Pengertian Kesehatan Mental
Istilah kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene. Kata mental berasal dari
bahasa Yunani yang berarti kejiwaan. Kata mental memiliki persamaan makna dengan kata psyche
yang berasal dari bahasa Latin yang berarti psikis atau jiwa. Hygiene berasal dari bahasa Inggris
yang berarti kesehatan, maka itu mental hygiene berarti kesehatan mental. Di kalangan ahli
kesehatan mental, istilah yang digunakan untuk menyebut kesehatan mental bervariasi dengan
kriteria yang berbeda. Maslow menyebut kesehatan mental dengan istilah self-actualization,
Rogers menyebutnya dengan fully functioning, Allport menyebutnya dengan mature personality,
dan mayoritas psikolog menyebutnya dengan mental health (Masganti, 2014).
Terdapat banyak definisi yang dikemukakan berkaitan dengan kesehatan mental. Fahmi
(dalam Masganti, 2014) menyebutkan dua definisi kesehatan mental, yaitu:
a. Kesehatan mental adalah bebas dari gejala-gejala penyakit jiwa dan gangguan kejiwaan.
Pengertian ini banyak digunakan dalam lapangan kedokteran jiwa (psikiatri).
b. Kesehatan mental adalah cara aktif luas, lengkap tidak terbatas, berhubungan dengan
kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan
masyarakat lingkungannya, hal itu membawanya kepada kehidupan yang suci dari
kegoncangan dan penuh vitalitas. Seorang yang bermental sehat mampu menerima dirinya
dan tidak adanya tanda-tanda yang memperlihatkan ketidakserasian sosial, juga tidak
melakukan hal-hal yang tidak wajar, akan tetapi berkelakuan wajar yang memperlihatkan
kestabilan jiwa, emosi dan pikiran dalam berbagai situasi.
Selanjutnya, M. Jahoda (dalam Iswati & Kuliyatun, 2019), seorang pelopor gerakan
kesehatan mental mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi yang berkaitan dengan
penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan
stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata, baik
mengenai kehidupan maupun keadaan diri sendiri. Menurut Buchori (dalam Hawi, 2014) bahwa
kesehatan mental merupakan ilmu yang meliputi sistem mengenai prinsip-prinsip, peraturanperaturan serta prosedurnya untuk meningkatkan kesehatan rohani. Orang yang sehat mental
berarti orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu merasa senang, aman, dan tenteram.
Lebih lanjut, Daradjat (dalam Masganti, 2014) dalam pidato pengukuhannya sebagai guru
besar untuk Kesehatan Jiwa pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengemukakan lima rumusan
kesehatan jiwa yang umumnya dianut para ahli. Kelima rumusan disusun mulai dari rumusanrumusan yang khusus sampai yang lebih umum, sehingga dari urutan itu tergambar bahwa rumusan
terakhir seakan-akan memuat rumusan sebelumnya, yaitu:
a. Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari
gejala-gejala penyakit jiwa (psichose). Definisi ini banyak dianut di kalangan psikiatri yang
memandang manusia dari segi sehat atau sakitnya.
b. Kesehatan mental adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan dirinya
sendiri dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan tempat ia hidup. Definisi ini
terlihat lebih luas dan lebih umum daripada definisi pertama karena dihubungkan dengan
kehidupan sosial secara menyeluruh, dimana kemampuan menyesuaikan diri diharapkan
akan menghasilkan ketenteraman dan kebahagiaan hidup.
c. Kesehatan mental adalah terciptanya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsifungsi jiwa, mempunyai kesanggupan untuk menghadapi permasalahan yang biasa terjadi,
terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik). Definisi ini menunjukkan
bahwa fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan harus
saling menunjang dan bekerja sama sehingga menciptakan keharmonisan hidup, yaitu
menjauhkan orang dari sifat ragu-ragu dan bimbang serta terhindar dari rasa gelisah dan
konflik batin.
d. Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang memiliki tujuan untuk
mengembangkan dan memanfaatkan potensi, bakat, dan pembawaan yang ada semaksimal
mungkin, sehingga menimbulkan kebahagiaan diri dan orang lain, serta terhindar dari
gangguan dan penyakit jiwa. Definisi ini lebih menekankan pada pengembangan dan
pemanfaatan segala daya dan pembawaan yang dibawa sejak lahir, sehingga benar-benar
membawa manfaat dan kebaikan kepada orang lain dan dirinya sendiri.
e. Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsifungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan
lingkungannya yang berlandaskan pada keimanan dan ketaqwaan, bertujuan untuk
mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia maupun di akhirat.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental merupakan
kondisi kejiwaan yang terbebas dari gangguan mental yang muncul dari kemampuan seseorang
untuk menjaga, bertahan, dan meningkatkan mentalnya dalam menghadapi berbagai permasalahan
dalam hidupnya.
Istilah kesehatan mental dalam Al-Qur’an dan Hadis digunakan dengan beragam kata
seperti najat (keselamatan), fawz (keberuntungan), falah (kemakmuran), dan sa’adah
(kebahagiaan). Adapun bentuk kesehatan mentan mencakup:
a. Di dunia yaitu keselamatan dari segala hal yang mengancam kehidupan dunia.
b. Kehidupan di akhirat yaitu selamat dari celaka dan siksaan di akhirat termasuk menerima
ganjaran dan kebahagiaan dalam berbagai bentuk (dalam Masganti, 2014).
Menurut Langgulung (dalam Fitrianah, 2018) bahwa kesehatan mental identik dengan
akhlak mulia. Kesehatan mental diartikan sebagai keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang
merasa rela (ikhlas) dan tenteram ketika melaksanakan akhlak yang mulia. Jaya (dalam Farabi,
2019) menjelaskan bahwa kesehatan mental menurut Islam identik dengan ibadah atau
pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia dalam rangka pengabdian kepada Allah dan
agamanya untuk memperoleh al-nafs al muthmainnah (jiwa yang tenang dan bahagia) dengan
kesempurnaan iman dalam hidupnya. Berdasarkan beberapa pendapat kesehatan mental dalam
islam dimaknai sebagai keselamatan dunia dan akhirat dalam bentuk kebaikan dan kebahagiaan.
DAPUS
Farabi, M.A. (2019). Psikologi agama.