MAKALAH Pendidikan Agama Islam “Akhlak, Moral Dan Etika” DISUSUN OLEH : Nama Nim Agus Wisman Rambe (5232431005) Fauzan Rizki Tamado (5233131009) Pardan Salim (5231131001) Zaky Atilla Cafriano Hutabarat (5232421009) Kelompok :5 Dosen Pengampu : Dr.Hapni Laila Siregar,M.A. PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2025 KATA PENGANTAR Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat,hidayah,karunia,dan rezeki-Nya, sehingga penulis masih bisa diberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan makalah pada matakuliah Pendidikan Agama Islam. dalam menyelesaikan makalah ini, penulis tentu saja tidak dapat menyelesaikan sendiri tanpa bantuan dari pihak lain. oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dosen pengampu matakuliah Ibu Dr.Hapni Laila Siregar,M.A. yang telah memberikan arahan dan semangat. 2. Teman yang sama sama berjuang menyelesaikan makalah ini sehingga laporan ini dapat membuahkan hasil yang maksimal. 3. Orang tua yang memberikan dukungan dan semangat. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan serta jauh dari kata sempurna ,baik dari segi isi,susunan maupun tata letak sehingga kritik dan saran membangun penulis terima dengan segala kerendahan hati. semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua dan Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati dan melindungi setiap langkah kita.amiin. Medan, 26 April 2025 Tim Penulis ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................................................................... II DAFTAR ISI...................................................................................................................... III BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 1 C. Tujuan Penulisan ............................................................................................... 1 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 2 A. Pengertian Akhlak, Moral Dan Etika ................................................................ 2 B. Perbedaan Akhlak Dengan Moral, Etika, Adat dan Susila ............................... 4 C. Rasulullah SAW Suri Tauladan Umat .............................................................. 5 D. Ruang Lingkup Dan Aplikasi Akhlak............................................................... 9 BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 23 A. Kesimpulan ....................................................................................................... 23 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 24 iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhlak berasal dari bahasa Arab "khuluk” (bentuk tunggal lalu menjadi bentuk jamaknya) yang berarti perbuatan atau tingkah laku. Kata tersebut sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi akhlak sehingga menjadi salah satu kosakata dalam bahasa Indonesia. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata akhlak diartikan "budi pekerti, watak, tabiat (WJS. Poewadarminta, 2002) Secara umum akhlak dipahami sebagai sikap, tingkah laku, dan performance dari seseorang. Istilah akhlak sering disejajarkan dengan istilah lain seperti etika, moral, susila, nilai (value), adat, dan lainnya. Moral berasal dari bahasa latin mores yaitu ide-ide umum yang diterima oleh kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Etika (berasal dari kata etos) ukuran baik buruk perbuatan manusia berdasarkan akal pikiran. Adat yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dipelihara dan diwariskan di tengah-tengah masyarakat sedangkan susila dipahami sebagai prinsip-prinsip tingkah laku dalam kehidupan (Hamzah Yaqub, 1996) Etika juga diartikan sebagai ilmu, yaitu "ilmu pengetahuan tentang kesusilaan" (H.Devos, 1987). Sedangkan susila dalam istilah bahasa Indonesia diartikan dengan kesopanan Poerwadarminta, 2002), maka seseorang yang memiliki kesopanan atau adab (WJS atau beradab dianggap memiliki kesusilaan atau budi pekerti. B. Rumusan Masalah 1. Apa Itu Pengertian Akhlak, Moral Dan Etika 2. Apa Perbedaan Akhlak Dengan Moral, Etika, Adat Dan Susila 3. Bagaimana Agar Dapat Menjadikan Rasulullah Suri Tauladan Ummat 4. Dimana Saja Ruang Lingkup Dan Aplikasi Akhlak C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui Pengertian Akhlak, Moral Dan Etika 2. Mengetahui Perbedaan Akhlak Dengan Moral, Etika Dan Susila 3. Mengetahui Bahwa Rasulullah Merupakan Suri Tauladan Ummat 4. Mengetahui Ruang Lingkup Dan Aplikasi Akhlak 1 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Akhlak, Moral dan Etika 1. Akhlak Akhlak berasal dari bahasa Arab "khuluk" (bentuk tunggal) lalu menjadi أﺧﻠﻖ (bentuk jamaknya) yang berarti perbuatan atau tingkah laku. Kata tersebut sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi akhlak sehingga menjadi salah satu kosakata dalam bahasa Indonesia. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata akhlak diartikan "budi pekerti, watak, tabiat" (WJS. Poewadarminta, 2002). Secara umum akhlak dipahami sebagai sikap, tingkah laku, dan performance dari seseorang. seseoran Istilah akhlak sering disejajarkan dengan istilah lain seperti etika, moral, susila, nilai (value), adat, dan lainnya. Sedangkan secara substansi antara akhlak dan moral/etika dan adat jauh berbeda. Perbedaaan mendasarnya adalah dari segi sumber atau rujukan serta tujuannya. Menurut ajaran Islam akhlak itu merupakan perwujudan perilaku yang menghubungkan makhluk dengan khalikNya dan tata nilainya datang dari Sang khalik. Imam al-Ghazali mendefinisikan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam diri seseorang yang merupakan sumber lahirnya perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dari pengertian di atas dapat ditarik beberapa karakteristik akhlak yaitu: (1) sifat yang muncul dari jiwa/diri yang dalam, (2) jiwa menjadi sumber munculnya perbuatan, (3) perbuatan tersebut muncul secara spontan tanpa pertimbangan dan pemikiran. Dengan kata lain, sesuatu perbuatan dapat disebut akhlak apabila sudah memenuhi kriteria yang tiga itu. Kriteria ini sekaligus akan memberikan perbedaan yang tajam antara akhlak dan moral/etika, adat dan susila yang akan kita jelaskan pada bahasan selanjutnya. 2. Moral dan Etika Moral berasal dari bahasa latin mores yaitu ide-ide umum yang diterima oleh kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Etika (berasal dari kata etos) ukuran baik buruk perbuatan manusia berdasarkan akal pikiran. Adat yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dipelihara dan diwariskan di tengah-tengah masyarakat sedangkan susila dipahami sebagal prinsip-prinsip tingkah laku dalam kehidupan (Hamzah Ya'qub, 2 1996) Etika juga diartikan sebagai ilmu, vaitu "ilmu pengetahuan tentang kesusilaan" (H.Devos, 1987). Sedangkan susila dalam istilah bahasa Indonesia diartikan dengan kesopanan atau adab (WJS Poerwadarminta, 2002), maka seseorang yang memiliki kesopanan atau beradab dianggap memiliki kesusilaan atau budi pekerti. Berbicara tentang akhlak berarti berbicara tentang baik dan buruk, sedangkan baik dan buruk ditentukan oleh macam pandangan yakni pandangan filsafat yang bertumpu pada akal pikiran dan pandangan agama yang bersumber dari Tuhan. Berikut ini adalah beberapa pandangan pemikiran tentang baik dan buruk. a. Pandangan Hedonisme, Menyatakan bahwa yang baik itu ialah sesatu yang dapat memberikan kepuasan sedangkan yang buruk adalah sesuatu yang tidak dapat memberikan kepuasan. b. Pandangan utilitarianisme, Menyatakan bahwa yang baik adalah sesuatu yang bernilai guna, sebaliknya sesuatu dianggap buruk bila ia tidak mengandung nilai guna. c. Pandangan vitalisme, Menyatakan bahwa sesuatu dianggap baik jika ia dapat mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia sehingga dapat menaklukkan yang lemah. Sebaliknya, sesuatu akan dianggap buruk apabila tidak mencerminkan kekuatan di dalam hidup. d. Pandangan sosialisme, Menyatakan bahwa sesuatu dianggap baik apabila dianggap baik oleh masyarakat tertentu. Sebaliknya, sesuatu akan dianggap buruk apabila suatu masyarakat tertentu menganggapnya buruk. e. Pandangan humanism, Menyatakan bahwa sesuatu dianggap baik apabila sesuai dengan kodrat kemanusiaan. Sebaliknya, ia akan dianggap buruk apabila tidak sesuai atau berlawanan dengan kodrat kemanusiaan (Poejawiyatna, 1990). Apa yang sudah dikemukakan di atas semuanya merupakan hasil pemikiran manusia (filsafat) sehingga melahirkan pandangan yang berbeda-beda tentang ukuran baik dan buruk. Ada satu pandangan lagi dalam menentukan serta menilai baik atau buruknya suatu perbuatan/tindakan, yakni pandangan agama. Dalam pandangan ajaran agama, yang dikatakan baik adalah yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan yang dikatakan buruk adalah sesuatu yang tidak sesuai/sejalan dengan kehendak Tuhan. Jadi penilaian baik atau buruknya sesuatu harus 3 berdasarkan ketetapan dari Tuhan. Berikut ini kita akan melihat akhlak dari segi ajaran agama Islam. Sumber ajaran akhlak yang dibawa oleh Rasulullah tiada lain adalah Al-Quran. Sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat bahwa ketika Aisyah, isteri Rasulullah, ditanya tentang ihwal akhlak Rasulullah dia menjawab, "akhlak dia (Rasulullah) adalah Al-Quran". Maksudnya yang menjadi barometer akhlak Rasulullah itu ialah semua nilai kebaikan yang terkandung di dalam Al-Quran. Dengan kata lain, tingkah laku Rasulullah itu merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Al-Qur’an. B. Perbedaan Akhlak Dengan Moral, Etika Adat dan Susila Akhlaq berbeda dengan moral, etika adat istiadat atau susila. Moral adalah ideide umum yang diterima oleh kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Etika memiliki ukuran baik dan buruk berdasarkan akal pikiran. Sedangkan adat yaitu kebiasaankebiasaaan yang terpelihara dan diwariskan ditengah-tengah masyarakat sedangkan susila dipahami sebagai prinsip-prinsip tingkah laku dalam kehidupan. Akhlak memiliki timbangan baik dan buruk sebuah perbuatan berdasarkan kehendak Pencipta (Khaliq) yakni Allah SWT dan mengacu kepada Al-Quran dan Sunnah. Berikut ini diagram penjelasan tentang perbedaan antara akhlak dengan moral, etika adat istiadat dan Susila. Akhlak Moral,Etika,Adat Dan Susila 1. Batas baik dan buruk menurut Allah 1.Batas baik dan buruk menurut manusia SWT (Q.S. 5:50). 2. Sifatnya abadi dan universal 2.Sifatnya sementara dan lokal (QS.34:28). 3. Pasti dan bisa dipengaruhi oleh situasi 3.Relatif menurut waktu (Q.S.54:17). 4. Sumbernya Al-Qur’an dan Sunnah 4.Sumbernya Pemikiran manusia (Q.S 54:17) 5. Tokoh Standarnya Nabi Muhammad 5.Tidak jelas tokoh standarnya SAW (QS.62:2) 4 C. Rasulullah SAW Suri Tauladan Ummat Untuk menggambarkan serta mensosialisasikan akhlak Rasulullah SAW beragam media telah digunakan seperti media cetak berupa buku kisah perjalanan hidup dan dakwah ataupun dalam buku sirah nabawiyah, bahkan sekarang telah ada yang dibuat dalam bentuk film yang menceritakan kisah-kisah beliau dan para sahabatnya serta bagaimana perkembangan Islam sebelum beliau diutus mejadi Nabi sampai wafat dan meninggalkan warisan berupa ajaran Islam yang telah sempurna. menjadikannya sebagai model ataupun contoh dalam hidup. Ummat Islam meyakini bahwa Rasulullah adalah contoh yang paling sempurna (uswatun hasanah) yang harus ditauladani dalam kehidupan sehari-hari (Q.S 33: 21). Nabi Muhammad SAW diposisikan sebagai pribadi yang sangat agung dan mulia di dalam berbagai hal termasuk sebagai figur pemimpin. Sebagaimana firman Alah SWT dalam Q.S 9: 128-129 yang artinya: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagi-Ku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". Ayat ini menggambarkan tiga sifat yang melekat pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin, yaitu: 1) berempati terhadap kesulitan orang lain, 2) memiliki kemauan yang kuat untuk mengangkat harkat dan martabat manusia dan 3) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. Di samping sebagai seorang Rasul dan Pemimpin ummat Nabi Muhammad SAW juga menampilkan dirinya sebagai manusia biasa yang memiliki ciri-ciri yaitu beliau dilahirkan dan wafat, makan dan minum, merasakan sehat dan sakit, bekerja dan berusaha mencari nafkah untuk keluarganya, dan juga tidur untuk melepaskan lelah sebagaimana manusia lainnya. Nabi Muhammad SAW memiliki tugas menyampaikan risalah, menjalankan amanah dari Allah dan menjadi pemimpin umat. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan dakwah dapat dilihat dalam fikih dakwah, sedangkan tentang perilaku secara keseluruhan dapat dilihat dalam sirah nabawiyah. Atas dasar ini tidak 5 ada lagi alasan bagi umat Islam untuk tidak menjadikan beliau sebagai model dan contoh dalam berperilaku (akhlak). Allah telah menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah suri tauladan dalam firman Allah SWT dalam Q.S 33:21. Sebagai Nabi terakhir, Rasululllah SAW memiliki beberapa sifat dasar yang agung, sifat tersebut antara lain: Pertama : Al-Basyariyah (Manusia Biasa) Rasulullah SAW adalah manusia biasa seperti ummatnya, perbedaannya, Allah memberikan wahyu untuk disampaikan kepada ummatnya. Dengan keyakinan ini sebenarnya menghantarkan kepada umat Islam bahwa tidak ada alasan untuk menolak perintah Rasulullah SAW. Tidak ada alasan tidak mampu apalagi tidak mungkin, karena Rasulullah juga memiliki tanggungan seperti layaknya manusia biasa, bekerja, memiliki istri, anak bahkan beliau mendapat amanah tambahan yang lebih berat yaitu mendidik manusia dan memimpin mereka Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 11. ْ َﻗَﺎﻟ ﻠﻄﻦ ُ ِﻋﻠَﻰ َﻣ ْﻦ ﯾَﺸَﺎ ُء ِﻣ ْﻦ ِﻋﺒَﺎدِه َو َﻣﺎ َﻛﺎنَ ﻟَﻨَﺎ أَ ْن ﻧَﺄْﺗِﯿَ ُﻜ ْﻢ ﺑ ُ ﺖ ﻟَ ُﮭ ْﻢ ُر َ ﺳﻠُ ُﮭ ْﻢ إِ ْن ﻧَﺤْ ﻦُ إِ ﱠﻻ ﺑَﺸ ٌَﺮ ِﻣﺜْﻠُ ُﻜ ْﻢ َوﻟَ ِﻜ ﱠﻦ ﷲَ ﯾَ ُﻤ ﱡﻦ ِ ﺴ َ� َﻓ ْﻠﯿَﺘ ََﻮ ﱠﻛ ِﻞ ْاﻟ ُﻤﺆْ ِﻣﻨُﻮن ِ ﻋ َﻠﻰ ﱠ َ ِإ ﱠﻻ ِﺑﺈِ ْذ ِن ﷲِ َو Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah dan Hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. Kedua: Al-‘Ishmah (Terpelihara dari kesalahan) Oleh karena Rasululah SAW adalah manusia biasa yang terpilih untuk menerima wahyu maka beliau dilebihkan Allah SWT yakni terpelihara dari kesalahan. Hal ini menjadi penting karena yang disampaikannya adalah amanah dari Allah sehingga Allah perlu memelihara aturan-Nya dari kesalahan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ma'idah ayat 67. ﺳﻠَﺘَﮫُ َو ﱠ ﺎس إِ ﱠن ُ ﺳ ْﻮ ُل ﺑَﻠَ َﻎ َﻣﺎ أ ُ ْﻧ ِﺰ َل إِﻟَﯿْﻚَ ِﻣ ْﻦ ﱠر ِﺑّﻚَ َوإِن ﻟﱠ ْﻢ ﺗ َ ْﻔﻌَ ْﻞ ﻓَ َﻤﺎ ﺑَﻠَ ْﻐﺖَ ِر ُ اﻟﺮ ﯾَﺄَﯾﱡ َﮭﺎ ﱠ ِ ﺼ ُﻤﻚَ ِﻣﻦَ اﻟﻨﱠ ِ �ُ ﯾَ ْﻌ ﱠ َ�َ َﻻ ﯾَ ْﮭﺪِي ْاﻟﻘَ ْﻮ َم ْاﻟ َﻜ ِﻔ ِﺮﯾﻦ Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu darı Tuhanmu dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan 6 amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Rasulullah SAW pernah khilaf yakni ketika beliau sedang asyik menghadapi tamunya dari pemuka kaum Quraisy, tiba-tiba datang Abdullah bin Ummi Maktum, seorang buta, beliau tidak mempedulikannya karena sedang melayani tamu besar, maka beliau langsung mendapat teguran dari Allah SWT sebagaimana tertera dalam surat Abasa ayat 1-4. ﺲ َوﺗ ََﻮﻟﱠﻰ أ َ ْن َﺟﺎ َءهُ ْاﻷ َ ْﻋ َﻤﻰ َو َﻣﺎ ﯾُﺪ ِْرﯾﻚَ ﻟَﻌَﻠﱠﮫُ ﯾَ ﱠﺰ ﱠﻛ ٰﻰ أ َ ْو ﯾَﺬﱠ ﱠﻛ ُﺮ ﻓَﺘ َ ْﻨﻔَﻌَﮫُ اﻟ ِﺬّ ْﻛ َﺮ َ َ َﻋﺒ (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau ia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaatkepadanya? Ketiga:Ash-Shidiq (Benar) Orang yang membawa kebenaran tentu harus memiliki sifat shidiq sehingga apa yang disampaikannya dapat diterima manusia. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersifat shidiq yaitu hanya berkata yang baik dan benar serta bermanfaat saja dan tidak berkata berdasarkan hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Najm ayat 3-4. ﻲ ﯾُﻮ َﺣﻰ َ َو َﻣﺎ ﯾَ ْﻨ ِﻄ ُﻖ ٌ ْﻋ ِﻦ ْاﻟ َﮭ َﻮى إِ ْن ھ َُﻮ إِ ﱠﻻ َوﺣ Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Keempat: Al-Fathanah (Cerdas) Kecerdasan Rasulullah SAW dapat dilihat dari jawaban yang diberikannya kepada para sahabat maupun orang lain, cara Rasulullah SAW menyelesaikan masalah, ataupun dalam menyusun strategi dakwah dan siyasat dalam peperangan. Firman Allah SWT dalam surat Al-Fath ayat 27. ام إِ ْن ﺷَﺎ َء ﱠ ﺻﺪَقَ ﱠ ﺼ ِﺮﯾﻦَ َﻻ ُ �ُ َر ﺳﻮﻟُﮫُ ﱡ ِ ﺳ ُﻜ ْﻢ َو ُﻣ ْﻘ َ �ُ أ َ ِﻣﻨِﯿ ٌْﻦ ُﻣ َﺤﻠَ ِﻘﯿْﻦَ ُر ُءو َ ﻟَﻘَ ْﺪ ِ ّ اﻟﺮ ْﻋﯿَﺎ ﺑِ ْﺎﻟ َﺤ َ ﻖ ﻟَﺘ َ ْﺪ ُﺧﻠُ ﱠﻦ ْاﻟ َﻤﺴ ِْﺠﺪَ ْاﻟ َﺤ َﺮ ُون ذَﻟِﻚَ ﻓَﺘْ ًﺤﺎ ﻗَ ِﺮﯾﺒًﺎ ِ ﺗَﺨَﺎﻓُ ْﻮنَ ﻓَﻌَ ِﻠ َﻢ َﻣﺎ ﻟَ ْﻢ ﺗ َ ْﻌﻠَ ُﻤﻮا ﻓَ َﺠﻌَ َﻞ ِﻣ ْﻦ د 7 Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insyaAllah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. Beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad SAW bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudianberita ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orangorang Yahudi dan Nasrani. Setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah maka orang-orang munafik memperolokolokkan Nabi dan menyatakan bahwa mimpi Nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi akan menaklukkan kota Khaibar. Kelima: Amanah (Dipercaya) Amanah secara umum berarti bertanggung jawab terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan keadilan, memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang telah disepakati. Firman Allah dalam surat An-Nisa' ayat 58. ُ ﺎس أ َ ْن ﺗَﺤْ ُﻜ ُﻤﻮا ﺑﺎﻟﻌ ْﺪ ِل ِإ ﱠن ﷲَ ِﻧ ِﻌ ﱠﻤﺎ َﯾ ِﻌ ﻈ ُﻜ ْﻢ ِﺑ ِﮫ ِإ ﱠن ﱠ ِإ ﱠن ﱠ ِ �َ َﯾﺄ ْ ُﻣ ُﺮ ُﻛ ْﻢ أَن ﺗُﺆدﱡوا اﻷﻣﻨ ِ ﺖ إﻟﻰ أ ْھ ِﻠﮭﺎ وإذا َﺣ َﻜ ْﻤﺘ ُ ْﻢ َﺑﯿْﻦَ اﻟﻨﱠ َ� ﯿﺮا ً ﺼ ِ َﺳ ِﻤﯿﻌًﺎ ﺑ َ ََﻛﺎن Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. 8 Keenam: At-Tabligh (Menyampaikan Pesan) Kewajiban Rasulullah adalah menyampaikan perintah dan larangan Allah kepada manusia, kemudian manusia bertanggungjawab dan berkewajiban pula menyampaikan risalah ini kepada siapapun yang mau menerimanya. Firman Allah dalam surat Al-Ma'idah ayat 67 ﺳ ْﻠﺘَﮫُ َو ﱠ ﺎس ِإ ﱠن ﷲَ َﻻ َﯾ ْﮭﺪِي ُ اﻟﺮ ﺑﺎﯾﱡ َﮭﺎ ﱠ ِ ﺼ ُﻤﻚَ ِﻣﻦَ اﻟﻨﱠ ِ �ُ َﯾ ْﻌ َ ﺳ ْﻮ ُل َﺑﻠَ َﻎ َﻣﺎ أ ُ ْﻧ ِﺰ َل ِإﻟَﯿْﻚَ ِﻣ ْﻦ ﱠر ِﺑّﻚَ َو ِإن ﻟﱠ ْﻢ ﺗ َ ْﻔ َﻌ ْﻞ ﻓَ َﻤﺎ َﺑﻠَ ْﻐﺖَ ِر َْاﻟﻘَ ْﻮ َم ْاﻟ َﻜ ِﻔ ِﺮﯾﻦ Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Ketujuh: Al-Itizam (Komitmen) Rasulullah SAW dan para sahabat selalu mencontohkan sikap selalu berkomitmen terhadap Islam, walaupun diterpa cobaan yang bertubi-tubi. Dengan adanya iltizam inilah maka nilai-nilai Islam akan selalu terpelihara. Firman Allah SWT dalam surat Al-Isra' ayat 74 Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir hampir condong sedikit kepada mereka. Tanpa adanya iltizam maka godaan syaithan dan gangguan orang kafir akan mudah menggonceng ummat yang pada gilirannya akan membawa ummat itu kedalam Lembah kebinasaan. D. Ruang Lingkup dan Aplikasi Akhlak Aplikasi akhlak merupakan ukuran kongkrit ketinggian nilai seorang muslim dan merupakan bukti nyata tentang keluhuran ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut akan tampak pada keseluruhan aktivitasnya baik dalam berhubungan dengan Allah SWT, sesama manusia dan dengan alam sekitarnya. Untuk menjadikan akhlak ituaplikatif dimulai dengan pemberian keteladanan dan pembiasaan. Tanpa dua hal pokok tersebut akhlak hanya bersifat teoritik atau sekedar pengetahuan belaka. Jadi, akhlak itu merupakan 9 integrasi nilai dan perilaku yang diwujudkan secara terus-menerus. Berikut ini dikemukakan tentang aplikasi akhlak. a. Akhlak Kepada Allah SWT (Khaliq) Secara umum semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia harus merupakan cerminan dari akhlak kepada Allah karena segala sesuatu adalah fasilitas yang disediakan-Nya. Akhlak seorang muslim kepada Allah SWT antara lain: 1. Syukur, yaitu mengungkapkan rasa terima kasih dan menggunakan semua karunia yang diberikan Allah secara maksimal dan sesuai dengan aturan-Nya. 2. Tasbih, yaitu mensucikan Allah dari segi nama, sifat dan segala kekuasaan-Nya dari hal-hal yang bertentangan dengan hakekat keagungan Tuhan. 3. Husnuzhan, yaitu selalu berprasangka baik kepada Allah. Seorang mukmin harus yakin bahwa apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi dirinya, karena itu tidak sepantasnya seorang mukmin mengumpat keputusan Allah tetapi hendaklah ia hadapi dengan penuh kesabaran. 4. Sabar, yaitu kemampuan mengendalikan diri terhadap sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Sabar terbagi tiga; yaitu sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghadapi godaan kepada kemungkaran dan kemaksiaan, dan sabar ketika mendapat musibah. 5. Istighfar, yaitu meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang dilakukan dengan cara membaca istigfar dan bertekad tidak mengulangi lagi kesalahan yang telah dilakukan. 6. Takbir, yaitu mengagungkan Allah SWT atas Kekuasaan dan Kemuliaan serta ke-Maha Sempurnaan-Nya yang diiringi dengan kalimat takbir 7. Do’a, yaitu memohon kepada Allah untuk memperkenankan segala yang diinginkan untuk kebahagiaan hidup setelah melakukan usaha dengan maksimal. Doa tidak hanya sekadar mengungkapkan keluhan isi hati kepada sang Khaliq tetapi juga sebagai bukti pengakuan betapa lemah dan hinanya manusia di hadapan Allah. Maka doa sekaligus pengakuan yang tulus dari seorang hamba tentang kebesaran Tuhannya. 10 b. Akhlak Kepada Makhluknya 1. Akhlak Terhadap Manusia 1) Akhlak kepada diri sendiri Maksud dari akhlak kepada diri sendiri adalah sikap yang muncul dari jiwa yang berhubungan dengan pemeliharaan dan kebaikan diri secara pribadi. Berikut ini dijelaskan beberapa akhlak kepada din sendiri, antara lain sabar, syukur, tawadhu, benar, dan amanah. a) Sabar Sabar maksudnya sikap tahan uji terhadap berbagai tantangan dan cobaan dalam kehidupan. Hal ini tercermin pada sikap yang mampu menghubungkan segala sesuatu yang dialami dengan nilai-nilai kebaikan berdasarkan ketentuan Allah SWT. Jadi, kesabaran merupakan puncak dari integrasi ilmu, usaha/proses dan hasil yang didapatkan. Di antara perintah Allah yang berhubungan dengan sikap sabar terdapat dalam surat AlBaqarah ayat 153. ﺼﻠُﻮةِ ۚ ِإ ﱠن ﱠ َﺼ ِﺒ ِﺮﯾﻦ �َ َﻣ َﻊ اﻟ ﱠ ﺼﺒ ِْﺮ َواﻟ ﱠ اﯾﱡ َﮭﺎ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ آ َﻣﻨُﻮا ا ْﺳﺘ َ ِﻌﯿﻨُﻮا ِﺑﺎﻟ ﱠ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebaga penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Kesabaran itu tidak dapat dipaksakan begitu saja dalam pribadi seseorang, tetapi dibutuh-kan beberapa faktor pendukung, yaitu keberanian, kekuatan, kesadaran dan pengetahuan. Termasuk ke dalam kategori tidak berakhlak kepada diri seseorang yang menyiksa dirinya sendiri, Diceritakan dalam sebuah riwayat, ada tiga orang laki-laki datang ke rumah Rasulullah. Mereka ingin tahu seperti apa ibadah Rasulullah itu. Mereka diterima oleh Aisyah karena Rasulullah sedang beristirahat di kamarnya. Lalu mereka menyatakan maksud kedatangannya ialah untuk mengetahui lebih dekat tentang ibadah kekasih Allah itu. Lalu diceritakan oleh Aisyah dengan panjang lebar bagaimana Rasulullah tahajjud setiap malam, puasa sunnatnya setiap Senin dan Kamis serta ibadah lainnya. Menjawablah lakilaki yang pertama sambil menyatakan tekad dan keinginannya untuk beribadah setiap malam tanpa waktu istirahat dan tidur karena ingin meniru 11 Rasulullah. Kemudian menjawab pula laki-laki yang kedua sambil menyatakan tekad dan keinginannya untuk puasa sepanjang hari sehingga tiada hari tanpa puasa. Akhirnya menjawab si laki-laki yang ketiga sambil menyatakan tekad dan keinginannya untuk membujang (tiada menikah) sampai akhir hayatnya agar ibadahnya tidak terganggu. Mendengar tekad si laki-laki yang ketiga itu, Rasulullah keluar dari kamarnya dan mendatangi ketiga orang laki-laki itu sambil berkata. Aku adalah orang yang paling takwa di antara ummatku, aku paling rajin ibadah tapi aku tetap punya waktu untuk beristirahat. Kalian yang menyatakan tidak akan tidur pada malam hari, atau yang mengatakan puasa sepanjang hari adalah tidak sah. Sedangkan untuk si laki-laki yang ketiga itu Rasulullah hanya berkata, "Barang siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan termasuk ummatku". Riwayat tersebutmemberikan pelajaran kepada kita bahwa dalam beribadah pun kita tidak boleh menyiksa diri. Karena diri kita punya hak, keluarga kita punya hak pada kita, maka berikanlah haknya masingmasing. Menahan hak orang lain sama dengan kezaliman. b) Syukur Syukur adalah sikap mampu menerima dan memanfaatkan segala sesuatu yang diberikan Allah menurut kehendak-Nya. Syukur juga berarti upaya memanfaatkan nikmat Allah secara optimal untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 12. َو َﻣ ْﻦ َﯾ ْﺸ ُﻜ ْﺮ ﻓَﺈِﻧﱠ َﻤﺎ َﯾ ْﺸ ُﻜ ُﺮ ِﻟﻨَ ْﻔ ِﺴﺔً َو َﻣ ْﻦ َﻛﻔ ََﺮ ﻓَﺈِ ﱠن ﱠ ٌﻲ َﺣ ِﻤﯿﺪ َ َ� ﻏﻨِ ﱞ "...Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Muslim Nurdin, dkk (1993) mengemukakan bahwa syukur adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan penerimaan terhadap suatu pemberian dalam bentuk pemanfaatan dan penggunaan yang sesuai dengan kehendak pemberinya. Syukur kepada Allah dapat diungkapkan melalui dua cara, yaitu ucapan dan perbuatan. Syukur melalui ucapan diaplikasikan dengan 12 mengucapkan pujian kepada Allah SWT sedangkan syukur dalam bentuk perbuatan diwujudkan dengan pemanfaatan secara maksimal semua karunia yang diberikan Allah SWT. Adapun sifat yang tidak pandai mensyukuri nikmat Allah disebut dengan kufur nikmat. Dalam pandangan Allah orang yang kufur nikmat ini sangat dicela dan ganjaran untuk mereka adalah azab yang pedih. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 7. ٌﺸﺪِﯾﺪ َ َﻋﺬَاﺑِﻲ ﻟ ْ َوإِ ْذ ﺗَﺄَذﱠنَ َرﺑﱡ ُﻜ ْﻢ ﻟﺒﻦ َ ﺷﻜﺮﺗ ُ ْﻢ ﻻ زﯾﺪَﻧﱠ ُﻜ ْﻢ َوﻟَﺒِ ْﻦ َﻛﻔ َْﺮﺗ ُ ْﻢ إِ ﱠن Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarı (nikmat-Ku), maka sesungguh-nya azab-Ku sangat pedih. c) Tawadhu Tawadhu adalah sifat rendah hati dalam diri seseorang yang terwujud dalam berbagai aktivitas hidup. Sifat tawadhu dipuji dan sangat dianjurkan oleh Allah SWT sedangkan lawannya yaitu sombong sangat dicela dan dilarang oleh Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Luqman ayat 18. ض َﻣ َﺮ ًﺣﺎ إِ ﱠن ﱠ ﻮر ِ ﺎس َو َﻻ ﺗ َْﻤ ِﺶ ﻓِﻲ ْاﻷ َ ْر ِ ﺼ ِﻌ ْﺮ َﺧﺪﱠكَ ِﻟﻠﻨﱠ ٍ �َ َﻻ ﯾ ُِﺤﺐﱡ ُﻛ ﱠﻞ ُﻣ ْﺨﺘَﺎ ٍل ﻓَ ُﺨ َ ُ َو َﻻ ﺗ "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri". d) Benar (Shiddiq) Benar (Shidiq) yaitu jujur dimana terdapat kesesuaian antara sikap/perilaku dengan isi hati dan bahasa lisan. Perilaku benar akan melahirkan sikap saling mempercayai. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Al-Isra' ayat 80. 13 َ ﺳ ْﻠ ْ ق َو ﯿﺮا ُ َق ﱠواﺟْ َﻌ ْﻞ ﻟَ ْﻲ ِﻣ ْﻦ ﻟﱠﺪُ ْﻧﻚ ً َﺼ ِ ﻄﻨَﺎ ﻧ ِ اﺧ ِﺮﺟْ ﻨِﻲ ُﻣ ْﺨ َﺮ َج ِ َوﻗُ ْﻞ ﱠربّ ِ اد ِْﺧ ْﻠﻨِﻲ ُﻣ ْﺪ َﺧ َﻞ ٍ ﺻ ْﺪ ٍ ﺻ ْﺪ Dan katakanlah (Muhammad): "Ya Tuhan-ku, masukkan aku ke tempal masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku). e) Amanah Amanah artinya berpegang teguh pada kepercayaan yang diberikan dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab baik dalam bentuk harta benda, rahasia, maupun tugas dan kewajiban. Tentang sifat amanah ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 58. إِ ﱠن ﱠ ِ �َ ﯾَﺄ ْ ُﻣ ُﺮ ُﻛ ْﻢ أَ ْن ﺗ ُ َﺆدﱡوا اﻷﻣﻨ ِ ﺖ إﻟﻰ أ ْھ ِﻠﮭﺎ وإذا ﺣ َﻜ ْﻤﺘ ُ ْﻢ ﺑَﯿْﻦَ اﻟﻨﱠ َﺎس أ َ ْن ﺗَﺤْ ُﻜ ُﻤﻮا ﺑﺎﻟﻌَ ْﺪ ِل إِ ﱠن ﷲ ُ ﻧِ ِﻌ ﱠﻤﺎ ﯾَ ِﻌ ﻈ ُﻜ ْﻢ ﺑِ ِﮫ إِ ﱠن ﱠ ﯿﺮا ً ﺼ ِ َﺳ ِﻤﯿﻌًﺎ ﺑ َ َ�َ َﻛﺎن Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. 2. Akhlak Kepada Keluarga Akhlak kepada keluarga adalah sikap yang muncul dari jiwa yang berhubungan dengan pemeliharaan keharmonisan dan kebaikan diri secara pribadi. Bentuk akhlak kepada keluarga, antara lain: a) Berbakti kepada ibu bapak Ibu dan bapak adalah perantara seorang anak lahir ke dunia, kemudian ibu dan bapak merawat dan mendidiknya sampai dewasa dan mandiri, karena itu Islam mewajibkan anak berbakti kepada ibu dan bapak tersebut seperti firman Allah dalam surat Al-Isra' ayat 23. ﺴﻨَﺎ إِ ﱠﻣﺎ ﯾَ ْﺒﻠُﻐ ﱠَﻦ ِﻋ ْﻨﺪَكَ ْاﻟ ِﻜﺒَ َﺮ أ َ َﺣﺪُ ُھ َﻤﺎ أ َ ْو ِﻛﻠَ ُﮭ َﻤﺎ ﻓَ َﻼ ﺗَﻘُﻞ ﻟﱠ ُﮭ َﻤﺎ َ ََوﻗ َ ْﻀﻰ َرﺑﱡﻚَ أ َ ﱠﻻ ﺗ َ ْﻌﺒُﺪُوا إِ ﱠﻻ إِﯾﱠﺎهُ َوﺑِ ْﺎﻟ َﻮا ِﻟﺪَﯾ ِْﻦ إِﺣ ف ﱠو َﻻ ﺗ َ ْﻨ َﮭ ْﺮ ُھ َﻤﺎ َوﻗُ ْﻞ ﻟﱠ ُﮭ َﻤﺎ ﻗَ ْﻮ ًﻻ ﻛ َِﺮﯾ ًﻤﺎ ٌ ُأ 14 Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." ْ َو ﯿﺮا ْ اﺧ ِﻔ ْ ِ ّاﻟﺮﺣْ َﻤ ِﺔ َوﻗُ ْﻞ ﱠرب ﺾ ﻟَ ُﮭ َﻤﺎ َﺟﻨَﺎ َح اﻟﺬﱡ ِّل ِﻣﻦَ ﱠ ً ﺻ ِﻐ َ ار َﺣ ْﻤ ُﮭ َﻤﺎ َﻛ َﻤﺎ َرﺑﱠ ْﯿﻨِﻲ Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Q.S Al-Isra’:24). Ayat ini menekankan sikap anak kepada ayah-ibunya yakni, (1) jangan menyakiti hati atau perasaan orang tua baik dengan ucapan, maupun sikap dan tingkah laku, (2) memelihara perasaan kedua orang tua sangat diperhatikan terutama sekali ketika ayah-ibu sudah berada dalam usia lanjut (lansia) dimana jiwanya sudah mulai labil dan mudah tersinggung, (3) gunakanlah kata-kata sopan dan manis dalam berbicara atau berkomunikasi ukasi dengan kedua orang tua baik pembicaraan langsung saat bertatap muka maupun lewat telepon, (4) dalam menghadapi kedua orang tua hindari sifat angkuh dan sombong, dan (5) teruslah berdoa unuk kedua orang tua agar mereka selaluberada dalam lindungan rahmat adan ampunan-Nya. b) Adil terhadap saudara Prinsip keadilan ditegaskan dalam surat An-Nahl ayat 90: ُ ﻋ ِﻦ ْاﻟﻔَﺤْ ﺸَﺎء واﻟﻤﻨﻜﺮ َو ْاﻟﺒَ ْﻐﻲ ِ ﯾَ ِﻌ ِإ ﱠن ﱠ ﻈ ُﻜ ْﻢ َ َﺎن ذِي ْاﻟﻘُ ْﺮﺑَﻰ َوﯾَ ْﻨ َﮭﻰ َ ْاﻹﺣ ِ ْ �َ ﯾَﺄ ْ ُﻣ ُﺮ ِﺑ ْﺎﻟ َﻌ ْﺪ ِل َو ِ ﺎن َوا ْﯾﺘ ِ ﺴ ََﻟ َﻌﻠﱠ ُﻜ ْﻢ ﺗَﺬَ ﱠﻛ ُﺮ ْون Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang darı perbuatan keji, 15 kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.. Sifat dan sikap adil ada dua macam. Adil yang berhubungan dengan perseorangan dan adil yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan pemerintahan. Adil perseorangan ialah tindakan memberi hak kepada yang mempunyai hak. Sedang adil dalam segi kemasyarakatan dan pemerintahan misalnya tindakan hakim yang menghukum orang-orang jahat sepanjang пегаса keadilan. Pemerintahan dipandang adil jika mengusahakan kemakmuran rakyat secara merata. Salah satu makna adil adalah memberikan hak orang lain yang ada di bawah kekuasaan kita. c) Mendidik anak Anak adalah amanah yang harus dirawat, dipelihara, dan dididik dengan penuh kasih sayang. Mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang paling utama yang meliputi pendidikan fisik dan rohani. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6. ٌ ﻋﻠَ ْﯿ َﮭﺎ َﻣ ْﻠ ِﺌ َﻜﺔٌ ِﻏ َﻼ َﺼ ْﻮن ُ ظ ِﺷﺪَادٌ ﱠﻻ َﯾ ْﻌ ً ﺴ ُﻜ ْﻢ َوأ َ ْھ ِﻠﯿ ُﻜ ْﻢ ﻧ َ ُ ﺎرة ُ َﺎرا َوﻗُ ْﻮدُھَﺎ اﻟﻨﱠ َ َُﯾﺄَﯾﱡ َﮭﺎ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ آ َﻣﻨُﻮا ﻗُﻮا أ َ ْﻧﻔ َ ﺎس َو ْاﻟ ِﺤ َﺠ ﱠ َ�َ َﻣﺎ أ َ َﻣ َﺮ ُھ ْﻢ َوﯾَ ْﻔﻌَﻠُ ْﻮنَ َﻣﺎ ﯾُﺆْ َﻣ ُﺮ ْون Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Orang tua yang menyia-nyiakan anaknya termasuk ke dalam kategori orang tua yang tidak berakhlak. 3. Akhlak Dalam Masyarakat Dalam konteks berhubungan dengan sesama manusia ada pola perilaku yang menjadi tata aturan bergaul sesama manusia. Pola perilaku yang baik terhadap orang lain merupakan hasil pengendalian diri dengan hati yang bersih 16 sehingga memunculkan pikiran-pikiran yang positif melihat orang lain bahkan sebagai bagian dari dirinya. Sikap seperti ini akan melahirkan rasa kasih sayang sebagai dasar hubungan sesama manusia. Di antara adab pergaulan sesama manusia sebagai berikut: a) Akhlak terhadap orang yang lebih tua Agama mengajarkan tentang kewajiban yang muda untuk menghargai dan menghormati yang lebih tua. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW: ﯿﺮﻧَﺎ َ ْﺲ ِﻣﻨﱠﺎ َﻣ ْﻦ ﻟَ ْﻢ ﯾَ ْﺮ َﺣ ْﻢ َ ِﯿﺮﻧَﺎ َوﯾ َُﻮ ِﻗّ ُﺮ َﻛﺒ َ ﺻ ِﻐ َ ﻟَﯿ Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua. (HR. at-Tirmidzi). b) Akhlak terhadap teman sebaya Di dalam pergaulan dan kerjasama dengan orang lain termasuk teman sebaya janganlah seseorang merasa lebih dari yang lain. Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ْ َْاﻟ ُﻤ ْﺴ ِﻠ ُﻢ أﺧﻮ اﻟ ُﻤ ْﺴ ِﻠ ِﻢ َﻻ ﯾ ُﻈ ِﻠ ُﻤﮫُ َو َﻻ ﯾُ ْﺴ ِﻠ ُﻤﮫ Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. (HR. Bukhari). c) Akhlak terhadap orang yang lebih muda Generasi yang lebih tua harus memberikankasih sayang kepada generasi yang muda. Karena dengan kasih sayang akan muncul ikatan emosional yang akan bermuara kepada pembinaan dan pendidikan generasi muda ke arah yang lebih baik. Sabda Rasulullah SAW: ﻣﻦ ﻻ ﯾﺮﺣﻢ ﻻ ﯾﺮﺣﻢ “Siapa yang tidak menyayangi (orang lain), dia juga tidak akan disayangi (oleh orang lain)." 17 d) Akhlak dalam majelis/pertemuan Islam mengajarkan kepada kita tentang sikap atau perilaku di dalam majelis semisal rapat, pertemuan, musyawarah, seminar dsb. Sehubungan dengan ini Allah berfirman dalam surat Al-Mujadalah 11. ُ ﺸ ُﺰوا ﻓَﺎ ْﻧ ُ �ُ ﻟَ ُﻜ ْﻢ َو ِإذَا ﻗِ ْﯿ َﻞ ا ْﻧ ﺢ ﱠ ﺸ ُﺰوا ﯾَ ْﺮﻓَ ِﻊ ُ ﯾَﺄَﯾﱡ َﮭﺎ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ آ َﻣﻨُﻮا ِإذَا ﻗِ ْﯿ َﻞ ﻟَ ُﻜ ْﻢ ﺗ َ ْﻔ َ ﺴ ُﺤ ْﻮا ﯾَ ْﻔ َ ﺴ ُﺤﻮا ﻓِﻲ ْاﻟ َﻤﺠْ ِﻠ ِﺲ ﻓَﺎ ْﻓ ِ ﺴ �ُ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ آ َﻣﻨُﻮا ِﻣ ْﻨ ُﻜ ْﻢ َواﻟﱠ ِﺬﯾْﻦَ ا ُ ْوﺗُﻮا ْاﻟ ِﻌ ْﻠ َﻢ دَ َر َﺟﺖٌ َو ﱠ ﱠ ﯿﺮ ٌ �ُ ِﺑ َﻤﺎ ﺗَ ْﻌ َﻤﻠُﻮنَ َﺧ ِﺒ Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Ayat ini mengajarkan akhlak/etika seorang muslim di dalam sebuah majelis yakni sikap saling melapangkan, tidak boleh egois dan ingin menang sendiri. Ayat tersebut turun sehubungan dengan peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah. Ketika Rasulullah SAW memberikan pelajaran di masjid Nabawi, para sahabat dengan sangat antusias mendengarnya. Tiba-tiba datang serombongan orang, mereka juga ingin mendengarkan wejangan yang disampaikan oleh Rasulullah sedangkan orang-orang yang datang terdahulu tidak ada yang memberikan jalan kepada teman-teman mereka yang datang terlambat itu. Padahal di antara yang baru datang itu adalah para sahabat yang ikut dalam peperangan Badar, maka mereka terpaksa mendengarkan wejangan Rasulullah sambil berdiri. Melihat situasi itu, turunlah ayat di atas dan Rasulullah segera memerintahkan agar memberikan tempat kepada mereka yang datang terlambat. Imam Fakhruddin al-Razi berkomentar, ayat tersebut tidak hanya memerintahkan kita berlapang lapang secara fisik yakni tempat duduk tetapi juga sikap lapang dada atau toleransi dalam pembicaraan serta mau saling mendengar dan menghormati pendapat orang lain. Bila dicermati rangkaian ayal tersebut, terlihatlah bahwa sikap lapang dada, toleransi (tasamuh) itu merupakan bahagian yang tak terpisahkan dari kadar keimanan dan kapasitas intelektualitas seseorang 18 e) Akhlak terhadap yang berbeda agama Islam mengatur akhlak terhadap sesama manusia, sekalipun terhadap orang yang berbeda agama. Hal ini menunjukkan ketinggian dan kemuliaan akhlak seorang muslim dalam kehidupan sosial. Banyak ajaran Allah SWT dan Rasul SAW yang membimbing umat Islam untuk berbuat baik kepada non muslim. Sejarah kehidupan Rasul SAW menunjukkan hal tersebut, seperti perlindungan terhadap orang kafir zimmi baik Yahudi maupun Nasrani bahkan Rasul mengunjungi orang kafir yang meludahinya setiap berangkat ke mesjid untuk melaksanakan shalat. Akhlak terhadap orang yang berbeda agama ini dibatasi dalam konteks kehidupan sosial saja, sehingga muncul sikap saling menghargai dan toleransi antar sesama manusia. Namun dalam persoalan aqidah, agama memberi ketegasan bahwa tidak terdapat peluang untuk melakukan kerjasama di dalam hal tersebut. Ajaran toleransi terhadap non muslim (kafir) tergambar dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8-9. ُ ﺎر ُﻛ ْﻢ أ َ ْن ﺗَ َﺒ ﱡﺮ ْو ُھ ْﻢ َوﺗ ُ ْﻘ ِﺴ َﻻ َﯾ ْﻨ ُﮭﺪ ُﻛ ُﻢ ﱠ ﻄﻮا ِإﻟَ ْﯿ ِﮭ ْﻢ َ ُ� ِ ﻋ ِﻦ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﻟَ ْﻢ ﯾُﻘَﺎﺗِﻠُﻮ ُﻛ ْﻢ ﻓِﻲ اﻟ ِﺪّﯾ ِْﻦ َوﻟَ ْﻢ ﯾ ُْﺨ ِﺮ ُﺟ ْﻮ ُﻛ ْﻢ ِﻣ ْﻦ ِد َﯾ َ ﺎر ُﻛ ْﻢ َو ِﻄﯿْﻦَ ِإﻧﱠ َﻤﺎ َﯾ ْﻨ ُﮭ ِﺪ ُﻛ ُﻢ ﱠ ظﺎھ َُﺮوا ِ ِإ ﱠن ﷲَ ﯾ ُِﺤﺐﱡ ْاﻟ ُﻤ ْﻘﺴ َ ُ� ِ ﻋ ِﻦ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﻗَﺎﺗَﻠُ ْﻮ ُﻛ ْﻢ ِﻓﻲ اﻟ ِﺪّﯾ ِْﻦ َوأ َ ْﺧ َﺮ ُﺟﻮ ُﻛ ْﻢ ِ ّﻣ ْﻦ ِد َﯾ اﺟ ُﻜ ْﻢ أ َ ْن ﺗ ََﻮﻟﱠ ْﻮ ُھ ْﻢ َو َﻣ ْﻦ ﯾَﺘ ََﻮﻟﱠ ُﮭ ْﻢ ﻓَﺄُوﻟَﺌِﻚَ ُھ ُﻢ ﱠ َاﻟﻈ ِﻠ ُﻤ ْﻮن َ ِ ﻋﻠَﻰ إِ ْﺧ َﺮ "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." 4. Akhlak Kepada Bangsa Dan Negara Islam menghendaki terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mewujudkan kemakmuran itu Islam mengatur hubungan antara sesama manusia. Penekanan dari akhlak kepada bangsa dan negara adalah perwujudan sifat yang mendukung terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran dengan 19 melaksanakan hak dan kewajiban yang telah diatur oleh negara dan tidak bertentangan dengan aturan tertinggi dari Allah SWT. Seseorang warga negara yang baik akan selalu memberi kontribusi dan prestasi yang berharga kepada bangsa dan negaranya. Karena bangsa dan negara dengan warganya memiliki hubungan timbalbalik yang tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat akhlak Islam itu lahir dalam bentuk persaudaraan yang disebut dengan Ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah artinya persaudaraan, dan ukhuwah Islamiyah maksudnya persaudaraan sesama umat Islam, Ukhuwah ini didorong oleh kekuatan iman dan spiritual yang melahirkan perasaan yang kasih sayang. Allah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 10. ٌ ِإﻧﱠ َﻤﺎ ْاﻟ ُﻤﺆْ ِﻣﻨُﻮنَ ِإ ْﺧ َﻮة "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara..." Firman Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 67. َﻋﺪ ﱞُو ِإ ﱠﻻ ْاﻟ ُﻤﺘﱠﻘِﯿﻦ ُ ْاﻷ َ ِﺧ ﱠﻼ ُء َﯾ ْﻮ َﻣﺌِ ٍﺬ َﺑ ْﻌ ٍ ﻀ ُﮭ ْﻢ ِﻟ َﺒ ْﻌ َ ﺾ "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa." Ada beberapa proses terbentuknya ukhuwah Islamiyah yaitu: a) Taaruf, yaitu saling kenal mengenal (Q.S 49:13) antara lain mengenal nama, fisik, tempat tinggal, pekerjaan, hobi dan keluarga. b) Tafahum, saling memahami, yaitu saling, memahami kondisi mental, sifat, karakter, watak dan lain-lain. c) Ta’awun, saling tolong menolong dalam suka dan duka dalam meningkatkan ketakwaan. d) Tafakul, saling mendukung program dan kegiatan saudara dalam rangka menegakkan tali persaudaraan yang berlandaskan iman dan takwa. 20 5. Akhlak Yang Berhubungan Dengan Lingkungan Yang dimaksud lingkungan di sini adalah tempat manusia hidup dan mencari penghidupan. Ada lingkungan alam yang terdiri dari fauna dan flora dan ada pula lingkungan sosial yang terdiri dari manusia Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial wajib dipelihara dengan sebaik-baiknya. Karena memelihara lingkungan adalah salah satu tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Seorang muslim memandang alam sebagai milik Allah yang wajib disyukuri dengan cara menggunakan dan mengelolanya supaya memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya, baik yang hidup sekarang maupun generasi yang akan datang. Dalam al-Quran terdapat banyak ayat yang berhubungan dengan akhlak terhadap lingkungan ini, di antaranya yang menjelaskan tentang larangan berbuat kerusakan baik di darat maupun di laut, sebagaimans firman Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 41. َ ْ ﺴ َﺒ َﻋ ِﻤﻠُﻮا ﻟَ َﻌﻠﱠ ُﮭ ْﻢ َﯾ ْﺮ ِﺟﻌُﻮن ِ ﺖ أ َ ْﯾﺪِى اﻟﻨﱠ َ ﺾ اﻟﱠﺬِي َ ﺴﺎدُ ِﻓﻲ ْاﻟ َﺒ ِ ّﺮ َو ْاﻟ َﺒﺤْ ِﺮ ِﺑ َﻤﺎ َﻛ َ َظ َﮭ َﺮ ْاﻟﻔ َ ﺎس ِﻟﯿُﺬِﯾﻘَ ُﮭ ْﻢ َﺑ ْﻌ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar. Sehubungan dengan penjagaan serta pemeliharaan lingkungan ini Rasulullah SAW menyuruh kita bercermin kepada lebah karena lebah adalah makhluk hewan yang taat azas dalam memelihara kebersihan. Sabda Rasulullah: وﻻ ﺗﻀﻊ إﻻ طﯿﺒﺎ، ﻻ ﺗﺄﻛﻞ إﻻ طﯿﺒﺎ،ﻣﺜﻞ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻣﺜﻞ اﻟﻨﺤﻠﺔ Perumpamaan seorang Mukmin bagaikan lebah, ia tidak makan kecuali yang baik dan tidak memberi kecuali yang baik. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) 21 Hadis ini menggambar tiga kebiasaan lebah yang selalu ia pertahankan di dalam kehidupannya. Yaitu (1) memilih makanan yang bersih untuk dikosumsi (2) mengeluarkan/memproduksi yang baik-baik untuk disumbangkn kepada orang lain, yakni berupa madu (3) tidak mau merusak lingkungannya. Seandainya bolehlah memakaikan kata "wibawa" kepada binatang maka lebah adalah binantang yang paling tinggi wibawanya, baik dari segi solidaritas maupun kekompakannya yang kadang-kadang dapat mengatasi kewibawaan manusia. Sebagai contoh, lebah tidak mau mengganggu selama ia tidak diganggu. Tetapi apabila ada pihak yang mencoba mengganggu warganya, maka mereka dengan kompak menyerangnya sampai dapat. 22 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Akhlak, moral, dan etika memiliki kedudukan penting dalam membentuk kepribadian manusia, khususnya dalam perspektif Islam. Akhlak adalah cerminan sikap dan perilaku seseorang yang didasarkan pada petunjuk Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Berbeda dengan moral dan etika yang bersumber dari pemikiran manusia, akhlak dalam Islam bersifat absolut, universal, dan abadi. Rasulullah SAW sebagai suri teladan umat telah memperlihatkan akhlak mulia dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga menjadi contoh utama bagi umat Islam. Ruang lingkup akhlak meliputi hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta lingkungan sekitar. Aplikasi nyata dari akhlak ditunjukkan melalui perilaku seperti sabar, syukur, tawadhu, adil, amanah, dan menghargai sesama, tanpa membedakan agama atau latar belakang. Dengan mengamalkan akhlak yang baik, seorang muslim tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga berkontribusi terhadap terciptanya masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera. Oleh karena itu, memahami dan mengaplikasikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari menjadi keharusan bagi setiap individu yang beriman. 23 DAFTAR PUSTAKA Dr.Hapni Laila Siregar, M.A., (2022) Islam Kaffah, CV. Kencana Emas Sejahtera 24
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )