HUKUMAN SALIB
Salib yang kita kenal sebagai lambang kemenangan dan kemuliaan Yesus, dulunya adalah bentuk
hukuman yang kejam dan penuh penderitaan, hukuman ini menekankan penderitaan yang
panjang dan menyiksa. Lantas bagaimana perjalanan sejarah hukuman gantung ini dari
perspektif sosial? Mari kita lihat sepintas!
Pertama-tama, hukuman salib bukan berasal dari bangsa Yahudi! hukuman salib muncul
pertama kali dari Kerajaan Persia. Dimana para pelaku kejahatan dihukum dengan cara digantung
di pohon atau tiang tegak, hal ini bertujuan supaya tanah suci mereka tidak dikotori oleh
kejahatan.
Kemudian hukuman tersebut diperkenalkan oleh Alexander Agung ke Mesir dan Kartago, yang
kemudian diadopsi oleh Kekaisaran Bangsa Romawi. Mereka (Bangsa Romawi) menerapkan
hukuman salib sebagai bentuk hukuman mati kepada para penjahat dan pemberontak
pemerintah. Para penjahat disalib dan digantung, supaya tanah yang merupakan milik dewa tidak
dinajiskan.
Supaya bisa dihukum mati, para-Imam kepala dan ahli taurat menuduh Yesus sebagai
pemberontak Pemerintah Kaisar Romawi. Lihat dalam Injil Lukas (Luk 23:1), Yesus dituduh
menyesatkan bangsa Yahudi dan melarang mereka membayar pajak kepada Kaisar, serta
menuduh Yesus yang mengatakan diriNya sebagai Raja (pemberontak).
Bagi pandangan orang Yahudi, hukuman salib itu sebagai lambang penolakan bumi dan surga,
jiwanya seperti ngambang tanpa harapan. Mereka juga memandang hukuman salib itu
memalukan, seperti dalam perjanjian lama (Ul 21:23), orang yang mati digantung di atas pohon
adalah orang yang dikutuk Allah.
Penyaliban adalah hukuman yang penuh penderitaan, mereka yang dihukum salib tidak boleh
mati sebelum digantung. Mereka harus dirajam, disiksa dan memikul salibnya sendiri sampai ke
tempat eksekusi. Mungkin itu kenapa simon dari kirene disuruh membantu Yesus memikul salib,
supaya Yesus tidak mati lebih dulu sebelum disalib.
Dalam tradisi Yahudi, orang yang digantung di kayu salib harus cepat-cepat mati. Itulah kenapa
kaki para penjahat dipatahkan kakinya, tetapi Yesus sudah wafat lebih dulu sebelum kakinya
dipatahkan, untuk memastikan hal tersebut perajurit menusuk lambung Yesus, dan benarlah
bahwa Dia sudah wafat.
Tercatat dalam sejarah, Pernah ada penyaliban yang dilakukan secara besar-besaran oleh
Jenderal Crassus yang menghukum pemberontak dengan hukuman salib. Sekitar enam ribu
orang pemberontak di bawah pimpinan Spartakus pada tahun 71 SM menerima hukuman salib
karena terlibat dalam pemberontakan itu. Kemudian pada tahun 4 masehi Kekaisaran Romawi
mengeksekusi pemberontakan yang terjadi di Palestina dan Yudea dengan hukuman Salib. PA
Internal
Internal