Asistensi ❖ Size Reduction Tujuan 1. Mengukur Partikel dengan metode shieving 2. Menghitung Efisiensi Penggilingan 3. Menghitung Konstanta Kick dan Rittinger Size reduction adalah salah satu operasi untuk memperkecil ukuran dari suatu padatan dengan cara memecah, memotong, atau menggiling bahan tersebut sampai didapat ukuran yang diinginkan. Menurut ukuran produk yang dihasilkan alat size reduction dibedakan menjadi crusher, grinder, ultrafine grinder, dan cutter. a) Hukum Rittinger Rittinger beranggapan bahwa besarnya energy yang diperlukan untuk size reduction berbanding lurus dengan luasan baru partikel / perbandingan luas permukaan partikel. b) Hukum Kick Kick beranggapan bahwa energy yang dibutuhkan untuk pemecahan partikel zat padat adalah berbanding lurus dengan ratio dari feed dengan produk. Secara matematis dinyatakan dengan: HP = k log D/d c) Hukum Bond Bond beranggapan bahwa energy yang dibutuhkan untuk membuat partikel dengan ukuran Dp dari feed dengan ukuran sangat besar adalah berbanding lurus dengan volume produk. Dengan memecahkan factor sphericity: Cp / Vp = G / (v). (Dp) ALAT DAN BAHAN Bahan : beras 350 gram Alat : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Hammer Mill Timbangan analitik Gelas Teko Plastik Shieve tray sesuai variable ▪ ▪ Kuas Shieve shaker CARA KERJA 1. Timbang bahan sesuai variable 2. Hitung rerata diameter awal partikel bahan dari 5 sampel 3. Siapkan grinder dan pasang bag nya 4. Nyalakan hammer mill, masukkan bahan ke dalam feed input dan dicatat lama waktu pengumpanan 5. Matikan hammer mill, buka bag dan pindahkan ke wadah 6. Pindahkan ke shieve tray 500, 250,125 7. Pasang shieve tray ke shieve shaker 8. Atur shieve shaker dengan power maksimal dan timer 1 menit 9. Timbang setiap bahan yang tertinggal pada setiap shieve 10. Pindah ke wadah kemudian umpankan lagi ke dalam Hammer mill untuk penggilingan kedua 11. Lakukan langkah 3 hingga 10 hingga penggilingan dilakukan 3 kali ❖ Sedimentasi Tujuan 1. 2. 3. 4. Mengetahui densitas padatan Mengetahui ketinggian endapan Mengetahui settling velocity setiap variable Mengetahui pengaruh massa jenis terhadap settling velocity untuk menentukan harga k dan n juga untuk mengetahui konsentrasi optimum terbentuknya endapan (sedimentasi) yang dapat dilihat dari kecepatan mengendapnya flokulan. Sedimentasi adalah suatu pemisahan suatu suspensi (campuran padat air) menjadi jernih (cairan bening) dan suspensi yang lebih padat (sludge). Sedimentasi merupakan cara ekonomis untuk memisahkan padatan dari suspense, bubut atau slurry. Pada beberapa proses, pemisahan serta sedimentasi partikel dan pengendapan bertujuan untuk memisahkan partikel dari fluida sehingga fluida bebas dari konsentrasi partikel. Operasi ini banyak digunakan pada proses mengurangi polusi limbah industry. ▪ Gaya Gravitasi Gaya ini terjadi apabila berat jenis larutan lebih kecil dari berat jenis partikel, sehingga partikel lain lebih cepat mengendap. Terlihat pada saat terjadinya endapan atau turunnya partikel ke dasar membentuk endapan. ▪ Gaya Apung Gaya ini terjadi jika massa jenis partikel lebih kecil dari pada massa jenis fluida yang sehingga padatan berapa pada permukaan cairan. ▪ Gaya Dorong Gaya dorong terjadi pada saat larutan dipompakan kedalam tabung klarifier. Dapat dilihat pada saat mulai turunnya partikel padatan dengan fluida memberikan gaya=berat padatan. RUMUS LAJU PENGENDAPAN 1. Sedimentasi Batch Operasi ini banyak digunakan pada proses- proses untuk mengurangi polusi dari limbah industri. Suatu suspensi yang mempunyai ukuran partikelnya hampir seragam dimasukkan dalam tabung gelas yang berdiri tegak. 2. Sedimentasi Kontinu Pada industri operasi sedimentasi sering dijalankan dalam proses kontinu yang disebut thinckener. Kegunaan dari penggunaan thinckener memiliki keuntungan yaitu : 1. Ekonomis dan kesederhanaan desain operasinya. 2. Kapasitas volume sangat besar. 3. Kegunaan yang bervariasi. Pada thinckener terdapat empat zona dari proses pengendapan yaitu : o Zona 1 : Daerah dimana terdapat dear liquid o Zona 2 : Daerah pemekatan suatu suspensi yang sangat tipis dan kadang tidak jelas terlihat. o Zona 3 : Daerah (zona) kompresi o Zona 4 : Daerah pemadatan (compaction) Alat dan Bahan Alat yang digunakan • Gelas ukur 250 mL • Gelas ukur 10 mL • Beaker glass 250 mL • Gelas arloji • Spatula • Pipet tetes • Ball Filler • Sievetray (16 mesh dan 35 mesh) • Timbangan digital • Kuas • Stopwatch • Penggaris Bahan yang digunakan adalah : • Aquadest • Pasir • Tanah Liat • Kapur • Arang • Batu bata Cara Kerja 1) Menyiapkan bahan yang akan digunakan, usahakan sudah berbentuk serbuk 2) Memisahkan bahan kasar dan halus menggunakan sievetray 3) Menghitung densitas air dan bahan yang digunakan 4) Menyiapkan gelas ukur 10 mL untuk menghitung densitas 5) Menghitung massa yang yang akan digunakan 6) Menyiapkan gelas ukur 250 mL, kemudian masukkan bahan ke dalam gelas ukur dan beri air sampai penuh atau sampai batas 250 mL 7) Kocok larutan 8) Mengamati proses pengendapan yang terjadi setiap waktu ❖ Gas Biner Tujuan ▪ Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi difusi ▪ Menentukan koefisien difusivitas ▪ Menganalisis pengaruh koefisien difusivitas terhadap waktu difusi Diffusi molekular atau molekular transport dapat didefinisikan sebagai perpindahan atau transfer dari molekul individu melalui suatu fluida dengan arah pergerakan yang tidak tetap dari molekul tersebut. Hal yang mengakibatkan difusi adalah perbedaan konsentrasi (mengakibatkan molekul bergerak dari tinggi ke rendah), perbedaan suhu, tekanan akticitas dan gaya eksternal (proses centrifuge). Jika pergerakan fluida stasioner hanya pengaruh konsentrasi. ➢ Diffusi molekuler, jika terjadi perpindahan lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida. ➢ Diffusi turbulen, bila terjadi perpindahan molekul disebabkan pencampuran mekanis dan aliran turbulen. Dimana : DAB : Koefisien diffusi (cm2/detik) T : Temperatur absolut (K) MA : Berat molekul gas A P : Tekanan absolut (atm) Va : Volume struktur gas A Vb : Volume struktur gas B ALAT DAN BAHAN Alat yang Digunakan • Gelas ukur, • pipet ukur, • labu Erlenmeyer, • gelas ukur, • pipet ukur, • ball filler, • piknometer, • fumehood, • neraca, • penggaris, • stopwatch (Sesuaikan dengan prosedur kerja / instruksi pengampu) Bahan yang Digunakan • Larutan Ethanol 96%, • Larutan Acetone, dan • Aquades • ASETON ; AQUADEST = 1:2 • ETANOL ; AQUADEST = 2:1 • ASETON : ETANOL = 1:2 PROSEDUR KERJA A. Pengukuran densitas 1) Timbang massa piknometer kosong 2) Timbang massa piknometer + larutan murni 3) Mengulangi langkah-langkah diatas untuk larutan campuran B. Preparasi Larutan 1) Siapkan labu erlenmeyer, larutan ethanol, acetone, akuades, pipet ukur, dan ball filler. 2) Masukkan sejumlah larutan ke dalam labu Erlenmeyer (sesuai dengan perbandingan volume) menggunakan pipet ukur. 3) Tutup labu Erlenmeyer dan campurkan larutan hingga homogen C. Percobaan Difusi Gas Biner 1) Masukkan 10 ml larutan ke dalam gelas ukur dan mencatat ketinggian mula-mula (Z0), kemudian meletakkan kipas angin di depan gelas ukur. 2) Menyalakan kipas angin dan mengarahkan aliran udaranya secara horizontal di atas gelas ukur. 3) Catat ketinggian larutan tiap selang waktu 10 menit hingga target ketinggian (ZF) atau selama 120 menit.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )