RETIKULUM ENDOPLASMA Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Biologi Sel Dosen Pengampuh: Prof. Dr. Adnan, M.S. Oleh: KELOMPOK I 1. Muhammad Isrul (240013301045) 2. Mutmainnah Nur Islamia (240013301007) KELAS PENDIDIKAN BIOLOGI A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR TAHUN 2025 i KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Retikulum Endoplasma”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Retikulum Endoplasma, yang diampu oleh Bapak Prof. Dr. Adnan, M.S. selaku dosen pengampuh mata kuliah Biokimia dan Biologi Sel di Program Studi Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Islam Negeri Makassar. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi kalangan banyak umumya. Amin. Makassar, 24 Maret 2025 Kelompok 2 ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii BAB I ...................................................................................................................... 2 PENDAHULUAN .................................................................................................. 2 A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 2 B. Rumusan Masalah...................................................................................... 3 C. Tujuan ......................................................................................................... 3 BAB II .................................................................................................................... 4 PEMBAHASAN .................................................................................................... 4 A. Pengertian Retikulum Endoplasma .................... Ошибка! Закладка не определена. B. Struktur Retikulum Endoplasma . Ошибка! Закладка не определена. C. Macam-Macam Retikulum Endoplasma ............ Ошибка! Закладка не определена. D. Proses Sintesis Retikulum Endoplasma .............. Ошибка! Закладка не определена. E. Hubungan Retikulum Endoplasma dengan Sistem Membran Lain Ошибка! Закладка не определена. BAB III ................................................................................................................. 16 PENUTUP ............................................................................................................ 16 A. Kesimpulan ............................................................................................... 16 B. Saran ......................................................................................................... 16 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 17 iii iv 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sel merupakan unit struktural fungsional, dan genetik sebagai penyusun dari mahluk hidup. Di dalam sel terdapat protoplasma yang tersusun atas karbohidrat, lemak, protein dan asam nukleat. Berdasarkan tipe sel dibedakan menjadi prokariotik dan eukariotik. Sel yang memiliki membran inti adalah prokariotik sedangkan yang tidak memiliki membran inti adalah eukariotik. Semua sel eukariotik memiliki retikulum endoplasma (RE). Membran pada RE biasanya lebih banyak dan lebih dari setengah total membran rata-rata sel hewan. Hal ini terorganisir menjadi labirin seperti jaring dari tubulus bercabang dan kantung pipih yang membentang di seluruh sitosol. Tubulus dan kantung semuanya dianggap saling berhubungan, sehingga membran ER membentuk amembaran kontinu yang melingkupi satu ruang internal. Ruang yang sangat berbelit-belit ini disebut RE lumen atau ruang cisternal RE, dan sering menempati lebih dari 10% dari total volume sel. Membran RE memisahkan lumen RE dari sitosol, dan menjadi perantara transfer selektif molekul antara dua kompartemen ini. Retikulum endoplasma memainkan peran sentral dalam biosintesis lipid dan protein. Membrannya adalah tempat produksi semua protein transmembran dan lipid untuk sebagian besar organel sel, termasuk UGD itu sendiri, aparatus Golgi, lisosom, endosom, vesikula sekretori, dan plasma membran. Membran RE juga memberikan kontribusi besar pada mitokondria dan peroksisomal membran dengan memproduksi sebagian besar lipidnya. Selain itu, hampir semua protein yang akan disekresikan ke bagian luar sel - serta yang ditujukan untuk lumen ER, aparatus Golgi, atau lisosom - pada awalnya dikirim ke lumen UGD. Pada sitoplasma terdapat membran yang berbentuk pembuluh, gelembung atau vakuola dan rongga rongga pipih yang saling berhubungan dikenal dengan istilah retikulum Endoplasma. Retikulum endoplasama merupakan organel yang tidak statis dan dapat dianggap sebagai salah satu komponen dari suatu sistem dinamik yang mempunyai hubungan dengan membrane plasma dan membran luar selaput 3 inti. Sedangkan organel organel lain tidak mempunyai hubungan langsung tapi dapat terjadi interaksi secara langsung atau tidak (Belden, 2001). B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan retikulum endoplasma? 2. Bagaimana struktur retikulum endoplasma? 3. Apa saja jenis-jenis dari retikulum endoplasma serta bagaimana fungsinya? 4. Bagaimana keberlangsungan proses biosintesis dalam retikulum endoplasma? 5. Bagaimana hubungan antara retikulum endoplasma dengan membran lain? C. Tujuan 1. Menjelaskan defenisi dari retikulum endoplasm! 2. Menjelaskan struktur dari rerikuum endoplasma! 3. Menjelaskan berbagai jenis retikulum endoplasma beserta fungsinya! 4. Menjelaskan terjadinya proses biosintesis yang berlangsung dalam sitoplasma! 5. Menjelaskan hubungan anatara retikulum endoplasma dengan membran lain! 4 BAB II PEMBAHASAN A. Retikulum Endoplasma Retikulum endoplasma (RE) merupakan sistem membran yang sangat luas dan terdapat dalam sitoplasma. Retikulum endoplasma (endoplasmic reticulum) merupakan jejaring membran yang banyak menyusun lebih dari separuh total membran dalam sel eukariotik. Kata endoplasma berarti "di dalam sitoplasma" sedangkan reticulum berarti " jaring kecil". Dikatakan bahwa semua sel eukariot mengandung retikulum endoplasma, dimana organil ini bukan organel statis akan tetapi merupakan komponen dari suatu sistem selaput yang dinamis dan mudah dikenali. Sistem selaput ini mencakup semua selaput organel yang berada dalam sel dengan kisaran 50 % dari semua selaput yang terdapat pada sebuah sel yaitu selaput RE (Kurniati, 2020). Secara umum retikulum endoplasma berperan sebagai jalur transportasi intraseluler bagi sel. B. Struktur Retikulum Endoplasma Membran RE memiliki struktur yang berlipat-lipat, membentuk suatu ruangan yang disebut lumen RE yang merupakan bagian berongga. Organel ini merupakan bangunan yang berbentuk ruangan-ruangan yang berdinding membran dan saling berhubungan. Masing-masing ruangan mempunyai bentuk dan ukuran berbeda. Dapat dibedakan menjadi tiga jenis: 1. Sisterna, berbentuk ruangan gepeng yang kadangkadang tersusun berlapislapis dan saling berhubungan. 2. Tubuler, berbentuk seperti pipa-pipa kecil yang saling berhubungan. 3. Vesikuler, berbentuk sebagai gelembung-gelembung yang berlapis-lapis. Retikulum endoplasma dikenal memiliki dua daerah yang berbeda secara fungsional, yaitu daerah pertama, RE yang permukaan sitosolik yang membrannya ditempeli ribosom, daerah ini disebut dengan istilah retikulum endoplasma granular (retikulum endoplasma kasar). Daerah kedua tidak terdapat ribosom pada permukaan sitosolik membran RE yang disebut retikulum endoplasma agranular (retikulum endoplasma halus). Kedua jenis RE tersebut menyusun sistem membran 5 yang melingkupi suatu ruang. Pada bagian dalam membran disebut ruang sisternal (cisternal space) dan daerah diluar membran yang disebut ruang sitosolik (Cytololic space) (Lukitasari, 2015). Retikulum endoplasma kasar mengandung ribosom dan berperan dalam mensintesis protein da modifikasi protein. Sedangkan retikulum endoplasma halus berperan dalam sintesis membran baru (Adnan et al, 2015). Struktur membran retikulum endoplasma sesuai dengan model membran mosaik cair dari Singer dan Nicolson. Dalam beberapa hal, membran reikulum endoplasma berbeda dengan membran plasma, antara lain: 1. Ketebalan membran; Membran plasma lebih tebal dari retikulum endoplasma. Memran plasma memiliki keteblan antara 8-10 nm, sedangkan membran retikulum endoplasma memiliki ketebalan berkisar 5 nm. 2. Rasio protein; Jumlah protein yang terdapat dalam membran plasma lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah protein yang terdapat dalam membran retikulum endoplasma. Oleh karena itu struktrur membran pada retikulum endoplasma lebih stabil dibandingkan membran plasma. 3. Rasio kolesterol; Konsentrasi kolestrol yang terdapat pada membran plasma lebh sedikit dibandingkan dengan konsentrasi kolestrol yang terdapat pada membran retikulum endoplasma. 4. Fluiditas; Membran plasma lebih cair dibandingkan dengan membran retikulum endoplasma. Hal tersebut diakibatkan karena kandungan protein yang terdapat pada membran plasma lebih sedikit dibandingkan membran etikulum endoplasma. Retikulum endoplasma merupakan alat yang bekerja dalam memisahkan molekul-molekul baru yang telah disintesis dalam sitosol dan yang tidak melalui proses sintesis dalam sitosol. Berikutnnya retikulum endoplasma terlibat sebagai pusat biosintesis makromolekul yang digunakan dalam membangun strukturstruktur seluler yang lain. Dalam hal ini lipida, protein, dan karbohidrat di kirim ke badan golgi, membran plasma, lisosom, atau bahkan ke bagian luar sel. C. Jenis-Jenis Retikulum Endoplasma 1. Retikulum endoplasma granural (kasar) 6 Retikulum endoplasma kasar berupa kantung-kantung yang pipih. Retikulum endoplasma kasar pada umumnya ditemukan pada sel-sel khusus dalam mensekresikan protein, diantaranya sel-sel asinar pankreas, sel-sel plasma yang mensekresikan antibodi maupun sel yang berperan aktif dalam mensintesis membran, dalam hal ini misalnya sel telur muda atau sel matang pada retina. RE adalah tempat berlangsungnya sintesis protein yang ditunjukkan untuk dsekresikan, disintesis untuk membran serta organel-organel intra membran lainnya. Gambar 2.1. Ilustrasi Struktur Retikulum Endoplasma Sumber: Quipper.com. (2019) Permukaan membran retikulum endoplasma kasar memiliki partikelpartikel ribosom yang menempel. Ribosom yang melekat pada membran retikulum endoplasma melalui perantara glikoprotein khusus yang disebut riboforin. Riboforin ini adalah reseptor untuk partikel ribosom dengan BM 63.000 dan 65.000 dalton yang berbentuk kubah yang tidak dimiliki oleh membran retikulum endoplasma halus. Riboforin merupakan protein yang menempel secara permanen (integral) pada membran retikulum endoplasma kasar. Berdasarkan bentuknya retikulum endoplasma terbagi dalam 3 bentuk, yaitu: RE dengan bentuk lamela, RE berbentuk versikula, dan RE berbentuk tubulus. Dibawah ini terdapat beberapa fungsi retikulum endoplasma kasar, diantaranya yaitu: 7 Permukaan untuk Ribosom- RER menyediakan permukaan besar untuk perlekatan ribosom. Permukaan untuk sintesis- RER menawarkan permukaan yang luas di mana sintesis protein dapat dengan mudah dilakukan oleh ribosom. Protein yang baru terbentuk dapat memasuki membran RE, menjadi bagian dari struktur membran atau masuk ke lumen RE. Protein yang menjadi bagian dari membran RE akhirnya berpindah dari RE melalui membran organel sel lain, yaitu aparatus Golgi, vesikel sekretaris menjadi protein membran plasma permanen. Protein yang memasuki lumen ER dikemas untuk diekspor. Pengemasan- Protein dalam lumen RE diproses dan ditutup dalam vesikel terikat membran bola yang terlepas dari RE. Vesikel ini memiliki berbagai nasib. Beberapa tetap berada di sitoplasma sebagai vesikel penyimpanan sementara yang lain bermigrasi ke membran plasma dan mengeluarkan isinya melalui eksositosis. Beberapa bergabung dengan aparatus Golgi untuk pemrosesan lebih lanjut dari protein mereka untuk penyimpanan atau pelepasan dari sel. Pembentukan Amplop Nuklir- RER membentuk amplop nuklir di sekitar sel anak dalam pembelahan sel. Pembentukan Glikoprotein- Proses menghubungkan gula ke protein untuk membentuk glikoprotein dimulai di RER dan diselesaikan di aparatus Golgi 2. Retikulum endoplasma agranural (halus) REA dibandingan dengan REG mempunyai perbedaan struktur dalam dua hal, yaitu tidak memiliki ribosom pada permukaan membrannya dan sebagian besar berbentuk tubuler yang saling beranyaman. RE sarkoplasmik adalah jenis khusus dari RE halus. RE sarkoplasmik ini ditemukan pada otot licin dan otot lurik. Yang membedakan RE sarkoplasmik dari RE halus adalah kandungan proteinnya. RE halus mensintesis molekul, sementara RE sarkoplasmik menyimpan dan memompa ion kalsium. RE sarkoplasmik berperan dalam 8 pemicuan kontraksi otot. Kadang-kadang dapat diamati bahwa REA ini berhubungan dengan REG. Jumlah REA dalam sebuah sel sangat tergantung pada tipe atau jenis sel bersangkutan, sehingga hanya pada jenis-jenis sel tertentu saja retikulum endoplasma halus ini tampak sangat menonjol. Keberadaannya hanya dapat dideteksi dengan mikroskop elektron. Fungsi retikulum endoplasma halus diantaranya: Metabolisme lipid Sintesis kolesterol dan metabolisme hormon-hormon steroid. Pembentukan organel- SER menghasilkan aparatus Golgi, lisosom, badan mikro, dan vakuola. Rute transportasi- Protein bergeser dari RER melalui SER ke aparatus Golgi untuk diproses lebih lanjut. Menyerap Ca 2+ dari sitosol. Pelepasan Ca 2+ ke dalam sitoplasma dari ER, dan pengambilan kembali pelepasan Ca 2+ ke dalam sitosol dari ER, dan pengambilan kembali, berikutnya memediasi banyak hal yang cepat cepat terhadap sinyal ekstraseluler. Penyimpanan Ca 2+ di dalam ER lumen difasilitasi oleh konsentrasi tinggi protein pengikat Ca 2+ di sana. Pada beberapa jenis sel, dan mungkin pada sebagian besar, daerah spesifik RE dikhususkan untuk penyimpanan Ca 2+. Sel otot, memiliki RE halus khusus yang melimpah, yang disebut retikulum sarkoplasma, yang mengambil Ca 2+ dari sitosol melalui Ca 2+-ATPase yang memompa Ca 2+; pelepasan dan pengambilan kembali Ca 2+ oleh retikulum sarkoplasma memediasi kontraksi dan relaksasi miofibril selama setiap putaran kontraksi otot. Selain itu retikulum endoplasma halus mengandung enzim-enzim yang dibutuhkan untuk mensintesis lipidprotein, sebagai contoh sel-sel hepatosit yang merupakan sel-sel utama yang menyusun jaringan hati (parenkim hati) dan bertanggung jawab atas berbagai fungsi metabolisme, dan penyimpanan energi, serta produksi empedu, selain itu RE halus juga memiliki enzim yang berperan dalam detoksifikasi mislanya enzim sitokrom p450. Menurut Manikadan & Nagini 9 (2018) bahwa Enzim sitokrom P450 (CYP) adalah hemoprotein terikat membran yang memainkan peran penting dalam detoksifikasi xenobiotik, metabolisme seluler, dan homeostasis. Induksi atau inhibisi enzim CYP merupakan mekanisme utama yang mendasari interaksi obat-obat. Enzim CYP dapat diaktifkan secara transkripsi oleh berbagai xenobiotik dan substrat endogen melalui mekanisme yang bergantung pada reseptor. Inhibisi enzim CYP merupakan mekanisme utama untuk interaksi obat-obat berbasis metabolisme. Retikulum endoplasma halus berperan dalam detoksifikasi zat-zat beracun terutama pada sel-sel hati dengan memodifikasi racun sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. D. Biosintesis Retikulum Endoplasma Retikulum endoplasma merupakan pusat biosintesis pada sel. Protein transmembran dan lipida dari selaput RE, Golgi, lisosom, selaput sel, dan selaput organel yang lain, awal sintesisnya berhubungan erat dengan selaput retikulum endoplasma. Protein yang disintesis dan direncanakan untuk berada di lumen RE, sisterna Golgi, lumen Lisosom, maupun yang akan disekresikan, semula semua masuk ke dalam RE. Beberapa biosintesis antara lain: biosintesis protein dan glikosilasi, fosfolipida dan kolesterol, detoksifikasi. 1. Biosintesis protein dan glikosilasi Butir-butir ribosom yang menempel pada selaput RE, mensintesis rantai polipeptida yang perpanjangannya tidak berada di sitosol melainkan menembus selaput. Sebagian dari rantai polipeptida ini tetap berada di selaput menjadi protein transmembran, bagian yang lain dilepas kedalam sisterna RE. Polipeptida atau protein transmembran diperuntukkan bagi selaput sel atau selaput-selaput organel lainnya, sedangkan protein-protein yang dituangkan kedalam lumen RE diperuntukan bagi organela-organela atau disekresikan. Perpindahan rantai polipeptida dari sitosol ke suatu organel tidak selalu berlangsung bersama-sama dengan proses penerjemahan, seperti yang terjadi pada RE. Perpindahan molekul protein dari sitosol ke mitokondria, kloroplas, dan peroksisoma terjadi setelah molekul-molekul itu selesai disintesis. Proses ini melibatkan hidrolisis ATP yang terdapat di sitosol. Energi yang terbentuk 10 digunakan untuk mengurai lipatan molekul-molekul protein yang akan dipindahkan. Menangkap protein yang dipilih dari sitosol saat sedang disintesis. Protein ini terdiri dari dua jenis: (1) protein transmembran, yang hanya sebagian ditranslokasi membran RE dan tertanam di dalamnya, dan (2) protein yang larut dalam air, yang sepenuhnya ditranslokasi melintasi membran RE dan dilepaskan ke dalam lumen ER. Beberapa dari protein transmembran akan tetap berada di RE, tetapi banyak yang ditakdirkan untuk berada di plasma membran atau membran organel lain; protein yang larut dalam air ditakdirkan untuk keduanya untuk lumen organel atau untuk sekresi. Semua protein ini, terlepas dari nasib mereka selanjutnya nasib, diarahkan ke membran RE oleh jenis peptida sinyal yang sama dan ditranslokasi melewatinya dengan mekanisme yang sama. Proses Sintesis protein terlibat dua reseptor dalam retikulum endoplasma yaitu : Reseptor yang mengenali ribosom sub unit besar dengan rantai polipeptidanya yang baru terbentuk. Reseptor yang mengikat ujung 3 mRNA yang pada eukariota ditandai dengan poli A. Sintesis protein dilakukan oleh polisom atau ribosom pada membran retikulum endoplasma. Pada m-RNA terdapat kodon untuk protein isyarat (signal peptida). Sintesis protein yang dilakukan oleh polisom maupun ribosom di membran retikulum endoplasma. Pada mRNA memiliki kodon yang berfungsi sebagai protein isyarat (singnal peptida). Proses sintesis tersebut memiliki tahapantahapan menurut Adnan et al (2015) yaitu: a. mRNA terlepas dari inti dan melekat bersama riosom dalam upaya memulai sintesis protein. Ribosom pad mRNA menuju kodon star yang kemudian berlanjut pada proses translasi kodon untuk protein isyarat dan akan menghasilkan signal atau tanda peptida. Proses translasi berlangsung dalam sitosol, dimana dalam sitosol tersebut ada partikel pengenal isyarat (SRP). 11 b. Signal peptida berikatan dengan partikel pengenal isyarat, protein pengenal isyarat kemudian akan terikap pada reseptor yang ada pada bagain luar (permukaan membran) retikulum endoplasma. c. Adanya ikatan protein dan reseptornya menyebabkan aliran translokasi protein pada membran retikulum endoplasma terbuka yang tidak menutup kemungkinan polipeptida (sebagai protein isyarat) masuk dalam lumen retikulum endoplasma. Selama proses ini berlangsung dalam waktu tertentu proses sintesis protein akan terhenti sampai protein isyarat menembus celah yang ada pada membran endoplasma. d. Berikutnya apabila protein isyarat telah menembus dan melewati membran retikulum endoplasma, maka sintesis polipeptida baru dimulai. Protein isyarat yang ada dalam lumen retikulum akan dilepaskan oleh signal peptidase. e. Setelah protein isyarat terlepas, akan terjadi proses perpanjangan polipeptida yang berlangsung didalam lumen sampai ribosom sampai pada kodon stop, berikutnya polipeptida yang baru akan dilepaskan kedalam lumen. Dengan demikian pada ribosom yang telah selesai melakukan translasi akan mengalami disosiasi (periode istirahat) dan akan terlepas dalam sitoplasma. Gambar 2.2. Sintesis protein pada ribosom yang terdapat pada membran endoplasma (Partin, 2007). 12 2. Fosfolipid dan Kolesterol Sebagian Besar Lapisan Lipid Membran Dirakit di Membran retikulum endoplasma yang menghasilkan hampir semua lipid yang dibutuhkan untuk pembuatan membran sel baru, termasuk fosfolipid dan kolesterol. Fosfolipid utama yang dibuat adalah fosfatidilkolin (juga disebut lesitin), yang dapat dibentuk dalam tiga langkah dari kolin, dua asam lemak, dan gliserol fosfat. Setiap langkah dikatalisis oleh enzim dalam membran ER yang memiliki situs aktif menghadap sitosol, tempat semua metabolit yang dibutuhkan ditemukan. Dengan demikian, sintesis fosfolipid terjadi secara eksklusif di bagian sitosol dari lapisan ER. Pada langkah pertama, asiltransferase secara berturut-turut menambahkan dua asam lemak ke gliserol fosfat untuk menghasilkan asam fosfatida, senyawa yang cukup tidak larut dalam air untuk tetap berada dalam lapisan lipid setelah disintesis. Langkah inilah yang memperbesar lapisan lipid; langkah selanjutnya menentukan kelompok kepala dari molekul lipid yang baru terbentuk, dan karenanya menentukan sifat kimia dari lapisan ganda, tetapi tidak menghasilkan pertumbuhan membran bersih. Gambar 2.3. Ilustrasi sintesis fosfatidilkolin. Fosfolipid disintesis dari lemak asilkoenzim A (lemak asil CoA), gliserol 3-fosfat, dan sitidina-bisfosfokolin (CDPcholine). 13 Dua fosfolipid membran utama lainnya, fosfatidiletanolamin (PE) dan fosfatidilserin (PS), serta fosfolipid minor fosfatidilinositol (PI), semuanya disintesis dengan cara ini. Sintesis fosfolipid terjadi di bagian sitosol dari lapisan ganda ER, perlu ada mekanisme yang mentransfer beberapa molekul fosfolipid yang baru terbentuk ke bagian lain dari lapisan ganda tersebut. Dalam lapisan ganda lipid sintetis, lipid tidak "berubah-ubah" dengan cara ini. Namun, di ER, fosfolipid mencapai keseimbangan di seluruh membran dalam hitungan menit, yang hampir 100.000 kali lebih cepat daripada yang dapat dijelaskan oleh "berubah-ubah" spontan. Pergerakan translapis ganda yang cepat ini diperkirakan dimediasi oleh translokator fosfolipid yang spesifik terhadap gugus kepala. Secara khusus, membran ER tampaknya mengandung translokator ("flippase") yang mentransfer fosfolipid yang mengandung kolin - tetapi bukan fosfolipid yang mengandung etanolamin, serin, atau inositol - antara permukaan sitosol dan luminal. Ini berarti bahwa fosfatidilkolin mencapai permukaan luminal jauh lebih mudah daripada fosfolipid lainnya. Dengan cara ini, translokator bertanggung jawab atas distribusi lipid yang asimetris dalam lapisan ganda. Gambar 2.4. Peran translokator fosfolipid dalam sintesis lapisan ganda lipid 14 Peran molekul lipid baru hanya ditambahkan ke bagian sitosol dari lapisan ganda dan molekul lipid tidak berpindah secara spontan dari satu lapisan tunggal ke lapisan tunggal lainnya, protein translokator fosfolipid yang terikat membran ("flippase") diperlukan untuk mentransfer molekul lipid terpilih dari bagian sitosol ke bagian luminal sehingga membran tumbuh sebagai lapisan ganda. Karena flippase dalam membran ER lebih suka mengenali dan mentransfer gugus kepala yang mengandung kolin, lapisan ganda asimetris dihasilkan, dengan lapisan tunggal luminal (yang menghasilkan bagian luar lapisan ganda membran plasma) yang sangat diperkaya dengan fosfatidilkolin Retikulum endoplasma juga memproduksi kolesterol dan seramida. Seramida dibuat dengan mengondensasi asam amino serin dengan asam lemak untuk membentuk alkohol amino sfingosina; asam lemak kedua kemudian ditambahkan untuk membentuk seramida. Seramida diekspor ke aparatus Golgi, tempat ia berfungsi sebagai prekursor untuk sintesis dua jenis lipid: rantai oligosakarida ditambahkan untuk membentuk glikosfingolipid (glikolipid), dan gugus kepala fosfokolin dipindahkan dari fosfatidilkolin ke molekul seramida lainnya untuk membentuk sfingomielin. Jadi, baik glikolipid maupun sfingomielin diproduksi relatif terlambat dalam proses sintesis membran. Karena keduanya diproduksi oleh enzim yang terpapar ke lumen Golgi, keduanya ditemukan secara eksklusif di bagian non-sitosolik dari lapisan ganda lipid yang mengandungnya. Biosintesis kolesterol yang terjadi dalam retikulum endoplasma melibatkan berbagai enzim. Jenis dari enzim tersebut yaitu berbentuk enzim terlarut dan enzim yang terikat pada membran. Jadi kolesterol disintesis dari asetat yang dimana secara bertahap akan menghasilkan β- hidroksi -β-metiglutari coenzim A (HMG-CoA). HMG-CoA yang berikutnya diubah menjadi mevalonat dimana enzim yang berkontribusi yaitu HMG-CoA reduktase (enzim terikat membran). Selanjutnya mevalonat secara bertahap diubah mnejadi fernesyl pirofosfat (enzim yang terlarut) (Thorpe, 1984; Adnan et al, 2015). Fernesyl pirofosfat berikutnya akan diubah menjadi squalen dengan bantuan squalen sintetase. Enzim ini adaah enzim yang terikat membran, yang kemudian diubah menjadi kolesterol. Jadi semua enzim yang 15 berkontribusi dalam proses perubahan squalen akan menjadi kolesterol yang merupakan enzim-enzim terikat membran. E. Hubungan Retikulum Endoplasma dengan Sistem Membran Lain Sejumlah organel-organel berbatas membran diantaranya mtokondria, lisosom, badan golgi, mikrobodi dan inti yang terdapat didalam sitoplasma. Retikulum endoplasma bersama dengan sistem membran yang membentuk jalinan dalam sel yang disebut dengan istilah jaringan rongga sel (Cytocavity). Jaringan ini memisahkan sel kedalam dua kompartemen diantaranya kompartemen sitoplasma dan kompartemen rongga dalam (intacavity) dimana satu sisinya mengarah pada sitosol dan sisi yang lain mengarah pada lumen jaringan rongga sel. Jaingan dari rongga sel dan retikulum endoplasma membentuk suatu sistem peredaran didalam sel dan enzim-enzim yang disebarkan secara meluas dalam aktivitas katabolisme dan anabolisme. Dengan adanya jalinan antara rongga tersebut, maka mampu membuat substrat yang penting dengan cepat akan mencapai bagian dalam sel dengan cara difusi membran dan gerakan membran. Jadi berbagai bahan yang disintesis dan dirakit dalam sel maka akan cepat diangkut pada permukaan sel. Jadi apabila sistem membran tidak dinamis, akan menyebabkan substrat tidak mampu berdifusi kedalam enzim-enzim dengan cepat. Fearon, E.R.; Vogelstein, B. A genetic model for colorectal tumorigenesis. Cell 61: 759-767. 1990. (PubMed) 16 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran Dalam penyusunan makalah ini penulis telah berusaha mencapai hasil yang sempurna, namun karena keterbatasan pencarian data dan penulis dalam menyusun makalah ini. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran. Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian. 16 DAFTAR PUSTAKA 17
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )