IMPLEMENTASI HYPERAUTOMATION DENGAN NATURAL LANGUAGE PROCESSING UNTUK PROSES REKRUTMEN PEGAWAI: STUDI KASUS PT. TECH XYZ PROPOSAL TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Sidang Sarjana Di Program Studi Teknik Informatika NPM : 40621200005 Nama : Nidal Abdillah Konsentrasi : IT TEKNIK INFORMATIKA – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG 2025 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam era transformasi digital yang pesat, proses rekrutmen di perusahaan teknologi menghadapi tantangan besar dalam mengelola volume aplikasi lamaran yang tinggi dan memastikan pemilihan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Perusahaan Tech XYZ, sebagai salah satu pemain utama di industri teknologi, mengalami berbagai kendala dalam proses penyaringan dan seleksi kandidat yang efisien dan efektif. Proses rekrutmen yang masih mengandalkan metode manual menghadirkan berbagai permasalahan, seperti penyaringan awal yang memakan waktu, ketidakefektifan dalam mengidentifikasi kandidat yang kompeten, serta kurangnya alat bantu objektif dalam pengambilan keputusan. Salah satu kendala utama dalam proses rekrutmen tradisional adalah penyaringan awal CV yang lambat dan tidak efisien. Tim HR harus memilah dan menganalisis ratusan hingga ribuan CV secara manual, yang tidak hanya memakan waktu tetapi juga berisiko tinggi terhadap kesalahan manusia. Dalam banyak kasus, kandidat dengan kualifikasi terbaik bisa terlewatkan karena keterbatasan waktu dan sumber daya dalam tahap seleksi awal. Selain itu, proses seleksi yang masih dilakukan secara konvensional sering kali menyulitkan tim HR dalam membangun kumpulan kandidat yang benar-benar kompeten. Banyak kandidat yang masuk ke tahap seleksi lanjutan tidak sepenuhnya memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Hal ini mengakibatkan peningkatan waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk menyaring kandidat yang kurang relevan, sehingga menghambat efektivitas rekrutmen. Tantangan lainnya adalah kurangnya sistem yang dapat menilai keterampilan dan pengalaman kandidat secara objektif. Penilaian masih sangat bergantung pada interpretasi subjektif dari perekrut, yang berpotensi menimbulkan bias dalam proses seleksi. Kesulitan dalam mencocokkan keterampilan kandidat dengan kebutuhan perusahaan sering kali menyebabkan ketidaktepatan dalam pengambilan keputusan rekrutmen. Selain aspek penyaringan dan penilaian kandidat, proses pengambilan keputusan dalam rekrutmen juga menjadi tantangan tersendiri. Tanpa adanya sistem pendukung keputusan berbasis data, tim HR sering kali mengalami kesulitan dalam menentukan kandidat terbaik secara objektif. Keputusan yang dibuat secara manual dapat mengakibatkanketidakkonsistenan 2 dalam proses seleksi dan meningkatkan risiko kesalahan dalam memilih kandidat yang sesuai. Lebih lanjut, efisiensi dan efektivitas dalam proses rekrutmen menjadi tantangan utama bagi perusahaan. Metode manual yang masih digunakan saat ini sering kali menyebabkan keterlambatan dalam setiap tahapan rekrutmen, mulai dari penyaringan awal hingga pengambilan keputusan akhir. Proses yang tidak optimal ini dapat mengakibatkan kehilangan kandidat potensial, terutama jika mereka mendapatkan tawaran dari perusahaan lain lebih cepat. Dengan berbagai permasalahan tersebut, jelas bahwa metode rekrutmen tradisional memiliki banyak keterbatasan yang dapat menghambat efektivitas perusahaan dalam memperoleh tenaga kerja berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dalam mengatasi tantangan ini, sehingga proses rekrutmen dapat berjalan lebih efisien dan tepat sasaran. 1.2 Rumusan Masalah Proses rekrutmen pegawai merupakan aspek krusial dalam keberlangsungan suatu perusahaan, terutama dalam industri teknologi yang menuntut tenaga kerja dengan keterampilan dan kompetensi yang tinggi. Perusahaan Tech XYZ menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan proses rekrutmen yang efektif dan efisien meliputi: 1. Bagaimana meningkatkan efisiensi dalam penyaringan awal kandidat agar proses seleksi awal dapat dilakukan dengan cepat dan akurat sesuai dengan kriteria perusahaan? 2. Bagaimana membangun kumpulan kandidat yang relevan dan kompeten, baik dari sumber internal maupun eksternal, guna memastikan hanya pelamar yang memenuhi kualifikasi yang masuk ke tahap seleksi berikutnya? 3. Bagaimana proses evaluasi keterampilan, pengalaman, dan relevansi kandidat dapat dilakukan secara lebih objektif dan konsisten untuk mengurangi subjektivitas dalam pengambilan keputusan di Perusahaan Tech XYZ? 4. Bagaimana menyediakan sistem pendukung keputusan yang dapat membantu tim HR dalam menilai dan memilih kandidat terbaik berdasarkan analisis data yang lebih terstruktur? 5. Bagaimana meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kualitas dalam seluruh proses rekrutmen pegawai di Perusahaan Tech XYZ agar setiap tahap seleksi berjalan lebih optimal dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem Hyperautomation berbasis AI dengan Natural Language Processing NLP dalam proses 3 rekrutmen pegawai di Perusahaan Tech XYZ. Adapun tujuan utama dari penelitian ini adalah: 1. Mengotomatiskan Penyaringan Awal dengan mempercepat analisis dan seleksi CV kandidat berdasarkan kesesuaian dengan kriteria yang telah ditetapkan, sehingga meningkatkan efisiensi dalam tahap seleksi awal. 2. Membangun kumpulan kandidat yang kompeten dengan mengidentifikasi dan menyaring kandidat yang benar-benar memenuhi kualifikasi perusahaan, baik dari pelamar internal maupun eksternal, guna memastikan hanya kandidat yang relevan yang masuk ke tahap seleksi lebih lanjut. 3. Mengoptimalkan penggunaan alat seleksi berbasis AI melalui sistem evaluasi yang dapat menilai keterampilan, pengalaman, dan relevansi kandidat berdasarkan analisis dokumen lamaran dengan pencocokan pada requirement yang ada. 4. Menyediakan rekomendasi keputusan berbasis data melalui Decision Support System (DSS) untuk membantu tim HR dalam memilih kandidat terbaik berdasarkan hasil analisis AI, sehingga meningkatkan objektivitas dan efisiensi pengambilan keputusan. 5. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses rekrutmen pegawai dengan mengurangi ketidakefektifan metode manual serta memaksimalkan resource yang ada tentu memastikan setiap tahap rekrutmen berjalan secara optimal dengan automation. 1.4 Batasan Masalah Berikut adalah beberapa Batasan Masalah yang dihadapi: 1. Studi ini berfokus pada tahap seleksi kandidat setelah kriteria rekrutmen ditetapkan oleh perusahaan. 2. Requirement di include pada sistem secara manual untuk nanti di cocokan oleh AI dengan cv kandidat. 3. Penyaringan awal menggunakan automation yang di peroleh oleh AI hanya sebatas Decision Suport System (DSS) yang membantu HR untuk mengabil keputusan. 4. Hasil analisis AI bergantung pada kualitas data yang dimasukkan; kesalahan atau ketidaklengkapan dalam CV yang dibuat kandidate dapat memengaruhi akurasi rekomendasi sehingga penting CV yang berkualitas. 5. Prompting yang digunakan bersifat statis, artinya model NLP hanya akan menghasilkan respons sesuai dengan struktur prompt yang telah ditentukan. 6. Studi ini hanya diterapkan dalam lingkungan Perusahaan Tech XYZ, sehingga hasil yang diperoleh belum tentu dapat langsung diadopsi oleh perusahaan lain dengan model rekrutmen yang berbeda. 1.5 Mamfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak, khususnya dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses rekrutmen di 4 Perusahaan Tech XYZ. Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini: 1. Mempercepat proses seleksi awal Dengan otomatisasi penyaringan CV, sistem dapat dengan cepat menganalisis dan menyeleksi kandidat berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sehingga menghemat waktu dan tenaga dalam proses rekrutmen. 2. Penyaringan Kandidat yang Lebih Akurat Penelitian ini membantu membangun kumpulan kandidat yang lebih berkualitas dengan memastikan hanya individu yang memenuhi kualifikasi perusahaan yang dapat masuk ke tahap seleksi lebih lanjut. 3. Reduksi Human Error dengan Teknologi AI untuk Evaluasi Kandidat Penggunaan AI dalam analisis data kandidat membantu mengurangi kesalahan manusia dalam menilai kelayakan pelamar. Hal ini memastikan bahwa proses rekrutmen berjalan lebih adil dan transparan. 4. Optimalisasi Pengambilan Keputusan Dengan adanya Decision Support System (DSS), tim HR dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih terstruktur dan analisis yang lebih mendalam. Ini membantu dalam memilih kandidat terbaik dengan lebih percaya diri dan berdasarkan data yang valid. 5. Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas Rekrutmen Dengan mengurangi ketergantungan pada metode manual dan memanfaatkan otomatisasi, penelitian ini memastikan bahwa setiap tahap rekrutmen dapat berjalan dengan lebih optimal, menghemat sumber daya, serta meningkatkan kualitas perekrutan secara keseluruhan. Dengan manfaat-manfaat ini, penelitian ini tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan proses rekrutmen yang lebih canggih, efektif, dan kompetitif di era digital. 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Metode Natural Language Processing Dalam Screening CV Proses screening Curriculum Vitae (CV) atau resume merupakan tahap krusial dalam rekrutmen, di mana sejumlah besar aplikasi perlu dievaluasi secara efisien untuk mengidentifikasi kandidat yang paling sesuai. Metode Natural Language Processing (NLP) telah muncul sebagai pendekatan yang menjanjikan untuk mengotomatisasi dan meningkatkan akurasi proses ini [1], ini akan mengeksplorasi berbagai metode NLP yang diterapkan dalam screening CV berdasarkan dua studi yang relevan. Devaraju [1] meneliti pemanfaatan NLP secara komprehensif dalam sistem rekrutmen berbasis kecerdasan buatan (AI), dengan fokus pada peningkatan efisiensi screening, pemeringkatan, dan pencocokan kandidat. Studi ini mengadopsi model-model NLP canggih seperti BERT dan GPT untuk memahami konteks dalam resume dan deskripsi pekerjaan, sehingga memungkinkan identifikasi kandidat yang lebih akurat. Selain itu, penelitian ini mengembangkan alat simulasi wawancara berbasis NLP yang menggunakan input dari Manajer Perekrutan untuk mengevaluasi kesesuaian kandidat melalui interaksi yang disimulasikan. Algoritma pencarian semantik berbasis NLP juga diterapkan untuk menyaring kandidat dari basis data HR yang besar berdasarkan relevansi keterampilan dan pengalaman. Metode-metode NLP ini bertujuan untuk mengatasi tantangan dalam efisiensi rekrutmen dan kesesuaian kandidat. Di sisi lain, Hatti et al. [2] mengembangkan sebuah alat "Efficient Resume Screening Tool" yang secara spesifik menggunakan metode NLP dan Machine Learning (ML) untuk mengotomatisasi analisis resume dalam rangka mengidentifikasi kandidat yang paling sesuai. Alat ini memanfaatkan teknik NLP untuk mengekstrak informasi penting dari resume, termasuk keterampilan, pengalaman kerja, dan pendidikan. Informasi yang diekstrak ini kemudian dianalisis dan diperingkatkan berdasarkan kriteria pekerjaan yang telah ditentukan. Metode NLP yang digunakan dalam alat ini memungkinkan kategorisasi keterampilan secara otomatis dan visualisasi informasi kandidat melalui antarmuka berbasis web. Integrasi dengan ML memungkinkan alat ini untuk beradaptasi dan meningkatkan kinerjanya seiring waktu berdasarkan umpan balik dan data baru. Fokus utama dari metode NLP dalam penelitian ini adalah untuk mengurangi upaya manual dalam screening 6 dan meningkatkan akurasi dalam mengidentifikasi kandidat yang relevan. [3] kesulitan yang dihadapi oleh pemberi kerja dalam menyeleksi sejumlah besar resume. Penelitian mereka bertujuan untuk memastikan evaluasi kandidat yang adil, mengurangi bias, dan meningkatkan efisiensi proses evaluasi kandidat melalui otomatisasi screening resume menggunakan teknik NLP. Sistem yang diusulkan mengekstrak kompetensi yang relevan dari resume, dengan fokus pada keterampilan utama yang dibutuhkan untuk posisi tertentu. Studi kasus dilakukan pada 123 posisi pekerjaan, dan penelitian ini mengevaluasi penggunaan Jaccard Similarity dan Cosine Similarity untuk mencocokkan kompetensi yang diekstrak dengan set keterampilan yang telah ditentukan untuk berbagai posisi pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jaccard Similarity menghasilkan hasil yang lebih selaras dengan tujuan studi karena fokusnya pada keberadaan atau ketiadaan kata-kata spesifik (kompetensi). Sistem berbasis NLP ini memberikan skor similaritas untuk memeringkatkan kandidat berdasarkan analisis keberadaan atau ketiadaan kata-kata spesifik dalam resume mereka dibandingkan dengan kompetensi yang dibutuhkan, sehingga menawarkan manfaat signifikan seperti penghematan waktu dan sumber daya, peningkatan objektivitas, dan evaluasi yang lebih adil. 2.1.2 Metode AI untuk Proses Rekrutment Dalam konteks rekrutmen, Artificial Intelligence (AI) dapat didefinisikan sebagai penggunaan sistem komputer untuk meniru kemampuan kognitif manusia. Kemampuan ini meliputi belajar (dari data), memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Dalam proses rekrutmen, AI diterapkan untuk meningkatkan efisiensi, objektivitas, serta mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan memilih kandidat yang paling tepat [4]. Sebelum membahas bagaimana AI diterapkan, penting untuk memahami tahapan umum dalam proses rekrutmen. Secara garis besar, proses ini meliputi [4]: 1) Identifikasi Kebutuhan: Menentukan posisi yang dibutuhkan dalam organisasi. 2) Penyusunan Deskripsi Pekerjaan: Membuat rincian mengenai tanggung jawab, kualifikasi, dan keterampilan yang dicari. 3) Pencarian Kandidat (Sourcing): Menarik calon pelamar melalui berbagai saluran. 4) Penyaringan Awal (Screening): Mengevaluasi aplikasi dan resume untuk memilih kandidat yang memenuhi kriteria dasar. 7 5) Wawancara: Melakukan sesi tanya jawab dengan kandidat terpilih. 6) Penilaian Tambahan: Melakukan tes atau evaluasi lain jika diperlukan. 7) Referensi Cek: Memeriksa latar belakang dan kinerja kandidat dari pemberi kerja sebelumnya. 8) Penawaran Pekerjaan: Menyampaikan tawaran kerja kepada kandidat yang lolos. 9) Onboarding: Mengintegrasikan karyawan baru ke dalam organisasi. Berdasarkan jurnal "Examining the use of artificial intelligence in recruitment processes" karya Karaboga & Vardarlier, 2020, berikut adalah beberapa metode AI yang digunakan dalam berbagai tahapan proses rekrutmen [4]: 1) Ekstraksi Informasi (Information Extraction): AI menggunakan pemrosesan bahasa alami (NLP) dan machine learning untuk secara otomatis memindai dan mengekstrak informasi penting dari resume dan aplikasi, seperti pengalaman kerja, pendidikan, keterampilan, dan kualifikasi yang relevan dengan deskripsi pekerjaan. 2) Pengenalan Kepribadian (Personality Recognition): AI menganalisis teks dalam surat lamaran, jawaban esai, atau transkrip wawancara untuk mengidentifikasi pola bahasa yang mungkin mengindikasikan ciri-ciri kepribadian kandidat. 3) Deteksi Suasana Hati dan Emosi (Mood and Emotion Detection): AI menggunakan analisis linguistik untuk mencoba mendeteksi suasana hati dan emosi yang terkandung dalam komunikasi tertulis kandidat. 4) Sistem Penyortiran Kandidat Otomatis (Automated Candidate Sorting Systems): AI menggunakan algoritma machine learning yang dilatih dengan data perekrut untuk memberikan skor atau peringkat kepada kandidat berdasarkan kesesuaian profil mereka dengan kriteria yang telah dipelajari. 5) Alat Pencocokan Pekerjaan (Job Matching Tools): AI menggunakan teknik seperti NLP, machine learning, dan algoritma genetik untuk menganalisis deskripsi pekerjaan dan resume kandidat, bertujuan untuk mengidentifikasi kandidat dengan keterampilan dan pengalaman yang paling relevan. 8 6) Chatbots: Chatbots yang didukung AI berinteraksi dengan kandidat untuk menjawab pertanyaan umum, mengumpulkan informasi awal, dan membantu penjadwalan wawancara. 7) Analisis Wawancara Video (Video Interview Analysis): AI menganalisis video wawancara untuk mengidentifikasi petunjuk nonverbal seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara, lalu membandingkannya dengan data karyawan berkinerja tinggi. Penting untuk diingat bahwa implementasi AI dalam rekrutmen harus dilakukan secara hati-hati dan etis untuk menghindari bias dan memastikan pengalaman kandidat yang positif [4]. 2.1.3 Metode Prompting AI Dengan Chain-of-Thought dan Few-Shot dalam Analisis CV Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan pesat dalam bidang Kecerdasan Buatan (AI), khususnya dalam model bahasa skala besar (Large Language Models atau LLMs) seperti GPT-3.5 dan GPT-4, telah membuka peluang baru dalam mengotomatisasi berbagai tugas yang sebelumnya memerlukan intervensi manusia. Salah satu area yang sangat potensial untuk penerapan LLMs adalah dalam proses rekrutmen, terutama pada tahap awal analisis dan penyaringan Curriculum Vitae (CV). Metode prompting AI menjadi semakin penting dalam memanfaatkan kemampuan LLMs secara efektif. Prompting adalah proses memberikan instruksi atau pertanyaan spesifik kepada model AI untuk menghasilkan respons yang diinginkan. Desain prompt yang baik dapat secara signifikan mempengaruhi kualitas dan relevansi output yang dihasilkan oleh LLM. Dua teknik prompting yang sangat menjanjikan untuk tugas-tugas penalaran kompleks seperti analisis CV adalah Chain-of-Thought (CoT) dan Few-Shot Learning [5]. Menggabungkan teknik CoT dan few-shot learning memiliki potensi besar untuk meningkatkan kinerja sistem screening CV otomatis. Dengan memberikan beberapa contoh CV yang telah dievaluasi beserta langkahlangkah penalaran di baliknya (CoT dalam konteks few-shot), model AI dapat belajar tidak hanya untuk mengidentifikasi kandidat yang cocok tetapi juga untuk memahami mengapa kandidat tersebut dianggap cocok atau tidak. 1) Chain-of-Thought (CoT) Chain-of-Thought (CoT) adalah teknik prompting yang mendorong model bahasa untuk menghasilkan serangkaian langkah penalaran antara input dan output akhir [5]. Alih-alih langsung memberikan jawaban, model dipandu untuk "berpikir langkah demi langkah," menguraikan proses logis yang mengarah pada kesimpulan. 9 Dalam konteks analisis CV, CoT dapat dimanfaatkan untuk meminta model menjelaskan alasan di balik keputusannya dalam menilai kesesuaian seorang kandidat dengan kriteria tertentu. Misalnya, alihalih hanya memberikan skor "cocok" atau "tidak cocok," model dapat menjelaskan langkah-langkah penalaran seperti: "Kandidat memiliki pengalaman 5 tahun di bidang pengembangan perangkat lunak (sesuai dengan persyaratan), namun tidak memiliki pengalaman spesifik dengan bahasa pemrograman X yang disebutkan sebagai preferensi." Teknik CoT ini memiliki potensi untuk meningkatkan akurasi model dalam tugas-tugas yang memerlukan pemahaman mendalam dan penalaran kontekstual, seperti mengevaluasi pengalaman kerja, keterampilan, dan relevansi pendidikan yang tercantum dalam CV. Selain itu, CoT juga meningkatkan explainability atau kemampuan model untuk memberikan penjelasan atas keputusannya, yang sangat penting dalam konteks rekrutmen untuk memastikan transparansi dan mengurangi potensi bias [5]. 2) Few-Shot Learning Few-Shot Learning adalah pendekatan di mana model bahasa diberikan beberapa contoh input-output yang relevan dalam prompt untuk membantunya memahami tugas yang diinginkan [5]. Berbeda dengan zero-shot learning (di mana model tidak diberikan contoh) atau fine-tuning (di mana model dilatih ulang dengan dataset yang besar), few-shot learning memungkinkan model untuk belajar dan beradaptasi dengan tugas baru hanya dengan beberapa contoh. Dalam konteks analisis CV untuk rekrutmen, few-shot learning dapat diterapkan dengan memberikan model beberapa contoh CV yang telah diberi label (misalnya, "cocok untuk posisi A," "tidak cocok untuk posisi B," "mungkin cocok dengan posisi C"). Setiap contoh CV dapat disertai dengan penjelasan singkat mengenai alasan pelabelan tersebut. Dengan melihat contoh-contoh ini, model dapat belajar pola dan kriteria yang relevan untuk mengevaluasi CV baru. Studi oleh Lee et al. [5] menunjukkan efektivitas model seperti GPT-3.5 dalam skenario few-shot learning, yang sangat relevan untuk tugas analisis CV di mana kriteria dan preferensi perusahaan dapat bervariasi. Dengan memberikan beberapa contoh CV yang ideal untuk posisi yang dibuka, model dapat lebih baik memahami apa yang dicari oleh perusahaan dan melakukan penyaringan dengan lebih akurat. 2.2 Landasan Teori 2.2.1 Human Resource Management (HRM) Human Resource Management (HRM) merupakan fungsi organisasi yang fokus pada pengelolaan sumber daya manusia untuk mencapai 10 tujuan organisasi. HRM mencakup aktivitas perekrutan, pengembangan, kompensasi, dan pemeliharaan hubungan kerja yang produktif [6]. Menurut Gary Dessler [6] Dalam struktur HRM terdapat beberapa posisi utama dengan fungsi spesifik: 1) Compensation and Benefits Manager: Mengembangkan dan mengelola sistem kompensasi serta program tunjangan karyawan. Mereka memastikan paket kompensasi kompetitif dan sesuai dengan anggaran perusahaan, serta mengelola program asuransi, pensiun, dan tunjangan lainnya. 2) Employment and Recruiting Supervisor: Mengawasi proses perekrutan, seleksi, dan penempatan karyawan. Mereka bekerja dengan manajer departemen untuk mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja, mengembangkan strategi pencarian kandidat, dan memastikan proses seleksi yang efektif. 3) Training Specialist: Merancang dan mengimplementasikan program pelatihan dan pengembangan. Mereka menganalisis kebutuhan pelatihan, mengembangkan materi, dan mengevaluasi efektivitas program untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan karyawan. 4) Employee Relations Executive: Mengelola hubungan antara perusahaan dan karyawan, termasuk penanganan keluhan, penyelesaian konflik, dan pemeliharaan iklim kerja yang positif. HRM juga memiliki tugas penting dalam organisasi perusahaan Beberapa contoh tugas spesifik dalam HRM meliputi [6]: 1) Recruiters: Membangun jaringan dengan sumber kandidat, melakukan screening awal, dan mengelola proses wawancara. Mereka sering melakukan perjalanan untuk mencari kandidat berkualitas dan merepresentasikan perusahaan di berbagai acara rekrutmen. 2) EEO Representatives: Memastikan kebijakan ketenagakerjaan mematuhi peraturan kesetaraan kesempatan kerja, menyelidiki 11 keluhan diskriminasi, dan mengembangkan program untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif. 3) Job Analysts: Mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang pekerjaan untuk mengembangkan deskripsi jabatan yang akurat, spesifikasi pekerjaan, dan standar kinerja. 4) Labor Relations Specialists: Menjadi penghubung antara manajemen dan serikat pekerja, mengelola negosiasi kontrak kerja, dan memastikan kepatuhan terhadap perjanjian kerja bersama. 2.2.2 Human Resource Information System (HRIS) Human Resource Information System (HRIS) adalah salah satu cabang dari Human Resource Management (HRM) yang berfokus pada penggunaan teknologi informasi dalam pengelolaan sumber daya manusia [7]. Human Resource Information System (HRIS) adalah sistem informasi berbasis teknologi yang digunakan untuk mengelola dan mengoptimalkan proses manajemen sumber daya manusia dalam suatu organisasi. HRIS dirancang untuk mengurangi beban kerja departemen HR dengan mengotomatiskan berbagai fungsi, seperti perekrutan, pelatihan, pengelolaan kinerja, administrasi kompensasi, hingga kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan [7]. HRIS berfungsi sebagai platform digital yang memungkinkan perusahaan untuk mengelola data karyawan secara efisien dan mendukung berbagai aspek operasional HR, berikut adalah peranan dan fungsi HRIS Menurut Turban [7]; 1) Perekrutan dan Seleksi HRIS memungkinkan perusahaan untuk menemukan, merekrut, dan menyeleksi kandidat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Dengan fitur pencarian lanjutan, HR dapat menyaring kandidat berdasarkan kriteria tertentu seperti pengalaman kerja, keterampilan, dan latar belakang pendidikan. 2) Pengelolaan Data Karyawan 12 Sistem ini menyediakan database terpusat yang menyimpan informasi karyawan, termasuk data pribadi, riwayat pekerjaan, pelatihan, dan evaluasi kinerja. 3) Pelatihan dan Pengembangan HRIS mendukung pengelolaan program pelatihan, baik dalam bentuk kursus daring, pelatihan langsung, maupun pengembangan keterampilan berbasis kompetensi. 4) Manajemen Kinerja Sistem ini memungkinkan HR untuk menilai dan mengelola kinerja karyawan dengan lebih akurat melalui penilaian berbasis data dan umpan balik berkala. 5) Administrasi Kompensasi dan Manfaat HRIS membantu dalam pengelolaan penggajian, tunjangan, dan manfaat lainnya, termasuk perhitungan pajak serta pemotongan gaji yang sesuai dengan regulasi yang berlaku. 6) Kepatuhan terhadap Regulasi HRIS membantu perusahaan dalam memastikan kepatuhan terhadap berbagai undang-undang ketenagakerjaan, seperti Fair Labor Standards Act (FLSA), Occupational Health & Safety Agencies (OSHA), dan peraturan anti-diskriminasi. Implementasi HRIS dalam Organisasi Dengan perkembangan teknologi, HRIS kini banyak diadopsi dalam bentuk intranet, memungkinkan karyawan untuk mengakses dan mengelola informasi mereka sendiri, seperti data gaji, tunjangan, dan kebijakan perusahaan. Hal ini memungkinkan HR untuk lebih fokus pada tugas strategis seperti perencanaan tenaga kerja, pengembangan karir, dan manajemen talenta [7]. HRIS juga berperan dalam mendukung perusahaan dalam pengambilan keputusan berbasis data. Dengan analitik HR yang terintegrasi, perusahaan dapat mengidentifikasi tren ketenagakerjaan, mengukur tingkat kepuasan karyawan, serta meningkatkan efektivitas strategi HR secara keseluruhan [7]. 13 2.3 Rekrutment 2.3.1 Pengertian Rekrutment Menurut Dessler [6], rekrutmen adalah proses pengumpulan informasi yang relevan mengenai tugas-tugas pekerjaan dan karakteristik manusia yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Definisi ini menekankan pentingnya analisis pekerjaan sebagai fondasi dari rekrutmen, di mana pemahaman mendalam terhadap kebutuhan suatu posisi menjadi faktor kunci. Dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait proses staffing, rekrutmen sebagai upaya membangun sekumpulan kandidat yang memenuhi syarat untuk mengisi posisi yang tersedia dalam organisasi. Kedua definisi ini menunjukkan bahwa rekrutmen adalah proses yang terstruktur dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia organisasi. Pemahaman yang jelas mengenai tugas, tanggung jawab, keterampilan, dan kualifikasi yang dibutuhkan harus dimiliki sebelum proses rekrutmen dimulai agar organisasi dapat menarik kandidat yang sesuai. 2.3.2 Tujuan Rekrutment Berdasarkan buku Human Resource Management edisi ke-15 karya Gary Dessler [6], terdapat beberapa tujuan utama dari rekrutmen: 1) Identifikasi Kebutuhan Tenaga Kerja – Melalui perencanaan dan peramalan tenaga kerja, organisasi dapat menentukan posisi yang perlu diisi, mengidentifikasi jumlah kandidat internal yang tersedia, serta memperkirakan ketersediaan kandidat eksternal. 2) Penyaringan Awal – Memastikan bahwa para kandidat mengisi formulir aplikasi dan menjalani proses seleksi awal guna mengumpulkan informasi penting dan menyaring pelamar yang tidak memenuhi persyaratan dasar. 3) Membangun Kumpulan Kandidat – Rekrutmen bertujuan untuk menarik sejumlah pelamar yang memenuhi kualifikasi untuk posisi yang telah diidentifikasi, baik dari dalam maupun luar organisasi. 14 4) Penggunaan Alat Seleksi yang Efektif – Berbagai metode penilaian digunakan untuk mengevaluasi keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan para pelamar guna menentukan kandidat terbaik. 5) Keputusan dan Penawaran Kerja – Setelah melalui serangkaian wawancara dan evaluasi mendalam, organisasi menentukan kandidat yang paling layak untuk diberikan tawaran pekerjaan. Selain itu, rekrutmen juga bertujuan untuk menarik kandidat dari kelompok tertentu (misalnya kelompok minoritas), menjangkau kandidat pasif yang saat ini sudah bekerja, serta mengurangi waktu internal yang dihabiskan untuk proses rekrutmen. Dengan merekrut talenta terbaik, organisasi dapat meningkatkan daya saingnya dan mencapai keunggulan kompetitif dalam dunia bisnis yang semakin kompleks. 2.3.3 Proses Rekrutment Proses rekrutmen menurut Buku Human Resource Management oleh Gary Dessler [5] terdiri dari beberapa tahapan sistematis yang bertujuan untuk memastikan bahwa organisasi memperoleh kandidat yang tepat: 1) Perencanaan Tenaga Kerja dan Peramalan – Menentukan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan rencana bisnis organisasi, data tenaga kerja saat ini, dan proyeksi kebutuhan masa depan. 2) Membangun Kumpulan Kandidat – Organisasi melakukan rekrutmen dari sumber internal maupun eksternal sesuai dengan kebutuhan dan strategi bisnis. 3) Penyaringan Awal – Kandidat yang berminat diminta mengisi formulir aplikasi dan menjalani wawancara penyaringan awal untuk mengidentifikasi kecocokan awal. 4) Penggunaan Alat Seleksi – Menggunakan berbagai alat seleksi seperti tes kemampuan, tes kepribadian, investigasi latar belakang, 15 dan pemeriksaan fisik guna memastikan kesesuaian kandidat dengan posisi yang tersedia. 5) Wawancara oleh Supervisor dan Pihak Terkait – Supervisor dan tim rekrutmen melakukan wawancara lebih lanjut untuk mengevaluasi keterampilan interpersonal, motivasi, dan kesesuaian kandidat dengan budaya organisasi. 6) Keputusan dan Penawaran Kerja – Setelah melalui evaluasi mendalam, organisasi memutuskan kandidat terbaik dan memberikan penawaran kerja resmi. Melalui proses ini, organisasi dapat memastikan bahwa rekrutmen dilakukan secara objektif dan profesional, sehingga hanya kandidat terbaik yang dipilih untuk bergabung. Proses yang sistematis juga membantu mengurangi kesalahan dalam seleksi, yang dapat berdampak pada biaya rekrutmen yang tinggi akibat perputaran karyawan. 2.4 Hyperautomation 2.4.1 Definisi Hyperautomation Menurut Pascal Bornet dalam bukunya "Intelligent Automation: Welcome to the World of Hyperautomation" [8], hiperautomasi adalah penggabungan berbagai teknologi canggih untuk mengotomatisasi proses bisnis secara menyeluruh. Hyperautomation juga meniru empat kemampuan utama manusia: visi, eksekusi, bahasa, serta berpikir dan belajar. Setiap kemampuan ini didukung oleh teknologi berbeda seperti Machine Learning (ML) untuk pengambilan keputusan, Pemrosesan Bahasa Alami (NLP) untuk pemahaman teks, dan Robotic Process Automation (RPA) untuk eksekusi tugas. Teknologi yang digunakan dalam hiperautomasi meliputi [8]: 1) Pembelajaran Mesin (ML): Memungkinkan sistem belajar dari data dan membuat keputusan tanpa program eksplisit. 2) Pemrosesan Bahasa Alami (NLP): Memungkinkan mesin memahami dan memproses bahasa manusia untuk analisis teks dan interaksi chatbot. 3) Visi Komputer: Mengizinkan mesin menganalisis informasi visual seperti gambar dan video. 16 4) Automasi Proses Robotik (RPA): Menggunakan bot perangkat lunak untuk mengotomatisasi tugas yang berulang dan berbasis aturan. 5) Platform Low-Code & Workflow Automation: Memudahkan pembuatan alur kerja automasi dengan sedikit atau tanpa pengkodean. Hiperautomasi melampaui automasi tradisional dengan pendekatan integratif, mengotomatisasi proses ujung ke ujung, dan menciptakan sinergi antara manusia, organisasi, dan teknologi. 2.4.2 Tujuan Hyperautomation Hiperautomasi memiliki beberapa tujuan utama dalam organisasi, yaitu [8]: 1) Meningkatkan Efisiensi: Mengurangi pekerjaan manual dan meningkatkan kecepatan proses bisnis. 2) Mengurangi Biaya Operasional: Automasi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual untuk tugas-tugas rutin. 3) Meningkatkan Akurasi & Kualitas: Meminimalkan kesalahan manusia dalam pemrosesan data dan pengambilan keputusan. 4) Mendukung Transformasi Digital: Mempermudah organisasi dalam beradaptasi dengan teknologi baru. 5) Meningkatkan Pengalaman Karyawan & Pelanggan: Mengurangi tugas repetitif bagi karyawan dan meningkatkan layanan bagi pelanggan. 6) Skalabilitas & Fleksibilitas: Memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan proses kerja secara lebih dinamis sesuai dengan kebutuhan bisnis. Dengan menganalisis data dalam jumlah besar, sistem ini dapat mengidentifikasi pola, memberikan wawasan, dan meningkatkan kualitas keputusan bisnis. Automasi tugas berulang juga membantu mengurangi kesalahan manusia serta meningkatkan keandalan hasil. Bornet [8] menekankan bahwa hiperautomasi bukan sekadar menggantikan manusia dengan mesin, melainkan menciptakan sinergi antara teknologi dan manusia untuk meningkatkan produktivitas. Pendekatan berbasis kerangka kerja "Visi, Eksekusi, Bahasa, serta Berpikir dan Belajar" ini memberikan pemahaman komprehensif tentang bagaimana hiperautomasi dapat mereplikasi dan melengkapi fungsi kognitif manusia untuk mendukung transformasi digital. 2.4.3 Proses Hyperautomation Proses penerapan hiperautomasi dalam sebuah organisasi dapat dijelaskan sebagai berikut [8]: 1) Identifikasi Proses yang Dapat Diautomasi 17 Memetakan tugas atau proses bisnis yang sering dilakukan secara manual dan repetitif lalu menentukan area yang memiliki potensi efisiensi tinggi jika diotomatisasi. 2) Pemilihan Teknologi yang Sesuai Menggunakan kombinasi teknologi AI, ML, RPA, dan NLP untuk menciptakan sistem hiperautomasi lalu menentukan alat yang mendukung integrasi antara sistem yang berbeda dalam organisasi. 3) Pengembangan dan Implementasi Automasi Mengembangkan solusi hiperautomasi berbasis kebutuhan organisasi dan menguji sistem sebelum diterapkan secara penuh untuk memastikan efektivitasnya. 4) Integrasi dengan Sistem yang Ada Memastikan bahwa teknologi hiperautomasi dapat bekerja dengan sistem bisnis yang sudah ada dan menghubungkan berbagai platform agar data dapat diproses secara otomatis tanpa intervensi manual. 5) Pemantauan dan Optimasi Memantau kinerja sistem hiperautomasi dan memperbaiki kelemahan yang muncul serta melakukan peningkatan berdasarkan data analitik dan umpan balik dari pengguna. 2.5 Artificial Intelligence 2.5.1 Pengertian AI Secara sederhana, [9] Kecerdasan Buatan (AI) adalah upaya untuk menciptakan agen cerdas yaitu sistem (biasanya berupa program komputer atau robot) yang dapat merasakan lingkungannya, memproses informasi tersebut, dan kemudian bertindak sedemikian rupa untuk mencapai tujuannya dengan sebaik mungkin. Bayangkan sebuah entitas yang bisa melihat, mendengar, memahami, belajar, dan mengambil keputusan, mirip dengan cara manusia berpikir dan bertindak, tetapi dalam bentuk buatan. Fokus utama AI dalam pandangan ini adalah membangun sistem yang bertindak secara rasional, yang berarti mengambil tindakan yang paling mungkin untuk menghasilkan hasil yang diinginkan, berdasarkan pengetahuan dan keyakinan yang dimilikinya. 2.5.2 Tujuan Utama AI Tujuan utama dari penelitian dan pengembangan AI adalah untuk memungkinkan mesin melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Ini mencakup berbagai kemampuan [9], seperti: • Belajar: Memperoleh informasi dan aturan untuk menggunakan informasi tersebut. 18 • Memecahkan Masalah: Menganalisis situasi dan menemukan solusi yang efektif. • Membuat Keputusan: Memilih tindakan terbaik dari berbagai pilihan yang tersedia. • Memahami Bahasa Alami: Mengerti dan memproses bahasa yang digunakan oleh manusia. • Mengenali Pola: Mengidentifikasi keteraturan dan tren dalam data. • Persepsi: Melihat, mendengar, dan merasakan lingkungan seperti manusia. • Berinteraksi: Berkomunikasi dan bekerja sama dengan manusia dan agen cerdas lainnya. Pada dasarnya, tujuan AI adalah [9] untuk menciptakan sistem yang tidak hanya pintar dalam melakukan perhitungan, tetapi juga cerdas dalam memahami dunia dan bertindak di dalamnya dengan cara yang berguna dan efektif. 19 DAFTAR PUSTAKA [1] S. Devaraju, “Natural Language Processing (NLP) in AI-Driven Recruitment Systems,” Int. J. Sci. Res. Comput. Sci. Eng. Inf. Technol., pp. 555–566, Jun. 2022, doi: 10.32628/CSEIT2285241. [2] S. K. Hatti, “Efficient Resume Screening Tool,” Int. J. Res. Appl. Sci. Eng. Technol., vol. 13, no. 1, pp. 483–488, Jan. 2025, doi: 10.22214/ijraset.2025.66307. [3] M. Saatci, R. Kaya, and R. Ünlü, “Resume Screening With Natural Language Processing (NLP),” Alphanumeric J., vol. 12, no. 2, pp. 121–140, Dec. 2024, doi: 10.17093/alphanumeric.1536577. [4] U. Karaboga and P. Vardarlier, “Examining the use of artificial intelligence in recruitment processes,” Bussecon Rev. Soc. Sci. 2687-2285, vol. 2, no. 4, pp. 1–17, Dec. 2020, doi: 10.36096/brss.v2i4.234. [5] G.-G. Lee, E. Latif, X. Wu, N. Liu, and X. Zhai, “Applying large language models and chain-of-thought for automatic scoring,” Comput. Educ. Artif. Intell., vol. 6, p. 100213, Jun. 2024, doi: 10.1016/j.caeai.2024.100213. [6] G. Dessler, Human resource management, Fifteenth Edition. Boston: Pearson Higher Education, 2017. [Online]. Available: https://drive.google.com/file/d/1wOB_suqlE6pCZl9QaAHggdeLgG54Rbo/view?usp=drive_link [7] E. Turban, C. Pollard, and G. R. Wood, Information technology for management: driving digital transformation to increase local and global performance, growth and sustainability, Twelfth edition. Hoboken, New Jersey: Wiley, 2021. [Online]. Available: https://drive.google.com/file/d/1JTGopMhHl5bC6y6Y8XQzPowJl6rgTET/view?usp=drive_link [8] P. Bornet, I. Barkin, and J. Wirtz, Intelligent automation: welcome to the world of hyperautomation: learn how to harness artificial intelligence to boost business & make our world more human. Erscheinungsort nicht ermittelbar: Independently published, 2020. [Online]. Available: https://drive.google.com/file/d/1S2zcIjMKWN4H4Er1pSQMrxL_mzhFPAfk/ view?usp=sharing [9] S. J. Russell and P. Norvig, Artificial intelligence: a modern approach, Fourth edition, Global edition. in Prentice Hall series in artificial intelligence. Boston: Pearson, 2022. [Online]. Available: https://drive.google.com/file/d/13ik5rxU19NseyqEJMNXzioGO5Wxp32d5/vi ew?usp=drive_link 20
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )