SIRAH 101 1 Modul 2 Vidio 2a Selamat datang kembali ke sesi baru mata kuliah sirah ini, kita mempelajari biografi Nabi ﷺ. Di sesi hari ini, Sesi 2, kita akan membahas bangsa Arab, Semenanjung Arab dan Makkah. Di sesi ke-2 ini kita akan membahas topik-topik berikut ini. Topik pertama tentang bangsa Arab. Kita akan membahas secara singkat tentang bangsa Arab. Topik kedua tentang bahasa Arab. Topik ketiga tentang wilayah geografis asli Arab. Lalu topik keempat yang juga terakhir tentang Makkah. Kita akan mengulasnya secara singkat. Jadi ada empat topik untuk sesi ini. Pertama, tentang bangsa Arab secara umum. Kita akan mengulas singkat bangsa Arab. Topik kedua tentang bahasa Arab. Yang ketiga yaitu ulasan tentang wilayah geografis bangsa Arab. Yang ke-4 tentang Makkah, yaitu salah satu kota besar di Arab. Tujuan dari pembelajaran di sesi ini adalah murid diharapkan memiliki pemahaman tentang bangsa Arab dan lingkungan di sekitar Nabi ﷺtinggal sebagai manusia dan bisa menempatkannya dalam konteks sejarah yang tepat. Jadi di akhiir sesi ini, kami harapkan murid bisa paham bahwa Nabi ﷺadalah orang Arab. Beliau berasal dari bangsa Arab. Penting untuk mengetahui daratan Arab dan sejarah Arab dan sebaiknya kita bisa menempatkan informasi umum ini dalam konteks yang tepat setiap kali kita mempelajari biografi Nabi ﷺ. Sekarang kita akan membahas topik pertama yaitu tentang bangsa Arab. Bahasan tentang bangsa Arab secara singkat sangat penting bagi pembelajaran sirah Nabi ﷺ. Alasannya karena Nabi ﷺsendiri adalah orang Arab. Risalah Islam sendiri disampaikan dalam bahasa Arab secara semantik. Allah sendiri menerangkan dalam Al-Al-Qur'an: ِ َب اَع َرِ ي َ َوَك ََٰذل َ ْم َ كََأ ُ َُنزلَْٰنَه ً َحك "Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab..." (Q.S. Ar-Ra'd [13]:37) Itulah fakta bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'an. Al-Qur'an pun diturunkan dalam bahasa Arab dan seluruh risalah Islam pun dalam bahasa Arab. Islam merupakan risalah untuk seluruh dunia. Allah سبحانه و تعالىpun menerangkan dalam Al-Qur'an : ِ ااسَب ِشري ِ ِ َ َوَمآَأ َْرسلْ َٰن َااسَََّلَيَ ْعلَ ُمون َِ اَوَٰلَكِ انَأَ ْكثَ َرَٱَلن َ َ َ اَونَذ ًير َ ً َ ِ كَإاَّلَ َكآفاةًَلِّلن "Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (Q.S. Saba [34]: 28) Jadi risalah Nabi ﷺadalah risalah universal. Kita akan mengetahuinya saat kita membahas sifat risalah Islam secara detail di sesi kedua ini. Saya akan membahas secara detail tentang berlakunya risalah Islam ini untuk seluruh umat. Yang ingin kami tekankan di sini ialah Nabi ﷺadalah orang Arab. Risalah Islam pun secara semantik peraturan (hukum) dalam bahasa Arab, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Meskipun faktanya risalah beliau bersifat universal. Inilah alasan mengapa kita membahas tentang bangsa Arab. Pertama, karena Nabi ﷺorang Arab, dan Al-Qur'an risalah Islam juga peraturan berbahasa Arab. Kita bahas bangsa Arab. Bangsa Arab dan semua umat manusia secara primordial berasal dari Nabi Adam. Mungkin secara silsilah keturunan di bumi berasal dari mereka. Yang ingin kami sampaikan adalah asal usul kita secara primordial sama dari Adam. Lalu ada International Open University SIRAH 101 2 pula asal usul sekunder. Asal usul setiap manusia secara primordial sama, yaitu Adam dan Hawa. Ini tak terbantahkan. Dari asal usul primer ini kita berlanjut ke asal usul sekunder. Asal usul sekunder ini terbagi menjadi beberapa kategori. Kita tidak akan mampu mengaitkan suatu bangsa, sekelompok orang berdasarkan asal usul sekunder. Akibatnya akan terputus dalam sejarah. Selain itu informasinya tidak akan lengkap. Tapi yang penting adalah mungkin kita bisa menelusuri asal usul yang benar dari sekelompok orang tertentu atau suatu bangsa atau suku. Kita bisa menghubungkan orang-orang tertentu di antara leluhur kita atau tidak. Intinya, semua manusia secara primordial berasal dari Adam dan Hawa. Allah سبحانه و تعالىpun menerangkan hal ini dalam Al-Qur'an dengan firman-Nya dalam (Q.S. An-Nisa [4]: 1) ِ ٍ ِ ٍ مَمنَنا ْف ِ ِ َث َِمْن ُه ََماَ ِر َجاَّلًَ َكثِ ًريا اَوبَ ا َ س ََواح َدة ََو َخلَ َقَمْن َه َ ااسَاتا ُقواْ ََربا ُك ُمَالاذ ِّ يَخلَ َق ُك َ اَزْو َج َه ُ ََيَأَيُّ َهاَالن َونِ َساء Allah menerangkan, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya." Seorang diri di sini mengacu pada Nabi Adam alaihi salam "Dan dari padanya Allah menciptakan isterinya." Yaitu Hawa dan dari pada keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Jadi asal usul manusia tak terbantahkan secara primordial berasal dari Adam dan Hawa. Pada akhirnya umat manusia tercipta menjadi banyak bangsa, berbagai suku bangsa. Setiap bangsa, suku dan ras terdiri dari berbagai kategori. Allah menjadikan setiap bangsa ini menjadi berbagai suku, menuturkan berbagai bahasa berbeda, Allah سبحانه و تعالىmenerangkan dalam Al-Qur'an: ََٰٓيأ َ ُّي َها ٱل َّناس إِ َّنا َخلَ ْق َنكم ِ ِّمن ذَك ٍَر َوأنثَى "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan..." َوًب ََوقَبَائِ َلَلِتَ َع َارفُوا ُ َو َج َع ْلنَا ُك ْم ً َُشع "Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenalmengenal." (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13) ِ Allah menyebutkan ارفَُوا َ لتَ َع. Itulah tujuannya. Sebagaimana firman Allah: َندَٱ اَللََِأَتْ َق َٰى ُك ْم َ ِإِ انَأَ ْكَرَم ُك ْمَع "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu." ِ ِ ٌَيمَ َخبِري ٌ إ انََٱَ اَللََََ َعل. Di ayat lainnya, Allah َ سبحانهَوَتعالmenyebutkan salah satu tanda-Nya. ن َءَايََٰتَِِه َْ َوِم. Salah satu tandaNya, ض َِ تََََوٱَ ْْل َْر َِ َخلْ ُقََٱل اس ََٰم ََٰو. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. International Open University SIRAH 101 3 ِ langit dan bumi. Lalu Ia berfirman, ك َْم ُ ِفَ َأَلْ ِسنَتِ ُك ْمَ َوأَلْ َٰون ُ َ ََوٱ ْخت َٰلtanda Allah lainnya yaitu Allah َ menciptakan berlainan bahasa dan warna kulit. ِ ٍ َلءاي Allah berfirman, ي ََ َٰتَلِِّلْ َعَٰلِ ِم َ إِ ان َِِفَ َٰذَل. Allah berfirman, "Sesungguhnya pada yang ََ َ ك demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." Jadi dari ayat pertama yang kami sebutkan, dari surah Al-Hujurat, Allah menyebutkan Ia menciptakan kita menjadi laki-laki dan perempuan dan menjadikan kita berbagai bangsa dan suku supaya kita saling mengenal. Ayat kedua yang sudah saya sebutkan, yaitu Allah menyebutkan bahwa diantara tanda-tanda-Nya, ك َْم َُ َََوٱ ْختِ َٰل. ُ ِفَأَلْ ِسنَتِ ُك ْم ََوأَلْ َٰون َ Dua ayat yang sudah kami sebutkan menunjukkan keberagaman dalam penciptaan. Semuanya berasal dari Adam alaihisalam dan Hawa. Allah َ سبحانهَ وَ تعالmenyebutkan bahwa tujuannya ada dua. Tujuan pertama untuk saling mengenal, Allah menyebutkannya, لِتَ َع َارفَُوا. Itulah tujuan pertama. Tujuan kedua, Allah menyebutkan bahwa pada yang demikian itu ada tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang mengetahui. Pada tujuan kedua ini, Allah ingin menunjukkan keindahan dan tanda kebesaran-Nya. Pada akhirnya, umat manusia bisa digolongkan menjadi dua, yang baik dan buruk. Ibnu Umar رضي هللا عنهmeriwayatkan dari Nabi ﷺ, Nabi ﷺmemanggil orang-orang pada saat Fathul Makkah. "Wahai umat manusia, [teks hadis] Allah telah menghilangkan segala bentuk perbuatan jahiliah (masa sebelum Islam) [teks hadis] dari kalian dan kesombongan masa jahiliah karena berhalanya." Hadis ini sangat jelas bahwa Rasulullah ﷺmenerangkan fakta bahwa Allah telah menurunkan wahyu sebagai petunjuk bagi manusia dengan menghilangkan segala bentuk perbuatan jahiliyah dan kesombongan masa jahiliah karena berhalanya. Di akhir hadis Rasulullah mengatakan annasa rajula. Beliau menyebutkan manusia itu ada dua jenis. [teks hadis].Mungkin manusia beragam warna kulit dan bahasanya Sedangkan di akhir zaman, manusia hanya ada dua jenis. Itulah yang disebutkan Nabi. Warna kulit dan bahasa tidak begitu penting, kecuali untuk saling mengenal dan keberagaman yang Allah ciptakan di diri mereka Selain semua itu seperti ras dan warna kulit tidak lain hanya berupa kecenderungan syaitanik. Itulah sebabnya Rasulullah ﷺmenerangkan wannasu rajula. Menurut beliau, manusia itu hanya dua jenis. Jenis pertama yaitu barrun taqiyyun karimun 'alallah. Jenis pertama adalah manusia yang bertakwa dan memuliakan Allah. Jenis kedua yaitu manusia yang fajirun syaqiyyun hayyinun minallah. Jenis kedua ialah manusia yang jahat dan celaka dan merendahkan Allah. Jadi ada manusia yang bertakwa dan manusia yang jahat (fajir). Yang takwa itu mulia dan memuliakan Allah, sedangkan manusia jahat itu manusia yang celaka dan merendahkan Allah serta rendah di hadapan Allah. Beliau menyebutkan bahwa semua manusia itu keturunan Adam. َوق َدَخلقَهللاَآدمَمنَطراب "Allah menciptakan Adam dari tanah." Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmizi dan Ibnu Hibban. Masing-masing dari keduanya saling menguatkan dan menjadikan hadis ini hasan, terutama riwayat dari Ibnu Hibban. Intinya, saya menegaskan bahwa asal usul manusia secara primordial terbukti secara nash. Kita tahu bahwa manusia berasal dari Adam dan Hawa dan bukan dari kera seperti yang International Open University SIRAH 101 4 disinyalir oleh teori evolusi. Aslinya kita berasal dari Adam dan Hawa. Tidak ada masalah dengan fakta ini, karena didukung oleh nash yang sahih. Namun, bila kita mengkaji asal usul sekunder menjadikan manusia ke berbagai kategori. Ada banyak cabang dari asal-usul manusia secara primordial. Seperti bangsa Arab dan masih banyak bangsa lainnya. Ada asal usul primordial yang terbukti secara nash dan mutafaq alaih. Adapun asal usul sekunder berdasarkan dugaan dan pernyataan kurang kuat Salah satunya Arab. Bila kita membahas asal-usul Arab, mudah bagi kita menelusuri dan membahas asal usul bangsa Arab. Karena bangsa Arab pun manusia dan secara primordial juga berasal dari Adam dan Hawa. Bila kita membahas asal-usul sekunder, asal usul ini tidak bisa dengan langsung kita hubungkan ke Adam dan Hawa sebagaimana yang kami sebutkan saat membahas asal-usul Nabi ﷺnanti. Mari kita tinjau bangsa Arab, siapakah bangsa Arab? Kita membicarakan bangsa Arab sebagai salah satu ras manusia. Kami menyebutkan asal usul mereka secara primordial berasal dari Adam dan Hawa. Namun, bila kita membahas asal-usul sekunder, masih diperdebatkan di kalangan ulama. Siapakah orang Arab, kita membahas tentang bangsa Arab. Bangsa Arab sebagai suatu bangsa tergolong bangsa Semit yang punya kemiripan bahasa dan menempati lokasi tertentu yang disebut wilayah Arab. Inilah definisi sederhana untuk bangsa Arab. Karena Arab itu suatu bangsa. Sekelompok orang Semit yang punya kesamaan asal-usul dan bahasa yang menempati lokasi geografis tertentu. Lokasi itu dikenal dengan wilayah Arab. Ada berbagai sebutan bagi mereka yang akan kita bahas sebentar lagi. Kata dasar Arab masih diperdebatkan di kalangan ulama. Kebanyakan di antaranya hanya berdasar pada dugaan dan asumsi menurut banyak peneliti. Namun bila kita menilik Arab secara linguistik, Arab yang terdiri dari ain, ra, dan ba, ia (kata Arab) terdiri dari tiga denotasi semantik. Menurut Ibnu Faris, ulama bahasa Arab dari abad ke-4 Hijriyah yang wafat di tahun 395 Hijriyah. Ia menyebutkannya dalam karyanya yang berjudul Maqāyīs al-lughah. Beberapa dari denotasi semantik adalah ibanah dan ifsah. Bila kita membahas kata Arab, yang akar katanya terdiri dari ain, ra dan ba denotasi sematiknya bisa ibanah atau ifsah. Lalu apa arti ibanah ifsah? Ibanah bisa diartikan kejelasan suatu pernyataan. Itulah pengertian ibanah ifsah. Kejelasan pernyataan. Menurut Ibnu Faris, ia menunjukkan bahwa kata Arab punya hubungan dan denotasi kejelasan suatu pernyataan, karena kejelasan dalam bahasa Arab. Sedangkan pendapat yang menyebutkan bahwa kata Arab secara linguistik bermakna gurun dan daratan yang luas, pengertian ini tidak berdasar dan lemah karena tidak ada dalil pendukungnya. Namun ada sebagian yang berpendapat demikian. Menurut mereka kata Arab artinya gurun. Pengertian ini lemah dan tidak berdasar, tidak ada dalil tekstual yang mendukungnya. Namun makna terdekat untuk kata Arab disinyalir adalah kejelasan suatu ujaran sebagaimana pendapat Ibnu Faris. Singkat kata, bangsa Arab disebut orang Arab sejak prasejarah dan semuanya berupaya mendefinisikan asal maknanya dengan berbagai cara. Jadi sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa kata Arab bermakna gurun. Namun makna terdekat berdasarkan kesimpulan dari Ibnu Faris, ialah orang Arab disebut Arab karena kejelasan ujaran mereka. Vidio 2b Secara umum bangsa Arab digolongkan menjadi dua kelompok. Bila kita membahas tentang penggolongan orang Arab, berarti kita membahas asal usulnya saat kita membahas makna kata arab dan penggolongan bangsa Arab. Bila kita membahas tentang penggolongan International Open University SIRAH 101 5 orang Arab, para sejarawan kebanyakan terpecah ke dalam dua pendapat dalam hal penggolongan orang Arab. Pendapat pertama, orang Arab terbagi menjadi tiga kelompok. Pendapat pertama, orang Arab terbagi menjadi tiga kelompok. Golongan pertama menurut pendapat pertama ini ialah al-'Arab A'-Ba'idah al-'Arab A-Ba'idah. Al-'Arab A-Ba'idah bisa diterjemahkan sebagai orang Arab yang punah orang Arab yang punah. Orang Arab yang punah, mereka menyebutnya al-'Arab A-Ba'idah. Dikatakan bahwa al-'Arab A-Ba'idah, mungkin mereka adalah orang Arab kuno seperti bangsa 'Ad, Tsamud dan lainnya. Namun sebenarnya tidak ada bukti untuk membuktikan mereka adalah orang Arab selain dugaan yang sudah saya sebutkan tadi. Inilah golongan pertama bangsa Arab. Bagi yang berpedoman pada pendapat pertama ini menurut mereka, golongan pertama adalah al-'Arab A-'Ba'idah. Golongan kedua menurut pendapat pertama ialah al- 'Arab al-'Aribah. al- 'Arab al'Aribah. Al- 'Arab al-'Aribah diterjemahkan sebagai orang Arab murni. Dikatakan mereka adalah keturunan Qahtan. Sebagian berpendapat mereka ini keturunan Qahtan, sayangnya asal usul Qahtan tidak bisa dipastikan. Selain itu tidak ada sejarah lengkap tentang silsilah Qahtan sendiri. Ada sebagian orang Arab yang diyakini keturunan Qahtan yang kemudian dikenal sebagai Qahtariyun atau Arab Qahtariyan. Inilah golongan kedua menurut pendapat pertama. Golongan kedua disebut al-'Arab al-Aribah, sedangkan yang pertama disebut al'Arab A-Ba'diah. Namun, sayangnya tidak ada bukti yang bisa memastikan kebenaran kedua golongan ini. Mereka Arab dalam arti sebenarnya. Itulah sebabnya Allah menyebutkan 'Ad dan Tsamud dalam Al-Qur'an, tetapi belum ada yang bisa membuktikan kebenarannya. Golongan kedua yaitu al-'Arab al-'Arabiah yang dianggap keturunan Qahtan. Sebagaimana saya katakan tidak ada bukti pasti yang membuktikan mereka keturunan Qahtan. Orang Arab yang keturunan Qahtan disebut Qahtaniyun atau Arab Qahtaniyan. Golongan terakhir menurut pendapat ini adalah Al-‘Arab Al-Musta’ribah. Al-‘Arab Al-Musta’ribah bisa diterjemahkan sebagai orang yang di-Arabkan orang yang di-Arabkan. Mereka diyakini keturunan dari Nabi Ismail alaihi salam. Al-‘Arab Al-Musta’ribah ditafsirkan sebagai orang yang di-Arabkan sebagai keturunan Nabi Ismail alaihi salam. Mereka pun dikenal sebagai ‘Adnāniyyūn atau Arab Adnanian. Seperti golongan kedua yang disebut Qahtaniyun atau Arab Qahtaniyan golongan kedua al-'Arab al-'Aribah, lalu yang terakhir al-'Arab al-Musta'ribah yang disebut Adnaniyyun atau Arab Adnanian. Inilah pendapat pertama tentang penggolongan orang Arab. Ada pun pendapat kedua, ada sejarawan lain yang menggolongkan orang Arab menjadi dua golongan saja. Golongan pertama disebut al-'Arab a'-Ba'idah. Seperti pendapat pertama, mereka sepakat dengan pendapat pertama untuk golongan al-'Arab a'-Ba'idah. Al-'Arab a'-Ba'idah ini diterjemahkan menjadi orang Arab yang punah seperti pendapat pertama. Jadi mereka sepakat dengan golongan pertama. Sehingga tidak ada bukti nyata untuk menguatkan 'Ad dan Tsamud dan lainnya sebagai bangsa Arab. Golongan kedua berdasarkan pendapat kedua ialah Al-‘Arab A’-Baqiyah. Al-‘Arab A’Baqiyah. Al-‘Arab A’-Baqiyahn adalah bangsa Arab yang ada sekarang. Mereka terdiri dari Jurhum dan keturunan Ismail. Menurut pendapat ini, keturunan Ismail, mencakup Qaḥṭāniyyūn dan‘Adnāniyyūn. Seperti pendapat pertama, kategori Qahtaniyyun dan Adnaniyyun berbeda dengan keturunan Ismail. Para ulama yang sepaham dengan pendapat kedua ini bahwa Qahtaniyyun dan Adnaniyyun keturunan Ismail. Menurut hemat saya, berdasarkan nash tekstual yang akan saya sebutkan segera. Pendapat yang ini lebih rajih dan lebih meyakinkan. Artinya Qahtaniyyun dan Adnaniyyun sebenarnya keturunan Nabi Ismail. Seperti pendapat pertama, kategori Qahtaniyyun mereka tidak bisa menyebutkan asal usul mereka. Karena ada dua riwayat yang bertolak belakang terkait asal usul Qahtaniyyun sendiri. Namun bila kita melihat referensinya, rujukan tekstual International Open University SIRAH 101 6 cukup meyakinkan untuk menyatakan bahwa Qahtaniyyun dan Adnaniyyun sama-sama keturunan Ismail alaihi salam. Mari kita cermati. Tentunya Jurhum pun termasuk dalam kategori al-'Arab ABaqiyah. Jurhum dan keturunan Ismail. Asal usul bangsa Arab yang terdekat menurut Ibnu Abbas dalam Bukhari bisa ditelusuri ke hijrahnya Jurhum kuno. Jurhum sendiri merupakan suku Arab kuno. Inilah asal usul paling rajih berdasarkan pendapat kedua. Jurhum kuno hijrah ke Makkah. Mereka hijrah ke Makkah setelah kota itu ditempati oleh Hajar dan puteranya Ismail alaihi salam. Tentunya Hajar dan Ismail tinggal di Makkah setelah mereka dipindahkan ke sana oleh Ibrahim alaihi salam atas perintah Allah سبحانه و تعالىdengan firmanNya : َكَٱلْ ُم َحارِم ََ ِندَبَْيت ََ ِعَع ٍَنتََ ِمنََذُِِّرياِتََبَِو ٍَادَ َغ ِْريََ ِذىَ َزْر ُ َس َك ْ إِِِِّنَأ (Q.S. Ibrahim [14]: 37) Allah memerintahkan Ibrahim, juga disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas yang sudah saya sebutkan. Ibrahim diperintahkan untuk memindahkan mereka ke Makkah untuk beribadah sebagaimana yang tersirat di ayat tersebut. Jadi saat Jurhum datang ke Makkah, Hajar mengizinkan Jurhum untuk tinggal bersama mereka. Ismail pun tumbuh besar dengan suku Jurhum ini di wilayah Arab. Sejumlah wanita Jurhum pun akhirnya menikah dengan Ismail. Inilah proses naturalisasi Arab Adnaniyyun lewat keturunan Ismail. Yang dimaksud dengan orang yang di-Arabkan, pada awalnya mereka bukan asli Arab. Namun dengan proses naturalisasi, karena Ismail tinggal bersama mereka Wata'allama minhum 'arabiyya, berdasarkan riwayat dari Shahih Bukhari. Di wilayah Arab mereka tinggal. Jadi orang Arab yang dianggap keturunan Ismail disebut Arab Adnaniyyun Tidak ada ikhtilaf di kalangan ulama tentang Arab Adnaniyyun adalah keturunan Ismail. Mereka hanya berikhtilaf dengan pendapat bahwa Arab Qahtaniyyun. Tentang apakah Qahtaniyyun juga keturunan Ismail. Namun ada bukti yang menunjukkan bahwa Arab Qahtaniyyun juga punya asal usul. Sebenarnya tidak ada perdebatan tentang sejarah mereka tetapi ada dua pendapat berbeda tentang Arab Qahtaniyyun. Pendapat pertama menyebutkan Qahtaniyyun termasuk dalam golongan Arab yang tersendiri. Pendapat kedua menyebutkan Qahtaniyyun bagian dari bangsa Arab sekarang. Sebenarnya baik Qahtaniyyun maupun Adnaniyyun, keduanya keturunan Ismail. Saya katakan s,ebelumnya sejarah tentang Adnaniyyun tidak ada perdebatan tentang sejarah mereka tetapi ada ikhtilaf tentang sejarah asal usul Qahtaniyyun. Namun, jika kita bisa menentukan berdasarkan nash tekstual, untuk memastikan apakah Qahtaniyyun pun keturunan Ismail, maka kita akan merujuk ke pendapat kedua. Mereka menggolongkan Qahtaniyyun termasuk keturunan Ismail. Mereka sepakat bahwa Adnaniyyun keturunan Ismail. Ada bukti yang mendukungnya, sehingga kita merujuk ke pendapat kedua ini yang menganggap Arab Qahtaniyyun juga termasuk keturunan Ismail. Nash pendukungnya ialah hadis dari Salamah bin Al-Akwa’ رضي هللا عنه, hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan kitab Shahih lainnya. Ia menyebutkan hadis yang menyatakan bahwa Nabi ﷺberkata pada sekelompok orang Aslam. Menurut sejarah, Aslam dianggap bagian dari Qahtaniyyun. Tidak ada ikhtilaf di kalangan ulama dan ahli silsilah keturunan bahwa Aslam termasuk Arab Qahtaniyyun. Sudah ada ijma tentang itu. Saat Nabi ﷺmelihat sekelom,pok orang Aslam tengah berlomba lempar tombak. Nabi ﷺmembuat pernyataan ini. Beliau berkata, "Urmu ya bani ismail." Beliau berkata, "Wahai keturunan Ismail." Nabi ﷺmengetahui bahwa mereka Aslam. Nabi ﷺpun menyapa orang-orang Qahtaniyyun, "Wahai keturunan Ismail." "Lemparkanlah, wahai keturunan Ismail!" "Fa inna abakum (Ismail) kana aramiyyun." "Karena bapak kalian itu Ismail." International Open University SIRAH 101 7 Sebenarnya ini adalah dalil yang digunakan banyak ulama untuk membuktikan bahwa Qahtaniyyun keturunan Ismail. Ini adalah dalil yang sangat rajih, karena ini dalil nash. Sebelumnya kami menyebutkan ada ikhtilaf terkait penggolongan tentang apakah Qahtaniyun juga termasuk keturunan Ismail atau bukan. Sekarang kita akan membahas topik kedua. Kita telah selesai membahas topik pertama tentang bangsa Arab. Kita telah membahas asal usul mereka, lalu membahas makna kata Arab. Kita pun membahas penggolongan orang Arab menurut para ulama. Topik kedua ini kita akan membahas bahasa Arab.Sebelumnya kita telah menyinggungnya saat membahas Jurhum datang ke Makkahatas izin Hajar. Jurhum pun tinggal di Makkah. Ismaili ta'allama minhum al-'arabiyah. Dan Ismail tinggal bersama mereka di tanah Arab. Jadi dari sudut pandang itu, kita bisa simpulkan bahwa Ismail adalah bapak dari Arab Qahtaniyyun dan Adnaniyyun di tanah Arab dari leluhur mereka, Jurhum dan menjadi orang Arab secara naturalisasi sebagaimana kami sebutkan. Sejak saat itu, bahasa Arab menjadi bahasa yang dikenal luas dan digunakan oleh bangsa Arab dengan beragam dialek. Satusatunya bahasa yang dikenal oleh bangsa Arab sejak zaman itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa Arab terdiri dari berbagai dialek. Terutama dialek Quraisy. Dialek Quraisy yang merupakan baninya Nabi ﷺdianggap sebagai dialek termurni dari semua dialek yang ada. Adapun nash kemurnian dialek Quraisy ialah Al-Qur'an sendiri diturunkan dalam dialek Quraisy. Allah menerangkan dalam Al-Qur'an bahwa Ia ingin memudahkan Al-Qur'an: يَ اس ْرنََٰهَُبِلِ َسانِك "Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, dengan lisanmu." (Q.S. Maryam [19]: 97) Yang dimaksud dengan lisan di sini adalah bahasa Arab. Allah menerangkan alasan mengapa Ia mudahkan Al-Qur'an dan dalam bahasa Arab agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan memberi peringatan kepada kaum yang membangkang. Alasan itu disebutkan dalam Al-Qur'an. Inilah salah satu dalil untuk menunjukkan bahwa Allah mudahkan Al-Qur'an dengan menurunkannya dalam dialek Arab Quraisy, baninya Nabi ﷺ. Dalil lainnya yang menunjukkan kemurnian dialek Quraisy. Tentunya Al-Qur'an sendiri adalah dalilnya. Yaitu saat Utsman رضي هللا عنهmenyuruh penyusunan mushaf AlQur'an. Saat ia menyuruh penyusunan mushaf Al-Qur'an, ia membentuk komite yang terdiri dari tiga Quraisy yang dipimpin oleh Zaid Ibnu Tsabit. Zaid Ibnu Tsabit seorang Anshari yang bekerjasama dengan anggota komite lainnya. Ia membentuk komite yang terdiri dari tiga orang Quraisy dan satu Anshari, Zaid Ibnu Tsabit. Setelah membentuk komite ini untuk menyusun Al-Qur'an, lalu ia memberikan wejangan pada mereka. Utsman berkata, "Jika kalian menyelisihi Zaid Ibnu Tsabit selama menyusun mushaf Al-Qur'an, faktubuhu bi lahjati quraisy." Utsman menegaskan, "Tulislah Al-Qur'an dengan dialek Quraisy." Alasannya karena Al-Qur'an diturunkan dalam dialek Quraisy karena Al-Qur'an diturunkan dalam dialek Quraisy. Jadi faktubuhi bi lughati quraisy. Tuliskanlah dalam dialek Quraisy. Utsman pun menyebutkan alasan mereka harus menuliskannya dalam dialek Quraisy. Jika kalian berselisih tentang pengucapan dan penulisan suatu kata, maka tuliskanlah dalam dialek Quraisy. Karena Al-Qur'an diturunkan dalam dialek mereka hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. Allah pun menerangkan kemurnian dialek Quraisy dengan firman-Nya. Allah berfirman, Kami mengetahui bahwa mereka berkata, perkataan Quraisy tentang Nabi. Allah berfirman : َإِاَّنَاَ يُ َعلِِّ ُم َهُۥََبَ َشٌر. Allah menerangkan International Open University SIRAH 101 8 ََولََق ْدَنَ ْعلَ ُمَأَ اَّنُْمَيَ ُقولُو َنَإِاَّنَاَيُ َعلِِّ ُم َهۥَُبَ َشٌر "Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka (kafir Quraisy) berkata, 'Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).'" (Q.S. An-Nahl [16]: 103) Menurut mereka, manusia mengajarkan Al-Qur'an pada Nabi Muhammad Allah pun menerangkan, "Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam." " َو ََٰه َذاSedang A-Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang." Ini menunjukkan dialek Quraisy itu sangat jelas dan dialek termurni di antara semua dialek lainnya. Jadi di topik kedua ini, kita bisa menyimpulkan bahwa bahasa bangsa Arab ialah bahasa Arab. Kami pun menyebutkan bahwa Ismail termasuk orang Arab dari jalur Jurhum Qahtaniyyun dan Adnaniyyun keturunan Ismail. Quraisy sendiri merupakan keturunan Adnaniyyun. Dialek Quraisy adalah dialek termurni dibanding semua dialek Arab lainnya. Meskipun faktanya menjadi Arab karena naturalisasi oleh leluhur mereka. Tentunya hal itu perlu diingat dan direnungkan, terutama jika kita harus berbincang tentang isu rasisme. Kalian bisa menarik benang merahnya. Ismail punya darah Arab dari garis Jurhum. Ada ijma yang menyatakan bahwa ia adalah Arab secara naturalisasi. Ia menjadi Arab karena naturalisasi. Dengan rahmat Allah سبحانه و تعالى, Ismail dan keturunannya jadi penutur bahasa Arab dengan dialek Quraisy, sehingga isu rasisme terbantahkan. Tidak lain itu hanya pengaruh setan. Semoga Allah سبحانه و تعالىmemuliakan kita. Vidio 2c Sekarang kita akan membahas topik ketiga. Kita akan membahas geografis asal wilayah Arab. Kita telah membahas secara singkat tentang asal usul bangsa Arab dan bahasa Arab. Adapun topik ketiga, dari keempat topik yang akan kita bahas. Inilah topik ketiga. Di topik ini kita akan membahas geografis asal wilayah Arab. Asal geografis Arab dikenal sebagai ‘Arḍ Al-‘Arab’. Mereka menyebutnya ‘Arḍ Al-‘Arab’ atau the Land of Arab dalam bahasa Inggris. Itulah salah satu namanya. Sebutan lain yang mereka sematkan untuk wilayah asal geografis bangsa Arab yaitu Jaziratul Arab. Mereka pun menyebutnya Jaziratul Arab. Sebutan lainnya yaitu Shibh Jazīrah Al-‘Arab. Jaziratul Arab secara harfiah diterjemahkan menjadi Semenanjung Arab.Tentunya, karena Arab bukanlah pulau, melainkan semenanjung dekat pulau. Sehingga sebagian ulama menyebutnya Shibh Jaziratul Arab Shibh Jaziratul Arab artinya semenanjung Arab. Tanah Arab kadang disebut Jazirah Arab atau Shibh Jaziratul Arab atau semenanjung Arab yang dalam bahasa Inggris disebut Jazirah Arabia. Kita gunakan kata Arabia dirujuk untuk menyebut semenanjung itu. Topografi semenanjung Arab sebagian besar berupa gurun dan hanya sebagian kecil wilayah yang subur. Semenanjung Arab pun terdiri dari gunung, bukit, dataran tinggi, lembah dan gunung berapi. Itulah topografi alam Semenanjung Arab. Seluruh daratan Arab dikelilingi perairan. Terutama di sebelah barat, timur dan selatan dari Semenanjung Arab seperti yang kalian lihat di peta. Semua wilayah itu merupakan perairan kecuali perbatasan utara. Jadi Semenanjung Arab berbatasan dengan Laut Al-Qulzum. Al-Qulzum Sea itu yang kita kenal Laut Merah. Laut ini ada di sebelah barat. Di sebelah barat, Arab berbatasan dengan Laut Merah. Di sebelah selatan ada Laut Arab. Lalu Teluk Basrah. Teluk Basrah di timur. Teluk Basrah juga disebut Teluk Arab atau Teluk Persia. Seluruh wilayah Arab dikelilingi perairan kecuali di sebelah utara. Jadi hanya di sebelah utara berbatasan dengan International Open University SIRAH 101 9 Irak dan menurut sebagian ulama berbatasan dengan Suriah. Tentunya, karena sebagian wilayah di barat dan timur melingkupi semenanjung, jadi tidak ada masalah berkaitan dengan perbatasan di sebelah barat, selatan dan timur. Namun sayangnya, ada perdebatan di kalangan ulama masalah perbatasan di sebelah utara. Karena perbatasan ini berdekatan dengan Irak dan Suriah menurut pandangan lainnya. Secara konvensional, seluruh wilayah Arab terdiri dari lima provinsi. Provinsi pertama dari lima provinsi itu secara konvensional menurut kesepakatan adalah al-Yaman. Bila kita membicarakan Jazirah Arab, Jazirah Arab terdiri dari lima provinsi. Provinsi pertama adalah al-Yaman, yang kedua adalah at-Tihamah, at-Tihamah, yang ketiga adalah an-Najid, yang keempat, al-Ḥijāz, lalu yang kelima, al-‘Arūḍ. al-‘Arūḍ. Ada Yaman, Tihamah, Najid, Hijaz dan Arud. Saya ulangi, al-Yaman, at-Tihamah, an-Najid, al-Hijaz dan al-Arud. Lima provinsi ini di zaman sekarang, masuk ke dalam jurisdiksi di negara-negara berikut ini: termasuk ke dalam jurisdiksi Bahrain. Seluruh Bahrain dan Quwait masuk ke dalam Jazirah Arab. Seluruh Oman termasuk ke dalam Jazirah Arab. Begitu pula Qatar, Qatar pun bagian dari semenanjung Arab. Lalu Arab Saudi sebagai negara terbesar di semenanjung Arab di masa sekarang ini. Jadi seluruh negara Arab Saudi pun termasuk bagian dari Semenanjung Arab. Lalu Uni Emirat Arab juga termasuk ke dalam Semenanjung Arab. Terakhir, seluruh Yaman pun termasuk bagian Semenanjung Arab di masa sekarang. Adapun di luar semua provinsi ini, ada sejumlah kota perbatasan Iraq dan Yordania. Para ulama masih berikhtilaf tentang apakah kota-kota perbatasan itu masuk ke dalam Semenanjung Arab atau bukan. Singkat kata, wilayah geografis asli Arab Saudi yang biasa kita sebut Jaziratul Arab atau al-Ardu Arab atau Semenanjung Arab, dalam bahasa Inggris terkadang hanya disebut Arabia. Kami telah menyebutkan bahwa wilayah geografis ini secara konvensional terdiri dari lima provinsi yang mencakup Yaman, Tihamah, Najid, Hijaz dan 'Arud. Namun di masa sekarang wilayah geografis tersebut masuk ke dalam negara-negara yang sudah kami sebutkan: Bahrain, Quwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab Yaman dan sebagian kota perbatasan Iraq dan Jeddah. Sekarang kita akan membahas topik terakhir di sesi kedua ini, yakni ulasan singkat tentang Makkah. Ulasan singkat tentang Makkah. Sudah tidak diragukan lagi, pentingnya membahas peran Makkah di seluruh Arab, seluruh Semenanjung Arab. Alasan kita membahas Makkah dari sekian banyak kota di Semenanjung Arab, karena Makkah adalah kota kelahiran Nabi ﷺ. Makkah pun titik awal pewahyuan. Disebutkan pula bahwa Hijaz merupakan bagian dari Semenanjung Arab. Sebelumnya sudah dikatakan bahwa Hijaz merupakan salah satu wilayah utama Semenanjung Arab. Hijaz terdiri dari banyak kota. Hijaz terdiri dari banyak kota dalam jurisdiksinya secara konvensional. Bila kita membahas tentang Makkah, Makkah pun bagian dari al-Hijaz. Kebenarannya, Makkah menjadi kota terpenting dari semua kota ini yang membentuk al-Hijaz sebagai salah satu provinsi di negara Arab Saudi. Makkah adalah kota terpenting dari semua kota di Hijaz karena berbagai alasan utama, salah satunya alasan agama. Yang kedua karena faktor ekonomi. Karena biasanya umat Islam ke Makkah untuk ibadah haji dan untuk tujuan transaksi ekonomi karena di sana bisnis berkembang pesat dan berbagai jenis transaksi ekonomi lainnya. Bila kita membahas tentang Makkah, Makkah juga disebut Bakkah. Nama Makkah pun populer. Sebutan lainnya Bakah dan disebutkan dalam Al-Qur'an. Makkah kota yang relatif kecil di Hijaz bagian barat. Makkah merupakan lembah yang dikelilingi pegunungan dikelilingi gunung dengan berbagai ketinggian puncak yang akan kita bahas sebagian di antaranya saat kita membahas risalah Nabi ﷺ. Maaf maksud saya, Makkah dikelilingi gunung dengan kaki-kaki gunung. Makkah dikeliingi kaki gunung yang mereka sebut sya'b. Gununggunung ini layaknya benteng alami. Makkah sendiri tempat asal air zam-zam dan Ka'bah. Makkah adalah rumah bagi air zam-zam dan Ka'bah. Ka'bah itu terdapat di kompleks International Open University SIRAH 101 10 Masjidil Haram. Dulu Makkah didominasi oleh orang-orang Quraisy. Maksud saya di kota Makkah, dan Quraisy yang dianggap sebagai keturunan Fihr bin Malik yang leluhurnya berasal dari Ismail, dari Arab Adnaniyyan. Kita akan mengetahuinya saat membahas silsilah Rasulullah ﷺ, kita akan menyinggung nama Fihir bin Malik. Jadi bani Quraisy diafiliasikan pada nama Fihir bin Malik. Kami telah menyebutkan Makkah itu rumah bagi Ka'bah dan sumur zam-zam. Menurut sejarah, Ka'bah adalah bangunan pertama dibangun oleh umat manusia untuk mengibadahi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an : ِ ِ ٍ ِ ِ ِ تَو ِضعَلِلن ِ َي َ اَوُه ًدىَلِّلْ ََٰعلَم ُ َااسَلَلاذىَببَ اكة َ ُ إ انَأ اَوَلَبَْي َ َمبَ َارًك Allah berfirman, "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah)" (Q.S. Ali Imran [3]: 96) Sebelumnya saya menyebutkan bahwa Bakkah itu sebutan lain untuk Makkah. Dalam bahasa Arab, variasi antara huruf ba dan mim yang menghasilkan ibdal. Jadi kita bisa menyebutnya Bakkah atau Makkah, karena makhrajnya sama tempat pengucapan yang sama untuk ba atau mim. Jadi mereka menyebutnya Bakkah atau Makkah. "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah atau Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia." Tidak ada dalil yang rajih yang menegaskan siapa pendiri Ka'bah dan kapan. Kita hanya bisa mengatakan bangunan ibadah pertama adalah Ka'bah. Adapun tentang waktu pembangunan, banyak riwayat yang memprediksinya. Meski tidak ada dalil yang rajih yang mengkonfirmasinya, tetapi bisa dipastikan berdasarkan ayat Al-Qur'an dan hadis. Diriwayatkan Nabi Ibrahim berkata pada Hajar, untuk tinggal di Makkah bersama puteranya, Ismail, sebagaimana yang kami sebutkan. Sehingga, Ka'bah dibangun oleh Ibrahim dan Ismail. Tentunya Ismail terlebih dulu ada di Makkah, Ibrahim datang untuk menjenguknya. Pada saat itulah Allah memerintahkannya untuk membangun Ka'bah. Kala itu pondasi Ka'bah sudah ada. Kita tidak tahu alasan persis Allah menyuruh Ibrahim membangun Ka'bah. Banyak riwayat yang menerangkannya, tetapi sayangnya tidak ada dasar nashnya. Kita hanya tahu bahwa Ibrahim dan Ismail yang membangun Ka'bah. Sebagaimana yang diterangkan dalam firman Allah dalam surah Aal-Baqarah. Allah berfirman: ِ َ اكَأَنتََٱل اس ِم ِ ِ ِ ِ َٰ ْ ِتَوإ ِ ِ ِ ِ َيم َ ََ يل ََربانَاَتَ َقبا ْلَمناآََۖإِن ُ َ َ َوإ ْذَيَ ْرفَ ُعَإبْ ََٰرهَۦ ُمََٱلْ َق َواع ََدَم َنَٱلْبَ ْي ُ يعَٱلْ َعل ُ سَع ِ ربانَاَتَ َقبال. "Ketika Ibrahim Apa yang Allah firmankan? ۖيع َٱَلْ َعلِيم َُ َنت َٱل اس ِم ََ اك َأ ََ َمناآ َۖ َإِن َ ْ meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 127). Jadi bukan ِ وإِ ْذَ ي رفَعَ إِب َٰرَهِۦمَََٱَلْ َقواعِ ََدََ ِمنََٱلْب ي. Karena sudah jelas, Ibrahim yang membuat pondasinya, َت َْ َ ُ ْ ُ َْ َ َ َ ِ لْ َقوIngatkah, pondasi Ka'bah sudah ada waktu itu. Ibrahim hanya meninggikannya ت َِ اع ََد َ ِم َنَٱلْبَ ْي َ sebelum Ibrahim meninggikan pondasi Ka'bah, disebutkan pula waktunya. Yaitu saat ia memindahkan Hajar dan Ismail ke Makkah. Dikatakan (teks hadis). Jadi Ka'bah sudah ada saat Ismail masih bayi. Ka'bah sudah dibangun. Ka'bah sudah jadi Baitullah. Yang terjadi adalah Ibrahim dan Ismail hanya meninggikan bangunan, pondasi Ka'bah sudah ada. Tidak ada keterangan teruji yang memastikannya. Yang jelas Ibrahim dan Ismail memang membangun Ka'bah sebagaimana yang Allah terangkan dalam ayat yang bunyinya "Ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah," yaitu Ka'bah bersama Ismail. Mereka berdua lantas berdo'a: ِ َ اكَأَنتََٱل اس ِم ِ َيم َ ََ َربانَاَتَ َقبا ْلَمناآََۖإِن ُ ُ يعَٱَلْ َعل International Open University SIRAH 101 11 Mereka berdoa, "Ya Tuhan kami terimalah (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Itulah fakta tentang Ka'bah; bangunan suci. Adapun zam-zam, merupakan sumber air suci yang Allah berikan pada Hajar. Karena ia mengkhawatirkan puteranya Sebelumnya saya menyebutkan, Ibrahim memindahkan Hajar dan Ismail saat Ismail masih bayi. Pada saat itu, Ismail begitu kehausan. Hajar hampir putus asa. Di riwayat panjang dari Ibnu Abbas dalam Bukhari yang sebelumnya saya kutip, bahwa Ismail tinggal bersama suku Jurhum. Masih di hadis yang sama, bahwa malaikat Jibril muncul di saat Hajar hampir putus asa. Ia mencari-cari air untuk puteranya yang sangat kehausan. Malaikat muncul di hadapannya dan menggali satu lubang di gurun pasir. Di salah satu riwayat disebutkan penggalian itu karena angin dan bukan oleh malaikat. Terlepas ada sejumlah riwayat yang berbeda, yang jelas malaikat-lah yang menggali sumur zam-zam yang menyemburkan air. Hajar lalu mulai menggali dengan tangan dan merasakan air itu mulai memancar. Nabi ﷺ menekankan, di akhir riwayat itu bahwa Allah menolong ibu Ismail. Allah memancarkan zam-zam tanpa harus digali. Air zam-zam itu memancar tanpa harus digali dalam. Itulah ulasan singkat tentang Makkah. Makkah itu bagian dari Hijaz. Hijaz sendiri salah satu provinsi di Semenanjung Arab. Mari kita rangkum sebelum kita tutup. Sejauh ini kita telah membahas empat topik di sesi ini. Kita membahas asal usul bangsa Arab. Kita telah membahas bahasa Arab. Kita telah membahas asal geografis wilayah Arab. Terakhir kita membahas tentang Makkah yang merupakan tempat kelahiran Nabi ﷺdan titik awal pewahyuan. Inilah empat topik yang kita bahas di sesi ini. Kita telah membahas sebagian hal penting untuk tiap topik. Saya harap para murid membacanya lagi. Penting bagi semua siswa untuk membaca materi yang disarankan untuk sesi ini berdasarkan kurikulum sebelum menempuh ujian. Dengan ini, kita tutup sesi ini. Semoga kalian menikmatinya. Barakallahu fiikum. Wassalamua'laikum Warahmatullah. International Open University
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )