TUGAS MAKALAH REVIEW Jalur Pensiyalan Interferon Tipe-I (IFN-I) pada Penyakit Autoimun Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Penulis: Novia Noor Rachmawati [2306319262/Biologi] Dosen Pengampu: dr. Dewi Sukmawati, M. Kes, Ph.D. Program Studi Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2025 DAFTAR ISI DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii ABSTRAK ............................................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ........................................................................................................... 1 1.2. Tujuan ........................................................................................................................ 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 3 2.1. Penyakit Autoimun Systhemic Lupus Erythematosus (SLE) .................................... 3 2.2. Jalur Pensinyalan Interferon (IFN) ............................................................................ 4 2.3. IFN Signature pada Penyakit SLE ............................................................................. 7 2.4. Peran Pensinyalan IFN-I pada SLE ........................................................................... 9 2.5. Inhibitor Jalur Pensinyalan IFN sebagai Terapi SLE ............................................... 12 BAB III KESIMPULAN......................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 15 ii ABSTRAK Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun kronis yang ditandai dengan hilangnya toleransi imun, produksi autoantibodi, dan kerusakan organ multisistem. Salah satu ciri khas SLE adalah aktivasi berlebihan jalur pensinyalan Interferon Tipe-I (IFNI), yang dikenal sebagai “IFN signature”. Makalah ini mengkaji peran IFN-I dalam patogenesis SLE, termasuk mekanisme disregulasi sistem imun bawaan dan adaptif, serta implikasinya terhadap perkembangan terapi target. IFN-I, terutama IFNα, diproduksi oleh sel dendritik plasmacytoid (pDC) sebagai respon terhadap kompleks imun yang mengandung self-antigen asam nukleat. Aktivasi berkelanjutan jalur ini memicu produksi autoantibodi, inflamasi kronis, dan kerusakan jaringan. Faktor genetik (seperti mutasi pada IRF5, IRF7, dan TYK2) serta pemicu lingkungan memperburuk disregulasi ini. Selain itu, IFN-I meningkatkan diferensiasi sel Th17 dan menghambat fungsi sel Treg, memperkuat respon autoimun. Terapi yang menargetkan jalur IFN-I, seperti antibodi monoklonal anti-IFNAR1 (anifrolumab), telah menunjukkan efektivitas dalam mengatasi “IFN signature” dan mengurangi gejala SLE. Kata kunci: Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Interferon Tipe-I (IFN-I), IFN signature, autoimun, anifrolumab. iii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit yang kompleks dan bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan faktor epigenetik, genetik, ekologi, dan lingkungan.1,2 SLE ditandai dengan sifatnya yang kronis dan dampaknya yang beragam pada berbagai organ. Timbulnya SLE terkait dengan terganggunya toleransi imunologis dengan interaksi faktor genetik yang rentan terhadap SLE, dan berbagai pemicu lingkungan.3 Prevalensi SLE secara global dan insiden tahunan SLE bervariasi di berbagai wilayah. Prevalensi berkisar dari 2,9 hingga 241 kasus per 100.000 orang dengan insiden tahunan mulai dari 0,3 hingga 23,2 kasus per 100.000 orang per tahun. SLE lebih umum pada pasien AfrikaAmerika dan Asia dan terutama mempengaruhi wanita.4,5 Tingkat keparahan penyakit dapat berkisar dari kejadian ringan hingga mengancam jiwa. Pasien SLE di wilayah Asia dilaporkan memiliki tingkat keparahan penyakit, aktivitas, dan akumulasi kerusakan organ yang lebih tinggi, termasuk efek pada ginjal dan sistem saraf pusat (SSP), bersama dengan peningkatan morbiditas, mortalitas, dan kerentanan terhadap keterlibatan organ daripada etnis dan wilayah lain.5 Di Indonesia sendiri belum ada laporan terkait prevalensi dan epidemiologi terkait penyakit SLE.6,7 SLE ditandai dengan aktivasi sistem interferon (IFN), yang mengarah pada peningkatan ekspresi gen yang diatur IFN, yang disebut dengan “IFN signature”. Hal yang mendasari “IFN signature” dalam SLE adalah, diantaranya keberadaan induktor IFN endogen, aktivasi beberapa jenis sel penghasil IFN, produksi berbagai tipe IFN, pengaturan genetik yang mendorong produksi IFN dan terganggunya mekanisme umpan balik negatif dalam jalur pensinyalan IFN. Akibatnya, konsekuensi bagi sistem imun tubuh adalah stimulasi terus menerus terhadap respon imun tubuh, dan manifestasi kerusakan organ yang mengarah pada gejala khas SLE.8–10 Karakteristik lain yang menentukan SLE adalah produksi autoantibodi yang menargetkan self-antigen dan memicu kompleks imun tubuh. IFN-I memiliki peran dalam menjembatani antara sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif, serta dapat memicu sel B memproduksi autoantibodi.11,12 Kompleks imun tersebut terakumulasi di dalam pembuluh darah, memicu reaksi inflamasi intens yang dapat menyebabkan disfungsi berbagai sistem organ. Pemahaman 1 komprehensif tentang mekanisme imunopatogenik yang mendasari SLE sangat berguna untuk mengembangkan strategi pengobatan yang efektif.3 1.2. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah review Jalur Pensinyalan Interferon Tipe I (IFN-I) pada Penyakit Autoimun Systhemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah: 1. Menjelaskan karakteristik IFN signature pada penyakit autoimun Systhemic Lupus Erythematosus 2. Mengkaji peran IFN-I dalam mekanisme disregulasi sistem imun bawaan dan adaptif pada patogenesis penyakit autoimun Systhemic Lupus Erythematosus 3. Membahas jalur pensinyalan IFN-I sebagai target terapi pada pasien autoimun Systhemic Lupus Erythematosus 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyakit Autoimun Systhemic Lupus Erythematosus (SLE) Sistem imun tubuh bertanggung jawab untuk mendukung keseimbangan atau homeostasis antara “non-self", "self", dan "former-self".13 Dalam keadaan normal, sistem imun tubuh mampu membedakan antara "self" dan "non-self" sehingga self-antigen tidak rusak. Inti dari fenomena ini adalah self-tolerance, atau kemampuan sistem imun tubuh untuk menerima antigen diri dan tidak memberi respon perlawanan terhadapnya. Penyakit autoimun merupakan akibat dari hilangnya self-tolerance tersebut. Self-tolerance adalah jenis toleransi imunologis, atau keadaan imun yang tidak responsif terhadap antigen tertentu, dalam hal ini, antigen diri. Agar toleransi diri berkembang, limfosit harus "dididik" sehingga mereka dapat membedakan antara antigen diri dan antigen asing.1 Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan hilangnya toleransi imun dan produksi autoantibodi yang berkelanjutan.10 Gambar 1. Patogenesis SLE bersifat kompleks dan melibatkan disregulasi sistem imun, predisposisi/kecenderungan genetik, faktor lingkungan dan kompleks imun, serta cedera jaringan3 Penyakit SLE ditandai dengan disregulasi pada sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif. Disregulasi pada sistem imun bawaan dan adaptif memainkan peran penting dalam patogenesis SLE karena kedua jaringan sistem imun saling terhubung melalui sitokin, komplemen, kompleks imun, dan kinase intraseluler.5,14 Interferon IFN-I berfungsi sebagai sitokin dan imunomodulator yang menjembatani sistem imun bawaan dan adaptif.3,8,15 Molekul IFN-I memberi sinyal pada berbagai sel imun, seperti sel dendritik, sel B, dan sel T untuk 3 memberi tanda adanya patogen.14 Perubahan pada sel dendritik dan neutrofil, serta pensinyalan IFN yang menyimpang, menyebabkan disregulasi pada imun bawaan. Sedangkan perubahan pensinyalan sel T dan sel B menyebabkan disregulasi pada sistem imun adaptif. Keduanya bersama-sama menjadi penyebab perkembangan SLE.5 Plomorfisme genetik dan epigenetik yang berhubungan dengan sistem imun, mediator inflamasi/sitokin, faktor hormonal dan gen yang berperan dalam jalur pensinyalan sistem imun bawaan telah terbukti berperan dalam SLE, terutama pada disfungsi sel T dan sel B. Disfungsi tersebut diperkirakan mengakibatkan autoreaktivitas sel T dan sel B yang tidak terkendali. Sebagai akibatnya, sel B memproduksi banyak autoantibodi.1,2,16 Penyakit SLE adalah penyakit autoimun kronis yang ditandai dengan adanya autoantibodi anti-nuclear (ANA), yakni antibodi terhadap self-antigen inti sel.14,15 Ketika seseorang dicurigai mengidap SLE, tes pertama yang biasanya dilakukan adalah tes skrining untuk autoantibodi anti-nuclear (ANA) karena antibodi ini merupakan autoantibodi yang ditemukan pada sebagian besar pasien SLE.1,3 Ketika skrining positif, tes lebih lanjut dilakukan untuk membedakan jenis ANA.1 Mayoritas pasien SLE (70-80%) memproduksi ANA, yang membentuk kompleks imun dengan asam nukleat ekstraseluler dan menginduksi produksi IFN-I, terutama IFNα oleh sel dendritik plasmacytoid (pDC).11,14 IFNα dapat mengaktifkan limfosit, memicu transformasi monosit menjadi sel dendritik, dan mengaktifkan sel natural killer (NK). Sel dendritik pDC akan terus mengenali antigen dan tetap memproduksi IFNα, yang akibatnya mendorong respon autoimun pada pasien SLE.11 Tingkat keparahan gejala klinis SLE sangat beragam, begitu pula organ dan area tubuh yang terpengaruh juga bervariasi. Gejala non-spesifik seperti kelelahan, penurunan berat badan, malaise, demam, dan anoreksia sering kali menjadi gejala yang pertama kali muncul. Penyakit ini ditandai dengan kekambuhan, yaitu pergantian antara periode suar yang dapat membahayakan berbagai organ dan periode remisi.1,3,5 Penumpukan kompleks imun pada SLE bersifat sistemik dan dapat menyebabkan berbagai kerusakan jaringan pada kulit, sendi, ginjal, jantung, dan paru-paru.14–16 Pasien SLE saat ini dinilai memiliki tingkat IFN tipe I, II dan III yang bersirkulasi tinggi dan keterlibatan organ yang berbeda tampaknya terkait dengan jenis IFN yang berbeda.15 2.2. Jalur Pensinyalan Interferon (IFN) Interferon merupakan keluarga protein pensinyalan yang dilepaskan oleh sel sebagai respon terhadap keberadaan patogen, biasanya pada infeksi virus dan bakteri. Istilah interferon 4 berasal dari kemampuan molekul tersebut untuk mengintervensi replikasi virus.17 Interferon (IFN) adalah sitokin yang disekresikan oleh berbagai jenis sel akibat pengaruh beberapa induktor seperti glikoprotein envelope virus, DNA CpG, dsRNA, pathogen-associated molecular patterns (PAMP) serta tumor-associated molecular patterns (TAMP).13 Efek pensinyalan IFN pada sel target bermacam-macam, salah satunya menghentikan translasi protein dan menginduksi produksi RNase yang menargetkan RNA virus. Perubahan ini menghambat replikasi virus, memperlambat penyebaran virus dengan mencegah infeksi seluler yang produktif. Untuk sebagian besar infeksi virus, pensinyalan tersebut membantu membatasi infeksi agar tidak meluas. IFN tipe I juga berfungsi untuk merekrut limfosit imun bawaan, seperti sel NK, ke lokasi infeksi virus. Kombinasi aktivitas IFNα, IFNβ, dan sel NK merupakan mekanisme imun bawaan yang paling penting terhadap infeksi virus.1 Fungsi IFN pada dasarnya tidak hanya terbatas pada melawan patogen virus. IFN juga memiliki efek antitumor, regulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel, antiproliferatif dan sebagai imunomodulator.1,17 Bukti bahwa IFN-α dan IFN-β membantu melindungi terhadap keganasan tertentu semakin meningkat. Percobaan pada tikus telah menunjukkan bahwa hewan yang tidak memiliki reseptor IFN tipe I rentan terhadap perkembangan kanker.1 Sebagai imunomodulator, IFN dapat mengaktifkan sel imun, seperti sel NK, makrofag, serta mengatur presentasi antigen dengan meningkatkan ekspresi antigen major histocompatibility complex (MHC), untuk meningkatkan sistem imun.18 Saat ini IFN dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu tipe I, tipe II dan tipe III. Pembagian tersebut berdasarkan struktur, aktivitas biologis, afinitas dengan jenis reseptor tertentu, homologi urutan asam amino, dan sifat fungsionalnya.15,17,18 Masing-masing IFN dari ketiga tipe tersebut memiliki peran utama dalam melawan infeksi virus maupun untuk pengaturan sistem imun tubuh. Hampir semua jenis sel dapat mengekspresikan IFN tipe I dan III setelah komponen virus dikenali, terutama asam nukleat virus yang dideteksi oleh reseptor sitoplasma dan endosom sel.18 5 Gambar 2. Mekanisme pensinyalan dalam sel dengan berbagai jenis interferon17 Jalur pensinyalan reseptor IFN tipe I, tipe II dan tipe III dapat dilihat pada gambar 2. Reseptor IFN tipe I dan tipe III adalah heterodimer dan terdiri dari rantai reseptor yang berbeda. IFNAR1 dan IFNAR2 merupakan reseptor IFN tipe I, sementara reseptor IFN tipe III adalah IFNLR1 dan IL10R2. Kedua reseptor dikaitkan dengan dua kinase dari keluarga JAK: JAK1 dan TYK2 (tyrosine kinase 2). Saat mengikat ligan yang serumpun, JAK kinase memfosforilasi reseptor IFN secara otomatis, yang menghasilkan perekrutan protein transduser sinyal dan aktivator transkripsi (STAT), fosforilasi, dimerisasi, dan translokasi inti. Secara khusus, STAT1, STAT2, dan IFN-regulatory factor 9 (IRF9) membentuk kompleks faktor gen yang distimulasi interferon 3 (ISGF3) dan mengikat sekuens IFN-stimulated response element (ISRE), sehingga menginduksi transkripsi gen baru untuk memediasi respon antivirus. Selain itu, homodimer STAT1 mengikat gamma-activated sequences (GAS) untuk menginduksi aktivasi gen pro-inflamasi.17–19 Saat ini, diketahui 21 jenis IFN, di mana 13 subtipe termasuk dalam IFN tipe I. Subtipe tersebut diantaranya IFN-α (alfa), IFN-β (beta), IFN-E (epsilon), IFN-κ (kappa), IFN-ω (omega), IFN-ν (nu), IFN-τ (tau), subtipe IFN-δ (delta), IFN-ζ (zeta) dan IFN-χ (chi). Subtipe IFN pada awalnya terbukti menjadi imunoregulator antivirus yang kuat, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa subtipe IFN tersebut juga memainkan peran penting dalam infeksi bakteri.17 6 Interferon tipe I (IFN-I) berikatan dengan reseptor IFN-I (IFNAR) yang terdiri dari dua rantai polipeptida, IFNAR1 dan IFNAR2. Sementara itu, IFNβ memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap IFNAR daripada IFNα. Pensinyalan IFNAR secara umum bergantung pada Janus kinase 1 (JAK-I), tirosin kinase 2 (TyK2), transduser sinyal dan aktivator transkripsi (STAT) 1, STAT 2 dan faktor pengatur IFN-9 untuk menginduksi transkripsi gen baru untuk memediasi respon antivirus. Kadar IFN-I meningkat dalam beberapa hari setelah terjadi infeksi virus (Sim 2022).15 Interferon tipe II (IFN-II), yang hanya terdiri dari IFN-γ, merupakan sitokin antivirus utama.12,17 Peran IFN-γ tersebut awalnya ditemukan dalam sebuah studi tentang resistensi sel terhadap infeksi virus. IFN-γ memainkan peran penting dalam respon imun bawaan dan adaptif terhadap bakteri, kanker, virus, dan proses inflamasi patologis. IFN-γ diproduksi oleh berbagai sel imun tubuh, termasuk sel NK, sel Th CD4+, dan sel T sitotoksik CD8+. IFN-γ dikodekan oleh gen IFNG, yang terletak pada kromosom 12 (12q15).17 Interferon tipe III (IFN-λ) adalah keluarga interferon yang paling sedikit terlibat dalam respon imun bawaan. Secara struktural IFN-λ mirip dengan IFN-I dan keluarga interleukin IL10. Secara kolektif IFN-λ menginduksi antivirus dalam sel dengan menginduksi ekspresi gen yang distimulasi INF (ISG). IFN-III memainkan peran penting dalam pertahanan antivirus pada epitel mukosa, yang menjadikan IFN-III sebagai faktor utama dalam garis pertahanan pertama terhadap infeksi virus di lokasi yang memungkinkan kontak eksternal dengan patogen. Menurut literatur, kelompok IFN tipe III saat ini mencakup empat subtipe: IFN-λ1 (IL-29), IFN-λ2 (IL-28A), IFN-λ3 (IL-28B), dan IFN-λ4.17 Dari tiga jenis IFN, IFN tipe I memainkan peran imunomodulator yang menjembatani antara sistem kekebalan bawaan dan adaptif.12 Interferon tipe I, IFNα dan IFNβ, disekresikan oleh banyak jenis sel termasuk limfosit (sel NK, sel B, dan sel T), makrofag, sel dendritik, fibroblas, sel endothelial, osteoblas, dan lain-lain dan menunjukkan efek antivirus dan antitumor yang kuat. Mereka juga merangsang sel NK untuk menimbulkan respon antivirus dan antitumor. Selain itu, IFNα bertindak sebagai faktor pirogenik dan menyakitkan dengan mempengaruhi neuron termosensitif di hipotalamus yang menyebabkan demam dan nyeri. Di sisi lain, IFNα berinteraksi dengan reseptor μ-opioid untuk bertindak sebagai analgesik. Untuk mempengaruhi sel target, IFNα dan IFNβ menggunakan molekul CD118 sebagai reseptor.13 2.3. IFN Signature pada Penyakit SLE Gen yang rentan terlibat pada SLE adalah gen yang mengkode molekul adaptor, kinase, dan sitokin dalam pensinyalan sel T atau sel B. Molekul-molekul tersebut mengatur aktivasi, 7 proliferasi, dan interaksi sel T atau sel B. Sebagai contoh, human leukocyte antigen (HLA) kelas II mengkodekan molekul yang terlibat dalam presentasi antigen. Ekspresi permukaan sel yang diregulasi dari molekul-molekul tersebut mengarah pada respon imun yang hiperaktif.2 Studi yang banyak dilakukan saat ini untuk menjelaskan penyakit SLE adalah pengamatan tentang peran IFN dalam patogenesis SLE. IFN telah diselidiki secara intensif karena peran pentingnya dalam sejumlah jalur imunologis yang terlibat dalam penyakit autoimun yang dirangkum dalam istilah “IFN signature”. Istilah IFN signature mengacu pada ekspresi berlebihan gen yang diinduksi oleh IFN-I.18 Lebih dari separuh gen yang memengaruhi kerentanan terhadap SLE, teridentifikasi mengkode protein yang terkait dengan produksi atau respon IFN-I. Ekspresi berlebih dari Toll-like Receptor 7 (TLR7) merupakan faktor pendukung utama peningkatan produksi IFN-I dan patogenesis SLE. Pada studi eksperimental dengan mencit, tidak adanya reseptor IFN-1 menjadi penghambat perkembangan SLE.2 Pasien SLE ditandai dengan peningkatan kadar IFN dalam serum, sebuah kesimpulan yang telah diketahui sejak akhir era 70-an.8,18 Karakter gen IFN-I dalam darah pasien SLE saat ini sudah banyak diperiksa. Tingkat ekspresi gen yang diinduksi IFN memiliki korelasi dengan aktivitas dan tingkat keparahan SLE. Ekspresi berlebihan dan mutasi bawaan pada IFN tipe I berkaitan dengan gejala pada SLE dan penyakit autoimun lainnya (Gambar 3).5,20 Sebagian besar lokus gen dengan risiko SLE terletak di dalam atau di dekat gen yang mengkodekan produk yang berfungsi dalam pembersihan kompleks imun, pensinyalan limfosit, dan pensinyalan IFN tipe I, termasuk diantaranya IRF5, IRF7, IRAK1, dan TyK2.5,18 Gambar 3. Hubungan antara IFN-I dengan gejala SLE dan penyakit autoimun lain5 8 2.4. Peran Pensinyalan IFN-I pada SLE Induksi gen IFN-I sebagai respon terhadap antigen virus adalah kunci imunitas tubuh melawan virus. Disamping itu, IFN-I memainkan peran penting sebagai imunomodulator yang menjembatani antara sistem kekebalan bawaan dan adaptif.12,20 Namun, disregulasi dari jalur pensinyalan IFN-I tersebut dapat berkontribusi pada perkembangan SLE. Meskipun terdapat keberagaman gejala klinis dan biologis SLE, aktivasi yang menyimpang pada pensinyalan IFNI dapat diteliti pada berbagai studi kohort pasien dengan SLE. Hal ini menunjukkan peran penting sitokin IFN-I dalam patogenesis SLE.9,20 Pada pasien dengan SLE, dan penyakit autoimun lainnya, produksi sitokin IFN-I yang menyimpang salah satunya dipicu oleh self-antigen asam nukleat dalam kompleks autoimun.3,9 Self-antigen asam nukleat tersebut merupakan efek gangguan pembersihan sel apoptosis atau akibat fungsi neutrofil yang terganggu.8,9,12 Varian dan ekspresi berlebih pada gen terkait IFN, merangsang sistem imun bawaan dan adaptif untuk merespon self-antigen. Respon tersebut berkontribusi pada hilangnya toleransi imun yang merupakan karakteristik autoimun. Gambar 2 menggambarkan penumpukan kompleks autoimun yang dapat menginduksi peradangan sistemik dan lokal. Terganggunya umpan balik negatif yang biasanya diperlukan untuk "mematikan" pensinyalan IFN-I, menginduksi produksi autoantibodi dan IFN-I yang berkelanjutan dalam loop autoamplifikasi positif. Pada pasien dengan SLE, kompleks autoimun dan peradangan kronis pada jaringan berkontribusi pada kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan.8–10 9 Gambar 4. IFN tipe I dan pembentukan kompleks imun berkontribusi terhadap kerusakan organ dalam siklus patofisiologi SLE9 Perkembangan “IFN signature” pada pasien SLE menunjukkan peran penting IFN dalam patogenesis penyakit. IFN mendorong aktivasi, proliferasi dan diferensiasi sel Th CD4+ terutama sel Th1 dan Tfh. IFN-I meningkatkan diferensiasi sel Th17 dan menekan fungsi sel Treg. IL-6 dan IL-23 juga telah diidentifikasi sebagai kontributor penting untuk patogenesis SLE dengan mempromosikan sel Th17. Keduanya dapat menyebabkan ekspansi sel T autoreaktif yang resisten terhadap eliminasi yang dimediasi sel NK.8,10 Sebuah studi dari Klarquist dkk. (2020) berusaha untuk mengungkap efek pensinyalan IFN-I pada sel Th CD4+ dan sel B pada perkembangan sel Th folikular, sel B pusat germinal, dan plasmablast. Studi tersebut menemukan bahwa pensinyalan IFN menurunkan threshold untuk pensinyalan reseptor sel B, meningkatkan ekspresi MHC-II, dan meningkatkan fungsi sel B pusat germinal, sehingga aktivasi sel B autoreaktif meningkat. Studi tersebut juga menemukan bahwa IFN- mencegah kematian sel Th folikular yang dimediasi sel NK, sehingga semakin meningkatkan respon sel B.15,21 Sel Th folikular juga memicu diferensiasi peralihan kelas imunoglobulin, pematangan afinitas, dan sekresi autoantibodi ANA yang merupakan ciri khas imunologis SLE.15 Mekanisme aksi yang mendorong produksi autoantobodi sebagai respon imun yang terlalu aktif pada patogenesis SLE diilustrasikan pada gambar 5. Faktor predisposisi SLE, yaitu faktor genetik, epigenetik, hormonal dan lingkungan dapat menginduksi produksi imunoreaktan untuk memicu pensinyalan Toll-like receptor (TLR) dalam sistem imun bawaan untuk peningkatan produksi IFN-I. Selain itu, faktor-faktor tersebut juga dapat memodulasi perkembangan dan pematangan sel T dan B dalam sistem imun adaptif untuk produksi autoantibodi yang berlebihan. IFN-I telah diketahui berfungsi sebagai penghubung yang menjembatani sistem imun bawaan dan adaptif. Secara khusus, IFN-I diproduksi dari sel innate lymphoid cells (ILC), dan secara langsung memicu aktivasi sel B untuk menghasilkan autoantibodi yang pada akhirnya berkontribusi pada patogenesis SLE.11,12 Selain memproduksi IFN-I, ILC juga dapat mengenalkan antigen ke sel T melalui MHC untuk mengaktifkan sel T yang mengekspresikan CD40L. Sel T tersebut berinteraksi dengan sel B melalui jembatan CD40L-CD40 memicu peningkatkan produksi autoantibodi.12 10 Gambar 5. Mekanisme produksi auotantibodi pada SLE12 Pemahaman terkait sistem imun bawaan pada tingkat molekuler juga telah mengarah pada identifikasi IFN, khususnya IFNα, sebagai mediator utama dalam patogenesis SLE.11 IFNα memicu SLE dengan meningkatkan produksi beberapa tipe TNF, seperti B-cell activating factor (BAFF) dan a proliferation-inducing ligand (APRIL). Keduanya meningkatkan kelangsungan hidup sel B autoreaktif. BAFF mencegah penghancuran diri sel B dengan mengatur protein anti-apoptosis. Pada umumnya BAFF diekspresikan secara berlebihan dalam SLE dan sangat terlibat dalam patogenesisnya.5,14,19 Efek pensinyalan IFN pada sel target bermacam-macam. Salah satunya menghentikan translasi protein, menginduksi produksi RNase yang menargetkan RNA virus sebagai respon akibat pengenalan virus.1 Sementara itu, pDC diketahui sebagai sel penghasil IFNα alami meskipun tanpa adanya proses pengenalan virus.18 Beberapa bukti menunjukkan bahwa pDC sebagian besar bertanggung jawab atas produksi IFN-I yang persisten pada penyakit SLE. Jumlah pDC berkurang dalam sirkulasi pasien dengan SLE, tetapi dapat dideteksi pada jaringan yang meradang pada pasien SLE, seperti pada jaringan kulit dan ginjal, di mana aktifitas imun meningkat signifikan. Pada mencit model lupus, pengurangan jumlah pDC memperbaiki perburukan SLE.8 11 Dengan demikian, terdapat sejumlah besar kemungkinan induktor produksi IFN, terutama IFN-I pada SLE. Induktor yang berbeda memungkinkan peran penting pada gejala masing-masing pasien. Penghambatan induktor IFN spesifik dapat menurunkan produksi IFN yang persisten. Pemahaman yang lebih mendalam terkait pemicu dan jalur yang relevan yang memediasi produksi IFN pada pasien, akan sangat membantu untuk mengembangkan perawatan yang tepat.8 2.5. Inhibitor Jalur Pensinyalan IFN sebagai Terapi SLE Semua anggota IFN-I memberi sinyal melalui kompleks reseptor umum yang dikenal sebagai IFNAR1, yang mengkategorikan rumpun sitokin tersebut. Menargetkan reseptor IFNAR1 memungkinkan untuk memblokir semua anggota IFN-I (Gambar 6).20 Studi in vitro menunjukkan bahwa penghambatan IFNAR1 mengganggu lingkaran umpan balik positif oleh IFNα serta ekspresi gen “IFN signature” pada serum pasien SLE.5,20 Gambar 6. Patogenesis SLE dengan terapi target IFNAR.22 Antibodi monoklonal anti-IFNα reseptor, anifrolumab baru-baru ini menunjukkan hasil yang menjanjikan. Anifrolumab adalah antibodi monoklonal IgG1κ manusia terhadap subunit 1 reseptor IFN-I (IFNAR1). Perkembangan ini merupakan satu langkah maju menuju pengobatan presisi. Pasien SLE dengan aktivitas IFN-I yang tinggi dapat memperoleh manfaat dari terapi ini.11,22 Pada tahun 2021, FDA telah menyetujui anifrolumab sebagai terapi biologis yang menghambat aktivitas IFN-I pada SLE.15,23 12 Gambar 7. Ilustrasi yang menggambarkan penemuan awal peran IFN-I dalam imunopatogenesis SLE hingga persetujuan FDA saat ini untuk terapi yang menargetkan jalur biologis IFN-I dengan anifrolumab15 13 BAB III KESIMPULAN Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE), merupakan penyakit autoimun kompleks yang melibatkan faktor genetik, epigenetik, dan lingkungan. Karakterikstik SLE ditandai dengan hilangnya toleransi imun, produksi autoantibodi, dan aktivasi sistem IFN-I yang berlebihan, yang dikenal sebagai “IFN signature”. Jalur pensinyalan IFN-I berperan sebagai penghubung antara sistem imun bawaan dan adaptif, memicu produksi autoantibodi oleh sel B dan mengaktivasi sel T autoreaktif. Disregulasi jalur ini menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan jaringan yang sistemik pada berbagai organ. Kompleks imun yang mengandung asam nukleat self-antigen mengaktivasi sel dendritik plasmacytoid (pDC) untuk memproduksi IFNα secara terus-menerus, menciptakan lingkaran umpan balik positif yang memperkuat respon autoimun. Inhibitor reseptor IFN-I (seperti anifrolumab) menunjukkan potensi sebagai terapi presisi untuk SLE dengan memblokir pensinyalan IFN-I yang hiperaktif, terutama pada pasien dengan “IFN signature” tinggi. 14 DAFTAR PUSTAKA 1. Miller LE, Stevens CD. Clinical Imuunology and Serology: A Laboratory Perspective. 5th ed. Philadelphia: F.A. Davis Company; 2021. 2. Ameer MA, Chaudhry H, Mushtaq J, Khan OS, Babar M, Hashim T, et al. An Overview of Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Pathogenesis, Classification, and Management. Cureus. 2022 Oct 15;14(10). 3. Su X, Yu H, Lei Q, Chen X, Tong Y, Zhang Z, et al. Systemic lupus erythematosus: pathogenesis and targeted therapy. Molecular Biomedicine. 2024 Dec 1;5(1). 4. Tian J, Zhang D, Yao X, Huang Y, Lu Q. Global epidemiology of systemic lupus erythematosus: a comprehensive systematic analysis and modelling study. Ann Rheum Dis. 2023 Mar;82(3):351–6. 5. Tanaka Y, Kusuda M, Yamaguchi Y. Interferons and systemic lupus erythematosus: Pathogenesis, clinical features, and treatments in interferon-driven disease. Mod Rheumatol. 2023 Sep 1;33(5):857–67. 6. Ghassani NG, Hadi S, Hamijoyo L. Early Detection of Suspected Systemic Lupus Erythematosus in Community-Dwellings in West Java Indonesia. Althea Medical Journal [Internet]. 2017;4(3):358. Available from: http://dx.doi.org/10.15850/amj.v4n3.1181 7. Aji G, Djuwita R, Sudaryo MK, Sukamto. Risk Factors of Worsening of Systemic Lupus Erythematosus in Patients at Two Tertiary Hospitals in Jakarta. Kesmas. 2023 Aug 1;18(3):197–202. 8. Rönnblom L, Leonard D. Interferon pathway in SLE: One key to unlocking the mystery of the disease. Lupus Sci Med. 2019 Jan 1;6(1). 9. Ramaswamy M, Tummala R, Streicher K, Nogueira da Costa A, Brohawn PZ. The Pathogenesis, Molecular Mechanisms, and Therapeutic Potential of the Interferon Pathway in Systemic Lupus Erythematosus and Other Autoimmune Diseases. Int J Mol Sci. 2021 Oct 19;22(20). 10. Li H, Boulougoura A, Endo Y, Tsokos GC. Abnormalities of T cells in systemic lupus erythematosus: new insights in pathogenesis and therapeutic strategies. J Autoimmun. 2022 Oct 1;132. 11. Pan L, Lu MP, Wang JH, Xu M, Yang SR. Immunological pathogenesis and treatment of systemic lupus erythematosus. World Journal of Pediatrics. 2020 Feb 1;16(1):19–30. 12. Dai X, Fan Y, Zhao X. Systemic lupus erythematosus: updated insights on the pathogenesis, diagnosis, prevention and therapeutics. Signal Transduct Target Ther. 2025 Dec 1;10(1). 13. Klimov V V. From Basic to Clinical Immunology. Cham: Springer International Publishing; 2019. 15 14. Fox LE, Locke MC, Lenschow DJ. Context Is Key: Delineating the Unique Functions of IFNα and IFNβ in Disease. Front Immunol. 2020 Dec 21;11. 15. Sim TM, Ong SJ, Mak A, Tay SH. Type I Interferons in Systemic Lupus Erythematosus: A Journey from Bench to Bedside. Int J Mol Sci. 2022 Mar 1;23(5). 16. Herrada AA, Escobedo N, Iruretagoyena M, Valenzuela RA, Burgos PI, Cuitino L, et al. Innate immune cells’ contribution to systemic lupus erythematosus. Front Immunol [Internet]. 2019 [cited 2025 Apr 12];10(MAR). Available from: https://doi.org/10.3389/fimmu.2019.00772 17. Mertowska P, Smolak K, Mertowski S, Grywalska E. Immunomodulatory Role of Interferons in Viral and Bacterial Infections. Int J Mol Sci. 2023 Jun 1;24(12). 18. Deligeorgakis D, Skouvaklidou E, Adamichou C. Interferon Inhibition in SLE: From Bench to Bedside. Mediterr J Rheumatol. 2024;35:354–64. 19. Chyuan IT, Tzeng HT, Chen JY. Signaling pathways of type I and type III interferons and targeted therapies in systemic lupus erythematosus. Cells. 2019 Sep 1;8(9). 20. Jones SA, Morand EF. Targeting Interferon Signalling in Systemic Lupus Erythematosus: Lessons Learned. Drugs. 2024 Jun 1;84(6):625–35. 21. Klarquist J, Cantrell R, Lehn MA, Lampe K, Hennies CM, Hoebe K, et al. Type I IFN Drives Experimental Systemic Lupus Erythematosus by Distinct Mechanisms in CD4 T Cells and B Cells. Immunohorizons. 2020 Mar 1;4(3):140–52. 22. Federica FB, Konstantinos F, Schwarting TA, Basta F, Fasola F, Triantafyllias ÁK, et al. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Therapy: The Old and the New. Rheumatol Ther [Internet]. 2020;7:433–46. Available from: https://doi.org/10.6084/m9.figshare.12288038. 23. Saegusa K, Tsuchida Y, Komai T, Tsuchiya H, Fujio K. Advances in Targeted Therapy for Systemic Lupus Erythematosus: Current Treatments and Novel Approaches. Int J Mol Sci. 2025 Feb 1;26(3). 16
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )