BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Objek Penelitian Objek pada penelitian ini dilakukan pada UMKM Alfathzi pusat oleh-oleh surabaya milik ibu lutfiah yang beralamatkan di Jalan Sukolilo, Larangan No.120 Kenjeran, Surabaya. UMKM ini didirikan pada tahun 2013 dan masih berjalan hingga sekarang. Saat ini ada 7 karyawan yang bekerja di UMKM Alfathzi pusat oleh-oleh surabaya milik ibu lutfiah. UMKM ini bermula ketika pemiliknya yaitu ibu lutfiah yang seorang karyawan biasa berusaha mempelajari ilmu bagaimana menjalankan usaha UMKM khas daerah kenjeran Surabaya. UMKM alfathzi pusat oleh-oleh Surabaya dahulu hanya di pasarkan melalui facebook. Setelah memiliki modal untuk mendirikan usaha sendiri, ibu lutfiah kemudian mencoba membuka usaha UMKM yang Bernama alfatzhi pusat oleh-oleh Surabaya di tempat tinggalnya (jln.jumpot kulon baru Gg 1 No 7). Awalnya, ibu lutfiah tidak memiliki karyawan, ia dibantu suami serta anaknya untuk menjalankan UMKM tersebut. Didaerah kenjeran sendiri dari dahulu terdapat banyak UMKM krupuk hasil olahan dari laut, sampai sekarang UMKM tersebut masih banyak yang berjalan, akan tetapi sepi pengunjung di karenakan majunya teknologi serta perkembangan zaman yang terus meningkat dan menyebabkan banyak orang lebih memilih untuk membeli di toko online dari pada harus datang ke tempatnya langsung. 1. Profil data partisipan Penelitian ini telah ditentukan partisipan yang Sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sehingga data yang diperoleh dengan wawancara mendalam kepada orang yang dianggap paling tahu mengenai UMKM sehingga memudahkan untuk mendapatkan data. Partisipan yang dipilih berjumlah 1 orang yaitu pemilik UMKM. penelitian ini diharapkan partisipan yang dipilih dapat memberikan penjelesan untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan peneliti terkait dengan apa yang akan di bahas dalam penelitian ini. Informan dalam penelitian ini terdiri dari satu orang, yaitu ibu lutfiah selaku pemilik UMKM. Peneliti melakukan wawancara mendalam (in depth interview) dengan tujuan untuk memperjelas dan memperkuat data yang telah diperoleh di lapangan. Informan tersebut dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti dan kemudian dipertimbangkan lebih lanjut sesuai dengan relevansi informan terhadap penelitian ini. A1(ibu lutfiah) atau yang lebih dikenal dengan panggilan ibu lutfi adalah informan kunci penelitian, ia juga merupakan pemilik UMKM Alfathzi pusat oleh-oleh Surabaya. Gambar 4.1 proses wawan cara pemilik UMKM A1 sebagai pemilik UMKM. Walaupun sebagai pemilik UMKM ia juga masih sering membantu dalam proses produksi krupuk khas daerah yang akan di jual, tak hanya mengawasi proses produksi saja, akan tetapi juga membantu dalam proses pengemasan krupuk yang sudah jadi. A1 tidak hanya memberikan data dan informasi yang dibutuhkan, akan tetapi juga memberikan motivasi kepada peneliti untuk tetap semangat dalam menyelesaikan penelitian ini, sehingga wawancara berlangsung dalam suasana yang nyaman dan produktif. B. Deskripsi penelitian Dalam Penelitian yang dilakukan pada UMKM alfatzhi pusat oleh-oleh Surabaya milik A1 hasilnya adalah peneliti mendapatkan beberapa informasi. Dalam melakukan usahanya sehari-hari, UMKM alfatzhi pusat oleh-oleh Surabaya milik A1 mempunyai 7 orang tenaga kerja yang terdiri dari 3 karyawan bagian packaging, 3 karyawan bagian pemasaran di live streaming dan 1 karyawan yang bertugas membalas pesan dari pelanggan. Suami ibu lutfiah bertugas untuk menyediakan bahan baku dari hasil nelayan, ibu lutfiah sering mengambil barang dari orang lain untuk di jual Kembali dan menjadi stok produksi, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila pada saat proses penjualan tiba tiba habis. Setiap hari karyawan toko UMKM alfathzi pusat oleh-oleh Surabaya selalu melakukan live streaming di ig dan tik tok. 3 karyawan tersebut secara bergantian untuk melakukan live streaming. Gambar: proses packaging Proses packaging ini dilakukan oleh 3 karyawan yang Bernama indah,fia,manda. Terkadang sering di bantu oleh anak dari ibu lutfiah Ketika pesanan yang harus dikirim banyak dan waktu yang mepet. Gambar: hasil produksi Toko alfatzhi pusat oleh-oleh Surabaya banyak memproduksi varian-varian krupuk diantaranya krupuk kulit ikan kakap, tripang, rengginang bandeng, wader krispi, kulit sapi, kripik ceker, rengginang lorjuk, Dll. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Peneliti menguraikan hasil observasi dan wawancara penelitian di lapangan berdasarkan teori yang digunakan di penelitian ini, yaitu “Analisis Kompetensi Sumber Daya Manusia Pelaku UMKM Alfathzi Pusat Oleh-Oleh Surabaya” Kompetensi sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting didalam industri UMKM. Dengan meningkatnya kompetensi sumber daya manusia melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Indikator kompetensi sumber daya manusia menurut Nintyari et al. (2019) meliputi pengembangan diri, yaitu kapasitas untuk melakukan perubahan di berbagai bidang terutama dalam perilaku dan kemampuan untuk terus berkembang; profesionalisme, yakni kemampuan memahami setiap tugas serta kesediaan untuk meningkatkan keterampilan yang dimiliki; penguasaan teknologi, yaitu kemampuan menggunakan teknologi secara efektif di tempat kerja; jenjang pendidikan, yang mencerminkan latar belakang pendidikan atau keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan; serta keahlian, yaitu kemampuan merinci pekerjaan dan memecahkan masalah secara efektif dan efisien. maka hal tersebut merupakan kunci dalam keberhasilan atau peningkatan kinerja UMKM. Pengelolaan sumber daya manusia di UMKM juga meliputi kegiatan rekrutmen, seleksi, penempatan, pengembangan, kompensasi, evaluasi, promosi hingga pengakhiran hubungan kerja. Mengelola sumber daya manusia bagi UMKM merupakan sebuah keterampilan yang harus dimiliki oleh para pelaku UMKM. Dalam menjalankan sebuah usaha, karyawan memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan perkembangan bisnis. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi mereka adalah melalui pelatihan yang tepat dan berkelanjutan. Pelatihan ini tidak hanya membantu karyawan bekerja lebih efektif, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi lebih kreatif dan profesional sesuai dengan kebutuhan usaha. Oleh karena itu, penting untuk melihat bagaimana pelatihan yang diberikan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi yang mendukung produktivitas dalam operasional sehari-hari, A1 menyatakan: Setelah ikut pelatihan, produktivitas karyawan jadi jauh lebih meningkat. Mereka jadi makin terampil, terutama dalam proses pengemasan produk. Ini penting banget, apalagi buat produk seperti kerupuk atau keripik yang butuh ketelitian ekstra dibanding produk lain kayak pakaian. Pengemasan keripik/kerupuk nggak bisa asal-asalan mulai dari takaran isi, kekuatan plastik, pemakaian bubble wrap, sampai pilih kardus yang tepat, semuanya harus diperhatikan supaya barang bisa sampai ke konsumen dalam keadaan aman dan nggak rusak. Makanya, pelatihan yang diberikan terbukti cukup efektif. Nggak cuma bikin proses packing lebih cepat, tapi juga bikin pengiriman jadi lebih efisien. Berdasarkan Teori modal manusia (human capital) pertama kali dicetuskan oleh Schultz (1961) melalui pidatonya dan kemudian dikembangkan oleh Becker (1964 & 1975). Becker (1975) menyatakan bahwa pelatihan seperti pendidikan formal dan pelatihan dalam pekerjaan adalah atribut modal manusia yang penting, dan mempengaruhi tingkat remunerasi tiap individu. Hal ini terbukti dari jawaban A1 bahwa pelatihan yang di berikan sangat berpengaruh terhadap kompetensi karyawan. Teori ini ada karena kesadaran bahwa pertumbuhan modal manusia lebih berpengaruh dalam total pendapatan dibandingkan pertumbuhan fisik yang hanya memainkan peran kecil. Investasi modal manusia merupakan segala yang dimiliki pada diri manusia untuk diinvestasikan ke dalam perusahaan dan kemudian memperoleh kinerja yang baik (DeLong dan Davenport, 2003). Keterampilan dan ketelitian bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki dalam waktu singkat atau sekejap mata. Keduanya merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan pembelajaran terus-menerus, pengalaman kerja sehari-hari, serta ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan. Untuk benar-benar menguasai suatu keterampilan dan memiliki ketelitian tinggi terhadap kompetensi dalam bekerja, seseorang memerlukan waktu bertahun-tahun, penuh dengan latihan, evaluasi, dan perbaikan. Proses ini tidak instan, karena kualitas kerja yang baik hanya bisa dicapai melalui kedisiplinan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar dan berkembang. Penelitian yang dilakukan oleh Kolb,D.(1984), keterampilan dan pengetahuan seseorang berkembang melalui proses pengalaman langsung yang berlangsung secara berulang, yang dikenal dengan Experiential Learning Cycle, yaitu suatu siklus pembelajaran yang terdiri dari empat tahap utama: Concrete Experience (pengalaman nyata), Reflective Observation (refleksi terhadap pengalaman tersebut), Abstract Conceptualization (membentuk pemahaman atau konsep dari hasil refleksi), dan Active Experimentation (menguji konsep tersebut dalam situasi nyata); Siklus ini menunjukkan bahwa keterampilan dan ketelitian tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat atau secara instan, melainkan melalui suatu proses yang bertahap yang melibatkan praktik langsung, evaluasi terusmenerus, dan pembelajaran yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan peran kompetensi sumber daya manusia dalam mendorong kemajuan sebuah usaha. Kompetensi yang dimiliki oleh karyawan diyakini turut memengaruhi kemampuan UMKM Alfathizi dalam menciptakan inovasi dan meningkatkan kinerja usaha secara keseluruhan, sehingga menjadi salah satu aspek yang patut diperhatikan dalam pengelolaan dan pengembangan SDM, A1 menyatakan: Di sini, kami percaya banget kalau skill dan kemampuan karyawan tuh punya peran penting buat ngedorong inovasi baik dari segi produk maupun pelayanan. Semakin bagus kualitas SDM yang kami punya, makin besar juga peluang munculnya ide-ide baru yang kreatif dan solutif. Contohnya, tim produksi yang ngerti tren pasar dan cara ngolah bahan bisa aja bikin varian produk baru yang lebih menarik dan sesuai sama selera konsumen. Di bagian layanan juga tidak kalah penting karyawan yang udah terlatih biasanya bisa kasih pelayanan yang lebih ramah, cepat, dan profesional, jadi pelanggan pun makin puas. Kami juga ngerasa kalau SDM yang kompeten itu lebih gampang adaptasi, apalagi sama perubahan zaman dan teknologi. Sekarang tim kami jadi lebih terbuka buat promosi lewat media sosial, ngelola sistem pemesanan online, sampai mikirin kemasan biar tampilannya makin kekinian. Intinya sih, inovasi di tempat kami banyak muncul karena karyawan punya semangat buat belajar, punya skill, dan terus diasah kreativitasnya. Makanya kami rutin ngadain pelatihan, diskusi bareng, dan ngasih ruang buat mereka berekspresi sebebas mungkin. Pernyataan yang di sampai oleh A1 sama dengan Menurut Sutrisno (2016), kompetensi SDM adalah kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang memungkinkan individu melaksanakan tugasnya secara efektif. Kompetensi ini mencakup kemampuan adaptif terhadap perubahan dan teknologi, yang sangat penting di era digital saat ini. Sedangkan dalam Penelitian lain oleh Dewi dan Pramono (2019) menunjukkan bahwa kompetensi SDM dan inovasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing UMKM. Studi ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM dan inovasi produk untuk mempertahankan daya saing di pasar. Penelitian lain juga dilakukan oleh Kurniawan dan Susanto (2021) menunjukkan bahwa pelatihan kerja dan pengalaman kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, yang mendukung pemahaman bahwa peningkatan keterampilan dan ketelitian memerlukan waktu serta proses berkelanjutan melalui pelatihan dan pengalaman kerja. Sumber daya manusia bukan hanya sebagai alat produksi tetapi juga sebagai penggerak dan penentu berlangsungnya proses produksi dan segala aktivitas organisasi (Paraswati & Laily, 2018). Terbukti dalam UMKM Alfathzi pusat oleh-oleh Surabaya, peran karyawan produksi sangat vital dan memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan UMKM ini. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan Dampak dari kurangnya kompetensi SDM terhadap keberlangsungan bisnis Alfathizi, yang dapat memengaruhi kualitas produk, efisiensi produksi, serta daya saing usaha di pasar: Kurangnya skill atau kemampuan SDM di sini bisa langsung berpengaruh ke jalannya bisnis. Soalnya, kalau karyawan belum punya keterampilan yang cukup, mereka bakal kesulitan ngelakuin tugas-tugas penting kayak produksi, pengemasan, promosi online, sampai pelayanan ke pelanggan. Kalau hal-hal kayak gini nggak berjalan dengan lancar, efeknya bisa kemana-mana. Misalnya, kualitas produk dan layanan jadi turun, pengiriman bisa telat, dan alur kerja jadi nggak efisien. Ujung-ujungnya, pelanggan bisa kecewa dan bisnis kita jadi makin susah buat bersaing. Kalau kondisi ini terus dibiarin, bisa-bisa pertumbuhan usaha jadi mandek, bahkan bisa ngancam kelangsungan bisnis dalam jangka panjang. Makanya penting banget buat ningkatin kompetensi SDM secepat mungkin. Jawaban ini sesuai dengan Teori Kompetensi SDM Menurut Spencer (1993), kompetensi adalah karakteristik dasar individu yang berhubungan dengan kinerja efektif atau unggul dalam pekerjaan atau situasi tertentu. Kompetensi mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang memengaruhi kinerja seseorang. Kurangnya kompetensi dapat menghambat kinerja individu dan organisasi secara keseluruhan. Dinar Wahyudiati (2018) menyatakan bahwa kompetensi SDM memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Kurangnya kompetensi dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan efisiensi kerja. Sumber daya manusia memiliki andil besar dalam menentukan kemajuan atau berkembangnya suatu organisasi. Oleh karena itu, kemajuan suatu organisasi ditentukan oleh bagaimana kualitas dan kapabilitas Sumber daya manusia di dalamnya. Dengan demikian Sumber daya manusia merupakan aset terpenting di dalam suatu organisasi atau perusahaan skala besar maupun kecil (Sulistyandari, Widiastuti, & Martini, 2017). Kalau melihat perjalanan Alfathizi, pasti pernah mengalami berbagai tantangan, mungkin ada pengalaman nyata di mana keterbatasan kompetensi karyawan sempat berdampak pada kerugian atau masalah dalam bisnis, A1 menyatakan: Iya, pernah terjadi. Waktu kami mulai jualan online, karyawan kurang bisa buat konten promosi yang menarik, jadi penjualan kurang bagus. Terus, ada juga kesalahan saat packing, sampai barang salah kirim ke pelanggan. Akhirnya, kami harus keluar biaya tambahan untuk retur, dan pelanggan sempat kecewa. Dari situ kami sadar, penting banget meningkatkan skill karyawan, terutama soal pemasaran dan ketelitian kerja." Hal ini juga di sebutkan oleh Spencer (1993), kompetensi merupakan karakteristik dasar yang berhubungan langsung dengan performa seseorang di dalam pekerjaannya. Kompetensi mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, serta nilai dan motivasi pribadi yang berpengaruh terhadap keberhasilan dalam melaksanakan tugas. Penelitian yang dilakukan oleh Millendra dan Marwan (2022) menyatakan bahwa kompetensi SDM memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja usaha, khususnya pada usaha kerajinan sulaman di Desa Nara. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat kompetensi yang dimiliki oleh SDM, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap kerja, maka semakin baik pula kinerja usaha yang dihasilkan. Kompetensi yang memadai mendorong terciptanya efektivitas kerja, inovasi dalam produk, serta pelayanan yang lebih optimal, sehingga berkontribusi langsung terhadap peningkatan daya saing dan keberlangsungan usaha kerajinan tersebut. Bentuk pelatihan atau pembinaan yang diikuti oleh karyawan Alfathizi meliputi berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis dan non-teknis, seperti pelatihan dalam hal kualitas produksi, efisiensi kerja, pemasaran digital, serta pembuatan konten kreatif, yang semuanya dirancang untuk mendukung peningkatan kinerja dan daya saing usaha. A1 menyatakan: Pelatihan yang kami kasih ke karyawan di sini dimulai dari hal-hal yang basic dulu, kayak cara nge-packing barang dengan aman, teknik live streaming, jualan online, sampai bikin konten. Soalnya, sebagian besar karyawan emang masih harus belajar dari nol biar bisa ngerti dan nguasai skill yang dibutuhin buat jalanin usaha ini. Jadi, kita bimbing pelan-pelan dari dasar dulu, biar mereka makin pede dan siap terjun langsung ke lapangan. Hal ini sesuai dengan Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) Albert Bandura. Bandura (2000) menyatakan bahwa individu dapat belajar melalui observasi, imitasi, dan modeling. Dalam konteks pelatihan kerja, karyawan dapat meningkatkan keterampilan mereka dengan mengamati dan meniru perilaku yang ditunjukkan oleh instruktur atau rekan kerja yang lebih berpengalaman. Keberlangsungan UMKM Alfathizi sebagai pusat oleh-oleh Surabaya sangat dipengaruhi oleh pemilihan karyawan yang tepat, di mana pelatihan menjadi prioritas utama karena pemilik usaha selalu berupaya mencari sumber daya manusia yang kompeten agar usahanya dapat terus berkembang. Dalam konteks ini, peran kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting yang turut mendorong peningkatan kompetensi SDM di lingkungan UMKM tersebut, A1 juga menyatakan: Sebagai pemimpin di sini, saya sadar banget kalau kunci utama kemajuan usaha nggak cuma soal produk yang kita jual, tapi juga tentang kualitas orang-orang yang ada di dalam tim. Makanya, peningkatan kemampuan SDM jadi prioritas utama dalam gaya kepemimpinan saya. Peran saya bukan cuma ngasih arahan aja, tapi juga jadi tempat buat tim belajar, curhat ide, dan dapet semangat. Saya berusaha bikin suasana kerja yang nyaman, terbuka buat belajar, dan saling support. Salah satu cara nyatanya ya dengan rutin ngadain pelatihan—baik yang kita adain sendiri maupun yang kerja sama sama pihak luar. Materinya pun beragam, dari skill teknis yang sesuai bidang masing-masing, sampai soft skill kayak komunikasi, manajemen waktu, dan kerja tim. Selain itu, saya juga dorong budaya diskusi dan evaluasi bareng, supaya semua orang punya kesempatan buat berkembang dan ngerasa dihargai. Kami juga kasih ruang buat karyawan ngembangin ide-ide atau inisiatif yang bisa bantu usaha ini terus maju. Pengembangan individu menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan SDM, dan berkembangnya UMKM. Dalam konteks ini, menurut (Bass dan Avolio 1994), kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan di mana pemimpin bekerja dengan anggota tim untuk mengidentifikasi perubahan yang dibutuhkan, menciptakan visi yang menginspirasi untuk membimbing perubahan tersebut, dan menjalankan perubahan bersama dengan anggota tim. Lebih dari itu, pemimpin transformasional mampu membangkitkan motivasi dan komitmen yang tinggi dari bawahannya melalui pendekatan yang menginspirasi dan memberdayakan. Sejalan dengan teori tersebut, peran kepemimpinan dalam meningkatkan kompetensi SDM di UMKM Alfatzhi sangatlah penting. Pemilik usaha sekaligus pemimpin berperan aktif dalam membimbing dan mengarahkan karyawan, terutama karena sebagian besar dari mereka masih dalam tahap belajar. Hal ini ditunjukkan melalui gaya kepemimpinan yang partisipatif dan membangun hubungan kekeluargaan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan terbuka. Selain itu, pemimpin juga secara langsung memberikan pelatihan, mengevaluasi hasil kerja, serta memotivasi karyawan untuk terus berkembang. Dengan pendekatan seperti ini, karyawan merasa dihargai dan lebih semangat untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan dalam mendukung operasional usaha. Untuk mencapai tujuan peningkatan kinerja dan keterampilan tim, pimpinan di setiap perusahaan pasti memiliki berbagai cara yang dilakukan. Salah satunya adalah dengan memberikan pelatihan dan pengarahan langsung kepada karyawan. Mengingat pentingnya pengembangan SDM dalam menjaga kualitas operasional dan pelayanan, saya ingin mengetahui seberapa sering pimpinan di Alfathizi memberikan pelatihan atau arahan kepada karyawan, dan apakah ada metode atau jadwal tertentu yang diterapkan agar setiap karyawan dapat terus berkembang, A1 menyatakan: Di Alfathizi, kami coba rutin ngasih pelatihan atau arahan. Setiap bulan, kami biasa ngumpul buat ngobrolin tujuan bisnis dan ngeevaluasi kinerja tim. Kalau ada proyek baru atau cara kerja yang berubah, pimpinan langsung kasih arahan atau pelatihan singkat ke tim. Kami juga selalu ngajak komunikasi terbuka, jadi kalau ada yang perlu dibenerin atau dikembangin, pimpinan selalu siap kasih bimbingan kapan aja. Hal ini berkaitan dengan Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia (HRD) menekankan pentingnya pengembangan SDM melalui pelatihan, pendidikan, dan peningkatan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Menurut Swanson (1999), HRD adalah proses yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan individu dan organisasi melalui pelatihan serta pengembangan yang terstruktur. Sementara itu, kepemimpinan partisipatif, menurut Vroom & Yetton (1973), menekankan pentingnya melibatkan karyawan dalam proses pengambilan keputusan dan menjaga komunikasi yang terbuka, di mana pimpinan tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga mendengarkan masukan dari karyawan untuk mencapai keputusan yang lebih baik serta mendukung pengembangan kompetensi mereka. Wahyuni & Santosa (2020) menyatakan bahwa pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap peningkatan kinerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Yogyakarta. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa pelatihan yang efektif dapat meningkatkan keterampilan dan kompetensi karyawan, yang pada gilirannya berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan kinerja usaha. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kontribusi pelatihan dan pengembangan SDM terhadap kinerja UMKM mencapai angka yang cukup signifikan, yaitu sebesar 62,3%. Perusahaan dapat meningkatkan kompetensi kerja karyawannya melalui berbagai kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan, karena dengan konsistensi tersebut, kualitas pekerjaan dapat terus ditingkatkan. Dalam hal ini, upaya-upaya yang dilakukan oleh Alfathizi untuk menghadapi berbagai tantangan dalam manajemen SDM juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas dan perkembangan usaha secara menyeluruh. Berikut pernyataan A1 tentang tangggapan manajemen terhadap tantangan yang dihadapi: Buat ngatasi tantangan dalam ngelola SDM, disini punya beberapa langkah strategis. Salah satunya dengan ngasih pelatihan secara bertahap ke karyawan, khususnya buat ningkatin skill teknis kayak cara nge-pack produk, jualan online, sampai bikin konten digital. Selain itu, di sini juga diterapin pendekatan yang lebih santai dan kekeluargaan, biar suasana kerja jadi nyaman, enak buat komunikasi, dan pastinya lebih produktif. Hasilnya, walaupun banyak dari karyawan masih belajar dari nol, mereka tetap bisa berkembang dan kasih kontribusi terbaik buat kelangsungan usaha ini. Hal ini sejalan dengan pendapat Werner dan DeSimone (2012) yang menyatakan bahwa pengembangan SDM adalah proses peningkatan keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan karyawan melalui pelatihan dan pengembangan, pengelolaan karier, serta organisasi pembelajaran. Lebih lanjut, Maslow (1943) Menyatakan bahwa individu memiliki lima tingkatan kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri. Dalam konteks ini, lingkungan kerja yang nyaman dan komunikatif membantu memenuhi kebutuhan sosial dan penghargaan, sehingga karyawan lebih termotivasi untuk berkembang. Namun, peningkatan kompetensi karyawan tidak hanya bergantung pada pengelolaan sumber daya manusianya, tetapi juga dipengaruhi oleh sejauh mana karyawan memiliki kesadaran dan inisiatif untuk terus belajar serta mengembangkan keterampilan mereka secara mandiri dalam lingkungan kerja di UMKM Alfathizi, A1 juga memberikan penjelasan tentang inisiatif karyawan pada UMKM Alfatzhi pusat oleh-oleh Surabaya: Karyawan di sini nunjukin inisiatif yang keren banget buat belajar dan ningkatin skill mereka. Walaupun banyak yang mulai dari nol tanpa pengalaman, semangat mereka buat berkembang bener-bener keliatan. Mereka nggak ragu ikut pelatihan, nyoba hal-hal baru kayak live streaming dan pemasaran digital, dan juga terbuka banget nerima masukan dari saya. Suasana kerja yang suportif plus adanya kesempatan buat terlibat lebih dalam di operasional usaha juga jadi motivasi tambahan buat mereka. Jadi, mereka makin semangat buat terus belajar dan adaptasi sama kebutuhan bisnis yang terus berkembang. Teori Motivasi Intrinsik Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 1985) menyatakan bahwa motivasi untuk belajar dan berkembang muncul secara alami ketika tiga kebutuhan dasar terpenuhi, yaitu: autonomy (merasa bebas dan memiliki kendali atas tindakannya), competence (merasa mampu dan berkembang dalam keterampilan), dan relatedness (merasa diterima serta terhubung dengan lingkungan sosial). Dalam upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja, dukungan dari manajemen memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan pengembangan karyawan. Melalui penyediaan pelatihan, bimbingan, dan motivasi kerja, manajemen turut andil dalam mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja, yang tentunya berdampak pada kemajuan usaha secara keseluruhan. Dukungan inilah yang secara tidak langsung menunjukkan bagaimana peran manajemen sangat berpengaruh terhadap proses pengembangan kompetensi karyawan, berikut pernyataan A1 selaku pemilik usaha: Manajemen di sini cukup aktif ngedukung karyawan buat ningkatin skill mereka. Dukungannya keliatan banget dari awal mereka gabung langsung dikasih pelatihan, mulai dari cara nge-pack produk, teknik jualan online, live streaming, sampai bikin konten digital. tidak cuma itu, manajemen juga rutin ngasih pendampingan, arahan yang jelas, dan bikin suasana kerja yang terbuka buat diskusi dan evaluasi bareng. Dengan pendekatan kayak gini, karyawan jadi lebih percaya diri dan makin semangat buat terus belajar dan kasih kontribusi terbaik buat usaha ini. Pernyataan A1 diatas merupakan dukungan yang positif darii pihak manajemen, hal ini juga di sampaikan Rhoades & Eisenberger (2002), perceived organizational support atau dukungan organisasi persepsian merupakan sikap yang meyakinkan seseorang bahwa organisasi tempatnya bekerja menghargai kontribusi dan peduli dengan kesejahteraannya. Sejalan dengan hal ini, Teori Dukungan Organisasi (Perceived Organizational Support – Eisenberger et al., 1986) menyatakan bahwa karyawan yang merasa didukung oleh organisasi akan memiliki motivasi yang lebih tinggi, merasa dihargai, dan lebih loyal, di mana dukungan nyata dari manajemen seperti pelatihan, bimbingan, dan feedback dapat meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi. Di sisi lain, Teori Pembelajaran Organisasi (Organizational Learning Theory – Argyris & Schön, 1978) menekankan bahwa pembelajaran yang efektif dalam suatu organisasi sangat penting untuk mengatasi tantangan yang dihadapi serta mendorong terciptanya inovasi. Pembelajaran di dalam organisasi tidak hanya terjadi secara formal melalui pelatihan, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang diperoleh dari interaksi sehari-hari, serta melalui komunikasi yang terbuka dan konstruktif antar anggota tim. Proses ini memungkinkan organisasi untuk mengadaptasi diri terhadap perubahan, meningkatkan kemampuan kolektif, dan menciptakan solusi baru yang lebih baik untuk berbagai masalah yang muncul, sehingga organisasi dapat terus berkembang dan berinovasi. Selain itu, guna semakin meningkatkan kompetensi kerja, karyawan seyogianya tidak hanya memanfaatkan pelatihan kerja yang telah disediakan oleh pemilik perusahaan secara optimal mulai dari mengikuti setiap sesi materi, berdiskusi aktif dengan instruktur, hingga mengimplementasikan hasil pelatihan dalam tugas sehari-hari tetapi juga harus bersedia menghadapi kebijakan rotasi kerja yang diberlakukan oleh manajemen, yaitu pemindahan karyawan ke unit atau departemen lain yang melaksanakan tugas-tugas serupa dengan ragam tantangan baru, sehingga variasi tanggung jawab dan lingkungan kerja yang berbeda dapat mencegah kejenuhan, menjaga semangat, serta pada akhirnya mendorong peningkatan produktivitas perusahaan secara signifikan. Dalam menjalankan sebuah usaha, kelancaran operasional tidak hanya bergantung pada strategi bisnis dan keterampilan teknis semata, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh efektivitas komunikasi antara manajemen dan karyawan. Komunikasi yang terjalin dengan baik mampu menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, mengurangi potensi kesalah pahaman, serta mempercepat alur informasi yang berkaitan dengan kegiatan operasional sehari-hari. Oleh karena itu, hubungan komunikasi internal yang efektif menjadi salah satu faktor penting yang turut mendukung kelancaran operasional usaha, A1 menyatakan: Ya, komunikasi antara manajemen dan karyawan emang punya pengaruh besar banget buat kelancaran operasional usaha. Di UMKM ini, komunikasi yang terbuka dan dua arah bikin arahan kerja jadi lebih jelas, masalah bisa cepet diselesaikan, dan rasa saling percaya antara pemilik usaha dan karyawan juga semakin kuat. Dengan komunikasi yang baik, karyawan jadi lebih ngerti tanggung jawab mereka, lebih gampang adaptasi sama perubahan, dan lebih semangat buat kerja lebih efisien. Ujungujungnya, ini bikin produktivitas dan kualitas pelayanan di operasional harian makin oke. Teori Kepemimpinan Transformasional (Bass & Avolio, 1994) menjelaskan bahwa pemimpin transformasional tidak hanya memberikan arahan yang jelas, melainkan juga mendorong komunikasi yang terbuka dengan karyawan, memberikan perhatian pada kebutuhan dan perasaan mereka, serta menciptakan lingkungan yang komunikatif yang pada akhirnya memungkinkan karyawan merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik mereka. Sejalan dengan hal ini, Teori Komitmen Organisasi (Organizational Commitment Theory – Meyer & Allen, 1991) menjelaskan bahwa komitmen karyawan terhadap organisasi sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang jelas dan terbuka, di mana ketika karyawan merasa diberi informasi yang memadai dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan, mereka cenderung lebih berkomitmen untuk mendukung tujuan dan keberhasilan organisasi. Selain itu, Teori Motivasi dan Kinerja (Expectancy Theory – Vroom, 1964) menyatakan bahwa karyawan akan termotivasi untuk bekerja lebih keras jika mereka merasa ada hubungan yang jelas dan dapat diprediksi antara upaya yang mereka lakukan dan hasil yang diharapkan, di mana faktor kunci dalam mencapainya adalah adanya pemahaman yang jelas mengenai ekspektasi tersebut. Dengan demikian, komunikasi yang efektif antara manajemen dan karyawan sangat penting dalam menciptakan ekspektasi yang realistis dan transparan mengenai tujuan dan hasil yang diinginkan. Melalui komunikasi yang terbuka dan jelas, manajemen dapat memastikan bahwa karyawan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka, bagaimana usaha mereka akan dihargai, serta dampak dari pencapaian tersebut terhadap tujuan organisasi, yang pada gilirannya akan meningkatkan motivasi dan kinerja karyawan. Penelitian Akbar, Saroh, dan Zunaida (2020) menyatakan kemudahan dalam berkomunikasi serta kejelasan informasi di perusahaan Fior Lotus secara keseluruhan terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja karyawan; akan tetapi, tingkat signifikansi hubungan tersebut ternyata berfluktuasi sesuai dengan berbagai faktor kontekstual seperti gaya kepemimpinan, kompleksitas tugas, dan budaya organisasi serta sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi yang terjalin antara atasan dan bawahan, sehingga menegaskan pentingnya penyesuaian strategi komunikasi dengan karakteristik lingkungan kerja yang spesifik agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal. Kerja sama yang baik dan kompak membuat sebuah perusahaan dapat mencapai tujuannya dengan cepat, oleh karena itu, antar karyawan harus menjalankan kerja sama yang erat. Selain itu, karyawan juga bisa melakukan kegiatan di luar pekerjaan untuk mempererat hubungan antar karyawan. Hal ini dikarenakan kegiatan-kegiatan seperti makan bersama atau bahkan liburan bersama dapat meningkatkan moral karyawan dan berpotensi membuat karyawan lebih betah di lingkungan kerjanya. Ketika karyawan merasa lebih betah dan moral meningkat, maka seringkali mereka akan lebih baik dalam melakukan pekerjaannya. Dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia, ada berbagai aspek yang perlu diperhatikan, karena kompetensi karyawan tidak terbentuk begitu saja. Faktor-faktor internal maupun eksternal memiliki peran penting dalam menentukan sejauh mana kemampuan dan keterampilan seorang karyawan dapat berkembang di lingkungan kerja. Oleh karena itu, penting untuk memahami berbagai elemen yang memengaruhi kompetensi SDM di UMKM Alfathizi agar proses pengembangan karyawan dapat berjalan dengan optimal, berikut pernyataan A1: Kalau saya perhatiin, ada beberapa hal sih. Pertama, banyak karyawan yang awalnya nggak punya pengalaman, jadi butuh waktu buat belajar. Tapi kita bantu mereka dengan pelatihan dari awal, mulai dari cara packing, promosi online, sampai bikin konten. Selain itu, semangat dari mereka juga penting banget. Banyak yang emang pengen belajar dan nyoba hal-hal baru. Di sisi lain, kita juga berusaha bikin suasana kerja tetap nyaman dan terbuka, supaya mereka nggak ragu buat nanya atau diskusi. Yang nggak kalah penting, sekarang kan banyak kerjaan yang pakai teknologi, jadi kemampuan mereka buat pakai HP atau media sosial juga ngebantu banget, Intinya, selama mereka semangat dan mau belajar, kami siap bantu terus. Hal ini selaras dengan Teori Dukungan Organisasi (Perceived Organizational Support – Eisenberger et al., 1986) yang menjelaskan bahwa ketika karyawan merasa mendapatkan dukungan yang nyata dari organisasi, seperti pelatihan yang memadai, lingkungan kerja yang nyaman, dan komunikasi yang terbuka, maka mereka akan merasa lebih dihargai, termotivasi, dan terdorong untuk terus meningkatkan kompetensi serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan usaha. Selain itu, teori ini juga diperkuat oleh Teori Motivasi Intrinsik – SelfDetermination Theory (Deci & Ryan, 1985) yang menyebutkan bahwa motivasi seseorang akan tumbuh secara alami apabila tiga kebutuhan dasarnya terpenuhi, yaitu autonomy (kebebasan dalam bekerja), competence (merasa mampu dan berkembang), serta relatedness (merasa diterima dalam lingkungan sosial). Dalam konteks UMKM Alfatzhi, suasana kerja yang kekeluargaan, dukungan dari pemilik usaha, serta keterlibatan aktif karyawan dalam proses belajar menunjukkan bahwa ketiga elemen tersebut telah terpenuhi, sehingga mendorong munculnya motivasi intrinsik dalam diri karyawan untuk terus berkembang. Kemudian, hal ini juga sejalan dengan Teori Kompetensi (Competency Theory – Boyatzis, 1982) yang menyatakan bahwa kompetensi seseorang tidak hanya terbentuk dari kemampuan teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi, nilai pribadi, serta lingkungan tempat mereka bekerja. Di Alfatzhi, kondisi ini tercermin dari adanya pelatihan yang berkelanjutan, bimbingan langsung dari manajemen, serta suasana kerja yang mendukung, yang semuanya berkontribusi dalam membentuk kompetensi karyawan secara menyeluruh dan berkelanjutan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) pada pelaku UMKM Alfathzi Pusat Oleh‐oleh Surabaya dan upaya peningkatannya, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut: 1. kompetensi SDM di UMKM Alfathzi Pusat Oleh‐oleh Surabaya Berkembang sangat baik, Kompetensi interpersonal (soft skills) terutama kemampuan komunikasi dengan pelanggan dan kerjasama tim sudah kuat yang disebabkan kultur kekeluargaan yang mendorong interaksi harmonis antar karyawan, ini juga di buktikan adanya kesenjangan kompetensi, khususnya di kalangan karyawan baru yang belum memiliki pengalaman langsung. 2. Beberapa faktor memengaruhi kompetensi SDM di UMKM Alfathzi Pusat Oleh-oleh Surabaya. Salah satunya adalah latar belakang pendidikan, di mana karyawan yang punya pendidikan di bidang pariwisata atau bisnis lebih cepat memahami cara kerja. Pelatihan internal dan eksternal memang rutin dilakukan, tapi masih umum dan belum fokus pada penggunaan alat digital. Sistem insentif berbasis kinerja bisa meningkatkan motivasi, tapi cara penilaiannya masih perlu diperbaiki agar lebih adil dan jelas. Budaya kerja tim yang saling mendukung membantu pengembangan soft skills, tapi fasilitas seperti ruang foto produk dan software editing masih kurang memadai. B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti mengajukan saran berikut agar UMKM Alfathzi dapat lebih optimal dalam meningkatkan kompetensi SDM: 1. Bagi pengembangan ilmu: Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi awal bagi penelitianpenelitian selanjutnya yang membahas kompetensi SDM di sektor UMKM, khususnya dalam konteks industri oleh-oleh dan ekonomi kreatif. Ke depan, pengembangan ilmu dapat diarahkan pada kajian yang lebih mendalam mengenai pengaruh digitalisasi terhadap peningkatan keterampilan SDM UMKM, serta efektivitas metode pelatihan berbasis teknologi. Selain itu, peneliti lain dapat mengembangkan model evaluasi kompetensi SDM yang lebih terukur dan aplikatif bagi pelaku usaha kecil menengah. Diharapkan penelitian ini juga membuka peluang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku UMKM dalam merancang program peningkatan kapasitas SDM yang lebih terarah dan relevan dengan kebutuhan lapangan. 2. Bagi peneliti selanjutnya: saran untuk penelitian selanjutnya terkait kompetensi SDM pada UMKM Alfathzi Pusat Oleh‐oleh Surabaya, yaitu melakukan analisis dampak investasi pelatihan terhadap kinerja usaha melalui studi kuantitatif yang mengukur hubungan antara waktu dan biaya pelatihan dengan peningkatan penjualan, produktivitas, atau kepuasan pelanggan. 3. Bagi institusi: Institusi pendidikan maupun pemerintah yang terkait dengan pengembangan UMKM diharapkan dapat lebih aktif menjalin kerja sama dengan pelaku usaha, khususnya dalam menyediakan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pelatihan yang ditawarkan sebaiknya tidak hanya bersifat umum, tetapi juga lebih spesifik, seperti penggunaan alat digital, strategi pemasaran online, serta pengelolaan usaha berbasis teknologi. Selain itu, institusi dapat berperan dalam membantu penyusunan sistem penilaian kinerja SDM yang objektif dan transparan, serta menyediakan pendampingan berkelanjutan guna meningkatkan daya saing UMKM. Dengan dukungan yang tepat dari institusi, pengembangan kompetensi SDM di sektor UMKM akan lebih optimal dan berkelanjutan.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )