LAPORAN HASIL ANALISIS QUALITY BUDAYA ORGANISASI, LEVEL OF CULTURE, DAN 7 KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI DI PT. MBT STEEL Disusun Oleh : KELOMPOK 5 Elia Chiyah Feronika Mitha Mugi Rahayu Dhea Febriliany Susanto Riska Sari Devi Nadia Putri Permatasari Grace Thereskova Da Silvi Sihite (23012010204) (23012010210) (23012010211) (23012010248) (23012010270) (23012010278) Mata Kuliah Budaya Organisasi Lintas Negara Kelas F012 DAISY MARTHINA ROSYANTI, S.E., M.M PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR TAHUN AJARAN 2025 i KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan "Hasil Analisis Quality Budaya Organisasi, Level of Culture, dan 7 Karakteristik Budaya Organisasi" ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan ini disusun sebagai bentuk kajian dan evaluasi mendalam terhadap budaya organisasi, yang menjadi salah satu faktor kunci dalam keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai visi dan misinya. Analisis yang dilakukan dalam laporan ini mencakup tiga aspek utama, yaitu kualitas budaya organisasi, level budaya dalam organisasi, dan tujuh karakteristik budaya organisasi. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bagaimana budaya organisasi berperan dalam membentuk perilaku, nilai, serta kinerja individu dan kelompok di dalam organisasi. Kami menyadari bahwa penyusunan laporan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, baik dalam bentuk data, masukan, maupun dukungan lainnya. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, khususnya dalam memahami pentingnya budaya organisasi dalam pengelolaan sumber daya manusia dan peningkatan kinerja organisasi. Akhir kata, kami berharap laporan ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi pengembangan organisasi yang lebih baik di masa depan. Kami juga terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan analisis di masa yang akan datang. Surabaya, Februari 2025 Tim Penyusun ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 1.1 LATAR BELAKANG ..................................................................................... 1 1.2 RUMUSAN MASALAH ................................................................................. 1 1.3 TUJUAN ........................................................................................................ 2 BAB II TINJAUAN TEORI ...................................................................................... 3 2.1 QUALITY BUDAYA ORGANISASI .............................................................. 3 2.2 ANALISIS LEVEL OF CULTURE (EDGAR SCHEIN’S MODEL) ................. 3 2.3 KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI ................................................. 4 BAB III PROFIL PERUSAHAAN ............................................................................. 6 3.1 DESKRIPSI PERUSAHAAN .......................................................................... 6 3.2 VISI DAN MISI PERUSAHAAN .................................................................... 6 3.3 PRODUK DAN LAYANAN PERUSAHAAN .................................................. 6 3.4 PROFIL NARASUMBER .............................................................................. 7 BAB IV HASIL ANALISIS ........................................................................................ 8 4.1 KUALITAS BUDAYA ORGANISASI ........................................................... 8 4.2 TINGKATAN BUDAYA DALAM ORGANISASI (EDGAR SCHEIN’S MODEL) ............................................................................................................. 9 4.3 KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI (MODEL ROBBINS AND JUDGE) …………………………………………………………………. 13 BAB V KESIMPULAN ........................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 15 LAMPIRAN ............................................................................................................ 16 1. Daftar Pertanyaan ........................................................................................ 16 2. Dokumentasi ................................................................................................ 20 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Budaya organisasi merupakan aspek utama yang memiliki pengaruh besar terhadap kinerja, inovasi, dan keberlanjutan suatu organisasi. Budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai pola asumsi dasar, nilai, norma, keyakinan, dan praktik yang dibagikan oleh anggota organisasi. Budaya ini berfungsi sebagai "perekat sosial" yang membantu organisasi membentuk identitasnya dan cara beroperasi. Dalam menganalisis kualitas budaya organisasi, penting untuk memahami level atau tingkatan budaya serta karakteristik-karakteristik utama yang membentuknya. Analisis mendalam terhadap kualitas budaya organisasi memungkinkan para pemimpin dan manajer untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, menyelaraskan nilai-nilai dengan strategi bisnis, serta melakukan intervensi yang tepat untuk meningkatkan efektivitas organisasi. Dengan memahami level-level budaya dan karakteristik utamanya, organisasi dapat mengembangkan pendekatan yang komprehensif dalam mengelola dan mentransformasi budaya mereka sesuai dengan tuntutan perubahan lingkungan bisnis. Pengembangan budaya organisasi yang kuat dan adaptif menjadi faktor penentu kesuksesan organisasi dalam jangka panjang. Pendekatan sistematis dalam mengelola budaya organisasi tidak hanya meningkatkan kinerja dan keterlibatan karyawan, tetapi juga memperkuat identitas organisasi dan kemampuannya dalam merespons perubahan. Dengan memahami nuansa budaya organisasi, para pemimpin dapat membuat keputusan strategis yang lebih efektif dan membangun pondasi yang kokoh untuk pertumbuhan berkelanjutan. 1.2 1) 2) 3) RUMUSAN MASALAH Bagaimana kualitas budaya organisasi saat ini berpengaruh terhadap produktivitas, kepuasan kerja, inovasi, dan kolaborasi antar tim di perusahaan? Sejauh mana level budaya organisasi (artifacts, espoused values, dan basic assumptions) telah terintegrasi dan mempengaruhi pengambilan keputusan serta perilaku sehari-hari karyawan di perusahaan? Bagaimana implementasi tujuh karakteristik budaya organisasi (inovasi & pengambilan risiko, perhatian terhadap detail, orientasi hasil, orientasi manusia, orientasi tim, agresivitas, dan stabilitas) di perusahaan dan apa tantangan dalam membangun serta memeliharanya? 1 4) Apakah budaya organisasi yang ada saat ini termasuk dalam kategori kuatpositif, kuat-negatif, lemah-positif, atau lemah-negatif, dan bagaimana upaya perusahaan dalam menegakkan, menginternalisasi, serta mengembangkan budaya organisasi tersebut? 1.3 1) TUJUAN Menganalisis dan mengevaluasi pengaruh kualitas budaya organisasi terhadap produktivitas, kepuasan kerja, inovasi, dan kolaborasi antar tim di perusahaan. Mengidentifikasi dan mengkaji tingkat internalisasi level budaya organisasi (artifacts, espoused values, dan basic assumptions) serta dampaknya terhadap pengambilan keputusan dan perilaku sehari-hari karyawan. Mendeskripsikan dan menganalisis implementasi tujuh karakteristik budaya organisasi menurut Robbins & Judge di perusahaan serta mengidentifikasi tantangan dalam membangun dan memeliharanya. Menentukan kategori budaya organisasi yang ada saat ini (kuat-positif, kuatnegatif, lemah-positif, atau lemah-negatif) dan mengevaluasi upaya perusahaan dalam menegakkan, menginternalisasi, serta mengembangkan budaya organisasi tersebut. 2) 3) 4) 2 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 QUALITY BUDAYA ORGANISASI Budaya organisasi, sebagaimana didefinisikan oleh para ahli, merupakan faktor kunci penentu keberhasilan. Edgar Schein menjabarkannya sebagai sistem keyakinan, norma, dan nilai yang diterima anggota organisasi, sementara Robbins memandangnya sebagai persepsi bersama yang dianut anggota organisasi. Susanto menekankan peran budaya sebagai acuan bagi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menyelesaikan masalah eksternal, sedangkan Siagian melihatnya sebagai penentu batas perilaku anggota. Definisi-definisi ini memberikan perspektif yang beragam namun saling melengkapi tentang kompleksitas budaya organisasi. Kualitas budaya organisasi, seperti yang diuraikan Robbins dapat dinilai dari beberapa dimensi, termasuk inisiatif individu, toleransi terhadap risiko, arah yang jelas, integrasi, dukungan manajemen, dan kontrol. Beach juga menambahkan bahwa budaya organisasi menentukan hal-hal penting yang mendasari organisasi, menjelaskan penggunaan sumber daya dan menciptakan harapan antar anggota. Semua perspektif ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang apa yang membentuk budaya organisasi yang efektif. Budaya organisasi yang berkualitas, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mengacu pada tingkat kualitas dan efektivitas organisasi dalam mencapai tujuan dan sasarannya. Hal ini mencakup keselarasan nilai dan perilaku, komitmen kuat anggota, proses kerja yang efisien dan efektif, serta dorongan terhadap inovasi dan adaptasi. Pada akhirnya, budaya yang berkualitas menciptakan lingkungan kerja yang positif dan bermanfaat bagi karyawan. Dengan demikian, kualitas budaya organisasi bukan hanya sekadar persepsi bersama, tetapi juga sistem yang terintegrasi dan efektif yang mendukung pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. ANALISIS LEVEL OF CULTURE (EDGAR SCHEIN’S MODEL) Edgar Schein mengembangkan model tiga tingkat budaya organisasi yang terdiri dari artefak, nilai-nilai yang diadopsi, dan asumsi dasar. Model ini membantu memahami bagaimana budaya organisasi terbentuk dan berkembang dalam suatu perusahaan. Artefak merupakan elemen yang terlihat dan dapat diamati, seperti struktur organisasi, desain kantor, seragam karyawan, hingga ritual atau kebiasaan dalam perusahaan. Meskipun artefak dapat memberikan gambaran awal tentang budaya 2.2 3 organisasi, elemen ini sering kali tidak cukup untuk memahami nilai dan keyakinan yang mendasari perilaku dalam organisasi. Tingkat kedua dalam model Schein adalah nilai-nilai yang diadopsi, yang mencerminkan prinsip, standar, dan filosofi yang dianut oleh organisasi. Nilai-nilai ini sering kali diwujudkan dalam visi, misi, atau kebijakan perusahaan. Misalnya, sebuah perusahaan teknologi mungkin menekankan inovasi dan kreativitas sebagai nilai inti yang mendorong pengambilan keputusan serta strategi bisnisnya. Namun, dalam praktiknya, ada kemungkinan terjadi kesenjangan antara nilai yang dikomunikasikan dengan perilaku nyata dalam organisasi. Oleh karena itu, memahami bagaimana nilainilai ini diterapkan dalam keseharian sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas budaya organisasi. Tingkat terdalam dalam model ini adalah asumsi dasar, yang mencerminkan keyakinan dan pandangan yang sudah mengakar dalam organisasi. Asumsi ini sering kali bersifat tidak disadari dan sulit diubah, karena menjadi bagian dari cara berpikir kolektif dalam organisasi. Contohnya, sebuah perusahaan manufaktur mungkin memiliki asumsi bahwa efisiensi dan kontrol ketat terhadap proses produksi adalah kunci keberhasilan, sehingga semua keputusan dan kebijakan diarahkan untuk mempertahankan prinsip tersebut. Asumsi dasar ini menjadi fondasi yang membentuk perilaku dan pola pikir karyawan dalam organisasi. Dengan memahami ketiga level budaya organisasi menurut Edgar Schein, perusahaan dapat mengevaluasi dan menyesuaikan budaya mereka untuk mendukung strategi bisnis dan meningkatkan kinerja karyawan. Integrasi antara artefak, nilai-nilai, dan asumsi dasar yang selaras dapat menciptakan lingkungan kerja yang harmonis serta meningkatkan loyalitas karyawan terhadap organisasi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang level of culture sangat penting dalam pengelolaan budaya organisasi yang efektif. 2.3 KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI Karakteristik budaya organisasi mencakup serangkaian nilai yang dianut oleh seluruh anggota organisasi. Nilai-nilai ini mencerminkan kesamaan pandangan di antara mereka dalam menjalankan serta menegakkan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Menurut Robbins dan Judge (2011), budaya organisasi adalah sebuah sistem dari makna yang dipahami bersama oleh para anggotanya, yang menjadikan suatu organisasi memiliki ciri khas dan berbeda dari organisasi lain, Setiap perusahaan memiliki budaya organisasi yang unik, hal tersebut dipengaruhi oleh perbedaan budaya dan beragamnya kebiasaan lokal dalam masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan berupaya menggali serta mengelola perbedaan 4 tersebut agar membentuk karakter unggul, yang dapat menjadi keunggulan kompetitif dalam persaingan bisnis yang ketat. Terdapat tujuh karakteristik utama budaya organisasi menurut Robbins dan Judge (2011) yang merupakan hakikat karakteristik budaya organisasi, yaitu : 1) Inovasi dan keberanian mengambil risiko, yaitu sejauh mana karyawan didorong untuk bersikap inovatif dan berani mengambil risiko. 2) Perhatian terhadap hal-hal rinci, yaitu sejauh mana karyawan diharapkan menjalankan presisi, analisis, perhatian pada hal-hal detail. 3) Orientasi pada hasil, yaitu sejauh mana manajemen berfokus lebih pada hasil ketimbang pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut. 4) Orientasi terhadap sumber daya manusia, yaitu sejauh mana keputusankeputusan manajemen mempertimbangkan efek dari hasil tersebut atas orang yang ada di dalam organisasi. 5) Orientasi pada tim, yaitu bentuk pengukuran sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja di organisasi pada tim dibandingkan dengan keperluan individu. 6) Keagresifan, yaitu sejauh mana orang bersikap agresif dan kompetitif dalam menyelesaikan pekerjaan. 7) Stabilitas, yaitu sejauh mana kegiatan-kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya statusnya dalam perbandingannya dengan pertumbuhan 5 BAB III PROFIL PERUSAHAAN 3.1 DESKRIPSI PERUSAHAAN MBT Steel merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan perdagangan besi baja di Indonesia. Berlokasi di Surabaya, perusahaan ini dikenal sebagai stockist dan supplier berbagai jenis material besi dan baja yang digunakan dalam sektor konstruksi dan industri. Dengan moto "Kepuasan Pelanggan adalah Komitmen Kami", MBT Steel berfokus pada penyediaan produk berkualitas dengan harga kompetitif. MBT Steel merupakan perusahaan yang memiliki posisi strategis dalam industri distribusi besi dan baja di Indonesia. Dengan fokus pada kualitas, layanan pelanggan, dan harga yang kompetitif, perusahaan ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Dukungan dari infrastruktur yang kuat dan tim yang kompeten menjadikan MBT Steel sebagai mitra yang dapat diandalkan dalam berbagai proyek konstruksi dan industri. 3.2 VISI DAN MISI PERUSAHAAN Visi MBT Steel adalah berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur nasional melalui penyediaan produk baja berkualitas dengan harga yang bersaing. Untuk mewujudkan visi tersebut, perusahaan memiliki beberapa misi utama, antara lain: 1) Menyediakan produk besi dan baja unggulan dengan standar kualitas tinggi. 2) Memberikan layanan profesional dan terpercaya kepada pelanggan. 3) Meningkatkan efisiensi operasional melalui sumber daya manusia yang kompeten. 4) Membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan dan mitra bisnis berdasarkan kepercayaan dan kepuasan. 3.3 PRODUK DAN LAYANAN PERUSAHAAN MBT Steel menawarkan berbagai jenis produk besi dan baja yang mendukung kebutuhan konstruksi dan industri, di antaranya: 1) Besi Beton Tersedia dalam berbagai ukuran dan jenis, baik besi beton polos maupun ulir, yang sesuai dengan standar nasional (SNI). Produk ini digunakan secara luas dalam pembangunan gedung, jembatan, dan infrastruktur lainnya. 6 2) Profil Baja Produk seperti WF (Wide Flange), H-Beam, dan CNP yang digunakan untuk konstruksi struktural berat seperti bangunan bertingkat dan gudang industri. Baja profil ini memiliki ketahanan yang tinggi terhadap tekanan dan beban berat. 3) Plat Besi MBT Steel menyediakan berbagai jenis plat besi, termasuk plat hitam, plat bordes, dan plat kapal, yang digunakan dalam industri manufaktur, otomotif, dan perkapalan. Plat ini tersedia dalam berbagai ketebalan untuk menyesuaikan kebutuhan spesifik proyek. 4) Wiremesh Produk ini digunakan sebagai elemen penguat dalam struktur beton, terutama pada konstruksi lantai dan dinding beton bertulang. MBT Steel menyediakan wiremesh dalam berbagai ukuran dan spesifikasi. 5) Pipa Berbagai jenis pipa tersedia, termasuk pipa hollow untuk rangka konstruksi ringan, pipa galvanis untuk aplikasi tahan karat, serta pipa stainless steel yang banyak digunakan dalam industri makanan dan farmasi. 6) Baja Ringan Seperti bondek dan canal C yang digunakan dalam konstruksi atap dan lantai. Baja ringan menjadi pilihan utama dalam proyek konstruksi modern karena bobotnya yang lebih ringan namun tetap memiliki kekuatan yang tinggi. Selain itu, MBT Steel juga menyediakan berbagai material pendukung lainnya seperti kawat las, kawat duri, dan paku untuk memenuhi kebutuhan konstruksi yang lebih lengkap dan menyeluruh. 3.4 PROFIL NARASUMBER Nama : Yuninda Mutiarasanny Susanto Jabatan : Admin Marketing Studi Terakhir : S1 Manajemen 7 BAB IV HASIL ANALISIS 4.1 KUALITAS BUDAYA ORGANISASI Budaya organisasi memainkan peran penting dalam menentukan lingkungan kerja, produktivitas, dan kesejahteraan karyawan. Sebuah budaya kerja yang positif dapat meningkatkan semangat kerja, mendorong inovasi, serta mempererat hubungan antar karyawan, sementara budaya yang kurang efektif dapat menghambat komunikasi dan mengurangi motivasi. PT MBT Steel menerapkan budaya kerja yang berfokus pada profesionalisme dan partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan, yang secara langsung berpengaruh terhadap kenyamanan dan produktivitas kerja. 1) Budaya Kerja dan Produktivitas di PT MBT Steel PT MBT Steel menerapkan budaya organisasi yang menekankan profesionalisme dan partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan perusahaan. Budaya ini memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan kenyamanan kerja, karena karyawan merasa memiliki kontribusi dalam operasional perusahaan. Lingkungan kerja yang positif serta dukungan dari rekan kerja dan atasan memungkinkan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. 2) Dampak Budaya Organisasi terhadap Karyawan Budaya kerja yang positif di PT MBT Steel berperan besar dalam meningkatkan motivasi dan semangat kerja karyawan. Dukungan dari atasan dan rekan kerja menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif. Sebaliknya, hubungan kerja yang kurang baik antar karyawan dapat menurunkan semangat kerja dan menyebabkan ketidakefektifan dalam tim. Oleh karena itu, membangun komunikasi yang baik antar karyawan menjadi salah satu faktor kunci dalam mempertahankan budaya kerja yang sehat. 3) Inisiatif Perusahaan dalam Meningkatkan Budaya Kerja Untuk memperkuat budaya organisasi, PT MBT Steel mengadakan acara makan bersama sebagai upaya mempererat hubungan antar karyawan dan dengan atasan. Selain itu, perusahaan mendorong inovasi melalui diskusi terbuka, di mana karyawan didorong untuk menyampaikan ide serta solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4) Tantangan dalam Menjaga Budaya Organisasi Salah satu tantangan utama dalam menjaga budaya kerja yang baik adalah memastikan komunikasi yang efektif antar karyawan, baik dalam satu divisi maupun lintas divisi. Komunikasi yang buruk dapat berdampak negatif terhadap 8 5) budaya kerja secara keseluruhan, menghambat koordinasi, serta menurunkan efisiensi kerja tim. Selain itu, program pelatihan bagi karyawan masih perlu ditingkatkan agar mereka dapat mengembangkan keterampilan yang lebih baik dan meningkatkan daya saing perusahaan. Evaluasi dan Pengembangan Budaya Organisasi PT MBT Steel melakukan survei berkala dan sesi konsultasi dengan karyawan untuk mengevaluasi efektivitas budaya organisasi. Survei ini dilakukan secara tersembunyi agar manajemen dapat memperoleh masukan yang objektif dan memahami area yang perlu diperbaiki. Dengan adanya mekanisme ini, perusahaan dapat terus menyesuaikan budaya organisasinya agar tetap relevan dan mendukung produktivitas serta kenyamanan kerja. 4.2 TINGKATAN BUDAYA DALAM ORGANISASI (EDGAR SCHEIN’S MODEL) PT MBT Steel menerapkan budaya kerja yang berfokus pada profesionalisme dan partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan, yang memungkinkan keterlibatan aktif dalam berbagai aspek bisnis. Untuk memahami lebih dalam bagaimana budaya ini diterapkan, analisis berdasarkan Model Edgar Schein akan menguraikan tiga tingkatan budaya organisasi, yaitu Artifacts (elemen yang dapat diamati seperti aturan kerja dan sistem komunikasi), Espoused Values (nilai-nilai utama yang dijunjung perusahaan seperti kepuasan pelanggan dan profesionalisme), serta Basic Assumptions (prinsip mendasar yang telah tertanam dalam pola pikir dan kebiasaan kerja karyawan). Berdasarkan hasil wawancara di atas, tingkatan budaya dalam organisasi (Model Edgar Schein) di PT MBT Steel 4.2.1 Artifacts (Artefak yang Terlihat) PT MBT Steel memiliki beberapa elemen budaya organisasi yang dapat langsung diamati dalam aktivitas kerja sehari-hari: 1) Jam Kerja dan Tata Tertib Perusahaan menerapkan jam kerja dari pukul 08.00 hingga 16.00, memberikan struktur yang jelas bagi karyawan dalam menyelesaikan tugas mereka. Dengan jam kerja yang tetap, perusahaan memastikan adanya keseimbangan antara pekerjaan dan waktu pribadi karyawan. 2) Aturan Berpakaian Meskipun tidak ada aturan berpakaian yang ketat, karyawan diharapkan untuk mengenakan pakaian yang rapi dan formal. Hal ini menunjukkan profesionalisme dan mencerminkan citra perusahaan di mata klien atau mitra. 3) Sistem Komunikasi 9 Untuk menunjang kelancaran operasional, perusahaan menggunakan berbagai sarana komunikasi, seperti WhatsApp, email, faximile, dan telepon kantor. Penggunaan teknologi dalam komunikasi ini mempercepat koordinasi antar divisi dan memastikan informasi dapat tersampaikan dengan efektif. Elemen-elemen ini tidak hanya mencerminkan identitas perusahaan tetapi juga membantu dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih teratur dan profesional. 4.2.2 Espoused Values (Nilai-nilai yang Dianut Perusahaan) PT MBT Steel memiliki beberapa nilai utama yang dijunjung tinggi dan diterapkan dalam operasional sehari-hari, yaitu: 1) Kepuasan Pelanggan Perusahaan berusaha memastikan bahwa setiap produk dan layanan yang diberikan dapat memenuhi ekspektasi pelanggan. Jika terjadi keluhan, PT MBT Steel menawarkan solusi berupa refund atau retur dengan kondisi tertentu, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kualitas produk yang dijual. 2) Profesionalisme Perusahaan menekankan pentingnya etika kerja yang baik, kedisiplinan, serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas masing-masing karyawan. Profesionalisme ini tercermin dari bagaimana karyawan diharapkan untuk menjaga hubungan kerja yang baik, baik dengan rekan kerja maupun klien. 3) Harga Kompetitif (Best Price) PT MBT Steel berkomitmen untuk menawarkan harga terbaik kepada pelanggan tanpa mengorbankan kualitas produk. Hal ini menjadi salah satu strategi perusahaan dalam mempertahankan daya saing di industri baja. Nilai-nilai ini bukan sekadar slogan, tetapi diterapkan dalam berbagai aspek pekerjaan. Sebagai contoh, kepuasan pelanggan diwujudkan dalam kebijakan layanan pelanggan yang proaktif dan solusi permasalahan yang cepat. 4.2.3 Basic Assumptions (Asumsi Dasar yang Mendalam) Di luar nilai-nilai yang secara eksplisit diajarkan kepada karyawan, terdapat prinsip-prinsip dasar yang telah mendarah daging dalam budaya organisasi PT MBT Steel. Beberapa prinsip yang menjadi bagian dari kebiasaan perusahaan meliputi: 1) Diskusi Terbuka Salah satu prinsip yang telah melekat dalam budaya organisasi adalah kebiasaan diskusi terbuka antara manajemen dan karyawan mengenai tren industri, strategi pemasaran, dan pencapaian target. Dalam diskusi ini, karyawan memiliki kesempatan untuk menyampaikan ide atau masukan tanpa adanya batasan yang ketat. Hal ini mencerminkan budaya kerja yang inklusif dan 10 menghargai keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan. 2) Fleksibilitas dalam Menyampaikan Ide PT MBT Steel memberikan ruang bagi karyawan untuk mengusulkan inovasi atau solusi terhadap permasalahan yang dihadapi perusahaan. Meskipun perusahaan belum secara aktif mendorong pengambilan risiko, kebebasan dalam menyampaikan ide tetap menjadi bagian dari budaya organisasi. 3) Evaluasi Berkala Untuk memastikan nilai-nilai dan prinsip yang diterapkan tetap relevan dengan perkembangan industri, perusahaan melakukan evaluasi secara berkala. Karyawan juga diberikan kesempatan untuk memberikan saran dan kritik terkait operasional perusahaan, sehingga manajemen dapat menyesuaikan strategi bisnis sesuai dengan kondisi pasar yang dinamis. Prinsip-prinsip ini tidak selalu disadari oleh setiap karyawan, tetapi secara tidak langsung membentuk cara mereka bekerja dan berinteraksi di dalam organisasi. 4.3 KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI (MODEL ROBBINS AND JUDGE) Setiap perusahaan memiliki karakteristik budaya yang berbeda. Menurut Robbins & Judge, ada tujuh karakteristik utama dalam budaya organisasi, yaitu: 1) Inovasi & Pengambilan Risiko Perusahaan memberikan ruang bagi karyawan untuk berdiskusi dan memberikan ide serta solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi mendorong inovasi dalam batas tertentu. Namun, belum ada indikasi kuat bahwa perusahaan benar-benar menekankan pengambilan risiko dalam inovasi. Dengan meningkatkan inisiatif dalam mendorong eksperimen dan inovasi dengan memberikan insentif bagi ide-ide kreatif dan dapat membuat program khusus seperti "Innovation Challenge" untuk menampung ide-ide dari karyawan. 2) Perhatian terhadap Detail Jawaban yang diberikan tidak secara langsung menyoroti aspek perhatian terhadap detail. Namun, dengan adanya budaya profesionalisme yang diterapkan, dapat diasumsikan bahwa perusahaan memiliki standar tertentu dalam hal ketelitian dan akurasi kerja. Untuk menekankan pentingnya akurasi, perusahaan dapat melakukan melalui pelatihan teknis dan evaluasi kerja yang lebih mendalam dan menerapkan sistem feedback reguler untuk memastikan bahwa standar kualitas tetap terjaga. 11 3) 4) 5) 6) Orientasi terhadap Hasil Budaya perusahaan tampaknya lebih menitikberatkan pada lingkungan kerja yang harmonis dan partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan daripada pencapaian hasil atau kinerja secara langsung, tanpa indikasi kuat bahwa perusahaan menempatkan hasil sebagai prioritas utama. Untuk menyeimbangkan budaya kerja yang nyaman dengan pencapaian target, perusahaan dapat menetapkan tujuan kerja yang lebih jelas serta mengembangkan sistem penghargaan berbasis kinerja guna meningkatkan motivasi karyawan dalam mencapai hasil terbaik, sehingga produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan keseimbangan dalam lingkungan kerja. Orientasi terhadap Manusia Budaya organisasi sangat berorientasi pada kesejahteraan karyawan, yang tercermin dari upaya perusahaan dalam membangun hubungan baik antara rekan kerja dan atasan melalui kegiatan seperti makan bersama serta komunikasi terbuka. Untuk mempertahankan pendekatan ini, perusahaan dapat menambahkan program kesejahteraan karyawan, seperti layanan konseling atau sesi pengembangan diri, guna mendukung kesejahteraan mental dan profesional mereka. Selain itu, meningkatkan kepedulian terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi karyawan, misalnya melalui fleksibilitas jam kerja atau kebijakan cuti yang lebih mendukung, dapat semakin memperkuat budaya positif dalam organisasi. Orientasi terhadap Tim Perusahaan sudah memiliki budaya kerja yang mendorong kolaborasi melalui diskusi terbuka dan kegiatan kebersamaan, namun tantangan utama terletak pada komunikasi lintas divisi yang dapat menghambat kerja sama tim secara keseluruhan. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan dapat mengadakan pelatihan team-building yang berfokus pada peningkatan kerja sama lintas divisi, sehingga setiap tim dapat lebih memahami peran dan tanggung jawab masingmasing. Selain itu, menerapkan sistem kerja berbasis proyek lintas departemen dapat membantu meningkatkan sinergi antar tim, mendorong koordinasi yang lebih efektif, serta memastikan bahwa komunikasi tetap berjalan dengan baik dalam mencapai tujuan bersama. Agresivitas Budaya kerja saat ini lebih menekankan harmoni dan kenyamanan daripada kompetisi yang agresif, yang berdampak positif dalam menciptakan lingkungan kerja yang suportif, tetapi juga dapat mengurangi dorongan untuk berkompetisi dan mencapai target yang lebih tinggi. Untuk menyeimbangkan aspek ini, 12 perusahaan dapat menetapkan target yang lebih menantang tanpa mengorbankan budaya kerja yang positif, sehingga karyawan tetap merasa nyaman namun terdorong untuk berkembang. Selain itu, menerapkan sistem penghargaan bagi karyawan berprestasi dapat menjadi motivasi tambahan, mendorong pencapaian yang lebih baik, serta memastikan bahwa kinerja tetap menjadi fokus utama tanpa menghilangkan nilai kebersamaan dalam tim. 7) Stabilitas Perusahaan telah mengambil inisiatif untuk menjaga hubungan baik dan meningkatkan keterlibatan karyawan, namun belum menunjukkan fokus yang kuat pada pertumbuhan jangka panjang. Kurangnya program pelatihan yang sistematis menunjukkan bahwa perusahaan masih lebih berorientasi pada stabilitas daripada pengembangan karyawan secara agresif. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan dapat mengembangkan program pelatihan dan pengembangan keterampilan yang berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan individu dan organisasi. Selain itu, menyusun strategi jangka panjang yang berfokus pada peningkatan daya saing melalui inovasi dan efisiensi kerja akan membantu perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam menghadapi tantangan bisnis di masa depan. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan mengenai karakteristik budaya organisasi dapat disimpulkan bahwa PT MBT Steel tidak mendorong inovasi dan pengambilan risiko, namun berfokus pada peraturan manajemen yang ketat. Karyawan diharapkan untuk menyerahkan laporan harian, tetapi kontrol terhadap spesifikasi dan kualitas pekerjaan tidak memadai. Fokus perusahaan adalah pada hasil kerja daripada prosesnya, menawarkan otonomi kepada karyawan dalam pekerjaan mereka dan menilai berdasarkan hasil akhir. Kesejahteraan karyawan ditangani dengan kebijakan cuti satu hari per bulan, tanpa pemotongan gaji. Kerja tim tidak ditekankan; pekerjaan biasanya diselesaikan secara terpisah, namun koordinasi antar divisi (misalnya, pemasaran, pembelian, dan keuangan) masih diperlukan. Secara keseluruhan, iklim kerja lebih diarahkan pada kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. 13 BAB V KESIMPULAN Budaya organisasi di PT MBT Steel memiliki berbagai aspek positif yang mendukung produktivitas dan kenyamanan kerja karyawan. Pada aspek kualitas budaya organisasi, perusahaan menekankan profesionalisme dan partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan, yang berdampak positif terhadap semangat kerja. Selain itu, adanya inisiatif seperti acara makan bersama dan diskusi terbuka membantu mempererat hubungan kerja, meskipun tantangan utama dalam menjaga budaya kerja yang baik adalah efektivitas komunikasi dan kebutuhan peningkatan pelatihan bagi karyawan. Pada tingkatan budaya organisasi, budaya kerja di PT MBT Steel dianalisis melalui Model Edgar Schein. Artifacts menunjukkan adanya struktur kerja yang jelas dengan sistem komunikasi yang cukup efektif meskipun masih bisa ditingkatkan. Espoused Values yang ditekankan meliputi kepuasan pelanggan, profesionalisme, dan harga kompetitif, yang tercermin dalam kebijakan perusahaan. Sementara itu, Basic Assumptions yang telah tertanam dalam organisasi adalah keterbukaan terhadap diskusi dan evaluasi berkala untuk menjaga relevansi dengan perkembangan industri. Dalam karakteristik budaya organisasi, PT MBT Steel menunjukkan beberapa kekuatan dan kelemahan. Perusahaan cenderung berorientasi pada hasil dibandingkan dengan proses kerja, dengan sedikit dorongan terhadap inovasi dan pengambilan risiko. Budaya kerja tim belum terlalu ditekankan, tetapi koordinasi antar divisi tetap dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama. Perusahaan juga lebih menekankan stabilitas dibandingkan perubahan cepat, yang membuatnya kurang fleksibel dalam menghadapi dinamika industri. Berdasarkan keseluruhan analisis, budaya organisasi di PT MBT Steel dapat dikategorikan sebagai budaya yang Positif namun relatif Lemah. Positif karena mendukung profesionalisme, komunikasi terbuka, serta kesejahteraan karyawan, tetapi lemah karena kurang mendorong inovasi, pengambilan risiko, serta koordinasi kerja tim yang lebih kuat. Untuk memperkuat budaya organisasi, PT MBT Steel perlu lebih meningkatkan komunikasi antar divisi, mendorong inovasi, serta memperkuat sistem pelatihan agar budaya kerja yang sudah positif dapat menjadi lebih kuat dan adaptif terhadap perubahan industri. 14 DAFTAR PUSTAKA Hakim, L., Abdullah, I., & Sa'adah, N. (2021). Karakteristik Budaya Organisasi: Sebuah Studi Kualitatif terhadap Pengusaha Batik Muslim Laweyan Surakarta. Benefit: Jurnal Manajemen Dan Bisnis (Jurnal Ini Sudah Migrasi), 6(2), 1-24. Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior (17th ed.). Pearson Education. Schein, E. H. (2010). Organizational Culture and Leadership (4th ed.). Jossey-Bass. Luthans, F. (2011). Organizational Behavior: An Evidence-Based Approach (12th ed.). McGraw-Hill. Kreitner, R., & Kinicki, A. (2013). Organizational Behavior (10th ed.). McGraw-Hill Education. 15 LAMPIRAN 1. Daftar Pertanyaan PERTANYAAN JAWABAN 1. Bagaimana Anda menilai budaya kerja di perusahaan ini? Apakah menurut Anda budaya ini mendukung produktivitas dan Untuk budaya organisasi di perusahaan kami yaitu perusahaan menerapkan profesionalisme serta memberi dukungan adanya partisipasi karyawan dalam keputusan perusahaan. 2. Seberapa besar pengaruh budaya Sangat berpengaruh, dengan adanya organisasi di sini terhadap semangat lingkungan kerja serta budaya organisasi kerja dan kepuasan karyawan? yang positif tentu saja meningkatkan motivasi karyawan dalam melakukan suatu pekerjaan. Dengan adanya support baik dari rekan kerja maupun atasan pekerjaan dapat dilakukan dengan baik. Sebaliknya apabila hubungan antar karyawan, baik berbeda divisi maupun satu divisi apabila ada hubungan yang tidak baik akan membuat karyawan tidak termotivasi, atau cenderung melakukan pekerjaan tidak baik. 3. Apakah ada program atau inisiatif dari perusahaan untuk memperbaiki atau meningkatkan budaya kerja? Jika ada, bagaimana dampaknya bagi karyawan? Perusahaan mengadakan acara makan bersama, hal ini dapat mempererat hubungan antar karyawan, baik antara atasan dan sesama karyawan. 4. Bagaimana budaya kerja di sini Perusahaan / Manajemen mengadakan membantu tim untuk berinovasi dan diskusi terbuka dan mendorong karyawan bekerja sama dengan baik? untuk memberikan ide dan solusi terhadap 16 permasalahan yang dihadapi. 5. Apa tantangan terbesar dalam Komunikasi yang baik baik antar karyawan menjaga budaya kerja yang baik dan dalam satu divisi maupun berbeda divisi. tetap konsisten di perusahaan ini? Sebaliknya, apabila adanya komunikasi yang buruk, hal ini dapat berimbas / berdampak negatif terhadap budaya kerja. 6. Menurut Anda, aspek mana dari Perusahaan perlu memberikan adanya budaya kerja di sini yang masih perlu pelatihan untuk para karyawan, tentu saja ditingkatkan? Mengapa? untuk meningkatkan skill karyawan. 7. Bagaimana perusahaan mengukur atau menilai apakah budaya organisasinya sudah berjalan dengan baik? Pada periode tertentu perusahaan akan melakukan survei tersembunyi secara berkala dan mengadakan konsultasi untuk para karyawan, seperti saran dan kritikan karyawan untuk perusahaan. 8. Apa contoh nyata dari budaya kerja di perusahaan ini yang bisa dilihat langsung? (Misalnya, aturan berpakaian, tata letak ruangan, kebiasaan komunikasi, atau sistem kerja) Jam kerja yaitu dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Untuk aturan berpakaian tidak ada aturan khusus tetapi karyawan menggunakan setidaknya pakaian formal dan rapi. Untuk komunikasi menggunakan whatsapp, email, faximile dan telepon kantor. 9. Nilai-nilai utama apa yang selalu Kepuasan pelanggan, profesionalisme, harga ditekankan oleh perusahaan? terbaik (best price). Nilai nilai tersebut Bagaimana nilai-nilai ini diterapkan diterapkan dalam aktivitas sehari-hari? 10. Seberapa besar pengaruh nilai- Sebagai contoh, kepuasan pelanggan adalah 17 nilai perusahaan dalam pengambilan salah satu nilai dari perusahaan kami. keputusan sehari-hari? Apakah ada Semisal memang ada kendala complain contoh spesifik? terhadap produk yang kami jual, maka kami menyediakan optional refund atau retur dengan kondisi tertentu. Selain itu juga kami berusaha memberikan pelayanan terbaik terhadap pelanggan 11. Menurut Anda, apakah ada prinsip atau asumsi dasar dalam perusahaan ini yang sudah mendarah daging dan diterapkan tanpa disadari? Adanya diskusi terbuka antara manajemen dengan karyawan tentang trend penjualan, serta target pasar, pihak manajemen juga tidak membatasi karyawan dalam menyampaikan ide dan pendapat 12. Bagaimana perusahaan memastikan bahwa nilai-nilai dan prinsip dasar yang dimiliki tetap relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan industri? Perusahaan secara berkala melakukan evaluasi serta karyawan juga memberikan saran terhadap tren yang tetap relevan dengan industri 13. Seberapa besar perusahaan ini Tidak ada dorongan inovasi dan keberanian mendorong inovasi dan keberanian dalam mengambil resiko, hal ini mengikuti dalam mengambil risiko? Bisa aturan dari manajemen perusahaan sendiri berikan contoh? 14. Apakah perusahaan lebih Pada hasil kerja. Perusahaan cenderung berorientasi pada hasil atau proses menyerahkan proses pekerjaan terhadap kerja? Mengapa? staff/karyawan, kemudian perusahaan akan menilai dari hasil kerja/ 15. Bagaimana perusahaan Perusahaan hanya memberi tugas adanya memperhatikan detail dalam daily report tetapi tidak ada cek detail pekerjaan dan kualitas hasil kerja? pekerjaan dan kualitas hasil kerja. 18 16. Bagaimana perusahaan Untuk kesejahteraan karyawan, perusahaan menunjukkan kepeduliannya memberikan free absent 1 hari libur dalam terhadap kesejahteraan karyawan? setiap bulannya tanpa adanya potongan gaji. (Misalnya, fasilitas, program kesejahteraan, atau kebijakan kerja) 17. Sejauh mana kerja tim ditekankan dalam budaya organisasi ini? Apakah lebih banyak pekerjaan dilakukan secara individu atau dalam kelompok? Perusahaan tidak menekan adanya budaya organisasi. Pekerjaan dilakukan secara individual tetapi memperlukan adanya koordinasi dengan berbeda divisi seperti antara divisi marketing dengan purchasing dan finance. 18. Apakah lingkungan kerja di sini Lingkungan kerja berorientasi pada kerja lebih kompetitif atau lebih sama untuk demi mencapai tujuan bersama. berorientasi pada kerja sama? Mengapa demikian? 19 2. Dokumentasi Gambar1.1 Wawancara Dengan Narasumber Gambar 1.2 Foto Bersama Dengan Narasumber 20
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )