Gambar 1 Sampul Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Sumber: www.gramedia.com Jembatan yang Retak: Dilema Idealisme dalam Kubangan Korupsi Sebuah Resensi Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Oleh Shadiqia F.H. Identitas Buku ● Judul Buku: Orang-Orang Proyek ● Penulis: Ahmad Tohari ● Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama ● Tahun Terbit: 2007 (Cetakan Kedua: 2015) ● Jumlah Halaman: 253 halaman ● ISBN: 978-602-03-2059-5 Di negeri yang gemar memamerkan pencapaian infrastruktur ini, jembatan-jembatan gagah dibangun, jalan tol diresmikan dengan gunting pita, dan gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang. Namun, di balik gemerlapnya peresmian dan janji-janji pembangunan, terselip realitas yang lebih pahit: proyek mangkrak, anggaran bengkak, serta konstruksi yang lebih banyak menguntungkan elite daripada rakyat. Kita tak perlu jauh-jauh mencari contoh. Dari Ibu Kota Nusantara (IKN) yang pembangunannya kerap diterpa isu ketidaksiapan, proyek Kereta Cepat yang terus membengkak biayanya, hingga jalanan yang baru diaspal namun sudah berlubang dalam hitungan bulan, semuanya menjadi pengingat bahwa pembangunan sering kali lebih mementingkan pencitraan daripada kesejahteraan. Berita tentang skandal proyek yang mangkrak, jalan yang amblas hanya beberapa bulan setelah diaspal, atau jembatan yang roboh dalam sebulan, bukan lagi sebuah kejutan. Anggaran digelapkan, material dikurangi, prosedur diakali. Korupsi dalam dunia proyek tidak hanya sekadar kecurangan administratif, ia telah menjelma menjadi arsitektur sistematis yang menopang kesejahteraan segelintir elite dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak. Lalu, apa yang terjadi ketika seseorang yang masih memegang teguh idealismenya terjun ke dalam dunia ini? Apakah ia bisa bertahan, atau akhirnya ikut hanyut dalam arus kecurangan? Inilah pertanyaan yang menjadi inti dari Orang-Orang Proyek, sebuah novel yang tidak hanya mengisahkan tentang pembangunan jembatan fisik, tetapi juga menguliti keretakan moral dalam dunia infrastruktur. Ahmad Tohari, dengan tajam dan penuh ironi, menyuguhkan kisah yang terasa begitu dekat dengan realitas kita hari ini. Novel ini mengisahkan Kabul, seorang insinyur muda yang penuh semangat, mendapat tugas memimpin proyek pembangunan jembatan di sebuah desa terpencil. Ia melihat proyek ini sebagai peluang untuk membangun sesuatu yang berarti, sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Namun, idealismenya mulai diguncang ketika ia menyaksikan bagaimana proyek ini dijalankan: anggaran dipangkas demi keuntungan pihak tertentu, material berkualitas buruk digunakan, dan pekerja di lapangan harus bekerja dalam kondisi yang jauh dari standar keselamatan. Lebih parahnya, proyek ini dipercepat demi kepentingan politik menjelang pemilu, mengabaikan faktor teknis yang krusial. Kabul mulai menyadari bahwa tugasnya bukan hanya membangun jembatan, tetapi juga bertahan dari permainan licik yang mengelilinginya. Ia menghadapi tekanan dari berbagai pihak, seperti atasan yang hanya peduli pada target waktu, rekan kerja yang sudah terbiasa dengan kompromi, dan lingkungan yang menganggap korupsi sebagai bagian dari sistem yang tak tergoyahkan. Di tengah dilema ini, Kabul bertemu Pak Tarya, seorang pensiunan pegawai negeri yang kini hidup sederhana sebagai pemancing di tepi sungai. Pak Tarya bukanlah sosok idealis seperti Kabul, tetapi seorang yang telah lama melihat kenyataan pahit dunia proyek. Dengan sikap sinisnya, ia menantang keyakinan Kabul, apakah kejujuran masih punya tempat di dunia yang telah lama terbiasa dengan kecurangan? Kabul dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan prinsipnya dan menghadapi konsekuensi yang berat, atau menyesuaikan diri dengan sistem yang sudah mapan. Apakah ia akan menjadi bagian dari perubahan, atau justru menyerah pada kenyataan bahwa kejujuran mungkin hanyalah satu-satunya kemewahan bagi mereka yang tidak terlibat dalam dunia proyek? Salah satu keunggulan utama Orang-Orang Proyek adalah kemampuannya menyajikan kritik sosial yang tajam tanpa terjebak dalam narasi yang menggurui. Ahmad Tohari tidak hanya menyoroti praktik korupsi dalam dunia pembangunan, tetapi juga menggambarkan bagaimana sistem ini telah mengakar dan menjadi begitu menggurita sehingga orang-orang di dalamnya tidak lagi melihatnya sebagai kesalahan, melainkan sebagai kelaziman. Kabul, sebagai tokoh utama, menjadi representasi dari individu yang masih memiliki harapan akan perubahan. Namun, yang menarik adalah bagaimana Tohari tidak menjadikannya sebagai pahlawan idealis yang sempurna. Kabul bukanlah tokoh yang kebal terhadap dilema moral, ia meragukan dirinya sendiri, ia tergoda untuk menyerah, dan ia pun menyadari bahwa melawan sistem tidak semudah yang ia bayangkan. Pak Tarya, di sisi lain, adalah simbol dari generasi yang sudah terlalu lama melihat kebobrokan hingga akhirnya memilih untuk bersikap sinis. Ia adalah sosok yang sudah kehilangan harapan, tetapi justru karena itu, ia bisa berbicara jujur tentang bagaimana dunia sebenarnya berjalan. Percakapan antara Kabul dan Pak Tarya adalah salah satu elemen paling kuat dan membekas dalam novel ini, karena di sanalah Tohari menyisipkan refleksi moral yang tajam. Salah satu momen paling mengena dalam novel ini adalah ketika Pak Tarya berkata bahwa proyek bukan soal membangun, tetapi soal "siapa yang mendapat bagian". Pernyataan ini bukan hanya relevan dengan dunia proyek, tetapi juga dengan berbagai aspek kehidupan di Indonesia saat ini, dari perizinan bisnis hingga pengadaan barang di sektor publik yang bahkan dikelola negara. Dari segi narasi, Tohari menggunakan pendekatan yang lebih reflektif daripada dramatis. Alih-alih menyajikan konflik besar yang eksplosif, ia membangun ketegangan secara perlahan melalui dilema batin Kabul. Hal ini membuat novel ini terasa lebih dekat dengan realitas—karena dalam kehidupan nyata, sering kali tidak ada pahlawan yang datang menyelamatkan keadaan. Yang ada hanyalah individu-individu yang harus memilih apakah mereka akan berpegang teguh pada prinsip mereka atau mengikuti arus demi kenyamanan hidup. Salah satu kekuatan utama novel ini adalah gaya bahasa yang khas dan sederhana, tetapi memiliki kedalaman makna yang kuat. Ahmad Tohari tidak hanya bercerita, tetapi juga menyisipkan banyak refleksi moral yang menggugah, terutama melalui percakapan Kabul dan Pak Tarya. Dialog mereka tidak sekadar menggerakkan alur, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis mengenai integritas dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Karakter dalam novel ini digambarkan dengan kuat dan realistis. Kabul merepresentasikan idealis yang ingin membawa perubahan tetapi harus menghadapi kenyataan pahit. Pak Tarya menjadi simbol perlawanan yang letih menghadapi sistem korup. Sementara itu, Dalkijo dan para pekerja proyek mencerminkan berbagai tipe individu yang memanfaatkan celah birokrasi demi keuntungan pribadi. Penggambaran yang hidup ini membuat pembaca seolah-olah pernah mengenal atau berinteraksi dengan tokoh-tokohnya. Membaca Orang-Orang Proyek seperti bercermin pada realitas yang enggan kita akui: kejujuran di tengah sistem yang telah terstruktur dalam korupsi bukan hanya sulit, tetapi juga berbahaya. Ahmad Tohari tidak sekadar menyuguhkan kisah Kabul, tetapi juga menggambarkan dilema banyak orang yang mencoba bertahan dalam sistem yang sudah membusuk. kekuatan terbesar novel ini adalah keberaniannya mengangkat isu yang masih relevan. Skandal proyek mangkrak, jalan berlubang, atau gedung ambruk bukan sekadar berita, melainkan kenyataan yang kita telan setiap hari. Kabul bisa saja siapa saja—seorang pegawai negeri yang masih bersih, jurnalis idealis, atau mahasiswa baru lulus yang ingin bekerja dengan integritas. Namun, seberapa lama seseorang bisa bertahan sebelum akhirnya menyerah? Meskipun kritik sosialnya tajam, gaya penceritaannya mungkin terasa lambat bagi sebagian pembaca. Konfliknya lebih bersifat psikologis dan moral daripada aksi yang eksplisit. Akhir yang menggantung juga memancing reaksi beragam—ada yang melihatnya sebagai kekuatan karena mencerminkan ketidakpastian realitas, ada yang merasa ditinggalkan tanpa jawaban jelas. Di situlah letak kejeniusan Tohari. Ia tidak menawarkan kepastian karena dunia nyata pun tidak demikian. Novel ini memaksa kita bertanya, jika berada dalam posisi Kabul, apakah kita cukup kuat bertahan? Ataukah kita hanya menunggu waktu sebelum ikut terseret dalam arus yang sama? Lebih dari sekadar kisah proyek infrastruktur, novel ini adalah peringatan halus tetapi menyakitkan. Ia menunjukkan bahwa korupsi bukan sekadar tindakan individu, tetapi budaya yang diwariskan. Bagi siapa pun yang ingin memahami dilema moral dalam sistem yang korup, novel ini adalah bacaan yang sangat layak. Orang-Orang Proyek bukan hanya sebuah novel tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang keretakan moral dalam sistem yang sudah lama rusak. Ahmad Tohari tidak menawarkan solusi atau akhir yang bahagia, ia membiarkan kita bergulat dengan pertanyaan besar: dalam dunia yang penuh kompromi, apakah kejujuran masih memiliki tempat? Setelah membaca novel ini, pertanyaannya bukan lagi tentang Kabul dan nasib jembatannya, tetapi tentang kita sendiri. Jika suatu hari kita berada dalam posisi Kabul, apa yang akan kita lakukan? DAFTAR PUSTAKA ● Gramedia Pustaka Utama. "Orang-Orang Proyek." Gramedia, diakses 10 Februari 2025, https://www.gramedia.com/products/orang-orang-proyek-cover-baru.
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )