PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah sumber daya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup semua makhluk hidup. Air juga sangat diperlukan untuk kegiatan industri, perikanan, pertanian dan usaha-usaha lainnya. Dalam penggunaan air sering terjadi kurang hati-hati dalam pemakaian dan pemanfaatannya sehingga diperlukan upaya untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air melalui pengembangan, pelestarian, perbaikan dan perlindungan. Dalam pemanfaatan air khususnya lagi dalam hal pertanian, dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan serta pengembangan wilayah, Pemerintah Indonesia melakukan usaha pembangunan di bidang pengairan yang bertujuan agar dapat langsung dirasakan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air. Dalam memenuhi kebutuhan air khususnya untuk kebutuhan air di persawahan maka perlu didirikan sistem irigasi dan bangunan bendung. Kebutuhan air di persawahan ini kemudian disebut dengan kebutuhan air irigasi. Untuk irigasi, pengertiannya adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Tujuan irigasi adalah untuk memanfaatkan air irigasi yang tersedia secara benar yakni seefisien dan seefektif mungkin agar produktivitas pertanian dapat meningkat sesuai yang diharapkan. Air irigasi di Indonesia umumnya bersumber dari sungai, waduk, air tanah dan sistem pasang surut. Salah satu usaha peningkatan produksi pangan khususnya padi adalah tersedianya air irigasi di sawahsawah sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan air yang diperlukan pada areal irigasi besarnya bervariasi sesuai keadaan. Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air tanah. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 1 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Jika besarnya kebutuhan air irigasi diketahui maka dapat diprediksi pada waktu tertentu, kapan ketersediaan air dapat memenuhi dan tidak dapat memenuhi kebutuhan air irigasi sebesar yang dibutuhkan. Jika ketersediaan tidak dapat memenuhi kebutuhan maka dapat dicari solusinya bagaimana kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi. Kebutuhan air irigasi secara keseluruhan perlu diketahui karena merupakan salah satu tahap penting yang diperlukan dalam perencanaan dan pengelolaan sistem irigasi. 1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari pengerjaan tugas besar Rekayasa Irigasi adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana merencanakan system jaringan irigasi dalam pemenuhan kebutuhan air lahan persawahan? 2. Bagaimana mendesain perancangan jaringan irigasi yang sesuai dengan kriteria perencanaan irigasi? 3. Bagaimana merencanakan saluran primer, sekunder, dan tersier? 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari pengerjaan tugas besar Rekayasa Irigasi adalah sebagai berikut: 1. Merencanakan sistem jaringan irigasi dalam pemenuhan kebutuhan air lahan persawahan di suatu daerah yang tersedia. 2. Mendesain perencanaan jaringan irigasi yang sesuai dengan kriteria perencanaan irigasi. 3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuluah Rekayasa Irigasi. 1.4. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari pengerjaan tugas besar Rekayasa Irigasi adalah sebagai berikut: 1. Dapat mengetahui cara pengerjaan dari pembuatan irigasi yang baik dan benar untuk lingkungan sekitar kita. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 2 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 2. Menjadikan tugas besar ini pendukung dalam pembelajaran perencanaan irigasi dan membuka wawasan yang lebih luas terhadap perencaan irigasi, juga bisa mengaplikasikan nya terhadap lingkungan. 3. Sebagai area penelitian dan pengembangan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman. 1.5. Batasan Masalah Adapun batasan masalah dari perngerjaan tugas besar Rekayasa Irigasi adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan petak irigasi, saluran yang direncanakan adalah saluran primer dan saluran sekunder di Kabupaten Tanggamus. 2. Perencanaan petak irigasi, perencanaan petak yang dimaksud adalah perencanaan luas dan batas petak. 3. Perhitungan dimensi saluran dan tinggi muka air. 4. Desain perencanaan bangunan irigasi. 5. Pada pengerjaan tugas besar Rekayasa Irigasi ini menggunakan data curah hujan dan data klimatologi selama 10 tahun mulai dari tahun 2012 sampai dengan 2021 6. Daerah yang diteleti merupakan Kabupaten Tanggamus di Provinsi Lampung. 1.6. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan pada tugas besar Rekayasa Irigasi ini yaitu: 1. BAB I PENDAHULUAN Berisi tentang pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan. 2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berisi tentang penyajian studi pustaka, teori dasar, dan dasar pemikiran tentang irigasi serta acuan yang dipakai dalam perencanaan irigasi. 3. BAB III METODOLOGI Berisi tentang penyajian yang terdiri dari data hidrologi, data klimatologi, peta topografi dan digram alir. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 3 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 4. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berisi tentang hasil dan pembahasan yang terdiri dari Analisa hidrologi, perhitungan kebutuhan air, layout jaringan irigasi, perhitungan debit saluran, dan dimensi saluran, perencanaan bangunan sadap, bangunan bagi, dan bangunan pintu sorong. 5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berisi tentang kesimpulan dan saran yang didapat dari hasil laporan tugas besar Rekayasa Irigasi. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 4 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Daerah Irigasi Irigasi adalah menyalurkan air yang perlu untuk pertumbuhan tanaman ke tanah yang diolah dan mendistribusinya secara sistematis (Sosrodarsono dan Takeda, 2003). Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak (PP No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi). Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi. Daerah irigasi merupakan suatu wilayah daratan yang kebutuhan airnya dipenuhi oleh sistem irigasi. Daerah irigasi biasanya merupakan area persawahan yang membutuhkan banyak air untuk produksi padi. Untuk meningkatkan produksi padi pada area persawahan dibutuhkan suatu sistem irigasi yang handal, yaitu sistem irigasi yang dapat memenuhi kebutuhan air irigasi sepanjang tahun. Secara umum ada beberapa yang masuk kedalam daerah irigasi diantaranya sebagai berikut: 1. Petak Primer Petak primer yaitu petak irigasi yang dialiri oleh saluran primer dengan sistem pengairannya mengambil air langsung dari sungai. Dengan syarat luas petak primer >150 ha. 2. Petak Sekunder Petak sekunder yaitu petak irigasi yang dialiri oleh saluran sekunder dan terdiri dari beberapa petak tersier dengan syarat luas petak 75 – 50 ha. 3. Petak Tersier Petak tersier yaitu petak irigasi yang berbatasan langsung dengan saluran sekunder atau saluran primer dengan syarat luas petak 25 – 75 ha. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 5 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 2.2. Istilah – Istilah Irigasi Irigasi berasal dari istilah irrigatie dalam bahasa Belanda atau irrigation dalam bahasa Inggris. Irigasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mendatangkan air dari sumbernya guna keperluan pertanian, mengalirkan dan membagikan air secara teratur dan setelah digunakan dapat pula dibuang kembali. Istilah pengairan yang sering pula diartikan sebagai usaha pemanfaatan air pada umumnya. Berikut merupakan istilah – istilah irigasi yaitu sebagai berikut: 1. Daerah Studi adalah Daerah Proyek ditambah dengan seluruh daerah aliran sungai (DAS) dan tempat-tempat pengambilan air ditambah dengan daerahdaerah lain yang ada hubungannya dengan daeah studi. 2. Daerah Proyek adalah daerah dimana pelaksanaan pekerjaan dipertimbangkanatau diusulkan dan daerah tersebut akan mengambil manfaat langsung dari proyek tersebut. 3. Daerah Irigasi Total/brutto adalah daerah proyek dikurangi dengan perkampungan dan tanah-tanah yang dipakai untuk mendirikan bangunan daerah yang tidak diairi,jalan utama, rawa-rawa dan daerah-daerah yang tidak akan dikembangkan untuk irigasi dibawah proyek yang bersangkutan. 4. Daerah Irigasi Netto/Bersih adalah tanah yang ditanami (padi) dan ini adalah daerah total yang bisa diairi dikurangi dengan saluran-saluran irigasi dan pembuang (primer, sekunder, tersier dan kuarter) jalan inspeksi, jalan setapak dan tanggul sawah. Daerah ini dijadikan dasar perhitungan. kebutuhan air, panenan dan manfaat/keuntungan yang dapat diperoleh dari proyek yang bersangkutan. Sebagai angka standar, luas netto daerah yang dapat diairi diambil 0,9 kali luas total daerah-daerah yang dapat diairi. 5. Daerah Potensial adalah daerah yang mempunyai kemungkinan baik untuk dikembangkan. Luas daerah ini sama dengan Daerah Irigasi Netto tetapi biasanya belum sepenuhnya dikembangkan akibat terdapatnya hambatanhambatan nonteknis. 6. Daerah Fungsional adalah bagian dari Daerah Potensial yang telah memiliki jaringan irigasi yang telah dikembangkan. Daerah fungsional luasnya sama atau lebih kecil dari Daerah Potensial Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 6 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 7. Petak irigasi adalah petak sawah atau daerah yang akan dialiri dari suatu sumber air, baik waduk maupun langsung dari satu atau beberapa sungai melalui bangunan pengambilan bebas. 8. Jaringan tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana air dalam saluran tersier, saluran kuarter, dan saluran pembuang. 9. Petak primer merupakan gabungan dari beberapa petak sekunder yang dialiri oleh satu saluran primer. Apabila saluran primer melewati daerah garis tinggi maka seluruh daerah yang berdekatan langsung dilewati saluran primer. Saluran primer menyadap air dari sumber air utama. 10. Petak sekunder adalah petak yang terdiri dari beberapa petak tersier yang berhubungan langsung dengan saluran sekunder. Petak sekunder mendapatkan air dari saluran primer yang airnya dibagi oleh bangunan bagi dan dilanjutkan oleh saluran sekunder. 11. Petak tersier adalah kumpulan petak irigasi yang merupakan satu kesatuan dan memperoleh air irigasi melalui saluran tersier yang sama. Petak tersier haruslah juga berbatasan dengan petak sekunder. 12. Penyediaan air irigasi adalah penentuan banyaknya air persatuan waktu dan satuan pemberian air yang digunakan untuk menunjang lahan pertanian. 13. Pembagian air irigasi adalah pemberian alokasi air dari jaringan utama ke petak tersier dan kuarter. 2.3. Kebutuhan Air Untuk Irigasi Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air tanah (Sosrodarsono dan Takeda, 2003). Kebutuhan air sawah untuk padi ditentukan oleh faktor-faktor berikut : A. Penyiapan lahan B. Penggunaan konsumtif C. Perkolasi dan rembesan D. Pergantian lapisan air E. Curah hujan efektif. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 7 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Kebutuhan air yang diperlukan pada areal irigasi besarnya bervariasi sesuai keadaan. Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air tanah kebutuhan air irigasi juga bergantung kepada cara pengolahan lahan. Jika besarnya kebutuhan air irigasi diketahui maka dapat diprediksi pada waktu tertentu, kapan ketersediaan air dapat memenuhi dan tidak dapat memenuhi kebutuhan air irigasi sebesar yang dibutuhkan. Jika ketersediaan tidak dapat memenuhi kebutuhan maka dapat dicari solusinya bagaimana kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi. Kebutuhan air irigasi secara keseluruhan perlu diketahui karena merupakan salah satu tahap penting yang diperlukan dalam perencanaan dan pengelolaan sistem irigasi. 2.3.1. Evapotranspirasi. Evapotranspirasi merupakan gabungan dari proses evaporasi dan transpirasi. Asdak (2004) mengemukakan bahwa evapotranspirasi adalah jumlah air total yang dikembalikan lagi ke atmosfer yang berasal dari permukaan tanah, badan air dan vegetasi akibat adanya pengaruh faktor iklim dan fisiologis vegetasi. Evapotranspirasi dibedakan menjadi evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi aktual. Evapotranspirasi potensial adalah evapotranspirasi yang terjadi dengan anggapan ketersediaan air dan kelembapan tanah yang cukup sepanjang waktu. Sedangkan evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi yang terjadi dengan kondisi air dan kelembapan tanah yang tersedia dan lebih dipengaruhi oleh fisiologi tanaman dan unsur tanah (Soewarno, 2000). Evapotranspirasi dapat menggambarkan jumlah air yang hilang dari badan air karena adanya vegetasi. Jenis vegetasi mempengaruhi jumlah evapotranspirasi secara signifikan. Karena air ditranspirasikan melalui daun yang mengalir dari akar, tumbuhan yang akarnya menancap dalam ke bawah tanah mentranspirasikan air lebih banyak. Tanaman semak umumnya mentranspirasikan air lebih sedikit dari tanaman berkayu karena semak tidak memiliki akar yang sedalam tanaman kayu, dan daun yang posisinya setinggi tanaman kayu. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 8 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Oleh karena itu, data evapotranspirasi sangat dibutuhkan Metode ini adalah metode yang bervariasi tergantung dari temperatur, lama penyinaran matahari, kelembaban relatif, dan kecepatan angin. Rumus dari metode ini adalah: ETo = c (W.Rn + (1 − W) f (u)(ea − ed) (2.1) Keterangan: c = Faktor koreksi akibat keadaan iklim siang atau malam W = Faktor bobot Rn = Radiasi netto F(u) = Fungsi kecepatan angin ea = Tekanan uap jenuh ed = Tekanan uap actual 2.3.2. Penggunaan Konmsumtif Penggunaan konsumtif adalah jumlah air yang dipakai oleh tanaman untuk proses fotosintesis dari tanaman tersebut. Penggunaan konsumtif dihitung dengan rumus berikut : Etc = Kc × ETo (2.2) Keterangan : Kc = Koefisien tanaman ETo= Evapotranspirasi potensial (Penmann modifikasi) (mm/hari) 2.3.3. Perlokasi Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh, yang tertekan di antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh). Daya perkolasi (P) adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan, yang besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam zona tidak jenuh yang terletak antara permukaan tanah dengan permukaan air tanah. Pada tanah lempung berat dengan karakteristik pengelolahan (Puddling) yang baik, laju perkolasi dapat mencapai 1-3 mm/ hari. Pada tanah yang lebih ringan laju perkolasi bisa lebih tinggi. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 9 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Tabel 2.1. Harga Perkolasi dari Berbagai Jenis Tanah. No. Macam Tanah Perkolasi (mm/hr) 1. Sandy Loam 3-6 2. Loam 2-3 3. Clay 1-2 Sumber: Soemarto, 1987 Menurut Sufyandi (2003), pori-pori tanah pada sawah irigasi akan berangsurangsur terisi oleh butir-butir sedimen halus yang terbawa oleh aliran air irigasi ataupun 9 akibat adanya penggenangan. Hal tersebut membuat kondisi fisik tanah akan stabil dan kedap, sehingga nilai perkolasi akan menjadi relatif sama walaupun pada satuan tanah yang berbeda. Menurut Susilowati (2004), semakin tua umur sawah, maka kondisi fisik tanahnya akan makin stabil dan kedap air, sehingga laju perkolasi akan relatif stabil dan konstan walaupun pada satuan tanah yang berbeda. 2.3.4. Hujan Efektif Curah hujan efektif ditentukan besarnya R80 yang merupakan curah hujan yang besarnya dapat dilampaui sebanyak 80% atau dengan kata lain dilampauinya 8 kali kejadian dari 10 kali kejadian. Dengan kata lain bahwa besarnya curah hujan yang lebih kecil dari R80 mempunyai kemungkinan hanya 20%. Curah hujan efektif untuk padi adalah 70% dari curah hujan tengah bulanan yang terlampaui 80% dari waktu periode tersebut. Untuk curah hujan efektif untuk palawija ditentukan dengan periode bulanan (terpenuhi 50%) dikaitkan dengan tabel ET tanaman rata-rata bulanan dan curah hujan rata-rata bulanan (USDA (SCS), 1696). m (2.3) n+1 m = R80 x (n+1) (2.4) R80 = Keterangan : R80 = Curah Hujan 80% n = Jumlah data m = ranking curah hujan yang dipilih Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 10 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Analisis curah hujan dilakukan dengan maksud untuk menentukan: a. Curah hujan efektif, yang digunakan untuk menentukan kebutuhan air irigasi. b. Curah hujan lebih, yang digunakan untuk menentukan besar kebutuhan pembuangan dan debit banjir. c. Menentukan stasiun hujan yang paling dekat dengan bending. d. Mengurutkan data curah hujan dari yang terkecil sampai terbesar. e. Menentukan tingkat probabilitas terlampaui tiap data. Mencari nilai curah hujan dengan P=50% dan P=80% Jika tidak adalah curah hujan dengan P=50% dan P=80% maka digunakan interpolasi menggunakan nilai curah hujan dengan tingkat probabilitas terdekat. Untuk padi: Re padi = (R80 x 0,7)/ periode pengamatan (2.5) Re palawija = (R80 x 0,5)/ periode pengamatan (2.6) Untuk palawija: Keterangan : Re = Curah Hujan Efektif (mm/hr) R80 = Curah Hujan dengan Kemungkinan Terjaid 80% 2.3.5. Kebutuhan Air Untuk Pengolahan Lahan Untuk menghitung kebutuhan irigasi selama penyiapan lahan, digunakan metode yang dikembangkan oleh Van de Goor dan Zijlsha (1968). Metode tersebut didasarkan pada laju air konstan dalam liter/detik selama periode penyiapan lahan dan menghasilkan rumus sebagai berikut : IR = M x ek / (ek-1) (2.7) IR = kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan (mm/hari) M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan M=Eo+P (2.8) Keterangan: Eo = evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 Eto selama penyiapan (mm/hari) P = perkolasi (mm/hari) k = M.T / S (2.9) Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 11 Keterangan : PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 T = jangka waktu penyiapan lahan (hari) S = kebutuhan air, untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm. Menurut PSA-010, waktu yang diperlukan untuk pekerjaan penyiapan lahan adalah selama satu bulan (30 hari). Kebutuhan air untuk pengolahan tanah bagi tanaman padi diambil 200 mm, setelah tanam selesai lapisan air di sawah ditambah 50 mm. Jadi kebutuhan air yang diperlukan untuk penyiapan lahan dan untuk lapisan air awal setelah tanam selesai seluruhnya menjadi 250 mm. Sedangkan untuk lahan yang tidak ditanami (sawah bero) dalam jangka waktu 2,5 bulan diambil 300 mm. 2.3.6. Kebutuhan Air di Sawah Kebutuhan Air Untuk Seluruh Area Persawahan/ Project Water Requirement (PWR) adalah air yang dibutuhkan untuk seluruh areal irigasi. PWR adalah nilai kebutuhan air total setelah dikalikan luas wilayah pengairan. Nilai PWR dihitung berdasarkan nilai FWR, curah hujan efektif (P Ef) dan efisiensi penyaluran air (Efp). Efisiensi penyaluran air mempengaruhi besarnya debit yang sampai pada area pengairan. Curah hujan diperhitungkan sebagai sumber air tambahan bagi petak sawah irigasi. Untuk mencari nilai PWR, maka nilai kebutuhan untuk petak sawah (FWR) harus terlebih dahulu dikurangi dengan nilai hujan efektif yang jatuh pada lahan pertanian. Kebutuhan total air di sawah (GFR) mencakup faktor 1 sampai 4. Kebutuhan bersih (netto) air di sawah (NFR) juga memperhitungkan curah hujan efektif. Besarnya kebutuhan air di sawah bervariasi menurut tahap pertumbuhan tanaman dan bergantung kepada cara pengolahan lahan. Besarnya kebutuhan air di sawah dinyatakan dalam mm/hari. 1. Kebutuhan air untuk tanaman padi selama masa pertumbuhan Debit kebutuhan air irigasi selama masa pertumbuhan termasuk di dalam debit tersebut air yang hilang dalam perjalanan. Nilai NFR didapatkan rumus di bawah ini: NFR = ETC + P – Re + WLR (2.10) Keterangan: NFR = Net Field Water Requirement (kebutuhan dasar air sawah) (lt/dt/ha) ETC = Penggunaan air konsumtif tanaman (mm/hari) Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 12 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 P = Perkolasi (mm/hari) Re = Curah hujan efektif (mm/hari) WLR = Penggantian lapisan air (mm/hari) 2. Kebutuhan air irigasi untuk padi adalah: IR = NFR / e (2.11) Keterangan: IR = Kebutuhan air irigasi (mm/hr) e = Efisiensi irigasi secara keseluruhan 3. Kebutuhan air irigasi untuk palawija (2.12) 4. IR = (ETc – Re) / e Kebutuhan pengambilan air pada sumbernya DR = IR / 8,64 = Kebutuhan pengambilan air pada sumbernya (lt/dt/ha) (2.13) DR 1/8,64 = Angka konversi satuan dari mm/hari ke lt/dt/ha 2.3.7. Efisiensi Irigasi Efisiensi irigasi secara umum mempunyai pengertian sebagai perbandingan antara jumlah air yang masuk ke dalam lahan pertanian dengan jumlah yang keluar dari pintu pengambilan yang dinyatakan dengan %. Efisiensi pada penampungan adalah perbandingan antara banyaknya air yang tertampung oleh zone perakaran terhadap besarnya tambahan kebutuhan air yang tertampung oleh zone perakaran terhadap besarnya tambahan kebutuhan air di zone akar tanaman. Sebelum air mengalir sampai ke petak-petak sawah, haruslah dialirkan dari sumber air melewati saluran-saluran. Dalam pengaliran air, banyak terjadi kehilangan air yang disebabkan oleh rembesan, eksploitasi, serta penguapan dari permukaan air. Secara garis besar efisiensi merupakan gabungan dari ketiga efisiensi yang telah di sebut di atas,yaitu: 1. Efisiensi tempat penampungan 2. Efisiensi saluran pembawa 3. Efisiensi pemakai air 4. Berdasarkan hal di atas,efisiensi irigasi dapat ditulis dengan persamaan: Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 13 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Pemakaian air hendaknya diusahakan seefisien mungkin, terutama untuk daerah dengan ketersediaan air yang terbatas. Kehilangan-kehilangan air dapat diminimalkan melalui : 1. Perbaikan sistem pengelolaan air : A. Sisi operasional dan pemeliharaan (O&P) yang baik B. Efisiensi operasional pintu C. Pemberdayaan petugas (O&P) D. Penguatan institusi (O&P) E. Meminimalkan pengambilan air tanpa ijin F. Partisipasi P3A 2. Perbaikan fisik prasarana irigasi : A. Mengurangi kebocoran disepanjang saluran B. Meminimalkan penguapan C. Menciptakan sistem irigasi yang andal, berkelanjutan, diterima petani Pada umumnya kehilangan air di jaringan irigasi dapat dibagi-bagi sebagai berikut: 1. 12,5 - 20 % di petak tersier, antara bangunan sadap tersier dan sawah 2. 5 - 10 % di saluran sekunder 3. 5 - 10 % di saluran utama 2.4. Pola Tanam Untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman, penentuan pola tanaman adalah hal yang perlu dipertimbangkan. Tabel dibawah merupakan contoh pola tanam yang sering digunakan. No. 1. Tabel 2.2. Urutan Pola Tanam Ketersediaan Air Untuk Pola Tanam Dalam Satu Tahun Jaringan Irigasi Tersedia air cukup banyak Padi- padi - palawija 2. Tersedia air dalam jumlah cukup 3. Daerah yang cenderung kekurangan air Padi – padi -bera Padi – palawija – palawija Padi – palawija – bera palawija – padi – bera Sumber: S.K. Sidharta, Irigasi dan Bangunan Air; 1997 Pola tanam yang digunakan pada laporan ini adalah padi - bera – padi yang artinya ketersediaan air untuk jaringan irigasi pada Kabupaten Lampung Tengah termasuk kedalam jenis daerah yang cenderung kekurangan air. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 14 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 2.5. Kebutuhan Debit Kebutuhan debit maksimum di sungai atau saluran alamiah dengan periode ulang (rata-rata) yang sudah ditentukan yang dapat dialirkan tanpa membahayakan proyek irigasi dan stabilitas bangunan- bangunan. Presentase kemungkinan tak terpenuhi (rata-rata) yang dipakai untuk perencanaan irigasi adalah : 1. Bagian atas pangkal bangunan 0,1% 2. Bangunan utama dan bangunan-bangunan disekitarnya 1% 3. Jembatan jalan Bina Marga 2% 4. Bangunan pembuang silang, pengambilan di sungai 4% 5. Bangunan pembuang dalam proyek 20% 6. Bangunan sementara 20% - 40% Jika saluran irigasi primer bisa rusak akibat banjir sungai, maka perentase kemungkinan tak terpenuhi sebaiknya diambil kurang dari 4%, kadang-kadang turun sampai 1% debit banjir ditetapkan dengan cara menganalisis debit puncak, dan biasanya dihitung berdasarkan hasil pengamatan harian tinggi muka air. Untuk keperluan analisis yang cukup tepat dan andal, catatan data yang dipakai harus paling tidak mencakup waktu 20 tahun. Tabel 2.3. Banjir Rencana Catatan Banjir 1a Metode Parameter Perencanaan Data cukup Analisis frekuensi dengan Debit puncak dengan (20 tahun distribusi frekuensi eksterm kemungkinan tak atau lebih) terpenuhi 20% - 4% 1% - 0,1% 1b Data Analisis frekuensi dengan Seperti pada 1a dengan terbatas metode “debit diatas ambang” ketepatan yang kurang (kurang (peak over threshold method) dari itu Data tidak Hubungan empiris antara curah Seperti pada 1a dengan ada hujan – limpasan air hujan ketepatan yang kurang Gunakan metode Der Weduwen dari itu dari 20 tahun) 2 Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 15 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Catatan Banjir Metode Parameter Perencanaan untuk daerah aliran < 100 km², Metode Melchior atau metode yang sesuai untuk daerah aliran > 100 km² 3 Data tidak Metode kapasitas saluran SNI Debit puncak ada 03 – 1724 – 1989 SNI 03 – kemungkinan tak 3432 – 1994 Hitung banjir terpenuhi diperkirakan puncak dari tinggi air maksimum, potongan melintang & kemiringan sungai yang sudah diamati/diketahui. Metode tidak tepat hanya untuk mengecek 1b & 2 atau untuk memasukan data historis banjir dalam 1a Sumber: Kriteria Perencanaan Irigasi KP-01 Faktor lain yang lebih sulit adalah tidak adanya hasil pengamatan tinggi muka air (debit) puncak dari catatan data yang tersedia. Data debit puncak yang hanya mencakup jangka waktu yang pendek akan mempersulit dan bahkan berbahaya bagi si pengamat. Pembesaran debit banjir dapat menyebabkan kinerja irigasi berkurang yang mengakibatkan desain bangunan kurang besar. Antisipasi keadaan ini perlu dilakukan dengan memasukan faktor koreksi besaran 110% - 120% untuk debit banjir. Faktor koreksi tersebut tergantung pada kondisi perubahan DAS. 2.6. Debit Saluran Debit adalah volume air yang mengalir melalui penampang melintang tertentu per satuan waktu (m3 /detik, liter/detik). Pengukuran debit merupakan kegiatan yang penting dalam operasi irigasi karena debit menunjukkan kinerja pengelolaan irigasi seperti kecukupan, kemerataan, ketepatan waktu, dan sebagainya. Agar pengelolaan irigasi menjadi efektif, maka debit harus diukur pada: a. Hulu saluran primer Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 16 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 b. Cabang saluran c. Bangunan sadap tersier Untuk itu perlu suatu bangunan pengukur debit, yang berfungsi untuk memastikan bahwa suplai debit dapat disalurkan sesuai dengan rencana alokasi. Kapasitas debit drainase ini menentukan dimensi saluran dan kemiringan memanjang dari saluran. Dalam hal memfasilitasi internal drain maka digunakan perhitungan dengan cara drainase modul sedangkan untuk eksternal drain digunakan metode rasional. Perhitungan debit dapat dilihat pada KP-01. Untuk menghitung denit saluran digunakan rumus sebagai berikut : 1. Saluran Primer A x NFR (2.14) A x NFR (2.15) A x NFR (2.16) Q = Eff Primer x Eff Sekunder x Eff Tersier 2. Saluran Sekunder Q = Eff Sekunder x Eff Tersier 3. Saluran Tersier Q = Eff Tersier 2.7. Dimensi Saluran Untuk pengaliran air irigasi, saluran berpenampung trapesium adalah bangunan pembawa yang paling umum dipakai dan ekonomis. Saluran tanah sudah umum dipakai untuk saluran irigasi karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan saluran pasangan. Untuk merencanakan kemiringan saluran mempunyai asumsi – asumsi mengenai parameter perhitungan, yang terlihat seperti pada tabel berikut: Tabel 2.4. Parameter Perhitungan Untuk Kemiringan Saluran Q (m3/s) Kemiringan Talud (m) Perbandingan lebar Dasar Saluran Dengan Kedalaman Air (n) Koefisien Kekasaran Stickler (k) 0,15 – 0,30 1 1 35 0,30 – 0,50 1 1,0 – 1,2 35 0,50 – 0,75 1 1,2 – 1,3 35 0,75 – 1,00 1 1,3 – 1,5 35 Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 17 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Q (m3/s) Kemiringan Talud (m) Perbandingan lebar Dasar Saluran Dengan Kedalaman Air (n) Koefisien Kekasaran Stickler (k) 1,00 – 1,50 1 1,5 – 1,8 40 1,50 – 3,00 1,5 1,8 – 2,3 40 3,00 – 4,50 1,5 2,3 – 2,7 40 4,50 – 5,00 1,5 2,7 – 2,9 40 5,00 – 6,00 1,5 2,9 – 3,1 42,5 6,00 – 7,50 1,5 3,1 – 3,5 42,5 7,50 – 9,00 1,5 3,5 – 3,7 42,5 9,00 – 10,00 1,5 3,7 – 3,9 42,5 10,00 – 11,00 2 3,9 – 4,2 45 11,00 – 15,00 2 4,2 – 4,9 45 15,00 – 25,00 2 4,9 – 6,5 45 25,00 – 40,00 2 6,5 – 9,6 45 Sumber : S.K. Sidharta, Irigasi dan Bangunan Air, 1997 Dimensi saluran dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Rumus Stickler : V = k. R2/3. I1/2 Keterangan : V : Kecepatan pengaliran (m/s) I : Kemiringan dasar saluran (rencana) k : Koefisien kekasaran stickler R : A/P A : b.h + m.h2 atau h2 ( n + m ) P : b + 2h ( 1 + m2 )1/2 atau h ( n + 2 ( 1 + m2 )1/2 n : b/h m : Kemiringan talud b : Lebar dasar saluran (m) h : Tinggi air (m) Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 (2.17) 18 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 2.8. Perencanaan Jaringan Irigasi Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan air irigasi. 2.8.1. Data yang Diperlukan Dalam perencanaan jaringan irigasi kita memerlukan beberapa data sebagai berikut: 1. Peta topografi daerah. 2. Jumlah air yang dapat dimanfaatkan berdasarkan debit sumber airnya. 3. Lokasi sumber air/lokasi pengambilannya. 4. Keadaan tanah daerah pengairan untuk memperkirakan banyaknya air yang hilang melalui rembesan, bocoran serta menentukan bentuk tampang saluran. 5. Data hidrologi terutama menyangkut potensi penyediaan air dan kesetimbangan air. 6. Kebutuhan air pada areal irigasi sesuai jenis tanaman dan pada perencanaan ini didasarkan kebutuhan air untuk tanaman padi. 7. Keadaan air terutama menyangkut kualitasnya. 8. Data klimatologi. 9. Peta lahan tanah. 2.8.2. Perencanaan Jaringan Tersier Petak tersier diberi nama seperti bangunan sadap tersier dari jaringan utama. Misalnya petak tersier S1 kiri mendapat air dari pintu kiri bangunan bagi BS 1 yang terletak di saluran Sambak. a. Ruas-ruas saluran tersier diberi nama sesuai dengan nama boks yang terletak di antara kedua boks. misalnya (T1 - T2), (T3 - K1). b. Boks Tersier diberi kode T, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam, mulai dari boks pertama di hilir bangunan sadap tersier: T1, T2 dan sebagainya. c. Petak kuarter diberi nama sesuai dengan petak rotasi, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam. Petak rotasi diberi kode A, B, C dan seterusnya menurut arah jarum jam. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 19 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 d. Boks kuarter diberi kode K, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam, mulai dari boks kuarter pertama di hilir boks tersier dengan nomor urut tertinggi: K1, K2 dan seterusnya. Gambar 2.1. Sistem Tata Nama Petak Rotasi dan Kuarter Sumber: Kriteria Perencanaan Irigasi KP-01 e. Saluran irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dilayani tetapi dengan huruf kecil, misalnya a1, a2 dan seterusnya. f. Saluran pembuang kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dibuang airnya, menggunakan huruf kecil diawali dengan dk, misalnya dka1, dka2 dan seterusnya. g. Saluran pembuang tersier, diberi kode dt1, dt2 juga menurut arah jarum jam. 2.8.3. Perencanaan Jaringan Sekunder Dari saluran primer air disadap oleh saluran-saluran sekunder untuk mengairi daerah-daerah yang sedapat mungkin dikelilingi oleh saluran-saluran alam yang dapat digunakan untuk membuang air hujan dan air yang kelebihan. Untuk mengairi petak sekunder yang jauh dari bangunan penyadap, kita gunakan saluran muka supaya tidak perlu membuat bangunan penyadap, sehingga diperlukan saluran sekunder. Fungsi utama dari saluran sekunder adalah membawa air dari saluran primer dan membagikannya ke saluran tersier. Sedapat mungkin saluran pemberi merupakan saluran punggung sehingga dengan demikian kita bisa membagi air pada kedua belah sisi. Yang dimaksud dengan saluran punggung adalah saluran yang memotong atau melintang terhadap garis tinggi sedemikian rupa sehingga melalui daerah (titik tertinggi) dari daerah sekitarnya. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 20 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 2.8.4. Perencanaan Jaringan Utama Berfungsi membawa air dari sumbernya dan membagikannya kesaluran sekunder. Air yang dibutuhkan untuk saluran irigasi didapat dari sungai, danau atau waduk. Pada umumnya pengairan yang didapat dari sungai jauh lebih baik dari yang lainnya. Air dari sungai mengandung banyak zat lumpur yang biasanya merupakan pupuk bagi tanaman sehingga gunanya terutama ialah menjaga agar tanaman tidak mati kekeringan dalam musim kering. Gambar 2.2. Saluran Primer dan Sekunder Sumber: Kriteria Perencanaan Irigasi KP-01 2.9. Perencanaan Bangunan Sadap Bangunan bagi dan sadap pada irigasi teknis dilengkapi dengan pintu dan alat pengukur debit untuk memenuhi kebutuhan air irigasi sesuai jumlah dan pada waktu tertentu. Namun dalam keadaan tertentu sering dijumpai kesulitan-kesulitan dalam operasi dan pemeliharaan sehingga muncul usulan sistem proporsional. Y aitu bangunan bagi dan sadap tanpa pintu dan alat ukur tetapi dengan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Elevasi ambang ke semua arah harus sama. 2. Bentuk ambang harus sama agar koefisien debit sama. 3. Lebar bukaan proporsional dengan luas sa wah yang diairi. Tetapi disadari bahwa sistem proporsional tidak bisa diterapkan dalam irigasi yang melayani lebih dari satu jenis tanaman dari penerapan sistem golongan. Untuk itu kriteria ini menetapkan agar diterapkan tetap memakai pintu dan alat ukur debit dengan memenuhi tiga syarat proporsional. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 21 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 1. Bangunan bagi terletak di saluran primer dan sekunder pada suatu titik cabang dan berfungsi untuk membagi aliran antara dua saluran atau lebih. 2. Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder ke saluran tersier penerima. 3. Bangunan bagi dan sadap mungkin digabung menjadi satu rangkaian bangunan. 4. Boks-boks bagi di saluran tersier membagi aliran untuk dua saluran atau lebih (tersier, subtersier dan/atau kuarter). 2.10. Perencanaan Bangunan Bagi Bangunan bagi sadap terdiri dari bangunan sadap tersier; bangunan/pintu sadap ke saluran sekunder dengan kelengkapan pintu sadap dan alat ukur; serta bangunan/pintu pengatur muka air. Tata letak dari bangunan bagi sadap ini bisa dibuat 2 alternatif, yaitu: 7. Bentuk Menyamping 8. Bentuk Numbak a. Bentuk Menyamping Posisi bangunan/pintu sadap tersier atau sekunder berada disamping kiri atau kanan saluran dengan arah aliran ke petak tersier atau sekunder mempunyai sudut tegak lurus (pada umumnya) sampai 45°. Bentuk ini mempunyai kelemahan kecepatan datang kearah lurus menjadi lebih besar dari pada yang kearah menyamping, sehingga jika diterapkan sistem proporsional kurang akurat. Sedangkan kelebihannya peletakan bangunan ini tidak memerlukan tempat yang luas, karena dapat langsung diletakkan pada saluran tersier/saluran sekunder yang bersangkutan. Gambar 2.3. Bangunan Bagi Sadap Menyamping Sumber: Subari, Marasi Deon, Indri S, Bambang Misgiyanta, 2013 Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 22 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 2.11. Perencanaan Jaringan Irigasi Berdasarkan cara pengatur pengukuran aliran air dan lengkapnya fasilitas, Jaringan irigasi dapat dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: 1. Jaringan Irigasi Utama A. Saluran primer membawa air dari bendung ke saluran sekunder dan ke petak- petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir, lihat juga Gambar 2-1. B. Saluran sekunder membawa air dari saluran primer ke petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Batas ujung saluran ini adalah pada bangunan sadap terakhir. C. Saluran pembawa membawa air irigasi dari sumber air lain (bukan sumber yang memberi air pada bangunan utama proyek) ke jaringan irigasi primer. D. Saluran muka tersier membawa air dari bangunan sadap tersier ke petak tersier yang terletak di seberang petak tersier lainnya. 2. Jaringan Saluran Irigasi Tersier A. Saluran tersier membawa air dari bangunan sadap tersier di jaringan utama kedalam petak tersier lalu ke saluran kuarter. Batas ujung saluran ini adalah boks bagi kuarter yang terakhir. B. Saluran kuarter membawa air dari boks bagi kuarter melalui bangunan sadap tersier atau parit sawah ke sawah-sawah. C. Perlu dilengkapi jalan petani ditingkat jaringan tersier dan kuarter sepanjang itu memang diperlukan oleh petani setempat dan dengan persetujuan petani setempat pula, karena banyak ditemukan di lapangan jalan petani yang rusak sehingga akses petani dari dan ke sawah menjadi terhambat. D. Pembangunan sanggar tani sebagai sarana untuk diskusi antar petani sehingga partisipasi petani lebih meningkat, dan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi petani setempat serta diharapkan letaknya dapat mewakili wilayah P3A atau GP3A setempat. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 23 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 3. Garis Sempadan Saluran A. Dalam rangka pengamanan saluran dan bangunan maka perlu ditetapkan garissempadan saluran dan bangunan irigasi yang jauhnya ditentukan dalam peraturan perundangan sempadan saluran. 4. Saluran Pembuang A. Jaringan Saluran Pembuang Tersier a. Saluran pembuang kuarter terletak didalam satu petak tersier, menampung air langsung dari sawah dan membuang air tersebut kedalam saluran pembuang tersier. b. Saluran pembuang tersier terletak di dan antara petak - petak tersier yang dalam unit irigasi sekunder yang sama dan menampung air, baik dari pembuang kuarter maupun dari pembuangan dari sawahsawah. B. Jaringan Saluran Pembuang Utama a. Saluran pembuang sekunder menampung air dari jaringan pembuang tersier dan membuang air tersebut ke pembuang primer atau langsung ke jaringan pembuang alamiah dan ke luar daerah irigasi. b. Saluran pembuang primer mengalirkan air lebih dari saluran pembuang sekunder ke luar daerah irigasi. Pembuang primer sering berupa saluran pembuang alamiah yang mengalirkan kelebihan air tersebut ke sungai, anak sungai atau ke laut. Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 24 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 BAB III METODOLOGI 3.1. Data Hidrologi Data hidrologi merupakan bahan informasi yang sangat penting dalam pelaksanaan inventarisasi potensi sumber-sumber air, pemanfaatan dan pengelolaan sumbersumber air yang tepat. Adapun data hidrologi dario soal Project Based Learning ini adalah sebagai berikut: 1. Koordinat Stasiun Hidrologi : 104°41’25.90”BT-5°21’14.00”LS 2. Lokasi Pos Hujan : R.284 Gunung Magang 3. Koordinat Stasiun Klimatologi : 105°9’50.81”BT-5°17’4.86”LS 4. Stasiun Klimatologi : Stasiun Klimatologi Pesawaran 5. Data Iklim : Temperatur minimum, temperatur maksimum, temperatur rata-rata, kelembaban udara minimum, kelembaban udara maksimum, kelembaban udara rata-rata, penyinaran matahari, kecepatan angin rata-rata. 6. Lokasi Klimatologi : Kabupaten Pesawaran 7. Data Curah Hujan : Tahun 2012 s.d. Tahun 2021 8. Elevasi Bendung : +533 m 9. Perbandingan Usiang/Umalam : Padi – Bera – Bera 10. Debit Andalan Sungai : 8m3/det 11. Masa Penyiapan Lahan : 30 Hari 12. Pola Tanam : Padi - Bera - Bera Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 25 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 3.2. Data Klimatologi Data klimatologi merupakan bahan informasi yang memuat informasi terkait iklim. Lokasi klimatologi yang kami gunakan adalah Stasiun Klimatologi Tanggamus. Adapun data klimatologi dari soal project Based Learning ini adalah sebagai berikut: 3.1.1. Suhu Ketika faktor lain dibiarkan konstan, tingkat evaporasi meningkat seiring dengan peningkatan temperatur air. Walaupun secara umum terdapat peningkatan evaporasi seiring dengan peningkatan temperatur udara, ternyata tidak terdapat korelasi yang tinggi antara tingkat evaporasi dan temperatur udara. Tabel temperatur dapat dilihat di bawah ini: Tabel 3.1. Data Temperatur Maksimum Bulan Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Min Max Rata-rata Jan 31,42 30,95 30,11 30,84 32,59 31,68 31,62 31,98 32,24 30,3 30,1 32,6 31,4 Feb 31,85 31,71 31,19 30,98 32,02 31,2 31,54 32,35 31,77 31 31,0 32,4 31,6 Mar 32,01 32,72 31,99 31,58 32,62 32 32,09 32,34 32,45 32,28 31,6 32,7 32,2 Apr 32,01 32,02 32,92 32,26 32,37 32,67 32,13 32,65 32,66 33,04 32,0 33,0 32,5 Temperatur Maksimum (Tx) Mei Jun Jul Agust 32,95 32,29 32,55 33,27 32,3 32,5 30,43 31,98 32,55 32,05 32,23 32,63 32,55 32,07 32,5 33,32 32,58 32,19 32,18 32,72 32,26 31,87 31,66 32,62 32,37 31,57 32,2 32,9 32,52 32,52 31,95 33,08 32,59 31,57 31,54 32,35 32,91 32,28 32,12 30,85 32,3 31,6 30,4 30,9 33,0 32,5 32,6 33,3 32,6 32,1 31,9 32,6 Sep 34,14 32,82 34,68 34,66 33,11 34,08 32,95 34,51 32,31 30,78 30,8 34,7 33,4 Okt 33,74 33,34 35,1 35,61 32,06 33,43 34,33 35,1 32,65 33,06 32,1 35,6 33,8 Nop 32,59 32,11 32,98 35,21 32,17 32,62 33,01 35,05 32,84 28,61 28,6 35,2 32,7 Des 31,79 31,52 31,1 32,25 32,01 31,91 32,4 33,54 32,08 29,31 29,3 33,5 31,8 Okt 23,29 23,13 22,74 22,77 24,13 24,11 23,75 23,27 23,73 22,06 22,1 24,1 23,3 Nop 23,6 23 23,73 24,26 24,07 24,12 24,36 23,77 23,76 23,87 23,0 24,4 23,9 Des 23,58 23,06 23,97 24,03 23,87 23,77 24,27 24,22 23,67 23,78 23,1 24,3 23,8 Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 26 Sumber: Data Klimatologi Tabel 3.2. Data Temperatur Minimum Bulan Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Min Max Rata-rata Jan 23,32 23,86 23,03 23,64 24,22 23,54 23,41 23,99 24,19 20,37 20,4 24,2 23,4 Feb 22,83 23,52 23,25 23,43 24,42 23,83 23,74 23,74 24,11 22,69 22,7 24,4 23,6 Mar 23,42 23,87 23,55 23,14 24,54 23,43 23,58 23,77 24,05 23,65 23,1 24,5 23,7 Apr 23,42 24,23 23,87 23,43 24,4 24,11 23,74 24,03 24,07 22,17 22,2 24,4 23,7 Mei 23,03 24,42 23,9 23,52 24,72 23,83 23,89 23,43 24,5 24,32 23,0 24,7 24,0 Temperatur Minimum Jun Jul Agust 23 21,87 21,17 24,17 23,16 23,16 23,8 22,9 22,32 23,64 22,38 22,14 23,64 23,55 23,21 23,28 22,83 22,21 23,56 21,89 22,58 23,94 22,5 21,9 23,43 22,94 22,49 23,55 20,35 22,33 23,0 20,4 21,2 24,2 23,6 23,2 23,6 22,4 22,4 Sep 22,03 22,93 21,7 21,86 23,59 22,92 22,13 21,97 22,88 23,25 21,7 23,6 22,5 Sumber: Data Klimatologi PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Tabel 3.3. Data Perhitungan Rata-rata Temperatur Udara Bulan Min Max Rata-rata Jan 23,36 31,37 27,37 Feb 23,6 31,6 27,6 Mar 23,7 32,2 28,0 Data Perhitungan Rata-rata Temperatur Udara Temperatur Udara (°C) Apr Mei Jun Jul Agust 23,7 24,0 23,6 22,4 22,4 32,5 32,6 32,1 31,9 32,6 28,1 28,3 27,8 27,2 27,5 Sep 22,5 33,4 28,0 Okt 23,3 33,8 28,57 Nop 23,9 32,7 28,3 Des 23,8 31,8 27,8 Sumber: Data Klimatologi 3.1.2. Kelembaban Jika kelembaban udara naik, maka kemampuannya untuk menyerap air akan berkurang sehingga laju evaporasi akan menurun. Penggantian lapisan udara pada batas tanah dan udara dengan udara yang sama kelembaban relatifnya tidak akan menolong untuk memperbesar laju evaporasi. Tabel kelembaban udara dapat dilihat di bawah ini: Tabel 3.4. Data Kelembaban Bulan Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Min Max Rata-rata Jan 80,03 83,58 83,68 85,1 84,26 85 81,77 83,19 85,26 87,35 80,0 87,4 83,9 Feb 82,72 82,11 82,04 84,67 84,72 85,57 85,14 85,29 83,86 87,46 82,0 87,5 84,4 Mar 79,26 80,06 81 84,72 85,26 84,26 85,13 84,65 84,35 84,23 79,3 85,3 83,3 Apr 79,26 85,77 84,6 85,28 86,93 82,17 84,7 85,03 85,31 82,07 79,3 86,9 84,1 Mei 81,9 82,32 81,77 83,37 85,77 84,87 84,48 81,52 85,69 83,84 81,5 85,8 83,6 Kelembaban Jun Jul 84,47 80,19 83,9 83,9 82,73 81,55 85,92 78,35 82,93 83,77 83,73 82,39 84,13 76,48 80,43 78,77 86,19 85,28 83,93 80,39 80,4 76,5 86,2 85,3 83,8 81,1 Agust 77,39 76,45 81,23 76,03 78,84 78,97 73,32 71,68 80,97 83,1 71,7 83,1 77,8 Sep 74,23 81,4 70,83 71,07 80,13 75,13 74,43 69,63 81,29 85,23 69,6 85,2 76,3 Okt 78,26 74,84 72,94 68,45 82,42 77,55 74,58 70,39 78,52 81,32 68,5 82,4 75,9 Nop 82,6 83 80,6 75,55 84,7 80,93 80,93 68,93 80 82,1 68,9 84,7 79,9 Des 86,65 83,58 84,61 82,55 82,75 82,1 79,94 79,13 83,39 81,23 79,1 86,7 82,6 Nop 68,9 84,7 76,8 Des 79,1 86,7 82,9 Sumber: Data Klimatologi Tabel 3.5. Data Perhitungan Rata-rata Kelembaban Udara Bulan Min Max Rata-rata Jan 80,0 87,4 83,7 Feb 82,0 87,5 84,8 Mar 79,3 85,3 82,3 Data Perhitungan Rata-rata Kelembapan Udara Kelembapan Udara (°C) Apr Mei Jun Jul Agust 79,3 81,5 80,4 76,5 71,7 86,9 85,8 86,2 85,3 83,1 83,1 83,6 83,3 80,9 77,4 Sep 69,6 85,2 77,4 Okt 68,5 82,4 75,4 Sumber: Data Klimatologi 3.1.3. Penyinaran Matahari Evaporasi merupakan konversi air kedalam uap air yang mana proses ini terjadi hampir tanpa berhenti di siang hari dan kadangkala di malam hari. Perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan input energi yaitu berupa panas untuk evaporasi. Proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran langsung dan matahari. Awan merupakan penghalang matahari dan akan mengurangi input energi. Tebal penyinaran matahari dapat dilihat di bawah ini: Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 27 PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Tabel 3.6. Data Rata-rata Penyinaran Matahari Bulan Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Min Max Rata-rata Jan 3,74 3,96 3,45 3,99 6,1 3,72 3,56 5,37 5,27 2,62 2,6 6,1 4,2 Feb 4,38 4,63 3,41 4,66 5,09 4,45 5,26 6,22 5,26 4,14 3,4 6,2 4,8 Mar 4,4 5,83 4,54 5,41 5,51 4,77 5,08 5,19 4,73 5,72 4,4 5,8 5,1 Apr 4,4 5,05 5,28 5,34 4,53 5,36 5,45 5,8 6,23 5,95 4,4 6,2 5,3 Rata-rata Penyinaran Matahari (%) (ss) Mei Jun Jul Agust 0,08 5,38 5,94 5,88 4,64 5,42 3,26 5,78 5,78 4,96 4,93 6,11 6,61 6,18 8,18 7,28 6,09 5,54 5,17 5,6 5,3 4,73 4,74 5,43 6,45 5,48 7,4 6,81 6,21 5,97 6,89 7,6 4,64 3,82 4,9 6,65 6,04 4,61 6,05 5,84 0,1 3,8 3,3 5,4 6,6 6,2 8,2 7,6 5,2 5,2 5,7 6,3 Sep 7,27 5,71 7,2 7,04 5,96 6,52 6,25 7,86 5,32 5,16 5,2 7,9 6,4 Okt 5,43 6,09 5,46 6,4 2,66 5,53 6,59 8,02 4,63 5,22 2,7 8,0 5,6 Nop 4,52 3,78 5,09 6,69 3,78 4,53 4,95 8,04 4,82 3,31 3,3 8,0 5,0 Des 3,85 3,67 2,99 2,7 4,21 1,03 0,58 5,1 3,31 4,76 0,6 5,1 3,2 Nop 5,0 Des 3,2 Sumber: Data Klimatologi Tabel 3.7. Data Perhitungan Rata-rata Penyinaran Matahari Bulan n/N% Jan 4,2 Feb 4,8 Mar 5,1 Data Perhitungan Rata-rata Penyinaran Matahari Penyinaran Matahari (%) Apr Mei Jun Jul Agust 5,3 5,2 5,2 5,7 6,3 Sep 6,4 Okt 5,6 Sumber: Data Klimatologi 3.1.4. Kecepatan Angin Dalam proses pemindahan lapisan udara jenuh dan menggantikannya dengan lapisan udara lain sehingga evaporasi dapat berjalan terus salah satu faktor pendukungnya adalah kecepatan angin. Jika kecepatan angin cukup tinggi untuk memmindahakan seluruh udara jenuh, peningkatan kecepatan angin lebih lanjut tidak berpengaruh terhadap evaporasi. Maka tingkat evaporasi meningkat seiring dengan kecepatan angin hingga suatu kecepatan kritis, dimana kecepatan angin tidak lagi mempengaruhi evaporasi. Tabel kecepatan angin dapat dilihat di bawah ini: Tabel 3.8. Data Rata-rata Kecepatan Angin Bulan Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Min Max Rata-rata Jan 3,61 1,68 2,42 1,81 1,84 1,45 1,63 1,87 1,81 1,19 1,2 3,6 1,9 Feb 1,79 1,5 2,25 1,78 2,14 1,57 1,68 1,68 2,14 1,11 1,1 2,3 1,8 Mar 2,1 1,52 1,81 1,42 1,9 1,48 1,32 1,55 1,68 1,1 1,1 2,1 1,6 Rata-rata Kecepatan Angin (Km/jam) (Ffaverage) Apr Mei Jun Jul Agust Sep 2,1 2,1 2,13 3,32 2,87 2,63 1,63 1,48 1,6 1,48 2,16 2,33 1,63 1,65 1,77 2,06 2,16 2,9 1,29 1,77 1,5 2,13 2,35 2,77 1,47 1,68 1,6 1,42 1,58 1,53 1,53 1,42 1,63 1,45 1,74 1,97 1,33 1,45 1,3 1,74 2,39 2,23 1,47 1,65 1,8 1,9 2,13 2,67 1,63 1,77 1,83 1,74 2 1,82 1,03 1,19 0,9 1,23 1,39 1,17 1,0 1,2 0,9 1,2 1,4 1,2 2,1 2,1 2,1 3,3 2,9 2,9 1,5 1,6 1,6 1,8 2,1 2,2 Okt 2,19 2,03 2,32 2,94 1,26 1,29 2 2,26 1,57 1,23 1,2 2,9 1,9 Nop 1,7 1,8 1,53 2,25 1,13 1,3 1,73 2,27 1,43 0,87 0,9 2,3 1,6 Des 1,26 1,55 1,26 1,77 1,29 1,68 1,48 1,77 1,16 1 1,0 1,8 1,4 Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 28 Sumber: Data Klimatologi PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 Tabel 3.9. Data Perhitungan Rata-rata Kecepatan Angin Bulan U km/jam U km/hari U m/detik Jan 1,9 46,3 0,536 Feb 1,8 42,3 0,5 Mar 1,6 38,1 0,4 Data Perhitungan Rata-rata Kecepatan Angin Kecepatan Angin Apr Mei Jun Jul Agust 1,5 1,6 1,6 1,8 2,1 36,3 38,8 38,5 44,3 49,8 0,4 0,4 0,4 0,5 0,6 Sep 2,2 52,8 0,6 Okt 1,9 45,8 0,5 Nop 1,6 38,4 0,4 Des 1,4 34,1 0,4 Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 29 Sumber: Data Klimatologi 3.3. Peta Topografi Adapun data topografi menggunakan peta dengan skala 1 : 29.000 Gambar 3.1. Peta Topografi Sumber: Lampiran Tugas Besar Irigasi PROJECT BASED LEARNING REKAYASA IRIGASI│2025 3.4. Diagram Alir Adapun diagram alir pengerjaan project based learning sebagai berikut: Mulai Identifikasi Soal Pengolahan Data Topografi Pengolahan Data Klimatologi Pengolahan Data PH Pengeluaran Kontur dan Tata Guna Lahan Jaringan Irigasi Luas Petak dan Panjang Saluran Rekapitulasi Data Hujan Persetengah Bulan Setiap Tahun Menghitung R80 dan Curah Hujan Efektif Menentukan tempteratur ratarata, temperatur max, temperatur min. Menentukan kelembapan ratarata. Menentukan rata-rata penyinaran matahari. Kecepatan Angin. Evapotranspirasi Kebutuhan Air Irigasi Debit Kebutuhan Irigasi Tidak Q Andalan > Q Kebutuhan Ya Dimensi Saluran Irigasi Tidak Cek Q Desain > Q Kebutuhan, V Desain < V Ketetapan TMA Saluran Irigasi Ya DED Selesai Gambar 3.2. Diagram Alir Tugas Besar Alif Muhammad Al Thoriq - 120210145 30
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )