SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI KERJA GURU DALAM KINERJA MENGAJAR GURU Oleh: Saidah, Tjutju Yuniarsih, Eka Prihatin Universitas Pendidikan Indonesia (E-mail: saidahmaleek@gmail.com) ABSTRAK Permasalahan rendahnya kinerja mengajar guru yang disebabkan oleh kurang efektifnya supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi kerja guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur pengaruh supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar guru. Metode penelitian: analisis deskriptif, pendekatan kuantitatif, teknik analisis menggunakan korelasi product moment, determinasi dan regresi. Pengumpulan data melalui angket. Populasi dalam penelitian ini yaitu guru-guru SMK Negeri di Kota Bandung, sedangkan unit analisis menggunakan pengambilan sampel dengan teknik probability sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa supervisi akademik kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru berkorelasi positif sangat kuat. Motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar guru berkorelasi positif sangat kuat. Supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar guru secara simultan berkorelasi positif sangat kuat. Kesimpulannya, terdapat pengaruh positif yang signifikan antara supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar guru. Rekomendasi: Meningkatkan motivasi kerja guru dengan melakukan supervisi klinis, kunjungan kelas, pembicaraan individual dan diskusi kelompok untuk membahas permasalahan yang dihadapi oleh guru. Kata Kunci: Kinerja Mengajar, Motivasi Kerja, Supervisi Akademik ABSTRACT The problem of the low performance of teachers teaching caused by the lack of effective supervision of principal academic and teacher work motivation. The purpose of this study is to measure the influence of principal academic supervision and teacher work motivation on teacher teaching performance. Research method: descriptive analysis, quantitative approach, analysis technique using product moment correlation, determination and regression. Data collection by questionnaire. The population in this study are teachers of Vocational School in Bandung, while the unit of analysis using sampling with probability sampling technique. The results of the analysis show that the principal's academic supervision on teachers' teaching performance is positively correlated. Teacher's motivation to teacher's performance is positively correlated. Principal academic supervision and teacher work motivation on teacher teaching performance simultaneously have a strong positive correlation. In conclusion, there is a significant positive influence between principal academic supervision and teacher work motivation on teacher teaching performance. Recommendations: Improve teacher work motivation by conducting clinical supervision, class visits, individual discussions and group discussions to discuss problems faced by teachers. Keywords: Academic Supervision, Teaching Performance, Work Motivation PENDAHULUAN Kinerja mengajar guru harus selalu ditingkatkan dunia Sekolah dan motivasi yang tinggi pada tugas pendidikan untuk menghasilkan kualitas sumber mengajarnya, menguasai dan mengembangkan daya manusia yang mampu bersaing di era global bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan semakin (performance) tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam pengajaran, kerja sama dengan semua warga melaksanakan dibebankan sekolah, penampilan kepemimpinan yang menjadi kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan obyektif waktu. Kinerja mengajar guru akan baik jika bertanggung jawab terhadap tugasnya. berat. mengingat Kinerja tugas-tugas tantangan adanya selalu adanya pengawasan dari Kepala guru yang dalam membimbing siswa, Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 serta 373 Ada banyak faktor yang mengakibatkan kompetensi, yaitu: (1) kompetensi kepribadian; (2) kinerja mengajar guru masih cenderung rendah, kompetensi manajerial; (3) kompetensi salah satunya terjadi karena kurangnya proses kewirausahaan; (4) kompetensi supervisi; (5) pengawasan atau supervisi Kepala Sekolah. karena kompetensi sosial”. dalam proses pembelajaran, dibutuhkan suatu Pentingnya supervisi terhadap peningkatan pengawasan atau supervisi yang akan menjaga dan kinerja guru diperkuat pula oleh hasil penelitian memperbaiki kualitas yang dilakukan oleh Yati Ruhayati (2009) tentang pembelajaran. Sebagaimana yang tercantum pula pengaruh supervisi akademik untuk meningkatkan dalam Permendiknas No. 14 Tahun 2007 tentang kinerja guru pendidikan jasmani di sekolah dasar standar proses, bahwa standar proses meliputi menunjukkan bahwa layanan supervisi mempunyai perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan kontribusi terhadap kinerja guru. serupa pula proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dengan penelitian Dadang Suhardan (2006) tentang dan pengawasan proses pembelajaran untuk keefektifan pengawasan profesional terhadap terlaksananya proses pembelajaran yang efektif kinerja guru yang menghasilkan salah satu temuan dan efisisen. berupa adanya perbaikan kerja guru setelah Maka bahkan meningkatkan dalam proses pendidikan, pengawasan atau supervisi merupakan bagian tidak dilaksanakannya pengawasan yang efektif oleh Kepala Sekolah. terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi Selain dari pengawasan atau supervisi dari belajar, mutu pembelajaran dan mutu sekolah. Kepala Sahertian (2000, hlm. 19) menegaskan bahwa mempengaruhi kinerja mengajar guru adalah pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain motivasi kerja. diasumsikan bahwa motivasi kerja dari kepada yang baik akan menghasilkan kinerja yang baik stakeholder pendidikan, terutama kepada guru- pula. Motivasi pada dasarnya dapat bersumber guru baik secara individu maupun secara kelompok pada diri seseorang atau yang sering dikenal dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil sebagai motivasi internal dan dapat pula bersumber pembelajaran. dari luar diri seseorang atau yang disebut dengan usaha memberikan layananan Supervisi Kepala Sekolah terhadap guru Sekolah faktor lain yang motivasi eksternal. Faktor-faktor motivasi tersebut yang biasanya dikenal sebagai supervisi akademik dapat tersebut dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah berdampak negatif bagi seorang guru. maupun oleh pengawas sekolah. Namun, sebagai dapat berdampak Kunci positif keberhasilan atau dapat seorang pula Kepala orang yang paling dekat dan memahami kondisi Sekolah dalam menggerakkan para guru atau serta kebutuhan guru, kepala sekolah yang harus bawahannya terletak pada kemampuannya untuk lebih intensif membina guru dalam hal perbaikan memahami situasi belajar mengajar. Maka tanggung jawab sedemikian rupa sehingga menjadi daya pendorong untuk melakukan supervisi pada guru harus yang efektif (Siagian, 2006 hlm. 139). Kebutuhan dilakukan oleh Kepala Sekolah, karena menurut yang dimaksud merupakan petunjuk bagi kepala Permendiknas No. 13 Tahun 2007 “Seorang sekolah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Kepala Sekolah harus memiliki lima jenis guru seefektif mungkin. Secara teoritik hubungan faktor-faktor motivasi Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 kerja 374 Kepala Sekolah itu apa bila dibina dan Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 15 dilaksanakan dengan baik, maka motivasi kerja menjelaskan bahwa guru akan terpenuhi. Dengan motivasi yang baik merupakan pendidikan dan tinggi muncul dari diri seorang guru, maka mempersiapkan peserta didik terutama untuk kesadaran gutu akan tugasnya dalam melaksanakan bekerja dalam bidang tertentu. Agar tujuan sekolah perencanaan, evaluasi menengah tercapai maka diperlukan pendidik dan pembelajaran akan selalu terlaksana. Cascio dalam tenaga pendidik yang memiliki motivasi yang Sukamalana menyebutkan tinggi sehingga menghasilkan kinerja yang baik. kemampuan dan motivasi sebagai faktor yang Guru yang memiliki motivasi yang tinggi akan berinteraksi Kemampuan mampu memperlihatkan segenap potensi yang ditentukan oleh skill dan pengetahuan, sedangkan dimilikinya untuk melakukan pekerjaan dengan skill dipengaruhi oleh kecakapan, kepribadian, dan baik. Oleh karena itu diperlukan perhatian kepala pengetahuan yang terbentuk oleh pendidikan, sekolah selaku pemimpin sekolah untuk terus pengalaman latihan dan minat. memberikan motivasi kepada para guru sehingga pelaksanaan, (2003, hlm. dengan dan 21) kinerja. Mangkunegara (2002, hlm. 61) menyatakan bahwa motivasi terbentuk dari sikap di yang tercapai. Selain itu, peneliti juga telah melakukan studi pendahuluan melalui wawancara dengan guru yang dan Kepala Sekolah SMKN untuk mendapatkan menggerakkan diri karyawan yang terarah atau informasi secara langsung terkait permasalahan tertuju yang kondisi untuk (situation). menengah Motivasi merupakan perusahaan kejuruan terciptanya kinerja yang baik agar tujuan sekolah (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja pendidikan atau mencapai energi tujuan organisasi dihadapi. Hasil studi pendahuluan perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan memberikan gambaran yang cukup jelas bahwa positif yang masih terdapat masalah terkait kinerja guru yang memperkuat motivasi karyawan untuk mencapai kurang optimal yang diakibatkan oleh beberapa hal kinerja maksimal. Motivasi kerja guru bisa berikut, yaitu: 1) Sebagian guru jarang membuat diartikan sebagai dorongan mental yang tinggi RPP, ini disebabkan karena jarangnya Kepala yang dimiliki oleh seorang guru dalam melakukan Sekolah melakukan pengontrolan pembelajaran. 2) pekerjaan sekolah. Sebagian guru sering memberikan tugas kepada Kaitannya dengan kinerja mengajar guru, motivasi siswa tanpa kehadiran guru di kelas, yang pada yang tinggi dan baik akan memiliki peran penting akhirnya efektivitas dan efiseinesi pembelajaran di untuk membantu guru dalam melaksanakan kelas menjadi tidak tercapai di lihat dari hasil kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga mutu evaluasi pembelajaran yang mana banyak siswa lulusannya yang berkualitas tercapai. tidak mencapai target minimal. 3) Masih ada guru terhadap situasi untuk Sekolah kerja mencapai Menengah itulah tujuan (SMK) yang mengalami kesulitan dalam proses belajar merupakan subsistem pendidikan nasional yang mengajar, dikarenakan Kepala Sekolah jarang tujuan utamanya adalah menyiapkan lulusannya melakukan pembinaan, pendampingan, perbaikan untuk memasuki dunia kerja dan mengembangkan dan evaluasi kepada guru. Dan 4) Disiplin kerja sikap guru yang masih kurang baik ditunjukkan oleh profesional. Kejuruan Undang-Undang Sistem Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 375 tingkat kehadiran guru, sering terlambatnya guru Dari beberapa faktor penentu kinerja mengajar datang ke sekolah dan masuk ke kelas yang guru tersebut yang paling menarik diteliti adalah menyebabkan kondisi di dalam kelas menjadi pengaruh supervisi akademik Kepala Sekolah dan kurang terkendali ketika tidak ada guru atau guru motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar terlambat. guru, dengan menjadikan pengaruh supervisi Fenomena di atas, mengandung arti bahwa akademik Kepala Sekolah dan motivasi kerja guru pengelolaan proses belajar mengajar, motivasi sebagai variabel bebas 1 dan 2 atau X1 dan X2. guru, bimbingan terhadap guru melalui supervisi Sedangkan yang dijadikan variabel terikat adalah akademik yang dilakukan Kepala Sekolah serta kinerja mengajar guru (Y). kinerja mengajar guru masih perlu ditingkatkan. METODE PENELITIAN N = jumlah populasi d = presisi yang ditetapkan Metode penelitian; analisis deskriptif, pendekatan kuantitatif, teknik analisis dengan korelasi product moment, determinasi dan regresi dengan menggunakan Pengumpulan data Software melalui SPSS angket. 20. Melalui pendekatan kuantitatif, dapat diketahui kontribusi dari variabel yang diteliti yaitu supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap variabel Y yaitu kinerja mengajar guru dengan menggunakan perhitungan statistik. Populasi dalam penelitian ini yaitu guru- Diketahui jumlah populasi guru sebanyak 1024 guru dan tingkat presisi yang ditetapkan sebesar 5%. Jadi berdasarkan rumus tersebut, maka sampel representative dari jumlah populasi guru adalah 288 orang guru. Adapun sampel masing-masing sekolah dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus dari Sugiyono dalam Akdon (2008, hlm. 108), yaitu: guru SMK Negeri di Kota Bandung berjumlah 1024 orang, dengan sampel berjumlah 288 responden dengan teknik Simple Random Sampling. ni = Ni .n N Adapun penentuan jumlah sampel peneliti melakukan penentuan sampel berdasarkan rumus Taro Yamane sebagai berikut: ! n = !.#$ %& Keterangan: ni = jumlah sampel menurut stratum n = jumlah sampel seluruhnya Ni = jumlah populasi menurut stratum N = jumlah populasi seluruhnya Keterangan: n = jumlah sampel HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis dilakukan setelah uji prasyarat berdistribusi normal dan linier. Hasil pengujian analisis dilakukan yaitu dengan uji normalitas data persyaratan analisis tersebut menunjukkan bahwa dan uji linieritas data yang menunjukkan data skor setiap variabel penelitian telah memenuhi Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 376 syarat untuk dilakukan pengujian statistik lebih determinasi dan analisis regresi. Berdsarkan hail lanjut, yaitu pengujian hipotesis. Pengujian pengujian hipotesis tersebut diperoleh hasil hipotesis penelitian tersebut dilakukan dengan sebagaimana dalam gambar berikut. menghitung koefesien korelasi, taraf signifikansi, Gambar 1 Hasil Koefisien Korelasi antar Variabel Bebas dan Terikat Berdasarkan hasil analisis korelasi, akademik kepala sekolah dan motivasi kerja guru diperoleh nilai p value = 0,000. Nilai p value terhadap kinerja mengajar guru dalam bentuk tersebut kurang dari taraf signifikansi 0,05. Hal ini persamaan linier. Pengaruh positif dan signifikan berarti hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat antara supervisi akademik kepala sekolah dan pengaruh Supervisi Akademik kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar guru Motivasi Kerja guru terhadap kinerja mengajar ditunjukkan dalam persamaan; ) = 𝟏, 𝟐𝟖𝟑 + 𝟎, 𝟐𝟗𝟏 𝐗𝟏 + 𝟎, 𝟑𝟗𝟐 𝐗𝟐 𝐘 guru “Diterima”. Berdasarkan perhitungan uji signifikansi Dengan persamaan regresi tersebut dapat ganda diperoleh harga Fhitung sebesar 461,611 diinterpretasikan bahwa jika supervisi akademik sedangkan Ftabel pada tingkat kepercayaan 95% kepala sekolah dan motivasi kerja guru dengan dengan dk (n-2) = 286 diperoleh Ftabel sebesar 1, kinerja mengajar guru diukur dengan instrument 2151. Setelah diketahui harga Fhitung dan Ftabel yang dikembangkan dalam penelitian ini, maka ternyata Fhitung 461,611 > Ftabel 1, 2151. Dengan setiap perubahan skor variabel supervisi akademik demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat kepala sekolah dan motivasi kerja guru sebesar satu pengaruh positif yang signifikan dan sangat satuan dapat diestimasikan skor kinerja mengajar kuat antara supervisi akademik kepala sekolah dan guru akan berubah sebesar 0,291 satuan variabel Motivasi Kerja guru terhadap kinerja mengajar supervisi akaddemik (X1) dan 0,392 satuan guru. variabel motivasi kerja (X2). Berdasarkan perhitungan diperoleh Secara empiris, hasil penelitian ini korelasi antara supervisi akademik kepala sekolah menginformasikan bahwa supervisi akademik dan motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar kepala sekolah dan motivasi kerja guru secara guru sebesar r = 0,874 jika melihat tolok ukur atau bersama berpengaruh terhadap kinerja mengajar kriteria harga koefesien korelasi menunjukkan guru. Besarnya pengaruh supervisi akademik dan tingkat korelasi positif dan sangat kuat. motivasi kerja guru sebesar 76,4% mempengaruhi Dengan menggunakan regresi ganda, diperoleh hubungan positif antara supervisi kinerja guru, hal ini menunjukkan kontribusi yang sangat signifikan. Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 377 Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa: (1) motivasi berprestasi, ia akan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai Terdapat pengaruh positif dan signifikan supervisi keberhasilan. Ketika guru medapatkan bimbingan, akademik arahan dan dorongan dari kepala sekolah dengan kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru sebesar 24,8%. Ini mengandung arti baik, maka guru bahwa semakin baik supervisi akademik kepala diperhatikan dan sekolah maka akan semakin baik pula kinerja direalisasikan dalam kinerja yang baik dalam mengajar guru (2) Terdapat pengaruh positif dan proses pembelajaran. Tapi, jika guru tidak atau signifikan guru kurang mendapat bimbingan dan dorongan dari terhadap kinerja mengajar guru sebesar 45,5%. Ini kepala sekolah, maka guru pun merasa tidak mengandung arti bahwa semakin tinggi motivasi diperhatikan dan diarahkan yang mengakibatkan berpresasi guru maka akan semakin baik pula kinerjanya kurang baik tidak terarah. Dengan kinerja mengajarnya (3) Terdapat pengaruh positif demikian, supervisi dan motivasi berprestasi guru dan secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja antara signifikan motivasi secara berprestasi bersama-sama antara guru, kemudian akan diarahkan hal ini merasa kemudian supervisi akademik kepala sekolah, motivasi mengajar sebagaimana telah berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru dijelaskan di bagian sebelumnya pada masing- sebesar 52,2%. Hal ini menunjukkan bahwa masing variabelnya. semakin baik supervisi akademik kepala sekolah Kinerja atau performance ialah sebagai dan semakin tinggi motivasi berpresatasi guru hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau maka semakin baik kinerja mengajar guru, sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai (Kodariah, Herawan, Sutrasih, & Indonesia, 2016) dengan kewenangan dan tugas tanggung jawab Dengan demikian supervisi akademik masing-masing, dalam upaya untuk mencapai kepala sekolah hendaknya dilakukan secara teratur tujuan yang diharapkannya. Sedangkan mengajar dan berkala dengan mengagendakan jadwalnya ialah dalam dan membimbing anak didik dengan bahan pengajaran menggunakan pendekatan supervisi klinis. Dalam yang menimbulkan proses belajar, (Usman, 2009, kegiatan supervisi tersebut terdapat kegiatan yang hlm. 6). Kemudian guru ialah yang berperan bertujuan untuk meningkatkan motivasi kerja guru, sebagai pembimbing dan kreator proses belajar hal ini bertujuan menciptakan iklim kerja yang mengajar pada peserta didik atau siswa. Dengan kondusif baik antara guru dan kepala sekolah, demikian kinerja mengajar guru diartikan sebagai antara guru dan guru dan antara semua pihak yang hasil kerja guru dalam melaksanakan tugasnya terkait dengan sekolah, dengan demikian kinerja sebagai guru akan meningkat. mengorganisasikan dan membimbing anak didik program perencanaan supervisi suatu proses pendidik mengorganisasi dan pengajar dan dalam Seperti halnya peran kepala sekolah dalam dengan mempersiapkan keterampilan, kompetensi meningkatkan kinerja guru, faktor lain yang dapat dan berbagai admistratif yang diperlukan dalam mempengaruhi kinerja guru di sekolah adalah proses pembelajaran. motivasi berprestasi yang ada dalam jiwa guru. Bila guru dalam melakukan pekerjaan mempunyai Adapun untuk menilai kinerja guru tersebut, menurut Usman (2002, hlm. Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 9) 378 mengatakan bahwa: “untuk menilai kemampuan yaitu: (1) Merencanakan proses belajar mengajar; mengajar seorang calon guru atau guru dapat (2) dilihat dari 3 aspek, yaitu: (1) keterampilan dalam proses belajar mengajar; (3) Menilai kemajuan menyusun rencana pengajaran, (2) keterampilan proses belajar mengajar; dan (4) Menguasai bahan melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, pengajaran. Melaksanakan dan memimpin/mengelola dan (3) keterampilan melaksanakan hubungan Kemudian secara spesifik indikator yang antar pribadi”. Dengan demikian pengertian digunakan dalam penelitian ini adalah mengacu kinerja mengajar guru ialah suatu prestasi yang pada pendapat Nasution (2003, hlm. 184-185) dicapai oleh seorang guru dalam melaksanakan dimana dimensi dan indikator kinerja mengajar tugasnya selama periode tertentu yang diukur guru meliputi: (a) perencanaan pembelajaran; (b) berdasarkan tiga indikator yaitu penguasaan bahan pelaksanaan ajar, kemampuan mengelola dan komitmen dalam pembelajaran. Dengan melaksanakan dimensi ini melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi dengan baik, maka mutu pendidikan akan tercapai. pembelajaran, (Suhayati, 2013, hlm. 24). Hal ini juga sesuai dengan yang dijelaskan dalam pembelajaran; (c) evaluasi Pengertian yang hampir senada, yang Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang diungkapkan oleh (Rismawan, 2015, hlm. 17), ia Sistem Pendidikan Nasional, Bab XI Pasal 39 Ayat mengungkapkan bahwasannya kinerja mengajar (2) adalah merencanakan dan melaksanakan proses guru diartikan sebagai penampilan kerja seorang pembelajaran, guru dalam pembelajaran, sebagai realisasi dari melakukan pembimbingan dan pelatihan. Dimana kompetensi yang dimilikinya untuk memperoleh secara khusus dijelaskan terkait dengan tiga bidang hasil belajar peserta didik yang optimal. pokok yang paling penting dan perlu diperhatikan Jika mengacu pada hasil penelitian yang menilai hasil oleh guru, yaitu: Pertama; pembelajaran, Mempersiapkan dilakukan oleh (Kodariah, Herawan, & Sutrasih, pengajaran, bidang ini mencakup seluruh kegiatan 2016), maka, secara umum, “kinerja menagajar yang harus dilaksanakan seorang guru sebelum guru tidak akan terlaksana dengan baik apabila memberikan salah pengajaran; meninjau kembali materi pengajaran; satu dimensi melingkupinya atau tidak indikator-indikator indikator terpenuhi”. mengembangkan batas-batas materi latihan atau perencanaan memastikan bahwasanya seluruh penelitian ini untuk mengukur tingkat kinerja guru bahan-bahan, alat bantu latihan, dan ruang kelas beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya telah dipersiapkan; mempersiapkan daftar nilai adalah sebagaimana telah dijelaskan pada bagian untuk menentukan tingkatan dan pengetahuan kajian peserta latihan dan lain-lain. Kedua; Melaksanakan mengacu digunakan Adapun menyampaikan dalam pustaka yang yang atau terhadap beberapa pendapat yang dikemukakan di antaranya oleh pengajaran, tanggung jawab ini meliputi Sa’ud (2012, hlm. 50) bahwa untuk keperluan pemberian partisipasi yang besar, dengan analisis terhadap guru sebagai pengajar, maka menggunakan landasan keterampilan, pemahaman kompetensi kinerja profesi keguruan dalam materi dan urutan pengajaran, pelaksanaan teknik- penampilan aktual dalam proses kegiatan belajar teknik pertanyaan yang efektif dan menggunakan mengajar setidaknya memiliki tempat kemampuan, alat bantu latihan dalam rangka peningkatan proses Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 379 belajar. Ketiga; Menilai hasil-hasil belajar Kendala yang dihadapi kepala sekolah pengajaran tersebut, tanggung jawab ini meliputi dalam meningkatkan kinerja guru yaitu guru tidak penilaian prestasi peserta didik secara objektif, membuka pelajaran dengan appersepsi pada saat mengumpulkan data materi pengajaran dan bahan- pelaksanaan pembelajaran dan guru banyak yang bahan serta memikirkan kinerja gurunya itu tidak melakukan pengklasifikasian kemampuan sendiri. peserta didik berdasarkan hasil penilaian yang Berdasarkan temuan yang diperoleh dari kemudian menyusun program tindak lanjutnya. hasil analisis data penelitian pada indikator- Selanjutnya indikator tersebut di atas yang terkait dengan mengklasifikasikan variabel kinerja mengajar guru, menunjukkan berdasarkan pada hasil penilaian adalah menyusun bahwasannya kinerja mengajar guru berdasarkan program tindak lanjut untuk masing-masing pada penghitungan WMS didapatkan nilai rata-rata klasifikasi tersebut. Dengan demikian guru harus sebesar 3,72, atau berada pada kategori Sangat memiliki kemampuan dalam membantu siswa tinggi. Hal tersebut terukur dari skor rata-rata mengatasi masalah belajar yang terdiri dari; indikator; 1) Penyusunan rencana pembelajaran Pertama; program perbaikan; 1) Cara yang 3,73; 2) Pelaksanaan interaksi belajar mengajar ditempuh; 3,70; dan 3) penilaian dan tindak lanjut hasil perbaikan terletak pada usaha memperbaiki penilaian prestasi belajar siswa 3,74. kesalahan-kesalahan atau penyimpangan yang kegiatan setelah guru mampu kemampuan siswa pokok dalam pengajar Berdasarkan pada pendapat tersebut di terjadi pada murid berkenaan dengan mata atas, selain dari variabel yang tidak dibahas dalam pelajaran yang dipelajarinya. 2) materi dan waktu penelitian ini yang dapat mempengaruhi kinerja pelaksanaan program perbaikan; setelah mengikuti mengajar guru, juga dituntut agar kepala sekolah test atau ujian komptensi dasar tertentu, setelah memiliki banyak penguasaan keterampilan mengikuti test/ujian blok atau sejumlah komptensi terhadap berbagai pendekatan instruksional dasar dalam satu kesatuan, setelah mengikuti test administratif dalam menilai ataupun membina atau ujian komptensi dasar atau blok terakhir. guru, tentunya banyak sekali pendekatan yang Kedua; dapat digunakan dalam meningkatkan motivasi pengayaan adalah suatu bentuk pengajaran yang guru melalui supervisi akademik yang dilakukan khusus diberikan kepada murid-murid yang sangat kepala sekolah untuk meningkatkan kinerja guru, cepat dengan demikian hal ini mengisyaraktakn perlunya (percepatan). Program akselerasi memberikan suatu model kolegial dalam pelaksanaan supervisi kesempatan kepada peserta didik untuk melalui akademik, sehingga dengan sendirinya guru masa belajar di sekolah dengan waktu yang relatif termotivasi kualitas cepat. Agar program percepatan secara alami dapat pembelajarannya, karena guru sendiri terlibat dilaksanakan dengan baik, maka program-program dalam upaya perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran perlu di kemas dalam satuan-satuan, pembelajaran tersebut melalui pelaksanaan model dan disiapkan dengan cermat serta rinci dalam supervisi akademik kolegial. bentuk modul atau paket-paket pembelajaran. dalam ningkatkan program belajar. pengayaan; Ketiga; program pengajaran akselerasi Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 380 Dengan demikian dalam mengatasi guru dalam menganaisis hasil penilaian untuk kendala yang dihadapi dalam hal tersebut untuk menentukan klasifikasi kemampuan siswa dan meningkatkan kinerja mengajar kepala sekolah menentukan program tindak lanjutnya. harus memiliki program peningkatan kompetensi SIMPULAN Terdapat pengaruh positif dan signifikan sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja antara supervisi akademik kepala sekolah terhadap mengajar guru. Hipotesis yang peneliti ajukan kinerja mengajar guru. Hal ini berarti apabila diterima artinya bahwa terdapat pengaruh positif supervisi akademik kepala sekolah efektif, maka dan signifikan antara supervisi akademik kepala kinerja guru akan menjadi tinggi. sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja Terdapat pengaruh positif dan signifikan mengajar guru. Kemudian persamaan regresi yang antara motivasi kerja guru terhadap kinerja diperoleh ialah linier, hal ini diartikan bahwa mengajar guru. Hal ini berarti motivasi kerja yang semakin efektif supervisi akademik kepala sekolah tinggi mempunyai pengaruh dalam peningatan dan motivasi kerja guru yang tinggi maka akan kinerja guru. semakin tinggi juga kinerja mengajar guru. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara supervisi akademik kepala REKOMENDASI Pemberian reward atas prestasi kerja memberikan pelajaran kepada siswanya. dalam bentuk penghargaan agar guru lebih Memberikan penghargaan secara verbal terhadap termotivasi lagi dalam mengerjakan tugasnya. prestasi guru yang telah disupervisi sehingga guru Peningkatan motivasi kerja guru, yaitu dengan lebih meningkatkan kinerja dalam mengajar. melakukan supervisi klinis dengan melakukan Memberikan bimbingan kepada guru dalam kunjungan kelas, pembicaraan individual dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran diskusi kelompok untuk membahas permasalahan memberikan masukan untuk yang dihadapi oleh guru penyempurnaan perangkat pembelajaran yang Memberikan bimbingan kepada guru dan perbaikan dibuat oleh guru. secara rutin untuk melakukan evaluasi diri dalam DAFTAR PUSTAKA Kodariah, W., Herawan, E., & Sutrasih, C. (2016). Supervisi Akademik Kepala Sekolah, Motivasi Berprestasi Guru dan Kinerja Mengajar Guru. Jurnal Administrasi Pendidikan, Vol.XXIII (2), 126-129. Mangkunegara, Anwar P. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: PT.Remaja Rosda Karya Mangkunegara, Anwar P. (2009). Evaluasi Kinerja SDM. Bandung: PT Refika Aditama Nasution. (2003). Kinerja Mengajar Guru. Jakarta: Bina Aksara. Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 381 382 Rismawan, E. (2015). Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru. Jurnal Administrasi Pendidikan, XXII (1), 115-116. Ruhayati, Yati, dkk. (2009). Kontribusi Layanan Supervisi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Fasilitas Pembelajaran terhadap Kinerja Guru Pendidikan Jasmani SMPN se-Kota Cimahi. Jurnal Penelitian. 10(2) Sa’ud, U. (2010). Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta. Sahertian, Peit, (2000) Konsep dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Jakarta: PT Rineka Cipta. Sahertian, Piet, A. dan Ida Aleida Sahertian, (2000). Supervisi Pendidikan dalam Rangka Inservice Education. Jakarta: Rineka Cipta. Siagian, S. P. (2006). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Suhardan, Dadang. (2010). Supervisi Profesional Layanan Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta. Suhayati, I. Y. (2013). Supervisi Akademik Kepala Sekolah, Budaya Sekolah Dan Kinerja Mengajar Guru. Jurnal Administrasi Pendidikan UPI, XIII (1), 124-142. Sukamalana. (2003). Faktor-Faktor Determinan yang Berkontribusi terhadap Kinerja Dosen PT. Swasta. Disertasi SPS UPI. Undang-Undang No. 14 Tahun (2005) Tentang Guru dan Dosen. Undang-Undang No. 20 Tahun (2003) Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: CV Nuansa Aulia. Usman, Husaini. (2009). Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Siagian. (2002). Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: Rineka Cipta. Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXV No.2 Oktober 2018 382
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )