MAKALAH KELOMPOK MATA KULIAH KOMUNIKASI DASAR KEPERAWATAN PENGARUH SOSIAL,BUDAYA, DAN AGAMA DALAM KOMUNIKASI ANTAR PERAWAT DAN KLIEN Dosen Pembimbing: Ns. Tesha Hestyana Sari, M.Kep Disusun Oleh: Kelompok 3 (A 2023.1) Afra Dwi Rihadatul Aisya Aisyah Anisa Maharani Alya Zulfaa Nurhafizah Aulia syahrani Fadhila Fahtur Rahman Ivoni Isviana Nabila Andrianni Yona Junita (2311113033) (2311112736) (2311112641) (2311113153) (2311112533) (2311112998) (2311113053) (2311112531) (2311113158) Nasywa Widhita Suratna Nitisara Yalta Nurmala Anggraini Rahmiatul Fijar Silvi Safira Siska Yeni (2311113131) (2311112667) (2311112996) (2311113227) (2311113087) (2311112444) Viona Meila Roza (2311113086) Wardah Zahira Nabilla (2311112441) FAKULTAS KEPERAWATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS RIAU 2024 KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah senantiasa kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Komunikasi Dasar Keperawatan, dengan judul “Pengaruh Sosial, Budaya, dan Agama dalam Komunikasi antar Perawat dan Klien”. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan. Pekanbaru, 28 Maret 2024 Penyusun ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ...............................................................................................................................1 1.2 Tujuan ............................................................................................................................................1 1.3 Manfaat ..........................................................................................................................................1 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 3 SKENARIO................................................................................................................................................3 2.1 STEP I: Identifikasi Masalah .........................................................................................................4 2.2 STEP II: Analisis Masalah .............................................................................................................4 2.3 STEP III: Skema (Mindmapping).................................................................................................10 2.4 STEP IV: Learning Objective ......................................................................................................10 2.5 Pembahasan Kasus Berdasarkan Konsep Teori ...........................................................................10 2.5.1 Faktor sosial yang berpengaruh pada skenario .....................................................................10 2.5.2 Faktor budaya dalam mahami dan menginterpretasi skenario .............................................13 2.5.3 Perbedaan budaya dalam pola komunikasi dalam skenario .................................................14 2.5.4 Cara budaya memengaruhi pilihan bahasa,gaya berbicara, dan ekspresinon-verbal ...........16 2.5.5 Peran agama yang mempengaruhi pandangan dan sikap dalam skenario ............................20 2.5.6 Peran agama dalam memengaruhi interaksi dengan orang lain dalam skenario ..................22 2.5.7 Peran agama dalam pembentukan identitas sosial seseorang ...............................................25 2.5.8 Peran agama dalam memengaruhi toleransi terhadap perbedaan dalam skenario................27 BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 30 3.1 Kesimpulan ..................................................................................................................................30 3.2 Saran.............................................................................................................................................30 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 31 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan aspek penting dalam hubungan antar perawat dan klien. Komunikasi yang efektif dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, meningkatkan kepuasan klien, dan membangun hubungan saling percaya. Indonesia sejak dulu masyarakatnya sudah dikenal sangat heterogen dalam berbagai aspek, seperti adanya keberagaman suku bangsa, bahasa, agama, serta adat istiadatnya. Setiap kelompok etnik pendatang mempunyai nilai, norma, kebudayaan, tata cara bahasa, dan pola tingkah laku yang berbeda dan belum tentu sama dengan penduduk lokal. Kompleksitas komunikasi antar perawat dan klien tak lepas dari pengaruh berbagai faktor, seperti latar belakang sosial, budaya, dan agama. Faktor-faktor ini mewarnai cara individu berkomunikasi, termasuk pemahaman, interpretasi, dan penyampaian informasi.Faktor-faktor ini dapat menjadi hambatan atau pendorong komunikasi yang efektif. Dan juga mewarnai cara individu berkomunikasi, termasuk pemahaman, interpretasi, dan penyampaian informasi. Memahami pengaruh faktor sosial, budaya, dan agama dalam komunikasi antar perawat dan klien sangat penting untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, meningkatkan kepuasan klien, membangun hubungan saling percaya, menghilangkan hambatan komunikasi, serta meningkatkan efektivitas komunikasi. 1.2 Tujuan 1. Untuk mengetahui faktor-faktor sosial yang mempengaruhi komunikasi 2. Untuk mengetahui faktor-faktor budaya yang mempengaruhi komunikasi 3. Untuk mengetahui peran penting budaya dalam membentuk pola komunikasi 4. Untuk mengetahui Cara budaya mempengaruhi pandangan dan sikap dalam komunikasi 5. Untuk mengetahui peran agama dalam mempengaruhi toleransi terhadap perbedaan cara komunikasi 1.3 Manfaat 1. Mendapatkan informasi dengan baik serta memberikan informasi medis dapat dipahami dengan jelas oleh pasien. 1 2. Meningkatnya rasa percaya antara pasien dengan perawat 3. Menghindari adanya resiko kesalahpahaman dalam penanganan maupun antar rekan medis lain yang dapat menimbulkan resiko lainnya. 4. Membantu pasien untuk menyampaikan pendapat dan nilai-nilai budaya dari pasien yang dapat memengaruhi perawatan mereka. 5. Memungkinkan perawat untuk menyesuaikan penanganan pasien dengan nilai, kepercayaan budaya dan kebiasaan pasien 6. Menciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung untuk pasien dari berbagai latar belakang agama dan budaya. 7. Perawat dapat membahami dan menghargai berbagai pasien dari berbagai agama dan budaya 8. Dapat membantu perawat mengembangkan keterampilan komunikasi dalam berbagai budaya yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks perawatan 2 BAB II PEMBAHASAN SKENARIO Nn. I, usia 28 tahun, seorang mahasiswa S2 keperawatan dari Indonesia yang menjalani perkuliahan di sebuah kampus di bagian Tanggara Australia. Meskiupun sebelum berangkat ke Australia Nn. I telah mendapat pembekalan tentang budaya Australia, namun ia masih mengalami culture shock pada awal kedatangan. Latar belakang budaya Indonesia mempengaruhi attitude dan cara komunikasi Nn. I kepada orang – orang yang ditemui, dosen dan rekan- rekannya di kampus dan juga pasiennya. Salah satu contoh adalah pada saat pertama kali mendarat di airport, Nn. I dijemput oleh pihak kampus dan diantar ke alamat yang dituju, selama perjalanan, Nn. I yang begitu senang karena baru pertama kali ke luar negeri mengajukan banyak pertanyaan kepada sopir namun sopir tersebut sangat irit dalam menjawab pertanyaan Nn. I. Karena merasa mendapat respon yang terlalu kaku, akhirnya Nn. I kembali berdiam diri sampai ke tempat yang dituju. Ia menganggap sopir tersebut sombong dan berfikir tentang stereotype orang Australia. Contoh lain adalah cara rekan – rekannya memanggil dosen dengan menyebut namanya, yang secara budaya di Indonesia tidak mugkin dilakukan karena dianggap tidak sopan. Di Indonesia, individu yang lebih muda tidak boleh memanggil nama kepada orang yang lebih tua, harus diawali dengan sapaan seperti kak, abang, bapak, ibu, dan sebagainya. Hal lain yang dirasakan berbeda oleh Nn. I adalah perlakuan perawat kepada pasien, perawat yang ditemui lebih hangat dan lebih baik dibanding perawat di Indonesia Dalam hal pasien rawat inap, tidak ada keluarga yang bermalam di ruang pasien, berbeda dengan di Indonesia yang hampir semua rumah sakit mengizinkan satu anggota keluarga keluarga menunggui pasien. Untuk urusan makan, karena Nn. I beragama Islam, ia telah menyimpan catatan tentang kode makanan yang halal dan non halal untuk produk yang dijual dalam kemasan, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sedangkan untuk produk makanan jadi, ia akan langsung bertanya kepada staff restaurant apakah mereka memiliki sertifikat halal atau tidak, dan pertugas akan menjawab jujur sesuai kondisi mereka. Hal ini adalah suatu yang tidak biasa ia lakukan di Indonesia, karena di Indonesia mayoritas penduduk beragama Islam, sehingga percaya saja kalau makanan yang dijual diolah secara halal, meskipun belum tentu juga, namun pembeli umumnya 3 jarang menanyakan hal tersebut. selain itu, juga dipengaruhi oleh karakter budaya di sana yang sifatnya terbuka atau terus terang, sehingga tidak perlu segan atau malu untuk bertanya atau mengeluarkan pendapat berbeda dengan di Indonesia. Di rumah sewa (kos), Nn. I tinggal bersama dengan teman – temannya yang berbeda negara dan agama, mereka memilki wadah masing – masing untuk memasak dan diberikan tempat terpisah oleh pemilik rumah. Pengalaman-pengalamanya tersebut meningkatkan cultural sensitivity Nn. I hingga ia memiliki cultural awareness dan pada akhirnya mencapai cultural competence. 2.1 STEP I: Identifikasi Masalah 1. Apa saja strategi untuk mengatasi culture shock dan beradaptasi dengan lingkungan budaya baru dari skenario tersebut? 2. Bagaimana pentingnya komunikasi yang efektif dalam mengatasi culture shock dan membangun hubungan yang harmonis dengan orang-orang di lingkungan baru? 3. Mengapa agama dan budaya bisa mempengaruhi proses komunikasi? 4. Bagaimana akibatnya jika Nn. I tetap mempertahankan budaya indonesia di australia tersebut? 5. Apakah Cultural sensitiviy, Cultural awareness dan Cultural Competence saling berhubungan antara satu sama lain? 6. Apa yang dapat di pelajari dari pengalaman Nn. I tentang pentingnya cultural competence? 7. Bagaimana cara Nn. I dapat menghindari pembentukan stereotip negatif tentang orang Australia berdasarkan interaksi awal yang terbatas? 2.2 STEP II: Analisis Masalah 1. Berikut adalah cara mengatasi culture shock yang bisa membantu: 1. Mempelajari dan memahami budaya baru Salah satu cara terbaik untuk mengatasi culture shock adalah dengan mempelajari budaya baru yang dialami. Seperti misalnya membaca buku, cari informasi online, atau bicaralah dengan penduduk setempat untuk memahami nilainilai, norma sosial, adat istiadat, dan tradisi budaya mereka. Semakin memahami budaya baru, maka akan semakin mudah untuk beradaptasi. 4 2. Terlibat dalam kegiatan lokal Mencoba untuk terlibat dalam kegiatan lokal atau komunitas di lingkungan tempat tinggal baru. Bergabung dengan klub atau organisasi yang sesuai dengan minat akan membantu bertemu dengan orang-orang baru dan memperluas jaringan sosial. Selain itu, ini juga akan memberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang budaya setempat dan memperdalam pemahaman. 3. Menjaga kesehatan fisik dan mental Beradaptasi dengan budaya baru bisa menimbulkan stres dan kelelahan. Tetap makan dengan baik, beristirahat yang cukup, dan tetap aktif secara fisik. Juga, jangan ragu untuk mencari dukungan dan berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional jika Anda merasa kesulitan menghadapi perubahan ini. 4. Tetap terbuka dan fleksibel Penting untuk tetap terbuka terhadap perbedaan budaya dan siap menerima perbedaan tersebut. Berusaha untuk memahami bahwa cara orang lain berpikir, bertindak, dan berkomunikasi mungkin berbeda dengan budaya asli kita. Jadi fleksibel dan bersedia belajar dari pengalaman baru ini. 5. Menjaga hubungan dengan orang-orang di rumah Meskipun sedang beradaptasi dengan budaya baru, tetap menjaga komunikasi dengan keluarga dan teman di rumah. Berbagi pengalaman dan mengungkapkan perasaan dapat membantu untuk mengatasi rasa keterasingan dan kesepian yang mungkin timbul akibat culture shock. 6. Meminta bantuan jika mengalami kesulitan yang serius Jika mengalami kesulitan yang serius dalam mengatasi culture shock, jangan ragu untuk mencari bantuan bisa mencari bantuan dari penasehat akademik atau staf di institusi pendidikan, atau mencari bantuan dari profesional kesehatan mental. Mereka dapat memberikan dukungan dan saran yang dibutuhkan untuk membantu beradaptasi dengan lingkungan baru. Proses adaptasi ini membutuhkan waktu, dan setiap orang bereaksi secara berbeda terhadap culture shock. Bersabar dengan diri 5 sendiri dan menjadikan pengalaman sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh sebagai individu yang lebih luas pandang. 2. Alasan pentingnya komunikasi yang efektif dalam mengatasi culture shock dan membangun hubungan yang harmonis dengan orang-orang di lingkungan baru yaitu : 1. Interaksi kita sehari-hari melibatkan orang-orang dari latar belakang sosiokultural yang berbeda. 2. Komunikasi sosiokultural yang efektif memerlukan upaya untuk memahami makna pesan verbal dan nonverbal. 3. Perbedaan makna pesan merupakan awal dari ancaman terhadap komunikasi yang efektif. 4. Perlunya mempelajari nilai-nilai sosial budaya masyarakat yang berinteraksi dengan kita agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dari uraian di atas maka disimpulkan komunikasi yang efektif antar budaya ini penting, dimana dalam interaksinya terdapat kepekaan yang diperlihatkan oleh seseorang dari suatu budaya terhadap budaya lain yang akan menciptakan interaksi yang harmonis antara keduanya. Interaksi yang harmonis menciptakan sebuah pemahaman yang sama terhadap makna pesan yang diterimanya. Dengan kesamaan makna, maka komunikasi antarbudaya yang menjadi efektif. 3. Agama dan budaya memainkan peran penting dalam mempengaruhi proses komunikasi karena mereka membentuk sistem nilai, norma, keyakinan, dan praktik-praktik yang dipegang oleh individu dan kelompok. Inilah beberapa alasan mengapa agama dan budaya bisa mempengaruhi proses komunikasi: 1. Sistem Nilai: Agama dan budaya memiliki sistem nilai yang unik. Nilai-nilai ini membentuk pandangan dunia individu dan kelompok, termasuk tentang moralitas, etika, hierarki sosial, dan pentingnya komunikasi. Perbedaan dalam sistem nilai dapat mempengaruhi cara individu memahami dan mengartikan pesan komunikasi. 2. Norma Komunikasi: Setiap agama dan budaya memiliki norma-norma komunikasi yang ditentukan oleh aturan yang diikuti oleh anggota kelompok tersebut. Normanorma ini mencakup jenis bahasa yang digunakan, tingkat sopan santun yang diharapkan, cara berinteraksi sosial, dan penggunaan komunikasi nonverbal. 6 Ketidakpahaman atau pelanggaran terhadap norma-norma ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau konflik komunikasi. 3. Bahasa dan Istilah Khusus: Agama sering kali memiliki bahasa, istilah, dan ungkapan khusus yang digunakan dalam konteks keagamaan. Penggunaan bahasa ini dapat mempersulit komunikasi antara individu yang tidak familiar dengan agama tersebut. Selain itu, budaya juga dapat memiliki istilah atau frasa yang unik yang hanya dimengerti oleh anggota budaya tersebut. Hal ini dapat menyulitkan komunikasi dengan individu dari budaya yang berbeda. 4. Peran Gender: Agama dan budaya juga sering mempengaruhi peran gender dan ekspektasi sosial terkait komunikasi. Misalnya, dalam beberapa budaya, perempuan diharapkan untuk bersikap lebih sopan, sedangkan laki-laki diberikan kebebasan yang lebih besar dalam ekspresi diri. Perbedaan ini dapat mempengaruhi pola komunikasi antara individu dari gender yang berbeda. 4. Jika Nn. I mempertahankan budaya Indonesia di Australia, beberapa akibat yang mungkin terjadi,yaitu: 1. Pengaruh Budaya Aktif: Menurut Malinowski, budaya yang lebih aktif dan dominan dapat mempengaruhi budaya yang lebih pasif melalui kontak budaya. Dalam konteks Nn. I, ini bisa berarti bahwa budaya Australia yang dominan mungkin akan mempengaruhi cara dia mempertahankan budaya Indonesia. 2. Perubahan Pola Hidup: Globalisasi dapat menyebabkan perubahan pola hidup yang lebih modern dan praktis, yang mungkin membuat Nn. I mengadopsi beberapa aspek budaya Australia sambil tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia. 3. Kehilangan Budaya Lokal: Ada risiko bahwa generasi muda, termasuk Nn. I, mungkin kehilangan minat untuk belajar dan mewarisi budaya lokal mereka sendiri karena pengaruh budaya global yang lebih menarik. 4. Eksistensi Budaya Lokal: Upaya Nn. I dalam mempertahankan budaya Indonesia dapat menjadi kekuatan bagi eksistensi budaya lokal itu sendiri, meskipun terdapat arus globalisasi yang kuat. 7 5. Identitas Nasional: Mempertahankan budaya asal dapat membantu Nn. I dalam membangun dan mempertahankan identitas nasionalnya di lingkungan multikultural. 6. Pengaruh Negatif Budaya Asing: Terdapat kekhawatiran bahwa budaya asing dapat membawa dampak negatif, namun mempertahankan budaya asal dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme. Dengan mempertahankan budaya Indonesia, Nn. I tidak hanya memperkaya keragaman budaya di Australia tetapi juga memperkuat identitas dan warisan budayanya sendiri di tengah-tengah komunitas global. 5. Hubungan antara culture sensitivity, culture awareness, dan culture competence adalah bahwa mereka semua berkaitan dengan kemampuan individu atau organisasi untuk memahami, menghargai, dan berinteraksi dengan beragam budaya. Culture sensitivity adalah kesadaran dan kepekaan terhadap perbedaan budaya, culture awareness adalah pemahaman mendalam tentang budaya-budaya yang berbeda, sedangkan culture competence adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja secara efektif di dalam budaya tersebut. Dengan meningkatnya awareness terhadap budaya, sensitivitas terhadap perbedaan budaya juga meningkat, yang pada gilirannya meningkatkan kompetensi dalam berinteraksi dengan budaya tersebut. 6. Kompetensi budaya adalah kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang-orang dari budaya lain yang dapat dipelajari dari Nn. I dalam skenario adalah sebelum memiliki kompetensi multikultural kita memerlukan : 1. Pemahaman dasar tentang budaya sendiri. (Sulit memahami budaya orang lain jika tidak mengenal budaya sendiri.) 2. Kesediaan untuk belajar tentang praktik budaya dan pandangan dunia orang lain. 3. Sikap positif terhadap perbedaan budaya dan kesiapan menerima serta menghormati perbedaan. Pada skenario tersebut Nn. I mengalami perbedaan budaya yang signifikan, namun Nn.I memiliki caranya sendiri untuk membiasakan diri seperti membuat lebel pada makanan halal dan menanyakan kepada staff restauarant apakah makanan tersebut halal, membiasakan diri dengan sapaan yang hanya memanggil nama kepada orang yang lebih 8 tua, dan lain sebagainya. Nn.I juga memiliki rasa ingin tau dan ingin belajar tentang budaya di australia dan menunjukan sikap positif terhadap budaya mereka. 7. Berikut adalah cara menghindari pembentukan stereotip negatif tentang orang Australia berdasarkan interaksi awal yang terbatas: 1. Mengatasi Isyarat Lingkungan Nn I harus meneliti lingkungan dan pesan-pesan tempat kerja fisik dan virtual untuk memastikan bahwa isyarat-isyarat ini mengkomunikasikan pesan yang dimaksudkan bahwa semua orang dihargai dan diterima 2. Menghargai Keberagaman di Kalangan masyarakat. Umpan balik yang bijaksana bertujuan untuk memperjelas, menghilangkan ambiguitas mengenai motif umpan balik sehingga anggota kelompok minoritas tidak mengaitkan umpan balik negatif dengan bias ras atau gender. 3. Memberikan penjelasan alternatif. dapat membantu meringankan beberapa kecemasan yang disebabkan oleh ancaman stereotip karena hal tersebut melindungi harga diri dari evaluasi diri yang negatif. 4. Melakukan intervensi akademis untuk meningkatkan nilai kegunaan siswa sains dengan meminta mereka menyelesaikan tugas menulis singkat yang menjelaskan bagaimana materi yang mereka pelajari (matematika atau sains) relevan dengan kehidupan dan tujuan karier mereka. Intervensi ini meningkatkan persepsi nilai kegunaan dan minat, terutama bagi siswa yang kinerja kelasnya rendah baik yang diharapkan maupun yang sebenarnya. 9 2.3 STEP III: Skema (Mindmapping) 2.4 STEP IV: Learning Objective 1. Faktor sosial yang berpengaruh pada skenario 2. Faktor budaya dalam mahami dan menginterpretasi skenario 3. Perbedaan budaya dalam pola komunikasi dalam skenario 4. Cara budaya memengaruhi pilihan bahasa,gaya berbicara, dan ekspresi non-verbal 5. Peran agama yang mempengaruhi pandangan dan sikap dalam skenario 6. Peran agama dalam memengaruhi interaksi dengan orang lain dalam skenario 7. Peran agama dalam memengaruhi toleransi terhadap perbedaan dalam skenario 2.5 Pembahasan Kasus Berdasarkan Konsep Teori 2.5.1 Faktor sosial yang berpengaruh pada skenario Terdapat beberapa faktor sosial yang mempengaruhi cara komunikasi Nn. I dalam skenario yang telah disebutkan. Berikut adalah faktor-faktor tersebut: 1. Perbedaan budaya Budaya Indonesia memiliki norma-norma dan aturan sosial yang berbeda dengan budaya Australia. Ketika Nn. I tiba di Australia, ia mengalami culture shock karena belum sepenuhnya terbiasa dengan budaya baru tersebut. Perbedaan ini 10 mempengaruhi sikap dan cara komunikasi Nn. I, sehingga ia mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Perbedaan cara hidup di tempat yang berbeda memberikan sensasi yang berbeda. Seseorang akan mendapati bahwa sesuatu yang diharapkan tidak terjadi atau apa yang tidak kita harapkan justru terjadi. Hal ini seringkali menimbulkan kebingungan dan kecemasan sehingga dapat mempengaruhi cara bersosialisasi dengan orang lain. 2. Perbedaan bahasa dan komunikasi interpersonal Bahasa dan gaya komunikasi interpersonal dapat berbeda antara Indonesia dan Australia. Nn. I mungkin belum sepenuhnya terbiasa dengan gaya komunikasi yang umum di Australia, termasuk kebiasaan sopir yang lebih kaku dalam menjawab pertanyaan. Perbedaan ini dapat membuat Nn. I merasa tidak nyaman dan menganggap respons tersebut sebagai sikap sombong. Di negara barat,masyarakat biasanya dilatih untuk berbicara dan mendengarkan orang lain. Mendengarkan adalah aset penting dalam berkomunikasi terutama pada bagian konseling,psikoterapi dan pelatihan interpersonal. Dalam berkomunikasi,biasanya menggunakan waktu yang relatif seimbang dan kecepatan yang teratur hingga percakapan terhenti.Lalu diakhiri dengan kata selamat tinggal. Seseorang dengan menggunakan sikap individualis akan memberikan penekanan terhadap motivasi dan pengembangan diri mereka sendiri,bahkan menganggap tingkat harga diri mereka lebih tinggi dibanding dengan orang lain. Sehingga rasa kolektitivis hanya bisa dilakukan pada orang terdekat seperti orang tua,bibi,paman dan lain lain 3. Stereotip dan persepsi pemahaman budaya Nn. I mungkin membawa stereotip dan persepsi awal tentang orang Australia dan budayanya sebelum datang ke Australia. Stereotip ini dapat mempengaruhi cara Nn. I berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Penerimaan 11 dan pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya Australia dapat membantu mengatasi persepsi yang mungkin tidak akurat. 4. Norma sosial Norma-norma sosial yang berlaku di Indonesia, seperti hierarki dalam memanggil orang yang lebih tua, berbeda dengan norma-norma sosial di Australia. Ketika rekan-rekan Nn. I memanggil dosen dengan nama mereka tanpa menggunakan sapaan yang sopan, ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada Nn. I karena hal tersebut bertentangan dengan norma sosial yang berlaku di Indonesia. 5. Perbedaan sistem nilai Sistem nilai yaitu keyakinan dan prinsip yang diyakini oleh seseorang dapat mempengaruhi cara berinteraksi dan berkomunikasi. Nn. I mungkin memiliki sistem nilai yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya di Australia. Ini dapat mempengaruhi cara Nn. I merespons situasi tertentu, termasuk dalam berkomunikasi. 6. Pengalaman sebelumnya Pengalaman sebelumnya dapat mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Nn. I mungkin telah memiliki pengalaman sebelumnya yang membuatnya merasa tidak nyaman atau tidak percaya diri ketika berinteraksi dengan orang asing. Pengalaman ini dapat mempengaruhi cara Nn. I berkomunikasi dan merespons situasi tertentu di Australia. 7. Konteks sosial Konteks sosial di mana Nn. I berada juga dapat mempengaruhi cara komunikasi. Misalnya, ketika Nn. I berada di lingkungan kampus yang mungkin memiliki aturan atau norma sosial tertentu, ia akan cenderung menyesuaikan cara komunikasinya dengan aturan tersebut. Perbedaan dalam konteks sosial antara Indonesia dan Australia dapat menyebabkan perubahan dalam pola komunikasi yang biasa dilakukan oleh Nn. I. 8. Pengaruh media dan teknologi 12 Penggunaan media sosial, internet, dan teknologi komunikasi dapat mempengaruhi cara komunikasi seseorang. Nn. I yang telah menggunakan media sosial dan teknologi komunikasi dalam budaya Indonesia mungkin mengalami penyesuaian dalam penggunaan dan pemahaman media dan teknologi yang berbeda di Australia. Hal ini dapat mempengaruhi cara Nn. I berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. 2.5.2 Faktor budaya dalam mahami dan menginterpretasi skenario Pengalaman Nn. I mencerminkan sejumlah dampak budaya terhadap pemahaman dan interpretasi situasi komunikasi yang dihadapi di Australia. Beberapa aspek budaya yang memengaruhi Nn. I antara lain: 1. Komunikasi Formal vs. Informal: Budaya komunikasi Australia cenderung lebih formal, sedangkan di Indonesia lebih santai dan informal. Ini tercermin dalam interaksi dengan sopir yang Nn. I anggap kaku dan irit dalam menjawab pertanyaan, sehingga Nn. I menganggap sopir tersebut sombong. 2. Panggilan Nama: Budaya Australia cenderung egaliter, di mana panggilan nama langsung dianggap wajar. Namun, di Indonesia, panggilan nama langsung kepada orang yang lebih tua dianggap tidak sopan. Hal ini tercermin dalam cara rekanrekan Nn. I memanggil dosen dengan nama langsung. 3. Pelayanan Kesehatan: Perbedaan dalam pendekatan perawatan kesehatan antara Australia dan Indonesia mencerminkan norma-norma budaya yang berbeda terkait dengan interaksi sosial dan pelayanan kesehatan. 4. Pemahaman tentang Makanan Halal: Di Australia, di mana populasi Muslim lebih kecil, pertanyaan tentang kehalalan makanan mungkin lebih jarang dilakukan oleh konsumen non-Muslim. Namun, Nn. I sebagai Muslim terbiasa untuk memastikan makanan yang dikonsumsinya halal, yang menunjukkan perbedaan budaya terkait makanan. 5. Keterbukaan dalam Berkomunikasi: Budaya Australia cenderung terbuka dan terus terang dalam berkomunikasi, yang berbeda dengan budaya Indonesia yang mungkin lebih menekankan pada kesopanan dan halus. 13 2.5.3 Perbedaan budaya dalam pola komunikasi dalam skenario Apa perbedaan budaya yang dapat mempengaruhi pola komunikasi Nn. I dalam skenario tersebut? Beberapa perbedaan budaya antara Indonesia dan Australia mempengaruhi pola komunikasinya dengan orang-orang di sekitarnya. Berikut adalah beberapa perbedaan yang relevan: 1. Komunikasi Formal vs. Informal: Di Indonesia, ada norma-norma sosial yang mengatur cara berbicara dengan orang yang lebih tua atau berstatus lebih tinggi. Menggunakan sapaan seperti “kak,” “abang,” “bapak,” atau “ibu” adalah hal yang umum. Di Australia, komunikasi lebih informal. Orang sering memanggil orang lain dengan nama mereka tanpa menggunakan sapaan khusus. Misalnya, rekan-rekan Nn. I memanggil dosen dengan menyebut namanya. 2. Respon Terhadap Pertanyaan: Nn. I mengalami ketidaknyamanan saat sopir yang mengantarnya ke alamat yang dituju memberikan respon yang terlalu kaku dan irit dalam menjawab pertanyaannya. Ini mungkin karena perbedaan dalam cara orang Australia berkomunikasi, yang bisa terlihat sebagai sombong atau kurang ramah oleh orang dari budaya lain. 3. Perlakuan Perawat Terhadap Pasien: Nn. I mencatat bahwa perawat di Australia lebih hangat dan lebih baik dibandingkan perawat di Indonesia. Ini mungkin karena perbedaan dalam pendekatan budaya terhadap perawatan kesehatan dan hubungan antara perawat dan pasien. 4. Ketidakbiasaan Bertanya Tentang Kehalalan Makanan: Di Indonesia, mayoritas penduduk beragama Islam, sehingga makanan yang dijual diolah secara halal. 14 Di Australia, Nn. I harus aktif bertanya kepada staf restoran apakah makanan yang dijual memiliki sertifikat halal atau tidak. Ini menunjukkan perbedaan dalam kesadaran budaya terkait makanan. 5. Keterbukaan dan Terus Terang: Budaya Australia cenderung lebih terbuka dan terus terang. Orang tidak perlu segan atau malu untuk bertanya atau mengeluarkan pendapat. Di Indonesia, ada norma-norma sosial yang mengharuskan orang lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. 6. Pengalaman Hidup Bersama Teman-Teman Berbeda Negara dan Agama: Tinggal bersama teman-teman dari berbagai negara dan agama di rumah sewa (kos) memberikan Nn. I kesempatan untuk memahami lebih baik tentang perbedaan budaya dan memperoleh cultural sensitivity. Pola komunikasi transkultural melibatkan kesadarankan perbedaan budaya dan nilai-nilai, kemampuan untuk menghormati perbedaan tersebut, sertakemauan untuk belajar dan beradaptasi dengancara berkomunikasi yang sesuai dengan budayaklien. Ini melibatkan sensitivitas terhadap bahasatubuh, gaya berbicara, dan norma-norma sosial yang berbeda. Menurut Cross, T., Bazron, B. Dennis, K. dan Issac,M., terdapat lima element budaya yang perlu diketahui dan mampu diimplemetasikan oleh seorang perawat dalam intervensi keperawatan: 1. menilai keanekaragaman budaya, 2. mempunyai kapasitas untuk meng-assessment budaya, 3. menyadari bahwa budaya bersifat dinamis dan inherent dalam ketika terjadi interaksi budaya 4. mempunyai pengetahuan budaya yang sudah dikembangkan, 5. mempunyai adaptasi yang terus menerus dikembangkan dalam upaya memamahami keanekaragaman budaya Dalam skenario tersebut, Nn.l menyadari perbedaan budaya antar indonesia dan negara yang didatanginya. Latar belakang budaya Indonesia mempengaruhi attitude dan cara komunikasi Nn. I kepada orang-orang yang ditemui, dosen dan rekan rekannya di 15 kampus dan juga pasiennya Perbedaan budaya tersebut mempengaruhi perilaku dan komunikasi Nn.l. Kondisi tenaga kesehatan yang disebut dengan cultural imposition mendasari pemikiran Leininger untuk memaknai konsep paradigma keperawatan transkultural sebagai cara pandang, keyakinan, nilai - nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan terhadap empat sentral keperawatan yaitu manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya: 1. Manusia atau individu dan keluarga atau kelompok memiliki nilai- nilai dan norma-norma yang diyakini dapat berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan suatu tindakan. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan kognitif cenderung akan mempertahankan budayanya di mana pun ia berada 2. Kesehatan merupakan keseluruhan aktivitas klien dalam mengisi kehidupannya yang terletak pada rentang sehat dan sakit. Kesehatan sebagai suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya digunakan untuk menjaga serta memelihara kondisi yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuar yang sama, yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat sakit yang adaptif. 3. Lingkungan merupakan keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Bentuk lingkungan dibedakan menjadi tiga, yaitu fisik, sosial, dan simbolik 3/5. 4. Asuhan keperawatan adalah rangkaian kegiatan pada praktikvans diberikan kepada keluarga yang disesuaikan destar belakang budayanya. Praktik ini bertujuan untuk memandirikan individu sesuai dengan budaya keluarga. Strategi yang digunakanpun perlindungan/mempertahankan budaya mengakomodasi negosiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien. 2.5.4 Cara budaya memengaruhi pilihan bahasa,gaya berbicara, dan ekspresinon-verbal Pengaruh budaya dalam gaya bahasa, gaya berbicara, dan ekspresi non-verbal dalam praktik keperawatan dengan mendalam. Budaya memainkan peran kunci dalam bagaimana individu berkomunikasi dan berinteraksi, dan bahwa kepekaan terhadap 16 perbedaan budaya kritis dalam menyediakan perawatan yang efektif dan berpusat pada pasien. 1. Gaya bahasa Dalam konteks gaya bahasa pentingnya pemahaman tentang keanekaragaman bahasa yang ada di antara pasien, serta pentingnya mengkomunikasikan informasi dengan cara yang dapat dipahami oleh semua orang, terlepas dari latar belakang bahasa mereka. Hal ini termasuk menghindari penggunaan frasa atau jargon medis yang mungkin tidak dikenali oleh semua orang, dan memilih kata-kata yang sensitif terhadap budaya pasien. Budaya Indonesia orang cenderung menggunakan bahasa yang lebih sopan dan menghormati status hierarki. Nn. I mungkin terbiasa menggunakan sapaan seperti "kak", "abang", "bapak", atau "ibu" ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki status yang lebih tinggi. Namun, di Australia,masyarakat bekerja dan berkomunikasi secara informal (hierarki yang diratakan). Penggunaan nama depan semakin umum, tanpa menggunakan gelar dan nama keluarga. Contohnya menyebutkan nama 'Jane' tanpa menyebutkan gelar 'Dr' dalam situasi kerja. 2. Gaya berbicara Gaya berbicara juga menjadi fokus dengan penekanan pada adaptasi gaya berbicara sesuai dengan preferensi dan norma budaya pasien. Hal ini mungkin mencakup penyesuaian kecepatan bicara, volume suara, dan tingkat keformalan berdasarkan budaya pasien untuk memfasilitasi komunikasi yang efektif. Kata "Hallo" dan "Selamat tinggal" Orang-orang di Inggris sangat sering menyapa rekan kerja setiap kali mereka bertemu. Sebaliknya, di sejumlah budaya Asia, halo atau selamat tinggal tidak sering digunakan. Nn.I diakui berada di sana melalui kehadiran Nn.I , dan tidak dirasa perlu untuk mengucapkan halo. Demikian pula, cukup jelas terlihat saat Nn.I akan pergi, tidak perlu untuk mengucapkan selamat tinggal. Ditempat layanan kesehatan, pasien Asia mungkin tidak mengharapkan Nn.I untuk menyapa mereka, sedangkan pasien di Inggris mungkin merasa terhina jika Nn.I tidak mengatakan selamat pagi atau selamat siang ketika Nn.I datang bertugas, atau mengunjungi mereka rumah mereka. 17 Kata "Tolong" dan "Terimakasih" Ucapan tolong dan terima kasih sangat bervariasi dari satu budaya ke budaya yang lain. Orang-orang di Inggris cenderung menggunakan kata-kata ini secara berlebihan. Perawat di Inggris cenderung mengharapkan pasien untuk berterima kasih mereka untuk melaksanakan tugas keperawatan tertentu, tetapi jika pasien datang dari budaya lain pernyataan seperti itu mungkin dianggap tidak diperlukan,namun hal ini tidak boleh dianggap kasar. Basa Basi Komunikasi fatis dapat membantu dalam membuat pasien merasa nyaman dan diperhatikan, namun komunikasi ini juga tidak dapat dilakukan terlalu lama. Kadangkadang, kurangnya isi percakapan membuat pasien tidak mampu mengungkapkan secara spesifik apa yang ingin mereka katakan. Oleh karena itu, perawat mungkin ingin mempertimbangkan untuk mengatur kecepatan percakapan mereka dengan pasien, sehingga, setelah beberapa komentar yang bersifat fatik, percakapan dapat diarahkan ke inti pembicaraan. Pendengar yang baik dan mengambil giliran Negara-negara Barat, khususnya di Inggris dan AS, orang-orang cenderung menaruh perhatian besar untuk mendengarkan satu sama lain. Mendengarkan terutama ditekankan dalam konseling, psikoterapi dan pelatihan keterampilan interpersonal. Di wilayah timur, tidak satu pun dari peraturan ini yang berlaku.Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor budaya isi dan proses. Di negara-negara Barat, biasanya dirasakan penting untuk memahami segala sesuatu yang dikatakan: hal ini mengarah pada mendengarkan dan mengambil giliran. 3. Komunikasi langsung dan tidak langsung memahami dan menginterpretasikan ekspresi non-verbal dari pasien dari latar belakang budaya yang berbeda ini termasuk bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan lainnya yang dapat memiliki makna yang berbeda dalam konteks budaya tertentu. Memahami ekspresi non-verbal dapat membantu perawat membaca sinyal 18 komunikasi yang lebih halus dan merespons dengan sensitivitas terhadap kebutuhan dan preferensi pasien. A. Langsung Pujian Dalam budaya Inggris hal yang lumrah meremehkan pujian yang diberikan. Bukan hal yang aneh bagi pendengar untuk menolak pujian dengan kalimat seperti 'tidak juga', sedangkan di budaya lain tidak jarang pujian dibalas. Menjawab pertanyaan Dalam konteks Inggris atau Amerika Utara, orang mengharapkan orang lain menjawab pertanyaan dengan jelas dan tidak ambigu. Namun, di beberapa budaya, mengatakan 'tidak' sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan dianggap tidak sopan. B. Tidak langsung Menyentuh Budaya berbeda-beda dalam tingkat penggunaan sentuhan sebagai bentuk komunikasi. Banyak negara Barat yang merupakan negara 'high touch', yang mana merupakan hal yang normal untuk dapat menyentuh lawan bicara selama percakapan, terutama ketika meyakinkan seseorang. Di sebagian besar negara-negara barat, salam awal, meskipun formal, adalah jabat tangan. Di negara-negara Islam, yang terjadi adalah kebalikannya: kontak informal jarang terjadi dan kontak antar jenis kelamin biasanya dilarang. Kedekatan Mereka yang berada dalam posisi dominan mungkin melebih-lebihkan sejauh mana mereka dapat berdiri dekat dengan orang yang berada dalam posisi yang lebih patuh. Oleh karena itu, 'bos' mungkin lebih dekat dengan karyawannya daripada rasa nyaman bagi karyawan tersebut. Demikian pula, perawat (yang berdasarkan sifat pekerjaannya, berada dalam posisi dominan) mungkin berdiri terlalu dekat dengan pasien. Untuk pasien yang juga berada di tempat tidur, perawat mungkin terlalu dekat. Penting untuk mempertimbangkan kedekatan, menyadarinya, dan membiarkan orang lain menemukan zona nyamannya sendiri saat Anda mengobrol. 19 Kontak mata Di negara-negara barat, dan mungkin khususnya di AS, tidak jarang dua orang yang berbicara satu sama lain mempertahankan kontak mata yang cukup konstan. Namun, di wilayah timur, orang yang lebih senior dalam suatu pasangan diperbolehkan melakukan kontak mata dengan yang lebih junior, namun orang yang lebih junior sering kali akan melihat ke bawah sebagai tanda hormat. Di wilayah timur, biasanya jarang terjadi kontak mata terus-menerus. Volume dan gesture Selain mencoba memahami bahasa Inggris yang diucapkan dengan aksen yang luas, perawat di Inggris mungkin mengalami masalah dalam mendengarkan apa yang dibicarakan. Sekali lagi, hierarki berperan di sini. Orang junior dari Asia Tenggara sering kali berbicara lebih pelan dibandingkan orang yang lebih senior, karena rasa hormat. Penggunaan gerak tubuh sebagai alat komunikasi sangat bervariasi dari satu budaya ke budaya lainnya. Bandingkan, misalnya, penggunaan gerakan tangan dan lengan di Italia dan Thailand. Orang Italia sering kali menggunakan isyarat tangan saat bercakap-cakap, dan karena volume percakapan mereka, ada kemungkinan mereka berpikir bahwa mereka sedang berdebat. Sebaliknya, ketika orang Thailand berbicara, mereka hanya menggunakan sedikit gerakan tangan: 'berbicara' seolah-olah merupakan percakapan. Demikian pula, dalam suasana formal di Inggris, hanya sedikit gerakan tangan yang dilakukan. Sampai saat ini, pembaca berita dan reporter televisi hanya menggunakan sedikit gerakan tangan. 2.5.5 Peran agama yang mempengaruhi pandangan dan sikap dalam skenario Keyakinan memainkan peran penting dalam mempengaruhi sikap manusia. Keyakinan sendiri adalah pandangan atau pemahaman yang kuat tentang suatu hal. Ketika seseorang memiliki keyakinan yang kuat tentang sesuatu, itu bisa mempengaruhi cara mereka memandang dan bertindak terhadap hal tersebut, yang disebut sikap. Mereka berevolusi bersama dengan pengambilan keputusan, sikap, dan keyakinan tentang orang lain, dan dipengaruhi oleh proses kognitif, pengaruh sosial, dan pertimbangann . 20 Keyakinan dapat memengaruhi persepsi, reaksi emosional, dan perilaku, serta dapat membentuk tindakan dan perasaan kita terhadap orang lain. Keyakinan dan latar belakang budaya Nn. I secara signifikan memengaruhi pandangan dan sikapnya terhadap orang lain dalam skenario tersebut. Sebagai contoh, kepercayaan agama Islam Nn. I mempengaruhi pendekatannya terhadap makanan, yang menuntutnya untuk memastikan kehalalan produk yang dikonsumsinya. Hal ini tercermin dalam kebiasaannya untuk mencari tahu status halal suatu makanan, baik yang dijual dalam kemasan maupun produk makanan jadi, seperti yang terjadi saat bertanya kepada staf restoran. Di Indonesia, di mana mayoritas penduduknya beragama Islam, kehalalan makanan sering dianggap sebagai sesuatu yang sudah dipastikan, sehingga tindakan Nn. I untuk memeriksa hal ini menunjukkan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Selain itu, latar belakang budaya Indonesia juga memengaruhi interaksi sosial Nn. I, terutama dalam hal komunikasi dan hierarki. Misalnya, ketika sopir yang menjemputnya ke bandara memberikan respon yang terlalu kaku terhadap pertanyaannya, Nn. I merasa tidak nyaman dan menganggap sopir tersebut sombong. Ini mungkin karena di budaya Indonesia, komunikasi cenderung lebih santai dan ramah, dan ada harapan akan respons yang lebih hangat dari orang lain. Begitu pula dengan hierarki dalam komunikasi, seperti ketika rekan-rekannya memanggil dosen dengan nama saja, tanpa menggunakan sapaan yang menghormati, hal ini mungkin menimbulkan ketidaknyamanan bagi Nn. I yang terbiasa dengan norma-norma kehormatan dalam berbicara kepada orang yang lebih tua atau berpangkat. Selain itu, pengalaman Nn. I dengan perawatan kesehatan di Australia juga memengaruhi pandangan dan sikapnya terhadap perawat dan pasien. Perbedaan dalam pendekatan perawatan kesehatan antara Australia dan Indonesia, seperti hangatnya sikap perawat dan kebijakan mengenai pengunjung pasien, telah memperluas pemahaman Nn. I tentang cara berinteraksi dengan pasien dan tenaga medis. Selama tinggal di Australia, Nn. I juga terlibat dalam lingkungan yang beragam secara budaya, baik di rumah sewa maupun di kampus. Ini memberinya kesempatan untuk memperluas pemahamannya tentang berbagai budaya dan meningkatkan kesensitivitasannya terhadap perbedaan budaya. Dengan demikian, melalui pengalaman- 21 pengalamannya ini, Nn. I secara bertahap mencapai tingkat kesadaran budaya dan akhirnya mencapai kompetensi budaya yang lebih tinggi. 2.5.6 Peran agama dalam memengaruhi interaksi dengan orang lain dalam skenario Dalam skenario tersebut, peran agama dalam membentuk nilai dan norma yang memengaruhi interaksi Nn. I dengan orang lain terlihat dalam beberapa aspek. Pertama, sebagai seorang muslim, Nn. I memiliki aturan tertentu terkait makanan halal dan nonhalal yang memengaruhi cara dia berinteraksi dengan makanan dan restoran di Australia. Kedua, agama juga mempengaruhi interaksi Nn. I dengan rekan-rekan sekamarnya, karena dia tinggal bersama orang-orang dari berbagai negara dan agama, yang mungkin memiliki pandangan atau praktik yang berbeda terkait kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat memengaruhi dinamika rumah tangga mereka dan cara mereka berinteraksi satu sama lain dalam konteks yang lebih luas. Spiritualitas adalah tema umum dalam penelitian kesehatan dan profesional kesehatan diseluruh dunia, dan merupakan salah satu dari enam domain kualitas hidup dalam Instrumen Kualitas Hidup Organisasi Kesehatan Dunia (Organisasi Kesehatan Dunia, 2012). Keberagaman spiritual tersebar luas karena keberadaan masyarakat yang beragama beragam di seluruh dunia. Oleh karena itu, perawat umumnya merawat pasien dari latar belakang agama yang berbeda. Menurut literatur, orang-orang dengan dan tanpa keyakinan agama melaporkan kebutuhan dan manfaat dukungan spiritual dalam layanan kesehatan. Meningkatnya perhatian terhadap aspek spiritual dari perawatan terjadi bahkan dalam lingkungan masyarakat yang sangat sekuler. Di seluruh dunia, minat perawat terhadap perawatan spiritual meningkat. Banyak penelitian menunjukkan bahwa perawat secara konsisten menyadari pentingnya kenyamanan spiritual dan menghargai dasar-dasar pendekatan holistik tanpa perbedaan agama dan budaya. Keperawatan profesional modern muncul dalam lingkungan nilai-nilai berbasis Kristen dan sejak awal dijiwai dengan prinsip-prinsip yang bersumber dari agama. Namun, menurut kode etik organisasi profesi dan pernyataan resmi Dewan Perawat Internasional (2021), pembunuhan holistik harus menanggapi semua kebutuhan spiritual pasien, terlepas dari keyakinan agama mereka . Spiritualitas pembedahan telah menjadi inti teori dan penelitian pembedahan selama lebih dari 30 tahun. Dalam kerangka ini, literatur mengungkapkan bahwa perawat telah 22 memandang perspektif spiritual yang berbeda-beda. Stephenson dan Hebeshy menunjukkan bahwa perawatan spiritual harus dimasukkan ke dalam rencana perawatan dan perawat memerlukan pengetahuan dan pelatihan terkini tentang berbagai bentuk spiritualitas. Penelitian lain menemukan bahwa efektivitas perawatan bergantung pada kesadaran dan kepekaan perawat terhadap kebutuhan spiritual pasiennya. Agama memberikan kerangka referensi yang jelas tentang apa yang dianggap benar dan salah, baik dalam hubungan antar individu maupun dalam interaksi sosial secara lebih luas. Nilai-nilai dan norma yang diambil dari ajaran agama memengaruhi bagaimana individu berinteraksi satu sama lain, membentuk etika dalam perilaku seharihari, serta memberikan landasan untuk tata krama dan sikap dalam berbagai konteks sosial. Peran agama dalam membentuk nilai dan norma dapat memengaruhi interaksi antara perawat dan klien dalam beberapa cara. Agama seringkali menjadi sumber nilainilai moral dan etika yang memandu perilaku perawat, seperti kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan terhadap kehidupan manusia. Nilai-nilai ini dapat tercermin dalam cara perawat berinteraksi dengan klien, seperti memberikan perawatan yang empatik dan menghormati kebutuhan spiritual klien sesuai dengan keyakinan agama mereka. Selain itu, norma-norma yang ditetapkan oleh agama juga dapat memengaruhi keputusan perawat terkait perawatan kesehatan, misalnya dalam hal prosedur medis yang sesuai atau penanganan akhir kehidupan. Dalam konteks ini, penting bagi perawat untuk memahami dan menghormati kepercayaan agama klien untuk memastikan interaksi yang saling menghormati dan memenuhi kebutuhan klien secara holistik. Dalam buku "Spirituality in Nursing: Standing on Holy Ground", agama dipandang sebagai sumber landasan moral, etika, dan dukungan spiritual bagi para perawat dalam merawat pasien. Agama mempengaruhi praktik keperawatan dengan memberikan kerangka kerja moral yang kuat, membimbing perawat dalam membuat keputusan yang tepat, dan memberikan inspirasi bagi pelayanan yang berpusat pada kebaikan dan keadilan. Melalui pemahaman yang dalam tentang prinsip-prinsip agama, perawat dapat mengintegrasikan nilai-nilai seperti kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan terhadap martabat manusia dalam praktik keperawatan mereka. Selain itu, agama juga memberikan dukungan spiritual bagi para perawat, memperkuat ketahanan 23 mereka dalam menghadapi tantangan dan memberikan makna pada pelayanan mereka kepada pasien. Dengan demikian, agama memainkan peran penting dalam membentuk sikap, nilai, dan praktik keperawatan yang holistik dan berempati. Dengan demikian, agama memainkan peran penting dalam membentuk nilai dan normayang memengaruhi interaksi antara perawat dan klien, dengan mempengaruhi cara perawat memahami, mendekati, dan merespons kebutuhan klien secara spiritual dan moral. Dalam konteks keperawatan, peran-peran agama dalam membentuk nilai dan norma yang memengaruhi interaksi antara perawat dan pasien dapat mencakup: 1. Pemahaman dan Penghargaan Terhadap Kebutuhan Spiritual: Agama dapat memengaruhi cara individu memandang dan merespons kebutuhan spiritual pasien. Perawat yang memahami dan menghargai nilai-nilai agama pasien dapat memberikan perawatan yang lebih holistik dan sensitif terhadap dimensi spiritual dalam penyembuhan. 2. Respek Terhadap Keyakinan dan Praktik Agama: Perawat perlu memahami dan menghormati keyakinan agama pasien dalam konteks perawatan kesehatan. Ini termasuk memahami praktik-praktik keagamaan yang mungkin mempengaruhi pengobatan dan perawatan yang diterima oleh pasien. 3. Bimbingan dan Dukungan Spiritual: Agama dapat menyediakan sumber dukungan spiritual bagi pasien dan keluarga mereka dalam menghadapi situasi kesehatan yang sulit. Perawat dapat membantu memfasilitasi akses pasien terhadap dukungan spiritual sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai keagamaan mereka. 4. Etika dan Tanggung Jawab Profesional: Agama sering kali memberikan kerangka kerja etika dan tanggung jawab moral yang memandu perilaku perawat dalam memberikan perawatan. Nilai-nilai seperti keadilan, belas kasihan, dan integritas dapat dipengaruhi oleh keyakinan agama perawat. 5. Kolaborasi dan Komunikasi Sensitif: Memahami latar belakang agama pasien dapat membantu perawat berkomunikasi dengan lebih sensitif dan efektif dalam merencanakan perawatan bersama pasien dan keluarganya. Kolaborasi yang baik membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai dan norma-norma yang mempengaruhi pengambilan keputusan kesehatan. 24 6. Penyediaan Ruang untuk Praktik Keagamaan: Dalam lingkungan perawatan, perawat dapat membantu menyediakan ruang dan kesempatan bagi pasien untuk melaksanakan praktik keagamaan mereka, seperti ibadah, doa, atau ritual lainnya, sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pasien. 2.5.7 Peran agama dalam pembentukan identitas sosial seseorang Cara kita berhubungan dengan orang lain sangat dipengaruhi oleh warisan budaya, nilai-nilai, dan kepercayaan kita. Di balik sebagian besar budaya akan ditemukan serangkaian keyakinan agama. Namun penting untuk dicatat bahwa agama dan budaya bukanlah hal yang sama. Agama, meskipun sangat penting dalam banyak budaya, hanyalah salah satu dari berbagai faktor yang dapat mempengaruhi budaya. Setiap masyarakat suatu bangsa memiliki tradisi, keyakinan, dan agama yang berbedabeda. Setiap hal yang berkaitan dengan hati nurani dan diyakini kebenarannya dalam kehidupan di masyarakat maka akan menjadi kebiasaan, adat-istiadat, tradisi, dan bahkan keyakinan, yang selanjutnya akan menjadi budaya bagi komunitasnya. Setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi prilaku para penganutnya. Jika antar Agama diperbandingkan, barangkali ajaranya sedikit berbeda meskipun secara keseluruhan perbedaan itu tidak terlalu besar. Secara umum ajaran moral yang terkandung dalam suatu Agama dapat digolongkan menjadi dua bagian yang pertama adalah berupa aturan-aturan pokok yang harus dipedomani dalam proses ritual dan yang kedua adalah aturan moral yang lebih bersifat umum, karena kepentinganya menyangkut orang banyak yang bisa jadi berbeda agama. Agama memiliki peran yang signifikan. Ia dapat memberikan kerangka nilainilai dan norma-norma yang menjadi dasar bagi individu dan masyarakat dalam mengembangkan identitas sosial mereka (Dayah, 2018). Ada beberapa peran agama dalam pembentukan identitas sosial seseorang: 1. Nilai dan norma Agama sering kali menjadi sumber nilai-nilai dan norma yang membentuk tata nilai dan perilaku masyarakat. Agama dapat memberikan pedoman moral yang kuat bagi individu dan masyarakat dalam mengatur hubungan sosial, etika, dan perilaku sehari hari. 25 2. Pengaruh dalam pemilihan nilai dan identitas Agama sering kali menjadi faktor yang mempengaruhi pemilihan nilai-nilai dan identitas individu dalam masyarakat. Keyakinan agama dapat membentuk identitas sosial masyarakat dengan menentukan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan mempengaruhi pilihan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, dan hubungan sosial. Identitas agama dapat mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri dalam konteks sosial. 3. Pembetukan kelompok dan komunitas Agama juga dapat membentuk identitas sosial melalui pembentukan kelompok dan komunitas berdasarkan keyakinan agama yang sama. Kelompokkelompok ini dapat menjadi wadah untuk saling mendukung, berinteraksi, dan memperkuat identitas sosial masyarakat. 4. Pengaruh dalam kehidupan sehari – hari Agama juga dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat melalui praktik keagamaan, seperti ibadah, ritual, dan perayaan. Praktik-praktik ini dapat membentuk identitas sosial masyarakat dengan memberikan pengalaman dan kegiatan yang bersifat kolektif dan memperkuat ikatan sosial antarindividu. Pengaruh agama dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat dalam berbagai aspek, seperti: Agama memberikan pedoman tentang apa yang dianggap benar dan salah, serta mengajarkan nilai-nilai seperti kasih sayang, kejujuran, dan keadilan. Individu yang menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari cenderung memilih nilai-nilai ini sebagai panduan dalam berinteraksi dengan orang lain dan membuat keputusan. Dalam skenario terlihat jelas pengaruh agama terhadap cara seseorang menjalani kehidupan. Nn.I mengalami culture shock melihat berbagai perbedaan yang terjadi di Australia. Ia juga sangat berhati-hati dalam memilih makanan yang halal dan sesuai dengan ajaran agamanya karena ia tau bahwa Australia memiliki agama dan budaya yang jauh berbeda dengan Negara asalnya, Indonesia. 26 2.5.8 Peran agama dalam memengaruhi toleransi terhadap perbedaan dalam skenario Keyakinan dan agama dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap toleransi dan pemahaman seseorang terhadap perbedaan budaya, agama, atau pandangan dunia. Namun, penting untuk diingat bahwa pengaruh ini dapat bervariasi antara individu dan tergantung pada bagaimana keyakinan dan agama tersebut diinterpretasikan dan dipraktikkan oleh individu tersebut. Harap diingat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi toleransi dan pemahaman seseorang terhadap perbedaan budaya dan agama sangat kompleks, dan tidak ada satu sumber tunggal yang dapat menjelaskan secara menyeluruh. Pengaruh individu dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor-faktor tersebut dan faktor-faktor lainnya seperti pendidikan, pengalaman hidup, dan konteks sosial. Pengaruh keyakinan dan agama terhadap toleransi dan pemahaman dapat dikaji melalui berbagai perspektif dan penelitian. Berikut adalah beberapa cara di mana keyakinan dan agama dapat mempengaruhi toleransi dan pengertian seseorang: 1. Kerangka Nilai Keyakinan dan agama sering kali menyediakan kerangka nilai yang menjadi panduan bagi individu dalam memahami dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Kerangka nilai ini dapat membentuk sikap yang lebih terbuka terhadap perbedaan budaya dan agama, atau sebaliknya, dapat memperkuat sikap yang lebih eksklusif dan tidak toleran terhadap perbedaan. Sebagai contoh, beberapa keyakinan dan agama menekankan pentingnya kasih sayang, belas kasihan, dan pengampunan. Nilai-nilai ini dapat mendorong sikap inklusif dan toleran terhadap perbedaan. Di sisi lain, beberapa keyakinan dan agama mungkin menegaskan superioritas agama mereka dan memandang perbedaan sebagai ancaman, yang dapat mengurangi toleransi terhadap perbedaan budaya dan agama. 2. Interpretasi Teologi Cara seseorang menafsirkan ajaran agama mereka juga dapat mempengaruhi toleransi dan pemahaman mereka terhadap perbedaan. Beberapa interpretasi teologi dapat menekankan pentingnya dialog antaragama, saling belajar, dan menghormati perbedaan. Ini dapat mendorong sikap yang lebih inklusif dan pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya dan agama lain. 27 Namun, interpretasi teologi yang lain dapat menekankan eksklusivitas agama atau keyakinan tertentu, dan melihat perbedaan sebagai ketidaksesuaian atau kesalahan. Ini dapat mengurangi toleransi terhadap perbedaan dan menghambat pemahaman yang lebih luas tentang budaya dan agama lain. 3. Pengalaman Pribadi dan Konteks Sosial Pengalaman pribadi individu dan konteks sosial juga dapat memainkan peran penting dalam mempengaruhi toleransi dan pemahaman terhadap perbedaan. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang mempromosikan keragaman dan dialog antarbudaya mungkin lebih menerima perbedaan dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang budaya dan agama lain. 4. Pengaruh Sosial dan Komunitas Keyakinan dan agama sering kali dipraktikkan dalam konteks sosial dan komunitas yang memberikan arahan, norma, dan nilai-nilai bersama. Komunitas agama dapat memberikan dukungan dan pemahaman yang lebih dalam tentang keyakinan mereka sendiri, tetapi juga dapat memperkuat sikap eksklusif terhadap perbedaan. Jika seseorang tumbuh dalam komunitas yang mendorong dialog, saling pengertian, dan kerjasama antaragama, mereka cenderung memiliki sikap yang lebih toleran terhadap perbedaan budaya dan agama. Di sisi lain, jika seseorang tumbuh dalam komunitas yang menekankan pemisahan dan ketidakpercayaan terhadap budaya atau agama lain, mereka mungkin memiliki sikap yang lebih eksklusif dan kurang toleran terhadap perbedaan. 5. Pendidikan dan Pemahaman Agama Tingkat pendidikan dan pemahaman seseorang tentang agama mereka juga dapat berpengaruh pada toleransi dan pemahaman mereka terhadap perbedaan. Studi menunjukkan bahwa individu yang memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran dan praktek agama mereka cenderung memiliki sikap yang lebih inklusif terhadap perbedaan budaya dan agama. Pendidikan agama yang inklusif, yang mengajarkan tentang keberagaman agama dan budaya, dapat membantu membangun pemahaman yang lebih luas dan toleransi terhadap perbedaan. Pendidikan yang mempromosikan pemahaman dan 28 dialog antaragama juga dapat membantu mengurangi stereotip dan prasangka terhadap kelompok lain. 6. Konteks Politik dan Sosial Konteks politik dan sosial di mana keyakinan dan agama dipraktikkan juga memiliki dampak pada toleransi dan pemahaman terhadap perbedaan. Konteks yang menghormati kebebasan beragama, mempromosikan keragaman, dan melindungi hak asasi manusia cenderung mendorong sikap yang lebih toleran terhadap perbedaan budaya dan agama. Namun, konteks yang terbebani oleh konflik agama, diskriminasi, atau ketegangan sosial dapat menghambat toleransi dan pemahaman yang lebih dalam terhadap perbedaan. Faktor-faktor ini dapat memperkuat sikap eksklusif dan memperburuk ketegangan antara kelompok-kelompok dengan keyakinan atau agama yang berbeda. Dalam memahami pengaruh keyakinan dan agama terhadap toleransi dan pemahaman, penting untuk mengakui bahwa pengalaman dan sikap individu dapat sangat bervariasi. Tidak semua individu yang memiliki keyakinan atau agama tertentu akan memiliki sikap yang sama terhadap perbedaan budaya atau agama. Faktor-faktor individu dan kontekstual juga memainkan peran penting dalam membentuk sikap dan pemahaman seseorang terhadap perbedaan. 29 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan komunikasi yang efektif antar budaya merupakan hal penting, dimana dalam interaksinya terdapat kepekaan yang diperlihatkan oleh seseorang dari suatu budaya terhadap budaya lain yang akanmenciptakan interaksi yang harmonis antara keduanya. Interaksi yang harmonis menciptakan sebuah pemahaman yang sama terhadap makna pesan yang diterimanya. Dengan kesamaan makna, maka komunikasi antarbudaya yang menjadi efektif. Perbedaan cara hidup di tempat yang berbeda memberikan sensasi yang berbeda. Seseorang akan mendapati bahwa sesuatu yang diharapkan tidak terjadi atau apa yang tidak kita harapkan justru terjadi. Hal ini seringkali menimbulkan kebingungan dan kecemasan sehingga dapat mempengaruhi cara bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu faktor agama juga mempengaruhi komunikasi ,secara umum ajaran moral yang terkandung dalam suatu Agama dapat digolongkan menjadi dua bagian yang pertama adalah berupa aturan-aturan pokok yang harus dipedomani dalam proses ritual dan yang kedua adalah aturan moral yang lebih bersifat umum, karena kepentinganya menyangkut orang banyak yang bisa jadi berbeda agama. 3.2 Saran Seorang perawat tidak mungkin mampu melakukan tugas dan tanggungjawabnya sendiri tanpa bantuan dari rekan perawat maupun other health care providers. Perawat juga perlu memahami bahwa ketika terjalin komunikasi yang baik antara perawat dan pasien, maka tingkat kepuasan pasien akan meningkat dan pasien akan segera sembuh. Namun jika suatu komunikasi tidak berjalan lancar antara perawat dan pasien, maka hal tersebut akan berakibat fatal karena pasien bisa menjadi lebih stres dan tingkat kepuasan pasien akan menurun. Sehingga komunikasi sangat diperlukan dalam hal ini, dan oleh sebab itu sangat diperlukan adaptasi yang baik dari seorang perawat lintas budaya. 30 DAFTAR PUSTAKA [1] P. Burnard and P. Gill, Culture Communication and nursing. 2014. doi: 10.4324/9781315847498. [2] A. P. Nurlaily, “Keperawatan transkultural,” Stikes Kusumahusada Surakarta, pp. 1–148, 2018, [Online]. Available: https://eprints.ukh.ac.id/id/eprint/682/1/MODUL AJAR TRANSKULTURAL ARI PEBRU NURLAILY nnnn.pdf [3] J. Holmes and N. Wilson, An Introduction to Sociolinguistics. Title: Colloquial Dutch : the complete course for beginners / Bruce Donaldson. Description: Third edition. | Milton Park, Abingdon, Oxon ; New York, NY : Routledge, 2017. doi: 10.4324/9781315728438. [4] Hofstede G., “National culture,” geerthofstede, 2021, [Online]. Available: https://geerthofstede.com/national-culture.html [5] L. M. Schneider, F. W., Gruman, J. A., & Coutts, “Applied Social Psychology: Understanding and Addressing Social and Practical Problems,” Sage Publ., 2012. [6] M. Hoftede, G., Hofstede, G.J., & Minkov, “Cultures and Organizations: Software of the Mind,” McGraw-Hill Educ., 2020. [7] H. C. Triandis, “Culture and Social Behavior: The Ontario Symposium,” Psychol. Press, 2018. [8] A. Bandura, “Social Cognitive Theory of Personality,” Routledge, 2016. [9] T. Gudykunst, W. B., & Nishida, “Bridging Differences: Effective Intergroup Communication,” Sage Publ., 2013. [10] M. Castells, “The Information Age: Economy, Society, and Culture Volume I. WileyBlackwell.,” Rise Netw. Soc., 2010. [11] P. gill Philip Burnard, “Culture communication and nursing,” p. 8,14,41, 2016. [12] G. Hofstede, “Culture’s Consequences: Comparing Values, Behaviors, Institutions and Organizations Across Nations,” Sage Publ., 2001. [13] E. T. Hall, “Beyond culture,” Anchor Books., 1976. [14] P. Burnard and P. Gill, Culture, Communication and Nursing. Routledge, 2014. doi: 10.4324/9781315847498. [15] U. L. Rahmah, A., Pisyah, A., & Mangkurat, “Peran Agama Dalam Membentuk Identitas Sosial,” J. Univ. Lambung Mangkurat, 1(2023), 1–10., 2023. [16] S. Syauqani, “PENGARUH PERBEDAAN AGAMA DAN ETNIS MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN PEKERJAAN SOSIAL,” Din. Penelit. Media Komun. Penelit. Sos. Keagamaan, vol. 19, no. 1, pp. 25–46, Jul. 2019, doi: 31 10.21274/dinamika.2019.19.1.25-46. [17] J. A. Bartlett, “Spirituality in Nursing : Standing,” pp. 1–22, 2008. 32
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )