BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Komunikasi yang efektif merupakan aspek krusial dalam hubungan antara pemerintah dan masyarakat, terutama dalam menunjang keberhasilan kebijakan publik. Tanpa strategi komunikasi yang tepat dan efektif, dapat dipastikan bahwa kebijakan yang bertujuan baik sekalipun akan berpotensi menimbulkan pertentangan, kesalahpahaman, hingga konflik sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen Public Relations (PR) yang baik dan efektif. Manajemen PR yang efektif akan mampu menjadi sarana komunikasi yang baik antara instansi dengan masyarakat. Selain itu, ada kalanya suatu kebijakan memang benar-benar tidak diterima oleh masyarakat. Di sinilah manajemen PR juga akan sangat dibutuhkan: bagaimana PR bisa mengontrol krisis dan tindakan-tindakan apa yang dapat diambil agar situasi tidak semakin parah. Pada bulan Agustus 2024 silam, masyarakat di daerah pesisir Tangerang, Banten menemukan pagar bambu sepanjang 30,16 km yang berdiri di wilayah perairan Tangerang. Keberadaan pagar laut ini menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi nelayan, dengan total estimasi mencapai Rp24 Miliar akibat berkuranhnya hasil tangkap, meningkatnya biaya bahan bakar kapal, dan kerusakan akomodasi. Komunitas nelayan kemudian melaporkan hal ini kepada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banten, berharap kasus ini segera diusut dan pagar laut tersebut segera dicabut. Tetapi, nyatanya sampai akhir tahun 2024 kasus ini belum benar-benar ditangani dengan serius oleh pihak yang berwajib dan baru di awal tahun 2025 kasus ini mulai ditangani karena viral di media sosial. Tidak selesai sampai di sana, kontroversi seputar pagar laut ini semakin menjadi-jadi karena adanya ketidakjelasan mengenai pihak yang memiliki dan bertanggung jawab atas pembangunannya. Serta terjadinya miskomunikasi antarinstansi pemerintah saat pengusutan kasus ini, yaitu antara DKP dengan TNI AL. Meninjau permasalahan tersebut, kurangnya transparansi dalam proses perencanaan, minimnya sosialisasi, serta terbatasnya ruang partisipasi masyarakat, yang mana dapat disimpulkan menjadi satu, yaitu ketidakpastian adalah yang menjadi faktor utama dalam memperburuk situasi. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin menurun, memicu ketegangan yang lebih besar. Berdasarkan permasalahan tersebut, kami merasa perlu melakukan analisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek manajemen PR dalam kasus pagar laut Tangerang tersebut berdasarkan referensi dari berbagai sumber literatur seperti artikel, jurnal, dan buku. Penelitian ini diharapkan mampu untuk nantinya membantu memahami dan menjabarkan kendala yang dihadapi, menganalisis kendala, serta dapat mengetahui solusi terbaik yang dapat diterapkan dalam situasi seperti ini atau bahkan serupa. BAB II TEORI DAN MODEL 2.1 Excellence Theory Excellence teori adalah sebuah teori dalam bidang Public Relations (PR) yang dikembangkan oleh James E Grunig. Teori ini menjelaskan nilai PR bagi organisasi dan masyarakat berdasarkan tanggung jawab sosial dalam pengambilan keputusan manajerial serta kualitas hubungan dengan publik pemangku kepentingan (Grunig,2008). Tujuan utamanya adalah membangun hubungan yang menguntungkan antara organisasi dan masyarakat melalui komunikasi yang terencana. Hubungan yang baik akan menguntungkan bagi organisasi karena dapat mengurangi biaya litigasi, regulasi, legislasi, dan publisitas negatif yang disebabkan oleh hubungan yang buruk (Grunig, 2008). Teori ini menegaskan bahwa PR tidak hanya berperan dalam mencapai tujuan organisasi, tetapi juga dalam memenuhi kepentingan serta harapan publik. Melalui teori ini, PR diharapkan mampu memperkuat citra dan reputasi organisasi di mata publik dengan menerapkan pendekatan yang strategis. 2.2 Two Way Symmetrical Two Way Symmetrical adalah model komunikasi yang dijalankan secara dua arah dengan dampak yang seimbang. Model ini mementingkan dialog antara organisasi dan juga public untuk menciptakan hubungan yang baik. Two way symmetrical tidak hanya berfokus pada penyampaian pesan dari organisasi kepada publik, tetapi juga memberikan ruang bagi publik untuk menyampaikan masukan, pendapat, serta aspirasinya. Tujuan utama dari model ini adalah menciptakan saling pengertian dan membangun kepercayaan antara kedua belah pihak. Dengan menekankan pada dialog terbuka dan transparan, organisasi dapat memahami kebutuhan, harapan, serta kekhawatiran publiknya, sehingga dapat merespons dengan lebih tepat dan efektif. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Penerapan Teori Excellence pada Kasus Pagar Laut di Tangerang Proyek pembangunan pagar laut di Tangerang dalam pelaksanaannya justru menimbulkan berbagai masalah sosial, terutama ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Nelayan sebagai salah satu kelompok yang paling terdampak oleh proyek ini, merasa bahwa mereka tidak dilibatkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Selain itu, minimnya transparansi informasi mengenai tujuan, anggaran, dan dampak proyek semakin memperburuk situasi. Penerapan Teori Excellence yang berfokus pada komunikasi yang efektif, transparansi, partisipasi publik, dan pengelolaan konflik secara konstruktif, menjadi sangat relevan untuk mengatasi masalah ini. 1. Komunikasi Dua Arah yang Simetris Model Two-Way Symmetric merupakan bagian dari Teori Excellence yang berperan penting dalam keberhasilan proyek pembangunan pagar laut di Tangerang. Penerapan model ini menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang seimbang antara pemerintah dan masyarakat, khususnya nelayan yang terdampak. Dalam kasus pagar laut di Tangerang, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat pesisir masih bersifat satu arah, di mana pemerintah hanya menyampaikan informasi tanpa memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Pemerintah seharusnya mengadakan forum konsultasi publik sebelum memulai proyek besar seperti ini. Forum tersebut berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan kekhawatiran mereka terkait dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari proyek pagar laut. Misalnya, nelayan yang merasa akses mereka ke laut terganggu dapat menyampaikan keluhan mereka secara langsung kepada pemerintah. Selain itu, forum ini juga memungkinkan pemerintah untuk menjelaskan tujuan proyek secara lebih jelas kepada masyarakat. Sebagai langkah konkret, pemerintah dapat mengundang pakar independen, seperti akademisi atau ahli kelautan untuk memberikan penjelasan ilmiah mengenai dampak ekologis dan sosial dari proyek pagar laut. Tujuan dari keterlibatan pakar ini adalah untuk mendapatkan rekomendasi tentang solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan metode pagar bambu yang saat ini digunakan. Dengan melibatkan pakar independen dalam diskusi publik, pemerintah tidak hanya menunjukkan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas, tetapi juga memperlihatkan bahwa mereka menghargai masukan dari masyarakat. Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi ketidakpercayaan publik terhadap proyek tersebut. 2. Transparansi Data atau Informasi Ketidakpercayaan masyarakat terhadap proyek pagar laut di Tangerang sebagian besar disebabkan oleh kurangnya transparansi informasi dari pemerintah. Sampai saat ini, 3. banyak masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap data penting seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), rencana anggaran proyek, atau izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). AMDAL sangat penting untuk memastikan bahwa proyek ini tidak merusak lingkungan dan tidak merugikan masyarakat, khususnya nelayan yang bergantung pada laut untuk penghidupan mereka. Tanpa adanya AMDAL yang jelas dan transparan, potensi dampak negatif dari proyek ini bisa sangat besar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa setiap pembangunan di wilayah pesisir dan laut harus memiliki izin resmi. Izin tersebut dikenal sebagai Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL), yang wajib dikantongi sebelum melakukan aktivitas pembangunan apapun, termasuk pembangunan pagar laut. Tanpa PKKPRL, pembangunan tersebut dianggap ilegal dan dapat berdampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat pesisir. Terkait pemasangan pagar laut yang sedang dipermasalahkan, masih belum ada kejelasan mengenai proses dan waktu pemasangannya. Sampai saat ini, informasi mengenai kapan dan bagaimana pagar tersebut dipasang masih menjadi tanda tanya besar. Dugaan kuat mengarah pada pembangunan ilegal oleh pihak swasta tanpa mengantongi izin PKKPRL yang dipersyaratkan. Hal ini tentu saja merupakan pelanggaran hukum yang berlaku. Keberadaan pagar laut ilegal ini menimbulkan sejumlah permasalahan serius. Selain menghambat akses nelayan lokal untuk melaut dan mencari nafkah, pagar tersebut juga diduga telah merusak ekosistem laut di sekitarnya. Dalam penerapan Teori Excellence, transparansi menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik. Pemerintah harus membuka akses terhadap data-data penting terkait proyek pagar laut melalui saluran komunikasi yang mudah diakses oleh masyarakat. Misalnya, dokumen AMDAL dapat dipublikasikan secara online melalui situs web resmi pemerintah daerah atau KKP. Selain itu, pemerintah juga dapat membuat portal informasi khusus yang memuat detail proyek, termasuk daftar pihak yang terlibat serta tujuan jangka panjang dari pembangunan pagar laut. Transparansi juga mencakup penyampaian informasi secara proaktif kepada masyarakat. Pemerintah perlu menjelaskan tujuan utama proyek ini secara terbuka melalui media sosial atau konferensi pers resmi untuk menghindari kesalahpahaman. Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan Teori Excellence juga menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Dalam kasus pagar laut di Tangerang, kurangnya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan proyek menjadi salah satu penyebab utama. Nelayan merasa bahwa mereka tidak dilibatkan sama sekali dalam diskusi terkait desain atau lokasi pagar laut. Penting bagi pemerintah untuk melaksanakan konsultasi publik dengan cara yang menghormati pandangan dan aspirasi masyarakat. Ini berarti pemerintah harus memastikan bahwa setiap suara didengar sebelum keputusan akhir diambil. Dengan cara ini, tidak hanya akuntabilitas pemerintah yang meningkat, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan akan terbangun. 4. Salah satu manfaat dari partisipasi publik adalah pengetahuan lokal yang mendalam. Masyarakat memiliki pengalaman dan pemahaman tentang masalah-masalah yang dihadapi di lingkungan mereka, yang mungkin tidak diketahui oleh pembuat kebijakan. Dengan mendengarkan masukan dari masyarakat, pemerintah dapat mendapatkan perspektif baru yang dapat membantu merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan lokal. Untuk mencapai partisipasi publik yang efektif, pemerintah perlu untuk memastikan akses informasi yang merata kepada semua lapisan masyarakat. Tanpa informasi yang cukup, masyarakat tidak dapat berpartisipasi secara aktif dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menyediakan informasi yang jelas dan mudah diakses mengenai proyek-proyek yang sedang berlangsung. Pengelolaan Konflik Secara Konstruktif Pengelolaan konflik secara konstruktif dalam proyek pagar laut di Tangerang sangat penting untuk menemukan solusi yang adil bagi semua pihak. Konflik yang muncul antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta terjadi karena kurangnya transparansi serta minimnya pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan masyarakat melalui forum konsultasi publik. Jika dialog langsung tidak cukup untuk menyelesaikan konflik, pemerintah bisa menggunakan mediator independen sebagai pihak netral yang membantu menjembatani komunikasi antara pihak-pihak yang berkonflik. Mediator ini dapat memfasilitasi diskusi agar setiap pihak merasa didengar dan solusi yang dihasilkan bisa diterima bersama. Selain itu, pemerintah perlu melakukan evaluasi dampak lingkungan secara menyeluruh sebelum melanjutkan proyek. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa proyek tidak merusak ekosistem pesisir atau mengganggu kehidupan masyarakat lokal. Langkah ini juga menunjukkan bahwa pemerintah peduli terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus menghormati hak-hak masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya membantu membangun kembali kepercayaan masyarakat tetapi juga memastikan bahwa proyek berjalan sesuai dengan kepentingan bersama. 3.2 Kesalahan Pemerintah Kesalahan pemerintah dalam kasus ini adalah tidak adanya kepastian yang diberikan kepada masyarakat. Tentu hal tersebut menimbulkan amarah dari para nelayan yang merasa sangat dirugikan dengan kasus ini. Masyarakat pun mendesak pemerintah untuk segera memberi kejelasan terkait siapa pemilik dari pagar laut tersebut atau setidaknya untuk segera menindaklanjuti kasus ini dengan tegas. Negara harus melakukan penegakan hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan memastikan hak hak masyarakat yang dirugikan. Pemerintah harus mengedepankan kepentingan umum dan harus mengesampingkan kepentingan golongan atau kepentingan pribadi. Situasi ini pun menjadi lebih keruh saat TNI AL melakukan pembongkaran pagar laut tanpa sepengetahuan Dinas Perikanan dan Kelautan setempat. Permasalah komunikasi antara pemerintah dengan pihak pihak terkait tentu menjadi pertanyaan besar. Bagaimana bisa instansi atau lembaga lembaga masyarakat tidak berada dalam satu suara ketika menindak suatu kasus. Ini menunjukan betapa buruknya komunikasi publik indonesia, metode yang sudah tidak relevan masih sering digunakan dalam pengambilan keputusan. Seringkali pemerintah tidak melibatkan masyarakat dan memberikan transparansi ketika membuat kebijakan publik. Akibat dari hal ini adalah masyarakat yang kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Padahal, kepercayaan masyarakat merupakan aspek penting yang harus dijaga dan dijamin oleh pemerintah, masyarakat pun menjadi tidak setuju dengan kebijakan kebijakan yang dianggap merugikan. Kepercayaan masyarakat tentu bergantung pada transparansi dan kejelasan yang diberikan pemerintah. Dalam hal ini, sepertinya pemerintah tidak memberikan kejelasan terkait tujuan, keuntungan dan efek dari pemasangan pagar laut ini. Hingga saat ini masyarakat masih bertanya tanya akan kejelasan dan tindak lanjut yang akan dilakukan pemerintah. Solusi yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan: 1. Transparansi Informasi Pemerintah dapat menyampaikan informasi secara terbuka, jujur dan akurat terkait kebijakan yang diterapkan pada isu yang berkembang. Publikasi kinerja, anggaran yang digunakan dan hasilnya kepada masyarakat secara berkala. 2. Meningkatkan Komunikasi Dua Arah Pemerintah harus membuka forum diskusi atau media sosial resmi yang memungkinkan pemerintah untuk mendengarkan aspirasi dan keluhan masyarakat. Setelah mendapatkan aspirasi dan keluhan dari masyarakat tentu pemerintah harus responsif. 3. Mengelola Isu Dengan Baik Humas pihak pemerintah harus bertindak secara cepat memberikan klarifikasi, fakta fakta yang ada dan menunjukan langkah langkah yang dilakukan pemerintah. Menghindari menyembunyikan masalah dan menyalahkan pihak lain juga perlu diperhatikan. Pesan yang harus disampaikan juga harus konsisten dan sejalan dengan tindakan nyata yang dilakukan. 4. Menunjukan Akuntabilitas Pemerintah perlu menunjukan bahwa mereka siap bertanggung jawab atas semua kebijakan dan keputusan yang diambil, termasuk melakukan evaluasi jika terjadi kesalahan BAB IV KESIMPULAN Kesimpulan Dalam kasus pagar laut di Tangerang ini, kami menyimpulkan bahwa teori Excellence merupakan pendekatan yang paling tepat untuk menangani permasalahan tersebut. Teori ini berfokus pada pembangunan hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan masyarakat melalui komunikasi yang terencana dan strategis. Selain itu, model Public Relations yang kami gunakan untuk memposisikan diri dalam kasus ini adalah model Two-Way Symmetrical. Model ini menekankan pentingnya dialog dua arah antara organisasi dan publik guna menciptakan hubungan yang harmonis dan saling memahami. Dengan menerapkan pendekatan ini, diharapkan solusi yang dihasilkan dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak secara adil dan efektif. DAFTAR PUSTAKA Grunig, J. E. (2008). The International Encyclopedia of Communication. In W. Donsbach (Ed.), The International Encyclopedia of Communication. Wiley. https://doi.org/10.1002/9781405186407 https://ekonomi.bisnis.com/read/20250109/99/1830258/kronologi-temuan-pagar-misterius3016-km-di-laut-tangerang https://m.antaranews.com/video/4586058/ganggu-nelayan-klh-pastikan-pagar-laut-tidakmilikiamdal#:~:text=ANTARA%20%2D%20Ombudsman%20RI%20bersama%20sejumlah,Menge nai%20Dampak%20Lingkungan%20(Amdal). https://modernis.co/opini/24083/pagar-laut-dan-ilusi-kesejahteraan-rakyat/ https://www.mongabay.co.id/2025/02/05/5-fakta-pagar-laut-tangerang-bagaimana-proseshukumnya/ https://www.tempo.co/politik/pagar-laut-di-tangerang-tak-kantongi-izin-berikut-regulasi-soalpkkprl-1197564
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )