Uploaded by Kayrani Fathania

Tugas Ergonomi & Analisis Sistem

advertisement
Tugas Kelompok ke-3
Minggu 8/ Sesi 12
Kelompok 8 :
Rheisya Talitha Azzahra ( 2702481833)
Upik Khoirunnisa (2702488902)
Yehezkiel Yoyada Gurusinga (2702486613)
Gloria Emanuela (2702490693)
Abednego (2702494294)
LO4: Analyze selected systems engineering problems by applying tools, methodologies, and procedures
SOAL NO 1:
Ergonomi merupakan suatu pendekatan yang bersifat multidisiplin. Beberapa bidang ilmu yang
terkait era tantara lain adalah rekayasa, matematika dan statistic, anatomi dan fisiologi,
psikologi terapan, serta sosiologi. Ergonomi diharapkan membantu menyelesaikan sejumlah
masalah di tempat kerja.
Jelaskan masalah apa dalam bidang kerja anda sehingga ergonomi dapat berperan dan
berkontribusi positif dalam perbaikan! Berikan contoh dalam penerapan nya.
Jawab :
Dalam bidang pekerjaan saya di konstruksi dan instalasi instrument analisis banyak sekali
masalah ergonomi yang sering dihadapi. Seperti, harus mengangkat dan memindahkan material
bangunan yang berat, baik secara manual maupun menggunakan alat bantu. Hal ini dapat
menyebabkan cedera pada punggung, bahu, dan lengan. Mitigasi yang dilakukan untuk
masalah ergonomi tersebut biasanya dapat menggunakan alat bantu seperti crane, forklift, atau
eksoskeleton untuk mengangkat beban berat sehingga dapat mengurangi beban kerja fisik
pekerja.
Atau masalah ergonomi lainnya seperti penggunaan alat-alat bermotor seperti bor dan palu
dapat menyebabkan getaran yang ditransmisikan ke tangan dan lengan, sehingga meningkatkan
risiko cedera pada saraf dan otot. Untuk mitigasi yang dilakukan memvariasikan tugas dan
memberikan kesempatan bagi pekerja untuk beristirahat secara teratur dapat mengurangi
kelelahan dan risiko cedera.
Engineering Economy and System Analysis – R4
SOAL NO 2:
Jelaskan contoh penerapan teknik reduksi kebisingan yang bersumber dari mesin-mesin operasi
dan produksi, agar potensi bahaya kesehatan pendengaran pada pekerja dapat dikurangi.
Jawab :
Kebisingan sendiri merupakan bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan
dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia
serta kenyamanan lingkungan. (Kepmen LH No 48. tahun 1996)
Terdapat beberapa teknik reduksi kebisingan di lingkungan kerja yang dapat dilakukan untuk
mengurangi bahaya kesehatan pendengaran, diantaranya:
1. Pengendalian eliminasi: Mengganti atau membeli perlengkapan yang memiliki tingkat
kebisingan yang rendah (low-noise equipment) pada fase mendesain mesin
2. Pengendalian substitusi: Mengganti mesin menggunakan mesin yang memiliki
tingkat tekanan suara yang rendah atau mengendalikan kebisingan mesin dengan
insulasi suara yang memiliki efektivitas tinggi
3. Pengendalian dengan rekayasa engineering: Menambah fitur noise-reduction berupa
insulasi menggunakan material yang dapat meredam suara, memisahkan pekerja dari
zona dengan tingkat kebisingan yang tinggi, memindahkan perlengkapan yang bising,
serta pengembangan desain mesin untuk memitigasi tingkat kebisingan yang berbahaya
pada kondisi saat ini dan kondisi yang akan datang, melakukan perawatan mesin.
4. Pengendalian secara administrasi: Mengadakan program pelatihan safety,
meminimalisir paparan kebisingan dengan cara mengurangi jam kerja di area dengan
tingkat kebisingan tinggi, membuat prosedur operasional dan pengecekan keamanan,
memantau kesehatan pekerja dengan melakukan medial check up rutin (terutama tes
audiometri), melakukan pengaturan shift pekerja, menyediakan area istirahat untuk
pekerja yang cukup jauh dari sumber kebisingan, membatasi jam kerja mesin dengan
mematikan mesin ketika istirahat, memberikan tanda-tanda / symbol informasi
kebisingan di area kerja sebagai anjuran peringatan dalam penggunaan APD.
5. Pengendalian dari APD: Melengkapi APD pelindung telinga berupa earplug dan
earmuff yang layak pakai, melakukan pemeriksaan APD secara periodic, membuat
aturan mengenai sanksi bagi pekerja yang tidak mematuhi penggunaan APD saat
bekerja.
Daftar Pustaka:
Febriyanto, K., Guedes, J. C. C., & Mourão, L. J. R. D. N. C. (2024). A Scoping Review on
Occupational Noise Mitigation Strategies and Recommendations for Sustainable Ship
Operations. International journal of environmental research and public health, 21(7), 894.
https://doi.org/10.3390/ijerph21070894
Engineering Economy and System Analysis – R4
Hidayat, S., dkk. (2024). Analisis Upaya Pengendalian Bahaya Kebisingan Kerja dengan
Pendekatan Hirarki Pengendalian di Area Produksi Basah PT. Hok Tong Jambi Tahun 2023.
Doi: 10.30829/jumantik.v9i1.18205
SOAL NO 3:
Kinerja seseorang dalam melakukan pekerjaan nya seringkali bergantung pada lingkungan fisik
tempat bekerjanya. Lingkungan fisik yang tidak dirancang dengan baik dapat berdampak buruk
pada kinerja, mempengaruhi kesehatan dan bahkan mengancam keselamatan pekerja.
Jelaskan penerapan dalam hal apa saja yang harus diperhatikan terkait lingkungan kerja!
Jawab :
Lingkungan kerja yang dirancang dengan baik sangat penting untuk memastikan bahwa pekerja
dapat melaksanakan tugasnya secara efisien, nyaman, dan aman. Faktor-faktor lingkungan fisik
dapat secara signifikan mempengaruhi produktivitas, kesehatan, dan kesejahteraan pekerja.
Berikut adalah beberapa aspek penting terkait lingkungan kerja yang harus diperhatikan:
1. Pencahayaan
Pencahayaan yang tepat adalah elemen penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang
produktif. Cahaya yang tidak cukup dapat menyebabkan kelelahan mata, sakit kepala, dan
penurunan konsentrasi, sedangkan pencahayaan yang terlalu terang atau silau bisa mengganggu
fokus pekerja. Idealnya, lingkungan kerja harus mengoptimalkan penggunaan pencahayaan
alami dan memastikan bahwa lampu buatan digunakan secara efisien untuk mencegah
gangguan penglihatan. Penerapan standar pencahayaan yang sesuai untuk berbagai jenis
pekerjaan juga harus diperhatikan.
2. Suhu dan Ventilasi
Suhu ruang kerja yang tidak nyaman, baik terlalu panas maupun terlalu dingin, dapat
mempengaruhi kinerja dan kesejahteraan pekerja. Ventilasi yang baik membantu menjaga
sirkulasi udara dan kualitas udara dalam ruangan, mengurangi kemungkinan terpapar polutan
udara, serta mengurangi risiko alergi dan penyakit pernapasan. Menurut beberapa penelitian,
suhu kerja ideal berada di antara 20-24 derajat Celcius dengan kelembapan antara 40-60%.
Penting juga untuk memastikan adanya sirkulasi udara yang baik, baik dari sistem HVAC
maupun ventilasi alami.
3. Kebisingan
Tingkat kebisingan yang tinggi di tempat kerja dapat menyebabkan stres, gangguan
konsentrasi, dan bahkan gangguan pendengaran jika paparan berkelanjutan. Di lingkungan
pabrik atau tempat kerja yang menggunakan mesin-mesin berat, penggunaan alat pelindung
pendengaran seperti earplug menjadi penting. Di kantor terbuka, penggunaan material peredam
suara dan penataan ruang untuk mengurangi kebisingan juga bisa sangat membantu dalam
menjaga produktivitas dan kenyamanan kerja.
Engineering Economy and System Analysis – R4
4. Tata Letak dan Ergonomi
Desain ruang kerja harus memperhatikan prinsip-prinsip ergonomi, yaitu menyesuaikan
lingkungan dengan kebutuhan dan kenyamanan pengguna. Misalnya, penempatan peralatan
kerja seperti meja, kursi, dan komputer harus disesuaikan untuk mencegah ketegangan fisik
yang bisa menyebabkan cedera muskuloskeletal. Selain itu, pengaturan tata letak ruang yang
efisien memungkinkan pekerja untuk bergerak dengan nyaman dan mengurangi risiko
kelelahan dan cedera karena postur yang tidak tepat. Kursi yang dapat disesuaikan, meja
berdiri, serta peralatan lain yang mendukung postur tubuh yang baik sangat diperlukan.
5. Kebersihan dan Sanitasi
Lingkungan kerja yang bersih dan teratur tidak hanya mendukung kinerja yang optimal tetapi
juga meminimalkan risiko penyebaran penyakit. Kebersihan di lingkungan kerja juga harus
meliputi pengelolaan sampah, ketersediaan fasilitas sanitasi yang memadai seperti toilet yang
bersih dan ventilasi udara yang baik di dalam ruangan. Ruang kerja yang kotor bisa menjadi
sumber penyakit dan mengganggu konsentrasi kerja.
6. Fasilitas Istirahat
Pekerja memerlukan waktu istirahat untuk menjaga produktivitas dan mencegah kelelahan
mental. Ruang istirahat yang nyaman, lengkap dengan tempat duduk yang memadai, serta
fasilitas seperti dapur kecil atau ruang makan dapat membantu pekerja untuk melepaskan diri
dari rutinitas pekerjaan sejenak dan mengembalikan energi mereka. Beberapa studi
menunjukkan bahwa waktu istirahat yang cukup mampu meningkatkan konsentrasi dan
produktivitas sepanjang hari kerja.
7. Keamanan dan Keselamatan Kerja
Keamanan kerja adalah faktor kunci yang harus diperhatikan dalam setiap lingkungan kerja.
Risiko fisik seperti kebakaran, bahan kimia berbahaya, atau kecelakaan harus diantisipasi
melalui berbagai langkah keamanan. Penempatan alat pemadam api, jalur evakuasi yang jelas,
dan prosedur darurat harus selalu siap dan diketahui oleh setiap pekerja. Selain itu, pelatihan
keselamatan kerja secara berkala dapat memastikan bahwa semua pekerja memahami cara
menangani situasi darurat.
8. Teknologi dan Aksesibilitas
Tempat kerja yang modern harus dilengkapi dengan teknologi yang mendukung kebutuhan
pekerjaan, baik dalam hal komputerisasi, jaringan internet, atau perangkat lunak yang relevan.
Selain itu, lingkungan kerja harus inklusif dan memperhatikan aksesibilitas bagi pekerja
dengan disabilitas, misalnya dengan menyediakan ram atau lift untuk pengguna kursi roda,
serta teknologi pendukung seperti pembaca layar bagi pekerja tunanetra.
9. Faktor Psikososial
Engineering Economy and System Analysis – R4
Selain aspek fisik, lingkungan kerja yang baik juga memperhatikan faktor psikososial, seperti
hubungan antarpekerja, manajemen stres, dan keseimbangan kerja-hidup (work-life balance).
Lingkungan kerja yang terlalu menekan, dengan target yang tidak realistis atau kurangnya
dukungan dari atasan, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental pekerja. Program
kesejahteraan karyawan, seperti konseling, atau aktivitas rekreasi di kantor, dapat membantu
menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.
Penerapan dalam Praktik
Untuk menerapkan lingkungan kerja yang baik, perusahaan dapat melakukan beberapa hal
berikut:
a.
Melakukan asesmen risiko: Identifikasi potensi bahaya dan risiko di tempat kerja.
b.
Membuat kebijakan K3: Buat kebijakan K3 yang jelas dan komprehensif.
c.
Melakukan pelatihan K3: Latih karyawan tentang K3 secara berkala.
d.
Melibatkan karyawan: Libatkan karyawan dalam upaya menciptakan lingkungan kerja
yang baik.
e.
Evaluasi secara berkala: Lakukan evaluasi secara berkala untuk melihat efektivitas
program K3.
Kesimpulan
Desain lingkungan kerja yang baik tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga
menjaga kesehatan dan keselamatan pekerja. Perhatian terhadap pencahayaan, suhu,
kebisingan, ergonomi, kebersihan, dan fasilitas istirahat adalah beberapa faktor yang harus
dikelola secara efektif. Selain itu, penerapan teknologi dan perhatian terhadap aspek
psikososial juga penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan sehat.
Referensi
Sudirman, A. (2018). "Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan." Jurnal
Manajemen Kinerja, 15(2), 115-130.
Smith, J., & Jones, R. (2017). "Workplace Environment and Employee Performance." Journal
of Occupational Health, 12(3), 45-60.
Ergonomi: Ivancevich, J. M., & Konopaske, R. (2008). Organizations: Behavior and design
(9th ed.). McGraw-Hill/Irwin.
Kesehatan dan keselamatan kerja: Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja.
Engineering Economy and System Analysis – R4
Download