MEASUREMENT THEORY KELOMPOK 4 Anggota Kelompok 1 MUHAMMAD RASID QADHAPI (2210532023) 2 RHIO SUGARA (2210532017) 3 TSAQIF ASIVAL (2210533023) 4 DEA DWI AGUSTIN (2210533015) 5 HAFHIZAH YONELA (2210533013) 6 04 AURORA SYAHDIRA (2110533001) LEARNING OBJECTIVE The Importance of Measurement The Nominal, Orsinal, Interval and Ratio Scales of Measurement The Permissible Operation of Scales The Difference between fundamental, derived and fiat measurement What is meant by reliability and accuracy in measurement Measurement in Accounting Measurement Issues for Auditors The Importance of Measurement Campbell, merupakan salah satu orang pertama yang membahas terkait pengukuran, Campbell mendefinisikan bahwa pengukuran adalah proses pemberian angka untuk mewakili sifat atau karakteristik dari sistem material (objek) berdasarkan hukum yang mengatur sifat tersebut. Campbell membedakan antara sistem dengan sifat sitem dimana menurutnya sistem itu adalah objek seperti meja, rumah, aset, jarak yang ditempuh. Sedangkan sifat adalah aspek atau karakteristik khusus dari sistem atau objek seperti panjang, berat, lebar, warna. Menurut Campbell yang perlu diukur adalah sifat-sifat atau karakteristik dari sistem sendiri bukan sistem atau objek nya yang diukur. Sedangkan menurut Stevens ia mendefinisikan bahwa pengukuran sebagai penugasan angka terhadap objek atau peristiwa berdasarkan aturan tertentu. Scales Setiap pengukuran dilakukan pada skala. Skala dapat dibuat ketika aturan semantik digunakan untuk menghubungkan pernyataan matematika dengan objek atau peristiwa. Skala menunjukkan informasi pada angka yang digunakan dalam pengukuran. Skala penting karena angka-angka dalam pengukuran hanya memiliki makna jika angka tersebut terhubung dengan objek yang kita ukur. Menurut stevens skala pengukuran ini dapat diklasifikasikan dengan melihat struktur matematika yang dimiliki masing-masing skala dimana dilihat dari transformasi matematis apa yang dapat diterapkan tanpa mengubah struktur atau makna dari pengukuran tersebut. Jadi, struktur matematika skala dalam artian tergantung pada jenis transformasi yang membuat sifat suatu skala tetap sama meskipun terjadi perubahan angka. Nominal Scale Dalam skala nominal ini ini angka digunakan hanya sebagai label atau penanda untuk membedakan dengan objek lain. Beberapa ahli yaitu seperti Torgerson, ia berpendapat bahwa skala nominal ini tidak bisa dianggap sebgai bentuk pengukuran. Ordinal Scale Skala ordinal dibuat untuk pemberian peringkat pada sesuatu yang dimiliki objek tertentu. Skala ordinal yang dihasilkan adalah urutan angka yang menunjukkan perbandingan peringkat dari beberapa opsi dalam suatu pemeringkatan. Interval Scale Skala interval memberikan informasi lebih banyak dari skala ordinal. Skala ini tidak hanya memberikan infromasi terkait peringkat tetapi jarak antara interval pada skala juga diketahui. Contohnya adalah skala suhu celcius. Ratio Scale Skala rasio adalah skala yang menyampaikan infromasi terbanyak, dimana dalam skala ini terdapat urutan peringkat, interval antar objek juga diketahui dan titik nol alami. Permissible Operations of Scales Invarian dalam skala berarti bahwa apapun metode pengukuran yang digunakan, maka sistem pengukuran akan menghasilkan format yang sama dari variabel-variabel yang digunakan dan pengambil keputusan akan membuat keputusan yang sama juga. Tapi hal ini tidak berlaku dalam akuntansi, setiap sistem yang berbeda akan berbeda juga variabel-variabelnya. Pengukuran pendapatan dengan cara yang berbeda akan menghasilkan keputusan yang berbeda juga. Metode-metode pengukuran yang berbeda tersebut tidak memberikan informasi yang sama Salah satu alasan untuk membahas skala adalah bahwa aplikasi matematika tertentu hanya diizinkan untuk berbagai jenis skala. Skala rasio memungkinkan semua operasi aritmatika dasar berupa penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, serta aljabar, geometri analitik, kalkulus, dan metode statistik. Skala rasio tetap invarian (tetap) atas semua transformasi saat dikalikan dengan konstanta. X' = CX Jika X mewakili semua titik pada skala tertentu, dan setiap titik dikalikan dengan konstanta c, skala X' yang dihasilkan juga akan menjadi skala rasio. Alasannya adalah bahwa struktur skala tersebut bersifat invarian kiri, yaitu: • urutan peringkat titik tidak berubah • rasio titik tidak berubah • titik nol tidak berubah. Ini berarti bahwa jika kita mengukur panjang sebuah ruangan dan mendapati panjangnya 400 sentimeter, lalu mengubah 400 sentimeter itu menjadi 4 meter dengan mengalikannya dengan konstanta 1/100, kita dapat yakin bahwa panjang ruangan itu tidak berubah, meskipun angka yang mewakili panjangnya telah berubah. Ini adalah poin yang sama yang kita buat dalam bab 6 mengenai konversi biaya historis, katakanlah, $100.000 peralatan di bawah skala dolar nominal ke daya beli skala dolar dengan menerapkan konstanta, katakanlah, 120/100, untuk memperoleh $120.000. $120.000 itu tetap merupakan biaya historis. Type Of Measurement Fundamental Measurement Derived Measurement Pengukuran yang angka-angkanya dapat ditetapkan pada properti dengan mengacu pada hukum alam dan tidak bergantung pada pengukuran variabel lain. Ternyata, sifat-sifat dasar tersebut bersifat aditif. Karena itu, mudah untuk menemukan persamaan fisik untuk operasi aritmatika. Pengukuran yang bergantung pada pengukuran dua atau lebih kuantitas lainnya. Pengukuran massa jenis adalah contohnya. Pengukuran ini bergantung pada pengukuran massa dan volume. Telah ditunjukkan bahwa ada pengukuran, seperti suhu, yang hanya bergantung pada satu pengukuran lain, bukan dua atau lebih pengukuran lainnya. Type Of Measurement Fiat Measurement Berdasarkan klasifikasi ketat Campbell, pengukuran hanya dapat dilakukan jika ada teori empiris yang mendukungnya. Berdasarkan persyaratan Campbell, banyak pengukuran dalam ilmu sosial, termasuk pengukuran laba, tidak dapat dianggap sebagai pengukuran. Untuk membenarkan sebagian besar pengukuran dalam ilmu sosial, Torgerson berpendapat bahwa satu kategori pengukuran lain harus ditambahkan ke daftar Campbell: pengukuran dengan perintah.(Fiat berarti dekrit,keputusan.) Pengukuran semacam itu akan mencakup pengukuran yang didasarkan pada definisi yang sewenang-wenang (misalnya pengukuran laba dalam akuntansi). Salah satu alasan pendekatan pengukuran terhadap formulasi teori akuntansi adalah harapan bahwa jika teori akuntansi dapat diuji secara empiris, maka alih-alih pengukuran yang ditetapkan, kita dapat memiliki pengukuran fundamental. Seseorang dapat lebih yakin pada pengukuran fundamental daripada pengukuran yang ditetapkan sebagai alat ukur. Keandalan (Reliability) dan Ketepatan (Accuracy) dalam Pengukuran (Measurement) Pengukuran adalah elemen fundamental dalam berbagai bidang, termasuk sains, teknik, dan akuntansi. Namun, tidak semua pengukuran dapat dilakukan dengan sempurna. Kecuali dalam kasus perhitungan jumlah objek, semua pengukuran selalu mengandung tingkat kesalahan tertentu. Dalam dunia akuntansi, keakuratan dan keandalan pengukuran menjadi sangat penting karena dapat memengaruhi pengambilan keputusan ekonomi. Oleh karena itu, penting untuk memahami sumber kesalahan dalam pengukuran dan bagaimana cara meminimalkannya. Sumber Kesalahan dalam Pengukuran Prosedur Pengukuran yang Tidak Akurat Kadang-kadang, aturan dalam pengukuran Kesalahan Manusia tidak dijelaskan dengan jelas, sehingga dapat diinterpretasikan secara berbeda. Orang yang melakukan pengukuran mungkin salah menafsirkan aturan, memiliki bias, atau keliru dalam menggunakan alat ukur. Faktor Lingkungan Lingkungan tempat pengukuran dilakukan dapat berpengaruh pada hasil pengukuran. Alat Ukur Alat yang digunakan untuk pengukuran mungkin memiliki cacat atau ketidakakuratan. Atribut yang Tidak Jelas Beberapa atribut sulit diukur secara langsung. Alat Ukur Risiko dan ketidakpastian berkaitan dengan distribusi hasil dari suatu aset. Pengukuran yang Andal Keandalan (Reliability) dalam pengukuran mengacu pada kemampuan suatu pengukuran untuk memberikan hasil yang konsisten saat dilakukan berulang kali. Dalam akuntansi, sebelum elemen seperti aset, kewajiban, pendapatan, dan beban diakui dalam laporan keuangan, mereka harus dapat diukur secara andal. Ketepatan dan kepastian dalam pengukuran memastikan bahwa hasil pengukuran tidak bervariasi secara signifikan setiap kali diukur. Representasi yang nyata terhadap kondisi ekonomi yang sebenarnya memastikan bahwa angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan mencerminkan kenyataan ekonomi yang mendasarinya. Keandalan (Reliability) juga terkait dengan presisi, yang dapat merujuk pada ketelitian angka yang digunakan atau konsistensi dalam metode pengukuran yang diterapkan. Pengukuran yang Akurat Meskipun suatu pengukuran dapat diandalkan, hal itu tidak selalu berarti pengukuran tersebut akurat. Akurasi mengacu pada seberapa dekat hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya dari suatu atribut. Sebagai contoh adalah seorang penembak yang mampu menembak dengan konsisten ke satu titik tertentu, tetapi jika titik tersebut tidak berada di tengah target, maka tembakannya tidak akurat. Dalam akuntansi, perhitungan nilai persediaan menggunakan metode FIFO dapat memberikan hasil yang sama setiap kali dihitung, tetapi hasil tersebut mungkin tidak mencerminkan nilai pasar yang sebenarnya. Dalam beberapa kasus, pengukuran akuntansi lebih tepat menggunakan konsep 'validitas' daripada 'akurasi' karena validitas lebih menekankan pada apakah suatu pengukuran benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang ingin diukur. MEASUREMENT IN ACCOUNTING Perhitungan yang paling fundamental dalam ilmu akuntansi adalah perhitungan modal dan laba. Modal dinilai berasal dari transaksi dan penilaian ulang yang terjadi di pasar modal. Laba berasal dari perbandingan dari beban dan pendapatan, juga perubahan modal dalam satu periode akuntansi. Modal dapat dinilai dan dihitung dengan berbagai cara, contoh: historical cost, operasional, keuangan, atau nilai wajar. Sejarah menunjukkan pada kita bahwa konsep perhitungan atas modal dan laba telah berubah dan berkembang dari waktu ke waktu dan menghasilkan beberapa konsep perhitungan yang fundamental. Yang terkini, standar pelaporan keuangan internasional telah membuat konsep lebih tepat yaitu konsep “nilai wajar”. Beberapa pengamat berargumen dan mengkritik konsep "nilai wajar" ini. Bahwa konsep ini merubah konsep alokasi ke pendekatan penilaian, di mana akan menunjukkan perbedaan tergantung atas situasi dan interpretasi yang subjektif. Perubahan ini lebih fokus pada penilaian “Balance Sheet”, mengalihkan akuntansi dari perhitungan alokasi laba yang sederhana dan lebih menekankan pada relevasi pada realita komersil dan pengambilan keputusan oleh investor dibandingkan kebenarannya. MEASUREMENT IN ACCOUNTING Perubahan dalam akuntansi masuk ke dalam kategori pengukuran terutama untuk modal dan keuntungan. Laba akuntansi sekarang berasal dari standar akuntansi internasional. Dari berbagai sumber, laba akuntansi berasal dari semua kejadian termasuk kenaikan dan penurunan fair value aktiva bersih tidak termasuk transaksi dengan pemilik. Modal berasal dari ‘net fair value’ aktiva dan kewajiban. Berarti kita harus mengukur nilai modal awal, pada jumlah penghasilan yang diterima, jumlah modal yang digunakan, dan perubahan nilai fair value aktiva bersih. Peningkatan modal selama periode akan datang akan mengukur jumlah laba dari berbagai macam sumber, termasuk dari operasional dan penilaian kembali aktiva (setelah disesuaikan dengan pemasukan modal baru atau pembayaran deviden). Nilai wajar aktiva bersih disajikan kembali maka akan merupakan modal awal pada periode berikutnya. (Godfrey, dkk. 2010). Sebaliknya, pendekatan pengukuran dengan pendekatan yang dilakukan sebelum pengenalan standar akuntansi internasional, pendapatan yang diterima disesuaikan terhadap aset bersih yang digunakan dalam suatu periode, dan jika pendapatan lebih besar dari penggunaan modal bersih (atau biaya), maka kita mengalami peningkatan modal. Keuntungan tidak diperoleh sampai modal awal dari biaya historis dipertahankan dan laba direalisasikan. Sehingga, modal selalu dinyatakan sebesar harga perolehan dan perubahan dalam aktiva bersih tidak dianggap sebagai keuntungan. Maka, kita dapat melihat bahwa laba turun sangat tergantung pada bagaimana kita mengukur modal awal dan bagaimana kita mengukur biaya dan alokasi modal. Kita juga dapat melihat bahwa konsep penilaian modal dalam akuntansi telah berkembang dari waktu ke waktu dengan hasil bahwa kita miliki pengukuran atas modal secara umum dan konsep laba. MEASUREMENT IN ACCOUNTING Perspektif yang berbeda ini mencerminkan batas-batas berbagai akuntansi dan kurangnya sebagai model konvensional dan dominan. Ditambahkan dalam hal ini adalah sejumlah akademisi secara signifikan menurun dari waktu ke waktu, tetapi item neraca dan aktiva tidak berwujud menjadi lebih penting. Baru-baru ini, Akuntansi Internasional Standard Board (IASB) telah mengambil pandangan bahwa globalisasi bisnis mendukung kebutuhan untuk suatu standar akuntansi yang akan digunakan di seluruh dunia untuk menghasilkan informasi keuangan yang sebanding. Hal ini menyebabkan dua perkembangan penting dalam standar akuntansi internasional sebagai sinyal melalui standar akuntansi seperti IAS 39/AASB139 instrumen keuangan: Pengakuan dan Pengukuran dan IASB/FASB proyek bersama mengenai pelaporan keuangan kinerja—(1) bahwa pengukuran laba dan pengakuan pendapatan harus dihubungkan dengan pengakuan tepat waktu, dan (2) bahwa pendekatan ‘nilai wajar’ harus diadopsi sebagai prinsip pengukuran kerja. Jadi, dari tahun 2005 kami melihat penggunaan (sebagian) dari suatu prinsip pengukuran yang berfokus pada perubahan nilai aktiva dan kewajiban bukan penyelesaian proses pendapatan. Singkatnya, ini berarti bahwa bahwa perubahan nilai wajar aktiva dan kewajiban diakui secara langsung mereka terjadi dan dilaporkan sebagai komponen income. Lebih lanjut, fokus telah bergeser ke arah konsep penilaian, dengan neraca repositori utama dari nilai yang relevan sebagai informasi, dan pengguna utama informasi akuntansi adalah pemegang saham dan investor. Relevansi Penggunaan nilai wajar memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi ekonomi perusahaan dibandingkan dengan metode biaya historis. Reliability Pandangan Internasional Karena nilai wajar sering kali bergantung pada estimasi dan perhitungan subjektif, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keandalan informasi tersebut. Kompleksitas Nilai wajar meningkatkan kompleksitas dalam penyusunan laporan keuangan dan proses audit karena memerlukan teknik valuasi yang lebih canggih. Standarisasi Standar baru seperti SFAS 157 bertujuan meningkatkan konsistensi dalam pengukuran nilai wajar, meskipun tantangan dalam penerapannya tetap ada. Tantangan bagi Akuntan dan Auditor Profesi akuntansi perlu meningkatkan keterampilan dalam analisis ekonomi dan keuangan untuk mengakomodasi pendekatan berbasis nilai wajar ini. MEASUREMENT ISSUES FOR AUDITORS Ketika laba ditentukan dengan mencocokkan transaksi pendapatan dan beban untuk periode tersebut, auditor dapat berkonsentrasi pada pengumpulan bukti bahwa transaksi tersebut telah ditangani dengan tepat oleh sistem akuntansi klien. Namun, ketika laba diperoleh dari perubahan nilai wajar, muncul pertanyaan yang lebih sulit bagi auditor seputar pengumpulan bukti atas estimasi manajemen. Misalnya, salah satu aspek pengukuran laba dengan menilai perubahan nilai wajar aset bersih dibahas dalam standar akuntansi IAS 36/AASB 136. Standar ini mengharuskan penurunan nilai aset untuk diakui sebagai kerugian penurunan nilai. Manajemen entitas diharuskan menilai pada tanggal pelaporan apakah ada indikasi bahwa penurunan nilai aset dapat mengakibatkan penurunan nilai aset Panduan standar audit internasional untuk mengaudit kerugian penurunan nilai dan estimasi nilai wajar lainnya tercantum dalam ISA 540. Auditor diharuskan mengumpulkan bukti untuk menilai apakah manajemen telah mengikuti standar akuntansi dengan tepat dan apakah jumlah yang diakui sebagai kerugian penurunan nilai wajar. Untuk melakukan ini, auditor harus menentukan apakah manajemen telah memilih metode dan asumsi penilaian yang tepat dan wajar. Jika standar akuntansi tidak menetapkan metode penilaian untuk aset dan liabilitas tertentu yang dipertimbangkan, auditor dapat menerima metode penilaian yang wajar. Secara keseluruhan, mengingat adanya berbagai metode penilaian yang wajar dan berbagai asumsi yang mungkin, manajemen dapat mengakui beberapa jumlah yang berbeda tetapi wajar untuk kerugian penurunan nilai. Oleh karena itu, jumlah yang berbeda ini dapat diterima oleh auditor jika bukti audit menunjukkan bahwa manajemen telah menerapkan model penilaian dengan benar dan menggunakan data yang sesuai. Selain masalah yang terkait dengan penggunaan nilai wajar dan masalah terkait, auditor juga menghadapi masalah yang disebabkan oleh variabilitas dalam tingkat keandalan dan keakuratan pengukuran biaya historis. THANK YOU Any Question?
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )