforgiveness. Dalam sebuah buku yang dia terbitkan (tahun 2001) “Five Steps to Forgiveness: The Art and Science of Forgiving”. R (Recall the hurt) Mengingat kembali luka itu. Untuk menyembuhkan, kia harus menerima kenyataan jika kita pernah atau masih terluka. Tahap ini kita membuat keputusan untuk memaafkan, tidak akan dendam dan tetap menjadi orang baik serta memperlakukan orang itu sebagaimana mestinya. E (Empathize with your partner) Tahap ini kita mencoba membayangkan diri kita berada di posisi orang lain. Mencoba berbicara dengannya, mengeluarkan semua isi hati. Empati menjadi hal penting untuk menjadi cara melepaskan amarah atau kekesalan yang tersimpan lama. A (Altruistic gift) Pemaafan dijadikan hadiah alturistik (murni) yang tidak mementingkan diri sendiri. C (Commit) Setelah memaafkan, kita mencoba menulis catatan untuk diri sendiri, sesuatu yang sederhana, seperti “Hari ini saya memaafkan (nama seseorang) setelah dia menyakiti saya. Hal itu bisa menjadi komitmen dan membantu pemaafan berjalan dengan baik. H (Hold on to forgiveness) Setelah menulis catatan komitmen, pasti akan tergoda ragu bahwa kita benar-benar memaafkan. Kita dapat membaca kembali catatan tersebut, sebagai penguat bahwa kita memang telah memaafkannya. Forgiveness atau memaafkan ini penting dilakukan, bukan hanya untuk mematuhi ajaran agama atau moral. Dalam proses memaafkan penting untuk disadari, ketika ingin memaafkan, bukanlah kebaikan dan belas kasih yang akan kita berikan pada si pelaku, melainkan kebaikan dan belas kasih yang diberikan untuk diri kita sendiri, sebagai korban. “Agar saya bebas dari penderitaan ini, saya harus memaafkan si pelaku”, “Ini saya lakukan demi kebaikan saya sendiri, bukan karena si pelaku layak mendapatkannya”. Kesadaran seperti itu menjadi sumber motivasi yang besar untuk menjalani proses memaafkan yang tidak mudah. Dimana kah ayat yang membahas mengenai forgiveness (memaafkan)? Dalam ajaran Islam, memberikan maaf kepada manusia merupakan sifat terpuji yang dicintai Allah, bahwa sifatnya para ahli surga dan pahalanya tidak terbatas. Hal ini sesuai dengan QS. AsySyu’ara: 40 ِ ِ ٍ ِ ِ ُّ اَّلل إِنَّه ََل ُُِي ي َ ب الظَّالم ْ َو َجَزاءُ َسيِّئَة َسيِّئَة مثْلُ َها فَ َم ْن َع َفا َوأ ُ َّ َجُرهُ َعلَى ْ َصلَ َح فَأ Artinya: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Balasan orang yang berbuat buruk adalah keburukan, demi terwujudnya keadilan. Tetapi, barang siapa atas dasar cinta, memaafkan orang yang berbuat buruk kepadanya, mampu dan memperbaiki kembali hubungannya dengan orang itu, akan memperoleh pahala dari Allah. Hanya Allah semata yang mengetahui besarnya pahala itu. Sesungguhnya Allah tidak menyayangi orang-orang yang melanggar hak-hak asasi manusia dengan melanggar syariat Allah.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )